Dahlan Iskan Siapkan Gudang Calon Direksi


HomeBisnisBisnis

Dahlan Iskan. TEMPO/ JACKY RACHMANSYAH.

Bagikan

Berita Terkait
BPH Migas Bisa Gantikan Peran Petral
Dahlan Iskan Tetap Kaji Pembubaran Petral
Dahlan Iskan: Petral Ajak Bahas BBM Iran
Dahlan Iskan Rombak Komisaris Pertamina
Fasilitas Gas Arun dan Belawan Disinkronkan

Topik
BUMN
Dahlan Iskan
SENIN, 12 MARET 2012 | 11:32 WIB
Dahlan Iskan Siapkan Gudang Calon Direksi
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara, Dahlan Iskan, mempunyai cara baru untuk menyiapkan pimpinan perusahaan-perusahaan pelat merah. Jika selama ini seleksi calon direksi dilakukan oleh tim penilai akhir jika ada posisi di perusahaan negara yang telah atau akan lowong, kini seleksi terus dilakukan meski tak ada kursi kosong. “Jadi, nanti akan ada gudang calon direksi,” kata Dahlan kepada Tempo pekan lalu.

Dahlan mengaku telah menjalankan sistem ini sejak beberapa bulan lalu dengan bekerja sama dengan tim seleksi manajemen milik beberapa perguruan tinggi. Kini, dalam daftar calon direski telah terisi beberapa nama yang suatu saat siap untuk disodorkan untuk mengisi kursi pimpinan badan usaha milik negara. Namun, Dahlan enggan menyebutkan nama-nama mereka.

Menurut dia, sistem gudang direksi ini dibentuk untuk menghindari praktek-praktek yang buruk. Selama ini, setiap ada kursi direksi kosong atau ada rencana penggantian di perusahaan pelat merah, kementerian menyodorkan nama-nama calon kepada tim penilai akhir.

Belum juga tim penilai akhir memutuskan, si peserta seleksi sudah “bergerak” mencari dukungan ke banyak pihak. “Karena takut tak jadi,” katanya. Bahkan, calon direksi yang belum tentu diangkat tersebut sering datang ke perusahaan yang akan dipimpinnya. “Mereka sudah bertingkah seperti bos saja, padahal belum diangkat.”

Nah, dengan sistem gudang direksi, peserta seleksi tak akan tahu perusahaan apa yang akan dipimpinnya. “Yang penting mereka layak dan tidak main politik,” ujarnya. Selanjutnya, jika di antara mereka sudah diangkat sebagai direktur utama, sang pemimpin baru berhak untuk memilik timnya dari nama-nama yang ada dalam daftar.

Misalnya, jika Direktur Utama Krakatau Steel diganti, maka pemimpin baru akan memilih tim direksinya dari gudang direksi tadi. Jika nama-nama dalam daftar dinilai tak ada yang mumpuni di bidang industri baja, maka kementerian akan menyeleksi lagi nama-nama yang dianggap cocok tetap dengan bantuan konsultan independen dari perguruan tinggi.

SENIN, 12 MARET 2012 | 09:55 WIB
Kontroversi Bos Perkebunan Pilihan Dahlan Iskan
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Jakarta – Kantor di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, ini laksana hotel singgah bagi Ismed Hasan Putro. Seperti pada Kamis malam pekan lalu, orang nomor satu di PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) itu memilih menginap di sebuah bilik yang dibatasi sekat sebagai pemisah dengan ruang kerjanya.

“Biar efisien karena Jumat pagi saya harus terbang ke Jambi untuk meninjau kebun sawit,” kata Ismed yang baru sepekan menjabat direktur utama di perusahaan agroindustri milik negara itu. Sepanjang Kamis pekan lalu, Ismed seharian menjelajahi kebun tebu milik RNI di Jati Tujuh, Cirebon, Jawa Barat.

Sejak diangkat oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan pada Kamis, 1 Maret 2012, hidup Ismed seperti tak jauh-jauh dari kebun dan pabrik. “Saya mesti sering menggelar rapat dan berkonsolidasi,” ujar Ismed, yang pernah empat tahun menjabat komisaris di RNI.

Ismed adalah satu dari puluhan pejabat baru dalam bagian aksi “bersih-bersih” yang dilakukan Dahlan. Ismed menggantikan Bambang Prijono Basuki untuk periode lima tahun mendatang. Kementerian juga menetapkan 75 direktur di 14 PT Perkebunan Nusantara (PTPN).

