Archive for ‘Industry Militer Budget TNI’

July 20, 2013

RI Beli 5 Unit Hercules dari Australia dengan Harga Murah

Untuk kepentingan esensial negeri ini alokasinya hanya cukup untuk “beli barang bekas “. Coba bandingkan dengan prilaku pejabatnya untuk kebutuhan non esensial seperti kendaraan dinas (lihat kendaraan dinas dari petinggi militer deh) . Mereka ingin yang terbaru, luks dan mahal. Karena buat para petinggi militer dengan kendaraan dinas mewah, bisa lebih mudah petantang petenteng di jalan raya..

 

Bisnis Jabar 19 Juli 2013

 

— Pemerintah RI melalui Kementerian Pertahanan akan membeli lima unit Pesawat Hercules dari Australia untuk memperkuat sistem pertahanan udara. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menuturkan pemerintah akan membeli lima unit Hercules dengan harga murah. Hanya saja, Purnomo tidak menyebutkan harga yang disepakati oleh kedua pihak. Selain membeli lima unit pesawat, Pemerintah RI juga akan mendapatkan empat unit pesawat Hercules berupa hibah dari negara pimpinan Perdana Menteri Kevin Rudd itu. “Besok kami akan bertemu dengan Qantas Defence service untuk membicarakan 4 pesawat yang hibah. Selain itu, kami juga beli 5 pesawat. Harga 5 pesawar itu murah sekali,” ujar Purnomo usai menghadiri acara Buka Bersama antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Keluarga Besar Polri di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (18/7/2013). Purnomo optimistis dengan kerjasama ini. Dia menyebutkan kualitas pesawat Hercules tersebut cukup baik. Di sisi lain, ujarnya, Indonesia memiliki banyak suku cadang untuk jenis pesawat Hercules. “Serinya [seri pesawat yang hhibah maupun yang dibeli] H. Kalau di-upgrade bisa buat 15 tahun,” katanya. (Bisnis Jabar)

July 17, 2013

TNI Uji Meriam Korea Selatan di Urut Sewu

Kenapa meriam begini saja masih impor ? Bukannya PT Pindad sudah mampu membuat meriam ?? 

 
16 Juli 2013

UJI MERIAM: Personil TNI AD melakukan uji Meriam Howitzer 105 mm jenis tarik KH-178 buatan Korea Selatan di pesisir selatan Desa Setrojenar, Kebumen. (photo : Suara Merdeka)

KEBUMEN, suaramerdeka.com – TNI AD menggelar uji terima terhadap Meriam Howitzer 105 MM jenis KH-178 di pesisir selatan Desa Setrojenar, Kecamatan Buluspesantren, Kebumen, Selasa (16/7). Uji terima meriam produksi Kores Selatan itu ditinjau langsung oleh  Wakasad Letjen TNI M Munir.

Ikut mendampingi Waasop Kasad Brigjen TNI George I Supit, Kadislitbang TNI AD Brigjen TNI Kun Priambodo, dan Dirpalat Brigjen TNI I Wayanb Cager. Tampak pula Kasdam IV Diponegoro Brigjen TNI Agus Kriswanto, Danrem 072 Pamungkas Brigjen TNI Adi Wijaja dan Dandim 0709 Letkol Dany Rakca Andalawasan.

Kalakgiat Uji Meriam Howitzer 105 MM Kolonel CPL Sri Sunanto menjelaskan, dalam uji terima di Urut 

Sewu pihaknya melakukan uji penembakan sebanyak dua pucuk meriam sebagai simpel. Pengujian dilakukan dengan jarak 6 km, 10 km dan 11,8 km.

“Uji terima meriam guna mendapatkan data dan fakta terhadap meriam produk Korea Selatan itu, sesuai dengan spesifikasi standar penerimaan (SSP),” ujar Kolonel CPL Sri Sunanto kepada suaramerdeka.com di sela-sela uji terima.

Kolonel Sri Sunanto yang sehari-hari menjabat Kasubdit Binjat Ditpalat TNI AD tersebut menambahkan, materi uji yang dilakukan meliputi uji non destructive (tidak merusak) dan uji destruktif bersifat merusak. Uji sebelumnya dilakukan di Lapangan Tembak ASR TNI AU Pandanwangi, Lumajang.

“Nanti masih ada rangkaiannnya lagi, seperti latihan dari operator dan perawatannya,” imbuhnya.

Lebih lanjut, dia menyebutkan, pembelian meriam tersebut merupakan lanjutan dari kontrak eksport (KE) pembelian Alutsista TNI AD dari Korea Selatan. Adapun jumlahnya sekitar 54 pucuk meriam.

(Suara Merdeka)

July 16, 2013

TNI AU Pesan Tiga Unit PUNA dari PT DI

 

 

(Foto: BPPT)

15 Juli 2013, Jakarta: Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) atau lebih dikenal dengan pesawat tanpa awak mulai diproduksi tahun ini oleh industri pertahanan dalam negeri. TNI Angkatan Udara telah memesan tiga unit PUNA dari PT Dirgantara Indonesia.

“Tahun ini sudah dipesan tiga unit dari TNI AU,” ujar Direktur Teknologi dan Pengembangan Enginerring PT DI, Andi Alisjahbana dalam siaran pers PT DI yang diterima wartawan di Jakar-ta, Sabtu (13/7). Pada hari yang sama, PT DI menyerahkan 1 unit Helikopter Bell 412 EP hibah Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur kepada TNI Angkatan Darat di Hanggar Rotary Wing PT DI. Helikopter ini senilai Rp 120 miliar.

Pesawat tanpa awak yang dipesan TNI AU, spesifikasinya low boom, bentang sayap 6,34 meter, berat 60 kilogram, berat muatan 25 kilogram, sistem prolusi mesin bensin dua tak, max 22 HP, muatan kamera video.

Semantara, lepas landas 130 kilogram, kecepatan jelajah 55 knot, ketahanan terbang 4 jam, jarak jelajah 200 kilometer, ketinggian 12.000 kaku, jarak lepas landas 300 meter, tempat pendaratan darat, dan sistem kendali manual maupun autopilot.

Andi mengungkapkan pemesanan dari TNI AU akan terus berkembang hingga mencapai target awal satu skuadron. Pesawat tanpa awak akan dioperasikan untuk pengintaian dan pengawasan di wilayah perbatasan negara.

Pengerjaan PUNA merupakan sinergi PT DI, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan PT LEN. Sinergi itu akan menghasilkan pesawat yang membantu mengatasi permasalahan senjata militer di TNI.

“Ini merupakan solusi karena dapat digunakan sebagai pengawasan darat selain itu teknologi kamera dapat mengambil data dan mengirimkannya di darat, maka dari itu pesawat tanpa awak ini akan dikembangkan dalam kedepannya,” kata Andi.

Diminati Asean

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, secara simbolis mengucurkan air dari kendi seusai penandatanganan serah terima Helikopter Bell-412 EP Kepada Kementerian Pertahanan RI di Hanggar PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI), Bandung, Jabar, Sabtu (13/7). Serah terima ini merupakan hibah dari Pemprov Kaltim guna peningkatan kemampuan daya tempur TNI dalam menjaga keutuhan NKRI. (Foto: ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra/ed/mes/13)

Selain menyelesaikan pemesanan pesawat tanpa awak, PT DI juga memproyeksikan pembuatan pesawat patroli dan angkut CN-235 dan CN-295. Pesawat ini berdasarkan pesanan Malaysia, Thailand dan Filipina, jika kontrak itu terealisasi.

“Di antara ketiga proyeksi itu, kemungkinan besar, yang segera terealisasi yaitu dengan Filipina. Pasalnya masih dalam proses tender,” ujar Direktur bidang Kualitas merangkap Manager Komunikasi PT DI, Sonny Saleh Ibrahim.

Proyeknya, pembuatan dua unit CN 235 NPA dengan nilai sekitar 31-33 juta Dollar Amerika Serikat (AS) per unit. Lalu, dua unit CN 295, yang nilainya sekitar 36 juta Dollar AS per unit.

Rencana pemesanan dari Thailand, lanjut Sonny, dua unit pesawat CN-295. Peruntukannya adalah bagi Thailand Royal Police. Negara itu ingin memperkuat armada kepolisiannya.

Negara ASEAN lainnya, yaitu Malaysia juga siap menjalin kerjasama dengan PT DI. Bentuknya yaitu modifikasi CN 235 sport menjadi CN 235 NPA. Nilai kontrak modifikasi itu sekitar 8-10 juta dolar AS per unit. Selain modifikasi, Malaysia pun siap memesan 3 unit CN 235 NPA.

Seiring geliat pemesanan, kata Sonny, PT DI memproyeksikan peningkatan nilai kontrak untuk pembuatan pesawat terbang, service pesawat, pemesanan komponen, dan pembuatan alat utama sistem senjata (alutsista).

“Proyeksi kami, senilai Rp 4,24 triliun. Harapannya, senilai Rp 3,89 triliun merupakan pemesanan dan pembuatan pesawat. Sisanya Rp 342 miliar, merupakan hasil bisnis service pesawat, pemesanan komponen, dan alutsista engineering,” jelas dia.

Sonny mengharapkan 50 persen nilai kontrak sebesar Rp 4,24 triliun itu dari beberapa negara Asia Pasifik. “Tahun ini, proyeksi komposisi kontrak tidak sama dengan tahun lalu. Pada 2012, mayoritas kontrak dari dalam negeri,” ujarnya.

Nilai kontrak Rp 4,24 triliun itu merupakan kontribusi pembuatan pesawat CN 295, NC 212, CN 235, serta helikopter jenis Bell atau Puma. “Untuk lainnya, seperti aircraft service, harapannya sebesar Rp120 miliar. Lalu, pembuatan komponen pesawat komersil Rp 150 miliar. Sedangkan alutsista engineering Rp 72 miliar,” papar dia.

Sumber: Suara Karya

July 15, 2013

PT DI Bidik Potensi Pesanan dari 3 Negara ASEAN

14 Juli 2013

PT DI mengajukan CN-235 ASW kepada pemerintah Filipina untuk memenuhi kebutuhan negara tersebut akan pesawat patroli maritim full mission (photo : Defense Studies)

PT DI Siap Penuhi Pesanan 3 Negara ASEAN

TRIBUNNEWS.COM BANDUNG, – Sonny Saleh Ibrahim, Direktur Bidang Kualitas sekaligus Manager Komunikasi PT DI mengatakan, tahun ini pihaknya memproyeksikan tiga kontrak kerja yaitu jalinan kontrak dengan Filipina, Thailand, dan Malaysia.

Sonny menjelaskan, di antara ketiga proyeksi itu, kemungkinan besar, yang segera terealisasi yaitu dengan Filipina. Pasalnya masih dalam proses tender. “Proyeknya, pembuatan 2 unit CN 235 MPA, yang nilainya sekitar 31-33 juta Dollar Amerika Serikat (AS) per unit. Lalu, 2 unit CN 295, yang nilainya sekitar 36 juta Dollar AS per unit,” kata Sonny pada sela-sela penyerahan 1 unit Helikopter Bell 412 EP, yang merupakan hibah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur senilai Rp 120 miliar kepada TNI AD di Hanggar Rotary Wing, PT Dirgantara Indonesia (Persero) KP II Jl. Pajajaran No 154 Bandung, Sabtu (13/7).

Lalu, bagaimana dengan Thailand? Sonny mengutarakan, Thailand melakukan pemesanan 2 CN 295. Peruntukannya adalah bagi Thailand Royal Police. Negara itu ingin memperkuat armada kepolisiannya.

Sementara negara ASEAN lainnya, yaitu Malaysia juga siap menjalin kerjasama dengan PT DI. Bentuknya yaitu modifikasi CN 235 transport menjadi CN 235 MPA. Nilai kontrak modifikasi itu sekitar 8-10 juta dolar AS per unit. Selain modifikasi, Malaysia pun siap memesan 3 unit CN 235 MPA.

(TribunNews)

July 14, 2013

PT DI bikin pesawat untuk 3 negara ASEAN

PT DIRGANTARA INDONESIA

 

Oleh Amal Ihsan Hadian – Minggu, 14 Juli 2013 | 14:26 WIB
 
Telah dibaca sebanyak 715 kali
 
 
 
 
 
PT DI bikin pesawat untuk 3 negara ASEAN

BANDUNG. Sonny Saleh Ibrahim, Direktur Bidang Kualitas sekaligus Manager Komunikasi PT DI mengatakan, tahun ini pihaknya memproyeksikan tiga kontrak kerja yaitu jalinan kontrak dengan Filipina, Thailand, dan Malaysia.
 
Sonny menjelaskan, di antara ketiga proyeksi itu, kemungkinan besar, yang segera terealisasi yaitu dengan Filipina. Pasalnya masih dalam proses tender. “Proyeknya, pembuatan 2 unit CN 235 MPA, yang nilainya sekitar 31-33 juta Dollar Amerika Serikat (AS) per unit. Lalu, 2 unit CN 295, yang nilainya sekitar 36 juta Dollar AS per unit,” kata Sonny pada sela-sela penyerahan 1 unit Helikopter Bell 412 EP, yang merupakan hibah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur senilai Rp 120 miliar kepada TNI AD di Hanggar Rotary Wing, PT Dirgantara Indonesia (Persero) KP II Jl. Pajajaran No 154 Bandung, Sabtu (13/7).
 
Lalu, bagaimana dengan Thailand? Sonny mengutarakan, Thailand melakukan pemesanan 2 CN 295. Peruntukannya adalah bagi Thailand Royal Police. Negara itu ingin memperkuat armada kepolisiannya.
 
Sementara negara ASEAN lainnya, yaitu Malaysia juga siap menjalin kerjasama dengan PT DI. Bentuknya yaitu modifikasi CN 235 sport menjadi CN 235 MPA. Nilai kontrak modifikasi itu sekitar 8-10 juta dolar AS per unit. Selain modifikasi, Malaysia pun siap memesan 3 unit CN 235 MPA.

 

Tribunnews.com

 

++++++++++++++

 

PT DI Uji Coba CN235-200 Milik TNI AL

 

12 Juli 2013, Jakarta: PTDI melakukan serangkaian uji coba untuk pesawat barunya yang dipesan TNI AL pada Kamis ( 11/7/ 2013) lalu. Uji terbang yang dilakukan meliputi uji bank to bank, steady heading sideslip, dan uji roll out selama dua jam penuh. Hasilnya, menurut Capt. Ester sebagai Chief Test Pilot, performa pesawat turboprop ini sudah mendekati sempurna. “Apa yang kita ujikan tadi hasilnya sesuai dengan rencana para perancang,” jelasnya.

Selain menguji performa fisiknya, PT DI juga menguji performa winglet CN235-220. Seperti kita ketahui, CN235-220 versi terbaru ini merupakan inovasi anak bangsa, dimana PT DI menambahkan winglet di bagian sayapnya. Winglet tersebut berguna untuk mengurangi daya hambat yang dihasilkan oleh Flir dan radar tambahan di bagian bawah pesawat.

“Setelah dites ternyata winglet ini membantu performa pesawat, hingga menyamai versi basic-nya sebelum ditambah radar dan flir,” ujarnya kepada Angkasa.

Setelah lolos uji fisik ini, PT DI akan melanjutkan dengan uji stall character. Tujuannya, untuk melihat bagaimana respon CN235-220 jika terjadi stall. PT DI menargetkan rangkaian uji terbang ini akan rampung akhir Juli mendatang. Setelah semua selesai, pesawat tersebut akan diserahterimakan kepada Skuadron 800 Penerbal TNI AL.

Sumber: Angkasa

July 10, 2013

Episode Paling Memalukan

Amit amit dach kalau Indonesia tergelincir seperti Pakistan, walaupun ada segelintir kelompok mengidamkan  Indonesia seperti itu

 

Osama Berlindung 9 Tahun di Pakistan

ISLAMABAD , SELASA — Inkompetensi dan kelalaian Pakistan telah membuat pendiri Al Qaeda, Osama bin Laden, bisa hidup bebas selama 9 tahun di Pakistan. Periode itu hingga Osama terbunuh, Mei 2011, dinilai sebagai episode paling memalukan di Pakistan.Tentang kegagalan, ketidakmampuan, dan kelalaian Pemerintah Pakistan itu terungkap dalam laporan resmi komisi investigasi yang dirilis televisi Al Jazeera, Senin (8/7) malam. Dalam laporan itu, Pakistan terkesan berkonspirasi dengan Al Qaeda untuk menyembunyikan Osama.

Komisi itu terdiri dari seorang hakim mahkamah agung, perwira pensiunan tentara, pensiunan polisi, dan seorang diplomat karier. Hasil investigasi itu tertuang dalam laporan setebal 336 halaman. Pakistan tidak bersedia mengomentari keaslian laporan tersebut.

Laporan komisi itu dibuat berdasarkan banyak sumber dan didukung berbagai fakta. Komisi independen itu mewawancarai pejabat sipil, militer, dan tiga janda Osama sebelum mereka dideportasi ke Arab Saudi.

Osama tewas dalam serangan pasukan khusus Navy SEAL Amerika Serikat pada awal Mei 2011 di Abbottabad, kota di Pakistan barat laut. Sesaat setelah serangan itu, pemerintahan Islamabad menyampaikan kemarahan mereka kepada Washington karena tidak diberi tahu tentang operasi penyergapan itu.

Para pejabat AS mengatakan, mereka membiarkan Pakistan tetap berada dalam suasana ”gelap gulita”. Pasalnya, jika operasi itu diberitahukan kepada Islamabad, besar kemungkinan tokoh pendiri Al Qaeda itu akan melarikan diri sebelum penyergapan.

Satu hal yang pasti, rumah persembunyian Osama itu berada sekitar 1 kilometer dari pusat keramaian Abbottabad. Banyak pejabat AS curiga, pejabat Pakistan membantu melindungi Osama selama masa persembunyian dari kejaran AS, yang dilancarkan sejak serangan teroris 11 September 2001. Namun, Washington tidak bisa membuktikan kecurigaan itu.

Menurut laporan itu, petugas tidak menemukan bukti bahwa pejabat atau mantan pejabat Pakistan telah membantu menyembunyikan Osama. Namun, hal itu juga masih diragukan. Sangat sedikit informasi tentang kegiatan jaringan pendukung Osama sehingga dia bisa tinggal di Pakistan.

DikecamLaporan itu mengecam aparatur di semua level di pemerintahan Pakistan, mulai dari pejabat rendah hingga petinggi. Tentara dan intelijen, yang dinilai memiliki infrastruktur mata-mata yang kuat, juga dikecam.

Semua tingkatan di kalangan tentara, polisi, dan intelijen dinilai gagal total mendeteksi keberadaan pemimpin teror itu. Padahal, ia tinggal di enam tempat berbeda di Pakistan dalam 9 tahun atau hampir satu dekade. Mustahil mereka tidak tahu kecuali ada kesengajaan untuk menyembunyikannya.

”Singkat kata, kelalaian dan ketidakmampuan terlihat mulai dari tingkat rendah hingga tingkat yang lebih tinggi di semua tingkat pemerintahan,” kata laporan yang ditulis berdasarkan kesaksian lebih dari 200 sumber, dokumen resmi, dan kunjungan lapangan itu.

Dokumen rahasia itu menyebutkan, adalah hal yang sangat mengejutkan jika tidak ada seorang pun dari pemerintah, militer, polisi, dan pegawai negeri sipil yang mengetahui Osama menetap di Abbottabad selama
9 tahun. Hal itu dinilai ”tidak normal”.

Osama tinggal di balik tembok yang tinggi dan dilindungi kawat berduri dan selalu mengenakan topi koboi ketika ia pindah ke kompleks lain untuk menghindari deteksi udara. (REUTERS/AFP/AP)

July 9, 2013

TNI Angkatan Laut Tangkap Pengguna Bom Ikan

Pengguna bom ikan harus dihukum berat  termasuk penyalur dinamitnya.. 

TNI  AL  bercita cita ingin jadi kekuatan angkatan laut kelas dunia untuk sampai ke sana coba bersihkan laut Indonesia dari bajak laut, pencuri ikan (kapal asing – dengan bos lokal) – nelayan pengguna bom ikan. Jika perairan Indonesia bersih dari para kriminal niscaya TNI AL menjadi kekuatan laut kelas dunia ! 

 

SELASA, 9 JULI 2013

kompas logo
 

 

 
 
 

 

 

BATAM — Aparat TNI Angkatan Laut (AL) di Natuna, Kepulauan Riau (Kepri), menangkap enam pencari ikan yang menggunakan bom ikan di perairan Tambelan, Kepri. Pelaku merupakan pemain lama yang kerap memakai bom untuk memudahkan penangkapan. Komandan Pangkalan TNI AL Natuna Letnan Kolonel Agung (L) Jaya S mengatakan, pelaku dipimpin LO alias LA. Tersangka lain adalah SR, YK, YT, SF, dan LS. ”Mereka ditangkap saat menggunakan bom ikan di perairan Tambelan,” ujar Agung, Senin (8/7), di Batam, Kepri. Penangkapan mereka bermula dari informasi ada kapal yang beraktivitas mencurigakan di perairan Tambelan di selatan Natuna. Petugas Pos TNI AL di Tambelan memberangkatkan kapal patroli Patkamla II-4-33 ke lokasi. Dalam pemeriksaan awal, LO mengaku hanya menangkap ikan. Namun, petugas memerintahkan LO menunjukkan seluruh isi kapal. Dalam pemeriksaan diketahui ada bom ikan di kapal itu. (raz)

July 8, 2013

TNI AL Menuju Tentara Kelas Dunia

Saturday, July 6, 2013


 

 

Seorang anggota Provos TNI AL melintas di dekat kapal selam KRI Cakra 401 yang berlabuh di Pangkalan TNI-AL (Lanal) di Watusampu, Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (12/5) dalam rangka mengisi bahan bakar dan perbekalan. Lanal Palu oleh TNI-AL akan dikembangan menjadi salah satu pangkalan kapal selam untuk memperkuat basis pertahanan laut di wilayah Tengah dan Timur Indonesia. (Foto: ANTARA/Basri Marzuki/ss/pd/13)

6 Juli 2013, Jakarta: TNI AL berjuang menjadi tentara kelas dunia yang telah dicanangkan sejak Januari 2013. Untuk bisa ke arah sana, TNI AL melaksanakan inward looking dan outward looking. Upaya itu meliputi peningkatan kemampuan sumber daya manusia melalui pendidikan umum dan militer di dalam dan luar negeri serta penugasan melalui tour of duty.

“Selain itu, kami melaksanakan pembangunan kekuatan berbasis kemampuan yang mampu menangkal dan menindak setiap ancaman militer dari luar maupun dari dalam negeri,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal), Laksma Untung Suropati, seusai Lomba Menembak antarwartawan, di Mabes TNI AL, Jakarta, Jumat (5/7). Dari sisi outward looking, kata Untung, TNI terus menganalisis secara mendalam terhadap perkembangan lingkungan strategis, khususnya di kawasan Asia Pasifik.

TNI juga melakukan langkah-langkah antisipatif untuk menghadapi setiap bentuk ancaman faktual maupun potensial Upaya menjadi kelas dunia ini termasuk pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) baru yang dicanangkan sejak 2010–2014.

Alutsista baru itu terdapat 39 kapal perang, di antaranya 2 kapal selam, 2 kapal perusak kawal rudal (PKR), 16 kapal cepat rudal (KCR), dan 8 kapal patroli cepat (PC). Untuk pengadaan kendaraan tempur (Ranpur) Marinir sebanyak 84 unit terdiri dari 49 tank BMF-3F, 14 pansam BTR-80A, 5 BVP-2, dan 16 RM-70 Call-22 serta sejumlah persenjataan lainnya.

Sumber: Koran Jakarta

July 3, 2013

TNI Tarik Amunisi Latihan Tempur

PELURU ”NYASAR”

 

03-07-2013Add to Twitter Add to Facebook

 
 
 

Wonosari, Kompas Komandan Pangkalan Udara Tentara Nasional Angkatan Udara Adisutjipto Yogyakarta menarik semua jenis amunisi senjata dalam latihan tempur yang digelar Wanita TNI Angkatan Udara di Hutan Kemuning, Desa Beji, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta, Selasa (2/7). Hal itu menyusul setelah beberapa peluru mengenai puluhan rumah warga di sekitarnya. Diduga, insiden ini terjadi karena ada rekoset atau pantulan tembakan.

Kepala Penerangan dan Perpustakaan Lanud Adisutjipto Yogyakarta Mayor Sus Hamdi Londong Allu mengatakan, setelah latihan tempur selesai, Rabu ini Komandan Lanud Adisutjipto Yogyakarta mengumpulkan semua senjata, pelatih, Polisi Militer (PM), dan intel untuk melakukan evaluasi terkait insiden peluru nyasar di sekitar Hutan Kemuning.

”Evaluasi dilakukan menyeluruh dan detail untuk memastikan apakah insiden itu terjadi karena faktor senjata, karena salah perhitungan posisi senjata, atau sebagainya,” kata Londong, Selasa di Yogyakarta.

Menurut Londong, sebelum digelar latihan tempur, Lanud Adisutjipto melakukan survei di sekitar Hutan Kemuning. Daerah itu dipilih untuk latihan karena memiliki struktur geologi berupa tebing dan posisinya di lembah sehingga secara logika aman.

”Jarak antara Hutan Kemuning dan permukiman warga berkisar 3-4 kilometer. Jarak tembak efektif hanya 1,5 kilometer sehingga diperkirakan latihan tembak itu aman. Namun, pada latihan gelombang kelima ternyata justru ada peluru yang nyasar 
ke rumah penduduk,” kata dia lagi.

Kepala Seksi Persenjataan Lanud Adisutjipto Mayor (Tek) Subagyo memperkirakan terjadi rekoset atau pantulan tembakan dari peluru yang dimuntahkan dari tempat latihan ke permukiman penduduk. Pantulan itu diduga berasal dari tembakan senapan mesin berat (SMB).

Setidaknya ada 10 rumah penduduk di Dusun Gading 3 dan 4 yang terkena peluru nyasar. Lanud Adisutjipto pun langsung membantu memperbaiki rumah warga itu. (ABK)

 

KOMENTAR
June 30, 2013

TNI AD dan Kemhan Ajukan Tambahan Rp 6 Triliun untuk Pembelian Apache

29 JUNI 2013


 

 
29 Juni 2013

Helikopter serang AH-64D Apache (photo : military-wallpaper)

TNI AD Ajukan Rp6 Triliun Beli Helikopter Serang dari AS

Solopos.com, SEMARANG – Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan Mabes TNI AD telah mengajukan tambahan anggaran khusus senilai Rp6 triliun untuk pembelian sejumlah helikopter serang Apache dari Amerika Serikat beserta persenjataannya.

”Pemerintah Amerika Serikat sudah menyetujui pembelian helikopter Apache. Sekarang sedang proses negosiasi harga,” ungkap di Semarang, Sabtu (29/6/2013).

Sebab harga satu unit helikopter Apache sangat mahal yakni senilai US$40 juta atau sekitar Rp388 miliar. ”Saat ini tim khusus dari Kementerian Pertahanan dan Mabes TNI AD, sedang melobi pemerintah Amerika Serikat mengenai harga helikopter Apache,” imbuhnya.

Keberadaan skadron Apache itu, kata Menhan, untuk melengkapi kekuatan militer Indonesia dalam menjaga kedaulatan negara.

”Selain TNI AD, TNI Angkatan Laut juga menyiapkan helikopter antikapal selam dan membuat armada perusak kawal rudal,” ujarnya.

(Solopos)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 82 other followers