Terkena Jebakan, Industri
Susu Rakyat Mandek
Investor daily 29 Mei 2012
“Kita semua terkena business trap,
sehingga yang terjadi adalah business
as usual. Akibatnya, impor menjadi
tidak masalah dan semua enjoy seperti
sekarang. Meski industri sapi perah
susah, tidak masalah,” kata Rusman
dalam jumpa pers peringatan Hari Susu
Nusantara di Jakarta, Senin (28/5).
Dia memaparkan, harga komoditas
dalam negeri yang lebih tinggi ketimbang
impor selalu menjadi hambatan
bagi upaya Indonesia dalam mencapai
swasembada pangan. Kondisi itu juga
terjadi pada lima komoditas pangan utama
nasional, yaitu beras, jagung, kedelai,
daging, dan gula. “Secara fundamental,
impor dilakukan karena harga
dalam negeri lebih mahal,” ujar dia.
Menurut Rusman, importir sangat
berkepentingan dengan harga komoditas
lokal yang lebih mahal karena
dengan impor, mereka akan mendapat
keuntungan cukup besar.
“Kalau harga dalam negeri lebih
mahal, importir sangat berkepentingan
karena bisa impor tanpa batas, termasuk
susu. Itu yang membuat kita
terlena, sehingga 70% bahan baku susu
masih impor,” tutur dia.
Dia menambahkan, harga susu dalam
negeri yang lebih mahal juga mendorong
industri pengolah susu (IPS) untuk impor.
Akibatnya, posisi tawar peternak lebih
lemah. “Jika harga susu lokal bisa
sama dengan impor, posisi tawar peternak
bisa sejajar dengan IPS,” ucapnya.
Pengusaha, kata dia, lebih suka impor
karena keuntungannya lebih jelas.
Sedangkan budidaya sapi perah kurang
dilirik karena membutuhkan dana besar
dan balik modalnya lebih lama.
Business trap, menurut Wamentan,
bisa diatasi dengan demand driven, yaitu
meningkatnya permintaan susu sehingga
bisa menciptakan pressure demand.
Hal itu bisa menciptakan situasi kondusif
dalam industri sapi perah dalam negeri.
Rusman mengakui, perhatian pemerintah
saat ini masih tertuju pada
swasembada daging. Namun, mulai
2013 pihaknya akan mulai memberi
perhatian pada swasembada susu.
“Gerakan minum susu lebih pada
ranah sosial agar bangsa kita sehat.
Diharapkan ada subsidi pemerintah
untuk gerakan minum susu di
sekolah,” papar mantan kepala Badan
Pusat Statistik itu.
Susun Road Map
Sekretaris Ditjen Peternakan dan
Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian
(Kementan) Fauzi Luthan
menyatakan, pihaknya sedang berkoordinasi
dengan Kementerian
Koordinator Perekonomian, Kementerian
Perdagangan, dan Kementerian
Perindustrian untuk menyusun
road map swasembada susu.
“Kami berharap road map itu bisa
diluncurkan tahun ini, sehingga bisa
menjadi acuan para stakeholder,”
ujarnya.
Dia menjelaskan, populasi sapi perah
lokal saat ini 600 ribu ekor. Untuk
menambah populasi dalam
negeri, tahun ini pemerintah provinsi
akan mengimpor 2.300 ekor sapi
perah dari Australia.
“Saat ini sapi perah impor masih
dalam proses pengadaan dan tender.
Kami belum tahu kebutuhan dananya,”
kata Fauzi.
Dia menilai, impor bukan satu-satunya
jalan untuk menambah populasi
sapi perah. Hal itu bisa juga dilakukan
dari dalam negeri, yaitu dengan
memperbesar ukuran pedet.
Setiap tahun, kata dia, diperkirakan
ada 80 ribu ekor pedet lahir dan minimal
50% berpotensi menjadi calon induk.
“Kami mengawal anakan agar
bisa menjadi calon induk berikutnya,”
papar Fauzi.
Kementan juga mendorong pengembangan
kelompok-kelompok sapi
perah di tiga sentra, yaitu Jawa Barat,
Jawa Tengah, dan Jawa Timur. “Kami
juga memberikan bantuan peralatan
pembuatan pakan,” tutur dia.
Saat ini, menurut Fauzi, peternak
susu lokal hanya mampu memenuhi
30% dari total kebutuhan nasional.
Dengan populasi sapi perah dalam
negeri sebanyak 600 ribu ekor, dia
memperkirakan Indonesia butuh 2
juta ekor sapi perah untuk memenuhi
kebutuhan susu dalam negeri.
“Ini bukan kerja yang ringan. Bisa
naik kontribusinya jadi 50% saja pada
2020 sudah baik,” ujar dia.
Sementara itu, Kepala Pusat (Kapus)
Hewan Badan Karantina Pertanian
Kementan Sujarwanto mengatakan,
pihaknya telah mempersiapkan persyaratan
teknis bagi pemasukan sapi
perah impor. Hal itu dimaksudkan agar
hewan impor tersebut tidak membawa
penyakit yang bisa berdampak di
dalam negeri. “Ada sejumlah penyakit
yang kami waspadai,” kata dia.