Archive for ‘Corporate spotlight’

January 15, 2014

Pabrik Kedua Honda Telan Rp 3,1 Triliun

RABU, 15 JANUARI 2014 | 11:48 WIB

Pabrik Kedua Honda Telan Rp 3,1 Triliun
PT Honda Prospect Motor (HPM) meraih 8,1 persen pangsa pasar otomotif nasional sepanjang 2009. Total penjualan Honda tahun lalu tercatat 40.674 unit. (www.netcarshow.com)

TEMPO.CO, Karawang – PT Honda Prospect Motor hari ini, Rabu, 15 Januari 2014, resmi membuka pabrik kedua di Karawang. Pabrik dengan nilai investasi Rp 3,1 triliun ini mempunyai kapasitas produksi mobil 120 ribu unit per tahun.

Peresmian ini bersamaan dengan peluncuran kendaraan bermotor Honda Mobilio produksi PT Honda Prospect Motor. “Indonesia adalah pasar mobil dengan pertumbuhan tertinggi di kawasan ASEAN,” kata Presiden dan CEO PT Honda Prospect Motor, Takanobu Ito, saat acara peresmian di Karawang, Rabu, 15 Januari 2014.

Bersama jajaran petinggi Honda Prospect Motor, Menteri Perindustrian Mohamad S. Hidayat turut menandatangani prasasti peresmian pabrik baru ini. Hidayat mengatakan, pembangunan pabrik ini akan menyerap tenaga kerja baru dan meningkatkan aktivitas perekonomian masyarakat.

Menurut dia, dengan dibangunnya pabrik kedua ini akan menyerap lapangan kerja sekitar 3.900 tenaga kerja langsung pada industri perakitan, 12 ribu tenaga kerja pada industri pemasok, dan 6.200 tenaga kerja pada tingkat dealer atau distribusi. “PT Honda Prospect Motor tidak hanya menambah investasinya di Indonesia, tetapi juga akan menambah penyerapan tenaga kerja baru,” katanya.

Hidayat berjanji pemerintah terus bertekad untuk menjaga dan menyempurnakan iklim usaha kondusif. Iklim usaha yang kondusif akan membuat para investor mendapatkan kepastian usaha dalam mengembangkan industrinya agar lebih terukur dan terencana.

January 14, 2014

Simpang siur urusan PGAS akusisi Pertagas

Urusan PGAS (PGN) dan Pertamina masih simpang siur. Di tengah kesimpangsiuran ini pasti ada (politikus /tikus senayan dari partai politik )yang mendulang untung di pasar modal. Sekarang ini harga saham PGAS masih tertekan  akibat pemberitaan mengenai merger dan akusisi dengan Pertamina ([PGAS 4,420 -15 (-0,3%)] 

dari Tender-indonesia.com Mon, 13/01/2014 

Rapim BUMN Putuskan PGN Akuisisi Pertagas

Oil & gas

 

Simpang siur kabar mengenai penyelesaian persoalan hilir gas kembali marak belakangan ini. Isu seputar akuisisi atau merger antara PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dan PT Pertamina Gas (Pertagas) dan akuisisi PGN oleh PT Pertamina (Persero) menjadi bola liar yang tidak jelas juntrungannya.

Sebenarnya, pemerintah sudah menggelar pertemuan segitiga yang melibatkan Kementerian BUMN, Pertamina dan PGN untuk menyelesaikan masalah itu pada 30 Desember 2013 lalu di Kementerian BUMN. Berdasarkan notulensi rapat yang beredar di kalangan wartawan, ada gambaran jelas mau di bawa ke arah mana penyelesaian itu.

Berdasar notulensi itu, rapat dihadiri oleh perwakilan Pertamina yaitu Direktur Niaga Hanung Budya, Direktur Gas Hari Karyuliarso dan staf Pertamina. Adapun dari pihak PGN diwakili oleh Direktur Keuangan Riza Pahlevi dan staf.

Sementara itu dari pihak Kementerian BUMN adalah Menteri BUMN Dahlan Iskan, Wakil Menteri BUMN Dahlan Iskan, sejumlah deputi dan staf ahli. Mereka antara M. Zamkhani, Pandu Djayanto dan Parikesit Suprapto.

Dalam rapat itu, seperti dikutip dalam siaran pers yang diterima Senin (13/1) Dahlan menyatakan bahwa ia sudah berdialog dengan Pertamina maupun PGN dan akan mengambil keputusan yang paling rasional.  “Yang paling logis adalah PGN membeli Pertagas, dan untuk sementara Pertamina tidak perlu aktif di hilir gas,” kata Dahlan seperti tertulis dalam notulensi rapat.

Dalam mengakuisisi Pertagas itu, PGN bisa membayar dengan saham Pertamina di PGN atau cash. “Sehingga Pertamina bisa fokus pada pengembangan hulu. Dengan demikian, Pertamina tidak lagi perlu mengurusi detail hilir gas,” kata Dahlan.

+++++

Plus minus PGAS merger dengan Pertagas

Oleh Cindy Silviana Sukma – Selasa, 14 Januari 2014 | 19:16 WIB
 
 
Telah dibaca sebanyak 544 kali
 
 
 
 
 
 
Plus minus PGAS merger dengan Pertagas

JAKARTA. Rencana penggabungan perusahaan (merger) antara PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dengan PT Pertamina Gas (Pertagas), anak usaha Pertamina telah mendapat restu dari pemegang saham mayoritas, yaitu pemerintah.

Sekadar mengingatkan, ada empat opsi merger PGAS-Pertagas yang telah dibahas dalam risalah rapat antara Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan dan Pertamina pada Selasa (7/1) lalu.

Pertama, merger antara PGAS dan Pertagas dengan posisi Pertamina sebagai pengendali melalui Pemegang Saham Istimewa (Golden Share) sekitar 30%-38%.

Kedua, pemerintah mengalihkan seluruh saham di PGAS ke Pertamina, sehingga Pertamina mengontrol penuh manajemen perusahaan hasil merger.

Ketiga, Pertamina menjadi pemegang saham minoritas di PGAS dan tak memiliki saham istimewa. Skema terakhir adalah PGAS mengakuisisi 100% saham di Pertagas melalui pembayaran tunai.

Akan tetapi, Pemerintah masih perlu mendapatkan persetujuan dari para pemegang saham independen, dalam hal ini publik. Maklum, selama ini publik memiliki saham yang lumayan besar dalam PGAS, yakni sekitar 43,03%. Sementara, Pemerintah masih menjadi pemegang saham mayoritas sebesar 56,96%.

Namun, tak semua pihak memandang usaha penggabungan dua perusahaan pelat merah ini akan menguntungkan PGAS.

David Nathanael Sutyanto, Kepala Riset First Asia Capital menilai, hasil merger PGAS dan anak usaha Pertamina akan berefek dua sisi (positif dan negatif) bagi PGAS, tergantung dari opsi yang akan dipilih.

Jika Pertamina memiliki saham dalam merger PGAS dan Pertagas, maka saham publik akan terdilusi. “Jika Pertamina akan menguasai sebagian saham perusahaan tersebut, maka saham publik akan terdilusi dari 43% bisa menjadi 26%-30%,” ujarnya kepada KONTAN Selasa, (14/1).

Thendra Crisnanda, analis BNI Securities cenderung menilai penggabungan dua korporasi ini tidak menggembirakan bagi pemegang saham independen, baik dari segi transparansi maupun manajemen perusahaan nantinya.

“Dari segi cost (biaya) dan benefit, jika PGAS menjadi perusahaan privat, maka biaya yang dikeluarkan akan lebih besar. Sementara benefit yang didapat PGAS tak akan sebesar saat menjadi perusahaan publik,” jelasnya.

Pasokan Gas Bertambah

Di sisi lain, David berujar, jika merger antara PGAS dengan Pertagas dapat menunjang pasokan gas dalam negeri. Misalnya, dengan tambang gas yang telah dikelola Pertagas, maka PGAS akan lebih mudah mendapat pasokan gas langsung, ketimbang dari pihak ketiga.

Akhmad Nurcahayadi, analis AM Capital berpendapat, hasil merger akan memberi kejelasan terhadap kebijakan jalur pipa distribusi yang sempat menganggur. “Ketidakjelasan open accessdan jaringan pipa distribusi dan transmisi dapat diselesaikan secara positif karena dikendalikan langsung dari satu perusahaan,” ujarnya.

 

+++++++++++++++

 

Wednesday, January 15, 2014       09:40 WIB
Akuisisi Pertamina Atas PGAS Positif Bagi Pasokan Gas
 
Jakarta —  Keputusan yang dibuat pemerintah untuk menyetujui opsi PT Pertamina (Persero) mengambilalih PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) [4,395 -25 (-0,6%)] dan akan dimerger dengan Pertagas merupakan sinyal positif bagi sektor pasokan gas nasional.

“Keputusan yang dibuat pemerintah ini merupakan sinyal positif, karena tentunya akan menciptakan sinergi usaha di sektor suplai gas yang kokoh,” kata Analis KDB Daewoo Securities, Andrew Argado, dalam analisisnya di Jakarta, Selasa (14/1).

Adapun kondisi saham PGAS [4,395 -25 (-0,6%)] di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan memperoleh sambutan positif dari para pelaku pasar.

“Setelah mengalami tekanan jual yang besar akibat simpang siur kebijakan Open Access, adanya kepastian soal rencana akuisisi Pertamina terhadap PGAS [4,395 -25 (-0,6%)] ini kelihatannya membuat investor kembali melihat peluang di saham PGAS [4,395 -25 (-0,6%)]. Tren positif ini kelihatannya jangka panjang,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Riset Samuel Sekuritas Indonesia, Adrianus Bias, mengungkapkan untuk jangka panjang saham PGAS [4,395 -25 (-0,6%)] layak dikoleksi karena sinergi PGAS [4,395 -25 (-0,6%)] dengan Pertamina akan menjawab masalah kekurangan pasokan gas yang selama ini menjadi hambatan.

“Kekurangan pasokan gas PGAS [4,395 -25 (-0,6%)] yang selama ini menjadi hambatan akan terselesaikan. Dukungan suplai gas Pertamina dalam sinergi Pertagas dengan PGAS [4,395 -25 (-0,6%)] tentu merupakan bisnis yang menjanjikan secara jangka panjang sehingga rekomendasi untuk saham ini untuk jangka panjang adalah Buy,” tuturnya.

Pada 7 Januari 2014, Menteri BUMN Dahlan Iskan bersama Direksi dan Komisaris Pertamina melakukan pembahasan bersama mengenai rencana sinergi Pertagas dengan PGAS [4,395 -25 (-0,6%)] dan diputuskan bahwa Pertamina akan mengambilalih PGAS [4,395 -25 (-0,6%)] dalam waktu selambat-lambatnya 3,5 bulan ke depan.

Investor di lantai bursa tampaknya menyambut positif keputusan ini, di mana saham PGAS [4,395-25 (-0,6%)] kembali naik dalam beberapa hari perdagangan, setelah mengalami tekanan jual yang cukup besar selama 2 bulan terakhir seiring dari simpang siur open Access.

Tercatat hingga penutupan perdagangan akhir pekan lalu (13/1), harga saham PGAS [4,395 -25 (-0,6%)] berada di level Rp4. 420 atau menguat 150 poin dibandingkan dari posisi 7 Januari 2014, yaitu 4.270

http://www.imq21.com/news/read/202447/20140115/084629/Akuisisi-Pertamina-Atas-PGAS-Positif-Bagi-Pasokan-Gas.html

January 2, 2014

10 Saham LQ 45 Yang Masuk Daftar Top Losers 2013

Dari Kontan online

 

JAKARTA. Hari ini, (30/12) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) periode tahun 2013 resmi ditutup. Kinerja indeks bursa saham Indonesia ini tak terlalu menggembirakan.

Alih-alih menguat, sepanjang tahun 2013, indeks justru terpangkas 0,98% atau turun 42,51 poin dari posisi 4.316,69 di akhir tahun 2012 menjadi 4.274,18 di akhir tahun 2013. Biar lebih detail, berikut ini saham-saham LQ 45 yang mencatat kinerja paling negatif.

Berikut 10 saham LQ 45 yang masuk top losers disepanjang tahun 2013:

1. PT Harum Energy Tbk (HRUM) [2,825 75 (+2,7%)] turun 54,17% menjadi Rp 2.750

2. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) [305 5 (+1,7%)] turun 49,15% menjadi  Rp 300

3. PT Surya Semesta Internusa Tbk  (SSIA) [580 20 (+3,6%)] turun 48,15% menjadi Rp 560

4. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) [880 10 (+1,1%)] turun 40,00% menjadi Rp 870

5. PT MNC Investama Tbk (BHIT) [335 -5 (-1,5%)] turun 37,04% menjadi Rp 340

6. PT Bank Danamon Tbk (BMDN) turun 33,19% menjadi Rp 3.775

7. PT Tambang Batubara Tbk (PTBA) [10,400 200 (+2,0%)] turun menjadi Rp 10.200

8. PT Adaro Energy Tbk (ADRO) [1,100 10 (+0,9%)] turun 31,45% menjadi Rp 1.090

9. PT Indo Tambangraya Tbk (ITMG) [28,550 50 (+0,2%)] turun 31,41% menjadi Rp 28.500

10. PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) [445 15 (+3,5%)] turun 28,33% menjadi Rp 430

http://investasi.kontan.co.id/news/10-saham-lq-45-yang-masuk-daftar-top-losers-2013

January 1, 2014

Ini Dia Saham IPO Paling Kinclong Dan Paling Loyo Di 2013

>Detik Com Tuesday, December 31, 2013       07:40 WIBIni

Bursa Efek Indonesia (BEI) kedatangan 30 tamu baru dan satu tamu lama yang masuk lantai bursa. Dari 31 emiten yang mencatatkan sahamnya tahun ini ada yang naik ada yang turun, tapi ada juga yang stagnan.

Secara total ada 13 saham turun, satu saham stagnan dan sisanya 17 saham menguat. Saham-saham yang menguat ini patut diacungi jempol karena bisa bertahan di tengah minusnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di 2013.

Berikut ini saham-saham IPO yang tumbuh negatif di 2013
– Saham PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk (BBRM) [153 4 (+2,7%)] pada perdagangan perdananya naik tipis 2,17% ke Rp 245 per lembar. Harga penawaran umum saham perdana alias Initial Public Offering (IPO) sebelumnya ditetapkan Rp 230 per lembar.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 4 poin menjadi Rp 153 per lembar. Sejak IPO sahamnya minus 33,47%.

- Saham PT Saraswati Griya Lestari Tbk (HOTL) [171 2 (+1,2%)] pada perdagangan perdananya naik 29,73% menjadi Rp 240. Harga penawaran saham perdana atau Initial Public Offering/ (IPO) sebelumnya ditetapkan di Rp 185 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 2 poin menjadi Rp 171 per lembar. Sejak IPO sahamnya minus 7,56%

- PT Multi Agro Gemilang Plantation Tbk (MAGP) [100 0 (+0,0%)] pada pembukaan perdagangan saham dibuka di harga Rp 112 atau naik dari harga perdana sebesar Rp 110 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya stagnan di posisi Rp 100 per lembar. Sejak IPO sahamnya minus 10%.

- Saham PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) [144 -2 (-1,4%)] atau Spindo pada perdagangan perdananya dibuka naik 1,69% menjadi Rp 300, dari harga awal saat Initial Public Offering (IPO) Rp 295 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya turun 2 pon ke posisi Rp 144 per lembar. Sejak IPO sahamnya anjlok 51,18%.

- Saham PT Dyandra Media International Tbk (DYAN) [235 5 (+2,2%)] pada perdagangan perdananya dibuka naik 15,71% menjadi Rp 460, dari harga awal saat Initial Public Offering (IPO) Rp 350. Saham DYAN [235 5 (+2,2%)] sempat menyentuh level tertinggi di harga Rp 500.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 5 poin ke posisi Rp 235 per lembar. Sejak IPO sahamnya minus 32,85%.

- Saham PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) [1,280 40 (+3,2%)] pada perdagangan perdananya dibuka stagnan dan akhirnya melemah ke Rp 1.480. Saham perdananya dipatok Rp 1.500 per lembar.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 40 poin ke posisi Rp 1.280 per lembar. Sejak IPO sahamnya minus 14,66%.

- Saham PT Acset Indonusa Tbk (ACST) [1,990 90 (+4,7%)] dalam perdagangan perdananya dibuka naik ke level Rp 2.600 dari harga perdana saham perseroan atau Initial Public Offering (IPO) di level Rp 2.500 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 90 poin ke posisi Rp 1.990 per lembar. Sejak IPO sahamnya minus 20,4%.

- Saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) [4,800 0 (+0,0%)] pada perdagangan perdananya dibuka memerah di angka Rp 5.300 dari penetapan harga penawaran perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) di harga Rp 5.500 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya stagnan di posisi Rp 4.800 per lembar. Sejak IPO sahamnya minus 12,72%.

- Saham PT Nusa Raya Cipta (NRCA) [670 -20 (-2,9%)] pada perdagangan perdananya dibuka di angka Rp 1.000 dari penetapan harga perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) di harga Rp 850 per saham. Angka ini naik 17,6%.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya turun 20 poin ke posisi Rp 670 per lembar. Sejak IPO sahamnya minus 21,17%.

- Saham PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) [330 0 (+0,0%)] pada perdagangan perdananya dibuka naik tipis Rp 30 ke posisi Rp 590 per saham dari harga penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) di harga Rp 560 per lembar.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya stagnan di posisi Rp 330 per lembar. Sejak IPO sahamnya anjlok 41,07%.

- Saham PT Electronic City Indonesia Tbk (ECII) [2,775 50 (+1,8%)] pada perdagangan perdananya dibuka stagnan di harga Rp 4.050 sama seperti harga penawaran saham perdana alias Initial Public Offering (IPO).

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 50 poin ke posisi Rp 2.775 per lembar. Sejak IPO sahamnya anjlok 31,48%.

- Saham PT Victoria Investama Tbk (VICO) [119 -3 (-2,5%)] pada perdagangan perdananya dibuka naik di angka Rp 150 per saham dari harga perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) di harga Rp 125 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya turun 3 poin ke posisi Rp 119 per lembar. Sejak IPO sahamnya turun 4,8%.

- Saham PT Bank Maspion Indonesia Tbk (BMAS) [0 -285 (-100,0%)] pada perdagangan perdananya dibuka naik di harga Rp 340 dari harga penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) sebesar Rp 320 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya stagnan di posisi Rp 285 per lembar. Sejak IPO sahamnya turun 10,93%.

Saham yang sejak IPO stagnan di posisi yang sama:
– Saham PT Bank Mitraniaga Tbk (NAGA) [180 12 (+7,1%)] pada perdagangan perdananya dibuka di harga Rp 300 per saham dari harga IPO di harga Rp 180 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 12 poin ke posisi Rp 180 per lembar. Sejak IPO sahamnya stagnan.

Ini saham-saham IPO yang berhasil tumbuh positif di 2013:
– Saham PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME) [2,500 0 (+0,0%)] pada perdagangan perdananya hari ini naik 18,75% menjadi Rp 480. Harga penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) sebelumnya ditetapkan pada harga Rp 400 per lembar saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya stagnan di posisi Rp 2.500 per lembar. Sejak IPO sahamnya melonjak 525%.

- Saham PT Trans Power Marine Tbk (TPMA) [310 0 (+0,0%)] pada perdagangan perdananya hari ini dibuka naik 43% menjadi Rp 330 per lembar saham. Harga penawaran perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) sebelumnya ditetapkan di harga Rp 230 per saham dengan nilai nominal Rp 100.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya stagnan di posisi Rp 310 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik 34,78%.

- Saham PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) [0 -1490 (-100,0%)] pada perdagangan perdananya dibuka stagnan pada harga Rp 1.200. Harga itu sama dengan harga penawaran perdana saham atau Intial Public Offering (IPO) sebesar Rp 1.200 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya stagnan di posisi Rp 1.490 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik 24,16%.

- Saham PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU) [590 10 (+1,7%)] pada perdagangan perdananya dibuka di harga Rp 460. Perseroan telah menetapkan harga perdana saham yang ditawarkan Rp 375 per saham dalam rangka penawaran perdana saham ke publik.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 10 poin ke posisi Rp 590 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik 57,33%.

- PT Apexindo Pratama Duta (APEX) [2,550 0 (+0,0%)] (relisting) menawarkan harga Rp 1.562 per saham dalam pencatatan kembali sahamnya di lantai bursa.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya stagnan di posisi Rp 2.550 per lembar. Sejak IPO (relisting) sahamnya naik 63,25%.

- Saham PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) [2,050 50 (+2,5%)] pada perdagangan perdananya dibuka naik di angka Rp 1.870 dari penetapan harga penawaran perdana saham atau IPO sebesar Rp 1.850 per lembar.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 50 poin ke posisi Rp 2.050 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik 10,81%.

- Saham PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) [245 5 (+2,1%)] dalam perdagangan perdananya dibuka stagnan di harga Rp 240 per saham dari harga penawaran perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) di harga yang sama.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 5 poin ke posisi Rp 245 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik tipis 2,08%.

- Saham PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) [1,010 10 (+1,0%)] pada perdagangan perdananya dibuka naik menjadi Rp 610 per saham dari harga IPO Rp 480 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 10 poin ke posisi Rp 1.010 per lembar. Sejak IPO sahamnya melonjak 110,4%.

- Saham PT Bank Mestika Dharma Tbk (BBMD) [1,570 10 (+0,6%)] pada perdagangan perdananya dibuka naik ke level Rp 1.420 per saham dari harga IPO sebesar Rp 1.380 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 10 poin ke posisi Rp 1.570 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik 13,76%.

- Saham PT Cipaganti Citra Graha Tbk (CPGT) [285 20 (+7,5%)] pada perdagangan perdananya dibuka di harga Rp 195 per saham dari harga saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) di harga Rp 190 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 20 poin ke posisi Rp 285 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik 50%.

- Saham perdana PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) [9,500 50 (+0,5%)] dibuka naik di level Rp 9.150 per saham dari harga penawaran umum saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) Rp 9.000 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 50 poin ke posisi Rp 9.500 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik 5,5%.

- Saham PT Arita Prima Indonesia Tbk (APII) [225 0 (+0,0%)] pada perdagangan perdananya dibuka naik 31% ke angka Rp 290 per saham dari harga saham pada penawaran perdana atau Initial Public Offering (IPO) sebesar Rp 220 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya stagnan di posisi Rp 225 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik tipis 2,27%.

- Saham PT Grand Kartech pada pencatatan perdananya menguat 49,09% menjadi Rp 410 dari harga yang ditetapkan perseroan Rp 275 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya turun 10 poin ke posisi Rp 290 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik tipis 5,45%.

- Saham PT Indomobil Multi Jasa Tbk (IMJS) [590 20 (+3,5%)] pada perdagangan perdananya dibuka naik menjadi Rp 600 per saham dari harga saham yang ditawarkan pada saat Initial Public Offering (IPO) di angka Rp 500 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 20 poin ke posisi Rp 590 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik 18%.

- Pada pencatatan perdana PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD) [2,900 100 (+3,6%)], sahamnya dibuka naik 200 poin ke level Rp 3.000 per saham dari harga saham perdana yang ditawarkan Rp 2.800 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 100 poin ke posisi Rp 2.900 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik tipis 3,57%.

- Saham perdana PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) [820 0 (+0,0%)] naik 6% menjadi Rp 710 meski situasi pasar negatif, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka merah. Perseroan menjual saham IPO di harga Rp 670 per lembar.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya stagnan di posisi Rp 820 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik 22,38%.

- Saham PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) [700 10 (+1,4%)] pada perdagangan perdananya dibuka menguat di level Rp 660 per saham dari penawaran harga pada saat Initial Public Offering (IPO) sebesar Rp 580 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 10 poin ke posisi Rp 700 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik 20,68%.

Sumber: detikcom

December 28, 2013

First Media Targetkan Kenaikan Pelanggan Sebesar 30%

 

Friday, December 27, 2013       18:19 WIB
Ipotnews – Emiten layanan kabel TV HD dan internet broadband, PT First Media Tbk (KBLV), menargetkan jumlah pelanggan pada 2014 sebanyak 850 ribu pelanggan, meningkat 30% dibanding jumlah pelanggan tahun ini yang masih sebesar 620 ribu pelanggan, terdiri dari 312 ribu pelanggan internet dan sisanya TV kabel.

“Hal ini sejalan dengan perluasan jaringan dan pembangunan infrastruktur yang akan dilakukan perseroan,” kata Direktur First Media [KBLV 0 -580 (-100,0%)], Dicky Setiadi Moechtar, kepada wartawan di Jakarta, Jumat (27/12).

Untuk mendukung target tersebut, perseroan bakal menyiapkan dana investasi sebesar USD80 juta-USDD100 juta pada tahun depan. Menurut Dicky, dari 30 juta penduduk Jabodetabek, baru 1,7 juta yang berpotensi untuk digarap oleh layanan kabel perseroan. “Permintaan layanan broadband di Surabaya dan Bandung juga tinggi dan merupakan pasar potensial. Itu bisa meningkatkan pendapatan,” jelasnya.

Dengan target pelanggan itu, First Media menargetkan pendapatan sebesar Rp2,2 triliun dari posisi akhir tahun ini di kisaran Rp1,8 triliun. Sementara, Ebitda di posisi Rp450 miliar dari proyeksi tahun ini Rp350 miliar.

Terkait pelemahan rupiah terhadap dolar AS, Dicky mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan dua opsi. Pertama, hedging yang dilihat satu kuartal belakangan ini. Kedua, negoisasi dengan para vendor terutama dari segi kurs. “Dua opsi itu kita lihat ke depan,” imbuhnya.

Selain itu, awal tahun depan perseroan juga berencana menaikkan harga langganan sebesar 15%. Namun, menurutnya kenaikan itu tidak merata dan hanya berlaku bagi segmen tertentu. “Kenaikan itu seiring peningkatan seperti kecepatan akses internet, ragam layanan TV, dan juga dari inovasi video on demand dan streaming,” katanya.(Iwan/ha)

December 24, 2013

Merger BUMN Indofarma (INAF) dan Kalbe Farma Terhalang Banyak Kepentingan

M
 
www.inilah.comonFollow on Google+
 

 

 

3

 
 
Headline
PT Indofarma Tbk (INAF) – ist
 
Oleh: Seno Tri Sulistiyono
pasarmodal – Selasa, 24 Desember 2013 | 11:34 WIB
 
  
 

INILAH.COM, Jakarta – PT Indofarma Tbk (INAF) dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF) yang akan membentuk holding BUMN farmasi belum terwujud karena banyak kepentingan.

“Pembentukan holding lama itu karena kedua perusahaan ini kan milik negara. Penyatuan juga kan harus persetujuan Kementerian Keuangan dan Legislatif, jadi banyak yang punya,” kata Dirut PT Indofarma Tbk, Elfiano Rizaldi seusai paparan publik di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (24/12/2013).

Menurut Elfiano, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selalu pemegang saham terus membahas pembetukan holding BUMN farmasi dan pihak Indofarma siap menerima semua keputusan pemegang saham.

“Kalau dari kita menyambut baik karena ini membuat kedua perusahaan lebih efisien dalam berproduksi dan ketika melakukan riset bisa dilakukan secara berdua, jadi biayanya tidak bisa patungan,” ujar Elfiano.

Elfiano berharap, jika terbentuk holding farmasi maka kegiatan kedua perusahaan harus disesuaikan dengan lini bisnisnya masing-masing. Hal ini agar tidak saling berebut pasar dan dapat bekerja secara maksimal.

“Terpenting itu seusai dengan core bisnisnya masing-masing. Indofarma kan lebih besar untuk industrinya dan nantinya Kimia Farma bisa dalam distribusinya atau kliniknya,” tutur Elfiano.

Seperti diketahui pembentukan holding BUMN farmasi sudah mencuat sejak 2009, namun hingga saat ini belum juga terbentuk. [hid]

December 24, 2013

Blue Bird Menelan Pahit Rencana IPO

Tuesday, December 24, 2013       15:49 WIB
 
 
Jakarta – Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bidang Pasar Modal, Nurhaida mengatakan, belum terlaksananya penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) Blue Bird di pasar modal disebabkan belum lengkapnya dokumen yang disertakan perseroan kepada regulator. “Ada dokumen yang belum dapat diselesaikan oleh Blue Bird dan OJK telah berdiskusi dengan mereka. Memang mereka sendiri mengetahui ada dokumen yang belum dapat dilampirkan,” ujarnya di Jakarta, Senin (23/12).

Dia juga menuturkan, bahwa saat ini Blue Bird sedang mengalami gugatan hukum dari pihak tertentu yang membuat persyaratan kelengakapan dokumen akan semakin terlambat. Meski Blue Bird tetap dalam posisi tergugat, namun Nurhaida memastikan OJK tetap akan memproses pendaftaran IPO apabila dapat melengkapi dokumen pendaftaran, “Jadi bukan karena mereka tergugat dan kita jadi tergugat secara hukum juga, namun memang dokumennya mereka belum dapat siapkan,”ungkapnya.

Sebagai informasi, perusahaan penyedia jasa transportasi, Blue Bird berencana merealisasikan penawaran umum perdana saham pada akhir tahun 2013. Selaku penjamin emisi, perseroan telah menunjuk PT Danareksa Sekuritas. Namun rencana tersebut meleset dari target lantaran dokumen yang disertakan kepada OJK belum lengkap. Alhasil, aksi korporasi penawaran saham perdana dipastikan bakal molor.

Merespon hal tersebut, Direktur PT Blue Bird Group, Sigit P Djokosoetono pernah bilang, perseroan tidak mempersoalkan molornya pelaksanaan IPO. Pasalnya, perusahaan taksi ini tidak mengutamakan penawaran saham perdana untuk mencari modal, “IPO bukan menjadi prioritas kami, karena IPO merupakan salah satu alternatif pendanaan kami,”tandasnya.

Kata Sigit, saat ini perusahaan masih memiliki fasilitas pinjaman dari perbankan. Sehingga, IPO hanya merupakan salah satu pendanaan baru yang dimiliki Blue Bird. Selain itu, karena masih dalam proses di OJK dan dalam 1 bulan tahun 2013 akan berakhir, dirinya memperkirakan perseroan baru akan melantai di bursa pada tahun depan.

Rencananya Blue Bird akan menggunakan dana hasil IPO untu penambahan armada, perawatan, serta pembangunan pool taksi. “Belum bisa kita katakan target dananya berapa, karena masih diproses. Kita utamakan pengembangan armada, karena selain IPO kita masih bisa mengembangkan usaha melalui kredit,”ujar Sigit.

Lebih lanjut dia menyebutkan, kebutuhan dana untuk pengembangan setiap tahunnya meningkat. Sepanjang tahun 2013, Blue Bird mengalokasikan dana belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp1,5 triliun. Sementara tahun depan, perseroan menganggarkan belanja modal lebih dari Rp 1,5 triliun. Dimana sumber pendanaanya berasal dari kredit perbankan dan kas internal

Sementara Direktur Utama Danareksa Sekuritas Marchiano Herman menuturkan, proses izin IPO Blue Bird baru mencapai 50% dan saham yang akan dilepas ke publik masih dalam kajian. Berbagai berkas Blue Bird untuk menjadi perusahaan terbuka sedang dalam kajian OJK, untuk mendapatkan izin pra efektif.

December 22, 2013

Bangun Pabrik Baru, Bosowa Rogoh Triliunan Rupiah

Proyek tersebut menelan dana investasi Rp1,1 triliun.

ddd
Sabtu, 21 Desember 2013, 23:15Suryanta Bakti Susila, Alfin Tofler
VIVAnews – Salah satu grup usaha asal Makassar, Bosowa, menggelontorkan dana triliunan rupiah untuk membangun pabrik semen baru di Maros, Sulawesi Selatan. Dengan dibukanya pabrik ini, Semen Bosowa Maros bisa menggiling semen jutaan ton per tahun.
CEO Bosowa, Erwin Aksa, mengatakan bahwa dengan adanya pabrik ini, Semen Bosowa Maros bisa meningkatkan kapasitas produksi  dari 5.500 ton menjadi 7.200 ton per hari.
“Ini dimulainya pengoperasian penggilingan semen sebesar 1,8 juta ton per tahun, Dengan demikian, Semen Bosowa Maros nantinya akan memproduksi semen empat juta ton per tahun,” kata Erwin dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 21 Desember 2013.
Proyek tersebut, kata Erwin, menelan dana investasi Rp1,1 triliun.
Kini, Semen Bosowa Maros memproduksi semen sebesar 3,5 juta ton per tahun. Produksi ini berasal dari Semen Bosowa di Batam dan di Maros.
Dengan beroperasinya line II ini, total produksi Semen Bosowa menjadi 5,2 juta ton per tahun.
Erwin berharap pabrik line II ini  bisa mendorong adanya percepatan pembangunan di Kawasan Timur Indonesia.
“Peningkatan ini merupakan bentuk komitmen Bosowa membangun infrastruktur di KTI karena masih sangat tertinggal. Industri dan infrastruktur harus digenjot, sekaligus agar wilayah ini siap menampung limpahan industri dari Pulau Jawa,” kata dia.
Pabrik tersebut diresmikan oleh Menteri Perindustrian, M. S. Hidayat. Selain CEO, peresmian pabrik ini jug dihadiri oleh mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, pendiri Bosowa, H. M. Aksa Mahmud, dan Managing Director Bosowa, Sadikin Aksa. Jajaran direksi Bosowa dan Muspida Tingkat I Sulawesi Selatan pun juga turut hadir. (eh)

 

December 20, 2013

Tingkatkan bisnis Krakatau Steel (KRAS) dan Semen Indonesia (SMGR) bentuk usaha patungan

Friday, December 20, 2013       08:36 WIB
Tingkatkan Bisnis, KRAS Dan SMGR Bentuk Usaha Patungan
 
Ipotnews – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) membentuk perusahaan patungan yang diberi nama PT Krakatau Semen Indonesia.

Usaha patungan tersebut bergerak di bidang produksi slag powder yang akan mengolah granulated blast furnace slag (GBFS) menjadi ground granulated blast furnace slag (GGBFS).

Menurut manajemen PT Krakatau Steel [KRAS 485 -5 (-1,0%)] dan PT Semen Indonesia [SMGR 13,900 0 (+0,0%)], usaha patungan tersebut dibentuk untuk meningkatkan pendapatan dan memberikan kontribusi bagi pengurangan emisi karbondioksida CO2, serta mengamankan pasokan bahan baku bagi keperluan industri semen.

“Pabrik slag powder ini dirancang mampu mengolah granulated blast furnace slag sebesar 750 ribu ton per tahun, pembangunan pabrik direncanakan mulai awal 2014, dan ditargetkan dapat beroperasi awal 2016,” ujar Direktur Utama Krakatau Steel, Irvan K Hakim, kepada wartawan, Jumat (20/12).

Irvan menjelaskan, dalam kurun waktu masa konstruksi pabrik slag powder tersebut, perusahaan patungan (JV Co slag powder) itu akan melakukan trading atau penjualan ke pihak ketiga.

Di tempat yang sama, Direktur Utama Semen Indonesia, Dwi Soetjipto, mengatakan perusahaan patungan tersebut didirikan dengan total investasi Rp440 miliar, bertempat di Desa Tegal Ratu, Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon, Banten, di atas lahan seluas 40 ribu meter persegi.

Slag powder yang dihasilkan perusahaan patungan ini akan digunakan Semen Indonesia untuk memproduksi semen portland komposit,” ucap Dwi.

Adapun investasi atas proyek patungan tersebut mencapai Rp440 miliar dan modal kerja sebesar Rp24 miliar. Pendanaan EPC termasuk IDC menggunakan dana pinjaman dan ekuitas dengan komposisi sebesar 70 berbanding 30 persen. Porsi dana pinjaman tersebut sebesar Rp308 miliar dan dana ekuitas Rp132 miliar.

Sebagai tambahan, slag merupakan hasil samping dari proses peleburan besi dan baja yang berbentuk bongkahan kecil. Di dalam slag mengandung unsur yang dibutuhkan industri semen sebagai bahan additive pembuatan semen.(Iwan/ef)

December 18, 2013

BUMI, BORN, Indosat & Garuda Terbelit Utang Dolar

Monday, September 23, 2013       14:28 WIB
 
 
JAKARTA – Direktur Keuangan lembaga pemeringkat Moodys, Philipp Lotter, mengungkapkan bahwa the Fed pada akhirnya akan tetap melakukan pengurangan stimulus ekonomi (tapering).

“Dari keputusan tersebut, perhatian terbesar tentu saja pada importir, terutama yang memiliki utang dolar yang jatuh tempo dalam jangka dekat. Selain itu, suku bunga di Indonesia yang meningkat memiliki efek yang signifikan pada pertumbuhan Indonesia,” katanya seperti dilansir Reuters, Senin (23/9/2013).

Sebuah analisis Reuters mengungkapkan bahwa beberapa perusahaan memiliki utang jatuh tempo. Dan bila dilihat dari posisi kas, terlihat perusahaan tersebut memiliki masalah untuk melakukan refinancing jangka pendek terbesar.

Perusahaan tersebut, diantaranya perusahaan batu bara PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) [192 -8 (-4,0%)], PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) [490 0 (+0,0%)], PT Astra International Tbk (ASII) [6,250 50 (+0,8%)], PT Indosat Tbk (ISAT) [4,000 50 (+1,3%)] dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) [340 -20 (-5,6%)].

“Emiten yang menerbitkan obligasi tersebut termasuk (mencatatkan kinerja) sangat buruk untuk melakukan lindung nilai atas depresiasi rupiah. Kami memperkirakan hanya sekitar 20-30 persen dari total utang tidak berbentuk dolar,” jelas analis kredit dengan BoA Merrill Lynch di Hong Kong, Ani Deshmukh.

http://economy.okezone.com/read/2013/09/23/278/870388/bumi-born-indosat-garuda-terbelit-utang-dolar

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 86 other followers