Archive for ‘Entrepreneur’

August 1, 2014

Pemuda Salatiga yang Kalahkan Insinyur Oxford Kini Ekspor “Pulpen Batok Kelapa” ke AS

hebat nih.. ini baru jihad !

Jumat, 1 Agustus 2014 | 11:07 WIB
Yoga SukmanaPulpen Batok Kelapa Buatan Arfian Fuadi dan Arie Kurniawan

Baca juga

JAKARTA, KOMPAS.com — Masih ingat Arfian Fuadi (28) dan Arie Kurniawan (23)? Mereka adalah kakak beradik asal Salatiga, yang berhasil menyabet juara pertama dalam “3D Printing Challenge” yang diadakan General Electric (GE) tahun ini dan karyanya mengalahkan karya insinyur lulusan universitas terkemuka dunia. Saat ini keduanya sudah mampu mengekspor salah satu buah karyanya, yaitu pulpen ke Amerika Serikat.

Bukan sembarang pulpen, karya anak bangsa yang satu ini memang simpel, tetapi sangat inovatif. Pernah membayangkan bagaimana alumunium bisa dipadukan dengan batok kelapa? Ya, itulah yang dilakukan oleh Arfian dan Arie melalui bisnis manufakturnya yang bernama Dtech Engineering.

“Saat ini memang kami memiliki sebuah bengkel, untukmanufacturing buat pulpen. Pulpennya terbuat dari alumunium tapi kami pakai batok kelapa juga di situ,” ujar Arie kepadaKompas.com, Jakarta, Jumat (1/8/2014).

Dengan memadukan kedua bahan tersebut, mereka berhasil memberikan sentuhan baru pada produk-produk pulpen di penjuru bumi. Bahkan, produk mereka saat ini sudah mencapai Amerika Serikat untuk dipasarkan dengan merek CocoPen.

Pemuda yang lahir pada 11 Juli 1991 lulusan SMK jurusan otomotif tersebut mengatakan, pemilihan batok kelapa bukan tanpa sebab. Selain teksturnya yang unik, batok kelapa juga sangat mudah ditemui bahkan melimpah di pasar-pasar tradisional di Indonesia. Sayangnya, kata dia, masyarakat kurang memanfaatkan batok kelapa tersebut sehingga fungsinya menjadi terlupakan.

“Kalau pakai kayu kan harus tebang pohon. Kalau pakai batok kelapa kita gak perlu tebang pohon karena batok kelapa banyak ditemui di pasar, lebih ramah lingkungan,” katanya.

Dia menambahkan saat ini produksi bengkelnya masih relatif kecil, yakni 100 sampai 200 pulpen per tiga bulan. Bahkan, Arie mengaku bengkelnya hanya memiliki beberapa mesin dan beberapa pekerja untuk melakukan proses produksi pulpen tersebut. Namun menurut dia, hal tersebut adalah awal bagaimana bisnis rintisan mereka mampu berbicara di kancah dunia.

Hasil karya pemuda asal Salatiga ini ternyata tidak dihargai rendah. Arie mengaku bahwa hasil karya tersebut dinilai tinggi oleh pemesannya bahkan harganya bisa mencapai 70 dollar AS atau jika kurs rupiah Rp 11.500, maka karya mereka dihargai Rp 805.000 per pulpen.

Arie menyakini bahwa segala sesuatu memang berawal dari mimpi lalu dieksekusi melalui kerja keras sehingga mampu menjadi kenyataan yang baik. “Anak muda jangan takut bermimpi, tapi bedakan sama angan-angan, kalau angan-angan kan gak ada kerja kerasnya, kalau mimpi ya harus ada kerja keras. Kalau kata orang, jangan kasih pancing atau umpan ke orang yang mau mancing, tapi kasih gimana mereka belajar buat pancing,” tandas Arie.

January 15, 2014

Tumbuh Semangat Kewiraswastaan

Sayang jumlah koruptor dan kriminil  masih lebih banyak

 

 

Wiraswasta Ciptakan Lapangan Kerja Baru

 

 

 

 

JAKARTA, KOMPAS — Semangat kewiraswastaan di Indonesia semakin meningkat. Hal itu terlihat dari peningkatan jumlah peserta ajang ekspo dan pameran kewiraswastaan yang diadakan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Ajang ini diikuti 6.725 mahasiswa.

Bank Mandiri menggelar ekspo atau pameran kewiraswastaan pada 15-19 Januari 2014 di Istora Senayan, yang diikuti 136 wiraswasta dan mitra binaan Mandiri. Dalam acara besok, penghargaan juga akan diberikan bagi Wirausaha Muda Mandiri (WMM) dan Mandiri Young Technopreneur (MYT).

”Program WMM dan MYT ini untuk mendorong generasi muda Indonesia berwiraswasta sehingga mengurangi ketergantungan pada ketersediaan lapangan pekerjaan,” kata Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Pahala N Mansury di Jakarta, Senin (13/1).

Peningkatan angka kewiraswastaan, kata Pahala, akan meningkatkan kesejahteraan lingkungan sekitar. Hal ini akan mendorong perekonomian Indonesia.

Diikuti 6.725 peserta

WMM diikuti 6.725 mahasiswa dari 516 perguruan tinggi di Indonesia, sedangkan MYT diikuti 837 tim. Jumlah peserta WMM pada tahun 2012 sebanyak 4.725 peserta. Jumlah peserta ini naik dibandingkan dengan tahun 2011 yang sebanyak 3.751 peserta.

”Kami optimistis semakin banyak generasi muda yang menjadi pencipta lapangan kerja, yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang jauh lebih baik,” ujar Pahala.

Akhir tahun lalu, Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo mengungkapkan, jumlah wiraswasta di Indonesia masih kurang. Di Indonesia, rasio jumlah wiraswasta terhadap jumlah penduduk baru sekitar 1,56 persen. ”Padahal, idealnya 2 persen,” kata Agus.

Ekonom Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Doddy Ariefianto, yang dihubungi Selasa (14/1), menyambut positif soal wiraswasta di Indonesia. Menurut dia, wiraswasta memberikan kontribusi positif bagi perekonomian dalam negeri meskipun ia menyoroti masih rendahnya rasio jumlah wiraswasta terhadap jumlah penduduk di Indonesia.

 

 

”Peran wiraswasta sangat besar dalam menyumbang perekonomian di dalam negeri. Ia bisa merekrut banyak orang dalam usahanya,” katanya(IDR)

KOMENTAR
November 14, 2013

2014, Wirausaha Muda di Indonesia Tembus 4,7 Juta

 

“Kami menargetkan ada peningkatan sekitar 0,5 persen di tahun depan.”

ddd
Kamis, 14 November 2013, 07:36Antique, Daru Waskita (Yogyakarta)
Salah satu hasil kerajinan tangan.
Salah satu hasil kerajinan tangan.(VIVAnews/Anhar Rizki Affandi)
 
 
VIVAnews - Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menargetkan pada 2014, wirausaha muda di Indonesia akan mencapai 4,7 juta atau 1,6 persen dari jumlah penduduk Indonesia.
 
Sedangkan wirausaha muda di Indonesia saat ini, mencapai 3,7 juta atau sekitar 1,5 persen dari jumlah penduduk di Indonesia.
 
“Kami menargetkan ada peningkatan sekitar 0,5 persen wirausaha muda Indonesia di tahun depan,” kata Menteri Pemuda dan Olahraga, KRTM Roy Suryo, saat ditemui dalam acara loka karya Forum Wirausaha Muda Nasional Tahun 2013 di Yogyakarta, semalam
 
Menurut Roy, menyiapkan wirausaha muda sangat penting karena Indonesia akan memasuki Asean Community yang akhirnya semua produk dari luar negeri bakal membanjiri Indonesia. Indonesia pun punya kesempatan memasarkan produknya ke luar negeri.
 
“Ketika kita tidak siap dengan wirausaha muda, kita akan menjadi penonton dan hanya sebagai pasar produk luar negeri,” jelasnya.
 
Politisi Partai Demokrat ini mengatakan hal yang diperlukan bagi wirausaha muda adalah semangat untuk maju, karena hal-hal yang tradisional pun bisa diangkat sebagai karya yang disenangi masyarakat.
 
“Bayangkan, musik gamelan yang tradisional ketika diramu dengan kendang dan beberapa musik lainnya menjadi sangat menarik dan laku di pasaran,” ujarnya.
 
Kearifan lokal bagi wirausaha muda juga sangat perlu diterapkan seperti di Yogya dengan kata Memayu Wahyuning Bawono, yang artinya Memperindah Indahnya Dunia. Bagaimana suatu produk itu juga peduli dengan lingkungan dan menjaga komunitas antarmanusia. “Suatu produk juga menimbulkan kepercayaan terhadap penciptanya,” kata Roy.
 
Dan yang perlu diingat, lanjutnya, dengan kemajuan zaman, maka pemasaran kini dapat dilakukan dengan online atau melalui internet. “Bertemunya wirausaha muda dari 33 provinsi ini juga dapat dimanfaatkan untuk saling tukar pengalaman, bahkan bisa saling memasarkan produknya,” tuturnya. (adi)
October 27, 2013

Gurita Bisnis Kel Thohir

Kompas, Jumat, 25 Oktober 2013 | 09:30 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Bisnis keluarga Thohir kian menggurita. Setelah berhasil mengempit 35 persen saham operator 3, PT Hutchison CP Telecommunications, konsorsium yang dipimpin Erick Thohir akhirnya sepakat membeli 70 persen klub FC Internazionale Milano S.p.A atau Inter Milan.
Garibalidi Thohir atau yang kerap disapa Boy Thohir mengatakan, pembelian saham klub sepak bola berjuluk Nerrazzuri itu bukan atas nama perusahaan keluarga, yakni PT Trinugraha Thohir (TNT). “Tapi, sebelumnya (kami) sudah punya DC United dan 76ers, jadi kemungkinan akan dikonsolidasikan,” ujarnya belum lama ini.
Sayang, ia tidak bilang nama anak usaha yang mewadahi klub-klub olahraga tersebut. Begitu pula terkait kepemilikan sahamnya. Seperti diketahui, keluarga Thohir yang dipimpin Erick menggandeng sejumlah kerabatnya. Mereka adalah Rosan Roeslani dan Handy Soetedjo. Sebelumnya, pendiri dan chairman Mahaka Group ini juga menggandeng Rosan saat mengakuisisi saham DC United, klub yang berlaga di Major League Soccer, Amerika Serikat.
Dengan Handy Soetedjo, Erick membeli saham klub basket AS Philadelphia 76ers bersama Erick pada tahun 2011. Sekadar informasi, Bisnis keluarga Thohir yang berada di bawah naungan TNT antara lain bergerak di sektor sumber daya alam (SDA), otomotif, restoran, properti, dan media.
Di SDA, TNT memiliki PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dan PT Surya Essa Perkasa Tbk (ESSA). Di bidang otomotif, TNT punya PT Wahanaartha Harsaka. Sementara di bisnis restoran, keluarga Thohir punya Restoran Hanamasa, Pronto Restaurant, dan Yakun Kaya Toast.
Selanjutnya, di sektor properti, TNT memiliki Taman Laguna, Cibubur Residence, Permata Kranggan, Taman Arcadia Mediterania, Permata Arcadia Cimanggis, dan Hotel Amaris Bogor. Di bisnis media, keluarga Thohir menguasai saham PT Mahaka Media Tbk (ABBA) dan memiliki 4,19 persen saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) melalui Thohir Media Partner. (Amailia Putri Hasniawati)

October 22, 2012

Membangun dengan Berdagang

Senin,
22 Oktober 2012

NV HADJI KALLA 60 TAHUN

Dalam acara peringatan 60 tahun Hadji Kalla Group di Makassar, Sabtu (20/10) malam, Jusuf Kalla mengisahkan awal dari kelompok usaha yang bernama Naamloze Vennootschap Hadji Kalla Trading Company tahun 1952. Perusahaan itu didirikan ayahnya, Hadji Kalla, yang hanya tamatan sekolah dasar.

”Dia bahkan tidak tahu kepanjangan NV (naamloze vennootschap),” kata Jusuf Kalla disambut tawa tamu yang memenuhi Trans Studio Makassar.

Bersama istri, Athirah, Hadji Kalla membesarkan usaha dengan ekspor dan impor hingga kemudian diserahkan kepada Jusuf Kalla tahun 1967. Kerja sama dengan Toyota membuat Kalla Group sebagai penguasa distribusi kendaraan Toyota untuk Sulawesi ataupun Indonesia sebelah timur sampai sekarang.

Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor Johnny Darmawan menyebut bahwa penjualan mobil Toyota di Sulawesi menyumbang 56,8 persen dari total penjualan di wilayah timur sebanyak 16.415 unit periode Januari-Agustus 2012.

”Dalam waktu empat tahun, Kalla Group mampu mendongkrak penjualan dari 5.000 unit menjadi hampir 20.000 unit,” kata Johnny.

Hingga tahun ini, mereka terus agresif membangun gerai penjualan Toyota di Indonesia timur. Salah satunya, cabang di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (20/10). Fatimah Kalla yang kini menjabat sebagai Presiden Direktur Kalla Group menuturkan, mereka sudah ancang-ancang membangun tiga gerai lagi pada 2013 dengan investasi Rp 200 miliar.

Menyejahterakan

Menurut Jusuf Kalla, salah satu alasan yang membuat grup usaha itu bertahan sampai 60 tahun adalah nilai yang diwariskan dari sang ayah, Hadji Kalla. Nilai itu adalah bekerja sebagai bagian ibadah karena bisa memberi nafkah, membayar zakat, hingga membangun masjid. Selain itu, juga memegang tradisi Bugis, yakni pantang menyerah, kerja keras, hingga siri atau rasa malu bila belum berhasil.

Satu-satunya cara agar perusahaan makmur, lanjut Jusuf Kalla, adalah dengan menyejahterakan masyarakat terlebih dahulu. Itulah sebabnya dia bersama Pemprov Sulsel aktif dalam pengembangan komoditas lokal daerah, seperti cokelat atau udang.

Kalla Group memiliki skala prioritas terhadap kebutuhan dasar yang harus dicukupi terlebih dahulu. Pada 1990-an, mereka bergerak di sektor telekomunikasi karena beranggapan, telekomunikasi bisa mendongkrak produktivitas masyarakat.

Kini, prioritas Kalla Group bergeser ke bidang energi. Mereka membangun pembangkit tenaga listrik di sejumlah wilayah di Indonesia timur, salah satunya PLTA Poso. Jusuf Kalla menjelaskan, dengan tercukupinya kebutuhan listrik, pembangunan apa pun dimungkinkan.

”Dalam lima tahun ke depan, direncanakan kapasitas daya terpasang di Indonesia timur capai 1.000 megawatt,” ujarnya.

Pada usia 60 tahun, tantangan terbesar bagi Kalla Group adalah beradaptasi dengan zaman. Tidak lagi cukup berbentuk usaha keluarga, manajemen modern pun diterapkan.

Putra bungsu Jusuf Kalla, yakni Solihin Kalla, sudah dipersiapkan. Dia kini menjabat Direktur Pengembangan Bisnis.

Ditanya generasi ke berapa mengendalikan Kalla Group saat ini, Jusuf Kalla dengan berseloroh menjawab generasi 2.5. ”Generasi kedua dan ketiga bersama menangani,” ujarnya.

Dengan perjalanan perusahaan hingga enam dasawarsa seperti ini, Jusuf Kalla mengharapkan filosofi Hadji Kalla terus dibawa di masa mendatang, yakni mendahulukan masyarakat.

(Didit Putra Erlangga Rahardjo)

July 23, 2012

Harpoen Wants to Be Indonesia’s Next Big Tech Company

July 23, 2012, 12:00 PM SGT
Harpoen Wants to Be Indonesia’s Next Big Tech Company

Article
Comments
SOUTHEAST ASIA REAL TIME HOME PAGE »
smaller
Larger
facebook
twitter
google plus
linked in
Email
Print
By Eric Bellman

harpoen.com
A screenshot demonstrating how harpoen.com works on an iPhone.
JAKARTA – While Indonesians are some of the most active Twitter and Facebook users in the world, few companies have found ways to make much money off of their social clicks.

Yet as one of Indonesia’s biggest online success stories, Koprol – a location-based social network that was bought by Yahoo – is being shut down, a new location-based platform called Harpoen thinks it can make bucks off of Indonesia’s buddy-based buzz.

The creators of the iPhone application say the secret is to use Indonesia as a sort of intense beta testing ground. Indonesians post more tweets and Facebook updates than almost any other group in the world, and they love to try new things online on their cellphones. That means that if you give them something cool to try out, they will quickly find the glitches in the system and create new ways to use it, programmers say.

Harpoen, which lets users drop comments, photos or videos (which it calls “digital graffiti”) at specific locations for others to find, figures it can leverage all that enthusiasm to make its products better—and also find ways to make them profitable on a global scale.

“Indonesia has a huge population of hip and tech-savvy urbanites who are very open-minded to new ideas and concepts,” says J.P. Ellis, a Jakarta-based American who left his job at a private equity firm to start Harpoen. “Indonesians are also naturally social. We may be the friendliest country in the world.”

Though it was released only four months ago, users have already dropped tens of thousands of “harps” around Jakarta, Bandung and other cities. Many comments left are predictable gripes at big traffic bottlenecks. But users are also using the service in other unexpected ways.

Some are using it to tell others about their favorite waitress at a restaurant, while others are using it to post poetry connected to a certain location. Others are dropping harps to recommend street-food stands. One of the unexpected uses has been to post Wi-Fi passwords at the locations of the many restaurants and cafes that have free Wi-Fi for customers.

There are other services that have stumbled upon surprising popularity in Indonesia. Mig33—which allows people without smartphones chat and blog on their less-expensive cellphones—has millions of users in Indonesia. Meanwhile, Indonesia has become one of BlackBerry’s most important markets, with Indonesians often using it for its instant-messaging services rather than its email capabilities.

“Indonesians are driven to always be in contact with their peers,” said Aulia Masna, editor of Dailysocial, an Indonesian technology news website. “When somebody that [an Indonesian] looks up to uses a particular technology and looks like they are having fun with it, everyone will follow.”

Of course, that doesn’t mean anything launched in Indonesia will become a hit, especially when it comes to making money. Harpoen, for example, needs much more user-generated content to make it fun. In malls or college campuses there may be many harps to see, but elsewhere when people open their Harpoen application, they often find nothing nearby.

Meanwhile, the app may be handicapping itself by offering the service only to iPhone users. Indonesia’s sticky social networkers may be incredibly active online, but few can afford the $600 phones.

The company hopes to fix that soon by making it available for phones that use the Android operating system. That will expand its potential audience from the hundreds of thousands to millions in Indonesia.

If Harpoen can capture the attention of a large enough group of Indonesian hipsters, the company hopes the local advertising, and then the international expansion, will follow.

Blackberry, Facebook, Indonesia, Technology, Twitter

July 16, 2012

Turun ke Lapangan

Senin,16 Juli 2012
KORPORASI
Turun ke Lapangan
Semasa masih berusia di bawah 78 tahun, usahawan Ciputra selalu turun langsung ke lapangan. Kalau para direksinya hendak melapor di kantor, pendiri salah satu grup properti terbesar di Asia Tenggara ini sesekali memilih menerima laporan di lapangan. ”Kebetulan saya hendak melihat langsung lokasi proyek. Nanti saya dengar laporan Anda di sana saja, ya,” begitu Ciputra menirukan ucapannya sendiri, di Jakarta pekan lalu.

Ciputra menuturkan, ke lapangan memberi makna dan penuh warna sebab staf atau para pekerja di lapangan senang disapa. Arti lain, ia langsung melihat bakal lokasi proyeknya, tahu keadaan sesungguhnya di lapangan, tahu apa yang mesti disiapkan, tahu perkembangan detail, dan sebagainya.

Berada di lapangan, lanjut Ciputra, membuat seluruh elan melompat-lompat, energi bergelora luar biasa. Kalau sudah begini, proyek-proyek berikutnya segera menyusul. Datangnya proyek baru tidak semata dilihat sebagai ekspansi, tetapi terbukanya lapangan kerja. Kini, Ciputra (80 tahun) lebih berkonsentrasi pada aktivitas amal dan pendidikan. Ia melimpahkan grup usahanya kepada anak dan para menantunya.

Turun ke lapangan menjadi ciri khas bagi para usahawan. The Ning King, usahawan tekstil dan properti, suka ke lapangan. Begitu pula dengan usahawan lain, di antaranya Dick Gelael dari KFC, J Andrean dari J.Co dan Breadtalk, Chairul Tanjung dari Para Group, Tri Ramadi dari Alam Sutera, AH Marhendra dari SpringHill, S Benjamin dari Summarecon.

Dick Gelael, misalnya, selalu menyempatkan datang sendiri melihat bakal gerai Kentucky Fried Chicken (KFC). Kalau ia merasa tak cocok, meski anak buahnya merekomendasi, gerai itu pasti batal dibeli atau batal dibangun. Kalau cocok, biasanya Dick langsung mengambil kertas putih dan memberi sketsa tentang bentuk gedung atau restoran yang ia inginkan. ”Sampai lapangan parkirnya seperti apa, beliau juga yang gariskan,” ujar Ricardo Gelael, salah seorang putranya, baru-baru ini.

Kalau pembangunan gerai baru itu dikerjakan, Dick yang suka mengendarai jip dengan bendera kecil di depannya, suka tiba-tiba muncul lalu memberi arahan. Ia tidak hirau apakah gerai itu terletak di daerah terpencil atau bukan. Ia selalu menyempatkan diri datang. Ini sekaligus menyiratkan betapa penting peranan sebuah gerai baru bagi Dick. Juga mencerminkan alangkah detail Dick melihat masalah dan betapa ia tidak ingin mendengar laporan dari belakang mejanya.

Kalau kemudian KFC tetap memegang pangsa besar dari pasar ayam goreng nasional, itu tidaklah mengherankan sebab Dick tekun mencium aroma persaingan usaha di lapangan dan rajin mencoba cita rasa KFC. Sedikit saja berubah, ia langsung berteriak. Teriakan Dick menembus semua sekat KFC.

Kita acap menggampangkan aspek lapangan. Padahal, sikap kritis tetap perlu agar petugas lapangan tidak lengah.

Banyak eksekutif di China, Jepang, dan Jerman, sekadar menyebut contoh, sukses membawa usaha mereka ke puncak yang penuh kilau karena rajin turun ke lapangan. Mereka tekun mendengar suara-suara publik terhadap perusahaan mereka. Suara-suara publik menjadi telaga emas bagi perusahaan yang ingin berjalan di depan. (Abun Sanda)

July 9, 2012

Kris Taenar Wiluan

Kris Taenar Wiluan
Diposting Oleh : editor pada Tanggal : Apr 4 2012.
Melalui Grup Citramas, Kris Taenar Wiluan menancapkan bisnisnya di Batam, bahkan mancanegara. Bagaimana salah satu orang terkaya di Indonesia versi Forbes Asia ini membangun imperium bisnisnya?
Udara panas yang menyelimuti Kota Batam siang itu seperti sirna saat saya melihat pembuatan pipa baja raksasa yang diproduksi PT Dwi Sumber Arca Waja (DSAW) di Kawasan Industri Kabil. Rasa kagum pun menyeruak karena orang Indonesia yang dikenal pandai membuat kerajinan ternyata bisa juga membuat pipa segede itu.
Pipa pesanan sebuah perusahaan Belanda itu akan digunakan untuk menyangga rig atau anjungan pengeboran minyak di lepas pantai. Tampak para pekerjanya yang terlihat kecil dibanding pipanya bergelayutan untuk merampungkan pipa yang terbuat dari lempengan baja supertebal itu.
DSAW adalah salah satu dari sederet perusahaan milik Kris Taenar Wiluan di bawah PT Citra Tubindo Tbk. (CT), perusahaan penyedia alat perminyakan dan gas yang berbasis di Batam, Kepulauan Riau. Sejak 1989 CT tercatat sebagai perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya (sekarang telah dimerger menjadi Bursa Efek Indonesia). Kini, setelah berkiprah selama 25 tahun, CT telah beranak pinak: memiliki 16 anak perusahaan yang tersebar di dalam dan luar negeri.
Nah, CT sendiri merupakan anak usaha PT Citra Agramasinti Nusantara atau Grup Citramas selaku induk perusahaan yang juga milik Kris. Citramas menjadi kendaraan Kris untuk mengembangkan bisnisnya. Di CT, Citramas memiliki 27,75% saham — selebihnya, 41,83% saham CT milik publik, 25% kepunyaan Vallourec & Mannesmann Tubes, dan 5,42% milik Sumitomo Metal Indutries Ltd.
Citramas saat ini memiliki 30-an anak perusahaan dengan 3 ribu karyawan di Indonesia dan mancanegara. Bidang usahanya meliputi pabrik perlengkapan perminyakan dan gas, servis perkapalan, logistik, kawasan industri (Kabil), pengeboran, pelabuhan, perusahaan telepon, properti, serta pariwisata seperti resor, lapangan golf, plus terminal feri dan yacth. Tak ketinggalan, bisnis yang baru dibesutnya, animasi film dan periklanan, yang digawangi anak keduanya, Michael Wiluan.
Selain menjabat sebagai presdir di CT dan Citramas, Kris sejak 2005 juga menjadi Chairman dan CEO SSH Corp., perusahaan publik di bursa Singapura. SSH merupakan salah satu distributor produk baja terbesar di Negeri Singa dengan kantor cabang di Cina, Malaysia, Thailand dan Vietnam. Lalu, sejak 2006, ia menduduki posisi Chairman dan CEO Aqua Terra Corp. — perusahaan publik di bursa Singapura, distributor dan stockist alat-alat perminyakan dengan cabang di Qatar, Dubai dan Cina.
Tahun lalu Kris didapuk sebagai Chairman dan CEO KS Energy, perusahaan publik di bursa Singapura, operator pengeboran lepas pantai di Laut Utara Eropa, Timur Tengah, Cina dan Amerika Serikat. Perusahaan ini meraih Forbes Asia Award sebagai “The Best Company under a Billion”. Di ketiga perusahaan ini pun, Kris tercatat sebagai salah seorang pemilik.
Di luar itu, lulusan Ilmu Matematika dan Komputer Universitas London ini pun menjadi nakhoda perusahaan keluarga yang dirintis ayahnya: Grup Citra Bonang. Kelompok usaha ini bergerak di industri pembuatan ragi untuk roti dan bahan kimia zinc oksid untuk campuran ban dan bahan obat-obatan. Perusahaan ini berbasis di Jakarta dengan cabang di Medan dan Surabaya.
Dengan sejumlah usahanya itu, pria berperawakan tinggi besar ini pun menyandang sejumlah predikat, antara lain, CEO of The Year versi Bisnis Indonesia (2007) dan salah satu orang terkaya 2007 versi Majalah Forbes Asia yang menaksir total kekayaan Kris di Citramas sebesar US$ 185 juta. Terakhir, ia masuk lima besar dalam survei The Best CEO versi Majalah SWA (bekerja sama dengan Synovate dan Dunamis) tahun 2008.
Membangun kerajaan bisnis sebesar itu bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Kelahiran Jakarta, 1948, ini merintis bisnisnya dari bawah. Setelah jadi profesional di sebuah perusahaan Inggris dan Singapura, Kris mulai menjalankan bisnisnya sendiri. Di tahun 1977, ia mendirikan PT Citra Pembina Pengangkutan (perusahaan logistik), pemasok dan operator logistik untuk berbagai perusahaan minyak multinasional yang beroperasi di Indonesia. Tak hanya itu, pada 1983 ia mulai membangun pabrik dan tempat pemrosesan pipa pengeboran minyak dengan mendirikan CT. Ia tak sendiri dalam mendirikan perusahaan itu; Dali Sofari yang pernah jadi Dirut CT adalah mitra utamanya.
Mantan Asisten Khusus Menteri Perindustrian dan Perdagangan tahun 1999 ini menceritakan jerih payahnya terjun ke bisnis peralatan perminyakan. Menurutnya, Indonesia saat itu kaya sumber minyak. Namun, anehnya, untuk menyimpan pipa-pipa pengeboran saja, harus ke Singapura. Perusahaan minyak yang akan melakukan pengeboran di Indonesia pun harus mendatangkan pipa dari negeri pulau tersebut. “Masak nyimpen pipa aja meski di Singapura,” ujar Kris.
Semenjak itu, ia tergugah untuk mengembangkan Batam sebagai tempat yang strategis buat menyimpan pipa-pipa untuk pengeboran minyak karena posisinya yang tak jauh dari Singapura, kendati saat itu pulau ini masih hutan belantara dan belum ada infrastruktur yang memadai. Kris yang ketika itu sudah memiliki perusahaan logistik mempunyai jaringan ke Pertamina — saat itu, dirutnya adalah A.R. Ramly — mengungkapkan gagasannya ke BUMN ini. Pihak Pertamina pun setuju membuat basecamp kecil tempat menyimpan alat peminyakan di Batu Ampar, Batam.
Pemerintah pun saat itu memiliki kebijakan bahwa perusahaan minyak, termasuk penyedia perlengkapannya, diberi insentif. Sebagai contoh, jika perlengkapan perminyakan dibuat di Batam, pemerintah memberikan sejumlah kemudahan. Sementara jika dikerjakan di Singapura, tidak ada insentif apa pun. Sejak saat itu, pelan-pelan penyimpanan alat perminyakan dipindahkan ke Batam.
Hanya saja, meski ada insentif, belum banyak yang tertarik karena Batam bukan pulau yang menarik. “Saat itu belum ada telepon dan listrik,” ia mengenang. Malah ia tak jarang terjun langsung membongkar-muat pipa-pipa yang baru datang dari luar negeri atau yang akan didistribusikan karena keterbatasan SDM. Untuk tempat tinggal, Kris bersama anak buahnya bertahun-tahun berada di dalam kontainer karena saat itu belum ada hotel atau tempat penginapan komersial di Batam. Hingga akhirnya ia mampu mendirikan kawasan perumahaan sendiri (Citramas Indah) untuk karyawannya.
Menghadirkan pipa ke Batam – biasanya ke Singapura — bukan tanpa risiko. Banyak pipa yang rusak dan dikomplain pelanggan. Akhirnya, Kris memberanikan diri mendirikan CT, pabrik perbaikan pipa minyak di Batam, dengan investasi sekitar US$ 4 juta. Itu pun hasil pinjaman bank. Tak hanya itu, ia mengungkapkan, “Waktu itu kami belum paham pembuatan pipa karena berteknologi tinggi.” Namun, Kris tak kehilangan akal. Ia dan timnya belajar keras tentang teknik pembuatan pipa minyak. Kris pergi ke Sumitomo untuk melihat pabrik pembuatan pipanya di Jepang. Tak hanya itu, ia pun memboyong tenaga ahli dari AS untuk mentransfer pengetahuan kepada karyawan CT.
Mantan General Manager UMW Corp., perusahaan mesin dan alat berat di Singapura, ini mengaku merasa diuntungkan dengan kebijakan pemerintah tentang peningkatan penggunaan produk dalam negeri. “Saat itu penggunaan produk dalam negeri, khususnya untuk industri perminyakan, akan mendapat prioritas,” katanya. Order pertama CT saat itu datang dari Huffco Indonesia (sekarang bernama Vico).
Meski ada perlindungan pemerintah, tetap saja bermain di bidang pipa perminyakan itu bukan hal yang gampang. Apalagi, banyak produk Indonesia yang diragukan karena umumnya perusahaan pertambangan lebih suka mengambil produk dari luar negeri. Terkadang perusahaan perminyakan itu merasa terpaksa. Sebagai contoh, tahun 1987 Exxon Mobile akan mengebor minyak di Arun. Perusahaan ini seolah-olah terpaksa harus membeli pipanya dari CT. Saking tidak percayanya, Exxon ini juga membeli pipa dari luar negeri.
Namun, Exxon yang dulu mencampakkan CT kini berbalik menjadi pelanggan setia. Bahkan pada 2007, CT dinobatkan sebagai pemasok terbaik di dunia dari Exxon Mobile. “Puas sekali yang tiada taranya selama dalam karier saya,” katanya terharu. Kini, CT memiliki sejumlah pelanggan kakap. Pelanggannya yang beroperasi di dalam negeri, antara lain, Pertamina, Arco, Caltex, Shell, Unocal, Conoco, Santos, BP, Vico dan British Gas. Adapun pelanggannya di luar negeri meliputi perusahaan minyak yang beroperasi di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, Amerika Selatan, juga Rusia, Kanada dan AS.
Perjalanan Kris membesarkan bisnisnya bisa dibagi menjadi dua fase. Pertama, 1983-89, masa penuh perjuangan agar produknya bisa diterima pasar. “Mulai awal 1990, CT sudah diterima perusahaan perminyakan karena mampu membuktikan produk yang dipasoknya bisa memenuhi keinginan pelanggan, “ujar Kris mengenang. Pada fase ini, ia mengaku bangga karena orang Indonesia bisa berkiprah di dunia yang padat modal dan teknologi ini. Terlebih, saat itu pemainnya lebih banyak asing. “Memang, keinginan saya harus masuk, di mana saya bisa berperan atau membuat industri yang orang lain belum bikin. Jadi, ada challenge,” katanya.
Tahap kedua, 1990-2000, CT mulai merambah pasar luar negeri. Langkah awalnya, mendirikan pabrik di Malaysia. Di negeri jiran ini ia bekerja sama dengan Petronas. Setelah itu, 1992, merambah Vietnam. Di negeri ini, perusahaan yang didirikan Kris bersama mitra lokalnya menjadi langganan mendapatkan penghargaan. Kini Kris melebarkan sayap ke Timur Tengah.
CT bisa dibilang menjadi tulang punggung bisnis Kris. Lewat kesuksesan CT inilah ia bisa membangun imperium bisnisnya melaui induk perusahaan: Citramas. Tengok saja, tahun 2006, omset CT mencapai US$ 273,18 juta atau meningkat 124% dibanding 2005 (US$ 121,82 juta). Sementara laba bersihnya US$ 23,4 juta atau naik dari US$ 7,47 juta di 2005. Kemudian, berdasarkan laporan keuangan yang belum diaudit hingga September 2007, CT mampu membukukan omset US$ 210,7 juta dengan laba bersih US$ 21,63 juta. “Omset CT hingga akhir 2007 diperkirakan tak beda jauh dari tahun 2006,” ujar Harsono, Sekretaris Korporat CT.
Bidang lain yang menarik dari bisnis anggota Dewan Pertimbangan Kadin Batam ini adalah Kawasan Industri Kabil seluas 500 hektare. Peters Vincen, Direktur Citramas, menjelaskan, Kabil dikembangkan untuk kawasan industri perminyakan dan gas. CT bersama beberapa anak perusahaan pindah ke Kabil sejak 1990 yang awalnya berada di kawasan Batu Ampar, Batam, yang saat itu dianggap kurang memadai lagi untuk industri karena sudah penuh sesak. Saat ini ada 26 perusahaan (tenant), nasional dan asing, yang memakai lahan di Kabil.
Fasilitas Kabil tergolong lengkap. Salah satu yang terus dikembangkan adalah pelabuhan yang dibangun sejak 2002 dan telah diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2006.“Investasi pelabuhan sekitar US$ 15 juta untuk pembangunan selama dua tahun,” ujar Agus P. Hidajat, Direktur Operasional PT Sarana Citranusa Kabil, anak usaha Citramas. Dengan adanya pelabuhan ini, pengiriman barang yang diproduksi di Kabil akan lebih cepat dan biayanya pun lebih kecil.
Bicara soal bisnis pariwisata Citramas di bawah PT Tirta Utama Riani Indah (Grup Turi), Presiden Asosiasi ASEAN Tae Kwon Do ini mengakui, awalnya sekadar untuk kepuasan pribadi. “Itu hanya hobi, katanya menandaskan. Juga, untuk penginapan tamunya yang berkunjung ke Batam. Awalnya, ia hanya mendirikan vila di tepi pantai di wilayah Nongsa. “Semula hanya kecil-kecilan karena untuk dipakai sendiri, tapi akhirnya jadi besar, ungkap pehobi berlayar, main golf dan menyelam ini.
Ditambahkan Urmy Sungkar, direkturnya, karena skalanya semakin besar, Grup Turi bisa dijadikan sebagai ujung tombak pariwisata, tidak hanya di Batam, tapi juga Indonesia, karena lokasi Batam dekat dengan negara tetangga. Fakta menunjukkan, karena kecilnya wilayah Singapura, warga negeri itu cenderung memilih tempat lain sebagai tempat rekreasi. Johor, Malaysia, sering dijadikan sebagai daerah tujuan. Nah, sekarang Batam pun jadi destinasi wisata mereka.
Karena potensinya yang besar, Grup Turi memiliki sejumlah fasilitas yang dibangun secara bertahap dengan total luas lahan yang sudah dikembangkan mencapai 132 ha. Di dalamnya ada Turi Beach Resort, resor yang menjadi cikap bakal grup ini yang dibuka pada 1989. Resor kategori bintang empat ini tarifnya dipatok Rp 580 ribu-1,5 juta per malam. Lalu, pada 1992 dibuka Nongsa Village dan lapangan golf. Vila dijual dan pembelinya kebanyakan orang asing.
Pada 1994 dibuka Nongsa Poin Marina, salah satu tempat parkir yacth di Batam. Tahun 1995 dibuka Nongsa Pura Terminal, terminal feri untuk penyeberangan ke Singapura. Total investasinya di atas US$ 100 juta dan juga menggandeng investor dari luar negeri,” ujar Urmy. Ke depan, Turi akan terus dikembangkan dengan membangun IT park serta pusat belanja dan olah raga.
Resor milik Kris ini pernah dikunjungi tokoh-tokoh penting. Bahkan, tak jarang digunakan sebagai tempat pertemuan para pemimpin negara. Presiden Soeharto pernah melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew di sini. Yang terakhir, Presiden SBY bersama ibu negara juga sempat menginap di resor ini saat meresmikan pelabuhan di Kawasan Industri Kabil.
Kendali Grup Turi sekarang dipegang generasi kedua. Michael Wiluan menjadi presdirnya. Bahkan, kelahiran Singapura, 1976, ini juga mengembangkan bisnis sendiri di bidang multimedia dan animasi untuk film atau media visual lainnya dengan mengibarkan bendera PT Kinema Systrans Multimedia di Batam pada 2005. Markasnya di kawasan resor Turi. Michael juga mendirikan Infinite Frameworks Pte. Ltd. di Singapura.
“Ini bisnis masa depan dengan investasi berkisar US$ 1-3 juta, lulusan bidang perfilman dari Kean University, Inggris, itu membeberkan. Pelanggannya pun tersebar di pelbagai negara, antara lain Kanada, Singapura, AS, negara-negara Timur Tengah dan Afrika, serta Inggris dengan omset rata-rata US$ 5 juta/tahun dan pertumbuhan 10%.
Soal alih generasi ini, Kris mengaku tidak menjadi fokus utamanya. Sebab, ia memberikan kebebasan kepada tiga anaknya: Elizabeth Angeline, Michael dan Richard Wiluan untuk menentukan jalan hidup masing-masing. Elizabeth tidak bergabung dengan Citramas, sementara Richard kabarnya ikut terjun mengembangkan bisnis peralatan perminyakan di Singapura.
Kini, setelah 31 tahun membangun bisnis, Kris tinggal menikmati hasilnya sekaligus terus mengembangkan sayapnya. Saat ini, “Yang penting, Citra Tubindo terus berjalan, meski saya tidak ada lagi. Dan namanya terus berkibar, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di mancanegara, ia mengungkap obsesinya. Sang istri pun sudah memintanya pensiun. Maka sekarang, ia lebih suka membesut usaha-usaha yang disenanginya, seperti bisnis animasi yang digawangi anaknya.
Riset: Leni Siskawati
BOKS:
Perjalanan Karier dan Bisnis
Kris
Tahun 1971, selulus kuliah dengan meraih gelar BSc. (Honours) dalam terapan ilmu matematika dan komputer dari Universitas London, Kris bekerja untuk Guest, Keen and Nettlefold (GKN Group) di Inggris sebagai programer komputer/analis.
Tahun 1973, bekerja sebagai General Manager UMW Corp., perusahaan publik di Singapura dan Malaysia yang memasarkan mesin dan alat berat. Ia bertanggung jawab atas penjualan dan perkembangan bisnis di Indonesia melalui PT Unimas Motor Wasta.
Tahun 1977, mengembangkan bisnis pribadi dengan mendirikan PT Citra Pembina Pengangkutan, pemasok dan operator logistik untuk perusahaan minyak multinasional yang beroperasi di Indonesia.
Tahun 1983, bisnis yang dirintisnya pada sektor perminyakan digabungkan ke dalam PT Citra Tubindo (CT), sebagai pabrik dan tempat pemrosesan pipa pengeboran minyak dan gas di Batam. Beberapa usaha gabungan juga telah dibangun di Labuan (Malaysia), Vung Tao (Vietnam), Songkla dan Sathahib (Thailand). Kini, pelanggannya tak hanya dari Indonesia, tapi juga dari mancanegara, di antaranya negara-negara Timur Tengah dan Amerika Selatan, Rusia serta AS. Sejak 1989, CT mencatatkan diri sebagai perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surbaya (keduanya kini melebur menjadi Bursa Efek Indonesia).
Tahun 1984, mendirikan Grup Citramas (PT Citra Agramasinti Nusantara) sebagai induk seluruh bisnisnya. Saat ini Citramas membawahkan 30-an anak perusahaan dengan 3 ribu karyawan di Indonesia dan luar negeri. Bidang usahanya meliputi pabrik perlengkapan perminyakan dan gas, servis perkapalan, logistik, kawasan industri (Kabil), pengeboran, pelabuhan, perusahaan telepon, properti, serta industri pariwisata atau resor terpadu di bawah Grup Turi.
Tahun 1986, membangun resor terpadu di Nongsa, Batam, dengan lapangan golf (dirancang Jack Nicklaus dan Pete Dye), marina yang bertaraf internasional, plus tempat parkir yacth, sarana wisata bahari, vila serta resor hotel. Letak resor ini hanya sekitar 25 menit dari Bandar Udara Changi, Singapura, dengan menggunakan feri dan hanya 10 menit dari Bandara Hang Nadim, Batam. Bisnis pariwisata Kris ini tergabung dalam Grup Turi sebagai induk perusahaan.
Tahun 2005, menjadi Chairman dan CEO SSH Corp, perusahaan publik di bursa Singapura, salah satu distributor produk baja yang terbesar di Negeri Singa dengan cabang di Cina, Malaysia, Thailand dan Vietnam.
Tahun 2006, menjabat sebagai Chairman dan CEO Aqua Terra Corp, perusahaan publik di bursa Singapura, distributor dan stockist alat-alat perminyakan dengan cabang di Qatar, Dubai dan Cina.
Tahun 2007, menjadi Chairman dan CEO KS Energy, perusahaan publik di bursa Singapura, operator pengeboran lepas pantai di Laut Utara Eropa, Timur Tengah, Cina dan AS. Dia meraih Forbes Asia Award sebagai “The Best Company under a Billion. (Swa)
Short URL: http://www.batamposentrepreneurship.com/?p=391

July 5, 2012

Penyebab Indonesia Tak Punya Banyak Wirausaha

Penyebab Indonesia Tak Punya Banyak Wirausaha
Masyarakat harus bisa mematahkan mitos orang Indonesia tak bisa bisnis
Kamis, 5 Juli 2012, 14:21 Hadi Suprapto, Iwan Kurniawan

VIVAnews – Pakar bisnis Rhenald Kasali menilai metode pendidikan di Indonesia saat ini tidak membangun pola pikir berjiwa wirausaha. Pemerintah harus bisa mematahkan mitos bahwa orang Indonesia tak bisa berbisnis.

Dia menjelaskan sekolah sebenarnya tempat memperbaiki cara berpikir, namun sayangnya sekolah di Indonesia masih mengajar dengan cara menghafal. Seharusnya sekolah mengajarkan bagaimana cara berpikir kreatif dan kritis.

“Siswa harusnya diajarkan berargumentasi, sayangnya di sini saat belajar tangannya dilipat dan percaya apa yang dikatakan guru itu benar,” katanya dalam acara Talkshow dan Launching Buku “Cracking Entrepreneurship” karya Rhenald di Jakarta, Kamis 5 Juli 2012.

Dengan sistem pendidikan seperti sekarang ini membuat masyarakat tidak mempunyai kemandirian yang akhirnya timbul mitos orang Indonesia tak bisa berbisnis. Padahal seorang yang berjiwa entreprenuership harus memiliki jiwa yang kritis dan kreatif.

Sayangnya pendidikan karakter di Indonesia masih belum menemukan kejelasan dan masih sekadar pendidikan kognitif, belum mendidik orang menjadi kreatif.

Ia menjelaskan kenapa kebanyakan pengusaha di Indonesia merupakan warga pendatang, seperti Arab, China, maupun yang lainnya. Hal ini karena mereka semua merantau ke negeri orang, dengan merantau timbul rasa kemandirian.

“Kita ini menggunakan sistem keluarga besar, usia 25 bahkan 40 masih tinggal sama orangtua dengan jaminan sosial keluarga besar,” katanya. (umi)

June 18, 2012

Berbisnis Itu Sederhana

Senin,18 Juni 2012
KORPORASI
Berbisnis Itu Sederhana
Bagaimana cara berbisnis yang efisien dan efektif? Pertanyaan ini diajukan spontan seorang mahasiswa kepada usahawan Sudono Salim (Liem Sioe Liong) di sebuah acara rileks di Hotel Grand Hyatt tahun 1996. Oom Liem, sapaan akrab usahawan itu, hanya tertawa, tetapi kemudian hanya terdiam.

Om Liem, yang hari Minggu, 10 Juni lalu, meninggal dunia di Singapura, tetap diam seribu bahasa sekalipun terus dipancing untuk berbicara. Oom Liem memang dikenal tidak suka banyak bicara.

Dua temannya yang hadir di sana, usahawan Eka Tjipta Widjaja dan Sukanta Tanudjaja dari PT Sinar Sahabat, juga diam saja. Namun, akhirnya ketika melihat mahasiswa tadi masih duduk, Oom Liem pun tidak tega.

”Saya ini orang lapangan, mana mengerti pertanyaan seperti itu,” ujarnya. Ia mengatakan, berbisnis itu pada intinya meraih untung. Kalau tidak laba, bukan dagang namanya. Namun, laba di sini tidak asal laba, tetapi dengan cara benar. Tidak menabrak aturan, tidak merugikan atau mengganggu orang lain.

Ia menambahkan, hal penting yang harus digenggam erat adalah ”menjaga nama” (reputasi). Jangan menipu, dan kalau berutang, bayarlah utang itu. Jangan sampai tidak bayar utang. Tak baik itu. ”Sekali dua, kamu masih bisa menipu. Tetapi, pada kesempatan berikutnya, tidak ada lagi yang percaya kepada kamu. Itu celaka namanya!”

Oom Liem lalu bercakap-cakap akrab dengan Eka dan Sukanta. Usia mereka tidak berselisih jauh. Saat itu, Oom Liem berusia 81 tahun, Eka Tjipta 75 tahun, dan Sukanta 68 tahun.

Usahawan Tong Djoe, sahabat baik Oom Liem, pada kesempatan lain mengatakan, apa yang disampaikan Oom Liem adalah pokok-pokok berbisnis yang benar. Tong mengatakan, berbisnis pada intinya memang untuk meraih profit. Namun, para pebisnis harus memahami bahwa meraih profit di sini dalam konteks mengail keuntungan dengan jalan lurus.

Tidak menipu, tidak mengelabui, tidak membohongi, tidak curang. Jangan menjual barang kedaluwarsa. Stok barang masih sangat banyak, tetapi dibilang habis. Hanya untuk meraih untung ketika barang langka. Sebab, harga otomatis naik saat permintaan lebih tinggi dibandingkan dengan suplai.

Menjaga nama baik juga digarisbawahi Tong Djoe. Ia mengatakan, dulu ketika generasi pertama masih aktif berdagang, kepercayaan menjadi sendi bisnis yang amat memesona. Pinjaman ratusan juta rupiah (amat besar pada awal 1970-an) bisa diberikan begitu saja tanpa tanda terima.

Saat utang dikembalikan dengan bunga, yang meminjami tidak bersedia menerima bunga. Ia hanya mau menerima pokok utang. Menerima bunga berarti mencederai pertemanan dalam bisnis.

Ini membuat yang tadinya berutang merasa berkewajiban menjaga perangai. Jangan sampai melakukan tindakan tidak patut. Ia pun mesti melakukan hal yang sama kepada usahawan lain yang membutuhkan. Jadilah bisnis dengan sistem kepercayaan itu berjalan mulus dan damai.

Dalam era kini, utang-piutang berjumlah besar selalu butuh saksi, tanda terima, pakai akta notaris, dan jaminan berlapis, tetapi kerap masih dibayangi masalah. Bagi Tong, itu mencederai filosofi bisnis yang baik dan benar.

Mestinya, kata Tong, langgam kita berbisnis kembali ke masa lalu yang penuh damai, persahabatan tulus, persaingan sehat, dan setia kawan yang dalam. (Abun Sanda)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 85 other followers