Archive for ‘Elpiji watch’

September 21, 2014

Prediksi Pertamina soal migrasi elpiji dinilai manipulatif

6 jam lalu | Dibaca 4258 kaliOleh Hanny Sofia SoepardiPermintaan Elpiji 3 Kg. Pekerja menata tabung gas Elpiji 3 Kg di Depo SPBE Blabak Kediri, Jawa Timur, Jumat (12/9). Kenaikan harga elpiji 12 kilogram membuat permintaan pengisian gas Elpiji 3 Kg di Depo SPBE meningkat hingga 30 persen. PT Pertamina (Persero) telah mengantisipasi kemungkinan migrasi sementara para pengguna elpiji nonsubsidi tabung 12 kg ke 3 kg dengan menjalankan sistem monitoring elpiji tiga kg yang bisa mendeteksi secara dini penyalahgunaan penggunaan elpiji termasuk migrasi dan pengoplosan akibat disparitas harga 12 kg dan 3 kg. (ANTARA FOTO/Rudi Mulya) ()Jakarta (ANTARA News) – Pengamat Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES) Suroto menilai prediksi Pertamina soal migrasi elpiji dari 12 kg ke 3 kg yang diperkirakan hanya dua persen cenderung manipulatif.”Perkiraan Pertamina yang menyebutkan migrasi hanya akan terjadi sekitar 2 persen itu prediksi yang manipulatif,” kata Suroto di Jakarta, Minggu.Menurut dia fakta penetapan kenaikan harga elpiji 12 kg oleh Pertamina sangatlah memberatkan UKM hingga membuat mereka terpaksa bermigrasi ke gas 3 kg karena pertimbangan ongkos produksi.Ia berpendapat hal itu terjadi karena kenaikan itu mengakibatkan ongkos produksi menjadi tidak rasional lagi karena harganya bisa dua kali lipat dari gas subsidi 3 kg.”Kalau dihitung harga eceran gas 12 kg bisa sampai Rp125 ribu di tangan pembeli. Artinya jika dibandingkan dengan harga gas 3 kg yang bersubsidi yang harga ecerannya Rp17 ribu atau Rp68 ribu per 12 kg berarti selisihnya bisa sampai Rp57 ribu atau hampir dua kali lipat,” katanya.Suroto memantau hingga kini para pedagang kecil sudah mulai banyak yang migrasi dan keputusan ini juga merepotkan mereka karena di beberapa tempat persediaan gas 3 kg mulai sulit didapat. Menurut dia kenaikan harga gas 12 kg hanya berdampak pada UKM yang bahkan tidak dapat menaikkan harga jual barang mereka karena pelanggannya juga masyarakat kecil yang daya belinya terbatas.”Kebijakan ini adalah keliru besar karena mencoba untuk mengambil keuntungan dari selisih harga psikologis para pengusaha kecil yang tak mungkin akan mampu menaikkan harga jual mereka,” katanya.Ia meminta pemerintah untuk tidak selalu menyelesaikan masalah dengan menaikkan harga karena sebetulnya persoalan pokoknya justru menumpas mafia migas. “Mereka itu yang harus dibersihkan, jangan rakyat kecil yang jadi sasaran untuk menanggung beban,” katanya.Suroto menekankan pentingnya untuk menghentikan kebiasaan buruk menaikkan harga itu dan menyudahi orientasi ekonomi yang “trickle up”.Motivasi untuk mengejar target keuntungan bagi Pertamina yang dilandasi “profit oriented” kata dia juga harus dihentikan.”Keberadaan BUMN itu seharusnya memberikan daya dorong ekonomi kecil, bukan menghabisi mereka,” kata Suroto. (H016)Editor: B Kunto Wibisono

September 10, 2014

Di Cianjur, Beli Gas Elpiji 3 Kilogram Harus Inden

RABU, 10 SEPTEMBER 2014 | 16:47 WIB

Di Cianjur, Beli Gas Elpiji 3 Kilogram Harus Inden
Warga antre untuk membeli gas elpiji 12 kg di Bandung, Jawa Barat, (10/5). Mereka harus rela antre selama dua jam dan hanya boleh membeli paling banyak dua tabung. TEMPO/Prima Mulia

TEMPO.CO, Cianjur – Warga dan pedagang makanan di Desa Cibiuk, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mengeluhkan langkanya elpiji kemasan 3 kilogram sejak dua pekan terakhir. Kelangkaan ini disebabkan oleh terbatasnya pasokan gas bersubsidi tersebut dari tingkat agen ke pengecer. “Kalaupun ada harganya mencapai Rp 19 ribu hingga Rp 20 ribu per tabung. Itu pun harus inden dulu ke warung,” kata Neng Yayu, 38 tahun, warga Desa Cibiuk, Rabu, 10 September 2014.

Menurut dia, kondisi ini sangat menyulitkan para pengguna elpiji bersubsidi. Dia menduga kelangkaan ini disengaja lantaran pemerintah membatasi subsidi elpiji. “Jika memang kondisinya akan seperti ini, kenapa warga diharuskan memakai elpiji?” ucapnya.

Ujang Supri, 40 tahun, pemilik warung nasi, mengungkapkan, untuk mendapatkan elpiji kemasan 3 kilogram, dia kadang harus memesan dulu ke pengecer atau warung. Jika tidak begitu, dia tidak akan kebagian karena harus berebut dengan pembeli lain yang sudah memesan. “Kami harus menyimpan tabung di pengecer agar bisa mendapatkan jatah elpiji karena pasokannya terbatas dan jadwal pengirimannya juga tidak jelas,” kata Ujang.

Dalam sehari ia menghabiskan dua tabung elpiji ukuran 3 kilogram. Jika harga gas terus melonjak, dipastikan usaha warung nasinya terkena dampak. “Jika harganya naik terus, bagaimana saya mau berjualan?” katanya.

Kelangkaan gas melon tersebut itu dipicu rencana pemerintah menaikkan harga epliji 12 kilogram. Akibat munculnya rencana ini, banyak warga yang beralih menggunakan elpiji 3 kilogram, sehingga persediaan gas itu menjadi berkurang.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Cianjur, Judi Adi Nugroho, mengatakan kebutuhan atau penyerapan elpiji 12 kilogram di Kabupaten Cianjur rata-rata 16 ribu tabung per bulan. Adapun agen elpiji 12 kilogram di sini hanya ada dua, yakni PT Mekar Leo dan PT Tenaga Dian. “Di Kabupaten Cianjur, penyerapannya sebanyak 16 ribu per bulan,” katanya.

Sales Representative PT Pertamina Jawa Barat, Aria, mengatakan kebutuhan elpiji 12 kilogram di Cianjur diperkirakan 25 ribu tabung per bulan. Di kabupaten ini, dia melanjutkan, sudah ada penggantian elpiji bright gas dan ease gas.

“Penggantian itu tabungnya lebih menarik lebih dan bagus warna tabungnya, juga lebih bagus. Tujuannya untuk menarik konsumen supaya menggunakan elpiji yang subsidinya lebih kecil. Bright gas (12 kilogram) di kisaran harga Rp 115 ribu per tabung dan ease gas (9 kilogram) Rp 95 ribu per tabung,” ucapnya.

DEDEN ABDUL AZIZ

September 10, 2014

Harga Elpiji 12 Kg Naik, Pertamina Klaim Masih Alami Kerugian

Wednesday, September 10, 2014       11:48 WIB

– Walau harga elpiji 12 kg sudah dinaikan Rp1.500 per kg, PT Pertamina Persero mengaku masih rugi. Karena harga tersebut masih di bawah harga keekonomian.Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Hanung Budya mengatakan, saat ini harga elpiji 12 kg berada di kisaran Rp7.569 per kg. Sedangkan harga keekonomian elpiji di kisaran Rp15.100 per kg. Dengan begitu Pertamina masih menombok kekurangan tersebut.

“Berdasarkan rata-rata CP Aramco y-o-y Juni 2014 sebesar US$891,78 per metric ton dan kurs Rp11.453 per US$ ditambah komponen biaya seperti di atas maka harga keekonomian elpiji 12 kg saat ini seharusnya Rp15.100 per kg atau Rp181.400 per tabung,” ujar Hanung di Jakarta, Rabu (10/9).

Sebagaimana diketahui, Pertamina telah memutuskan untuk menaikkan harga elpiji nonsubsidi 12 kg pada hari ini, Rabu (10/9) mulai Pukul 00.00 waktu setempat. Kebijakan korporasi ini ditetapkan setelah mendengar masukkan pemerintah dalam rapat di Kementerian perekonomian 8 September 2014 lalu.

Dengan adanya penyesuaian harga tersebut, kerugian Pertamina di 2014 dalam penjualan elpiji 12 kg sebesar Rp452 miliar sehingga total rugi menjadi Rp5,7 triliun dari prognosa semula Rp6,1 triliun dengan proyeksi tingkat konsumsi elpiji 12 kg mencapai 907.000 metric ton.

Saat ini, harga jual rata elpiji 12 kg net dari Pertamina menjadi Rp7.569 per kg dari sebelumnya Rp6.069 per kg. Apabila ditambahkan dengan komponen biaya lainnya, seperti transport, filing fee, margin agen dan PPN, maka harga jual di agen menjadi Rp9.519 per kg atau Rp114.300 per tabung dari sebelumnya Rp7.731 per kg atau Rp92.800 per tabung.

“Kerguian ini masih melebihi proyeksi RKAP 2014 sebesar Rp5,4 triliun yang dipatok pada asumsi CP Aramco sebesar US$833 per metric ton dan kurs
Rp10.500 per US$,” ujar Hanung.

(Rifai/mk)

August 22, 2014

Harga Elpiji Tabung Melon Tembus Rp 26 Ribu

HomeBisnisBisnis
JUM’AT, 22 AGUSTUS 2014 | 18:43 WIB

Truk berisi tabung gas 3 Kg yang dibagikan secara gratis oleh Pertamina kepada warga korban banjir di jalan Jatinegara Barat, Jakarta (20/1). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

Berita Terkait
Chairul Tanjung: Harga Elpiji Belum Tentu Naik
Agen Gas Nakal Terancam Diberi Sanksi
Kenaikan Harga Elpiji Dongkrak Inflasi 0,5 Persen
Elpiji Naik, Wagub Bali Anggap Wajar
Wakil Menkeu Minta Pertamina Kawal Harga Elpiji
Foto Terkait

Presiden SBY Minta Kenaikan Harga Elpiji Ditinjau Lagi
Video Terkait

Langka, Harga Gas 3kg Meroket
Topik
#Harga Gas
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Majalengka – Gas elpiji 3 kilogram di Kabupaten Majalengka sulit didapatkan dalam sepekan terakhir. Kalaupun ada, di pedesaan harganya tembus sampai Rp 26 ribu per tabung.

“Seharian ini saya mencari tabung elpiji 3 kilogram, sudah lebih dari 10 toko, kios dan pengecer yang saya datangi,” kata Ade Nurjanah, warga Kelurahan/Kecamatan Majalengka, Jumat, 22 Agustus 2014. “Tapi habis semua. Stoknya kosong.”

Ade mengungkapkan dirinya memiliki 2 tabung elpiji 3 kg. Satu tabung sudah kosong. “Sedangkan tabung satunya sudah 3 hari dipakai,” kata Ade. Ini berarti tabung tersebut umurnya tinggal 3 atau 4 hari lagi. “Kalau belum dapat juga, bisa-bisa saya tidak masak,” kata Ade. (Baca: Harga Elpiji 12 Kg Naik, Gas Melon Bakal Diserbu)

Sedangkan seorang pengecer elpiji 3 kg di Kelurahan Majalengka Kulon, Kecamatan Majalengka, Yuli, mengaku jika pasokan elpiji 3 kg terus menurun sejak sepekan ini. “Normalnya saya dapat pasokan 10 hingga 15 tabung elpiji 3 kg setiap harinya,” kata Yuli. Namun selama sepekan ini pasokan elpiji terus berkurang menjadi hanya 5 tabung setiap hari. Bahkan hari ini Yuli mengaku hanya mendapatkan kiriman elpiji 3 kg sebanyak 3 tabung. (Baca: Harga Akan Naik, Elpiji Mulai Langka di Pasaran)

Tidak hanya di perkotaan, kesulitan mendapatkan elpiji 3 kg pun terjadi di daerah pedesaan di Kabupaten Majalengka. Termasuk di Desa Cipendeuy, Kecamatan Bantarujeg, Kabupaten Majalengka. “Harga elpiji 3 kg di desa kami sudah mencapai Rp 26 ribu per tabung,” kata Budi. (Baca: ESDM Akui Gas Melon Laris Bila LPG Naik)

Padahal biasanya paling mahal harga elpiji 3 kg hanya berkisar antara Rp 18 ribu-20 ribu per kg. “Sudah mahal, dapatnya sulit lagi,” kata Budi. Karena tidak ada pilihan lain lagi, akhirnya Budi mengaku keluarganya kini menggunakan kayu bakar untuk memasak.

IVANSYAH

February 13, 2014

Lagi, Elpiji 3 Kilogram Langka di Surakarta

Selasa, 11 Februari 2014 | 18:39 WIB

Lagi, Elpiji 3 Kilogram Langka di Surakarta  

Pekerja menyiapkan tabung gas elpiji 3 kg untuk diisi di Pertamina Unit Pemasaran III Depot Ujung Berung, Bandung, Jawa Barat, Rabu (8/1). TEMPO/Prima Mulia

 

TEMPO.CO, Surakarta – Sejak seminggu lalu, warga Surakarta kesulitan mendapatkan elpiji kemasan tiga kilogram. Maryanto, pedagang pengecer elpiji di Kelurahan Gandekan, Kecamatan Jebres, Surakarta, mengatakan jika biasanya dia mendapat kiriman sehari sekali, kini gas datang dua-tiga hari sekali. Jumlahnya pun dikurangi.

 

“Biasanya dapat jatah 12-18 tabung sekali kiriman, kini berkurang separuhnya,” kata Maryanto, Selasa, 11 Februari 2014. Karena kiriman tidak datang tiap hari, stok elpiji di tempatnya pun kerap kosong. Dampaknya, harga elpiji naik menjadi Rp 15.500 per tabung.

Pedagang pengecer di Kelurahan Joyosuran, Kecamatan Pasarkliwon, Mursito, menyatakan hal serupa. Sejak akhir Januari dia kesulitan mendapatkan elpiji kemasan tiga kilogram. Kitiman gas melon yang biasanya datang sekali tiap hari menjadi dua kali seminggu dengan jumlah terbatas. “Hanya dijatah sepuluh tabung. Sejam langsung habis,” katanya.

Karena kelangkaan pasokan, tidak sedikit warga yang sengaja memberi uang kepada Mursito lebih dahulu agar mendapat jatah. “Banyak pelanggan saya yang kecewa karena kehabisan elpiji,” ucapnya. Dia akhirnya membeli dari pemasok seharga Rp 15 ribu per tabung dan menjualnya Rp 16 ribu per tabung.

Pengecer lain, di Desa Gambiran, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, juga mengalami hal yang sama. Karena gas langka, harga pun naik. Apalagi harga jual dari pangkalan juga naik.

Salah seorang pengelola pangkalan elpiji kemasan tiga kilogram di Jebres mengatakan akhir-akhir ini permintaan masyarakat meningkat. Setiap kali elpiji dipasok ke pangkalan, dalam waktu setengah jam habis diborong masyarakat. “Sebelumnya, seharian baru habis,” kata pengelola pangkalan yang enggan disebutkan namanya ini.

Lantaran permintaan begitu banyak, meski kuota sudah ditambah dari 50 menjadi 80 tabung per hari, elpiji tetap ludes terjual. Dia tidak tahu penyebab meningkatnya permintaan masyarakat. Agar penjualan merata, dia tidak melayani masyarakat yang membeli dengan keranjang. Sebab dia khawatir gas tersebut dijual lagi ke konsumen akhir dengan harga yang lebih mahal. “Kami menjual Rp 14 ribu per tabung. Sasaran kami konsumen akhir,” ucapnya.

 

Sebelumnya, kelangkan gas rumah tangga bersubsidi terjadi di Surakarta akhir tahun lalu. Harga pun sempat melonjak mencapai Rp 17 ribu per kilogram. (Baca: Elpiji 3 Kilogram Langka di Surakarta).

 

UKKY PRIMARTANTYO

February 12, 2014

Harga Elpiji 12 Kg Naik Rp 1.000/Kg, Pertamina Tetap Rugi Rp 6 Triliun

Rista Rama Dhany – detikfinance
Rabu, 12/02/2014 12:51 WIB

http://images.detik.com/content/2014/02/12/1034/125313_elpiji3202.jpg
Batam -PT Pertamina (Persero) mengaku akan rugi Rp 6 triliun tahun ini, dari bisnis penjualan gas elpiji 12 Kg. Alasannya kenaikan harga elpiji 12 Kg yang hanya Rp 1.000 per Kg tak signifikan karena perseroan masih menjual rugi.

“Tahun kita perkirakan akan rugi Rp 6 triliun dari bisnis elpiji 12 Kg,” ujar Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina, Hanung Budya, ditemui disela-sela groundbreaking dan Peresmian Proyek-Proyek Investasi Direktorat Pemasaran dan Niaga, Pulau Sambu, Kepulauan Riau, Rabu (12/2/2014).

Hal ini karena elpiji 12 Kg hanya naik Rp 1.000 per Kg, membuat Pertamina masih memberikan subsidi cukup besar dalam setiap Kg elpiji 12 Kg.

“Karena naiknya cuma Rp 1.000, ini kerugian yang sia-sia bagi Pertamina,” tegas Hanung.

Pada 2013 Pertamina menderita kerugian Rp 5,6 triliun dari bisnis elpiji 12 kg. “Tahun 2013 saja kita sudah rugi Rp 5,6 triliun,” tutupnya.

January 8, 2014

Penetapan Harga Tidak Jelas

 

Koordinasi buruk awalnya adalah kabinet SBY yang buruk. Penyusunan kabinet Pembangunan I-II macam dagelan di Cikeas, hasilnya tidak tertolong lagi. Percuma saja SBY didampingi oleh Kuntoro M, sebagai evaluator kinerja menteri, ketika  menteri yang kinerjanya super buruk tapi berasal dari Partai Politik tertentu, tidak dipecat. Lihat saja menteri  Koordinasi EKUIN (PAN),Pertanian (PKS), Kominfo (PKS), Kelautan (GOlkar), dan ESDM (Demokrat) yang sibuk sendiri sendiri. Satu sibuk ngurus partai, yang satu sibuk fundraising buat partai dan dompet pribadi, yang satu lagi sibuk pencitraan. Gimana mau koordinasi jika penghuni kabinet Pembangunan , macam pemain ketoprak yang tidak lucu. 

 

Koordinasi soal Kenaikan Harga Elpiji 12 Kilogram Buruk

 

 

 

 
JAKARTA, KOMPAS — Polemik harga elpiji non- bersubsidi 12 kilogram sepekan terakhir ini menunjukkan koordinasi di dalam pemerintahan tidak berjalan dengan baik. Hal ini sebagai dampak ketidakjelasan aturan main mengenai siapa yang berwenang menetapkan harga elpiji non-bersubsidi itu.

Menurut Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Ekonomi Pertambangan dan Energi (ReforMiner Institute) Pri Agung Rakhmanto, Selasa (7/1), di Jakarta, mekanisme penetapan harga elpiji masih belum jelas. Hal ini berpotensi kembali menimbulkan polemik setiap kali harga elpiji 12 kg akan naik.

Kalau keputusan kenaikan harga elpiji 12 kg itu diambil saat rapat umum pemegang saham, dan Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan tahu tetapi tidak atau belum melaporkannya kepada Presiden RI, hal itu mungkin terjadi. ”Itu artinya, koordinasi antarpemerintah tak berjalan dengan baik,” ujarnya.

Namun, hal seperti itu memang bisa terjadi karena aturan main menyangkut siapa yang berwenang menetapkan harga elpiji 12 kg tidak jelas, apakah pemerintah atau PT Pertamina (Persero). ”Jika pemerintah, siapa itu, apakah Presiden, Menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral), Menteri BUMN, atau Menteri Koordinator Perekonomian,” kata Pri Agung.

Jika pemerintah konsisten dan mengacu pada putusan Mahkamah Konstitusi, seharusnya penetapan harga elpiji 12 kg dilakukan pemerintah, dalam hal ini adalah kementerian teknis terkait atau institusi yang ditetapkan dalam peraturan tertentu. Mahkamah Konstitusi telah mencabut Pasal 28 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi, yang menyatakan harga migas tidak boleh diserahkan kepada mekanisme pasar.

Dalam konteks elpiji 12 kg, aturan itu tidak jelas. Hal ini sama halnya dengan Pertamax dan bahan bakar minyak nonbersubsidi lain, yang juga menjadi rancu lantaran yang menetapkan harga adalah pelaku atau berdasarkan mekanisme pasar. ”Seharusnya, jika konsisten menjalankan putusan MK, maka pemerintah yang menetapkan harganya,” kata dia menegaskan.

Penetapan harga oleh pemerintah ini tidak hanya untuk elpiji 12 kg, tetapi juga untuk harga energi migas non-bersubsidi lain, seperti Pertamax dan sejenisnya. Karena itu, pemerintah perlu membuat aturan siapa yang berwenang menetapkan harganya dan bagaimana mekanismenya. Contohnya, harga gas yang dijual di dalam negeri melalui pipa jelas siapa yang mengatur dan menetapkan, yakni Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas, dan itu diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 19 Tahun 2009.

Secara terpisah, pengamat energi Fabby Tumiwa menyatakan, harga elpiji CP Aramco tidak tepat jika dijadikan acuan penetapan harga elpiji dan jadi perhitungan klaim kerugian, karena tidak semua elpiji diimpor.

”Yang diperlukan adalah transparansi biaya produksi elpiji Pertamina, sehingga pemerintah dan publik tidak dirugikan, baik harga jual elpiji maupun penetapan subsidi elpiji 3 kg,” ujarnya.

Pemerintah juga perlu membenahi tata niaga elpiji. Perbedaan harga di tingkat agen dan pengecer menunjukkan praktik tata niaga yang tidak sehat. ”Bisnis elpiji berada dalam situasi regulasi yang vakum. Jelas BPH Migas gagal, demikian juga Kementerian ESDM,” kata Fabby.

Sementara itu dari Ambon, Maluku, dilaporkan, meski harga elpiji 12 kg telah diturunkan, pembeli elpiji di Ambon dan Ternate tetap harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli tabung gas tersebut daripada pembeli elpiji di Jawa.

Di Pontianak, Kalimantan Barat, agen penjualan elpiji pada hari Selasa mulai menyesuaikan harga penjualan.

”Kami langsung menyesuaikan harga penjualan ke sub-agen. Kami tidak mau diberi sanksi Pertamina,” kata agen elpiji di Siantan, Pontianak Utara, Lili.

Di Palangkaraya, sejumlah agen di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, tetap menjual elpiji 12 kg dengan harga Rp 145.000 per tabung untuk persediaan elpiji lama, sedangkan untuk persediaan baru dengan harga Rp 111.500 per tabung. Adapun di tingkat pengecer, harga berkisar Rp 150.000-160.000 per tabung.

Hal itu masih terjadi meski PT Pertamina telah mengumumkan harga elpiji 12 kg per tabung di tingkat agen Rp 89.000 sampai Rp 120.100 mulai 7 Januari pukul 00.00.

Di Jayapura, Papua, PT Pertamina Region VIII yang beroperasi di area Maluku dan Papua menetapkan harga penjualan elpiji 12 kilogram di Jayapura sebesar Rp 223.000. Angka tersebut mengalami sedikit penurunan dari harga sebelumnya melonjak Rp 260.000.

Di Denpasar, Provinsi Bali, jajaran Kepolisian Daerah Bali memantau pendistribusian elpiji pasca-perubahan harga elpiji.

(EVY/ESA/FRN/APA/DKA/ FLO/HRS/JUM/DIA/COK/WIE/ ADH/EKI/UTI/REK/NIK/DRI/ EGI/ILO/ODY/SIR/ZAK/ETA/ NIT/ITA)

KOMENTAR
January 7, 2014

Ini Daftar Lengkap Harga Resmi Elpiji 12 Kg di Agen Seluruh Indonesia

 

silahkan dicek deh.. biasanya oleh agen dinaikan lagi..
 
Rista Rama Dhany – detikfinance
Selasa, 07/01/2014 11:40 WIB
 
 
Halaman 1 dari 2
 
 
 
http://images.detik.com/content/2014/01/07/1034/elpiji.jpg
Jakarta -PT Pertamina (Persero) sejak pukul 00.00 WIB hari ini memberlakukan harga baru elpiji 12 kg. Dari sebelumnya naik Rp 3.959/kg, menjadi hanya naik Rp 1.000/kg. Berapa harga resmi elpiji 12 kg di agen resmi elpiji Pertamina seluruh Indonesia?

Berdasarkan data Pertamina yang dikutip detikFinance, Selasa (7/1/2014), ini harga elpiji resmi dari Pertamina.

Region I 

  • Indrapuri – NAD Rp 95.800
  • Lhokseumawe – NAD Rp 92.100
  • Langsa Timur – NAD Rp 89.700
  • Tandem – Sumut Rp 90.700
  • Tg Morawa – Sumut Rp 90.700
  • Medan – Sumut Rp 90.700
  • Simalungun – Sumut Rp 92.000
  • Labuhan Batu Selatan – Sumut Rp 92.000
  • Padang – Sumbar Rp 96.800
  • Payakumbuh – Sumbar Rp 95.300
  • Dumai – Riau Rp 88.900
  • Pekanbaru – Riau Rp 91.600
  • Tg Uban – Kepri (tanpa PPN) Rp 95.100
  • Tg Uban – Kepri (dengan PPN) Rp 104.600
  • Batam – Kepri (tanpa PPN) Rp 100.600
  • Batam – Kepri (dengan PPN) Rp 110.700

Region II  

  • Jambi Rp 92.800
  • Palembang Rp 91.100
  • Lubuk Linggau – Sumsel Rp 93.700
  • Bengkulu – Bengkulu Rp 96.300
  • Lampung – Lampung Rp 88.900
  • Muntok – Babel Rp 105.900
  • Sungai Liat – Babel Rp 106.600

Region III 

  • Serang – Banten Rp 89.000
  • Jabodetabek Rp 90.500
  • Karawang – Jabar Rp 91.200
  • Sukabumi – Jabar Rp 90.700
  • Cianjur – Jabar Rp 91.800
  • Bandung Rp 91.300
  • Tasikmalaya Rp 92.300
  • Balongan – Jabar Rp 89.000

Region IV 

  • Cilacap – Jateng Rp 89.000
  • Semarang Rp 89.000
  • Demak Rp 89.000
  • Kudus Rp 89.400
  • Pemalang Rp 90.200
  • Tegal Rp 90.700
  • Solo Rp 90.600
  • Boyolali Rp 90.600
  • Sleman – DIY Rp 91.300
  • Bantul – DIY Rp 91.300

Ini Daftar Lengkap Harga Resmi Elpiji 12 Kg di Agen Seluruh Indonesia

Rista Rama Dhany – detikfinance
Selasa, 07/01/2014 11:40 WIB
 
 
Halaman 2 dari 2
 
 
  • Pamekasan – Jatim Rp 90.000
  • Surabaya Rp 89.300
  • Gresik – Jatim Rp 89.300
  • Sidoarjo – Jatim Rp 89.300
  • Pasuruan – Jatim Rp 89.700
  • Malang – Jatim Rp 90.000
  • Kediri – Jatim Rp 90.400
  • Tulungagung – Jatim Rp 90.900
  • Ngawi – Jatim Rp 91.700
  • Banyuwangi – Jatim Rp 92.800
  • Denpasar – Bali Rp 89.400
  • Lombok – NTB Rp 104.900

Region VI 

  • Pontianak – Kalbar Rp 101.400
  • Banjarmasin – Kalsel Rp 101.500
  • Balikpapan – Kaltim Rp 93.300
  • Samarinda – Kaltim Rp 94.700

Region VII 

  • Makassar Rp 91.900
  • Pare-pare – Sulsel Rp 93.900
  • Palu – Sulteng Rp 107.700
  • Kendari – Sulawesi Tenggara Rp 120.100
  • Gorontalo Rp 117.000
  • Bitung – Sulut Rp 118.300

Region VIII 

  • Sorong – Papua Rp 89.000
January 6, 2014

Dahlan Iskan: Kenaikan Elpiji 12 Kg, Pokoknya Semua Salah Saya

Liputan6.com
Oleh Pebrianto Eko Wicaksono
Posted: 05/01/2014 16:34
, Jakarta : Menteri Badan Usaha milik Negara (BUMN) Dahlan
Iskan mengaku siap bertanggung jawab atas kesimpangsiuran kenaikan harga
gas Elpiji non subsidi kemasan 12 Kilogram (Kg).
Pernyataan Dahlan tersebut disampaikan usai sejumlah jurnalis
mengkonfirmasi kebenaran tidak adanya koordinasi antara pemerintah dan
PT Pertamina (Persero) terkait keputusan kenaikan gas Elpiji 12 Kg.

Dahlan yang ditemui usai menghadiri rapat terbatas dengan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono bersama sejumlah menteri ekonomi dan direksi PT
Pertamina (Persero), tanpa basa-basi langsung menjawab dengan tegas
bahwa dirinya siap disalahkan atas kejadian tersebut.

“Kalau kenaikan, Pokoknya semua saya yang salah,” tegas Dahlan usai
menghadiri rapat terbatas, di Lapangan Udara Halim Perdanakusuma,
Jakarta, Minggu (5/1/2013).

Dugaan tak adanya koordinasi Pertamina dan pemerintah muncul setelah
Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengaku baru
mendapat laporan dari Pertamina yang memutuskan menaikkan harga gas
Elpiji 12 Kg.

“Makanya saya baru terima suratnya tadi, karena keputusan korporat,
aturanya seperti itu. Mestinya Pertamina ada pemerintahnya juga,” keluh
Jero.

Sementara itu, Menteri Kordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengakui
dirinya memang telah mendengar adanya rencana kenaikan harga Elpiji 12
Kg pada 31 Desember 2013 melalui saluran telepon. Sementara surat dari
Pertamina telah disampaikan tertanggal 30 Desember 2013.

Pertamina menyatakan keputusan kenaikan harga elpiji 12 Kg tersebut
dilakukan setelah adanya persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham
(RUPS) perusahaan.

“Ada surat keputusan, kenaikan ini lewat RUPS, seperti itu aksi
korporasi. Suratnya tanggal 30 (Desember 2013), saya tahu tanggal 31
(Desember 2013) melalui telepon,” ungkapnya.

Hatta mengakui, niat untuk menaikkan harga Elpiji 12 Kg memang sudah
muncul sejak tahun lalu. Namun rencana itu tertunda karena banyak
pertimbangan lain. “Pernah kan Oktober-November (rencana naik), tetapi
kenaikan ini tidak tepat waktunya. Waktu itu saya katakan dan itu
pandangan pribadi saya,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya
menginstruksikan Pertamina untuk meninjau ulang kebijakan kenaikan harga
Elpiji 12 Kg dalam 1×24 jam. SBY juga meminta menteri terkait dan
pimpinan Pertamina untuk berkonsultasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan
(BPK) terkait temuan potensi kerugian akibat penjualan Elpiji 12 Kg.
(Pew/Shd)

January 6, 2014

SBY Dianggap Cari Simpati di Harga Elpiji

Minggu, 05 Januari 2014 | 21:28 WIB

 

SBY Dianggap Cari Simpati di Harga Elpiji

Ilustrasi Tabung Gas Elpiji 12 Kilogram. ANTARA FOTO/Ismar Patrizki

 

TEMPO.CO, Jakarta – Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menuding upaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Pertamina meninjau ulang harga LPG 12 kilogram sebagai akal-akalan semata. Presiden dituding hanya berupaya mencari simpati rakyat belaka. “Ini seperti BBM-nya diturunkan jelang Pemilu yang lalu demi mengais simpati rakyat,” kata Hasto di Jakarta, Ahad, 5 Januari 2014.

Pada 2009 lalu, Pemerintah SBY memang pernah menurunkan harga BBM menjadi Rp 4.500. Keputusan itu hanya beberapa bulan jelang Pemilu 2009 dan dianggap sekadar pencitraan Partai Demokrat dan SBY. Dalam kasus LPG kali ini, Hasto menuding ada indikasi serupa.

Pasalnya, kata Hasto, aneh sekali sekelas Presiden SBY tak tahu ada rencana Pertamina untuk menaikkan harga gas LPG 12 kilogram. SBY baru membahasnya setelah Pertamina menaikkan harga. “Gas naik tanpa pemerintah tahu? Ya negara auto-pilot namanya ini,” kata Hasto.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf enggan menanggapi tudingan berbagai pihak terkait upaya Presiden meminta Pertamina meninjua penaikan harga LPG 12 kilogram. Namun Nurhayati mengakui SBY memang baru tahu ada kenaikan harga LPG setelah mendapat laporan dari anak buahnya.  “Kalau beliau tak dilapori, bagaimana bisa tahu?” kata Nurhayati.

Dalam rapat kabinet terbatas pagi tadi di pangkalan udara Halim Perdanakusuma, SBY meminta Pertamina bersama menteri terkait meninjau penaikan harga LPG 12 kilogram paling lambat 1×24 jam. Ketua Umum Demokrat sekaligus Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat itu menilai Pemerintah berhak meminta Pertamina meninjau kenaikan harga karena Pemerintah juga punya saham di Pertamina. (Baca: SBY Minta Pertamina Tinjau Kenaikan Harga Elpiji)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 81 other followers