Archive for ‘Corporate spotlight’

September 17, 2013

SBY Resmikan Pabrik Ban Hankook di Cikarang

Selasa, 17 September 2013 | 10:00 WIB

 

SBY Resmikan Pabrik Ban Hankook di Cikarang

stidge.com

 

TEMPO.CO, Bekasi — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan pabrik terbaru PT Hankook Tire Indonesia di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa, 17 September 2013. Peresmian dijadwalkan pukul 10.00 WIB. Investasi pabrik asal Korea Selatan ini mencapai US$ 1,2 miliar hingga 2018.

Acara ini akan dihadiri mantan Presiden Republik Korea Myung Bak Lee dan direksi Hankook, yakni Vice Chairman dan CEO Hankook Tire, Seung Hwa Suh; Presiden dan CEO Hankook Tire Worldwide, Hyun Shick Cho; serta Presiden dan CMO Hankook Tire, Hyun Bum Cho.

Adapun menteri kabinet yang dijadwalkan mendampingi SBY antara lain Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa dan Menteri Perindustrian Mohammad Soleman Hidayat.

Pabrik terbaru Hankook Tire di Cikarang merupakan pusat produksi ketujuh di dunia yang dimiliki produsen ban itu. Pabrik ini bakal menjadi basis ekspor untuk Amerika Utara dan Timur Tengah. Pabrik seluas 60 hektare ini juga difungsikan sebagai pusat bisnis kawasan untuk pasar Asia dengan kapasitas produksi 6 juta ban per tahun hingga 2018.

Sebanyak 70 persen produk bakal dieksor, sementara sisanya dialokasikan untuk pasar domestik. Adapun produk pabrik sebagian besar diperuntukkan bagi kendaraan berpenumpang, ban Ultra-High Performance (UHP), dan ban untuk truk ringan.

Seung Hwa Suh, Vice Chairman dan CEO Hankook Tire, mengatakan peresmian pabrik ini merupakan tonggak sejarah bagi pertumbuhan perusahaannya. “Ini mencerminkan keinginan dan komitmen kami yang kuat untuk berkembang bersama Indonesia serta beberapa negara ekonomi berkembang,” katanya.

PRIHANDOKO 

September 11, 2013

Jamin Stok, Pertamina Akuisisi Polytama Propindo

 
 
 
Oleh: Sri Wulandari
ekonomi – Senin, 9 September 2013 | 13:56 WIB
 

INILAH.COM, Jakarta – PT Polytama Propindo (Polytama) menunggu langkah tegas Pertamina untuk mengakuisisi pabrik polipropilinne milik Polytama.

“Opsi akuisisi ini bisa menjadi sinergi positif untuk jaminan pasokan bahan baku. Soal bagaimana mekanisme akuisisinya, masih dalam proses pembahasan,” tutur Didik Susilo, Direktur Utama PT Polytama Propindo, dalam siaran pers, Senin (9/9;2013).

Pabrik Polipropilena terbesar kedua di Indonesia yang berlokasi di Balongan, Indramayu, Jawa Barat, ini memiliki kapasitas terpasang hingga 240 ribu metrik ton (MT) per tahun. Di tahap awal beroperasinya Polytama dimulai dengan kerjasama maklon dengan PT Bukitmega Masabadi. Meski dua tahun tidak berproduksi, tapi dengan dukungan tenaga kerja Polytama tetap mampu melakukan perawatan fasilitas pabrik yang ada.

“Kami bisa menjalankan kerjasama dengan Bukitmega Masabadi dengan lancar. Dengan kapasitas produksi sekitar 240 ribu MT/tahun, kami targetkan bisa mengisi pangsa pasar sekitar 20%,” ujar Didik.

Menurut Didik, dengan inovasi dan upaya-upaya pengembangan yang dilakukan perusahaan, di akhir tahun 2013 nanti Polytama sudah mampu beroperasi normal (tidak bergantung skema tolling). “Sementara itu, kami dalam persiapan menambah unit extruder baru untuk memaksimalkan kapasitas produksi. Untuk itu dibutuhkan dana sekitar US$ 8 juta,” katanya.

Saat ini, kebutuhan polipropilena Nasional mencapai 1 juta MT per tahunnya. Sedangkan, kapasitas pasokan lokal maksimal 800 ribu MT per tahun yang dipasok tiga produsen yaitu Chandra Asri, Polytama Propindo dan Pertamina. Artinya, sisa kebutuhan harus diimpor. “Dengan beroperasinya Polytama secara penuh, impor bisa ditekan setara kapasitasnya, dengan perkiraan nilai mencapai US$ 300-US$400 juta.

Sejak beroperasi kembali pada Februari 2013 lalu, PT Polytama Propindo (Polytama) terus menggebrak. Salah satunya adalah menjaga keterjaminan pasokan bahan baku propilena yang menjadi kunci keberlangsungan perusahaan. Selain itu, Polytama juga melaku restrukturisasi keuangan dan mengupayakan penyediaan dana segar.

September 10, 2013

Digugat Pailit, Saham Bakrieland Di-suspend

Dari Kontan online

SELASA, 10 SEPTEMBER 2013 | 11:37 WIB

Digugat Pailit, Saham Bakrieland Di-suspend

DOK: BAKRIELAND DEVELOPMENT

 

TEMPO.COJakarta - Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan suspensi atau penghentian perdagangan sementara efek saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) per hari ini, Selasa, 10 September 2013. Suspensi dilakukan karena adanya permohonan kewajiban pembayaran utang (PKPU).

Suspensi itu dilakukan merujuk pada keterbukaan informasi ELTY Senin kemarin. Penghentian dilakukan guna menghindari perdagangan yang tidak wajar atas saham perseroan.

“BEI memutuskan untuk melakukan penghentian sementara perdagangan saham Bakrieland di seluruh pasar mulai perdagangan sesi I hari Selasa tanggal 10 September 2013,” demikian pernyataan Otoritas Bursa dalam keterangan tertulisnya hari ini.

Otoritas saat ini juga tengah meminta penjelasan lebih lanjut kepada pihak Bakrieland. BEI juga meminta kepada pihak yang berkepentingan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh perusahaan tersebut.

Pada perdagangan kemarin, saham anak usaha grup Bakrie itu tidak berubah di level 50 atau level terendahnya.

RIRIN AGUSTIA

September 1, 2013

Bisnis T.P Rachmat: Menanti Kiprah ‘Astra Dua’ di Lantai Bursa

Tuesday, August 27, 2013       11:01 WIB
JAKARTA – “Sering, ketika saya ngomong kerja di Triputra, orang banyak yang tidak tahu. Tetapi, kalau sudah menyebut nama Pak T.P Rachmat, semua langsung mengenal,” cerita Direktur Keuangan Triputra Group, Erida Djuhandi.

T.P Rachmat yang dimaksud Erida yakni Theodore Permadi Rachmat alias Teddy Rachmat, mantan Presiden Direktur (Presdir) PT Astra International Tbk yang juga tercatat sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia.

Globe Asia pada Juni 2013 menempatkan T.P Rachmat di baris ke-13 dari 150 orang kaya Indonesia dengan aset tak kurang dari US$2 miliar.

Setelah pensiun dari Astra pada 2002, T.P Rachmat mulai membesarkan grup bisnis yang dibangunnya sejak 1998, Triputra. Kini, bisnis Triputra berada di bawah bendera Triputra Investindo Arya.

Menarik dicermati, lini bisnis Triputra Group dengan 14 subholding company di seluruh penjuru negeri, hampir sejalan dengan bisnis yang ditekuni kelompok Astra.

Triputra mempunyai 4 kelompok bisnis utama seperti agribisnis, pertambangan, manufaktur, dan perdagangan jasa.

Dari lini agribisnis, Triputra memiliki anak usaha yang bergerak di bisnis crumb rubber processor, perkebunan sawit, karet, dan kayu.

Bahkan, Erida berani menyebut bahwa perusahaan crumb rubber processor yang berada di bawah PT Kirana Megantara merupakan pemain kedua terbesar di dunia.

“Agrobisnis kami punya sekitar 15 pabrik dengan market share di Indonesia sekitar 18% dan produk yang dihasilkan hampir 100% untuk ekspor,” katanya.

Selain itu, bisnis perkebunan Triputra berjalan di bawah bendera PT Triputra Agro Persada (TAP) yang awal Juli lalu memperoleh suntikan dana US$470 juta dari 14 bank lokal dan asing.

Tahun lalu, TAP juga mendapatkan suntikan dana US$200 juta lewat Goverment of Singapore Investment Corporation dan Northstar Equity Partners. Keduanya saat ini tercatat sebagai pemegang saham minoritas di TAP.

Northstar merupakan perusahaan investasi milik Patrick Waluyo yang tak lain menantu dari T.P Rachmat.

Masih di bisnis perkebunan, Triputra juga merupakan pemegang 27,04% saham di PT Dharma Satya Nusantara Tbk, perusahaan yang resmi melantai bursa baru-baru ini.

Bisnis Triputra juga cukup mapan di sektor pertambangan. Meski bukan yang paling dominan, Triputra memiliki saham di PT Adaro Energy Tbk, selain mengendalikan bisnis tambang lain melalui PT Padang Karunia, Bhakti Energy Persada, dan Pesona Khatulistiwa Nusantara.

Salah satu putra T.P Rachmat, Christian Ariano Rachmat saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur di Adaro Energy.

Total cadangan batu bara dari bisnis tambang Triputra itu mencapai 6 miliar ton di wilayah Kalimantan.

Jika ada yang menyebut Triputra sebagai ‘Astra Kedua’ rasanya itu menjadi wajar saja. Sebagai orang yang pernah di belakang kendali Astra, TP. Rachmat benar-benar membangun Triputra dengan ‘roh’ Astra.

Banyak alumni Astra yang saat ini berada di balik kemudi Triputra.

Harus diakui, Astra tumbuh besar sebagai perusahaan raksasa di Indonesia yang sampai Juni 2013 memiliki aset sebesar Rp197,16 triliun dengan pendapatan Rp94,23 triliun.

Triputra sendiri, akhir 2012 berhasil membukukan pendapatan Rp38 triliun dengan target sampai 2015 mendatang mengantongi pendapatan hingga Rp56 triliun.

Beberapa bisnis di bidang manufaktur Triputra, memiliki koneksi langsung dengan Astra. Melalui anak usaha Pako, Triputra menggandeng PT Astra Otoparts Tbk sebagai strategic partner.

Demikian halnya di bidang perdagangan jasa. Lewat PT Daya Adicipta, Triputra menguasai 10% pangsa pasar penjualan produk kendaraan bermotor merek Honda di Jawa Barat, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Maluku.

Mereka juga tercatat sebagai penguasa pasar penyedia persewaan mobil melalui PT Adi Sarana Armada Tbk atau ASSA [260 15 (+6,1%)] Rent yang kini memiliki armada lebih dari 12.000 unit.

Jika Astra memiliki bisnis bank melalui PT Bank Permata Tbk yang dimiliki secara bersama dengan Standard Chartered Bank, Triputra memiliki Bank Sahabat Purba Danarta.

Bank Sahabat yang memilih terjun di sektor mikro dalam waktu dekat akan memperoleh pendanaan dari PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk.

Erida mengaku pengembangan bisnis Triputra dilakukan dengan berbagai cara, seperti strategic partner, pinjaman perbankan, maupun penawaran saham perdana (initial public offering/IPO).

“Ada beberapa [perusahaan] yang saat ini dalam proses strategic partner. Perkiraan selesai tahun depan, tetapi karena masih proses belum bisa dijelaskan rincinya. Semua dilakukan untuk pertumbuhan perusahaan,” kata Erida.

Selain itu, ada pula beberapa perusahaan lain di bawah Triputra yang siap melantai di bursa.

Menjadi penantian yang cukup berarti, jika akhirnya satu per satu perusahaan Triputra Group hadir dan menyemarakan pasar bursa Indonesia. Setidaknya, perusahaan mapan yang memiliki bisnis sekuat Astra.

http://bisnis.com/bisnis-tp-rachmat-menanti-kiprah-astra-dua-di-lantai-bursa

August 31, 2013

Bangun Smelter, Freeport Minta Kepastian Perpanjangan Kontrak

Saturday, August 31, 2013       12:27 WIB
Bangun Smelter, Freeport Minta Kepastian Perpanjangan Kontrak

Ipotnews – PT Freeport Indonesia mengakui bahwa pihaknya masih ragu untuk membangun smelter  walau secara keuangan mereka menyatakan tidak ada masalah. Namun, saat ini Freeport tetap melakukan studi terkait pembangunan smelter.

Direktur Utama PT Freeport Indonesia, Rozik B. Soetjipto mengatakan, untuk membangun smelter harus dibarengi dengan cadangan mineral yang dimiliki. Sedangkan cadangan Freeport untuk wilayah pertambangan atas atau open pit, saat ini kapasitasnya hanya sampai 2016, Sedangkan untuk pertambangan bawah tanah atau underground, Freeport masih menunggu keputusan pemerintah terkait perpanjangan kontrak Freeport.

“Itu yang menjadi pertimbangan kita, cadangan open pit hanya sampai 2016. Bangun smelter itu harusnya cadangan bertahan hingga 15 tahun kedepan,” ujar Rozik di Bogor, Sabtu (31/8).

Studi yang dilakukan Freeport saat ini untuk menentukan nilai keekonomian, dan diharapkan studi tersebut dapat selesai dalam waktu lima bulan. Menurut Rozik, semua itu tergantung pada keputusan pemerintah terkait perpanjangan kontrak. Freeport sendiri berharap kontraknya bisa diperpanjang hingga 2041.

Menurut pengakuan Rozik, saat ini Freeport telah memiliki smelter, namun tidak memasok seluruh konsentrat yang dimiliki Freeport. Dalam peraturan juga tidak tertulis pembangunan smelter harus di lokasi tambang, dan Freeport juga menanyakan terkait pembangunan smelter, karena dalam kontrak Freeport tidak ada kewajiban konsentrat harus dilebur di dalam negeri.

“Saya sudah bangun di Gresik, tapi kan tidak harus seluruhnya diolah di dalam negeri. Dan Gresik sampai sekarang masih beroperasi,” ujarnya.

Saat ini, produksi Freeport kalau dalam posisi normal per hari sebanyak 220 ribu ton, untuk tahun ini Freeport memperkirakan produksinya hanya mencapai 80 persen dari target, karena pasca kecelakaan di trowongan bawah tanah Big Gossan, lokasi pertambangan Freeport ditutup selama dua bulan.

August 16, 2013

Bisnis Kebun Grup Salim Merosot Drastis

Friday, August 16, 2013       07:37 WIB
 
 
JAKARTA. Kinerja perusahaan agribisnis Grup Salim di semester pertama 2013 terpuruk. Laba bersih PT Salim Ivomas Pratama Tbk anjlok hingga 84,28% menjadi hanya Rp 107,83 miliar. Pemicunya, harga komoditas, terutama kelapa sawit, merosot sejak awal tahun.

Mark Wakeford, Presiden Direktur Salim Ivomas Pratama menjelaskan, harga jual rata-rata untuk produk minyak sawit mentah (CPO), inti sawit (palm kernel), dan karet masing-masing turun sebesar 17%, 29%, dan 20% year-on-year (yoy). “Kami mengantisipasi harga komoditas relatif rendah untuk sisa tahun 2013 yang akan mempengaruhi kinerja keuangan kami,” ujarnya dalam pernyataan resmi yang dirilis kemarin.

Harga jual komoditas perkebunan yang merosot ini otomatis membuat pundi-pundi SIMP [640 -30 (-4,5%)] mengempis. Lihat saja, pendapatan SIMP [640 -30 (-4,5%)] di akhir Juni 2013 turun dari Rp 6,97 triliun menjadi Rp 6,45 triliun. Kondisi ini masih ditambah dengan tingginya beban pokok penjualan yang mencapai Rp 5,42 triliun. Padahal, di akhir Juni tahun lalu, beban pokok penjualan perusahaan hanya sebesar Rp 4,92 triliun.

Menurut manajemen Salim Ivomas Pratama, kenaikan beban produksi tersebut merupakan buntut dari kenaikan upah minimum pekerja. Selain itu juga disebabkan adanya penambahan area yang baru menghasilkan.

Hal itu masih ditambah adanya kenaikan sejumlah beban lain, seperti beban penjualan dan distribusi, serta beban umum dan administrasi. Kenaikannya masing-masing sebesar 12,26% dan 1,77%. Tak pelak, laba bersih SIMP [640 -30 (-4,5%)] terjun bebas.

Sebenarnya, semester lalu, volume penjualan CPO perusahaan berkode saham SIMP [640 -30 (-4,5%)] ini meningkat. SIMP [640 -30 (-4,5%)] berhasil menjual 433.000 ton CPO sepanjang enam bulan pertama 2013. Angka ini meningkat 7,71% dibanding semester I-2012. Begitu pula penjualan gula yang hingga Juni 2013 naik dari 11.900 ton menjadi 19.600 ton.

Namun, peningkatan penjualan tersebut tidak mampu menahan kencangnya laju penurunan harga jual. Ditambah, volume penjualan komoditas lain seperti inti sawit dan karet merosot. SIMP [640 -30 (-4,5%)] hanya mampu menjual 88.000 ton inti sawit hingga Juni 2013.

Sedangkan hingga akhir kuartal dua tahun lalu, volume penjualan kernel perusahaan mencapai 94.000 ton. Begitu pula penjualan karet yang turun tipis dari 7.650 ton menjadi 7.570 ton. Adapun, penjualan produk turunan lain seperti minyak goreng, margarin, dan minyak kelapa masing-masing turun 6% menjadi 387.000 ton dan 423.000 ton.

Sepanjang Januari-Juni 2013, produktivitas kebun sawit SIMP [640 -30 (-4,5%)] juga turun. Kemampuan produksi tandan buah segar (TBS) perusahaan itu turun dari 7,7 ton per hektare (ha) menjadi hanya 7,2 ton per ha. Hal ini berimbas pada produksi TBS, CPO, dan kernel Salim Ivomas yang ikut merosot.

Produksi TBS turun 10,86% menjadi 10,86% menjadi 1,64 juta ton. Begitu pula produksi CPO dan kernel yang masing-masing turun sekitar 11%. Kinerja SIMP [640 -30 (-4,5%)] yang merosot ini tak lepas dari kinerja sejumlah anak usaha. Salah satunya adalah PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) [1,120 -20 (-1,8%)].

Pendapatan LSIP [1,120 -20 (-1,8%)] terpangkas 13,9% dari Rp 2,23 triliun menjadi Rp 1,97 triliun. Beban penjualan meningkat dari Rp 1,3 triiliun menjadi Rp 1,5 triliun. Berikutnya, beban penjualan dan distribusi membengkak lebih dari 100% menjadi Rp 53,95 miliar. Buntutnya, laba bersih LSIP [1,120 -20 (-1,8%)] di akhir kuartal II-2013 terjun bebas dari Rp 639,2 miliar menjadi Rp 179,16 miliar.

Terpuruknya laba bersih SIMP [640 -30 (-4,5%)] dan LSIP [1,120 -20 (-1,8%)] berdampak pada melorotnya margin laba bersih perusahaan. Margin laba bersih Salim Ivomas di paruh pertama 2013 anjlok dari 9,83% menjadi 1,67%. Sedangkan, margin laba bersih LSIP [1,120 -20 (-1,8%)] turun hingga 67,93% menjadi hanya 9,2%.

Hingga semester I-2013, luas area tanam sawit LSIP [1,120 -20 (-1,8%)] bertambah 1.319 ha. Sehingga total luas lahan sawit inti yang tertanam mencapai 86.306 ha. Luas lahan tertanam untuk komoditas karet sekitar 17.054 ha. Adapun, sisanya merupakan lahan komoditas lain seluas 3.338 ha. Dengan demikian, luas lahan tertanam LSIP [1,120 -20 (-1,8%)] secara keseluruhan mencapai 106.698 ha.

http://industri.kontan.co.id/news/bisnis-kebun-grup-salim-merosot-drastis

August 15, 2013

Dahlan Pertanyakan Garuda Terdepak dari Indeks LQ45

 
Begitulah jika IPO BUMN “dikerjai” oleh politikus DPR , seperti si Nasaruddin. Walhasil saham BUMN ini jadi 

Kamis, 15 Agustus 2013 | 12:41

Sejumlah model saat mengisi acara prosesi peluncuran Boeing 777-300ER Garuda Indonesia di Hanggar Garuda Maintenance Facility (GMF) Cengkareng, Banten, Selasa (2/7). Garuda Indonesia akan menerbangkan pesawat Boeing seri 777-300ER ini pada 9 Juli mendatang menuju Jeddah. Pesawat canggih tersebut dilengkapi 314 seat dengan konfigurasi 8 kursi untuk First Class, 38 kursi untuk Business Class, dan 268 kursi untuk Economy Class. Foto: Investor Daily/PRIMUS DORIMULU Sejumlah model saat mengisi acara prosesi peluncuran Boeing 777-300ER Garuda Indonesia di Hanggar Garuda Maintenance Facility (GMF) Cengkareng, Banten, Selasa (2/7). Garuda Indonesia akan menerbangkan pesawat Boeing seri 777-300ER ini pada 9 Juli mendatang menuju Jeddah. Pesawat canggih tersebut dilengkapi 314 seat dengan konfigurasi 8 kursi untuk First Class, 38 kursi untuk Business Class, dan 268 kursi untuk Economy Class. Foto: Investor Daily/PRIMUS DORIMULU

 

JAKARTA- Menteri BUMN Dahlan Iskan mempertanyakan penyebab dua perusahaan milik negara yang terdepak dari indeks LQ45, Bursa Efek Indonesia (BEI), yaitu PT Aneka Tambang Tbk dan PT Garuda Indonesia Tbk.

“Garuda benar tidak lagi masuk dalam daftar LQ45, tapi supaya lebih jelas saya hubungi Dirut Garuda Emirsyah Satar,” kata Dahlan, usai menggelar Rapat Pimpinan Kementerian BUMN, di Kantor Pelindo II, Jakarta, Kamis.

Saat itu pula, Dahlan di depan para jurnalis, berinisiatif menelpon Emirsyah Satar agar dapat memberikan informasi lebih detil soal terlemparnya Garuda dari LQ45.

Namun ketika pembicaraan tersambung, Emirsyah Satar tidak bisa langsung memberikan jawaban dan meminta waktu untuk menghubungi Dahlan kembali. “Kalau begitu, ditunggu sekitar 15 menit lagi ya. Nanti hubungi kembali,” ujar Dahlan menutup sementara pembicaraannya dengan orang nomor 1 di Garuda tersebut.

Tak lama kemudian, percakapan keduanya kembali tersambung. “Menurut Dirut Garuda, sahamnya tidak lagi masuk dalam LQ45 karena frekuensi transaksi yang sangat rendah,” kata Dahlan mengutip percakapannya dengan Emirsyah.

Pada akhir Juli 2013, BEI mengumumkan perusahaan yang masuk dan keluar dalam penghitungan indeks LQ45. Dua BUMN tersingkir yaitu, Garuda Indonesia dan Aneka Tambang, namun tercatat satu BUMN yang kembali masuk ke LQ45 yaitu PT Wijaya Karya (Wika).

Indeks LQ45 menggunakan 45 emiten yang dipilih berdasarkan pertimbangan likuiditas dan kapitalisasi pasar, dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan untuk periode perdagangan Agustus 2013 sampai dengan Januari 2014.

“Tentu kita akan evaluasi dan teliti, mengapa BUMN terbuka keluar dari indeks itu. Kita berharap 6 bulan ke depan mereka masuk lagi,” kata Dahlan. (ant/gor)

August 12, 2013

Sepakati Refinancing, Sementara BUMI Terhindar Dari Krisis Keuangan

 

 

 
 

 

Ipotnews - PT Bumi Resources Tbk, mahkota kerajaan bisnis keluarga Bakrie, terhindar dari potensi krisis likuiditas yang melumpuhkan, setelah berhasil menyepakati refinancingpinjaman senilai USD150 juta yang jatuh tempo awal Agustus. Sindikasi yang terdiri dari 10 hingga 12 pemberi pinjaman, termasuk sebuah gabungan hedge fund dan investor institusi,  me-rolled over komitmen mereka ke fasilitas pinjaman baru bersama dengan Credit Suisse sebagai arranger.

Seperti diberitakan Reuters, Jumat (9/8), PT Bumi Resources Tbk [BUMI 495 -5 (-1,0%)] telah menandatangani pinjaman baru senilai USD150 juta selama 15 bulan, untuk mengganti fasilitas pinjaman tiga tahun dengan besaran yang sama dan jatuh tempo pada awal Agustus ini. 

Kesepakatan yang merupakan kabar baik bagi BUMI tersebut dicapai hanya beberapa hari setelah Standard & Poor`s (S&P) menurunkan rating jangka panjang korporat menjadi CCC dari sebelumnya B-, dengan menyematkan struktur keuangan BUMI “tak berkelanjutan” tanpa adanya restrukturisasi utang atau melakukan penjualan aset. Penurunan rating oleh S&P menyusul langkah yang sama oleh Moody`s yang menurunkan peringkat BUMI dari B3 menjadi Caa1 pada 22 Juli. 

Kesepakatan refinancing tersebut menegaskan bahwa BUMI tidak kehilangan akses ke pendanaan, setelah bercerai dengan perusahaan batubara Indonesia yang listing di Bursa London, Bumi Plc. Sebagaimana diketahui, Bakrie membawa BUMI menjadi anak usaha Bumi Plc untuk meningkatkan akses BUMI ke bursa keuangan global.

Meski begitu, kesepakatan ini sangat mahal bagi BUMI, karena harus membayar imbal hasil keseluruhan sekitar 18 persen per tahun, bandingkan dengan 11 persen pada pinjaman sebelumnya yang baru saja jatuh tempo.

Menurut laman tersebut, BUMI akan menghadapi beban berat refinancing selama tahun depan, pada saat yang sama perusahaan mengalami dampak dari penurunan harga batubara dan pertanyaan seputar tata kelola perusahaan setelah dilakukannya penyelidikan oleh entitas yang tercatat di Bursa London.

Disebutkan, oligasi konversi senilai USD375 juta akan jatuh tempo pada Agustus 2014 dan dua pinjaman senilai USD750 juta ke China Development Bank dan China Investment Corp harus dibayar pada kuartal keempat 2014.

Sebelum itu, PT Bumi Resources Minerals Tbk [BRMS 245 -5 (-2,0%)] yang 87 persen sahamnya dimiliki BUMI, harus membayar pinjaman sebesar USD360 juta pada September mendatang. Meski, para kreditur pada pinjaman ini tidak memiliki jalan ke BUMI, namun dipastikan kewajiban pembayaran akan menambah tekanan pada BUMI.

“Kami yakin rencana pengurangan utang substansial sangat penting jika BUMI ingin tetap bertahan dalam jangka panjang. Kandidat paling kuat bagi penjualan aset mungkin adalah Bumi Resources Minerals, tapi pemisahan Bumi Resources dari Bumi Plc mungkin prasyarat yang diperlukan agar hal itu terjadi,” papar Xavier Jean, Direktur Rating Korporat S&P di Singapura.

Seperti diberitakan sebelumnya, Bakrie telah sepakat untuk membeli kembali 29,2 persen saham Bumi Plc di BUMI dengan nilai USD501 juta. Hal ini dinilai berpotensi meningkatkan akses Bakrie ke pasar pendanaan. Namun, transaksi tersebut bagaimanapun belum disetujui pemegang saham Bumi Plc. Keluarga Bakrie sendiri mengklaim memiliki dana untuk transaksi tersebut, namun belum menjelaskan asal-usul dananya.(ha)

August 10, 2013

Telkom Tambah Saham di Patrakom

Headline

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) – (Foto : istimewa)
Oleh: Agustina Melani
pasarmodal – Kamis, 1 Agustus 2013 | 16:17 WIB

INILAH.COM, Jakarta – PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) meningkatkan kepemilikan saham di Patrakom menjadi 80% dari 40%.

Demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (1/8/2013). Perseroan dan PT Elnusa Tbk (ELSA) telah menandatangani perjanjian pengikatan jual beli saham pada 28 Juni 2013 lalu. Elnusa telah sepakat dan setuju untuk menjual seluruh kepemilikan saham yakni sebesar 40% dari seluruh yang dikeluarkan dalam Patrakom. Harga penjualan sekitar Rp45,60 miliar.

Dengan transaksi tersebut, perseroan akan menjadi pemegang saham mayoritas saham dalam Patrakom. Adapun penandatanganan akta jual beli saham akan dilakukan segera setelah Patrakom memperoleh persetujuan kreditor Patrakom, dan atau Patrakom telah menyelesaikan kewajiban kepada kreditor yang tidak menyatakan tidak menyetujui pengambilalihan tersebut.

Selain itu, laporan Patrakom atas perubahan pengendalian dan kepemilikan saham Patrakom sebagaimana dimaksud dalam perjanjian pengikatan jual beli saham telah memperoleh persetujuan dari Kementerian Telekomunikasi dan Informatika.

Sebelumnya PT Patra Telekomunikasi dimiliki oleh PT Elnusa Tbk sebesar 40%, PT Tanjung Mustika sebesar 20%, dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk sebesar 40%. Patrakom memiliki kegiatan usaha dan perizinan sebagai penyelenggaran telekomunikasi jaringan tetap tertutup berbasis satelit sebagai penyedia solusi dan jaringan komunikasi dengan ijin Penyelenggara Sistem Komunikasi Stasiun Bumi Mikro.

August 8, 2013

Pemerintah Akan Beri Insentif Industri Padat Karya

Kamis, 08 Agustus 2013 | 19:53 WIB

Pemerintah Akan Beri Insentif Industri Padat Karya

Pemerintah Akan Beri Insentif Industri Padat Karya

MS Hidayat. TEMPO/Suryo Wibowo

TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah akan mengeluarkan kebijakan baru di bidang fiskal untuk industri padat karya. Kebijakan fiskal ini rencananya berupa pengambilalihan kewajiban membayar pajak penghasilan (Pph) karyawan oleh perusahaan.

“Nanti pajak karyawan dari industri padat karya akan dihapuskan karena ditanggung oleh pemerintah,” kata Menteri Perindustrian Mohamad Suleman Hidayat saat ditemui di rumahnya pada Kamis, 8 Agustus 2013.

Menurut dia, kebijakan ini nantinya dapat meringankan beban perusahaan industri padat karya. Sebab, perusahaan tidak lagi perlu membayarkan pajak karyawannya. “Ini salah satu cara kami membantu pengusaha untuk tidak memberikan opsi pemutusan hubungan kerja,” ujarnya.

Ia mengatakan, jika pemerintah tidak segera mengambil tindakan, justru akan merugikan Indonesia dalam jangka panjang. Ditambah lagi, diperkirakan bisa menambah beban sosial. “Bagaimanapun lebih baik tidak ada PHK (pemutusan hubungan kerja),” ujarnya.

Hidayat enggan merinci detil kebijakan tersebut. Namun, ia mengaku telah membicarakannya dengan para pelaku industri. “Mereka mau berunding,” ujarnya.

Saat ini pembahasan soal insentif ini sedang dilakukan di Kementerian Keuangan. Ia menargetkan pekan depan sudah ada laporan mengenai bahasan tersebut. Untuk itu ia berharap kebijakan dapat segera terimplementasikan.

AYU PRIMA SANDI

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 75 other followers