Archive for ‘Corporate spotlight’

October 22, 2013

Freeport Kembali Minta Dispensasi Ekspor Mineral Mentah

Perusahaan “Kampret” ! Bertahun tahun hanya bisa mengeruk perut bumi, masih tidak tahu malu minta dispensasi pula..

 

 
 

Rozik B Soetjipto (tambang.co.id)

Ipotnews - PT Freeport Indonesia meminta pemerintah memberikan keringanan dalam pelarangan ekspor mineral mentah – sesuai UU Mineral dan Batubara No 4 tahun 2009 – per Januari 2014. Alasan Freeport meminta keringanan karena telah berkomitmen untuk melakukan pemurnian dengan pihak ketiga.

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Rozik B Sutjipto mengatakan bahwa Freeport berkomitmen akan melakukan hilirisasi dengan bekerja sama dengan pihak ketiga, di antaranya PT Indosmelter dan PT Indovasi. Namun, smelter yang dibangun oleh kedua perusahaan tersebut baru bisa beroperasi pada 2017.

“Kami coba sampaikan kepada pemerintah lewat Wakil Menteri ESDM (Susilo Siswoutomo) untuk diberikan dispensasi, karena kita sudah lakukan kerja sama dengan pihak ketiga seperti Indovasi dan Indosmelter,” ujar Rozik di Jakarta, Selasa (22/10).

Selain melakukan kerja sama untuk pemurnian, Freeport juga telah melakukan studi kelayakan pembangunan smelter. Akan tetapi, untuk studi tersebut, Freeport tidak akan melakukan pembangunan smelter, walau telah melakukan visibilitasi studi.

Rozik menjelaskan, visibilitasi studi tersebut akan selesai pada akhir tahun 2013 atau awal Januari 2014. Visibilitasi studi yang dilakukan Freeport ada tiga wilayah. Dengan adanya visibilitasi studi tersebut, akan memberikan peluang bagi para investor yang ingin melakukan pembangunan smelter. “Itu tidak kita yang bangun, itu semacam di Gresik (pihak ketiga), bisa saja ada pihak ketiga yang tertarik bangun smelter,” ujarnya.

Rozik kembali menegaskan, untuk masalah hilirisasi yang akan ditetapkan pada 12 Januari 2014, Freeport mohon dispensasi, karena pihaknya telah melakukan studi, dan pihak ketiga yang bangun smelter baru siap pada 2017. “Pembangunan pabrik pemurnian antara satu logam dengan yang lain berbeda, jadi agak lama memang,” akunya.

Pemerintah sudah memberi waktu lima tahun untuk perusahaan tambang membangun smelter, sejak UU Minerba disahkan. Namun, sayang, banyak perusahaan yang enggan memenuhinya, namun tak mau jika dilarang mengekspor mineral mentah.(Rifai/ha)

October 22, 2013

Kadin Minta Antam Jadi Pelopor Perusahaan Tambang Bangun Smelter

 

 

“Selain Antam tidak banyak yang mengajukan dan punya smelter sendiri.”

ddd
Selasa, 22 Oktober 2013, 17:29Antique, Alfin Tofler
PT Antam Tbk ikut memeriahkan acara Investor Summit.
PT Antam Tbk ikut memeriahkan acara Investor Summit.(VIVAnews/Ikhwan Yanuar)
 
VIVAnews - Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kading) Indonesia bidang Teknologi, Informasi, dan Komunikasi, Didie Suwondho, meminta agar PT Aneka Tambang Tbk menjadi penuntun bagi perusahaan tambang lainnya.
 
Hal ini diungkapkan Didie dalam acara konfrensi pers terkait dengan UU Minerba nomor 4 tahun 2009 di Jakarta, Selasa 22 Oktober 2013. Undang-undang ini harus diterapkan pada Januari 2014, di mana tidak boleh ada lagi ekspor barang tambang mentah sama sekali.
 
“Kita meminta Antam dengan segala sumber daya yang ada dan bisa menjadi penuntun bagi perusahaan-perusahaan lain,” katanya.
 
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa selama ini perusahaan pertambangan pelat merah tersebut amat kuat dalam hal tambang, khususnya bauksit dan nikel. Untuk itu, diharapkan nanti Antam juga bisa mencari rekanan perusahaan dalam negeri untuk pembangunan smelter menyusul mulai diterpakannya UU Minerba tersebut.
 
“Selain Antam tidak banyak yang mengajukan dan punya smelter sendiri,” katanya.
 
Didie mencatat, untuk membangun smelter tidak begitu banyak proposal yang masuk. Sejauh ini, hanya ada 14 pengajuan yang kemajuannya bervariasi.
 
Dari 14 ajuan tersebut, menurutnya, ada sebagian yang sudah berjalan dan ada yang masih dalam tahap pra studi kelayakan. “Harita contohnya sudah mulai membangun satu di Kalbar,” ujarnya.
 
Selain pembangnan smelter besar, Didie mengungkapkan, Antam juga bisa mendorong tumbuhnya smelter-smelter kecil yang nilai investasinya tidak terlalu besar. Hal ini, diharapkan bisa berlangsung di daerah-daerah yang dukungan pembiayaan di daerahnya masih lemah. (eh)

 

 
October 22, 2013

Rencana Ekspansi POLY Terhambat Utang

HomeBisnisAnalisa bisnis
Urusan hutang Texmaco Group yg mencapai $ 29 Milyar ( fantastis) gimana ceritanya ?

SENIN, 21 OKTOBER 2013 | 20:42 WIB
Rencana Ekspansi POLY Terhambat Utang

TEMPO.CO, Karawang – Rencana ekspansi emiten serat dan benang PT. Asia Pasific Fibers Tbk. (POLY) terhambat utang senilai Rp 1 triliun. Rencana restrukturisasi itu tertahan sejak tahun 2006 karena belum disepakati oleh pemerintah. “Padahal dengan ekspansi, penjualan kita bisa sampai Rp 10 triliun, sekarang jadi kehilangan kesempatan,” ujar Sekretaris Perusahaan POLY Tunaryo dalam acara kunjungan media ke pabrik Asia Pasific Fibers di Karawang, Senin, 21 Oktober 2013.

Tahun lalu perseroan mengantongi penjualan sebesar US$ 600 juta. Rinciannya yakni untuk ekspor senilai US$ 101,79 juta dan domestik US$ 497,54 juta. Sementara itu, kapasitas produksi purified terephtalic acid (PTA) mencapai 278 ribu metrik ton per tahun, polimer mencapai 335 ribu metrik ton per tahun, fiber 143 ribu metrik ton per tahun, dan filament yarn atau benang mencapai 147 ribu ton per tahun. Selain di Karawang, perseroan juga memiliki pabrik di Kendal.

“Kondisi saat ini sangat membatasi kinerja karena tidak bisa menambah kapasitas mesin produksi lantaran tidak bisa mendapatkan modal kerja,” kata Tunaryo. “Padahal permintaan poliester terus meningkat.”

Direktur Utama POLY Ravi Shankar menyatakan, perseroan membidik peningkatan kapasitas produksi filament yarn bertambah 25 persen. Pabrik di Kendal, kata dia, dapat memproduksi 420 ton per hari.”Kalau restrukturisasi disetujui, kami akan tambah kapasitas mesin dan bangun pabrik baru,” ujarnya saat ditemui di tempat yang sama. Rencana itu setidaknya membutuhkan dana sekitar US$ 80 juta hingga US$ 120 juta.

Untuk diketahui, total utang grup Texmaco berjumlah US$ 29 miliar sementara utang POLY hanya mencapai US$ 2,8 miliar. Utang itu terdiri dari utang tanpa jaminan dan utang jaminan senilai US$ 1 miliar. Perseroan pun mengajukan restrukturisasi terpisah dari grup. Sebab, dalam perjanjian MRA di tahun 2002 sebelumnya disebutkan pembayaran utang tidak dapat dilakukan terpisah melainkan satu grup sehingga rencana itu belum dapat direalisasikan.

Berdasarkan catatan perseroan, POLY menjadi market leader di domestik untuk filament yarn dan staple fiber masing-masing 22 persen dan 23 persen. Menyusul adalah Indorama dengan pangsa pasar 12,5 persen di filament yarn dan 12 persen di stable fibers, dan Tiffico dengan pangsa pasar 16,8 persen di filament yarn dan 21 persen di stable fibers.

Produk perseroan digunakan antara lain untuk industri tekstil, industri mode dan fashion, industri transportasi, industri alat kesehatan, dan industri kemasan. Jika dilihat dari penjualan, industri mode dan fashion paling banyak memberikan kontribusi. Untuk tetap menjaga posisi di pasar, perseroan terus melakukan inovasi produk. “Strategi kami terus fokus membuat specialty product,” kata Ravi.

RIRIN AGUSTIA

October 19, 2013

Medco Tutup Anak Usaha Pabrik Etanol

UM’AT, 18 OKTOBER 2013 | 21:38 WIB

Medco Tutup Anak Usaha Pabrik Etanol

Medco Energi. TEMPO/Cheppy A. Muchlis

 

TEMPO.COJakarta – PT. Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menutup anak usaha, PT Medco Ethanol Lampung (MEL). Pabrik pengolahan dan produksi etanol itu dikuasai Medco Energi melalui PT Medco Downstrem Indonesia.

Menurut Direktur Utama Medco Energi, Lukman Mahfud, penutupan pabrik itu dilakukan lantaran seretnya suplai bahan baku. “Perseroan menghentikan dan menutup kegiatan operasi kilang etanol karena tidak mencukupinya pasokan bahan baku singkong dan tetes tebu untuk produksi etanol,” kata dia dalam keterbukaan informasinya di situs Bursa Efek Indonesia, Jumat, 18 Oktober 2013.

Akibatnya, Medco Energi tidak memiliki anak usaha yang beroperasi di sektor hilir secara mayoritas. Kepemilikan saham di PT Puma Medco Petroleum–bergerak di bidang penjualan dan distribusi high speed diesel–hanya minoritas.

Penghentian operasi memberikan dampak terhadap laporan keuangan perseroan tahun ini. Menurut Lukman, perseroan akan mengklasifikasi ulang atas akun anak perusahaan yang sesuai dengan PSAK Nomor 58 mengenai aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual dan operasi yang dihentikan.

Dihubungi terpisah, sekretaris perusahaan Medco Energi, Imron Ghazali, menyatakan penghentian tersebut bersifat sementara. Pabrik kembali beroperasi jika proses divestasi MEL rampung. “Divestasi sedang dalam proses penyelesaian dengan calon pembeli kilang etanol,” kata dia.

Medco Energi menargetkan proses divestasi Medco Ethanol yang direncanakan dilepas pada kuartal III tahun ini. Sebelumnya, Direktur Operasi Ketenagalistrikan, Pertambangan, dan Industri Hilir Medco, Budi Basuki, mengatakan ada investor lokal yang siap mengambil alih pabrik etanol itu. “Nama dan nilainya belum bisa disampaikan,” katanya.‬ Pengembangan pabrik ke depannya, menurut dia, dengan mengganti bahan baku etanol dari singkong ke molase.‬

RIRIN AGUSTIA

October 17, 2013

Ini Keuntungan RI Jika Ambil Alih Saham Inalum

Maikel Jefriando - detikfinance
Kamis, 17/10/2013 18:43 WIB
http://images.detik.com/content/2013/10/17/1036/184925_inalum.jpg
Jakarta - Proses pengambilalihan PT Inalum oleh pemerintah dari perusahaan Jepang Nippon Asahan Alumunium (NAA) masih terkendala. Belum ada kesepakatan dari kedua negara untuk menentukan nilai buku perusahaan.

Apa keuntungannya jika Inalum dimiliki Indonesia?

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kerjasama Industri Internasional, Kementerian Perindustrian yang dikutipdetikFinance, Kamis (17/10/2013) ada beberapa manfaat dari kepemilikan Inalum.

Pertama, industri alumunium memiliki prospek yang baik. Terlihat pada pertumbuhan permintaan atas alumunium di pasar domestik selama 20 tahun kedepan lebih dari 3 kali lipat.

Inalum juga merupakan satu-satunya industri penghasil Alumunium Ingot di dalam negeri. Dimana saat ini hanya dapat menyuplai 20%-30% permintaan domestik, sedangkan sisa kebutuhannya masih diimpor.

Pada tahun 2017, produksi Inalum direncanakan dapat mencapai 455.000 ton atau meningkat dua kali lipat dari produksi saat ini yang sebesar 240.000 ton.

Kedua, alumunium smelting memiliki profitabilitas yang tinggi untuk industri alumunium secara keseluruhan. Peleburan alumunia menjadi alumunium Ingot dinilai memiliki peningkatan nilai tambah yang signifikan dari 350 US$/ton alumina menjadi 2500 US$/ton alumunium Ingot.

Ketiga perusahaan ini merupakan satu-satunya dengan fasilitas lengkap untuk memproduksi alumunium. Diantaranya memiliki pabrik Carbon Plant, Reduction Plant, Casting Plant yang lengkap. Kemudian PLTA Siguragura dengan kapasitas 14.000 kWh per ton alumunium cair.

Keempat adalah kepemilikan Inalum artinya jalan menuju integrasi industrialisasi Indonesia. Pemerintah yang ingin meningkatkan sektor industri, cukup kuat dengan menggandeng Inalum.

October 4, 2013

Investor AS Arahkan USD61 Miliar Ke Indonesia Hingga 5 Tahun Ke Depan

Thursday, October 03, 2013       20:14 WIB
Investor AS Arahkan USD61 Miliar Ke Indonesia Hingga 5 Tahun Ke Depan
Ipotnews - Meski terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi dan memasuki tahun pemilu, Indonesia tetap menjadi daya tarik perusahaan-perusahaan Amerika Serikat yang berniat mengintensifkan investasi mereka di Indonesia.

Hal tersebut tercermin dari studi yang dilakukan Ernst & Young Indonesia, bekerja sama dengan dua pusat studi yang terafiliasi dengan dua universitas terkemuka di Indonesia. Studi yang dilakukan pada paruh pertama tahun ini – ketika ekonomi Indonesia mulai melambat – dilaksanakan dengan pengawasan Badan Pembangunan Internasional yang merupakan unit dari Kamar Dagang dan Industri AS.

Studi, seperti diberitakan wsj.com, Kamis (3/10), dilakukan terhadap 35 investor AS terbesar di Indonesia, termasuk Freeport-McMoRan, General Motors, Cargill, Coca – Cola, dan Chevron. Hasilnya, perusahaan-perusahaan AS berencana menginvestasikan total USD61 miliar pada tiga hingga lima tahun ke depan. Bandingkan dengan total investasi AS selama sembilan tahun terakhir yang senilai USD65 miliar.

Ke-35 perusahaan mengungkapkan investasi mereka kepada para peneliti, dengan syarat informasi tersebut hanya dimunculkan secara umum. Di luar Freeport dan Chevron yang bergerak di pertambangan dan energi, pertumbuhan investasi AS di Indonesia yang tercepat ada di sektor manufaktur, seperti di industri farmasi dan otomotif.

Faktor yang paling memicu daya tarik investasi di Indonesia sini adalah pertumbuhan konsumen kelas menengah yang besar, dari total 240 juta populasi. “Kami memiliki rencana besar untuk Indonesia. Indonesia sangat penting untuk tujuan pertumbuhan kami,” kata Ahmet Bozer , Presiden Bisnis Coca-Cola di luar Amerika. Perusahaan ini secara konsisten menginvestasikan lebih dari USD100 juta per tahun di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, para pemimpin bisnis mengingatkan bahwa ada iklim ketidakpastian menjelang pemilu 2014. Mereka mencatat, investasi asing langsung di Indonesia umumnya selalu jatuh di tahun pemilu, meski faktanya Indonesia telah membuktikan diri sebagai negara demokrasi terbesar ketiga saat ini.

Isu terbesar yang diprihatinkan adalah soal ketidakkonsistenan kebijakan.(ha)

September 17, 2013

SBY Resmikan Pabrik Ban Hankook di Cikarang

Selasa, 17 September 2013 | 10:00 WIB

 

SBY Resmikan Pabrik Ban Hankook di Cikarang

stidge.com

 

TEMPO.CO, Bekasi — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan pabrik terbaru PT Hankook Tire Indonesia di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa, 17 September 2013. Peresmian dijadwalkan pukul 10.00 WIB. Investasi pabrik asal Korea Selatan ini mencapai US$ 1,2 miliar hingga 2018.

Acara ini akan dihadiri mantan Presiden Republik Korea Myung Bak Lee dan direksi Hankook, yakni Vice Chairman dan CEO Hankook Tire, Seung Hwa Suh; Presiden dan CEO Hankook Tire Worldwide, Hyun Shick Cho; serta Presiden dan CMO Hankook Tire, Hyun Bum Cho.

Adapun menteri kabinet yang dijadwalkan mendampingi SBY antara lain Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa dan Menteri Perindustrian Mohammad Soleman Hidayat.

Pabrik terbaru Hankook Tire di Cikarang merupakan pusat produksi ketujuh di dunia yang dimiliki produsen ban itu. Pabrik ini bakal menjadi basis ekspor untuk Amerika Utara dan Timur Tengah. Pabrik seluas 60 hektare ini juga difungsikan sebagai pusat bisnis kawasan untuk pasar Asia dengan kapasitas produksi 6 juta ban per tahun hingga 2018.

Sebanyak 70 persen produk bakal dieksor, sementara sisanya dialokasikan untuk pasar domestik. Adapun produk pabrik sebagian besar diperuntukkan bagi kendaraan berpenumpang, ban Ultra-High Performance (UHP), dan ban untuk truk ringan.

Seung Hwa Suh, Vice Chairman dan CEO Hankook Tire, mengatakan peresmian pabrik ini merupakan tonggak sejarah bagi pertumbuhan perusahaannya. “Ini mencerminkan keinginan dan komitmen kami yang kuat untuk berkembang bersama Indonesia serta beberapa negara ekonomi berkembang,” katanya.

PRIHANDOKO 

September 11, 2013

Jamin Stok, Pertamina Akuisisi Polytama Propindo

 
 
 
Oleh: Sri Wulandari
ekonomi – Senin, 9 September 2013 | 13:56 WIB
 

INILAH.COM, Jakarta – PT Polytama Propindo (Polytama) menunggu langkah tegas Pertamina untuk mengakuisisi pabrik polipropilinne milik Polytama.

“Opsi akuisisi ini bisa menjadi sinergi positif untuk jaminan pasokan bahan baku. Soal bagaimana mekanisme akuisisinya, masih dalam proses pembahasan,” tutur Didik Susilo, Direktur Utama PT Polytama Propindo, dalam siaran pers, Senin (9/9;2013).

Pabrik Polipropilena terbesar kedua di Indonesia yang berlokasi di Balongan, Indramayu, Jawa Barat, ini memiliki kapasitas terpasang hingga 240 ribu metrik ton (MT) per tahun. Di tahap awal beroperasinya Polytama dimulai dengan kerjasama maklon dengan PT Bukitmega Masabadi. Meski dua tahun tidak berproduksi, tapi dengan dukungan tenaga kerja Polytama tetap mampu melakukan perawatan fasilitas pabrik yang ada.

“Kami bisa menjalankan kerjasama dengan Bukitmega Masabadi dengan lancar. Dengan kapasitas produksi sekitar 240 ribu MT/tahun, kami targetkan bisa mengisi pangsa pasar sekitar 20%,” ujar Didik.

Menurut Didik, dengan inovasi dan upaya-upaya pengembangan yang dilakukan perusahaan, di akhir tahun 2013 nanti Polytama sudah mampu beroperasi normal (tidak bergantung skema tolling). “Sementara itu, kami dalam persiapan menambah unit extruder baru untuk memaksimalkan kapasitas produksi. Untuk itu dibutuhkan dana sekitar US$ 8 juta,” katanya.

Saat ini, kebutuhan polipropilena Nasional mencapai 1 juta MT per tahunnya. Sedangkan, kapasitas pasokan lokal maksimal 800 ribu MT per tahun yang dipasok tiga produsen yaitu Chandra Asri, Polytama Propindo dan Pertamina. Artinya, sisa kebutuhan harus diimpor. “Dengan beroperasinya Polytama secara penuh, impor bisa ditekan setara kapasitasnya, dengan perkiraan nilai mencapai US$ 300-US$400 juta.

Sejak beroperasi kembali pada Februari 2013 lalu, PT Polytama Propindo (Polytama) terus menggebrak. Salah satunya adalah menjaga keterjaminan pasokan bahan baku propilena yang menjadi kunci keberlangsungan perusahaan. Selain itu, Polytama juga melaku restrukturisasi keuangan dan mengupayakan penyediaan dana segar.

September 10, 2013

Digugat Pailit, Saham Bakrieland Di-suspend

Dari Kontan online

SELASA, 10 SEPTEMBER 2013 | 11:37 WIB

Digugat Pailit, Saham Bakrieland Di-suspend

DOK: BAKRIELAND DEVELOPMENT

 

TEMPO.COJakarta - Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan suspensi atau penghentian perdagangan sementara efek saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) per hari ini, Selasa, 10 September 2013. Suspensi dilakukan karena adanya permohonan kewajiban pembayaran utang (PKPU).

Suspensi itu dilakukan merujuk pada keterbukaan informasi ELTY Senin kemarin. Penghentian dilakukan guna menghindari perdagangan yang tidak wajar atas saham perseroan.

“BEI memutuskan untuk melakukan penghentian sementara perdagangan saham Bakrieland di seluruh pasar mulai perdagangan sesi I hari Selasa tanggal 10 September 2013,” demikian pernyataan Otoritas Bursa dalam keterangan tertulisnya hari ini.

Otoritas saat ini juga tengah meminta penjelasan lebih lanjut kepada pihak Bakrieland. BEI juga meminta kepada pihak yang berkepentingan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh perusahaan tersebut.

Pada perdagangan kemarin, saham anak usaha grup Bakrie itu tidak berubah di level 50 atau level terendahnya.

RIRIN AGUSTIA

September 1, 2013

Bisnis T.P Rachmat: Menanti Kiprah ‘Astra Dua’ di Lantai Bursa

Tuesday, August 27, 2013       11:01 WIB
JAKARTA – “Sering, ketika saya ngomong kerja di Triputra, orang banyak yang tidak tahu. Tetapi, kalau sudah menyebut nama Pak T.P Rachmat, semua langsung mengenal,” cerita Direktur Keuangan Triputra Group, Erida Djuhandi.

T.P Rachmat yang dimaksud Erida yakni Theodore Permadi Rachmat alias Teddy Rachmat, mantan Presiden Direktur (Presdir) PT Astra International Tbk yang juga tercatat sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia.

Globe Asia pada Juni 2013 menempatkan T.P Rachmat di baris ke-13 dari 150 orang kaya Indonesia dengan aset tak kurang dari US$2 miliar.

Setelah pensiun dari Astra pada 2002, T.P Rachmat mulai membesarkan grup bisnis yang dibangunnya sejak 1998, Triputra. Kini, bisnis Triputra berada di bawah bendera Triputra Investindo Arya.

Menarik dicermati, lini bisnis Triputra Group dengan 14 subholding company di seluruh penjuru negeri, hampir sejalan dengan bisnis yang ditekuni kelompok Astra.

Triputra mempunyai 4 kelompok bisnis utama seperti agribisnis, pertambangan, manufaktur, dan perdagangan jasa.

Dari lini agribisnis, Triputra memiliki anak usaha yang bergerak di bisnis crumb rubber processor, perkebunan sawit, karet, dan kayu.

Bahkan, Erida berani menyebut bahwa perusahaan crumb rubber processor yang berada di bawah PT Kirana Megantara merupakan pemain kedua terbesar di dunia.

“Agrobisnis kami punya sekitar 15 pabrik dengan market share di Indonesia sekitar 18% dan produk yang dihasilkan hampir 100% untuk ekspor,” katanya.

Selain itu, bisnis perkebunan Triputra berjalan di bawah bendera PT Triputra Agro Persada (TAP) yang awal Juli lalu memperoleh suntikan dana US$470 juta dari 14 bank lokal dan asing.

Tahun lalu, TAP juga mendapatkan suntikan dana US$200 juta lewat Goverment of Singapore Investment Corporation dan Northstar Equity Partners. Keduanya saat ini tercatat sebagai pemegang saham minoritas di TAP.

Northstar merupakan perusahaan investasi milik Patrick Waluyo yang tak lain menantu dari T.P Rachmat.

Masih di bisnis perkebunan, Triputra juga merupakan pemegang 27,04% saham di PT Dharma Satya Nusantara Tbk, perusahaan yang resmi melantai bursa baru-baru ini.

Bisnis Triputra juga cukup mapan di sektor pertambangan. Meski bukan yang paling dominan, Triputra memiliki saham di PT Adaro Energy Tbk, selain mengendalikan bisnis tambang lain melalui PT Padang Karunia, Bhakti Energy Persada, dan Pesona Khatulistiwa Nusantara.

Salah satu putra T.P Rachmat, Christian Ariano Rachmat saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur di Adaro Energy.

Total cadangan batu bara dari bisnis tambang Triputra itu mencapai 6 miliar ton di wilayah Kalimantan.

Jika ada yang menyebut Triputra sebagai ‘Astra Kedua’ rasanya itu menjadi wajar saja. Sebagai orang yang pernah di belakang kendali Astra, TP. Rachmat benar-benar membangun Triputra dengan ‘roh’ Astra.

Banyak alumni Astra yang saat ini berada di balik kemudi Triputra.

Harus diakui, Astra tumbuh besar sebagai perusahaan raksasa di Indonesia yang sampai Juni 2013 memiliki aset sebesar Rp197,16 triliun dengan pendapatan Rp94,23 triliun.

Triputra sendiri, akhir 2012 berhasil membukukan pendapatan Rp38 triliun dengan target sampai 2015 mendatang mengantongi pendapatan hingga Rp56 triliun.

Beberapa bisnis di bidang manufaktur Triputra, memiliki koneksi langsung dengan Astra. Melalui anak usaha Pako, Triputra menggandeng PT Astra Otoparts Tbk sebagai strategic partner.

Demikian halnya di bidang perdagangan jasa. Lewat PT Daya Adicipta, Triputra menguasai 10% pangsa pasar penjualan produk kendaraan bermotor merek Honda di Jawa Barat, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Maluku.

Mereka juga tercatat sebagai penguasa pasar penyedia persewaan mobil melalui PT Adi Sarana Armada Tbk atau ASSA [260 15 (+6,1%)] Rent yang kini memiliki armada lebih dari 12.000 unit.

Jika Astra memiliki bisnis bank melalui PT Bank Permata Tbk yang dimiliki secara bersama dengan Standard Chartered Bank, Triputra memiliki Bank Sahabat Purba Danarta.

Bank Sahabat yang memilih terjun di sektor mikro dalam waktu dekat akan memperoleh pendanaan dari PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk.

Erida mengaku pengembangan bisnis Triputra dilakukan dengan berbagai cara, seperti strategic partner, pinjaman perbankan, maupun penawaran saham perdana (initial public offering/IPO).

“Ada beberapa [perusahaan] yang saat ini dalam proses strategic partner. Perkiraan selesai tahun depan, tetapi karena masih proses belum bisa dijelaskan rincinya. Semua dilakukan untuk pertumbuhan perusahaan,” kata Erida.

Selain itu, ada pula beberapa perusahaan lain di bawah Triputra yang siap melantai di bursa.

Menjadi penantian yang cukup berarti, jika akhirnya satu per satu perusahaan Triputra Group hadir dan menyemarakan pasar bursa Indonesia. Setidaknya, perusahaan mapan yang memiliki bisnis sekuat Astra.

http://bisnis.com/bisnis-tp-rachmat-menanti-kiprah-astra-dua-di-lantai-bursa

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 76 other followers