Archive for ‘Indonesia techno research education news’

January 1, 2014

Otak Bom Buku Pepi Fernando Doktrin Napi Lain di Nusakambangan

Yang kaya begini harus dieksport ke Guantanamo
Selasa, 31/12/2013 10:47 WIB

 

Andri Haryanto - detikNews

Jakarta - Terpidana terorisme bom buku, Pepi Fernando, dipindahkan dari Lapas Batu ke Lapas Besi, Nusakambangan. Pemindahan tersebut menyusul penilaian pihak lapas yang mencium gelagat mencurigakan yang dilakukan Pepi terhadap napi lainnya.

“Ada indikasi mendoktrin orang-orang di dalam Lapas Batu,” kata Kadiv Pemasyarakatan Kanwil Kemenkum HAM Jateng, Hermawan Yunianto, saat dihubungi wartawan, Selasa (31/12/2013).

Selama di Lapas Batu, kata Hermawan, Pepi terkesan ekslusif. Dia jarang berbaur dengan napi-napi yang ada di Lapas Batu. Dia memiliki kelompok sendiri dalam pergaulan di dalam lapas.

Kelompok yang dibangunnya itu tidak hanya napi-napi terorisme, namun juga napi kejahatan umum lainnya.

“(Doktrin) seperti ajaran terorisme-terorisme pada umumnya, anti pemerintah dan pemerintah dianggap thogut,” kata Hermawan.

Senin (30/12/2013) sekitar pukul 20.00 WIB, sempat terjadi ketegangan antara pihak Lapas Batu dengan sejumlah narapidana. Hal itu buntut dari upaya petugas yang akan memindahkan otak bom buku Pepi Fernando ke Lapas Besi. Kelompok Pepi menolak pemindahan tersebut.

Petugas Lapas akhirnya meminta bantuan Polres Cilacap untuk menangani ketegangan itu. Pepi akhirnya dapat dipindahkan ke Lapas Besi Nusakambangan.

December 27, 2013

BPPT Kembangkan Kapal Rawa untuk Patroli TNI

 

 
Antara, 23 Desember 2013

Patroli untuk perairan pedalaman tidak mungkin menggunakan kapal standar (photo : tomandcarolsykes)

Jakarta (ANTARA News) – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengembangkan kapal rawa untuk operasi patroli keamanan TNI Angkatan Laut di wilayah pedalaman.

“Dibutuhkan sarana pengangkut pasukan untuk perairan pedalaman seperti di aliran sungai, danau, rawa atau daerah kotor lainnya yang tak mungkin dilalui oleh perahu atau kapal standar,” kata Deputi Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT Dr Erzi Agson Gani di Jakarta, Senin.

Menurut dia, prototipe kapal rawa pesanan TNI-AL dan PT Mega Perkasa Engineering (MPE) itu sedang diuji coba.

“Berbeda dengan kapal biasa yang baling-balingnya terendam di air, swamp boat digerakkan oleh mesin berbaling-baling yang berada di atas permukaan air,” katanya. 

Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan dan BPPT juga sedang mengembangkan Pesawat Udara Nir Awak (Puna) Wulung generasi baru (PA7) yang dirancang bisa terbang selama enam jam tanpa henti dengan membawa peralatan keamanan.

Kapal rawa/swamp boat sering juga disebut dengan air boat (photo : nauticexpo)

Erzi memaparkan, pesawat itu adalah pengembangan Puna Wulung PA5 yang sukses pada akhir 2012 dan telah diproduksi PT Dirgantara Indonesia dan PT LEN pada 2013 untuk menjadi bagian dari skuadron TNI Angkatan Udara.

Puna Wulung merupakan satu dari lima jenis Puna rancangan BPPT dan Kementerian Pertahanan yakni Puna Sriti, Puna Alap-alap, Puna Pelatuk, dan Puna Gagak, serta sudah mengacu pada standar kelaikan terbang militer (IMA).

BPPT bersama Pelindo 3 dan konsorsium BUMN juga sedang membangun Automatic Container Transportation (ACT) yang merupakan moda transportasi angkutan kontainer berbasis teknologi monorel, yang teknologi boogie-nya telah dikembangkan BPPT sejak 2006.

“Teknologi ACT ini akan diimplementasikan di Pelabuhan Teluk Lamong Surabaya. Dalam kaitan dengan ini kami sedang merancang test track monorail di Puspiptek Serpong,” tambahnya.

(Antara)

December 22, 2013

Indonesia Harus Buat Simulator Sukhoi Sendiri

  

Tempo.co 21 Desember 2013

Simulator pesawat tempur Sukhoi (photo : Marina Lystseva)

TEMPO.CO, Bandung -Direktur Teknologi Dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia Andi Alisjahbana menyarankan pemerintah agar tidak membeli simulator pesawat tempur Sukhoi dari luar negeri. “Full Mission Simulator banyak berisi pelatihan-pelatihan menjalankan misi pesawat tempur, dan banyak yang bersifat universal tapi juga di dalamnya adalah doktrin tempur TNI AU,” kata dia dalam surat elektroniknya pada Tempo, Jumat, 20 Desember 2013.

Menurut Andi, semua negara pengguna pesawat tempur Sukhoi memilih membuat sendiri simulator kemudinya, dengan pertimbangan untuk melindungi rahasia negaranya. Contohnya,  China dan Malaysia yang membuat sendiri simulator kemudi pesawat tempur buatan Rusia itu.

Andi menjelaskan, simulator kemudian untuk pesawat tempur berbeda dengan simulator untuk pesawat sipil. Simulasi kemudi pesawat sipil hanyalah Flight Simulator yang digunakan oleh umumnya sekolah penerbangan. 

Flight Simulator dirancang, selain melatih keahlian terbang dan mengemudikan pesawat, juga untuk melatih pilot menghadapai keadaan darurat yang tidaklah mungkin di lakukan di pesawat aslinya seperti kerusakan mesin, rusaknya alat navigasi, hingga pendaratan darurat. 

“Pilot akan dilatih menggunakan Flight Simulator pada kondisi kondisi ini, maka pilot langsung tahu langkah-langkah yang harus diambil,” ucap Andi

Simulator pesawat tempur punya prinsip yang sama. Hanya bedanya pesawat tempur punya tujuan menjalankan misi perang. Pesawat tempur juga dilengkapi dengan senjata seperti rudal dan radar untuk kepentingan tempur, yang pemakaiannya punya prosedur tertentu. “Simulator pesawat tempur memiliki cakupan jauh lebih luas dari Flight Simulator, karena itu disebut Full Mission Simulator (FSM),” kata Andi.

Piranti Full Mission Simulator juga dapat diprogram untuk menghadapi pesawat musuh yang spesifik hanya dengan memprogramkan data penerbangan dan manuver pesawat tempur musuh tersebut. 

Dengan cakupan latihan pilot pesawat tempur dengan piranti kendali simulasi itu, Full Mission Simulator menyimpan data diantaranya prosedur saat pesawat tempur bertemu musuh mulai  hingga prosedur melakukan pengejaran pesawat musuh, termasuk pelepasan senjata untuk melumpuhkan musuh. “Ini semuanya merupakan rahasia negara,” kata Andi.

Andi mengatakan, dengan alasan itu, pemerintah disarankan membuat simulator Sukhoi itu di dalam negeri. “Nilai strategisnya sudah sangat jelas dan juga dilindungi dalam UU Nomor 16/2012 mengenai Industri Pertahanan Nasional,” kata dia.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiaantoro mengungkapkan rencana pemerintah membeli simulator kemudi pesawat tempur buatan Rusia, Sukhoi SU-27 dan SU-30.   Kementerian Pertahanan tengah memilah produsen simulator Sukhoi tersebut sebab ada 3 negara yang bisa memproduksinya,  yakni Rusia, China, dan Kazakhstan. 

“Kami masih pikirkan mana yang lebih cocok,” kata Purnomo pada wartawan di kantornya di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, 16 Desember 2013.

Dewan Perwkilan Rakyat mendukung rencana Kementerian Pertahanan membeli simulator Sukhoi. Wakil Ketua Komisi Pertahanan DPR Tubagus Hasanuddin mengatakan, pembelian simulator tersebut sudah dibicarakan sejak 2 tahun lalu untuk melengkapi skuadron Sukhoi.  “DPR menilai Indonesia belum mampu memproduksi simulator sendiri,” kata dia ketika dihubungi Tempo, Senin malam, 16 Desember 2013.

December 19, 2013

Jurus Baru Menembus Industri

 

Oleh: Yuni Ikawati 0 KOMENTAR FACEBOOKTWITTER 

 

 

 

 
LEMBAGA penelitian di Indonesia masih menghadapi masalah klasik, yakni kebuntuan diseminasi hasil riset ilmu pengetahuan dan teknologi ke industri. Berbagai upaya ditempuh untuk menggandeng industri, tetapi tak berjalan. Kini dirintis jurus baru untuk memasukkan hasil riset ke industri.

Lembaga penelitian sesungguhnya telah lama ada di Indonesia, bahkan sebelum negeri ini merdeka. Pada masa kolonial Belanda pernah berdiri Veeartsenijkundig Laboratorium (1908) yang kini menjadi Balai Besar Penelitian Veteriner, Geneeskundig Laboratorium (1888) yang berubah menjadi Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Dienst van het Mijnwezen (1850) yang kini bernama Badan Geologi, serta Besoekisch Proefstation (1911), cikal bakal Pusat Penelitian Kopi dan Kakao di Jember.

Pendirian laboratorium dan lembaga riset itu dirintis para periset dari Belanda, salah satunya Christiaan Eijkman, peraih penghargaan Nobel bidang fisiologi atau kedokteran tahun 1929. Mereka mengemban misi menginventarisasi sumber daya alam untuk dimanfaatkan bagi tujuan eksploitasi. Karena itu, berkembang perkebunan kopi dan kakao, tebu, karet, dan teh hingga ke tahap industri.

Pada masa kemerdekaan, semua lembaga dan industri dinasionalisasi. Namun, pengambilalihan tidak dibarengi dengan transfer teknologi.

Upaya penguasaan iptek untuk berkiprah di lembaga riset dan industri pada masa pemerintahan Soekarno dan Soeharto ditempuh lewat program beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke berbagai negara maju. Namun, proses itu tak mencapai target.

Lembaga riset dan industri strategis yang dirintis Soeharto, yang diharapkan dapat menjadi lokomotif pendorong industri dan ekonomi nasional, mengalami masa surut. Di sisi lain, industri yang umumnya milik asing di Indonesia tak memiliki keterikatan dan tak terjangkau lembaga riset Indonesia.

Setelah sekian lama terpuruk, kini dirintis upaya menjembatani lembaga riset dan industri. Hal ini untuk meningkatkan daya saing menghadapi Perdagangan Bebas ASEAN 2015.

Strategi baru

Kementerian Riset dan Teknologi meninjau ulang konsep triple helix, keterikatan akademisi, pebisnis, dan pemerintah (ABG) yang diterapkan sejak tahun 2004. Konsep ABG untuk meningkatkan daya saing industri berbasis iptek. Untuk memajukan industri dilibatkan komunitas iptek sehingga terbentuk sinergitas ABGC (Academic, Businessmen, Government, and Community).

Dari kerja sama itu terbentuk konsorsium untuk menghasilkan produk unggulan. Sejak tahun 2012 terbentuk antara lain Konsorsium Roket Nasional, Konsorsium Riset Vaksin, Konsorsium Mobil, Konsorsium Fuel Cell, Konsorsium Nanoteknologi, dan Konsorsium Mobil Listrik. Konsorsium Roket Indonesia menghimpun 14 pihak terkait dari sejumlah kementerian, lembaga riset, industri strategis, dan perguruan tinggi.

Untuk mendorong hasil riset masuk ke industri, Kementerian Riset dan Teknologi mulai tahun 2013 mengubah proses seleksi program insentif riset. Fokusnya pada usulan riset hilir yang dapat diterapkan di industri.

Hal sama dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang menggunakan peranti Teknometer untuk melihat tingkat kesiapan produk teknologi digulirkan ke industri. Teknometer akan menunjukkan skala prioritas kegiatan riset yang berprospek baik untuk diterapkan di industri.

Hanya usulan riset yang masuk kategori riset pengembangan yang didanai. Dengan Teknometer, ada penghematan anggaran riset iptek signifikan.

”Satu kegiatan riset bisa memerlukan lebih dari Rp 1 miliar per tahun,” kata Direktur Pusat Pengkajian Kebijakan Difusi Teknologi BPPT Asep Husni Yasin Rosadi.

Keterbatasan anggaran pemerintah dan kurangnya sinergi lembaga riset mulai diatasi Dewan Riset Nasional (DRN). Menurut Sekretaris DRN Iding Chaidir, untuk mencapai keterpaduan kegiatan riset iptek di lembaga penelitian nonkementerian (LPNK), litbang kementerian, perguruan tinggi, dan swasta akan dilakukan harmonisasi peraturan.

Selama ini, Kementerian Riset dan Teknologi serta LPNK menggunakan instrumen Kebijakan Strategis Nasional berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2003. Litbang kementerian menggunakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional yang diatur keppres tahun 2005. Lembaga riset mengajukan usulan program sendiri-sendiri ke Bappenas.

Mulai tahun 2014, perencanaan riset di lembaga riset perintah, swasta, dan perguruan tinggi akan menggunakan substansi hukum sama. Akan dilakukan koordinasi dalam lingkup nasional mengacu Agenda Riset Nasional tahun 2015-2019. Dengan demikian, akan terbentuk kebijakan satu pintu dalam program maupun penganggaran.

Pada diskusi yang diselenggarakan DRN pekan lalu, instansi terkait, yaitu Bappenas, Kementerian BUMN, dan Kementerian Ristek, sepakat memasukkan perencanaan riset iptek dalam siklus perencanaan pembangunan nasional di Bappenas. ”DRN bertugas memandu dan mengevaluasi kegiatan riset yang direncanakan lima tahun ke depan,” ujar Iding.

Tahun 2014 merupakan tahun pergantian pemerintahan. Ini merupakan masa krusial bagi keberlanjutan riset yang tengah berjalan. Pengalaman sebelumnya menunjukkan pergantian pemerintah bisa berdampak pada perubahan kebijakan.

Persiapan bagi bangsa ini semakin sempit untuk mendongkrak daya saing. Hanya dalam waktu kurang dari setahun Indonesia memasuki era pasar bebas ASEAN. Kita berharap, pimpinan pemerintah yang baru dapat membawa bangsa ini berdaya saing tinggi, maju, dan sejahtera.

November 12, 2013

Indonesia Bakal Diserbu Insinyur Impor?

Proklamator RI adalah seorang insinyur handal yang bernama Ir Soekarno. Tapi bisa negeri ini bisa melahirkan kembali insinyur insinyur handal seperti Soekarno dan BJ Habibie. Ada yang salah dengan pendidikan dasar dan pendidikan lanjutan, Selain itu harus diperhatikan juga gaji seorang di insinyur di Indonosia sangat tidak layak, kalah dengan gaji seorang sarjana hukum atau ekonom. Jika kondisi ini tidak segera diperbaiki 10-20 tahun ke depan bangsa indonesia akan menjadi negera konsumtif abadi!

 

 

 

++++++++++++

  • Selasa, 12 November 2013 | 07:40 WIB
 
Ilustrasi | Shutterstock
 
 
 
 
 

JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia terancam diserbu insinyur impor atau asing pada tahun 2015, bertepatan dengan mulai diberlakukannya liberalisasi pasar ASEAN. Hal ini disebabkan jumlah insinyur Indonesia masih sangat kurang dibandingkan negara lain di kawasan Asia.

“Ini ancaman nyata. Indonesia bakal diserbu insinyur impor atau asing bila tidak segera melakukan terobosan radikal. Faktanya, kita hanya punya 164 orang insinyur per 1 juta penduduk. Idealnya, harusnya 400 orang insinyur per 1 juta penduduk,” kata Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Bobby Gafur Umar kepada pers di Jakarta, Senin (11/11/2013).

Ditemui di sela Konferensi Federasi Organisasi Insinyur Se-ASEAN ke-31 (Conference of ASEAN Federation of Engineering Organisations 2013/CAFEO) 11-14 November, ia mengatakan, jika dibandingkan dengan sejumlah negara tetangga, seperti Malaysia, posisinya sudah 397 insinyur per 1 juta penduduk dan Korea 800 insinyur per 1 juta penduduk.

“Mirisnya lagi adalah minat para siswa lulusan sekolah lanjutan atau SMU untuk meneruskan ke pendidikan tinggi sampai menjadi insinyur kelihatan sekali menurun. Kita hanya punya 11 persen atau 1,05 juta dari total sarjana yang ada,” katanya.

Dia mengatakan, idealnya 20 persen dari seluruh sarjana adalah insinyur. Ia membandingkan, di Malaysia saja, rasio antara insinyur dan seluruh sarjana lulusan perguruan tinggi mencapai 50 persen. “Malaysia sekarang punya 13 juta sarjana teknik dari total 27 juta penduduknya,” kata Boby.

Ia menjelaskan, berdasarkan sebuah kajian, Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi dan populasi hingga 2015 membutuhkan sedikitnya tambahan 129.500 insinyur per tahun. Sementara pada 2015 sampai 2030, Indonesia memerlukan sedikitnya 175.000 insinyur untuk mendorong industri dan kawasan ekonomi khusus.

Mengutip pernyataan Menko Perekonomian Hatta Rajasa, ia mengatakan, “Jangan sampai insinyur asing yang masuk dan mengolah sumber daya alam kita. Tidak boleh terjadi.” 

Ia juga menyebut, Indonesia harus sedikitnya menambah 175.000 sarjana teknik per tahun pada 2025 jika ingin mencapai pendapatan domestik bruto (PDB) per kapita 20.600-25.900 dollar AS.

“Indonesia harus melakukan sejumlah terobosan, mulai dari pemberian beasiswa besar-besaran untuk menjadi insinyur hingga pembenahan di sektor regulasinya. Bukankah anggaran pendidikan sudah 20 persen dari APBN?” katanya.

Kemudian, tambahnya, Indonesia juga perlu segera memiliki undang-undang (UU) tentang insinyur sebab jika tidak, maka para insinyur Indonesia tidak memiliki standar internasional dan kualifikasi yang jelas sehingga tidak bisa bersaing secara global.

“Sekadar catatan, di antara 10 negara anggota ASEAN, hanya tiga negara yang belum memiliki UU insinyur, yakni Indonesia, Laos, dan Myanmar. Tetapi, Myanmar dilaporkan akhir bulan ini sudah akan memiliki UU-nya. Jadi, tinggal Indonesia dan Laos yang belum jelas,” katanya.

Jika pada pasar bebas ASEAN, tegasnya, Indonesia belum juga memiliki UU insinyur, pasar Indonesia akan bisa dengan bebas dimasuki oleh insinyur asing dengan kualifikasi internasional, sedangkan insinyur Indonesia tidak bisa merambah ke negara lain.

October 9, 2013

2015 PAL Start Pembangunan Kapal Selam

Rabu, Oktober 09, 2013
IDB

11

SURABAYA-(IDB) : Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen kapal militer dan niaga, PT PAL (Persero), siap memproduksi kapal selam di dalam negeri mulai 2015. Kapal selam pesanan Kementerian Pertahanan RI ini merupakan bagian kerjasama dengan perusahaan kapal asal Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME).

“Tahun 2015 kan kita sudah mulai. Kita sekarang siapkan orang dan fasilitasnya,” ucap Direktur Utama PAL Firmansyah seperti dikutip Selasa (8/10/2013).

Produksi kapal type DSME 209 ini dilakukan saat proses pembuatan 2 unit kapal selam di Korsel. Saat ini PAL secara bertahap sedang menugaskan para karyawan untuk belajar proses perencanaan hingga produksi kapal selam di Korsel.

“Saat kapal selam 1 dan 2 dibangun di sana (Korsel). Orang kita belajar di sana untuk mempersiapkan kapal yang ke-3. Total 206 yang belajar. Kirimnya bertahap. Ada silabus pelajarannya dan itu semua karyawan PT Pal,” jelasnya.

Selain mempersiakan para ahli di Indonesia, PAL juga membangun lokasi pembuatan dan perawatan kapal selam senilai US$ 150 juta (Rp 1,5 triliun) di Surabaya, Jawa Timur.

“Workshop atau tempat membangun section dalam negeri. Investasi di dalam negeri US$ 150 juta. Termasuk untuk peralatan, kapal selam kan perlu dirawat, perlu fasilitas sendiri. Selama ini mahal perawatan ke luar negeri,” sebutnya.

Ditargetkan pada tahun 2017, Indonesia sudah memiliki kapal selam asli karya putra-putri Indonesia. “Tahun 2017 Indonesia sudah punya kapal selam buatan PAL,” katanya.

Sumber : Detik
October 4, 2013

Transfer of Technology Alutsista Diupayakan Maksimal (hah?)

Nggak terlalu yakin .. Indonesia harus berani investasi sdm dan infrastruktur untuk riset, agar miliki kemampuan dalam hal teknologi militer. Pemerintah (Departemen Perthanan( dan TNI harus membuat suatu kebijakan yang dapat mendorong investasi sdm dan infra riset yang mumpuni. Tanpa adanya kebijakan unggulan ini , Indonesia tetap menjadi pasar para pedagang dan pabrikan senjata saja !

Mengharapkan “transfer” teknologi sih seperti mimpi di siang bolong. Mana ada negara mau transfer aset teknologi mereka, jika adapun pasti penuh dengan muslihat dan tipu.  Jaman dahulu ketika Rusia masih dalam USSR atau Uni Sovyet, transfer teknologi memang terjadi diantara negera satelitnya. Sekarang era kapitalis global dan competitive advantage yang namanya transfer technology menjadi sangat tidak mungkin, yang terjadi justru”membeli” technology. Saya harap Indonesia bisa belajar dari Korea Selatan, bagaimana mereka membuat kebijkana dan juga mengawasi implementasi kebijakan ilmu pengetahuan dan teknologi nya.

 

 

Kamis, Oktober 03, 2013
IDB

0

JAKARTA-(IDB) : Transfer teknologi dalam memproduksi alat utama sistem persenjataan bukan “isapan jempol” dan harus dimaksimalkan kegunaannya untuk Indonesia, kata pengamat masalah militer dari LIPI Jaleswari Pramodhawardani.

“Hal tersebut sudah menjadi syarat dari mekanisme pasar persenjataan secara global, kata Jaleswari pada diskusi yang diselenggarakan The Indonesian Institute di Jakarta, Rabu.

Walaupun masing-masing negara (produsen senjata) saling mencermati dan mencurigai perkembangan senjata negara lain, namun alih teknologi ibarat bonus yang diberikan,katanya.

Sejak 2012, Undang-Undang No. 16 Tahun 2012 mengenai Industri Pertahanan telah disahkan, dan legislasi itu dianggap menjadi peluang besar bagi bangsa untuk meningkatkan kemandirian dalam negeri, dengan dibantu oleh proses transfer teknologi dari negara lain.

Menurut Jaleswari, transfer teknologi alutsista antarnegara memang bukan perkara yang mudah, namun dengan kebutuhan peningkatan daya saing dalam negeri, hal ini harus diperjuangkan pemerintah.

Sebagai gambaran, ujar Jaleswari, negara produsen alutsista, seperti Amerika Serikat misalnya menerapkan transfer teknologi sebagai “bonus” dari pembelian alat. Hal ini juga karena mekanisme pasar, dimana produsen dan pemain lain di industri persenjataan begitu banyak, sehingga transfer teknologi menjadi kelebihan tersendiri.

“Kita sering mengkritik pembelian Sukhoi yang tidak ada senjatanya, memang seharusnya kita tidak melihat fisiknya saja, tapi lebih di dalamnya,” ujar Jaleswari.

Lebih lanjut, Jaleswari menekankan, dengan sudah disahkannya UU Industri Pertahanan, konsistensi pemerintah sangat dibutuhkan dengan membuat peta implementasi UU tersebut.

Kebijakan yang dilakukan pemerintah China dalam meningkatkan persenjataan mereka juga dapat menjadi contoh yang baik bagi Indonesia.

“Kita perlu mencontoh China, dimana hingga 2050, mereka sudah membuat road map dan siap menjadi kekuatan militer besar,” ujarnya.

Sumber : Antara
September 27, 2013

Para Pakar Pesawat Indonesia Yang Sukses Di Perusahaan Pesawat Boeing

Selasa, September 20, 2011
IDB

0

BANTEN-(IDB) : Dari 30-an orang Indonesia yang bekerja di Boeing, banyak yang menduduki posisi vital. Siapa saja mereka?
Mimpi buruk itu menghampiri Agu­ng H Soehedi seiring dengan ter­jadinya serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat. Pria kelahiran Te­manggung, Jawa Tengah, 8 Mei 1963 tersebut harus kembali ke­hi­langan pekerjaan.
Ya, tragedi yang menewaskan lebih da­ri tiga ribu jiwa itu membuat banyak orang menghindari transportasi udara. Aki­batnya, permintaan pesawat me­nurun drastis dan itu memaksa Boeing, pabrik pesawat tertua di dunia yang berbasis di Seattle, Amerika Serikat, tem­pat Agung bekerja selepas dari IPTN (Industri Pesawat Terbang Nu­santara, kini PT Dirgantara Indonesia-red), mesti merumahkan banyak kar­yawan. Agung termasuk salah satunya.
Karena sudah membawa istri dan em­­pat anaknya boyongan ke Seattle, Agung pun mesti memutar otak untuk bertahan hidup. Alumnus Itenas, Ban­dung, yang keluar dari IPTN sebelum pabrik pesawat terbang satu-satunya di Asia Tenggara itu kolaps akibat krisis moneter, itu pun akhirnya rela bekerja apa saja untuk menafkahi keluarga.
Menjadi tukang cuci mobil, sopir shuttle bus, pengatur dan pembuat taman, tukang memperbaiki rumah, hingga mendirikan perusahan perumahan, semuanya pernah dia jalani. Nah, pada usaha terakhirnya itu Agung menemukan peruntungan. “Usaha saya dan partner maju,” katanya.
Tapi, tetap saja kesuksesan itu tak mampu meng­hapus kecintaan Agung kepada dunia aeronautika. Meski dua kali menga­lami pengalaman pahit, ketika pada 2006 Boeing menawarinya untuk bekerja lagi se­iring pulihnya pasar pesawat, Agung tak butuh waktu panjang untuk mengiya­kan. “Partner saya tak mau melepas, tapi saya bersikeras kembali ke Boeing,” ujarnya.
Pilihan itu terbukti tepat. Di industri pe­sawat yang didirikan William Boeing itu karir Agung terus menanjak, meski bis­nis bersama sang partner tadi tetap di­jalankan. Kini alumnus SMAN 3 Ban­dung tersebut menduduki jabatan struc­tural analysis engineer. Pesawat produksi Boeing yang pernah ditangani sektor stress analysis-nya adalah Boeing 737 dan Boeing 757.
Agung adalah satu di antara sekitar 30 orang Indonesia yang kini berkarir di Boeing. Mayoritas jebolan IPTN alias PT DI. Mereka tersebar di berbagai depar­temen. Bukan hanya di urusan teknis, tapi ada juga yang bekerja di bagian keuangan.
Dari ke-30 orang itu, tak sedikit pula yang menduduki posisi bergengsi atau berpengaruh karena skill yang mereka miliki. Agung, misalnya, ketika hendak dipindah ke pembuatan Boeing 777, dengan tegas menolak. “Saya bilang mau keluar kalau dipaksa pindah,” kisahnya. “Bos saya bilang, sama sekali tak ter­pikir­kan Anda keluar dari Boeing,” lanjutnya.
Itu menunjukkan kapasitas dan kualitas Agung yang sangat dihargai di Boeing. Sama halnya dengan Tonny Soeharto. Lulusan ITB 1982 itu menduduki posisi lead engineer-MB production support engineering Boeing 777. Pada pembuatan pesawat berbadan lebar untuk pener­bangan lintas benua yang sangat diminati pasar itu, Tonny dipercaya menjadi pim­pinan di salah satu bagian yang vital. “Tak terbayangkan kita orang Indo­nesia mem­bawahi orang-orang Amerika di Boeing. Alhamdulillah, itu bisa kami capai di sini,” kata Tonny dengan mata ber­kaca-kaca.
“Mereka respek dan menghargai ke­mampuan kita, orang Indonesia. Saya juga dengan bangga bilang sebagai alum­nus IPTN,” lanjut pria yang mem­persunting gadis asal Bangkalan, Madura, itu.
Agung dan Tonny memang sama-sama mengakui bahwa apa yang mereka capai saat ini tak lepas dari latar belakang pengalaman mereka di IPTN. Bekerja di perusahaan yang identik dengan mantan Pre­siden BJ Habibie itu sangat berjasa dalam pembentukan kualitas dan ka­pa­bilitas. Dengan kata lain, IPTN telah menempa mereka hingga memiliki kualitas dunia untuk bidang teknologi pembuatan pesawat. “Di sini (Boeing), menyebut IPTN tidak meragukan. Memudahkan untuk diterima,” kata Agung dan Tonny yang ditemui di tempat terpisah di Seattle.
Bukan alumnus IPTN pun tak kalah mem­banggakan prestasinya. Misalnya, Bramantya Djermani. Dia kini menjadi satu-satunya orang Indonesia yang terlibat dalam pembuatan pesawat Boeing tercanggih, Boeing 787 Dreamliner.
Dreamliner menggunakan bahan dasar komposit. Pesawat itu paling ringan di antara semua jenis pesawat komersial yang pernah ada dan paling hemat bahan bakar. Meski belum dilepas ke pasaran, pesanan kepada Boeing sudah menum­puk, mencapai 800-an. “Untuk saat ini masih dalam tahap persiapan,” kata Bram yang langsung bekerja di Boeing be­gitu lulus dari University of Foledo, Ohio.
Dalam pembuatan pesawat berjuluk Boeing Next Generation itu, Bram me­me­gang jabatan industrial engineer. “Saya berusaha menjalankan tugas de­ngan sebaik-baiknya. Untuk karir saya, dan mudah-mudahan menyumbang bagi nama baik Indonesia,” katanya.
Atas kemampuan masing-masing, orang-orang Indonesia di Boeing rata-rata sudah hidup mapan di negeri Paman Sam. Gaji pokok mereka berkisar USD 200.000 per bulan (sekitar Rp 1,86 miliar). Itu belum termasuk tunjangan dan penghasilan tambahan lain-lain.
Agung, contohnya, punya dua rumah yang megah. “Rumah saya seperti jadi tempat berkumpul mahasiswa asal In­donesia dan tempat penitipan barang-barang mereka,” katanya saat menjamu penulis di salah satu rumahnya di ka­wasan Way, Kent, Washington.
Tonny juga sudah berhasil menuntaskan kuliah anak tertuanya di University of Washington (UW), Seattle. Si sulung yang beristrikan perempuan Vietnam itu kini mengikuti jejak ayahnya sebagai engineer. Anak kedua memilih jurusan arsitek di perguruan tinggi yang sama. “Alhamdulillah, kami juga terus berusaha mem­bantu siapa saja anak Indonesia yang kuliah di sini (Seattle dan sekitar­nya),” ujar Tonny.
Di luar Agung, Tonny, dan Bram, masih ada Kholid Hanafi yang berada di bagian pembuatan Boeing 737 dan Maurita Sutedja yang berkarir di departemen ke­uangan. Sulaeman Kamil, mantan direktur teknologi IPTN dan pernah menjadi asisten Menristek, kepala BPPT, juga bekerja di Boeing. “Intinya, kami semua bangga,” kata Bram. “Kami mem­buktikan bahwa orang Indonesia tidak kalah dengan warga Amerika atau bang­sa-bangsa lain di dunia,” lanjutnya.
Namun, di balik kebanggaan itu juga tersembul kegundahan. “Sedih karena semua kemampuan iptek yang kami mi­liki tak bisa dikembangkan atau dipakai di Tanah Air,” kata Tonny.
“Potensi dan kemampuan anak-anak Indonesia tak kalah. Sayang ndak bisa diaplikasikan di Tanah Air. Tidak ada ruang dan wadah yang cocok bagi pe­ne­rapan dan pengembangan teknologi dir­gantara di Indonesia,” tambah Bram.
Kalau saja IPTN tak kolaps dan konsistens mengem­bangkan produksi seperti CN315, N250, dan N2130, Agung yakin perusaha­an pelat merah itu akan menguasai pasar yang kini dikangkangi ATR. ATR adalah anak perusahaan saingan Boeing, Airbus, yang bermarkas di Toulouse, Prancis.
Sumber: RadarBanten
September 4, 2013

100% Dibuat Oleh Putra-putri Indonesia, Pesawat N219 Sudah Dilirik Negara Lain

Feby Dwi Sutianto – detikfinance
Selasa, 03/09/2013 17:23 WIB

http://images.detik.com/content/2013/09/03/4/173519_n219320.jpg

Jakarta – PT Dirgantara Indonesia (PT DI) sedang mengembangkan pesawat berbadan ringan N219. Pesawat ini 100% dirancang dan dibuat oleh putra-putri Indonesia di Bandung, Jawa Barat.

Direktur Utama PT DI Budi Santoso menjelaskan pengembangan N219 berbeda saat pembuatan pesawat baling-baling N250 pada tahun 1980-an akhir hingga dipamerkan ke publik pada tahun 1995. Saat itu, PTDI harus mendatangkan tenaga ahli dari asing untuk mengembangkan pesawat asli buatan Indonesia yang pertama.

“Meskipun N219 nggak besar-besar amat tapi itu akan jadi wahana. Mungkin perbedaannya N250 dulu, kita nggak punya ilmu jadi kita datengin orang bule untuk di adobsi atau ilmunya dicontek. Kalau sekarang yang tua-tua dikumpulin lalu ngajarin yang muda-muda. Sekarang nggak ada bulenya (pengembangan N219),” ucap Budi saat ditemui di Kantor Kementerian Kodinator Bidang Perekonomian, Jl. Lapangan Banteng Jakarta, Selasa (3/9/2013).

Ditambahkan Budi, pesawat N219 nantinya akan menjadi pesaing dari pesawat Twin Otter yang telah dirancang sejak tahun 1960-an. Menurutnya dengan desain dan teknologi terbaru, pesawat N219 mampu bersaing. Diakuinya pasar pesawat berbadan kecil terbesar datang dari Indonesia.

“Di Indonesia masih banyak tempat. Kenapa market Indonesia yang besar nggak dimaksimalkan. Market terbesar kedua Australia, kemudian di Afrika, dan lain-lain. Kita market terbesar jadi harus manfaatkan pasar besar ini,” katanya.

Disebutkan Budi, ada beberapa negara yang mulai melirik dan berminat membeli pesawat yang akan diluncurkan pada akhir 2014 ini. Sayangnya Budi enggan menyebutkan negara mana saja yang tertarik.

“Di luar negeri beberapa negara sudah tertarik dengan barang ini. Tapi karena barangnya belum ada saya belum bisa bilang,” sebutnya.

Pada kesempatan itu, Budi menjelaskan maksud pertemuannya dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa, yaitu membahas rencana model bisnis PTDI ke depan.

“Kita diminta nggak ke militer tapi ke komersial. Saya harus berpikir bagaimana komersialnya jalan,” terangnya.

(feb/hen)

 

_+++++++

 

Dahlan Iskan Sambangi Kantor Perwakilan PTDI di AS

Feby Dwi Sutianto – detikfinance
Rabu, 04/09/2013 08:36 WIB

http://images.detik.com/content/2013/09/04/4/img_1908.jpg

Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan berkempatan sambangi kantor perwakilan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Seattle, Amerika Serikat (AS). Dahlan bertemu Pimpinan Perwakilan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) untuk Amerika Serikat (IPTN North America, Inc) Gautama Indra Jaya.

“Kemarin saya mengunjungi kantor sebuah perusahaan Amerika yang sahamnya 100% milik PTDI di Seattle, INA Inc (IPTN North America). Perusahaan ini berkantor di bangunan dua lantai miliknya sendiri yang sepadan dengan kantor-kantor lain di sekitarnya,” ucap Dahlan dalam keterangan tertulisnya kepada detikFinance, Rabu (4/9/2013).

Saat bertemu Indra, Dahlan memperoleh penjelasan mengenai aktivitas bisnis IPTN North America. Termasuk rencana pengembangan usaha ke depan.

“Saya mendiskusikan apa saja yang bisa dilakukan untuk meningkatkan usaha di AS,” jelasnya.

Bahkan Dahlan menerima penjelasan anak usaha PTDI ini, IPTN North America Inc telah mandiri secara permodalan. IPTN North America Inc telah lepas dari suntikan modal sang induk sejak 3 tahun silam.

“Menurut Indra, sudah tiga tahun ini INA (IPTN North Amerika) Inc bisa mandiri dan tidak mendapat subsidi dari induknya di Bandung. Usaha yang dilakukan adalah menjadi pemasok spare part pesawat terbang tidak hanya untuk PT DI tapi juga untuk negara-negara lain,” jelasnya.

Ditambahkan Indra, omset IPTN North America Inc saat ini sebanyak 90% berasal dari penjualan spare part di luar PTDI.

“Omzet dari PT DI hanya 10% dari omset secara keseluruhan. Saya juga mendiskusikan usaha berikutnya yang akan dilakukan INA Inc di masa yang akan datang,” sebutnya.

 

+++++++++++++++++

 

Dahlan Iskan Sambangi Kantor Perwakilan PTDI di AS

Feby Dwi Sutianto – detikfinance
Rabu, 04/09/2013 08:36 WIB

http://images.detik.com/content/2013/09/04/4/img_1908.jpg

Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan berkempatan sambangi kantor perwakilan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Seattle, Amerika Serikat (AS). Dahlan bertemu Pimpinan Perwakilan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) untuk Amerika Serikat (IPTN North America, Inc) Gautama Indra Jaya.

“Kemarin saya mengunjungi kantor sebuah perusahaan Amerika yang sahamnya 100% milik PTDI di Seattle, INA Inc (IPTN North America). Perusahaan ini berkantor di bangunan dua lantai miliknya sendiri yang sepadan dengan kantor-kantor lain di sekitarnya,” ucap Dahlan dalam keterangan tertulisnya kepada detikFinance, Rabu (4/9/2013).

Saat bertemu Indra, Dahlan memperoleh penjelasan mengenai aktivitas bisnis IPTN North America. Termasuk rencana pengembangan usaha ke depan.

“Saya mendiskusikan apa saja yang bisa dilakukan untuk meningkatkan usaha di AS,” jelasnya.

Bahkan Dahlan menerima penjelasan anak usaha PTDI ini, IPTN North America Inc telah mandiri secara permodalan. IPTN North America Inc telah lepas dari suntikan modal sang induk sejak 3 tahun silam.

“Menurut Indra, sudah tiga tahun ini INA (IPTN North Amerika) Inc bisa mandiri dan tidak mendapat subsidi dari induknya di Bandung. Usaha yang dilakukan adalah menjadi pemasok spare part pesawat terbang tidak hanya untuk PT DI tapi juga untuk negara-negara lain,” jelasnya.

Ditambahkan Indra, omset IPTN North America Inc saat ini sebanyak 90% berasal dari penjualan spare part di luar PTDI.

“Omzet dari PT DI hanya 10% dari omset secara keseluruhan. Saya juga mendiskusikan usaha berikutnya yang akan dilakukan INA Inc di masa yang akan datang,” sebutnya.

July 10, 2013

6 dari 100 Siswa Terlibat Narkoba

 

 sumber : http://pmlseaepaper.pressmart.com/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2013/07/10/ArticleHtmls/6-dari-100-Siswa-Terlibat-Narkoba-10072013008003.shtml?Mode=1#

BADAN Narkotika Nasional (BNN) meminta Pemerintah Kota Depok untuk 
membangun pusat rehabilitasi bagi para pecandu narkoba agar mereka dapat 
sembuh dari ketergantungan obat berbahaya tersebut. 

Menurut hasil diskusi yang digelar Direktorat Penguatan Lembaga 
Rehabilitasi Komponen Masyarakat (PLRKM) BNN dan BNN Kota Depok, Rabu 
(3/7) lalu, ada 6 dari 100 pelajar di Depok yang menggunakan narkoba. 
Data itu berasal dari hasil penelitian tim Pusat Penelitian dan 
Kesehatan Universitas Indonesia (Puslitkes-UI) pada November 2012 lalu. 

“Jakarta, Bogor, dan Bekasi mayoritas pencandu narkoba itu datang dari 
kalangan pelajar dan mahasiswa. Kita harus bergerak agar narkoba 
benar-benar tidak lagi meracuni generasi muda kita,” kata Kepala BNN 
Kota Depok Miral Hayadi. 

Menurut Miral, pembangunan pusat rehabilitasi sangat berguna untuk 
kesembuhan para pecandu sehingga bisa menciptakan Indonesia bersih dari 
narkoba. 

Sementara itu, Kepala Puskesmas Kecamatan Sukmajaya Wahyudin mengatakan 
puskesmas yang dipimpinnya telah memiliki metode penyembuhan pecandu 
dengan layanan metadon. “Klinik metadon ini memiliki dua dokter 
spesialis, dua perawat, dan dua apoteker. Semua tenaga medik ini telah 
menjalani pelatihan dan memiliki sertifikasi dari Kementerian 
Kesehatan,” katanya. 

Wahyudin pun mengatakan di klinik yang diresmikan 1 Juli 2011 itu, 
pelayanan dilakukan setiap hari, termasuk hari libur dan hari raya. 
Namun, ada persyaratan bagi pecandu yang ingin berobat. Di antaranya, 
pasien berusia minimal 18 tahun dan menjadi pecandu narkoba jenis opiat 
selama minimal 12 bulan. “Jika di bawah 18 tahun, kami akan merujuk ke 
spesialis lain untuk mendapatkan terapi dengan cara yang berbeda,” ujarnya. 

Adapun kendala yang dihadapi Puskesmas Sukmajaya ialah belum tersedianya 
fasilitas kamar khusus bagi pasien metadon. “Padahal penanganan pecandu 
harus dibedakan dengan pasien umum,” ujarnya. (*/Ant/J-1) 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 75 other followers