Archive for ‘Indicator’

May 28, 2012

Progresivitas Investasi 2013 Surut

PERTUMBUHAN EKONOMI
Progresivitas Investasi 2013 Surut

JAKARTA, KOMPAS – Pertumbuhan investasi pada 2013 diperkirakan tidak seprogresif dua tahun belakangan ini. Atas asumsi ini, perhitungan pemerintah yang menempatkan investasi sebagai sumber utama pertumbuhan ekonomi pada 2013 perlu dievaluasi.

Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo, akhir pekan lalu, menyatakan, investasi akan menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi pada 2013, menggeser posisi konsumsi domestik yang selama ini menjadi penyumbang utama. Alasannya, pertumbuhan investasi pada 2013 akan terus menanjak, diperkirakan di atas 10 persen.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Katolik Atmajaya Jakarta Agustinus Prasetyantoko, Minggu (27/5), menyatakan, investasi bisa menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi jika tren pertumbuhan investasi sebagaimana terjadi selama dua tahun belakangan berlanjut pada 2013. Persoalannya, mencermati kondisi perekonomian dunia mutakhir, investasi tidak bisa diasumikan seprogresif tahun ini dan tahun lalu. Bahkan, kecenderungannya akan menurun.

Alasannya, dari sisi eksternal, kondisi global yang tidak stabil akan menyurutkan investasi, baik yang berbentuk investasi langsung maupun obligasi. Hal ini mengingat investasi di Indonesia mayoritas berasal dari luar negeri. Sementara dari sisi domestik sangat bergantung pada seberapa besar pemerintah membenahi iklim investasi.

”Indikator yang bisa dijadikan acuan adalah pengakuan lembaga pemeringkat. Kalau Standard and Poor’s (S&P) tidak memberikan status layak investasi pada semester II-2012 dan dua pemeringkat lain (Fitch Ratings dan Moody’s Investors Service) memberikan outlook negatif, bisa dipastikan investasi tidak akan seprogresif tahun ini dan tahun lalu,” kata Prasetyantoko.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal, realisasi investasi pada 2011 senilai Rp 251,3 triliun dari target senilai Rp 240 triliun. Sementara pada 2012, sebagaimana pernah disampaikan Kepala BKPM Gita Wirjawan, target investasi senilai Rp 290 triliun. Sampai dengan triwulan I-2012, realisasinya mencapai Rp 71,2 triliun atau 24,5 persen.

Pasar domestik

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengungkapkan hal ini di Jakarta, perekonomian global bakal mengalami tekanan berat tahun 2013 sehingga Indonesia kembali harus mengandalkan pasar domestik untuk tetap tumbuh.

”Kita harus mewaspadai krisis global tahun 2013 karena kali ini yang terkena adalah negara-negara, bukan lagi perusahaan-perusahaan seperti tahun 2008. Pemerintah jangan terus berteori tanpa melihat kenyataan kebijakan yang dibuat sekarang tidak ada yang berjalan di lapangan,” ujar Sofjan. (LAS/HAM)

May 15, 2012

Kesenjangan Gender Masih Terjadi

RABU, 18 APRIL 2012 | 19:05 WIB
Kesenjangan Gender Masih Terjadi
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Jakarta -Hingga saat ini kesenjangan gender masih terjadi. Indikasi kesenjangan perempuan dan laki-laki terlihat dari Gender-related Development Index (GDI) pada 2012.

Indeks pembangunan gender itu mengukur tingkat capaian pembangunan berbasis gender dengan tiga variabel, yaitu pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Nilai rata-rata GDI di seluruh provinsi di Indonesia pada 2010 adalah 67,2.

“Namun, hanya sembilan provinsinya yang memiliki GDI di atas nilai rata-rata nasional,” kata Menteri Pemberdayaan Perempuan, Linda Amalia Sari Gumelar di kantor Kementerian Pekerjaan Umum, Rabu, 18 April 2012.

Menurut dia, hal itu mengindikasikan kesenjangan capaian antara perempuan dan laki-laki pada tiga bidang pembangunan strategis masih terjadi. Dia menyebut provinsi dengan indeks kesenjangan gender baik adalah Jakarta, Yogyakarta, Sumatera Utara, dan Sulawesi Utara.

Selain data GDI, Linda mencontohkan data persentase perempuan yang duduk di legislatif pada Pemilu 2009. Hasil Pemilu tersebut menunjukkan hanya ada 18 persen perempuan yang duduk menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Sedangkan di Dewan Perwakilan Daerah, dari 246 anggota, hanya ada 60 orang perempuan atau sekitar 22,7 persen. Di yudikatif, baik pada Mahkamah Konstitusi maupun Mahkamah Agung, posisi strategis yang diisi perempuan baru 5,88 pesen.

Linda mengatakan data itu seharusnya dapat menggugah kesadaran kaum perempuan bahwa posisi perempuan masih di bawah laki-laki. “Padahal dari segi edukasi perempuan dan laki-laki tidak berbeda jauh,” katanya.

Ia menjelaskan, dari total jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas, 6,62 persen perempuan melanjutkan ke pendidikan tinggi, sedangkan laki-laki 7,12 persen sehingga sebenarnya tidak ada perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan.

RAFIKA AULIA

May 9, 2012

Hebat… Pengangguran di Indonesia Tertinggi se-Asia Pasifik

Hebat… Pengangguran di Indonesia Tertinggi se-Asia Pasifik Penulis : WibowoSelasa, 27 Maret 2012 17:00 WIB
1 komentar
1 0
MI/RAMDANITERKAIT
Warga Miskin Bertambah 8.000 Jiwa, Pemkot Solo Bersyukur
Pemerintah Kirim Surat ke Amerika soal Sapi Gila
Birokrasi Sulit Biang Keladi Biaya Ekonomi Tinggi
JAKARTA–MICOM: Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Usia Muda di Indonesia mencapai 19,9% atau berada dalam posisi teratas untuk kawasan Asia Pasifik.

Posisi Indonesia diikuti Sri Lanka sebesar 19%, Filipina pada angka 17,9%, dan Selandia Baru mencapai 16,2%. Untuk kawasan Eropa, Spanyol menduduki peringkat tertinggi untuk TPT Usia Muda pada kisaran 47,8%, Yunani berada pada 45,8%, dan Portugal 29,9%.

Direktur Tenaga Kerja dan Kesempatan Kerja Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rahma Iryanti mengungkapkan usia produktif 15-29 tahun menginginkan pekerjaan formal bukan informal. Dimana, adanya perlindungan, jaminan sosial, dan kesejahteraan.

“Meskipun TPT usia muda sudah menurun tetapi jumlahnya masih besar, yaitu lebih dari 5,3 juta,” ujarnya dalam diskusi Voices of Youth “Facing the Global Chalengge on Youth Employment” di Hotel Crowne, Jakarta, Selasa (27/3).

Menurut Rahma, tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga sarjana maupun diploma mendominasi TPT Usia Muda. Sedangkan, Sekolah Dasar (SD)-Sekolah Menengah Pertama (SMP) berada pada kisaran 48%. Jumlah pengangguran usia produktif di kawasan perkotaan lebih besar untuk semua kelompok umur.

“Mereka itu sebetulnya memilih-milih pekerjaan. Jadi dia itu termasuk kelompok non-labour income,” terangnya.

Di sisi lain, Rahma menjelaskan krisis ekonomi pada 1998 berdampak akan kenaikan pengangguran usia muda di Indonesia. Akibatnya, usia produktif mengalami gangguan. “Tren TPT usia muda menurun, kecuali kelompok umur 15-19 tahun yang meningkat sejak 2009 hingga 2011,” katanya.

Lebih lanjut, Rahma mengungkapkan tantangan yang dihadapi pemerintah memaksa penyerapan program bantuan hanya sebesar 25,8%. Kendalanya, antara lain akses informasi yang belum merata, keterbatasan jumlah pemagangan, dan rendahnya data pemuda yang memiliki minat untuk berwirausaha.

Kendati demikian, pemerintah akan mengefektifkan program yang memberikan kesempatan peluang kerja bagi masyarakat, khususnya usia produktif. “Kita akan efektifkan supaya tidak tumpang tindih, supaya hasilnya lebih optimal,” pungkasnya.

Rahma menegaskan angkatan kerja baru rata-rata setiap tahunnya bertambah 900.000, dengan tingkat pendidikan SD dan SLTP. Selanjutnya, sebagian akan memasuki pasar kerja dengan keterbatasan.

“Tahun 2010 sekitar 1,2 juta siswa keluar dari sekolah pada tingkat pendidikan SD dan SLPT, dimana 300.000 tidak sanggup melanjutkan karena terkendala masalah biaya,” ujarnya. (*/X-12)

May 8, 2012

Harta Orang Superkaya Indonesia US$ 125 Miliar

MELONJAK 78%
Harta Orang Superkaya
Indonesia US$ 125 Miliar
Oleh Efendi dan Agustiyanti

Investor daily
JAKARTA – Indonesia tercatat memiliki 775
orang superkaya (ultra high net worth individual/
UHNWI) dengan total kekayaan
mencapai US$ 125 miliar pada Mei 2012.
Jumlah orang superkaya ini meningkat 35%
atau bertambah 200 orang dari Mei 2011,
dengan harta kekayaan mereka melonjak 78%
dari posisi tahun lalu senilai US$ 70 miliar.
Demikian hasil riset Wealth-X, sebuah lembaga
berbasis di Singapura yang mengkhususkan
penelitian pada UHNWI.


Kategori orang superkaya adalah mereka
yang memiliki kekayaan lebih dari US$ 30 juta,
baik berupa nilai kepemilikan saham pada
perusahaan, rumah, investasi properti, koleksi
lukisan, pesawat, dana tunai, dan lain-lain.
Wealth-X mencatat Indonesia berada di
peringkat kedelapan negara dengan populasi
orang superkaya terbanyak di Asia Pasifik,
setelah Jepang, Tiongkok, India, Hong Kong,
Korea Selatan, Singapura, dan Taiwan.
Bahkan, total nilai kekayaan dari 25 orang
superkaya Indonesia (dengan kekayaan di atas
US$ 1 miliar/orang) mencapai US$ 52 miliar
atau menguasai 42% dari total kekayaan orangorang
superkaya. Rata-rata ke-25 orang ini
memiliki nilai kekayaan hampir US$ 2 miliar.

Sedangkan mereka yang memiliki
kekayaan di atas US$ 500 juta
berjumlah 50 orang dan 85 orang
lainnya memiliki kekayaan antara
US$ 200-499 juta. Populasi terbesar
dari orang-orang superkaya di Indonesia
adalah mereka yang memiliki
kekayaan antara US$ 30-49 juta,
yakni berjumlah 375 orang atau
hampir 48% dari total populasi
UHNW.
Wakil Presiden Wealth-X Adrian
Jenkinson menjelaskan, sektor pertambangan
menjadi penyumbang
terbesar lahirnya orang-orang superkaya
di Indonesia. Apalagi kontribusi
pertambangan terhadap produk
domestik bruto pada 2011 mencapai
12%. “Sebagai eksportir utama
batubara dan timah, struktur ekonomi
Indonesia secara keseluruhan
cerah seiring berkembangnya sektor
sumber daya alam berkat tingginya
permintaan dari Tiongkok dan negara-
negara Asia lainnya,” kata dia.
Fenomena Bagus
Menanggapi lonjakan kekayaan
UHNWI ini, Anggota Dewan Pendiri
Certified Wealth Managers’ Association
(CWMA) Maikel Sajangbati,
Dekan Fakultas Ekonomi UI Firmanzah,
dan ekonom senior Standard
Chartered Bank Indonesia
Fauzi Ichsan menilainya sebagai fenomena
yang bagus dan positif.
“Sangat positif, apalagi pertambahan
itu terjadi di Indonesia. Segmentasinya
jelas kelompok yang
ultra dengan ciri memiliki kekayaan
minimal US$ 30 juta per orang,” kata
Maikel ketika dihubungi Investor
Daily, di Jakarta, akhir pekan lalu.
Orang-orang superkaya itu akan
menggunakan kekayaannya untuk
mengembangkan bisnis, sehingga
bisa menciptakan banyak tenaga
kerja. Selain itu, mereka juga membeli
perusahaan-perusahaan yang
sekarat untuk kemudian disehatkan,
sehingga berkontribusi terhadap
pertumbuhan ekonomi dan lapangan
kerja.
Biasanya peningkatan orang kaya
(high net worth individual/HNWI)
mengikuti laju pertumbuhan ekonomi
dengan rumus tiga atau empat
kali lipat dari PDB. “Jadi, dengan
pertumbuhan PDB 2011 sebesar
6,5%, peningkatan HNWI minimal
bisa 20%,” kata Maikel.
Orang-orang superkaya banyak
sekali dibantu penasihat-penasihat
investasi baik. Orang-orang superkaya
sejatinya adalah seorang pengusaha
yang sangat visioner melihat bisnis
dan pandai mendiversifikasi usahanya,
sehingga kekayaan perusahaan
dan pribadinya turut meningkat.
Maikel menambahkan, dengan
potensi besar yang dimiliki Indonesia,
kelompok mass affluent akan
naik kelas menjadi kelompok HNWI
dengan kekayaan di atas US$ 1 juta.
Di atas kelompok ini ada mid-tiers
dengan kekayaan US$ 5-30 juta dan
kelompok teratas adalah UHNWI.
Dekan FE UI Firmanzah menuturkan,
bertambahnya jumlah orang
superkaya sejalan dengan indikator
ekonomi Indonesia yang sangat bagus.
Menurut dia, nilai kekayaan
UHNWI meningkat lebih tinggi
karena adanya peningkatan yang
besar pada nilai saham, perusahaan,
aset bangunan, dan aset lainnya.
Menurut dia, saat ini indeks harga
saham gabungan (IHSG) bahkan
mencatatkan rekor tertinggi. Peningkatan
pada harga saham, nilai
perusahaan, dam aset bangunan
menyebabkan kekayaan pemiliknya
pun meningkat cukup tinggi. Peningkatan
kekayaan UHNWI di Indonesia
yang banyak dikontribusi
oleh sektor pertambangan, menurut
dia, terjadi karena kenaikan
harga komoditas yang cukup tinggi
dalam beberapa waktu ini.
“Tantangan ke depan adalah
kekayaan mereka sebaiknya ditopang
oleh industri manufaktur,”
ungkap dia.
Sementara itu, Ekonom Senior
Standard Chartered Bank Fauzi
Ichsan menuturkan, bertambahnya
jumlah orang-orang superkaya di
Indonesia lebih dipicu oleh kenaikan
nilai aset dalam bentuk saham
dan properti.
“Bagaimana dalam lima tahun
terakhir, IHSG kita naik pesat. Itu
yang membuat orang-orang kaya Indonesia
semakin kaya, terutama mereka
yang memiliki bisnis pertambangan,
karena nilai perusahaan mereka
terutama yang tercatat di bursa
efek meningkat pesat,” tutur dia.
Menurut Fauzi, saat ini, pengusaha
kaya di Indonesia diuntungkan
oleh harga komoditas. Ke depan,
menurut dia, jumlah orang superkaya
akan tetap merangkak naik.
Kelas Menengah Kuat
Sebelumnya, Bank Dunia dan
Asian Development Bank (ADB)
juga melakukan riset soal perkembangan
kelas menengah di Indonesia.
Berdasarkan data ADB, pada
2009 terdapat 93,3 juta jiwa kelas menengah
di Indonesia atau setara 43%
dari total populasi. Dalam 10 tahun
terakhir, kelas menengah Indonesia
bertambah dua kali lipat. Hampir
64 juta jiwa kelas menengah atau
61,9% tinggal di perkotaan.
Sedangkan Bank Dunia menyebut
ada 134 juta kelas menengah
Indonesia dengan pengeluaran
antara US$ 2-20 per hari. Dari jumlah
itu, sekitar 14 juta memiliki ratarata
pengeluaran US$ 6-20 per hari.
Semakin kuatnya kelas menengah
tercermin pada banyaknya
warga yang menunaikan haji. Hingga
Maret 2012, sebanyak 1,7 juta
orang masuk daftar tunggu haji.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik
(BPS) mencatat jumlah penumpang
angkutan udara domestik pada
Maret 2012 mencapai 4,4 juta orang,
naik 10,63% dibanding Februari 2012.
Selama Januari-Maret 2012, jumlah
penumpang domestik mencapai 12,8
juta orang atau naik 5,7%.
Penumpang angkutan udara ke
luar negeri (internasional) pada Maret
2012 mencapai 1 juta orang, naik
13,94% dibanding Februari 2012.
Sedangkan selama Januari-Maret
2012, jumlah penumpang udara ke
luar negeri mencapai 2,8 juta orang.
Keberadaan kelas menengah Indonesia
juga tercermin dari kekuatan
menabung. Berdasarkan data
Lembaga Penjamin Simpanan
(LPS), saldo rekening di atas Rp 5
miliar pada Maret 2012 justru tumbuh
paling besar, yakni senilai Rp
54,57 triliun atau naik 4,7% dari bulan
sebelumnya. Total simpanan
segmen ini mencapai Rp 1.215,94
triliun atau setara 42,23% dari total
simpanan pada perbankan nasional.

May 8, 2012

Pertumbuhan 6,3 Persen

Jangan puas dengan pertumbuhan segini.. karena bisa lebih tinggi jika pembangunan infrastruktur bebas calo politik dan makelar projek.

Selasa,08 Mei 2012
Pertumbuhan 6,3 Persen
Indonesia Harus Bersiap Hadapi Risiko Ekonomi Lebih Besar
KOMPAS/PRIYOMBODO
Konsumen memilih busana muslim yang diobral di salah satu kios di Blok A, Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (7/5). Badan Pusat Statistik mencatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahunan pada triwulan I-2012 mencapai 6,3 persen. Konsumsi rumah tangga yang tumbuh sebesar 4,9 persen menjadi salah satu komponen pendorong pertumbuhan ekonomi triwulan I-2012.
Jakarta, Kompas – Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo menilai, pertumbuhan ekonomi 6,3 persen pada triwulan I-2012 masih cukup baik. Target pertumbuhan ekonomi 6,5 persen tahun 2012 diyakini tercapai karena pertumbuhan ekonomi masih akan meningkat pada triwulan berikutnya.

Agus Martowardojo mengakui, ada hambatan pada pertumbuhan ekonomi karena ekspor-impor pada triwulan I-2012 memang lebih rendah daripada target. Namun, komposisi pembentuk produk domestik bruto (PDB) lainnya sebagai indikator pertumbuhan ekonomi dipastikan akan terus mengalami tren meningkat pada tiga triwulan 2012 berikutnya. Komposisi lainnya adalah investasi, belanja pemerintah, dan konsumsi masyarakat.

Pertumbuhan investasi pada triwulan pertama tergolong tinggi, yakni 9 persen. Tren pada triwulan berikutnya, diyakini Agus, akan terus meningkat sehingga membawa efek positif bagi pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah, menurut Agus, juga memberikan stimulus di sektor infrastruktur dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) sehingga juga akan memberikan dampak positif. Faktor lain adalah pencairan anggaran yang diharapkan realisasinya pada tiga triwulan berikutnya. Ini terutama diharapkan terjadi di belanja modal dan barang sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi.

Penegasan Menteri Keuangan itu menyusul pemaparan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin di Jakarta, Senin (7/5), bahwa perekonomian Indonesia diukur berdasarkan besaran PDB atas dasar harga berlaku pada triwulan I-2012 mencapai Rp 1.972,4 triliun. Sementara PDB atas dasar harga konstan 2000 mencapai Rp 632,8 triliun.

PDB Indonesia pada triwulan I-2012 dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2011 (year on year/tahunan) tumbuh 6,3 persen. Asumsi pertumbuhan ekonomi dalam APBN-P 2012 sebesar 6,5 persen

Agus optimistis, target pertumbuhan 6,5 persen tercapai karena ada peningkatan penghasilan tidak kena pajak (PTKP). Rencana pemerintah menaikkan PTKP dari Rp 1,32 juta per bulan menjadi Rp 1,8 juta sampai Rp 2 juta per bulan, jika terealisasi, akan ikut mendorong pertumbuhan ekonomi. Ekonomi domestik selama ini, termasuk pada triwulan pertama, merupakan salah satu penyumbang pertumbuhan ekonomi yang dominan.

”Jadi, itu yang membuat kami optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tetap akan baik dan target 6,5 persen akan tercapai,” kata Agus.

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengaku kurang puas pertumbuhan ekonomi 6,3 persen pada triwulan I-2012. Meski demikian, pencapaian itu terjadi dalam situasi ekonomi dunia yang melambat sehingga masih lumayan.

Pada triwulan berikutnya, Hatta yakin akan ada percepatan pertumbuhan ekonomi. Dari sisi belanja pemerintah saja, pola penyerapan selalu lebih besar pada triwulan-triwulan akhir.

Sementara itu, Head of Office of Regional Economics Integration Asian Development Bank Iwan Jaya Azis di Bandung, Jawa Barat, Senin, menegaskan, Indonesia, seperti halnya negara-negara lain di dunia, harus bersiap menghadapi risiko kondisi ekonomi yang lebih besar. Pasalnya, kondisi ekonomi global masih belum pulih.

”Indonesia tetap harus menyiapkan alternatif kebijakan untuk menghadapi kondisi ekonomi yang kian memburuk,” katanya di sela-sela seminar internasional mengenai keuangan syariah.

(LAS/IDR/ATO/WER/EGI)

April 12, 2012

Pengusaha Tak Percaya pada Data Pangan BPS

Kamis,
12 April 2012
STATISTIK
Pengusaha Tak Percaya pada Data Pangan BPS
Jakarta, Kompas – Para pengusaha tidak memercayai data produksi pangan, terutama komoditas beras dan jagung, yang dihitung Badan Pusat Statistik. Data produksi dinilai terlalu tinggi dan tidak mencerminkan realitas di lapangan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengakui data produksi terlalu tinggi. Namun, BPS sedang melakukan perbaikan metodologi penghitungan data produksi agar menghasilkan data yang valid.

Hal ini muncul dalam briefing Asosiasi Perusahaan Pertanian dalam rangka pemutakhiran direktori perusahaan pertanian oleh BPS di Jakarta, Rabu (11/4).

Pemutakhiran data diperlukan antara lain untuk gambaran sebaran perusahaan pertanian sehingga dapat dimanfaatkan untuk melihat peluang investasi dan pengembangan usaha.

Deputi Bidang Statistik Produksi BPS Sihar Lumbantobing mengatakan, keinginan memperbaiki data produksi pangan sudah menjadi keinginan bersama. BPS sedang melakukannya sehingga kalau nanti dalam penghitungan akan ada penurunan produksi, semua tak akan mempertahankan.

Penghitungan data produksi yang kurang tepat terjadi pada beras. Hal yang sama terjadi pada jagung. ”Kami mengakui, data produksi jagung BPS angkanya ketinggian, tetapi luas lahan yang benar yang mana?” ujarnya.

BPS menyadari, data produksi beras yang dihitung BPS merupakan hasil perkalian antara data produktivitas dan luas lahan. ”Walau BPS mengeluarkan angka ramalan produksi setiap empat bulan, itu bukan data BPS sendiri,” katanya.

Ada kerja sama dengan Kementerian Pertanian. Angka luas lahan dari Kementan, seperti dari dinas pertanian. Data produktivitas juga tidak sendiri oleh BPS, tetapi separuh-separuh.

Kementan juga diminta menghitung luas lahan pertanian yang benar. Sekarang metodenya sedang dilakukan, termasuk dengan memanfaatkan citra satelit atau menggunakan GPS sehingga luas lahan akan benar-benar akurat.

Sambil proses perbaikan dilakukan, penghitungan luas lahan sudah dilakukan perbaikan. Misalnya, angka luas lahan dari kabupaten langsung masuk ke BPS. ”Tidak ada lagi kutak-katik angka di provinsi, di dinas-dinas. Ini usaha kita. Ini perlu proses, enggak bisa sehari langsung selesai,” ujarnya.

Ketua Dewan Hortikultura Nasional Tony Kristianto mengatakan, data BPS sangat diperlukan. Namun, sayangnya, belum akurat, belum memiliki pengaruh di pasar, selayaknya data United States Departement of Agriculture (USDA).

Data jagung, misalnya. Produksi jagung tahun 2011 mencapai 17 juta ton jagung pipilan kering. Namun, tahun 2011, industri pakan ternak impor jagung 3,5 juta ton. Padahal, jagung untuk industri pakan ternak hanya 6 juta ton. ”Harusnya ada sisa 10 juta ton jagung di pasar, tetapi di mana jagung itu. Apa itu,” katanya.

Tony meminta kepada BPS agar secara ad hoc mengecek ulang. Apakah memang data produksi jagung masih sahih atau tidak. Kalau data BPS akurasinya hanya 60 persen, apa data itu bisa dikatakan akurat.

Pengusaha pun menjadi tidak percaya dengan data BPS. ”Dari pada mengandalkan jagung produksi dalam negeri usaha mereka tidak selamat, lebih baik pengusaha impor,” katanya.

Sekretaris Jenderal Gabungan Perusahaan Makanan Ternak Desianto Budi Utomo menyatakan, produksi jagung tinggi, tetapi kenyataannya impor.

Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin menyatakan, pihaknya mendukung dilakukannya penyegaran data. (MAS)

April 10, 2012

Nelayan Kurang Mendapat Perhatian

Menteri Perikanan ngapain aja

Nelayan Kurang Mendapat Perhatian
Jakarta, Kompas – Keberlanjutan perikanan nasional kian terancam oleh ketertinggalan nelayan, lemahnya infrastruktur, pencurian ikan yang masih merajalela, dan arus impor ikan yang memukul daya saing. Keberpihakan pemerintah terhadap sektor perikanan dinilai masih rendah.

Demikian benang merah pendapat dari kalangan praktisi dan pemerhati perikanan, di Jakarta, Senin (9/4). Pendapat ini berkenaan dengan nasib nelayan di Tanah Air yang semakin terpuruk karena berbagai persoalan. Nilai tukar nelayan terus menurun dari waktu ke waktu.

Secara terpisah, Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo, kemarin, menegaskan, pihaknya mendorong pengembangan mata pencarian alternatif bagi nelayan, yakni ke sektor perikanan budidaya dan pengolahan ikan. Nelayan kecil banyak yang menganggur dan tidak bisa melaut, antara lain, karena cuaca buruk dan peralatan minim.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) Rokhmin Dahuri mengemukakan, sektor perikanan saat ini mengalami tiga bahaya besar. Pertama, peningkatan pengangguran karena nelayan semakin sulit melaut. Kebijakan penguatan nelayan hingga kini masih minim.

Kedua, arus impor ikan yang masuk ke Indonesia dengan harga lebih rendah dibandingkan dengan harga lokal memukul daya saing nelayan. Ironisnya, ikan impor yang masuk ke Indonesia diduga kuat berasal dari Indonesia. Beberapa jenis ikan impor asal Thailand dan Vietnam yang marak masuk, seperti ikan kembung dan layang, sudah sulit ditemukan di perairan negara-negara tersebut.

Tahun ini, pemerintah memproyeksikan impor ikan naik 35 persen, dari 450.000 ton pada 2011 menjadi 610.000 ton.

Ketiga, penangkapan ikan ilegal yang merajalela. Ketertinggalan teknologi dan alat tangkap kapal nelayan membuat daya jelajah nelayan tidak optimal. Lemahnya daya saing kapal dalam negeri membuat perairan Indonesia rawan dimasuki nelayan asing untuk menguras sumber daya ikan.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, jumlah kapal nelayan tercatat 345.988 unit, sebanyak 343.650 unit atau 99,32 persen berupa kapal kecil berbobot mati di bawah 30 ton dengan daya jelajah di bawah 12 mil (19,2 kilometer).

Lebih ke darat

Tahun 2011, selepas perombakan kabinet serta pergantian Menteri Kelautan dan Perikanan dari Fadel Muhammad menjadi Sharif Cicip Sutardjo, pemerintah menggulirkan kebijakan baru, yakni industrialisasi kelautan dan perikanan. Namun, kebijakan itu masih menitikberatkan pada industri hilir.

Di sejumlah sentra produksi, seperti Maluku dan Sulawesi, nelayan terpaksa membuang hasil tangkapan yang berlimpah setiap musim panen ikan karena tidak terserap oleh industri pengolahan. Belum tercipta sistem logistik perikanan yang memasok bahan baku secara kontinu dari sentra produksi di wilayah Indonesia timur ke sentra pengolahan di Jawa.

Sementara itu, program bantuan 1.000 kapal nelayan berbobot mati 30 ton senilai Rp 1,5 triliun untuk periode 2010-2014 dinilai salah kaprah. Program modernisasi kapal nelayan itu diprioritaskan untuk nelayan di perairan Jawa yang sudah mengalami penangkapan berlebih (overfishing).

Berdasarkan pantauan Kompas, kapal bantuan Inka Mina belum sepenuhnya bisa beroperasi. Kelompok nelayan penerima bantuan harus mengeluarkan biaya tambahan hingga ratusan juta untuk perbaikan dan penambahan alat agar kapal layak beroperasi.

Di Brebes, Jawa Tengah, Kapal Inka Mina 158 yang diserahterimakan ke Koperasi Serba Usaha Sumber Ikan sejak Desember 2011 hingga kini tidak beroperasi. Kapal berbobot 32 ton senilai Rp 1,5 miliar itu belum memiliki kelengkapan surat dokumen berupa gross acte dan surat izin penangkapan ikan sebagai syarat melaut.

Menurut Ketua Koperasi Serba Usaha Sumber Ikan Akhmad Muttaqin, pihaknya harus mengeluarkan biaya Rp 250 juta untuk penambahan alat tangkap. Tanpa peralatan memadai, nelayan berpotensi rugi karena biaya melaut untuk kapal itu mencapai Rp 60 juta per trip.

Ketua Umum Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Yusuf Solichien menilai, kebijakan nasional hingga kini belum berpihak pada pembangunan sektor kelautan dan perikanan. Pembangunan di negeri bahari masih berorientasi pada darat. Ini tecermin dalam ketimpangan politik anggaran.

Tahun 2012, anggaran Kementerian Kelautan dan Perikanan Rp 6,9 triliun. Dari segi sarana produksi, selama ini nelayan tidak pernah memperoleh subsidi untuk memperkuat daya saing perikanan. Ini berbeda dengan sektor pertanian yang tahun ini memperoleh subsidi pupuk Rp 14 triliun dan benih Rp 0,1 triliun.

Penyediaan infrastruktur pendukung perikanan juga masih lemah. Jumlah stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN) dan kios pengisian solar nelayan (SPDN) hanya 250 unit, sedangkan pangkalan pendaratan ikan lebih dari 800 unit.

Minimnya SPBN dan SPDN membuat pasokan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tersendat. Tahun 2011, alokasi BBM bersubsidi bagi sektor perikanan 1,75 juta kiloliter (kl), yang tersalurkan hanya 720.000 kl.

Daya saing sektor perikanan semakin sulit terkejar karena nelayan Tanah Air yang didominasi oleh nelayan tradisional dan kecil yang tidak dilengkapi teknologi penangkapan ikan, kapal, dan alat komunikasi yang memadai. Keterbatasan sarana juga memicu nelayan rawan menghadapi kecelakaan di laut.

Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB Arif Satria mengingatkan, industrialisasi perikanan masih ditandai dengan kesulitan bahan baku. Untuk itu, konsep industrialisasi seharusnya dimaknai sebagai peluang untuk mendorong produksi perikanan tangkap dan budidaya.

Untuk itu, dibutuhkan dukungan lintas kementerian dengan memperkuat infrastruktur di daerah. Selain itu, nelayan juga perlu didorong mencari mata pencarian alternatif ketika cuaca tidak memungkinkan untuk melaut. Langkah politik untuk menyejahterakan nelayan didasari paradigma nelayan adalah pelaku penting dalam suplai pangan protein yang diperlukan bangsa ini.

”Semestinya nelayan dianggap sebagai pelaku strategis sebagaimana petani karena berjasa menyediakan pangan serta punya peran secara geopolitik untuk menjaga laut dari pencurian ikan,” ujar Arif.

Pencarian alternatif

Sharif Cicip Sutardjo mengemukakan, daya dukung perikanan tangkap terus menurun seiring merosotnya populasi ikan. Fenomena itu juga terjadi di seluruh dunia.

Terkait itu, pihaknya mendorong pengembangan mata pencarian alternatif bagi nelayan, yakni ke sektor perikanan budidaya dan pengolahan ikan. Kebijakan industrialisasi perikanan diarahkan untuk memberdayakan keluarga nelayan pada sektor hulu-hilir perikanan.

”Nelayan yang tidak bisa melaut akan diberdayakan untuk usaha budidaya dan pengolahan ikan sebagai alternatif mata pencarian,” ujar Cicip saat dihubungi Kompas, Senin.

Kendala yang masih menghadang adalah masalah permodalan dan BBM. Pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mendorong BUMN menggulirkan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) guna membantu permodalan nelayan dan pembudidayaan.

(lkt/ENY/WER/gre/mhf/Rwn/nit/hei)

+++++++++++++++

Selasa,
10 April 2012
PERIKANAN
Pudarnya Kebanggaan Menjadi Nelayan…
KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Masrauf (50-an), nelayan di Desa Citemu, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, pulang melaut, Kamis (5/4). Hasil yang tidak menentu dan minimnya dukungan dari pemerintah membuat pekerjaan sebagai nelayan tidak dilirik oleh anak-anak muda di sebagian besar wilayah pantai utara Jawa. Anak-anak muda lebih memilih bekerja di pabrik, kantor, atau menjadi tenaga kerja di luar negeri.
Oleh BM Lukita Grahadyarini dan Siwi Nurbiajanti

Kaid (55) melangkah pelan sambil memikul jaring. Setelah melaut selama setengah hari, nelayan di Desa Citemu, Kecamatan Mundu, Indramayu, Jawa Barat, itu hanya memperoleh enam rajungan.

Hasil penjualan enam rajungan, yakni Rp 32.000, tidak mampu menutupi biaya solar 10 liter sebesar Rp 50.000. Meski telah menebar tiga jenis jaring, yakni jaring udang, rajungan, dan ikan, hasil tangkapan tidak meyakinkan.

Kaid menuturkan, penghasilan nelayan semakin tidak menentu. Dalam kondisi tangkapan melimpah, Kaid bisa mendapat jutaan rupiah sekali melaut. Namun, saat paceklik, ia bisa pulang tanpa hasil.

Akibat ketidakstabilan penghasilan, pekerjaan sebagai nelayan kini semakin ditinggalkan generasi muda. Para pemuda dari kampung nelayan memilih merantau ke luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) nelayan atau merantau ke Jakarta dan bekerja di kapal besar.

Putra pertama Kaid, Sulaiman (26), sudah lima tahun bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) di kapal Taiwan. Sebelum hijrah ke luar negeri, anaknya yang tamatan sekolah dasar itu telah bertahun-tahun menjadi nelayan kecil.

Banyaknya pemuda yang tidak lagi melirik pekerjaan sebagai nelayan kecil dan memilih menjadi TKI nelayan diakui Kastari, Ketua Kelompok Nelayan Anggota KUD Karya Mina Kota Tegal, Jawa Tengah, yang juga koordinator nelayan tradisional Muarareja.

Di wilayah Muarareja, sedikitnya 20 pemuda merantau sebagai TKI nelayan di Taiwan dan Jepang. Meski bekerja dengan status kontrak, penghasilan mereka lebih tinggi dengan gaji Rp 3 juta hingga Rp 5 juta per bulan. Ini berbeda dengan penghasilan nelayan kecil di Indonesia yang sangat dipengaruhi musim dan hasil tangkapan.

Anak kedua Kastari, Aryoto (26), juga pernah selama dua tahun di Jepang. Saat ini, Aryoto telah kembali ke Tanah Air dan berkeluarga. Meski demikian, Aryoto berencana untuk kembali ke luar negeri. ”Kemarin ditelepon, dia mau ke Jepang lagi,” kata Kastari.

Menantu Kastari, Kholiruloh (31), pun sudah mendaftarkan diri dan siap berangkat ke Taiwan. Kholiruloh berniat bekerja ke Taiwan dengan asa mendapatkan penghasilan lebih tinggi.

”Sekarang menjadi nelayan lokal merupakan pilihan terakhir. Kalau bisa ke luar negeri, ya, ke luar negeri,” ujarnya.

Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Tegal. Menurut Bendahara Kelompok Usaha Bersama Teri Nasi Desa Munjungagung, Kecamatan Kramat, Ranito (34), para pemuda nelayan di desanya bersemangat ke luar negeri sejak 1999, setelah terjadi krisis moneter. Saat itu, nilai rupiah anjlok sehingga nilai gaji di luar negeri menjadi sangat tinggi apabila dibawa pulang ke Indonesia.

Mereka menjadi TKI nelayan di Taiwan, Selandia Baru, Afrika Selatan, Jepang, dan Spanyol. Jepang dan Spanyol merupakan negara favorit tujuan TKI nelayan karena di negara tersebut mereka bisa digaji Rp 7 juta hingga Rp 10 juta per bulan. Untuk bisa berangkat, nelayan harus berpengalaman di negara lain. Mereka juga dipungut biaya keberangkatan sebesar Rp 12 juta.

Saat ini, lima keponakan Ranito juga menjadi TKI di luar negeri: tiga orang di Spanyol, satu orang di Jepang, dan satu orang di Afrika Selatan. Tak butuh pendidikan tinggi untuk menjadi TKI nelayan. Para pemuda nelayan lulusan sekolah dasar pun bisa menjadi TKI nelayan.

”Kalau yang sarjana, biasanya tidak mau jadi nelayan. Kalaupun bekerja di kapal, biasanya kapal pesiar,” tuturnya.

Selain ke luar negeri, para pemuda nelayan dari Desa Munjungagung juga banyak merantau ke daerah lain, seperti Jakarta dan Bali, untuk bekerja di kapal-kapal besar.

Danuri (57), nelayan Desa Munjungagung, menuturkan, anaknya, Solihin (28), dan menantunya, Junaedi (26), memilih bekerja di kapal pencari cumi-cumi di Jakarta daripada menjadi nelayan kecil.

Dengan bekerja di kapal besar di Jakarta, anaknya bisa membawa Rp 4 juta dalam dua bulan. Uang sebesar itu sulit diperoleh para nelayan yang hanya mengandalkan perahu kecil.

”Sekarang, nelayan yang bertahan di Munjungagung kebanyakan orang tua,” ujar Ranito.

Ketangguhan kapal ikan asing yang didominasi kapal skala besar lengkap dengan teknologi penangkapan, alat navigasi, dan komunikasi canggih menjanjikan kepastian hasil tangkapan sekalipun pada cuaca ekstrem.

Pemerintah gagal

Kondisi itu berbeda dengan nelayan dalam negeri yang rawan terpengaruh musim. Pada musim angin barat dan cuaca buruk, sebagian besar kapal nelayan mangkrak, tidak mampu mengarungi gelombang tinggi karena masih didominasi kapal kecil dan tradisional.

Jumlah kapal nelayan tercatat 345.988 unit, sebanyak 343.650 unit atau 99,32 persen berupa kapal kecil berbobot mati di bawah 30 ton dengan daya jelajah kurang dari 12 mil.

Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan Riza Damanik menilai, fenomena menurunnya minat generasi muda nelayan untuk berkiprah di perikanan nasional menunjukkan kegagalan pemerintah untuk mengembangkan potensi negeri bahari.

”Kebanggaan untuk menjadi nelayan kian pudar, sejalan dengan abainya pemerintah dalam melindungi dan mendukung kegiatan nelayan,” ungkap Riza.

Dengan panjang garis pantai 95.181 kilometer dan luas perairan 5,8 juta kilometer persegi, Indonesia seharusnya bisa mengoptimalkan potensi bahari untuk penyerapan lapangan kerja dan kontribusi bagi pendapatan nasional.

Tanpa kebijakan yang berpihak pada pembangunan sektor maritim, dalam jangka panjang Indonesia tidak hanya menghadapi krisis ikan, tetapi juga krisis nelayan. Tradisi kebaharian yang digambarkan dengan ”nenek moyangku orang pelaut” dikhawatirkan kandas seiring dengan merosotnya minat generasi muda keluarga nelayan untuk berkiprah menjadi nelayan di negeri sendiri.

Tags:
March 2, 2012

Ekspor Terus Merosot

Jumat,
02 Maret 2012
PERDAGANGAN
Ekspor Terus Merosot

Jakarta, Kompas – Tren penurunan ekspor yang terjadi sejak September 2011 berlanjut hingga Januari 2012. Nilai ekspor selama Januari 2012 tercatat 15,49 miliar dollar AS atau turun 9,28 persen dibandingkan dengan ekspor Desember 2011. Hal itu harus disikapi karena bisa menghambat pertumbuhan ekonomi.

Kepala Badan Pusat Statistik Suryamin, di Jakarta, Kamis (1/3), mengatakan, nilai ekspor tersebut terdiri dari nonmigas 12,52 miliar dollar AS dan sisanya berupa migas. ”Untuk nonmigas masih didominasi bahan bakar mineral 2,17 miliar dollar AS dan lemak serta nabati sebesar 2,14 miliar dollar AS,” katanya.

Dia mengatakan, penurunan ekspor pada awal tahun adalah tren yang terjadi selama beberapa tahun terakhir. Penurunan tersebut dipicu oleh penurunan ekspor nonmigas dari 13,5 miliar dollar AS menjadi 12,5 miliar dollar AS dan penurunan migas dari 3,5 miliar dollar AS menjadi 2,9 miliar dollar AS.

Tiga negara tujuan ekspor nonmigas terbesar adalah Jepang (1,61 miliar dollar AS), China (1,36 miliar dollar AS), dan Amerika Serikat (1,2 miliar dollar AS). Ekspor nonmigas terbesar masih ke negara-negara ASEAN dengan pangsa 20,25 persen.

”Meski nilai ekspor Januari turun dibandingkan Desember, namun jika dibandingkan periode Januari 2011, maka terjadi kenaikan 6,07 persen,” katanya.

Selain merilis data ekspor, BPS juga memublikasikan data impor. Impor selama Januari 2012 tercatat 14,57 miliar dollar AS atau turun 16,4 persen dibandingkan Desember 2011. Namun jika dibandingkan dengan Januari 2011, terjadi kenaikan 16,02 persen. Negara pemasok impor terbesar adalah China dengan pangsa 21,9 persen, disusul Jepang dan Singapura dengan pangsa masing-masing 15,06 persen dan 7,3 persen.

Sejak September 2011, kinerja ekspor Indonesia terus merosot. Ekspor Agustus 2011 tercatat 18,64 miliar dollar AS, September 17,54 miliar dollar AS, Oktober 16,95 miliar dollar AS, November sempat naik ke 17,23 miliar dollar AS, lalu Desember turun lagi menjadi 17,19 miliar dollar AS.

Menurut Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, penurunan ekspor adalah dampak dari resesi global. Hal tersebut patut diwaspadai.

”Dampak negatif krisis di Uni Eropa dan Amerika Serikat tidak hanya menimpa Indonesia, tetapi juga dirasakan oleh negara pesaing seperti China dan Korea Selatan. Pada bulan Januari, ekspor China merosot 0,5 persen, sementara Korea Selatan sebesar 7 persen,” paparnya. (LAS/ENY)

February 21, 2012

Ledakan Jumlah Orang Kaya Baru di Indonesia

Ledakan Jumlah Orang Kaya Baru di Indonesia
TEMPO.CO – 23 jam yang lalu

11
Email
Cetak

Berita Lainnya

Ledakan Jumlah Orang Kaya Baru di Indonesia
Tempo – 23 jam yang lalu
Dahlan Iskan Nyatakan Sumatra Bakal Kalahkan Jawa
Antara – 10 jam yang lalu
Buruh Tuntut Sistem Outsourcing Dihapus
Liputan 6 – 10 jam yang lalu

More »

TEMPO.CO, Jakarta – Dua puluh tahun lalu tak pernah kita bayangkan ini semua terjadi. Konser artis mancanegara diserbu penonton meski tiketnya belasan juta rupiah. Ribuan orang antre panjang untuk mendapatkan BlackBerry dan iPhone terbaru. Restoran fine dining sering kekurangan tempat duduk. Pengusaha muda beramai-ramai menjadi anggota kelompok kebugaran atau klub bermain golf.

Lebih dari sekadar fenomena yang mengejutkan, satu hal yang kerap luput dari pengamatan: jumlah orang yang punya daya beli “lebih dari cukup” itu terus bertambah. Jika ukuran Bank Dunia yang dipakai, yakni bahwa kelompok ini adalah mereka yang pengeluaran per kapita per harinya US$ 2-20, maka terdapat sekurang-kurangnya 130 juta orang. Angka itu 56,5 persen dari total penduduk Indonesia. Padahal, tujuh tahun sebelumnya, jumlahnya hanya 37,7 persen. (Baca juga: Kelas Pendorong Mesin Pertumbuhan)

Berminggu-minggu Tempo melakukan liputan mendalam tentang ledakan kelas konsumen baru. Tempo memotret gaya hidup sekelompok orang yang menyerbu tiket konser musik Evanescence, Roxette, Stevie Wonder, atau Dream Theater dan menghabiskan separuh penghasilannya untuk mencicil mobil terbaru. Siapa saja mereka? Apa latar belakang hidupnya, juga–jika ada–afiliasi politik mereka? Apakah mereka berpeluang menggerakkan ekonomi?

Amrullah, 33 tahun, adalah salah contoh tumbuhnya kelas konsumen baru. Pria asal Jember, Jawa Timur, itu punya hobi main baru: main golf. Ia pernah menjajal sejumlah lapangan di Jakarta, sampai ke Bali, Bintan, atau Batam. Saking gemarnya bermain golf, tahun lalu dia mendaftar sebagai anggota di Lapangan Golf Matoa, Ciganjur, Jakarta Selatan. Untuk itu, ia membayar hampir Rp 100 juta. Harga itu belum termasuk biaya tahunan Rp 6 juta.

Kata Amrul, bermain golf di Ibu Kota kini tidak seleluasa dulu. Sekarang, lapangan harus dipesan jauh-jauh hari. “Sekarang, orang main golf bertambah banyak,” ujarnya.

Sepuluh tahun lalu, kisah Amrul, ketika dia baru di tiba Jakarta, ia menumpang tidur selama satu tahun di kamar kos kakak kelasnya di Setiabudi, Jakarta Selatan. Saat itu, ia baru bekerja sebagai konsultan di perusahaan milik bekas dosennya. Dua tahun setelah itu, ia membeli rumah tipe 70 dengan luas tanah 90 meter persegi di Cibubur. Harganya Rp 250 juta. Dari Cibubur, sehari-hari ia naik kendaraan umum. Baru beberapa bulan kemudian, ia membeli mobil. Tahun berganti, mobilnya pun ganti kelas dari Toyota Yaris ke Honda CRV. Rumahnya juga “naik pangkat” ke townhouse di Cilandak, Jakarta Selatan, seharga Rp 1,5 miliar. Dia juga membeli waralaba makanan cepat saji, membuka kos-kosan 15 kamar senilai Rp 600 juta, serta ruko di Cinere Rp 750 juta. (Baca juga: Mereka yang Beranjak Kaya)

Orang seperti Amrul ini kini jumlahnya berlimpah di Indonesia. Mereka bolak-balik Jakarta-Singapura untuk nonton konser atau berpatungan membeli tas Hermes biar keren. (Selanjutnya >>)

Yang berlangsung di Indonesia saat ini adalah fase yang telah dilalui banyak negara. Pertumbuhan ekonomi Indonesia–dengan pendapatan per kapita US$ 3.000-an pada 2010–telah mengangkat jutaan orang dari jurang kemiskinan. Sekitar 70 persen ekonomi Indonesia ditopang oleh kelas konsumen baru ini. Kolom dosen ekonomi Universitas Indonesia Chatib Basri di majalah Tempo edisi ini menjelaskan secara jernih soal ini. Di negara seperti Jepang dan Korea Selatan, kelompok kelas menengah ini terbukti bisa mendorong pertumbuhan ekonomi. Di Indonesia, pemerintah mengabaikan peran kelompok ini.

Namun, tumbuhnya kelas konsumen baru ini tak semuanya positif. Dosen filsafat Universitas Indonesia Rocky Gerung menyebut mereka sebagai parasit kapitalisme. Kolomnya menjelaskan soal ini. Mereka mampu beli mobil Alphard, tapi selalu mengumpat saat macet. (Baca juga: Agar Tak Jadi Malin Kundang)

Meski kuat secara ekonomi, kelompok konsumen baru ini memiliki peran yang minim dalam politik. Kasus Prita Mulyasari, pasien yang digugat rumah sakit Omni Internasional, Tangerang, karena mengeluhkan layanan di jejaring sosial media adalah contohnya. Tiga tahun lalu dia dibela oleh jutaan orang lewat Twitter dan Facebook. Tapi, setelah itu persoalan dianggap selesai. “Saya merasa ditinggal,” kata Prita. (Baca: Sumpah Serapah Tepublik Tweeps).

Dia akhirnya dihukum enam bulan penjara dengan masa percobaan satu tahun. Kini, dia sudah melayangkan peninjauan kembali. “Saya tak berani lagi mengeluh di sosial media,” katanya. “Takut mempengaruhi keputusan.”

Prita adalah contoh pembelaan kelas menengah dalam sebuah aksi yang disebut click activism–aksi yang nyaris tanpa risiko. Ya, begitulah potret kelas menengah Indonesia. Selengkapnya baca laporan utama Tempo, “Mereka yang Beranjak Kaya”.

January 18, 2012

Selamat! Moody’s Juga Naikkan Peringkat Indonesia

Apabisa negeri “autopilot” dapat meraih rating yang baik ??

Rabu, 18/01/2012 14:54 WIB
Selamat! Moody’s Juga Naikkan Peringkat Indonesia
Angga Aliya – detikFinance

Singapura – Lembaga pemeringkat internasional, Moody’s Rating, menaikkan peringkat utang luar negeri Indonesia menjadi Baa3 dari sebelumnya Ba1. Outlook untuk peringkat ini ditetapkan stabil.

Berdasarkan siaran pers yang dikeluarkan Moody’s, Rabu (18/1/2012), ada empat alasan naiknya peringkat Indonesia tersebut:

Mood’y mengantisipasi kebijakan keuangan pemerintah akan tetap sejalan dengan peringkat Baa.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat terhadap guncangan eksternal yang besar.
Kebijakan dan instrumen mampu mengatasi bahaya finansial.
Sistem perbankan yang sehat yang bisa mengatasi masalah

Ini merupakan kali kedua Indonesia mendapatkan kenaikan peringkat. Sebelumnya, pada 15 Desember 2011 lalu salah satu dari tiga lembaga pemeringkat kelas dunia, Fitch’s Rating menaikkan peringkat Indonesia dari BB+ menjadi BBB-. Ini merupakan peringkat yang setara dengan investment grade alias negara yang layak menjadi tempat berinvestasi.

“Kenaikan peringkat ini mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan resilien, rasio utang publik yang rendah dan terus menurun, likuiditas eksternal yang menguat, dan kerangka kebijakan makro yang hati-hat,i” kata Philip McNicholas, Director group Fitch’s Asia-Pacific Sovereign Ratings dalam siaran persnya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.