Archive for ‘Indonesia techno research education news’

May 29, 2012

PT DI-SUKHOI Matangkan Rencana Produksi Ekor Pesawat

23 MEI 2012
PT DI-SUKHOI Matangkan Rencana Produksi Ekor Pesawat
23 Mei 2012

Cutaway pesawat Superjet 100 buatan Sukhoi (image : Flight International)

BANDUNG (bisnis-jabar.com): PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan Sukhoi sedang mematangkan kerjasama pembuatan ekor pesawat. Rencana kerjasama ini tidak terkendala kasus kecelakaan Sukhoi Superjet 100 beberapa waktu lalu.

Kepala Divisi Manajemen Mutu dan Koordinator Kehumasan PT DI Sonny Saleh Ibrahim mengatakan pihak Sukhoi sudah menjajaki kerjasama ini sejak dua tahun terakhir.

Rencananya PT DI akan membuat ekor pesawat Sukhoi, baik vertikal maupun ekor horizontal jika kerjasama itu terwujud.

“Bila terjadi kesepakatan kontrak, kami siap membuat sekitar 40 unit bagian ekor pesawat tersebut setiap tahunnya,” katanya hari ini.

Pembicaraan lanjutan soal ini, menurutnya, agak tertunda dengan kejadian kecelakaan Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak. PT DI sendiri yakin meski ada penundaan, kerjasama bakal terus berlanjut. “Prospek kerjasama ini sudah mencapai 90 %,” katanya.

Pembicaraan yang tersisa akan membahas secara detil mengenai komponen, pembuatan contoh komponen, termasuk nilai kontrak. Pembuatan komponen ekor pesawat sendiri menurut Sonny bisa dipenuhi pihaknya karena memiliki peralatan dan mesin yang dapat menunjang pesanan tersebut.

Apalagi, dalam waktu dekat PT DI bersiap menambah mesin baru. “Jadi, kami optimistis dapat memenuhi pemesanan tersebut,” ujarnya.

Selain Sukhoi, PT DI menjalin kerjasama dengan beberapa lembaga sejenis asal berbagai negara. Di antaranya, Boeing, Airbus, dan Eurocopter. Sebagai contoh, pihaknya menjalin kerjasama dengan Airbus, Boeing, dan Eurocopter dalam hal produksi komponen. Untuk Airbus, komponen yang diproduksi PT DI yaitu punggung dan sayap. Jenisnya, Airbus A-320, A-321, A-349, A-380, dan A-350. (k57/yri)

(Bisnis Jabar)

May 24, 2012

Pengolahan Singkong Jadi 13 Produk Turunan

Kamis,
24 Mei 2012
TEKNOLOGI PANGAN
Pengolahan Singkong Jadi 13 Produk Turunan
Jakarta, Kompas – Singkong (Manihot utilissima) bisa diolah menjadi berbagai jenis produk industri. Bukan hanya pangan, melainkan juga kosmetik, obat-obatan, bahan baku kertas, dan energi.

Perekayasa bidang teknologi pangan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Aton Yulianto, awal pekan ini, memaparkan, teknologi hidrolisis dikembangkan 20 tahun untuk mengurai zat pati menjadi glukosa yang mengandung rantai unsur karbon dan hidrogen. Unsur ini juga ada dalam minyak bumi.

Di Jerman dan Jepang, kata Aton, pemanfaatan bahan selulosa menjadi bioetanol mulai menggeser penggunaan minyak bumi di industri.

Peneliti di Institut Pertanian Bogor dan Universitas Jember berhasil menerapkan teknik fermentasi menggunakan bakteri asam laktat. Hasilnya, singkong yang diolah menjadi irisan tipis dapat terurai menjadi tepung modified cassava flour (mocaf).

Teknik pengolahan mocaf telah didiseminasikan kepada masyarakat, antara lain, wirausaha muda. Mereka yang tergabung dalam Forum Organisasi Kepemudaan (FOK) itu selain menghasilkan tepung terigu juga membuat gula rendah kalori.

Tepung mocaf memiliki rasa dan karakteristik sama dengan tepung terigu. ”Dengan demikian, kita tak perlu impor gandum dan bisa menghemat devisa,” ujar Ketua Umum FOK Endy Priyatna.

Tepung ini bisa digunakan untuk membuat aneka jenis makanan, seperti kue, roti, mi, dan bakso. ”Selain untuk pangan, bahan baku singkong setidaknya bisa dihasilkan 13 turunan produk untuk berbagai keperluan. Selain mocaf dan gula cair, juga dihasilkan biokerosin, dan bioetanol,” ujar Endy menguraikan.

Rendah kalori

Gula cair dari singkong kini mulai banyak dikonsumsi untuk keperluan diet. Kandungan kalori gula cair rendah sehingga aman bagi penderita diabetes dan mereka yang diet rendah gula.

Menurut Endy, FOK merintis industri kecil yang menerapkan teknologi pembuatan mocaf. Pihaknya kini memasarkan 25 ton tepung mocaf tiap hari untuk berbagai keperluan. Tepung ini antara lain diminati pedagang mi dan roti karena harganya lebih murah daripada tepung terigu.

Saat ini, bahan baku singkong 85 persen diolah menjadi pati, sisanya menjadi mocaf. Menurut Aton, permintaan terhadap pati singkong besar karena dapat menjadi bahan baku kertas. Belakangan ini pati singkong diolah menjadi vitamin C. Pabrik vitamin C dari singkong dibangun di Lamongan, Jawa Timur.

Mocaf belum berkembang karena teknik fermentasi yang digunakan belum dapat menghasilkan kualitas mocaf yang standar. Menurut Aton, mocaf masih harus bersaing dengan tepung terigu di pasaran. Meski demikian, mocaf penting untuk membangun kemandirian. (YUN)

Kandungan kalori gula cair rendah sehingga aman bagi penderita diabetes dan mereka yang diet rendah gula.

May 24, 2012

Bank Biji LIPI Menjadi Bank DNA

Kamis,
24 Mei 2012
KONSERVASI FLORA
Bank Biji LIPI Menjadi Bank DNA
Jakarta, Kompas – Untuk optimalisasi konservasi flora di Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia meningkatkan kapasitas bank biji dari Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor. Bank yang menyimpan biji generatif koleksi Kebun Raya Bogor kini dikembangkan menjadi bank deoxyribonucleic acid sebagai biomolekul utama penyusun organisme.

”Konservasi flora tidak hanya dengan penanaman,” kata Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bambang Prasetya, Selasa (22/5), di Jakarta.

Kerusakan lingkungan menimbulkan kepunahan berbagai jenis organisme. Penyimpanan deoxyribonucleic acid (DNA) flora diharapkan dapat mempertahankan benih kehidupan selama ratusan tahun untuk ditumbuhkan kembali nantinya.

”Penyimpanan benih dalam bentuk biji berisiko hancur. Karena itu, teknologi penyimpanan DNA sangat penting,” katanya.

Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor Mustaid Siregar mengatakan, persiapan menuju bank DNA dengan meningkatkan kapasitas Laboratorium Treub yang dimiliki. Laboratorium itu akan dikembangkan menjadi laboratorium biomolekuler.

”Laboratorium Treub akan menjadi penyimpan DNA seluruh koleksi kebun raya Indonesia. Upaya penyelamatan flora Indonesia tidak hanya dalam bentuk koleksi tumbuhan hidup, tetapi juga dalam bank biji dan bank DNA,” kata Mustaid.

Kebun Raya Bogor pada 18 Mei 2012 berusia 195 tahun. Kebun raya ini meraih sertifikat Manajemen Mutu ISO 9001:2008.

Menurut Mustaid, dalam identifikasi varietas flora, tahun 2011 Kebun Raya Bogor meraih sertifikat varietas baru jenis Aeschynanthus yang dinamai Bunga Lipstik Soedjana Kassan. ”Saat ini kami menunggu terbitnya sertifikat dua varietas baru, yaitu Hoya Kusnoto dan Begonia Lovely Jo. Keduanya hasil karya para peneliti Kebun Raya Bogor,” kata Mustaid.

Untuk menunjang konservasi tanaman lokal, Kebun Raya Bogor memelopori pengenalan varietas yang tergolong jarang dipublikasikan. Beberapa di antaranya mengangkat salak lokal dan kantong semar mirabilis sebagai koleksi unggulan Kebun Raya Balikpapan. Selain itu, anggrek tanduk rusa dan kantong semar adrianii juga sebagai koleksi unggulan Kebun Raya Baturaden. Buah tampoi dan gitak madu kalimantan tahun ini mulai didiseminasikan di Kalimantan Barat. (NAW)

May 21, 2012

RI Baru Miliki 1.000 Doktor Sains

Jangan jangan bisa lebih < dari 1000, karena banyak doktor2 gadungan.. atau pejabat sampai wapres doyan membeli gelar doktor (ingat Wapres Hamzah Haz beli ijasah dari American World University ($1200))

JAKARTA – Meski memiliki sumber daya alam (SDA) berlimpah,
Indonesia sangat kekurangan sumber daya manusia (SDM) yang
ahli di bidang sains dan teknologi. Hingga kini, jumlah doktor sains
dan teknologi di negeri ini masih kurang dari 1.000 orang, jauh di
bawah Tiongkok yang mencapai 30.000 orang.

Untuk bisa sejajar dengan negara maju, Indonesia
membutuhkan sedikitnya 30.000
doktor di bidang sains dan teknologi hingga
2030. Republik Rakyat Tiongkok (RRT) bisa
unggul karena negeri itu mampu mencetak
30.000 doktor di bidang sains dan teknologi
selama 1995-2005. “Indonesia bisa menimba
pengalaman itu. Ke depan, semua segi kehidupan
akan bersentuhan dengan sains dan
teknologi,” kata Prof Yohannes Surya, pendiri
Asian Physics Olympiad (Apho) dan pelatih
Tim Olimpiade Fisika Indonesia, kepada Investor
Daily di Jakarta, Jumat (18/5).
Untuk mencapai jumlah tersebut, menurut
dia, Indonesia mesti mengirim 3.000 siswa
berprestasi di bidang sains ke berbagai
perguruan tinggi terkemuka di dunia hingga
mereka lulus jenjang S3. “Pemerintah hendaknya
tidak hanya mengalokasikan beasiswa S3
bagi pegawai negeri sipil tapi perlu juga
merekrut kalangan swasta,” jelas dia.
Untuk menghasilkan jumlah 30.000 doktor
sains dan teknologi, menurut Yohannes,
Pemerintah Indonesia harus bekerja sama dengan
swasta dan industri. Sebagai pengguna,
kalangan industri mulai menghargai tenagatenaga
ahli dalam negeri.
Menurut Yohannes Surya, Indonesia tergolong
terlambat mencetak doktor dibandingkan
negara lain. Setiap tahun, Taiwan mampu
mengirim warganya studi hingga doktor ke
luar negeri 5.000 orang. Di Amerika Serikat,
jumlah doktor sudah mencapai 1,5 juta orang.
Saat ini, jumlah doktor di Indonesia sekitar
25.000 orang, sedangkan doktor bidang sains
teknologi kurang 1.000 orang. “Ke depan, Indonesia
harus memiliki minimal 500 ribu
doktor,” jelas pakar fisika itu.
Hal senada diungkapkan Kepala Lembaga
Demografi FEUI Sonny Harry Harmadi dan
anggota Majelis Luhur Taman Siswa Darmaningtyas.
Keduanya sependapat, jumlah doktor
di bidang sains dan teknologi di Indonesia
masih minim. Sedikitnya jumlah doktor itu
bukan karena sistem atau kurangnya peminat,
namun lebih disebabkan faktor biaya yang
tergolong tinggi.
“Jika biaya masuknya dapat ditekan lebih rendah,
saya yakin peminatnya akan banyak,” jelas
Sonny di Kampus UI Depok, Rabu (16/5).
Saat ini, menurut dia, dunia industri sangat
membutuhkan banyak ahli di bidang sains dan
teknologi. “Sektor kita sangat banyak. Sektor
industri pun terus berkembang. Untuk itu, kita
butuh orang-orang yang mempunyai pengetahuan
lebih untuk membangun sektor
tersebut,” ujar Sonny.
Jika pemuda Indonesia mendalami bidang
keahlian khusus, Sonny yakin Indonesia
memiliki SDM yang mumpuni begitu memasuki
era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015.
“Untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja,
perguruan tinggi juga harus melakukan proses
penyaringan ketat terhadap calon mahasiswa
baru. Perguruan tinggi harus menerapkan
proses standardisasi agar menghasilkan lulusan
yang berkompetensi dan produktif,” tandas dia.
Darmaningtyas mengingatkan program
pemerintah mencetak 7.000 doktor jangan
sampai menjadi beban negara pada masa
mendatang.

Dia mengkhawatirkan pemerintah hanya
mengejar target, sehingga melahirkan doktor
asal-asalan yang kurang berkualitas.
Dia menambahkan, para penyandang gelar
doktor berpeluang menjadi profesor. Kalau mereka
tidak becus, negara akan terbebani, karena
usia pensiun seorang doktor 65 tahun.
Untuk itu, beasiswa hendaknya juga diberikan
kepada perguruan tinggi swasta. “Lulusan
perguruan tinggi swasta juga anak bangsa
yang mengabdi untuk negeri ini,” jelas pengamat
pendidikan ini.
Yohannes mengakui, biaya untuk meraih
gelar foktor memang besar, apalagi dari universitas
ternama di luar negeri. “Untuk program
S3, biayanya bisa mencapai US$ 200-
300 ribu,” jelas dia.
Selain mahal, kata dia, lulusan S1 dan S2 dari
perguruan tinggi di Indonesia juga sulit menembus
universitas ternama di luar negeri.
Meski begitu, ada cara yang bisa dilakukan untuk
mengatasi masalah biaya. Caranya, lulusan
SMA bisa langsung masuk ke community college
di luar negeri dengan biaya US$ 9.000 per
tahun atau US$ 18.000 untuk dua tahun.
Selanjutnya, mereka langsung masuk S2 di
universitas ternama dengan biaya rata-rata
untuk dua tahun sebesar US$ 60.000. Jadi,
total biaya S1-S2 sekitar Rp 1,3 miliar. “Untuk
mencapai S2, saya yakin banyak orangtua di
Indonesia yang mampu membiayai. Selanjutnya,
pemerintah bisa memberikan bea
siswa untuk S3,” tutur Yohannes.
SPP Pascasarjana Gratis
Untuk mendongkrak jumlah tenaga ahli,
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud)
Mohammad Nuh mengungkapkan,
mulai 2013 pemerintah akan menggratiskan
biaya sumbangan pembinaan pendidikan
(SPP) bagi mahasiswa pascasarjana di perguruan
tinggi negeri, khususnya di bidang sains,
teknik, dan pertanian. “Kebutuhan untuk tiga
program studi itu sangat tinggi dan mendesak,”
jelas Mendikbud, Kamis (17/5).
Kemendikbud pun telah menyediakan anggaran
Rp 1 triliun untuk meningkatkan jumlah
doktor secara secara besar-besaran pada 2014.
“Kami sudah bersepakat knowledge society
itu dimotori oleh ekonomi yang berbasis pada
penelitian. Kata kuncinya pada orang, maka
kita harus ciptakan dan buat terobosan 2014
untuk meningkatkan produk S-3 secara
signifikan,” ujar M Nuh.
Menurut M Nuh, salah satu cara untuk meningkatkan
jumlah doktor adalah dengan
memberikan beasiswa kepada para alumni
olimpiade sains. Namun, jumlah orang yang
dapat diandalkan dari olimpiade hanya sedikit.
Oleh karena itu, Kemendikbud akan mencari
sumber lain dari lulusan S-1, baik dari kalangan
dosen maupun masyarakat. “Mereka akan
diberi fasilitas menempuh pendidikan hingga
jenjang S-3 di dalam negeri dan luar negeri,”
jelas dia.
Saat ini, menurut Mendikbud, jumlah lulusan
pascasarjana untuk program studi sains
hanya sekitar 3% dari target 10%, sedangkan
bidang pertanian 3,5% dari target yang diperlukan
10%. Kekurangan lulusan Pascasarjana
juga terjadi di program studi teknik. “Ke depan,
lulusan pascasarjana, khususnya dari ketiga
bidang itu, harus mencapai 50% dari total
populasi mahasiswa Indonesia. Hasilnya kemungkinan
baru terlihat 15 tahun mendatang,”
tutur M Nuh.
Dia menambahkan, jumlah dosen bergelar
doktor di Indonesia saat ini sangat minim,
yakni hanya 14.542 (8,7%) dari total dosen perguruan
tinggi sekitar 165.331 orang. Selama
ini, perguruan tinggi yang boleh menjalankan
program doktor (S3) hanya universitas dan
institut. Untuk itu, pemerintah akan mengajukan
Rancangan Undang-Undang Peguruan
Tinggi ke DPR. “Dalam RUU ini, sekolah
tinggi dan politeknik juga boleh menjalankan
program doktor. Dengan demikian, kelangkaan
dosen bergelar doktor bisa teratasi,
paling tidak persentasenya bisa menjadi 15%,”
jelas Mendikbud.
Sebelumnya, Sekretaris Dirjen Pendidikan
Tinggi Kemdikbud Haris Iskandar memaparkan,
kontribusi perguruan tinggi bagi
industri di Indonesia masih kurang. Untuk
itu, Masterplan Percepatan Pembangunan
Ekonomi Indonesia (MP3EI) mensyaratkan,
pengembangan sistem akademik harus sejalan
dengan potensi di setiap koridor ekonomi.
Dengan demikian, lembaga pendidikan
bisa berkontribusi bagi penciptaan nilai tambah
di koridor tersebut.
Dalam MP3EI, pemerintah berkomitmen
mendorong dana penelitian sebesar 1% dari
produk domestik bruto (PDB) hingga 2014.
Dana penilitian itu akan digandakan secara
bertahap hingga 3% pada 2025. “Pada 2014,
pemerintah berencana meningkatkan jumlah
master dan doktor dalam sains dan teknologi
hingga mencapai 7-10 ribu orang,” jelas Haris
Iskandar dalam sarasehan di Institut Teknologi
Bandung, tahun lalu.
Pada 2025, jumlah mahasiswa teknik yang
tertampung perguruan tinggi empat kali lipat
dibanding saat ini, sedangkan jumlah mahasiswa
sains enam kali lipat. Artinya, pemerintah
dan perguruan tinggi swasta perlu bekerja
keras menggenjot daya tampung agar kebutuhan
tenaga sains dan teknik tercukupi.
“Jumlah lulusan perguruan tinggi di negara
ini memang belumm emadai untuk menopang
pertumbuhan ekonomi,” jelas Haris.
Menurut Haris, tingkat pendidikan ini juga
berkorelasi erat dengan efisiensi ekonomi dan
pertumbuhan ekonomi. Semakin tinggi tingkat
pendidikan, semakin besar pula kemampuan
berinovasi. Inovasi merupakan kunci
daya saing tatkala sumber daya alam semakin
langka dan mahal.
Dia lantas merujuk penelitian Stevens P. dan
Weale M bertajuk Education and Economic
Growth. Setiap penambahan 1% lama pendidikan,
akan menaikkan efisiensi sistem
ekonomi 0,34%. Jika rata-rata lama pendidikan
bertambah dari lima tahun menjadi enam
tahun, PDB akan tumbuh 6,8%.
Penghargaan Kurang
Dari sisi kemampuan, ilmuwan dan peneliti
Indonesia tidak kalah dibandingkan negara lain.
Bahkan, ilmuwan Indonesia di Amerika Serikat
mampu bersaing dengan para pakar dari negara
AS, Jepang, RRT, India, dan Eropa.
Untuk memajukan negara, menurut Yohannes,
pemerintah seharusnya bisa menarik para
ilmuwan Indonesia yang bekerja di luar negeri,
seperti dilakukan Tiongkok. “Pemerintah Tiongkok
mengajak mereka pulang dengan tawaran
gaji yang sama dengan luar negeri,” jelas dia.
Menurut Yohannes, sekitar 80 doktor yang
sekarang bermukim di luar negeri telah bersedia
untuk kembali ke Indonesia. Mereka
ditawari gaji sekitar Rp 20-30 juta per bulan
untuk menjadi tanaga pendidik di Universitas
Surya yang akan beroperasi di kawasan Sentul
Bogor tahun depan.
Selain itu, Yohannes menyiapkan laboratorium
sebagai tempat para doktor itu bereksperimen.
“Ilmuwan itu nggak macammacam.
Diberi mainan di laboraratium mereka
mau kok. Jadi, memang sistemnya itu harus
diubah, supaya mereka mau kembali ke Indonesia,”
kata Yohanes.
Hingga kini, perhatian pemerintah terhadap
periset dan peneliti di dalam negeri sangat
kurang. Gaji seorang profesor riset di Indonesia
hanya Rp 5,2 juta per bulan, sedangkan
gaji peneliti Indonesia di AS Rp 80-90 juta per
bulan. Di Malaysia, gaji peneliti riset rata-rata
Rp 25 juta per bulan dan Filipina Rp 20 juta
per bulan. (c05)

May 15, 2012

Perpustakaan hingga Pelosok Desa

HUT PERPUSNAS

Perpustakaan hingga Pelosok Desa
KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Petugas bagian konservasi Perpustakaan Nasional di Jakarta, Senin (14/5), melaminasi manuskrip kuno beraksara Arab dari Kalimantan Timur yang merupakan koleksi Museum Mulawarman. Memasuki usianya yang ke-32, Perpustakaan Nasional telah mengumpulkan dan menyimpan sekitar 10.300 manuskrip kuno dari berbagai wilayah di Indonesia.

Jakarta, Kompas – Pengembangan perpustakaan harus dilakukan hingga pelosok desa. Jelang ulang tahun ke-32, Perpustakaan Nasional meningkatkan layanan perpustakaan hingga ke daerah terpencil.

”Ini bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa,” kata Kepala Perpustakaan Nasional Sri Sularsih pada konferensi pers menyambut HUT Ke-32 Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas) di Jakarta, Senin (14/5).

Ulang Tahun Perpustakaan Nasional RI pada 17 Mei. Tema tahun ini ”Perpustakaan Mencerdaskan Bangsa”.

Hingga tahun 2011, Perpustakaan Nasional menyalurkan 65 mobil perpustakaan keliling untuk perpustakaan provinsi. Adapun perpustakaan kota/kabupaten yang menerima mobil perpustakaan keliling sebanyak 399 kota/kabupaten. Tersisa 98 kota/ kabupaten yang belum menerima bantuan stimulan mobil perpustakaan keliling dari pemerintah.

Untuk menjangkau wilayah nondaratan, ada bantuan kapal perpustakaan keliling. Penyebarannya antara lain di Bengkalis, Bintan, Selayar, Morowali, Wakatobi, Pangkajene (Kepulauan (Pangkep), dan Ternate.

”Kehadiran mobil dan kapal perpustakaan keliling menjadi solusi ampuh memperluas jangkauan informasi dan pengetahuan masyarakat yang sulit dijangkau,” kata Sri.

Menarik pembaca

Perpustakaan masyarakat yang merupakan penyedia koleksi buku, lanjut Sri, harus bisa menarik selera pembaca sehingga timbul minat baca. Proses pengembangan minat baca yang nantinya berubah menjadi kebiasaan perlu ditumbuhkan sejak dini.

”Kami juga mendorong daerah untuk menggandeng pihak swasta yang dianggap mampu berkontribusi dalam pengembangan perpustakaan dan minat baca. Lewat program tanggung jawab sosial perusahaan,” kata Sri.

Pada kesempatan yang sama, Woro Tri Haryanti, Kepala Pusat Jasa Perpustakaan dan Informasi Perpustakaan Nasional, mengatakan, Indonesia tahun ini menjadi tuan rumah kongres pustakawan Asia Tenggara atau Congress of Southeast Asian Librarian. Acara tiga tahunan sejak tahun 1970 ini dilaksanakan di Bali, 28-31 Mei. Kegiatan bertema ”National Heritage: Preservation and Dissemination” ini ditargetkan dihadiri 800 peserta dari Asia Tenggara. (ELN)

Facebook Twitter Email Print
KOMENTAR

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini.

KIRIM KOMENTAR

Name

lila
Email

lilamaniz68@gmail.com
Komentar

Kirim Batal

TODAY’S NEWSPAPER

NEWS ARCHIVE

MEI 2012
Sn Sls Rb Kms Jmt Sbt Mg
30 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3

TERPOPULER
Real Madrid Ukir Sejarah dengan 100 Poin

Real Madrid menggenggam kesuksesan ganda sebagai juara Liga Spanyol sekaligus menciptakan sejarah di Liga Spanyol dengan mengumpulkan 100 poin dalam semusim.

Uang Rakyat Dirampok

Kisah Tanpa Pamrih di Ruang Forensik

GPS dan ELT Pesawat Ditemukan

Polda Metro Jaya Tak Beri Rekomendasi

TERKOMENTARI
Personel Kelima

Polda Metro Jaya Tak Beri Rekomendasi

Perawatan Jaringan Listrik

Kegilaan 125 Detik…

KILAS LUAR NEGERI

May 9, 2012

Kemajuan Ekonomi RI Bukan karena Inovasi

Bos Boediono.. sudah tahu memprihatinkan begini, apa langkah / usaha anda untuk memperbaiki kondisi ini ???
NOL alias OMDO(ngeluh /omong doang)

Rabu,09 Mei 2012
PEREKONOMIAN
Kemajuan Ekonomi RI Bukan karena Inovasi
Jakarta, Kompas – Kemajuan ekonomi Indonesia cukup diakui di kancah internasional. Ironisnya, kemajuan ekonomi itu masih bertumpu pada sumber daya alam, belum bersumber pada inovasi.


Wakil Presiden Boediono saat peringatan Hari Kekayaan Intelektual Sedunia Ke-12, Selasa (8/5), di Kantor Wakil Presiden, menegaskan bahwa Indonesia adalah anggota penuh forum terhormat G-20, kelompok negara yang sangat memengaruhi ekonomi dunia dari ratusan negara. Tentu membanggakan.

”Namun, yang memprihatinkan, kita berada di peringkat ke-20 dalam forum G-20. Ini berarti sumber kemajuan ekonomi kita belum bertumpu pada inovasi,” kata Boediono.

Wapres Boediono memerinci, jumlah paten internasional yang didaftarkan Indonesia hingga 2009 hanya enam buah. Jauh di bawah Amerika Serikat di peringkat pertama, disusul Jepang, yang jumlah patennya mencapai puluhan ribu. Dalam hal pendaftaran logo industri (trademark), Indonesia juga tertinggal jauh, hanya 15 buah. China memiliki 84.000 logo, Thailand 386 logo, Malaysia 513 logo, dan Filipina 54 logo.

Sumber kemajuan ekonomi Indonesia, menurut Boediono, masih bertumpu pada kekayaan sumber daya alam. Padahal, sumber kekayaan alam ini bisa menjadi ”kutukan” jika terus dieksploitasi, tanpa ada inovasi yang mengandalkan kemampuan sumber daya manusia.

”Dalam ’teori kutukan sumber daya alam’, mereka yang dikaruniai sumber daya alam melimpah justru menjadi bangsa yang tidak maju-maju kalau tidak hati-hati mengelolanya. Sumber daya alam yang melimpah cenderung membuat manusia agak santai dan malas karena tinggal diambil dan dijual,” katanya.

Menurut dia, sudah saatnya Indonesia mampu mentransformasikan sumber daya alam itu menjadi kemampuan inovasi dan kreativitas sumber daya manusia. Wapres mencontohkan Norwegia yang memiliki kekayaan alam melimpah, tetapi tetap rasional dalam pemanfaatannya. Mereka menyisihkan sebagian kekayaan alamnya untuk pembangunan pada masa depan.

Produk mineral diatur

Sinyalemen Wapres Boediono, pertumbuhan ekonomi RI lebih didorong karena eksploitasi sumber daya alam tanpa adanya inovasi, terlihat dari data ekspor Badan Pusat Statistik (BPS) Senin lalu. Ekspor bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan/nabati, karet dan barang dari karet, bijih, kerak dan abu logam, serta tembaga mendominasi 10 besar produk ekspor Indonesia.

Laporan BPS menyebutkan, total nilai ekspor sepanjang triwulan I-2012 mencapai 48,5 miliar dollar AS, naik 6,93 persen daripada nilai ekspor pada triwulan I-2011 sebesar 45,38 miliar dollar AS. Dari total ekspor ini, nilai ekspor nonmigas triwulan I-2012 mencapai Rp 38,5 miliar dollar AS, naik 3,87 persen daripada ekspor nonmigas pada triwulan I-2011 sebesar 37,09 miliar dollar AS. Ekspor nonmigas ini, antara lain, karena ekspor bahan mentah, termasuk hasil mineral.

Dari struktur nilai ekspor triwulan I-2012, nilai ekspor produk industri mencapai 60 persen dari total nilai ekspor. Namun, nilai ini turun daripada triwulan I-2011 sebesar 62,48 persen. Sementara ekspor produk tambang mencapai 16,82 persen, naik dibandingkan dengan triwulan I-2011 sebesar 16,46 persen.

Sejumlah program disiapkan pemerintah untuk menata sumber daya alam itu, terutama mineral. Salah satunya adalah peraturan Menteri Keuangan yang mengatur besaran bea keluar atas 14 jenis komoditas mineral. Peraturan itu diterbitkan Mei ini.

Ke-14 komoditas mineral tersebut adalah nikel, tembaga, emas, perak, timah, timbal, kromium, molibdenum, platinum, bauksit, bijih besi, pasir besi, mangan, dan antimonium.

Pemerintah juga mendorong peningkatan nilai tambah mineral melalui kegiatan pengolahan dan pemurnian. Langkah ini untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Dampaknya adalah peningkatan nilai ekspor Indonesia. (WHY/ENY)

May 3, 2012

Baru 15 Persen Politeknik Berkualitas Baik

Kamis,
03 Mei 2012
PENDIDIKAN VOKASI

Baru 15 Persen Politeknik Berkualitas Baik

Surabaya, Kompas – Untuk menciptakan tenaga kerja siap pakai dari jalur pendidikan vokasi, perlu politeknik berkualitas, baik dari sisi kurikulum, tenaga pengajar, maupun fasilitas pembelajarannya. Namun, jumlah politeknik, baik negeri maupun swasta, yang tidak memenuhi standar kualitas masih relatif banyak. Dari 32 politeknik negeri dan 150 politeknik swasta yang ada saat ini, hanya sekitar 15 persen yang masuk kategori politeknik berkualitas baik. Hal ini dikhawatirkan akan menghambat upaya pemerintah mendorong ketersediaan tenaga kerja siap pakai bagi pasar kerja atau industri.

Hal itu dikemukakan Ketua Forum Direktur Politeknik Negeri, yang juga Direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Dadet Pramadihanto, Sabtu (28/4), di Kampus PENS, Surabaya. ”Jumlah politeknik sebenarnya sangat kurang karena kebutuhan tenaga kerja yang terampil semakin tinggi. Dari 32 politeknik negeri, hanya ada 50.000 mahasiswa,” ujarnya.

Biaya besar

Berbeda dengan pendidikan jalur akademik yang lebih menitikberatkan pada pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan jalur vokasi, seperti politeknik, membutuhkan biaya operasional besar karena lebih menitikberatkan praktik ilmu pengetahuan. Itu yang dinilai Dadet sebagai penyebab minimnya jumlah politeknik. Jika ada pihak swasta yang membuka program politeknik, kata Dadet, hal itu sudah luar biasa karena akan sangat berat pada masalah biaya.

Biaya menjadi mahal karena jumlah siswa dalam satu ruang kelas hanya sedikit sehingga unit cost per mahasiswa menjadi lebih tinggi. Khusus di PENS, biaya pendidikan per semester Rp 1.750.000. ”Uang itu hanya bisa menutupi 18 persen dari total kebutuhan biaya operasional pendidikan. Sisa kebutuhannya kami peroleh dari pemerintah dan kerja sama industri,” kata Dadet.

Hal senada dikemukakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh seusai sosialisasi Undang-Undang Pendidikan Tinggi kepada dosen dan mahasiswa PENS. Untuk memenuhi kebutuhan anggaran yang tinggi di politeknik, pemerintah harus memberikan subsidi yang lebih tinggi kepada politeknik yang juga diharapkan akan bisa mengurangi beban masyarakat.

”Ruhnya politeknik itu keterampilan. Biaya di politeknik lebih mahal karena mahasiswa sedikit, sementara praktik banyak. Satu kelas paling banyak hanya 30 mahasiswa. Selain subsidi, politeknik juga harus mencari sumber pendanaan nonmahasiswa,” ujarnya.

Akademi komunitas

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja siap pakai, PENS memiliki 42 akademi komunitas binaan yang tersebar di beberapa wilayah di Jawa Timur. Melalui akademi komunitas ini, mahasiswa dididik dan dilatih selama satu tahun (D-1) dengan kurikulum yang disusun sesuai kebutuhan industri tertentu. Penyusunan kurikulum dan pelatihan untuk dosennya dilakukan oleh PENS. Sistem pengajarannya terkadang menggunakan telekonferensi dari PENS ke akademi komunitas tertentu. Jumlah akademi komunitas semakin banyak karena industri semakin banyak mencari lulusan dari akademi komunitas.

”Industri membutuhkan banyak teknisi yang bisa dipenuhi dari lulusan akademi komunitas. Kebutuhannya sangat tinggi, terutama di kabupaten/kota. Setiap kelas yang dibuka di daerah pasti banyak peminat,” kata Kepala Departemen Multimedia Kreatif PENS Achmad Basuki. (LUK)

Facebook Twitter Email Print
KOMENTAR

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini.

KIRIM KOMENTAR

Name

lila
Email

lilamaniz68@gmail.com
Komentar

Kirim Batal

TODAY’S NEWSPAPER

NEWS ARCHIVE

APRIL 2012
Sn Sls Rb Kms Jmt Sbt Mg
26 27 28 29 30 31 1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 1 2 3 4 5 6

TERPOPULER
Menkes Endang Rahayu Berpulang

Setelah 1,5 tahun berjuang melawan penyakit kanker paru,

……

China Tuntut AS Minta Maaf Soal Chen

Korsel Tuduh Korut Mengacaukan Sinyal GPS

Birokrasi Terlampau Gemuk

TERKOMENTARI
Angelina, Beban yang Dirasakan Keluarga…

Birokrasi Terlampau Gemuk

Jangan Berharap kepada Angelina

Menghukum Putusan Pengadilan

Kesedihan Mendalam

April 26, 2012

Eksistensi LIPI Diabaikan Asing

mangkanye researcher asing jangan dibiarkan bebas lepas..

++++++++++++++++++++++
Kamis,26 April 2012
Eksistensi LIPI Diabaikan Asing
Publikasi Lebah Raksasa Pelanggaran Hak Cipta
Jakarta, Kompas – Eksistensi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia sebagai institusi riset terbesar di Indonesia diabaikan. Hal ini terkait publikasi lebah raksasa (Megalara garuda) sebagai spesies baru Indonesia secara sepihak oleh peneliti asing dari Universitas California Davis, AS.

Lebah raksasa itu spesies temuan baru hasil riset kerja sama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan Universitas California Davis di pegunungan Makongga, Sulawesi Tenggara. Kerja sama itu berlangsung tahun 2009 hingga Mei 2012.

”Peneliti asing itu sudah meminta maaf, tetapi tuntutan LIPI lebih dari itu,” kata Kepala LIPI Lukman Hakim, Rabu (25/4), dalam konferensi pers Diseminasi Hasil Jejaring Kerja Sama Internasional LIPI Bidang Energi dan Lingkungan di Jakarta.

Lynn S Kimsey, peneliti dari Universitas California Davis, tak menyertakan nama peneliti LIPI, Rosichon Ubaidillah, sebagai penemu spesies baru lebah raksasa itu dalam publikasi jurnal ilmiah Zookeys dan Daily Mail di Amerika Serikat, 23 Maret 2012. Sebelumnya, 25 Agustus 2011, Kimsey juga memublikasikan temuan itu melalui Daily Mail tanpa menyertakan nama Rosichon.

Beberapa tuntutan LIPI, permintaan maaf Kimsey tidak hanya ditujukan pribadi kepada institusi LIPI, tetapi juga ditujukan kepada Indonesia sebagai bangsa.

LIPI juga menuntut pengembalian pinjaman 6.000 spesimen dari pegunungan Makongga yang dialihkan kepada pihak ketiga oleh Universitas California Davis. Tuntutan juga menambahkan nama Rosichon sebagai penemu Megalara garuda pada jurnal ilmiah yang memublikasikan.

Pelanggaran hak cipta

Menurut Lukman, publikasi sepihak temuan lebah raksasa dari Makongga itu melanggar hak cipta yang sangat jelas dan nyata. Pelanggaran terhadap perjanjian kerja sama yang disepakati itu dilakukan sengaja serta jelas-jelas mengabaikan eksistensi dan hak sebagai peneliti, institusi, ataupun bangsa.

”Dalam nama spesies baru itu terdapat nama ’garuda’ yang disakralkan sebagai lambang negara. Kami sangat terusik ketika nama itu digunakan peneliti asing tanpa menyebut satu pun nama peneliti Indonesia sebagai penemunya,” kata Lukman.

Peneliti LIPI, Elizabeth Widjaja, yang juga terlibat dalam riset kerja sama di Makongga tersebut, memaparkan beberapa temuan lain. Hal itu di antaranya terkumpul lebih dari satu juta spesimen invertebrata dari Makongga. ”Sebanyak 15.000 insekta atau serangga diidentifikasi,” katanya.

Menurut Elizabeth, dari identifikasi 531 spesies saja, diperkirakan terdapat 12 persen spesies baru. ”Kerja sama riset ini juga berhasil menemukan potensi mikroba untuk obat-obatan dan sumber bioenergi,” katanya.

Wakil Kepala LIPI Endang Sukara mengatakan, pemilihan lokasi riset di Makongga didasarkan pada banyaknya biodiversitas di lokasi tersebut yang belum terungkap. Berbagai spesies baru yang sudah ditemukan akan disusulkan penamaan dan pemuatannya ke dalam jurnal internasional.

Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI Siti Nurmaliyati Priyono mengatakan, usaha penemuan nama spesies baru menelan biaya tidak sedikit. Di antaranya, harus melalui penelusuran koleksi spesimen spesies acuan yang tersimpan di museum-museum internasional.

Kasus tidak etis terkait kerja sama penelitian tidak hanya terjadi kali ini saja. Sebelumnya, ada upaya mencuri spesimen ”sponge” dari laut Indonesia. Hal ini dialami oleh peneliti pada laboratorium sumber daya alam laut Pusat Penelitian Oseanografi LIPI. (NAW)

April 12, 2012

PT Len Bangun Pabrik Panel Surya di Karawang

detikFinance » Industri
Rabu, 11/04/2012 15:15 WIB
PT Len Bangun Pabrik Panel Surya di Karawang
Budi Alimuddin – detikFinance

Karawang – PT Len Industri (Persero) merencanakan pembangunan pabrik fotovoltaik atau modul panel surya berkapasitas 60 MWp pertahun. Berlokasi di Jalan Teluk Jambe, Kota Karawang Barat, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, di atas lahan bekas pabrik tekstil milik PT Industri Sandang Nusantara (ISN) seluas 28 hektar.

Pabrik milik BUMN yang bergerak dalam bidang elektronik industri dan prasarana ini, diperkirakan selesai pada Juli 2012 konstruksi akan segera dimulai.

“Tahap awal 2 hektar dulu untuk menampung mesin-mesin produksi. Selanjutnya akan kita tingkatkan kapasitasnya mencapai 350 MWp pertahun,” ungkap Direktur Utama PT Len Wahyudin Bagenda, di lokasi bekas pabrik PT ISN, Karawang, Rabu (11/4/2012).

Dalam kesempatan tersebut Wahyudin menjelaskan bahwa industri fotovoltaik Len sudah dimulai di Bandung dengan kapasitas 10 MW pertahun. Menggunakan teknologi kristalin silikon c-Si.

Pertimbangan teknologi ini berdasarkan hasil studi kelayakan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dimana, pabrik sel surya kristal silikon (c-Si) dapat di lihat sebagai solusi awal yang tepat untuk membangun industri sel surya di Indonesia. Karena jenis sel c-Si banyak digunakan produsen sel dunia.

“Pangsa pasar masih relatif luas, investasi murah, dan yang terpenting sudah ada prusahaan lokal yang sudah bergerak di hilir yaitu pada teknologi fotovoltaik,” ucapnya.

Secara bertahap kata dia industri akan diarahkan ke hulu, serta dapat mendorong kemandirian bahan baku. Karena menurutnya indonesia memiliki cadangan pasir silikon yang sangat besar, yaitu mencapai 17 miliar metrik ton. “Kita akan membuka kemitraan dalam pembangunan industri fotovoltaik ini,” ucapnya.

Pembangunan pabrik di Karawang ini merupakan bagian dari rencana strategis Len membangun Len technopark di atas lahan 28 hektar tersebut. Di dalam kompleks pabrik seluas 28 ribu hektar itu akan berdiri pusat industri berbasis teknologi tinggi selain industri panel surya.

“Seperti industri ICT, industri signaling kereta api, dan industri defence electronics,” pungkasnya.

(hen/hen)

GRATIS! puluhan voucher pulsa! ikuti terus berita dari DetikFinance di Hape-mu.
Ketik REG FIN kirim ke 3845 (khusus pelanggan Indosat Rp.1300/hari)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Share
Komentar terkini (5 Komentar) · Follower Komentar
Baca Komentar Kirim Komentar
Bambang Kudus 1 day ago Selamat kepada PT. LEN Industri yg telah merealisasikan pabrik panel surya di Karawang, mdh2an transfer teknologi berjalan cepat menuju kemandirian teknologi dan bahan baku. Aspek pasar hendaknya harus tetap dilindungi agar produk2 asing sejenis tdk gampang masuk ke indonesia.
Bezhita Zhy Aishiteru 1 day ago alamatnya apa?? dan da loker g??
namaku_harry 1 day ago taruhan yuk!!! sponsor di balik perusahaan ini adalah yg gembar gembor kemarin

Berita Terpopuler
Kamis, 12/04/2012 17:03 WIB
‘Dikomporin’ Najwa, Dahlan Iskan Akhirnya Buka Akun Twitter
Kamis, 12/04/2012 16:46 WIB
Jet Pribadi Makin Murah, ‘Hanya’ Seharga 5 Alphard
Kamis, 12/04/2012 17:30 WIB
Duh! Akuisisi Danamon, DBS ‘Langkahi’ BI
Kamis, 12/04/2012 17:43 WIB
Laporan dari Singapura
Dapat Tambahan Gas di Teluk Jakarta, PLN Makin Irit
Kamis, 12/04/2012 18:02 WIB
Ngikut BI Rate, Bunga Penjaminan Simpanan LPS Tetap
Komentar Terpopuler
Kamis, 12/04/2012 – 17:31
Utang RI ‘Menggunung’, Hatta Ajak Masyarakat Hemat
Kamis, 12/04/2012 – 14:16
Ini Permintaan Maaf Lengkap Dahlan Iskan Karena Gratiskan Tol Ancol
Rabu, 11/04/2012 – 13:46
Dahlan Iskan Tantang 200 Aktivis Mahasiswa Bermalam di Rumah Warga Miskin
Senin, 09/04/2012 – 14:15
Dahlan Iskan Usul Mobil Layak Subsidi Ditandai Secara Elektronik
Kamis, 12/04/2012 – 14:28
Pilih Mana: Subsidi BBM Atau Bangun Infrastruktur?
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com

April 12, 2012

PT DI Turut Dalam Rancang Bangun Airbus A350

PT DI Turut Dalam Rancang Bangun Airbus A350
12 April 2012

Pesawat berbadan lebar Airbus A350 (image : Airbus)

Jakarta (ANTARA News) – PT Dirgantara Indonesia (Persero), Rabu, mencatat sejarah baru dan “naik kelas” dengan menjadi mitra rancang bangun setara bagi Airbus, dalam pembuatan A350. PT DI bukan lagi sekedar pembuat komponen (manufacturing) seperti sebelumnya.

Langkah maju PT DI itu ditandai penandatanganan memorandum kesepahaman antara PT DI dengan Airbus Industrie di Jakarta, yang menjadi salah satu agenda dalam kunjungan kenegaraan PM Inggris, David Cameron, yang disertai 30 pebisnis utama Inggris, termasuk dari Airbus.

PT DI dalam penandatanganan yang berlangsung di Istana Negara itu diwakili Direktur Teknologi dan Pengembangan PT DI, Ardonni Jafri. Kini, selain mampu membuat komponen untuk pesawat Airbus, PT DI dipercaya untuk berkontribusi dalam rancang bangun pesawat Airbus A350.
Bicara soal Airbus ini, konsep dan praktis pengendalian pesawat terbang dua awak (two men cockpit) berbasis sistem elektronika (fly by wire) jajaran pesawat komersial A-300 buatan konsorsium penerbangan Eropa ini diprakarsai tokoh kedirgantaraan nasional, Wiweko Supomo.

Supomo, yang pernah menjadi direktur utama PT Garuda Indonesian Airways (saat itu) juga sahabat kental Nurtanio, pendiri PT DI, yang kemudian namanya sempat diabadikan menjadi pusat unggulan industri kedirgantaraan satu-satunya di Asia Tenggara itu.

Mengomentari perkembangan pesat PT DI itu, Direktur Utama PT DI, Budi Santoso, menggarisbawahinya sebagai langkah awal menuju status sebagai kontraktor rancang bangun bagi Airbus.

“Pekerjaan rancang bangun ini akan menjadi langkah awal sebagai kontraktor rancang bangun bagi pesawat-pesawat Airbus,” katanya.

Bukan hanya itu, Santoso yakin kesepakatan yang ditandatangani pihaknya dengan Airbus juga berharap PTDI menjadi pemasok tier-1 (tingkat 1) bagi Airbus.

Ardonni, mengatakan kesepakatan itu secara khusus ditujukan dalam rancang bangun pengembangan pesawat Airbus A350, jenis pesawat berbadan lebar berteknologi masa depan, yang dimulai tahun ini juga.

Pesawat A350 itu sendiri kini masih dalam tahap perancangan, dimana PT DI akan menyertakan para insinyurnya sebagai pemikir-pemikir dan penghitung bagian-bagian dari pesawat masa depan tersebut.

“Kami kini masuki tahapan kerja kerah putih, tak lagi kerah biru,” kata Ardonni.

Dia menambahkan, selain mengangkat nama bangsa dalam teknologi rekayasa pesawat terbang, PT DI kini mendapatkan nilai tambah 60 persen lebih besar dari hasil pekerjaaan yang dilakukan para personilnya dalam proyek rekayasa seperti itu.

Menurut dia, pengakuan Airbus tersebut bukan hal mudah karena sebelum memutuskan menjadikan PT DI mitra rancang bangun, Airbus telah turun ke PT DI di Bandung dan mengaudit sistem yang digunakan PT DI guna mengukur kemampuan rancang bangunnya.

Sebelumnya, sejak 2002 PT DI telah dipercaya membuat berbagai komponen untuk struktur Airbus A320/321/330/30/350 dan bahkan pesawat berlantai dua dan terbesar di dunia A380 sejak tahun 2002 yang diperoleh lewat Spirit (saat ini BAe System) dan juga dari CTRM Malaysia.

(Antara)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.