Mandela Nyaman dalam Batik


KEMEJA BATIK

 

 

  

NELSON Mandela memiliki tempat khusus di hati masyarakat Indonesia. Kedekatan itu bukan hanya karena dia pejuang anti-apartheid yang beberapa kali berkunjung ke Indonesia, melainkan karena dia jadi ”duta batik” Indonesia ke masyarakat internasional.

Dalam catatan Kompas, Mandela yang berpulang Kamis (5/12) malam pada usia 95 tahun berkunjung ke Indonesia tahun 1990 saat masih menjadi Ketua African National Congress (ANC). Presiden Soeharto saat itu memberi mantan Presiden Afrika Selatan itu batik.

Sejak saat itu, gaya berpakaian Mandela seperti lekat dengan kemeja batik, terutama corak batik dari Jawa, berlengan panjang. Kerahnya kecil dan lancip, selalu tertutup hingga ke leher.

Kepada wartawan Indonesia yang menanyakan kesukaannya pada kemeja batik dalam jumpa pers di Wisma Negara saat kunjungan di Jakarta, 15 Juli 1997, Mandela mengatakan, hal tersebut adalah soal selera.

Masyarakat di Indonesia dapat menerima kemeja batik lengan panjang pada acara resmi tertentu, tetapi setelan jas dan dasi tetap dianggap sebagai pakaian resmi kenegaraan, seperti kebiasaan di berbagai negara dan lembaga internasional.

Bagi Mandela, aturan tersebut bukan tidak dapat dinegosiasikan. Nyatanya, keinginannya berkemeja batik dalam acara paling resmi sekalipun dapat diterima, sebagai bukti penghargaan atas keteguhannya melawan praktik diskriminasi apartheid dan tetap membuat rakyat Afrika Selatan bersatu.

Mandela mengenakan kemeja batik di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Juga dalam kunjungan resmi kepada pemimpin pemerintahan, seperti Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Atau saat berkunjung resmi kepada Ratu Elizabeth II dari Inggris seperti dicatat Rosihan Anwar dalam tulisannya di Kompas.

Ketika melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia sebagai Presiden Afrika Selatan pada 14 Juli 1997, Mandela mengenakan kemeja sutra batik berwarna dasar hitam dengan corak gurda (garuda) kuning kecoklatan. Presiden Soeharto sendiri mengenakan setelan jas.

Identitas

Pakaian adalah identitas pemakainya. Melihat pilihan Mandela berbatik yang tidak seiring dengan kebiasaan umum, tidak bisa tidak adalah cermin pribadi yang kuat dan berani.

Dia bergeming meski media Afrika Selatan mengkritik seharusnya Mandela mengenakan pakaian bercorak Afrika daripada batik dari Indonesia.

Bukan tanpa alasan jika Mandela menyukai batik. Corak batik banyak mengambil bentuk dari alam, seperti daun, batang, bunga, dan aneka hewan, seperti juga corak tekstil Afrika.

Mandela juga mengenal Indonesia jauh sejak masih dalam penjara, yaitu melalui tulisan Syekh Yusuf (1626-1699) dari Makassar yang dibuang Belanda ke Afrika Selatan. Mandela menyebutnya sebagai pelopor perjuangan Afrika Selatan melawan kolonialisme dan kemudian hari menjadikan Syekh Yusuf pahlawan nasional Afrika Selatan.

Konsistensinya melawan penjajahan di Afrika yang melahirkan apartheid tidak berhenti meskipun dia telah keluar dari penjara. Itu dicerminkan dari pilihannya berkemeja batik.

Sonwabile Ndamase, desainer mode, dalam Daily Maverick (18/7), menyebut gaya pakaian Mandela adalah wujud keinginannya atas kebebasan dan rasa nyaman yang tidak dia dapat selama 27 tahun di dalam penjara.

Mandela ingin diidentifikasikan dengan rakyat Afrika Selatan yang kebanyakan tidak mengenakan jas. Dia menciptakan gayanya sendiri, yaitu kemeja yang dikenakan di luar celana panjang, longgar, kancing tertutup hingga ke leher, dalam warna berani atau sederhana. Batik adalah favoritnya. (ninuk m pambudy)

 

Nelson Mandela Sukai Batik Iwan Tirta

Ainun Fika Muftiarini – Okezone
Jum’at, 6 Desember 2013 12:23 wib
detail berita
Nelson Mandela (Foto: Askmen)
 

 

NELSON Mandela memang dikenal sebagai sosok yang mencintai batik. Mantan Presiden Afrika Selatan itu juga diketahui menjadi salah satu klien dari maestro batik Iwan Tirta.

“Saat itu, Mas Iwan memberi batik yangrelated secara emosional,” tutur Era Soekamto, Direktur Kreatif Iwan Tirta Private Collection saat dihubungiOkezone, Jumat (6/12/2013).

“Dia memang suka batik karena di negerinya ada teknik batik. Dia mengapresiasi karena sekalinya dipakai jadi lambang pluralisme juga,” imbuhnya.

Seperti diketahui, Nelson Mandela meninggal di usia 95 tahun akibat infeksi paru-paru. Semasa hidupnya, pejuang perdamaian dan persamaan hak itu telah banyak berjasa dalam mempromosikan batik Indonesia ke kancah internasional. Bahkan, Mandela juga tidak ragu untuk memakai batik di berbagai acara internasional, termasuk sidang PBB sekalipun. (tty)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 86 other followers

%d bloggers like this: