Archive for ‘Indonesia techno research education news’

May 22, 2014

Perkembangan Pesawat R-80 Karya Habibie

Rabu, Mei 21, 2014

0

JAKARTA-(IDB) : Banyak orang yang menunggu kapan pesawat R-80 yang merupakan pengembangan dari pesawat N250 buatan Bacharudin Jusuf Habibie, atau yang lebih familiar disapa BJ Habibie, bisa beroperasi. Barangkali ada kerinduan yang amat sangat di dalam hati rakyat Indonesia terhadap karya-karya anak bangsa yang mampu diakui dan diterima oleh dunia.

PT Regio Aviasi Industri (RAI), perusahaan industri pesawat terbang tempat BJ Habibie duduk sebagai ketua dewan komisarisnya, sedang membuat pesawat R-80 yang sudah dimulai dari tahun 2013 lalu.

Komisaris PT RAI, Ilham Habibie, yang merupakan putra BJ Habibie, mengatakan bahwa pembuatan desain awal pesawat R-80 akan selesai pada tahun ini. “Jadi, akhir tahun ini, kita sudah punya desain yang menyeluruh,” ujar Ilham saat ditemui Kompas.com setelah menghadiri acara diskusi di Jakarta, Sabtu (17/5/2014).

Saat selesainya fase awal akhir tahun nanti, PT RAI akan menentukan komponen-komponen yang akan dipakai oleh pesawat R-80. Pria yang lahir di Aachen, Jerman, itu mengatakan, komponen-komponen pesawat berkapasitas 80 penumpang tersebut hingga kini belum ditentukan.

“Pada akhir tahun, kita sudah pilih dari mana komponen-komponen yang saat ini belum kita hadirkan. Misalkan,engine-nya dari mana, kokpitnya dari mana. Kita sudah punya desain,” ucapnya.

Ilham menuturkan, pemilihan pesawat baling-baling untuk transportasi udara di Indonesia memiliki keuntungan tersendiri. Menurut dia, meskipun pesawat lebih lambat daripada pesawat bermesin jet, pesawat baling-baling lebih hemat dalam penggunaan bahan bakar.

Hal tersebut disesuaikan juga dengan kontur wilayah serta rute-rute di Indonesia yang cenderung pendek-pendek. Jadi, menurut dia, akan lebih efektif menggunakan pesawat berbaling-baling ketimbang pesawat bermesin jet.

Ilham menjelaskan, ada tiga tahapan yang harus dilalui oleh PT RAI hingga R-80 mampu terbang menjelajahi langit Nusantara. Tahap pertama adalah pembuatan desain pesawat yang membutuhkan waktu dua tahun, tahap kedua adalah pembuatan prototipe pesawat selama tiga tahun, dan tahap ketiga merupakan tahap terakhir, yakni pengujian pesawat yang diperkirakan memakan waktu dua tahun.

Dengan demikian, menurut pria yang mendapatkan gelar doktor dari Technical University Of Munich ini, pembuatan pesawat tersebut bisa memakan waktu enam tahun.

“Dari awal desain sampai jadi itu totalnya bisa 6-7 tahun. Kita mulai 2013, desain selesai akhir tahun ini. Tahun 2017, kita meluncurkan prototipe-nya, setelah itu dilakukan pengujian, itu lebih kurang dua tahun. Maksimal ya 2019 (beroperasi),” ucapnya.

Ilham mengatakan, pembuatan pesawat memang membutuhkan waktu cukup lama. Ia pun mencontohkan Boeing 737. “Memang begitu gak bisa cepat-cepat. Kalau kita lihat sebagai contoh, tahu pesawat 737 buatan Boeing kan? Tahu gak itu dibuat tahun berapa? Itu tahun 1965, itu sampai sekarang masih terbang kan. Sudah 50 tahun dibuat. Tentu terus di-update, mesinnya dan sebagainya, tetapi desainnya kan sama itu,” tandasnya.

Mengenai kontrak bisnis, ia mengaku belum memiliki kontrak dengan perusahaan penerbangan, baik nasional maupun internasional. Penandatanganan pemesanan 100 pesawat oleh NAM Air dan 25 pesawat oleh Kalstars hanya sebatas kesepakatan (MoU) dan belum berbentuk kontrak.

“Jadi, kalau mau jual pesawat, belum bisa karena belum tahu harga. Kalau sudah kontrak, kan sudah pasti,” katanya sambil tersenyum.

Sumber : Kompas
May 12, 2014

Pertama Kali Dalam Sejarah, Mahasiswa RI Juara Lomba Debat Internasional

senangnya  anak bangsa punya prestasi dahsyat ! Coba bandingkan dengan para politisi negeri ini. prestasi apa yang pernah mereka raih ??

 

Minggu, 05/01/2014 10:01 WIB

Rachmadin Ismail – detikNews

Jakarta – Dua mahasiswa Indonesia asal Institut Teknologi Bandung (ITB) Fauzan Reza Maulana dan Vicario Reinaldo mencatatkan sejarah baru di dunia debat internasional. Untuk pertama kalinya mereka mampu membawa Indonesia menjadi juara debat antar universitas dunia.

Fauzan dan Vicario mengalahkan mahasiswa asal Rusia (New Economic School), Polandia (University of Warsaw) dan Jerman (Eberhard Karls University Tubingen) dalam kategori English-as-Foreign-Language. Tema debat yang diusung adalah ‘This House Believes That Multinational Companies Should be Liable for Human Rights Abuses That Occur Anywhere in Their Supply Chain”. Untuk dua kategori lain yang lebih tinggi, diraih mahasiswa Jerman dan Harvard AS.

Kedua mahasiswa ITB itu datang sebagai pesaing terlemah dalam kejuaraan. Namun berkat keberaniannya, strategi oposisi yang diterapkan untuk menyerang kesalahan pemerintah berhasil.

“Vicario Reinaldo and Fauzan Reza Maulana of Bandung A are the EFL debate champions of the world. Congratulations! #wudc” demikian isi twitter resmi debat tersebut.

Kompetisi ini digelar tanggal 26 Desember 2013 hingga 4 Januari 2014 di Chennai India. Ada tiga kategori lomba yakni EFL, ESL dan terbuka. ESL adalah untuk universitas yang menjadikan bahasa Inggris sebagai pengantar di universitasnya. Dari Indonesia, UI dan Bina Nusantara mengirim perwakilannya.

Kompetisi debat internasional ini sudah digelar sejak tahun 1982 lalu. Berawal dari kompetisi kecil di Inggris, Amerika Utara dan Australia, akhirnya berkembang hingga diikuti 200 universitas dari 45 negara.

Turnamen debat ini menggunakan sistem debat parlemen Inggris. Topiknya diumumkan beberapa saat sebelum debat dimulai. Kontestan dibagi menjadi empat tim, dua mewakili pro pemerintah dan dua mewakili oposisi.

April 17, 2014

Belanda Bantu PT PAL Produksi Kapal Perusak Rudal

Belanda “bantu” apa ???? Faktanya Indonesia membeli dengan harga yang sangat maha untuk kapal perusak rudal dan corvette.

Dengan Belanda sih tidak mungkin ada “transfer teknologi ” lah, Transfer teknologi bagi negeri macam Belanda sama saja dengan bunuh diri.

Jika ingin menyaingi kemajuan teknologi negara, adalah dengan hanya bisa dengan investasi besar di dunia riset dan pendidikan.  Sekolahkan saja beberapa orang pilihan terbaik dari PAL ke Univ  top Belanda seperti TU DELFT  dan TU Eindhoven. Hal ini jauh lebih berguna dan lebih murah dibandingkan dengan mengirim 75 pegawai PAL ke sana.  Saya tidak terlalu yakin kunjungan 75 pegawai PT PAL di Belanda bisa mendapatkan sesuatu yang berguna. Paling dari rombongan itu  hanya jalan2 melihat Keukenhof dan Red Light Distric di Amsterdam.

 

Belanda Bantu PT PAL Produksi Kapal Perusak Rudal  

Pekerja melintas di depan proyek pengerjaan kapal tunda pesanan Kementrian Pertahahan untuk TNI Angkatan Laut di bengkel mobile room graving dock PT PAL Indonesia, Surabaya, Rabu (6/3). TEMPO/Fully Syafi

TEMPO.COSurabaya - PT PAL akan membuat tiga unit kapal perusak kawal rudal 105 (PKR-105)/Frigate nomor 1. Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Marsetio mengatakan proyek ini menggandeng Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS), Belanda. “Kami produksi bersama DSNS, Belanda, dalam kerangka transfer of techonolgy,” kata Marsetio di sela-sela Keel Laying modul 2 seksi 231 PKR-105 di PT PAL (Persero), Rabu, 16 April 2014. (Baca: PT PAL Yakin Mampu Bikin Kapal Perang)

Peletakan lunas modul 2 seksi 231 merupakan tindak lanjut first steel cutting pada 15 Januari 2014. Kapal PKR-105 direncanakan memiliki panjang 105 meter dengan dilengkapi peluncur rudal antikapal permukaan, anti-serangan udara, torpedo, dan perangkat perang elektronik. Kapal ini akan dilengkapi helikopter yang membawa torpedo. Satu unit kapal PKR-105/Frigate ditaksir US$ 220 juta.

Menurut Marsetio, satu unit kapal PKR-105 memiliki enam modul. Empat modul dibuat di Surabaya dan dua modul dirakit di Vlisingen, Belanda. Pada Maret 2015, Marsetio berharap semua modul segera dirangkai menjadi unit kapal PKR-105 di galangan PT PAL. “Tiga unit kapal ini digunakan menjaga keutuhan wilayah laut NKRI. Sangat cocok dengan perairan Indonesia,” ujarnya. (Baca: Indonesia Produksi Kapal Selam Sendiri pada 2018)

Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Tjeerd F. de Zwaan, mengatakan pemerintah Belanda mendukung penuh kerja sama alih teknologi dengan PT PAL (Persero). Menurut dia, Indonesia perlu melakukan revitalisasi industri strategis, salah satunya industri kapal perang.

Sebab, wilayah Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua setelah Kanada. “Saya pikir, PT PAL butuh melakukan revitalisasi industri kunci,” katanya. (Baca: TNI AL Tolak Beli Dua Kapal Selam Rusia)

Direktur Utama PT PAL Firmansyah Arifin menuturkan perseroan sudah mengirim 75 teknisi ke Belanda mengikuti program ToT. Langkah ini juga untuk memperkuat PT PAL yang ditunjuk sebagai lead integrator matra laut. “Bersama DSNS, kami siap menyelesaikan pembangunan kapal PKR-105/Frigate nomor 1 buatan Indonesia,” kata Firmasyah.

DIANANTA P. SUMEDI

April 15, 2014

LAPAN: Negara Maju Pelit Berbagi Ilmu Teknologi Roket

Alih teknologi dari negara maju ke negera berkembang memang tidak pernah ada, Pak ! Teknologi tinggi, hanya dapat diraih dengan kerja keras dan pengorbanan  serius dari pemangku kepentingan, khususnya negara. Mungkin bisa jadi contoh adalah KOREA dan SINGAPORE. Dua negara ini sangat serius mengejar teknologi dan ilmu pengetahuan.

Jika negara Indonesia sampai hari ini masih berkutat pada urusan  SUBSIDI BBM ( kebijakan paling bodoh bin DUNGU) sampai kiamat negara ini tidak pernah punya sumber dana /daya untuk mengembangkan teknologi .  Jadi jika ada pejabat negara berani mengatakan ada transfer teknologi dari negara maju ke Indonesia kemungkinannya hanya ada 2 : pejabat yang tersebut tidak tahu apa yang dia katakan atau dia mendapatkan sesuatu dari transaksi dengan negara tersebut !

 

Indonesia harus mampu mengembangkan teknologi roket.

ddd
Selasa, 15 April 2014, 14:33Ita Lismawati F. Malau, Daru Waskita (Yogyakarta)
Teknologi roket sulit dikuasai dan mahal

Teknologi roket sulit dikuasai dan mahal(REUTERS/Joe Skipper)

VIVAnews - Penguasaan teknologi roket Indonesia masih sangat jauh di bawah negara maju, khususnya Eropa. Oleh sebab itu, Indonesia harus mampu mengembangkan teknologi roket secara mandiri karena negara maju cenderung pelit untuk membagi ilmu mereka.

Kepala Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN Ari Sugeng Budiyanta mengakui teknologi roket tidak mudah untuk dikuasai. “Teknologi peroketan itu teknologi yang sangat tinggi dan sulit. Selain itu, teknologinya sangat tertutup tidak gampang dicari di luar seperti teknologi penerbangan lain. Teknologi roket kurang dibuka oleh negara maju,” kata Ari di sela-sela acara Workshop Kompetisi Muatan Roket dan Roket Indonesia (KOMURINDO) yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa 15 April 2014.

Sehingga, menurutnya, Indonesia harus mampu bangkit sendiri dalam bidang tersebut dengan ahli-ahli dari Indonesia. “Mau tidak mau kita harus bangkit sendiri, sulit untuk mengharapkan negara lain untuk memberikan training bagi negara berkembang seperti Indonesia,” katanya lagi.

Meskipun berat, Ari mengingatkan, penguasaan teknologi sangat penting bagi negara manapun saat ini, tak terkecuali Indonesia. Teknologi roket membuat sebuah negara mampu meluncurkan satelit komunikasi sipil atau untuk kepentingan pertahanan negara.

Namun ia menilai hal itu masih sangat jauh, karena saat ini Indonesia belum mampu meluncurkan satelit secara mandiri dan harus menumpang kepada negara lain.

LAPAN memiliki cita-cita dapat meluncurkan roket pengorbit satelit dan membantu pemenuhan kebutuhan persenjataan TNI. Sehingga, LAPAN mengapresiasi gelaran KOMURINDO dan KOMBAT yang digelar oleh DIKTI di UMY.

“Saya berharap kompetisi tersebut dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda, khususnya mahasiswa dalam dunia roket. Sehingga ke depan para calon ahli roket tersebut dapat mempercepat perwujudan cita-cita LAPAN,” katanya. (umi)

 

April 10, 2014

Infra RCS Perkenalkan Radar LPI Buatannya

Perusahaan seperti ini harus mendapatkan dukungan penuh pemerintah!  Misalnya keringanan pajak.

 

10 April 2014

Radar Low Probability of Intercept buatan PT Infra RCS Indonesia (all photos : RCS Infra)

Canggihnya Radar Buatan Indonesia: Tak Terdeteksi Musuh

Liputan6.com, Jakarta Kecanggihan dan nilai battle proven kapal  perang modern tidak terlepas dari persenjataan dan teknologi radarnya. Seperti radar Low Probability of Intercept (LPI), radar yang dirancang untuk menjadikan kapal sulit dideteksi kapal musuh.

Rata-rata teknologinya dari negara besar seperti Scout MK2 buatan Thales Eropa, SPN 730 buatan Selex ES Inggris, dan negara-negara besar lainnya.

Meski tertinggal dalam teknologi persenjataan, Indonesia ternyata sejak 2009 telah membuat radar canggih ini. Namanya LPI Radar-IRCS, radar buatan PT Infra RCS Indonesia ini menggunakan teknologi Frequency Modulated Continuous Wave (FM-CW).

“Dengan teknologi ini maka daya pancar yang digunakan sangat rendah yaitu di bawah 10 watt untuk dapat memperoleh jarak jangkauan radar yang luas. Di Asia belum ada (produsen), apalagi di Asia Tenggara. Rata-rata mereka menggunakan produk negara maju,” ucap Technical Advisor PT Infra RCS Indonesia, Dr Mashruri Wahab di Plaza Aminta, Jakarta Selatan.

Dengan menggunakan frekuensi X-band, Doopler speed bisa mencapai maksimal 40 knot membuat radar LPI semakin penting untuk pengawasan rahasia, pelacakan target, dan operasi siluman. Selain radar LPI, PT Infra RCS Indonesia juga telah memproduksi Electronic Chart Display and Information System (ECDIS) dan Electronik Support Measures (ESM).

“Radar kami bersifat Low Probability of Intercept kita jual satu paket dengan ECDIS bisa juga dengan ESM. Alat ini cocok untuk electronic warfare. Radar LPI dia hidup tapi tidak bisa dideteksi oleh musuh menggunakan detektor yang disebut ESM. Keunggulan radar LPI, musuh akan melihat kita sebagai kapal sipil,” tutur Mashruri.

Selain untuk kapal laut, Radar LPI juga dikembangkan untuk wilayah perairan seperti portable coastal radar yang bisa digunakan secara mobile. Radar ini memiliki keunggulan yaitu ukuran lebih kecil, jangkauan deteksi cukup jauh, dengan probabilitas rendah membuat radar ini tidak mudah diketahui pihak lain.

“Sementara untuk di wilayah pantai  untuk tahun ini kita sedang mengetes radar coastal kerjasama dengan Dislitbang AL. Seperti kita tahu garis pantai kita kan panjang jadi perlu sekali radar pengawas pantai. Karena wilayah kita banyak lalu lintas kapal asing, lalu juga illegal fishing, kecelakaan, penyelundupan dan lain-lain. Seperti di Maluku, Kalimantan, dan lain-lain,” ungkap pria lulusan sebuah universitas Australia ini.

Untuk komponen radar, menurut Mashruri, ada beberapa material masih impor dari negara lain karena belum tersedia di dalam negeri. Ia berharap adanya kebijakan dari pemerintah agar nilai komponen lokal pembuatan radar tanah air bisa meningkat.

“Ada yang kita buat sendiri seperti software dan beberapa hardware. Dan memang untuk material ada yang kita impor ya karena di dalam negeri nggak ada,” keluhnya.

Sementara di tempat yang sama, Direktur PT Infra RCS Indonesia, Wiwiek Sarwi Astuti, mengatakan saat ini timnya masih berfokus untuk mengembangkan radar Coastal dan ke depan akan mengembangkan Warship Electronic Chart Display and Information System (WECDIS).

“Untuk Infra ini kan punya misi  untuk mendukung kemandirian bangsa dalam produk-produk yang sifatnya strategis jadi produk seperti ini kita usung untuk pelanggan atau end user di Indonesia. Sehingga kita support lebih baik dan kita berikan pelatihan tentang penggunaan,” jelas Wiwiek.

Apakah akan mencoba menjual ke luar negeri? “Rencana ada, tapi masih fokus untuk kebutuhan dalam negeri dulu. Kalau nggak kita akan bergantung dengan negara lain terus dan ini menjadi tantangan bagi kami untuk memajukan teknologi bangsa,” jawab wanita berkerudung ini. (Liputan 6)

Mengenal INFRA RCS, Industri Radar Swasta dalam Negeri

Liputan6.com, Jakarta Kemandirian anak bangsa Indonesia dalam membuat alat utama sistem senjata (alutsista) telah banyak menoreh prestasi di dalam maupun luar negeri, seperti pembuatan pesawat, kapal perang, kendaraan tempur, senjata ringan maupun berat. Alutsista-alutsista strategis ini tidak terlepas dari peran BUMN Industri Strategis dan industri swasta lainnya.

PT Infra RCS Indonesia adalah salah satu industri strategis swasta yang terlibat dalam memajukan teknologi radar dalam negeri. Beberapa produk perusahaan yang telah berdiri sejak 2009 ini telah dipasang di Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) kelas Van Speijk dan Parchim.

“Ada 4 KRI Van Speijk dan 1 Parchim.  Di situ ada radar LPI (Low Probability of Intercept) dia hidup tapi tidak bisa dideteksi oleh musuh, ada ECDIS (Electronic Chart Display and Information System) karena 1 paket dan ada juga ESM (Electronic Support Measures) untuk KRI Yos Sudarso dan KRI OWA,” ucap Technical Advisor PT  Infra RCS Indonesia, Dr Mashruri Wahab di kantornya, Jakarta Selatan, Senin (7/4/2014).

Selain itu saat ini Infra RCS sedang mengembangkan Coastal Radar yang berfungsi untuk mengawasi pesisir pantai dan Warship Electronic Chart Display and Information System (WECDIS). Dalam pengembangan ini, Infra RCS bekerjasama dengan Dislitbang TNI AL sebagai end user.

“Coastal Radar kita kebanyakan dari luar, dan seperti kita ketahui garis pantai kita itu kan panjang. Jadi perlu banyak radar pengawas pantai, jadi wilayah kita banyak lalu lintas kapal asing lalu juga illegal fishing seperti di Maluku dan lain-lain. Tahun ini kita sedang mengetes radar coastal kerjasama dengan Dislitbang AL,” ujar pria murah senyum itu.

Di tempat yang sama, Direktur PT Infra RCS Indonesia Wiwiek Sarwi Astuti, mengatakan selain dipasarkan ke TNI AL, radar-radar pabrikannya juga bisa dijual ke kalangan swasta dan pemerintah. Tawaran dari institusi pemerintah juga sudah mulai berdatangan.

“Kita pemasarannya bisa kalangan kecil, swasta dan pemerintah, jadi terbuka ya. Kita rencananya kerjasama dengan asosiasi galangan kapal, tentu untuk dipasang di on-board ya. Kalau untuk coastal rencananya dengan Bakorkamla, Kementerian Perikanan. Pertamina juga berminat untuk pengawasan oil rig-nya,” imbuh wanita berkerudung ini.

Untuk masalah harga, Wiwiek menilai, produk buatan perusahaannya lebih kompetitif dibanding radar impor. Selain itu, perusahaannya memberikan pelatihan berkala sampai pihak user mengerti tentang kegunaan radar pabrikannya.

“Secara cost kita sangat kompetitif, seperti kalau beli dari China di kita harganya cuman 50%-nya,” tutur Wiwiek.

Meski dengan keterbatasan SDM, PT Infra RCS Indonesia bercita-cita untuk mendukung revitalisasi dan kemandirian bangsa dalam bidang penelitian dan produk radar dalam negeri. Untuk anggaran Research and Development (R&D) awalnya dari hasil patungan dan akhirnya dibantu Ditlitbang TNI AL.

“Untuk Infra ini kan kita punya misi  untuk mendukung kemandirian bangsa dalam produk-produk yang sifatnya strategis.  Jadi produk seperti ini kita usung untuk pelanggan atau end user di Indonesia sehingga kita support lebih baik dan kita berikan pelatihan tentang penggunaan. Kalau lihat produk luar biasanya setelah instalasi lalu ditinggal, itu banyak kita lihat di lapangan itu,” katanya.

“Ada (anggaran) dari internal ada juga kerjasama dengan litbang. Kalau coastal ini kita kerjasama dengan litbang TNI AL. Dengan keuntungan sedikit kita akan pakai lagi untuk R&D dan pengembangan varian-varian baru agar kemandirian bangsa dalam teknologi radar bisa setara dengan negara maju. Saat ini fokus 70% untuk radar maritim dan sisanya untuk radar lainnya.”

(Liputan 6)

April 8, 2014

TNI AD Pamer 15 Alat Hasil Riset, Dari Drone Hingga ‘Transformer’

Peneliti atau researcher Indonesia yang mumpuni harus mendapatkan fasilitas penelitian yang berkesinambungan (dalam segi dana). Jika tidak potensi mereka dibajak oleh negera lain, atau negera tetangga macam Singapura.   Singapura  sangat agresif dalam soal riset dan pengembangan, mereka tidak segan membajak talen dari negara tetangga, selain membajak Singapura juga tidak segan untuk membunuh talen itu jika sudah tidak sesuai dengan keinginannya (ingat kasus meninggalnya David Hartanto Widjaya).
Senin, April 07, 2014

0

JAKARTA-(IDB) : TNI AD meluncurkan 15 alat pertahanan hasil riset dengan Universitas Surya yang didirikan pakar fisika Prof Yohanes Surya. Alat-alat pertahanan itu dari pesawat tanpa awak alias drone hingga motor yang bisa terbang bak ‘Transformers’.

Alat-alat itu dipamerkan di Mabes TNI AD, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Senin (7/4/2014). KSAD Jenderal Budiman meluncurkan alat-alat pertahanan ini di depan Pangdam se-Indonesia melalui teleconference.

“Riset ini pada akhirnya digunakan untuk kemandirian bangsa dan negara, sebab ada yang langsung berguna sebagai alat pertahanan negara. Kemudian dapat bermanfaat untuk negara dan masyarakat. Dengan hasil dari riset ini, kita bisa menghemat pengeluaran negaera karena tidak perlu membeli alat dari luar,” kata Jenderal Budiman dalam sambutannya.

Budiman memaparkan beberapa hasil riset itu antara lain open Open Base Transceiver Station (BTS), radio VHF, battle management system (BMS), peralatan konversi BBM ke BBG, GPS tracking system, Unmanned Aerial Vehicle (UAV) Autopilot alias Drone, simulasi menembak dengan laser gun, jammer perusak sinyal, alat pengendali senjata jarak jauh hingga Roadble Grycopter yaitu motor yang bisa terbang seperti helikopter bak dalam film Transformer.

“Dana dalam riset ini sebesar Rp 31 miliar untuk 15 riset, dana yang digunakan dari APBN hanya kecil,” imbuh Budiman.

Sedangkan pendiri Universitas Surya, Prof Yohanes Surya, mengatakan riset ini adalah hasil dari riset ilmuwan-ilmuwan Indonesia yang dipanggil pulang kampung.

“Ilmuwan kita bisa bersaing dengan negara lain. Ilmuwan hebat kita di negara lain kita panggil pulang, sehingga kita tidak perlu takut. Kita sudah sejajar dengan negara lain,” tutur pria yang tenar dalam mendidik anak-anak sekolah dalam Olimpiade Fisika Internasional dan banyak di antaranya menjadi pemenang.

Riset Teknologi TNI AD Habiskan Anggaran 31 M

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) melansir sejumlah hasil riset berbasis teknologi tinggi di kantor Markas besar TNI AD (Mabesad), Senin (7/4). Dalam risetnya, TNI AD menggandeng sejumlah lembaga atau instansi akademik, salah satunya Universitas Surya.

Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal (TNI) Budiman, menjelaskan, pengembangan teknologi, terutama yang bergerak di bidang kemiliteran wajib dikembangkan guna menunjang fungsi dan tugas prajurit di Indonesia.
“Pengembangan teknologi untuk mendorong prajurit melaksanakan tugas. Dari hasilnya, kami tidak lagi berpikiran untuk membeli dari luar negeri. Kami memiliki kualitas yang lebih baik dibanding produk yang dibeli selama ini,” kata Budiman.
Dijelaskan, selama ini TNI AD menaruh harapan sangat besar pada penelitian dan pengembangan pertahanan (Litbanghan). Semua dilakukan untuk mendukung rekayasa teknologi modern di lingkungan TNI AD. Dalam kerja sama antara TNI AD dengan Surya University, menghabiskan anggaran dana hingga Rp 31 miliar.
Beberapa hasil program litbanghan TNI AD Tahun 2014, baik yang bekerja sama dengan pihak lain maupun hasil rancang bangun sendiri, di antaranya seperti yang dilakukan Direktorat Perhubungan Angkatan Darat yang melaksanakan pengembangan Litbang Nano Satelit, open BTS (Base Transceiver Station).
Selain itu juga dikembangkan Mesh Networking Communication System, Radio VHF produk PT CMI Teknologi, Battle Management System (BMS).
Untuk Pusat Penerbangan Angkatan Darat melaksanakan kegiatan litbang Gyrocopter. Sedangkan Direktorat Peralatan Angkatan Darat laksanakan Litbang Konversi BBM ka BBG, simulasi modifikasi mobil tempur antipanas dan simulasi senjata api anti panas.
Di Direktorat Perbekalan dan Angkutan Angkatan Darat melaksanakan kegiatan litbang energi mandiri. Direktorat Topografi Angkatan Darat laksanakan kegiatan litbang Global Positioning System (GPS), Tracking System APRS (Automatic Package Reporting System, multirotor, Flapping Wing Air Vehicle.

Untuk dinas penelitian dan pengembangan Angkatan Darat, laksanakan kegiatan litbang UAV (Unmanned Aerial Vehicles) Autopilot, Simulasi menembak denganlaser gun, Integrated Optronics defence system.

Sedangkan untuk Zeni TNI AD laksanakan pengembangan jammer perusak sinyal, penyala ledakan fungsi ganda, alat koreksi perkenaan senapan lapangan, serta alat pengendali senjata jarak jauh.
Dengan adanya pengembangan kerja sama dengan semua pihak, Kasad berharap hasilnya akan dapat dimaksimalkan untuk mendukung tugas-tugas operasional TNI AD dalam rangka menjaga keutuhan NKRI.
Pendiri sekaligus Rektor Surya University, Yohanes Surya, menjelaskan, pada tahun 2010, aplikasi paten internasional dari Indonesia hanya 13 buah. Sangat jauh jika dbandingkan dengan Korea (10.446), Tiongkok (16.403), Jepang (38.873), dan Amerika Serikat (48.896).
Saat ini, ditegaskan, sudah waktunya Indonesia melakukan terobosan besar untuk mengakselerasi perkembangan riset di tanah air. Terobosan tersebut kini sudah dimulai melalui kerjasama dengan TNI AD.
Tahap pertama kerjasama dimulai dengan 15 program riset. Dalam riset ini, para peneliti Surya University melatih para tentara untuk mengerjakan riset secara bersama-sama.
“Ambil contoh pada pembuatan nanosatelit. Tentara dilatih untuk belajar membuat nanosatelit dari nol. Merakit, menyolder, membuat program elektronika, dan lain-lain. Semua dikerjakan sendiri,” kata Yohanes Surya.
Sumber : Detik
April 8, 2014

Habibie: Pesawat R80 Lebih Efisien dari Airbus dan Boeing

07 April 2014

Pesawat N250NG atau dengan nama barunya “R80″. Mengenai maknanya “R” adalah inisial “Regional”, sementara angka 80 menunjukkan kapasitas penumpang yang dapat diangkut pesawat tersebut (photo : Liputan 6)

Liputan6.com, Jakarta Mantan Presiden ke-3 Republik Indonesia, BJ Habibie saat ini tengah mengembangkan pesawat N250 Next Generation atau yang dinamakan R80.

Melalui perusahaan yang didirikannya yaitu PT Regio Aviasi Industri (RAI) tengah mengembangkan prototype dan nantinya akan bekerjasama dengan PT Dirgantara Indonesia (Persero) dalam proses rancang bangunnya.

BJ Habibie menjelaskan pesawat dengan model baling-baling ini nantinya diklaim akan lebih cepat dan lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar dibanding Airbus ataupun Boeing.

Hal itu dilandaskan dari berhasilnya Habibie merancang R80 ini dengan memiliki perbandingan antara angin yang dingin dihasilkan dari udara di body pesawat dengan angin yang dikeluarkan pada engine di belakang pesawat lebih tinggi (Bypass ratio).

“Saya menyampaikan bahwa Airbus atau Boeing itu bypass rationya 12, makin tinggi bypass ratio makin sedikit konsumsi bahan bakar dan lebih cepat, ini (R80) bypass rationya 40, kami perhitungkan pesawat terbang ini sasarannya lebih sedkit 30% (penggunaan bahan bakar),” ungkap Habibie di Gedung Bank Indonesia semalam yang ditulis, Rabu (2/4/2014).

Habibie menambahkan R80 ini dibangun tidak akan menggunakan dana APBN, melainkan PT RAI akan menjalin kerjasama dengan swasta.

R dalam nama pesawat tersebut diartikan sebagai Regional, pesawat tersebut adalah buatan anak bangsa dan difungsikan untuk penerbangan jarak-jarak pendek. Sementara untuk 80 berarti kapasitas kursi pessawat yang mampu menampung 80 penumpang.

“Ini saya dengan team dalam satu tahun lagi kami mulai potong, dan memeprsiapkan untuk supaya bisa dirancang bangun, tahun 2017 kita targetkan sudah mengudara,” terang Habibie.

Seperti diketahui, meski pesawat ini masih dalam tahap perancangan namun sudah mengundang banyak peminat yang menyatakan siap akan menggunakannya. Salah satu maskapai yang siap membeli peawat R80 ini adalah Sriwijaya Air yang nanti akan digunakan untuk anak usahanya yaitu NAM Air.

(Liputan 6)

April 3, 2014

KASAD Kunjungi Simulator Heli Penerbad

 

Putra putri RI sudah punya prestasi membuat simulator heli, tapi pemerintahnya masih doyang mengimpor simulator dari negara lain.. Hmm

01 April 2014

Simulator helikopter NBO-105 dan Bell 412 yang dirancang oleh para ahli dari Indonesia sendiri. Tim ahli itu bahkan merancang simulator Heli Mi-17 dan pesawat F-16 (all photos : Tempo, Penerbad)

Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal Budiman melihat instalasi simulator NBO 105 dan Bell 412 di markas Penerbangan Angkatan Darat, Semarang, Jawa Tengah (27/3).

Dalam kunjungan tersebut KASAD didampingi sejumlah petinggi TNI Angkatan Darat melihat simulator NBO 105 dan Bell 412 di markas Penerbad.

Simulator helikopter Bell-412 (photo : Penerbad)

Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal Budiman sempat duduk di kursi copilot simulator Bell 412 di markas Penerbad.

Simulator helikopter NBO-105 (photo : Penerbad)

Calon penerbang harus memiliki 20 jam terbang dengan simulator ini sebelum transisi sebagai copilot helikopter.

Pada simulator helikopter ini sejumlah instalasi kaki bekerja secara hidrolik pada mesin simulator NBO 105 di markas Penerbangan Angkatan Darat, Semarang.

(Tempo)

April 3, 2014

PT Len Berinvestasi Untuk Sistem Rudal Starstreak dan Photovoltaic

 

02 April 2014

PT Len akan bekerjasama dengan Thales untuk integrasi sistem rudal Starstreak (photo : Defense Update)

PT Len Industri Gelontorkan Ratusan Miliar Rupiah

Berinvestasi menjadi salah satu opsi untuk terus mendongkrak kinerja dan performa perusahaan. Adalah PT Len Industri (Persero) yang siap berinvestasi besar pada tahun ini.

Benar. Tahun ini, kami siap berinvestasi. Nilainya, Rp 176 miliar. Investasi itu untuk membangun instalasi yang terintegrasi dengan sistem pertahanan peluru kendali Star Streak. Ini berkaitan dengan adanya kerjasama dengan industri pertahanan Prancis, Thales,” ujar Direktur Utama PT Len Industri, Abraham Mose, pada sela-sela Transformasi Bisnis PT Len Industri di Hotel Harris Bandung, Jumat (28/2/2014).

Abraham mengutarakan, pembangunan instalasi itu berlokasi di Subang pada areal seluas 10 hektar. Menurutnya, kehadiran instalasi yang bertajuk LEN Techno Park tersebut juga memiliki manfaat lain, yaitu meningkatkan kapasitas produksi solar modul, yang merupakan sumber energi terbarukan. “Kapasitasnya naik menjadi 30 MWP. Sebelumnya, 10 MWP,” kata dia.

Selain di Subang, ungkap dia, pihaknya pun berinvestasi besar di Kupang, Nusa Tenggara. Di Kupang, tambah Abraham, pihaknya berinvestasi sekitar Rp 130 miliar. Investasi itu untuk memproduksi tenaga surya sebagai sumber energi. Di provinsi tersebut, PT Len telah menjalin kontrak jangka panjang, selama 20 tahun. “Yaitu sebagai operator tenaga surya,” tuturnya.

Len Techno Park (image : Len)

Andra Y Agussalam, Direktur Keuangan PT Len Industri, menambahkan, pembangunan itu juga dapat menopang rencana dan proyeksi bisnis lembaga BUMN tersebut. Pada 2013, sebut dia, pihaknya mencatat pendapatan sebelum audit senilai Rp 2,06 triliun. Angka itu, jelasnya, bersumber pada penjualan beberapa produk.

“Yang tertinggi adalah railway transportation. Penjualannya senilai Rp 1,34 triliun. Lalu, Navigation senilai Rp 434,9 miliar. Kemudian renewable energy, sebesar Rp 263,7 miliar. Selanjutnya, Information and Communication Technology sejumlah Rp 123.9 miliar,” paparnya.

Tahun ini, ucap Andra, pihaknya memproyeksikan pertumbuhan laba bersih sebesar 15 persen. Selama 2013, sambungnya, PT Len meraup keuntungan bersih sebesar Rp 71 miliar. Angka itu, terang dia, lebih tinggi 8 persen daripada realisasi 2012.

“Target kita tahun ini Rp 2,3 triliun  dengan pencapaian laba bersih Rp 78 miliar sampai Rp 79 miliar,” tandas Andra.

(Jabar Today)

April 2, 2014

Ini Kelebihan Pesawat Baru Racikan Habibie

Rabu, 2 April 2014 | 07:25 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com -
 Presiden Republik Indonesia ke-III Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang akrab disapa BJ Habibie meluncurkan buku barunya yang berjudul ‘Tak Boleh Lelah dan Kalah’.

Peluncuran buku tersebut dilakukan di Gedung Bank Indonesia, Thamrin, Jakarta. Dalam sambutannya, BJ Habibie menyebutkan bahwa buku berjudul ‘Tak Boleh Lelah dan Kalah’ mengacu pada pengalaman hidupnya.

Salah satunya adalah curahan hati saat PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang selanjutnya berganti nama menjadi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) harus ditutup pada tahun 2002.

Meski begitu, BJ Habibie menekankan, bahwa dirinya akan melanjutkan keberlangsungan PTDI, yang telah mendapatkan momen kebangkitan pada awal 2012 lalu.

“PTDI akan saya lanjutkan dengan produksi pesawat yang lebih canggih dari N250. Saya dengan tim sedang merekayasa sebuah pesawat bernama R80 yang dalam satu tahun lagi akan kami persiapkan, supaya bisa mengudara pada 2017,” ujar Habibie di Gedung BI, Jakarta, Selasa (1/4/2014).

Pesawat R-80 ini memiliki makna R dari kata Regional dan 80 adalah jumlah penumpang pesawat tersebut. Kelebihan pesawat dengan teknologi anyar ini adalah memiliki baling-baling yang dapat menentukan antara angin yang dingin dan angin panas yang berasal dari engine atau mesin.

Gunanya, adalah terjadi campuran angin dingin dan angin panas, sehingga bisa mendapatkan kecepatan yang lebih tinggi. Campuran angin dingin dan angin panas itu disebut bypass ratio. Dimana, semakin tinggi bypass ratio yang dimiliki maka akan menggunakan energi bahan bakar yang semakin irit.

“Airbus atau Boeing punya bypass ratio 12, semakin sedikitbypass ratio maka makin sedikit tingkat efisiensi bahan bakarnya. R-80 memiliki bypass ratio 40, sasarannya kurang lebih 30 persen konsumsi bahan bakarnya lebih irit, lebih efisien,” jelas Habibie.

Produksi pesawat terbang R-80 akan dilakukan oleh PT Dirgantara Indonesia. Produksi proyek pesawat ini diharapkan akan mampu mendongkrak nasionalisme rakyat Indonesia, berjalan lancar. “Saat ini saya sedang mempersiapkan ini bisa terbang tahun 2017. Yang bikin nanti Dirgantara Indonesia,” kata Habibie. (Dea Chadiza Syafina)

Habibie: Pesawat R-80 Akan Buat “Surprise” Dunia!

Jumat, 27 September 2013 | 07:40 WIB
KOMPAS.com/


JAKARTA, KOMPAS.com
 — Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang lebih familiar dengan BJ Habibie mengatakan tidak ada jalan lain agar orang-orang mudah berpindah tempat di benua maritim seperti Indonesia, selain menggunakan pesawat terbang. Oleh karenanya, ia menyambut positif kehadiran NAM Air, yang rencananya mayoritas akan menggunakan pesawat buatan dalam negeri. Artinya, kehadiran maskapai anak Sriwijaya Airlines tersebut turut mendorong industri pesawat terbang di Indonesia.

“Insya Allah R-80 tahun 2016 atau 2017 akan mengudara dan dunia akan surprise,” ungkap Habibie dengan bangga penuh haru dalam Grand Launching NAM Air, di Jakarta Teater, pada Kamis malam (27/9/2013).

Sekadar informasi, R-80 adalah pesawat terbang produksi PT Regio Aviasi Industri (RAI), tempat BJ Habibie duduk sebagai komisaris.

Dalam peluncuran tersebut ditandatangani perjanjian kerja sama (MoU) antara Presiden Direktur NAM Air Jefferson Jauwena dengan BJ Habibie, berkaitan dengan pengadaan 100 unit pesawat R-80, terdiri dari 50 unit firm, dan 50 unit pesawat pilihan.

Pesawat R-80 merupakan pengembangan dari pesawat N250 yang dibuat BJ Habibie. Pesawat N250 merupakan pesawat yang dikendalikan secara elektronik atau dikenal dengan istilah fly by wire kedua, setelah pesawat keluaran Airbus yakni A-300.

“Pesawat terbang yang pernah dibuat menusia yang dikendalikan secara elektronik yang dikenal dengan fly by wire pertama kali adalah Airbus di Hamburg di mana saya kerja dulu. Di situ, saya pernah menjadi direktur dan executive vice president,” kata mantan Presiden RI ketiga itu.

Fly by wire pertama A-300, fly by wire kedua N250, dan ketiga triple seven (B-777). Dalam skala regional, N250 merupakan fly by wire pertama,” jelasnya.

Bahkan, saking semangatnya, Habibie yang kini menginjak usia 77 tahun mengaku memimpin sendiri diskusi desain engineering, financing, sampai sheduling dari R-80 selama dua hingga lima jam sebelum datang ke acara peluncuran.

“Biar on schedule dan the best, jadi saya harus tahu,” tuturnya.

Industri strategis dibubarkan 

Jauh sebelum R-80, Indonesia pernah hampir memiliki industri pesawat terbang sebagai industri strategis yang kuat, tetapi kandas. Habibie mengatakan, ide membuat pesawat terbang bukan idenya, bukan juga ide Soeharto. Akan tetapi, ide bangsa Indonesia, sesaat setelah mendeklarasikan kemerdekaan.

Jika ditanya siapa yang pertama kali memiliki inisiatif membuat pesawat terbang, menurut Habibie, jawabannya adalah Angkatan Udara RI (AURI). “Jadi kalau ada suatu bangsa di mana saja dia berada yang mengerti pentingnya teknologi itu, maka itu adalah angkatan bersenjata, angkatan udara, angkatan darat, dan angkatan laut. Oleh karena itu yang mengembangkan teknologi itu adalah mereka dan khususnya AU terus mendorong untuk membuat pesawat terbang,” aku Habibie.

Pada Januari 1950, Presiden Soekarno memutuskan mengirim putra-putri terbaik untuk belajar di luar negeri dalam pilihan bidang pembuatan kapal terbang penumpang atau pembuatan kapal laut untuk mengangkut barang-barang.

Waktu itu Habibie baru menginjak kelas tiga SMP. Ia pun menjadi pelajar Indonesia gelombang empat yang belajar di bidang pesawat terbang pada 1954. Habibie berhasil menyelesaikan strata 1 pada usia 22 tahun dan strata dua pada usia 24 tahun.

“S-3 konstruksi pesawat terbang 28 tahun di Jerman. Di tempatnya Teodhore Von Karman, guru besar yang pertama dalam konstruksi pesawat terbang, yang mendirikan NASA. Saya asisten di situ, dan bisa dibaca di Google,” kisah dia.

Lepas menyelesaikan pendidikan, Habibie bekerja untuk sebuah perusahaan di Hamburg, di mana ia pernah menjadi direktur dan executive vice president. “Di situ lahir Airbus, yang sekarang membuat A-380 di situ. Waktu saya mulai ke situ 3.000 (karyawan), waktu saya tinggalkan 4.500, sekarang 16.000. Saudara-saudara, waktu ‘nanjak’ begini saya tiba-tiba disuruh pulang untuk membangun industri pesawat terbang jadi industri strategis,” kenang Habibie.

“Dan saya ditugaskan membangun industri strategis. Tidak banyak yang tahu waktu saya jadi wakil presiden terpilih, saya harus meletakkan jabatan-jabatan yang saya miliki, dan industri stategis yang saya pimpin itu memiliki 48.000 karyawan danturnover 10 miliar dollar AS,” lanjut dia.

Seusai pemilu, Habibie mengatakan bersedia melanjutkan kepemimpinan Indonesia, jika pertanggungjawabannya diakui. Jika tidak, lanjutnya, ia memberikan posisi kepresidenan kepada orang lain. “Belum lagi saya bicara tuntas, saya tidak diterima. Tapi tidak mengapa,” tuturnya.

“Saya sampaikan kepada yang ganti, perhatikan dua hal. Satu, jangan lemahkan TNI karena itu adalah tulang punggung perjuangan bangsa Indonesia. Dua, jangan korek-korek industri strategis karena industri strategis adalah keinginan seluruh bangsa Indonesia sejak kemerdekaan. Putra putra terbaik yang memberikan apa saja yang dia miliki,” tuturnya.

Namun, tiba-tiba industri strategis tersebut dibubarkan. “Saya sampai bilang ke Ibu Ainun ‘Is that the price I have to pay to get my freedom? Kita akan kembali dan bangkit melaksanakan perjuangan yang sementara terhenti’,” kenangnya.

Kini, di hadapan direksi NAM Air, direksi Sriwijaya Air, dan Kementerian Perhubungan, Habibie mengatakan memanjatkan doa, dan bersyukur karena ada yang meneruskan perjuangan membangun industri strategis.

“Saya ini orang tua, usia saya 77 tahun tapi semangat saya sama seperti waktu saya umur 17 tahun. Dan semangat ini saya temukan kembali pada yang hadir di sini anak-anak intelektual saya, cucu-cucu intelektual saya. Saya yang mewakili generasi yang fading out, melihat ini semua saya bersyukur,” ucap Habibie

 

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 86 other followers