Archive for ‘BUMN news’

September 18, 2014

Terbelit Utang Rp15 Triliun, Pemerintah Sulit Selamatkan Merpati

Thursday, September 18, 2014       13:39 WIB

Ipotnews – Menteri BUMN, Dahlan Iskan, mengatakan sudah berupaya mencari jalan keluar untuk menyelesaikan permasalahan yang mendera Merpati Nusantara Airlines dengan kemungkinan menjual aset.

Namun ternyata Merpati sudah tidak memiliki aset bernilai tinggi untuk dijual atau dijaminkan, sehingga penyelesaian maskapai tersebut menemui jalan buntu. Bahkan, menurut Dahlan, besaran utang Merpati setara dengan tiga kali lipat nilai investasi untuk membangun tiga perusahaan penerbangan baru sekelas Merpati. Saat ini nilai tunggakan Merpati tercatat mencapai Rp15 triliun.

‎”Total tunggakan Merpati bisa mencapai Rp15 triliun, kalau tidak ada jalan keluar, logikanya kalau punya uang Rp15 triliun bisa bikin tiga Merpati lagi. Aset yang nilainya puluhan miliar sudah tidak ada sama sekali. Ada pesawat, tetapi kan sudah dijaminkan juga, jadi tidak bisa dijual,” ujar Dahlan, seusai rapat pimpinan di Jakarta, Kamis (18/9).

“Sampai tadi, rapat itu 90 persen mencari apa lagi? Sehingga betul-betul tidak ada. Saya sudah mencoba dan tidak dapat jalan keluarnya, bisa dikatakan sekarang buntu.”

Dahlan mengungkapkan, ide lain untuk melunasi utang Merpati yang saat ini jumlahnya mencapai Rp7,2 triliun dengan melepas Merpati Maintenance Facility (MMF). Namun, diyakini penjualan tersebut tetap tidak akan mampu menyelamatkan Merpati.

“Dugaan saya MMF masih bisa dijual, dan saya berharap, tetapi kita sudah cari jalan, apa yang bisa dijual dari Merpati, tidak ada yang bisa dijual. MMF ternyata juga sudah dijaminkan untuk utang-utang yang dulu, surat-suratnya sudah di tangan yang memberikan pinjaman itu, sehingga tidak ada lagi yang bisa dijual,” ungkapnya.

Opsi lainnya dengan melakukan restrukturisasi, juga diyakini tak dapat menghidupkan kembali maskapai perintis tersebut. “Bahkan, saya beritahukan bahwa kalau selama ini akumulasi rugi Rp7,2 triliun bisa diselesaikan dengan kuasi, ternyata tidak bisa. Menurut peraturan yang baru, kuasi tidak bisa dilakukan karena terakhir bisa dilakukan adalah akhir 2012,” tutur Dahlan.

Namun demikian, Dahlan menegaskan tidak ingin menyerah untuk menyelamatkan Merpati. “Intinya soal Merpati masih dicari, saya belum menyerah, pasti adalah caranya,” kata dia.

Sebagai informasi, Merpati Nuusantara saat ini memiliki total utang yang harus dibayarkan sebesar Rp15 triliun. Jumlah tersebut termasuk gaji karyawan, pesangon hingga tunggakan bahan bakar ke sejumlah perusahaan. (Sigit/ef)

September 18, 2014

PT PAL Bangun Proyek Kapal PKR 10514 Kedua

18 September 2014

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro (kedua kanan), bersama Wakil KSAL Laksdya TNI Didit Herdiawan (kedua kiri), Dirut PT PAL Indonesia (Persero) M Firmansyah Arifin (tengah) dan perwakilan galangan kapal Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Belanda (kiri), menyaksikan proses pemotongan plat baja pertama kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) 10514 di Divisi Kapal Perang PT PAL Indonesia (Persero) Surabaya, Rabu (17/9). Pemotongan plat baja pertama (fist steel cutting) proyek kapal PKR yang bekerjasama dengan galangan kapal DSNS Belanda tersebut, untuk menyeimbangkan teknologi terkini pada industri perkapalan, demi memenuhi Armada TNI AL. (photo : Antara)

Bisnis.com, SURABAYA – BUMN galangan kapal PT PAL Indonesia (Persero) mulai menggarap proyek kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) 10514 yang kedua setelah sebelumnya memulai konstruksi pembuatan PKR pertama.

Modul bagian depan PKR 10514 pertama (photo : ambalat)

Direktur Utama PAL INDONESIA M. Firmansyah Arifin mengatakan proyek PKR tersebut digarap melalui kerjasama dengan galangan kapal Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Belanda.

“Kerjasama dengan galangan luar negeri ini turut menyeimbangkan teknologi terkini pada industri perkapalan. Perkembangan kebutuhan kapal dan teknologinya selalu meningkat setiap tahunnya, dan ini sebagai pemenuhan Armada TNI Angkatan Laut,” ujarnya dalam siaran rilis penyelesaian proyek KCR 60 dan pemotongan plat baja pertama (First Steel Cutting) kapal PKR 10514 kedua, Rabu (17/9/2014).

Modul bagian tengah kapal PKR 10514 pertama (photo : ambalat)

Dia mengatakan dalam mencapai target sebagai lead integrator sesuai amanah Undang-Undang No.16 Tahun 2012, PAL Indonesia sebagai BUMN diharuskan mampu memproduksi kebutuhan alutsista TNI yang menjadi motor tumbuhnya industri galangan kapal.

“Dengan merampungkan pesanan TNI AL, kami akan terus berkarya untuk peningkatan kebutuhan armada laut menjadi world class navy,” imbuhnya.

Modul bagian atas kapal PKR 10514 pertama (photo : ambalat)

Adapun PAL Indonesia telah menyerahkan Kapal Cepat Rudal 60 Meter (KCR 60) dengan total 3 unit dari bacth pertama ini. KCR 60 meter merupakan jenis pengembangan dari Kapal Patroli Cepat (FPB-57) yang telah dibangun oleh perseroan sebelumnya. KCR 60 M ketiga yang sudah diserahterimakan rencananya akan diresmikan oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro untuk menjadi kapal perang Indonesia dengan nama KRI HALASAN 630.

PAL Indonesia juga berencana segera mengirimkan sekitar 250 tenaga pembuatan kapal untuk melaksanakan Transfer of Technology (ToT) proyek Kapal Selam. Proyek tersebut bakal menjadi sejarah pertama di Indonesia dalam pembangunan kapal Selam.

(Bisnis)

++++++

DPR Setujui PMN Rp 1,5 T untuk PT PAL

17 September 2014

Dana Rp 1,5 T akan digunakan untuk pembuatan fasilitas pembangunan kapal selam (photo : marinelink)

Dahlan-DPR Rapat 20 Menit, BUMN Ini Dapat Rp 1,5 T Untuk Bikin Kapal Selam

Jakarta -Rapat kerja Menteri BUMN Dahlan Iskan dengan Komisi VI DPR hari ini menyetujui pemberian dana segar, berupa penyertaan modal negara (PMN) Rp 1,5 triliun kepada PT PAL Indonesia (Persero).

Berlangsung singkat 20 menit, rapat dimulai pukul 20.00 WIB. Dana Rp 1,5 triliun ini diberikan dalam bentuk tunai, untuk proyek pembuatan kapal selam pertama.

Adapun suntikan modal untuk PAL, akan masuk dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2015. Kapal selam akan dibuat PAL di fasilitas miliknya yang berlokasi di Surabaya.

“Komisi VI dapat menyetujui usulan PMN dalam RAPBN 2015 sesuai surat Menteri BUMN kepada PAL senilai Rp 1,5 triliun dalam bentuk tunai, untuk pembangunan fasilitas kapal selam, dan penyediaan sumber daya manusia untuk bangun kapal selam,” kata Ketua Komisi VI DPR, Airlangga Hertarto dalam rapat di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (16/9/2014).

PAL membutuhkan total dana Rp 2,5 triliun untuk pengembangan kapal selam ini. Namun untuk tahun depan, dana yang disetujui baru mencapai Rp 1,5 triliun.

Uang ini, rencananya digunakan untuk membangun fasilitas pengambungan kapal selam, pembelian peralatan produksi, dan lain-lain yang menunjang pembangunan kapal selam tersebut.

(Detik)

September 16, 2014

Krakatau Minta Tax Holiday untuk Anak Perusahaan  

TEMPO.CO, Jakarta – PT Krakatau Steel mengajukan permohonan tax holiday untuk anak perusahaannya, Krakatau Posco Energy. Anak perusahaan PT Krakatau Steel yang bergerak di bidang energi ini awal tahun lalu sudah mulai beroperasi di Cilegon, Jawa Barat. Krakatau Posco Energy ini bergerak di bidang pembangkit listrik yang memanfaatkan gas buang PT Krakatau Steel untuk kemudian diolah menjadi tenaga listrik.

“Kami berharap Kemenperin memberikan bantuan dan dukungan agar sektor usaha ini bisa diperhitungkan secara kriteria sedemikian rupa dan layak dapat tax holiday,” kata Irvan Hakim, Direktur Utama PT Krakatau Steel, setelah bertemu dengan Menteri Perindustrian M.S. Hidayat di Jakarta, Senin, 15 September 2014.

Menurut Irvan, industri ini sebenarnya layak untuk mendapatkan tax holiday karena akan menjadi pionir dalam pengolahan energi dari gas buang produksi PT Krakatau Steel, yang selama ini terbuang percuma. Saat ini pembangkit milik Krakatau Posco Energy sudah memproduksi listrik sebesar 200 megawatt, yang sebagian besar listriknya digunakan untuk kepentingan produksi Krakatau sebesar 150 megawatt dan selebihnya disalurkan kepada PLN.

Kata Irvan, penggunaan listrik dengan memanfaatkan limbah gas buang produksi baja dianggap lebih efisien dibandingkan harus membeli listrik dari PLN. “Berapa efisiensinya, tidak bisa kita sampaikan. Itu urusan dapur, yang pasti lebih efisien karena pakai gas buang dari produksi baja yang dihasilkan Krakatau Posco,” ujarnya.

Akibat kenaikan tarif dasar listrik yang naik secara bertahap, industri baja di Indonesia dinilai sangat terpukul dengan kenaikan itu. Komponen biaya energi dalam industri baja dianggap sangat tinggi, sekitar 10-15 persen. “Industri hulu kebutuhan listriknya paling tinggi. Semakin ke hilir, kebutuhannya akan semakin berkurang,” katanya.

Beruntung, PT Krakatau Steel, selain memiliki Krakatau Posco Energy, juga mempunyai anak perusahaan lain di bidang pembangkit listrik, yaitu PT Krakatau Daya Listrik dengan daya 120 megawatt. Bedanya, pembangkit Krakatau Daya Listrik menggunakan bahan baku gas alam. Kebutuhan listrik untuk proses produksi di PT Krakatau dipasok dari dua pembangkit milik anak perusahaan Krakatau ini. “Baru misalnya kalau kurang, kita akan ambil dari PLN, sehingga beban kenaikan TDL bagi Krakatau tak begitu terasa,” ujar Irvan.

AMIR TEJO

Topik terhangat:

September 16, 2014

Pindad Gandeng CMI Belgia Produksi Meriam Tipe Besar

15 September 2014

Meriam 105mm produksi Cockerill Belgia (image : CMI)

BANDUNG, KOMPAS.com – PT Pindad (Persero) mengambil langkah strategis jangka panjang untuk pengembangan sistem persenjataan kendaraan tempur dan tanknya. Senin (15/9/2014) Pindad resmi menggandeng perusahaan asal Belgia, Cockerill Maintenance & Ingenierie SA Defense (CMI), untuk pengembangan sistem meriam atau turret. Untuk tahap awal, produsen amunisi senapan dan kendaraan tempur asal Bandung itu akan memproduksi turret kaliber 90 mm dan 105 mm untuk dipasang di kendaraan tempur produksi Pindad.

Penandatangan nota kesepahaman antara kedua perusahaan diresmian di hanggar produksi panser Anoa milik Pindad, di Kiara Condong, Bandung. Direktur Utama Pindad Sudirman Said mengungkapkan, kesepakatan ini membawa dampak positif bagi pengembangan Pindad  sebagai perakit sistem persenjataan. Selain itu, kerjasama sekaligus bertujuan meningkatkan kemampuan teknologi perusahaan dan membawa Pindad masuk dalam global supply chain industri pertahanan bersama CMI.

Pindad dan CMI akan membentuk komite untuk menyusun proses alih teknologi dan pelatihan teknis untuk mendukung tujuan memproduksi turret kaliber besar. “Pindad juga memperoleh kesempatan untuk mengirimkan beberapa putra-putri terbaik kita untuk belajar masalah sistem persenjataan di CMI,” kata Sudirman.

Kesempatan ini sangat sesuai dengan tujuan manajemen untuk membangun kapasitas perusahaan  agar bisa maksimal dalam menjalankan amanah UU Nomor 16/2012 tentang Industri Pertahanan.

Sementara itu, Executive Vice President CMI James Caudle menyatakan, CMI sebenarnya sudah lama hadir dan dikenal oleh Tentara Nasional Indonesia sebagai pengguna sistem persenjataan, meski hanya berupa nama. “Brand ‘Cockerill’ sudah akrab dikenal dan telah lama melengkapi sistem persenjataan TNI Angkatan Darat,” katanya. “Ini akan menguntungkan bukan saja kami tetapi juga Pindad dan Indonesia”.

CMI percaya kerjasama ini akan meningkatkan potensi besar industri pertahanan lokal dan mendukung sistem pertahanan nasional Indonesia lewat pembangunan kapasitas sumber daya manusia dan transfer of technology. “Kami senang bisa meneken kerjasama dengan Pindad sebagai langkah awal jangka panjang dalam bidang perakitan dan teknologi sistem persenjataan,” ujar Caudle.

Setelah meneken nota kesepahaman, Pindad dan CMI akan duduk bersama merampungkan detail kerjasama yang memuat secara rinci kesepakatan dan komitmen yang telah dijalin dalam bentuk skema kerjasama yang memuat hak dan kewajiban kedua belah pihak. Kerjasama dengan CMI ini adalah kali kedua Pindad meneken kerjasama dengan industri pertahanan dunia. Bulan lalu, Pindad meneken kerjasama dengan Rheinmetall Denel Munition (RDM) untuk pengembangan amunisi kaliber besar.

Pindad memang sedang tencar mendorong tenaga ahlinya membangun sendiri kekuatan alat utama sistem persenjataan di dalam negeri. Untuk kendaraan tempur misalnya, sudah lahir kendaraan lapis baja Anoa dan kendaraan taktis Komodo.

Pindad juga sudah mengantongi kepercayaan TNI Angkatan Darat untuk melakukan retrofit tank AMX 13. Di tangan para insinyur Pindad, tank tua ini telah mengalami perubahan total mesin, sistem transmisi, elektronik hingga sistem senjata lewat pemasangan meriam kaliber 105 mm.

(Kompas)

September 11, 2014

RI Punya BUMN Baru

Kamis, 11/09/2014 13:40 WIB

Feby Dwi Sutianto – detikFinance
Dahlan Iskan, Menteri BUMN
Jakarta – Indonesia akan segera punya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baru. BUMN ini merupakan hasil merger empat perusahaan pelat merah.

BUMN ini akan bergerak di bidang reasuransi. Ada empat perusahaan yang bergabung yaitu PT Asuransi Ekspor Indonesia (Persero), PT Reasuransi Nasional Indonesia (anak usaha PT Askrindo), PT Tugu Reasuransi Indonesia (cucu usaha PT Pertamina), dan PT Reasuransi Internasional Indonesia (anak usaha PT Reasuransi Umum Indonesia).

Rencananya BUMN baru ini rencananya akan diluncurkan Oktober. “Bulan depan akan di-launching Indonesia Reasuransi atau Indonesia REI,” ungkap Dahlan Iskan, Menteri BUMN, di kantor PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), Jakarta, Kamis (11/9/2014).

Menurut Dahlan, potensi di bisnis reasuransi sangat menggiurkan. “Tahun lalu saja, kita kehilangan kesempatan Rp 8 triliun yang lari ke luar negeri. Akhirnya neraca kita sayang kalau Rp 8 triliun lari ke luar negeri. Dengan terbentuknya Indonesia Reasuransi, maka kita punya kemampuan menyerap Rp 8 triliun itu,” paparnya.

Secara bisnis, gabungan BUMN reasuransi ini baru beroperasi normal pada Januari 2015. Saat ini, Kementerian BUMN sedang mengurus proses administrasi.

“Langkah administratif tengah dilakukan. Mau tidak mau kita harus punya perusahaan reasuransi raksasa,” kata Dahlan.

Selama ini, perusahaan asuransi raksasa melakukan penjaminan atau program reasuransi pada perusahaan asing karena Indonesia tidak ada perusahaan reasuransi besar. Dengan adanya BUMN reasuransi raksasa, maka potensi di dalam negeri bisa ditangkap.

Bahkan, menurut Dahlan, perusahaan reasuransi asing menyambut baik rencana BUMN ini. Mereka siap menjadi mitra untuk membentuk perusahaan reasuransi besar di Indonesia.

“Perusahaan-perusahaan reasuransi di Eropa telah mendengar rencana kita ini karena mereka juga butuh partner yang kuat untuk kerja sama di Indonesia. Misalnya perusahaan reasuransi raksasa di Swiss, Inggris, dan lain-lain” sebutnya.

September 11, 2014

First Cutting Detail Part Manufacturing N219

Rabu, September 10, 2014

0

BANDUNG-(IDB) : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) berhasil mengembangkan N219 buatan sendiri. Ini dibuktikan, dengan First Cutting Detail Part Manufacturing N219 yang dilakukan hari ini, Selasa 9 September 2014, di Bandung.

Menurut Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Lapan, Jasyanto, kegiatan ini merupakan pemotongan pertama Detail Part Manufacturing (DPM), pertanda dimulainya pembuatan komponen airframe N219.

“Saat ini, N219 telah mencapai tahap produksi komponen. Proses DPM ini merupakan satu tahapan penting dalam pembuatan pesawat,” kata Jasyanto, dalam keterangan resminya.

N219 disebut-sebut sebagai pesawat perintis berpenumpang 19 orang yang mampu mendarat di landasan pendek di ketinggian ekstrem.

“Lapan melalui Pusat Teknologi Penerbangan siap membangkitkan kembali industri penerbangan nasional. Setelah seluruh proses pengembangan prototipe N219 selesai, pesawat ini akan diproduksi massal oleh BUMN Penerbangan, PT DI (Dirgantara Indonesia),” ujar Jasyanto.

Program N219 dimulai sejak 2006, dengan melakukan kajian pasar dan kelayakannya. Lapan telah mengalokasikan anggaran dan melibatkan engineer di bidang aerodinamika, struktur, propulsi, navigasi, dan avionik pesawat untuk mengembangan N219.

“Tahun 2008 hingga 2012, dilanjutkan dengan membuat desain konsep dan melakukan uji wind tunnel (terowongan angin). Saat ini, N-219 berada pada fase detail design dan tooling design yang akan selesai pada Oktober 2014,” katanya.

Diharapkan, kata Jasyanto, Lapan akan menyelesaikan pembangunan pesawat ini sepenuhnya dan menunjukkannya kepada publik pada 10 Agustus 2015. Sementara itu, pesawat ini direncanakan terbang untuk pertama kali pada Desember 2015. Kemudian, pesawat akan memasuki proses sertifikasi yang akan selesai pada Oktober 2016.

Selain untuk membangkitkan industri penerbangan nasional, N219 dibangun juga sebagai pengembangan pesawat perintis di Indonesia timur dan pulau-pulau kecil.

Pengembangan pesawat ini optimistis dapat meningkatkan industri penerbangan dalam negeri. Hal ini, disebabkan potensi pasar bagi N219 sangat besar karena tingginya kebutuhan pesawat dalam negeri, diiringi pertumbuhan penumpang transportasi udara Indonesia terus meningkat setiap tahun.

Bukti tingginya kebutuhan transportasi udara di dalam negeri terlihat, dari banyaknya pihak yang memesan pesawat ini. Bahkan, saat ini, sudah ada pesanan sebanyak 150 pesawat dari berbagai maskapai penerbangan dan industri.

Sumber : Vivanews

Read more: http://indo-defense.blogspot.com/2014/09/first-cutting-detail-part-manufacturing.html#ixzz3CzLzAuk4

September 9, 2014

Selain dengan Korea, Krakatau Steel Juga Gandeng Jepang Bangun Pabrik Baja

Senin, 08/09/2014 18:30 WIB

Zulfi Suhendra – detikFinanceJakarta – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KS) menjalin kerja sama pembentukan usaha patungan bernama PT Krakatau Osaka Steel (PT KOS), dengan produsen besi baja asal Jepang, Osaka Steel Co Ltd. Beberapa tahun sebelumnya KS juga menggandeng Posco asal Korea Selatan membentuk anak usaha bernama Krakatau Posco dan membangun pabrik baja baru di Cilegon.Perjanjian definitif pembentukan usaha patungan PT KOS ditandatangani oleh Presiden Direktur PTKS Irvan K Hakim bersama Presiden Direktur Osaka Steel Co Ltd Junji Uchida, di Jakarta, Selasa, pekan lalu.PT KOS didirikan pada Desember 2012 untuk memproduksi dan memasarkan produk baja profil, flat bar, dan plat tulang baja di Indonesia, dengan kemitraan yang kuat. Sejak itu, Osaka Steel Co Ltd bersama PT Krakatau Steel Tbk mendiskusikan detail perjanjian (term and condition) yang menguntungkan kedua pihak.Irvan mengatakan, kerja sama usaha patungan ini didasari keyakinan bahwa pasar baja di Indonesia diproyeksikan terus bertumbuh dalam jangka menengah dan panjang. “Tujuan dari usaha patungan ini adalah untuk memenuhi permintaan terhadap produk baja sebagai hasil dari pembangunan proyek-proyek konstruksi,” kata Irvan dalam keterangan tertulisnya, Senin (8/9/2014).Pabrik PT KOS berlokasi di Kawasan Industri Krakatau Cilegon, menempati luas area 21,6 hektare (ha), dengan modal disetor sebesar US$ 70 juta. Osaka Steel Co Ltd memiliki 80% saham PT KOS dan 20% dimiliki oleh PTKS. PT KOS dengan nilai investasi sebesar US$ 200 juta ini dijadwalkan mulai beroperasi pada 2016, dengan target penjualan sebanyak 500 ribu ton/tahun, dan akan menyerap tenaga kerja kurang lebih 170 orang.Bagi Osaka Steel Co, pembentukan usaha patungan dengan PTKS merupakan ekspansi bisnis luar negeri pertama dan salah satu inti bisnis dari rencana pengembangan konsolidasi jangka menengah, dengan memperkuat kehadirannya di pasar domestik.

September 9, 2014

Cerita Emirsyah Satar: Di Danamon Digaji Rp 500 Juta, di Garuda Jadi Rp 80 Juta

Sponsored linksKamis, 04/09/2014 10:28 WIB

Dana Aditiasari – detikFinanceFoto: Emirsyah SatarJakarta – Sejak 2005 lalu, Emirsyah Satar telah menjabat sebagai Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), sebelum menjadi Dirut, Emir menjabat sebagai Direktur Keuangan di maskapai BUMN tersebut. Gaji Emir saat bekerja di Garuda turun drastis ketimbang gajinya saat menjadi Wakil Direktur Utama Bank Danamon.Mantan Menteri BUMN Sugiharto, yang sekarang menjabat sebagai Komisaris Utama Pertamina bercerita soal kisahnya saat merayu Emir pindah dari Bank Danamon untuk membenahi keuangan Garuda yang saat itu punya banyak utang.Sugiharto yang menjadi Menteri BUMN pada 2004-2007 bercerita, kondisi Garuda yang punya banyak utang, harus diselamatkan. Karena bila tidak, bank-bank BUMN ikut terkena imbasnya. Sebab Garuda juga banyak berutang kepada bank-bank BUMN.”Pemecahan permasalahan pertama adalah mencari seorang pakar keuangan. Karena yang saat itu dibutuhkan Garuda bukan pilot. Jadi saya rayu Pak Emir waktu itu beliau bekerja sebagai Wadirut Bank Danamon dengan pendapatan Rp 500 juta per bulan. Wakil direktur utama Bank Danamon, lalu saya tawarkan dengan gaji Garuda hanya mampu membayar Rp 80 juta per bulan,” ujar Sugiharto dalam acara peluncuran buku ‘Transformasi Garuda: From One Dollar to Billion Dollars Company’ di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Kamis (4/9/2014).Sugiharto merayu Emir dengan pendekatan bahwa mereka satu almamater, yaitu lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI). “Jadi saya ajak beliau bahwa apa yang sudah diinvestasikan negara untuk kita, saatnya kita kembalikan kepada negara dalam bentuk pengabdian. Setelah berhasil merayu Pak Emir, pekerjaan saya selanjutnya adalah meyakinkan anggota dewan (DPR). Saya yakinkan bahwa Emir adalah orang yang tepat untuk memimpin Garuda. Yang bisa menyelamatkan Garuda,” jelas Sugiharto.Menurut Sugiharto, pilihannya menunjuk Emir sebagai Dirut Garuda tidak salah. Emir bisa melewati setiap rapat di DPR dengan sabar, dan akhirnya DPR menyetujui suntikan uang negara untuk Garuda. Emir, ujar Sugiharto, telah melalui masa terberat menyelamatkan Garuda.Pada 2007-2008, adalah masa terberat Garuda untuk bisa bertahan di tengah masalah utang yang melilit. Fase ini bisa dilalui Emir, lalu pada 2009-2010, Emir bisa menjadikan Garuda berbalik bangkit, hingga akhirnya di 2011 Garuda terus tumbuh bisnisnya hingga sekarang.

September 8, 2014

Kembali hidup jangan sampai mati lagi

BUMN bisa mati sudah pasti manajemen nya korup.

Merdeka.comMerdeka.com – 2 jam 34 menit lalu

MERDEKA.COM. “Lihat mata ikan ini Pak: warnanya putih!” ujar awak kapal itu sebelum menjatuhkan ikan beku sebesar bayi tersebut ke meja di depan saya. “Ini pertanda pembekuannya sempurna,” tambahnya.
Dia menjatuhkan ikan itu dari ketinggian yang cukup untuk menguji tanda kesempurnaan berikutnya: benturan ikan dengan meja itu menimbulkan suara “cling” yang keras.
Setelah dibekukan sampai -60 derajat celsius, ikan itu memang keras sekali. Tidak usah khawatir turun kualitasnya, apalagi membusuk.
Nelayan di Bacan, satu pulau di Maluku Utara, menonton adegan itu dengan antusias. Itulah untuk pertama kalinya BUMN menempatkan kapal ikan di sana. Kapal ikan modern yang dilengkapi cold storage minus 60 derajat dengan kapasitas 150 ton.
Jumat minggu lalu, setelah ke Aceh Timur dan Arun, saya memang keliling ke Ternate, Pulau Bacan dan ke Buli, ibukota Halmahera Timur. Inilah kunjungan untuk menyaksikan hidupnya kembali usaha perikanan BUMN di “ibukota ikan” Indonesia itu. BUMN pernah punya pusat perikanan di Bacan, tapi sudah lama sekali mati. Namanya PT Usaha Mina. Dia ibarat kucing yang mati di pasar ikan.
Lokasi almarhum itu masih ada: lima hektar. Ditumbuhi semak. Bangunannya masih ada: kusam dan berantakan. Tulisan PT Usaha Mina masih terbaca: samar-samar. Artinya dia sudah mati tapi mayatnya masih utuh.
Upacara besar untuk menandai hidupnya kembali si almarhum dilakukan di Bacan. Gubernur baru Maluku Utara yang juga seorang ulama terkemuka, Abdul Ghani Kasuba, ikut hadir. Beliau datang dari Ternate dengan speedboat yang mengarungi laut selama tiga jam.
Bupati setempat yang juga ulama dan seorang doktor sastra Arab lulusan Islamabad Pakistan, tampak selalu tersenyum.
Ini memang hari istimewa: BUMN perikanan hadir kembali di Bacan. Namanya: PT Perikanan Nusantara (Perinus). Kehadiran Perinus di kuburan PT Usaha Mina itu ditandai dengan beroperasinya pabrik es baru dan beroperasinya kapal ikan yang dilengkapi cold storage 150 ton tadi.
Gubernur dan bupati ini kebetulan memang kakak-beradik. Dua-duanya lulusan pesantren Al Khairat Bacan. Karena itu keduanya ingat betul kejayaan Usaha Mina di Bacan sampai dengan kematiannya yang diratapi seluruh penduduk Bacan.
“Pernah kami mencoba membantu menghidupkannya. Kami bantu dengan APBD Rp 5 miliar. Tapi mati lagi,” ujar Bupati Muhamad Kasuba yang sekarang sudah periode kedua di tahun keempat masa jabatannya.
Kepada ribuan masyarakat yang hadir di upacara itu saya minta maaf: baru sekarang bisa menghidupkan kembali BUMN perikanan di Bacan. PT Perinus memang baru saja sehat kembali setelah bertahun-tahun seperti dalam keadaan pingsan.
Waktu saya diangkat jadi menteri tiga tahun lalu PT Perinus secara teknis sudah bangkrut. Utangnya dan akumulasi kerugiannya lebih besar dari asetnya. Maka saya minta direksi PT Perinus segera mengurangi utang dan menyelesaikan akumulasi kerugian dengan melakukan quasi reorganisasi.
Direksi PT Perinus lantas bekerja keras. Dan membersihkan semua unit usahanya dari tikus-tikus berkaki dua. Abdussalam Konstituanto, Dirut Perikanan Nusantara yang baru, mulai menghidupkan unit usaha perikanan yang sudah mati di Bitung (Sulut). Berhasil. Lalu menghidupkan yang di Ambon. Berhasil. Menghidupkan yang di Benoa (Bali). Berhasil. Lalu menghidupkan yang di Sorong (Papua Barat). Juga berhasil.
Maka kalau baru sekarang bisa menghidupkan yang di Bacan, memang Perinus tidak bisa melakukan semua itu sekaligus. Ibarat orang yang baru keluar dari opname di rumah sakit, PT Perinus tidak bisa langsung disuruh lari ke Bacan. Nanti jatuh lagi. Dia juga belum bisa dibebani benda yang berat di pundaknya. Nanti opname lagi. Apalagi dia harus menanggung sendiri semua biaya penyehatan itu tanpa dana APBN.
Selama berada di Bacan, semula saya ingin bermalam di kapal ikan yang baru. Ini karena semua hotel penuh: ada pemilihan ulang anggota DPR di seluruh TPS di sana. Ketika kita semua sudah lupa pemilu, di sana masih ada Pileg untuk menentukan siapa-siapa tiga anggota DPR yang mewakili Maluku Utara nanti. PDIP sudah pasti dapat satu kursi. Golkar juga dapat satu kursi. Pileg ulangan ini menentukan untuk siapa sisa satu kursi lagi: PKS atau PAN.
Malam itu gelombang sangat besar. Saya batalkan tidur di kapal. “Pak Dahlan, Pemda punya guest house. Tolong jangan di kapal,” pinta Pak Bupati setelah menjamu kami makan malam dengan menu ikan bakar yang betul-betul fresh from the sea. Ditambah makanan pokok setempat: papeda (bubur sagu), singkong rebus, dan pisang mulubebe sebagai pengganti nasi.
Pagi-pagi, setelah senam masal Dahlan Style dan peresmian Senam Nusantara (senam resmi Maluku Utara), saya pun ke Buli, ibukota Halmahera Timur. Semula saya hanya ingin meninjau investasi PT Antam sebesar Rp 25 triliun di sini. Tapi bupati Halmahera Timur, drs H Rudi Irawan, yang ikut menyambut saya, curhat soal perikanan juga.
Maka kami buatlah rencana baru: perikanan koridor Halmahera Timur-Sorong. Jarak dua wilayah ini tidak jauh. Hanya dipisahkan oleh Kabupaten Raja Ampat. Seorang manajer Perinus langsung tidak boleh pulang hari itu. Untuk merumuskan model bisnis perikanan koridor baru Sorong-Halmahera Timur.
Hiduplah Perikanan Nusantara. Tentu jangan sampai mati lagi.

August 30, 2014

Dirut AP I Jadi Tersangka Korupsi, Dahlan: Saya Tak Terlalu Percaya

 

Dhani Irawan – detikfinance
Jumat, 29/08/2014 21:10 WIB
 
 
 
http://images.detik.com/content/2014/08/29/4/211804_dahlankoper.jpg
Jakarta -Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Tommy Soetomo ‎ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi oleh Kejaksaan Agung (Kejagung). Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengaku tak mempercayainya.

“Saya tidak terlalu percaya bahwa dia melakukan korupsi,” kata Dahlan di sela kunjungan kerja di Pulau Bacan, Halmahera Selatan, Maluku Utara, Jumat (29/8/2014) malam.

Berdasarkan laporan ke pihaknya, Dahlan mengatakan bahwa AP I melakukan tender dengan pemenang termurah. Kemudian di waktu yang berbeda AP II juga melakukan tender dengan kendaraan yang sama dan mengambil pemenang termurah pula.

“Nah yang termurah di Angkasa Pura II itu lebih murah dibanding di Angkasa Pura I, tapi dua (tender) itu kan nggak bersamaan. Nah masak begitu, kalau begitu korupsi terus gimana,” ujar Dahlan heran.

Namun, Dahlan belum bisa berkomentar lebih jauh sebab dia juga harus mempelajari mengenai apa yang sebenarnya yang terjadi. Dahlan juga belum akan menanyakan hal tersebut ke pihak Kejagung.

“Saya masih harus teliti, belum bisa berkomentar. Tapi masak begitu, kan nggak tahu persis,” ucap mantan Dirut PLN ini.

Penetapan Tommy Soetomo sebagai tersangka sangat mengagetkan PT AP I‎ sebab hingga ditetapkan sebagai tersangka, Tommy belum pernah diperiksa sekali pun sebagai saksi oleh aparat Kejagung.

AP I menerangkan kasus yang diangkat oleh aparat Kejagung adalah pengadaan Damkar tahun 2011. Proses pengadaan telah dilakukan dengan mengikuti prosedur tender berdasarkan konsep tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG). Bahkan dewan direksi tidak bisa intervensi terhadap proses tender.

Dalam kasus ini Kejagung telah menetapkan 2 tersangka yaitu Direktur Utama PT Angkasa Pura I TS dan HL Direktur PT Scientek Computindo. Keduanya disangka telah terlibat dugaan korupsi dengan anggaran Rp 63 miliar. Penyidik juga telah memanggil 5 saksi untuk diperiksa, namun yang datang baru 3 orang.

 

(dha/hen)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 81 other followers