Archive for ‘creative industry’

May 25, 2012

Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung

Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
Zulfi Suhendra – detikfinance
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB

Jakarta – Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengakui ada puluhan merek pakaian kelas dunia yang diproduksi di Bandung, Jawa Barat. Namun kenyataanya banyak masyarakat yang masih awam soal kenyataan ini.

Ketua Umum API Ade Sudrajat menuturkan pabrik pakaian jadi (garmen) di Bandung memproduksi pakaian bermerek antaralain Hugo Boss, Giorgio Armani, Guess, dan masih banyak lainnya. Bahkan, kata dia, sudah banyak produk Bandung ini merambah ke pasar Hollywood, Amerika Serikat, dan negara maju lainnya.

“Rata-rata produk garmen kita semua itu sudah go international, khusus garmen sampai puluhan merek. Dibuatnya di Bandung, ada yang subkontrak, ada yang terima order langsung dari pemegang merek,” kata Ade kepada detikFinance, Jumat (25/5/2012).

Menurutnya fenomena ini sudah berlangsung lama, hingga Bandung dipercaya banyak pemegang merek dunia sebagai basis produksi mereka. Namun untuk mendapat kepercayaan itu tak mudah, pemegang merek akan mempelajari kompetensi dan tahapan-tahapan lainnya. Sayangnya menurut Ade, tak banyak publik yang tahu soal prestasi ini.

“Itulah keawaman masyarakat kita, merek-merek itu semua dibikin di sini, seperti yang ada di mal-mal, itu banyak dibuat di sini (Bandung). Bisa saja orang kita yang belanja pakaian impor di luar negeri, ternyata buatan Bandung,” katanya.

Meski demikian, lanjut Ade, para pemegang merek pakaian kelas dunia ini tak seluruhnya memproduksi pakaiannya di Bandung. Mereka juga memproduksi pakaian sejenis di negara-negara lain seperti Thailand.

“Pemegang merek, mereka order juga dari negara lain, seperti Thailand, berisiko kalau satu negara,” katanya.

Ia juga mengatakan kualitas baik, dan harga yang bersaing menjadi alasan utama pakaian made in Indonesia diminati para pemegang merek.

“Kita ekspor ke Amerika cukup besar, hampir US$ 6 miliar, dan itu naik terus. Kualitas kita bagus, jahitannya lebih rapi, harganya miring. Baju kita banyak diminati orang sana, mungkin termasuk artisnya juga,” papar Ade.

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi pernah mengatakan produk-produk Indonesia sejatinya memiliki kualitas terbaik. Sepatu para atlet dunia, baju-baju artis Hollywood, film animasi sampai arsitektur bangunan di dunia sebagian besar dibuat oleh orang-orang Indonesia.

“Produk-produk Indonesia banyak dipakai para atlet dunia, baju artis Hollywood, Film Hollywood, animasi sampai arsitektur bangunan di dunia itu sebagian dibuat oleh orang Indonesia, produk-produk asli Indonesia, tapi banyak yang tidak tahu, karena kurangnya promosi dan kurangnya gerakan serta kemauan pemuda-pemudi Indonesia mempromosikan produk asli Indonesia,” kata Bayu.

February 6, 2012

Mencetak Pembatik Muda

Senin,06 Februari 2012
SMKN 5 YOGYAKARTA
Mencetak Pembatik Muda
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Farida, murid Jurusan Tekstil SMKN 5 Yogyakarta, berlatih memintal benang saat praktik kerja lapangan di Balai Besar Kerajinan dan Batik, Jalan Kusumanegara, Yogyakarta, beberapa waktu lalu.
oleh luki aulia

Bagi Norma Yaningtyas, siswa kelas XII, membatik tidaklah sulit. Cukup berbekal ketekunan dan kesabaran. Untuk membatik satu helai kain katun berukuran 110 cm x 250 cm, butuh waktu dua minggu hingga satu bulan. Satu kain dikerjakan di sekolah tiga kali seminggu, masing-masing 8-9 jam.

Proses yang memakan waktu lama sebenarnya bukan pada membatiknya, melainkan konsep dan desain pola batik. Jika ide sudah mengalir, proses selanjutnya mudah. ”Saya suka menggambar, tetapi tetap sering bingung mau membuat apa,” kata Norma yang sedang nyecek (membuat isian di dalam pola dengan cara membuat titik-titik atau nitik) dengan canting atau ”alat tulis” untuk mengambil dan menorehkan malam (lilin cair) di kain.

Selain urusan desain, bagi Norma, proses nglowong (penempelan malam pertama kali) juga awalnya sulit. Proses untuk mencegah penempelan warna di bagian-bagian yang ditempeli malam ini susah-susah gampang. Hal ini disebabkan malam yang digunakan tidak boleh terlalu panas dan tidak boleh terlalu dingin. Suhu api kompor kecil untuk memanasi malam hanya sekitar 70 derajat celsius.

”Susah sih, tetapi senang. Kalau mau dan punya alat-alatnya, boleh dibawa pulang dan dikerjakan di rumah,” kata Norma sambil meniup cucuk (bagian ujung) canting. Di sekitarnya, belasan siswa serius membatik tanpa melepaskan pandangan dari kain dan canting.

Kelihaian menjual

Proses pengerjaan yang lama berbuah kepuasan setelah batik hasil karya para siswa program keahlian kriya tekstil itu bisa dijual minimal Rp 175.000 per helai batik tulis berbahan kain katun mori dan primisima. Untuk bahan sutra, harganya minimal Rp 500.000 per helai. Adapun untuk batik cap, harga per helainya Rp 60.000 dan untuk kombinasi cap dan tulis Rp 90.000-Rp 100.000 per helai.

”Itu harga dari sekolah. Siswa didorong untuk memasarkan karyanya melalui pelajaran kewirausahaan. Setiap penjualan, siswa mendapat komisi. Besarnya komisi bergantung pada kelihaian siswa menjual karya,” kata guru kriya tekstil, Ngatinah.

Siswa jurusan ini tidak pernah sepi dari pesanan batik. Karena kerap mengikuti pameran di dalam dan luar kota, banyak pengusaha dan instansi pemerintah yang memesan batik ke sekolah. ”Untuk kebutuhan internal saja, bisa laku 500 helai kain batik setiap tahun ajaran baru karena siswa baru butuh seragam batik,” kata Yuniasri Sadewi Harmani, guru dan humas dari SMKN 5 Yogyakarta.

Untuk memberi nilai tambah pada kain batik buatan siswa, Kepala SMKN 5 Yogyakarta Suyono berencana mengembangkan kain batik menjadi busana siap pakai. Untuk itu, sebanyak 36 mesin jahit sudah disiapkan.

Tergeser

Guru dan siswa kriya tekstil yakin mampu memproduksi kain batik secara massal. Jika dibandingkan dengan program keahlian lain di sekolah ini (kriya kayu, logam, keramik, dan kulit), kriya tekstil termasuk program keahlian favorit setelah program keahlian animasi dan desain komunikasi visual (DKV) yang baru dibuka tahun 2005. Sebelum ada animasi dan DKV, kriya tekstil, kayu, dan logam adalah jurusan favorit di sekolah yang dahulu bernama sekolah menengah industri kerajinan ini.

Setelah animasi dan DKV semakin tren, peminatnya membeludak dan menggeser popularitas kriya kayu dan logam. Program keahlian ini pun mendapat perhatian besar dari pemerintah. Terbukti dengan diberikannya bantuan block grant jatah rintisan sekolah bertaraf internasional sebesar Rp 750 juta dalam bentuk peranti keras, seperti komputer, dan peranti lunak kebutuhan animasi dan DKV.

Dengan fasilitas itu, siswa mampu mendesain pamflet, brosur, kartu nama serta membuat animasi untuk iklan atau film.

”Program keahlian yang masuk kategori teknologi ini paling diminati sekarang,” kata Wakil Kepala SMKN 5 Yogyakarta Bidang Peningkatan Mutu Sriyono.

Meski tak sebanyak pesanan kain batik, siswa kriya kayu juga kerap menerima pesanan mebel. Untuk saat ini, sekolah memang sedang mengarahkan kriya kayu memproduksi mebel karena lebih fungsional.

Berbeda dengan kriya tekstil dan kayu yang masih bertahan, kondisi kriya kulit dan logam terengah-engah. Siswa logam, khususnya, makin sulit untuk magang karena banyak perusahaan—rekan industri sekolah—yang sepi pesanan dan bangkrut.

Saat ini, dari jumlah siswa SMKN 5 Yogyakarta 1.257 orang, mayoritas siswa berasal dari keluarga ekonomi kelas menengah ke bawah dengan pekerjaan orangtua menjadi tukang batu, tukang bangunan, buruh tani, dan buruh batik.

Dari mereka itu, Suyono berharap akan lahir perajin muda generasi baru yang memiliki semangat dan ide baru untuk mengembangkan kerajinan dan menjaga tradisi budaya membatik.

December 11, 2011

Sebanyak 16 waralaba asal Amrik mencari mitra

16 Waralaba AS Cari Mitra Usaha RI

Investor daily 10 Dec 2011

JAKARTA – Sebanyak 16 waralaba asal
Amerika Serikat (AS) mencari mitra usaha
lokal untuk pengembangan bisnisnya
di Indonesia. Sebagian besar dari mereka
merupakan waralaba restoran makanan.
Mereka datang ke Indonesia dengan disponsori
oleh pemerintah AS, melalui Misi
Perdagangan Franchise Times (International
Franchise Association/US Commercial
Service Trade Mission) yang akan berlangsung
dua hari, Senin-Selasa (12-13/12). “Namun,
hanya 12 perusahaan waralaba yang
datang untuk mewakili 16 merek waralaba,”
ungkap pejabat Kedutaan Besar AS, dalam
keterangan persnya, Jumat (9/12).
Sementara itu, mengawali misi perdagangannya
di Indonesia, waralaba Johnny
Rockets akan menandatangani nota kesepahaman
(memorandum of understanding/
MoU) dengan Sahid Group untuk
membawa merek restoran terkenal AS ke
Indonesia. Lokasi pertama yang dibidik ada
di Bali.
Rencananya, penandatanganan MoU
antara Sahid Group dan Johnny Rockets
dihadiri Menteri Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif Mari Elka Pangestu dan Wakil Duta
Besar AS Ted Osius.
Sementara itu, sebanyak 14 waralaba
makanan yang terlibat dalam misi dagang
terdiri atas Applebee’s, Denny’s, Johnny
Rockets, Car vel Ice Cream, Cinnabon,
Schlotzsky’s, Moe’s Southwest Grill, Great
American Cookies, Marble Slab Creamery,
Pretzelmaker, Pollo Tropical, Rita’s Italian
Ice, Which Wich, dan Wing Zone.
Ikut juga dalam rombongan dua waralaba
di luar industri makanan, yakni Crestcom
yang merupakan waralaba pelatihan
kepemimpinan dan The Vitamin Shoppe.
Pasar Potensial
Sementara itu, Ketua Asosiasi Franchise
Indonesia (AFI) Anang Sukandar mengatakan,
pasar waralaba Indonesia sangat potensial
bagi pengusaha asing karena penduduk
di Tanah Air memiliki prospek besar terhadap
penjualan produk asal luar negeri.
“Apalagi, saat ini perkembangan pasar
Indonesia sangat pesat, sehingga menjadi
tujuan bisnis yang menarik,” kata Anang,
di sela pembukaan National Roadshow Info
Franchise Business Concept di Surabaya,
kemarin.
Menurut dia, sampai sekarang sudah ada
sekitar 200 merek waralaba asing beroperasi
di Tanah Air, sedangkan waralaba lokal
baru 100 merek. Pewaralaba asing yang
memiliki merek di Indonesia, antara lain
datang Malaysia, Jepang, Taiwan, dan AS.
Sepengetahuan Anang, waralaba asal AS
yang kini beroperasi di Indonesia telah
mencapai 15 merek. Sedangkan waralaba
asal Malaysia sebanyak enam merek, yang
bergerak di bidang kuliner, finansial, dan
otomotif.
“Kalau waralaba asal Jepang, mayoritas
membuka usahanya di bidang kuliner,
umumnya Japanesse fast food,” katanya,
seperti dikutip Antara. (lm)

November 25, 2011

Pelaku Bangun Jejaring

Jumat,
25 November 2011
INDUSTRI KREATIF
Pelaku Bangun Jejaring

Jakarta, Kompas – Untuk menggairahkan ekonomi kreatif, para pelaku usaha harus membangun jejaring bisnis. Jejaring tersebut akan berkembang menjadi asosiasi bisnis dan menciptakan posisi tawar yang lebih tinggi. Jejaring juga diharapkan bisa meningkatkan kontribusi ekonomi kreatif terhadap produk domestik bruto.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Hesti Indah Kresnarini, Kamis (24/11), mengatakan, saat ini pemerintah fokus pada pengembangan jejaring bisnis industri kreatif. Caranya dengan mempertemukan para pelaku lewat berbagai kegiatan.

”Kemarin kami sudah menggelar pekan produk kreatif. Pekan depan, tepatnya 26 November, kami akan menggelar wahana kreatif di Plaza EX, Jakarta. Kegiatannya meliputi talkshow, workshop, creative games, dan creative performance,” katanya.

Dia mengatakan, target utama setiap acara pameran industri kreatif adalah membangun jejaring bisnis. Target transaksi belum terlalu diprioritaskan karena ekonomi kreatif belum tumbuh maksimal. ”Kami baru fokus tahun 2006. Masih awal. Kalau industrinya sudah maju baru kami bisa bicara target transaksi,” ujarnya.

Menurut Hesti, jejaring bisnis memberikan keleluasaan bagi pengembangan usaha para pelakunya. Lewat jejaring itu berbagai informasi pasar terkait tren, harga, dan strategi pemasaran bisa mereka dapatkan. Tujuan akhirnya adalah peningkatan ekspor dan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB).

Tahun 2010, ekspor produk kreatif mencapai Rp 131,5 miliar, sementara kontribusi terhadap PDB mencapai 7,28 persen. Pertumbuhan ekspor rata-rata tahun 2002-2010 sebesar 10,9 persen. Pertumbuhan kontribusi terhadap PDB tiap tahunnya sekitar 2,2 persen. (EN

November 14, 2011

Misterius! Ternyata Batik Menyimpan Kode-kode Matematis!

Senin, 14/11/2011 16:11 WIB
Misterius! Ternyata Batik Menyimpan Kode-kode Matematis!
Nurvita Indarini – detikNews
Share

(Foto: Lukisan Smaradhana) Jakarta – Batik rupanya tidak sekadar motif cantik yang tertuang dalam selembar kain. Namun lebih dari itu, batik rupanya menyimpan kode-kode matematis.

“Dari penelitian kami, ternyata terdapat struktur geometri fraktal, pola distribusi warna, dan juga kategorisasi batik secara algoritmik,” kata peneliti Bandung Fe Institute, Rolan MD, dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (14/11/2011).

Para peneliti di Bandung Fe Institute juga melakukan elaborasi rumus matematika batik secara elementer, lalu melakukan pengembangan software pembuat batik, studi interaksi manusia dan komputer dalam pembuatan batik, hingga studi evolusi batik di Indonesia.

“Kita kumpulkan sekitar 2.000 motif, mulai dari batik yang sangat tua. Kita teliti mulai dari yang abad 19 atau sekitar tahun 1800-an. Kita teliti geometri, distribusi warnanya, lalu dikaji dengan metode biologi evolusioner atau semacam metode DNA. Kalau di eksakta ada genetika, maka di sosial ada memetika,” papar alumnus Teknik Industri ITB ini.

Dari contoh-contoh motif batik yang dimiliki sebagai data, para peneliti kemudian melakukan penelusuran untuk mengetahui kurang lebih seperti apa motif-motif batik sebelumnya. Penelitian itu juga menggunakan komparasi data dari antropologi. Ada temuan menarik dari penelitian itu, di mana persebaran evolusi batik mirip dengan persebaran Islam di Jawa.

“Dari Demak, lalu Solo, Yogya. Ini seperti persebaran Islam di Jawa. Hipotesis kami, batik ini adalah interaksi antara tradisi Jawa kuno dengan Islam. Tidak kita temukan penggambaran orang dan hewan langsung dalam motif batik. Mungkin ini karena dalam Islam tidak dibolehkan menggambar orang dan hewan,” tutur Rolan.

Dia menambahkan, obyek manusia cenderung menunjukkan adanya beberapa karakteristik yang konvergen terkait dengan seni kuno, sebelum masuknya pengaruh Eropa, di Indonesia. Misalnya saja, obyek manusia cenderung digambarkan secara berulang, yang seolah-olah ingin menggambarkan dinamika gerak dalam lingkungan statis atau membentuk pola multirealitas.

“Karakteristik yang seperti ini tidak lazim digunakan dalam tradisi lukisan Barat,” imbuh Rolan.

Dinamika gerak dalam gambar Nusantara bisa dilihat dari orang yang digambar berkali-kali atau sebagian. Misal tangan ganesa, di beberapa gambar tangannya 4, tetapi ada yang 2. 4 Tangan itu menggambarkan gerakan dari obyek tersebut.

“Karena batik itu ada rumusan (matematika)-nya, maka jika gambarnya dimasukkan ke komputer, komputer bisa mengetahui dari daerah mana batik ini berasal,” tutur Rolan.

October 28, 2011

industri batik : Proekonomi Kerakyatan

Jumat,
28 Oktober 2011
INDUSTRI BATIK
Proekonomi Kerakyatan
DIDIE SW
Tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik. Tahun 2009, batik mendapat pengakuan internasional dari UNESCO sebagai warisan budaya asli Indonesia. Animo masyarakat terhadap batik kian tinggi.

Seiring dengan itu, industri batik pun berkembang. Sebagai busana, produk batik kian modern dan gaya. Banyak ajang yang dimanfaatkan untuk mempromosikan dan menarik penikmat batik. Dari peragaan busana, pameran, hingga aktivitas bersepeda. Pameran produk batik adalah salah satu pintu promosi yang cukup sering dan rutin dilakukan.

Ajang pameran Indocraft, pekan lalu, di Jakarta, menyiratkan prospek cerah pengembangan industri batik. Ajang pameran 300 peserta yang sebagian besar memamerkan beragam produk batik ini menarik perhatian lebih dari 15.000 pengunjung selama tiga hari pameran.

Apresiasi yang tinggi terhadap batik juga tergambar dari hasil survei Kementerian Perdagangan. Sebanyak 82 persen dari 700 responden memberikan apresiasi positif pada karya batik tulis. Produk bermotif batik dan batik cap juga ditanggapi positif, yakni 73 persen responden dan 60 persen responden.

Hasil serupa juga terangkum dari hasil jajak pendapat Kompas akhir September lalu. Dua dari tiga responden mengaku menggunakan batik dengan alasan sesuai dengan ketertarikan mereka atau mengikuti tren yang berkembang saat ini. Hanya sebagian kecil responden (14,87 persen) yang mengaku menggunakan busana batik karena kewajiban dari institusi tempat mereka studi atau bekerja.

Produk batik juga tak lagi formal sehingga bisa dikenakan di luar forum resmi. Empat dari enam responden menyatakan menggunakan produk batik dalam keseharian mereka. Tahun lalu, ada 72 juta orang, atau sepertiga dari penduduk Indonesia, yang tercatat sebagai konsumen batik di dalam negeri.

Hanya saja, daya tarik mengenakan batik tidak akan berdampak signifikan bagi perekonomian tanpa pengembangan optimal pada sisi penawaran. Industri batik belum berkembang sepesat industri lain. Baru ada 55.912 perajin, sebagian besar berskala mikro dan kecil, yang bergelut di bidang produk batik.

Jumlah itu baru 0,1 persen dari total 52,77 juta industri di negeri ini. Selain itu, sebagian perajin belum punya kemampuan inovasi ragam hias teknis mengolah batik yang memadai. Perlu dikelola potensi ekonomi rakyat ini agar tumbuh dan sejalan dengan target nasional, membangun ekonomi kreatif berbasis kerakyatan. (BIMA BASKARA/LITBANG KOMPAS)

September 28, 2011

2011, ekspor batik bakal melempem terimbas perlambatan ekonomi AS dan Eropa

Dari kontan online 28 Sep 2011

Industri
HOME | MANUFAKTUR |

Rabu, 28 September 2011 | 15:12 oleh Dani Prasetya
ANCAMAN KRISIS GLOBAL
2011, ekspor batik bakal melempem terimbas perlambatan ekonomi AS dan Eropa
Share
dibaca sebanyak 147 kali
0 Komentar

JAKARTA. Perlambatan ekonomi AS dan Eropa akan mempengaruhi kinerja ekspor batik asal Indonesia. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu bilang, ekspor batik Indonesia tahun ini akan terjadi penurunan kembali dibanding 2010.

“Target ekspor untuk 2011 masih negatif karena pasar kita saat ini masih Amerika, Eropa, dan Jepang yang memang mengalami kelesuan,” ucap Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, pada jumpa pers, Rabu (28/9).

Pada 2006, nilai ekspor total produk batik Indonesia tercatat sebesar US$ 74,23 juta. Angka itu naik tipis menjadi US$ 78 juta pada 2007. Tepat pada 2008 ekspor batik Indonesia mencatatkan nilai tertinggi sebesar US$ 93,09 juta.

Lantaran adanya krisis ekonomi global pada akhir 2008, nilai ekspor batik pun secara bertahap turun 18,34% menjadi US$ 76,02 juta pada 2009. Pada 2010, ekspor batik makin melandai dengan mengalami penurunan 8,91% menjadi US$ 69,24 juta.

Namun Mari tidak merinci berapa besar persentase penurunan ekspor tahun ini dibanding 2010. “Oleh karena itu kita perlu ada diversifikasi pasar dan produk,” ujarnya.

September 19, 2011

Pasar Kelas Menengah ke Atas Belum Tergarap

Senin,19 September 2011

JELANG WORLD BATIK SUMMIT
Pasar Kelas Menengah ke Atas Belum Tergarap
Pekalongan, Kompas – Indonesia harus lebih optimal menggarap pasar menengah ke atas, yang selama ini belum tergarap, untuk semakin memperkuat posisi sebagai pionir batik dunia. Negara-negara tetangga boleh mengejar berbagai inovasi teknologi, tetapi Indonesia masih memiliki kekuatan sumber daya alam dan tenaga-tenaga terampil dalam membatik.

Optimisme kekuatan posisi Indonesia tersebut diungkapkan sejumlah perajin batik pekalongan di Pekalongan, Jawa Tengah, Sabtu (17/9), dalam persiapan World Batik Summit, 28 September-2 Oktober, yang akan diselengarakan di Jakarta.

Bupati Pekalongan Amat Antono dan Wali Kota Pekalongan Baasyir prihatin apabila perajin tidak dapat memanfaatkan momentum skala internasional tersebut untuk menunjukkan eksistensi Pekalongan sebagai kota batik, terlepas dari berbagai persoalan yang membelit kegiatan perajin batik.

Romi Oktabirawa, perajin batik, optimistis upaya Indonesia mempertahankan pengakuan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) tentang batik sebagai warisan budaya tak benda masih tidak tergantikan oleh negara lain.

Manajer Finansial PT Rehal Traco (Grup Gabungan Koperasi Batik Indonesia/GKBI) Hidayat Zulkarnaen mengatakan, komitmen menjaga kekuatan industri batik dilakukan oleh GKBI yang selama ini memasok kain untuk membatik. ”Kami tetap menutup keran ekspor kain primis. Semua kain ini difokuskan untuk kebutuhan perajin batik di Indonesia,” kata Hidayat.

Staf Ahli Kementerian Perindustrian Fauzi Azis mengatakan, setelah pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai warisan tak benda, paling tidak ada tiga aspek perlindungan terhadap tradisi dan kebiasaan sosial serta perlindungan terhadap industri kerajinan batik di seluruh Indonesia. Namun, yang dibutuhkan saat ini adalah undang-undang batik.

Direktur PT Rehal Traco (Grup GKBI) Nanggolo M Adji mengatakan, konsumen selama ini diam-diam tertipu dalam mengenal batik. Ada batik printing dapat dikombinasi dengan cap. Ada pula kain bermotif batik yang aromanya mirip dengan batik tulis. Untuk itu, edukasi perlu agar perajin memahami jenis-jenis kain. (OSA)

August 5, 2011

Perajin Industri Batik Banyak yang Sudah Uzur

Selasa, 02/08/2011 13:27 WIB
Perajin Industri Batik Banyak yang Sudah Uzur
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – Industri batik harus mulai berbenah jika ingin tetap eksis di masa mendatang. Berdasarkan catatan kementerian perindustrian, ada tiga tantangan yang harus segera dibenahi.

Menurut Menteri Perindustrian MS Hidayat, tantangan pertama industri batik adalah mandeknya regenerasi pembatik yang ada di Indonesia. Untuk itu ada pekerjaan rumah bagi industri yaitu menarik minat pemuda untuk berkecimpungan di perbatikan Indonesia.

“Pertama, para pengrajin batik mesti melakukan regenerasi karena kebanyakan sudah mulai tua-tua. Kita mesti menarik minat yang muda-muda. Itu kami sedang lakukan bersama yayasan kami,” jelas Hidayat di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (2/8/2011).

Tantangan kedua adalah bahan baku pendukung seperti gondorukem (untuk malam) yang tidak selalu tersedia di pasar. Sering kali bahan baku berkualitas tinggi diekspor dibandingkan untuk industri dalam negeri.

“Bahan baku pendukung itu sering hilang, dan kualitas yang baik itu banyak diekspor. Saya sedang bicara dulu sebelum mereka ekspor. Itu menyangkut perundingan mengenai harga,” papar Hidayat.

Tantangan terakhir adalah kualitas pendidikan pengrajin batik tulis. Penting adanya peningkatan kualitas pendidikan agar memberi kepastian masa depan dari industri batik nasional.

“Saya akan bekerja sama dengan kementerian pendidikan adar di seluruh sentra industri itu secara kontinu kita selenggarakan pendidikan,” kata Hidayat.

(wep/hen)

August 3, 2011

Raam Punjabi, Ilham Bintang dan Hendropriyono Bikin Tandingan Grup 21

Rabu, 03/08/2011 20:22 WIB
Raam Punjabi, Ilham Bintang dan Hendropriyono Bikin Tandingan Grup 21
Ramdhania El Hida – detikFinance

Jakarta – Produser film Raam Punjabi, Pemilik Perusahaan Bintang Group Ilham Bintang, dan Presiden Komisaris Blitzmegaplex A.M. Hendropriyono membentuk perusahaan importir bernama Sinar Surya Sinema (S3).

Pembentukan Sinar Surya Sinema bertujuan untuk menandingi importir film baru Omega Film yang selama ini terafiliasi dengan 21cineplex yang merupakan pemilik jaringan bioskop 21 dan XXI.

“Perusahaan ini belum dapat pengesahan. Minggu depan akan kami umumkan, namanya Sinar Surya Sinema (S3),” ujar Raam usai jumpa pers di Hotel Four Season, Jakarta, Rabu (3/8/2011).

Raam menyebutkan ketiga orang tersebut merupakan pemilik dari Perusahaan yang beralamat di Jalan Roxy Mas 40 C tersebut. Rencananya, minggu depan, pihak S3 akan mengurus perizinan impor.

“Aktenya baru keluar tadi, mungkin minggu depan baru kita urus izinnya,” ujar Raam.

Raam yakin untuk mendapatkan izin dari pemerintah Indonesia bukanlah hal yang sulit. Hanya saja untuk mendapatkan film Hollywood dari Motion Picture Association of America (MPAA).

Menurutnya diperlukan lobi yang membutuhkan campur tangan pemerintah. Pasalnya, pihak MPAA pastilah lebih tergiur dengan importir Omega yang memiliki jumlah layar yang banyak.

“Izin lokal nggak ada masalah, tapi bagaimana melobi, itu tugas Menteri Keuangan atas inisiatif Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Rencananya kita akan lobi ke sana dengan niat tulus untuk menghilangkan monopoli guna mendukung Menteri Keuangan yang anti monopoli,” tegasnya.

Raam yakin jika pemerintah bisa menjadi perpanjangan tangan rakyatnya yang ingin menghapuskan praktik monopoli tersebut, maka nantinya setiap anggota MPAA yang berjumlah 6 anggota memiliki 1 importir.

“Nanti 1 anggota 1 perusahaan, sekarang ada 6 anggota,” jelasnya.

Sementara Ilham Bintang menjelaskan ide awal dari pembentukan S3 adalah guna membuktikan janji-janji pemerintah yang akan membebaskan siapapun yang ingin menjadi importir film.

“Izin usaha kami sedang diurus. Kami buat usaha untuk importir dengan Raam, memulihkan hak-hak kita sebagai warga negara, yang selama ini diselewengkan . Kami menagih janji para menteri, semua dapat izin impor. Omega saja diblokir seminggu bisa buka blokir, kami tidak berharap muluk-muluk, 2 minggu, kalau nggak selesai, ya kita tahu saja (ada tekanan pihak yang berkuasa),” pungkas Ilham.

(nia/hen)
++++++++++++++

Rabu, 03/08/2011 19:14 WIB
Raam Punjabi Lobi Produsen Film Hollywood
Ramdhania El Hida – detikFinance

Jakarta – Importi film non Omega Film mengungkapkan sulitnya mendatangkan film-film Hollywood garapan Motion Picture Association of America (MPAA). Faktanya importir yang memiliki layar bioskop sedikit sulit impor film dari MPAA.

Produser Film Raam Pundjabi menyatakan pihaknya sempat melakukan pembicaraan dengan pihak MPA guna mengetahui bagaimana persyaratan untuk melakukan impor film-film produksi perusahaan film Amerika tersebut. Kenyataannya MPA memberikan persyaratan bahwa jumlah gedung yang disediakan untuk mendistribusikan filmnya haruslah banyak.

“Permintaan kita itu tidak bisa karena MPA menyatakan kita itu tidak punya gedung cukup untuk menjamin distribusi film (MPAA). Kekhawatiran MPA adalah kalau tidak punya bioskop, nggak bisa menjadi agen MPA,” ujarnya dalam konferensi pers di Four Seasons, Jakarta, Rabu (3/8/2011).

Menurut Raam, permintaan pihak MPA itu akibat sudah tergiur dengan kemampuan pihak Omega film dan importir lama yang bersinergi dengan pihak 21cineplex yang memiliki banyak layar melalui jaringan bioskop 21 dan XXI.

“Itu aturan tidak tertulis, tawaran importir itu yang menggiurkan mereka (MPA),” ujarnya.

Raam menilai dengan adanya persyaratan tidak tertulis tersebut merupakan bukti adanya keterkaitan pihak importir Omega dengan 21cineplex.

“Ini jelas bukti Omega ada hubungan dengan bioskop yang itu (21cineplex), karena dia bisa mengimpor film Harry Potter,” tegasnya.

Selama ini anggota MPAA adalah 6 besar produsen film AS yaitu Disney, Fox, Warner, Columbia, Paramount, dan Universal.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.