Archive for ‘Indonesia techno research education news’

March 5, 2014

Pemerintah akan Danai Rp 600 Miliar Proyek Pembuatan ‘Adik’ Pesawat N250

 


 

 
04 Maret 2014

Prototipe pesawat N250 buatan PT DI (photo : Tempo)

Jakarta -Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) siap mengembangkan pesawat perintis jenis terbaru yaitu N245. LAPAN akan mengeluarkan anggaran hingga Rp 600 miliar untuk membuat dan mengembangkan pesawat ini.

Pesawat dengan tingkat jelajah jauh lebih besar dari N219 ini, nantinya dapat mengangkut jumlah penumpang hingga 45 orang. Sebelumnya Mantan Menristek BJ Habibie sempat membuat beberapa prototipe pesawat N250 dengan kapasitas 50 orang penumpang.

“Anggarannya besaran kita perkirakan nggak terlalu beda dari pesawat N219. Barangkali harga mesin saja yang beda. Kalau sekarang dengan proyek N219 sebesar Rp 400 miliar dapat 2 pesawat mungkin N245 ini kalau kita coba bikin sekitar 1,5 lebih tinggi atau sekitar Rp 500 hingga Rp 600 miliar,” kata Kepala Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN Gunawan S Prabowo kepada detikFinance, Senin (3/3/2014).

Menurutnya pesawat N245 adalah proses pengembangan dari pesawat sebelumnya yang sudah ada yaitu CN235. Hanya saja tim ahli LAPAN dibantu PT Dirgantara Indonesia (PT DI) nantinya akan memodifikasi di bagian ekor pesawat. Dengan adanya modifikasi tersebut jumlah penumpang bisa bertambah sebanyak 10 orang menjadi 45 orang. Pesawat CN235 hanya dapat menampung 35 penumpang.

“Sebetulnya pesawat jenis ini hanya pengembangan N-235. Hanya di belakang sayap itu pakai pintu belakang ternyata kalau dikonversi bisa menambah tempat duduk sebanyak 10 orang,” imbuhnya.

Ditargetkan pesawat N245 mulai dilakukan pengembangan pada awal tahun 2017 dan rampung di tahun 2020. Spesifikasi pesawat sepenuhnya dibuat di dalam negeri hanya mesin pesawat masih diimpor dari negara lain. Mesin yang akan digunakan pesawat N245 mempunyai daya jelajah lebih tinggi dan cepat dibandingkan N219 dan CN235. 

Sehingga diharapkan dengan adanya pesawat N245 pihak maskapai penerbangan nasional dapat membeli produk pesawat buatan anak bangsa ini. Apalagi di era sekarang bisnis penerbangan perintis sedang naik daun.

“Pasar penerbangan perintis semakin besar lalu membangkitkan kembali industri pesawat lokal. N245 dengan jelajah lebih tinggi nantinya diharapkan dapat digunakan oleh perusahaan Airlines kita,” jelasnya.

Saat ini PT DI dan LAPAN sedang mengerjakan proyek N219 yang targetnya bisa mengudara dan mulai dikembangkan secara massal di 2016.

(Detik)

February 28, 2014

Setelah N219, PT DI dan Lapan Bakal Bikin N245 dan N270

 

 
26 Februari 2014

Meskipun N219 belum selesai, Lapan telah siap untuk mengembangkan pesawat N245 dan N270 (photo : Runway)

Merdeka.com – PT Dirgantara Indonesia (PT DI) makin berambisi mengembangkan dan membuat pesawat produksi dalam negeri. Walau sertifikasi untuk pesawat N219 belum tuntas, PT DI sudah menyampaikan ambisinya mengembangkan pesawat N245 dan N270.

Deputi Bidang Teknologi Lapan, Soewarto Hardhienata mengatakan, dalam pengembangan pesawat ini, Lapan akan membantu pembiayaan dengan timbal balik SDM bidang mesin yang dimiliki Lapan akan bekerja di PT DI.

“Program ini anugerah besar sekaligus merupakan tantangan, taruhan. Kalau ini jalan mulus maka pemerintah dan masyarakat akan percaya kepada kita, menjalani penerbangan selanjutnya,” ucap Soewarto di kantor pusat Lapan, Jakarta, Selasa (25/2).

Pesawat N245 merupakan pesawat dengan dua engine (mesin) dengan kapasitas angkut 45 penumpang. Sedangkan N270 merupakan pesawat dua mesin dan punya daya angkut lebih besar yakni 70 penumpang. Pengembangan dua pesawat ini rencananya dilakukan pada 2017.

“Sekarang belum ada anggaran, mungkin pertengahan 2016 kita ajukan. Pengembangan setelah selesai sertifikasi N219 (2016),” tegasnya.

Kepala Pusat Teknologi Penerbangan Lapan Gunawam Setyo Prabowo menambahkan, kerja sama pengembangan pesawat N245 dan N270 dengan PT DI akan sama dengan pengembangan N219.

“Mirip seperti ini dan setelah N 219 selesai. Kita ikut pengembangan sampai sertfikasi dengan memasukkan enginer kita. Kita ikut dalam model perencanaan,” tutupnya.

(Merdeka)

February 26, 2014

Indonesia Segera Miliki Rudal Penangkis Serangan Udara Buatan Sendiri

 

 Sudah saatnya  mandiri !
(Liputan6) 25 Februari 2014

Riset propelan akan memungkinkan Indonesia untuk membuat rudal sendiri dalam 2-3 tahun ke depan (photo : Defense Studies)

Liputan6.com, Jakarta : Perang di era modern tak lagi saling berhadapan. Tapi melibatkan persenjataan canggih, termasuk rudal. Sekali tembak, nyawa ribuan orang di posisi target, yang jauhnya ratusan hingga ribuan kilometer, niscaya terancam.

Maka dari itu, rudal penangkal sebagai sistem pertahanan alternatif, menjadi wajib dimiliki. Saat ini, TNI Angkatan Udara, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), dan PT Dahana, sedang mengembangkan rudal Penangkis Serangan Udara (PSU) jarak sedang. Senjata anti-rudal ini akan dikembangkan dari roket-roket yang telah berhasil dibuat Lapan.

Lapan telah berhasil meluncurkan beberapa tipe roket seperti RX-420 yang memiliki daya jangkau di atas 100 km. Lapan juga sedang mengembangkan roket berdaya jangkau 200 km lebih yaitu RX-550.

“Iya dari pengembangan roket Lapan sebelumnya. Mereka sudah berhasil, peluncurannya sudah lurus. Cuman isiannya, pendorongnya itu masih dikembangkan terus,” ucap Kadispen TNI AU Marsekal Pertama (Marsma) Hadi Tjahjanto saat dihubungi, Jakarta, Selasa (25/02/2014).

Hadi menambahkan, saat ini permasalahan untuk rudal penangkis udara terjadi pada propelannya. Rencananya beberapa tahun ke depan propelan ini sudah bisa diperbaiki dan dilakukan uji coba kembali.

“2 atau 3 tahun ke depan isiannya atau propelannya itu sudah ditemukan akan dibuat uji coba lagi. Kalau memang bagus akan ditawarkan pada BUMN atau Bumnis (Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis),” imbuh pria berkumis ini.

Apakah pengembangan ini untuk rudal jarak sedang atau jauh? “Nanti kalau propelannya itu sudah teruji tinggal isiannya mau dibuat jarak sedang atau jauh. Kalau nama rudal nunggu sudah jadi baru dari BUMN dengan Kemenhan yang nanti ngasih nama rudalnya,” jawab Hadi.

Saat ini TNI AU hanya memiliki PSU yang aktif dari kelas jarak pendek seperti Oerlikon, Starstrek, VL Mica dan lain-lain. Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia menuturkan saat ini pihaknya sedang menjajaki PSU untuk jarak sedang. Rencana ini akan disusun di Minimum Esential Force (MEF) rentra kedua (2015-2019).

“Untuk 10 sampai 100 km itu perlu kendali jarak sedang, sekarang kita lagi diproses. Mudah-mudahan segera melengkapi sistem pertahanan kita,” kata Putu saat menerima 16 unit pesawat T-50i dari Korea Aerospace Industry (KAI) di Lanud Halim Perdakusuma, Jakarta Timur, Kamis 13 Februari 2014.

February 17, 2014

Soal Penjiplakan tulisan

Guru/ Dosen gemar jiplak dan plagiat murid doyan nyontek. Mutu pendidikan Indonesia busuk, generasi mendatang apa jadinya ??
 
 
Senin, 17/02/2014 15:26 WIB

Soal Penjiplakan Tulisan Opini, Anggito: Saya Khilaf

 

Bagus Kurniawan – detikNews

 
 

Yogyakarta – Anggito Abimanyu staf pengajar Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) mengakui khilaf telah melakukan penjiplakan tulisan opini yang dimuat di harian Kompas 10 Fabruari 2014 lalu. Dia pun menyatakan mundur sebagai staf pengajar di UGM dan mengakui telah khilaf.

“Saya akui, saya khilaf,” jawab Anggito saat menjawab pertanyaan wartawan di UC Resto kompleks Bulaksumur, Yogyakarta, Senin (17/2/2014).

Dia membantah bila tulisan itu adalah tulisan orang lain atau asistennya yang bertugas sebagai ghost writter. Dia mengatakan yang mengirim tulisan ke harian Kompas adalah dirinya sendiri atau tidak ada orang lain.

“Saya tegas seperti di poin 2, telah terjadi kesalahan pengutipan referensi dalam sebuah folder di komputer pribadi,” katanya.

Anggito mengatakan dalam kasus ini dirinya menyerahkan sepenuhnya kepada UGM. Dirinya akan mematuhi semua ketentuan dari UGM setelah SA UGM akan bekerja menelaah.

“Saya akan patuh kepada UGM. Meski saya banyak kerjaan tapi saya akan patuhi semuanya. Saya akan hadir bila diundang atau memerlukan keterangan dari saya. Bagi saya, UGM adalah universitas yang baik,” katanya.

Dia mengatakan tidak akan mengganggu proses yang berjalan di rektorat terutama saat SA UGM bekerja. “Bagi saya kejujuran tidak bisa dikompromikan. Saya juga menyampaikan mohon maaf kepada teman-teman di FEB UGM,” katanya.

Anggito sengaja hadir hari ini dari Jakarta setelah menempuh perjalanan dengan pesawat ke Semarang, kemudian dilanjut jalan darat dari Semarang menuju Yogya. Saat bertemu dengan wartawan, sejumlah dosen di FEB UGM juga turut hadir. Mantan Dekan FEB Prof Dr Nopirin juga hadir.

“Proses yang berlaku atau yang dilakukan oleh komisi etik dan senat Akademik seperti ini,” ungkap Nopirin.

 

+++++++++

 

SELASA, 18 FEBRUARI 2014 | 18:18 WIB

8 Kasus Plagiat yang Menghebohkan Indonesia

8 Kasus Plagiat yang Menghebohkan Indonesia

Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari memberikan kesaksian untuk terdakwa Rustam Pakaya di Pengadilan Tipikor, Jakarta, (9/10). ANTARA/Puspa Perwitasari

 

TEMPO.COJakarta – Anggito Abimanyu menyatakan mundur sebagai dosen Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada pada Senin, 17 Februari 2014. Langkah ini ia ambil di tengah tudingan plagiarisme yang menunjuk ke arahnya. Anggito mengaku keliru mencantumkan referensi dalam karya tulisnya, tapi ia menyangkal telah menjiplak tulisan Hotbonar Sinaga di harian Kompas.

Jauh sebelum tuduhan plagiarisme mendera Anggito, sejumlah tokoh terkenal sempat terbelit tudingan serupa. Berikut ini daftarnya.

1. Chairil Anwar (1949)
Penyair Chairil Anwar pernah dituduh menjiplak karya tulis. Tak tanggung-tanggung, yang menuduh Hans Bague Jassin melalui tulisannya di Mimbar Indonesia berjudul Karya Asli, Saduran, dan Plagiat membahas puisi Kerawang-Bekasi. Kritikus sastra yang juga bergelar Paus Sastra Indonesia itu membandingkan puisi Chairil dengan The Dead Young Soldiers karya Archibald MacLeish, penyair Amerika Serikat.

Jassin tidak menyalahkan Chairil. Menurut dia, meskipun mirip, tetap ada rasa Chairil di dalamnya. Sedangkan sajak MacLeish, menurut Jassin, hanyalah katalisator penciptaan. Namun tanggapan Chairil bisa berbeda, apalagi Jassin menyebut tindakan Chairil meniru sajak MacLeish karena butuh uang untuk biaya berobat ke dokter. Ketegangan mereka sempat memuncak pada suatu acara di Gedung Kesenian Jakarta. Chairil dan Jassin sempat berkelahi.

2. Yahya Muhaimin (1992)
Ismet Fanany, ahli pendidikan asal Batusangkar, Sumatera Barat, yang bermukim di Amerika Serikat menerbitkan buku tentang plagiat. Buku terbitan CV Haji Masagung Jakarta itu berjudulPlagiat-Plagiat. Isinya tentang plagiat Yahya Muhaimin. Disertasi Yahya dituduh menjiplak tulisan beberapa ahli. The Politics of Client Businessmen, disertasi Yahya yang dipertahankan di MIT Cambridge, Amerika Serikat, 1982, dibandingkan dengan Capitalism and The Bureaucratic State in Indonesia: 1965-1975, judul asli tesis Robison di Universitas Sydney 1977.

Menurut Ismet, kemiripan itu baru satu sumber. Masih banyak lagi kemiripan dengan artikel lain. Yahya sendiri kepada Tempo menjelaskan, “Mungkin dia memakai standar plagiat yang berbeda dengan yang saya anut.” Dia mengakui disertasinya mengutip banyak fakta dan pendapat sejumlah ahli yang memang disebut Fanany. “Tapi saya mencantumkan sumbernya,” kata Yahya. Atas tudingan Fanany itu, Yahya tak berpikir menyerang balik

 

3. Amir Santoso (1979)
Ia dituduh membajak karya tulis ilmiah dari berbagai kalangan, bahkan dari kalangan mahasiswanya sendiri. Amir juga mencaplok karya intelektual pakar lain. Apa yang dilakukan Amir Santoso itu dalam rangka mencapai gelar profesor (guru besar Universitas Indonesia).

4. I Made Kartawan (Desember 2008)
Dosen Institut Seni Indonesia Denpasar, I Made Kartawan, dituduh menjiplak. Tesis Kartawan pada 2003 yang berjudul Keragaman Laras Gong Kebyar di Bali sama persis dengan laporan penelitian berjudul Keragaman Laras (Tuning Systems) Gambelan Gong Kebyar hasil penelitian Prof Bandem, Prof Rai, Andrew Toth, dan Nengah Suarditha yang dilakukan pada 1999 dari Universitas Udayana.

5. Ade Juhana (Januari 2010)
Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati itu menyelesaikan tesis doktornya dengan membajak tesis Prof Dr H.M.A. Tihami, MA, Rektor Institut Agama Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin, Banten, dan buku Mohamad Hudaeri M.A., dosen dan Ketua Lembaga Penelitian IAIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten. Sayangnya, ini hanya laporan surat pembaca di 
harian Kompas, jadi tidak terdengar kelanjutan kasusnya.

6. Anak Agung Banyu Perwita (Februari 2010)
Anak Agung Banyu Perwita, profesor Universitas Katolik Parahyangan, dituding menjiplak dalam artikelnya yang dimuat di harian nasional, The Jakarta Post. Harian itu menilai tulisan Banyu telah menjiplak sebuah jurnal ilmiah di Australia yang ditulis Carl Ungerer. Rapat senat Universitas yang berlangsung enam jam akhirnya memutuskan untuk mencopot seluruh jabatan guru besar bidang hubungan internasional Universitas Parahyangan itu. Banyu Perwita memilih mengundurkan diri.

7. Heri Ahmad Sukria (Juli 2010)
Dosen Institut Pertanian Bogor, Heri Ahmad Sukria, disomasi Jasmal A. Syamsu dari Universitas Hasanuddin, Sulawesi Selatan. Somasi dilayangkan terkait dengan dugaan plagiarisme buku berjudul Sumber dan Ketersediaan Bahan Baku Pakan di Indonesia. Buku tersebut diterbitkan IPB Press dengan penulis Heri Ahmad dan Rantan Krisnan. Menurut sang Profesor, terdapat tulisan dan data yang diambil dari artikelnya.

8. Siti Fadilah Supari (2004)
Menteri Kesehatan ini pernah dituduh melakukan plagiat. Ketika itu Fadilah menyajikan seminar berjudul Cholesterol-Lowering Effect of Soluble Fibre as an adjunct to Low Calories Indonesian Diet in Patients with Hypercholesterolamia di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta, 29 Oktober 2002. Apa yang dia sajikan mirip dengan karya James W. Anderson berjudul Long-term Cholesterol Lowering Effect of Psyllium as An Adjunct to Diet Therapy in The Treatment of Hypercholesterolamia, yang dimuat di American Journal of Clinical Nutrition volume 71 tahun 2000.

“Saya tahu, kok, batasan plagiat,” kata sang Menteri, berkilah. Plagiat, menurut Fadilah, terjadi apabila makalah yang dipersoalkan dimuat di majalah atau jurnal ilmiah. “Ini kan tidak. Saya hanya mempresentasikan di hadapan sejumlah dokter dan kalangan awam.”

 

 

February 10, 2014

Program KFX/IFX Dilanjutkan : Lebih Unggul dari Su-35

 

Majalah ANGKASA, 07 Februari 2014

KFX seri 103 tanpa canard (photo : heraldcorp)

Program KFX/IFX dihentikan sementara oleh pemimpin baru Korea Park Geun-Hye akhir 2012 setelah meninjau kondisi finansial di negaranya. Proyek prestisius ini digarap sejak awal 2011, tak lama setelah Presiden Lee Myung-bak dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengukuhkan kerjasama bilateral di bidang pertahanan di Jakarta. Dari Fase Technology Development yang telah dituntaskan, tim ilmuwan telah menyelesaikan sejumlah desain yang yang kemudian mengerucut menjadi dua.

Kedua desain itu adalah model jet tempur siluman peraih keunggulan udara bermesin ganda dengan horizontal-tails di belakang, dan satunya lagi dengan canards di depan. “Masing-masing punya konsekuensi pembiayaan dan mitra kerja berbeda. Maka, memang harus diputuskan lebih dulu mana yang dipilih. Ini penting agar manakala dilanjutkan, semua pihak siap mengerjakannya,” tegas Dr Rais Zain, M.Eng, KFX/IFX Configuration Design Leader yang sehari-hari dosen di Fakultas Teknik Mesin Dirgantara, ITB, Bandung.

Seperti dikemukakan Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin, parlemen Korea telah menyiapkan 20 juta dolar AS (sementara, Indonesia : 5 juta dolar) untuk melanjutkan program ini pada 2015. Saat itu, tim akan masuk ke Fase Engineering Manufacturing Development. Selain harus memiliki mesin dengan tenaga dorong tinggi agar mampu bertarung di udara, pesawat juga harus memiliki persenjataan yang disimpan di dalam internal weapon bay, data-link yang mampu mengacak komunikasi, radar advanced pemilih sasaran, dan perangkat anti-jamming.

KFX tipe E dengan satu mesin (photo : heraldcorp)

Prototipe diharapkan selesai pada akhir Renstra II. Kalau pun ada hal yang perlu dikritisi, itu adalah soal operation requirement yang lebih banyak ditentukan pihak AU Korea. Hal ini tak bisa dielakkan karena Korea menanggung 80 persen pendanaan, dan negeri ini benar-benar memiliki musuh yang nyata.

Program ini ditargetkan menelurkan jet tempur dengan performa yang sepadan atau lebih unggul dari jet tempur lawan yang di antaranya adalah Sukhoi Su-35.

Prasyarat tersebut dengan sendirinya mengeliminir desain tandingan yang diajukan KAI (Korean Aerospace Industrie) baru-baru ini, alih-alih untuk memangkas biaya pengembangan yang kelewat besar. Dalam konfigurasinya (lihat Angkasa, Desember 2013), tampak KFX tipe E ini hanyai ditenagai satu mesin dengan persenjataan di luar yang rawan sapuan radar lawan.

Angkasa mencermati kekaguman ADD (Agency for Defence Development, Balitbang Pertahanan Korea) yang disampaikan kepada tim enjinir Indonesia. Awalnya, pihak Korea memang sempat menganggap tim Indonesia tak mengerti soal perancangan jet tempur. Namun, anggapan itu berbalik ketika enjinir Indonesia mulai memaparkan desain dan berbagai masukan terhadap desain Korea. Pihak Indonesia pulalah yang akhirnya memastikan bahwa pesawat harus memiliki berat tinggal landas sebesar 50.000 pound.

(Angkasa)

February 4, 2014

LAPAN Sukses Terbangkan Pesawat Pengamat LSA-01

01 FEBRUARI 2014


 

 
01 Februari 2014

Pilot melakukan uji terbang perdana pesawat LSA di lapangan terbang BBKFP Ditjen Perhubungan Udara. (all photos : Lapan)

LSA-01 Mampu Pantau Wilayah Indonesia

Kini, Indonesia memiliki Pesawat Pengamat Wilayah. Lapan bekerja sama dengan Universitas Berlin, Jerman, berhasil mengembangkan pesawat pengamat yakni Lapan Surveillance Aircraft (PK-LSA01). Pesawat ini menjadi bagian pemanfaatan untuk kepentingan memotret wilayah di Indonesia. Selasa (28/1), Kepala Lapan, Bambang S. Tejasukmana meresmikan Pesawat LSA di Balai Besar Kalibrasi Fasilitas Penerbangan (BBKFP) Ditjen Perhubungan Udara, Curug, Tangerang.

Program pesawat LSA ini merupakan bagian dari program utama Pusat Teknologi Penerbangan (Pustekbang) Lapan. Selain LSA, Pustekbang juga memiliki program pengembangan pesawat tanpa awak (Lapan Surveillance UAV – LSU) dan program pengembangan pesawat transport nasional (N-219).

Pesawat LSA memiliki beberapa misi yakni akurasi citra satelit, verifikasi dan validasi citra satelit, monitoring produksi pertanian, aerial photogrammetry, pemantauan, pemetaan banjir, deteksi kebakaran, search and rescue (SAR), pemantauan perbatasan dan kehutanan, serta pemetaan tata kota.

Misi pesawat LSA ini dapat memperkuat sistem pemantauan nasional. Indonesia yang berpulau ini sangat memerlukan sistem pemantauan wilayah. Selain menggunakan teknologi satelit, diperlukan pula sistem pemantauan yang lebih impresif dengan menggunakan pesawat terbang. LSA tersebut sekaligus memperkuat penguasaan teknologi terbaru pesawat terbang. 

Pesawat LSA ini juga mampu mengakurasikan data dari foto citra satelit dengan resolusi tinggi yang telah digabung dengan satelit-satelit lain, dan mampu konfirmasi ulang langsung di lapangan secara acak. Dengan kemampuan terbang non-stop selama 6-8 jam, jangkauan tempuh 1.300 kilometer, dan dapat membawa muatan hingga 160 kg, LSA ini berpotensi untuk melakukan patroli sistem kelautan di Indonesia.

Dalam peresmian LSA, Kepala Lapan menargetkan selama lima tahun ke depan, pesawat ini dapat memiliki fungsi autonomous. Menurut ia, keuntungan sistem autonomous selain dapat bermanuver secara otomatis, kualitas dalam menjalankan misi surveillance dapat lebih presisi, efisien, dan efektif. “Dalam skema prosesnya, awalnya pesawat ini masih dikendalikan oleh pilot untuk lepas landas dan mendarat. Dan setelah mengudara, sistem autonomous ini akan aktif sehingga tidak memerlukan kendali dari pilot. Namun, jika ada hal yang tingkat urgensitasnya tinggi, pilot dapat mengintervensi,” ujarnya.

Saat ini pesawat telah siap dan sudah melakukan tes penerbangan perdana (flight test), ia berharap pesawat ini dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk kebutuhan surveillance di Indonesia.

(Lapan)

January 16, 2014

Peluncuran Satelit LAPAN-A2 Diprediksi Molor

KAMIS, 16 JANUARI 2014 | 16:34 WIB

 

Peluncuran Satelit LAPAN-A2 Diprediksi Molor

Purwarupa Satelit Lapan A2 di Pusat Teknologi Satelit Lembaga Penerbangan & Antariksa Nasional (LAPAN) di Jalan Cagak Satelit, Ranca Bungur, JBogor awa Barat, Jumat (31/8). Jika sebelumnya pembangunan Lapan Tubsat dilakukan di Technische Universitat Berlin, Jerman, maka untuk penggarapan Lapan A2 sepenuhnya dilakukan di Pusat Teknologi Satelit Lapan di Rancabungur. TEMPO/Subekti

 

 

TEMPO.COJakarta – Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) masih harus sabar menunggu peluncuran satelit Indonesia Lapan-A2 dari India. Peluncuran satelit yang dijadwalkan sekitar April-Mei tahun ini diperkirakan molor.

“Jadwalnya sih April-Mei, tapi India yang susah dan kami belum dapat tanggal pasti. Jadi kami masih menunggu tanggal pasti dari India,” kata Kepala Lapan Bambang S. Tejasukmana usai penyerahan data penginderaan jauh kepada kementerian di kantor Lapan, Rabu 15 Januari 2014.

Ia menjelaskan, molornya jadwal peluncuran satelit Lapan-A2 ini karena India belum berhasil menyelesaikan pembangunan satelit Astrosat. Satelit Lapan-A2 memang dijadwalkan meluncur dengan menumpang roket PSLV-C23 yang mengangkut muatan utama satelit Astrosat milik India. 

Satelit Lapan-A2 juga akan diluncurkan ke orbit utama dekat ekuatorial. “Ini yang bikin kami tidak bisa mundur dan beralih ke Cina, karena hanya India yang bisa meluncurkan di dekat ekuator,” ujar Bambang. 

Penantian besar Lapan untuk menumpang roket milik India didasarkan pada keinginan untuk meluncurkan satelit di orbit ekuator yang memiliki frekuensi perlintasan sebanyak 14 kali. Selain itu, dana yang sudah dikeluarkan untuk meluncurkan satelit lewat roket milik India juga tergolong cukup besar.

 

“Kita sudah kontrak dengan India untuk dua kali peluncuran satelit dan sudah dibayar lunas. Biaya untuk dua satelit kira-kira US$ 300 ribu,” kata dia. (Baca: Di 2019, Satelit Canggih Milik Indonesia)

 

Kemampuan satelit Lapan-A2 sebenarnya tidak berbeda jauh dengan satelit pendahulunya. Tapi, satelit ini memiliki sensor lebih canggih yang dirancang khusus untuk mengemban tiga misi, yakni pengamatan bumi, pemantauan kapal, dan komunikasi radio amatir. Satelit berbentuk balok dengan dimensi 50x47x38 sentimeter yang dilengkapi sejumlah antena dan dua lensa serta akan mengorbit pada ketinggian 650 kilometer.

Satelit yang murni dirancang dan dibangun peneliti Lapan ini juga dilengkapi sensor Automatic Identification System (AIS) untuk mengenali kapal layar yang melintas di wilayah yang dilewati.

 

Bambang mengatakan, satelit Lapan-A2 dipastikan akan diluncurkan tahun ini dari Sriharikota, India. “Setelah Lapan-A2 meluncur, kami segera siapkan satelit Lapan-A3. Target kami mulai 2015 Indonesia sudah bisa punya satelit seperti SPOT. Jadi bertahap kemampuannya,” kata dia merujuk pada satelit canggih beresolusi tinggi milik Prancis itu.

ROSALINA

January 6, 2014

Pertama Kali Dalam Sejarah, Mahasiswa RI Juara Lomba Debat Internasional

Ini baru membanggakan .. coba bandingkan dengan debat politikus tikus Senayan atau debat kusir di acara Indonesian Lawyer Club.. Ampuyuunn..dach..
 
Minggu, 05/01/2014 10:01 WIB

 

 

Rachmadin Ismail – detikNews

 
 
 

Jakarta – Dua mahasiswa Indonesia asal Institut Teknologi Bandung (ITB) Fauzan Reza Maulana dan Vicario Reinaldo mencatatkan sejarah baru di dunia debat internasional. Untuk pertama kalinya mereka mampu membawa Indonesia menjadi juara debat antar universitas dunia.

Fauzan dan Vicario mengalahkan mahasiswa asal Rusia (New Economic School), Polandia (University of Warsaw) dan Jerman (Eberhard Karls University Tubingen) dalam kategori English-as-Foreign-Language. Tema debat yang diusung adalah ‘This House Believes That Multinational Companies Should be Liable for Human Rights Abuses That Occur Anywhere in Their Supply Chain”. Untuk dua kategori lain yang lebih tinggi, diraih mahasiswa Jerman dan Harvard AS. 

Kedua mahasiswa ITB itu datang sebagai pesaing terlemah dalam kejuaraan. Namun berkat keberaniannya, strategi oposisi yang diterapkan untuk menyerang kesalahan pemerintah berhasil.

“Vicario Reinaldo and Fauzan Reza Maulana of Bandung A are the EFL debate champions of the world. Congratulations! #wudc” demikian isi twitter resmi debat tersebut.

Kompetisi ini digelar tanggal 26 Desember 2013 hingga 4 Januari 2014 di Chennai India. Ada tiga kategori lomba yakni EFL, ESL dan terbuka. ESL adalah untuk universitas yang menjadikan bahasa Inggris sebagai pengantar di universitasnya. Dari Indonesia, UI dan Bina Nusantara mengirim perwakilannya.

Kompetisi debat internasional ini sudah digelar sejak tahun 1982 lalu. Berawal dari kompetisi kecil di Inggris, Amerika Utara dan Australia, akhirnya berkembang hingga diikuti 200 universitas dari 45 negara. 

Turnamen debat ini menggunakan sistem debat parlemen Inggris. Topiknya diumumkan beberapa saat sebelum debat dimulai. Kontestan dibagi menjadi empat tim, dua mewakili pro pemerintah dan dua mewakili oposisi.

January 6, 2014

FemaleDev, Menyemai Bibit “Kartini Teknologi”

                            

Dibaca: 118

Komentar : 0

 
Share:
 

 
FemaleDev
Logo FemaleDev

KOMPAS.com - Perempuan seringkali dipandang sebelah mata, terutama dalam bidang yang didominasi oleh laki-laki semacam Teknologi Informasi. Anggapan bahwa kaum hawa hanya terbatas pada peranannya sebagai “istri”, “ibu”, dan “anak” ternyata masih dialami oleh profesional wanita, bahkan di tanah IT sekelas Silicon Valley sekalipun.

Hal inilah yang mendasari digagasnya FemaleDev, sebuah organisasi yang mewadahi para wanita pengembang aplikasi di Tanah Air. Berbekal misi menumbuhkan generasi pemimpin perempuan Indonesia di dunia teknologi, para perempuan programmer yang tergabung dalam FemaleDev hendak membuktikan bahwa mereka setara dengan, bahkan bisa lebih baik dari, kaum Adam dalam hal penguasaan IT.

“Dulu, teman-teman saya para wanita coder banyak yang punya keahlian, tapi mereka tidak terlihat, tidak muncul ke permukaan,” ujar Lidya Novianti dari Kibar Kreasi Indonesia yang menjadi inisiator awal FemaleDev. Ketika ditemui KompasTekno di kantor Kibar di bilangan Menteng, Jakarta, Sabtu (4/1/2014), Lidya sedang bergabung bersama para anggota FemaleDev yang tengah mengadakan pertemuan nasional pertama mereka.

Sejak didirikan pada Februari 2013 lalu, FemaleDev telah memiliki lebih dari 1.000 orang anggota yang semuanya merupakan para perempuan developer aplikasi. Mereka berasal dari 9 kota yang tersebar di seluruh Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Makassar, Pontianak, dan Medan.

Sabtu itu, sebanyak 20 orang perwakilan dari wilayah-wilayah tersebut berkumpul di Jakarta untuk memperkuat kolaborasi sekaligus belajar berbagai ilmu baru dari sejumlah pembicara yang sengaja didatangkan, termasuk Amanda Surya, perempuan Indonesia yang bekerja sebagai Developer Relation Manager di kantor pusat Google di Mountain View, Amerika Serikat. Amanda lah yang mengatakan bahwa diskriminasi terhadap perempuan di bidang IT masih terjadi, bahkan di pusat teknologi sekaliber negeri Paman Sam.

Berangkat dari pemanis

Dituturkan oleh Lidya, ide mendirikan FemaleDev berawal dari keprihatinannya mengenai pandangan umum terhadap para perempuan yang berkiprah di bidang teknologi.

Cewek coder jebolan program CEP-CCIT di Fakultas Teknik Universitas Indonesia ini, misalnya, mengatakan bahwa para mahasiswi di kelas kuliahnya dulu selain berjumlah sedikit juga dianggap hanya sebagai “pemanis” alias dipandang sebelah mata oleh para programmer laki-laki.

Persepsi yang berlaku di kalangan kolega pria di lingkungannya, menurut Lidya, adalah bahwa para perempuan developer tidak sanggup bekerja dengan “serius” seperti menangani proyek hingga selesai dan begadang mengejar deadline.

Alhasil, para wanita seringkali tak dianggap sebagai bagian dari sebuah tim developer. Mereka lebih sering diminta membawakan presentasi, pitching, atau mengerjakan hal terkait administrasi, kalau bukan dibebani tugas menyelesaikan sebagian besar pekerjaan.

oik yusuf/ kompas.com
Perwakilan anggota FemaleDev dari 9 kota di Indonesia menyimak sesi sharing ilmu dari Prami Rachmiadi, Country Agency Lead Google di kantor Kibar Kreasi Indonesia, Jakarta, Sabtu (4/1/2014)

Padahal, lanjut Lidya lagi, meski tak memiliki ketahanan fisik setinggi kaum Adam, para wanita coder memiliki kelebihan lain berupa ketelatenan dan perhatian mendalam terhadap detil-detil programming.

Pengalaman Lidya berlanjut ke berbagai organisasi developer yang diikutinya, yang kebanyakan memang didominasi oleh pria. “Oleh sebab itu teman saya kebanyakan cowok, karena memang perempuan jarang sekali di bidang ini,” ucap Lidya.

Meski mendapati dirinya sebagai bagian dari kaum minoritas, Lidya menolak pasrah dengan keadaan yang kurang menguntungkan bagi para perempuan coder. “Aku tidak percaya orang-orang bilang bawa cewek itu tak bisa, cewek itu sebenarnya mampu, tapi mereka mungkin tidak punya wadahnya.”

Dia lantas berusaha melacak organisasi yang mewadahi para perempuan programmer, tapi tak menemukan apa yang dicarinya. Para wanita memang eksis di perkumpulan-perkumpulan developer, namun jumlahnya masih jauh lebih sedikit dibandingkan pria dan relatif terpinggirkan.

Hingga kemudian muncullah ide mendirikan organisasi sendiri bernama FemaleDev. Berbekal dukungan dari Kibar, Lidya memberanikan diri menggalang para wanita developer aplikasi dari seluruh Nusantara. Tujuannya sederhana, yaitu menyediakan wadah bagi para srikandi bidang teknologi ini agar saling mengenal antara satu dan yang lainnya sehingga tak merasa sendiri.

Bertemu dan tambah ilmu

Lebih dari sekedar wadah, FemaleDev turut memfasilitasi anggotanya dengan berbagai pelatihan alias workshop yang dipandu oleh mentor berpengalaman. Materi yang diajarkan mencakup programming hingga cara berbisnis atau entrepreneurship.

Sejak pertama diadakan pada 2 Februari 2013, workshop FemaleDev telah terselenggara sebanyak lebih dari 20 kali di 9 kota besar seperti tersebut di atas, dengan jumlah  pendaftar mencapai lebih dari 800. Umumnya, para peserta merasa senang karena bisa saling bertemu dengan sesama perempuan developer dan belajar ilmu-ilmu baru.

Ambillah Ifa, misalnya, mahasiswi IT di Universitas Gunadarma ini mengaku bangga bisa bertemu dengan teman-temannya, para cewek developer dari berbagai daerah. “Sebelumnya saya tidak tahu bahwa ada sebanyak ini, karena umumnya yang ditemui sehari-hari hanya sedikit,” ujar dia.

oik yusuf/ kompas.com
Stella, perwakilan anggota FemaleDev dari kota Pontianak mencoba kacamata pintar Google Glass

Lain lagi pengalaman Osiany, mahasiswi Teknik Kependidikan Informatika dari Univeristas Negeri Yogyakarta. Dia merasa terbantu dengan hands-on workshop FemaleDev yang banyak menyentuh teknologi terkini macam HTML5, AngularJS, hingga Google Maps API. Ini dinilainya lebih maju dibanding apa yang didapat di institusi pendidikan formal tempatnya belajar.

Bahkan, di pertemuan hari Sabtu itu, para perwakilan FemaleDev bisa menjajal Google Glass. Gadget canggih tersebut dibawa oleh Ivan Yudhi, orang Indonesia yang bekerja di Amerika Serikat. Ivan tergabung dalam komunitas Glass Explorer, yakni para pemilik versi beta dari kacamata pintar tersebut yang sekaligus berperan memberikan masukan mengenai perangkat itu pada Google. Nantinya, kacamata pintar ini akan turut dihadirkan secara permanen untuk keperluan pengembangan aplikasi bagi developer Indonesia.

Di samping workshop yang diselenggarakan langsung oleh Kibar selaku inisiator FemaleDev, para perempuan anggota organisasi ini juga aktif menggelar workshop sendiri dengan melibatkan kawan-kawan dari daerah lain.

Kartini baru

Seperti Lidya, Chief Executive Kibar Yansen Kamto mengatakan bahwa pihaknya juga menangkap persepsi keliru di kalangan programmer, bahwa perempuan itu tak bisa coding, padahal dalam kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Dia hendak mematahkan anggapan itu dengan mendukung komunitas yang memberdayakan perempuan.

“Ini adalah wadah mereka untuk saling menyokong, menyemangati, mendorong lebih banyak wanita untuk masuk ke dalam dunia teknologi.” ujarnya.

Dengan tergabung di dalam FemaleDev, diharapkan bahwa para wanita anggotanya bisa terus membuktikan diri dengan menciptakan karya yang bermakna, sekaligus memperkuat jaringan di antara mereka.

oik yusuf/ kompas.com Yansen Kamto, Chief Executive Kibar Kreasi Indonesia selaku inisiator FemaleDev

Para anggota FemaleDev sendiri merupakan mahasiswi yang masih aktif kuliah di kampus masing-masing. Menurut Yansen, hal ini sengaja dilakukan karena para developer muda tersebut masih memiliki mindset idealis yang terbuka terhadap kebaikan bersama. “Karena tujuan kita bukan hanya coding, tapi coding for good purpose.”

Yansen berharap FemaleDev dan para perempuan developer akan terus berkembang. Dia menargetkan workshop organisasi ini sudah bisa digelar di 20 kota menjelang akhir tahun 2014. Anggota pun diharapkan bisa semakin banyak dari daerah-daerah lain di seluruh Indonesia.

Melalui kesamaan mimpi dan visi, FemaleDev mengajak para perempuan developer untuk tampil dan mempimpin. “Mereka-mereka inila

January 3, 2014

Riset Perkebunan Diserap Pasar Teknologi Kultur Jaringan Masih Jadi Andalan

 

 

 

 

 
JAKARTA, KOMPAS  Hasil riset perkebunan menarik perhatian industri dan investor. Riset, seperti dilakukan PT Riset Perkebunan Nusantara, terbukti mampu menghasilkan produk-produk yang berpotensi menghasilkan keuntungan dari proses riset yang berongkos tinggi.

PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) menyebarluaskan hasil kegiatan riset untuk memacu produktivitas berbagai komoditas, seperti kakao, kopi, karet, kelapa sawit, tebu, dan teh, serta tanaman pangan lain. Selain untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, komersialisasi hasil riset juga menunjang kegiatan riset dan pengembangan berikutnya.

”Komersialisasi hasil riset di antaranya kami mengajukan penawaran pengalihan hak kekayaan intelektual perlindungan varietas tanaman (PVT) tebu kepada pemerintah. Juga pelepasan varietas baru kakao dan kopi,” kata Direktur Riset dan Pengembangan PT RPN Gede Wibawa, Kamis (2/1), di Bogor.

PT RPN melepas varietas tebu PSJK 922 tahun 2012 dan varietas tebu PSDK 923 tahun 2013. Jenis baru ini menghasilkan gula di atas 10 ton per hektar per tahun, melampaui produktivitas tebu yang sekarang diproduksi di bawah 8 ton per hektar per tahun.

Besarnya penawaran untuk pengalihan hak kekayaan intelektual PVT tebu itu senilai Rp 10 miliar kepada pemerintah. Selanjutnya, pemerintah punya hak memproduksi dan mendistribusikan benih tebu varietas baru tersebut secara massal.

Selain tebu, ada tanaman kopi. ”Hasil riset kopi robusta klon BP 936 akan dilepas tahun 2014. Jenis kopi ini memiliki akar dan batang bawah kuat yang tahan hama nematoda,” kata Gede.

Kopi robusta klon BP 936 diproyeksikan meningkatkan produktivitas kopi.

PT RPN juga akan melepas varietas baru kakao yang tahan hama VSD (vascular streak dieback) yang menyerang pucuk daun. Adapun hasil riset komoditas karet dengan okulasi juvenil dan akar ke bawah ditawarkan untuk meningkatkan pertumbuhan benih karet.

”Akar yang diarahkan tumbuh ke bawah lebih optimal pertumbuhannya daripada yang melingkar di polybag,” kata Gede.

Kelapa kopyor

Hasil riset komoditas perkebunan lain, seperti kelapa kopyor, juga memiliki peluang besar meningkatkan pendapatan masyarakat. Riset kelapa kopyor di bawah Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) dilakukan sejak belasan tahun lalu.

Direktur BPBPI Priyono mengatakan, teknologi pengembangbiakan kelapa kopyor sudah mendapat paten sejak 18 tahun lalu. Namun, kesadaran memproduksi massal baru muncul satu tahun terakhir dengan menggandeng produsen es krim dan investor.

Mereka menanam 400 pohon kelapa kopyor di Cikumpay, Purwakarta. Lalu, ditanam lagi 800 pohon kelapa kopyor di Ciomas, Bogor. ”Tahun ini diperluas lagi dengan 5.000 pohon kelapa kopyor di Ciomas dan Cibodas,” kata Priyono.

Minat industri terhadap produk kelapa kopyor saat ini ternyata sangat tinggi. Produsen es krim jaringan nasional meminta suplai daging buah kelapa kopyor 2 ton per bulan, tetapi masih sulit dipenuhi.

”Bulan Desember 2013, kami hanya mampu mengirim perdana 100 kilogram daging buah kelapa kopyor. Jauh dari jumlah permintaan industri itu,” katanya.

Kelapa kopyor BPBPI ada dua jenis. Jenis kopyor dengan pembuahan eksternal dan jenis pembuahan sendiri (genjah). Jaminan daging buah kopyor kedua jenis itu hampir seratus persen.

BPBPI menggunakan metode kultur jaringan untuk teknik pengembangbiakan kelapa kopyor itu. Akan tetapi, pengembangbiakan benih kelapa kopyor tersebut masih lambat karena dari satu butir kelapa hanya dapat menghasilkan satu individu benih.

Kepala Biro Riset PT RPN Sumaryono mengatakan, benih kelapa kopyor yang banyak beredar di tengah masyarakat saat ini hanya memiliki peluang berhasil 25 persen. Riset terkini memungkinkan benih kelapa kopyor menghasilkan hingga 99 persen buah daging kelapanya benar-benar kopyor. (NAW/GSA)

KOMENTAR
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 81 other followers