Archive for ‘Entrepreneur’

October 22, 2012

Membangun dengan Berdagang

Senin,
22 Oktober 2012

NV HADJI KALLA 60 TAHUN

Dalam acara peringatan 60 tahun Hadji Kalla Group di Makassar, Sabtu (20/10) malam, Jusuf Kalla mengisahkan awal dari kelompok usaha yang bernama Naamloze Vennootschap Hadji Kalla Trading Company tahun 1952. Perusahaan itu didirikan ayahnya, Hadji Kalla, yang hanya tamatan sekolah dasar.

”Dia bahkan tidak tahu kepanjangan NV (naamloze vennootschap),” kata Jusuf Kalla disambut tawa tamu yang memenuhi Trans Studio Makassar.

Bersama istri, Athirah, Hadji Kalla membesarkan usaha dengan ekspor dan impor hingga kemudian diserahkan kepada Jusuf Kalla tahun 1967. Kerja sama dengan Toyota membuat Kalla Group sebagai penguasa distribusi kendaraan Toyota untuk Sulawesi ataupun Indonesia sebelah timur sampai sekarang.

Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor Johnny Darmawan menyebut bahwa penjualan mobil Toyota di Sulawesi menyumbang 56,8 persen dari total penjualan di wilayah timur sebanyak 16.415 unit periode Januari-Agustus 2012.

”Dalam waktu empat tahun, Kalla Group mampu mendongkrak penjualan dari 5.000 unit menjadi hampir 20.000 unit,” kata Johnny.

Hingga tahun ini, mereka terus agresif membangun gerai penjualan Toyota di Indonesia timur. Salah satunya, cabang di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (20/10). Fatimah Kalla yang kini menjabat sebagai Presiden Direktur Kalla Group menuturkan, mereka sudah ancang-ancang membangun tiga gerai lagi pada 2013 dengan investasi Rp 200 miliar.

Menyejahterakan

Menurut Jusuf Kalla, salah satu alasan yang membuat grup usaha itu bertahan sampai 60 tahun adalah nilai yang diwariskan dari sang ayah, Hadji Kalla. Nilai itu adalah bekerja sebagai bagian ibadah karena bisa memberi nafkah, membayar zakat, hingga membangun masjid. Selain itu, juga memegang tradisi Bugis, yakni pantang menyerah, kerja keras, hingga siri atau rasa malu bila belum berhasil.

Satu-satunya cara agar perusahaan makmur, lanjut Jusuf Kalla, adalah dengan menyejahterakan masyarakat terlebih dahulu. Itulah sebabnya dia bersama Pemprov Sulsel aktif dalam pengembangan komoditas lokal daerah, seperti cokelat atau udang.

Kalla Group memiliki skala prioritas terhadap kebutuhan dasar yang harus dicukupi terlebih dahulu. Pada 1990-an, mereka bergerak di sektor telekomunikasi karena beranggapan, telekomunikasi bisa mendongkrak produktivitas masyarakat.

Kini, prioritas Kalla Group bergeser ke bidang energi. Mereka membangun pembangkit tenaga listrik di sejumlah wilayah di Indonesia timur, salah satunya PLTA Poso. Jusuf Kalla menjelaskan, dengan tercukupinya kebutuhan listrik, pembangunan apa pun dimungkinkan.

”Dalam lima tahun ke depan, direncanakan kapasitas daya terpasang di Indonesia timur capai 1.000 megawatt,” ujarnya.

Pada usia 60 tahun, tantangan terbesar bagi Kalla Group adalah beradaptasi dengan zaman. Tidak lagi cukup berbentuk usaha keluarga, manajemen modern pun diterapkan.

Putra bungsu Jusuf Kalla, yakni Solihin Kalla, sudah dipersiapkan. Dia kini menjabat Direktur Pengembangan Bisnis.

Ditanya generasi ke berapa mengendalikan Kalla Group saat ini, Jusuf Kalla dengan berseloroh menjawab generasi 2.5. ”Generasi kedua dan ketiga bersama menangani,” ujarnya.

Dengan perjalanan perusahaan hingga enam dasawarsa seperti ini, Jusuf Kalla mengharapkan filosofi Hadji Kalla terus dibawa di masa mendatang, yakni mendahulukan masyarakat.

(Didit Putra Erlangga Rahardjo)

July 23, 2012

Harpoen Wants to Be Indonesia’s Next Big Tech Company

July 23, 2012, 12:00 PM SGT
Harpoen Wants to Be Indonesia’s Next Big Tech Company

Article
Comments
SOUTHEAST ASIA REAL TIME HOME PAGE »
smaller
Larger
facebook
twitter
google plus
linked in
Email
Print
By Eric Bellman

harpoen.com
A screenshot demonstrating how harpoen.com works on an iPhone.
JAKARTA – While Indonesians are some of the most active Twitter and Facebook users in the world, few companies have found ways to make much money off of their social clicks.

Yet as one of Indonesia’s biggest online success stories, Koprol – a location-based social network that was bought by Yahoo – is being shut down, a new location-based platform called Harpoen thinks it can make bucks off of Indonesia’s buddy-based buzz.

The creators of the iPhone application say the secret is to use Indonesia as a sort of intense beta testing ground. Indonesians post more tweets and Facebook updates than almost any other group in the world, and they love to try new things online on their cellphones. That means that if you give them something cool to try out, they will quickly find the glitches in the system and create new ways to use it, programmers say.

Harpoen, which lets users drop comments, photos or videos (which it calls “digital graffiti”) at specific locations for others to find, figures it can leverage all that enthusiasm to make its products better—and also find ways to make them profitable on a global scale.

“Indonesia has a huge population of hip and tech-savvy urbanites who are very open-minded to new ideas and concepts,” says J.P. Ellis, a Jakarta-based American who left his job at a private equity firm to start Harpoen. “Indonesians are also naturally social. We may be the friendliest country in the world.”

Though it was released only four months ago, users have already dropped tens of thousands of “harps” around Jakarta, Bandung and other cities. Many comments left are predictable gripes at big traffic bottlenecks. But users are also using the service in other unexpected ways.

Some are using it to tell others about their favorite waitress at a restaurant, while others are using it to post poetry connected to a certain location. Others are dropping harps to recommend street-food stands. One of the unexpected uses has been to post Wi-Fi passwords at the locations of the many restaurants and cafes that have free Wi-Fi for customers.

There are other services that have stumbled upon surprising popularity in Indonesia. Mig33—which allows people without smartphones chat and blog on their less-expensive cellphones—has millions of users in Indonesia. Meanwhile, Indonesia has become one of BlackBerry’s most important markets, with Indonesians often using it for its instant-messaging services rather than its email capabilities.

“Indonesians are driven to always be in contact with their peers,” said Aulia Masna, editor of Dailysocial, an Indonesian technology news website. “When somebody that [an Indonesian] looks up to uses a particular technology and looks like they are having fun with it, everyone will follow.”

Of course, that doesn’t mean anything launched in Indonesia will become a hit, especially when it comes to making money. Harpoen, for example, needs much more user-generated content to make it fun. In malls or college campuses there may be many harps to see, but elsewhere when people open their Harpoen application, they often find nothing nearby.

Meanwhile, the app may be handicapping itself by offering the service only to iPhone users. Indonesia’s sticky social networkers may be incredibly active online, but few can afford the $600 phones.

The company hopes to fix that soon by making it available for phones that use the Android operating system. That will expand its potential audience from the hundreds of thousands to millions in Indonesia.

If Harpoen can capture the attention of a large enough group of Indonesian hipsters, the company hopes the local advertising, and then the international expansion, will follow.

Blackberry, Facebook, Indonesia, Technology, Twitter

July 16, 2012

Turun ke Lapangan

Senin,16 Juli 2012
KORPORASI
Turun ke Lapangan
Semasa masih berusia di bawah 78 tahun, usahawan Ciputra selalu turun langsung ke lapangan. Kalau para direksinya hendak melapor di kantor, pendiri salah satu grup properti terbesar di Asia Tenggara ini sesekali memilih menerima laporan di lapangan. ”Kebetulan saya hendak melihat langsung lokasi proyek. Nanti saya dengar laporan Anda di sana saja, ya,” begitu Ciputra menirukan ucapannya sendiri, di Jakarta pekan lalu.

Ciputra menuturkan, ke lapangan memberi makna dan penuh warna sebab staf atau para pekerja di lapangan senang disapa. Arti lain, ia langsung melihat bakal lokasi proyeknya, tahu keadaan sesungguhnya di lapangan, tahu apa yang mesti disiapkan, tahu perkembangan detail, dan sebagainya.

Berada di lapangan, lanjut Ciputra, membuat seluruh elan melompat-lompat, energi bergelora luar biasa. Kalau sudah begini, proyek-proyek berikutnya segera menyusul. Datangnya proyek baru tidak semata dilihat sebagai ekspansi, tetapi terbukanya lapangan kerja. Kini, Ciputra (80 tahun) lebih berkonsentrasi pada aktivitas amal dan pendidikan. Ia melimpahkan grup usahanya kepada anak dan para menantunya.

Turun ke lapangan menjadi ciri khas bagi para usahawan. The Ning King, usahawan tekstil dan properti, suka ke lapangan. Begitu pula dengan usahawan lain, di antaranya Dick Gelael dari KFC, J Andrean dari J.Co dan Breadtalk, Chairul Tanjung dari Para Group, Tri Ramadi dari Alam Sutera, AH Marhendra dari SpringHill, S Benjamin dari Summarecon.

Dick Gelael, misalnya, selalu menyempatkan datang sendiri melihat bakal gerai Kentucky Fried Chicken (KFC). Kalau ia merasa tak cocok, meski anak buahnya merekomendasi, gerai itu pasti batal dibeli atau batal dibangun. Kalau cocok, biasanya Dick langsung mengambil kertas putih dan memberi sketsa tentang bentuk gedung atau restoran yang ia inginkan. ”Sampai lapangan parkirnya seperti apa, beliau juga yang gariskan,” ujar Ricardo Gelael, salah seorang putranya, baru-baru ini.

Kalau pembangunan gerai baru itu dikerjakan, Dick yang suka mengendarai jip dengan bendera kecil di depannya, suka tiba-tiba muncul lalu memberi arahan. Ia tidak hirau apakah gerai itu terletak di daerah terpencil atau bukan. Ia selalu menyempatkan diri datang. Ini sekaligus menyiratkan betapa penting peranan sebuah gerai baru bagi Dick. Juga mencerminkan alangkah detail Dick melihat masalah dan betapa ia tidak ingin mendengar laporan dari belakang mejanya.

Kalau kemudian KFC tetap memegang pangsa besar dari pasar ayam goreng nasional, itu tidaklah mengherankan sebab Dick tekun mencium aroma persaingan usaha di lapangan dan rajin mencoba cita rasa KFC. Sedikit saja berubah, ia langsung berteriak. Teriakan Dick menembus semua sekat KFC.

Kita acap menggampangkan aspek lapangan. Padahal, sikap kritis tetap perlu agar petugas lapangan tidak lengah.

Banyak eksekutif di China, Jepang, dan Jerman, sekadar menyebut contoh, sukses membawa usaha mereka ke puncak yang penuh kilau karena rajin turun ke lapangan. Mereka tekun mendengar suara-suara publik terhadap perusahaan mereka. Suara-suara publik menjadi telaga emas bagi perusahaan yang ingin berjalan di depan. (Abun Sanda)

July 9, 2012

Kris Taenar Wiluan

Kris Taenar Wiluan
Diposting Oleh : editor pada Tanggal : Apr 4 2012.
Melalui Grup Citramas, Kris Taenar Wiluan menancapkan bisnisnya di Batam, bahkan mancanegara. Bagaimana salah satu orang terkaya di Indonesia versi Forbes Asia ini membangun imperium bisnisnya?
Udara panas yang menyelimuti Kota Batam siang itu seperti sirna saat saya melihat pembuatan pipa baja raksasa yang diproduksi PT Dwi Sumber Arca Waja (DSAW) di Kawasan Industri Kabil. Rasa kagum pun menyeruak karena orang Indonesia yang dikenal pandai membuat kerajinan ternyata bisa juga membuat pipa segede itu.
Pipa pesanan sebuah perusahaan Belanda itu akan digunakan untuk menyangga rig atau anjungan pengeboran minyak di lepas pantai. Tampak para pekerjanya yang terlihat kecil dibanding pipanya bergelayutan untuk merampungkan pipa yang terbuat dari lempengan baja supertebal itu.
DSAW adalah salah satu dari sederet perusahaan milik Kris Taenar Wiluan di bawah PT Citra Tubindo Tbk. (CT), perusahaan penyedia alat perminyakan dan gas yang berbasis di Batam, Kepulauan Riau. Sejak 1989 CT tercatat sebagai perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya (sekarang telah dimerger menjadi Bursa Efek Indonesia). Kini, setelah berkiprah selama 25 tahun, CT telah beranak pinak: memiliki 16 anak perusahaan yang tersebar di dalam dan luar negeri.
Nah, CT sendiri merupakan anak usaha PT Citra Agramasinti Nusantara atau Grup Citramas selaku induk perusahaan yang juga milik Kris. Citramas menjadi kendaraan Kris untuk mengembangkan bisnisnya. Di CT, Citramas memiliki 27,75% saham — selebihnya, 41,83% saham CT milik publik, 25% kepunyaan Vallourec & Mannesmann Tubes, dan 5,42% milik Sumitomo Metal Indutries Ltd.
Citramas saat ini memiliki 30-an anak perusahaan dengan 3 ribu karyawan di Indonesia dan mancanegara. Bidang usahanya meliputi pabrik perlengkapan perminyakan dan gas, servis perkapalan, logistik, kawasan industri (Kabil), pengeboran, pelabuhan, perusahaan telepon, properti, serta pariwisata seperti resor, lapangan golf, plus terminal feri dan yacth. Tak ketinggalan, bisnis yang baru dibesutnya, animasi film dan periklanan, yang digawangi anak keduanya, Michael Wiluan.
Selain menjabat sebagai presdir di CT dan Citramas, Kris sejak 2005 juga menjadi Chairman dan CEO SSH Corp., perusahaan publik di bursa Singapura. SSH merupakan salah satu distributor produk baja terbesar di Negeri Singa dengan kantor cabang di Cina, Malaysia, Thailand dan Vietnam. Lalu, sejak 2006, ia menduduki posisi Chairman dan CEO Aqua Terra Corp. — perusahaan publik di bursa Singapura, distributor dan stockist alat-alat perminyakan dengan cabang di Qatar, Dubai dan Cina.
Tahun lalu Kris didapuk sebagai Chairman dan CEO KS Energy, perusahaan publik di bursa Singapura, operator pengeboran lepas pantai di Laut Utara Eropa, Timur Tengah, Cina dan Amerika Serikat. Perusahaan ini meraih Forbes Asia Award sebagai “The Best Company under a Billion”. Di ketiga perusahaan ini pun, Kris tercatat sebagai salah seorang pemilik.
Di luar itu, lulusan Ilmu Matematika dan Komputer Universitas London ini pun menjadi nakhoda perusahaan keluarga yang dirintis ayahnya: Grup Citra Bonang. Kelompok usaha ini bergerak di industri pembuatan ragi untuk roti dan bahan kimia zinc oksid untuk campuran ban dan bahan obat-obatan. Perusahaan ini berbasis di Jakarta dengan cabang di Medan dan Surabaya.
Dengan sejumlah usahanya itu, pria berperawakan tinggi besar ini pun menyandang sejumlah predikat, antara lain, CEO of The Year versi Bisnis Indonesia (2007) dan salah satu orang terkaya 2007 versi Majalah Forbes Asia yang menaksir total kekayaan Kris di Citramas sebesar US$ 185 juta. Terakhir, ia masuk lima besar dalam survei The Best CEO versi Majalah SWA (bekerja sama dengan Synovate dan Dunamis) tahun 2008.
Membangun kerajaan bisnis sebesar itu bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Kelahiran Jakarta, 1948, ini merintis bisnisnya dari bawah. Setelah jadi profesional di sebuah perusahaan Inggris dan Singapura, Kris mulai menjalankan bisnisnya sendiri. Di tahun 1977, ia mendirikan PT Citra Pembina Pengangkutan (perusahaan logistik), pemasok dan operator logistik untuk berbagai perusahaan minyak multinasional yang beroperasi di Indonesia. Tak hanya itu, pada 1983 ia mulai membangun pabrik dan tempat pemrosesan pipa pengeboran minyak dengan mendirikan CT. Ia tak sendiri dalam mendirikan perusahaan itu; Dali Sofari yang pernah jadi Dirut CT adalah mitra utamanya.
Mantan Asisten Khusus Menteri Perindustrian dan Perdagangan tahun 1999 ini menceritakan jerih payahnya terjun ke bisnis peralatan perminyakan. Menurutnya, Indonesia saat itu kaya sumber minyak. Namun, anehnya, untuk menyimpan pipa-pipa pengeboran saja, harus ke Singapura. Perusahaan minyak yang akan melakukan pengeboran di Indonesia pun harus mendatangkan pipa dari negeri pulau tersebut. “Masak nyimpen pipa aja meski di Singapura,” ujar Kris.
Semenjak itu, ia tergugah untuk mengembangkan Batam sebagai tempat yang strategis buat menyimpan pipa-pipa untuk pengeboran minyak karena posisinya yang tak jauh dari Singapura, kendati saat itu pulau ini masih hutan belantara dan belum ada infrastruktur yang memadai. Kris yang ketika itu sudah memiliki perusahaan logistik mempunyai jaringan ke Pertamina — saat itu, dirutnya adalah A.R. Ramly — mengungkapkan gagasannya ke BUMN ini. Pihak Pertamina pun setuju membuat basecamp kecil tempat menyimpan alat peminyakan di Batu Ampar, Batam.
Pemerintah pun saat itu memiliki kebijakan bahwa perusahaan minyak, termasuk penyedia perlengkapannya, diberi insentif. Sebagai contoh, jika perlengkapan perminyakan dibuat di Batam, pemerintah memberikan sejumlah kemudahan. Sementara jika dikerjakan di Singapura, tidak ada insentif apa pun. Sejak saat itu, pelan-pelan penyimpanan alat perminyakan dipindahkan ke Batam.
Hanya saja, meski ada insentif, belum banyak yang tertarik karena Batam bukan pulau yang menarik. “Saat itu belum ada telepon dan listrik,” ia mengenang. Malah ia tak jarang terjun langsung membongkar-muat pipa-pipa yang baru datang dari luar negeri atau yang akan didistribusikan karena keterbatasan SDM. Untuk tempat tinggal, Kris bersama anak buahnya bertahun-tahun berada di dalam kontainer karena saat itu belum ada hotel atau tempat penginapan komersial di Batam. Hingga akhirnya ia mampu mendirikan kawasan perumahaan sendiri (Citramas Indah) untuk karyawannya.
Menghadirkan pipa ke Batam – biasanya ke Singapura — bukan tanpa risiko. Banyak pipa yang rusak dan dikomplain pelanggan. Akhirnya, Kris memberanikan diri mendirikan CT, pabrik perbaikan pipa minyak di Batam, dengan investasi sekitar US$ 4 juta. Itu pun hasil pinjaman bank. Tak hanya itu, ia mengungkapkan, “Waktu itu kami belum paham pembuatan pipa karena berteknologi tinggi.” Namun, Kris tak kehilangan akal. Ia dan timnya belajar keras tentang teknik pembuatan pipa minyak. Kris pergi ke Sumitomo untuk melihat pabrik pembuatan pipanya di Jepang. Tak hanya itu, ia pun memboyong tenaga ahli dari AS untuk mentransfer pengetahuan kepada karyawan CT.
Mantan General Manager UMW Corp., perusahaan mesin dan alat berat di Singapura, ini mengaku merasa diuntungkan dengan kebijakan pemerintah tentang peningkatan penggunaan produk dalam negeri. “Saat itu penggunaan produk dalam negeri, khususnya untuk industri perminyakan, akan mendapat prioritas,” katanya. Order pertama CT saat itu datang dari Huffco Indonesia (sekarang bernama Vico).
Meski ada perlindungan pemerintah, tetap saja bermain di bidang pipa perminyakan itu bukan hal yang gampang. Apalagi, banyak produk Indonesia yang diragukan karena umumnya perusahaan pertambangan lebih suka mengambil produk dari luar negeri. Terkadang perusahaan perminyakan itu merasa terpaksa. Sebagai contoh, tahun 1987 Exxon Mobile akan mengebor minyak di Arun. Perusahaan ini seolah-olah terpaksa harus membeli pipanya dari CT. Saking tidak percayanya, Exxon ini juga membeli pipa dari luar negeri.
Namun, Exxon yang dulu mencampakkan CT kini berbalik menjadi pelanggan setia. Bahkan pada 2007, CT dinobatkan sebagai pemasok terbaik di dunia dari Exxon Mobile. “Puas sekali yang tiada taranya selama dalam karier saya,” katanya terharu. Kini, CT memiliki sejumlah pelanggan kakap. Pelanggannya yang beroperasi di dalam negeri, antara lain, Pertamina, Arco, Caltex, Shell, Unocal, Conoco, Santos, BP, Vico dan British Gas. Adapun pelanggannya di luar negeri meliputi perusahaan minyak yang beroperasi di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, Amerika Selatan, juga Rusia, Kanada dan AS.
Perjalanan Kris membesarkan bisnisnya bisa dibagi menjadi dua fase. Pertama, 1983-89, masa penuh perjuangan agar produknya bisa diterima pasar. “Mulai awal 1990, CT sudah diterima perusahaan perminyakan karena mampu membuktikan produk yang dipasoknya bisa memenuhi keinginan pelanggan, “ujar Kris mengenang. Pada fase ini, ia mengaku bangga karena orang Indonesia bisa berkiprah di dunia yang padat modal dan teknologi ini. Terlebih, saat itu pemainnya lebih banyak asing. “Memang, keinginan saya harus masuk, di mana saya bisa berperan atau membuat industri yang orang lain belum bikin. Jadi, ada challenge,” katanya.
Tahap kedua, 1990-2000, CT mulai merambah pasar luar negeri. Langkah awalnya, mendirikan pabrik di Malaysia. Di negeri jiran ini ia bekerja sama dengan Petronas. Setelah itu, 1992, merambah Vietnam. Di negeri ini, perusahaan yang didirikan Kris bersama mitra lokalnya menjadi langganan mendapatkan penghargaan. Kini Kris melebarkan sayap ke Timur Tengah.
CT bisa dibilang menjadi tulang punggung bisnis Kris. Lewat kesuksesan CT inilah ia bisa membangun imperium bisnisnya melaui induk perusahaan: Citramas. Tengok saja, tahun 2006, omset CT mencapai US$ 273,18 juta atau meningkat 124% dibanding 2005 (US$ 121,82 juta). Sementara laba bersihnya US$ 23,4 juta atau naik dari US$ 7,47 juta di 2005. Kemudian, berdasarkan laporan keuangan yang belum diaudit hingga September 2007, CT mampu membukukan omset US$ 210,7 juta dengan laba bersih US$ 21,63 juta. “Omset CT hingga akhir 2007 diperkirakan tak beda jauh dari tahun 2006,” ujar Harsono, Sekretaris Korporat CT.
Bidang lain yang menarik dari bisnis anggota Dewan Pertimbangan Kadin Batam ini adalah Kawasan Industri Kabil seluas 500 hektare. Peters Vincen, Direktur Citramas, menjelaskan, Kabil dikembangkan untuk kawasan industri perminyakan dan gas. CT bersama beberapa anak perusahaan pindah ke Kabil sejak 1990 yang awalnya berada di kawasan Batu Ampar, Batam, yang saat itu dianggap kurang memadai lagi untuk industri karena sudah penuh sesak. Saat ini ada 26 perusahaan (tenant), nasional dan asing, yang memakai lahan di Kabil.
Fasilitas Kabil tergolong lengkap. Salah satu yang terus dikembangkan adalah pelabuhan yang dibangun sejak 2002 dan telah diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2006.“Investasi pelabuhan sekitar US$ 15 juta untuk pembangunan selama dua tahun,” ujar Agus P. Hidajat, Direktur Operasional PT Sarana Citranusa Kabil, anak usaha Citramas. Dengan adanya pelabuhan ini, pengiriman barang yang diproduksi di Kabil akan lebih cepat dan biayanya pun lebih kecil.
Bicara soal bisnis pariwisata Citramas di bawah PT Tirta Utama Riani Indah (Grup Turi), Presiden Asosiasi ASEAN Tae Kwon Do ini mengakui, awalnya sekadar untuk kepuasan pribadi. “Itu hanya hobi, katanya menandaskan. Juga, untuk penginapan tamunya yang berkunjung ke Batam. Awalnya, ia hanya mendirikan vila di tepi pantai di wilayah Nongsa. “Semula hanya kecil-kecilan karena untuk dipakai sendiri, tapi akhirnya jadi besar, ungkap pehobi berlayar, main golf dan menyelam ini.
Ditambahkan Urmy Sungkar, direkturnya, karena skalanya semakin besar, Grup Turi bisa dijadikan sebagai ujung tombak pariwisata, tidak hanya di Batam, tapi juga Indonesia, karena lokasi Batam dekat dengan negara tetangga. Fakta menunjukkan, karena kecilnya wilayah Singapura, warga negeri itu cenderung memilih tempat lain sebagai tempat rekreasi. Johor, Malaysia, sering dijadikan sebagai daerah tujuan. Nah, sekarang Batam pun jadi destinasi wisata mereka.
Karena potensinya yang besar, Grup Turi memiliki sejumlah fasilitas yang dibangun secara bertahap dengan total luas lahan yang sudah dikembangkan mencapai 132 ha. Di dalamnya ada Turi Beach Resort, resor yang menjadi cikap bakal grup ini yang dibuka pada 1989. Resor kategori bintang empat ini tarifnya dipatok Rp 580 ribu-1,5 juta per malam. Lalu, pada 1992 dibuka Nongsa Village dan lapangan golf. Vila dijual dan pembelinya kebanyakan orang asing.
Pada 1994 dibuka Nongsa Poin Marina, salah satu tempat parkir yacth di Batam. Tahun 1995 dibuka Nongsa Pura Terminal, terminal feri untuk penyeberangan ke Singapura. Total investasinya di atas US$ 100 juta dan juga menggandeng investor dari luar negeri,” ujar Urmy. Ke depan, Turi akan terus dikembangkan dengan membangun IT park serta pusat belanja dan olah raga.
Resor milik Kris ini pernah dikunjungi tokoh-tokoh penting. Bahkan, tak jarang digunakan sebagai tempat pertemuan para pemimpin negara. Presiden Soeharto pernah melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew di sini. Yang terakhir, Presiden SBY bersama ibu negara juga sempat menginap di resor ini saat meresmikan pelabuhan di Kawasan Industri Kabil.
Kendali Grup Turi sekarang dipegang generasi kedua. Michael Wiluan menjadi presdirnya. Bahkan, kelahiran Singapura, 1976, ini juga mengembangkan bisnis sendiri di bidang multimedia dan animasi untuk film atau media visual lainnya dengan mengibarkan bendera PT Kinema Systrans Multimedia di Batam pada 2005. Markasnya di kawasan resor Turi. Michael juga mendirikan Infinite Frameworks Pte. Ltd. di Singapura.
“Ini bisnis masa depan dengan investasi berkisar US$ 1-3 juta, lulusan bidang perfilman dari Kean University, Inggris, itu membeberkan. Pelanggannya pun tersebar di pelbagai negara, antara lain Kanada, Singapura, AS, negara-negara Timur Tengah dan Afrika, serta Inggris dengan omset rata-rata US$ 5 juta/tahun dan pertumbuhan 10%.
Soal alih generasi ini, Kris mengaku tidak menjadi fokus utamanya. Sebab, ia memberikan kebebasan kepada tiga anaknya: Elizabeth Angeline, Michael dan Richard Wiluan untuk menentukan jalan hidup masing-masing. Elizabeth tidak bergabung dengan Citramas, sementara Richard kabarnya ikut terjun mengembangkan bisnis peralatan perminyakan di Singapura.
Kini, setelah 31 tahun membangun bisnis, Kris tinggal menikmati hasilnya sekaligus terus mengembangkan sayapnya. Saat ini, “Yang penting, Citra Tubindo terus berjalan, meski saya tidak ada lagi. Dan namanya terus berkibar, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di mancanegara, ia mengungkap obsesinya. Sang istri pun sudah memintanya pensiun. Maka sekarang, ia lebih suka membesut usaha-usaha yang disenanginya, seperti bisnis animasi yang digawangi anaknya.
Riset: Leni Siskawati
BOKS:
Perjalanan Karier dan Bisnis
Kris
Tahun 1971, selulus kuliah dengan meraih gelar BSc. (Honours) dalam terapan ilmu matematika dan komputer dari Universitas London, Kris bekerja untuk Guest, Keen and Nettlefold (GKN Group) di Inggris sebagai programer komputer/analis.
Tahun 1973, bekerja sebagai General Manager UMW Corp., perusahaan publik di Singapura dan Malaysia yang memasarkan mesin dan alat berat. Ia bertanggung jawab atas penjualan dan perkembangan bisnis di Indonesia melalui PT Unimas Motor Wasta.
Tahun 1977, mengembangkan bisnis pribadi dengan mendirikan PT Citra Pembina Pengangkutan, pemasok dan operator logistik untuk perusahaan minyak multinasional yang beroperasi di Indonesia.
Tahun 1983, bisnis yang dirintisnya pada sektor perminyakan digabungkan ke dalam PT Citra Tubindo (CT), sebagai pabrik dan tempat pemrosesan pipa pengeboran minyak dan gas di Batam. Beberapa usaha gabungan juga telah dibangun di Labuan (Malaysia), Vung Tao (Vietnam), Songkla dan Sathahib (Thailand). Kini, pelanggannya tak hanya dari Indonesia, tapi juga dari mancanegara, di antaranya negara-negara Timur Tengah dan Amerika Selatan, Rusia serta AS. Sejak 1989, CT mencatatkan diri sebagai perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surbaya (keduanya kini melebur menjadi Bursa Efek Indonesia).
Tahun 1984, mendirikan Grup Citramas (PT Citra Agramasinti Nusantara) sebagai induk seluruh bisnisnya. Saat ini Citramas membawahkan 30-an anak perusahaan dengan 3 ribu karyawan di Indonesia dan luar negeri. Bidang usahanya meliputi pabrik perlengkapan perminyakan dan gas, servis perkapalan, logistik, kawasan industri (Kabil), pengeboran, pelabuhan, perusahaan telepon, properti, serta industri pariwisata atau resor terpadu di bawah Grup Turi.
Tahun 1986, membangun resor terpadu di Nongsa, Batam, dengan lapangan golf (dirancang Jack Nicklaus dan Pete Dye), marina yang bertaraf internasional, plus tempat parkir yacth, sarana wisata bahari, vila serta resor hotel. Letak resor ini hanya sekitar 25 menit dari Bandar Udara Changi, Singapura, dengan menggunakan feri dan hanya 10 menit dari Bandara Hang Nadim, Batam. Bisnis pariwisata Kris ini tergabung dalam Grup Turi sebagai induk perusahaan.
Tahun 2005, menjadi Chairman dan CEO SSH Corp, perusahaan publik di bursa Singapura, salah satu distributor produk baja yang terbesar di Negeri Singa dengan cabang di Cina, Malaysia, Thailand dan Vietnam.
Tahun 2006, menjabat sebagai Chairman dan CEO Aqua Terra Corp, perusahaan publik di bursa Singapura, distributor dan stockist alat-alat perminyakan dengan cabang di Qatar, Dubai dan Cina.
Tahun 2007, menjadi Chairman dan CEO KS Energy, perusahaan publik di bursa Singapura, operator pengeboran lepas pantai di Laut Utara Eropa, Timur Tengah, Cina dan AS. Dia meraih Forbes Asia Award sebagai “The Best Company under a Billion. (Swa)
Short URL: http://www.batamposentrepreneurship.com/?p=391

July 5, 2012

Penyebab Indonesia Tak Punya Banyak Wirausaha

Penyebab Indonesia Tak Punya Banyak Wirausaha
Masyarakat harus bisa mematahkan mitos orang Indonesia tak bisa bisnis
Kamis, 5 Juli 2012, 14:21 Hadi Suprapto, Iwan Kurniawan

VIVAnews – Pakar bisnis Rhenald Kasali menilai metode pendidikan di Indonesia saat ini tidak membangun pola pikir berjiwa wirausaha. Pemerintah harus bisa mematahkan mitos bahwa orang Indonesia tak bisa berbisnis.

Dia menjelaskan sekolah sebenarnya tempat memperbaiki cara berpikir, namun sayangnya sekolah di Indonesia masih mengajar dengan cara menghafal. Seharusnya sekolah mengajarkan bagaimana cara berpikir kreatif dan kritis.

“Siswa harusnya diajarkan berargumentasi, sayangnya di sini saat belajar tangannya dilipat dan percaya apa yang dikatakan guru itu benar,” katanya dalam acara Talkshow dan Launching Buku “Cracking Entrepreneurship” karya Rhenald di Jakarta, Kamis 5 Juli 2012.

Dengan sistem pendidikan seperti sekarang ini membuat masyarakat tidak mempunyai kemandirian yang akhirnya timbul mitos orang Indonesia tak bisa berbisnis. Padahal seorang yang berjiwa entreprenuership harus memiliki jiwa yang kritis dan kreatif.

Sayangnya pendidikan karakter di Indonesia masih belum menemukan kejelasan dan masih sekadar pendidikan kognitif, belum mendidik orang menjadi kreatif.

Ia menjelaskan kenapa kebanyakan pengusaha di Indonesia merupakan warga pendatang, seperti Arab, China, maupun yang lainnya. Hal ini karena mereka semua merantau ke negeri orang, dengan merantau timbul rasa kemandirian.

“Kita ini menggunakan sistem keluarga besar, usia 25 bahkan 40 masih tinggal sama orangtua dengan jaminan sosial keluarga besar,” katanya. (umi)

June 18, 2012

Berbisnis Itu Sederhana

Senin,18 Juni 2012
KORPORASI
Berbisnis Itu Sederhana
Bagaimana cara berbisnis yang efisien dan efektif? Pertanyaan ini diajukan spontan seorang mahasiswa kepada usahawan Sudono Salim (Liem Sioe Liong) di sebuah acara rileks di Hotel Grand Hyatt tahun 1996. Oom Liem, sapaan akrab usahawan itu, hanya tertawa, tetapi kemudian hanya terdiam.

Om Liem, yang hari Minggu, 10 Juni lalu, meninggal dunia di Singapura, tetap diam seribu bahasa sekalipun terus dipancing untuk berbicara. Oom Liem memang dikenal tidak suka banyak bicara.

Dua temannya yang hadir di sana, usahawan Eka Tjipta Widjaja dan Sukanta Tanudjaja dari PT Sinar Sahabat, juga diam saja. Namun, akhirnya ketika melihat mahasiswa tadi masih duduk, Oom Liem pun tidak tega.

”Saya ini orang lapangan, mana mengerti pertanyaan seperti itu,” ujarnya. Ia mengatakan, berbisnis itu pada intinya meraih untung. Kalau tidak laba, bukan dagang namanya. Namun, laba di sini tidak asal laba, tetapi dengan cara benar. Tidak menabrak aturan, tidak merugikan atau mengganggu orang lain.

Ia menambahkan, hal penting yang harus digenggam erat adalah ”menjaga nama” (reputasi). Jangan menipu, dan kalau berutang, bayarlah utang itu. Jangan sampai tidak bayar utang. Tak baik itu. ”Sekali dua, kamu masih bisa menipu. Tetapi, pada kesempatan berikutnya, tidak ada lagi yang percaya kepada kamu. Itu celaka namanya!”

Oom Liem lalu bercakap-cakap akrab dengan Eka dan Sukanta. Usia mereka tidak berselisih jauh. Saat itu, Oom Liem berusia 81 tahun, Eka Tjipta 75 tahun, dan Sukanta 68 tahun.

Usahawan Tong Djoe, sahabat baik Oom Liem, pada kesempatan lain mengatakan, apa yang disampaikan Oom Liem adalah pokok-pokok berbisnis yang benar. Tong mengatakan, berbisnis pada intinya memang untuk meraih profit. Namun, para pebisnis harus memahami bahwa meraih profit di sini dalam konteks mengail keuntungan dengan jalan lurus.

Tidak menipu, tidak mengelabui, tidak membohongi, tidak curang. Jangan menjual barang kedaluwarsa. Stok barang masih sangat banyak, tetapi dibilang habis. Hanya untuk meraih untung ketika barang langka. Sebab, harga otomatis naik saat permintaan lebih tinggi dibandingkan dengan suplai.

Menjaga nama baik juga digarisbawahi Tong Djoe. Ia mengatakan, dulu ketika generasi pertama masih aktif berdagang, kepercayaan menjadi sendi bisnis yang amat memesona. Pinjaman ratusan juta rupiah (amat besar pada awal 1970-an) bisa diberikan begitu saja tanpa tanda terima.

Saat utang dikembalikan dengan bunga, yang meminjami tidak bersedia menerima bunga. Ia hanya mau menerima pokok utang. Menerima bunga berarti mencederai pertemanan dalam bisnis.

Ini membuat yang tadinya berutang merasa berkewajiban menjaga perangai. Jangan sampai melakukan tindakan tidak patut. Ia pun mesti melakukan hal yang sama kepada usahawan lain yang membutuhkan. Jadilah bisnis dengan sistem kepercayaan itu berjalan mulus dan damai.

Dalam era kini, utang-piutang berjumlah besar selalu butuh saksi, tanda terima, pakai akta notaris, dan jaminan berlapis, tetapi kerap masih dibayangi masalah. Bagi Tong, itu mencederai filosofi bisnis yang baik dan benar.

Mestinya, kata Tong, langgam kita berbisnis kembali ke masa lalu yang penuh damai, persahabatan tulus, persaingan sehat, dan setia kawan yang dalam. (Abun Sanda)

June 11, 2012

Untuk Menjadi Negara Maju Harus Miliki 4% Wirausahawan

Untuk Menjadi Negara Maju Harus Miliki 4% Wirausahawan
Jumat, 8 Juni 2012 | 15:55
Hatta Rajasa. Foto: inilah.com/Agus Priatna

Berita Terkait
Semangat Berwirausaha
Indonesia Membutuhkan 4 Juta Wirausaha
Aptisi Bertekad Siapkan Sejuta Wirausahawan Baru
IPB Terus Kembangkan Wirausaha Muda di Kampus
Kadin dan HKTI Siapkan Pelajar Jadi Wirausaha
JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengungkapkan, untuk menjadi negara maju, dibutuhkan paling tidak 4 persen dari seluruh masyarakat bergerak di bidang wirausaha.

Saat ini Indonesia baru memiliki sekitar 1,56 persen wirausaha, diharapkan bisa menembus 2 persen wirausaha pada akhir tahun ini.

Hatta mengungkapkan, tidak ada negara maju yang luput dari peran kewirausahaan sebagai motor pendorong perekonomian. Untuk itu, tegas dia, pemerintah akan terus mendorong kewirausahaan khususnya pada kaum muda. “Untuk bisa maju sekurang-kurangnya 4 persen masyarakat menjadi wirausaha,” ujar Hatta di Jakarta, hari ini.

Menurut Hatta, berdasarkan data Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), sebuah negara maju paling tidak memiliki 40 persen dari total pemuda suatu negara yang memiliki akses pada perguruan tinggi, khususnya ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Sedangkan di Indonesia, saat ini baru mencapai sekitar 8 persen.

“Kita baru 8 persen. Kita kekurangan 125 ribu insinyur dan 10 ribu Phd. Ada missmatch karena kita tidak ditopang sumber daya manusia yang memiliki keahlian Iptek dalam pembangunan ekonomi,” tutur dia.

Pendidikan bidang Iptek tersebut, menurut Hatta berperan dalam mendorong wirausahawan muda untuk mengembangkan bisnis berbasis teknologi modern. Pasalnya, menurut dia, di era global ini, banyak kewirausahaan dilakukan dengan teknopreneur yaitu kewirausahaan berbasis terkonogi.

Hatta mencontohkan, seorang teknopreneur yang mengembangkan produk, tak hanya memandang dari satu sisi fungsi, tetapi menjadi sesuatu hal yang memiliki nilai jual dengan teknologi yang baik.

Dengan menanamkan semangat kewirausahaan dari generasi muda, diharapkan jumlah masyarakat yang bekerja semakin meningkat sehingga perkonomian makin terakselerasi. “Agar semakin banyak orang. Bukan hanya deretan pekerja tapi membuka lapangan kerja,” tambah dia.

Sementara itu, Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan menuturkan pemerintah menargetkan jumlah wirausaha pada tahun ini mencapai 2 persen dari total seluruh penduduk Indonesia. Angka tersebut menurut dia meningkat dibandingkan jumlah wirausaha pada tahun lalu sebesar 1,56 persen.

“Tahun 2008, jumlah entreprenuer kita hanya 0,24 persen dari total penduduk Indonesia. Tahun lalu kita sudah di angka 1,56 persen dan tahun ini diharapkan bisa mencapai 2 persen,” ungkap dia. (ID/agustiyanti)

June 11, 2012

Mau jadi milyuner harus pandai bermain catur

ini artikel menarik buat para wirausaha yang hendak menjadi milyuner. Menurut penulis anda bisa menjadi seorang milyarder jika pandai bermain catur, sebab dengan permainan catur mental/emosi anda dilatih untuk berpikir jernih dan hati hati menghadapi suatu masalah.


Peter Thiel used Chess concepts to become a billionaire

By Business Insider | Inc – Wed, Jun 6, 2012 12:50 AM EDT

Check out how Peter Thiel used classic chess strategy to make money.
Through notes from Peter Thiel’s CS183: Startup class at Stanford University, we have a unique window into the mind of the venture capitalist and hedge fund manager. He’s fascinated with human nature, and integrates what he learned from his former career as a chess master into his lectures.
Chess is a contained universe: there are only 32 pieces on the board and 64 squares those pieces can occupy. But starting up a company takes much more than raw intellectual ability; it requires what Thiel calls “The Mechanics of Mafia,” or the understanding of complex human dynamics. Linking the two worlds is Thiel’s passion. Here are some of the chess concepts he highlighted in his class, thanks to notes from one of his former students, Blake Masters:
Know the relative value of your pieces.
In chess, the queen is the most valuable piece on the board. In the standard valuation system, it is given a 9, whereas the rook (5), bishop (3), knight (3), and pawn (1) are lower. In his lecture Value Systems, Thiel mentions Guy Kawasaki’s equation [from a deliberately provocative presentation about the merits of MBAs for startups – Yahoo! Eds] on how to assess the value of a company based on the types of people you have:
Pre-money valuation = ($1M x Number of Engineers) – ($500k x Number of MBAs).
So engineers are more valuable pieces than MBAs.
From his lecture If You Build It, Will They Come? Thiel points out that within any group, there is a wide range of talent. This goes for engineering as much as it goes for sales. “Engineering is transparent … It is fairly easy to evaluate how good someone is. Are they a good coder? An ubercoder? Things are different with sales. Sales isn’t very transparent at all. We are tempted to lump all salespeople in with vacuum cleaner salesmen, but really there is a whole set of gradations. There are amateurs, mediocrities, experts, masters, and even grandmasters.”
“But if you don’t believe that sales grandmasters exist, you haven’t met Elon [Musk]. He managed to get $500m in government grants for building rockets, which is SpaceX, and also for building electric cars, which is done by his other company, Tesla.”
The take-away lesson: Just like with chess pieces, people are not of equal value when it comes to your organization. You must be able to accurately assess their value. And within any field there are amateurs, mediocrities, experts, masters, and grandmasters.
Know how your pieces work best together.
In his lecture The Mechanics of Mafia Thiel discusses two personality types: “nerds” and “athletes.” “Engineers and STEM people tend to be highly intelligent, good at problem solving, and naturally non zero-sum. Athletes tend to be highly-motivated fighters; you only win if the other guy loses.” A company made up of only athletes will be biased toward competing. A company made up of only nerds will ignore the situations where you have to fight. “So you have to strike the right balance between nerds and athletes.”
The take-away lesson: You need some athletes to protect your nerds when it’s time to fight.
Know the phases of the game and have a plan.
In chess, there are three phases: the opening, the middle game and the end game.
From his lecture Value Systems Thiel notes: “People often talk about ‘first mover advantage.’ But focusing on that may be problematic; you might move first then fade away. The danger there is that you simply aren’t around to succeed, even if you do end up creating value. More important than being the first mover is the last mover. You have to be durable. In this one particular at least, business is like chess. Grandmaster Jose Raul Capablanca put it very well: to succeed ‘you must study the endgame before anything else.’”
From his lecture War and Peace: “A good intermediate lesson in chess is that even a bad plan is better than no plan at all. Having no plan is chaotic. And yet people default to no plan.”
Take away lesson: Moving first isn’t always an advantage. Think about poker. If you’re the last to bet, you have the most information. The endgame is where the most decisive moves are made. Study it and make sure you’re around at the right time to make your move. Have a plan.
Talent matters; there is more to success than luck.
In chess, talent clearly matters. In business and life, both talent and luck matter.
From his lecture You Are Not A Lottery Ticket, Thiel said that “when we know that someone successful is skilled, we tend to discount that or not talk about it. There’s always a large role for luck. No one is allowed to show how he actually controlled everything.”
In his lecture If You Build It, Will They Come? Thiel explained that “since the best people tend to make the best companies, the founders or one or two key senior people at any multimillion-dollar company should probably spend between 25 percent and 33 percent of their time identifying and attracting talent.”
Take away lesson: Some people hold more value and control more resources than you realize. Invest your time in finding those talented people for your organization.
Chess is a brutal mental game. So is life. Make your moves carefully.
According to chess grandmaster Danny King’s interview with 60 Minutes, “Chess is a really brutal game. I think because it’s so contained. It’s all going on in the head. And if you lose to your opponent, you feel stupid. You can call someone all the names under the sun, but if you call someone stupid, that’s the worst thing you can say to another human being. And that’s a bit what it feels like when you lose a game of chess. It’s all intellectual.”
Take away lesson: In the words of King: “You can’t take your moves back. Once you play your move you could be stepping into some horrible trap.”
© 2012 by Jonathan Wai

June 10, 2012

Kisah Om Lim Sioe Liong

Kisah Putus Sekolah Om Liem dan Keberhasilan Bisnisnya di Indonesia
M Rizki Maulana – detikNews
Minggu, 10/06/2012 21:01 WIB

Foto: Forbes
Jakarta Soedono Salim atau yang akrab dipanggil Om Liem dikenal sebagai salah satu konglomerat paling sukses di Indonesia. Namun siapa yang menyangka jika Om Liem harus jatuh bangun sebelum meraih kesuksesan itu.

Om Liem lahir di Cina daratan, di Fuqing sebuah desa kecil di wilayah Fujian, Cina bagian selatan, pada 16 Juli 1916. Lahir dengan nama Lim Sioe Liong, ia pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia beberapa dimulainya Perang Dunia II pada tahun 1939. Om Liem kecil yang merupakan anak kedua dari seorang petani itu, hidup dengan sangat kekurangan, bahkan saking miskinnya pada usia 15 tahun ia harus putus sekolah dan berjualan mie di sekitar wilayahnya.

Kisah ini diceritakan dalam buku ‘How Chinese are Entrepreneurial Strategies of Ethnic Chinese Business Groups in Southeast Asia? A Multifaceted Analysis of the Salim Group of Indonesia’ karangan Marleen Dieleman tahun 2007. Buku ini mengambil data dari berbagai sumber, salah satunya adalah laporan tahunan resmi perusahaan Salim Group.

Kemiskinan itulah yang mendasari ia hijrah ke Indonesia, mengikuti jejak kakaknya yangb terlebih dahulu tinggal di Indonesia. Saat pertama kali berada di Indonesia, Om Liem merintis usahanya dengan menjadi supplier cengkeh bagi beberapa pengusaha rokok yang berada di Kudus dan Semarang, Jawa Tengah. Tidak heran bisnis cengkeh menjadi salah satu bisnis yang menunjang kerajaan bisnisnya di masa mendatang, selain bisnis textile tentunya.

Pada era Soeharto, ia sempay mendirikan beberapa bank, seperti Bank Windu Kencana dan Bank Central Asia. Dia juga bersama tiga kolega bisnisnya Soedono Salim, Djuhar Sutanto, Sudwikatmono dan Ibrahim Risjad (belakangan dikenal sebagai The Gangs of Four) membangun sebuah perusahaan tepung terigu terbesar di Indonesia yaitu, PT Bogasari. Perusahaan ini pun berhasil memonopoli pasar terigu di Indonesia dengan menyuplai 2/3 dari seluruh kebutuhan terigu nasional

Kehidupan Om Liem pun ibarat roda yang berputar, saat krisis moneter pada tahun 1997 menghantam Indonesia, kapal bisnis miliknya sempat goyah. Beberapa saham unit bisnisnya seperti PT Indocement Tunggal Perkasa, PT BCA dan PT Indomobil Sukses Internasional harus dilepas untuk menutup hutang perusahaan yang disebut mencapai 52 triliun rupiah.

Meski sempat goyah, Om Liem berhasil membangkitkan kembali usaha-usaha yang dipegangnya. Salah satunya adalah melalui PT Indofood Sukses Makmur Tbk yang menghasilkan produk Indomie yang dikenal hingga seantero dunia. Hasilnya pada tahun 2006, namanya kembali menduduki peringkat nomor 10 orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes. Kekayaannya pada saat itu ditaksir mencapai US$ 800 juta.

Pada era reformasi, Om Liem yang rumahnya yang berada di Gunung Sahari, Jakarta Pusat sempat menjadi korban pengerusakan dan penjarahan pada kerusuhan yang melanda Jakarta pada 1998, mulai mengalihkan kepengurusan bisnisnya kepada anakanya Anthony Salim. Lalu mulai saat itu pindah ke Singapura, hingga maut menjemputnya, pada Minggu (10/6/2012).

Selamat Jalan Om Liem.

(riz/fjp)

Apindo: RI Butuh Banyak Om Liem untuk Pembangunan
Ramdhania El Hida – detikNews
Minggu, 10/06/2012 19:08 WIB

Jakarta Meninggalnya pendiri Indofood dan Salim Group, Liem Sioe Liong atau Sudono Salim rupanya membawa duka mendalam dalam dunia perindustrian tanah air.

Meskipun berbeda generasi, Wakil Sekretaris Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Franky Sibarani mengakui begitu besar kontribusi lelaki yang akrab dipanggil Om Liem ini bagi pembangunan Indonesia.

“Apa yang dilakukan beliau, memberikan kontribusi pembangunan Indonesia,” ujar Franky kepada detikFinance, Minggu (10/6/2012).

Menurut Franky, pada saat ini, Indonesia masih membutuhkan sosok seperti Liem Soei Liong mengingat negara ini masih dalam tahap berkembang.

“Kita perlu membutuhkan banyak Om Liem saat ini karena negara kita masih negara berkembang,” ujarnya.

Pasalnya, lanjut Franky, sebagai pengusaha yang bisa mencapai status konglomerat masih sangat terbatas di Indonesia. Namun, Sudono Salim mampu memberikan kesempatan kerja yang besar bagi rakyat Indonesia.

“Banyak usahanya dan cukup memberikan kesempatan kerja yang cukup besar dan untuk profesional. Jadi untuk perusahaan yang diawali keluarga, saat ini banyak profesional yang terlibat. Pak Anthony, anaknya pun pakai profesional, agar efektif dan efisien dalam mengelola perusahaan,” tandasnya.

Sudono meninggal di Raffles Hospital Singapura pada Minggu (10/6) sekitar 15.00 WIB. Pria bernama lahir Liem Sioe Liong ini lahir di Tiongkok, 10 September 1915. Anthony Salim yang merupakan anak dari Sudono beserta menantunya Franciscus Welirang kini meneruskan seluruh usaha yang dirintisnya.

Cerita Fuad Bawazier Soal Om Liem di Universitas Bangkalan
Ramdhan Muhaimin – detikNews
Senin, 11/06/2012 05:05 WIB

forbes
Jakarta Salah seorang pengusaha terkaya Indonesia, Liem Sioe Liong (Sudono Salim) atau yang akrab dipanggil Om Liem meninggal dunia. Kabar tersebut mengejutkan politisi Partai Hanura yang pernah menjadi Menteri Keuangan era Orde baru, Fuad Bawazier.

Sebagai politisi yang pernah berada di lingkungan pemerintahan Orde Baru, Fuad mengaku mempunyai kesan tersendiri terhadap sosok Om Liem yang dikenal sebagai salah seorang pengusaha di lingkaran Presiden Soeharto.

Fuad pertama kali mengenal Om Liem ketika dirinya ditunjuk menjadi Direktur Pembinaan BUMN Direktorat Jenderal Moneter Departemen Keuangan RI pada kabinet presiden Soeharto tahun 1990.

“Pemerintah saat itu punya saham sekitar 28 persen di PT Indocement, dan saya adalah direktur pembinaan BUMN tahun 1990. Karena itu, ketika itu saya suka RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) bareng dengan beliau. Posisi saya mewakili pemerintah. Di situ lah saya kenal pertama kali dengan beliau,” tutur Fuad saat berbincang dengan detikcom, Minggu (10/6/2012).

Menurutnya, Om Liem dikenal sebagai sosok yang sederhana, disiplin, mudah bergaul, dan terlihat betul sebagai seorang yang bekerja dan berfikir keras serta serius.

Selain itu, Fuad juga mengenal sosok Om Liem sebagai salah seorang sponsor Universitas Bangkalan, Madura, yang kini telah berubah menjadi Universitas Negeri Trunojoyo. Hal itu diketahuinya ketika suatu ketika sekitar tahun 1990-an dirinya diundang universitas tersebut.

Dalam perjalanan menuju Madura dari Surabaya, Fuad sempat bertemu dan berbincang dengan Om Liem di kapal yang mereka tumpangi.

“Untuk ke Bangkalan itu kan mesti menyeberang kapal dari Surabaya. Ternyata di kapal itu ada Om Liem. Terus saya tanya,Om Liem mau ke mana. Ternyata beliau juga dapat undangan yang sama. Saya bilang, apa hubungannya Bangkalan dengan Om Liem,” tanya Fuad.

“Saya itu jadi sponsor utama Universitas Bangkalan. Mumpung ada orang yang mau membangun, saya kan cuma nyumbang duit aja,” tutur Fuad menirukan jawaban Om Liem.

“Oo, ternyata saya baru tahu juga kalau Om Liem mensponsori universitas,” ungkapnya.

Saat merayakan ulang tahun yang ke-90 pada tahun 2005 di Hotel Shangri-La Singapura, 2000 orang diundang hadir pada acara tersebut. Undangan yang hadir juga banyak dari kalangan pejabat dan mantan pejabat Indonesia. Fuad Bawazier termasuk yang hadir dalam acara tersebut.

Om Liem tutup usia pada usia 97 tahun. Om Liem meninggal di Raffles Hospital Singapura pada Minggu (10/6) sekitar 15.00 WIB. Pria bernama lahir Liem Sioe Liong ini lahir di Tiongkok, 10 September 1915. Anthony Salim yang merupakan anak dari Sudono beserta menantunya Franciscus Welirang kini meneruskan seluruh usaha yang dirintisnya.

(rmd/fjp)

+++++

Kompas Senin,11 Juni 2012
OBITUARI

Sarapan Bubur Oom Liem
Jangan pernah membayangkan kehidupan Sudono Salim atau Liem Sioe Liong yang serba wah meski waktu itu disebut sebagai salah satu orang terkaya di Asia. Oom Liem, begitu dia akrab di sapa, suatu waktu menerima wartawan Kompas di kediamannya di Jalan Gunung Sahari pada Juli 1995. Rautnya cerah, senyumnya lebar. Ia menyambut tamunya hanya dengan mengenakan celana pendek.

Pagi itu, ia mengundang Kompas makan pagi di kediamannya. Sebelumnya, pertemuan dengan Oom Liem selalu di kantornya di gedung Indocement, Jalan Jenderal Sudirman. Sempat terbayang, makan pagi seperti apa dengan orang sekaya Oom Liem. Ternyata, ia mengajak makan bubur polos, asinan sayur, telur rebus, dan ikan teri. Ia makan dengan lahap, menggunakan mangkok kecil dan sumpit hitam. Seusai dengan sarapan istimewa itu, ia minum Chinese Tea.

Ia mengajak Kompas duduk di ruang tamunya. Di situ ada beberapa sofa kulit. Namun, tampak benar bahwa, meski semua terawat baik, sofa sudah tua. Di beberapa bagian, warnanya mulai kusam. Oom Liem dapat menangkap keheranan tamunya, lalu berkata, ”Kursi itu memang sudah tua, tetapi aduh untuk apa diganti? Masih empuk.”

Ia meminta waktu sejenak untuk cukur rambut di halaman samping. Rupanya ia mempunyai tukang cukur favorit yang sudah belasan tahun mencukur rambutnya. Kursi yang digunakan kursi butut milik tukang cukur itu.

Kesan yang segera mencuat, alangkah bersahaja pria yang selama puluhan tahun menjadi orang terkaya di Indonesia itu. Tidak ada kesan berpura-pura sederhana. Oom Liem, ya, memang seperti itulah. Kini, tokoh yang bisnisnya ikut memengaruhi perekonomian Indonesia itu telah berpulang ke Yang Maha Pencipta, Minggu, di Singapura pada usia 97 tahun.

Banyak hal bisa dikenang dari usahawan ini. Di balik sikapnya yang amat sederhana, tersimpan kearifan dan belas yang tinggi. Kalau berada di Jakarta, hampir setiap hari menerima tamu yang meminta bantuannya. Ada yang minta dibantu karena belum membayar biaya rumah sakit, uang sekolah anak, kredit macet, kekurangan modal, atau tetek bengek yang tidak jelas.

Inilah salah satu latar belakang, tentu juga karena kedekatannya dengan Presiden Soeharto, mengapa para usahawan Tionghoa di Indonesia menjadikan dia seperti ”kepala suku”. Apa yang disampaikan Oom Liem selalu dipatuhi para usahawan. Bahkan, kalau ada sesama usahawan ”bertikai”, Oom Liem cukup mengangkat telepon dan bergurau. Dan, kedua pengusaha itu langsung berdamai.

Suatu ketika ia mendengar masih terdapat ratusan ribu warga keturunan Tionghoa sedang kesulitan. Mereka puluhan tahun tinggal di Indonesia, tetapi tidak mempunyai cukup uang untuk mengurus proses pindah kewarganegaraan. Oom Liem mengontak beberapa sahabatnya untuk bersama-sama mengeluarkan lebih dari Rp 150 miliar untuk membantu mereka.

Ia suka membatu siapa saja tanpa melihat latar belakang mereka. ”Ada satu teman dari Jawa Tengah, aduh dia baru saja kehilangan istri dan dua anaknya. Ia hidup sebatang kara, sekarang dirawat di rumah sakit. Tidak bisa keluar karena miskin. Kasihan, dia harus dibantu,” ujar Oom Liem sambil menyeka air matanya.

Dalam banyak percakapan dengan Kompas, Oom Liem kerap menyatakan bahwa ia merasa heran mengapa banyak yang melihat ia seolah langsung menjadi pengusaha besar. Menurut Oom Liem, ia bisa tiba pada taraf tinggi karena berjuang tanpa lelah dari bawah sejak datang dari Futsing, Hokkian, China selatan, lebih dari tujuh puluhan tahun silam.

Ia jatuh bangun dalam bisnis. Ia menaruh respek saat kawan-kawannya lebih maju. Ia bersabar saat banyak kalangan mencibir ihwal bisnisnya yang dulu beraroma dekat penguasa.

Pasca-kerusuhan Mei 1998, Oom Liem lebih banyak menetap di Singapura. Ia tidak menyampaikan persis mengapa. Akan tetapi, dengan gerak tubuh, ia seolah ingin menyatakan bahwa ia amat sedih rumahnya dibakar. Di rumah itu juga dia kembali ke Sang Pencipta. (Abun Sanda)

+++++++++++++++++++++

Om Liem Pernah Bantu Sembunyikan Mertua Soekarno di Perang Kemerdekaan
M Rizki Maulana – detikNews
Senin, 11/06/2012 07:01 WIB

Forbes
Jakarta Soedono Salim atau Om Liem dikenal sebagai seorang pengusaha yang sukses. Ternyata ada sisi lain dari Om Liem, yang tidak banyak diketahui oleh banyak orang. Pria kelahiran Juli 1916 ini ternyata pernah membantu menyembunyikan beberapa pejuang kemerdekaan Indonesia yang pada saat itu menjadi buronan para tentara Jepang.

Salah satunya orang yang dibantu Om Liem tanpa mungkin dia mengetahui sosok itu adalah, Hasan Din, seorang pemimpin Muhammadiyah yang juga merupakan ayah kandung dari Fatmawati, istri Presiden pertama RI, Soekarno.

Kisah ini disebutkan dalam buku ‘How Chinese are Entrepreneurial Strategies of Ethnic Chinese Business Groups in Southeast Asia? A Multifaceted Analysis of the Salim Group of Indonesia’ karangan Marleen Dieleman tahun 2007.

Dalam buku tersebut Marleen menyebutkan pada masa pendudukan Kolonial Belanda maupun Jepang, warga keturunan Cina memiliki kedudukan di atas penduduk pribumi. Itu menyebabkan banyak warga keturunan Cina yang tidak mendukung perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Namun tidak demikian dengan Om Liem, ia bersama dengan perkumpulannya saat itu sesama warga keturunan Cina malah mendukung perjuangan rakyat pribumi.

“Liem saat itu tergabung dalam organisasi Futsing Hwee, yang nantinya berganti nama menjadi Siang Bu. Pimpinan organisasi itu memilih rumah milik Liem sebagai tempat persembunyian para buron. Liem dipilih karena ia mempunyai karakter pendiam dan dapat dipercaya. Salah satu orang yang ikut disembunyikan oleh Liem adalah pemimpin Muhammadiyah, Hasan Din, yang juga merupakan mertua dari Soekarno,” tulis Marleen seperti dikutip detikcom dari bukunya hal 83, Minggu (10/6/2012).

Selanjutnya masih di halaman yang sama, Marleen menulis bahwa, karena kebaikannya itu, pada saat Indonesia berhasil memperoleh kemerdekaan Liem juga mendapat imbasnya. Selain melanjutkan bisnis yang sebelumnya sudah dijalankan, Liem juga melebarkan sayapnya ke industri militer. Melalui koneksi yang ia bangun dengan Hasan Din, ia dipercaya menjadi penyuplai barang-barang untuk Divisi Diponegoro, Jawa Tengah.

“Ia menyuplai barang-barang untuk keperluan para serdadu di Divisi Diponegoro. Bisnis menguntungkan antara kedua belah pihak ini berlangsung cukup lama. Hubungan dagang yang awet ini juga karena ia berhasil membina hubungan baik dengan Hasan Din,” tulisnya.

Marleen menambahkan, hubungan baik antara Liem dan Hasan Din ternyata terus berlanjut termasuk pada akhirnya Liem mendirikan grup usahanya yang dikenal sebagai Salim Group. Din disebut-sebut sempat duduk di jajaran direksi di beberapa perusahaan milik Liem.

“Hasan Din juga diketahui merupakan salah satu pendiri dari Salim Group tersebut,” terangnya.

(riz/fjp)

++++++++++++++++
Jejak Kemesraan Om Liem dan Pak Harto
M Rizki Maulana – detikNews
Senin, 11/06/2012 09:53 WIB

dok Forbes
Jakarta Soedono Salim atau Liem Sioe Liong alias Om Liem dan Soeharto dikenal mempunyai kedekatan yang spesial. Keakraban yang bermula saat keduanya masih berada di Semarang, Jawa Tengah, pada era 1950-an ini berhasil dibina hingga berakhirnya era Orde Baru sekitar 1998.

Salah satu bukti kedekatan antara Om Liem dan Soeharto adalah berdirinya sebuah perusahaan pengolahan tepung terigu, PT Bogasari. Om Liem membangun perusahaan terigu terbesar di Indonesia bersama Sudwikatmono (sepupu Pak Harto), Ibrahim Risjad, dan Djuhar Sutanto.

Hal ini dijabarkan dalam buku ‘How Chinese are Entrepreneurial Strategies of Ethnic Chinese Business Groups in Southeast Asia? A Multifaceted Analysis of the Salim Group of Indonesia’ karya Marleen Dieleman tahun 2007.

Dalam buku ini Marleen menyebutkan, PT Bogasari menjadi yang terbesar, karena perusahaan itu mendapatkan hak monopoli untuk melakukan distribusi terigu dari PT Bulog. Hak monopoli itu membuat keuntungan PT Bogasari melonjak tajam, namun fasilitas yang diberikan Soeharto tidak gratis.

“26% Keuntungan perusahaan harus diserahkan kepada ‘badan amal’. Badan amal yang dimaksud adalah Harapan Kita dan Dharma Putra,” tulis Dieleman.

Selain PT Bogasari, perusahaan lain yang menunjukkan dekatnya hubungan antara Liem dan Pak Harto dapat dilihat, ketika perusahan lain milik Liem, PT Waringin dan PT Mega mendapat kemudahan. Melalui dua perusahaan ini, Om Liem yang mempunyai keahlian bisnis ditambah koneksi politik yang cukup kuat, berhasil mendapatkan hak monopoli impor cengkeh.

“Sempat disebut-sebut izin dan fasilitas kredit yang diberikan ini semata-mata karena kedekatan Liem Sioe Liong dengan Soeharto. Monopoli bisnis ini membuat perusahaan Liem membukukan pendapatan mencapai US$340.000 antara tahun 1968-1970,” tulisnya.

Keberhasilan Liem dalam bisnisnya selain karena kehandalan bisnisnya juga karena kemampuannya untuk memlih partner bisnis. Seperti mengajak Sudwikatmono dalam membangun PT Bogasari, ia juga sempat menjadikan anak-anak Pak Harto, seperti Sigit Hardjojudanto, dan Siti Hardjianti Hastuti Rukmana sebagai partner bisnisnya.

“Dia mempunyai insting yang baik dalam memilih rekan bisnis. Seperti memilih Sudwikatmono, ia seorang pribumi, sepupunya Soeharto, ini tentu sangat berpengaruh terhadap bisnisnya,” ungkap Dieleman.

Jaringan politik-ekonomi di ring I Soeharto inilah yang kemudian melahirkan istilah KKN, korupsi, kolusi dan nepotisme. Istilah ‘kroni’ menjadi populer.

Masa keemasan Soeharto-Liem berakhir saat terjadi kerusuhan massa pada Mei 1998. Rumah Om Liem di Jl Gunung Sahari dibakar massa yang marah sembari meneriakinya sebagai kaki tangan Soeharto. Soeharto kemudian turun pada 21 Mei.

Kemarahan massa mendorong Om Liem pergi ke Singapura. “Bila rumah Anda telah dibakar, selanjutnya mereka akan mencoba mendapatkan orangnya,” kata Om Liem dalam wawancara yang langka di Singapura, seperti diberitakan New York Times edisi 16 Mei 1999.

“Anda tentunya tidak ingin tertangkap di tengah (kerusuhan) seperti itu,” imbuhnya.

Di Singapura, Om Liem hidup damai. Kebangkitan bisnisnya di Indonesia ditangani oleh anak-cucunya.

Pada tahun 2005, Om Liem masuk daftar orang terkaya nomor 23 di Asia Tenggara dengan kekayaan 750 juta dolar AS. Media Singapura Asia One melaporkan, pada tahun itu juga dia menggelar pesta mewah 2 hari untuk merayakan ulang tahun ke-90. Pesta itu diikuti 2.000 tamu undangan berlangsung di Hotel Shangri-La Singapura. Diperkirakan pesta itu menelan ongkos sekitar 2 juta dolar.
+++++++++++++++++++++

Taipan Senior Itu Telah Tiada
Oleh Damiana N Simanjuntak dan Abdul Muslim

Dari Investor daily 11 Juni 2012

Indonesia kehilangan pengusaha besar. Soedono Salim
alias Liem Sioe Liong, yang akrab disapa Om Liem,
meninggal dunia di Singapura sekitar pukul 15.08 waktu
setempat. Taipan senior pendiri imperium bisnis dengan
bendera Salim Group itu mengembuskan napas terakhir
pada usia 97 tahun di sebuah rumah sakit di Singapura
karena sudah lama sakit dan usia yang sudah sepuh.
Kabar berpulangnya Om Liem dibenarkan oleh sang
menantu, Franky Welirang. Sampai tadi malam, belum diketahui
di mana ayah empat putra dan dua putri kelahiran
Tiongkok, 10 September 1915, itu hendak dikuburkan karena
masih dirapatkan oleh keluarga besar.
“Benar, Bapak telah meninggal di sebuah rumah sakit
di Singapura dan masih disemayamkan di sana,” ujar
Franky kepada Investor Daily per telepon, Minggu (10/6)
malam.
Om Liem merupakan salah satu pengusaha terkemuka
dan konglomerat dengan jaringan bisnis yang solid di Tanah
Air maupun di mancanegara. Semasa hidup, Om Liem
dikenal dekat dengan Soeharto, presiden ke-2 Indonesia.
Selepas kejatuhan Soeharto pada 1998, Om Liem tinggal di
Singapura dan kerajaan bisnisnya diteruskan sang anak,
Anthony Salim, dan menantunya, Franky Welirang.
Om Liem adalah pendiri dan pemilik Central Bank Asia
pada 1957, yang kemudian diubah menjadi Bank Central Asia
(BCA) pada 1960.
BCA adalah bank swasta yang tumbuh
pesat. Ia kemudian mendirikan
Grup Salim, yang membawahi perusahaan-
perusahaan ternama seperti
Indofood, Indomobil, PT Indocement
Perkasa Tbk, PT Bogasari Flour Mill,
Indomaret, Indomarco, Indomiwon,
dan Salim Palm Plantation.
Selain di dalam negeri. Grup Salim
sukses melebarkan sayap bisnis ke
mancanegara, di antaranya Tiongkok,
India, dan Filipina.
Periode 1980-an dan 1990-an imperium
bisnisnya berkembang cepat. Memiliki
sekitar 40 perusahaan, Om Liem
diperkirakan menghasilkan omzet
bisnis tak kurang dari US$ 1 miliar
setahun. Kekayaan pribadi Om Liem
yang pernah dilansir terakhir adalah
sekitar US$ 1,9 miliar (Rp 17,78 triliun).
Sejarah Om Liem dimulai di sebuah
pelabuhan kecil, Fukien, di bagian selatan
Tiongkok. Kakaknya yang tertua,
Liem Sioe Hie, sejak tahun 1922 telah
lebih dulu bermigrasi ke Indonesia
yang waktu itu masih dijajah Belanda
dan bekerja di sebuah perusahaan pamannya
di kota Kudus.
Di tengah hiruk-pikuk usaha ekspansi
Jepang ke Pasifik dan dongeng
tentang harta karun kerajaan-kerajaan
Eropa di Asia Tenggara, pada 1939,
Liem Sioe Liong muda mengikuti jejak
abang tertuanya. Dari Fukien, ia menumpang
sebuah kapal dagang Belanda
yang membawanya menyeberangi
Laut Tiongkok. Sebulan kemudian
sampai di Indonesia.
Sejak dulu, kota Kudus sudah terkenal
sebagai pusat pabrik rokok kretek,
yang sangat banyak membutuhkan bahan
baku tembakau dan cengkih. Dan
sejak zamam revolusi, Om Liem sudah
terlatih menjadi pemasok cengkeh dari
Maluku, Sumatera, dan Sulawesi Utara
melalui Singapura ke Kudus.
Karena itu, berdagang cengkeh merupakan
salah satu pilar utama bisnis
Om Liem pada awal memulai bisnisnya,
selain tekstil. Dulu, dia juga banyak
mengimpor tekstil dari Shanghai.
Untuk memperlancar semua usahanya,
di bidang keuangan, dia pun punya
beberapa buah bank, seperti Bank
Windu Kencana dan BCA. Pada 1970-
an, BCA tumbuh menjadi bank swasta
kedua terbesar di Indonesia.
Salah satu peluang besar yang diperoleh
Om Liem dari pemerintah Indonesia
adalah dengan didirikannya PT Bogasari
pada Mei 1969 yang menguasai
suplai tepung terigu untuk Indonesia bagian
barat yang meliputi sekitar 2/3 penduduk
Indonesia, di samping PT Prima
untuk wilayah Indonesia bagian timur.
Hampir di setiap perusahaan Om
Liem saat itu, dia berkongsi dengan
Djuhar Sutanto alias Lin Wen Chiang
yang juga berasal Fukien. Sejak itu,
usahanya terus berkembang dan tercipta
banyak perusahaan hingga sekarang,
yang dinakhodai oleh putra mahkota,
Anthoni Salim, dan menantunya,
Franky Welirang.
Berjasa
Mengomentari kepergian sang taipan,
Ketua Umum Hipmi Raja Sapta
Oktohari mengatakan, Indonesia kehilangan
sosok pengusaha sekaliber
Soedono Salim. Menurut dia, Om Liem
adalah pengusaha sejati yang tidak
terbatas pada skala nasional tapi juga
bereputasi internasional.
“Banyak cerita tentang almarhum dan
usaha bisnisnya. Menorehkan signature
di perekonomian Indonesia. Banyak
karyanya di tingkat internasional,” ujar
Okto di sela resepsi Ulang Tahun Hipmi
ke-40 di Jakarta, tadi malam.
Dalam pandangan politikus senior
yang juga Ketua DPP Partai Golkar Firman
Subagyo, banyak sikap dan pandangan
hidup yang bisa dicontoh dari
sosok Om Liem. “Lepas dari kontroversinya,
tak sedikit contoh positif
yang bisa dipetik dari seorang Liem
Sioe Liong,” ujar Firman.
Salah satu contoh adalah kontribusi
Liem terhadap kemajuan Indonesia.
“Kontribusi terbesar bagi negeri ini
adalah keberhasilannya membangun
industri yang menampung banyak
tenaga kerja,” kata Firman.
Sekjen Hipmi Harry Warganegara
Harun bahkan berpendapat, tidak berlebihan
menjuluki seorang Soedono
Salim sebagai pahlawan nasional karena
kontribusinya yang besar terhadap
perekonomian nasional. “Beliau
tokoh nasional yang banyak berkontribusi
bagi ekonomi bangsa. Sejak zaman
Orde Baru, di era pembangunan
Repelita, beliau sudah ikut membangun
ekonomi. Harapannya, semakin
banyak pengusaha sekaliber beliau
yang lahir, terutama dari Hipmi. Kami
meneladani prinsipnya yang ulet, tekun
memulai dari nol, dan jeli melihat
peluang. Ini yang penting, karena
peluang bisa muncul hanya satu detik lalu hilang, ujar Harry

+++++++++++++++++++

SENIN, 11 JUNI 2012 | 05:50 WIB
Setia Kawan, Sudono Salim Tak Lari Kala Soeharto Jatuh
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO , Jakarta: – Taipan Sudono Salim atau populer dengan Liem Sioe Liong, dikenal berjaya karena kedekatannya dengan Soeharto, mantan Presiden. Menurut pendiri Independent Research & Advisory Indonesia, Lin Che Wei, Liem adalah sosok yang setia kawan.

“Ketika Soeharto jatuh, dia terkena dampaknya, dan dia menerima,” kata Che Wei saat dihubungi Tempo, Minggu 10 Juni 2012. “Yang saya hormati, dia setia kawan. banyak yang lain ketika susah, melarikan diri, tapi dia menerima,”

Salim memang dikenal dekat dengan Presiden RI ke-2, Soeharto. Kedekatan Salim dengan Soeharto diakui Che Wei berperan penting dalam perkembangan usaha-usaha Salim. Tak pernah ada penguasa lain yang sedekat itu dengan Salim, selain Soeharto. “Pengusaha pasti ada kedekatan, tapi pascaSoeharto lengser, tidak ada yang sedekat itu,” ucap Che Wei.

Pengusaha yang lahir di tanah Tiongkok tersebut, seingat Che Wei, memulai bisnisnya dari berdagang kacang-kacangan dari Medan. Usahanya mulai berkembang ketika ia membuat pabrik sabun dan menjadi supplier sabun untuk militer.

Saat berbisnis sabun inilah, Salim mengenal Soeharto. Pada 1968, ia mendapat peluang bisnis besar sebagai supplier cengkeh. Pada masa tahun ”68-”98 inilah, Che Wei menyebut tahun keemasan Salim. “Setelah jadi supplier sabun ke tentara, dia mulai kenal ke Soeharto, setelah itu dia bikin BCA, bikin pabrik terigu, indomobil dan seterusnya,” ucap Che Wei.

Seiring kejatuhan Soeharto dan krisis ekonomi 1998, TSalim ikut terpuruk. Ia harus kehilangan aset-aset sejumlah perusahaannya termasuk aset BCA. Sebuah perusahaan, Holdiko Perkasa, bahkan sengaja dibentuk pemerintah untuk menjual satu per satu aset Salim. Ketika masa itu, Che Wei mengingat, kisruh terjadi antara generasi kedua Salim dengan generasi kedua kawan sekongsinya Sudwikatmono, Djuhar Sutanto dan Ibrahim Risjad. “Satu kali ada ribut generasi kedua ketika beberapa aset dipakai untuk menebus utang. Level kedua saling menuntut,” ujarnya.

Namun, di tangan Salim, masalah selesai dengan mudah, pembicaraan antar-orang tua. “Penyelesaiannya dengan mengingat hubungan sejak lama, mereka menyelesaikan masalah dengan kepercayaan,” ucapnya.

MARTHA T.

+++++++++++++++++++

SENIN, 11 JUNI 2012 | 05:38 WIB
Mengapa “Om Liem” Pilih Nama Sudono Salim
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO , Jakarta:-Di dunia bisnis, ia lebih dikenal dengan nama Liem Sioe Liong. Namun, di pertengahan orde baru ia memiliki nama baru yang dipakainya hingga ia menghembuskan nafas terakhir, Sudono Salim.

Pemilihan nama ini bukan sembarangan. Nama Salim yang dipilih keluarga Liem itu — seperti dikutip Majalah Tempo edisi 2 Juli 1983, punya arti tersendiri yaitu tiga bersaudara. San dalam bahasa Mandarin berarti tiga, dan setelah ditambah dengan she asli, yakni she Liem, menjadi Salim.

Ya, Sudono Salim adalah anak kedua dari tiga bersaudara keluarga petani di Fukien, Fujian, Cina Selatan, 16 Juli 1916. Salim meninggalkan negaranya dan berlabuh di Medan, Sumatera Utara, pada 1936. Ia bergabung dengan saudaranya, Liem Sioe Hie, dan saudara iparnya, Zheng Xusheng.

Hijrah ke Kudus, Jawa Tengah, Salim mulai mencoba pertaruhan sebagai penyalur cengkeh. Bisnisnya terus berkembang pesat dari permintaan untuk produksi rokok kretek.

Nama “Salim” rupanya tak kalah hoki dengan nama “Liem”. Berkat tangan dingin lelaki ini, kapal perusahaannya yang diberi nama Grup Salim menjadi salah satu perusahaan raksasa di Tanah Air. Di bawah bendera Grup Salim, kerajaan bisnisnya menggurita di berbagai bidang antara lain kepemilikannya di Indofood, Indomobil, Indocement, Indosiar, BCA, dan peritel Indomaret.

Minggu 10 Juni 2012, Sudono Salim meninggal di Singapura, pada pukul 15.50 waktu setempat. Sudono wafat karena sakit yang telah dideritanya dua tahun terakhir.

Om Liem, panggilan akrabnya, konglomerat yang pernah menjadi orang terkaya di Indonesia itu, meninggal di usia 95 tahun.

MUNAWWAROH | PDAT

++++++++++++++

SENIN, 11 JUNI 2012 | 05:50 WIB
Setia Kawan, Sudono Salim Tak Lari Kala Soeharto Jatuh
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO , Jakarta: – Taipan Sudono Salim atau populer dengan Liem Sioe Liong, dikenal berjaya karena kedekatannya dengan Soeharto, mantan Presiden. Menurut pendiri Independent Research & Advisory Indonesia, Lin Che Wei, Liem adalah sosok yang setia kawan.

“Ketika Soeharto jatuh, dia terkena dampaknya, dan dia menerima,” kata Che Wei saat dihubungi Tempo, Minggu 10 Juni 2012. “Yang saya hormati, dia setia kawan. banyak yang lain ketika susah, melarikan diri, tapi dia menerima,”

Salim memang dikenal dekat dengan Presiden RI ke-2, Soeharto. Kedekatan Salim dengan Soeharto diakui Che Wei berperan penting dalam perkembangan usaha-usaha Salim. Tak pernah ada penguasa lain yang sedekat itu dengan Salim, selain Soeharto. “Pengusaha pasti ada kedekatan, tapi pascaSoeharto lengser, tidak ada yang sedekat itu,” ucap Che Wei.

Pengusaha yang lahir di tanah Tiongkok tersebut, seingat Che Wei, memulai bisnisnya dari berdagang kacang-kacangan dari Medan. Usahanya mulai berkembang ketika ia membuat pabrik sabun dan menjadi supplier sabun untuk militer.

Saat berbisnis sabun inilah, Salim mengenal Soeharto. Pada 1968, ia mendapat peluang bisnis besar sebagai supplier cengkeh. Pada masa tahun ”68-”98 inilah, Che Wei menyebut tahun keemasan Salim. “Setelah jadi supplier sabun ke tentara, dia mulai kenal ke Soeharto, setelah itu dia bikin BCA, bikin pabrik terigu, indomobil dan seterusnya,” ucap Che Wei.

Seiring kejatuhan Soeharto dan krisis ekonomi 1998, TSalim ikut terpuruk. Ia harus kehilangan aset-aset sejumlah perusahaannya termasuk aset BCA. Sebuah perusahaan, Holdiko Perkasa, bahkan sengaja dibentuk pemerintah untuk menjual satu per satu aset Salim. Ketika masa itu, Che Wei mengingat, kisruh terjadi antara generasi kedua Salim dengan generasi kedua kawan sekongsinya Sudwikatmono, Djuhar Sutanto dan Ibrahim Risjad. “Satu kali ada ribut generasi kedua ketika beberapa aset dipakai untuk menebus utang. Level kedua saling menuntut,” ujarnya.

Namun, di tangan Salim, masalah selesai dengan mudah, pembicaraan antar-orang tua. “Penyelesaiannya dengan mengingat hubungan sejak lama, mereka menyelesaikan masalah dengan kepercayaan,” ucapnya.

MARTHA T.

++++++++++++++++++++++
ENIN, 11 JUNI 2012 | 13:13 WIB
Orde Baru Tumbang, Salim Lepas Politik Soeharto
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Jakarta – Aktivis masa rezim Orde Baru Soeharto, Budiman Sudjatmiko, mengatakan kerajaan bisnis Salim Grup yang didirikan mendiang Liem Sioe Liong alias Sudono Salim piawai beradaptasi. Grup bisnis yang jaya pada masa Orde Baru itu terbukti tak runtuh seiring lengsernya bekas Presiden Soeharto.

“Grup Salim terbukti mampu beradaptasi,” kata Budiman saat dihubungi pada Senin, 11 Juni 2012.

Budiman mengatakan sedikit-sedikit, setelah Orde Baru digulingkan, grup Salim mulai melepaskan diri dari jaringan-jaringan politik yang dibangun bersama Soeharto. Di bawah pimpinan Anthony Salim, putra Sudono Salim, grup bisnis tersebut membuktikan tetap bisa bertahan tanpa kemudahan-kemudahan yang diberikan Soeharto. “Meskipun bisnisnya tak sebesar dulu lagi. Bank BCA akhirnya dijual,” ujar Budiman yang kini menjadi anggota parlemen dari PDI-Perjuangan.

Pada 1950-an Salim menggandeng tiga sahabatnya bernama Djuhar Sutanto, Ibrahim Risjad, dan Sudwikatmono untuk mendirikan PT Waringin Kentjana. Perusahaan ini merupakan cikal-bakal imperium bisnis Grup Salim. Sudwikatmono tak lain adalah sepupu Soeharto.

Kedekatan Liem dengan Soeharto, kata Budiman, turut membantunya mengembangkan bisnis. Hubungan keduanya bertahan karena saling menguntungkan. Liem beroleh keuntungan dari perlindungan politik, sedangkan Soeharto diuntungkan karena perkembangan ekonomi.

Menurut pendiri Independent Research & Advisory Indonesia, Lin Che Wei, Liem adalah sosok yang setia kawan. “Ketika Soeharto jatuh, dia terkena dampaknya, dan dia menerima,” kata Che Wei saat dihubungi Tempo, Minggu, 10 Juni 2012. “Yang saya hormati, dia setia kawan. banyak yang lain ketika susah, melarikan diri, tapi dia menerima.”

Hingga dekade 2000-an, kerajaan bisnis Salim Grup tetap bertahan. Di bawah grup ini bernaung perusahaan-perusahaan antara lain Indofood, Indocement, PT Bogasari, Indomobil, serta Indosiar. Taipan yang sejak akhir 1990-an memilih menetap di Singapura itu meninggal pada Minggu 10 Juni 2012 di Singapura.

+++

Bagaimana Hubungan Soeharto dan Om Liem?
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Jakarta – Bisnis pengusaha nasional, Sudono Salim atau Liem Sioe Liong, berjaya ketika taipan ini dekat dengan bekas penguasa negeri ini, Presiden Soeharto.

Aktivis masa Orde Baru Budiman Sudjatmiko mengatakan hubungan bekas Presiden Soeharto dengan mendiang Liem bertahan lama karena keduanya saling menguntungkan.

“Om Liem butuh payung politik untuk melindungi bisnisnya dan Soeharto diuntungkan dari bisnis dan perkembangan ekonomi,” kata Budiman saat dihubungi Tempo, Senin, 11 Juni 2012.

Kedekatan Sudono Salim yang akrab dipanggil Om Liem dengan Soeharto bermula saat Soeharto menjabat Panglima Komando Daerah Militer Jawa Tengah tahun 1950-an. Liem dipercaya Soeharto untuk memasok kebutuhan tentara.

Salim menggandeng sahabatnya Djuhar Sutanto, Ibrahim Risjad, dan Sudwikatmono. Sudwikatmono tak lain adalah sepupu Soeharto. Mereka mendirikan PT Waringin Kentjana yang merupakan cikal-bakal imperium bisnis Grup Salim.

Kedekatan Liem dengan Soeharto berjalan seiring dengan perkembangan bisnisnya. Kiprahnya sebagai menanjak di dekade 1960-an. Saat itu Liem mendapat peluang bisnis besar menjadi supplier cengkeh. Dekade berikutnya, ekspansi bisnis Liem semakin luas.

Liem membangun pabrik tepung terigu raksasa PT Bogasari Flour Mills yang seterusnya berkembang menjadi Indofood. Ia juga mendirikan antara lain Indosiar, Indocement, serta Indomobil.

Budiman mengatakan ekspansi bisnis Liem tak akan semegah itu tanpa kedekatannya dengan Soeharto. Liem memanfaatkan jaringan politik yang ia punya untuk mengembangkan bisnisnya.

Seiring dengan runtuhnya Orde Baru, bisnis Liem juga ikut menurun. Tak lagi sebesar dulu. Tapi, kata Budiman, grup Salim piawai beradaptasi. Inilah yang membuat perusahaan yang dirintis Liem tak ikut runtuh bersama dengan rezim Orde Baru. “Sedikit-sedikit, usahanya tak lagi mengandalkan jaringan politik,” ujar Budiman. “Kemudahan-kemudahan pada masa Orde Baru mulai dilepas.”

Pada era Orde Baru, Budiman dikenal sebagai aktivis penentang pemerintah. Pada akhir 1990-an, sebelum kejatuhan Soeharto, Budiman menjadi ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD). Melalui PRD ia mendorong pemilihan umum yang bersih dan bercita-cita menjadi presiden. Dinamika politik kemudian menyatakan PRD adalah partai terlarang dan Budiman dijebloskan ke penjara Cipinang.

ANANDA BADUDU

++++++++++++++++++++++

Bisnis Salim

Dalam negeri Luar negeri

Indofood First Pacific Ltd (Hongkong)
Bogasari PLDT ,Philex, (philipine)
Indosiar Indofood, QAF ( singpore)
Indocement Singfood investment (singpore)
Indomobil Kolkata West International city (india)

+++++++++++++++++

Om Liem Ubah Mentalitas Bangsa Indonesia Lewat Mie Instan
Ahmad Toriq – detikNews
Senin, 11/06/2012 11:23 WIB

Jakarta Peneliti LIPI Asvi Warman Adam mengenang Sudono Salim atau Om Liem sebagai sosok yang banyak berpengaruh bagi bangsa Indonesia. Tak hanya di bidang perkenomian, Om Liem berpengaruh mengubah mental masyarakat Indonesia melalui Indomie, mie instan besutan PT Indofood, yang didirikannya.

“Bahwa dia berbisnis Indomie yang seakan lagunya mewakili Indonesia ini, menurut saya membawa perubahan mentalitas bagi bangsa. Orang yang selama ini memakan nasi, sekarang jadi makan mie yang bahannya impor. Ini membawa perubahan tidak hanya di bidang kuliner, tapi juga menyangkut mentalitas Indonesia,” kata Asvi saat berbincang dengan detikcom, Senin (11/6/2012).

Asvi menilai kemudahan penyajian mie instan berpengaruh pada mentalitas masyarakat. “Efek dari pola makan itu kita lihat sendiri, kan kita tahu Indomie secara gizi itu tidak cukup. Saya mengatakan ini menyebabkan pola makan dan mental jadi kita ingin sesuatu yang instan,” papar peneliti yang banyak mengkaji Orba ini.

“Saya tidak mengatakan ini sepenuhnya negatif ya, tapi membuat kita jadi terbiasa dengan sesuatu yang instan,” lanjutnya.

Asvi juga menilai kebiasaan makan mie instan saat ini seakan menjadi ciri khas pola makan masyarakat kalangan bawah. “Ini menjadi sesuatu bagi masyarakat kalangan bawah yang sering merasa cukup dengan Indomie saja,” imbuhnya.

Selain tentang mie instan, Asvi juga mengenang Om Liem sebagai sosok yang dekat dengan Presiden Soeharto. Berkat kedekatannya dengan Soeharto, Om Liem mendapat banyak kemudahan dalam menjalankan bisnisnya.

“Soeharto memberikan berbagai hak monopoli, bukan hanya dengan Liem Sioe Liong, seperti monopoli impor cengkeh,” tutur Asvi.

Menurut Asvi, hubungan Om Liem dan Soeharto saat itu saling menguntungkan. Om Liem banyak diberi kemudahan dalam menjalankan bisnis, Soeharto banyak mendapat bantuan keuangan.

“Jelas Om Liem menjadi orang yang diuntungkan oleh Soeharto, dia menjadi semacam bendahara, memberikan bantuan juga ke Soeharto dalam banyak hal, bantuan keuangan. Lim Sioe Liong ini orang yang setia dengan Soeharto,” pungkasnya.

Om Liem meninggal di Raffles Hospital Singapura pada Minggu (10/6) sekitar 15.00 WIB. Bisnis pria kelahiran Tiongkok, 16 Juli 1916 ini diteruskan oleh anaknya, Anthony Salim, beserta menantunya, Franciscus Welirang.

++++++

Om Liem Berpesan Kembangkan Tahapan BCA

Grup Salim melalui anaknya, Anthoni Salim, kini hanya memiliki 1,76 persen saham di BCA.
SENIN, 11 JUNI 2012, 07:57 WIB Arinto Tri Wibowo

Om Liem pernah minta untuk mengembangkan Tahapan BCA. (VIVAnews/Anhar Rizki Affandi)
BERITA TERKAIT
Akbar Tandjung Layat Om Liem ke Singapura
Om Liem Disemayamkan di Mount Vernon Funeral
Indofood, Mesin Uang Grup Salim
Sofjan: Om Liem Ingin Menikmati Hari Tua
Om Liem, dari Jual Tahu Hingga Terkaya Asia
VIVAnews – Kalangan pengusaha dan dunia bisnis Indonesia kembali berduka. Liem Sioe Liong atau dikenal dengan nama Sudono Salim, tutup usia pada usia 95 tahun di Singapura.

Pengusaha yang pernah menjadi orang terkaya Indonesia di masa Orde Baru itu meninggal dunia setelah lama menderita sakit karena usia tua.

“Saya sudah cek, betul beliau meninggal di Singapura,” kata Sofjan Wanandi, rekan bisnis Liem Sioe Liong, ketika dihubungi VIVAnews, Minggu, 10 Juni 2012.

Sofjan yang juga ketua umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) itu, mengungkapkan, kabar wafatnya Sudono Salim diperolehnya dari pesan singkat. Tercatat tiga buah SMS dari rekannya yang berada di Singapura mengabarkan kabar duka tersebut kepadanya.

Franciscus Welirang, wakil direktur utama PT Indofood Sukses Makmur Tbk yang juga menantu Lim Sioe Liong, membenarkan bahwa mertuanya meninggal di Singapura pada 10 Juni 2012, pukul 15.50 waktu setempat.

“Benar beliau sudah meninggal. Saya sudah mendapat kabar dari istri saya yang berada di sana,” kata Franciscus melalui sambungan telepon, Minggu, 10 Juni 2012.

Liem Sioe Liong lahir di Tiongkok, 10 September 1915. Om Liem, sapaan Liem Sioe Liong adalah pendiri Grup Salim dan pemilik sejumlah perusahaan besar, di antaranya PT Bank Central Asia Tbk.

Namun, salah satu bisnis terbesarnya di industri perbankan itu, Grup Salim tak lagi miliki mayoritas saham di BCA. Bank yang kini berusia 55 tahun itu sempat menjadi bank terbesar di Indonesia, dengan salah satu andalannya adalah produk Tahapan.

Berdasarkan data di laman bca.co.id, Grup Salim melalui anaknya, Anthoni Salim, kini hanya memiliki 1,76 persen saham di BCA.

Pemilik mayoritas saham BCA per 31 Desember 2011 adalah Grup Djarum melalui Farindo Investment, Ltd, yang berbasis di Mauritius, yakni sebesar 47,15 persen. Selanjutnya, saham yang dibeli kembali oleh BCA (treasury stock) sebesar 1,18 persen, sedangkan publik 49,91 persen.

Direktur Utama BCA Jahja Setiatmadja mengatakan, Om Liem, sapaan Liem Sioe Liong, pernah menitipkan pesan kepada manajemen BCA. “Beliau dulu selalu berpesan untuk mengembangkan Tahapan BCA,” ujar dia dalam pesan singkatnya kepada VIVAnews di Jakarta, Senin 11 Juni 2012.

Jahja menambahkan, pesan Om Liem saat itu untuk mengembangkan bernama Tahapan BCA tersebut dimaksudkan agar produk tabungan itu dapat dimiliki seluruh masyarakat Indonesia.

Kini, berdasarkan data di Bursa Efek Indonesia, nilai kapitalisasi pasar saham BCA di BEI per 8 Juni 2012 telah mencapai Rp172,07 triliun.

Nilai kapitalisasi pasar BCA itu terbesar keempat setelah PT Astra International Tbk (ASII) sebesar Rp269,2 triliun, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) senilai Rp219,15 triliun, dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang mencapai Rp174,7 triliun.(np)

___________________

Dari Kompas Cetak :

Satu Cerita Soeharto tentang Om Liem

Minggu pagi, 24 September 1995, udara di rumah joglo peternakan Tri S, Tapos, Bogor, dingin sekali. Tawa dan gelak silih berganti menggema di tempat sekitar 150 peserta Musyawarah Nasional Kerukunan Usahawan Kecil dan Menengah Indonesia III berkumpul. Ada tawa spontan dan tawa yang dibuat-buat.

Tawa dan gelak itu pecah karena Presiden Soeharto bercerita tentang sahabatnya, Liem Sioe Liong atau Sudono Salim.

Dalam ceritanya, Soeharto banyak menirukan ucapan Liem. ”Beliau itu, kan, celat (cadel),” ujarnya. Ia mengklarifikasi anggapan, Liem dapat berbagai fasilitas usaha dari kekuasaannya sehingga bisa memonopoli usaha terigu dan semen.

Ketika itu, PT Bogasari Flour Mills dan PT Indocement Tunggal Perkasa tampak mencorong.

”Nah, sekarang saya buka saja mengenai masalah Bogasari. Itu (Bogasari) dibangun tahun 1970-an oleh yang bernama Om Liem. Dia, kan, pengusaha yang saya kenal sejak di Semarang. Dia datang kepada saya dengan suara celat mengatakan, ’Pak saya ini olang kelja, untuk lakyat apa yang halus saya lakukan’,” demikian cerita Soeharto.

Kata Soeharto, Liem datang minta tugas, mau kerja tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. ”Lalu saya bilang, kamu jangan hanya dagang saja, …tapi industri yang dibutuhkan rakyat sekarang ini adalah pangan,” cerita Soeharto.

”Apakah punya teman di luar negeri untuk mendukung permodalan? Lalu dijawab ada. Baiklah kalau begitu, kamu mendirikan pabrik tepung terigu,” demikian Soeharto menceritakan dialognya dengan Liem.

Menurut Soeharto, yang diberi kesempatan soal semen dan gandum bukan hanya Liem. Beberapa pihak juga mendapat fasilitas izin mendirikan pabrik semen dan terigu. Akan tetapi, mereka tidak berkembang.

Di kesempatan lain, ketika menjelaskan soal Liem dan konglomerat lain, Soeharto pernah mengatakan. ”Pemerintah tetap punya kekuasaan mengendalikan mereka dan bisa mengarahkan kerjanya untuk rakyat banyak. Kalau mereka meninggal dunia, kekayaannya tidak bisa dibawa,” ujar Soeharto.

Kini Liem dan Soeharto sudah tiada. Tidak usah kita tanyakan apa yang mereka bawa. Kita lihat saja apa yang mereka wariskan. (J Osdar)

December 15, 2011

Waralaba Asing agar Diperketat

Kamis,
15 Desember 2011
PERDAGANGAN
Waralaba Asing agar Diperketat
Jakarta, Kompas – Pemerintah didesak untuk memperketat kontrol terhadap waralaba asing. Meski ada rambu-rambu, selama ini mereka bebas beroperasi. Jika terus dibiarkan, kehadiran mereka bisa menjadi parasit karena cenderung memberikan efek negatif.

Ketua Komite Tetap Waralaba dan Lisensi Kamar Dagang dan Industri Indonesia Amir Karamoy, di Jakarta, Rabu (14/12), mengatakan, rambu-rambu yang ada mengatur soal bahan baku waralaba dari pasokan lokal dan perjanjian waralaba menggunakan hukum Indonesia.

”Aturan yang ada masih sangat sedikit. Itu pun tidak ada pengawasan sehingga banyak dilanggar,” ujarnya.

Aturan yang perlu ditambahkan adalah soal kewajiban bermitra dengan pengusaha lokal. Menurut dia, banyak waralaba asing yang beroperasi dengan modal sendiri dan tidak bermitra dengan pengusaha lokal.

”Jadinya seperti cabang usaha karena kepemilikannya tetap di tangan mereka. Padahal, prinsip waralaba seharusnya menularkan kesuksesan kepada orang lain,” paparnya.

Amir menjelaskan pertumbuhan waralaba asing tahun ini sangat pesat. Tahun 2010, ada 70 waralaba asing. Tahun ini, jumlahnya sudah bertambah menjadi 152 waralaba.

”Sebelum 16 waralaba Amerika Serikat datang ke sini, ada 30 waralaba dari Malaysia yang datang untuk menjajaki pasar Indonesia,” ujarnya.

Menurut Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, aturan yang ada terkait waralaba asing memang perlu dilihat lagi. Aturan tersebut harus bisa memastikan waralaba asing memberikan manfaat bagi ekonomi Indonesia.

Sekretaris Jenderal Gabungan Makanan dan Minuman Indonesia Franky Sibarani mengatakan, pemerintah seharusnya lebih banyak mengembangkan waralaba dalam negeri. (ENY)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 49 other followers