Toh, “bersih-bersih” Dahlan ini menimbulkan kontroversi. Sejumlah kalangan menuding, pengangkatan Ismed dan Megananda Daryono, bos PTPN III, yang juga direktur utama holding BUMN perkebunan, sarat aroma kolusi.

Terpilihnya Ismed tak lepas dari kedekatannya dengan Dahlan sewaktu menjadi wartawan di Jawa Pos pada 1990-an. Dahlan menjadi pemimpin redaksi sekaligus bos perusahaan di surat kabar terbesar di Jawa Timur itu.

Sumber Tempo bercerita, Ismed merupakan tangan kanan Dahlan berkat koneksinya yang luas dengan kalangan politikus DPR, tokoh partai, dan pejabat Orde Baru. Karena kemampuannya itu, Dahlan mendaulat Ismed menjadi semacam penasihat untuk melakukan lobi.

Kedekatan antara Ismed dan Dahlan diamini Slamet Oerip Prihadi. Oerip, bekas redaktur Jawa Pos, mengisahkan hubungan keduanya terbangun tatkala Ismed ke Jawa Pos pada 1987. Ketika itu Jawa Pos baru membeli kantor di Jalan Prapanca, Jakarta Selatan.

Oerip berkisah bahwa Ismed, yang mencitrakan dirinya sebagai akademisi, membuat Dahlan terkesan. Sebagai pengusaha, kata Oerip, Dahlan mesti memiliki penasihat sebelum berhubungan dengan kalangan “putih” atau “hitam”.

Ismed mengakui kedekatannya dengan Dahlan. Tapi dia mengatakan, faktor tersebut hanyalah nomor sekian bagi jabatannya di RNI. “Saya mengikuti fit and proper test. Ada sepuluh calon,” ujar dia.

Dahlan mengatakan, ketika nama Ismed muncul setelah uji kepatutan, ia hampir tak percaya. “Saya bilang, ‘Apa enggak salah nih?’” Tapi kandidat terbaik saat itu, kata Dahlan, ya, hanya Ismed. Dia butuh figur yang sanggup “membersihkan” RNI dari praktek curang. Apalagi Ismed paling getol mengkritik pemerintah ketika menjadi aktivis. “Sekarang tolong tunjukkan bukti dengan kerja.”

Pengangkatan Megananda pun menyisakan persoalan. Selain dituding dekat dengan Partai Golkar, isu tak sedap melilitnya ketika menjabat Deputi Industri Primer Kementerian BUMN. Megananda antara lain ditengarai berperan dalam proyek pengadaan pupuk milik PT Berdikari. Saat ini dia juga masih menjadi komisaris beberapa BUMN.

Dari penelusuran Tempo, tak ada bukti langsung yang mengaitkan Megananda dalam proyek senilai Rp 277 miliar yang digelembungkan itu. Namun sumber di Kementerian menyebutkan, Megananda ikut melicinkan jalan Berdikari untuk mendapatkan proyek itu. Pada Maret tahun lalu, kasus ini sempat disorongkan ke komisi antirasuah.

Megananda menjelaskan hubungannya dengan sejumlah politikus di DPR tak lepas dari tugasnya sebagai asisten deputi dan kemudian deputi Menteri BUMN. “Saya menempatkan diri sebagai staf Menteri BUMN, bukan kader siapa pun,” katanya.

Adapun ihwal pengadaan pupuk, menurut Dahlan, merupakan tanggung jawab masing-masing direksi BUMN yang akan menggunakan. “Siapa pun di luar perusahaan dilarang mempengaruhi keputusan direksi,” dia menambahkan.

Pada saat seleksi bos PTPN III, Dahlan mengakui Megananda bukan pilihan semata wayang. Ada dua kandidat lain, yaitu bekas Direktur Utama PTPN IV Dahlan Harahap, dan seorang lagi yang namanya ada di lacinya.

Dahlan menyangkal ada kesepakatan dengan Golkar di balik pemilihan Megananda. Jangankan Golkar, katanya, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa saja tak tahu siapa yang terpilih. “Saya hanya tahu Megananda berbisnis burung. Tapi kalau dia dekat dengan partai, silakan bongkar.”

BOBBY CHANDRA I AGOENG WIJAYA I KUKUH WIBOWO

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 81 other followers

%d bloggers like this: