Archive for ‘Industry Manufactur’

May 29, 2012

PT DI-SUKHOI Matangkan Rencana Produksi Ekor Pesawat

23 MEI 2012
PT DI-SUKHOI Matangkan Rencana Produksi Ekor Pesawat
23 Mei 2012

Cutaway pesawat Superjet 100 buatan Sukhoi (image : Flight International)

BANDUNG (bisnis-jabar.com): PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan Sukhoi sedang mematangkan kerjasama pembuatan ekor pesawat. Rencana kerjasama ini tidak terkendala kasus kecelakaan Sukhoi Superjet 100 beberapa waktu lalu.

Kepala Divisi Manajemen Mutu dan Koordinator Kehumasan PT DI Sonny Saleh Ibrahim mengatakan pihak Sukhoi sudah menjajaki kerjasama ini sejak dua tahun terakhir.

Rencananya PT DI akan membuat ekor pesawat Sukhoi, baik vertikal maupun ekor horizontal jika kerjasama itu terwujud.

“Bila terjadi kesepakatan kontrak, kami siap membuat sekitar 40 unit bagian ekor pesawat tersebut setiap tahunnya,” katanya hari ini.

Pembicaraan lanjutan soal ini, menurutnya, agak tertunda dengan kejadian kecelakaan Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak. PT DI sendiri yakin meski ada penundaan, kerjasama bakal terus berlanjut. “Prospek kerjasama ini sudah mencapai 90 %,” katanya.

Pembicaraan yang tersisa akan membahas secara detil mengenai komponen, pembuatan contoh komponen, termasuk nilai kontrak. Pembuatan komponen ekor pesawat sendiri menurut Sonny bisa dipenuhi pihaknya karena memiliki peralatan dan mesin yang dapat menunjang pesanan tersebut.

Apalagi, dalam waktu dekat PT DI bersiap menambah mesin baru. “Jadi, kami optimistis dapat memenuhi pemesanan tersebut,” ujarnya.

Selain Sukhoi, PT DI menjalin kerjasama dengan beberapa lembaga sejenis asal berbagai negara. Di antaranya, Boeing, Airbus, dan Eurocopter. Sebagai contoh, pihaknya menjalin kerjasama dengan Airbus, Boeing, dan Eurocopter dalam hal produksi komponen. Untuk Airbus, komponen yang diproduksi PT DI yaitu punggung dan sayap. Jenisnya, Airbus A-320, A-321, A-349, A-380, dan A-350. (k57/yri)

(Bisnis Jabar)

May 29, 2012

Tiga Cabang Industri Rawan Mengalami Deindustrialisasi

PERINDUSTRIAN
Tiga Cabang Industri Rawan Mengalami Deindustrialisasi

Tiga Cabang Industri Rawan Mengalami Deindustrialisasi
Jakarta, Kompas – Pemerintah mengisyaratkan industri yang diindikasikan mengalami gejala deindustrialisasi. Sedikitnya ada tiga cabang industri yang cukup rawan, yaitu kelompok industri tekstil, barang kulit, dan alas kaki; industri barang kayu dan hasil hutan; serta industri logam dasar besi dan baja.

Indikasi deindustrialisasi tersebut disampaikan Menteri Perindustrian MS Hidayat dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Jakarta, Senin (28/5). Selain menunjukkan sejumlah kinerja Kementerian Perindustrian, deindustrialisasi rupanya menjadi salah satu pembahasan yang perlu dicarikan upaya mengantisipasinya.

Hidayat menjelaskan, indikasi deindustrialisasi terutama terjadi pada tahun 2006-2009, pada saat krisis ekonomi melanda negara- negara tujuan ekspor, seperti Jepang, Amerika, dan Eropa. Selain itu, indikasi ini juga disebabkan maraknya barang-barang impor, terutama dari China, yang harganya murah dan kualitasnya rendah sehingga mengurangi pangsa pasar produk-produk industri dalam negeri.

Namun, Menperin meyakini bahwa tahun 2010 dan 2011, pertumbuhan ketiga cabang industri tersebut telah mulai mengalami peningkatan kembali. Kemenperin pun berupaya melakukan langkah-langkah strategis untuk mengantisipasi deindustrialisasi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), selama tahun 2006-2009, ketiga subsektor yang diindikasikan mengalami deindustrialisasi mengalami pertumbuhan yang melambat. Industri tekstil, barang kulit, dan alas kaki sempat mengalami pertumbuhan minus 3,68 persen (2007). Industri logam dasar, besi, dan baja sempat anjlok ke minus 4,26 persen (2009), sedangkan industri barang kayu dan hasil hutan pada tahun 2010 masih mengalami minus 3,47 persen.

Menurut Hidayat, industri tekstil, barang kulit, dan alas kaki diantisipasi dengan program restrukturisasi mesin/peralatan industri. Nilai bantuan yang dialokasikan pemerintah telah mampu merangsang investasi swasta sebesar 10 kali lipat.

Yusyus Kuswandana, anggota Komisi VI dari Fraksi Partai Demokrat, menegaskan, pemerintah pusat dan daerah perlu meningkatkan koordinasi dalam mengantisipasi deindustrialisasi. Penggalian potensi-potensi daerah perlu dilakukan.

”Di daerah, masih banyak industri kecil dan menengah yang memiliki potensi, tetapi belum tersentuh,” ujar Yusyus. (OSA)

May 15, 2012

Bisnis Indonesia : Riset mobil hijau tuntas

Bisnis Indonesia 15 Mei 2012

Riset dan pengembangan teknologi proyek mobil atau low cost green car (LCGC) diklaim telah selesai. Teknologi itu terdiri dari pengembangan pengerak dan penyelarasan kebutuhan komponen.
Selanjutnya, para prinsipal otomotif global yang terlibat dalam proyek ini tinggal merampungkan pembangunan fasilitas produksi dan membangun kerjasama strategis dengan industri komponen.

Direktur Jendral Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementrian Perindustrian Budi Darmadi mengatakan sistem riset, teknologi dan pengembangan R & D merupakan mata rantai terpenting dalam struktur industri otomotif

Tak heran jika sebagian besar komitmen investasi prinsipal otomotif untuk proyek mobil hijau dikucurkan untuk memperdalam riset dan memperkuat teknologi sebelum proses produksi dijalankan.

Riset , teknologi dan pengembangan LCGC sangat mahal. Beberapa principal yang telah mengalirkan investasi untuk R&D proyek mobil hijau antara lain : Daihatsu Motor Co, Suzuki Motor, Nissan Motor, Toyota Motor dan Honda MotorCo.

Persiapan mereka sudah sangat jauh sehingga program ini tidak boleh berhenti, adapun regulasinya akan dikeluarkan pada Oktober tahun ini supaya produknya bisa dimulai pada 2013.

Pada prinsipnya lanjut Budi, setiap investasi baru mengasumsikan penggunaan teknologi yan lebih mutakhir daripada sebelumnya. Seluruh proses tersebut harus terjadi di dalam negeri supaya terjadi transfer teknologi secara bekesinambungan. Beberapa aspek teknis berteknologi mobil hijau mungkin berbeda dengan mobil reguler diantaranya kemampuan dan berat mesin,transmisi hingga jumlah dan ukuran komponen yang digunakan.
Mobil hijau ini akan berbasi alloy (perpaduan logam) sehingga tak bisa digantikan dengan mesin biasa berbasis ferro.
Baham mesin alloy harganya sangat maha, tetapi penting untuk digunakan untuk mengurangi berat sehingga mobil hijau bisa melaju hingga 22 km/liter. Konsekwensinya harus ada fasilitas produksi mesin alloy.

Riset CVT (Continuously variable transmission )

Salah satu rist komponen yang berat adalah pengembangan belt untuk sistem transmisi CVT mobil hijau. Sistem ini mirip dengan yang digunakan pada mekanisme sepeda motor. Perbedaannya bobot kerja komponen ini jauh lebih besar sehingga perlu diciptakan produk yang sesuai dengan karakteristik mobil hijau.

Pabrikan mobil hijau saat ini sibuk bolak balik mengumpulkan vendor komponen. Meski R & D telah selesai pemerintah tetap memberikan waktu supaya industri komponen semakin siap.
Berdasarkan pembahasan dengan GIAMM (Gabungan industri alat alat mobil dan motor) dan kalangan agen tunggal pemegang merek secara teknis terdapat 300 macam komponen sub assy yang bisa dimanfaatkan untuk proses produksi mobil hijau.
Sub assy merupakan komponen yang terangkai semi utuh dari gabungan beberapa unut komponen kecil yang selanjutnya akan disatukan menjadi rangkaian mesiandan peralatan pendukung secara utuh (main part) untuk under body dan upper body line serta main body line.

Beberapa sub assy yang telah berhasil disingkronkan diantaranya : sistem rem, dies jig dan stamping, komponen mesin,komponen dan body pressed part, spark plug, peredam kejut,transmisi, sistem kemudi, etc

Jika riset dan investasi dan proses transfer teknologi berjalan dengan baik, lanjut budi struktur industri otomotif akan semakin kokoh karena pabrikan, industri komponen lapis 1-3, bengkel dan diler resmi/tak resmi akan semakin berkembang. Pemerintah dan pebisnis komponen juga bersepakat agar impor komponen mobil hijau yang menjadi bagian program nasionnal dapat dikurangi dalam waktu yang sudah dijadwalkan bersama sama. Pemerintah mewajibkan penggunaan komponen lokal untuk mobil hijau bertahap hingga 80% dalam waktu 5 tahun mendatang.

Untuk setiap proses investasi otomotif jangka panjang lanjutnya, pemerintah selalu mengarahkan investor membangun riset teknologi dan pengembangan. Adapun regulasi mobil yang memuat fasilitas fiskal dan non fiskal dikeluarkan setelahnya.

May 11, 2012

Ketika Presiden terpincut mobil hybrid

bisnis indonesia 10 Mei 2012

Ketika Presiden terpincut mobil hybrid

Ada perkembangan menarik dari Istana Presiden be berapa hari terakhir. Sejak petinggi PT Astra
International Tbk menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa, isu seputar mobil hibrid terus bergulir.
Seolah tidak ingin terbuang waktu Kepala Negara kemarin langsung menginstruksikan Menteri Perindustrian M.S Hidayat dan Menteri Keuangan Agus D.W Martowardoyo utk menindaklanjuti rencana pengembangan mobil hybrid

Kedua menteri itu diminta bernegosiasi dengan pabrikan, terutama kelompok usaha Astra, untuk merumuskan insentif yang diinginkan sehingga mobil hybrid ini bisa diproduksi di dalam negeri.

Mobil hybrid yang menggabungkan teknologi mesin konvensional dengan motor listrik sehingga irit dalam konsumsi bahan bakar minyak, dinilai sejalan dengan upaya pemerintah menekan penggunaan BBM bersubsidi yang kian membengkak. Mobil hybrid dianggap bisa menjadi solusi setelah rencan BBM subsidi dan pembatasannya kandas di tengah jalan karena dinilai sulit untuk diterapkan.
Pengembangan mobil hybrid juga sejalan dengan program mobil hijau atau low cost and green car (LCGC) yang telah dicanangkan pemerintah. Bedanya, mobil hijau selama ini lebih fokus pada mobil murah bukan pada teknologi hijaunya
Mesk demikian LCGC berhasil menarik sejumlah prinsipal global dalam jumlah besar. Program insentif menarik, termasuk penerapan sistem cukai yang flexibel sebagai pengganti pajak penjualan barang mewah.

Berdasarkan data BKPM investasi di sektor otomotif yang telah disetujui mencapai 32 T . Itu belum termasuk investasi baru yang disiapkan prinsipal
Menurut Menperin, pemerintah mengharapkan mobil Hybrid bisa mulai diproduksi di dalam negeri pada tahun ini atau paling lambat 2013.

Pabrikan tentu minta fasilitas penurunan bea masuk dan sebagainya, tetapi kami bilang tidak bisa kecuali diproduksi di dalam negeri. Hal senada disampaikan oleh Menkeu. Dia mengatakan pemerintah sedang mempertimbangkan insentif fiskal untuk memproduksi mobil hybrid. Arah kebijakan itu akan lebih ditekankan agar Indonesia bisa menjadi basis produksi mobil Hybrid dan tidak hanya menjadi pasar semata
Menko Ekuin menjelaskan insentif fiskal itu bisa berupa bea masuk atau pajak penjualan barang mewah . Insentif diperlukan agar harga mobil jadi terjangkau konsumen.

….

May 10, 2012

Akhirnya Boeing Beri “Offset” kepada Indonesia

Tinggal lanjutkan !

09 MEI 2012
Akhirnya Boeing Beri “Offset” kepada Indonesia

Dari 2 maskapai Indonesia saja order pesawat angkut penumpang dari Boeing cukup besar, Lion Air order 201 Boeing 737 MAX, dan 29 Boeing 737-900ER, sedangkan Garuda Indonesia order 10 Boeing 777-300ER dan 6 Boeing 737-800 (photo : Robin YS)

JAKARTA, KOMPAS.com – Pabrikan pesawat terbesar di AS, Boeing Company akhirnya akan memberi offset kepada Indonesia. Kepastian tersebut disampaikan oleh Duta Besar Indonesia untuk AS, Dino Patty Djalal, Rabu (9/5/2012) di Jakarta. “Akhirnya Boeing memberi offset ke kita setelah bertahun-tahun kita perjuangkan,” ujar Dino di Kantor Kementerian Perhubungan.

Offset merupakan praktek pemberian kompensasi oleh industri asing sebagai persyaratan dari suatu negara ketika melakukan pembelian. Dalam kasus Boeing ini dilatarbelakangi karena banyaknya pihak industri dari Indonesia dan TNI AU yang membeli pesawat dari Boeing.

Seperti pembelian pesawat udara sipil B737-800NG oleh maskapai penerbangan Garuda Indonesia dan B737-900ER, B737-Max oleh Lion Air yang jumlahnya lebih dari 20 miliar dollar AS. Selain itu juga ada pembelian pesawat F-16 dan helikopter Apache oleh TNI AD.
Bentuk offset bermacam-macam dan biasanya ditentukan oleh negara pembeli produk berapa prosentase dari nilai keseluruhan transaksi penjualan. Biasanya offset dipakai untuk mengembangkan industri domestik negara pembeli, transfer teknologi, memajukan investasi, dan meningkatkan lapangan pekerjaan.

AH-64D Apache menjadi heli serang yang dipilih untuk melengkapi arsenal TNI AD (photo : Sonic)

Selain itu juga untuk mendapatkan teknologi baru, mendukung industri domestik yang strategis, mendapatkan akses terhadap pasar baru, meningkatkan nilai ekspor, dan meningkatkan hubungan dengan perusahanaan multinasional.

Untuk Indonesia, menurut Dino, nilainya lebih dari yang diperkirakan. “Kalau cuma untuk menghidupkan PTDI, maka nilai jumlahnya sangat cukup,” ujar Dino sambil tertawa.

Berkaitan dengan itu, hari ini diadakan diskusi antara stakeholder di bidang transportasi udara untuk merumuskan apa bentuk offset yang akan diminta kepada Boeing.

Selain dihadiri Dino, diskusi juga dihadiri Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Ikhsan Tatang, perwakilan dari GMF, Garuda, Lion, BPPT, PTDI, PT Len, PT Pindad, Susi Air, Kementerian Perhubungan, Kementerian Luar Negeri, Kementerian BUMN, dan Kementerian Perisdustrian.

“Selanjutnya akan dibentuk tim kecil oleh Dirjen Perhubungan Udara untuk merumuskan apa-apa saja yang nanti akan kita ajukan,” ujar Ikhsan Tatang.

(Kompas)

April 26, 2012

Hilirisasi Harga Mati

Kamis,
26 April 2012
Hilirisasi Harga Mati
Sawit, Kakao, Minerba, hingga Rotan Jadi Prioritas
Jakarta, Kompas – Ekspor produk manufaktur tumbuh lebih rendah daripada pertumbuhan ekspor produk primer. Sementara itu, sejak 2008, impor produk manufaktur naik pesat sehingga neraca perdagangan produk manufaktur defisit. Karena itulah, hilirisasi industri merupakan harga mati.

Penegasan itu disampaikan Menteri Perindustrian MS Hidayat ketika berkunjung ke redaksi harian Kompas di Jakarta, Senin (23/4). Selain jajaran Kementerian Perindustrian, hadir pula sejumlah pejabat dari Kementerian Perdagangan.

Hidayat menegaskan, ”Tanpa upaya mendorong produktivitas, daya saing produk industri nasional kian menurun. Neraca perdagangan akan rentan terhadap fluktuasi harga komoditas.”

Tuntutan hilirisasi semakin kuat. Tuntutan memperluas rantai nilai komoditas ekspor unggulan, seperti minyak sawit mentah (CPO), karet alam, dan biji kakao, juga makin mengemuka.

Semangat hilirisasi, yaitu mengolah bahan mentah sebelum diekspor, semakin berkembang. Bahkan untuk produk pertambangan mineral dan batubara (minerba) diwajibkan Undang- Undang Nomor 4 Tahun 2009.

Sekretaris Jenderal Kemendag Ardiansyah Parman mengatakan, ”Secara prinsip, hilirisasi yang mendorong mencapai nilai tambah akan terus didorong.”

Produk prioritas

Hidayat mencontohkan, Indonesia sebagai penghasil CPO terbesar di dunia dengan jumlah produksi tahun 2011 mencapai 23,8 juta ton, sedangkan minyak kernel 2,6 juta ton. Ekspor minyak sawit mentah membuat nilai tambahnya dinikmati negara tujuan ekspor, seperti China, India, Uni Eropa, dan Malaysia.

Untuk itulah, penerapan kebijakan restrukturisasi bea keluar (Peraturan Menteri Keuangan No 128/2011) diberlakukan per September 2011. Sesuai Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 13 Tahun 2010 tentang peta panduan pengembangan industri hilir kelapa sawit.

Bea keluar kakao pun diterapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan 67 Tahun 2010. Tujuan pengenaan bea keluar biji kakao adalah dalam rangka penyediaan bahan baku industri pengolahan kakao dalam negeri.

Kini pemerintah pun melarang ekspor rotan sebagai bahan baku. Hidayat mengakui, saat masa transisi enam bulan, ada pertentangan dan pihaknya berjanji merangkul semua pemangku kepentingan. ”Saya sudah identifikasi pengusaha yang suka ngemplang pembayaran rotan. Akan saya bereskan,” katanya.

Menurut Presiden Direktur PT Sucofindo Arief Safari, larangan ekspor rotan mentah mulai berdampak terhadap ekspor mebel dan kerajinan rotan. Dalam tiga bulan tahun 2012, ekspor per Januari 15,36 juta dollar AS, Februari 19,31 juta dollar AS, dan Maret 23,46 juta dollar AS. (OSA)

April 12, 2012

PT Len Bangun Pabrik Panel Surya di Karawang

detikFinance » Industri
Rabu, 11/04/2012 15:15 WIB
PT Len Bangun Pabrik Panel Surya di Karawang
Budi Alimuddin – detikFinance

Karawang – PT Len Industri (Persero) merencanakan pembangunan pabrik fotovoltaik atau modul panel surya berkapasitas 60 MWp pertahun. Berlokasi di Jalan Teluk Jambe, Kota Karawang Barat, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, di atas lahan bekas pabrik tekstil milik PT Industri Sandang Nusantara (ISN) seluas 28 hektar.

Pabrik milik BUMN yang bergerak dalam bidang elektronik industri dan prasarana ini, diperkirakan selesai pada Juli 2012 konstruksi akan segera dimulai.

“Tahap awal 2 hektar dulu untuk menampung mesin-mesin produksi. Selanjutnya akan kita tingkatkan kapasitasnya mencapai 350 MWp pertahun,” ungkap Direktur Utama PT Len Wahyudin Bagenda, di lokasi bekas pabrik PT ISN, Karawang, Rabu (11/4/2012).

Dalam kesempatan tersebut Wahyudin menjelaskan bahwa industri fotovoltaik Len sudah dimulai di Bandung dengan kapasitas 10 MW pertahun. Menggunakan teknologi kristalin silikon c-Si.

Pertimbangan teknologi ini berdasarkan hasil studi kelayakan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dimana, pabrik sel surya kristal silikon (c-Si) dapat di lihat sebagai solusi awal yang tepat untuk membangun industri sel surya di Indonesia. Karena jenis sel c-Si banyak digunakan produsen sel dunia.

“Pangsa pasar masih relatif luas, investasi murah, dan yang terpenting sudah ada prusahaan lokal yang sudah bergerak di hilir yaitu pada teknologi fotovoltaik,” ucapnya.

Secara bertahap kata dia industri akan diarahkan ke hulu, serta dapat mendorong kemandirian bahan baku. Karena menurutnya indonesia memiliki cadangan pasir silikon yang sangat besar, yaitu mencapai 17 miliar metrik ton. “Kita akan membuka kemitraan dalam pembangunan industri fotovoltaik ini,” ucapnya.

Pembangunan pabrik di Karawang ini merupakan bagian dari rencana strategis Len membangun Len technopark di atas lahan 28 hektar tersebut. Di dalam kompleks pabrik seluas 28 ribu hektar itu akan berdiri pusat industri berbasis teknologi tinggi selain industri panel surya.

“Seperti industri ICT, industri signaling kereta api, dan industri defence electronics,” pungkasnya.

(hen/hen)

GRATIS! puluhan voucher pulsa! ikuti terus berita dari DetikFinance di Hape-mu.
Ketik REG FIN kirim ke 3845 (khusus pelanggan Indosat Rp.1300/hari)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Share
Komentar terkini (5 Komentar) · Follower Komentar
Baca Komentar Kirim Komentar
Bambang Kudus 1 day ago Selamat kepada PT. LEN Industri yg telah merealisasikan pabrik panel surya di Karawang, mdh2an transfer teknologi berjalan cepat menuju kemandirian teknologi dan bahan baku. Aspek pasar hendaknya harus tetap dilindungi agar produk2 asing sejenis tdk gampang masuk ke indonesia.
Bezhita Zhy Aishiteru 1 day ago alamatnya apa?? dan da loker g??
namaku_harry 1 day ago taruhan yuk!!! sponsor di balik perusahaan ini adalah yg gembar gembor kemarin

Berita Terpopuler
Kamis, 12/04/2012 17:03 WIB
‘Dikomporin’ Najwa, Dahlan Iskan Akhirnya Buka Akun Twitter
Kamis, 12/04/2012 16:46 WIB
Jet Pribadi Makin Murah, ‘Hanya’ Seharga 5 Alphard
Kamis, 12/04/2012 17:30 WIB
Duh! Akuisisi Danamon, DBS ‘Langkahi’ BI
Kamis, 12/04/2012 17:43 WIB
Laporan dari Singapura
Dapat Tambahan Gas di Teluk Jakarta, PLN Makin Irit
Kamis, 12/04/2012 18:02 WIB
Ngikut BI Rate, Bunga Penjaminan Simpanan LPS Tetap
Komentar Terpopuler
Kamis, 12/04/2012 – 17:31
Utang RI ‘Menggunung’, Hatta Ajak Masyarakat Hemat
Kamis, 12/04/2012 – 14:16
Ini Permintaan Maaf Lengkap Dahlan Iskan Karena Gratiskan Tol Ancol
Rabu, 11/04/2012 – 13:46
Dahlan Iskan Tantang 200 Aktivis Mahasiswa Bermalam di Rumah Warga Miskin
Senin, 09/04/2012 – 14:15
Dahlan Iskan Usul Mobil Layak Subsidi Ditandai Secara Elektronik
Kamis, 12/04/2012 – 14:28
Pilih Mana: Subsidi BBM Atau Bangun Infrastruktur?
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com

April 9, 2012

Ade Bagja: Pindad Sanggup Produksi Tank Tempur Utama

Thursday, April 5, 2012
Ade Bagja: Pindad Sanggup Produksi Tank Tempur Utama
Leopard 2. (Foto: KMW)

5 April 2012, Jakarta: Kepala Divisi Persenjataan PT Pindad, Ade Bagja, menyatakan dukungannya terhadap rencana pemerintah melalui Kementerian Pertahanan membeli 100 tank Leopard dari Pemerintah Belanda.

Namun, jelas Ade, Pindad juga sanggup apabila nantinya diinstruksikan memproduksi alat utama sistem kesenjataan jenis tank tempur utama (main battle tank) tersebut. ”Apakah sanggup buat Leopard? maka jawabannya harus karena itu tantangan dan kami harus menjawab tantangan tersebut,” ujar Ade di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis (5/4).

Keyakinan itu menurut Ade, berkaca dari keberhasilan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam bidang industri pertahanan itu memproduksi kendaraan lapis baja periode 2003-2004 lalu. Ade menyatakan, saat itu banyak yang meragukan kemampuan Pindad membuat kendaraan lapis baja. ”Banyak yang bilang dari sisi teknologi sumberdaya manusia, kami tak bisa memproduksi kendaraan lapis baja. Tapi nyatanya dengan kerja keras dan kerja cerdas, kami membuktikan bahwa kami bisa,” katanya.

Ade menilai, rencana pembelian 100 tank Leopard sesuai dengan kebutuhan peralatan pertahanan nasional saat ini. ”Setiap peralatan pertahanan itu ada peruntukannya. Jadi kenapa harus tank Leopard? Pasti hal itu sudah melewati pertimbangan matang sesuai kebutuhan saat ini,” katanya.

Kementerian Pertahanan telah mengganggarkan dana hingga US$280 juta untuk pembelian tank Leopard buatan Jerman yang digunakan militer Belanda. Anggaran pembelian diambil dari alokasi dana bidang pertahanan tahun anggaran 2010-2014.

Namun parlemen Belanda sampai saat ini masih belum menyetujui niat Pemerintah Indonesia yang ingin membeli 100 tank Leopard. Ini lantaran parlemen Negeri Kincir Angin itu khawatir Leopard nantinya akan digunakan dalam aktivitas militer yang berpotensi menyebabkan terjadinya pelanggaran HAM.

PT. Pindad Siap Penuhi Program Revitalisasi Alutsista Nasional

Direksi PT Pindad menyatakan siap melaksakan program revitalisasi Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) yang dicanangkan pemerintah.

Kepala Divisi Persenjataan PT. Pindad, Ade Bagja, menilai, program revitalisasi tersebut menjadi tantangan sendiri bagi pihaknya untuk memenuhi kebutuhan pertahanan nasional. ”Revitalisasi adalah program Kementerian Pertahanan (Kemhan) yang merupakan program pemerintah juga dan sebetulnya dengan adanya program ini kami ditantang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang ada,” ujar Ade usai pertemuan dengan perwakilan negara sahabat di Kantor Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Jakarta, Kamis (5/4).

Ade mengungkapkan, dalam program ini, PT Pindad yang bergerak dalam industri peralatan militer memang diberikan kesempatan untuk memenuhi sejumlah porsi dari program revitalisasi Alutsista.

Sehingga nantinya sambung Ade, PT Pindad akan melakukan pengkajian terhadap peralatan senjata yang dibutuhkan untuk mendukung revitalisasi tersebut. ”Sehingga PT Pindad bisa membantu kemandirian pertahanan nasional,” katanya.

Sumber: Jurnas

March 2, 2012

Revitalisasi Mesin Hemat Energi Perlu Dipercepat

Jumat,
02 Maret 2012
INDUSTRI
Revitalisasi Mesin Hemat Energi Perlu Dipercepat
Jakarta, Kompas – Kalangan industri sebaiknya secepat mungkin merevitalisasi permesinan sehingga dapat menghemat energi. Penyebabnya adalah pertumbuhan ekonomi yang tinggi mengonsumsi lebih banyak energi. Di samping itu, tarif energi terus naik. Pemerintah juga telah menjanjikan insentif untuk revitalisasi permesinan.

”Sekaranglah saat yang tepat untuk merevitalisasi permesinan, terutama untuk industri plastik dan karet. Apalagi per 1 April 2012, boleh jadi tarif dasar listrik akan naik 10 persen,” kata Sekretaris Jenderal Indonesian Olefin Aromatic and Plastic Associations (INAplas) Budi Sadiman, Kamis (1/3), di Jakarta, dalam seminar The Italian Plastics and Rubber Machinery Technology.

Menurut Budi, tiga tahun lalu, terjadi pembelian besar-besaran mesin dari China. ”Ketika produksi sudah berjalan, kini saatnya membeli mesin-mesin dari Eropa yang modern juga hemat energi,” ujar dia.

Budi menekankan, di Indonesia, biaya energi mencapai 40 persen dari biaya produksi. ”Bulan April, beban listrik naik 10 persen. Dua tahun lagi, diperkirakan juga naik 10 persen. Di Eropa, isu itu sudah ditangani, sekarang giliran Indonesia,” kata dia.

Direktur Jenderal Italian Plastic and Rubber Processing Machinery and Moulds Manufacturers Association (Assocomaplast) Mario Maggiani mengatakan, kebetulan Italia dan Jerman telah bekerja sama untuk menghasilkan mesin-mesin yang hemat energi. Dalam ajang PLAST 2012 di Milan, Italia, pada Mei 2012, fokus utamanya memang mesin hemat energi.

Saat ini, penetrasi ekspor permesinan dari Jerman mencapai 20 persen di dunia, disusul Italia sebesar 10 persen. Adapun penetrasi terbesar tetap dipegang China, dengan menguasai 30 persen pangsa pasar dunia.

”Eropa memang sedang terkena krisis. Saya takkan menyangkalnya. Namun, sektor industri kami tidak surut. Kami tetap akan menghasilkan mesin berkualitas dan segera bekerja sama dengan negara seperti Indonesia, di mana kelas menengahnya sedang tumbuh pesat,” kata Duta Besar Italia untuk Indonesia Federico Failla.

Dalam industri plastik dan karet, nilai total impor mesin dari Indonesia terus meningkat. Tahun 2009 tercatat 348,08 juta dollar AS, tahun 2010 tercatat 540,39 juta dollar AS, dan Januari-November 2011 sebesar 680,67 juta dollar AS. Meski, nilai impor dari Italia baru mencapai 6,5 persen pada tahun 2011.

Salah satu perusahaan yang hadir di Jakarta adalah Techomatic. Lebih dari 30 tahun beroperasi, perusahaan tersebut terus menyempurnakan produk berupa berbagai macam pipa. Produk perpipaan kini sangat dibutuhkan ketika pembangunan infrastruktur mulai bergulir.

Perusahaan Costruzioni Macchine Speciali SpA telah menghasilkan mesin yang mendukung upaya pembuatan mobil balap Formula One (F1), yacht, pembangkit listrik tenaga angin, hingga pesawat tempur. (RYO)

February 29, 2012

Industri Baja Nasional Masih Tertinggal

Rabu,
29 Februari 2012
INDUSTRI
Industri Baja Nasional Masih Tertinggal
Jakarta, Kompas – Menteri Perindustrian MS Hidayat menyatakan, pemerintah akan mengembangkan industri baja nasional menjadi industri baja yang modern. Selama ini, industri baja nasional cukup tertinggal.

Hidayat mengungkapkan hal ini di Kompleks PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, di Cilegon, Serang, Selasa (28/2), saat mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam kesempatan itu, Presiden antara lain mendengarkan penjelasan kesiapan PT Krakatau Steel mendukung Rencana Induk Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia.

Acara itu juga dihadiri sejumlah menteri, antara lain Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan. Pada kesempatan itu, Hidayat menegaskan, pelat baja yang diproduksi industri baja nasional guna keperluan di bidang perkapalan, mesin, dan otomotif belum mampu bersaing dengan produk asing.

Konsumsi baja nasional pun masih rendah, yakni 30-an kilogram per kapita. Jumlah itu sangat kecil dibandingkan dengan konsumsi baja di Malaysia (256 kilogram per kapita), Singapura (115 kilogram per kapita), dan China (470 kilogram per kapita).

Melihat itu semua, menurut Hidayat, pemerintah sangat mendorong para investor untuk ikut memproduksi baja khusus yang diperlukan di bidang otomotif serta perkapalan.

Dalam rangka mendukung perkembangan industri baja nasional menjadi lebih maju, PT Krakatau Steel menjalin kerja sama dengan Pohang Iron and Steel Company (Korea Selatan). Kedua perusahaan itu membentuk proyek patungan lewat PT Krakatau Posco.

”Hasil produksi PT Krakatau Posco akan digunakan untuk bidang-bidang khusus tersebut,” tutur Hidayat.

Namun, ia juga menyampaikan, ada sejumlah kendala untuk memajukan baja nasional, antara lain, ekspor bijih besi dan batubara berkalori tinggi yang tidak terkendali. Solusinya, diperlukan perubahan regulasi agar kedua material itu tidak mudah dijual ke negara lain.

Peran penting

Presiden Yudhoyono menyatakan, industri baja memegang peranan sangat penting di sebuah negara. Kemajuan industri baja akan memacu pertumbuhan ekonomi secara signifikan.

”Industri baja penting karena bisa masuk ke berbagai sektor. Mengembangkan industri baja akan memperluas pertumbuhan ekonomi kita. Ini adalah salah satu pilar perekonomian nasional,” kata Yudhoyono menjelaskan.

Menurut Yudhoyono, lewat Rencana Induk, Indonesia ingin memiliki perekonomian yang tumbuh lebih tinggi lagi pada 15 tahun mendatang. Untuk itu, dibutuhkan pembangunan infrastruktur dan manufaktur besar-besaran.

”Semua ini memerlukan baja sebagai pilar utama. Ini merupakan investasi jangka panjang menuju negara industri tangguh,” kata Yudhoyono. (ATO)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.