Archive for ‘Elpiji watch’

February 13, 2014

Lagi, Elpiji 3 Kilogram Langka di Surakarta

Selasa, 11 Februari 2014 | 18:39 WIB

Lagi, Elpiji 3 Kilogram Langka di Surakarta  

Pekerja menyiapkan tabung gas elpiji 3 kg untuk diisi di Pertamina Unit Pemasaran III Depot Ujung Berung, Bandung, Jawa Barat, Rabu (8/1). TEMPO/Prima Mulia

 

TEMPO.CO, Surakarta – Sejak seminggu lalu, warga Surakarta kesulitan mendapatkan elpiji kemasan tiga kilogram. Maryanto, pedagang pengecer elpiji di Kelurahan Gandekan, Kecamatan Jebres, Surakarta, mengatakan jika biasanya dia mendapat kiriman sehari sekali, kini gas datang dua-tiga hari sekali. Jumlahnya pun dikurangi.

 

“Biasanya dapat jatah 12-18 tabung sekali kiriman, kini berkurang separuhnya,” kata Maryanto, Selasa, 11 Februari 2014. Karena kiriman tidak datang tiap hari, stok elpiji di tempatnya pun kerap kosong. Dampaknya, harga elpiji naik menjadi Rp 15.500 per tabung.

Pedagang pengecer di Kelurahan Joyosuran, Kecamatan Pasarkliwon, Mursito, menyatakan hal serupa. Sejak akhir Januari dia kesulitan mendapatkan elpiji kemasan tiga kilogram. Kitiman gas melon yang biasanya datang sekali tiap hari menjadi dua kali seminggu dengan jumlah terbatas. “Hanya dijatah sepuluh tabung. Sejam langsung habis,” katanya.

Karena kelangkaan pasokan, tidak sedikit warga yang sengaja memberi uang kepada Mursito lebih dahulu agar mendapat jatah. “Banyak pelanggan saya yang kecewa karena kehabisan elpiji,” ucapnya. Dia akhirnya membeli dari pemasok seharga Rp 15 ribu per tabung dan menjualnya Rp 16 ribu per tabung.

Pengecer lain, di Desa Gambiran, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, juga mengalami hal yang sama. Karena gas langka, harga pun naik. Apalagi harga jual dari pangkalan juga naik.

Salah seorang pengelola pangkalan elpiji kemasan tiga kilogram di Jebres mengatakan akhir-akhir ini permintaan masyarakat meningkat. Setiap kali elpiji dipasok ke pangkalan, dalam waktu setengah jam habis diborong masyarakat. “Sebelumnya, seharian baru habis,” kata pengelola pangkalan yang enggan disebutkan namanya ini.

Lantaran permintaan begitu banyak, meski kuota sudah ditambah dari 50 menjadi 80 tabung per hari, elpiji tetap ludes terjual. Dia tidak tahu penyebab meningkatnya permintaan masyarakat. Agar penjualan merata, dia tidak melayani masyarakat yang membeli dengan keranjang. Sebab dia khawatir gas tersebut dijual lagi ke konsumen akhir dengan harga yang lebih mahal. “Kami menjual Rp 14 ribu per tabung. Sasaran kami konsumen akhir,” ucapnya.

 

Sebelumnya, kelangkan gas rumah tangga bersubsidi terjadi di Surakarta akhir tahun lalu. Harga pun sempat melonjak mencapai Rp 17 ribu per kilogram. (Baca: Elpiji 3 Kilogram Langka di Surakarta).

 

UKKY PRIMARTANTYO

February 12, 2014

Harga Elpiji 12 Kg Naik Rp 1.000/Kg, Pertamina Tetap Rugi Rp 6 Triliun

Rista Rama Dhany - detikfinance
Rabu, 12/02/2014 12:51 WIB

http://images.detik.com/content/2014/02/12/1034/125313_elpiji3202.jpg
Batam -PT Pertamina (Persero) mengaku akan rugi Rp 6 triliun tahun ini, dari bisnis penjualan gas elpiji 12 Kg. Alasannya kenaikan harga elpiji 12 Kg yang hanya Rp 1.000 per Kg tak signifikan karena perseroan masih menjual rugi.

“Tahun kita perkirakan akan rugi Rp 6 triliun dari bisnis elpiji 12 Kg,” ujar Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina, Hanung Budya, ditemui disela-sela groundbreaking dan Peresmian Proyek-Proyek Investasi Direktorat Pemasaran dan Niaga, Pulau Sambu, Kepulauan Riau, Rabu (12/2/2014).

Hal ini karena elpiji 12 Kg hanya naik Rp 1.000 per Kg, membuat Pertamina masih memberikan subsidi cukup besar dalam setiap Kg elpiji 12 Kg.

“Karena naiknya cuma Rp 1.000, ini kerugian yang sia-sia bagi Pertamina,” tegas Hanung.

Pada 2013 Pertamina menderita kerugian Rp 5,6 triliun dari bisnis elpiji 12 kg. “Tahun 2013 saja kita sudah rugi Rp 5,6 triliun,” tutupnya.

January 8, 2014

Penetapan Harga Tidak Jelas

 

Koordinasi buruk awalnya adalah kabinet SBY yang buruk. Penyusunan kabinet Pembangunan I-II macam dagelan di Cikeas, hasilnya tidak tertolong lagi. Percuma saja SBY didampingi oleh Kuntoro M, sebagai evaluator kinerja menteri, ketika  menteri yang kinerjanya super buruk tapi berasal dari Partai Politik tertentu, tidak dipecat. Lihat saja menteri  Koordinasi EKUIN (PAN),Pertanian (PKS), Kominfo (PKS), Kelautan (GOlkar), dan ESDM (Demokrat) yang sibuk sendiri sendiri. Satu sibuk ngurus partai, yang satu sibuk fundraising buat partai dan dompet pribadi, yang satu lagi sibuk pencitraan. Gimana mau koordinasi jika penghuni kabinet Pembangunan , macam pemain ketoprak yang tidak lucu. 

 

Koordinasi soal Kenaikan Harga Elpiji 12 Kilogram Buruk

 

 

 

 
JAKARTA, KOMPAS — Polemik harga elpiji non- bersubsidi 12 kilogram sepekan terakhir ini menunjukkan koordinasi di dalam pemerintahan tidak berjalan dengan baik. Hal ini sebagai dampak ketidakjelasan aturan main mengenai siapa yang berwenang menetapkan harga elpiji non-bersubsidi itu.

Menurut Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Ekonomi Pertambangan dan Energi (ReforMiner Institute) Pri Agung Rakhmanto, Selasa (7/1), di Jakarta, mekanisme penetapan harga elpiji masih belum jelas. Hal ini berpotensi kembali menimbulkan polemik setiap kali harga elpiji 12 kg akan naik.

Kalau keputusan kenaikan harga elpiji 12 kg itu diambil saat rapat umum pemegang saham, dan Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan tahu tetapi tidak atau belum melaporkannya kepada Presiden RI, hal itu mungkin terjadi. ”Itu artinya, koordinasi antarpemerintah tak berjalan dengan baik,” ujarnya.

Namun, hal seperti itu memang bisa terjadi karena aturan main menyangkut siapa yang berwenang menetapkan harga elpiji 12 kg tidak jelas, apakah pemerintah atau PT Pertamina (Persero). ”Jika pemerintah, siapa itu, apakah Presiden, Menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral), Menteri BUMN, atau Menteri Koordinator Perekonomian,” kata Pri Agung.

Jika pemerintah konsisten dan mengacu pada putusan Mahkamah Konstitusi, seharusnya penetapan harga elpiji 12 kg dilakukan pemerintah, dalam hal ini adalah kementerian teknis terkait atau institusi yang ditetapkan dalam peraturan tertentu. Mahkamah Konstitusi telah mencabut Pasal 28 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi, yang menyatakan harga migas tidak boleh diserahkan kepada mekanisme pasar.

Dalam konteks elpiji 12 kg, aturan itu tidak jelas. Hal ini sama halnya dengan Pertamax dan bahan bakar minyak nonbersubsidi lain, yang juga menjadi rancu lantaran yang menetapkan harga adalah pelaku atau berdasarkan mekanisme pasar. ”Seharusnya, jika konsisten menjalankan putusan MK, maka pemerintah yang menetapkan harganya,” kata dia menegaskan.

Penetapan harga oleh pemerintah ini tidak hanya untuk elpiji 12 kg, tetapi juga untuk harga energi migas non-bersubsidi lain, seperti Pertamax dan sejenisnya. Karena itu, pemerintah perlu membuat aturan siapa yang berwenang menetapkan harganya dan bagaimana mekanismenya. Contohnya, harga gas yang dijual di dalam negeri melalui pipa jelas siapa yang mengatur dan menetapkan, yakni Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas, dan itu diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 19 Tahun 2009.

Secara terpisah, pengamat energi Fabby Tumiwa menyatakan, harga elpiji CP Aramco tidak tepat jika dijadikan acuan penetapan harga elpiji dan jadi perhitungan klaim kerugian, karena tidak semua elpiji diimpor.

”Yang diperlukan adalah transparansi biaya produksi elpiji Pertamina, sehingga pemerintah dan publik tidak dirugikan, baik harga jual elpiji maupun penetapan subsidi elpiji 3 kg,” ujarnya.

Pemerintah juga perlu membenahi tata niaga elpiji. Perbedaan harga di tingkat agen dan pengecer menunjukkan praktik tata niaga yang tidak sehat. ”Bisnis elpiji berada dalam situasi regulasi yang vakum. Jelas BPH Migas gagal, demikian juga Kementerian ESDM,” kata Fabby.

Sementara itu dari Ambon, Maluku, dilaporkan, meski harga elpiji 12 kg telah diturunkan, pembeli elpiji di Ambon dan Ternate tetap harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli tabung gas tersebut daripada pembeli elpiji di Jawa.

Di Pontianak, Kalimantan Barat, agen penjualan elpiji pada hari Selasa mulai menyesuaikan harga penjualan.

”Kami langsung menyesuaikan harga penjualan ke sub-agen. Kami tidak mau diberi sanksi Pertamina,” kata agen elpiji di Siantan, Pontianak Utara, Lili.

Di Palangkaraya, sejumlah agen di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, tetap menjual elpiji 12 kg dengan harga Rp 145.000 per tabung untuk persediaan elpiji lama, sedangkan untuk persediaan baru dengan harga Rp 111.500 per tabung. Adapun di tingkat pengecer, harga berkisar Rp 150.000-160.000 per tabung.

Hal itu masih terjadi meski PT Pertamina telah mengumumkan harga elpiji 12 kg per tabung di tingkat agen Rp 89.000 sampai Rp 120.100 mulai 7 Januari pukul 00.00.

Di Jayapura, Papua, PT Pertamina Region VIII yang beroperasi di area Maluku dan Papua menetapkan harga penjualan elpiji 12 kilogram di Jayapura sebesar Rp 223.000. Angka tersebut mengalami sedikit penurunan dari harga sebelumnya melonjak Rp 260.000.

Di Denpasar, Provinsi Bali, jajaran Kepolisian Daerah Bali memantau pendistribusian elpiji pasca-perubahan harga elpiji.

(EVY/ESA/FRN/APA/DKA/ FLO/HRS/JUM/DIA/COK/WIE/ ADH/EKI/UTI/REK/NIK/DRI/ EGI/ILO/ODY/SIR/ZAK/ETA/ NIT/ITA)

KOMENTAR
January 7, 2014

Ini Daftar Lengkap Harga Resmi Elpiji 12 Kg di Agen Seluruh Indonesia

 

silahkan dicek deh.. biasanya oleh agen dinaikan lagi..
 
Rista Rama Dhany - detikfinance
Selasa, 07/01/2014 11:40 WIB
 
 
Halaman 1 dari 2
 
 
 
http://images.detik.com/content/2014/01/07/1034/elpiji.jpg
Jakarta -PT Pertamina (Persero) sejak pukul 00.00 WIB hari ini memberlakukan harga baru elpiji 12 kg. Dari sebelumnya naik Rp 3.959/kg, menjadi hanya naik Rp 1.000/kg. Berapa harga resmi elpiji 12 kg di agen resmi elpiji Pertamina seluruh Indonesia?

Berdasarkan data Pertamina yang dikutip detikFinance, Selasa (7/1/2014), ini harga elpiji resmi dari Pertamina.

Region I 

  • Indrapuri – NAD Rp 95.800
  • Lhokseumawe – NAD Rp 92.100
  • Langsa Timur – NAD Rp 89.700
  • Tandem – Sumut Rp 90.700
  • Tg Morawa – Sumut Rp 90.700
  • Medan – Sumut Rp 90.700
  • Simalungun – Sumut Rp 92.000
  • Labuhan Batu Selatan – Sumut Rp 92.000
  • Padang – Sumbar Rp 96.800
  • Payakumbuh – Sumbar Rp 95.300
  • Dumai – Riau Rp 88.900
  • Pekanbaru – Riau Rp 91.600
  • Tg Uban – Kepri (tanpa PPN) Rp 95.100
  • Tg Uban – Kepri (dengan PPN) Rp 104.600
  • Batam – Kepri (tanpa PPN) Rp 100.600
  • Batam – Kepri (dengan PPN) Rp 110.700

Region II  

  • Jambi Rp 92.800
  • Palembang Rp 91.100
  • Lubuk Linggau – Sumsel Rp 93.700
  • Bengkulu – Bengkulu Rp 96.300
  • Lampung – Lampung Rp 88.900
  • Muntok – Babel Rp 105.900
  • Sungai Liat – Babel Rp 106.600

Region III 

  • Serang – Banten Rp 89.000
  • Jabodetabek Rp 90.500
  • Karawang – Jabar Rp 91.200
  • Sukabumi – Jabar Rp 90.700
  • Cianjur – Jabar Rp 91.800
  • Bandung Rp 91.300
  • Tasikmalaya Rp 92.300
  • Balongan – Jabar Rp 89.000

Region IV 

  • Cilacap – Jateng Rp 89.000
  • Semarang Rp 89.000
  • Demak Rp 89.000
  • Kudus Rp 89.400
  • Pemalang Rp 90.200
  • Tegal Rp 90.700
  • Solo Rp 90.600
  • Boyolali Rp 90.600
  • Sleman – DIY Rp 91.300
  • Bantul – DIY Rp 91.300

Ini Daftar Lengkap Harga Resmi Elpiji 12 Kg di Agen Seluruh Indonesia

Rista Rama Dhany - detikfinance
Selasa, 07/01/2014 11:40 WIB
 
 
Halaman 2 dari 2
 
 
  • Pamekasan – Jatim Rp 90.000
  • Surabaya Rp 89.300
  • Gresik – Jatim Rp 89.300
  • Sidoarjo – Jatim Rp 89.300
  • Pasuruan – Jatim Rp 89.700
  • Malang – Jatim Rp 90.000
  • Kediri – Jatim Rp 90.400
  • Tulungagung – Jatim Rp 90.900
  • Ngawi – Jatim Rp 91.700
  • Banyuwangi – Jatim Rp 92.800
  • Denpasar – Bali Rp 89.400
  • Lombok – NTB Rp 104.900

Region VI 

  • Pontianak – Kalbar Rp 101.400
  • Banjarmasin – Kalsel Rp 101.500
  • Balikpapan – Kaltim Rp 93.300
  • Samarinda – Kaltim Rp 94.700

Region VII 

  • Makassar Rp 91.900
  • Pare-pare – Sulsel Rp 93.900
  • Palu – Sulteng Rp 107.700
  • Kendari – Sulawesi Tenggara Rp 120.100
  • Gorontalo Rp 117.000
  • Bitung – Sulut Rp 118.300

Region VIII 

  • Sorong – Papua Rp 89.000
January 6, 2014

Dahlan Iskan: Kenaikan Elpiji 12 Kg, Pokoknya Semua Salah Saya

Liputan6.com
Oleh Pebrianto Eko Wicaksono
Posted: 05/01/2014 16:34
, Jakarta : Menteri Badan Usaha milik Negara (BUMN) Dahlan
Iskan mengaku siap bertanggung jawab atas kesimpangsiuran kenaikan harga
gas Elpiji non subsidi kemasan 12 Kilogram (Kg).
Pernyataan Dahlan tersebut disampaikan usai sejumlah jurnalis
mengkonfirmasi kebenaran tidak adanya koordinasi antara pemerintah dan
PT Pertamina (Persero) terkait keputusan kenaikan gas Elpiji 12 Kg.

Dahlan yang ditemui usai menghadiri rapat terbatas dengan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono bersama sejumlah menteri ekonomi dan direksi PT
Pertamina (Persero), tanpa basa-basi langsung menjawab dengan tegas
bahwa dirinya siap disalahkan atas kejadian tersebut.

“Kalau kenaikan, Pokoknya semua saya yang salah,” tegas Dahlan usai
menghadiri rapat terbatas, di Lapangan Udara Halim Perdanakusuma,
Jakarta, Minggu (5/1/2013).

Dugaan tak adanya koordinasi Pertamina dan pemerintah muncul setelah
Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengaku baru
mendapat laporan dari Pertamina yang memutuskan menaikkan harga gas
Elpiji 12 Kg.

“Makanya saya baru terima suratnya tadi, karena keputusan korporat,
aturanya seperti itu. Mestinya Pertamina ada pemerintahnya juga,” keluh
Jero.

Sementara itu, Menteri Kordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengakui
dirinya memang telah mendengar adanya rencana kenaikan harga Elpiji 12
Kg pada 31 Desember 2013 melalui saluran telepon. Sementara surat dari
Pertamina telah disampaikan tertanggal 30 Desember 2013.

Pertamina menyatakan keputusan kenaikan harga elpiji 12 Kg tersebut
dilakukan setelah adanya persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham
(RUPS) perusahaan.

“Ada surat keputusan, kenaikan ini lewat RUPS, seperti itu aksi
korporasi. Suratnya tanggal 30 (Desember 2013), saya tahu tanggal 31
(Desember 2013) melalui telepon,” ungkapnya.

Hatta mengakui, niat untuk menaikkan harga Elpiji 12 Kg memang sudah
muncul sejak tahun lalu. Namun rencana itu tertunda karena banyak
pertimbangan lain. “Pernah kan Oktober-November (rencana naik), tetapi
kenaikan ini tidak tepat waktunya. Waktu itu saya katakan dan itu
pandangan pribadi saya,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya
menginstruksikan Pertamina untuk meninjau ulang kebijakan kenaikan harga
Elpiji 12 Kg dalam 1×24 jam. SBY juga meminta menteri terkait dan
pimpinan Pertamina untuk berkonsultasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan
(BPK) terkait temuan potensi kerugian akibat penjualan Elpiji 12 Kg.
(Pew/Shd)

January 6, 2014

SBY Dianggap Cari Simpati di Harga Elpiji

Minggu, 05 Januari 2014 | 21:28 WIB

 

SBY Dianggap Cari Simpati di Harga Elpiji

Ilustrasi Tabung Gas Elpiji 12 Kilogram. ANTARA FOTO/Ismar Patrizki

 

TEMPO.CO, Jakarta – Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menuding upaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Pertamina meninjau ulang harga LPG 12 kilogram sebagai akal-akalan semata. Presiden dituding hanya berupaya mencari simpati rakyat belaka. “Ini seperti BBM-nya diturunkan jelang Pemilu yang lalu demi mengais simpati rakyat,” kata Hasto di Jakarta, Ahad, 5 Januari 2014.

Pada 2009 lalu, Pemerintah SBY memang pernah menurunkan harga BBM menjadi Rp 4.500. Keputusan itu hanya beberapa bulan jelang Pemilu 2009 dan dianggap sekadar pencitraan Partai Demokrat dan SBY. Dalam kasus LPG kali ini, Hasto menuding ada indikasi serupa.

Pasalnya, kata Hasto, aneh sekali sekelas Presiden SBY tak tahu ada rencana Pertamina untuk menaikkan harga gas LPG 12 kilogram. SBY baru membahasnya setelah Pertamina menaikkan harga. “Gas naik tanpa pemerintah tahu? Ya negara auto-pilot namanya ini,” kata Hasto.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf enggan menanggapi tudingan berbagai pihak terkait upaya Presiden meminta Pertamina meninjua penaikan harga LPG 12 kilogram. Namun Nurhayati mengakui SBY memang baru tahu ada kenaikan harga LPG setelah mendapat laporan dari anak buahnya.  “Kalau beliau tak dilapori, bagaimana bisa tahu?” kata Nurhayati.

Dalam rapat kabinet terbatas pagi tadi di pangkalan udara Halim Perdanakusuma, SBY meminta Pertamina bersama menteri terkait meninjau penaikan harga LPG 12 kilogram paling lambat 1×24 jam. Ketua Umum Demokrat sekaligus Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat itu menilai Pemerintah berhak meminta Pertamina meninjau kenaikan harga karena Pemerintah juga punya saham di Pertamina. (Baca: SBY Minta Pertamina Tinjau Kenaikan Harga Elpiji)

January 3, 2014

Pertamina Akan Beri Sanksi Penyalur Elpiji Nakal

KAMIS, 02 JANUARI 2014 | 20:14 WIB

Pertamina Akan Beri Sanksi Penyalur Elpiji Nakal

Gas elpiji 12 Kg. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

TEMPO.CO, Surabaya - Pertamina akan memberikan sanksi kepada agen penyalur yang menjual  elpiji di atas harga ketentuan. Sekarang ini, harga jual untuk tabung elpiji kemasan 12 kilogram yang berlaku di wilayah Jawa Timur berkisar Rp 122.800 hingga Rp 126.200.

Sanksi awal berupa surat peringatan. Jika tidak digubris, Pertamina akan melakukan pemotongan alokasi. “Kalau ada yang menjual di atas harga ketentuan, kami akan memberikan sanksi,” kata Assistant Manager External Marketing Operation Pertamina Region V, Heppy Wulansari, kepada Tempo, Kamis, 2 Januari 2013.

Menurut Heppy, harga tertinggi diberlakukan untuk Kabupaten Banyuwangi karena jaraknya paling jauh dari supply point.Sedangkan untuk Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Gresik, dan sekitarnya berada di kisaran terendah. Sebelumnya, harga elpiji 12 kilogram berada pada kisaran Rp 75.100 hingga Rp 78.600.

Seperti diketahui, PT Pertamina (Persero) akhirnya memutuskan menaikkan harga elpiji nonsubsidi kemasan 12 kilogram per 1 Januari 2014. Ini dilakukan menyusul tingginya harga pokok elpiji di pasar dan melemahnya nilai tukar rupiah yang menyebabkan Pertamina merugi.

Pada 2013, Pertamina mengklaim kerugian mencapai Rp 6 triliun. Karena itu, pihaknya mengurangi subsidi yang sebelumnya mencapai Rp 2.100 per kilogram atau Rp 25 ribu per tabung. Dengan demikian, ada kenaikan di tingkat konsumen sebesar Rp 3.959 per kilogram dari harga yang ditetapkan Oktober 2009, yaitu Rp 5.850 per kilogram. “Ini saja masih belum mencapai harga keekonomisan,” kata Heppy.

Setidaknya, kata Heppy, dengan kenaikan ini diharapkan bisa menekan kerugian hingga Rp 2 triliun pada 2014 ini. Besaran kenaikan di tingkat konsumen akan bervariasi berdasarkan jarak SPBE ke titik serah (supply point).

AGITA SUKMA LISTYANTI

KAMIS, 02 JANUARI 2014 | 12:12 WIB

Hatta: Harga Elpiji Itu Murni Kebijakan Korporat

Hatta: Harga Elpiji Itu Murni Kebijakan Korporat

Pekerja menata tabung gas Elpiji ukuran 12 kg di Jalan Merdeka, Kota Tangerang, Banten, Kamis (24/9). PT Pertamina (Persero) berencana menaikkan harga jual elpiji ukuran 12 kilogram secara bertahap sebesar Rp 100 per bulan, kenaikan tersebut dipicu o

TEMPO.COJakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan kenaikan gas elpiji ukuran 12 kilogram yang terjadi sejak awal tahun ini sepenuhnya merupakan kebijakan korporat. Oleh sebab itu, menurut dia, pemerintah tak bisa terlalu banyak mengintervensi.

Lebih jauh, Hatta menyebutkan, pemerintah hanya mampu mengintervensi harga elpiji subsidi. “Pemerintah tentu memiliki keinginan agar harga ditahan dulu, tapi rapat umum pemegang saham perusahaan yang berhak menentukan,” kata Hatta usai menghadiri pembukaan perdagangan awal tahun di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis, 2 Januari 2014.

Menurut Hatta, selain karena mekanisme perusahaan, kenaikan tersebut juga karena ada temuan Badan Pemeriksa Keuangan tentang kerugian karena harga produksinya di bawah harga pokok. “Kalau menyangkut subsidi, tentu pemeritah punya kewenangan bersama DPR.”

Pernyataan tersebut merespons langkah Pertamina menaikkan harga elpiji berukuran 12 kilogram dari Rp 72 ribu menjadi Rp 117 ribu per 1 Januari 2014. Menurut juru bicara Pertamina, Ali Mundakir, harga elpiji sebelum naik adalah Rp 5.850 per kilogram.

Harga yang berlaku sejak Oktober 2009 itu jauh di bawah harga pokok perolehan, yakni Rp 10.785. Akibat selisih tersebut, Pertamina menanggung rugi Rp 22 triliun selama enam tahun terakhir. Meski harga sudah dinaikkan, Pertamina mengklaim masih merugi Rp 2.100 per kilogram.

FAIZ NASHRILLAH

 

++++

Elpiji 12 Kg Naik Jadi Rp 120.000, Pertamina Klaim Masih Rugi Rp 2 Triliun

Rista Rama Dhany - detikfinance
Rabu, 01/01/2014 15:17 WIB
Halaman 1 dari 2

http://images.detik.com/content/2014/01/01/1034/lpg5.jpg
Jakarta -PT Pertamina (Persero) memberlakukan kenaikan harga gas elpiji 12 kg pada 1 Januari 2014 pukul 00.00 WIB dari Rp 70.200/tabung jadi Rp 117.708/tabung. Namun Pertamina mengaku masih akan rugi lebih dari Rp 2 triliun per tahun karena menjual gas elpiji 12 kg.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Ali Mundakir mengatakan harga gas elpiji sejak Oktober 2013 ditetapkan sebesar Rp 5.850 per kilo gram, sementara harga keekonomian dari gas elpiji kini telah mencapai Rp 10.785 per kilo.

“Secara serentak seluruh Indonesia sejak 1 Januari harga baru elpiji 12 kilo gram naik rata-rata Rp 3.959 per kilo (menjadi Rp 9.809 per kilo. Besaran kenaikan ditingkat konsumen akan bervariasi berdasarkan jarak SPBBE ke titik serah,” kata Ali dalam keterangan tertulisnya, Rabu (1/1/2014).

Ali mengungkapkan walaupun harga elpiji 12 kilo gram telah dinaikan namun Pertamina masih menderita kerugian sebesar Rp 2.100 per kilo gram.

“Dengan kenaikan ini pun, Pertamina masih ‘jual rugi’ kepada konsumen elpiji non subsidi kemasan 12 kg sebesar Rp 2.100 kg,” ungkapnya.

Pertamina sendiri mencarat konsumsi elpiji 12 kg pada 2013 mencapai 977.000 ton. Dengan harga pokok elpiji (harga keekonomian) rata-rata meningkat US$ 873 serta nilai tukar rupiah yang terus melemah, maka kerugian Pertamina sepanjang tahun ini diperkirakan mencapai lebih dari Rp 5,7 triliun.

“Kerugian tersebut timbul sebagai akibat dari harga jual elpiji non subsidi 12 kg yang masih jauh di bawah harga pokok perolehan,” ucapnya.Next

December 8, 2013

Pangkalan Gas Elpiji Perlu Ditelusuri

MINGGU, 08 DESEMBER 2013 | 05:53 WIB

Pangkalan Gas Elpiji Perlu Ditelusuri

Gas elpiji 3kg. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

 

TEMPO.CO Jakarta - Pasokan gas elpiji 3 kilogram mulai langka di pasaran. Menurut pantauan Tempo di sejumlah warung, toko, dan agen gas elpiji, stok gas sampai hari ini, 7 Desember 2013, tetap ada. Namun, jumlah pasokan berkurang hingga setengah dari jumlah pasokan biasanya. Sejumlah pedagang dari berbagai daerah mengeluh kesulitan mendapatkan gas elpiji 3 kilogram.

Ketua Umum Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Eri Purnomohadi mengatakan, dalam peristiwa kelangkaan gas elpiji 3 kilogram ini, pangkalanlah yang seharusnya ditelusuri, bukan agen. “Pangkalan yang seharusnya ditelusuri. Dia kontraknya berapa, per hari, minggu atau bulan. Lalu perlu dicari tahu juga apakah agen itu membayarkan tagihan sesuai jumlah tabung yang dipesan atau tidak,”kata Eri pada 7 Desember 2013 saat dihubungi Tempo.

Saat Tempo menyambangi pangkalan gas elpiji di Bintaro, Jakarta Selatan, pemilik pangkalan, David, 28 tahun, mengatakan tokonya mulai kekuragan pasokan gas elpiji 3 kilogram sejak Oktober 2013. “Dari setelah lebaran haji mulai kurang yang gas 3 kilo. Per haripesen 400 tabung, yang dateng cuma 200 tabung,” kata David kepada Tempo, Sabtu, 7 Desember 2013. David menuturkan, akibat kurangnya pasokan elpiji yang ia dapatkan dari agen, ia terpaksa menaikkan harga sejak pekan lalu. Gas elpiji 3 kilogram yang sebelumnya dijual dengan harga Rp 13.500 kini dijual Rp 14.000.

David mengatakan hal serupa juga terjadi pada gas elpiji 12 kilogram. Karena itu, ia harus menaikkan harga gas elpiji 12 kilogram dari Rp 85.000 menjadi Rp 95.000 sepekan yang lalu.

Menanggapi hal ini, Eri mengatakan ketidaksesuaian jumlah pesanan dengan jumlah gas elpiji yang datang kemungkinan karena pangkalan tidak membayar tagihan dengan lunas. “Pangkalan kemungkinan pembayarannya belum lunas. Misal dia minta dikirim 100 tabung tapi yang dibayarkan hanya 70 tabung. Memang enggak apa-apa, tapi utang numpuk. Tapi kan harus sesuai perjanjian,” kata Eri.

Eri berulang kali mengatakan bahwa dalam perkara ini, yang perlu disorot adalah pangkalan. Soalnya, kata dia, agen tidak akan menumpuk stok gas yang ada karena jelas dianggap tidak menguntungkan. Selain itu, mendapatkan pangkalan merupakan hal yang sulit bagi agen. Sebab, pangkalan mempunyai posisi tawar yang lebih tinggi.

APRILIANI GITA FITRIA

December 4, 2013

Harga Elpiji 12 Kilogram Naik

RABU, 04 DESEMBER 2013 | 18:04 WIB

 

Harga Elpiji 12 Kilogram Naik

Kelangkaan gas Elpiji. TEMPO/Prima Mulia

 

TEMPO.COJakarta - Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero), Hanung Budya, menyatakan mulai 1 Desember ini seluruh produk elpiji 12 kilogram akan dikenakan kenaikan harga. “Konsumen di Pulau Jawa akan kena tambahan beban biaya distribusi mulai Rp 300 hingga Rp 600 per kilogram, tergantung jarak tempuh distribusi,” kata Hanung ketika dijumpai di Gedung Pertamina, Rabu, 4 Desember 2013.

Secara total, untuk produk elpiji 12 kilogram akan ada kenaikan Rp 3.600 hingga Rp 7.200 per tabung. Sehingga, harga elpiji 12 kilogram yang semula Rp 85 ribu per tabung kini Rp 88.600 hingga Rp 92.200 per tabungnya.

Hanung menjelaskan, kenaikan harga elpiji terjadi karena ada pengalihan beban distribusi dari yang semula ditanggung oleh Pertamina kini diserahkan ke konsumen. Sebenarnya, pengalihan beban biaya tersebut sudah diterapkan oleh Pertamina di luar Pulau Jawa. “Contohnya di Papua. Di sana harga elpiji 12 kilogram bisa mencapai Rp 220 ribu per tabung.”

Namun, meski biaya distribusi sudah dialihkan kepada konsumen, Pertamina masih menanggung beban subsidi sebesar Rp 500 per kilogram untuk produk elpiji tabung besar ini. 

Jika dihitung, dialihkannya biaya distribusi kepada konsumen di Pulau Jawa hanya mengurangi beban kerugian Pertamina dari penjualan produk tersebut sebanyak Rp 30 miliar dari total kerugian yang mencapai Rp 6 triliun setiap tahunnya.

Hanung menyadari kenaikan harga ini berisiko membuat konsumen elpiji 12 kilogram beralih ke elpiji 3 kilogram. Sayangnya, Pertamina belum menyiapkan langkah antisipasi atas risiko tersebut, kecuali mengandalkan sosialisasi pada masyarakat untuk tidak menggunakan produk bersubsidi yang ditujukan untuk kalangan yang kurang mampu. “Semestinya kan mereka sadar sendiri. Pengguna elpiji 12 kilogram itu lebih banyak yang buat usaha, masak masih mau disubsidi,” kata Hanung.

GUSTIDHA BUDIARTIE 

 

November 29, 2013

Kenaikan Harga Gas Elpiji Tunggu Pemerintah

SELASA, 26 NOVEMBER 2013 | 12:33 WIB

 

Kenaikan Harga Gas Elpiji Tunggu Pemerintah

Tabung gas Elpiji. TEMPO/Aditia Noviansyah

 
 

 

 

TEMPO.COJakarta - PT Pertamina (Persero) menyatakan, pemerintah sudah menyadari perlunya kenaikan harga penjualan gas elpiji 12 kilogram. “Kenaikan itu pasti, tapi untuk timing belum tahu, apakah Januari tahun depan atau kapan,” kata Vice President LPG & Product Gas Pertamina, Gigih Wahyu Hari Irianto, kepadaTempo, Selasa, 26 November 2013.

Dia menjelaskan, Pertamina sampai sekarang belum menaikkan harga gas elpiji 12 kilogram karena berempati terhadap kondisi ekonomi makro. Meski demikian, Gigih mengungkapkan, Pertamina mengalami kerugian Rp 5.000-5.100 untuk setiap kilogram gas elpiji. “Kami mintanya harga dinaikkan Rp 2.500 per kilogram untuk mengurangi kerugian,” ujarnya.

Secara regulasi, semestinya kenaikan harga itu bisa diimplementasikan karena Pertamina tidak memerlukan izin dari pemerintah untuk melakukannya.

Sebelumnya, juru bicara Pertamina, Ali Mundakir, mengungkapkan bahwa tahun ini Pertamina masih menanggung rugi karena tidak menaikkan harga penjualan gas elpiji 12 kilogram. “Kami perkirakan masih sama dengan tahun lalu ruginya. Kita proyeksikan sekitar Rp 5 triliun rugi di 2013 untuk (penjualan) elpiji 12 kilogram,” kata dia.

Menurut dia, hingga saat ini, Pertamina belum memiliki rencana menaikkan harga elpiji 12 kilogram. “Sampai saat ini, belum ada rencana kenaikan dari Pertamina, belum ada,” kata Ali.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 75 other followers