Archive for ‘Corporate spotlight’

December 22, 2013

Bangun Pabrik Baru, Bosowa Rogoh Triliunan Rupiah

Proyek tersebut menelan dana investasi Rp1,1 triliun.

ddd
Sabtu, 21 Desember 2013, 23:15Suryanta Bakti Susila, Alfin Tofler
VIVAnews – Salah satu grup usaha asal Makassar, Bosowa, menggelontorkan dana triliunan rupiah untuk membangun pabrik semen baru di Maros, Sulawesi Selatan. Dengan dibukanya pabrik ini, Semen Bosowa Maros bisa menggiling semen jutaan ton per tahun.
CEO Bosowa, Erwin Aksa, mengatakan bahwa dengan adanya pabrik ini, Semen Bosowa Maros bisa meningkatkan kapasitas produksi  dari 5.500 ton menjadi 7.200 ton per hari.
“Ini dimulainya pengoperasian penggilingan semen sebesar 1,8 juta ton per tahun, Dengan demikian, Semen Bosowa Maros nantinya akan memproduksi semen empat juta ton per tahun,” kata Erwin dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 21 Desember 2013.
Proyek tersebut, kata Erwin, menelan dana investasi Rp1,1 triliun.
Kini, Semen Bosowa Maros memproduksi semen sebesar 3,5 juta ton per tahun. Produksi ini berasal dari Semen Bosowa di Batam dan di Maros.
Dengan beroperasinya line II ini, total produksi Semen Bosowa menjadi 5,2 juta ton per tahun.
Erwin berharap pabrik line II ini  bisa mendorong adanya percepatan pembangunan di Kawasan Timur Indonesia.
“Peningkatan ini merupakan bentuk komitmen Bosowa membangun infrastruktur di KTI karena masih sangat tertinggal. Industri dan infrastruktur harus digenjot, sekaligus agar wilayah ini siap menampung limpahan industri dari Pulau Jawa,” kata dia.
Pabrik tersebut diresmikan oleh Menteri Perindustrian, M. S. Hidayat. Selain CEO, peresmian pabrik ini jug dihadiri oleh mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, pendiri Bosowa, H. M. Aksa Mahmud, dan Managing Director Bosowa, Sadikin Aksa. Jajaran direksi Bosowa dan Muspida Tingkat I Sulawesi Selatan pun juga turut hadir. (eh)

 

December 20, 2013

Tingkatkan bisnis Krakatau Steel (KRAS) dan Semen Indonesia (SMGR) bentuk usaha patungan

Friday, December 20, 2013       08:36 WIB
Tingkatkan Bisnis, KRAS Dan SMGR Bentuk Usaha Patungan
 
Ipotnews – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) membentuk perusahaan patungan yang diberi nama PT Krakatau Semen Indonesia.

Usaha patungan tersebut bergerak di bidang produksi slag powder yang akan mengolah granulated blast furnace slag (GBFS) menjadi ground granulated blast furnace slag (GGBFS).

Menurut manajemen PT Krakatau Steel [KRAS 485 -5 (-1,0%)] dan PT Semen Indonesia [SMGR 13,900 0 (+0,0%)], usaha patungan tersebut dibentuk untuk meningkatkan pendapatan dan memberikan kontribusi bagi pengurangan emisi karbondioksida CO2, serta mengamankan pasokan bahan baku bagi keperluan industri semen.

“Pabrik slag powder ini dirancang mampu mengolah granulated blast furnace slag sebesar 750 ribu ton per tahun, pembangunan pabrik direncanakan mulai awal 2014, dan ditargetkan dapat beroperasi awal 2016,” ujar Direktur Utama Krakatau Steel, Irvan K Hakim, kepada wartawan, Jumat (20/12).

Irvan menjelaskan, dalam kurun waktu masa konstruksi pabrik slag powder tersebut, perusahaan patungan (JV Co slag powder) itu akan melakukan trading atau penjualan ke pihak ketiga.

Di tempat yang sama, Direktur Utama Semen Indonesia, Dwi Soetjipto, mengatakan perusahaan patungan tersebut didirikan dengan total investasi Rp440 miliar, bertempat di Desa Tegal Ratu, Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon, Banten, di atas lahan seluas 40 ribu meter persegi.

Slag powder yang dihasilkan perusahaan patungan ini akan digunakan Semen Indonesia untuk memproduksi semen portland komposit,” ucap Dwi.

Adapun investasi atas proyek patungan tersebut mencapai Rp440 miliar dan modal kerja sebesar Rp24 miliar. Pendanaan EPC termasuk IDC menggunakan dana pinjaman dan ekuitas dengan komposisi sebesar 70 berbanding 30 persen. Porsi dana pinjaman tersebut sebesar Rp308 miliar dan dana ekuitas Rp132 miliar.

Sebagai tambahan, slag merupakan hasil samping dari proses peleburan besi dan baja yang berbentuk bongkahan kecil. Di dalam slag mengandung unsur yang dibutuhkan industri semen sebagai bahan additive pembuatan semen.(Iwan/ef)

December 18, 2013

BUMI, BORN, Indosat & Garuda Terbelit Utang Dolar

Monday, September 23, 2013       14:28 WIB
 
 
JAKARTA – Direktur Keuangan lembaga pemeringkat Moodys, Philipp Lotter, mengungkapkan bahwa the Fed pada akhirnya akan tetap melakukan pengurangan stimulus ekonomi (tapering).

“Dari keputusan tersebut, perhatian terbesar tentu saja pada importir, terutama yang memiliki utang dolar yang jatuh tempo dalam jangka dekat. Selain itu, suku bunga di Indonesia yang meningkat memiliki efek yang signifikan pada pertumbuhan Indonesia,” katanya seperti dilansir Reuters, Senin (23/9/2013).

Sebuah analisis Reuters mengungkapkan bahwa beberapa perusahaan memiliki utang jatuh tempo. Dan bila dilihat dari posisi kas, terlihat perusahaan tersebut memiliki masalah untuk melakukan refinancing jangka pendek terbesar.

Perusahaan tersebut, diantaranya perusahaan batu bara PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) [192 -8 (-4,0%)], PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) [490 0 (+0,0%)], PT Astra International Tbk (ASII) [6,250 50 (+0,8%)], PT Indosat Tbk (ISAT) [4,000 50 (+1,3%)] dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) [340 -20 (-5,6%)].

“Emiten yang menerbitkan obligasi tersebut termasuk (mencatatkan kinerja) sangat buruk untuk melakukan lindung nilai atas depresiasi rupiah. Kami memperkirakan hanya sekitar 20-30 persen dari total utang tidak berbentuk dolar,” jelas analis kredit dengan BoA Merrill Lynch di Hong Kong, Ani Deshmukh.

http://economy.okezone.com/read/2013/09/23/278/870388/bumi-born-indosat-garuda-terbelit-utang-dolar

December 17, 2013

Wijaya Karya Bangun Pabrik Beton

SENIN, 16 DESEMBER 2013 | 20:00 WIB

  

TEMPO.COJakarta – PT Wijaya Karya (Persero) Tbk bersama anak perusahaannya, PT Wijaya Karya Beton, dengan PT Krakatau Engineering membuat perusahaan patungan untuk memproduksi, mengembangkan, dan memasarkan produk tiang pancang dan saluran air. Perusahaan joint venture ini diberi nama PT Wijaya Karya Krakatau Beton. Pabrik berlokasi di Krakatau Industrial Estate, Cilegon, Banten, dengan total luas lahan tiga hektare.

“Pembangunan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan proyek pembangunan, khususnya di area Cilegon,” ujar Direktur PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) Ganda Kusuma ketika memberikan keterangan pers di Gedung Wika, Jakarta, Senin, 16 Desember 2013.

Perusahaan patungan ini didirikan dengan modal dasar sebesar Rp 175 miliar dan modal yang disetor senilai Rp 50 miliar. Komposisi modal tersebut terdiri atas PT Wijaya Karya Beton sebesar 60 persen, PT Krakatau Engineering sebesar 30 persen, dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk sebesar 10 persen.

“Proyek ini direncanakan akan menelan dana Rp 132 miliar dengan kapasitas target yaitu 80 ribu ton per tahun,” ujar Ganda. Pembangunan pabrik diproyeksi akan memakan waktu sekitar 9 bulan yang didahului dengan proses persiapan, engineering, pekerjaan civilerection dan instalasi, testing dan commissioning,hingga siap berproduksi.

December 4, 2013

Revisi Daftar Negatif

 

Indonesia Jangan Kalah di Produksi dan Distribusi

 
 
 
JAKARTA, KOMPAS — Asosiasi Pengusaha Indonesia berpendapat pemerintah perlu merevisi daftar negatif investasi untuk mengakomodasi berbagai perubahan yang terjadi dalam tiga tahun terakhir. Indonesia harus memperkuat daya saing agar tidak kalah di lini produksi dan distribusi.

”Apalagi menjelang berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN tahun 2015, negara tetangga menyiapkan diri. Jangan sampai kita kalah daya saing,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Franky Sibarani di Jakarta, Selasa (3/12).

Menurut Franky, semakin cepat revisi daftar negatif investasi (DNI) dirampungkan, maka penataan industri dan perdagangan dapat segera dilakukan.

Dengan demikian, pada tahun 2014, Indonesia dapat fokus menyiapkan hambatan secara cerdik. Ini diperlukan untuk melindungi beberapa profesi dengan kompetensi yang dihasilkan dalam negeri.

”Misalnya, bisa saja ada persyaratan profesi, yakni dokter yang bertugas di Indonesia meski lulusan dalam negeri, tetapi status kewarganegaraannya asing, harus bisa berbahasa Indonesia,” ujar Franky.

Persyaratan seperti ini dinilai logis karena kemampuan komunikasi dokter mutlak diperlukan agar informasi yang diberikan kepada pasien jelas dan tepat.

Franky mengatakan, Apindo mendorong agar pengaturan DNI dengan semangat perlindungan terhadap pelaku industri kecil menengah (IKM) dan koperasi.

Sebagai gambaran, selama ini DNI diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2010 tentang Bidang Usaha atau Sektor Usaha yang Ditutup maupun yang Dibuka dengan Persyaratan pada Penanaman Modal.

”Pengaturan yang jelas berorientasi melindungi harus tetap dipertahankan, tidak ada perubahan,” kata Franky.

Sektor yang dimaksud antara lain industri penggaraman/pengeringan ikan dan biota lainnya dan industri pemindangan ikan. Selain itu, juga industri makanan olahan dari biji-bijian, umbi-umbian, sagu, melinjo, dan kopra.

”Industri tempe, tahu, dan banyak industri lainnya patut dicadangkan untuk usaha kecil, menengah, dan koperasi,” kata Franky.

Menurut Franky, Apindo juga mengusulkan pengaturan modal dalam negeri 100 persen untuk perdagangan eceran, termasuk untuk sepeda motor dan kendaraan niaga.

”Selepas krisis 1998, pabrikan dan distributor mayoritas asing. Nah, sekarang ini dicoba diatur agar porsi dalam negeri juga tetap kuat di distribusi,” ujar Franky.

Apindo juga mengusulkan pengaturan untuk jasa pergudangan dan ruang pendingin. Hal itu sebelumnya tidak diatur.

”Kalau tetap tidak diatur, konsekuensinya asing pasti masuk dan mendominasi. Bisa-bisa dia memiliki gudang dan menggunakannya untuk distribusi, perdagangan, agen, dan penyimpanan bahan,” kata Franky.

Jangan kalah

Menurut Franky, potensi Indonesia sebagai pasar merupakan keniscayaan karena besarnya kelas menengah di negeri ini. ”Tidak bisa tidak, Indonesia menjadi target pasar. Namun, jangan sampai ketika sudah menjadi target tersebut industri dalam negeri justru mati. Inilah mengapa kepentingan nasional harus dikedepankan,” ujarnya.

Secara terpisah, Wakil Menteri Perindustrian Alex Retraubun mengatakan, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pengembangan IKM dan penciptaan wirausaha baru.

”Langkah ini untuk meningkatkan daya saing dan mengantisipasi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015,” kata Alex saat membacakan sambutan Menteri Perindustrian MS Hidayat pada pembukaan Jakarta IKM Expo V Tahun 2013.

Indonesia sebagai pasar terbesar di ASEAN berpotensi dibanjiri barang, jasa, dan tenaga kerja dari negara tetangga. Membanjirnya barang memang akan menjadikan konsumen mendapat banyak alternatif barang.

Meski demikian, kata Alex, nilai tambah akan didapat jika produk-produk Indonesia dapat mengisi pasar di negara tetangga. Bertambahnya produksi domestik akan mendorong serapan tenaga kerja, meningkatkan investasi, dan berujung pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan penduduk.

Dari data Kemenperin, ada 3,9 juta unit IKM yang menyerap 9,14 juta tenaga kerja di Indonesia. Sekitar 75 persen IKM berkembang di Jawa dan sisanya di luar Jawa. Pemerintah mengharapkan porsi IKM di luar Jawa dapat ditingkatkan dari 25 persen menjadi 40 persen pada tahun 2014. (CAS)

December 2, 2013

Blue Bird Ingin Tambah Armada Dengan IPO

Monday, December 02, 2013       14:28 WIB
 
 
Jakarta – PT Blue Bird Group memastikan tidak akan melakukan Penawaran Umum Perdana Saham (Initial Public Offring/IPO) pada tahun ini. Sebab, belum mendapatkan izin efektif IPO dari Otoristas Jasa Keuangan (OJK).

“Masih diproses oleh OJK, kita ikutin saja prosedurnya. Tahun ini kan tinggal sebulan lagi, kemungkinan tahun depan (IPO),” kata Deputy Direktor Blue Bird Group, Sigit P. Djokosoetono saat acara kerja sama dengan PT Bank Danamon Tbk (BDMN) [3,825 25 (+0,7%)] di Jakarta, Senin (2/12/2013).

Menurut Sigit, perolehan dana IPO akan digunakan untuk pembelian armada, perawatan, serta pembangunan poll taxi. Akan tetapi ketika ditanya target dana IPO, Sigit belum bisa menyebutkan saat ini.

“Belum bisa kita katakan dananya berapa, ini kan masih diproses. Kita utamakan pengembangan armada, IPO bukan tujuan utama dalam perolehan dana untuk pengembangan. Kita bisa melalui kredit kalau tidak IPO,” ujar Sigit.

Lebih lanjut dia mengatakan, kebutuhan dana perseroan untuk pengembangan setiap tahunnya meningkat. Sepanjang tahun ini, Blue Bird mengalokasikan dana belanja modal (capex) sebesar Rp1,5 triliun.

“Tahun depan lebih dari Rp1,5 triliun, selama ini kita dapat dari kredit perbankan dan kas internal. Kita gunakan untuk pembelian armada dan lainnya,” ujar Sigit.

Sebelumnya, Direktur Utama Danareksa Sekuritas Marchiano Herman mengatakan, proses izin IPO Blue Bird baru mencapai 50% dan saham yang akan dilepas ke publik masih dalam kajian.

Sementara, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen mengatakan, Blue Bird berencana melepas 20% sampai 25% sahamnya ke publik dan bisa akan listing di BEI pada tahun ini.?

?Sementara untuk penjamin pelaksana efek, perusahaan operator taxi tersebut telah menunjuk PT Danareksa Sekuritas, PT Credit Suisse Securities Indonesia dan PT UBS Securities Indonesia. Perseroan juga akan membidik dana segar dari pasar modal sebesar US$450 juta.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2052536/blue-bird-ingin-tambah-armada-dengan-ipo#.Upw1jCeouho

November 27, 2013

5 Komoditas Tambang Ini Harus Segera Diselamatkan!

 

Para pejabat dan politikus (tikus) negeri ini sudah tidak punya rasa nasionalisme  untuk menjaga kepentingan nasional. Komuditas tambang dihambur hambur  dalam bentuk barang mentah demi dollar (export), yang dollar hasil export itu juga tidak sampai ke Indonesia . Kebijakan tolol ini mirip dengan kebijakan DEVISA BEBAS LEPAS yang dianut oleh para petinggi keuangan atau teknokrat keuangan  negeri ini. Mereka seperti mati matian mempertahankan kebijakan tolol dan tidak membela kepentingan nasional ini. Padahal nilai mata uang rupiah sudah terpuruk abis dipermainkan oleh para spekulan yang membawa ” hot money”.  Negeri ini dibawah kendali elit dan tikus ini memang bisa sebentar lagi karam.. Dan yang paling dirugikan adalah adalah kaum marhaen yang bertahan hidup hari ke hari. 

 

 

Rista Rama Dhany – detikfinance
Rabu, 27/11/2013 12:19 WIB
 
 
 
 
http://images.detik.com/content/2013/11/27/1034/122323_ptba1dalam.jpg
Jakarta -Indonesia terkenal dengan kekayaan sumber daya alamnya, namun sebagian besar produksi mineral tambangnya diekspor mentah-mentah. 

Ada 5 komoditas mineral tambang yang harus segera diselamatkan Indonesia. Komoditas itu dinilai mampu mencukupi dan menghidupi negara ini secara mandiri.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM R. Sukhyar mengatakan setidaknya ada 5 komoditas yang harus diselamatkan Indonesia, sehingga mampu mengolah sendiri komoditi tersebut sehingga mendapatkan benefit danvalue addict.

“Saya katakan ada lima komoditas yang harus diselamatkan Indonesia, yakninickel ore (bijih nikel), bauksit, tembaga, iron ore (bijih besi), dan batubara,” ujar Sukhyar ditemui di 13th ASEAN Senior Official Meeting on Minerals, Nusa Dua, Bali, Rabu (27/11/2013).

Sukhyar mengungkapkan lima komoditas tambang ini sangat banyak ditemukan di Indonesia, dan dapat menghidupkan industri hilir dan bahkan dapat mencukupi kebutuhan energi listirk untuk menerangi 100% masyarakat Indonesia.

“5 komoditas itu banyak di Indonesia, artinya kalau kita menghidupkan industri hilir kita cukup dari sana, cukup strong kita, makanya itu harus ada hilirisasi. Hilirisasinya harus benar, artinya kita nggak bergantung dari mana-mana karena ada di sini (industri hilirnya), tapi saat ini kita malah menghidupi industri orang lain,” katanya.

“Sekarang energi yang sudah siap dari 5 komoditas tersebut adalah batubara. Kalau kita membutuhkan 5.000 megawatt (MW) per tahun untuk mencapai elektrifikasi 100% dan ditambah 9% permintaan listrik per tahun itu sangat cukup hanya mengandalkan batubara, ya bukan berarti energi baru terbarukan tidak ada, tapi lebih cepat dari batubara,” tutupnya.

 

(rrd/ang) 

November 25, 2013

Tiga Anak Usaha Bakrie Go Public Pada 2015

Apakah ada investor yang masih mau beli saham dari group Bakrie??
JUM’AT, 22 NOVEMBER 2013 | 13:53 WIB

Tiga Anak Usaha Bakrie Go Public Pada 2015

Dirut dan CEO PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) Bobby Gafur Umar (tengah) didampingi Chief of Investor Relations, Indra Ginting (kiri), Direktur BNBR Eddy Soeparno (kanan) berjalan menuju ruangan sebelum dimulainya paparan publik Tahunan BNBR di Jakarta, Senin (3/12). ANTARA/Zarqoni

TEMPO.COJakarta – Anak usaha Grup Bakrie di sektor manufaktur tengah bersiap melepas saham perdana ke publik. Rencananya hal tersebut akan dilakukan pada tahun 2015.

“Tadinya unit kami yang terkait manufacturing pernah ada rencanago public 2013. Tapi melihat situasi di BEI yang tidak terlalu kondusif, kami melihat windows-nya terbuka nanti,” ujar Presiden Direktur PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR), Bobby Gafur Umar, dalam paparan publik di Bakrie Tower, Jumat, 22 November 2013.

Dalam portofolio perusahaan, anak usaha yang dimaksud adalah PT Bakrie Building Industries (BBI), PT Bakrie Pipe Industries (BPI), dan PT Bakrie Tosanjaya. Tidak disebutkan berapa dana yang diincar perseroan dari aksi tersebut. “Kami masih pertimbangkan apakah akan IPO masing-masing atau gabungan. Misalnya, Bakrie Industries jadi satu. Itu tergantung perekonomian nanti,” tutur Bobby.

Sampai dengan triwulan ketiga tahun ini, BNBR mencatatkan kinerja yang tidak menggembirakan dengan rugi bersih senilai Rp 750 miliar. Di periode yang sama tahun sebelumnya, perseroan masih mengantongi laba bersih sebesar Rp 252,71 miliar. Pendapatan bersih juga turun menjadi Rp 2,93 triliun dari Rp 13,85 triliun di kuartal III 2012.

Pencapaian laba yang negatif itu disebabkan antara lain adanya rugi kurs. Per September 2012, rugi selisih kurs BNBR tercatat hanya Rp 151,01 miliar. Namun, per September 2013, rugi kurs membengkak 81,6 persen menjadi Rp 823,82 miliar. Di lain pihak, penurunan pendapatan disebabkan oleh adanya penjualan saham Bumi Plc kepada BORN pada Juni 2012 serta dekonsolidiasi unit usaha perdagangan Bakrie Petroleun di Agustus 2012.

RIRIN AGUSTIA

November 23, 2013

Saham PGN Tertekan Isu Akuisisi Pertamina

Ini sih jelas karena Pertamina malas bekerja. Pertamina lewat anak perusahaannya Pertagas malas berinvestasi di infrastruktur gas.
Harusnya kementrian BUMN tidak menfasilitasi inisiatif semacam ini. Hal ini akan menjadi preseden buruk buat BUMN yang lain.

Saturday, November 23, 2013 11:25 WIB

Kabar akuisisi oleh PT Pertamina (Persero) membuat saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) [4,800 125 (+2,7%)] melemah. Dalam sepekan sahamnya sudah turun 2,5%.

Sejak awal pekan ini, harga saham PGN sudah turun hingga berada di Rp 4.925 pada penutupan perdagangan Senin, sahamnya turun jadi Rp 4.800 per lembar pada penutupan perdagangan kemarin.

Penurunan itu bisa sedikit berkurang setelah mengalami kenaikan 2,67% pada penutupan perdagangan kemarin meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkena koreksi.

Analis Capital Bridge Haryajid Ramelan menilai sebaiknya jutsru PGN yang mengakuisisi Pertagas–anak usaha Pertamina. Selain akan memperkuat PGN secara korporasi, konsolidasi bisnis gas bumi itu bakal lebih mempercepat pembangunan infrastruktur dan peningkatan pemanfaatan gas bumi di Indonesia.

“Reputasi PGN akan ikut terpengaruh jika Pertamina masuk. Penurunan harga saham PGN sejak awal pekan ini menjadi indikasi pasar menolak rencana akusisi Pertamina,” ujar Haryajid dalam keterangan tertulis, Sabtu (23/11/2013).

Sebagai salah satu emiten di pasar modal, PGN sudah punya pengalaman lebih dari 40 tahun di bisnis gas. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir PGN sudah membangun infrastruktur gas senilai lebih dari Rp 40 triliun.

Saat ini PGN punya kemampuan mencari utang yang besar yaitu mencapai 300% dari modalnya. Menurutnya, masih banyak ruang untuk mencari modal daripada harus diakuisisi perusahaan lain.

“Tapi jika Pertamina masuk, situasinya pasti akan berbeda karena kondisi keuangan Pertamina juga lain. Dampaknya PGN akan mengalami kesulitan membiaya pembangunan infrastruktur gas bumi di Indonesia,” jelasnya.

Sumber: detikcom
RELATED NEWS

Akhir Pekan, IHSG Dibuka di Zona Positif
Akhir Pekan, IHSG Melemah ke 4.317

November 15, 2013

Mitsubishi Electric Investasi Rp 60 Miliar

Kecil buat ukuran Mitsubishi…
 
KAMIS, 14 NOVEMBER 2013 | 20:00 WIB

 

Mitsubishi Electric Investasi Rp 60 Miliar

Mitsubishi. REUTERS/Issei Kato

 

 

TEMPO.COJakarta – Mitsubishi Electric Corporation mengumumkan komitmennya untuk berinvestasi di Indonesia. Pada tahap awal, produsen barang elektronik asal Jepang ini menanamkan modal Rp 60 miliar.

Menurut Presiden Direktur PT Mitsubishi Electric Indonesia (MEIN), Takeshi Terada, perusahaannya akan memiliki jaringan pemasaran di kota-kota besar, seperti Surabaya, Medan, dan Bandung. “Ini untuk memaksimalkan performa bisnis di Indonesia,” kata dia di Grand Indonesia, Kamis, 14 November 2013.

Terada yakin pasar Mitsubishi Electric di Indonesia akan terus tumbuh meski kondisi ekonomi global tengah memburuk. Sebab, potensi pasar kelas menengah di Indonesia cukup besar. Gaya hidup kelas menengah akan berimbas positif pada kebutuhan peralatan elektronik rumah dan perkantoran.

Mitsubishi Electric berfokus pada produk pendingin udara (air conditioning system), peralatan elektronik rumah tangga, seperti televisi dan kulkas, serta peralatan dan pabrik. Perusahaan ini juga memiliki bisnis di bidang sistem komunikasi, sistem informasi, dan pembangkit listrik.

Di Indonesia, Mitsubishi Electric menargetkan peningkatan penjualan hingga 23 miliar yen pada 2015. Angka ini merupakan harapan pertumbuhan dua kali lipat dari penjualan saat ini yang mencapai 10 miliar yen. Saat ini Mitsubishi Electric beroperasi di 35 negara dengan karyawan 120 ribu orang. Sebanyak 30 persen karyawannya berada di luar Jepang.

APRILIANI GITA HAPSARI

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 82 other followers