Akhir 2011, Pendapatan Per Kapita US$ 3.600


Akhir 2011, Pendapatan Per Kapita US$ 3.600
Oleh Kunradus Aliandu
dan Wahyu Sudoyo

Investor daily

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan pendapatan per kapita Indonesia akhir tahun ini
mencapai US$ 3.500-3.600, lebih tinggi dari tahun lalu US$ 3.005. Perkiraan itu didasarkan pada kinerja
pertumbuhan ekonomi yang konsisten saat ini. Pada triwulan II-2011,pertumbuhan ekonomi nasional
mencapai 2,9% dibandingkan triwulan sebelumnya, sedangkan dibandingkan triwulan sama 2010 tumbuh
6,5%.
Menurut Kepala BPS Rusman Heriawan, secara kumulatif, produk domestik bruto (PDB) nominal semester
I-2011 mencapai Rp 3.549 triliun,lebih tinggi dari semester I-2010 senilai Rp 3.084 triliun atau
dibanding semester II-2010 sebesar Rp 3.339 triliun.“Kalau perkembangan pada semester
II tahun ini kira-kira sama dengan semester II tahun lalu, total PDB tahun ini bisa mencapai Rp
7.400 triliun,” kata Rusman di Jakarta, Jumat (5/8).Dia menjelaskan, dengan perkiraan
PDB nominal 2011 sebesar Rp 7.400 triliun atau setara pertumbuhan ekonomi 6,7% dan memperhitungkan
jumlah penduduk Indonesia sebanyak 241 juta jiwa dengan rata-rata kurs Rp 8.600 per dolar AS,
pendapatan per kapita Indonesia hingga akhir tahun ini mencapai US$ 3.500-US$ 3.600. “Angka itu
lebih tinggi dari tahun lalu US$ 3.004,9,” ujar Rusman.

Pemerintah Optimistis Secara terpisah, Menko Perekonomian Hatta Rajasa optimistis pertumbuhan
ekonomi tahun ini minimal mencapai 6,5%. “Dengan pertumbuhan yang stabil sejak awal
tahun dan pencapaian pertumbuhan kuartal II sebesar 6,5%, saya yakin  perekonomian nasional tahun ini
setidaknya mencapai 6,5%, atau di atas target APBN sebesar 6,4%,” tutur Hatta.

Dia mengungkapkan, saat ini terjadi sedikit guncangan di pasar modal global. Di sisi lain, sejumlah
negara mengalami penurunan pertumbuhan selama kuartal II. Contohnya Tiongkok dan Singapura
yang ekonominya tumbuh pesat pada kuartal I, tapi pada kuartal II turun tajam. “Tapi Indonesia tetap
mengalami pertumbuhan stabil.
Konsumsi masyarakat tetap terjaga,inflasi juga cukup baik,” ujarnya.Hatta juga optimistis nilai ekspor
bisa menembus US$ 200 miliar tahun ini. Reali sasi nilai ekspor yang melebihi impor menunjukkan surplus
pada neraca perdagangan yang  tetap
Akhir 2011, Pendapatan Per Kapita US$ 3.600 “Ekspor kita jauh lebih tinggi pertumbuhannya
dibanding impor,” tutur dia. Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, menurut Hatta
Rajasa, pemerintah harus mampu mengatasi tiga titik hambatan. Pertama, memperbaiki perencanaan proyek
yang terkait belanja modal dan infrastruktur.
Kedua, memperbaiki proses pelelangan. Ketiga, memperbaiki proses penyelesaian atau pembayaran.
“Ini sebetulnya sudah diatur Perpres No 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang dan Jasa Pemerintah. Tapi, menurut saya, Perpres ini harus terus dievaluasi.
Kalau menghambat, tentu harus diubah. Pengadaan barang dan jasa pemerintah harus simpel, cepat, transparan,
dan akuntabel, bukan njelimet, berbelit-belit, malah memperlambat. Itu repot,” tandas Hatta.
Minim Tenaga Kerja Menanggapi hal itu, ekonom Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
(LIPI) Latief Adam mengungkapkan,   laju pertumbuhan ekonomi masih didominasi sektor non-tradeable yang
terbilang minim menyerap tenaga kerja.
“Kontribusi sektor pengolahan dan pertanian masih 39%. Padahal, idealnya, kedua sektor tersebut harus dominan untuk dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas,” ujarnya. Menurut Latief, seharusnya pertumbuhan
ekonomi disokong sektor-sektor yang tradeable, seperti pertanian, industri, dan pertambangan. Pasalnya, ketiga sektor tersebut paling besar menyerap tenaga kerja. Dia menambahkan, dengan pencapaianpertumbuhan ekonomi semester I-2011 sebesar 6,5% dibanding semester I tahun silam, Indonesia sepanjang tahun ini mampu mencatatkan pertumbuhan
ekonomi di atas 6,7%. Namun, untuk dapat mencapainya, pemerintah harus mampu mengendalikan inflasi.“Pertumbuhan ekonomi sebagian besar didorong konsumsi masyarakat. Jika inflasi tinggi, daya beli masyarakat
menurun dan konsumsi masyarakat akan berkurang. Ini tentu berdampak
pada pertumbuhan ekonomi,” papardia.

Selain disokong tingkat konsumsi  yang tinggi, menurut Latief, tren
investasi diperkirakanakan semakin meningkat pada kuartal III. .Demikian
pula belanja pemerintah. “Yang akan menjadi hambatan justru ekspor,
karena beberapa negara tujuan ekspor seperti Amerika Serikat dan Jepang
menunjukkan penurunan performa,”ucap dia.
Dia mengatakan, meskipun pada akhir tahun diprediksi terjadi perlambatan ekonomi global, pertumbuhan
ekonomi Indonesia tetap bakal meningkat. “Eksposur kita dengan AS dan Eropa tidak setinggi Singapura
atau negara Asean yang lain. Yang terpengaruh paling-paling ekspor,”ujarnya.
Latief menambahkan, terpuruknya ekonomi AS dan Eropa justru akan mendatangkan keuntungan tersendiri bagi Indonesia. Soalnya, para investor akan memilih negara tujuan lain untuk berinvestasi, salah satunya Indonesia.
“Capital inflow akan semakin deras. Tinggal bagaimana caranya mentransmisikan capital inflow ke sektor riil,”
katanya.
Konsumsi Rumah Tangga Kepala BPS Rusman Heriawan mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi
Indonesia pada triwulan II-2011 mencapai 2,9% dibandingkan triwulan sebelumnya (quarter to quarter/q-to-q).
Sedangkan dibandingkan triwulan yang sama 2010 (year on year/yoy) tumbuh 6,5%. Konsumsi rumahtangga
memberikan kontribusi paling besar.
Sebaliknya, belanja pemerintah berkontribusi paling rendah. Secara spasial, menurut dia, struktur
perekonomian Indonesia pada triwulan II-2011 masih didominasi kelompok provinsi di Pulau Jawa dengan kontribusi
terhadap PDB sebesar 57,7%, diikuti Sumatera 23,5%, Kalimantan 9,5%, Sulawesi 4,7%, dan sisanya 4,6%
dikontribusi pulau-pulau lainnya.
Rusman mengatakan, besaran PDB atas dasar harga berlaku pada triwulan II-2011 mencapai Rp 1.811,1 triliun.
Adapun PDB atas dasar harga konstan 2000 pada triwulan yang sama sebesar
Rp 611,1 triliun. Sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi (q-to-q)
adalah perdagangan, hotel, dan restoran 4,8%, konstruksi 4,2%, serta sektor
listrik, gas, dan air bersih 4%.Secara tahunan (yoy), kata dia, sektor pengangkutan dan komunikasi
tumbuh 10,7%, sektor perdagangan, hotel, dan restoran 9,6%, dan sektor konstruksi 7,4%. Struktur PDB triwulan
II-2011 masih didominasi sektor industri pengolahan, sektor pertanian, serta sektor perdagangan, hotel, dan
restoran dengan kontribusi masingmasing 24,3%, 15,4%, dan 13,9%. Rusman menjelaskan, pertumbuhan
PDB triwulan II-2011 dibandingkan triwulan I-2011 (q-to-q) yang mencapai 2,9% ditopang kenaikan pengeluaran
konsumsi rumah tangga sebesar 1,3%. Sedangkan pengeluaran konsumsi pemerintah naik 26%, pembentukan
modal tetap bruto (PMTB) naik 3,9%, ekspor barang dan jasa tumbuh
7,4%, serta impor barang dan jasa meningkat 6%.
Dia menambahkan, pertumbuhan ekonomi triwulan II-2011 yang mencapai 6,5% dibandingkan triwulan II-
2010 (yoy) didukung pengeluaran konsumsi rumahtangga yang meningkat 4,6%. Pendukung lainnya adalah pengeluaran
konsumsi pemerintah 4,5%, PMTB 9,2%, ekspor barang dan jasa 17,4%, serta impor barang dan jasa 16%.
Adapun pertumbuhan ekonomi semester I-2011 terhadap semester I- 2010 yang mencapai 6,5% didukung peningkatan
konsumsi rumahtangga 4,5%, konsumsi pemerintah 3,7%, PMTB 8,3%, serta ekspor dan impor
masing-masing 14,9% dan 15,8%. Rusman mengemukakan, struktur PDB penggunaan triwulan II-2011 didominasi
komponen pengeluaran rumahtangga sebesar 54,3%. Komponen PMTB dan pengeluaran konsumsi
pemerintah memberikan kontribusi masing-masing 31,6% dan 8,3%. Sedangkanekspor neto berkontribusi 1,9%

 

++++++++++++++++++++++++++++

Pendapatan Per Kapita Indonesia Rp31,8 Juta

Ekonomi - / Selasa, 7 Februari 2012 05:50 WIB

 
 

 


 

Metrotvnews.com, Jakarta:Peningkatan peringkat Indonesia menjadi layak investasi ternyata sebanding lurus dengan naiknya pendapatan orang Indonesia hampir 20 persen pada 2011. 

Pendapatan per kapita Indonesia tahun 2011 naik 17,7 persen menjadi USD3.542 atau setara dengan Rp31,8 juta.

Pejabat sementara Kepala Badan Pusat Statistik, Suryamin, Senin (6/2),  mengatakan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2011 naik menjadi Rp7.427 triliun dari PDB 2010 yang nilainya Rp6.436 triliun.

Tahun lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,5 persen dengan penyumbang terbesar sektor perdagangan dan telekomunikasi.

Meski pendapatan perkapita naik, BPS mencatat porsi upah untuk buruh di Indonesia masih rendah dibanding dengan keseluruhan biaya produksi. Porsi upah buruh masih sekitar 20 persen dari keseluruhan biaya produksi. 

Menurut BPS, seharusnya porsi upah buruh bisa naik menjadi 40 persen dari biaya produksi. (Wrt3)

About these ads

6 Responses to “Akhir 2011, Pendapatan Per Kapita US$ 3.600”

  1. tambahkan list pebanding dengan negara2 tetanggga

  2. Tolong kasih list perbandingan dgn negara lain ya. Thanks

  3. tolong di kasih perbandinganya y….!!!

  4. perbandingannya donk dengan negara* tetanga !

  5. dengan negara tetangga… ada?

Trackbacks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 81 other followers

%d bloggers like this: