JAKARTA, KOMPAS — Di tengah maraknya pasar modern di berbagai tempat, pasar tradisional atau yang kini disebut pasar rakyat tetap kokoh berdiri. Triliunan rupiah mengalir di pasar itu dalam sebulan. Perbankan terus masuk ke pasar rakyat menghimpun dana dan memberikan kredit kepada pedagang. Pasar rakyat makin menarik karena ditata dan bersih.Di tengah gempuran pusat perbelanjaan modern, sejumlah pasar rakyat di berbagai tempat mulai berganti tampilan. Sejak pekan lalu hingga Minggu (10/8), Kompasmendapati beberapa pasar tak lagi bau, becek, dan panas. Meski berbenah, ciri khas pasar rakyat, yaitu adanya kegiatan tawar-menawar, masih hidup.

Pasar Mayestik, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menjadi salah satu ikon belanja di wilayah selatan. Sayur-sayuran serta jasa jahit pakaian dan perlengkapan menjahit menjadi daya tarik utama pasar ini.

Beberapa tahun lalu Pasar Mayestik sempat tersingkir karena kondisi pasar yang tak lagi sesuai dengan kenyamanan pengunjung. Hanya pelanggan setia yang masih berbelanja di pasar ini.

Akan tetapi, pasar yang berada di bawah kendali PD Pasar Jaya ini mulai diremajakan pada tahun 2010. Dua tahun kemudian, Pasar Mayestik muncul dengan tampilan baru yang mirip dengan pusat perbelanjaan modern. Pendingin ruangan, tangga berjalan, dan lift dipasang untuk kenyamanan pengunjung.

”Penzonaan barang dagangan juga kami lakukan untuk memudahkan pengunjung,” kata Manajer Area Selatan I PD Pasar Jaya Nurman Adhi.

”Sejak diremajakan, tren kunjungan terus meningkat. Kadang lahan parkir yang disediakan tidak muat karena pengunjung membeludak,” ujar Nurman.

Dari catatan pengelola Pasar Mayestik, jumlah pengunjung pada tahun 2013 tidak pernah sampai angka 9.000 orang. Namun, pada tahun ini hingga bulan lalu jumlah pengunjung telah mencapai sekitar 28.000 orang.

Muhlis (43), karyawan swasta asal Kota Depok, Jawa Barat, yang datang di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, mengatakan, ia dan keluarganya lebih senang ke pasar tradisional karena jenis dagangan yang lengkap.

”Yang pasti, semua lebih murah dan bisa ditawar. Jadi, yang bisa dibeli tentu lebih banyak,” ujar Muhlis yang mengajak serta istri dan anaknya berbelanja.

Menurut dia, pasar-pasar tradisional saat ini juga sudah mulai lebih tertata daripada beberapa tahun sebelumnya.

Di Kota Bandung, Jawa Barat, sebanyak 37 pasar tradisional sampai saat ini tetap eksis.

”Saya rutin berbelanja ke Pasar Kosambi paling tidak seminggu sekali. Harga barang yang dijual relatif lebih murah dibandingkan dengan di supermarket atau mal. Selain itu, yang dijual seperti ikan dan daging ayam lebih segar,” kata Ny Yati Maryati (57), warga Desa Cibeunying, Kecamatan Cimeunyan, Kabupaten Bandung, yang sedang berbelanja di Pasar Kosambi.

Kota Surabaya, Jawa Timur, masih memiliki 67 pasar rakyat. Pasar-pasar ini tetap ramai.

Sementara itu, di Kota Medan, Sumatera Utara, 52 pasar rakyat tetap bertahan. Pasar ini sudah menjadi bagian dari kebudayaan ekonomi tawar-menawar dan keeratan relasi pedagang dengan pembeli yang tidak bisa ditemukan di pasar modern.

Rida (38), karyawati swasta warga Simpang Selayang, Medan, mengatakan, ia biasanya membeli bahan pangan, seperti sayuran, ikan segar, dan ayam kampung, di Pasar Simpang Selayang atau Pasar Melati.

TransaksiTransaksi di berbagai pasar rakyat ternyata hingga triliunan rupiah dalam sebulan.

Perputaran uang di 10 pasar rakyat besar dari 67 pasar rakyat di Surabaya mencapai lebih dari Rp 3,5 triliun per bulan.

Menurut Direktur Utama Perusahaan Daerah Pasar Surya Karyanto Wibowo, pasar rakyat relatif mudah dijangkau dan harga barang yang dijual cenderung lebih murah dibandingkan dengan pasar modern.

Direktur Utama Perusahaan Daerah Pasar Kota Medan Benny Harianto Sihotang mengatakan, pihaknya belum pernah menghitung perputaran uang sebenarnya di pasar rakyat di Medan. Namun, ia memperkirakan mencapai ratusan miliar per hari.

Asisten Manajer Keuangan Perusahaan Daerah Pasar Jaya Jatinegara Risna Nurina mengatakan, jumlah pengunjung selalu meningkat sekitar 10 persen setiap tahun. Tak ayal, jumlah transaksi yang terjadi di pasar ini juga terus meningkat.

”Kalau diperkirakan, mungkin bisa mencapai Rp 5 miliar atau lebih setiap hari. Jumlah ini dari hitungan kasar omzet 3.000-an pedagang di pasar, belum nilai transaksi ratusan pedagang kaki lima dan kios di sekitar pasar,” kata Risna.

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk adalah salah satu bank nasional yang melihat peluang transaksi di pasar tradisional. Sejak tahun 2009, BRI meluncurkan program TerasBRI, yakni unit kerja yang melayani sektor bisnis yang sebelumnya belum dikelola secara optimal, terutama pasar tradisional.

Sekretaris Perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Budi Satria menyatakan, per Juni 2014, total simpanan nasabah melalui TerasBRI mencapai Rp 4,8 triliun, naik signifikan 71,4 persen dibandingkan dengan Juni 2013. Adapun pinjaman meningkat signifikan sebesar 45,8 persen menjadi Rp 12,1 triliun.

”Potensi transaksi di pasar tradisional sangat besar. Per Juni 2014, jumlah nasabah yang menyimpan dana di TerasBRI meningkat 90 persen dibandingkan dengan Juni 2013, sementara nasabah yang meminjam meningkat 20 persen,” kata Budi.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Srie Agustina mengatakan, sebanyak 9.559 pasar rakyat di Indonesia telah berbenah diri. Kementerian Perdagangan telah membantu merevitalisasi 461 pasar rakyat selama tiga tahun terakhir ini dengan anggaran mencapai Rp 1 triliun. Selain itu, Kementerian Perdagangan menunjuk 69 pasar rakyat menjadi percontohan dan mendampingi perkembangannya selama tiga tahun.(A04/A10/SEM/HEN/AHA/DEN/WSI)