PT Gudang Garam Tbk berencana mendiversifikasi bisnis kepada perkebunan sawit dengan mengakuisisi beberapa perkebunan di Provinsi Kalimatan. Kebun sawit tersebut merupakan milik pengusaha Malaysia.
“Rencana Gudang Garam ekspansi kepada perkebunan sawit di Kalimantan cukup santer bagi kalangan analis belum lama ini,” ujar eksekutif dari perusahaan asing kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.
Sumber lain menyebutkan, produsen rokok terbesar di Indonesia tersebut akan mengakuisisi kebun sawit PT Bukit Harapan Desa dan PT Surya Putra Semesta. Kedua perusahaan merupakan milik investor Malaysia.
“Saya tidak tahu persis nama investor Malaysia itu, yang jelas merupakan salah satu pemain terbesar pada perkebunan sawit dan pengolahan minyak kelapa sawit di Indonesia,” tandas sumber itu.
Ketika hal tersebut dikonfirmasikan kepada Frank W van Gelder, komisaris Gudang Garam, lewat pesan singkat, dia tidak membalasnya.
Menurut catatan Investor Daily, Kulim Bhd, Federal Land Development Authority (Felda), TH Plantation Bhd, dan Federal Land Rehabilitation Authority memiliki ratusan ribu hektare areal perkebunan sawit di provinsi tersebut.
Sementara itu, pengamat dan praktisis pasar modal Robin Setiawan berpendapat, bisa saja Gudang Garam ekspansi ke perkebunan. Pasalnya, industri agribisnis sedang booming dan cukup menjanjikan. “Ya, tidak tertutup kemungkinan kalau Gudang Garam melirik usaha perkebunan,” ujar dia.
Menurut Robin, wajar Gudang Garam melirik industri agribisnis, mengingat sektor tersebut menjadi primadona di Bursa Efek Jakarta (BEJ) terkait rencana pemerintah menggalakkan energi alternatif biodiesel dalam mengatasi krisis bahan bakar minyak (BBM). Bahkan, harga minyak kelapa sawit mentah masih bagus di pasar global.
“Cukup masuk akal bila perusahaan rokok itu masuk ke sektor yang lebih menjanjikan,” tegas dia.
Sedangkan Kepala Riset PT Mega Capital Indonesia Felix Sindhunata berpendapat, kinerja Gudang Garam kurang begitu mengembirakan belakangan ini. Sehingga bisa saja ekspansi kepada industri perkebunan ditempuh guna memperbaiki kinerja perseroan ke depan.
“Kalau benar perseroan berniat ekspansi kepada agribisnis, tujuannya mungkin mengatasi anjloknya kinerja,” jelasnya.
Dia mengaku, kalaupun benar Gudang Garam ekspansi ke industri perkebunan, arah bisnis harus dicermati, apakah kebun sawit atau kebun karet. Sebab, tidak gampang bagi pemain baru mampu bersaing dengan pemain lama yang lebih berpengalaman.
Hingga semester I 2006, penjualan bersih perseroan meningkat 2,8% menjadi Rp 12,67 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 12,32 triliun. Tapi laba bersih turun sekitar 49% menjadi Rp 544,99 miliar dari sebelumnya Rp 1,07 triliun. Penurunan laba bersih terutama disebabkan rendahnya daya beli konsumen pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada Oktober 2005.
Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, harga saham Gudang Garama ditutup menguat Rp 100 ke level Rp 9.050 per lembar. Volume saham berpindah tangan mencapai 164.500 unit atau senilai Rp 1,49 miliar. Frekuensi transaksi tercatat 45 kali.
Restrukturisasi Saham
Berdasarkan data GAPPRI, segmen pasar sigaret keretek tangan (SKT) Gudang Garam turun dari 30% pada semeter I 2005 menjadi 29,5% pada semester pertama 2006. Pangsa pasar sigaret keretek mesin (SKM) turun dari 42,7% menjadi 42,5%. Mayoritas pangsa pasar produsen rokok lainnya juga berkurang, kecuali PT HM Sampoerna Tbk. HM Sampoerna belum lama investasi Rp 2,8 triliun dengan membangun pabrik baru di Bekasi, Jabar. Sedangkan Gudang Garam belum berencana menambah investasi, sebab tiga tahun terakhir sudah meningkatkan kapasitas produksi.
Secara terpisah, Darjoto Setiawaan, managing director and business development Rajawali Group mengatakan, pihaknya telah merekstrukturisasi kepemilikan saham pada PT Bentoel International Investama Tbk.
“Kami tidak menambah jumlah kepemilikan saham pada Bentoel, tapi hanya merestrukturisasi saham kepada PT Rajawali menjadi 34,8%,” ujar dia.
Dengan adanya restrukturisasi saham, lanjut dia, tidak mengubah jumlah kepemilikan saham Rajawali sebesar 50%