PETERNAKAN Industri Sapi


Selasa,
11 Desember 2012

 

Industri penggemukan sapi (feedlot) nasional di ambang kebangkrutan. Pasokan sapi bakalan eks impor sebagai bahan baku usaha penggemukan makin sulit didapat.

Pada tahun 2009 total impor sapi bakalan 765.000 ekor, tetapi tahun depan (2013) hanya ada alokasi 288.000 ekor. Jumlah alokasi kuota impor sapi bakalan dibagi habis 24 perusahaan feedlot baik skala besar, menengah, maupun kecil.

Karena kuota impor terus dikurangi, kinerja perusahaan penggemukan terus merosot. Tahun 2012, utilitas perusahaan feedlot di Indonesia rata-rata hanya 25 persen. Akibatnya, mereka mulai mengurangi tenaga kerja.

Kebijakan pemerintah memangkas impor daging sapi dan sapi bakalan untuk mewujudkan program swasembada daging sapi nasional 2014 tidak salah, sepanjang dilakukan dengan tepat.

Kalau sekadar memenuhi hasrat politik, taruhannya besar. Pengurangan impor daging sapi dan sapi bakalan memicu pemotongan sapi lokal secara besar-besaran. Ini terjadi di tengah lemahnya kontrol terhadap sejumlah penyimpangan, seperti pemotongan sapi betina produktif yang terus terjadi.

Kalau kondisi itu dibiarkan terus, produksi sapi potong lokal akan terus menyusut. Populasi sapi lokal, yang saat ini masuk ”level aman” (14,8 juta ekor), akan tergerus. Akibatnya, ke depan Indonesia akan mengimpor lebih banyak lagi sapi bakalan dan daging sapi.

Dari aspek bisnis, industri penggemukan sapi saat ini berada di posisi terjepit. Pasokan sapi bakalan impor terbatas, di sisi lain penyerapan sapi lokal juga sulit dilakukan.

Ini terjadi akibat struktur pasar sapi nasional memberi peluang terjadinya kanibalisasi antarpelaku usaha. Rantai pasok sapi dari petani/peternak sampai industri penggemukan terlalu panjang sehingga tak jarang kenaikan harga daging sapi di pasar tidak bisa dinikmati sepenuhnya oleh peternak/petani.

Apalagi, di Indonesia mayoritas sapi dipelihara pada skala usaha kecil, hanya satu atau dua ekor. Dari mereka, sapi dijual ke belantik (pedagang perantara) lalu ke pasar hewan. Di sana, sapi diterima pengepul kecil, masuk ke pengepul besar, baru ke industri atau ke distributor.

Industri feedlot tak bisa langsung menjemput sapi-sapi itu ke kampung-kampung meskipun dengan harga tinggi. Kalau ini dilakukan, nyawa taruhannya. Kondisi ini makin diperparah buruknya pemetaan sapi secara nasional.

Untuk menyelamatkan industri feedlot nasional, pemerintah harus memperbaiki struktur pasar sapi di daerah-daerah, termasuk pasar hewan. Kalau tidak, masyarakat akan berlomba menjadi belantik.

Industri feedlot juga harus mengembangkan diri agar masuk bisnis pembibitan, hilirisasi produk sapi. Jangan hanya puas menjual sapi siap potong, tetapi menjual dengan klasifikasi daging dan pasar yang tersegmentasi. (HERMAS E PRABOWO)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 82 other followers

%d bloggers like this: