Archive for ‘Ecology’

May 16, 2012

Chevron Mulai Digugat Tambang di Lokasi Suaka Margasatwa Minta Ditutup

Rabu,
16 Mei 2012
Chevron Mulai Digugat
Tambang di Lokasi Suaka Margasatwa Minta Ditutup
Pekanbaru, Kompas – PT Chevron Pasific Indonesia digugat. Alasannya, tiga sumur minyak dan gas serta satu stasiun pengumpulan minyak dan gas milik perusahaan itu diyakini berada pada areal pelestarian gajah sumatera, Suaka Margasatwa Balairaja, Duri, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Pada lokasi itu, PT Chevron Pasifik Indonesia (CPI) tidak pernah memiliki izin pinjam pakai lahan ke Kementerian Kehutanan.

”Kami sudah mendaftarkan gugatan legal standing ke Pengadilan Negeri Dumai pada April lalu,” kata Tommy FM Manungkalit, Sekretaris Yayasan Riau Madani, LSM pemerhati lingkungan.

Menurut Tommy, pihaknya telah mengajukan gugatan kepada PT CPI, Selasa (15/5), di Pekanbaru.

Menurut Tommy, selain CPI, pihaknya juga menggugat Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau dan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Kementerian Kehutanan selaku penanggung jawab keberadaan suaka margasatwa itu.

”Kami meminta agar sumur migas PT CPI ditutup,” katanya.

Manager Komunikasi Korporat PT CPI Dony Indra, di Jakarta, membenarkan adanya gugatan terhadap CPI agar menutup tambang di lokasi Suaka Margasatwa Balairaja.

”Kami ingin menegaskan, CPI dalam operasinya senantiasa mematuhi peraturan maupun perundang-undangan yang berlaku,” kata dia.

Operasi CPI di Blok Rokan, termasuk kawasan Balairaja, dimulai pada pertengahan tahun 1930-an. Pengeboran sumur pertama dilakukan tahun 1969. Sementara hutan Balairaja ditunjuk sebagai kawasan suaka margasatwa pada tahun 1986.

”Pengoperasian seluruh sumur yang telah berproduksi (existing wells) tersebut telah mendapatkan izin dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam,” kata Dony.

Sudah digelar

Menurut Tommy, persidangan pertama sudah digelar oleh majelis hakim Paul Marpaung. Namun, perwakilan dari Dirjen PHKA dan CPI tidak hadir. Justru yang hadir di persidangan hanya anggota Bagian Hukum BBKSDA Riau, Putra Per.

Olehkarena itu, hakim meminta agar perwakilan pihak tergugat dipanggil lagi.

Putra Per belum dapat memberikan keterangan tentang gugatan tersebut. Menurut Putra, dia sedang berada di Bogor.

Menurut Tommy, koordinat tiga sumur gas dan stasiun pengumpulan migas CPI. Salah satu sumur migas dengan kode di lapangan 07, berada pada koordinat 01*09’ 32.4” LU – 101*13’ 14.7” BT.

Lokasi dimaksud berada di tengah areal suaka yang semula memiliki luasan 18.000 hektar. Saat ini diperkirakan hanya 200 hektar lahan suaka yang masih tersisa dari total areal 18.000 hektar. (SAH/BAY/EVY)

May 14, 2012

Kebun Ini Subur berkat Kotoran Sapi

Kebun Ini Subur berkat Kotoran Sapi
Ni Luh Made Pertiwi F | I Made Asdhiana | Selasa, 15 Mei 2012 | 06:23 WIB
Dibaca: 612Komentar: 1
| Share:

KOMPAS IMAGES/NI LUH MADE PERTIWI F
Berfoto di kawasan Bangka Botanical Garden di Pangkal Pinang, Babel.
Foto:1 2 3 4 » Play Slideshow
TERKAIT:
Otak-otak Dicocol Sambal Tauco, Dijamin Lezat!
Kampung Gedong, Desa Wisata Tanpa Listrik
Asyik, Melihat “Sunset” di Pantai “Laskar Pelangi”
Pangkal Pinang, Kaya Sejarah, Sepi Turis
Wisata Babel Masih Didominasi Turis Lokal
KOMPAS.com – Bagaimana caranya menyuburkan lahan tidur bekas tambang timah? Jawabannya ternyata sederhana saja. Cukup gunakan kotoran sapi. Tak percaya? Coba berkunjung ke Bangka Botanical Garden.

Empat tahun lalu, kawasan ini begitu gersang. Tanah begitu merah, terbengkalai menjadi lahan kritis. Dulunya, area ini merupakan kawasan pertambangan timah. Namun, saat Kompas.com mampir ke tempat ini pada Kamis (3/5/2012), kawasan ini begitu lebat ditanami berbagai pohon.

Sebut saja dari pinus sampai buah naga. Walaupun saat mobil melintasi kebun, tanah-tanah merah tampak masih menganga. Uniknya, di tanah merah dan terkesan gersang itu, berbagai tumbuhan dapat tumbuh di atasnya.

Johan Ridwan Hasan yang mulai usaha menyuburkan kawasan ini. Ia mengolah tanah kritis dengan mencampurnya dengan kotoran sapi sampai tanah kembali menjadi subur. Tentu tak hanya kotoran sapi. Menurut Edi Sukaedi, Koordinator Lapangan di Bangka Botanical Garden, ada perhitungan tersendiri dengan mencampur kotoran sapi dan kapur untuk mengolah tanah kembali.

“Awalnya memang peternakan sapi, baru pertanian dan perikanan. Ini murni swasta,” ungkap Edi.

Perikanan yang ia maksud adalah kolam-kolam berisikan ikan nila air tawar. Ya, di kebun ini, pengunjung bisa bebas melihat aneka tanaman, kandang sapi, sampai kolam ikan. Edi mengaku sebanyak 1500 turis berkunjung ke tempat ini.

“Tapi kebanyakan turis lokal, orang-orang sekitar sini. Terutama sekolah-sekolah. Karena di sini ada pelatihan untuk yang berminat,” tutur Edi.

Pengunjung yang ingin datang pun tak dikenakan tiket masuk. Biasanya pengunjung akan diarahkan pertama kali ke rumah adat Bangka. Uniknya, beberapa meter menuju rumah adat ini, kendaraan akan melewati jalanan bertanah merah dengan sisi kanan dan kiri ditumbuhi pohon pucuk merah.

Merah tanah dan daun pohon yang kemerahan, membuat nuansa romantis. Tak heran, beberapa rekan wartawan yang ikut mengunjungi Bangka Botanical Garden pun tak puas-puas berfoto di lokasi tersebut.

“Seperti di film-film Korea saja,” tutur Vidi, wartawan asal Jakarta, sambil terus sibuk berfoto.

Setelah itu pengunjung akan diajak masuk ke rumah adat Bangka yang berupa rumah panggung. Di rumah, pengunjung dapat menikmati susu segar. Susu ini diperah setiap hari dari sapi-sapi yang ada di Bangka Botanical Garden.

Menurut Edi, total ada sekitar 420 sapi dari berbagai jenis sapi impor maupun lokal. Ia menambahkan bahwa dalam sehari, sapi-sapi ini dapat memproduksi 200 sampai 250 liter susu. Kelar menikmati susu, pengunjung akan diajak mellihat-lihat sapi di area kandang sapi.

Nah, saat memasuki area kandang sapi, terdapat jejeran pohon pinus yang cantik. Lagi-lagi suasana romantis ala musim gugur di film-film Korea hadir kembali. Acara foto-foto pun tak terelakkan. Sementara di kandang sapi, pengunjung dapat mengikuti aktivitas memerah sapi. Namun, kenali dulu jamnya.

“Memerah susu itu di jam 7 pagi dan 4 sore,” kata Edi.

Di sini, pengunjung juga dapat membeli pupuk dari kotoran sapi. Selain itu, pihak Bangka Botanical Garden juga menerapkan sistem zerowaste. Semua limbah dimanfaatkan kembali. Bahkan urin sapi digunakan untuk kolam ikan. Sebab, dapat mempercepat pertumbuhan ekosistem di kolam ikan.

Bahkan, kotoran sapi pun digunakan untuk biogas. Belum lagi rumput gajah untuk pakan ternak dan sebagainya. Semua dapat dimanfaatkan kembali. Menurut Edi, Bangka Botanical Garden meliputi kawasan seluas 300 hektar.

Namun, lahan yang dimanfaatkan baru seluas 150 hektar. Untuk mencapai lokasi ini, perjalanan dapat ditempuh tak sampai setengah jam dari pusat kota Pangkal Pinang. Lokasi tepatnya berada di daerah Ketapang, Pangkal Pinang.

Kelar menjelajahi Bangka Botanical Garden, pengunjung juga dapat menikmati aneka hidangan di restoran yang berada dekat dengan kolam ikan. Pengunjung juga dapat memancing ikan di kolam ikan nila tersebut, sambil menikmati panorama pepohonan. Siapa sangka, keasrian tersebut diperoleh dari hal sederhana yaitu kotoran sapi.

Share

TOP STORIES

Tempat bagi Perokok di Luar Gedung

Ekor Pesawat Tidak Utuh, Kesulitan…

DVI dan Inafis Identifikasi 22…

Ini Strategi Dirut Baru Merpati

Foke Kembali Tak Hadiri Debat…
Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini.

Karso Mulyo
Selasa, 15 Mei 2012 | 06:34 WIB
Bravo. huebat. Bagi yang mengetahuinya, bole kasi tahu aq bahan campuran pupuk lainya ? Dapat digunakan juga untuk tanaman buah, sayur dll. ? Terima kashi seblomnya. karso39@yahoo.com
Tanggapi Komentar
Laporkan Komentar
0
0

Kirim Komentar AndaUpdate profil Anda
Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan KOMPAS.com dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. KOMPAS.com akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

KOMPAS.com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini. lila maniz
Komentar Anda untuk artikel di atas:

May 10, 2012

Kini Tak Berebut Air Tawar Lagi…

Kamis,10 Mei 2012
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Kini Tak Berebut Air Tawar Lagi…
KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU
Perempuan di Pulau Kisar, Maluku Barat Daya, tak lagi berjalan jauh untuk mengambil air. Petugas mengisi penampung air di belakang rumah dari mobil tangki air. Penyediaan air ini terwujud melalui PNPM Mandiri.

Ester Lince Napitupulu

Bagi penduduk di Jawa, mungkin tidak terbayang bagaimana sulitnya mendapatkan air tawar. Namun, kesulitan air tawar menjadi peristiwa biasa bagi penduduk di pulau-pulau terpencil di Kabupaten Maluku Barat Daya. Tak jarang, rebutan air tawar lalu memicu pertengkaran.

Saat musim kemarau, kesulitan akan air tawar semakin bertambah. Hujan tidak turun, sedangkan sumber air di gunung berkurang. Padahal, kebutuhan air untuk minum, memasak, mencuci dan sebagainya tetap ada.

Kesulitan air seperti itu tidak hanya dialami ratusan penduduk. Kabupaten Maluku Barat Daya mempunyai 48 pulau, dan 16 pulau di antaranya dihuni dengan jumlah penduduk 76.350 jiwa.

Mereka sudah terbiasa dengan kesulitan air tawar. Untuk menjangkau sumber air tawar pun tidak mudah. Penduduk sering kali harus berjalan kaki sekitar satu jam, naik turun bukit untuk menuju sumber air.

Kelelahan menempuh perjalanan jauh, ditambah sumber air yang sangat terbatas, tidak jarang kemudian mudah memercik kesalahpahaman bahkan pertengkaran di antara penduduk.

”Namun, itu peristiwa masa lalu,” kata Leni Paulus (54), warga Desa Abusur, Kecamatan Pulau-pulau Terselatan, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku.

Kini persoalan air bersih bisa diatasi sebagian masyarakat. Sebagian warga tak perlu lagi naik turun bukit menuju sumber air.

Pertengkaran akibat berebut air juga tak pernah terjadi lagi. Itu semua terjadi setelah penduduk memiliki tangki penampung air berkapasitas 1.100 liter di sekitar rumah mereka. Secara rutin, truk air akan datang dan mengisi tangki tersebut dari air yang sumbernya dari gunung. Penduduk cukup membayar Rp 25.000 per truk.

”Harga ini tergolong murah bagi kami yang biasanya sangat kesulitan air tawar,” kata Leni.

Bangun pipa

Di pulau lainnya, seperti di Pulau Letti yang berpenghuni 7.626 orang, tidak ada truk pengangkut air. Maklum, pulau itu tergolong kecil dan terpencil. Untuk menjangkaunya butuh waktu lima jam menggunakan kapal dari ibu kota Kabupaten Maluku Barat Daya.

Di pulai ini, warga bergotong royong membangun pipa untuk menyalurkan air dari sumber air ke bak-bak penampungan di sekitar rumah penduduk. Bak penampungan itu berkapasitas 2.000 liter sehingga cukup untuk kebutuhan air bersih beberapa keluarga.

”Kami tak perlu lagi berjalan kaki naik turun bukit untuk mengambil air. Cukup ke bak penampungan yang jaraknya hanya beberapa meter,” kata Adolina Belseram, warga Desa Tomra.

Aspirasi warga

Persoalan air bersih bisa diatasi berkat partisipasi warga. Ketika ada Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, warga mengusulkan supaya persoalan air bersih menjadi prioritas. Setelah melihat kondisi setiap desa, akhirnya dibuat berbagai macam solusi. Selain melakukan distribusi air bersih menggunakan truk, ada juga yang membangun pipa. ”Kini persoalan air bersih mulai teratasi,” kata Camat Pulau Letti JH Untajana.

Ketersediaan air bersih telah membebaskan warga dari ”penderitaan” berkepanjangan yang selama ini tak tersentuh tangan pemerintah.

Ketersediaan air bersih juga telah mendorong berkembangnya program lain yang sangat bermanfaat untuk masyarakat. Setelah air bersih tersedia, misalnya, tingkat kesadaran masyarakat juga meningkat berkat kampanye melalui Poliklinik Desa. Masyarakat jadi terbiasa mencuci tangan, mandi, dan menjaga kebersihan karena kini air bersih tersedia.

”Selama ini, keterbatasan air bersih telah menghambat aktivitas masyarakat,” kata Sekretaris Daerah Maluku Barat Daya Charles Kapressy.

Keterbatasan air bersih memaksa masyarakat mencari air berjam-jam setiap hari sehingga tidak bisa melakukan aktivitas ekonomi. Kini setelah air tawar yang bersih mudah diperoleh, warga bisa membuka usaha dan aktivitas ekonomi lainnya.

Berdayakan masyarakat

PNPM Mandiri yang diluncurkan sejak tahun 2007 oleh pemerintah dan didukung Bank Dunia dirasakan manfaatnya oleh penduduk di pulau-pulau terpencil. Satu per satu aspirasi yang datang dari warga terwujud, memecahkan persoalan pembangunan yang tak kunjung tiba di dusun maupun desa di kepulauan. Sekolah rusak diperbaiki dan dibangun, beasiswa pendidikan disalurkan, jalan-jalan kampung dibangun, perumahan bagi warga miskin, hingga menyediakan uang pinjaman bagi para perempuan supaya bisa membantu ekonomi keluarga.

Konsep dalam program ram yang benar-benar memberdayakan masyarakat untuk mengatasi kemiskinan. Pembangunan tidak lagi top-down yang berbiaya mahal dan tidak jelas pertanggungjawabannya.

PNPM Mandiri menggunakan pola pembangunan yang langsung digerakkan oleh masyarakat dengan memberikan dana bantuan langsung untuk mendanai berbagai kegiatan melalui musyawarah. Masyarakat pun memiliki ikatan untuk menjaga tiap hasil pembangunan yang telah mereka lakukan.

Di daerah rawan air tawar seperti di Maluku, PNPM juga memiliki dampak sosial yang luas. Pertengkaran karena berebut air tawar tak pernah terjadi lagi….

May 10, 2012

Kini Tak Berebut Air Tawar Lagi

Kamis,10 Mei 2012
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Kini Tak Berebut Air Tawar Lagi…
KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU
Perempuan di Pulau Kisar, Maluku Barat Daya, tak lagi berjalan jauh untuk mengambil air. Petugas mengisi penampung air di belakang rumah dari mobil tangki air. Penyediaan air ini terwujud melalui PNPM Mandiri.

Ester Lince Napitupulu

Bagi penduduk di Jawa, mungkin tidak terbayang bagaimana sulitnya mendapatkan air tawar. Namun, kesulitan air tawar menjadi peristiwa biasa bagi penduduk di pulau-pulau terpencil di Kabupaten Maluku Barat Daya. Tak jarang, rebutan air tawar lalu memicu pertengkaran.

Saat musim kemarau, kesulitan akan air tawar semakin bertambah. Hujan tidak turun, sedangkan sumber air di gunung berkurang. Padahal, kebutuhan air untuk minum, memasak, mencuci dan sebagainya tetap ada.

Kesulitan air seperti itu tidak hanya dialami ratusan penduduk. Kabupaten Maluku Barat Daya mempunyai 48 pulau, dan 16 pulau di antaranya dihuni dengan jumlah penduduk 76.350 jiwa.

Mereka sudah terbiasa dengan kesulitan air tawar. Untuk menjangkau sumber air tawar pun tidak mudah. Penduduk sering kali harus berjalan kaki sekitar satu jam, naik turun bukit untuk menuju sumber air.

Kelelahan menempuh perjalanan jauh, ditambah sumber air yang sangat terbatas, tidak jarang kemudian mudah memercik kesalahpahaman bahkan pertengkaran di antara penduduk.

”Namun, itu peristiwa masa lalu,” kata Leni Paulus (54), warga Desa Abusur, Kecamatan Pulau-pulau Terselatan, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku.

Kini persoalan air bersih bisa diatasi sebagian masyarakat. Sebagian warga tak perlu lagi naik turun bukit menuju sumber air.

Pertengkaran akibat berebut air juga tak pernah terjadi lagi. Itu semua terjadi setelah penduduk memiliki tangki penampung air berkapasitas 1.100 liter di sekitar rumah mereka. Secara rutin, truk air akan datang dan mengisi tangki tersebut dari air yang sumbernya dari gunung. Penduduk cukup membayar Rp 25.000 per truk.

”Harga ini tergolong murah bagi kami yang biasanya sangat kesulitan air tawar,” kata Leni.

Bangun pipa

Di pulau lainnya, seperti di Pulau Letti yang berpenghuni 7.626 orang, tidak ada truk pengangkut air. Maklum, pulau itu tergolong kecil dan terpencil. Untuk menjangkaunya butuh waktu lima jam menggunakan kapal dari ibu kota Kabupaten Maluku Barat Daya.

Di pulai ini, warga bergotong royong membangun pipa untuk menyalurkan air dari sumber air ke bak-bak penampungan di sekitar rumah penduduk. Bak penampungan itu berkapasitas 2.000 liter sehingga cukup untuk kebutuhan air bersih beberapa keluarga.

”Kami tak perlu lagi berjalan kaki naik turun bukit untuk mengambil air. Cukup ke bak penampungan yang jaraknya hanya beberapa meter,” kata Adolina Belseram, warga Desa Tomra.

Aspirasi warga

Persoalan air bersih bisa diatasi berkat partisipasi warga. Ketika ada Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, warga mengusulkan supaya persoalan air bersih menjadi prioritas. Setelah melihat kondisi setiap desa, akhirnya dibuat berbagai macam solusi. Selain melakukan distribusi air bersih menggunakan truk, ada juga yang membangun pipa. ”Kini persoalan air bersih mulai teratasi,” kata Camat Pulau Letti JH Untajana.

Ketersediaan air bersih telah membebaskan warga dari ”penderitaan” berkepanjangan yang selama ini tak tersentuh tangan pemerintah.

Ketersediaan air bersih juga telah mendorong berkembangnya program lain yang sangat bermanfaat untuk masyarakat. Setelah air bersih tersedia, misalnya, tingkat kesadaran masyarakat juga meningkat berkat kampanye melalui Poliklinik Desa. Masyarakat jadi terbiasa mencuci tangan, mandi, dan menjaga kebersihan karena kini air bersih tersedia.

”Selama ini, keterbatasan air bersih telah menghambat aktivitas masyarakat,” kata Sekretaris Daerah Maluku Barat Daya Charles Kapressy.

Keterbatasan air bersih memaksa masyarakat mencari air berjam-jam setiap hari sehingga tidak bisa melakukan aktivitas ekonomi. Kini setelah air tawar yang bersih mudah diperoleh, warga bisa membuka usaha dan aktivitas ekonomi lainnya.

Berdayakan masyarakat

PNPM Mandiri yang diluncurkan sejak tahun 2007 oleh pemerintah dan didukung Bank Dunia dirasakan manfaatnya oleh penduduk di pulau-pulau terpencil. Satu per satu aspirasi yang datang dari warga terwujud, memecahkan persoalan pembangunan yang tak kunjung tiba di dusun maupun desa di kepulauan. Sekolah rusak diperbaiki dan dibangun, beasiswa pendidikan disalurkan, jalan-jalan kampung dibangun, perumahan bagi warga miskin, hingga menyediakan uang pinjaman bagi para perempuan supaya bisa membantu ekonomi keluarga.

Konsep dalam program ram yang benar-benar memberdayakan masyarakat untuk mengatasi kemiskinan. Pembangunan tidak lagi top-down yang berbiaya mahal dan tidak jelas pertanggungjawabannya.

PNPM Mandiri menggunakan pola pembangunan yang langsung digerakkan oleh masyarakat dengan memberikan dana bantuan langsung untuk mendanai berbagai kegiatan melalui musyawarah. Masyarakat pun memiliki ikatan untuk menjaga tiap hasil pembangunan yang telah mereka lakukan.

Di daerah rawan air tawar seperti di Maluku, PNPM juga memiliki dampak sosial yang luas. Pertengkaran karena berebut air tawar tak pernah terjadi lagi….

May 9, 2012

Terumbu Karang Terancam

Rabu,
09 Mei 2012
BIOTA LAUT
Terumbu Karang Terancam
Padang, Kompas – Upaya rehabilitasi terumbu karang yang dilakukan di Pulau Pasumpahan, Kota Padang, Sumatera Barat, terancam sedimentasi dan endapan sampah. Kondisi ini, terpantau pada penyelaman di perairan Pulau Pasumpahan pada Sabtu (5/5) dan Minggu (6/5).

Saat penyelaman hingga kedalaman sekitar 18 meter, berbagai jenis stek terumbu karang acropora dan non-acropora yang ditransplantasi sejak 1998 tampak mulai tumbuh. Di antaranya jenis submasif seperti Pocillopra dan sejumlah jenis-jenis karang bercabang Seriatopora sp.

Hasil stek terumbu karang itu terlihat menyatu dengan substrat berupa wadah dari semen yang dijadikan dudukan. Namun sebagian besar hasil transplantasi itu terlihat mulai didekati sedimen.

Sejumlah rak yang dijadikan penopang substrat dari bahan pipa PVC juga tampak roboh ke dasar karang. Transplantasi karang di sisi selatan pulau itu dilakukan pada tahun 2010 dan 2011.

Adapun wadah rak yang dibentuk seperti terowongan mulai dipasangi stek terumbu karang sejak 1998 lalu. Selain rak yang dibentuk terowongan dan sejumlah rak persegi panjang, terdapat pula rak penempatan stek terumbu karang berbentuk atap rumah bagonjong. Akan tetapi, rak berbentuk bagian atas rumah tradisional Minangkabau itu sudah roboh ke dasar karang.

Transplantasi terumbu karang untuk mengembalikan beragam jenis yang mengalami kematian massal akibat beragam sebab.

Peneliti Yayasan Minang Bahari Samsuardi mengatakan, sedimentasi yang terjadi di kawasan perairan pulau tak berpenghuni itu disebabkan sejumlah hal. Di antaranya abrasi pantai dan struktur pulau berpasir yang dipengaruhi pola pasang gelombang dan perubahan arus yang terus terjadi. (INK)

May 8, 2012

Pengerukan Pasir Pantai Rugikan Nelayan

Asal asalan sih kerjanya Pemerintah Daerah..

Selasa,08 Mei 2012
KAWASAN PESISIR
Pengerukan Pasir Pantai Rugikan Nelayan
Jakarta, Kompas – Praktik penambangan pasir di pantai rugikan nelayan. Umumnya pasir digunakan untuk reklamasi pantai. Pasir yang diambil dari pesisir ataupun pantai yang direklamasi dikhawatirkan terjadi kerusakan lingkungan.

Hal itu dikatakan Abdul Halim, Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), Senin (7/5), di Jakarta. Ia mencatat, sedikitnya 10 lokasi akan direklamasi.

Ia merinci lokasi itu, pantai utara Jakarta seluas 2.700 hektar, Pantai Padang (Sumatera Barat) seluas 62 hektar (panjang pantai yang akan direklamasi 2,5 kilometer, lebar 400 meter, serta kedalaman 6 meter-9 meter), Pantai Losari (Sulsel), seluas 11 hektar, Pantai Surabaya seluas 320 hektar, Pantai Serangan (Bali) seluas 380 hektar, Pantai Kalasey (Minahasa Utara, Sulut) seluas 179,7 hektar, Teluk Manado seluas 67 hektar, Teluk Palu (Sulteng) 200 hektar, Pesisir Kota Balikpapan (Kaltim) seluas 400 hektar (panjang 9 kilometer dan lebar 500 meter), dan Teluk Kupang (NTT) seluas 7.227 hektar.

”Di beberapa proyek reklamasi, bahan urukan diambil dari wilayah lain. Contohnya, untuk reklamasi pantai utara Jakarta, perlu bahan uruk 330 juta meter kubik lebih,” ujarnya.

Urukan itu dipasok dari pantai utara Jawa Barat, pantai utara Banten, dan perairan Kepulauan Bangka Belitung. Dari darat, bahan urukan diperoleh dari Parung Panjang, Jonggol, dan Cikalong Kulon.

Reklamasi dikhawatirkan meningkatkan potensi banjir karena mengubah bentang alam (geomorfologi) dan aliran air (hidrologi). Reklamasi juga bisa menghambat akses nelayan memburu sumber penghidupan.

Pengambilan tanah urukan meningkatkan kekeruhan air laut dan merusak rumpon nelayan. Kiara mencatat pengambilan pasir di perairan Banten menyebabkan abrasi pantai setinggi 65 sentimeter.

Abdul Halim mengingatkan, Mahkamah Konstitusi telah menegaskan, nelayan memiliki akses besar dalam melaut. Klausul hak pengusahaan perairan pesisir dalam UU No 27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil telah dibatalkan. Reklamasi pantai yang berdampak pada pengaplingan wilayah laut dan pembatasan akses nelayan melanggar konstitusi.

Abdul Halim memaparkan, Kementerian Kelautan dan Perikanan sedang membahas Rancangan Peraturan Presiden (RPP) mengenai Reklamasi. Pasal 35 Huruf L menyatakan ”Dalam pemanfaatan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, setiap orang secara langsung atau tidak langsung dilarang melakukan pembangunan fisik yang menimbulkan kerusakan lingkungan dan/atau merugikan masyarakat sekitarnya. Hal ini harus ditegakkan di lapangan.

Selamet Daroyni dari Gerakan Rakyat Antireklamasi Pantai mendesak Presiden menghentikan pembahasan RPP mengenai Reklamasi. Menurut dia, pengerukan pasir laut di perairan dekat Pulau Sangiang, Anyer, Banten, 3,5 juta meter kubik sejak 2011 berakibat pada kehancuran ekosistem pesisir dan laut setempat.

Kerusakan akibat pengerukan pasir untuk reklamasi juga terjadi di Balikpapan. Daratan sepanjang 1 kilometer dan selebar 200-400 meter di Tanjung Kelor, Tanjung Baru, dan Manggar Baru berubah menjadi laut pasca-pengerukan pasir. (ICH)

May 8, 2012

Keragaman Biota Laut Dikotori Sampah

Pulau nan indah.. yang ada bukan dirawat tapi dikotori.. Itulah indonesia..

Selasa,08 Mei 2012
PULAU PASUMPAHAN
Keragaman Biota Laut Dikotori Sampah
KOMPAS/INGKI RINALDI
Teripang, Sabtu (5/5), di perairan Pulau Pasumpahan, Kota Padang, Sumatera Barat. Sebagian kawasan perairan yang relatif kaya keragaman biota laut tersebut saat ini dipenuhi sampah domestik yang diduga karena perubahan pola arus laut.
Padang, Kompas – Sebagian perairan Pulau Pasumpahan, Kota Padang, Sumatera Barat, yang memiliki banyak keragaman biota laut terganggu oleh sampah. Hal itu terpantau sepanjang Sabtu (5/5) dan Minggu (6/5) di pulau tak berpenghuni tersebut.

Pada penyelaman hingga kedalaman 18 meter di bawah permukaan laut, sampah domestik mengumpul di sisi selatan dan timur pulau itu. Plastik pembungkus dari berbagai produk mengendap di dasar laut berpasir.

Penyelam dari Yayasan Minang Bahari, Armed, mengatakan, mengumpulnya sampah domestik kemungkinan disebabkan pola arus di perairan tersebut. ”Sampah itu bisa saja berasal dari pusat Kota Padang, daratan Sungai Pisang, ataupun awak kapal yang membuang sampah dan terbawa ke pulau itu,” katanya.

Ia mengatakan, sampah domestik yang memenuhi dasar laut pulau itu sudah sekitar dua tahun berada di tempat sama.

Sabtu, saat berenang mengelilingi pulau mulai dari sisi timur, tampak dua penyu besar berenang menuju laut lepas di sisi barat. Ada dua hutan mangrove di sekitar dermaga. Pemandangan karang mati dan sedimentasi tinggi mulai berkurang di sisi utara menjelang selatan.

Ada beragam jenis biota laut, termasuk teripang dan ikan seperti red lionfish (Pterois volitans). Jarak pandang relatif baik menembus hingga 10 meter ke depan. Berbagai jenis terumbu karang dan spons laut terlihat sekalipun banyak karang bercabang mati dan patah.

Menurut pendiri Unit Kegiatan Mahasiswa Selam Institut Teknologi Padang, Ardiansyah, dua tahun lalu keragaman jenis terumbu karang relatif bagus. ”Saat ini sudah rusak,” katanya.

Pulau Pasumpahan bisa ditempuh selama sekitar 1,5 jam pelayaran dari Pelabuhan Teluk Bayur, Kota Padang. Pulau Pasumpahan merupakan kawasan wisata yang berbatasan dengan Pulau Sikuai di sebelah barat, Kelurahan Sungai Pisang di sisi timur, perairan lepas di sisi utara, dan daratan Sumatera di sebelah selatan. (INK)

April 21, 2012

Hutan yang Tersisa Pun Terus Tergerus

Sabtu,
21 April 2012
KERUSAKAN LINGKUNGAN
Hutan yang Tersisa Pun Terus Tergerus

Hutan yang Tersisa Pun Terus Tergerus
Agung Setyahadi, Prasetya Eko P, dan Ahmad Arif

Matahari mulai terbit saat kami tiba di jalan menanjak dirimbuni pepohonan raksasa. Riuh burung bersahutan dengan jerit monyet mencipta damai. Namun, kedamaian itu segera menghilang saat kami turun siang harinya dan menyaksikan perambahan hutan yang nyaris menghabisi hutan yang tersisa.

Kami tiba di kaki Danau Gunung Tujuh, Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Jambi, pukul 4.30 WIB. Danau ini adalah salah satu kaldera raksasa di jajaran Bukit Barisan. Suasana masih gelap saat kami mulai mendaki menuju danau di ketinggian 1.950 meter itu. Jejak kerusakan di kaki gunung awalnya luput dari perhatian.

Begitu hari terang, kami sudah separuh jalan menuju Danau Gunung Tujuh. Tajuk kayu aro (Ficus sp) dan medan kuning (Litsea sp) menghalangi sinar matahari menyentuh lantai hutan. Di batang pepohonan itu, banyak guratan panjang. Midun (28), pemandu pendakian, menyebut guratan itu jejak cakar beruang madu.

Udara lembab dan lumut meraja, melilit pokok-pokok pohon dari akar hingga pucuk ranting. Inilah hutan hujan tropis Bukit Barisan sebagaimana digambarkan dalam buku-buku tentang Sumatera pada masa lalu.

Namun, begitu kami turun, hutan yang kami kira masih terjaga itu ternyata sudah dirambah. Setidaknya, kaki Gunung Tujuh sudah dibabat dan beralih menjadi ladang.

Usaha mencegah perambahan selalu gagal. Bahkan, tahun 1994 pos resor Gunung Tujuh di dekat batas Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) menuju Danau Gunung Tujuh dibakar warga. Amuk massa dipicu penahanan seorang warga yang menebang hutan. Warga desa lainnya mengepung pos resor menuntut tahanan dibebaskan. Pos resor dirusak dan dibakar.

Bekas pos kehutanan itu masih tersisa di dekat bumi perkemahan Gunung Tujuh. Saat melintas pada dini hari, bekas pos itu terlihat seperti rumah- rumah kosong. Namun, jejak rumah bekas terbakar sangat jelas saat perjalanan pulang siang harinya.

Sampai ke lereng

Bukan hanya pos kehutanan yang terlihat jelas. Di dalam gerbang batas TNKS, di atas ketinggian 1.500 meter, kebun cabai menghampar luas. Tonggak-tonggak kayu menyembul di antara tanaman cabai.

Dari kaki Gunung Tujuh, perambahan terlihat mencapai lereng atas. Lahan dengan kemiringan terjal itu diubah menjadi kebun kentang.

”Perambahan terus berlangsung dan makin masuk ke taman nasional,” ujar Hendra, aktivis Tagana Sungai Penuh.

Berdasarkan data Tropical Forest Conservation Action Sumatera, di sekitar TNKS terdapat 371 desa dan 270 di antaranya berdekatan dengan taman nasional. Masyarakat di sekitar TNKS menggantungkan hidup dengan menggarap lahan di dalam kawasan TNKS. Luas lahan yang telah dibuka hingga tahun 2010 mencapai 105.000 hektar. Data terbaru sejumlah lembaga konservasi menunjukkan, luasan perambahan 200.000 hektar.

Balai TNKS tahun 2010 mengeluarkan ultimatum supaya perambah hutan segera meninggalkan kawasan tanam nasional. Peringatan itu menyusul penemuan 25.000 hektar lahan perambahan baru di 13 kecamatan di Kerinci dan Sungai Penuh.

Laju perambahan paling cepat terjadi di Kayu Aro, di lembah antara Gunung Kerinci dan Gunung Tujuh. Di kecamatan penghasil kentang dan sayuran itu, luas perambahan hutan tahun 2010 mencapai 5.900 hektar. Di Kecamatan Gunung Tujuh, luas perambahan tak kalah fantastis, 3.400 hektar.

Perambahan hutan tetap tak terkendali. Warga keras menolak dan tidak segan melawan. Baru-baru ini, pemangku kebijakan menggandeng militer untuk mencegah perambahan hutan. Sejumlah spanduk yang mengajak warga menghentikan perambahan hutan dipasang di sejumlah lokasi di dekat jalur pendakian Gunung Tujuh. Dalam spanduk itu, ada nama lembaga militer setempat. Namun, perambahan tetap berlangsung.

Rusaknya harmoni

Warga yang ditemui mengatakan, mereka membuka hutan karena tidak mengetahui bahwa lahan yang mereka tebang itu masuk di areal TNKS. ”Tidak kelihatan batasnya, tidak semua orang tahu di mana batas taman nasional,” ujar Kartip (58), warga Girimulyo, Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, beralasan.

Sebagian warga lain mengaku telah membuka lahan sejak sebelum kawasan itu ditetapkan sebagai taman nasional. ”Saya berladang di sini sejak sebelum kawasan ini dijadikan taman nasional,” kata Sarudin (62), yang tengah berladang di lereng Danau Gunung Tujuh, Desa Air Jernih. Sarudin mengaku hanya membeli dari orang lain yang membuka hutan itu.

TNKS memanjang 350 km dari barat laut ke tenggara dengan lebar rata-rata 50 km, melintasi 13 kabupaten serta dua kota. Taman nasional ini merupakan benteng terakhir bagi berbagai jenis flora dan fauna endemis, terutama harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Hutan ini juga menjadi habitat gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), tapir (Tapirus indicus), beruang madu (Helarctos malayanus), macan tutul (Neofelis nebulosa), dan anjing liar asia (Cuon alpinus).

Data Balai TNKS menunjukkan, lebih dari 1,7 juta orang tinggal di dekat batas TNKS dan banyak juga yang tinggal di dalam kawasan. Akibat maraknya perambahan yang mencapai ratusan ribu hektar, tidak sedikit terjadi konflik antara warga dan satwa penghuni hutan ataupun warga dengan pengelola kawasan.

Lembaga HarimauKita mencatat, sejak tahun 1998 hingga 2012 terjadi lebih dari 560 konflik antara warga dan harimau. Selama itu pula, lembaga independen itu mencatat 57 orang meninggal dunia dan 46 harimau mati terbunuh akibat konflik ini.

Kabar terakhir, seorang tewas dan seorang terluka parah diterkam harimau pada awal tahun 2012. Korban meninggal dunia, M Syargawi (32), warga Desa Sungai Pinang, Kecamatan Sungai Manau, Kabupaten Merangin, Jambi. Ia ditemukan tewas mengenaskan akibat terkaman harimau saat mencari kayu di hutan pada 20 Januari 2012.

Korban lain, yakni Mardi, warga Dusun Nangko, Desa Alur Tiga, Kecamatan Pangkalan Jambu, juga di Merangin. Ia terluka parah, kehilangan pahanya. Konflik juga terjadi antara pengelola kawasan dan warga. Konflik yang terjadi adalah bukti rusaknya harmoni bumi-manusia di Kerinci.

April 19, 2012

Taman Nasional Rusak Parah

Dari Koran Kompas :

Kamis,19 April 2012
Taman Nasional Rusak Parah
40 Perusahaan Tambang Beroperasi di Kawasan Ekosistem Leuser
KOMPAS/KRIS RAZIANTO MADA
Puluhan hektar hutan di Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, menjadi padang pasir akibat penambangan timah. Sampai 2011, sekitar 400.000 hektar hutan di Kepulauan Bangka Belitung rusak, terutama karena penambangan timah. Biaya pemulihan lahan mencapai Rp 6 triliun atau setara dengan APBD Bangka Belitung lima tahun yang rata-rata Rp 1,2 triliun per tahun.
Banda Aceh, Kompas – Keberadaan taman nasional sebagai kawasan hutan yang dilindungi kian terancam menyusul maraknya perambahan. Aksi ilegal ini jarang ditindak karena sejumlah pejabat di daerah ditengarai ikut menyokong pengambilan kayu serta usaha pertambangan dan perkebunan.

Berdasarkan data yang dihimpun Kompas, Rabu (18/4), Indonesia memiliki 43 taman nasional darat dengan luas kawasan mencapai 12,3 juta hektar. Namun, sekitar 30 persen di antaranya dalam kondisi rusak parah akibat perambahan.

Data Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Aceh menyebutkan, ada 40 perusahaan pertambangan yang mengantongi izin usaha di wilayah Nagan Raya, Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, dan Singkil. Lokasi penambangan 40 perusahaan itu masuk Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) di zona hutan lindung.

Di kawasan rawa gambut Tripa juga terjadi alih fungsi lahan besar-besaran untuk perkebunan. Menurut data Walhi Aceh, luas rawa gambut Tripa awalnya 61.000 hektar, kini tersisa 20.000 hektar. Terakhir pemberian izin bagi PT Kalista Alam di Darul Makmur untuk perkebunan sawit di lahan gambut seluas 1.605 hektar. Padahal, KEL bukan untuk perkebunan.

Gubernur Aceh Zaini Abdullah berjanji mengevaluasi semua izin pertambangan dan perkebunan itu. Kerusakan lingkungan akibat aktivitas alih fungsi itu meningkatkan kerawanan bencana di Aceh. ”Bumi Aceh banyak digali untuk tambang, tapi tak ada untuk kesejahteraan rakyat. Pasti ada yang salah,” kata Zaini.

Pembukaan hutan di kawasan KEL juga dilakukan untuk pembangunan proyek Ladia Galaska yang dicanangkan tahun 2002. Jalan itu menembus hutan di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Di ruas jalan yang dibuka, kata Kepala Bidang Pemanfaatan Lingkungan KEL Teddy Azima, ditemukan kerusakan lingkungan akibat perambahan hutan.

Hasil riset Bank Dunia menunjukkan, selama 2006-2010 terjadi kerusakan hutan di KEL seluas 90.000 hektar. ”Dalam setahun ada 20.000 hutan di KEL rusak. Tahun 2012, kerusakan lebih luas lagi,” ujar Direktur Walhi Aceh TM Zulfikar.

Kondisi TNGL di perbatasan Provinsi Aceh dan Sumut makin mengkhawatirkan. Tahun 1989-2009, perusakan hutan sekitar 625 hektar per tahun. Kini kerusakan telah mencapai 22.100 hektar. Padahal, TNGL telah ditetapkan UNESCO sebagai hutan hujan tropis warisan Sumatera.

Bahkan, TNGL yang berada di Besitang, Kabupaten Langkat, telah berubah jadi perkampungan dan didiami 3.000 orang eks pengungsi Aceh. Sekitar belasan ribu hektar hutan TNGL pun berubah jadi lahan perkebunan kelapa sawit dan karet. Usaha itu didukung investor. ”Kami ingin menertibkan, tapi bukan perkara mudah,” kata Kepala Balai Besar TNGL Andi Basrul.

Abaikan masyarakat

Pakar kehutanan dari Universitas Bengkulu, Agus Susatya, menyatakan, kondisi taman nasional yang sangat dilindungi kelestariannya pun sama saja dengan hutan lainnya, yakni rawan gangguan. Sebagian besar pengelolaan kehutanan bersumber dari luar kehutanan, seperti populasi penduduk yang meningkat, desakan ekonomi masyarakat di sekitar hutan, penguasaan lahan yang luas oleh perusahaan swasta, dan kebijakan pemerintah yang tidak pro-lingkungan.

”Pengelolaan hutan kita hanya terbatas bagaimana menjaga kawasan hutan tanpa melibatkan masyarakat di sekitar hutan. Jika masalah ini tidak segera dipecahkan, gangguan hutan terus terjadi,” ujar Agus.

Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) di Provinsi Bengkulu juga menjadi sasaran perambahan, pembalakan liar, dan penambangan emas. Menurut Kepala Bidang Pengelolaan TNKS Wilayah III Bengkulu-Sumsel Donal Hutasoit, dibandingkan pembalakan liar atau penambangan emas rakyat ilegal, gangguan terhadap TNKS didominasi perambahan. ”Dari 340.000 hektar luas TNKS di Bengkulu, luas hutan yang dirambah mencapai 6.800 hektar. Lokasi itu telah berubah jadi kebun kopi,” ujar Donal.

Kasus serupa menimpa TNKS wilayah Jambi. Di sana, lebih dari 200.000 hektar hutan hujan tropis rusak dirambah. Degradasi hutan mengganggu daerah aliran sungai di Bengkulu, Jambi, Sumbar, dan Sumsel. TNKS di wilayah Sumbar juga setali tiga uang. Menurut Khalid Khalilullah dari Walhi Sumbar, penebangan liar cenderung terjadi di setiap batas dengan TNKS Jambi.

Koordinator Aliansi Konservasi Alam Raya (AKAR) Network, Barlian, menilai ancaman terhadap TNKS lainnya yang sudah berlangsung lama adalah ambisi sejumlah kepala daerah Provinsi Bengkulu, Jambi, Sumbar, dan Sumsel ingin membangun jalan menembus zona inti TNKS.

”Ada 33 ruas jalan tembus TNKS yang diusulkan kepala daerah di Jambi, Bengkulu, Sumbar, dan Sumsel. Isu jalan tembus ini biasanya menjadi bualan politik saja menjelang pemilihan kepala daerah atau pemilihan umum,” ujar Barlian. Di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Provinsi Riau, perambahan mulai 2002 untuk perkebunan sawit. ”Kerusakan TNTN telah mencapai 28.500 hektar dari 80.000 hektar luas TNTN,” ujar Nursyamsu, peneliti dari WWF Riau.

Kepala Dinas Kehutanan Riau Zulkifli Yusuf menegaskan, pihaknya tidak berperan mengawasi TNTN. ”Kawasan konservasi sepenuhnya wewenang pusat,” katanya.

Kondisi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan TN Way Kambas juga kian terdesak. ”Kawasan TNBBS telah dikepung perambah. Ada 61.000 hektar jadi perkebunan kopi, kakao, lada, dan sawah,” ujar Kepala Balai Besar TNBBS Jhon Kenedie.

Ahli kehutanan Universitas Gadjah Mada, Taufik Tri Hermawan, berpendapat, ancaman terbesar terhadap kawasan konservasi, termasuk taman nasional, justru dari manusia. ”Tiga ancaman terbesar adalah perubahan tata guna lahan menjadi perkebunan, tambang, dan pemekaran kabupaten baru,” katanya.

Manajemen PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk menjelaskan, tak memiliki hubungan kerja dengan PT Kaswari Unggul, perusahaan perkebunan beroperasi di Pandan Lagan, Kecamatan Geregai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi. ”Perusahaan itu bukan anak usaha PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk, dan tidak terafiliasi kepada perusahaan lain dalam Kelompok Usaha Bakrie,” papar Fitri Barnas, Chief Corporate Secretary PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk.

(HAN/ADH/ITA/SAH/WSI/INK/JON/ZAL/ABK)

April 18, 2012

Pilkada Jadi Ajang Obral Perizinan

Rabu,18 April 2012
HUTAN SUMATERA
Pilkada Jadi Ajang Obral Perizinan
Bengkulu, Kompas – Pemilihan umum kepala daerah dan pemilihan umum selalu menjadi ajang mengobral pemberian izin usaha pertambangan dan perkebunan bagi calon kepala daerah di Pulau Sumatera. Bahkan, berbagai urusan administrasi yang semula sulit bagi perambah hutan mendadak dipermudah demi kepentingan politik.

Demikian hasil penelitian sejumlah ahli kehutanan dan lembaga swadaya masyarakat yang diperoleh Kompas, Selasa (17/4). ”Saya pernah menyaksikan salah seorang calon kepala daerah dalam debat kandidat menyilakan publik untuk menggarap hutan. Alasannya, hutan yang ada milik bersama,” kata pengajar di Universitas Bengkulu, Gunggung Senoaji.

Hal serupa dibenarkan Agus Susatya, pakar kehutanan dari Universitas Bengkulu. ”Salah satu modus yang digunakan adalah dengan mengalihfungsikan atau menurunkan status hutan. Akan tetapi, proses ini panjang dan berisiko secara hukum,” ujarnya.

Berdasarkan hasil penelitian Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bengkulu pada 2009-2010, saat pemilu dan pilkada Provinsi Bengkulu digelar, diterbitkan izin usaha pertambangan dan perkebunan bagi 42 perusahaan. Izin-izin itu mengakibatkan perusahaan menguasai lahan 75.703 hektar.

”Pilkada dan pemilu berkontribusi terhadap kerusakan hutan di Bengkulu. Saat itu, kepala daerah cenderung memberikan izin tambang dan perkebunan kepada investor guna mendapatkan dana segar untuk biaya politik selama pilkada dan pemilu,” kata Direktur Eksekutif Walhi Bengkulu Zenzi Suhadi, Selasa, di Bengkulu.

Kini, ruang kelola pemodal melalui kuasa pertambangan dan perkebunan di Bengkulu mencapai 463.964 hektar atau 25 persen dari luas wilayah Bengkulu. Itu terbagi dalam pertambangan pasir (156.112 hektar), batubara (99.305 hektar), dan perkebunan (208.546 hektar).

Janji kampenye

Kasus serupa terjadi di Riau. Momentum pilkada menjadi masa indah bagi perambah hutan. ”Menjelang pilkada, surat-menyurat, terutama bukti diri berupa kartu tanda penduduk (KTP) atau surat keterangan tanah (SKT) akan lebih mudah diterbitkan. Namun, imbalannya, perambah diminta memilih calon tertentu. Dengan memiliki KTP dan SKT, keberadaan perambah semakin kuat. Itu pola umum yang terjadi di Riau,” ujar Zazali Ahmad, Direktur Scale Up, lembaga mediasi konflik di Pekanbaru.

Dia mencontohkan, dari ribuan keluarga perambah di 14 desa yang menduduki 28.500 hektar di Taman Nasional Tesso Nilo, Kabupaten Pelalawan, Riau, hampir semua memiliki KTP. Mereka terdaftar sebagai penduduk yang memiliki hak pilih saat pilkada beberapa waktu lalu.

Saat kampanye, calon kepala daerah berjanji, jika terpilih, dia akan memperjuangkan lahan yang disengketakan dilepas dari kawasan hutan negara. ”Jualan politik seperti itu jelas mendapat perhatian khusus dari perambah,” kata Zazali.

Sekretaris Jenderal Komunitas Peduli Hutan Sumatera Utara Jimmy Panjaitan juga mengakui ada gejala maraknya penerbitan izin pemanfaatan kayu tanah milik (IPKTM) oleh bupati setelah terpilih. Izin itu diberikan kepada perusahaan-perusahaan yang menyokong dirinya dalam pilkada. ”Kami melihat fenomena ini terjadi di Sumut. Mau tidak mau ini memengaruhi deforestasi,” ujar Jimmy.

Pakar kehutanan dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, San Afri Awang, menemukan praktik serupa. ”Penyalahgunaan wewenang perizinan kawasan hutan untuk perkebunan dan pertambangan banyak dilakukan kepala daerah, baik bupati maupun gubernur. Mereka menerbitkan izin tanpa sepengetahuan Menteri Kehutanan,” katanya.

Namun, Kepala Dinas Kehutanan Sumut JB Siringoringo menampik anggapan ada hubungan antara kerusakan hutan dan pilkada. ”Kerusakan itu lebih pada tumpang tindih izin yang dikeluarkan di wilayah hutan, bukan terkait pilkada,” ujarnya.

Pemprov Bengkulu akhirnya mencabut izin usaha pertambangan batubara PT Inmas Abadi di sekitar kawasan konservasi Pusat Latihan Gajah Seblat, Kabupaten Bengkulu Utara. Jika tidak, dikhawatirkan usaha pertambangan batubara akan mengancam keberadaan satwa liar, terutama gajah sumatera.

”SK pembatalan sudah saya tanda tangani sekitar Januari. Arsip SK saya pegang. Semula izin diberikan karena investor berjanji membangun pelabuhan. Janji itu tak terpenuhi,” ujar Pelaksana Tugas Gubernur Bengkulu Junaidi Hamsyah.

(ADH/SAH/WSI/ABK)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.