Archive for ‘Bakrie Empire’

June 26, 2014

Nasabah Mengemis di Kantor OJK, Ini Tanggapan Bakrie Life

Zulfi Suhendra – detikfinance
Kamis, 26/06/2014 15:03 WIB
Halaman 1 dari 2
http://images.detik.com/content/2014/06/26/5/150651_bakrielife2dalam.jpg
Jakarta -Para nasabah PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) menuntut dana mereka dikembalikan. Mereka mengemis dan berdemo di kantor Otoritas Jasa Keuangan, siang ini. Ini tanggapan dari Bakrie Life.

Direktur Utama Bakrie Life Timoer Soetanto mengatakan, pihaknya masih memproses pembayaran utang ini. Diakuinya, proses ini masih akan selesai dalam beberapa hari ke depan.

“Kami masih proses, mudah-mudahan belum berubah, masih terbuka bulan Juni ini,” kata Timoer saat dihubungi detikfinance, Kamis (26/6/2014).

Timoer mengatakan, total utang yang harus dibayarkan oleh Bakrie Life adalah Rp 260 miliar. Untuk mebayar utang tersebut, Timoer mengaku menjual beberapa aset perusahaan.

“Ada beberapa tanah dan sebagainya. Atau mungkin tidak dijual, dipinjamkan (disewakan),” katanya.

Seperti diketahui Para nasabah Bakrie Life berdemo di depan kantor OJK. Mereka menuntut dana nasabah dikembalikan.

“Kita tidak ingin bertemu siapa-siapa, mau OJK atau orangnya Bakrie. Kita sengaja demo di sini mengemis supaya uang kita kembali,” kata salah satu nasabah Bakrie Life Wahjudi ketika dihubungi detikFinance

Menurutnya, demo tersebut melibatkan sekitar 50 nasabah produk Diamond Investa yang berasal dari Jakarta dan Surabaya. Demo digelar sejak pukul 10.00 WIB dan saat ini sudah selesai.

Meski tidak berniat melakukan mediasi dengan OJK atau pun perwakilan Bakrie Life, nasabah mengaku siap jika diundang dan berunding.

“Kalau mereka mengundang kami siap. Mereka selama ini sudah beri respons tapi duit tidak turun-turun,” ujarnya.

Menurut pria yang biasa disapa Wahyu ini, Bakrie Life sudah berjanji untuk melunasi utang Rp 260 miliar dari total utang senilai Rp 420 miliar itu bulan Juni ini.

“Katanya Bakrie Life mau dibeli investor baru, Juni ini (utang) mau dibayar. Kami sudah lima tahun dengar rencana itu tapi tidak ada realisasinya,” ujarnya.

April 9, 2014

Ical: Tak Ada Ganti Rugi di Lapindo  

Ical: Tak Ada Ganti Rugi di Lapindo  

Aburizal Bakrie. kelakuanicalbakrie.wordpress.com

TEMPO.COJakarta – Aburizal Bakrie mengatakan penyelesaian tanggungan terhadap korban semburan lumpur Lapindo bukanlah ganti rugi. Dia mengingatkan, pemberian uang kepada masyarakat yang tempat tinggalnya terendam lumpur itu merupakan proses jual-beli. Aburizal membantah bahwa yang dia lakukan merupakan wujud pemberian ganti rugi kepada korban semburan. (Baca: 5 Kekalahan Pemerintah atas Lapindo Brantas)

“Tidak ada ganti rugi dalam Lapindo,” kata Aburizal saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa, 8 April 2014. Dia menuding wartawan selalu menggunakan istilah yang bermuatan politik. “Itu adalah jual-beli, bukan ganti rugi.” (Baca: MK: Pemerintah Harus Bantu Korban Lapindo)

Aburizal mengatakan sudah memenuhi kewajibannya. Dia mencontohkan, perusahaannya memberi uang kepada mereka yang memiliki tanah di area semburan. Bahkan, dia melanjutkan, warga setempat yang tidak memiliki surat tanah namun berani sumpah pocong juga dia bayar. Aburizal menyatakan sudah membeli sebanyak 90 persen tanah dengan nilai dua kali nilai jual obyek pajak (NJOP).

Pernyataan ini disampaikan Ical menyusul ucapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang meminta PT Lapindo Brantas segera menyelesaikan kewajibannya, yaitu menuntaskan sisa tanggungan kepada korban lumpur Sidoarjo. Sebelumnya, Mahkamah Konstitusi memerintahkan pembayaran korban Lapindo diselesaikan.  (Baca:SBY Akan Paksa Lapindo Bayar Korban Lumpur)

“Saya sebagai kepala negara meminta Lapindo untuk segera menyelesaikan kewajibannya. Kalau tidak, negara terpaksa akan membawa ke proses hukum,” kata Presiden kepada para pimpinan media massa di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu malam, 5 April 2014. (Baca: Ganti Rugi Lapindo Tergantung Finansial Perusahaan).

Presiden mengaku sudah mengirim surat kepada PT Lapindo yang isinya meminta perusahaan itu segera menyelesaikan tanggungannya kepada korban lumpur Sidoarjo di area terdampak. “Masalah ini harus segera selesai, kasihan mereka,” kata SBY. (Baca: Elite Golkar Jamin Ical Lunasi Ganti Rugi Lapindo).

WAYAN AGUS PURNOMO

March 30, 2014

Berapa Ganti Rugi Lapindo yang Sudah Dibayar?

Seorang korban lumpur Lapindo berendam di dalam lumpur saat peringatan 7 tahun semburan lumpur di atas tanggul desa Siring, Porong, Sidoarjo, Rabu (29/5). TEMPO/Fully Syafi

TEMPO.CO, Jakarta – Hampir delapan tahun berlalu sejak lumpur menyembur dari lubang pengeboran PT Lapindo Brantas di Sidoarjo, Jawa Timur, masalah ganti rugi belum kunjung tuntas. PT Lapindo Brantas diwajibkan mengucurkan total Rp 3,82 triliun untuk membeli tanah dan bangunan warga di wilayah terdampak. (Baca: Ganti Rugi Tersendat, Menteri PU Panggil Lapindo)

Lapindo membayar ganti rugi melalui PT Minarak Lapindo Jaya. “Hingga 2012, yang sudah terbayar Rp 3,04 triliun,” ujar juru bicara Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo, Dwinanto, melalui sambungan telepon, Sabtu, 29 Maret 2014.

Rinciannya, hingga 2008 Minarak Lapindo Jaya telah membeli tanah dan bangunan warga senilai Rp 1,54 triliun. Pada 2009 jumlahnya Rp 360 miliar, dan 2010 sebesar Rp 750 miliar. Pada 2011, Minarak membayar Rp 240 miliar, sementara pada 2012 hanya Rp 150 miliar.

Selanjutnya, pada 2013, perusahaan itu tak melaporkan adanya pembayaran sama sekali. Menurut Dwinanto, alasan yang tersirat dari Minarak adalah kesulitan finansial perusahaan tersebut. “Alasan itu tidak dikemukakan dengan tegas, tapi yang tersirat mengarah pada finansial perusahaan,” ucapnya.

Jumlah yang dibayarkan Minarak lebih kecil dibanding yang sudah dikucurkan pemerintah. Hingga kini pemerintah telah menggelontorkan Rp 6,5 triliun untuk mengatasi bencana tersebut. (Baca: Agung: Ganti Rugi Lapindo Tuntas Sebelum Pilpres)

Laporan Badan Pemeriksa Keuangan menyatakan biaya ekonomi yang timbul akibat bencana itu lebih besar lagi. Total biaya ekonomi sepanjang 2006-2015–baik langsung maupun tak langsung, serta ongkos relokasi warga–diperkirakan mencapai Rp 32,9 triliun. (Baca: Aburizal Bakrie Berkukuh Lapindo Tidak Bersalah)

BUNGA MANGGIASIH

 

Aburizal Bakrie Berkukuh Lapindo Tidak Bersalah

Aburizal Bakrie Berkukuh Lapindo Tidak Bersalah  

Sejumlah korban Lumpur Lapindo melempar lumpur ke arah patung besar menyerupai Aburizal Bakrie saat peringatan 7 tahun semburan Lumpur di atas tanggul desa Siring, Porong, Sidoarjo, Rabu (29/5). TEMPO/Fully Syafi

TEMPO.CO, Malang - Pengusaha Aburizal Bakrie mengklaim telah memenuhi kewajibannya membayar tanah dan bangunan milik korban semburan lumpur Lapindo. Menurut dia, kewajiban PT Lapindo Brantas adalah membayar di dalam wilayah peta terdampak lumpur. Adapun di luar area peta terdampak, pembayarannya menjadi kewajiban negara melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. “Keputusan Mahkamah Agung, Lapindo tidak bersalah,” kata Aburisal seusai kampanye Partai Golkar di Malang, Kamis, 27 Maret 2014.

Menurut dia, keputusan Mahkamah Agung sudah tepat. Meski berkukuh tidak bersalah, Ketua Umum Partai Golkar yang akrab disapa Ical ini mengaku bahwa Kelompok Bakrie telah mengeluarkan anggaran besar untuk membayar korban lumpur Lapindo. “Bukan ganti rugi, tapi jual-beli aset berupa tanah dan bangunan,” katanya.

Rabu kemarin, Mahkamah Konstitusi mengabulkan uji materi korban semburan lumpur Lapindo di area peta terdampak. Menurut Mahkamah, Pasal 9 ayat 1 huruf a Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2013 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2012 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2013 bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

Dalam putusan itu, pemerintah diminta turun tangan dan menjamin pembayaran ganti rugi korban semburan lumpur Lapindo di wilayah peta terdampak. Selain itu, pemerintah diminta mendesak PT Minarak Lapindo Jaya segera melunasi ganti rugi kepada warga yang belum selesai sejak lumpur menyembur delapan tahun lalu.

“Negara dengan kekuasaan yang ada padanya harus dapat menjamin dan memastikan pelunasan ganti kerugian sebagaimana mestinya terhadap masyarakat di dalam wilayah peta area terdampak oleh perusahaan yang bertanggung jawab untuk itu,” kata hakim Mahkamah Konstitusi Patrialis Akbar saat membacakan putusan.

EKO WIDIANTO

February 12, 2014

Apakah Terlalu Dini Jika Grup Bakrie Disebut Bangkrut?

Karena kelakuannya yang doyan menipu investor dan masyarakat, tidak heran Group Bakrie masa depannya akan suram.


Ipotnews - Grup Bakrie semakin giat menjual aset-aset yang dimilikinya tanpa melakukan pengembangan. Apakah aksi jual aset tersebut sebagai upaya mengurangi beban utang-utangnya atau lebih parahnya sebagai alasan bahwa Grup Bakrie kini tinggal menunggu kebangkrutan?

Belum lama ini, PT Bakrie Swastika Utama (BSU) selaku entitas anak PT Bakrieland Development Tbk ( [ELTY 50 0 (+0,0%)]) melakukan transaksi jual beli ruang ritel di kawasan Rasuna Epicentrum kepada PT Bumi Serpong Damai Tbk ( [BSDE 1,565 0 (+0,0%)]) senilai Rp297 miliar.

Akuisisi ruang ritel yang dilakukan emiten tersebut mencakup area seluas sekitar 14.850 meter persegi.

“Dengan menjual asetnya, Grup Bakrie merasa sudah untung, dia (Grup Bakrie) realisasikan dan kebetulan ada yang minat, kalau di kondisi sektor riil sekarang, kalaupun jual tinggi tapi engga ketemu pembelinya, sama saja cuma di atas kertas,” kata Riset Analis PT Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya kepada Ipotnews, Rabu (12/2).

William menyebutkan, terlalu dini jika Grup Bakrie disebutkan bangkrut, karena menurutnya aksi jual beli aset tersebut sebagai satu langkah perusahaan untuk mengembangkan bisnis yang tengah dipersiapkannya.

“‎​Terlalu dini jika Grup Bakrie dibilang bangkrut, kalau soal akuisisi, itu hanyalah sebagai realisasi profit dari investasi dia selama ini, sepertinya Grup Bakrie sedang mempersiapkan untuk langkah langkah inovasi ke depan,” imbuh William.

Dalam laporan tertulisnya, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BSDE Hermawan Wijaya menyebutkan, tujuan pembelian tersebut sebagai bagian dari strategi Perseroan untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis secara anorganik terutama untuk memperkuat segmen pendapatan recurring income (pendapatan berkelanjutan) Perseroan.

“Langkah akuisisi lahan ritel ini diharapkan akan memperkuat proporsi recurring income menjadi 20:80 dalam lima tahun mendatang. Di mana saat ini posisi recurring income berada di kisaran 15:85 terhadap pendapatan penjualan produk (sales development),” imbuh Hermawan.

Adapun anchor tenant di antaranya Farmer Market, Electronic City, Avara Lounge, dan restoran Ming. Epicentrum Walk merupakan life style mall yang menyasar konsumen bersegmentasi A-AB+ yang berkantor dan bertempat tinggal di sekitar kawasan premium Kuningan.

(Iwan/mk)

January 15, 2014

Ironi Grup Bakrie: Investasi Rp 304 M di Path dan Utang Bakrie Life

Mangkannya inisialnya sudah bukan lagi ARB tapi AIB (Abu Ical Bakrie)

Herdaru Purnomo – detikfinance
Rabu, 15/01/2014 14:44 WIB
Halaman 1 dari 2

Jakarta -Grup Bakrie baru saja berinvestasi di jejaring sosial Path senilai US$ 25 juta atau sekitar Rp 304 miliar. Hal ini justru membuat sakit hati para nasabah PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life).

Pasalnya, sejak Oktober 2008, Asuransi yang dimiliki Grup Bakrie ini menderita gagal bayar. Alhasil dana nasabah senilai Rp 360 miliar pun tak jelas penggantiannya.

Salah satu perwakilan Nasabah Bakrie Life asal Jakarta menceritakan kisahnya.

“Dana kami tak kunjung kembali. Kami sudah dirugikan sejak Oktober 2008. Sabar? Bagaimana bisa bersabar jika melihat aksi Grup Bakrie yang mengejutkan,” kata nasabah tersebut saat berbincang dengan detikFinance, Rabu (15/1/2014).

“Tiba-tiba mereka investasi di Path Rp 300 miliar. Apakah ini tidak membuat kami sakit hati?” imbuh pria ini.

Menurutnya, nasabah Diamond Investa Asuransi Bakrie Life sudah berkali-kali dijanjikan penggantian dana oleh Grup Bakrie dan manajemen. Utang yang kini berkisar hanya Rp 130 miliar tak juga jelas kapan dibayarnya.

“Awalnya Rp 360 miliar uang kami. Kemudian dibayar jadi tinggal Rp 270 miliar utang mereka dan kini tinggal Rp 130 miliar. Itu pun karena mereka minta keringanan bahwa tidak 100% dana kita dikembalikan tidak apa-apa, tapi tetap saja masih tak jelas kapan dikembalikannya,” ungkapnya.

Menurutnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku regulator perusahaan asuransi pun tak bisa berbuat banyak. Bahkan, menurutnya OJK terkesan takut.

“OJK bisa apa? Memanggil mereka saja, tapi toh alhasil juga tidak jelas. Bagaimana ini?” tegas nasabah ini.

Path mendapat US$ 25 juta atau sekitar Rp 304 miliar dari Grup Bakrie Global. Jumlah ini setara dengan 38,5% dari total investasi US$ 65 juta yang telah masuk ke jejaring sosial itu sejak 2011.

Suntikan dana ini telah membuat Bakrie menjadi salah satu investor terbesar di Path di antara para investor lainnya seperti Greylock Partners, Kleiner Perkins, Index Ventures, Insight Venture Partners, Redpoint Venture Partners, dan First Round Capital.

Path sendiri berturut-turut mulai mendapat suntikan dana dari para pemodal sejak 2011 lalu dengan dana US$ 10 juta. Kemudian di tahun berikutnya kembali mendapatkan dana segar US$ 30 juta.

Sementara, Bakrie Life mengalami gagal bayar pada tahun 2008 sebesar Rp 360 miliar kepada nasabah Diamond Investa. Infomasi terakhir, utang Bakrie Life ke nasabah tinggal Rp 270 miliar dan menyusut jadi Rp 130 miliar. Namun karena kesulitan likuiditas Bakrie Life belum juga bisa melunasi.

January 13, 2014

Bakrie Bisa Investasi di Path Rp 304 Miliar, Bagaimana dengan Utang-utangnya?

Kapan nasabah Bakrie Life dibayar ? Ganti rugi Lapindo ?
Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Senin, 13/01/2014 09:24 WIB
Halaman 1 dari 2

Jakarta -Grup Bakrie melakukan investasi dengan menanam modal ke situs jejaring sosial Path asal Amerika Serikat (AS) senilai US$ 25 juta atau sekitar Rp 304 miliar. Aksi Bakrie tersebut mengundang sejumlah pertanyaan. Bagaimana dengan nasib utang-utang Grup Bakrie yang masih menggunung?

Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, aksi Grup Bakrie tersebut dinilai sebagai upaya perseroan untuk memberikan sentimen positif ke pasar.

Dengan penanaman modal tersebut, pasar menilai jika Grup Bakrie masih punya pendanaan untuk mengembangkan bisnis perseroan di segala bidang termasuk Path.

“Nilai investasinya lumayan besar. Nanti yang akan dipertanyakan, bagaimana pendanaan tersebut? Dari mana uangnya? Kalau berinvestasi artinya Bakrie punya uang, kenapa nggak bayar utang dulu?,” ujar Reza kepada detikFinance, Senin (13/1/2014).

Menurut Reza, Grup Bakrie melihat potensi keuntungan besar terhadap Path sebagai perusahaan yang punya pasar cukup menjanjikan di Indonesia.

“Mereka menangkap peluang di sini. Mereka melihat sesuatu yang menghasilkan keuntungan di Path, akan ada nilai tambah dibandingkan membayar utang,” terang dia.

Reza menambahkan, investasi Grup Bakrie di Path tersebut belum bisa dikatakan sebagai pengaruh besar terhadap pasar Path di Indonesia.

++++++

Pengguna Path Ancam Tutup Akun, Ini Penjelasan CEO

Selasa, 14 Januari 2014 | 14:54 WIB
PathPath
JAKARTA, KOMPAS.com — Investasi Bakrie Global Group di jejaring sosial pribadi Path bagai dua sisi mata uang. Kabar baik untuk Path adalah Bakrie menginvestasikan 25 juta dollar AS.Akan tetapi, masuknya Bakrie ke Path juga mendapatkan respons negatif dari publik. Setelah laman recode.net memberitakan Bakrie masuk ke perusahaan jejaring sosial itu, berbagai pertanyaan muncul terkait keputusan Path menggandeng Bakrie.

Fakta yang paling dirasa mengganggu adalah bencana luapan lumpur di tahun 2006, yang dihubungkan dengan anak perusahaan Bakrie Lapindo Brantas, menenggelamkan 14.000 rumah di Jawa. Akibatnya, segera setelah kabar investasi Bakrie atas Path tersebar, banyak pengguna Path di Indonesia “berkicau” di Twitter mengatakan akan menutup akun Path mereka.

Namun, pendiri dan CEO Path Dave Morin mempertahankan keputusan perusahaannya menggandeng Bakrie.

“Selama masa penghimpunan dana, sangat penting bagi kami untuk menemukan investor di regional yang dapat bermitra dengan kami. Untuk membantu ekspansi operasional di sana, dan untuk memberikan pelayanan berkualitas tinggi bagi pengguna kami di Asia Tenggara,” kata Morin seperti dikutip dari recode.net, Senin (13/1/2014).

Keputusan menggandeng Bakrie, lanjut Morin, adalah keputusan bisnis perusahaan. Ia memandang kerja sama dengan Bakrie dan Bakrie Telecom sangatlah penting. Morin menjelaskan, Bakrie Telecom adalah satu dari empat mitra Path di Indonesia dan bukanlah satu-satunya mitra.

“Kami juga menjalin kemitraan dengan perusahaan telekomunikasi besar lainnya, yakni Telkomsel, XL, dan Indosat untuk memberi pelayanan bermutu tinggi pula kepada para pengguna kami. Jadi ini bukan satu-satunya. Keputusan menjadikan perusahaan ini pemegang saham bukan berarti mereka adalah satu-satunya mitra kami di sana,” jelas Morin.

Morin mengaku pihaknya memonitor sentimen-sentimen yang muncul dan mencoba memahami kekhawatiran maupun respons positif yang ada. Ia mengatakan, Path kemungkinan memperoleh lebih banyak respons positif dibanding negatif.

December 20, 2013

Bakrie Telecom Terlilit Utang Rp 9,4 Triliun

 

Dewi Rachmat Kusuma – detikfinance
Jumat, 20/12/2013 13:12 WIB
 
 
 
 
http://images.detik.com/content/2013/12/20/6/btel.jpgFoto: Manajemen Bakrie Telecom (Dewi-detikFinance)
Jakarta -Operator telekomunikasi pemilik brand Esia, PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mencatat total utang Rp 9,4 triliun hingga September 2013 lalu. Total utang itu berasal dari utang jangka pendek Rp 4,3 triliun, dan utang jangka panjang Rp 4,9 triliun.

Direktur Utama Perseroan Jastiro Abi mengatakan, utang-utang perseroan sebagian besar utang dalam bentuk dolar. Akibat nilai tukar rupiah yang terus menurun, jumlah utang tersebut terus naik.

“Itu karena pergerakan nilai tukar rupiah yang terus melemah, itu di luar kontrol kita,” kata Abi saat acara Public Expose Perseroan, di Mega Plaza, Kuningan, Jakarta, Jumat (20/12/2013).

Abi merinci, utang-utang itu berasal dari utang obligasi dolar US$ 380 juta yang akan jatuh tempo pada 2015 mendatang, lalu utang vendor financing sebesar US$ 150 juta, dan credit swiss US$ 50 juta.

“Itu semuanya utang dolar AS dan pergerakan rupiah terus melemah, mempengaruhi itu. Saat ambil utang kurs masih di posisi Rp 9.200/US$,” ujar dia.

Abi menjelaskan, saat ini pertumbuhan industri telekomunikasi dinilainya cukup berat. Selain kondisi perekonomian yang memang belum stabil, pengguna layanan voice SMS yang menjadi salah satu pendapatan perseroan juga tidak berkembang.

“Cost naik, inflasi juga, semua naik mulai dari cost listrik, pegawai, sehingga revenue turun. Pada saat ini indusrti menurun, indikasi2-indikasi sudah kelihatan, pemain-pemain sudah sedikit. Dari situ voice SMS menurun, operator mulai ke data bisnis. Jadi tidak mudah untuk operator saat ini,” cetusnya.

 

(drk/dnl) 

December 15, 2013

Bakrie Sumatera Plantations Jual Aset untuk Kurangi Utang

 

Dari total utang Rp12,8 triliun, akan dibayar dulu Rp2 triliun.

ddd
Jum’at, 13 Desember 2013, 20:02Anggi Kusumadewi, Alfin Tofler
Manajemen Bakrie Sumatera Plantations. Dirut Muhammad Iqbal Zainuddin paling kanan.
Manajemen Bakrie Sumatera Plantations. Dirut Muhammad Iqbal Zainuddin paling kanan.(ANTARA FOTO/Audy Alwi)
  
  

VIVAnews – PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk akan mengurangi utang sebesar Rp2 triliun dengan menjual aset. Perusahaan itu mengklaim telah memperoleh pembeli, namun belum dapat menyebut nama-nama mereka.

Penjualan aset diyakini bisa mengurangi utang perseroan yang mencapai Rp12,8 triliun. Dari total utang tersebut, sebesar Rp11,11 triliun dalam bentuk dolar Amerika Serikat yang akan jatuh tempo pada 2016.

“Jika semua berjalan sesuai rencana, total liabilitas perseroan pada 2014 akan berkurang menjadi Rp10,83 triliun,” kata Direktur Utama Bakrie Sumatera, Muhammad Iqbal Zainuddin, dalam paparan publik di Jakarta, Jumat 13 Desember 2013.

Dengan demikian, beban bunga dan keuangan sebesar Rp301,72 miliar yang saat ini dimiliki perseroan, akan berkurang.

Iqbal mengatakan, perseroan berusaha keras untuk mengelola utang. Perseroan juga menjaga komunikasi dengan upstreamdan downstream supaya struktur cicilan utang sesuai dengan kemampuan kas perusahaan.

Direktur Keuangan Bakrie Sumatera, Chandra, mengatakan, penurunan kinerja perseroan secara umum diakibatkan oleh turunnya hargal jual komoditas. Harga jual karet pada kuartal III-2013 sebesar US$2.640 per ton, sedangkan rata-rata harga jual CPO pada periode yang sama US$605 per ton. (art)

 

 
November 25, 2013

Tiga Anak Usaha Bakrie Go Public Pada 2015

Apakah ada investor yang masih mau beli saham dari group Bakrie??
JUM’AT, 22 NOVEMBER 2013 | 13:53 WIB

Tiga Anak Usaha Bakrie Go Public Pada 2015

Dirut dan CEO PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) Bobby Gafur Umar (tengah) didampingi Chief of Investor Relations, Indra Ginting (kiri), Direktur BNBR Eddy Soeparno (kanan) berjalan menuju ruangan sebelum dimulainya paparan publik Tahunan BNBR di Jakarta, Senin (3/12). ANTARA/Zarqoni

TEMPO.COJakarta – Anak usaha Grup Bakrie di sektor manufaktur tengah bersiap melepas saham perdana ke publik. Rencananya hal tersebut akan dilakukan pada tahun 2015.

“Tadinya unit kami yang terkait manufacturing pernah ada rencanago public 2013. Tapi melihat situasi di BEI yang tidak terlalu kondusif, kami melihat windows-nya terbuka nanti,” ujar Presiden Direktur PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR), Bobby Gafur Umar, dalam paparan publik di Bakrie Tower, Jumat, 22 November 2013.

Dalam portofolio perusahaan, anak usaha yang dimaksud adalah PT Bakrie Building Industries (BBI), PT Bakrie Pipe Industries (BPI), dan PT Bakrie Tosanjaya. Tidak disebutkan berapa dana yang diincar perseroan dari aksi tersebut. “Kami masih pertimbangkan apakah akan IPO masing-masing atau gabungan. Misalnya, Bakrie Industries jadi satu. Itu tergantung perekonomian nanti,” tutur Bobby.

Sampai dengan triwulan ketiga tahun ini, BNBR mencatatkan kinerja yang tidak menggembirakan dengan rugi bersih senilai Rp 750 miliar. Di periode yang sama tahun sebelumnya, perseroan masih mengantongi laba bersih sebesar Rp 252,71 miliar. Pendapatan bersih juga turun menjadi Rp 2,93 triliun dari Rp 13,85 triliun di kuartal III 2012.

Pencapaian laba yang negatif itu disebabkan antara lain adanya rugi kurs. Per September 2012, rugi selisih kurs BNBR tercatat hanya Rp 151,01 miliar. Namun, per September 2013, rugi kurs membengkak 81,6 persen menjadi Rp 823,82 miliar. Di lain pihak, penurunan pendapatan disebabkan oleh adanya penjualan saham Bumi Plc kepada BORN pada Juni 2012 serta dekonsolidiasi unit usaha perdagangan Bakrie Petroleun di Agustus 2012.

RIRIN AGUSTIA

November 23, 2013

Kembali Tak Masuk Daftar Orang Kaya, Ical Bangkrut?

23 November 2013

TEMPO.CO, Jakarta – Pengusaha kondang dan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie kembali terdepak dari daftar 50 orang terkaya di Indonesia versi Forbes. Terakhir, Ical–sapaan akrab Aburizal–bertengger dalam daftar itu pada 2011. Itu pun dia hanya menempati peringkat 30 dengan kekayaan sekitar Rp 10 triliun.

Padahal, calon presiden dari Partai Golkar untuk Pemilu 2014 tersebut sebelumnya telah 6 tahun duduk nyaman dalam daftar orang sugih se-Indonesia itu. Ical masuk di jajaran orang terkaya pada 2006 dan langsung menempati peringkat enam dengan kekayaan sebesar Rp 14 triliun. Setahun kemudian, pundi-pundi kekayaannya bertambah menjadi Rp 50 triliun sehingga membuat Ical menjadi orang terkaya se-Indonesia. (Baca juga : Mau Nyapres? Siapkan Dana Minimal Rp 7 Triliun )

Akibat krisis ekonomi global –subprime mortgage– tahun 2008, kekayaan Ical terkuras sehingga hanya tersisa sekitar Rp 9 triliun. Peringkat Ical pun turun dari posisi pertama ke peringkat sembilan tahun itu. Pada 2010, usaha Bakrie Group mulai didera banyak permasalahan, dari utang yang menggunung sampai aksi gadai saham anak usahnya. Tak ayal lagi, posisi Ical pun melorot. Dia terlempar ke posisi 10, sampai akhirnya terdepak dari daftar 40 besar orang terkaya di Indonesia pada 2012. (Baca juga : Kekayaan Hary Tanoe Melonjak Menjadi Rp 15 Triliun)

Ical kembali merana tahun ini. Ia kalah oleh para pengusaha muda, seperti Garibaldi Tohir (peringkat 30) dan Sandiaga Salahuddin Uno (peringkat 47). Kini, Golkar yang menjadi kendaraan politiknya pun dikabarkan kekurangan dana untuk mencalonkan Ical pada pemilu tahun depan.

Dalam kunjungannya ke kantor Tempo, 14 November lalu, Aburizal mengaku kekayaannya banyak berkurang akibat kasus lumpur Lapindo. “Pasti banyak berkurang,” katanya.

Saat itu Ical bercerita tentang bagaimana keluarga Bakrie mencari jalan keluar untuk membuat bisnisnya bangkit kembali. “Pada krisis 1998, saham tinggal 2,5 persen, kita kerja terus. Keluar, pakai aset perusahaan, cari bisnis lain yang kita belum pernah kerjain, bisnis batu bara. Akhirnya tahun 2008, sudah baik dibanding 1998,” ia memaparkan.

ERWAN HERMAWAN | FORBES

Berita Terpopuler :
Mau Nyapres? Siapkan Dana Minimal Rp 7 Triliun
Data Cina Melemah, Indeks Turun Lagi 24 Poin
Menteri Minta Regulasi Impor Sapi Hidup Direvisi
BI Tak Intervensi, Rupiah Melemah
Dahlan Angkat Perempuan Muda Jadi Dirut BUMN

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 76 other followers