Dibuat Sabuk Hijau di Taman Nasional


Dibuat Sabuk Hijau di Taman Nasional
Penduduk Diarahkan Menjadi Pengusaha Tanaman
Sabtu, 24 April 2010 | 03:41 WIB

Jakarta, Kompas – Batas luar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango seluas 22.851 hektar tidak memiliki batas ataupun kategori vegetasi jelas sehingga rentan terkikis perluasan ladang garapan penduduk di sekitarnya.

Pengelola TNGPP menerapkan model sabuk hijau selebar 30 meter untuk jenis tanaman bambu, aren, dan buah-buahan, tetapi realisasinya masih sangat terbatas.

”Sabuk hijau selebar 30 meter keliling TNGPP 800 kilometer dimulai di Bodogol, Sukabumi dengan penanaman 200 bambu, 100 aren, dan 300 pohon buah-buahan. Model ini akan terus dikembangkan,” kata Kepala Balai Besar TNGPP Sumarto, Jumat (23/4) di Jakarta.

Batas berupa patok ataupun vegetasi pembatas luar TNGPP belum terlihat jelas, seperti di sekitar Blok Hutan Tiwel, Desa Nangerang, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Areal ladang garapan penduduk makin mendekat Blok Hutan Tiwel sebagai hutan alam yang tinggal tersisa 5 hektar.

Di Blok Hutan Tiwel itulah pertama kali di dunia dilepasliarkan satwa langka owa jawa oleh Javan Gibbon Center pada Oktober 2009. Bertepatan Hari Bumi 2010, koridor penghubung Blok Hutan Tiwel ke hutan alam TNGPP diupayakan bersama oleh lembaga independen jasa dan konsultan audit Mazars, Conservation International-Indonesia, dan lain-lainnya.

Kondisi rusak

Sumarto mengatakan, TNGPP tahun 2003 memperoleh tambahan areal hutan produksi milik Perum Perhutani seluas 7.655 hektar yang kondisinya rusak. Areal itu ditingkatkan statusnya sebagai hutan konservasi, tetapi kini ada 913 hektar lahan dikelola 2.753 keluarga.

Pengelolaan oleh masyarakat itu berdasarkan program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) Perum Perhutani pada masa itu. Menurut Sumarto, penduduk mantan peserta program PHBM diarahkan menjadi pelaku usaha tanaman produktif di sabuk hijau TNGPP.

”Orang luar tidak diperkenankan masuk dan turut mengelola sabuk hijau tersebut,” katanya. Untuk jenis tanaman sabuk hijau, vegetasi bambu dipilih karena merupakan jenis tanaman lokal yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. Begitu pula, aren dan buah-buahan dinilai mampu meningkatkan penghasilan warga.

”Vegetasi di dalam kawasan taman nasional ditingkatkan dengan jenis-jenis tanaman lokal. Tahun 2010 ini ditargetkan penanaman 3.000 hektar melalui program Rehabilitasi Hutan dan Lahan,” katanya.

Menurut Direktur Eksekutif Conservation International-Indonesia Jatna Supriatna, TNGPP memiliki nilai sangat strategis bagi kelangsungan ketersediaan sumber air bersih bagi 20 juta penduduk di wilayah sekitarnya, termasuk Jakarta. Saat ini, terjadi eksploitasi air bersih di wilayah pegunungan taman nasional itu yang dijadikan bahan baku industri air minum kemasan.

”Masyarakat di hunian padat seperti Jakarta dan Bogor memiliki akses mudah menuju wilayah TNGPP. Berbagai program untuk mencapai fungsi taman nasional seharusnya dimengerti,” kata Jatna.

Wilayah TNGPP menjadi hulu daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung, Cimandiri, dan Citarum sehingga juga berfungsi menyangga sumber air bersih bagi sedikitnya 23 juta penduduk. ”Dengan penambahan areal hutan produksi ini kemampuan TNGPP menyangga ketersediaan air bersih menjadi 30 juta penduduk,” kata Sumarto. (NAW)

++++


Site Meter


Share on Facebook

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 82 other followers

%d bloggers like this: