Archive for ‘Entrepreneur’

December 15, 2011

Waralaba Asing agar Diperketat

Kamis,
15 Desember 2011
PERDAGANGAN
Waralaba Asing agar Diperketat
Jakarta, Kompas – Pemerintah didesak untuk memperketat kontrol terhadap waralaba asing. Meski ada rambu-rambu, selama ini mereka bebas beroperasi. Jika terus dibiarkan, kehadiran mereka bisa menjadi parasit karena cenderung memberikan efek negatif.

Ketua Komite Tetap Waralaba dan Lisensi Kamar Dagang dan Industri Indonesia Amir Karamoy, di Jakarta, Rabu (14/12), mengatakan, rambu-rambu yang ada mengatur soal bahan baku waralaba dari pasokan lokal dan perjanjian waralaba menggunakan hukum Indonesia.

”Aturan yang ada masih sangat sedikit. Itu pun tidak ada pengawasan sehingga banyak dilanggar,” ujarnya.

Aturan yang perlu ditambahkan adalah soal kewajiban bermitra dengan pengusaha lokal. Menurut dia, banyak waralaba asing yang beroperasi dengan modal sendiri dan tidak bermitra dengan pengusaha lokal.

”Jadinya seperti cabang usaha karena kepemilikannya tetap di tangan mereka. Padahal, prinsip waralaba seharusnya menularkan kesuksesan kepada orang lain,” paparnya.

Amir menjelaskan pertumbuhan waralaba asing tahun ini sangat pesat. Tahun 2010, ada 70 waralaba asing. Tahun ini, jumlahnya sudah bertambah menjadi 152 waralaba.

”Sebelum 16 waralaba Amerika Serikat datang ke sini, ada 30 waralaba dari Malaysia yang datang untuk menjajaki pasar Indonesia,” ujarnya.

Menurut Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, aturan yang ada terkait waralaba asing memang perlu dilihat lagi. Aturan tersebut harus bisa memastikan waralaba asing memberikan manfaat bagi ekonomi Indonesia.

Sekretaris Jenderal Gabungan Makanan dan Minuman Indonesia Franky Sibarani mengatakan, pemerintah seharusnya lebih banyak mengembangkan waralaba dalam negeri. (ENY)

December 1, 2011

Kel Hamami : Orang Terkaya di Indonesia Itu Juragan Traktor

HomeBisnisProfil bisnis

Kantor Pusat PT. Trakindo Utama. Dok.TEMPO/Ramdani

Bagikan
76

JUM’AT, 25 NOVEMBER 2011 | 13:05 WIB
Orang Terkaya di Indonesia Itu Juragan Traktor
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Jakarta – Keberuntungan memang tengah hinggap di keluarga Hamami saat ini. Berbisnis alat berat sejak dekade 1970-an, keluarga ini masuk dalam daftar 10 orang terkaya Indonesia versi majalah ekonomi Forbes, dengan taksiran aset US$ 2,2 miliar.

Adalah Ahmad Hamami, sang kepala keluarga, yang menjadi nakhoda utama bisnis ini. Sebelum menjadi pengusaha, pria yang kini berusia 81 tahun itu berkarier sebagai penerbang di jajaran TNI Angkatan Laut.

Perjalanannya sebagai prajurit cukup cerah. Hamami muda bahkan sempat mendapat pendidikan pilot di Angkatan Udara Belanda (Militaire Luchtvaart) dan menyandang predikat kolonel termuda pada akhir 1960.

Sayang, karier militernya lantas terhenti. Seperti dikutip dari Forbes.com, Hamami pensiun dini lantaran muak dengan wabah korupsi yang ada di tempat kerjanya saat itu. Setelah pensiun, Hamami memulai bisnis kecil-kecilan. Awalnya, ia membuka les matematika untuk pelajar di rumahnya. Anak-anaknya membantu menopang keuangan dengan berjualan es lilin.

Dewi fortuna hinggap kala seorang kerabat mengajaknya terlibat dalam penggarapan proyek infrastruktur. Saat itulah Hamami berkenalan dengan manajemen Caterpillar, pabrikan traktor dan alat berat lain yang berbasis di California, Amerika Serikat.

Caterpillar, yang sebelumnya memiliki agen penjualan di Surabaya, melirik Hamami sebagai dealer pengganti lantaran tertarik dengan latar belakang militer dan reputasinya yang bersih. Ia lantas mulai belajar manajemen secara profesional dan mengambil kuliah bisnis.

Maraknya pembangunan infrastruktur pada pertengahan dekade 70-an membawa angin segar pada bisnis traktor. Order bertambah, pundi-pundi Trakindo pun makin tebal.

Tapi jalan tak selalu mulus. Tahun 1999, saat krisis ekonomi merebak, Trakindo terpukul dan Hamami berusaha keras melunasi utang US$ 118 juta.

Selepas itu, tak ada bank yang mau membiayai bisnisnya. Tak cuma bisnis yang lesu, kesehatan Hamami pun menurun. Ia terserang glaukoma dan mengalami kebutaan hingga saat ini.

Lepas krisis, perlahan Trakindo bangkit. Di bawah komando Rachmat Mulyana alias Muki, putra ketiga Hamami, perusahaan ini tumbuh dan beranak-pinak. Kini, tak cuma bisnis traktor dan alat berat karena mereka juga menggarap sektor pertambangan, pembiayaan, logistik, hingga teknologi informasi. Hebatnya, hingga 2009, perusahaan ini berkembang tanpa mengandalkan utang.

Kepada Forbes, Muki mengatakan tahun lalu pendapatan mereka mencapai US$ 2 miliar dan akan tumbuh hingga US$ 3,2 miliar tahun ini. Ditargetkan pada 2015 mereka bisa membukukan pendapatan US$ 6 miliar. Toh, meski sayapnya kini melebar, ia mengatakan bisnis utama Trakindo tetap alat berat. “Ibaratnya, alat berat menjadi roti dan mentega bagi kami,” kata dia.

FERY FIRMANSYAH

November 29, 2011

Kisah Joko ‘Alfamart’ Susanto, Si Miliarder Baru

HomeBisnisWirausaha
foto

Djoko Susanto. Dok.TEMPO/Taufik Subarkah
Bagikan17
B
Bisnis Ritel

Sabtu, 26 November 2011 | 10:08 WIB
Kisah Joko ‘Alfamart’ Susanto, Si Miliarder Baru
Besar Kecil Normal

TEMPO.CO, – Namanya mencuat sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. Joko Susanto, disebut majalah Forbes di urutan 25 dari 40 orang terkaya di Indonesia yang dilansir Rabu, 23 November lalu.

Djoko Susanto, yang merupakan pendiri sekaligus pemilik perusahaan retail Alfamart, berhasil mengungguli kekayaan orang-orang terkenal Indonesia, seperti Aburizal Bakrie (peringkat 30) dan Ciputra (peringkat 27). Kekayaannya yang dikumpulkan berjumlah US$ 1,040 miliar (Rp 9,36 triliun).

Semua bermula di tahun 1967, ketika Djoko Susanto masih berusia 17 tahun. Ia diminta mengurus kios sederhana milik orang tuanya di Pasar Arjuna, Jakarta.

Toko itu dinamakan Sumber Bahagia, yang menjual bahan makanan. Tapi tak lama kemudian, Djoko melihat ada kesempatan yang lebih besar. Kiosnya mulai menjajakan rokok.

Djoko benar, bisnis dia dengan cepat membuat para perokok dan pengusaha grosir serta pengecer menjadi pelanggan tetap. Dia bertaruh, perokok akan membayar lebih banyak daripada yang dibayangkan.

Hal ini menarik perhatian Putera Sampoerna, yang mempunyai perusahaan rokok tembakau dan cengkeh terbesar di Indonesia saat itu. Mereka bertemu pada awal 1980 dan bersepakat pada 1985 untuk membuat 15 kios di beberapa lokasi di Jakarta.

Upaya itu berhasil dan menginspirasi mereka untuk membuka supermarket yang dinamakan Alfa Toko Gudang Rabat. Kedua orang itu kemudian membuka toko Alfa Minimart (yang kemudian dikenal sebagai Alfamart) pada 1994.

“Saya pikir penamaan Sampoerna Mart kurang menjual, kemudian saya menggunakan Alfa, sebuah merek yang lebih dikenal dan teruji,” ujar Djoko, seperti dikutip majalah Forbes, Kamis, 24 November 2011.

Kerja sama tersebut berakhir pada 2005, ketika Sampoerna menjual bisnis tembakau–beserta anak perusahaannya (termasuk 70 persen bagian perusahaan Sampoerna yang ada di Alfamart)–kepada Philip Morris International dengan nilai lebih dari US$ 5 miliar.

Philip Morris, yang tidak tertarik bisnis retail, kemudian menjual saham Alfamart kepada Djoko dan investor ekuitas swasta, Northstar. Tahun lalu, Djoko membeli Northstar sehingga membuatnya memiliki 65 persen perusahaan.

Saham itu kemudian diperdagangkan dan menghasilkan dua kali lipat pada 12 bulan terakhir. Hal inilah yang akhirnya membuat Djoko termasuk ke dalam jajaran miliuner dunia. Dia membuat debutnya pada urutan ke-25 dalam jajaran orang terkaya Indonesia dengan kekayaan bersih sebesar US$ 1,04 miliar.

FORBES.COM | FERY FIRMANSYAH | EKA UTAMI

October 20, 2011

Ketua Umum Hipmi Harus Siapkan Pengusaha Muda

apa masih relevan HIPMI ? Selain harus menyiapkan “pengusaha muda” juga memberantas mental calo project yang lama hinggap dikalangan pengusaha (pribumi)

Kamis,
20 Oktober 2011
MUNAS XIV HIPMI

Ketua Umum Hipmi Harus Siapkan Pengusaha Muda
MAKASSAR, KOMPAS – Pertarungan empat calon ketua umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia yang berlangsung di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (19/10) malam, berlangsung alot. Para kandidat mulai berkoalisi menggalang kekuatan. Ketua umum Hipmi terpilih nanti akan menanggung beban berat untuk menyiapkan pengusaha muda Indonesia.

Empat kandidat yang bertarung menjadi ketua umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), yakni Harry Warganegara Harun, Erik Hidayat, Raja Sapta Oktohari, dan Raditya Priamanaya Djan, masih dikarantina.

Menjelang pemilihan semalam, koalisi antarcalon menguat. Kubu Raja Sapta Oktohari berkoalisi dengan Harry Warganegara Harun mewakili pengusaha. Erik Hidayat, putra Menteri Perindustrian Mohammad S Hidayat, merapat ke Raditya Priamanaya Djan, putra Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz.

Terdapat 165 suara dari 33 Badan Pengurus Daerah Hipmi yang diperebutkan para calon.

Ketua umum yang terpilih akan memimpin Hipmi hingga tahun 2014.

Sehari sebelumnya, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla berharap posisi di Hipmi tidak dijadikan tangga untuk berkarier di dunia politik. Sebaliknya, Hipmi harus bekerja dan berkontribusi pada perekonomian Indonesia.

Dalam konteks itulah, pengamat ekonomi dari Universitas Hasanuddin, Hamid Paddu, berpendapat, Hipmi seharusnya memiliki peran strategis dalam menyiapkan pengusaha muda sebagai penggerak roda perekonomian pada tahun 2020-2045.

Salah satu langkah konkret yang dilakukan ialah dengan membentuk pusat informasi usaha yang menyediakan informasi tentang perkembangan dunia usaha, baik di tingkat nasional maupun internasional. ”Iklim usaha itu dapat memotivasi pengusaha-pengusaha muda di daerah untuk berkiprah di bidang ekonomi riil,” ujar Hamid.

Akbar Djohan, Ketua Dewan Pertimbangan Hipmi Perguruan Tinggi, mengatakan, secara konkret, para pengusaha juga bisa membina para pengusaha pemula yang masih duduk di perguruan tinggi. (SIN/RIZ)

August 11, 2011

Manajemen Tonijack’s kacau

Namanya juga bajak laut, wajar kalau kacau

Dari Kontan online
Link : http://industri.kontan.co.id/v2/read/1312962101/75103/Wali-Euforia-manajemen-Tonijacks-kacau
Rabu, 10 Agustus 2011 | 14:41 oleh Maria Rosita
BISNIS TONIJACK’S
Wali: Euforia, manajemen Tonijack’s kacau
dibaca sebanyak 614 kali
0 Komentar

JAKARTA. Ketua Dewan Pengarah Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (Wali), Amir Karamoy, yakin, ditutupnya gerai Tonijack’s di Solo tak lain dilatari kekacauan manajemen lama berwajah baru. Menurut Amir, Tonijack’s mengalami euforia lantaran resmi berpisah dari McD dan membentuk manajemen baru.

“Mereka telanjur merasa sukses. Saya sempat peringatkan Bambang, ini perusahaan baru yang mulai dari nol. Jangan memaksakan anak buah gaji setinggi kantor lama, masa iya seorang digaji Rp 20 juta per bulan,” kata dia. Setahu Amir, tidak ada perubahan salary dari McD ke Tonijack’s.

Perkara lain, kata Amir, utang Tonijack’s ke pengelola properti menumpuk lantaran tidak diatur. Belum lagi, pertama kali membuka gerai saat bulan puasa. “Hal seperti itu harusnya diantisipasi, kalau enggak yah jadinya menumpuk, klien ikut rugi,” ungkap dia.

Lebih lanjut Amir menegaskan, seharusnya Bambang Rachmadi tidak kembali mengembangkan ataupun terjun di bisnis serupa. Dalam post exfiry non-competition clause tertera, setelah perjanjian berakhir, termasuk bisnis waralaba, pihak yang meneken tidak boleh kembali mengembangkan bisnis sejenis dalam periode tertentu. “Itu fakta hukum, harusnya tidak boleh. Tapi yang terjadi justru Bambang bergerak di belakang layar, maka berdirilah satu per satu Tonijack’s. Ini semua ide Bambang,” papar Amir.

Sekadar catatan, setelah diputus kerja samanya dengan sejumlah mal di Jakarta, kini plang restoran cepat saji ala Amerika itu bakal dilepas dari Solo Center Point, mal di Jalan Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah. Susanto Liem, Direktur PT Dutra Mitra Propertindo, pengembang Solo Center Point, memastikan telah mengurus penutupan restoran Tonijack’s. Restoran akan dibuka lagi dengan merek berbeda.

Di Solo, kata Amir, Tonijack’s sebenarnya unggul ketimbang Tonijack’s lain. Soalnya, menu yang ditawarkan lebih beragam. Tak heran saban hari restoran itu ramai dikunjungi pembeli. Sementara Tonijack’s di Surabaya, menurut Amir, masih beroperasi dua bulan lalu. “Surabaya dan bandara di Cengkareng juga belum jelas nanti kelanjutannya, apakah nasibnya sama dengan Sarinah dan Solo,” kata Amir.

Sampai saat ini KONTAN belum berhasil menghubungi manajemen dan komisaris Tonyjack’s. Amir sendiri mengaku sempat kontak dengan Bambang Rachmadi. “Kami memang berteman akrab. Tapi, saya tidak tahu bisnis apa dia (Bambang) sekarang. Cuma pas mau masuk puasa dia kirim sms ucapan,” jelasnya.

August 7, 2011

Fortuna Shoes: Dari Bandung Menembus Dunia

Fortuna Shoes: Dari Bandung Menembus Dunia

Dari  Swa.co.id dan Posted by

Produknya telah menembus pasar Eropa. Armani pun memesan darinya. Inilah jatuh- bangun anak Tasik merenda bisnis.

Fokus. Itulah pilar kesuksesan Dede Chandra mengembangkan bisnis sepatu. Sejak mengibarkan CV Fortuna Shoes (FS) pada 1968, dia memang selalu fokus: menggarap sepatu kulit segmen premium. Dan dia sukses dengan cara itu. Memproduksi 40 ribu pasang setahun, sepatunya menembus negara maju seperti Belanda, Jerman, Prancis dan Italia.

Perjalanan bisnis ini tidak diperkirakan sebelumnya. “Saya masuk ke bisnis sepatu ini tidak sengaja,” ujar Dede, pria kelahiran Tasikmalaya 69 tahun lalu. Setelah ditinggal mangkat ayah dan ibunya, Dede kecil (12 tahun) hidup bersama pamannya di Bandung. Sang paman adalah pembuat sepatu perempuan dewasa dan menjualnya di toko miliknya, Rofina.

Hidup bersama paman yang pebisnis sepatu membuat Dede menggeluti urusan serupa. Dia membantu sang paman, dari pekerjaan ringan hingga mengurusi pemasaran. Merasa sudah mampu dan ingin mandiri, selepas SLTA, dia menggulirkan bisnisnya sendiri. Berdirilah FS di sebuah rumah kontrakan di Lengkong Kecil, Bandung, yang mempekerjakan tiga karyawan.

Seperti pamannya, Dede menggeluti sepatu kulit. Bedanya, dia fokus pada sepatu anak perempuan usia 5-12 tahun. Selain belum banyak pesaing, “Saya tak mau mengambil pasar Paman,” katanya.

Pilihan ini tak keliru. Tahun pertama berdiri, banyak toko sepatu tertarik menjual produknya karena bahan baku kulitnya lebih empuk dibandingkan sepatu anak yang ada. Dede mengenang, ketika menggulirkan usahanya, tiap Jumat sebelum adzan Subuh dia di Stasiun Kereta Bandung. Berangkat ke Jakarta, dia mendarat di Proyek Pasar Senen. Pukul 07.00, sebelum toko-toko di Proyek Senen dibuka, dia menyiapkan 25 pasang sepatu untuk ditawarkan.

Sambutan pedagang Senen sangat baik. Tak mengherankan, rutinitas seperti itu terus berlanjut sampai beberapa tahun. Jumlah produksi pun meningkat. Di tahun kedua, 50 pasang. Dan seiring dengan itu, Dede membuat sepatu anak lelaki usia 5-12 tahun.

Diakui Dede, pesatnya usaha FS turut dipengaruhi bersatunya dua kekuatan sepatu di Bandung. Pasalnya, pada 1970 dia menikahi putri pemilik toko sepatu ternama di Kota Kembang. Orang tua Faleria Wijaya, istri Dede, adalah pemilik toko sepatu Shensen yang terkenal sejak zaman Belanda. “Tahun itu dahsyat sekali karena kami bisa bekerja berdua,” ucapnya bersemangat. Kapasitas pun meningkat sampai 250 pasang sepatu.

Namun, empat tahun kemudian malang tak bisa ditolak. Pasar Proyek Senen terlalap si jago merah, dan Dede terkena imbasnya. Banyak toko pelanggannya menunggak pembayaran. Akan tetapi, itu tak memukulnya terlalu lama. Terbakarnya pasar Proyek Senen membuatnya mengarahkan produknya ke Pasar Baru, Jakarta. Dan terbukti pilihannya tak keliru. Di sini dia justru makin moncer sehingga bisa melebarkan pasar ke wilayah lain di Jakarta seperti Pancoran dan Cipete.

Tahun 1975 Dede membeli mesin jahit sepatu paling mutakhir dari Jerman. Keberadaan mesin ini menandai era baru karena sebelumnya FS menggunakan mesin jahit konvensional dengan ayunan kaki. Di tahun itu pula Dede dilibatkan memasarkan sepatu produksi toko Shensen, merek Robin Hood (RH), yang persebarannya hingga Makassar. Toko Shensen sendiri sudah tenar dengan Goodyear Welted System (GYWS) yang menghasilkan sepatu yang nyaman, tahan banting dan awet.

Waktu terus berjalan. Tahun 1995 menjadi momen emas dunia sepatu Tanah Air, tak terkecuali FS. Memiliki 300 karyawan, Dede sudah mampu mengekspor beberapa jenis sepatu kulit, termasuk sepatu golf yang dipasarkan ke Jepang dengan merek Puccini. Sayang, badai krisis moneter datang memukul industri sepatu. Dede pun kena dampaknya. Padahal, dia baru memindahkan pusat produksi ke pabrik baru yang lebih luas, 4.000 m2, di Jl. Sriwijaya, Bandung. “Semuanya habis. Ekspor sempat berhenti,” ujarnya mengenang.

Tak mau limbung, Dede mencoba berpikir positif dan justru mengisi dua tahun krisis untuk belajar cara pembuatan sepatu berbasis GYWS. Namun, upaya memasarkan hasil teknologi ini tak mulus. Dia sempat mencoba ekspor ke Taiwan, tetapi hanya berlangsung dua kali. “Bahan baku lokal yang saya gunakan dianggap tak sesuai standar walau sebenarnya sama bagusnya.”

Tak patah arang, Dede mengimpor bahan baku kulit dan material lain dari Eropa. Dia juga menjadikan Eropa yang telah terbiasa dengan produk GYWS sebagai pasarnya. Dan nasib baik menemaninya. Pemesan berdatangan dari Belanda, Jerman dan Prancis. Yang menarik, dia kemudian diminta memproduksi sepatu dengan merek pesanan importir. Antara lain, Van Bommel, Prime Shoes, Oehler dan Bexley. “Tapi hampir semuanya dicap ‘made in Indonesia’,” katanya. Bahkan, pernah beberapa kali desainer terkemuka dunia, Giorgio Armani, mengorder sepatu ke FS. “Tapi tidak mau disebutkan made in Indonesia,” ujar Dede seraya tersenyum geli.

Ada pengalaman menarik lain. Seorang pejabat dari kabinet Indonesia Bersatu pernah tertarik membeli sepatu Prime Shoes di Jerman. Jika dikurs rupiah, harganya sekitar Rp 4 Juta. “Pejabat itu kaget sekali begitu membaca ada cap ‘made in Indonesia’ di bawah sepatu. Begitu sampai di Indonesia, dia menyempatkan berkunjung ke pabrik saya dan sampai sekarang menjadi pelanggan loyal,” papar Dede.

Dari sisi harga, produk FS memang cukup premium. Meski demikian, sebenarnya masih lebih murah dibanding produk selevel buatan Eropa. Sepatu dengan teknik yang sama di Eropa dibanderol Rp 4-5 juta. “Kalau beli di sini, hanya Rp 1,5 Juta,” katanya. Dia akui, bagi masyarakat Indonesia, produknya terbilang sangat mahal.

Yang jelas, sejak order ekspor dari Belanda datang, negara Eropa lain ikut memesan. Produksi sepatu Dede dengan pola GYWS yang dimulai pada 1997 itu pun terus meningkat kapasitasnya dari tahun ke tahun. Sejak 2004 pabrik Dede mampu berproduksi sampai 40 ribu pasang/tahun. “Sampai sekarang produksi masih berada di kisaran angka itu,” ujarnya. Dede menargetkan tahun depan bisa mencapai produksi lebih dari 40 ribu pasang.

Mengapa FS tidak memasarkan merek sendiri ke Eropa? “Kalau untuk ekspor sepatu dengan sistem GYWS, jika belum punya nama, kita tidak bisa jual mahal,” Dede memberi alasan. Namun, untuk Jepang, dia mengekspor dengan merek sendiri: Fortuna Shoes.

Kendati dalam negeri bukan pasar utama, banyak orang Indonesia mengenal dan mengapresiasi FS. Bahkan, tahun lalu FS memperoleh penghargaan bidang Rintisan Teknologi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dede benar-benar melejit di sepatu kulit.

Di dalam negeri, produk-produk FS antara lain dijual di galeri sepatu Eternity, Bandung. Astri Budiarti, karyawan Divisi Penjualan Eternity, menjelaskan bahwa penjualan produk FS di galerinya cukup bagus. “Dalam sebulan ini lebih dari 10 pasang terjual,” katanya. Ada empat merek sepatu FS yang dijual di Eternity: Red Rum, Van Bommel, Lederer dan Quarvif.

Dari perjalanannya menggeluti bisnis sepatu kulit ini, Dede menyimpulkan bahwa agar bisa bertahan, ada tiga hal terpenting yang mesti dilakukan. Pertama, mengamankan bahan baku. Mendapatkan kulit tak semudah karet PVC sepatu olah raga. Hanya ada tiga negara penghasil bahan baku. Komponen bahan baku sepatu FS kebanyakan diimpor. Ada yang solnya dari Italia, kulitnya dari Prancis dan material lain dari Belanda. Komponen impor yang tinggi ini memengaruhi harga jual.

Kedua, menguasai teknologi. FS memiliki 43 jenis mesin yang dibeli satu per satu dan merupakan satu-satunya pabrik sepatu di Indonesia yang memiliki mesin pemotong kulit terintegrasi dengan komputerisasi. Satu mesin pemotong kulit, misalnya, dibelinya dari Swiss seharga Rp 1 miliar.

Ketiga, harus berani nekat. Dia memberi contoh saat dirinya mendirikan pabrik di Jl. Soekarno-Hatta, Bandung, seluas 6.000 m2. Contoh lain, dia pernah ikut berpameran di Tokyo yang hasilnya belum jelas dengan biaya Rp 270 juta. “Saya nekat saja, waktu pameran hanya ada order 25 pasang. Tapi saya percaya dampaknya. Dan memang betul, seminggu setelah ekspor pertama, datang pesanan bertubi-tubi hingga ratusan pasang,” paparnya.

Budi W. Soetjipto, pemerhati bisnis dan manajemen dari Universitas Indonesia, melihat apa yang dilakukan Dede sudah bagus. Hanya saja, untuk mengembangkan usahanya, dia menyarankan agar Dede terus membesarkan mereknya sendiri. Caranya: memasukkan mereknya ke gerai-gerai, di negara tujuan ekspor maupun di Indonesia. “Lebih bagus lagi jika membangun outlet miliknya sendiri. Langkah ini cukup penting supaya tidak melulu menjadi tukang jahit merek sepatu impor,” katanya.

Dengan cara itu, masyarakat Eropa akan tahu kualitas merek FS tak kalah dari merek premium yang sudah dikenal dunia. Budi melihat FS kini telah berada pada fase peralihan dari imitasi ke inovasi. “Yang penting, terus menguasai teknologinya dan membuat desain sendiri.”

Saran di atas jelas sangat masuk akal meski memiliki risiko tersendiri. Barangkali bukan Dede yang mewujudkannya, melainkan generasi berikutnya. Dede yang hingga kini masih datang ke kantor untuk memastikan manajemen berjalan sesuai dengan rencana memang telah menempatkan anak dan menantunya dalam operasional FS.

July 25, 2011

RI Adopsi Cara Angel Capital

Senin,
25 Juli 2011
RI Adopsi Cara Angel Capital
Nusa Dua, Kompas – Para pengusaha yang tergabung dalam Global Entrepreneurship Program Indonesia menjadi semacam Angel Capital Association di Indonesia. Angel Capital di Amerika Serikat beranggotakan para investor yang berupaya memajukan dunia kewirausahaan.

Komitmen yang muncul dalam Pertemuan Kewirausahaan Regional itu diungkapkan oleh Ketua Global Entrepreneurship Program Indonesia (GEPI) Chris Kanter. ”Selama ini banyak rekan-rekan pengusaha yang ingin bertindak demikian. Namun, kami belum tahu caranya. Kedatangan Angel Capital ke acara ini membuat kami paham, dan akan mengadopsi cara itu,” kata Chris di Nusa Dua, Bali, Sabtu (23/7).

Dalam pidato penutupan Pertemuan Kewirausahaan Regional, Minggu, Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri Djauhari Oratmangun menyampaikan, kesepakatan bersama dalam Pertemuan ASEAN merupakan hal penting bagi seluruh anggotanya. Ada dua hal penting, keamanan bersama dan kesejahteraan bersama.

Sebanyak 11 pengusaha yang tergabung dalam Angel Capital datang ke Pertemuan Kewirausahaan Regional di Nusa Dua, Bali, 22-24 Juli. Mereka bertemu dengan 32 wirausahawan Indonesia, yang memaparkan rencana bisnis di depan para investor.

Menurut Chris, ada investor yang langsung menyampaikan telah menyepakati penyertaan investasi dengan seorang wirausahawan. Ada juga 2-3 investor sedang dalam tahap negosiasi. Namun, diperkirakan, ada sejumlah investor lain yang juga sedang membahas rencana kerja sama dengan wirausahawan.

Modal tak besar

Namun, sebagaimana dikemukakan Ketua Angel Capital Association John May kepada Kompas di Jakarta, pihaknya juga akan berbagi dengan investor di Indonesia. Dengan demikian, investor Indonesia dapat memakai pola yang sama untuk memajukan dunia wirausaha di Indonesia dengan menggandeng para pengusaha pemula.

Chris menambahkan, dari presentasi bisnis yang dilakukan wirausahawan Indonesia di depan Angel Capital terungkap bahwa kebutuhan dana para wirausahawan pemula tidak besar. Padahal, di Amerika Serikat, kebutuhan dana pengusaha pemula minimum 25.000 dollar AS atau sekitar Rp 200 juta.

”Misalnya, wirausahawan yang mempresentasikan bisnisnya kemarin ada yang menyampaikan hanya membutuhkan dana awal sebesar 5.730 dollar AS atau sekitar Rp 50 juta,” kata Chris.

Nantinya pengusaha Indonesia yang tergabung dalam GEPI akan mengumpulkan dana investasi, kemudian menentukan siapa saja wirausahawan yang akan diajak kerja sama. Bukan hanya dana, tapi juga berbagi ilmu atau kiat-kiat dan saran.

Tjam Iwan—Presiden Direktur PT Indomog, juga peserta pertemuan ini—menegaskan, pertemuan ini dapat menjadi semacam jembatan yang mempertemukan wirausahawan dan investor. ”Dengan pertemuan semacam ini, investor dari negara lain jadi tahu kondisi Indonesia. Dengan demikian, pada akhirnya dapat memajukan wirausahawan juga,” kata Iwan. (idr)

July 9, 2011

Semangat Wirausaha Masih Rendah

Ya iyalah semangat wirausaha tidak meningkat, karena banyak elit (politik/ pengusaha) tidak memberikan contoh etos berwira usaha yang sesungguhnya. Yang disebut elite nasional saat ini hanyalah segerombolan manusia yang bermental benalu, dan calo projek. Yang paling aktual adalah Muh. Nazaruddin ( eks Bendahara Umum Demokrat) adalah proto tipe “pengusaha” kombinasi antara calo project dan preman politik. Prototipe macam si Nazaruddin bukan hanya satu tapi buannyaak di negeri ini. Jika “sukses” orang macam Nazaruddin dapat dalam waktu yang sangat singkat memperoleh banyak harta. Disisi pemerintah/ negara para birokratnya juga lebih banyak bermental tukang hisap dan tukang palak, macam si Gayus T (eks pegawai direktorat Pajak). Selama tidak ada perubahan mentalitas dikalangan elite politik nasional dan juga perombakan birokrasi pemerintahan di Indonesia, semangat kewirausahaan bisa selamanya rendah sembari berharap bisa diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil.. Ampuuuun !

LINTAH DUIT RAKYAT

+++
Semangat Wirausaha Masih Rendah
Jakarta | 19:17 Sat, 9 Jul 201132

Dananjoyo Kusumo / Jurnal Nasional
Jurnas.com | MINAT masyarakat Indonesia terjun ke sektor kewirausahaan dinilai masih tergolong rendah. Baru sekitar 0,2 persen masyarakat Indonesia memilih sektor kewirausahaan sebagai profesi.

Menurut pengusaha nasional Chairul Tanjung kondisi tersebut tercipta akibat orientasi profesi masyarakat Tanah Air masih terpaku kepada pekerjaan yang mampu memberikan jaminan di hari tua. ”Masyarakat kita masih memilih pekerjaan yang memberikan jaminan seperti Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ini seharusnya mampu diubah,” ujar Chairul dalam seminar Membangkitkan Spirit Kewirausahaan Nasional di Kantor Pengurus Besar (PB) Nahdlatul Ulama (NU), Jakarta, Sabtu (9/7).

Chairul menegaskan, situasi dan kondisi yang seolah telah menjadi budaya tersebut menyebabkan masyarakat Indonesia menjadi kurang kreatif. Buntutnya, pertumbuhan ekonomi dalam negeri lamban. Padahal, sambung bos PARA Group ini, sebagian besar perekonomian nasional digerakkan oleh dunia usaha atau kewirausahaan.

”Sebanyak 90 persen dunia usaha menggerakkan pereknomian nasional dan sisanya atau 10 persen digerakkan oleh pemerintah,” katanya. Untuk itu Chairul menegaskan pentingnya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat Indonesia.

Peningkatan SDM menjadi salah satu prasyarat menumbuhkan semangat kewirausahaan di Indonesia. ”Jadi selain budayanya harus diubah,peningkatan SDM juga tidak hanya dari kuantitas tapi juga kualitas,” katanya.

Penulis: Aria Triyudha

March 21, 2011

Menanti Kelas Menengah yang Berkualitas

Menanti Kelas Menengah yang Berkualitas

SENIN, 21 MARET 2011 | 03:27 WIB
Pertambahan jumlah penduduk yang tergolong kelas menengah di Indonesia dianggap sebagian kalangan belum bermutu. Partisipasi kelas ini dalam pembangunan tidak saja diharapkan melalui kegiatan konsumsi yang menggerakkan perekonomian. Akan tetapi, lebih jauh dari itu juga diharapkan berperan sebagai agen perubahan.

Sulit memang menemukan definisi yang mampu secara tuntas menggambarkan kelas menengah. Pun, tak ada standar yang bisa diklaim sebagai batasan yang tepat untuk golongan menengah.

Sejarah di Eropa memperlihatkan, kelas menengah merujuk pada lapisan antara kaum bangsawan dan kaum petani. Peneliti dari bidang yang berbeda mendefinisikan dengan cara lain, yaitu berdasarkan pendidikan dan pekerjaan. Dalam ekonomi, biasanya para ahli menggunakan pola pendapatan atau pola pengeluaran sebagai acuan.

Pendekatan yang populer digunakan adalah penghampiran absolut, khususnya dengan batasan pengeluaran per orang sebesar 2-20 dollar AS setiap hari. Laporan yang menggunakan acuan ini, seperti yang dipublikasikan oleh Bank Pembangunan Asia (ADB), menunjukkan adanya peningkatan distribusi populasi kelompok menengah di negeri ini dari sekitar 25 persen pada tahun 1999 menjadi 43 persen atau sejumlah 93,3 juta jiwa pada tahun 2009.

Informasi dari Bank Dunia yang menganut batasan yang sama juga menunjukkan kenaikan signifikan golongan menengah Indonesia. Pada 2003, kelompok ini berjumlah 81 juta jiwa. Dengan adanya tujuh juta penduduk yang setiap tahunnya ”naik kelas” dari golongan miskin, lapisan tengah Indonesia menggelembung menjadi 131 juta pada 2010.

Catatan dari Badan Pusat Statistik pun menunjukkan kenaikan jumlah lapisan antara ini seiring dengan penyusutan jumlah penduduk miskin sejak 1999. Pada 2010, tercatat hanya ada 13,33 persen penduduk miskin atau setara 31,02 juta jiwa. Bandingkan dengan kondisi 1999 dengan angka kemiskinan yang mencapai 23,4 persen atau sama dengan 47,9 juta jiwa.

Sayangnya, sampai saat ini kelas menengah di Asia, termasuk Indonesia, belum punya ”gigi”. Laporan ADB dan Bank Dunia menunjukkan sekitar 70 persen warga lapisan sela di negeri ini atau 69 juta jiwa (2009) rawan jatuh kembali ke perangkap kemiskinan. Hanya sebagian kecil yang hidup di atas tingkat subsisten dan mampu menabung.

Jika kelas menengah berkualitas, ia tidak hanya memiliki posisi kuat secara ekonomi. Anggota kelas ini nantinya harus mampu mendorong terciptanya inovasi, produk murah, bahkan membuka lapangan kerja.

Selain itu, kekritisan anggota kelas ini akan melahirkan suara vokal yang menginginkan pelayanan publik yang lebih baik dan efisien. Pemikiran-pemikiran yang tajam juga akan menjadikan kelompok tengah sebagai sumber pemimpin dan aktivis yang bergerak untuk menciptakan pemerintahan dengan akuntabilitas tinggi. (RATNA SRI WIDYASTUTI/Litbang Kompas)

January 31, 2011

Dalam 4 Tahun, Wirausaha Indonesia Tambah 500.000 Orang

Dalam 4 Tahun, Wirausaha Indonesia Tambah 500.000 Orang
Investor daily Senin, 31 Januari 2011 | 12:39

JAKARTA- Jumlah wirausaha di Indonesia ditargetkan akan bertambah minimal 500.000 orang dalam empat tahun ke depan.

“Pada empat tahun ke depan kami berharap ada tambahan 500.000 wirausaha baru di Indonesia,” kata Ketua Tim Koordinasi Nasional Pengembangan Wirausaha Kreatif Kementerian Koordinator Perekonomian, Handito Joewono, di Jakarta, Senin.

Ia mengatakan, program-program kewirausahaan ke depan diharapkan dapat menghasilkan wirausahawan yang kreatif, inovatif, dan berdaya saing global.

Ia berharap jumlah itu akan berlipat ganda pada 2025 di mana akan ada lima juta wirausaha baru yang kreatif, inovatif, dan berdaya saing global terlahir di Indonesia.

Saat ini, proporsi wirausaha Indonesia diperkirakan baru sekitar 0,24% dari populasi, padahal untuk membangun ekonomi bangsa yang maju menurut sosiolog David Mc Cleiland dibutuhkan minimal dua persen atau 4,8 juta wirausaha dari populasi penduduk Indonesia.

Sebagai perbandingan, Singapura memiliki wirausaha 7,2%, Malaysia 2,1%, Thailand 4,1%, Korea Selatan 4,0%, dan Amerika Serikat 11,5% dari seluruh populasi penduduknya.

Ia memperkirakan perlu waktu hingga 2030 bagi Indonesia untuk memiliki jumlah wirausaha sebanyak 4,8 juta orang atau sekitar 2% dari total jumlah penduduk saat ini.

“Kami sedang menginventarisasi program-program kewirausahaan di semua instansi pemerintah selanjutnya akan kami data dan integrasikan,” katanya.

Menurut dia, diperlukan upaya-upaya percepatan penciptaan wirausaha baru untuk meningkatkan kesempatan kerja serta mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang. (gor/ant)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.