Archive for ‘Corporate spotlight’

November 23, 2013

Saham PGN Tertekan Isu Akuisisi Pertamina

Ini sih jelas karena Pertamina malas bekerja. Pertamina lewat anak perusahaannya Pertagas malas berinvestasi di infrastruktur gas.
Harusnya kementrian BUMN tidak menfasilitasi inisiatif semacam ini. Hal ini akan menjadi preseden buruk buat BUMN yang lain.

Saturday, November 23, 2013 11:25 WIB

Kabar akuisisi oleh PT Pertamina (Persero) membuat saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) [4,800 125 (+2,7%)] melemah. Dalam sepekan sahamnya sudah turun 2,5%.

Sejak awal pekan ini, harga saham PGN sudah turun hingga berada di Rp 4.925 pada penutupan perdagangan Senin, sahamnya turun jadi Rp 4.800 per lembar pada penutupan perdagangan kemarin.

Penurunan itu bisa sedikit berkurang setelah mengalami kenaikan 2,67% pada penutupan perdagangan kemarin meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkena koreksi.

Analis Capital Bridge Haryajid Ramelan menilai sebaiknya jutsru PGN yang mengakuisisi Pertagas–anak usaha Pertamina. Selain akan memperkuat PGN secara korporasi, konsolidasi bisnis gas bumi itu bakal lebih mempercepat pembangunan infrastruktur dan peningkatan pemanfaatan gas bumi di Indonesia.

“Reputasi PGN akan ikut terpengaruh jika Pertamina masuk. Penurunan harga saham PGN sejak awal pekan ini menjadi indikasi pasar menolak rencana akusisi Pertamina,” ujar Haryajid dalam keterangan tertulis, Sabtu (23/11/2013).

Sebagai salah satu emiten di pasar modal, PGN sudah punya pengalaman lebih dari 40 tahun di bisnis gas. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir PGN sudah membangun infrastruktur gas senilai lebih dari Rp 40 triliun.

Saat ini PGN punya kemampuan mencari utang yang besar yaitu mencapai 300% dari modalnya. Menurutnya, masih banyak ruang untuk mencari modal daripada harus diakuisisi perusahaan lain.

“Tapi jika Pertamina masuk, situasinya pasti akan berbeda karena kondisi keuangan Pertamina juga lain. Dampaknya PGN akan mengalami kesulitan membiaya pembangunan infrastruktur gas bumi di Indonesia,” jelasnya.

Sumber: detikcom
RELATED NEWS

Akhir Pekan, IHSG Dibuka di Zona Positif
Akhir Pekan, IHSG Melemah ke 4.317

November 15, 2013

Mitsubishi Electric Investasi Rp 60 Miliar

Kecil buat ukuran Mitsubishi…
 
KAMIS, 14 NOVEMBER 2013 | 20:00 WIB

 

Mitsubishi Electric Investasi Rp 60 Miliar

Mitsubishi. REUTERS/Issei Kato

 

 

TEMPO.COJakarta – Mitsubishi Electric Corporation mengumumkan komitmennya untuk berinvestasi di Indonesia. Pada tahap awal, produsen barang elektronik asal Jepang ini menanamkan modal Rp 60 miliar.

Menurut Presiden Direktur PT Mitsubishi Electric Indonesia (MEIN), Takeshi Terada, perusahaannya akan memiliki jaringan pemasaran di kota-kota besar, seperti Surabaya, Medan, dan Bandung. “Ini untuk memaksimalkan performa bisnis di Indonesia,” kata dia di Grand Indonesia, Kamis, 14 November 2013.

Terada yakin pasar Mitsubishi Electric di Indonesia akan terus tumbuh meski kondisi ekonomi global tengah memburuk. Sebab, potensi pasar kelas menengah di Indonesia cukup besar. Gaya hidup kelas menengah akan berimbas positif pada kebutuhan peralatan elektronik rumah dan perkantoran.

Mitsubishi Electric berfokus pada produk pendingin udara (air conditioning system), peralatan elektronik rumah tangga, seperti televisi dan kulkas, serta peralatan dan pabrik. Perusahaan ini juga memiliki bisnis di bidang sistem komunikasi, sistem informasi, dan pembangkit listrik.

Di Indonesia, Mitsubishi Electric menargetkan peningkatan penjualan hingga 23 miliar yen pada 2015. Angka ini merupakan harapan pertumbuhan dua kali lipat dari penjualan saat ini yang mencapai 10 miliar yen. Saat ini Mitsubishi Electric beroperasi di 35 negara dengan karyawan 120 ribu orang. Sebanyak 30 persen karyawannya berada di luar Jepang.

APRILIANI GITA HAPSARI

November 8, 2013

Bakrie Telecom Gagal Bayar Bunga Utang Rp 218 Miliar

 

Angga Aliya – detikfinance
Jumat, 08/11/2013 13:16 WIB
 
 
 
 
http://images.detik.com/content/2013/11/08/6/131824_bteldalam.jpg
Jakarta -PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) gagal bayar kupon obligasi (bunga surat utang) senilai Rp 218 miliar. Kupon tersebut merupakan bagian dari obligasi perseroan senilai Rp 3,8 triliun yang jatuh tempo Mei 2015.

Seharusnya operator Esia itu membayar kewajibannya pada 7 November 2013 kemarin. Akibatnya, peringkat obligasi perseroan pun turun.

Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings menurunkan peringkat obligasi anak usaha Grup Bakrie itu dari C menjadi CC, seperti dikutip dalam siaran pers, Jumat (8/11/2013). Turunnya peringkat ini juga terjadi pada peringkat utang Bakrie Telecom untuk jangka panjang dalam bentuk rupiah dan dolar.

Meski demikian, Fitch percaya Bakrie Telecom akan mampu melakukan restrukturisasi utangnya dengan mencari sumber pendanaan yang likuid pada masa tenggat setelah jatuh tempo (grace period). 

Hingga penutupan perdagangan sesi I, harga saham Bakrie Telecom stagnan di Rp 50 per lembar. Sahamnya sudah hampir tidak bergerak dalam satu tahun terakhir.

November 7, 2013

Di Depan Investor, Boediono Bacakan Pidato Basi

KAMIS, 07 NOVEMBER 2013 | 12:28 WIB

 

Hehe bisa bisanya membaca pidato basi, khas birokrat Indonesia.  Selain itu bisa diartikan juga bahwa  sang Wapres sadar mengenai kemajuan yang dicapai oleh  sang Bos  Presiden SBY, yang capaiannya  sama sekarang  ya.. “begini begini aja”, “mediocre”  .Pertumbuhan 5-6 % dicapai ya karena kerja keras dan mental konsumtif rakyat Indonesia saja.  Pemerintah tidur tiduran atau piknik tiap akhir minggu keluar negeri  macam si Atut Chosiyah  hasilnya kurang lebih akan sama. MINIMAL ! 

Mungkin itu yang dirasakan oleh staf khusus penyusun pidato Boediono juga. Mereka bingung   kehabisan bahan bualan  untuk menghadapi  investor , khususnya investor project infrastruktur.  Para  investor pembangunan proyek infrastruktur juga sudah mulai bosan dengan masalah salah yang sama dan terus merongrong tanpa pernah ada solusinya. Masalah yang  sama itu : urusan IJIN/ Perijinan,  Pembebasan Tanah ,  Pengusaha Politik  atau ” Calo ” Proyek, Birokrasi   tidak kapable nan Korup dan terakhir buruh yang doyan demo soal upah.  Jadi sama saja toch… t 

 

Jika petinggi negeri ini sudah sedemikian “basi” nya bagaimana warganegara RI ini bisa optimis menatap masa depan ?

 

Di Depan Investor, Boediono Bacakan Pidato Basi

Wakil Presiden Boediono. TEMPO/Subekti

  

TEMPO.COJakarta – Wakil Presiden Boediono membacakan pidato yang nyaris sama persis dalam event internasional Indonesia Investment Summit 2012 dan 2013. Dalam pidatonya pada 2012, Boediono memulai pidatonya dengan membahas kondisi ekonomi tahun 2008 dan membandingkannya dengan kondisi terkini. 

Sampai pada bagian itu, pidato orang nomor dua di Indonesia itu mengalami pembaruan. Namun, selebihnya, ia menjabarkan persoalan dan keunggulan domestik dengan kata-kata nyaris sama. Dalam pidatonya, Boediono membahas pembangunan infrastruktur dan komitmen pemerintah untuk terus membangun.

Boediono juga mempromosikan Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam, sekaligus memiliki potensi sumber daya manusia yang besar. Pertumbuhan kelas menengah Indonesia juga diunggulkan Boediono. Meski begitu, Boediono mengakui masih ada tantangan dalam mengembangkan kemampuan sumber daya mineral dan kepastian hukum. 

ini dia si pidato “basi”

Jakarta, November 6, 2012 

Bismillahirrahmanirrahim Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh 

It is my great pleasure to welcome you all to Jakarta. I would like to congratulate BKPM – the Investment Coordinating Board – and the International Herald Tribune for organizing this very important gathering.

The main purpose of this two-day gathering is to share among the participants the most accurate, up-to-date and first-hand information about this country. I cannot foretell what the lineup of distinguished speakers are going to say. But I must say that I fully subscribe to the main message of one of the topics that you will be discussing today, namely that maybe Indonesia constitutes one of the very few warm spots in this cold climate currently descending upon the world economy.

There are indeed compelling reasons for such views. First, we went through the 2008 global crisis basically unscathed. Yes, there was some dent in our growth but we then quickly and strongly recovered. And again in the mid of the current ongoing crisis we have been able to maintain our growth at 6+% while sustaining the steady decline in our unemployment and poverty rates.

Throughout these difficult times, the financial and economic stability have been maintained and the downward trend in our indebtedness continues. We have learned the hard lessons from our own experience that as far as macroeconomic management is concerned there is no substitute for prudence.

But of course Indonesia is not a country without problems, and some of them need urgent solutions. The most glaring one is deficiency in infrastructures. We must be honest and admit that, for a combination of reasons, we are behind in developing our infrastructures, virtually all kinds of infrastructures. But in the past few years we have been working hard to offset these problems.

Selanjutnya >> PIDATO BOEDIONO 2013

PIDATO BOEDIONO 2013

Jakarta, 7 November 2013

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu alaikum warahmatulllahi wabarakatuh

It is my great pleasure to welcome you all to Jakarta. I would like to congratulate BKPM – the Investment Coordinating Board – and the Financial Times for organizing this very important gathering.

As was the case last year, the main purpose of this one-day gathering is to share among the participants the most accurate, up-to-date and first-hand information about this country. There is a lineup of distinguished speakers and resource persons from both the government and the private sectors who will be excellent sources of such information. I also hope that in this conference you can network with parties relevant for your business here.

The more useful things to do for me in this short opening remark session is to repeat some of what I said last year and stress a number of points that might help your assessment of the potentials and prospects of this country.

First, we went through the 2008 global crisis basically unscathed. Yes, there was some dent in our growth but it then quickly recovered. 

Until last year we had been able to maintain our growth at 6+ % while this year we will have to accept lower growth due to the rather depressed state of some of our main exports with some prospective recovery next year. 

Throughout the period, however, we are confident that the trends of steady decline in unemployment, poverty rates and our indebtedness to continue. We will not change our commitment to prudent fiscal and monetary policies to securely maintain overall financial and economic stability.

But Indonesia is prospective for some other important reasons. We are blessed with vast and varied natural resources. Our domestic markets are large and growing fairly fast, thanks to the blossoming of our middle class and consuming groups. 

RUTH MARTHA THERTINA

 

Berikut ini perbandingan isi pidato Wakil Presiden Boediono dalam Indonesia Investment Summit 2012 dengan acara serupa, yang diselenggarakan mulai Kamis ini, 7 November 2013

 

November 6, 2013

Chandra Asri-Michelin Bangun Pabrik Karet Sintetis

 

Published: 6 Nov 2013 17:22 WIB 

 
 
  
 
   
 
 
 
 
IMQ, Jakarta —  PT Chandra Asri Petrochemical Tbk dan Compagnie Financiere Michelin berencana membangun pabrik synthetic rubber (karet sintetis).

Kerjasama ini merupakan tindak lanjut dari perjanjian antara PT Petrokimia Butadiene Indonesia, anak perusahaan Chandra Asri dengan Michelin. Total investasi pendirian perusahaan dan pembangunan pabrik ini diperkirakan US$435 juta.

Adapun komposisi kepemilikan saham dalam perusahaan patungan, yakni Michelin 55% dan Petrokimia Butadiene 45%.

General Managing Partner dan CEO Grup Michelin Jean Dominique Senard menuturkan, inisiatif ini menunjukkan komitmen jangka panjang Michelin untuk Indonesia. Investasi yang berkelanjutan dan signifikan di Tanah Air menunjukkan bahwa Michelin berkomitmen untuk pertumbuhan, pengembangan ekonomi dan lingkungan Indonesia.

Direktur Chandra Asri Erwin Ciputra menambahkan, pembangunan pabrik ini direncanakan mulai awal 2015, dengan penyelesaian dan start-up 2017. Pabrik ini akan dikelola oleh PT Synthetic Rubber Indonesia (SRI).

SRI akan memproduksi Polybutadiene Rubber with Noedymium Catalyst dan Solution Styrene Butadiene Rubber, yang keduanya merupakan bahan baku ban ramah lingkungan.

“SRI akan memproduksi bahan baku untuk ban ramah lingkungan dan seiring dengan tren pemakaian ban ramah lingkungan secara global. Kehadiran SRI diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia dengan berkurangnya impor bahan baku serta mendorong peningkatan ekspor ban,” ujar Erwin dalam publikasi BEI, Rabu (6/11).

Menurut dia, seluruh bahan baku pabrik SRI akan bersumber dari butadiene yang diproduksi oleh PBI. Untuk memenuhi kebutuhan ‘mixed C4 sebagian bahan baku untuk menghasilkan butadiene, manajemen Chandra Asri akan meningkatkan produksi Ethylene, Propylene, Py-Gas, dengan melakukan penambahan fasilitas produksi naphtha cracker.

“Pembangunan pabrik SRI tersebut merupakan wujud komitmen Chandra Asri dan anak usaha dalam meningkatkan nilai tambah produk petrokimia yang dihasilkan perseroan dan mendukung terwujudnya industri petrokia terintegrasi di Indonesia,” paparnya.

November 1, 2013

Genjot Produksi, Gozco Plantations Bangun Pabrik

KAMIS, 31 OKTOBER 2013 | 21:52 WIB

 

Genjot Produksi, Gozco Plantations Bangun Pabrik

Perkebunan kelapa sawit. REUTERS/Roni Bintang

 

TEMPO.COSurabaya - Wakil Presiden Direktur PT Gozco Plantations Tbk, Kreisna Dewantara Gozali, mengatakan perseroan sedang membangun pabrik pengolahan kelapa sawit berkapasitas 45 ribu ton per jam senilai Rp 30 miliar di Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Langkah ini untuk meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi perseroan menghasilkan crude palm oil (CPO).

Gozco kini sudah mengoperasikan dua pabrik pengolahan sawit yang masing-masing berkapasitas 90 ribu ton per jam di Kabupaten Seruyan dan 45 ribu ton per jam di Kabupaten Muara Enim. “Kami sekarang fokus dulu bangun pabrik untuk menggenjot produksi CPO,” kata Kreisna saat konferensi pers di Investor Summit, Kamis, 31 Oktober 2013. 

Gozco Plantations menguasai area tanaman kelapa sawit seluas 40.388 hektare. Dari lahan itu, tanaman belum menghasilkan (TBM) seluas 15.138 hektare dan tanaman menghasilkan (TM) seluas 25.250 hektare. Kendati TM lebih mendominasi, Kreisna mengakui hasilnya belum banyak mencetak laba perusahaan. Sebab, dari 25.250 hektare TM–terdiri atas tanaman sawit di bawah usia 5 tahun sebanyak 12.400 hektare (49 persen), tanaman di atas usia 6 tahun atau masa puncak 7.763 hektare (31 persen), dan tanaman tua berusia lebih dari 16 tahun hanya 5.087 hektare (20 persen)–12.400 TM di bawah usia 5 tahun di antaranya menggerus perseroan.

Ia menghitung, satu hektare kebun sawit butuh perawatan ditambah bunga bank sebanyak Rp 20 juta per tahun. Kendati menghasilkan buah, namun TM di bawah usia 5 tahun belum mampu mencetak penjualan karena buahnya masih muda. Tanaman yang demikian hanya menghasilkan cash flow negative. “Kalau sudah menghasilkan, biasanya per tahun mencetak penjualan Rp 30 juta per hektare,” ujarnya. 

Akibatnya, laba tahun berjalan Gozco anjlok 17 persen (yoy). Tahun 2012, laba tahun berjalan sebesar Rp 83 miliar dan turun menjadi Rp 69 miliar. Adapun laba yang didistribusikan ke pemilik entitas juga turun, dari Rp 82 miliar pada triwulan III 2012 menjadi hanya Rp 66 miliar pada 2013. Penjualan bersih juga turun, dari Rp 295 miliar menjadi hanya Rp 30 miliar alias turun 90 persen (yoy). 

Didominasi banyak TM di bawah usia 5 tahun, Gozco belum menggarap area lahan lainnya. Saat ini, Gozco Plantations menguasai area lahan seluas 110 hektare harga CPO. Ia tetap optimistis harga CPO tetap tinggi kendati memasuki masa panen, seiring tingginya permintaan CPO. “Harga CPO bulan Oktober sebesar Rp 8.300 per kilogram. Itu lebih baik daripada harga semester II tahun 2012 yang hanya Rp 6 ribu,” kata dia. 

October 30, 2013

Indonesia hanya mudah buat koruptor, bukan buat berbisnis

 

Selama 10 tahun ini hasil perbaikannya ternyata sangat minim. Budaya koruptif di kalangan politik dan birokrasi masih menggila. Tidak heran buruh minta kenaikan gaji melihat gaya hidup elit politik di Negeri ini, yang biasa memesan satu stel bajunya seharga Rp 168 juta.

 

Kemudahan Berbisnis Tetap Perlu Diperbaiki

Indonesia Peringkat Ke-120

 

 

 

 
WASHINGTON, KOMPAS — Bank Dunia menegaskan, Indonesia mampu memperbaiki iklim investasi, termasuk bagi pengusaha lokal. Perbaikan ini terutama terjadi selama periode Juni 2012 sampai Juni 2013. Namun, peringkat kemudahan berbisnis ini masih tetap perlu diperbaiki.

”Indonesia terus memperbaiki iklim investasi bagi pengusaha lokal selama periode Juni 2012 sampai Juni 2013 dengan menerapkan reformasi regulasi yang ke-10 sejak tahun 2009,” demikian kutipan laporan Bank Dunia yang dipublikasikan pada Selasa (29/10). Ini merupakan laporan tahunan ke-11 menyangkut reformasi kemudahan berbisnis yang diamati Bank Dunia di seluruh dunia selama setahun ini.

Namun, dari data yang diperoleh Kompas dari laman resmi Bank Dunia (www.worldbank.org) terlihat ada penyajian peringkat kemudahan berbisnis di Indonesia yang saling bertentangan. Dalam laporan kemarin, peringkat Indonesia disebutkan turun dari peringkat ke-116 tahun lalu menjadi ke-120 tahun ini. Ada kemerosotan.

Namun, hal itu berbeda dengan arsip laporan tahun lalu yang menyebut Indonesia tahun 2012 berada di peringkat ke-128. Berarti ada perbaikan peringkat dari ke-128 menjadi ke-120.

Dalam penjelasannya, Bank Dunia menyebutkan, peringkat dari tahun ke tahun telah dihitung ulang karena adanya perubahan metodologi dan revisi data berdasarkan berbagai informasi baru. Hingga Selasa malam, Bank Dunia tidak meralat perubahan peringkat Indonesia, yang turun dari peringkat ke-116 menjadi ke-120.

Meski demikian, terlepas dari peringkat Indonesia naik atau turun dibandingkan tahun lalu, posisi Indonesia di peringkat ke-120 tahun ini tetap menunjukkan bahwa tingkat kemudahan berbisnis di negara ini masih di bawah negara lain di kawasan.

Di antara 10 anggota ASEAN, misalnya, Indonesia masih berada di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei, Vietnam, dan Filipina. Bahkan, dalam daftar negara-negara di wilayah Asia Timur dan Pasifik, Indonesia hanya unggul dibandingkan Kiribati, Kamboja, Mikronesia, Laos, Timor Leste, dan Myanmar.

Meski begitu, secara global, Indonesia masih di atas negara-negara yang ekonominya bertumbuh seperti Argentina, Mesir, India, Iran, dan Venezuela.

Menurut siaran pers resmi dari International Finance Corporation (IFC) dan kantor Bank Dunia di Jakarta, peringkat kemudahan berusaha ini disusun berdasarkan 10 indikator dan meliputi 189 perekonomian atau entitas ekonomi di seluruh dunia. Hongkong dan Taiwan termasuk entitas terpisah dari China.

Informasi kredit

Dalam laporan Bank Dunia berjudul ”Doing Business 2014: Understanding Regulations for Small and Medium-Size Enterprises” disebutkan bahwa Indonesia telah memperbaiki sistem informasi kreditnya. Hal ini dilakukan lewat peraturan baru yang menyediakan kerangka hukum pendirian institusi kredit swasta. Hal ini dapat mempermudah para pengusaha untuk mendapatkan kredit dari institusi formal pemberi pinjaman.

”Komitmen Indonesia yang berkelanjutan guna mempermudah pengusaha untuk berkembang sangat membesarkan hati. Setiap langkah yang diterapkan pemerintah untuk menyederhanakan regulasi juga merupakan langkah ke arah pencapaian potensi Indonesia sebagai kekuatan ekonomi, baik di tingkat regional maupun global. Hal ini juga langkah meningkatkan kesetaraan kemakmuran bagi rakyat Indonesia,” ucap Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo Chavez.

Indonesia adalah salah satu dari 15 negara (di antara 25 negara) di Asia Timur dan Pasifik yang menerapkan reformasi peraturan selama satu tahun ini. Hal ini mempermudah pengusaha lokal melakukan usaha.

Komitmen pemerintah atas reformasi terlihat dari paket kebijakan kemudahan berusaha yang diumumkan Wakil Presiden Boediono pada 25 Oktober. Paket kebijakan itu terdiri dari 17 inisiatif yang ditujukan untuk memperbaiki iklim investasi

Paket itu terdiri dari 17 rencana aksi di delapan sektor. Kementerian dan lembaga negara yang bertanggung jawab terhadap rencana aksi masing-masing disebut secara eksplisit. Paling lambat, rencana aksi harus dijalankan per Februari 2014.

Belum cukup

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Mahendra Siregar di Jakarta, kemarin, menyatakan, peningkatan peringkat Indonesia dalam hal kemudahan usaha versi Bank Dunia dari ke-128 tahun 2012 ke peringkat ke-120 tahun ini merupakan bukti adanya reformasi struktural di dalam negeri tahun ini. Reformasi struktural yang dimaksud adalah perbaikan kemudahan akses listrik dan akses perkreditan.

Meski demikian, kata Mahendra, perbaikan itu belum cukup sehingga belum sepenuhnya berhasil mengangkat potensi Indonesia yang sebenarnya. Oleh karena itu, reformasi struktural harus terus dijalankan dengan skala yang lebih luas agar potensi Indonesia optimal. ”Kalau dua langkah itu saja sudah bisa menaikkan delapan peringkat, maka apa yang kami umumkan minggu lalu semestinya akan meningkatkan peringkat Indonesia lebih tinggi lagi karena kelengkapan dan variasi reformasinya lebih banyak,” kata Mahendra.

”Kita melakukan perbaikan iklim usaha dengan 17 rencana aksi dan langkah lainnya bukan dalam rangka memperbaiki peringkat, melainkan sungguh memperbaiki kondisi usaha di Indonesia. Apalagi iklim usaha UKM (usaha kecil dan menengah) yang modal dan aksesnya terbatas. Saya lebih fokus ke situ,” kata Mahendra.

Mahendra optimistis tren peningkatan investasi yang sudah ada akan bisa dipertahankan, bahkan ditingkatkan, ke depan. Syaratnya, reformasi struktural konsisten dilakukan mulai dari sisi kebijakan sampai pelaksanaan di lapangan.

Dengan demikian, Mahendra menekankan, Indonesia sebagai negara tujuan investasi tidak hanya dilihat dari keberlanjutan pertumbuhan ekonomi dan besarnya pasar domestik, tetapi juga dari sisi iklim investasinya.

Menurut Mahendra, peningkatan kemudahan berusaha ini terutama akan sangat membantu usaha kecil dan menengah. Kemudahan berusaha mencakup delapan bidang, meliputi kemudahan memulai usaha, penyambungan tenaga listrik, pembayaran pajak dan premi asuransi, penyelesaian perkara perdata perjanjian, penyelesaian perkara kepailitan, pencatatan kepemilikan hak atas tanah dan bangunan, perizinan terkait pendirian bangunan, serta kemudahan mendapatkan kredit.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Franky Sibarani ketika dihubungi hari Selasa (29/10) mengatakan, ada sejumlah faktor yang berpengaruh dalam mendorong investasi. Kendala itu antara lain adanya kesenjangan antara kebijakan atau peraturan di tingkat pusat dan peraturan daerah. Banyaknya izin dan pungutan yang tidak jelas juga menghambat masuknya investasi. ”Banyak dan lamanya proses perizinan akan mengakibatkan ekonomi biaya tinggi sehingga akan menyulitkan masuknya investor,” kata Franky.

Di sisi infrastruktur, investor pun akan terhambat ketika kesulitan mendapatkan energi, baik listrik maupun gas. ”Sulitnya mendapatkan gas dan listrik, ataupun tiadanya kepastian mendapatkan energi, itu akan menyulitkan investor,” katanya.

Di sisi lain, kata Franky, dibutuhkan proses panjang untuk mencabut peraturan daerah yang berdasarkan evaluasi dinilai bermasalah. ”Demikian pula untuk memastikan apakah suatu lahan itu benar-benar clean and clear, tidak tumpang tindih, pun butuh waktu lama, berbulan-bulan,” kata Franky. (LAS/CAS/WHY/DHF/AFP/APA)

October 28, 2013

Soal kawasan industri indonesia

Pantes investor malas berinvestasi apalagi menciptakan lapangan perjaan di Indonesia. kenyataan infrastruktur dan kawasan industrinya kondisinya

ambruadul dan pemerintah berjalan sngat lamban

Hanya 6% yang dikelola oleh pemerintah.

Jakarta – Jumlah lahan kawasan industri di Indonesia saat ini mencapai 30.000 hektar yang terbagi menjadi 74 kawasan industri. Ironisnya, dari jumlah tersebut, hanya 6% yang dikelola oleh pemerintah.

Hal tersebut dikatakan oleh Dirjen Pengembangan dan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian, Deddy Mulyadi saat berbincang dengan wartawan di Kantor Kementerian Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (28/10/2013).

“Jumlah lahan di kawasan industri 30.000 hektar. Pemerintah hanya 6%,” kata Deddy.

Mayoritas kawasan industri di Indonesia dikuasai oleh puhak swasta. Lain halnya dengan di negara lain yang pemerintahnya memiliki kawasan industri lebih dari separuh total kawasan industrinya.

“Negara lain itu hampir 85% itu pemerintah. Di kita nggak, akibatnya harganya tinggi. Kalau kita pengen punya daya saing, berkembang itu diserahlan lagi ke pemerintah,” tambahnya.

Dia mencontohkan, beberapa kawasan industri yang dimiliki pemerintah telah ada di kawasan seperti Pulogadung (Jakarta), Makassar, Semarang, Cilacap dan daerah-daerah lainnya.

Dikatakan Deddy, alasan minimnya kepemilikan kawasan industri pemerintah adalah koordinasi antara pemerintah sendiri.

“Dengan BUMN belum klop lah gitu. Karena kawasan industri milik BUMN,” jelasnya.
(zul/ang)

Ini Alasan Kawasan Industri RI Kalah dari Manila dan Bangkok
Zulfi Suhendra – detikfinance
Senin, 28/10/2013 15:42 WIB

Jakarta – Kawasan industri di Indonesia masih memiliki banyak kekurangan dibanding negara di Asia Tenggara lain. Selain dari infrastruktur, persoalan harga tanah yang tinggi menjadi faktor kalahnya daya saing kawasan industri di Indonesia.

Direktur Jenderal Pengembangan dan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian, Deddy Mulyadi mengatakan, kalahnya daya saing kawasan industri di Indonesia adalah karena persoalan upah buruh dan harga lahan yang terus melambung.

“Antara UMR dengan lahan kita kalah dengan Malaysia, dengan Thailand juga kalah. Jangan dilihat dulu dari infrastruktur,” kata Deddy saat berbincang dengan wartawan di Kantor Kementerian Perindustrian, Senin (28/10/2013).

Di Bekasi atau Karawang, harga lahan di kawasan industri dibanderol Rp US$ 191 per meter persegi. Lebih mahal dibandingkan harga lahan di kawasan industri di kota lain di Asia Tenggara.

“Contohnya di Bangkok, Thailand, harga tanahnya US$ 119,” katanya.

Apalagi jika dibandingkan dengan harga lahan di kawasan industri Manila, Filipina yang hanya berkisar di harga US$ 52-102 per meter persegi, di negara Asia lain seperti Guangzhou China dibanderol US$ 95 per meter persegi. Harga lahan industri di Indonesia bisa disandingkan dengan harga lahan di Singapura yang berkisar US$ 189-651 per meter persegi.

“Karena di sana mereka yang buat kawasan industri itu pemerintah, infrastrukturnya juga,” katanya.

(zul/ang)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!

October 24, 2013

Jababeka Gandeng Sembawang Corp Bangun Kota Industri

Thursday, October 24, 2013       08:39 WIB
 
 
JAKARTA – Pengembang yang dikenal dengan kota mandiri Jababeka, PT Jababeka Tbk. (KIJA) diketahui telah menggandeng perusahaan asal Singapura, Sembawang Corp. untuk mengembangkan kawasan kota industri di utara Jawa Tengah.

“Setelah berhasil mengembangkan kawasan wisata Tanjung Lesung, kami berencana mengembangkan 100 kota mandiri dalam jangka panjang. Salah satu yang sedang kami persiapkan adalah kota industri di utara Jawa Tengah,” ujar Corporate Secretary Perseroan Muljadi Suganda, Rabu (23/10/2013).

Muljadi menuturkan proyek tersebut rencananya bakal mulai direalisasikan tahun depan. Adapun untuk tahap pertama, perseroan bakal melakukan pembebasan lahan dengan target seluas 1.000 ha.

“Untuk tahap pertama pembebasan lahan kami bakal membebaskan sekitar 400-800 ha. Namun untuk nilai total investasinya belum bisa saya beberkan,” jelas Muljadi

Lebih lanjut, diketahui bahwa Sembawang Corp. mekakukan kerja sama (joint venture) dengan Jababeka melalui entitas mereka, Sembcorp Development Indonesia Ltd. Adapun Sembawang Corp. adalah korporasi asal Singapura yang bergerak di bidang migas dan pengembangan properti.

Ketika disinggung mengenai besaran kepemilikan saham dalam joint venture dengan Sembawang Corp tersebut, Muljadi menuturkan Jababeka sebagai pemegang mayoritas. “Untuk besaran pastinya saya lupa, yang jelas mayoritas,” ungkapnya.

Analis saham properti PT Bahana Securities Salman Fajari Alamsyah menuturkan, proyeksi terkait aksi korporasi tersebut bagus. Hal itu karena kawasan industri memang sudah seharusnya mencari daerah baru.

“Kawasan industri harus mulai keluar dari Jabodetabek. Hal itu karena harga lahan dan tingkat UMP yang lebih rendah daripada di Jabodetabek,” tutur Salman kepada Bisnis, Rabu (23/10).

Menurut Salman, lokasi proyek yang dekat dengan Semarang, selaku salah satu pusat industri di Jawa Tengah membuat proyeksinya baik. Adapun dari proyek tersebut kontribusi marketing sales baru akan terlihat pada tahun depan.

Sewaktu ditanya terkait investasi proyek tersebut, menurut Salman belum bisa dipastikan besarannya. “Dari data yang saya dapat, harga jual tanah di sana sekitar Rp1,2 juta/m2. Namun harga akuisisi biasanya lebih rendah, sekitar Rp500.000 sampai Rp1 juta/m2,” jelasnya.

http://market.bisnis.com/read/20131024/192/182625/jababeka-gandeng-sembawang-corp-bangun-kota-industri

 

October 24, 2013

AirAsia berniat merambah bisnis rumah sakit

 

Dari Kontan online

Oleh Asnil Bambani Amri – Kamis, 24 Oktober 2013 | 08:06 WIB | Sumber Reuters
 
 

KUALA LUMPUR. Chief executive officer (CEO) AirAsia Grup, Tony Fernandes berencana untuk merambah bisnis kesehatan di masa yang akan datang. Hal tersebut disampaikannya saat presentasi di simposium tentang pasar modal Rabu (23/10).

Pendiri AirAsia itu mengaku tertarik dengan bisnis rumah sakit yang kini menjadi mimpinya. Dia mencatat, bahwa rumah sakit saat ini banyak rumah sakit tidak efisien. Padahal kata dia, banyak pilihan untuk menyediakan layanan kesehatan yang terjangkau bagi semua orang.

“Jika kami bisa menyediakan rumah sakit yang lebih terjangkau, maka Anda bisa mengambil peran negara untuk mendapatkan layanan kesehatan yang lebih baik,” terang Fernandes.

Saat berbincang dengan wartawan setelah, Fernandes mengatakan, dirinya percaya layanan kesehatan akan menjadi menyerap sebagian besar anggaran nantinya. Dalam menyediakan rumah sakit, Fernades mengaku akan membuat konsep rumah sakit yang fokus pada affordability

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 81 other followers