Archive for ‘Indonesia techno research education news’

April 8, 2014

TNI AD Pamer 15 Alat Hasil Riset, Dari Drone Hingga ‘Transformer’

Peneliti atau researcher Indonesia yang mumpuni harus mendapatkan fasilitas penelitian yang berkesinambungan (dalam segi dana). Jika tidak potensi mereka dibajak oleh negera lain, atau negera tetangga macam Singapura.   Singapura  sangat agresif dalam soal riset dan pengembangan, mereka tidak segan membajak talen dari negara tetangga, selain membajak Singapura juga tidak segan untuk membunuh talen itu jika sudah tidak sesuai dengan keinginannya (ingat kasus meninggalnya David Hartanto Widjaya).
Senin, April 07, 2014

0

JAKARTA-(IDB) : TNI AD meluncurkan 15 alat pertahanan hasil riset dengan Universitas Surya yang didirikan pakar fisika Prof Yohanes Surya. Alat-alat pertahanan itu dari pesawat tanpa awak alias drone hingga motor yang bisa terbang bak ‘Transformers’.

Alat-alat itu dipamerkan di Mabes TNI AD, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Senin (7/4/2014). KSAD Jenderal Budiman meluncurkan alat-alat pertahanan ini di depan Pangdam se-Indonesia melalui teleconference.

“Riset ini pada akhirnya digunakan untuk kemandirian bangsa dan negara, sebab ada yang langsung berguna sebagai alat pertahanan negara. Kemudian dapat bermanfaat untuk negara dan masyarakat. Dengan hasil dari riset ini, kita bisa menghemat pengeluaran negaera karena tidak perlu membeli alat dari luar,” kata Jenderal Budiman dalam sambutannya.

Budiman memaparkan beberapa hasil riset itu antara lain open Open Base Transceiver Station (BTS), radio VHF, battle management system (BMS), peralatan konversi BBM ke BBG, GPS tracking system, Unmanned Aerial Vehicle (UAV) Autopilot alias Drone, simulasi menembak dengan laser gun, jammer perusak sinyal, alat pengendali senjata jarak jauh hingga Roadble Grycopter yaitu motor yang bisa terbang seperti helikopter bak dalam film Transformer.

“Dana dalam riset ini sebesar Rp 31 miliar untuk 15 riset, dana yang digunakan dari APBN hanya kecil,” imbuh Budiman.

Sedangkan pendiri Universitas Surya, Prof Yohanes Surya, mengatakan riset ini adalah hasil dari riset ilmuwan-ilmuwan Indonesia yang dipanggil pulang kampung.

“Ilmuwan kita bisa bersaing dengan negara lain. Ilmuwan hebat kita di negara lain kita panggil pulang, sehingga kita tidak perlu takut. Kita sudah sejajar dengan negara lain,” tutur pria yang tenar dalam mendidik anak-anak sekolah dalam Olimpiade Fisika Internasional dan banyak di antaranya menjadi pemenang.

Riset Teknologi TNI AD Habiskan Anggaran 31 M

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) melansir sejumlah hasil riset berbasis teknologi tinggi di kantor Markas besar TNI AD (Mabesad), Senin (7/4). Dalam risetnya, TNI AD menggandeng sejumlah lembaga atau instansi akademik, salah satunya Universitas Surya.

Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal (TNI) Budiman, menjelaskan, pengembangan teknologi, terutama yang bergerak di bidang kemiliteran wajib dikembangkan guna menunjang fungsi dan tugas prajurit di Indonesia.
“Pengembangan teknologi untuk mendorong prajurit melaksanakan tugas. Dari hasilnya, kami tidak lagi berpikiran untuk membeli dari luar negeri. Kami memiliki kualitas yang lebih baik dibanding produk yang dibeli selama ini,” kata Budiman.
Dijelaskan, selama ini TNI AD menaruh harapan sangat besar pada penelitian dan pengembangan pertahanan (Litbanghan). Semua dilakukan untuk mendukung rekayasa teknologi modern di lingkungan TNI AD. Dalam kerja sama antara TNI AD dengan Surya University, menghabiskan anggaran dana hingga Rp 31 miliar.
Beberapa hasil program litbanghan TNI AD Tahun 2014, baik yang bekerja sama dengan pihak lain maupun hasil rancang bangun sendiri, di antaranya seperti yang dilakukan Direktorat Perhubungan Angkatan Darat yang melaksanakan pengembangan Litbang Nano Satelit, open BTS (Base Transceiver Station).
Selain itu juga dikembangkan Mesh Networking Communication System, Radio VHF produk PT CMI Teknologi, Battle Management System (BMS).
Untuk Pusat Penerbangan Angkatan Darat melaksanakan kegiatan litbang Gyrocopter. Sedangkan Direktorat Peralatan Angkatan Darat laksanakan Litbang Konversi BBM ka BBG, simulasi modifikasi mobil tempur antipanas dan simulasi senjata api anti panas.
Di Direktorat Perbekalan dan Angkutan Angkatan Darat melaksanakan kegiatan litbang energi mandiri. Direktorat Topografi Angkatan Darat laksanakan kegiatan litbang Global Positioning System (GPS), Tracking System APRS (Automatic Package Reporting System, multirotor, Flapping Wing Air Vehicle.

Untuk dinas penelitian dan pengembangan Angkatan Darat, laksanakan kegiatan litbang UAV (Unmanned Aerial Vehicles) Autopilot, Simulasi menembak denganlaser gun, Integrated Optronics defence system.

Sedangkan untuk Zeni TNI AD laksanakan pengembangan jammer perusak sinyal, penyala ledakan fungsi ganda, alat koreksi perkenaan senapan lapangan, serta alat pengendali senjata jarak jauh.
Dengan adanya pengembangan kerja sama dengan semua pihak, Kasad berharap hasilnya akan dapat dimaksimalkan untuk mendukung tugas-tugas operasional TNI AD dalam rangka menjaga keutuhan NKRI.
Pendiri sekaligus Rektor Surya University, Yohanes Surya, menjelaskan, pada tahun 2010, aplikasi paten internasional dari Indonesia hanya 13 buah. Sangat jauh jika dbandingkan dengan Korea (10.446), Tiongkok (16.403), Jepang (38.873), dan Amerika Serikat (48.896).
Saat ini, ditegaskan, sudah waktunya Indonesia melakukan terobosan besar untuk mengakselerasi perkembangan riset di tanah air. Terobosan tersebut kini sudah dimulai melalui kerjasama dengan TNI AD.
Tahap pertama kerjasama dimulai dengan 15 program riset. Dalam riset ini, para peneliti Surya University melatih para tentara untuk mengerjakan riset secara bersama-sama.
“Ambil contoh pada pembuatan nanosatelit. Tentara dilatih untuk belajar membuat nanosatelit dari nol. Merakit, menyolder, membuat program elektronika, dan lain-lain. Semua dikerjakan sendiri,” kata Yohanes Surya.
Sumber : Detik
April 8, 2014

Habibie: Pesawat R80 Lebih Efisien dari Airbus dan Boeing

07 April 2014

Pesawat N250NG atau dengan nama barunya “R80″. Mengenai maknanya “R” adalah inisial “Regional”, sementara angka 80 menunjukkan kapasitas penumpang yang dapat diangkut pesawat tersebut (photo : Liputan 6)

Liputan6.com, Jakarta Mantan Presiden ke-3 Republik Indonesia, BJ Habibie saat ini tengah mengembangkan pesawat N250 Next Generation atau yang dinamakan R80.

Melalui perusahaan yang didirikannya yaitu PT Regio Aviasi Industri (RAI) tengah mengembangkan prototype dan nantinya akan bekerjasama dengan PT Dirgantara Indonesia (Persero) dalam proses rancang bangunnya.

BJ Habibie menjelaskan pesawat dengan model baling-baling ini nantinya diklaim akan lebih cepat dan lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar dibanding Airbus ataupun Boeing.

Hal itu dilandaskan dari berhasilnya Habibie merancang R80 ini dengan memiliki perbandingan antara angin yang dingin dihasilkan dari udara di body pesawat dengan angin yang dikeluarkan pada engine di belakang pesawat lebih tinggi (Bypass ratio).

“Saya menyampaikan bahwa Airbus atau Boeing itu bypass rationya 12, makin tinggi bypass ratio makin sedikit konsumsi bahan bakar dan lebih cepat, ini (R80) bypass rationya 40, kami perhitungkan pesawat terbang ini sasarannya lebih sedkit 30% (penggunaan bahan bakar),” ungkap Habibie di Gedung Bank Indonesia semalam yang ditulis, Rabu (2/4/2014).

Habibie menambahkan R80 ini dibangun tidak akan menggunakan dana APBN, melainkan PT RAI akan menjalin kerjasama dengan swasta.

R dalam nama pesawat tersebut diartikan sebagai Regional, pesawat tersebut adalah buatan anak bangsa dan difungsikan untuk penerbangan jarak-jarak pendek. Sementara untuk 80 berarti kapasitas kursi pessawat yang mampu menampung 80 penumpang.

“Ini saya dengan team dalam satu tahun lagi kami mulai potong, dan memeprsiapkan untuk supaya bisa dirancang bangun, tahun 2017 kita targetkan sudah mengudara,” terang Habibie.

Seperti diketahui, meski pesawat ini masih dalam tahap perancangan namun sudah mengundang banyak peminat yang menyatakan siap akan menggunakannya. Salah satu maskapai yang siap membeli peawat R80 ini adalah Sriwijaya Air yang nanti akan digunakan untuk anak usahanya yaitu NAM Air.

(Liputan 6)

April 3, 2014

KASAD Kunjungi Simulator Heli Penerbad

 

Putra putri RI sudah punya prestasi membuat simulator heli, tapi pemerintahnya masih doyang mengimpor simulator dari negara lain.. Hmm

01 April 2014

Simulator helikopter NBO-105 dan Bell 412 yang dirancang oleh para ahli dari Indonesia sendiri. Tim ahli itu bahkan merancang simulator Heli Mi-17 dan pesawat F-16 (all photos : Tempo, Penerbad)

Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal Budiman melihat instalasi simulator NBO 105 dan Bell 412 di markas Penerbangan Angkatan Darat, Semarang, Jawa Tengah (27/3).

Dalam kunjungan tersebut KASAD didampingi sejumlah petinggi TNI Angkatan Darat melihat simulator NBO 105 dan Bell 412 di markas Penerbad.

Simulator helikopter Bell-412 (photo : Penerbad)

Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal Budiman sempat duduk di kursi copilot simulator Bell 412 di markas Penerbad.

Simulator helikopter NBO-105 (photo : Penerbad)

Calon penerbang harus memiliki 20 jam terbang dengan simulator ini sebelum transisi sebagai copilot helikopter.

Pada simulator helikopter ini sejumlah instalasi kaki bekerja secara hidrolik pada mesin simulator NBO 105 di markas Penerbangan Angkatan Darat, Semarang.

(Tempo)

April 3, 2014

PT Len Berinvestasi Untuk Sistem Rudal Starstreak dan Photovoltaic

 

02 April 2014

PT Len akan bekerjasama dengan Thales untuk integrasi sistem rudal Starstreak (photo : Defense Update)

PT Len Industri Gelontorkan Ratusan Miliar Rupiah

Berinvestasi menjadi salah satu opsi untuk terus mendongkrak kinerja dan performa perusahaan. Adalah PT Len Industri (Persero) yang siap berinvestasi besar pada tahun ini.

Benar. Tahun ini, kami siap berinvestasi. Nilainya, Rp 176 miliar. Investasi itu untuk membangun instalasi yang terintegrasi dengan sistem pertahanan peluru kendali Star Streak. Ini berkaitan dengan adanya kerjasama dengan industri pertahanan Prancis, Thales,” ujar Direktur Utama PT Len Industri, Abraham Mose, pada sela-sela Transformasi Bisnis PT Len Industri di Hotel Harris Bandung, Jumat (28/2/2014).

Abraham mengutarakan, pembangunan instalasi itu berlokasi di Subang pada areal seluas 10 hektar. Menurutnya, kehadiran instalasi yang bertajuk LEN Techno Park tersebut juga memiliki manfaat lain, yaitu meningkatkan kapasitas produksi solar modul, yang merupakan sumber energi terbarukan. “Kapasitasnya naik menjadi 30 MWP. Sebelumnya, 10 MWP,” kata dia.

Selain di Subang, ungkap dia, pihaknya pun berinvestasi besar di Kupang, Nusa Tenggara. Di Kupang, tambah Abraham, pihaknya berinvestasi sekitar Rp 130 miliar. Investasi itu untuk memproduksi tenaga surya sebagai sumber energi. Di provinsi tersebut, PT Len telah menjalin kontrak jangka panjang, selama 20 tahun. “Yaitu sebagai operator tenaga surya,” tuturnya.

Len Techno Park (image : Len)

Andra Y Agussalam, Direktur Keuangan PT Len Industri, menambahkan, pembangunan itu juga dapat menopang rencana dan proyeksi bisnis lembaga BUMN tersebut. Pada 2013, sebut dia, pihaknya mencatat pendapatan sebelum audit senilai Rp 2,06 triliun. Angka itu, jelasnya, bersumber pada penjualan beberapa produk.

“Yang tertinggi adalah railway transportation. Penjualannya senilai Rp 1,34 triliun. Lalu, Navigation senilai Rp 434,9 miliar. Kemudian renewable energy, sebesar Rp 263,7 miliar. Selanjutnya, Information and Communication Technology sejumlah Rp 123.9 miliar,” paparnya.

Tahun ini, ucap Andra, pihaknya memproyeksikan pertumbuhan laba bersih sebesar 15 persen. Selama 2013, sambungnya, PT Len meraup keuntungan bersih sebesar Rp 71 miliar. Angka itu, terang dia, lebih tinggi 8 persen daripada realisasi 2012.

“Target kita tahun ini Rp 2,3 triliun  dengan pencapaian laba bersih Rp 78 miliar sampai Rp 79 miliar,” tandas Andra.

(Jabar Today)

April 2, 2014

Ini Kelebihan Pesawat Baru Racikan Habibie

Rabu, 2 April 2014 | 07:25 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com -
 Presiden Republik Indonesia ke-III Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang akrab disapa BJ Habibie meluncurkan buku barunya yang berjudul ‘Tak Boleh Lelah dan Kalah’.

Peluncuran buku tersebut dilakukan di Gedung Bank Indonesia, Thamrin, Jakarta. Dalam sambutannya, BJ Habibie menyebutkan bahwa buku berjudul ‘Tak Boleh Lelah dan Kalah’ mengacu pada pengalaman hidupnya.

Salah satunya adalah curahan hati saat PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang selanjutnya berganti nama menjadi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) harus ditutup pada tahun 2002.

Meski begitu, BJ Habibie menekankan, bahwa dirinya akan melanjutkan keberlangsungan PTDI, yang telah mendapatkan momen kebangkitan pada awal 2012 lalu.

“PTDI akan saya lanjutkan dengan produksi pesawat yang lebih canggih dari N250. Saya dengan tim sedang merekayasa sebuah pesawat bernama R80 yang dalam satu tahun lagi akan kami persiapkan, supaya bisa mengudara pada 2017,” ujar Habibie di Gedung BI, Jakarta, Selasa (1/4/2014).

Pesawat R-80 ini memiliki makna R dari kata Regional dan 80 adalah jumlah penumpang pesawat tersebut. Kelebihan pesawat dengan teknologi anyar ini adalah memiliki baling-baling yang dapat menentukan antara angin yang dingin dan angin panas yang berasal dari engine atau mesin.

Gunanya, adalah terjadi campuran angin dingin dan angin panas, sehingga bisa mendapatkan kecepatan yang lebih tinggi. Campuran angin dingin dan angin panas itu disebut bypass ratio. Dimana, semakin tinggi bypass ratio yang dimiliki maka akan menggunakan energi bahan bakar yang semakin irit.

“Airbus atau Boeing punya bypass ratio 12, semakin sedikitbypass ratio maka makin sedikit tingkat efisiensi bahan bakarnya. R-80 memiliki bypass ratio 40, sasarannya kurang lebih 30 persen konsumsi bahan bakarnya lebih irit, lebih efisien,” jelas Habibie.

Produksi pesawat terbang R-80 akan dilakukan oleh PT Dirgantara Indonesia. Produksi proyek pesawat ini diharapkan akan mampu mendongkrak nasionalisme rakyat Indonesia, berjalan lancar. “Saat ini saya sedang mempersiapkan ini bisa terbang tahun 2017. Yang bikin nanti Dirgantara Indonesia,” kata Habibie. (Dea Chadiza Syafina)

Habibie: Pesawat R-80 Akan Buat “Surprise” Dunia!

Jumat, 27 September 2013 | 07:40 WIB
KOMPAS.com/


JAKARTA, KOMPAS.com
 — Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang lebih familiar dengan BJ Habibie mengatakan tidak ada jalan lain agar orang-orang mudah berpindah tempat di benua maritim seperti Indonesia, selain menggunakan pesawat terbang. Oleh karenanya, ia menyambut positif kehadiran NAM Air, yang rencananya mayoritas akan menggunakan pesawat buatan dalam negeri. Artinya, kehadiran maskapai anak Sriwijaya Airlines tersebut turut mendorong industri pesawat terbang di Indonesia.

“Insya Allah R-80 tahun 2016 atau 2017 akan mengudara dan dunia akan surprise,” ungkap Habibie dengan bangga penuh haru dalam Grand Launching NAM Air, di Jakarta Teater, pada Kamis malam (27/9/2013).

Sekadar informasi, R-80 adalah pesawat terbang produksi PT Regio Aviasi Industri (RAI), tempat BJ Habibie duduk sebagai komisaris.

Dalam peluncuran tersebut ditandatangani perjanjian kerja sama (MoU) antara Presiden Direktur NAM Air Jefferson Jauwena dengan BJ Habibie, berkaitan dengan pengadaan 100 unit pesawat R-80, terdiri dari 50 unit firm, dan 50 unit pesawat pilihan.

Pesawat R-80 merupakan pengembangan dari pesawat N250 yang dibuat BJ Habibie. Pesawat N250 merupakan pesawat yang dikendalikan secara elektronik atau dikenal dengan istilah fly by wire kedua, setelah pesawat keluaran Airbus yakni A-300.

“Pesawat terbang yang pernah dibuat menusia yang dikendalikan secara elektronik yang dikenal dengan fly by wire pertama kali adalah Airbus di Hamburg di mana saya kerja dulu. Di situ, saya pernah menjadi direktur dan executive vice president,” kata mantan Presiden RI ketiga itu.

Fly by wire pertama A-300, fly by wire kedua N250, dan ketiga triple seven (B-777). Dalam skala regional, N250 merupakan fly by wire pertama,” jelasnya.

Bahkan, saking semangatnya, Habibie yang kini menginjak usia 77 tahun mengaku memimpin sendiri diskusi desain engineering, financing, sampai sheduling dari R-80 selama dua hingga lima jam sebelum datang ke acara peluncuran.

“Biar on schedule dan the best, jadi saya harus tahu,” tuturnya.

Industri strategis dibubarkan 

Jauh sebelum R-80, Indonesia pernah hampir memiliki industri pesawat terbang sebagai industri strategis yang kuat, tetapi kandas. Habibie mengatakan, ide membuat pesawat terbang bukan idenya, bukan juga ide Soeharto. Akan tetapi, ide bangsa Indonesia, sesaat setelah mendeklarasikan kemerdekaan.

Jika ditanya siapa yang pertama kali memiliki inisiatif membuat pesawat terbang, menurut Habibie, jawabannya adalah Angkatan Udara RI (AURI). “Jadi kalau ada suatu bangsa di mana saja dia berada yang mengerti pentingnya teknologi itu, maka itu adalah angkatan bersenjata, angkatan udara, angkatan darat, dan angkatan laut. Oleh karena itu yang mengembangkan teknologi itu adalah mereka dan khususnya AU terus mendorong untuk membuat pesawat terbang,” aku Habibie.

Pada Januari 1950, Presiden Soekarno memutuskan mengirim putra-putri terbaik untuk belajar di luar negeri dalam pilihan bidang pembuatan kapal terbang penumpang atau pembuatan kapal laut untuk mengangkut barang-barang.

Waktu itu Habibie baru menginjak kelas tiga SMP. Ia pun menjadi pelajar Indonesia gelombang empat yang belajar di bidang pesawat terbang pada 1954. Habibie berhasil menyelesaikan strata 1 pada usia 22 tahun dan strata dua pada usia 24 tahun.

“S-3 konstruksi pesawat terbang 28 tahun di Jerman. Di tempatnya Teodhore Von Karman, guru besar yang pertama dalam konstruksi pesawat terbang, yang mendirikan NASA. Saya asisten di situ, dan bisa dibaca di Google,” kisah dia.

Lepas menyelesaikan pendidikan, Habibie bekerja untuk sebuah perusahaan di Hamburg, di mana ia pernah menjadi direktur dan executive vice president. “Di situ lahir Airbus, yang sekarang membuat A-380 di situ. Waktu saya mulai ke situ 3.000 (karyawan), waktu saya tinggalkan 4.500, sekarang 16.000. Saudara-saudara, waktu ‘nanjak’ begini saya tiba-tiba disuruh pulang untuk membangun industri pesawat terbang jadi industri strategis,” kenang Habibie.

“Dan saya ditugaskan membangun industri strategis. Tidak banyak yang tahu waktu saya jadi wakil presiden terpilih, saya harus meletakkan jabatan-jabatan yang saya miliki, dan industri stategis yang saya pimpin itu memiliki 48.000 karyawan danturnover 10 miliar dollar AS,” lanjut dia.

Seusai pemilu, Habibie mengatakan bersedia melanjutkan kepemimpinan Indonesia, jika pertanggungjawabannya diakui. Jika tidak, lanjutnya, ia memberikan posisi kepresidenan kepada orang lain. “Belum lagi saya bicara tuntas, saya tidak diterima. Tapi tidak mengapa,” tuturnya.

“Saya sampaikan kepada yang ganti, perhatikan dua hal. Satu, jangan lemahkan TNI karena itu adalah tulang punggung perjuangan bangsa Indonesia. Dua, jangan korek-korek industri strategis karena industri strategis adalah keinginan seluruh bangsa Indonesia sejak kemerdekaan. Putra putra terbaik yang memberikan apa saja yang dia miliki,” tuturnya.

Namun, tiba-tiba industri strategis tersebut dibubarkan. “Saya sampai bilang ke Ibu Ainun ‘Is that the price I have to pay to get my freedom? Kita akan kembali dan bangkit melaksanakan perjuangan yang sementara terhenti’,” kenangnya.

Kini, di hadapan direksi NAM Air, direksi Sriwijaya Air, dan Kementerian Perhubungan, Habibie mengatakan memanjatkan doa, dan bersyukur karena ada yang meneruskan perjuangan membangun industri strategis.

“Saya ini orang tua, usia saya 77 tahun tapi semangat saya sama seperti waktu saya umur 17 tahun. Dan semangat ini saya temukan kembali pada yang hadir di sini anak-anak intelektual saya, cucu-cucu intelektual saya. Saya yang mewakili generasi yang fading out, melihat ini semua saya bersyukur,” ucap Habibie

 

 

March 18, 2014

191 PTS di Jakarta ”Tidak Sehat”

 

Jadi ngapain aja kementrian pendidikan ??

 

Masih Ada 139 PTS yang Sehat

 
 
 
JAKARTA, KOMPAS — Dari 330 perguruan tinggi swasta di DKI Jakarta, sekitar 191 ”tidak sehat” atau bermasalah. Dari 191 institusi itu, 6 bermasalah pada praktik kelas jauh, 18 institusi bermasalah pada proses belajar-mengajar, 44 bermasalah pada pembinaan, dan 3 institusi terbelit konflik internal berkepanjangan.

Dari empat kategori masalah itu, pelanggaran yang termasuk terberat ada pada proses belajar-mengajar. Di dalamnya termasuk kasus proses belajar- mengajar yang dipadatkan dan indikasi jual-beli ijazah. Mayoritas, 44 perguruan tinggi swasta, terbelit masalah status ganda dosen yang juga berprofesi sebagai guru sehingga menerima tunjangan profesi ganda.

Temuan berdasarkan data per 17 Maret 2014 itu dipaparkan Koordinator Kopertis Wilayah III Jakarta Ilza Mayuni, Senin (17/3), di Jakarta. ”Masih ada 139 PTS yang ’sehat’, bahkan lebih sehat daripada PTN. Data ini dinamis sehingga akan berubah- ubah,” ujarnya.

Perguruan tinggi swasta (PTS) yang dinyatakan ”tidak sehat”, lanjut Ilza, masih diberi kesempatan memenuhi persyaratan yang diberikan. Seiring dengan itu, Kopertis akan melakukan pembinaan dan pendampingan karena sanksi tidak serta-merta dijatuhkan.

”Bagi PTS yang tidak memperbaiki diri dan melakukan kesalahan yang sama berulang- ulang, sanksinya berupa layanan kopertis akan ditutup,” kata Ilza.

Selain menutup layanan, kopertis juga bisa merekomendasikan penutupan atau penonaktifan program studi (prodi). Dari 1.536 prodi yang ada, sudah 73 prodi yang diusulkan untuk ditutup, 21 prodi karena bermasalah, dan 52 prodi karena sudah tidak aktif. ”Kami hanya merekomendasikan. Yang berhak menutup program studi itu Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdikbud,” kata Ilza.

Untuk prodi atau PTS yang ditutup, pihak yayasan PTS harus bertanggung jawab mencarikan perguruan tinggi pengganti bagi mahasiswa.

PTS-PTS yang diindikasikan ”nakal” tidak dapat diidentifikasi sejak awal. Ini disebabkan, kata Kepala Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Ketenagaan Kopertis Wilayah III Jakarta Nursal, pada saat awal pengajuan permohonan pendirian, semua PTS telah memenuhi syarat. Namun, setelah beroperasi selama beberapa tahun, barulah diketahui bahwa mereka tidak bisa melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

”PTS-PTS yang ’nakal’ itu biasanya yang sudah berusia cukup lama, tetapi tidak berkembang dengan baik,” kata Nursal.

Untuk mencegah agar tidak terjerat PTS ”tidak sehat”, masyarakat diimbau untuk cermat memilih PTS karena ijazah dari PTS ilegal tidak akan berlaku untuk kepentingan apa pun. (LUK)

March 13, 2014

Penelitian Kelautan Tercerai-berai

Indonesia negara arkipel terbesar di dunia, yang seharusnya bisa menjadi pionir penelitian kelautan tapi nyatanya justru penelitian yang sangat penting ini tidak mendapat perhatian dari pemerintahnya.. Konyol ! Mungkin pemerintah baru nanti bisa memberi perhatian lebih besar kepada penelitan kelautan  .

 

KAMIS, 13 MARET 2014

kompas logo
 

RISET

 

 
 
 
SENGGIGI, KOMPAS — Meski dua pertiga wilayah Indonesia adalah laut, eksplorasi pengetahuan kelautan masih sangat lemah. Selain dana terbatas, penelitian kelautan tercerai-berai di berbagai lembaga penelitian. Penelitian setiap lembaga fokus pada tugas dan fungsinya sendiri, tidak terkoordinasi.

”Otomatis, potensi tumpang tindih penelitian kelautan sangat besar. Penelitian laut menjadi parsial, tidak saling melengkapi,” kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain di sela-sela Rapat Kerja Nasional Kedeputian Bidang Jasa Ilmiah LIPI, di Senggigi, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Rabu (12/3).

Lembaga penelitian yang meneliti laut Indonesia, antara lain, adalah Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Ada pula BMKG yang meneliti cuaca maritim, Badan Informasi Geospasial yang meneliti pasang surut, serta Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Tercerai-berainya penelitian kelautan dipicu oleh tidak adanya lembaga penelitian kelautan yang bisa mengoordinasikan lembaga-lembaga yang ada. Akibatnya, tidak ada pendefinisian, target, ataupun rencana penelitian kelautan yang terintegrasi.

”Dibutuhkan lembaga yang bisa mengoordinasikan semua penelitian kelautan di Indonesia,” ujar Iskandar. Ketiadaan lembaga induk ini membuat rencana induk penelitian kelautan Indonesia tidak ada yang menyusun. Untuk mewujudkan lembaga koordinasi dan rencana induk, dibutuhkan kesepakatan antarlembaga penelitian dan dukungan pemerintah.

Iskandar, yang juga Ketua Intergovernmental Oceanographic Commission Indonesia, lembaga yang berada di bawah UNESCO, mengatakan, Indonesia memang telah memiliki Dewan Kelautan Indonesia. Namun, lembaga ini bertugas membuat kebijakan besar, bukan kebijakan praktis yang bisa diterapkan.

Persoalan yang membelit penelitian kelautan Indonesia itu membuat posisi Indonesia lemah dalam kerja sama penelitian kelautan antarnegara. Tidak ada basis data penelitian kelautan dan kebijakan pemanfaatan membuat penelitian laut Indonesia bisa dibagi ke negara lain tanpa saringan yang jelas. ”Ini membahayakan keamanan negara dan memperlemah posisi tawar Indonesia dalam bernegosiasi dengan negara lain,” ujarnya.

Selain persoalan kelembagaan, penelitian kelautan juga membutuhkan biaya besar dan peralatan yang canggih, seperti kapal riset yang berkualitas. Namun, kecilnya dana riset total Indonesia, kurang dari 0,1 persen dari pendapatan domestik bruto, berimbas pada dana penelitian kelautan yang mendapat porsi kecil, berbagi dengan bidang ilmu lain.

Lemahnya pengembangan penelitian kelautan merupakan gambaran kecil suramnya dunia penelitian di Indonesia.

Kepala LIPI Lukman Hakim mengatakan, LIPI yang memiliki banyak peneliti dengan berbagai bidang belum dijadikan mitra strategis oleh kementerian yang ada. Padahal, LIPI masuk dalam 100 besar lembaga penelitian dunia pada Juli 2012.

Untuk itu, Lukman meminta para peneliti dan perekayasa untuk lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat dan pemerintah, termasuk pemerintah daerah. (MZW)

March 5, 2014

Pemerintah akan Danai Rp 600 Miliar Proyek Pembuatan ‘Adik’ Pesawat N250

 


 

 
04 Maret 2014

Prototipe pesawat N250 buatan PT DI (photo : Tempo)

Jakarta -Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) siap mengembangkan pesawat perintis jenis terbaru yaitu N245. LAPAN akan mengeluarkan anggaran hingga Rp 600 miliar untuk membuat dan mengembangkan pesawat ini.

Pesawat dengan tingkat jelajah jauh lebih besar dari N219 ini, nantinya dapat mengangkut jumlah penumpang hingga 45 orang. Sebelumnya Mantan Menristek BJ Habibie sempat membuat beberapa prototipe pesawat N250 dengan kapasitas 50 orang penumpang.

“Anggarannya besaran kita perkirakan nggak terlalu beda dari pesawat N219. Barangkali harga mesin saja yang beda. Kalau sekarang dengan proyek N219 sebesar Rp 400 miliar dapat 2 pesawat mungkin N245 ini kalau kita coba bikin sekitar 1,5 lebih tinggi atau sekitar Rp 500 hingga Rp 600 miliar,” kata Kepala Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN Gunawan S Prabowo kepada detikFinance, Senin (3/3/2014).

Menurutnya pesawat N245 adalah proses pengembangan dari pesawat sebelumnya yang sudah ada yaitu CN235. Hanya saja tim ahli LAPAN dibantu PT Dirgantara Indonesia (PT DI) nantinya akan memodifikasi di bagian ekor pesawat. Dengan adanya modifikasi tersebut jumlah penumpang bisa bertambah sebanyak 10 orang menjadi 45 orang. Pesawat CN235 hanya dapat menampung 35 penumpang.

“Sebetulnya pesawat jenis ini hanya pengembangan N-235. Hanya di belakang sayap itu pakai pintu belakang ternyata kalau dikonversi bisa menambah tempat duduk sebanyak 10 orang,” imbuhnya.

Ditargetkan pesawat N245 mulai dilakukan pengembangan pada awal tahun 2017 dan rampung di tahun 2020. Spesifikasi pesawat sepenuhnya dibuat di dalam negeri hanya mesin pesawat masih diimpor dari negara lain. Mesin yang akan digunakan pesawat N245 mempunyai daya jelajah lebih tinggi dan cepat dibandingkan N219 dan CN235. 

Sehingga diharapkan dengan adanya pesawat N245 pihak maskapai penerbangan nasional dapat membeli produk pesawat buatan anak bangsa ini. Apalagi di era sekarang bisnis penerbangan perintis sedang naik daun.

“Pasar penerbangan perintis semakin besar lalu membangkitkan kembali industri pesawat lokal. N245 dengan jelajah lebih tinggi nantinya diharapkan dapat digunakan oleh perusahaan Airlines kita,” jelasnya.

Saat ini PT DI dan LAPAN sedang mengerjakan proyek N219 yang targetnya bisa mengudara dan mulai dikembangkan secara massal di 2016.

(Detik)

February 28, 2014

Setelah N219, PT DI dan Lapan Bakal Bikin N245 dan N270

 

 
26 Februari 2014

Meskipun N219 belum selesai, Lapan telah siap untuk mengembangkan pesawat N245 dan N270 (photo : Runway)

Merdeka.com – PT Dirgantara Indonesia (PT DI) makin berambisi mengembangkan dan membuat pesawat produksi dalam negeri. Walau sertifikasi untuk pesawat N219 belum tuntas, PT DI sudah menyampaikan ambisinya mengembangkan pesawat N245 dan N270.

Deputi Bidang Teknologi Lapan, Soewarto Hardhienata mengatakan, dalam pengembangan pesawat ini, Lapan akan membantu pembiayaan dengan timbal balik SDM bidang mesin yang dimiliki Lapan akan bekerja di PT DI.

“Program ini anugerah besar sekaligus merupakan tantangan, taruhan. Kalau ini jalan mulus maka pemerintah dan masyarakat akan percaya kepada kita, menjalani penerbangan selanjutnya,” ucap Soewarto di kantor pusat Lapan, Jakarta, Selasa (25/2).

Pesawat N245 merupakan pesawat dengan dua engine (mesin) dengan kapasitas angkut 45 penumpang. Sedangkan N270 merupakan pesawat dua mesin dan punya daya angkut lebih besar yakni 70 penumpang. Pengembangan dua pesawat ini rencananya dilakukan pada 2017.

“Sekarang belum ada anggaran, mungkin pertengahan 2016 kita ajukan. Pengembangan setelah selesai sertifikasi N219 (2016),” tegasnya.

Kepala Pusat Teknologi Penerbangan Lapan Gunawam Setyo Prabowo menambahkan, kerja sama pengembangan pesawat N245 dan N270 dengan PT DI akan sama dengan pengembangan N219.

“Mirip seperti ini dan setelah N 219 selesai. Kita ikut pengembangan sampai sertfikasi dengan memasukkan enginer kita. Kita ikut dalam model perencanaan,” tutupnya.

(Merdeka)

February 26, 2014

Indonesia Segera Miliki Rudal Penangkis Serangan Udara Buatan Sendiri

 

 Sudah saatnya  mandiri !
(Liputan6) 25 Februari 2014

Riset propelan akan memungkinkan Indonesia untuk membuat rudal sendiri dalam 2-3 tahun ke depan (photo : Defense Studies)

Liputan6.com, Jakarta : Perang di era modern tak lagi saling berhadapan. Tapi melibatkan persenjataan canggih, termasuk rudal. Sekali tembak, nyawa ribuan orang di posisi target, yang jauhnya ratusan hingga ribuan kilometer, niscaya terancam.

Maka dari itu, rudal penangkal sebagai sistem pertahanan alternatif, menjadi wajib dimiliki. Saat ini, TNI Angkatan Udara, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), dan PT Dahana, sedang mengembangkan rudal Penangkis Serangan Udara (PSU) jarak sedang. Senjata anti-rudal ini akan dikembangkan dari roket-roket yang telah berhasil dibuat Lapan.

Lapan telah berhasil meluncurkan beberapa tipe roket seperti RX-420 yang memiliki daya jangkau di atas 100 km. Lapan juga sedang mengembangkan roket berdaya jangkau 200 km lebih yaitu RX-550.

“Iya dari pengembangan roket Lapan sebelumnya. Mereka sudah berhasil, peluncurannya sudah lurus. Cuman isiannya, pendorongnya itu masih dikembangkan terus,” ucap Kadispen TNI AU Marsekal Pertama (Marsma) Hadi Tjahjanto saat dihubungi, Jakarta, Selasa (25/02/2014).

Hadi menambahkan, saat ini permasalahan untuk rudal penangkis udara terjadi pada propelannya. Rencananya beberapa tahun ke depan propelan ini sudah bisa diperbaiki dan dilakukan uji coba kembali.

“2 atau 3 tahun ke depan isiannya atau propelannya itu sudah ditemukan akan dibuat uji coba lagi. Kalau memang bagus akan ditawarkan pada BUMN atau Bumnis (Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis),” imbuh pria berkumis ini.

Apakah pengembangan ini untuk rudal jarak sedang atau jauh? “Nanti kalau propelannya itu sudah teruji tinggal isiannya mau dibuat jarak sedang atau jauh. Kalau nama rudal nunggu sudah jadi baru dari BUMN dengan Kemenhan yang nanti ngasih nama rudalnya,” jawab Hadi.

Saat ini TNI AU hanya memiliki PSU yang aktif dari kelas jarak pendek seperti Oerlikon, Starstrek, VL Mica dan lain-lain. Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia menuturkan saat ini pihaknya sedang menjajaki PSU untuk jarak sedang. Rencana ini akan disusun di Minimum Esential Force (MEF) rentra kedua (2015-2019).

“Untuk 10 sampai 100 km itu perlu kendali jarak sedang, sekarang kita lagi diproses. Mudah-mudahan segera melengkapi sistem pertahanan kita,” kata Putu saat menerima 16 unit pesawat T-50i dari Korea Aerospace Industry (KAI) di Lanud Halim Perdakusuma, Jakarta Timur, Kamis 13 Februari 2014.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 82 other followers