Archive for ‘Indonesia techno research education news’

February 10, 2014

Program KFX/IFX Dilanjutkan : Lebih Unggul dari Su-35

 

Majalah ANGKASA, 07 Februari 2014

KFX seri 103 tanpa canard (photo : heraldcorp)

Program KFX/IFX dihentikan sementara oleh pemimpin baru Korea Park Geun-Hye akhir 2012 setelah meninjau kondisi finansial di negaranya. Proyek prestisius ini digarap sejak awal 2011, tak lama setelah Presiden Lee Myung-bak dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengukuhkan kerjasama bilateral di bidang pertahanan di Jakarta. Dari Fase Technology Development yang telah dituntaskan, tim ilmuwan telah menyelesaikan sejumlah desain yang yang kemudian mengerucut menjadi dua.

Kedua desain itu adalah model jet tempur siluman peraih keunggulan udara bermesin ganda dengan horizontal-tails di belakang, dan satunya lagi dengan canards di depan. “Masing-masing punya konsekuensi pembiayaan dan mitra kerja berbeda. Maka, memang harus diputuskan lebih dulu mana yang dipilih. Ini penting agar manakala dilanjutkan, semua pihak siap mengerjakannya,” tegas Dr Rais Zain, M.Eng, KFX/IFX Configuration Design Leader yang sehari-hari dosen di Fakultas Teknik Mesin Dirgantara, ITB, Bandung.

Seperti dikemukakan Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin, parlemen Korea telah menyiapkan 20 juta dolar AS (sementara, Indonesia : 5 juta dolar) untuk melanjutkan program ini pada 2015. Saat itu, tim akan masuk ke Fase Engineering Manufacturing Development. Selain harus memiliki mesin dengan tenaga dorong tinggi agar mampu bertarung di udara, pesawat juga harus memiliki persenjataan yang disimpan di dalam internal weapon bay, data-link yang mampu mengacak komunikasi, radar advanced pemilih sasaran, dan perangkat anti-jamming.

KFX tipe E dengan satu mesin (photo : heraldcorp)

Prototipe diharapkan selesai pada akhir Renstra II. Kalau pun ada hal yang perlu dikritisi, itu adalah soal operation requirement yang lebih banyak ditentukan pihak AU Korea. Hal ini tak bisa dielakkan karena Korea menanggung 80 persen pendanaan, dan negeri ini benar-benar memiliki musuh yang nyata.

Program ini ditargetkan menelurkan jet tempur dengan performa yang sepadan atau lebih unggul dari jet tempur lawan yang di antaranya adalah Sukhoi Su-35.

Prasyarat tersebut dengan sendirinya mengeliminir desain tandingan yang diajukan KAI (Korean Aerospace Industrie) baru-baru ini, alih-alih untuk memangkas biaya pengembangan yang kelewat besar. Dalam konfigurasinya (lihat Angkasa, Desember 2013), tampak KFX tipe E ini hanyai ditenagai satu mesin dengan persenjataan di luar yang rawan sapuan radar lawan.

Angkasa mencermati kekaguman ADD (Agency for Defence Development, Balitbang Pertahanan Korea) yang disampaikan kepada tim enjinir Indonesia. Awalnya, pihak Korea memang sempat menganggap tim Indonesia tak mengerti soal perancangan jet tempur. Namun, anggapan itu berbalik ketika enjinir Indonesia mulai memaparkan desain dan berbagai masukan terhadap desain Korea. Pihak Indonesia pulalah yang akhirnya memastikan bahwa pesawat harus memiliki berat tinggal landas sebesar 50.000 pound.

(Angkasa)

February 4, 2014

LAPAN Sukses Terbangkan Pesawat Pengamat LSA-01

01 FEBRUARI 2014


 

 
01 Februari 2014

Pilot melakukan uji terbang perdana pesawat LSA di lapangan terbang BBKFP Ditjen Perhubungan Udara. (all photos : Lapan)

LSA-01 Mampu Pantau Wilayah Indonesia

Kini, Indonesia memiliki Pesawat Pengamat Wilayah. Lapan bekerja sama dengan Universitas Berlin, Jerman, berhasil mengembangkan pesawat pengamat yakni Lapan Surveillance Aircraft (PK-LSA01). Pesawat ini menjadi bagian pemanfaatan untuk kepentingan memotret wilayah di Indonesia. Selasa (28/1), Kepala Lapan, Bambang S. Tejasukmana meresmikan Pesawat LSA di Balai Besar Kalibrasi Fasilitas Penerbangan (BBKFP) Ditjen Perhubungan Udara, Curug, Tangerang.

Program pesawat LSA ini merupakan bagian dari program utama Pusat Teknologi Penerbangan (Pustekbang) Lapan. Selain LSA, Pustekbang juga memiliki program pengembangan pesawat tanpa awak (Lapan Surveillance UAV – LSU) dan program pengembangan pesawat transport nasional (N-219).

Pesawat LSA memiliki beberapa misi yakni akurasi citra satelit, verifikasi dan validasi citra satelit, monitoring produksi pertanian, aerial photogrammetry, pemantauan, pemetaan banjir, deteksi kebakaran, search and rescue (SAR), pemantauan perbatasan dan kehutanan, serta pemetaan tata kota.

Misi pesawat LSA ini dapat memperkuat sistem pemantauan nasional. Indonesia yang berpulau ini sangat memerlukan sistem pemantauan wilayah. Selain menggunakan teknologi satelit, diperlukan pula sistem pemantauan yang lebih impresif dengan menggunakan pesawat terbang. LSA tersebut sekaligus memperkuat penguasaan teknologi terbaru pesawat terbang. 

Pesawat LSA ini juga mampu mengakurasikan data dari foto citra satelit dengan resolusi tinggi yang telah digabung dengan satelit-satelit lain, dan mampu konfirmasi ulang langsung di lapangan secara acak. Dengan kemampuan terbang non-stop selama 6-8 jam, jangkauan tempuh 1.300 kilometer, dan dapat membawa muatan hingga 160 kg, LSA ini berpotensi untuk melakukan patroli sistem kelautan di Indonesia.

Dalam peresmian LSA, Kepala Lapan menargetkan selama lima tahun ke depan, pesawat ini dapat memiliki fungsi autonomous. Menurut ia, keuntungan sistem autonomous selain dapat bermanuver secara otomatis, kualitas dalam menjalankan misi surveillance dapat lebih presisi, efisien, dan efektif. “Dalam skema prosesnya, awalnya pesawat ini masih dikendalikan oleh pilot untuk lepas landas dan mendarat. Dan setelah mengudara, sistem autonomous ini akan aktif sehingga tidak memerlukan kendali dari pilot. Namun, jika ada hal yang tingkat urgensitasnya tinggi, pilot dapat mengintervensi,” ujarnya.

Saat ini pesawat telah siap dan sudah melakukan tes penerbangan perdana (flight test), ia berharap pesawat ini dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk kebutuhan surveillance di Indonesia.

(Lapan)

January 16, 2014

Peluncuran Satelit LAPAN-A2 Diprediksi Molor

KAMIS, 16 JANUARI 2014 | 16:34 WIB

 

Peluncuran Satelit LAPAN-A2 Diprediksi Molor

Purwarupa Satelit Lapan A2 di Pusat Teknologi Satelit Lembaga Penerbangan & Antariksa Nasional (LAPAN) di Jalan Cagak Satelit, Ranca Bungur, JBogor awa Barat, Jumat (31/8). Jika sebelumnya pembangunan Lapan Tubsat dilakukan di Technische Universitat Berlin, Jerman, maka untuk penggarapan Lapan A2 sepenuhnya dilakukan di Pusat Teknologi Satelit Lapan di Rancabungur. TEMPO/Subekti

 

 

TEMPO.COJakarta - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) masih harus sabar menunggu peluncuran satelit Indonesia Lapan-A2 dari India. Peluncuran satelit yang dijadwalkan sekitar April-Mei tahun ini diperkirakan molor.

“Jadwalnya sih April-Mei, tapi India yang susah dan kami belum dapat tanggal pasti. Jadi kami masih menunggu tanggal pasti dari India,” kata Kepala Lapan Bambang S. Tejasukmana usai penyerahan data penginderaan jauh kepada kementerian di kantor Lapan, Rabu 15 Januari 2014.

Ia menjelaskan, molornya jadwal peluncuran satelit Lapan-A2 ini karena India belum berhasil menyelesaikan pembangunan satelit Astrosat. Satelit Lapan-A2 memang dijadwalkan meluncur dengan menumpang roket PSLV-C23 yang mengangkut muatan utama satelit Astrosat milik India. 

Satelit Lapan-A2 juga akan diluncurkan ke orbit utama dekat ekuatorial. “Ini yang bikin kami tidak bisa mundur dan beralih ke Cina, karena hanya India yang bisa meluncurkan di dekat ekuator,” ujar Bambang. 

Penantian besar Lapan untuk menumpang roket milik India didasarkan pada keinginan untuk meluncurkan satelit di orbit ekuator yang memiliki frekuensi perlintasan sebanyak 14 kali. Selain itu, dana yang sudah dikeluarkan untuk meluncurkan satelit lewat roket milik India juga tergolong cukup besar.

 

“Kita sudah kontrak dengan India untuk dua kali peluncuran satelit dan sudah dibayar lunas. Biaya untuk dua satelit kira-kira US$ 300 ribu,” kata dia. (Baca: Di 2019, Satelit Canggih Milik Indonesia)

 

Kemampuan satelit Lapan-A2 sebenarnya tidak berbeda jauh dengan satelit pendahulunya. Tapi, satelit ini memiliki sensor lebih canggih yang dirancang khusus untuk mengemban tiga misi, yakni pengamatan bumi, pemantauan kapal, dan komunikasi radio amatir. Satelit berbentuk balok dengan dimensi 50x47x38 sentimeter yang dilengkapi sejumlah antena dan dua lensa serta akan mengorbit pada ketinggian 650 kilometer.

Satelit yang murni dirancang dan dibangun peneliti Lapan ini juga dilengkapi sensor Automatic Identification System (AIS) untuk mengenali kapal layar yang melintas di wilayah yang dilewati.

 

Bambang mengatakan, satelit Lapan-A2 dipastikan akan diluncurkan tahun ini dari Sriharikota, India. “Setelah Lapan-A2 meluncur, kami segera siapkan satelit Lapan-A3. Target kami mulai 2015 Indonesia sudah bisa punya satelit seperti SPOT. Jadi bertahap kemampuannya,” kata dia merujuk pada satelit canggih beresolusi tinggi milik Prancis itu.

ROSALINA

January 6, 2014

Pertama Kali Dalam Sejarah, Mahasiswa RI Juara Lomba Debat Internasional

Ini baru membanggakan .. coba bandingkan dengan debat politikus tikus Senayan atau debat kusir di acara Indonesian Lawyer Club.. Ampuyuunn..dach..
 
Minggu, 05/01/2014 10:01 WIB

 

 

Rachmadin Ismail - detikNews

 
 
 

Jakarta - Dua mahasiswa Indonesia asal Institut Teknologi Bandung (ITB) Fauzan Reza Maulana dan Vicario Reinaldo mencatatkan sejarah baru di dunia debat internasional. Untuk pertama kalinya mereka mampu membawa Indonesia menjadi juara debat antar universitas dunia.

Fauzan dan Vicario mengalahkan mahasiswa asal Rusia (New Economic School), Polandia (University of Warsaw) dan Jerman (Eberhard Karls University Tubingen) dalam kategori English-as-Foreign-Language. Tema debat yang diusung adalah ‘This House Believes That Multinational Companies Should be Liable for Human Rights Abuses That Occur Anywhere in Their Supply Chain”. Untuk dua kategori lain yang lebih tinggi, diraih mahasiswa Jerman dan Harvard AS. 

Kedua mahasiswa ITB itu datang sebagai pesaing terlemah dalam kejuaraan. Namun berkat keberaniannya, strategi oposisi yang diterapkan untuk menyerang kesalahan pemerintah berhasil.

“Vicario Reinaldo and Fauzan Reza Maulana of Bandung A are the EFL debate champions of the world. Congratulations! #wudc” demikian isi twitter resmi debat tersebut.

Kompetisi ini digelar tanggal 26 Desember 2013 hingga 4 Januari 2014 di Chennai India. Ada tiga kategori lomba yakni EFL, ESL dan terbuka. ESL adalah untuk universitas yang menjadikan bahasa Inggris sebagai pengantar di universitasnya. Dari Indonesia, UI dan Bina Nusantara mengirim perwakilannya.

Kompetisi debat internasional ini sudah digelar sejak tahun 1982 lalu. Berawal dari kompetisi kecil di Inggris, Amerika Utara dan Australia, akhirnya berkembang hingga diikuti 200 universitas dari 45 negara. 

Turnamen debat ini menggunakan sistem debat parlemen Inggris. Topiknya diumumkan beberapa saat sebelum debat dimulai. Kontestan dibagi menjadi empat tim, dua mewakili pro pemerintah dan dua mewakili oposisi.

January 6, 2014

FemaleDev, Menyemai Bibit “Kartini Teknologi”

                            

Dibaca: 118

Komentar : 0

 
Share:
 

 
FemaleDev
Logo FemaleDev

KOMPAS.com - Perempuan seringkali dipandang sebelah mata, terutama dalam bidang yang didominasi oleh laki-laki semacam Teknologi Informasi. Anggapan bahwa kaum hawa hanya terbatas pada peranannya sebagai “istri”, “ibu”, dan “anak” ternyata masih dialami oleh profesional wanita, bahkan di tanah IT sekelas Silicon Valley sekalipun.

Hal inilah yang mendasari digagasnya FemaleDev, sebuah organisasi yang mewadahi para wanita pengembang aplikasi di Tanah Air. Berbekal misi menumbuhkan generasi pemimpin perempuan Indonesia di dunia teknologi, para perempuan programmer yang tergabung dalam FemaleDev hendak membuktikan bahwa mereka setara dengan, bahkan bisa lebih baik dari, kaum Adam dalam hal penguasaan IT.

“Dulu, teman-teman saya para wanita coder banyak yang punya keahlian, tapi mereka tidak terlihat, tidak muncul ke permukaan,” ujar Lidya Novianti dari Kibar Kreasi Indonesia yang menjadi inisiator awal FemaleDev. Ketika ditemui KompasTekno di kantor Kibar di bilangan Menteng, Jakarta, Sabtu (4/1/2014), Lidya sedang bergabung bersama para anggota FemaleDev yang tengah mengadakan pertemuan nasional pertama mereka.

Sejak didirikan pada Februari 2013 lalu, FemaleDev telah memiliki lebih dari 1.000 orang anggota yang semuanya merupakan para perempuan developer aplikasi. Mereka berasal dari 9 kota yang tersebar di seluruh Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Makassar, Pontianak, dan Medan.

Sabtu itu, sebanyak 20 orang perwakilan dari wilayah-wilayah tersebut berkumpul di Jakarta untuk memperkuat kolaborasi sekaligus belajar berbagai ilmu baru dari sejumlah pembicara yang sengaja didatangkan, termasuk Amanda Surya, perempuan Indonesia yang bekerja sebagai Developer Relation Manager di kantor pusat Google di Mountain View, Amerika Serikat. Amanda lah yang mengatakan bahwa diskriminasi terhadap perempuan di bidang IT masih terjadi, bahkan di pusat teknologi sekaliber negeri Paman Sam.

Berangkat dari pemanis

Dituturkan oleh Lidya, ide mendirikan FemaleDev berawal dari keprihatinannya mengenai pandangan umum terhadap para perempuan yang berkiprah di bidang teknologi.

Cewek coder jebolan program CEP-CCIT di Fakultas Teknik Universitas Indonesia ini, misalnya, mengatakan bahwa para mahasiswi di kelas kuliahnya dulu selain berjumlah sedikit juga dianggap hanya sebagai “pemanis” alias dipandang sebelah mata oleh para programmer laki-laki.

Persepsi yang berlaku di kalangan kolega pria di lingkungannya, menurut Lidya, adalah bahwa para perempuan developer tidak sanggup bekerja dengan “serius” seperti menangani proyek hingga selesai dan begadang mengejar deadline.

Alhasil, para wanita seringkali tak dianggap sebagai bagian dari sebuah tim developer. Mereka lebih sering diminta membawakan presentasi, pitching, atau mengerjakan hal terkait administrasi, kalau bukan dibebani tugas menyelesaikan sebagian besar pekerjaan.

oik yusuf/ kompas.com
Perwakilan anggota FemaleDev dari 9 kota di Indonesia menyimak sesi sharing ilmu dari Prami Rachmiadi, Country Agency Lead Google di kantor Kibar Kreasi Indonesia, Jakarta, Sabtu (4/1/2014)

Padahal, lanjut Lidya lagi, meski tak memiliki ketahanan fisik setinggi kaum Adam, para wanita coder memiliki kelebihan lain berupa ketelatenan dan perhatian mendalam terhadap detil-detil programming.

Pengalaman Lidya berlanjut ke berbagai organisasi developer yang diikutinya, yang kebanyakan memang didominasi oleh pria. “Oleh sebab itu teman saya kebanyakan cowok, karena memang perempuan jarang sekali di bidang ini,” ucap Lidya.

Meski mendapati dirinya sebagai bagian dari kaum minoritas, Lidya menolak pasrah dengan keadaan yang kurang menguntungkan bagi para perempuan coder. “Aku tidak percaya orang-orang bilang bawa cewek itu tak bisa, cewek itu sebenarnya mampu, tapi mereka mungkin tidak punya wadahnya.”

Dia lantas berusaha melacak organisasi yang mewadahi para perempuan programmer, tapi tak menemukan apa yang dicarinya. Para wanita memang eksis di perkumpulan-perkumpulan developer, namun jumlahnya masih jauh lebih sedikit dibandingkan pria dan relatif terpinggirkan.

Hingga kemudian muncullah ide mendirikan organisasi sendiri bernama FemaleDev. Berbekal dukungan dari Kibar, Lidya memberanikan diri menggalang para wanita developer aplikasi dari seluruh Nusantara. Tujuannya sederhana, yaitu menyediakan wadah bagi para srikandi bidang teknologi ini agar saling mengenal antara satu dan yang lainnya sehingga tak merasa sendiri.

Bertemu dan tambah ilmu

Lebih dari sekedar wadah, FemaleDev turut memfasilitasi anggotanya dengan berbagai pelatihan alias workshop yang dipandu oleh mentor berpengalaman. Materi yang diajarkan mencakup programming hingga cara berbisnis atau entrepreneurship.

Sejak pertama diadakan pada 2 Februari 2013, workshop FemaleDev telah terselenggara sebanyak lebih dari 20 kali di 9 kota besar seperti tersebut di atas, dengan jumlah  pendaftar mencapai lebih dari 800. Umumnya, para peserta merasa senang karena bisa saling bertemu dengan sesama perempuan developer dan belajar ilmu-ilmu baru.

Ambillah Ifa, misalnya, mahasiswi IT di Universitas Gunadarma ini mengaku bangga bisa bertemu dengan teman-temannya, para cewek developer dari berbagai daerah. “Sebelumnya saya tidak tahu bahwa ada sebanyak ini, karena umumnya yang ditemui sehari-hari hanya sedikit,” ujar dia.

oik yusuf/ kompas.com
Stella, perwakilan anggota FemaleDev dari kota Pontianak mencoba kacamata pintar Google Glass

Lain lagi pengalaman Osiany, mahasiswi Teknik Kependidikan Informatika dari Univeristas Negeri Yogyakarta. Dia merasa terbantu dengan hands-on workshop FemaleDev yang banyak menyentuh teknologi terkini macam HTML5, AngularJS, hingga Google Maps API. Ini dinilainya lebih maju dibanding apa yang didapat di institusi pendidikan formal tempatnya belajar.

Bahkan, di pertemuan hari Sabtu itu, para perwakilan FemaleDev bisa menjajal Google Glass. Gadget canggih tersebut dibawa oleh Ivan Yudhi, orang Indonesia yang bekerja di Amerika Serikat. Ivan tergabung dalam komunitas Glass Explorer, yakni para pemilik versi beta dari kacamata pintar tersebut yang sekaligus berperan memberikan masukan mengenai perangkat itu pada Google. Nantinya, kacamata pintar ini akan turut dihadirkan secara permanen untuk keperluan pengembangan aplikasi bagi developer Indonesia.

Di samping workshop yang diselenggarakan langsung oleh Kibar selaku inisiator FemaleDev, para perempuan anggota organisasi ini juga aktif menggelar workshop sendiri dengan melibatkan kawan-kawan dari daerah lain.

Kartini baru

Seperti Lidya, Chief Executive Kibar Yansen Kamto mengatakan bahwa pihaknya juga menangkap persepsi keliru di kalangan programmer, bahwa perempuan itu tak bisa coding, padahal dalam kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Dia hendak mematahkan anggapan itu dengan mendukung komunitas yang memberdayakan perempuan.

“Ini adalah wadah mereka untuk saling menyokong, menyemangati, mendorong lebih banyak wanita untuk masuk ke dalam dunia teknologi.” ujarnya.

Dengan tergabung di dalam FemaleDev, diharapkan bahwa para wanita anggotanya bisa terus membuktikan diri dengan menciptakan karya yang bermakna, sekaligus memperkuat jaringan di antara mereka.

oik yusuf/ kompas.com Yansen Kamto, Chief Executive Kibar Kreasi Indonesia selaku inisiator FemaleDev

Para anggota FemaleDev sendiri merupakan mahasiswi yang masih aktif kuliah di kampus masing-masing. Menurut Yansen, hal ini sengaja dilakukan karena para developer muda tersebut masih memiliki mindset idealis yang terbuka terhadap kebaikan bersama. “Karena tujuan kita bukan hanya coding, tapi coding for good purpose.”

Yansen berharap FemaleDev dan para perempuan developer akan terus berkembang. Dia menargetkan workshop organisasi ini sudah bisa digelar di 20 kota menjelang akhir tahun 2014. Anggota pun diharapkan bisa semakin banyak dari daerah-daerah lain di seluruh Indonesia.

Melalui kesamaan mimpi dan visi, FemaleDev mengajak para perempuan developer untuk tampil dan mempimpin. “Mereka-mereka inila

January 3, 2014

Riset Perkebunan Diserap Pasar Teknologi Kultur Jaringan Masih Jadi Andalan

 

 

 

 

 
JAKARTA, KOMPAS  Hasil riset perkebunan menarik perhatian industri dan investor. Riset, seperti dilakukan PT Riset Perkebunan Nusantara, terbukti mampu menghasilkan produk-produk yang berpotensi menghasilkan keuntungan dari proses riset yang berongkos tinggi.

PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) menyebarluaskan hasil kegiatan riset untuk memacu produktivitas berbagai komoditas, seperti kakao, kopi, karet, kelapa sawit, tebu, dan teh, serta tanaman pangan lain. Selain untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, komersialisasi hasil riset juga menunjang kegiatan riset dan pengembangan berikutnya.

”Komersialisasi hasil riset di antaranya kami mengajukan penawaran pengalihan hak kekayaan intelektual perlindungan varietas tanaman (PVT) tebu kepada pemerintah. Juga pelepasan varietas baru kakao dan kopi,” kata Direktur Riset dan Pengembangan PT RPN Gede Wibawa, Kamis (2/1), di Bogor.

PT RPN melepas varietas tebu PSJK 922 tahun 2012 dan varietas tebu PSDK 923 tahun 2013. Jenis baru ini menghasilkan gula di atas 10 ton per hektar per tahun, melampaui produktivitas tebu yang sekarang diproduksi di bawah 8 ton per hektar per tahun.

Besarnya penawaran untuk pengalihan hak kekayaan intelektual PVT tebu itu senilai Rp 10 miliar kepada pemerintah. Selanjutnya, pemerintah punya hak memproduksi dan mendistribusikan benih tebu varietas baru tersebut secara massal.

Selain tebu, ada tanaman kopi. ”Hasil riset kopi robusta klon BP 936 akan dilepas tahun 2014. Jenis kopi ini memiliki akar dan batang bawah kuat yang tahan hama nematoda,” kata Gede.

Kopi robusta klon BP 936 diproyeksikan meningkatkan produktivitas kopi.

PT RPN juga akan melepas varietas baru kakao yang tahan hama VSD (vascular streak dieback) yang menyerang pucuk daun. Adapun hasil riset komoditas karet dengan okulasi juvenil dan akar ke bawah ditawarkan untuk meningkatkan pertumbuhan benih karet.

”Akar yang diarahkan tumbuh ke bawah lebih optimal pertumbuhannya daripada yang melingkar di polybag,” kata Gede.

Kelapa kopyor

Hasil riset komoditas perkebunan lain, seperti kelapa kopyor, juga memiliki peluang besar meningkatkan pendapatan masyarakat. Riset kelapa kopyor di bawah Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) dilakukan sejak belasan tahun lalu.

Direktur BPBPI Priyono mengatakan, teknologi pengembangbiakan kelapa kopyor sudah mendapat paten sejak 18 tahun lalu. Namun, kesadaran memproduksi massal baru muncul satu tahun terakhir dengan menggandeng produsen es krim dan investor.

Mereka menanam 400 pohon kelapa kopyor di Cikumpay, Purwakarta. Lalu, ditanam lagi 800 pohon kelapa kopyor di Ciomas, Bogor. ”Tahun ini diperluas lagi dengan 5.000 pohon kelapa kopyor di Ciomas dan Cibodas,” kata Priyono.

Minat industri terhadap produk kelapa kopyor saat ini ternyata sangat tinggi. Produsen es krim jaringan nasional meminta suplai daging buah kelapa kopyor 2 ton per bulan, tetapi masih sulit dipenuhi.

”Bulan Desember 2013, kami hanya mampu mengirim perdana 100 kilogram daging buah kelapa kopyor. Jauh dari jumlah permintaan industri itu,” katanya.

Kelapa kopyor BPBPI ada dua jenis. Jenis kopyor dengan pembuahan eksternal dan jenis pembuahan sendiri (genjah). Jaminan daging buah kopyor kedua jenis itu hampir seratus persen.

BPBPI menggunakan metode kultur jaringan untuk teknik pengembangbiakan kelapa kopyor itu. Akan tetapi, pengembangbiakan benih kelapa kopyor tersebut masih lambat karena dari satu butir kelapa hanya dapat menghasilkan satu individu benih.

Kepala Biro Riset PT RPN Sumaryono mengatakan, benih kelapa kopyor yang banyak beredar di tengah masyarakat saat ini hanya memiliki peluang berhasil 25 persen. Riset terkini memungkinkan benih kelapa kopyor menghasilkan hingga 99 persen buah daging kelapanya benar-benar kopyor. (NAW/GSA)

KOMENTAR
January 1, 2014

Otak Bom Buku Pepi Fernando Doktrin Napi Lain di Nusakambangan

Yang kaya begini harus dieksport ke Guantanamo
Selasa, 31/12/2013 10:47 WIB

 

Andri Haryanto - detikNews

Jakarta - Terpidana terorisme bom buku, Pepi Fernando, dipindahkan dari Lapas Batu ke Lapas Besi, Nusakambangan. Pemindahan tersebut menyusul penilaian pihak lapas yang mencium gelagat mencurigakan yang dilakukan Pepi terhadap napi lainnya.

“Ada indikasi mendoktrin orang-orang di dalam Lapas Batu,” kata Kadiv Pemasyarakatan Kanwil Kemenkum HAM Jateng, Hermawan Yunianto, saat dihubungi wartawan, Selasa (31/12/2013).

Selama di Lapas Batu, kata Hermawan, Pepi terkesan ekslusif. Dia jarang berbaur dengan napi-napi yang ada di Lapas Batu. Dia memiliki kelompok sendiri dalam pergaulan di dalam lapas.

Kelompok yang dibangunnya itu tidak hanya napi-napi terorisme, namun juga napi kejahatan umum lainnya.

“(Doktrin) seperti ajaran terorisme-terorisme pada umumnya, anti pemerintah dan pemerintah dianggap thogut,” kata Hermawan.

Senin (30/12/2013) sekitar pukul 20.00 WIB, sempat terjadi ketegangan antara pihak Lapas Batu dengan sejumlah narapidana. Hal itu buntut dari upaya petugas yang akan memindahkan otak bom buku Pepi Fernando ke Lapas Besi. Kelompok Pepi menolak pemindahan tersebut.

Petugas Lapas akhirnya meminta bantuan Polres Cilacap untuk menangani ketegangan itu. Pepi akhirnya dapat dipindahkan ke Lapas Besi Nusakambangan.

December 27, 2013

BPPT Kembangkan Kapal Rawa untuk Patroli TNI

 

 
Antara, 23 Desember 2013

Patroli untuk perairan pedalaman tidak mungkin menggunakan kapal standar (photo : tomandcarolsykes)

Jakarta (ANTARA News) – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengembangkan kapal rawa untuk operasi patroli keamanan TNI Angkatan Laut di wilayah pedalaman.

“Dibutuhkan sarana pengangkut pasukan untuk perairan pedalaman seperti di aliran sungai, danau, rawa atau daerah kotor lainnya yang tak mungkin dilalui oleh perahu atau kapal standar,” kata Deputi Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT Dr Erzi Agson Gani di Jakarta, Senin.

Menurut dia, prototipe kapal rawa pesanan TNI-AL dan PT Mega Perkasa Engineering (MPE) itu sedang diuji coba.

“Berbeda dengan kapal biasa yang baling-balingnya terendam di air, swamp boat digerakkan oleh mesin berbaling-baling yang berada di atas permukaan air,” katanya. 

Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan dan BPPT juga sedang mengembangkan Pesawat Udara Nir Awak (Puna) Wulung generasi baru (PA7) yang dirancang bisa terbang selama enam jam tanpa henti dengan membawa peralatan keamanan.

Kapal rawa/swamp boat sering juga disebut dengan air boat (photo : nauticexpo)

Erzi memaparkan, pesawat itu adalah pengembangan Puna Wulung PA5 yang sukses pada akhir 2012 dan telah diproduksi PT Dirgantara Indonesia dan PT LEN pada 2013 untuk menjadi bagian dari skuadron TNI Angkatan Udara.

Puna Wulung merupakan satu dari lima jenis Puna rancangan BPPT dan Kementerian Pertahanan yakni Puna Sriti, Puna Alap-alap, Puna Pelatuk, dan Puna Gagak, serta sudah mengacu pada standar kelaikan terbang militer (IMA).

BPPT bersama Pelindo 3 dan konsorsium BUMN juga sedang membangun Automatic Container Transportation (ACT) yang merupakan moda transportasi angkutan kontainer berbasis teknologi monorel, yang teknologi boogie-nya telah dikembangkan BPPT sejak 2006.

“Teknologi ACT ini akan diimplementasikan di Pelabuhan Teluk Lamong Surabaya. Dalam kaitan dengan ini kami sedang merancang test track monorail di Puspiptek Serpong,” tambahnya.

(Antara)

December 22, 2013

Indonesia Harus Buat Simulator Sukhoi Sendiri

  

Tempo.co 21 Desember 2013

Simulator pesawat tempur Sukhoi (photo : Marina Lystseva)

TEMPO.CO, Bandung -Direktur Teknologi Dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia Andi Alisjahbana menyarankan pemerintah agar tidak membeli simulator pesawat tempur Sukhoi dari luar negeri. “Full Mission Simulator banyak berisi pelatihan-pelatihan menjalankan misi pesawat tempur, dan banyak yang bersifat universal tapi juga di dalamnya adalah doktrin tempur TNI AU,” kata dia dalam surat elektroniknya pada Tempo, Jumat, 20 Desember 2013.

Menurut Andi, semua negara pengguna pesawat tempur Sukhoi memilih membuat sendiri simulator kemudinya, dengan pertimbangan untuk melindungi rahasia negaranya. Contohnya,  China dan Malaysia yang membuat sendiri simulator kemudi pesawat tempur buatan Rusia itu.

Andi menjelaskan, simulator kemudian untuk pesawat tempur berbeda dengan simulator untuk pesawat sipil. Simulasi kemudi pesawat sipil hanyalah Flight Simulator yang digunakan oleh umumnya sekolah penerbangan. 

Flight Simulator dirancang, selain melatih keahlian terbang dan mengemudikan pesawat, juga untuk melatih pilot menghadapai keadaan darurat yang tidaklah mungkin di lakukan di pesawat aslinya seperti kerusakan mesin, rusaknya alat navigasi, hingga pendaratan darurat. 

“Pilot akan dilatih menggunakan Flight Simulator pada kondisi kondisi ini, maka pilot langsung tahu langkah-langkah yang harus diambil,” ucap Andi

Simulator pesawat tempur punya prinsip yang sama. Hanya bedanya pesawat tempur punya tujuan menjalankan misi perang. Pesawat tempur juga dilengkapi dengan senjata seperti rudal dan radar untuk kepentingan tempur, yang pemakaiannya punya prosedur tertentu. “Simulator pesawat tempur memiliki cakupan jauh lebih luas dari Flight Simulator, karena itu disebut Full Mission Simulator (FSM),” kata Andi.

Piranti Full Mission Simulator juga dapat diprogram untuk menghadapi pesawat musuh yang spesifik hanya dengan memprogramkan data penerbangan dan manuver pesawat tempur musuh tersebut. 

Dengan cakupan latihan pilot pesawat tempur dengan piranti kendali simulasi itu, Full Mission Simulator menyimpan data diantaranya prosedur saat pesawat tempur bertemu musuh mulai  hingga prosedur melakukan pengejaran pesawat musuh, termasuk pelepasan senjata untuk melumpuhkan musuh. “Ini semuanya merupakan rahasia negara,” kata Andi.

Andi mengatakan, dengan alasan itu, pemerintah disarankan membuat simulator Sukhoi itu di dalam negeri. “Nilai strategisnya sudah sangat jelas dan juga dilindungi dalam UU Nomor 16/2012 mengenai Industri Pertahanan Nasional,” kata dia.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiaantoro mengungkapkan rencana pemerintah membeli simulator kemudi pesawat tempur buatan Rusia, Sukhoi SU-27 dan SU-30.   Kementerian Pertahanan tengah memilah produsen simulator Sukhoi tersebut sebab ada 3 negara yang bisa memproduksinya,  yakni Rusia, China, dan Kazakhstan. 

“Kami masih pikirkan mana yang lebih cocok,” kata Purnomo pada wartawan di kantornya di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, 16 Desember 2013.

Dewan Perwkilan Rakyat mendukung rencana Kementerian Pertahanan membeli simulator Sukhoi. Wakil Ketua Komisi Pertahanan DPR Tubagus Hasanuddin mengatakan, pembelian simulator tersebut sudah dibicarakan sejak 2 tahun lalu untuk melengkapi skuadron Sukhoi.  “DPR menilai Indonesia belum mampu memproduksi simulator sendiri,” kata dia ketika dihubungi Tempo, Senin malam, 16 Desember 2013.

December 19, 2013

Jurus Baru Menembus Industri

 

Oleh: Yuni Ikawati 0 KOMENTAR FACEBOOKTWITTER 

 

 

 

 
LEMBAGA penelitian di Indonesia masih menghadapi masalah klasik, yakni kebuntuan diseminasi hasil riset ilmu pengetahuan dan teknologi ke industri. Berbagai upaya ditempuh untuk menggandeng industri, tetapi tak berjalan. Kini dirintis jurus baru untuk memasukkan hasil riset ke industri.

Lembaga penelitian sesungguhnya telah lama ada di Indonesia, bahkan sebelum negeri ini merdeka. Pada masa kolonial Belanda pernah berdiri Veeartsenijkundig Laboratorium (1908) yang kini menjadi Balai Besar Penelitian Veteriner, Geneeskundig Laboratorium (1888) yang berubah menjadi Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Dienst van het Mijnwezen (1850) yang kini bernama Badan Geologi, serta Besoekisch Proefstation (1911), cikal bakal Pusat Penelitian Kopi dan Kakao di Jember.

Pendirian laboratorium dan lembaga riset itu dirintis para periset dari Belanda, salah satunya Christiaan Eijkman, peraih penghargaan Nobel bidang fisiologi atau kedokteran tahun 1929. Mereka mengemban misi menginventarisasi sumber daya alam untuk dimanfaatkan bagi tujuan eksploitasi. Karena itu, berkembang perkebunan kopi dan kakao, tebu, karet, dan teh hingga ke tahap industri.

Pada masa kemerdekaan, semua lembaga dan industri dinasionalisasi. Namun, pengambilalihan tidak dibarengi dengan transfer teknologi.

Upaya penguasaan iptek untuk berkiprah di lembaga riset dan industri pada masa pemerintahan Soekarno dan Soeharto ditempuh lewat program beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke berbagai negara maju. Namun, proses itu tak mencapai target.

Lembaga riset dan industri strategis yang dirintis Soeharto, yang diharapkan dapat menjadi lokomotif pendorong industri dan ekonomi nasional, mengalami masa surut. Di sisi lain, industri yang umumnya milik asing di Indonesia tak memiliki keterikatan dan tak terjangkau lembaga riset Indonesia.

Setelah sekian lama terpuruk, kini dirintis upaya menjembatani lembaga riset dan industri. Hal ini untuk meningkatkan daya saing menghadapi Perdagangan Bebas ASEAN 2015.

Strategi baru

Kementerian Riset dan Teknologi meninjau ulang konsep triple helix, keterikatan akademisi, pebisnis, dan pemerintah (ABG) yang diterapkan sejak tahun 2004. Konsep ABG untuk meningkatkan daya saing industri berbasis iptek. Untuk memajukan industri dilibatkan komunitas iptek sehingga terbentuk sinergitas ABGC (Academic, Businessmen, Government, and Community).

Dari kerja sama itu terbentuk konsorsium untuk menghasilkan produk unggulan. Sejak tahun 2012 terbentuk antara lain Konsorsium Roket Nasional, Konsorsium Riset Vaksin, Konsorsium Mobil, Konsorsium Fuel Cell, Konsorsium Nanoteknologi, dan Konsorsium Mobil Listrik. Konsorsium Roket Indonesia menghimpun 14 pihak terkait dari sejumlah kementerian, lembaga riset, industri strategis, dan perguruan tinggi.

Untuk mendorong hasil riset masuk ke industri, Kementerian Riset dan Teknologi mulai tahun 2013 mengubah proses seleksi program insentif riset. Fokusnya pada usulan riset hilir yang dapat diterapkan di industri.

Hal sama dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang menggunakan peranti Teknometer untuk melihat tingkat kesiapan produk teknologi digulirkan ke industri. Teknometer akan menunjukkan skala prioritas kegiatan riset yang berprospek baik untuk diterapkan di industri.

Hanya usulan riset yang masuk kategori riset pengembangan yang didanai. Dengan Teknometer, ada penghematan anggaran riset iptek signifikan.

”Satu kegiatan riset bisa memerlukan lebih dari Rp 1 miliar per tahun,” kata Direktur Pusat Pengkajian Kebijakan Difusi Teknologi BPPT Asep Husni Yasin Rosadi.

Keterbatasan anggaran pemerintah dan kurangnya sinergi lembaga riset mulai diatasi Dewan Riset Nasional (DRN). Menurut Sekretaris DRN Iding Chaidir, untuk mencapai keterpaduan kegiatan riset iptek di lembaga penelitian nonkementerian (LPNK), litbang kementerian, perguruan tinggi, dan swasta akan dilakukan harmonisasi peraturan.

Selama ini, Kementerian Riset dan Teknologi serta LPNK menggunakan instrumen Kebijakan Strategis Nasional berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2003. Litbang kementerian menggunakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional yang diatur keppres tahun 2005. Lembaga riset mengajukan usulan program sendiri-sendiri ke Bappenas.

Mulai tahun 2014, perencanaan riset di lembaga riset perintah, swasta, dan perguruan tinggi akan menggunakan substansi hukum sama. Akan dilakukan koordinasi dalam lingkup nasional mengacu Agenda Riset Nasional tahun 2015-2019. Dengan demikian, akan terbentuk kebijakan satu pintu dalam program maupun penganggaran.

Pada diskusi yang diselenggarakan DRN pekan lalu, instansi terkait, yaitu Bappenas, Kementerian BUMN, dan Kementerian Ristek, sepakat memasukkan perencanaan riset iptek dalam siklus perencanaan pembangunan nasional di Bappenas. ”DRN bertugas memandu dan mengevaluasi kegiatan riset yang direncanakan lima tahun ke depan,” ujar Iding.

Tahun 2014 merupakan tahun pergantian pemerintahan. Ini merupakan masa krusial bagi keberlanjutan riset yang tengah berjalan. Pengalaman sebelumnya menunjukkan pergantian pemerintah bisa berdampak pada perubahan kebijakan.

Persiapan bagi bangsa ini semakin sempit untuk mendongkrak daya saing. Hanya dalam waktu kurang dari setahun Indonesia memasuki era pasar bebas ASEAN. Kita berharap, pimpinan pemerintah yang baru dapat membawa bangsa ini berdaya saing tinggi, maju, dan sejahtera.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 75 other followers