Bisnis “Shale Gas” Kian Prospektif


Selasa,
07 Mei 2013
 

ENERGI

 

 

Jakarta, Kompas – Bisnis pengembangan gas nonkonvensional jenis shale gas kian prospektif. Sebagai tahap awal, pemerintah akan menandatangani kontrak kerja sama shale gas yang pertama dengan PT Pertamina (Persero), dan menawarkan dua wilayah kerja gas nonkonvensional itu pada Mei ini.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral A Edy Hermantoro menyampaikan hal itu dalam lokakarya tingkat regional bertema ”Perubahan Pasar Gas Global dan Gas Non Konvensional” yang diprakarsai Kementerian ESDM bekerja sama dengan Pemerintah Amerika Serikat, Senin (6/5), di Jakarta.

Menurut Edy, wilayah kerja shale gas yang akan digarap Pertamina terletak di Sumatera, dan penetapan kontrak kerja sama itu tanpa melalui tender karena Pertamina sebagai perusahaan migas milik negara memiliki hak pengelolaan wilayah kerja migas. Adapun dua wilayah kerja shale gas yang akan ditawarkan juga berlokasi di wilayah Sumatera.

Data Kementerian ESDM menyebutkan, potensi shale gas Indonesia diperkirakan mencapai 574 triliun kaki kubik, lebih besar dibandingkan gas metana batubara (CBM) yang mencapai 453,3 TCF dan gas konvensional 153 TCF. Shale gas Indonesia banyak ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Papua, dan Jawa.

Shale gas merupakan gas yang diperoleh dari serpihan batuan shale atau tempat terbentuknya gas bumi. Proses untuk mengubah batuan shale menjadi gas butuh waktu sekitar lima tahun. Pengembangan shale gas itu telah diatur dalam peraturan Menteri ESDM Nomor 5 Tahun 2012 tentang tata cara penetapan dan wilayah kerja minyak dan gas bumi nonkonvensional.

Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo menyatakan, Indonesia sedang menjajaki kerja sama dengan Amerika Serikat dalam pengembangan gas nonkonvensional seperti shale gas dan gas metana batubara. Sebagai negara yang telah memproduksi shale gas dalam jumlah besar, Amerika Serikat berpengalaman secara operasional, menguasai teknologi, dan keselamatan operasi dalam pengembangan shale gas. Melalui kerja sama dengan AS, Indonesia dapat mempercepat upaya pengembangan shale gas untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Edy menambahkan, minat investor dalam pengembangan migas nonkonvensional kian tinggi. Sejauh ini 54 wilayah kerja gas metana batubara telah ditandatangani. Untuk shale gas, sebanyak 75 perusahaan telah mengajukan proposal untuk melaksanakan studi bersama wilayah kerja shale gas. Tahun ini, kami menargetkan produksi gas metana batubara bisa mencapai 10 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD),” ujarnya.

Terkait hal itu, perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat yang telah berpengalaman mengembangkan shale gas diundang untuk berinvestasi di Indonesia. Peluang pengembangan bisnis gas nonkonvensional itu juga terbuka bagi perusahaan-perusahaan migas nasional dengan membentuk konsorsium sesama perusahaan nasional maupun dengan perusahaan multinasional. (EVY)

About these ads

One Trackback to “Bisnis “Shale Gas” Kian Prospektif”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 81 other followers

%d bloggers like this: