Tidak Ada Pemimpin Kredibel yang Mengawal Reformasi


Kekuatan Lama Bercokol
Tidak Ada Pemimpin Kredibel yang Mengawal Reformasi

Kekuatan Lama Bercokol
Jakarta, Kompas – Perjalanan reformasi sejak 1998 dinilai melenceng karena terlalu memberi tempat pada kekuatan-kekuatan lama yang korup dan otoriter. Bercokolnya kekuatan lama itu membuat reformasi pun dibajak. Akibatnya, tidak semua agenda reformasi dilaksanakan.

”Kita terlalu mengakomodasi kekuatan lama. Mereka diakomodasi untuk kemudian bermain dengan peraturan-peraturan baru yang dibuat pada awal reformasi,” kata pengamat politik Burhanuddin Muhtadi di Jakarta, Senin (21/5).

”Ibarat mobil, reformasi memang menghadirkan mobil baru. Banyak undang-undang dan peraturan baru dibuat, bahkan UUD 1945 juga diamandemen. Namun, sopir dan kernet yang mengendalikan mobil itu tidak berubah. Jadi, jalannya mobil tetap tidak keruan,” ujar Ray Rangkuti dari Lingkar Madani untuk Indonesia.

Salah satu faktor yang membuat kenyataan seperti itu terjadi adalah tidak ada pemimpin otentik yang mengawal reformasi. Tidak ada pemimpin yang kredibel dan berintegritas. Regenerasi kepemimpinan diyakini jadi kunci kesuksesan reformasi.

”Kita tidak punya pemimpin yang otentik. Pemimpin partai kita punya kartu mati sehingga mereka pun melakukan politik transaksional,” kata Burhanuddin.

Karena itu, menurut Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Taufiq Kiemas, regenerasi kepemimpinan bangsa diyakini sebagai kunci kesuksesan reformasi. Tanpa ada regenerasi, upaya reformasi akan gagal.

”Kalau tidak ada regenerasi, bisa jadi ada reformasi lagi. Kalau regenerasi tidak disiapkan, ya, pasti (reformasi) gagal,” kata

Taufiq di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta.

Politikus senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) itu menjelaskan, kunci dari reformasi adalah regenerasi kepemimpinan bangsa. Kemandekan regenerasi di era Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto diyakini sebagai penyebab kegagalan pemerintahan.

Perbaiki sistem perekrutan

Presiden Soekarno diturunkan sebelum masa jabatan berakhir karena tidak mau menyiapkan pengganti. Begitu pula Presiden Soeharto diturunkan karena dianggap terlalu lama menjabat. Selama 32 tahun, Soeharto menjadi presiden tanpa mau menyiapkan pengganti. Jika tidak ingin reformasi kembali gagal, kata Taufiq, parpol seharusnya mulai memikirkan regenerasi kepemimpinan nasional.

”Partai Demokrat pasti akan menyiapkan pengganti karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah dua kali menjabat. Sekarang tinggal PDI-P, mau enggak Ibu Mega (Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri), lalu Partai Golkar mau enggak (regenerasi)?” ujarnya.

Burhanuddin pun mengatakan, partai perlu memperbaiki sistem perekrutan dan pengaderan sehingga tokoh yang muncul dari parpol adalah orang-orang yang memiliki integritas dan kredibilitas tinggi.

Dikatakan, pada era reformasi, kekuatan bergeser ke legislatif, berbeda dengan era Orde Baru ketika kekuasaan berpusat pada eksekutif. Di tengah kekuasaan yang condong ke legislatif, parpol tidak transparan, terutama dalam hal pengeluaran dana kampanye.

Dibajak

Dengan bercokolnya kekuatan lama, kata anggota DPR dari PDI-P, Ganjar Pranowo, reformasi telah dibajak. Akibatnya, tidak semua agenda reformasi dilaksanakan.

Menurut dia, hanya tiga agenda reformasi yang dijalankan, yakni amandemen UUD 1945, pencabutan dwifungsi ABRI, dan penerapan otonomi daerah. Tiga agenda lain sama sekali tidak berjalan, yaitu pengadilan Soeharto dan kroninya; pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN); serta penegakan hukum.

Ray Rangkuti melihat, era reformasi tidak diiringi dengan perubahan budaya. Sekitar 70 persen elite politik yang berkuasa di era reformasi merupakan didikan atau orang Orde Baru. Akibatnya, sejumlah masalah Orde Baru, seperti maraknya KKN, kembali terulang.

Dalam ” mobil” reformasi, sejumlah aktivis 1998 yang menjadi penumpang, menurut Ray, berusaha idealis dan mempertahankan komitmennya. Namun, penumpang lain secara perlahan menjadi pragmatis, ikut melakukan KKN.

Kondisi ini makin diperparah oleh pandangan sebagian masyarakat Indonesia bahwa orang lebih dihargai karena punya harta dan kuasa dibandingkan mampu mengendalikan diri atau dapat menyalurkan aspirasi masyarakat.

Anggota DPR dari PDI-P, Budiman Sudjatmiko, mengatakan, saat ini sebagian elite merasa sudah puas dengan capaian menumbangkan Soeharto. Kekuatan-kekuatan lama yang korup dan otoriter masih menguasai sumber daya keuangan dan jaringan yang digerakkan untuk menguasai tampuk-tampuk kekuasaan lewat jalur demokrasi.

Reformasi harus dilihat sebagai upaya melonggarkan cengkeraman politik yang otoriter dan demokrasi semu.

Realitasnya, reformasi hanya berhasil menjamin kebebasan politik. Dengan kebebasan ini semua hak politik orang bisa terjamin. ”Termasuk mereka yang dulu jadi bagian kekuasaan yang otoriter dan korup,” kata Budiman.

Akibatnya, menurut Direktur Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah Robert Endi Jaweng, reformasi pun ternyata tidak hanya membuahkan desentralisasi kekuasaan, tetapi juga cenderung menghasilkan desentralisasi korupsi. Hal ini terjadi karena akuntabilitas dan pengawasan kekuasaan di daerah yang cenderung lemah dan dorongan politik lokal berbiaya tinggi.

”Korupsi di daerah telah berada di stadium empat, di level kritis yang memerlukan penanganan dengan cara yang luar biasa,” kata Robert.

Staf Khusus Presiden Bidang Politik Daniel Sparringa mengakui, ada tanda-tanda yang cukup jelas bahwa sistem yang diciptakan melalui UU saat ini mengakibatkan ketidakmampuan pemerintah dalam mengendalikan proses desentralisasi. ”Reformasi seharusnya juga menyentuh pada bagaimana membangun tata kelola pemerintahan,” ujarnya.

Hal itulah yang menurut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj menyebabkan korupsi dan reformasi birokrasi tetap menjadi masalah utama bangsa Indonesia.

(NTA/BIL/WHY/ATO/NWO/DIK)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 80 other followers

%d bloggers like this: