Kekayaan alam jadi pemicu konflik : Kongo


Republik Demokratik Kongo (RDK) adalah negara yang paling kaya akan mineral di muka bumi. Mineral yang dikandung oleh bumi Kongo, sangat dibutuhkan bagi industri industri strategis. Jaman Perang Dingin, Amerika -CIA menyokong digulingkannya rejim populis pimpinan tokoh kemerdekaan Kongo, Patrice Lumumba di tahun 1965 . Yang diinstall oleh CIA adalah Mobutu Sese Seko, seorang serdadu kolonial yang berpangkat sersan. Mirip dengan digulingkannya Soekarno oleh Soeharto, yang juga mantan sersan tentara kolonial KNIL. Dibawah Mobutu, nama negara yang dia rubah namannya menjadi Zaire, dan dia juga menerapkan kebijakan kleptokrasi di negeri yang kaya ini. Akibat kebijakan kleptokrasi Mobutu negeri ini dijarah habis habisan kekayaan alamnya oleh segelintir elit dan subordinatnya selama 30 tahun.
Mobutu dijatuhkan dari tahta kekuasaanya melalui pemberontakan yang dipimpin oleh Laurent Kabila didukung oleh Rwanda dan Uganda, tetangga Kongo. Berakhirnya kekuasaan Mobutu bukan berarti perdamaian dan pembangunan negeri, tetapi terjadi perang konflik yang lebih parah yang melibatkan banyak negera di Afrika, sebut saja Anggola dan Zimbabwe. Walhasil sampai hari ini negeri ini masih terbelakang dan dijarah tambang mineralnya .

Semoga para pemimpin Indonesia bisa belajar dari kasus Kongo.. jangan sampai elite negeri ini melakukan hal yang sama..

+++++

AS Cecar Uang Konflik *Raksasa Pertambangan AS Diduga Terkait Sindikat Kekerasan

KOMPAS – Sabtu, 24 Jul 2010 Halaman: 11 Penulis: cal Ukuran: 4483 Foto: 1
AS CECAR UANG KONFLIK
Raksasa Pertambangan AS Diduga Terkait Sindikat Kekerasan

Kinshasa, Rabu
Perdagangan hasil kekayaan mineral di Republik Demokratik Kongo
ditengarai memicu, bahkan melanggengkan, perang di timur negara kaya
mineral itu. Banyak perusahaan AS yang diduga kuat tercemar
“sindikasi” mineral konflik, ditandai epidemi kekerasan seksual di
Kongo timur.
Presiden AS Barack Obama ingin AS “bersih diri” (AS) dari mineral
konflik Kongo dan di negara lainnya. Mineral konflik adalah julukan
bagi hasil kekayaan tambang mineral yang dalam proses produksi hingga
penjualannya sarat dengan kekerasan. Dengan kata lain, mineral konflik
diproduksi di daerah konflik dan hasilnya dipakai melanggengkan
konflik.
Upaya Obama terlihat dari pengesahan UU Reformasi Keuangan, Rabu
(21/7) di Washington. UU itu berisikan “Ketentuan Lain-lain”. Ketentuan
yang dimaksud, mewajibkan ribuan perusahaan AS di Wall Street bebas
dari mineral berdarah di Kongo dan di negara lain.
Penjualan kekayaan mineral, termasuk emas, kasiterit, dan
tantalum, telah memicu perang berkepanjangan, yang kini sudah berjalan
16 tahun di Kongo. Perang yang berlangsung sejak 1994 bersamaan
usainya genosida di Rwanda dan ditandai sebuah epidemi kekerasan
seksual yang mengerikan. Sudah lebih dari 5 juta orang tewas akibat
konflik berdarah di Kongo timur, yang sangat kaya mineral.
Semua perusahaan AS harus menjelaskan dan menunjukkan bukti-bukti
kuat bahwa produk mereka, termasuk laptop, telepon seluler, perhiasan,
dan peralatan medis, tidak mengandung mineral konflik di Kongo.
“UU baru ini akan memengaruhi hampir semua sektor manufaktur AS,”
kata Rick Goss, Wakil Presiden Bidang Lingkungan pada Dewan Industri
Teknologi Informasi.
Isu tentang mineral konflik itu hampir tidak disinggung dalam
debat-debat di Kongres AS saat membahas UU itu. Namun, kasus itu telah
menyita perhatian kalangan konservatif dan liberal” dari Senator Sam
Brownback hingga aktivis feminis Eve Ensler, penulis The Vagina
Monologues.
Aktivis berharap ada sistem internasional untuk membatasi mata
rantai niaga mineral konflik, sama halnya dengan kasus “berlian
berdarah” di Afrika Barat.
“Ini salah satu dari banyak isu, 99,9 persen warga AS tertangkap
radar. Setiap orang memakai telepon seluler, tetapi tidak ada yang
peduli dengan Kongo atau mineral konflik,” kata Jim McDermott, salah
satu anggota Kongres dan Senator AS penyusun UU itu.
Kongo, yang dahulu bernama Zaire, adalah salah satu negara di
Afrika yang berlimpah sumber daya mineral, antara lain emas, timah,
dan tantalum. Tentu saja ketentuan UU bisa berdampak luas. Peraturan
itu tidak hanya berlaku bagi perusahaan elektronik, pengguna utama
tantalum Kongo sebagai bahan baku produknya, tetapi juga untuk semua
perusahaan publik AS yang menggunakan timah dan emas.
UU itu mengharuskan semua perusahaan AS menyerahkan laporan
tahunan kepada Badan Pengawas Pasar Modal AS untuk mengungkap, apakah
produk mereka mengandung emas, timah, tungsten atau tantalum dari
daerah konflik di Kongo dan negara tetangganya, seperti Uganda,
Rwanda, dan Zambia.

Sulit dan ruwet
Goss mengatakan, UU terkait “mineral konflik” Kongo ini merupakan
produk hukum pertama dalam pertambangan dunia. Pemerintah Eropa juga
mulai memikirkan langkah sama. Pihak eksekutif AS menyatakan sulit
mencari tahu apakah ada “mineral konflik” di produk mereka.
Banyak perusahaan di sektor teknologi tinggi sudah mencoba
memastikan pemasok bahan baku mineral mereka tidak berasal dari
kawasan yang dilanda konflik. Bahkan, ada banyak perusahaan yang
bersama menjalankan program percontohan di smelter untuk
mengidentifikasi asal-muasal mineral.
Robert Hormats, Wakil Menteri Negara Urusan Ekonomi AS,
mengatakan, penelusuran sumber mineral lebih rumit dari sumber
berlian. Banyak usaha tambang dikuasai kelompok pemberontak
(REUTERS/WASHINGTON POST/CAL)

Foto:

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 80 other followers

%d bloggers like this: