Archive for ‘Corporate spotlight’

January 1, 2014

Ini Dia Saham IPO Paling Kinclong Dan Paling Loyo Di 2013

>Detik Com Tuesday, December 31, 2013       07:40 WIBIni

Bursa Efek Indonesia (BEI) kedatangan 30 tamu baru dan satu tamu lama yang masuk lantai bursa. Dari 31 emiten yang mencatatkan sahamnya tahun ini ada yang naik ada yang turun, tapi ada juga yang stagnan.

Secara total ada 13 saham turun, satu saham stagnan dan sisanya 17 saham menguat. Saham-saham yang menguat ini patut diacungi jempol karena bisa bertahan di tengah minusnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di 2013.

Berikut ini saham-saham IPO yang tumbuh negatif di 2013
- Saham PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk (BBRM) [153 4 (+2,7%)] pada perdagangan perdananya naik tipis 2,17% ke Rp 245 per lembar. Harga penawaran umum saham perdana alias Initial Public Offering (IPO) sebelumnya ditetapkan Rp 230 per lembar.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 4 poin menjadi Rp 153 per lembar. Sejak IPO sahamnya minus 33,47%.

- Saham PT Saraswati Griya Lestari Tbk (HOTL) [171 2 (+1,2%)] pada perdagangan perdananya naik 29,73% menjadi Rp 240. Harga penawaran saham perdana atau Initial Public Offering/ (IPO) sebelumnya ditetapkan di Rp 185 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 2 poin menjadi Rp 171 per lembar. Sejak IPO sahamnya minus 7,56%

- PT Multi Agro Gemilang Plantation Tbk (MAGP) [100 0 (+0,0%)] pada pembukaan perdagangan saham dibuka di harga Rp 112 atau naik dari harga perdana sebesar Rp 110 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya stagnan di posisi Rp 100 per lembar. Sejak IPO sahamnya minus 10%.

- Saham PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) [144 -2 (-1,4%)] atau Spindo pada perdagangan perdananya dibuka naik 1,69% menjadi Rp 300, dari harga awal saat Initial Public Offering (IPO) Rp 295 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya turun 2 pon ke posisi Rp 144 per lembar. Sejak IPO sahamnya anjlok 51,18%.

- Saham PT Dyandra Media International Tbk (DYAN) [235 5 (+2,2%)] pada perdagangan perdananya dibuka naik 15,71% menjadi Rp 460, dari harga awal saat Initial Public Offering (IPO) Rp 350. Saham DYAN [235 5 (+2,2%)] sempat menyentuh level tertinggi di harga Rp 500.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 5 poin ke posisi Rp 235 per lembar. Sejak IPO sahamnya minus 32,85%.

- Saham PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) [1,280 40 (+3,2%)] pada perdagangan perdananya dibuka stagnan dan akhirnya melemah ke Rp 1.480. Saham perdananya dipatok Rp 1.500 per lembar.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 40 poin ke posisi Rp 1.280 per lembar. Sejak IPO sahamnya minus 14,66%.

- Saham PT Acset Indonusa Tbk (ACST) [1,990 90 (+4,7%)] dalam perdagangan perdananya dibuka naik ke level Rp 2.600 dari harga perdana saham perseroan atau Initial Public Offering (IPO) di level Rp 2.500 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 90 poin ke posisi Rp 1.990 per lembar. Sejak IPO sahamnya minus 20,4%.

- Saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) [4,800 0 (+0,0%)] pada perdagangan perdananya dibuka memerah di angka Rp 5.300 dari penetapan harga penawaran perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) di harga Rp 5.500 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya stagnan di posisi Rp 4.800 per lembar. Sejak IPO sahamnya minus 12,72%.

- Saham PT Nusa Raya Cipta (NRCA) [670 -20 (-2,9%)] pada perdagangan perdananya dibuka di angka Rp 1.000 dari penetapan harga perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) di harga Rp 850 per saham. Angka ini naik 17,6%.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya turun 20 poin ke posisi Rp 670 per lembar. Sejak IPO sahamnya minus 21,17%.

- Saham PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) [330 0 (+0,0%)] pada perdagangan perdananya dibuka naik tipis Rp 30 ke posisi Rp 590 per saham dari harga penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) di harga Rp 560 per lembar.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya stagnan di posisi Rp 330 per lembar. Sejak IPO sahamnya anjlok 41,07%.

- Saham PT Electronic City Indonesia Tbk (ECII) [2,775 50 (+1,8%)] pada perdagangan perdananya dibuka stagnan di harga Rp 4.050 sama seperti harga penawaran saham perdana alias Initial Public Offering (IPO).

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 50 poin ke posisi Rp 2.775 per lembar. Sejak IPO sahamnya anjlok 31,48%.

- Saham PT Victoria Investama Tbk (VICO) [119 -3 (-2,5%)] pada perdagangan perdananya dibuka naik di angka Rp 150 per saham dari harga perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) di harga Rp 125 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya turun 3 poin ke posisi Rp 119 per lembar. Sejak IPO sahamnya turun 4,8%.

- Saham PT Bank Maspion Indonesia Tbk (BMAS) [0 -285 (-100,0%)] pada perdagangan perdananya dibuka naik di harga Rp 340 dari harga penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) sebesar Rp 320 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya stagnan di posisi Rp 285 per lembar. Sejak IPO sahamnya turun 10,93%.

Saham yang sejak IPO stagnan di posisi yang sama:
- Saham PT Bank Mitraniaga Tbk (NAGA) [180 12 (+7,1%)] pada perdagangan perdananya dibuka di harga Rp 300 per saham dari harga IPO di harga Rp 180 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 12 poin ke posisi Rp 180 per lembar. Sejak IPO sahamnya stagnan.

Ini saham-saham IPO yang berhasil tumbuh positif di 2013:
- Saham PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME) [2,500 0 (+0,0%)] pada perdagangan perdananya hari ini naik 18,75% menjadi Rp 480. Harga penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) sebelumnya ditetapkan pada harga Rp 400 per lembar saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya stagnan di posisi Rp 2.500 per lembar. Sejak IPO sahamnya melonjak 525%.

- Saham PT Trans Power Marine Tbk (TPMA) [310 0 (+0,0%)] pada perdagangan perdananya hari ini dibuka naik 43% menjadi Rp 330 per lembar saham. Harga penawaran perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) sebelumnya ditetapkan di harga Rp 230 per saham dengan nilai nominal Rp 100.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya stagnan di posisi Rp 310 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik 34,78%.

- Saham PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) [0 -1490 (-100,0%)] pada perdagangan perdananya dibuka stagnan pada harga Rp 1.200. Harga itu sama dengan harga penawaran perdana saham atau Intial Public Offering (IPO) sebesar Rp 1.200 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya stagnan di posisi Rp 1.490 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik 24,16%.

- Saham PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU) [590 10 (+1,7%)] pada perdagangan perdananya dibuka di harga Rp 460. Perseroan telah menetapkan harga perdana saham yang ditawarkan Rp 375 per saham dalam rangka penawaran perdana saham ke publik.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 10 poin ke posisi Rp 590 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik 57,33%.

- PT Apexindo Pratama Duta (APEX) [2,550 0 (+0,0%)] (relisting) menawarkan harga Rp 1.562 per saham dalam pencatatan kembali sahamnya di lantai bursa.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya stagnan di posisi Rp 2.550 per lembar. Sejak IPO (relisting) sahamnya naik 63,25%.

- Saham PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) [2,050 50 (+2,5%)] pada perdagangan perdananya dibuka naik di angka Rp 1.870 dari penetapan harga penawaran perdana saham atau IPO sebesar Rp 1.850 per lembar.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 50 poin ke posisi Rp 2.050 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik 10,81%.

- Saham PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) [245 5 (+2,1%)] dalam perdagangan perdananya dibuka stagnan di harga Rp 240 per saham dari harga penawaran perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) di harga yang sama.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 5 poin ke posisi Rp 245 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik tipis 2,08%.

- Saham PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) [1,010 10 (+1,0%)] pada perdagangan perdananya dibuka naik menjadi Rp 610 per saham dari harga IPO Rp 480 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 10 poin ke posisi Rp 1.010 per lembar. Sejak IPO sahamnya melonjak 110,4%.

- Saham PT Bank Mestika Dharma Tbk (BBMD) [1,570 10 (+0,6%)] pada perdagangan perdananya dibuka naik ke level Rp 1.420 per saham dari harga IPO sebesar Rp 1.380 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 10 poin ke posisi Rp 1.570 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik 13,76%.

- Saham PT Cipaganti Citra Graha Tbk (CPGT) [285 20 (+7,5%)] pada perdagangan perdananya dibuka di harga Rp 195 per saham dari harga saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) di harga Rp 190 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 20 poin ke posisi Rp 285 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik 50%.

- Saham perdana PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) [9,500 50 (+0,5%)] dibuka naik di level Rp 9.150 per saham dari harga penawaran umum saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) Rp 9.000 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 50 poin ke posisi Rp 9.500 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik 5,5%.

- Saham PT Arita Prima Indonesia Tbk (APII) [225 0 (+0,0%)] pada perdagangan perdananya dibuka naik 31% ke angka Rp 290 per saham dari harga saham pada penawaran perdana atau Initial Public Offering (IPO) sebesar Rp 220 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya stagnan di posisi Rp 225 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik tipis 2,27%.

- Saham PT Grand Kartech pada pencatatan perdananya menguat 49,09% menjadi Rp 410 dari harga yang ditetapkan perseroan Rp 275 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya turun 10 poin ke posisi Rp 290 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik tipis 5,45%.

- Saham PT Indomobil Multi Jasa Tbk (IMJS) [590 20 (+3,5%)] pada perdagangan perdananya dibuka naik menjadi Rp 600 per saham dari harga saham yang ditawarkan pada saat Initial Public Offering (IPO) di angka Rp 500 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 20 poin ke posisi Rp 590 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik 18%.

- Pada pencatatan perdana PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD) [2,900 100 (+3,6%)], sahamnya dibuka naik 200 poin ke level Rp 3.000 per saham dari harga saham perdana yang ditawarkan Rp 2.800 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 100 poin ke posisi Rp 2.900 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik tipis 3,57%.

- Saham perdana PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) [820 0 (+0,0%)] naik 6% menjadi Rp 710 meski situasi pasar negatif, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka merah. Perseroan menjual saham IPO di harga Rp 670 per lembar.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya stagnan di posisi Rp 820 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik 22,38%.

- Saham PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) [700 10 (+1,4%)] pada perdagangan perdananya dibuka menguat di level Rp 660 per saham dari penawaran harga pada saat Initial Public Offering (IPO) sebesar Rp 580 per saham.

Pada penutupan perdagangan terakhir di 2013, sahamnya naik 10 poin ke posisi Rp 700 per lembar. Sejak IPO sahamnya naik 20,68%.

Sumber: detikcom

December 28, 2013

First Media Targetkan Kenaikan Pelanggan Sebesar 30%

 

Friday, December 27, 2013       18:19 WIB
Ipotnews - Emiten layanan kabel TV HD dan internet broadband, PT First Media Tbk (KBLV), menargetkan jumlah pelanggan pada 2014 sebanyak 850 ribu pelanggan, meningkat 30% dibanding jumlah pelanggan tahun ini yang masih sebesar 620 ribu pelanggan, terdiri dari 312 ribu pelanggan internet dan sisanya TV kabel.

“Hal ini sejalan dengan perluasan jaringan dan pembangunan infrastruktur yang akan dilakukan perseroan,” kata Direktur First Media [KBLV 0 -580 (-100,0%)], Dicky Setiadi Moechtar, kepada wartawan di Jakarta, Jumat (27/12).

Untuk mendukung target tersebut, perseroan bakal menyiapkan dana investasi sebesar USD80 juta-USDD100 juta pada tahun depan. Menurut Dicky, dari 30 juta penduduk Jabodetabek, baru 1,7 juta yang berpotensi untuk digarap oleh layanan kabel perseroan. “Permintaan layanan broadband di Surabaya dan Bandung juga tinggi dan merupakan pasar potensial. Itu bisa meningkatkan pendapatan,” jelasnya.

Dengan target pelanggan itu, First Media menargetkan pendapatan sebesar Rp2,2 triliun dari posisi akhir tahun ini di kisaran Rp1,8 triliun. Sementara, Ebitda di posisi Rp450 miliar dari proyeksi tahun ini Rp350 miliar.

Terkait pelemahan rupiah terhadap dolar AS, Dicky mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan dua opsi. Pertama, hedging yang dilihat satu kuartal belakangan ini. Kedua, negoisasi dengan para vendor terutama dari segi kurs. “Dua opsi itu kita lihat ke depan,” imbuhnya.

Selain itu, awal tahun depan perseroan juga berencana menaikkan harga langganan sebesar 15%. Namun, menurutnya kenaikan itu tidak merata dan hanya berlaku bagi segmen tertentu. “Kenaikan itu seiring peningkatan seperti kecepatan akses internet, ragam layanan TV, dan juga dari inovasi video on demand dan streaming,” katanya.(Iwan/ha)

December 24, 2013

Merger BUMN Indofarma (INAF) dan Kalbe Farma Terhalang Banyak Kepentingan

M
 
www.inilah.comonFollow on Google+
 

 

 

3

 
 
Headline
PT Indofarma Tbk (INAF) – ist
 
Oleh: Seno Tri Sulistiyono
pasarmodal – Selasa, 24 Desember 2013 | 11:34 WIB
 
  
 

INILAH.COM, Jakarta – PT Indofarma Tbk (INAF) dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF) yang akan membentuk holding BUMN farmasi belum terwujud karena banyak kepentingan.

“Pembentukan holding lama itu karena kedua perusahaan ini kan milik negara. Penyatuan juga kan harus persetujuan Kementerian Keuangan dan Legislatif, jadi banyak yang punya,” kata Dirut PT Indofarma Tbk, Elfiano Rizaldi seusai paparan publik di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (24/12/2013).

Menurut Elfiano, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selalu pemegang saham terus membahas pembetukan holding BUMN farmasi dan pihak Indofarma siap menerima semua keputusan pemegang saham.

“Kalau dari kita menyambut baik karena ini membuat kedua perusahaan lebih efisien dalam berproduksi dan ketika melakukan riset bisa dilakukan secara berdua, jadi biayanya tidak bisa patungan,” ujar Elfiano.

Elfiano berharap, jika terbentuk holding farmasi maka kegiatan kedua perusahaan harus disesuaikan dengan lini bisnisnya masing-masing. Hal ini agar tidak saling berebut pasar dan dapat bekerja secara maksimal.

“Terpenting itu seusai dengan core bisnisnya masing-masing. Indofarma kan lebih besar untuk industrinya dan nantinya Kimia Farma bisa dalam distribusinya atau kliniknya,” tutur Elfiano.

Seperti diketahui pembentukan holding BUMN farmasi sudah mencuat sejak 2009, namun hingga saat ini belum juga terbentuk. [hid]

December 24, 2013

Blue Bird Menelan Pahit Rencana IPO

Tuesday, December 24, 2013       15:49 WIB
 
 
Jakarta – Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bidang Pasar Modal, Nurhaida mengatakan, belum terlaksananya penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) Blue Bird di pasar modal disebabkan belum lengkapnya dokumen yang disertakan perseroan kepada regulator. “Ada dokumen yang belum dapat diselesaikan oleh Blue Bird dan OJK telah berdiskusi dengan mereka. Memang mereka sendiri mengetahui ada dokumen yang belum dapat dilampirkan,” ujarnya di Jakarta, Senin (23/12).

Dia juga menuturkan, bahwa saat ini Blue Bird sedang mengalami gugatan hukum dari pihak tertentu yang membuat persyaratan kelengakapan dokumen akan semakin terlambat. Meski Blue Bird tetap dalam posisi tergugat, namun Nurhaida memastikan OJK tetap akan memproses pendaftaran IPO apabila dapat melengkapi dokumen pendaftaran, “Jadi bukan karena mereka tergugat dan kita jadi tergugat secara hukum juga, namun memang dokumennya mereka belum dapat siapkan,”ungkapnya.

Sebagai informasi, perusahaan penyedia jasa transportasi, Blue Bird berencana merealisasikan penawaran umum perdana saham pada akhir tahun 2013. Selaku penjamin emisi, perseroan telah menunjuk PT Danareksa Sekuritas. Namun rencana tersebut meleset dari target lantaran dokumen yang disertakan kepada OJK belum lengkap. Alhasil, aksi korporasi penawaran saham perdana dipastikan bakal molor.

Merespon hal tersebut, Direktur PT Blue Bird Group, Sigit P Djokosoetono pernah bilang, perseroan tidak mempersoalkan molornya pelaksanaan IPO. Pasalnya, perusahaan taksi ini tidak mengutamakan penawaran saham perdana untuk mencari modal, “IPO bukan menjadi prioritas kami, karena IPO merupakan salah satu alternatif pendanaan kami,”tandasnya.

Kata Sigit, saat ini perusahaan masih memiliki fasilitas pinjaman dari perbankan. Sehingga, IPO hanya merupakan salah satu pendanaan baru yang dimiliki Blue Bird. Selain itu, karena masih dalam proses di OJK dan dalam 1 bulan tahun 2013 akan berakhir, dirinya memperkirakan perseroan baru akan melantai di bursa pada tahun depan.

Rencananya Blue Bird akan menggunakan dana hasil IPO untu penambahan armada, perawatan, serta pembangunan pool taksi. “Belum bisa kita katakan target dananya berapa, karena masih diproses. Kita utamakan pengembangan armada, karena selain IPO kita masih bisa mengembangkan usaha melalui kredit,”ujar Sigit.

Lebih lanjut dia menyebutkan, kebutuhan dana untuk pengembangan setiap tahunnya meningkat. Sepanjang tahun 2013, Blue Bird mengalokasikan dana belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp1,5 triliun. Sementara tahun depan, perseroan menganggarkan belanja modal lebih dari Rp 1,5 triliun. Dimana sumber pendanaanya berasal dari kredit perbankan dan kas internal

Sementara Direktur Utama Danareksa Sekuritas Marchiano Herman menuturkan, proses izin IPO Blue Bird baru mencapai 50% dan saham yang akan dilepas ke publik masih dalam kajian. Berbagai berkas Blue Bird untuk menjadi perusahaan terbuka sedang dalam kajian OJK, untuk mendapatkan izin pra efektif.

December 22, 2013

Bangun Pabrik Baru, Bosowa Rogoh Triliunan Rupiah

Proyek tersebut menelan dana investasi Rp1,1 triliun.

ddd
Sabtu, 21 Desember 2013, 23:15Suryanta Bakti Susila, Alfin Tofler
VIVAnews - Salah satu grup usaha asal Makassar, Bosowa, menggelontorkan dana triliunan rupiah untuk membangun pabrik semen baru di Maros, Sulawesi Selatan. Dengan dibukanya pabrik ini, Semen Bosowa Maros bisa menggiling semen jutaan ton per tahun.
CEO Bosowa, Erwin Aksa, mengatakan bahwa dengan adanya pabrik ini, Semen Bosowa Maros bisa meningkatkan kapasitas produksi  dari 5.500 ton menjadi 7.200 ton per hari.
“Ini dimulainya pengoperasian penggilingan semen sebesar 1,8 juta ton per tahun, Dengan demikian, Semen Bosowa Maros nantinya akan memproduksi semen empat juta ton per tahun,” kata Erwin dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 21 Desember 2013.
Proyek tersebut, kata Erwin, menelan dana investasi Rp1,1 triliun.
Kini, Semen Bosowa Maros memproduksi semen sebesar 3,5 juta ton per tahun. Produksi ini berasal dari Semen Bosowa di Batam dan di Maros.
Dengan beroperasinya line II ini, total produksi Semen Bosowa menjadi 5,2 juta ton per tahun.
Erwin berharap pabrik line II ini  bisa mendorong adanya percepatan pembangunan di Kawasan Timur Indonesia.
“Peningkatan ini merupakan bentuk komitmen Bosowa membangun infrastruktur di KTI karena masih sangat tertinggal. Industri dan infrastruktur harus digenjot, sekaligus agar wilayah ini siap menampung limpahan industri dari Pulau Jawa,” kata dia.
Pabrik tersebut diresmikan oleh Menteri Perindustrian, M. S. Hidayat. Selain CEO, peresmian pabrik ini jug dihadiri oleh mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, pendiri Bosowa, H. M. Aksa Mahmud, dan Managing Director Bosowa, Sadikin Aksa. Jajaran direksi Bosowa dan Muspida Tingkat I Sulawesi Selatan pun juga turut hadir. (eh)

 

December 20, 2013

Tingkatkan bisnis Krakatau Steel (KRAS) dan Semen Indonesia (SMGR) bentuk usaha patungan

Friday, December 20, 2013       08:36 WIB
Tingkatkan Bisnis, KRAS Dan SMGR Bentuk Usaha Patungan
 
Ipotnews – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) membentuk perusahaan patungan yang diberi nama PT Krakatau Semen Indonesia.

Usaha patungan tersebut bergerak di bidang produksi slag powder yang akan mengolah granulated blast furnace slag (GBFS) menjadi ground granulated blast furnace slag (GGBFS).

Menurut manajemen PT Krakatau Steel [KRAS 485 -5 (-1,0%)] dan PT Semen Indonesia [SMGR 13,900 0 (+0,0%)], usaha patungan tersebut dibentuk untuk meningkatkan pendapatan dan memberikan kontribusi bagi pengurangan emisi karbondioksida CO2, serta mengamankan pasokan bahan baku bagi keperluan industri semen.

“Pabrik slag powder ini dirancang mampu mengolah granulated blast furnace slag sebesar 750 ribu ton per tahun, pembangunan pabrik direncanakan mulai awal 2014, dan ditargetkan dapat beroperasi awal 2016,” ujar Direktur Utama Krakatau Steel, Irvan K Hakim, kepada wartawan, Jumat (20/12).

Irvan menjelaskan, dalam kurun waktu masa konstruksi pabrik slag powder tersebut, perusahaan patungan (JV Co slag powder) itu akan melakukan trading atau penjualan ke pihak ketiga.

Di tempat yang sama, Direktur Utama Semen Indonesia, Dwi Soetjipto, mengatakan perusahaan patungan tersebut didirikan dengan total investasi Rp440 miliar, bertempat di Desa Tegal Ratu, Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon, Banten, di atas lahan seluas 40 ribu meter persegi.

Slag powder yang dihasilkan perusahaan patungan ini akan digunakan Semen Indonesia untuk memproduksi semen portland komposit,” ucap Dwi.

Adapun investasi atas proyek patungan tersebut mencapai Rp440 miliar dan modal kerja sebesar Rp24 miliar. Pendanaan EPC termasuk IDC menggunakan dana pinjaman dan ekuitas dengan komposisi sebesar 70 berbanding 30 persen. Porsi dana pinjaman tersebut sebesar Rp308 miliar dan dana ekuitas Rp132 miliar.

Sebagai tambahan, slag merupakan hasil samping dari proses peleburan besi dan baja yang berbentuk bongkahan kecil. Di dalam slag mengandung unsur yang dibutuhkan industri semen sebagai bahan additive pembuatan semen.(Iwan/ef)

December 18, 2013

BUMI, BORN, Indosat & Garuda Terbelit Utang Dolar

Monday, September 23, 2013       14:28 WIB
 
 
JAKARTA – Direktur Keuangan lembaga pemeringkat Moodys, Philipp Lotter, mengungkapkan bahwa the Fed pada akhirnya akan tetap melakukan pengurangan stimulus ekonomi (tapering).

“Dari keputusan tersebut, perhatian terbesar tentu saja pada importir, terutama yang memiliki utang dolar yang jatuh tempo dalam jangka dekat. Selain itu, suku bunga di Indonesia yang meningkat memiliki efek yang signifikan pada pertumbuhan Indonesia,” katanya seperti dilansir Reuters, Senin (23/9/2013).

Sebuah analisis Reuters mengungkapkan bahwa beberapa perusahaan memiliki utang jatuh tempo. Dan bila dilihat dari posisi kas, terlihat perusahaan tersebut memiliki masalah untuk melakukan refinancing jangka pendek terbesar.

Perusahaan tersebut, diantaranya perusahaan batu bara PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) [192 -8 (-4,0%)], PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) [490 0 (+0,0%)], PT Astra International Tbk (ASII) [6,250 50 (+0,8%)], PT Indosat Tbk (ISAT) [4,000 50 (+1,3%)] dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) [340 -20 (-5,6%)].

“Emiten yang menerbitkan obligasi tersebut termasuk (mencatatkan kinerja) sangat buruk untuk melakukan lindung nilai atas depresiasi rupiah. Kami memperkirakan hanya sekitar 20-30 persen dari total utang tidak berbentuk dolar,” jelas analis kredit dengan BoA Merrill Lynch di Hong Kong, Ani Deshmukh.

http://economy.okezone.com/read/2013/09/23/278/870388/bumi-born-indosat-garuda-terbelit-utang-dolar

December 17, 2013

Wijaya Karya Bangun Pabrik Beton

SENIN, 16 DESEMBER 2013 | 20:00 WIB

  

TEMPO.COJakarta - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk bersama anak perusahaannya, PT Wijaya Karya Beton, dengan PT Krakatau Engineering membuat perusahaan patungan untuk memproduksi, mengembangkan, dan memasarkan produk tiang pancang dan saluran air. Perusahaan joint venture ini diberi nama PT Wijaya Karya Krakatau Beton. Pabrik berlokasi di Krakatau Industrial Estate, Cilegon, Banten, dengan total luas lahan tiga hektare.

“Pembangunan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan proyek pembangunan, khususnya di area Cilegon,” ujar Direktur PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) Ganda Kusuma ketika memberikan keterangan pers di Gedung Wika, Jakarta, Senin, 16 Desember 2013.

Perusahaan patungan ini didirikan dengan modal dasar sebesar Rp 175 miliar dan modal yang disetor senilai Rp 50 miliar. Komposisi modal tersebut terdiri atas PT Wijaya Karya Beton sebesar 60 persen, PT Krakatau Engineering sebesar 30 persen, dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk sebesar 10 persen.

“Proyek ini direncanakan akan menelan dana Rp 132 miliar dengan kapasitas target yaitu 80 ribu ton per tahun,” ujar Ganda. Pembangunan pabrik diproyeksi akan memakan waktu sekitar 9 bulan yang didahului dengan proses persiapan, engineering, pekerjaan civilerection dan instalasi, testing dan commissioning,hingga siap berproduksi.

December 4, 2013

Revisi Daftar Negatif

 

Indonesia Jangan Kalah di Produksi dan Distribusi

 
 
 
JAKARTA, KOMPAS — Asosiasi Pengusaha Indonesia berpendapat pemerintah perlu merevisi daftar negatif investasi untuk mengakomodasi berbagai perubahan yang terjadi dalam tiga tahun terakhir. Indonesia harus memperkuat daya saing agar tidak kalah di lini produksi dan distribusi.

”Apalagi menjelang berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN tahun 2015, negara tetangga menyiapkan diri. Jangan sampai kita kalah daya saing,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Franky Sibarani di Jakarta, Selasa (3/12).

Menurut Franky, semakin cepat revisi daftar negatif investasi (DNI) dirampungkan, maka penataan industri dan perdagangan dapat segera dilakukan.

Dengan demikian, pada tahun 2014, Indonesia dapat fokus menyiapkan hambatan secara cerdik. Ini diperlukan untuk melindungi beberapa profesi dengan kompetensi yang dihasilkan dalam negeri.

”Misalnya, bisa saja ada persyaratan profesi, yakni dokter yang bertugas di Indonesia meski lulusan dalam negeri, tetapi status kewarganegaraannya asing, harus bisa berbahasa Indonesia,” ujar Franky.

Persyaratan seperti ini dinilai logis karena kemampuan komunikasi dokter mutlak diperlukan agar informasi yang diberikan kepada pasien jelas dan tepat.

Franky mengatakan, Apindo mendorong agar pengaturan DNI dengan semangat perlindungan terhadap pelaku industri kecil menengah (IKM) dan koperasi.

Sebagai gambaran, selama ini DNI diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2010 tentang Bidang Usaha atau Sektor Usaha yang Ditutup maupun yang Dibuka dengan Persyaratan pada Penanaman Modal.

”Pengaturan yang jelas berorientasi melindungi harus tetap dipertahankan, tidak ada perubahan,” kata Franky.

Sektor yang dimaksud antara lain industri penggaraman/pengeringan ikan dan biota lainnya dan industri pemindangan ikan. Selain itu, juga industri makanan olahan dari biji-bijian, umbi-umbian, sagu, melinjo, dan kopra.

”Industri tempe, tahu, dan banyak industri lainnya patut dicadangkan untuk usaha kecil, menengah, dan koperasi,” kata Franky.

Menurut Franky, Apindo juga mengusulkan pengaturan modal dalam negeri 100 persen untuk perdagangan eceran, termasuk untuk sepeda motor dan kendaraan niaga.

”Selepas krisis 1998, pabrikan dan distributor mayoritas asing. Nah, sekarang ini dicoba diatur agar porsi dalam negeri juga tetap kuat di distribusi,” ujar Franky.

Apindo juga mengusulkan pengaturan untuk jasa pergudangan dan ruang pendingin. Hal itu sebelumnya tidak diatur.

”Kalau tetap tidak diatur, konsekuensinya asing pasti masuk dan mendominasi. Bisa-bisa dia memiliki gudang dan menggunakannya untuk distribusi, perdagangan, agen, dan penyimpanan bahan,” kata Franky.

Jangan kalah

Menurut Franky, potensi Indonesia sebagai pasar merupakan keniscayaan karena besarnya kelas menengah di negeri ini. ”Tidak bisa tidak, Indonesia menjadi target pasar. Namun, jangan sampai ketika sudah menjadi target tersebut industri dalam negeri justru mati. Inilah mengapa kepentingan nasional harus dikedepankan,” ujarnya.

Secara terpisah, Wakil Menteri Perindustrian Alex Retraubun mengatakan, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pengembangan IKM dan penciptaan wirausaha baru.

”Langkah ini untuk meningkatkan daya saing dan mengantisipasi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015,” kata Alex saat membacakan sambutan Menteri Perindustrian MS Hidayat pada pembukaan Jakarta IKM Expo V Tahun 2013.

Indonesia sebagai pasar terbesar di ASEAN berpotensi dibanjiri barang, jasa, dan tenaga kerja dari negara tetangga. Membanjirnya barang memang akan menjadikan konsumen mendapat banyak alternatif barang.

Meski demikian, kata Alex, nilai tambah akan didapat jika produk-produk Indonesia dapat mengisi pasar di negara tetangga. Bertambahnya produksi domestik akan mendorong serapan tenaga kerja, meningkatkan investasi, dan berujung pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan penduduk.

Dari data Kemenperin, ada 3,9 juta unit IKM yang menyerap 9,14 juta tenaga kerja di Indonesia. Sekitar 75 persen IKM berkembang di Jawa dan sisanya di luar Jawa. Pemerintah mengharapkan porsi IKM di luar Jawa dapat ditingkatkan dari 25 persen menjadi 40 persen pada tahun 2014. (CAS)

December 2, 2013

Blue Bird Ingin Tambah Armada Dengan IPO

Monday, December 02, 2013       14:28 WIB
 
 
Jakarta – PT Blue Bird Group memastikan tidak akan melakukan Penawaran Umum Perdana Saham (Initial Public Offring/IPO) pada tahun ini. Sebab, belum mendapatkan izin efektif IPO dari Otoristas Jasa Keuangan (OJK).

“Masih diproses oleh OJK, kita ikutin saja prosedurnya. Tahun ini kan tinggal sebulan lagi, kemungkinan tahun depan (IPO),” kata Deputy Direktor Blue Bird Group, Sigit P. Djokosoetono saat acara kerja sama dengan PT Bank Danamon Tbk (BDMN) [3,825 25 (+0,7%)] di Jakarta, Senin (2/12/2013).

Menurut Sigit, perolehan dana IPO akan digunakan untuk pembelian armada, perawatan, serta pembangunan poll taxi. Akan tetapi ketika ditanya target dana IPO, Sigit belum bisa menyebutkan saat ini.

“Belum bisa kita katakan dananya berapa, ini kan masih diproses. Kita utamakan pengembangan armada, IPO bukan tujuan utama dalam perolehan dana untuk pengembangan. Kita bisa melalui kredit kalau tidak IPO,” ujar Sigit.

Lebih lanjut dia mengatakan, kebutuhan dana perseroan untuk pengembangan setiap tahunnya meningkat. Sepanjang tahun ini, Blue Bird mengalokasikan dana belanja modal (capex) sebesar Rp1,5 triliun.

“Tahun depan lebih dari Rp1,5 triliun, selama ini kita dapat dari kredit perbankan dan kas internal. Kita gunakan untuk pembelian armada dan lainnya,” ujar Sigit.

Sebelumnya, Direktur Utama Danareksa Sekuritas Marchiano Herman mengatakan, proses izin IPO Blue Bird baru mencapai 50% dan saham yang akan dilepas ke publik masih dalam kajian.

Sementara, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen mengatakan, Blue Bird berencana melepas 20% sampai 25% sahamnya ke publik dan bisa akan listing di BEI pada tahun ini.?

?Sementara untuk penjamin pelaksana efek, perusahaan operator taxi tersebut telah menunjuk PT Danareksa Sekuritas, PT Credit Suisse Securities Indonesia dan PT UBS Securities Indonesia. Perseroan juga akan membidik dana segar dari pasar modal sebesar US$450 juta.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2052536/blue-bird-ingin-tambah-armada-dengan-ipo#.Upw1jCeouho

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 84 other followers