Archive for ‘Pertamina’

May 27, 2012

Anggota DPR: Pertamina Harus Akui Banyak Penyelundupan BBM

Anggota DPR: Pertamina Harus Akui Banyak Penyelundupan BBM
Ramdhania El Hida – detikfinance
Minggu, 27/05/2012 17:19 WIB

Jakarta – Anggota Komisi VII DPR RI Satya W Yudha menengarai banyak terjadi penyelundupan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Hal ini bisa terlihat banyaknya pedagang eceran di sekitar SPBU yang justru menjual BBM ini melebihi harga normalnya sebesar Rp 4.500 per liter.

“Kita lihat panjangnya antrian di Sumatera Selatan sewaktu datang ke sana, Premium sudah habis, masyarakat dapat dari pengecer dengan harga yang lebih tinggi. Ini kan tandanya ada indikasi penyelundupan dan penimbunan. Jadi ada kendaraan yang mengambil dalam jumlah besar lalu dijual dengan harga yang lebih tinggi, pengecer ini banyak di sekitar SPBU ini,” ujarnya kepada detikFinance, Minggu (27/5/2012).

Menurut Satya, sampai saat ini belum ada data-data mengenai kuota BBM yang dijual di atas harga Premium. Pertamina, lanjutnya, menyatakan habisnya BBM bersubsidi di beberapa SPBU disebabkan karena pertumbuhan kendaraan.

“Kita sudah minta supaya mereka (Pertamina) melakukan perhitungan, cuma mereka tidak mau mengakui itu. Kalau ada kehabisan BBM Pertamina menyatakan karena perkembangan dari kendaraan, alasan jumlah kendaraan, dia tidak mau mengakui yang dijual di atas harga subsidi itu banyak,” tegasnya.

Padahal, Satya menyatakan Pertamina harus mengakui bahwa jumlah para pengecer banyak dan sering dijumpai di jalan. Para penyelundup ini bahkan bisa meraup keuntungan yang sangat besar.

“Cara menghitungnya gampang, 1 juta kilo liter yang dijual dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.500, dia dapat 2 ribu dikalin 1 juta, itu bisa dapat Rp 2 triliun,” ujarnya.

Untuk itu, Satya mengharapkan pemerintah dan semua pihak yang terkait turut memlaporkan tindakan tersebut. Pasalnya, BBM subsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat bisa jatuh kepada pihak-pihak yang hanya mengutamakan keuntungan pribadinya.

“Saya meminta kepada pemerintah dan seluruhnya juga DPR RI untuk mulai menghitung berapa volume yang di atas subsidi ini karena selama ini kita tidak punya angka pastinya,” pungkasnya.

(nia/dru)

May 24, 2012

Pertamina Menata Penyalur

Kamis,
24 Mei 2012
ELPIJI BERSUBSIDI
Pertamina Menata Penyalur
Jakarta, kompas – PT Pertamina (Persero) menata keberadaan lembaga penyalur elpiji di wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Kalimantan Barat. Hal itu dilakukan dengan mendata ulang pangkalan dan kemampuannya dalam menyalurkan elpiji 3 kilogram kepada masyarakat. Pendataan ulang tersebut menggunakan referensi data pangkalan terdaftar dan dilaporkan para agen elpiji.

Hasto Wibowo, General Manager Pemasaran Ritel Bahan Bakar Minyak Region III PT Pertamina, sekaligus Koordinator Pemasaran Jawa Bagian Barat, Rabu (23/5), di Jakarta, menjelaskan, pendataan itu dilakukan untuk menyesuaikan alokasi elpiji 3 kilogram yang ditentukan pemerintah. ”Ini untuk melindungi konsumen dari penyelewengan elpiji 3 kilogram yang merupakan bahan bakar bersubsidi,” katanya.

Dengan menata kembali distribusi elpiji 3 kilogram melalui kartu kendali bagi pengguna elpiji bersubsidi tersebut, ada kepastian bagi masyarakat yang berhak untuk mendapat alokasi elpiji 3 kilogram.

Realisasi penyaluran elpiji 3 kilogram tahun 2011 sebesar 1,3 juta metrik ton. Alokasi elpiji 3 kilogram untuk tahun ini mencapai 1,41 juta metrik ton. Realisasi penyaluran elpiji 3 kilogram pada triwulan I-2012 mencapai 375.000 metrik ton. Hal itu berarti jika tanpa pengendalian kuota yang ditetapkan pemerintah, diperkirakan realisasi konsumsi elpiji 3 kilogram hingga akhir tahun ini 1,5 juta metrik ton.

”Kami berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan kepolisian mengawasi penyaluran elpiji 3 kilogram, evaluasi alokasi elpiji, termasuk penetapan harga eceran tertinggi,” kata Hasto.

Asisten Manajer Hubungan Eksternal Bidang Pemasaran Ritel Bahan Bakar Region III PT Pertamina Susi A Prasetyo menambahkan, alokasi elpiji 3 kilogram dan kebijakan penentuan harga eceran tertinggi elpiji 3 kilogram merupakan kewenangan pemerintah berdasarkan usulan pemerintah daerah setempat. Ketentuan itu diatur dalam Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2011 serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 5 Tahun 2011.

PT Pertamina mengimbau masyarakat mampu agar menggunakan elpiji 12 kilogram dan industri memakai elpiji 50 kilogram. Dengan demikian, konsumsi elpiji 3 kilogram lebih tepat sasaran. (EVY

May 22, 2012

Kuota sdh ditambah elpiji 3kg banyak diselewengkan

Media indonesia cetak 22 Mei 2012

Kelangkaan elpiji 3 kg masih terjadi di berbagai daerah. Di bandung dan sekitarnya sejak beberapa hari terakhir bahan bakar bersubsidi itu sulit didapat. Kalaupun ada harganya diatas 15 ribu, bahkan sampai 17 ribu per tabung, kata solihin warga ujung berung

Kondisi paling parah dialami warga Cipadung, Cibiru. Hampir sepekan terakhir mereka sangat sulit mendapatkan elpiji dan harus memburu hingga Cileunyi. Jika kelangkaan masih terjadi warga dan pedagang kecil akan berunjuk rasa ke Pertamina dan pengecer.

Kelangkaan elpiji 3 kg juga terjadi di klaten, jawa tengah karena maraknya penyelewengan. Bahan bakar yang mestinya untuk masyarakat bawah itu banyak digunakan untuk industri dan rumah makan. Padahal pasokan elpiji 3 kg di klaten tahun ini 18000 tabung per hari atau naik 3000 tabung

Himpunan Pengusaha Swasta Nasional Minyak dan Gas Surabaya mengatakan kenaikan harga tewrsebut bukan disebabkan kelangkaan barang melainkan adanya persoalan teknis pengaturan dan distribusi.

Di batam Pertamina menambag kuota 3 kg dari yang biasa 60000 tabung menjadi 90000 tabung, sebenarnya tidak ada kelangkaan , yang ada agen nakal.
Agen tidak membina pangkalan yang mereka suplai, yang akhirnya terjadi kelangkaan, menurut sales rep LPG Pertamina di kepulauan Riau Imam Azahri

VP Corporate communication Pertamina Moh. Harun menyebutkan pihaknya sedang menata alokasi elpiji dengan model perayonan. Pertamina mendata jumlah penduduk, agen, pengkalan penjual dan menyesuaikan alokasi elpiji 3 kg.

Penataan ulang dilakukan karena banyak pelanggaran diantaranya pengoplosan elpiji 3 kg menjadi 12 kg atau agen menjual ke pangkalan yang tidak ditunjuk sebelumnya.

Pertamina menargetkan penataan selesai paling lambat akhir bulan ini.

May 21, 2012

Catatan Dahlan Iskan: Ribut-ribut Soal Petral

Senin, 21/05/2012 11:24 WIB
Catatan Dahlan Iskan: Ribut-ribut Soal Petral
Wahyu Daniel – detikFinance

Foto: dok.detikFinance

Jakarta – Kadang timbul. Kadang tenggelam. Kadang timbul-tenggelam. Begitulah isu korupsi di Pertamina. Siklus timbul-tenggelam seperti itu sudah berlangsung puluhan tahun. Belum ada yang mengamati: tiap musim apa mulai timbul dan mengapa (ada apa) tiba-tiba tenggelam begitu saja.

Sejak sekitar tiga bulan lalu isu ini timbul lagi. Belum tahu kapan akan tenggelam dan ke mana tenggelamnya. Sebenarnya menarik kalau bisa dirunut, mengapa (ada apa) isu ini kembali muncul, tiga bulan lalu. Ada kejadian apa dan siapa yang pertama kali memunculkannya. Dari sini sebenarnya akan bisa diduga kapan isu ini akan tenggelam dan bagaimana cara tenggelamnya.

Kadang isu yang muncul di sekitar sewa tanker. Kadang di sekitar ekspansi Pertamina di luar negeri. Kadang pula, seperti sekarang ini, soal anak perusahaan Pertamina yang bernama Petral.

Petral adalah anak perusahaan yang 100% dimiliki Pertamina. Tugasnya melakukan trading. Jual-beli minyak. Lebih tepatnya membeli minyak dari mana saja untuk dijual ke Pertamina. Semua aktivitas itu dilakukan di Singapura. Petral memang didesain untuk didirikan di Singapura. Sebagai perusahaan Singapura Petral tunduk pada hukum Singapura.

Isu pertama: mengapa dibentuk anak perusahaan? Kedua: mengapa di Singapura? Dulu, segala macam pembelian itu dilakukan oleh induk perusahaan Pertamina di Jakarta. Apakah ketika itu tidak ada isu korupsi? Sama saja. Isunya juga luar biasa.

Tapi mengapa dipindah ke Singapura? Dan dilakukan anak perusahaan? Alasan pembenarnya adalah: supaya segala macam pembelian dilakukan oleh sebuah perusahaan trading. Direksi Pertamina jangan diganggu oleh pekerjaan trading. Alasan tidak formalnya: kalau transaksi itu dilakukan di Singapura dan tunduk pada hukum Singapura, intervensi dari mana-mana bisa berkurang.

Bagi orang korporasi seperti saya, sangat gampang menerima logika mengapa dibentuk anak perusahaan dan mengapa di Singapura. Tapi bagi publik bisa saja dianggap mencurigakan.
Bagi publik, munculnya pertanyaan (mengapa dibentuk anak perusahaan dan mengapa di Singapura) itu saja sudah sekaligus mengandung kecurigaan. Pertamina memang bisa membuktikan praktik di Petral sudah sangat clean dengan tender internasional yang fair. Tim-tim pemeriksa yang dikirim ke sana tidak menemukan praktik yang menyimpang.

Kalau begitu apa yang masih diperlukan? Di sini kelihatannya bukan hanya clean yang perlu dipertunjukkan. Tapi juga clear. Perusahaan BUMN memang tidak cukup dengan clean: tapi juga harus C & C. Harus clean and clear. Clean berurusan dengan GCG, hukum, dan penjara. Clear berhubungan dengan public trust, alias kepercayaan publik.

Perusahaan yang tidak clear, tidaklah melanggar hukum. Semua bisa dipertanggungjawabkan. Tapi perusahaan yang tidak clear tidak akan mendapatkan kepercayaan publik. Karena BUMN adalah perusahaan milik publik, maka praktik C & C menjadi sangat penting.

Di manakah letak belum clear-nya praktik trading Petral di Singapura?

Begini: Pertamina adalah perusahaan yang sangat besar. Bahkan terbesar di Indonesia. Sebagai perusahaan yang terbesar, posisi tawar Pertamina tidak akan ada bandingannya. Boleh dikata, dalam bisnis, Pertamina memiliki hak mendikte: mendikte apa saja, termasuk mendikte pemasok dan bahkan mendikte pembayaran.

Inilah yang belum clear: sebagai perusahaan terbesar mengapa Pertamina belum bisa mendikte. Mengapa masih berhubungan dengan begitu banyak trader. Mengapa tidak sepenuhnya melakukan pembelian langsung dari pemilik asal barang: membeli BBM langsung dari perusahaan kilang dan membeli crude (minyak mentah) langsung dari perusahaan penambang minyak.

Dalam satu bulan terakhir tiga kali Presiden SBY mengajak mendiskusikan soal ini dengan beberapa menteri. Termasuk saya. Arahan Presiden SBY jelas dan tegas bagi saya: benahi Pertamina. Kalau ada yang mengaku-ngaku dapat backing dari Presiden, atau dari Cikeas, atau dari Istana abaikan saja.
Bisa saja ada yang mengaku-ngaku mendapat backing dari Presiden SBY. Tapi sebenarnya tidak demikian. Jangankan Presiden SBY, saya pun, di bidang lain, juga mendengar ada orang yang mengatakan mendapat backing dari Menteri BUMN!

Presiden SBY juga menegaskan itu sekali lagi minggu lalu. Dalam pertemuan menjelang tengah malam itu diundang juga Dirut Pertamina Karen Agustiawan. Karen melaporkan sudah siap melakukan pembelian langsung, tanpa perantara lagi. Tentu diperlukan persiapan-persiapan yang matang. Tidak bisa, misalnya seperti yang diinginkan beberapa pihak, besok pagi Petral langsung dibubarkan. Pasokan BBM bisa terganggu. Dan bisa kacau-balau.

Memang kelihatannya banyak motif yang berada di belakang isu Petral ini. Setidaknya ada tiga motif:
1) Ada yang dengan sungguh-sungguh dan ikhlas menginginkan Pertamina benar-benar C&C dan bisa menjadi kebanggaan nasional.
2) Dengan adanya Petral mereka tidak bisa lagi ‘ngobyek’ dengan cara menekan-nekan Pertamina seperti terjadi di masa sebelum Petral.
3). Ada yang berharap kalau Petral dibubarkan jual-beli minyak kembali dilakukan di Jakarta dan mungkin bisa menjadi obyekan baru.

Tentu, seperti juga bensin oplos, ada juga campuran lain: politik! Ada politik anti pemerintah Presiden SBY. Tapi yang keempat ini baiknya diabaikan karena politik adalah satu keniscayaan.

Misalnya ketika ada yang menyeru: bubarkan Petral sekarang juga! Saya pikir yang dimaksud sekarang itu ya pasti ada tahapannya. Ternyata tidak. Ternyata benar-benar ada yang menginginkan Petral bubar saat ini juga. Mereka tidak berpikir panjang kalau Petral bubar sekarang, siapa yang akan menggantikan fungsi Petral. Siapa yang akan mendatangkan bensin untuk keperluan bulan depan dan beberapa bulan berikutnya.

Mungkin memang ada maksud terselubung: bubarkan Petral sekarang juga, biar terjadi kelangkaan BBM dan terjadilah gejolak sosial. Ini mirip-mirip dengan logika: jangan naikkan harga BBM dan pemakaiannya juga jangan melebihi 40 juta kiloliter setahun! Logika Joko Sembung yang tidak nyambung.

Tentu saya tidak akan terpancing pemikiran pendek seperti itu. Yang harus dilakukan Pertamina adalah langkah yang lebih mendasar: sebagai perusahaan raksasa, Pertamina, seperti ditegaskan Presiden SBY setegas-tegasnya, tidak boleh lagi membeli minyak dari perantara. Langkah seperti itu sebenarnya sudah mulai dilakukan oleh Pertamina. Tapi belum semua. Jadinya tenggelam oleh pembelian yang masih dilakukan lewat Petral.

Apakah kelak setelah Pertamina tidak lagi membeli minyak dari perantara otomatis tidak akan ada yang dipersoalkan? Tidak dijamin. Akan terus ada yang mempersoalkan. Misalnya:
1) Mengapa membeli langsung kalau pedagang bisa memberikan harga lebih murah? (Dalam dunia bisnis, tidak dijamin pemilik barang menjual lebih murah dari pedagang. Bisa saja pedagang kuat membeli barang dalam jumlah besar dengan diskon yang tinggi. Lalu menjual kepada konsumen dengan harga lebih murah).
2) Pertamina (atau siapa pun) dapat komisi dari pemilik barang.
3) Mengapa membeli langsung kepada pemilik barang? Mengapa tidak pakai tender terbuka saja?

Dan banyak lagi yang masih akan dipersoalkan karena pada dasarnya memang banyak orang yang hobinya mempersoalkan apa saja.

Tapi ribut-ribut seperti itu tidak akan lama. Syaratnya manajemen Pertamina terus secara konsisten menjaga integritas. Tidak mudah memang. Dan memerlukan waktu yang panjang untuk membuktikan konsistensi itu.

Tapi dalam menjaga integritas itu Pertamina tidak akan sendirian. Perkebunan sawit BUMN juga harus melakukan hal yang sama. Misalnya dalam pembelian pupuk. Sebagai perusahaan perkebunan terbesar di Indonesia, tentu aneh kalau PTPN masih membeli pupuk dari perantara. Perkebunan gula idem ditto.

PLN juga harus membeli batubara langsung dari pemilik tambang. Dan ini sudah dilakukan sejak dua tahun lalu: semua pemasok adalah pemilik tambang . Tidak ada lagi perantara batubara di PLN dalam dua tahun terakhir. Awalnya memang ribut-ribut terus, tapi sekarang sudah kempes.

Inilah prinsip yang harus dipegang:

Dengan clean kita memang tidak akan masuk penjara secara fisik.
Tapi dengan clear kita tidak akan masuk penjara secara rohani.
Hukum cukup menghendaki clean. Publik menghendaki clean and clear.
Oleh Dahlan Iskan
Menteri Negara BUMN
(sumber: situs kementerian BUMN)
(dnl/hen)

May 18, 2012

Pertamina Impor Minyak Langsung dari Produsen

investor daily 16 05 2012

JAKARTA – PT Pertamina berkomitmen
mengimpor minyak mentah
(crude oil) dan bahan bakar
minyak (BBM) langsung dari produsennya
mulai kuartal III-2012.
Perusahaan pelat merah tersebut
akan bekerja sama langsung dengan
National Oil Company (NOC)
milik negara produsen minyak
ataupun pemilik kilang.
Direktur Utama Pertamina Karen
Agustiawan mengungkapkan,
pihaknya tidak akan lagi mengandalkan
pedagang (trader) dalam
pengadaan minyak dan BBM dari
luar negeri. Langkah itu dilakukan
untuk memenuhi kebutuhan BBM
nasional yang terus meningkat,
sekaligus mendukung optimalisasi
kinerja PT Per tamina Energy
Trading Ltd (Petral) dalam meningkatkan
ketahanan pasokan
energi nasional.
“Kami harus lakukan ini secara
hati-hati agar tidak menimbulkan
risiko, seperti kegagalan pasokan
impor yang dapat berakibat pada
terjadinya krisis energi dalam negeri,”
kata dia dalam keterangan
resminya di Jakarta, Selasa (15/5).
Karen menambahkan, perseroan
menyambut baik rencana pemerintah
untuk memjembatani upaya
pembelian langsung dari produsen
untuk kebutuhan minyak mentah
dan BBM. Biasanya, kontrak langsung
memang harus didahului dengan
pembicaraan secara government
to government (G to G).
Karena mengklaim, selama ini
sistem pengadaan minyak mentah
dan BBM sebenarnya telah berjalan
baik dengan prinsip-prinsip
good corporate governance (GCG).
Meski begitu, perseroan bertekad
untuk melakukan perbaikan secara
berkesinambungan pada proses
pemenuhan kebutuhan minyak
dan BBM nasional.
“Untuk mengurangi ketergantungan
impor minyak dan BBM,
kami secara bertahap akan merealisasikan
proyek dua kilang terintegrasi
dan ekspansi wilayah kerja
eksplorasi dan produksi untuk meningkatkan
cadangan minyak nasional,”
jelas dia.
Sedangkan pengamat energi
dari ReforMiner Institute Komaidi
Notonegoro menilai, Pertamina
perlu mengombinasikan mekanisme
pengadaan impor minyak dan
BBM antara secara langsung ke
produsen dan melalui pedagang
(trader). Sebab, masing-masing
skema itu memiliki kelebihan dan
kekurangan, namun yang pasti pengadaan
melalui impor hanya dilakukan
jika situasi dan kebutuhan
benar mendesak.
“Ke depan, Pertamina memang
perlu memperbanyak pengadaan
impor secara langsung. Metode
pembelian minyak baik langsung
maupun tidak, tidak ada yang
paling baik. Tidak bisa dikatakan
pembelian melalui trader itu jelek
dan rawan mafia minyak, begitu
pun pembelian langsung,” kata dia,
seperti dikutip Antara.
Pembelian langsung membutuhkan
persyaratan volume dan jangka
waktu minimal, sehingga terkendala
keterbatasan pendanaannya.
Apalagi, jika terjadi kebijakan
pembatasan premium, akan menyulitkan
pembelian langsung. Belum
lagi ketika terjadi kebutuhan mendadak
seperti kilang rusak.
Untuk minyak mentah, pasokan ke
Pertamina sekitar 900 ribu barel per
hari berasal dari domestik 67%, sebanyak
13% dari Saudi Aramco, dan
20% impor melalui anak perusahaan
Pertamina, Petral. (c02/ari)

May 15, 2012

Ikuti Dahlan Iskan, Bos Pertamina Hindari Beli Minyak dari Trader

Selasa, 15/05/2012 11:05 WIB
Ikuti Dahlan Iskan, Bos Pertamina Hindari Beli Minyak dari Trader
Wahyu Daniel – detikFinance

Foto: dok.detikFinance

Jakarta – PT Pertamina (Persero) menyatakan akan menghindari pembelian minyak dari pedagang atau trader. Ini seperti keinginan Menteri BUMN Dahlan Iskan yang meminta agar Pertamina tak impor minyak dari pedagang.

Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan mengatakan, untuk meningkatkan ketahanan pasokan energi nasional dan mendukung optimalisasi kinerja Petral, Pertamina memprioritaskan impor BBM dan minyak mentah dari berbagai sumber, khususnya National Oil Company (NOC).

“Sistem pengadaan minyak mentah dan BBM yang dilakukan selama ini telah berjalan dengan baik dan dengan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG),” kata Karen dalam pernyataannya, Selasa (15/5/2012)

Karen menyatakan Pertamina bertekad melakukan perbaikan pada proses pemenuhan kebutuhan BBM nasional. Caranya dengan berupaya untuk bisa melakukan impor langsung dari NOC, produsen minyak, dan pemilik kilang.

“Untuk itu, mulai kuartal ketiga 2012 kami akan melakukan langkah-langkah untuk merealisasikan rencana tersebut,” katanya
Menurutnya hak ini harus dilakukan secara hati-hati untuk memastikan langkah tersebut tidak menimbulkan risiko, seperti kegagalan pasokan impor yang akan berakibat pada terjadinya krisis energi di dalam negeri.
“Kami menyambut baik rencana pemerintah untuk menjembatani upaya kami tersebut karena kontrak langsung biasanya perlu didahului dengan pembicaraan secara government to government (G to G),” tutur Karen.

Namun secara bertahap, Pertamina ingin mengurangi ketergantungan impor BBM dan minyak mentah. Perusahaan migas pelat merah ini akan merealisasikan proyek dua kilang terintegrasi dan ekspansi wilayah kerja eksplorasi dan produksi untuk meningkatkan cadangan minyak nasional.

Sebelumnya Menteri BUMN Dahlan Iskan meminta Pertamina tak membeli minyak dari pedagang. “Soal Pertamina, soal kemungkinan Pertamina mengimpor BBM dan minyak mentah dari sumbernya, tidak dari pedagang,” ujar Dahlan kemarin.

Menurut Dahlan, sebuah perusahaan besar sebaiknya membeli bahan baku langsung dari produsennya.

“Ya Pertamina kan perusahaan besar masak beli minyak dari pedagang, perusahaan besar sebaiknya membeli langsung dari sumbernya. saya suruh mempelajari karena kalau di swasta, perusahaan besar itu beli dari sumbernya,” ujarnya.

May 14, 2012

Rogoh Rp 6 Triliun, Pertamina Incar 30.000 Barel Minyak di Madura

Senin, 14/05/2012 19:04 WIB
Rogoh Rp 6 Triliun, Pertamina Incar 30.000 Barel Minyak di Madura
Wahyu Daniel – detikFinance

Foto: Reuters

Jakarta – Pertamina Hulu Energi (PHE) menganggarkan US$ 675 juta atau sekitar Rp 6,07 triliun untuk meningkatkan produksi sumur migas di Blok West Madura Offshore (WMO) menjadi 30 ribu barel per hari (bph) tahun ini.

Direktur Hulu Pertamina Muhammad Husen mengatakan, hingga Mei 2012, produksi minyak di blok Madura belum bisa mencapai 15,5 ribu bph. Tapi dengan suntikan anggaran tersebut, maka target produksi minyak 30 ribu bph bisa tercapai akhir tahun ini.

“Kami tahu beban PHE WMO sangat berat untuk melawan penurunan produksi alamiah akibat lama tiada investasi baru. Tetapi tantangan itu terbukti bisa diatasi. Karena itu saya tidak mau menurunkan target produksi. Kita masih punya waktu 7 Bulan untuk mencapai 30.000 bph di akhir 2012,” kata Husen dikutip dari situs BP Migas, Senin (14/5/2012)

Seperti diketahui, setelah 30 tahun dikelola Kodeco Energy, pada 7 Mei 2011, pengelolaan Blok WMO diserahkan pemerintah pada Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai anak perusahaan PT Pertamina (Persero).

Saat diserahkan, produksi Blok WMO sekitar 13.000 bph, tinggal 50% dibanding produksi tertinggi sebelumnya yang mencapai 26.000 bph. Penurunan produksi itu tidak bisa dihindari karena tiadanya investasi baru sejak Agustus 2010 menyusul ketidakjelasan perpanjangan kontrak pengelolaan Blok WMO.

Senior Executive VP & GM PHE WMO Imron Asjhari masih optimistis bisa mencapai target yang dibebankan Pertamina. Dengan Anggaran Belanja Investasi (ABI) sekitar US$ 540 juta dan Anggaran Belanja Operasi (ABO) sekitar US$ 135 juta, Imron yakin bisa mempercepat pengembangan lapangan dan mempercepat pemboran sumur.

“Kami optimistis akhir tahun ini produksi PHE WMO bisa mendekati 30,000 bph dan 170 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD). Yang menjadi masalah hanyalah jumlah SDM yang masih kurang untuk dapat mencapai target meningkatkan kapasitas produksi 30% tiap tahunnya hingga 2016,” katanya.

Khusus di 2012 ini, PHE WMO merencanakan mengebor 9 sumur eksplorasi, 12 sumur pengembangan, dan 15 sumur kerja ulang. Selanjutnya tiga anjungan baru dan jaringan pipa dan satu perbaikan anjungan dan pemasangan jaringan pipa akan dipasang mulai Juli sampai November 2012.

Di samping itu PHE WMO akan mendatangkan menara pemboran yang ketiga pada Juli 2012. “Mudah-mudahan Juli nanti sudah ada pemenang dan rignya bisa segera terpasang,” katanya.

Saat ini enam sumur pengembangan sudah selesai dibor sehingga meningkatkan produksi, dan satu sumur eksplorasi sudah selesai dibor yang berhasil meningkatkan cadangan minyak dan gas PHE WMO.

PHE WMO juga memiliki target RJPP (Rencana Jangka Panjang Perusahaan) yaitu, 40 ribu bph untuk minyak dan 210 MMSCFD untuk gas pada 2016 atau setara 75.000 BOEPD (barel setara minyak per hari).

Untuk mencapai target tersebut, PHE WMO akan melakukan pemboran lebih dari 25 sumur eksplorasi dan 75 sumur pengembangan, kerja ulang lebih dari 10 sumur, perawatan pada 37 sumur, serta pemasangan lebih dari 10 anjungan baru sampai 2016.

May 9, 2012

Babak Baru Bisnis LNG

Selasa,08 Mei 2012
GAS BUMI
Babak Baru Bisnis LNG

Babak Baru Bisnis LNG
Bisnis gas alam cair di Tanah Air memasuki babak baru. Hal itu ditandai dengan pemindahan gas alam cair dari kapal tanker Aquarius ke kapal unit terapung penerima dan regasifikasi Jawa Barat di Teluk Jakarta, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (4/5).

Setelah mundur beberapa bulan dari rencana awal, unit terapung penerima dan regasifikasi (floating storage and regasification unit/FSRU) Jawa Barat berkapasitas 3 juta ton gas alam cair (liquified natural gas/LNG) per tahun itu akan diuji coba untuk mengalirkan gas ke pembangkit listrik di Muara Karang milik PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) pada pertengahan Mei ini. Volume pasokan gas ke pembangkit itu 140 juta standar metrik kaki kubik per hari (million metric standard cubic feet per day/MMSCFD) sesuai dengan kontrak. Lalu, akan ditingkatkan menjadi 200 MMSCFD.

Sebelumnya, kapal Aquarius bertolak dari dermaga kompleks Kilang Bontang, Kalimantan Timur, pada 25 April menuju kapal FSR Jawa Barat.

Pengapalan perdana LNG Bontang untuk domestik ini merupakan babak baru bisnis LNG Tanah Air, khususnya Kilang Bontang, yang selama puluhan tahun mengekspor hasil produksinya ke sejumlah negara, terutama Jepang, sesuai dengan kontrak.

Pengoperasian FSRU Jawa Barat ini diharapkan bisa menekan biaya pokok penyediaan listrik sejumlah pembangkit listrik. Mundurnya pengoperasian unit terapung itu mengakibatkan beberapa pembangkit terpaksa memakai bahan bakar minyak yang harganya lebih mahal daripada harga gas.

Pemerintah menargetkan semua pembangkit listrik di Jawa bebas bahan bakar minyak (BBM) jika FSRU Jawa Barat beroperasi penuh dan diperkirakan bisa menghemat subsidi listrik tahun ini sekitar Rp 3,5 triliun.

Hal itu sekaligus menandai perubahan paradigma pemanfaatan LNG. Secara historis, pada dekade 1970-an, Indonesia merintis monetisasi gas bumi menjadi LNG untuk tujuan ekspor melalui dua fasilitas kilang LNG, yaitu di Bontang, Kalimantan Timur, dan Arun di Provinsi Aceh.

Saat itu, harga minyak rendah dan produksi minyak di dalam negeri melimpah sehingga temuan gas di Kalimantan Timur dan Aceh yang begitu besar diekspor untuk keekonomian proyek dan mendatangkan devisa negara.

Namun, belakangan gas bumi dilirik konsumen di dalam negeri seiring dengan pertumbuhan ekonomi, perkembangan industri manufaktur, dan kebutuhan listrik yang meningkat. Peran gas amat penting mengingat tingkat produksi minyak nasional terus menurun disertai dengan kenaikan harga minyak mentah dunia. Sementara produksi dan temuan cadangan gas bumi justru meningkat. Harganya juga lebih murah daripada harga minyak.

Persoalan kekurangan gas terjadi akibat keterlambatan pemerintah dalam membangun infrastruktur gas. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebutkan, 65 persen atau lebih dari permintaan gas berada di Jawa. Sementara sumber-sumber gas berlokasi di luar Jawa. Pasokan gas untuk domestik menjadi sulit saat tidak ada infrastruktur pendukung pengiriman gas ke pusat industri di Jawa.

Ke depan, permintaan gas domestik diperkirakan terus meningkat pesat dari 3.500 MMSCFD tahun 2009 menjadi 4.700 MMSCFD tahun 2015. Hal itu dipicu program pemerintah untuk merevitalisasi pabrik pupuk demi meningkatkan ketahanan pangan, optimalisasi pemanfaatan gas bumi untuk pembangkit listrik, permintaan bahan baku untuk industri, dan rencana pengalihan BBM ke bahan bakar gas untuk transportasi.

Untuk itu, saat ini beberapa proyek infrastruktur LNG nasional sedang digarap, antara lain memodifikasi kilang LNG Arun menjadi terminal penerima berikut pipa transmisinya dari Aceh ke Sumatera Utara oleh PT Pertamina. Juga rencana proyek FSRU Lampung yang digarap PT Perusahaan Gas Negara. Pemerintah juga berencana membangun sejumlah FSRU skala mini di kawasan timur Indonesia.

Namun, pembangunan infrastruktur LNG itu tidak akan memberi manfaat optimal bagi domestik tanpa ada kepastian alokasi pasokan gas. FSRU Jawa Barat, misalnya, dari kapasitas 3 juta ton per tahun saat ini komitmen pasokan gas baru separuhnya, yakni dari Kilang Bontang. Tanpa pasokan gas memadai, infrastruktur LNG tidak akan bisa optimal untuk memenuhi kebutuhan gas domestik yang terus meningkat.

(EVY RACHMAWATI)

May 8, 2012

Dahlan: Masa Pertamina Beli Minyak dari Pedagang

Pertamina jualan gas aja nggak bisa , mangkanya perusahaan yang pernah berlogo kuda laut ini lebih senang mencari broker atau calo.. supaya mereka bisa dapet fee komisi..

lihat : http://www.lngworldnews.com/pertamina-eight-spot-lng-cargoes-on-sale-indonesia/

Dahlan: Masa Pertamina Beli Minyak dari Pedagang
Ester Meryana | Erlangga Djumena | Selasa, 8 Mei 2012 | 11:38 WIB
Dibaca: 15911Komentar: 37
| Share:

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG
Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan
TERKAIT:
BP Migas Naikkan Harga Gas ke PGN
Pertamina Dapat Suntikan Dana 2,5 Miliar Dollar AS
Pertamina Akan Uji Coba Pembatasan BBM Bersubsidi
Dahlan Iskan Tak Peduli Siapa Pembeli Saham Garuda
Dahlan Tak Punya Alasan Jelas Masuk ke Pemerintahan
JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan, berupaya mendorong Pertamina untuk mengimpor minyak secara langsung dari sumbernya. Menurut dia, ini adalah hal penting mengingat Pertamina adalah perusahaan besar yang bergerak di bidang minyak dan gas.

“Kemungkinan Pertamina mengimpor langsung BBM dan minyak mentah dari sumbernya tidak dari pedagang,” sebut Dahlan ketika ditanyai wartawan mengenai isi rapat koordinasi yang berlangsung di Kantor Menko Perekonomian, Jakarta, Selasa (8/5/2012).

Dahlan berharap Pertamina tidak lagi mengimpor minyak mentah dengan pedagang perantara melainkan langsung dari pemilik kilang ataupun miliknya sendiri. Ataupun, kata dia, Pertamina bisa melakukan akuisi ladang-ladang minyak di luar negeri. Hal-hal itu seyogyanya yang dilakukan oleh perusahaan besar swasta. “Kan Pertamina perusahaan besar masa beli minyak dari pedagang. Perusahaan besar sebaiknya kan langsung dari sumbernya,” sambung dia.

Namun, Dahlan belum bisa menyebutkan berapa efisien yang bisa dicapai dengan upaya impor secara langsung tersebut. Kementerian BUMN meminta Pertamina untuk mempelajarinya.

“Kita yang intruksikan kok. Nah setelah kita instruksikan nanti mereka yang mengambil langkah-langkah bagaimana beli BBM langsung dari kilang dan beli minyak mentah langsung dari miliknya sendiri,” pungkas dia.

April 18, 2012

Ini Dia 5 Bos Baru Pertamina Pilihan Dahlan Iskan

Rabu, 18/04/2012 17:57 WIB
Ini Dia 5 Bos Baru Pertamina Pilihan Dahlan Iskan
Wahyu Daniel – detikFinance

Foto: dok.detikFinance Jakarta – Menteri BUMN Dahlan Iskan baru saja menunjuk direksi baru di tubuh Pertamina. Ada lima direktur baru di Pertamina yang ditunjuk Dahlan. Siapa saja?

Pergantian direksi Pertamina ditetapkan Dahlan hari ini lewat surat keputusan No. SK-186/MBU/2012 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-anggota Direksi Perusahaan Persoran (Persero) PT Pertamina.

Dalam siaran pers yang diterima, Rabu (18/4/2012), direksi baru Pertamina adalah:

Chrisna Damayanto sebagai Direktur Pengolahan menggantikan Edi Setianto
Hanung Budya Yuktyanta sebagai Direktur Pemasaran dan Niaga menggantikan Djaelani Sutomo
Evita Maryanti Tagor sebagai Direktur SDM menggantikan Rukmi Hadi Hartini
Luhur Budi Djatmiko sebagai Direktur Umum menggantikan Waluyo
Hari Karyuliarto sebagai Direktur Gas
Chrisna Damayanto sebelumnya menjabat sebagai Deputi Direktur Pengolahan Bidang Operasi Kilang, sedangkan Hanung Budya Yuktyanto sebelumnya sebagai Presiden Direktur PT Badak NGL.

Adapun, Evita Maryanto Tagor merupakan Presiden Direktur PT Tugu Pratama Indonesia dan Luhur Budi Djatmiko adalah Kepala Satuan Pengawas Internal, sementara itu Hari Karyuliarto sebelumnya menjabat sebagai Corporate Secretary Pertamina.

Adapun, anggota dewan direksi lainnya yaitu Direktur Utama Karen Agustiawan, Direktur Pengembangan Investasi dan Manajemen Risiko M. Afdal Bahaudin, Direktur Hulu M. Husen, dan Direktur Keuangan Andri T. Hidayat.

(dnl/hen)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.