SURVEI Indonesia Network Election Survey


Selasa,
20 November 2012

 

Uang Parpol Masih Jadi Pilihan Rakyat

 


KOMPAS/RIZA FATHONI

Direktur Data Indonesia Network Election Survey Sudrajat Sacaawitra merilis hasil survei menjelang dua tahun pemilu legislatif dan pemilihan presiden, Senin (19/11) di Jakarta. Hasil temuan survei tersebut antara lain menyatakan, faktor primordialisme masih menjadi faktor kuat penentu keterpilihan calon presiden.

Jakarta, Kompas - Ketertarikan dan kenal terhadap partai politik masih didasarkan kepada uang, entah yang dibagi-bagikan saat kampanye ataupun saat pemilihan umum. Hal yang sangat mengenaskan, sebanyak 50,3 persen responden memilih uang dalam memilih parpol. Parpol gagal mengenalkan program dan visinya.

Demikian hasil survei Indonesia Network Election Survey (INES) yang disampaikan Direktur Data INES Sudrajat Sacaawitra, Senin (19/11) di Jakarta.

Survei tersebut dilakukan dengan mewawancarai masyarakat dari berbagai lapisan dan tingkat pendidikan, dengan jumlah responden sebanyak 5.996 orang. Diperkirakan, batas toleransi kesalahan plus minus 2,5 persen pada tingkat kepercayaan 98 persen. Survei dilakukan di sejumlah kota pada 5-21 Oktober 2012.

Sudrajat mengatakan, ”Dengan dominannya peran uang, artinya uang masih akan mendominasi pemilu legislatif. Apalagi, hasil survei menunjukkan hanya 22,4 persen responden yang mengenal parpol melalui iklan, hanya 17,2 persen yang dikenal program, dan 10,1 persen yang dikenal melalui visinya.”

Dari 10 parpol yang disodorkan ke responden, empat besar parpol yang dikenal pemilih di atas 90 persen adalah Partai Golongan Karya, Partai Demokrat, Partai Gerindra, dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

Pengajar di Universitas Lampung, Maruli Hendra Utama, mengatakan, ”Kalau uang menjadi masalah serius, jangan-jangan (uang) ini menjadi jalan keluar bagi rakyat. Jalan keluar inilah yang langsung diberikan oleh parpol supaya rakyat lebih mengenal dan memilihnya.”

Ketua Fraksi Partai Golkar Rully Chairul Azwar mengatakan tentang bahayanya politik uang. Pola pikir jangka pendek masih terjadi dalam proses pemilihan langsung sehingga sikap pemilih mudah dipengaruhi uang. Ini disebut sikap pragmatisme yang menggerogoti demokrasi.

Ketua DPP Partai Amanat Nasional Bima Arya Sugiarto mengatakan, ”Bila survei itu masih sungguh menunjukkan potret masyarakat kita, itu berarti rusaknya demokrasi kita. Ini harus dievaluasi secara keseluruhan.”

Jika demokrasi ditentukan oleh uang, menurut dia, perjuangan demokrasi bangsa ini menjadi tergerus oleh pola-pola transaksional yang mengenaskan.

Hasil survei juga menunjukkan isu primordialisme masih kuat dalam pemilihan calon presiden. Keharusan memilih presiden dari etnis Jawa mencapai 59,3 persen. Dari 21 nama tokoh etnis Jawa, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dinilai berpeluang kuat dengan elektoral 33,4 persen. Peringkat selanjutnya adalah Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri.

Peluang capres non-Jawa sempat mengemuka, yaitu Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa dengan elektoral 28,6 persen. (osa)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 75 other followers

%d bloggers like this: