Archive for ‘Industry Militer Budget TNI’

September 30, 2013

Indonesia Masih Pertimbangkan Hibah 10 Kapal Selam Rusia

Saturday, September 28, 2013

Indonesia Masih Pertimbangkan Hibah 10 Kapal Selam Rusia

28 September 2013, Jakarta:Kementerian Pertahanan menyatakan pemerintah Indonesia telah mengirim tim untuk berkunjung ke Rusia. Tim ini terdiri dari perwakilan Kementerian Pertahanan, TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara.

“Tim ini berkunjung untuk penjajakan awal hibah 10 kapal selam Rusia,” kata Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan Laksamana Muda Rachmad Lubis saat dihubungi Tempo, Jumat, 27 September 2013.

Rachmad yang ikut dalam rombongan, mengatakan kedua negara belum mencapai kesepakatan dalam rencana hibah itu. Indonesia dan Rusia, dia melanjutkan, masih mengkaji langkah yang akan diambil masing-masing negara soal hibah ini.

Sayang, Rachmad tak mau menyebutkan detil apa saja yang dibahas dalam pertemuan itu. Termasuk apa jenis kapal selam yang akan dihibahkan Rusia ke Indonesia dan berapa uang yang harus dikeluarkan pemerintah. “Sebab belum ada kesepakatan,” kata dia.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan, pemerintah mendapat tawaran untuk dapat membeli sekitar 10 unit kapal selam dari Rusia. Jumlah ini di luar rencana pembelian tiga unit kapal selam dari Korea Selatan yang akan datang pada 2014.

Purnomo tidak menjelaskan detail spesifikasi dan tawaran harga yang diberikan pemerintah Rusia untuk mendatangkan 10 kapal selam tersebut. Ia juga menyatakan, pemerintah belum bulat untuk menerima tawaran Rusia karena masih harus mempertimbangkan dan menghitung biaya.

Selain harga kapal selam per unit, menurut dia, pemerintah juga harus mempertimbangkan besarnya biaya perawatan, pemeliharaan, perbaikan, dan kesiapan infrastruktur. Selain itu, hal lain yang menjadi pertimbangan adalah usia atau masa guna kapal selam tersebut.

Sumber: TEMPO

September 26, 2013

Sukhoi Modernisasi Alutsista Indonesia

Headline

Pesawat tempur Sukhoi SU-30 MK2 – (Foto:airliners)
Oleh:
nasional – Kamis, 26 September 2013 | 07:29 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Anggota Komisi I DPR-RI, M.Basri Sidehabi mengatakan pesawat tempur jenis Sukhoi SU-30 MK2 dari Rusia merupakan bagian dari program modernisasi pembangunan kekuatan persenjataan TNI.

Pesawat yang diterimaMenteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro sesuai dengan kekuatan pokok minimum (minimum essential forces/MEF) menuju angkatan udara kelas satu (first class air forces) pada tahun 2024 di lingkungan negaranegara ASEAN.

Komisi I DPR sebagai mitra kerja Kementerian Pertahanan RI telah mengingatkan pemerintah agar mempercepat pencapaian (progres) dari program pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) bagi TNI tersebut.

Dengan dipercepatnya pencapaian MEF(minimum essential forces) alutsista TNI dapat memperkuat nilai tawar Indonesia dalam melaksanakan politik luar negerinya.

“Dalam setiap kesempatan rapat kerja dengan Menhan di DPR selalu kami mendorong pemerintah agar mempercepat pengadaan sistem persenjataan kita. Hal itu kami lakukan sebagai bentuk pengawasan yang menjadi tugas kami sebagai wakil rakyat di parlemen,” jelas Marsdya (Purn) M.Basri Sidehabi yang dihubungi via telepon dari Mexico City dalam rangka tugas dari Komisi I DPR RI, Kamis (26/9/2013).

Meskipun demikian, menurut anggota DPR dan Fraksi Partai Golkar Dapil Sulsel II ini, mengapresiasi kesanggupan Menhan Purnomo Yusgiantoro pada tahun 2014 kekuatan persenjataan TNI akan melebihi target 30% MEF yang merupakan rencana strategis 15 tahun dan telah dimulai sejak pada tahun 2010.[man]

 
September 21, 2013

Imparsial: Alat Sadap TNI Rawan Disalahgunakan

Alat ini bakalan dipakai “meres “dan “intimidasi” musuh politik TNI.
KAMIS, 19 SEPTEMBER 2013 | 12:33 WIB

Imparsial: Alat Sadap TNI Rawan Disalahgunakan

TEMPO/ Imam Yunni

TEMPO.COJakarta – Direktur Eksekutif Imparsial, Poengky Indarti, menentang keras pembelian alat sadap baru yang dilakukan Kementerian Pertahanan untuk Badan Intelijen Strategis. Menurut Poengky, peralatan intelijen seperti ini sangat rawan disalahgunakan oleh TNI.

Kekhawatiran paling nyata adalah penyalahgunaan alat sadap saat pesta demokrasi Indonesia tahun depan. “Ada sedikit dugaan ini untuk kepentingan Pemilu 2014,” kata Poengky saat dihubungi Tempo, Kamis, 19 September 2013.

Dia pun waswas jika alat sadap ini menguntungkan partai pemerintahan saat ini, Demokrat. Dia beralasan, saat ini Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan Panglima TNI Jenderal Moeldoko adalah orang dekat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua Umum Partai Demokrat.

Netralitas TNI dalam Pemilu, dia melanjutkan, masih diragukan. Meski pimpinan TNI sering berjanji netral, tidak ada pihak yang bisa menjamin dan memonitor pergerakan intelijen TNI.

Poengky lebih setuju jika peralatan intelijen baru milik TNI digunakan untuk mendukung pertahanan negara dari gangguan luar negeri. “Bagaimana pun juga masyarakat punya pengalaman buruk soal intelijen, pemerintah harus bijak.”

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan membeli seperangkat alat sadap intelijen dari pabrikan Gamma TSE Ltd. Kementerian membeli peralatan intelijen ini sejak tahun lalu dan akan diterima akhir tahun ini. Rencananya, alat senilai Rp 70 miliar ini akan digunakan untuk intelijen TNI, BAIS.

INDRA WIJAYA

September 18, 2013

Pengamat : Idealnya Indonesia Punya 24 Kapal Selam

 

Selasa, September 17, 2013

 

IDB

15

 
 
 

JAKARTA-(IDB) : TNI AL idealnya memiliki 24 kapal selam untuk mengawal dan menjaga teritorial laut Indonesia yang cukup luas. Penguatan pertahanan dan militer akan memberi dampak luas di dunia internasional.

 

 

 

“Jika ditilik dari geografis negara, Indonesia sebagai negara maritim membutuhkan pengawalan ekstra ketat untuk mengantisipasi invansi dari negara asing melalui laut,” ujar pengamat militer Kusnanto Anggoro dalam sarasehan memperingati HUT ke-54 Kapal Selam di Jakarta, Minggu (15/9).

 

 

 

Namun, lanjut dia, kekuatan alutsista TNI AL masih pada kebutuhan mendasar. Sekarang ini, TNI hanya memiliki dua kapal selam yang sudah sangat tua. Sedangkan, 3 unit yang dibeli dari Korea Selatan baru akan masuk memenuhi kekuatan Alutsista TNI AL hingga awal tahun 2017. “Sebelum sampai memiliki 18 unit kapal selam, saya kira semua orang harus kritis,” kata dia.

 

 

 

Sementara itu, delegasi Indonesia diberangkatkan ke Moskow untuk menyurvei langsung 10 kapal selam yang akan dihibahkan Rusia. Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Marsetio memimpin delegasi yang beranggotakan dari Kementerian Pertahanan, Mabes TNI, TNI Angkatan Laut dan TNI Angkatan Udara.

 

 

 

“Kita (tim-Red) akan memastikan langsung spesifikasi teknis kapal, kondisi, dan mekanisme kerja sama,” ujar Marsetio. Tim berangkat Minggu (15/9) malam.

 

 

 

Marsetio mengungkapkan hibah kapal selam ditawarkan pemerintah Rusia kepada Indonesia melalui Kementerian Pertahanan. TNI AL sendiri sebagai rencana pengguna, belum mengetahui detail atau spesifikasi kapal selam yang ditawarkan tersebut.

 

 

 

“Karena itu kita ke Rusia untuk memastikan kapal selam yang akan didatangkan cocok dengan kondisi perairan Indonesia atau tidak,” kata Marsetio, taruna peraih predikat Adhi Makayasa Akademi Angkatan Laut 1981.

 

 

 

Doktor lulusan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta (UGM) ini memastikan kapal selam yang dibutuhkan TNI AL harus lolos kualifikasi, di antaranya meliputi kesesuaiannya dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.

 

 

 

Kapal selam ideal untuk Indonesia adalah yang memiliki kekhususan dan kekhasan dengan melihat kedalaman dan kontur laut. “Kita akan lihat apakah itu kapal selam samudra atau archipelago. Indonesia ini archipelago di mana kondisi perairan kita kedalamannya berbeda-beda,” jelas Marsetio.

 

 

 

Fokus ToT

 

 

 

Asisten Perencanaan (Asrena) KSAL, Laksda TNI Ade Supandi memastikan hibah 10 kapal selam dari Rusia tidak mengintervensi rencana pengadaan alutsista TNI AL dalam jangka pendek, menengah dan jangka panjang sesuai dengan kekuatan pokok minimum (minimum essential force/MEF) hingga tahun 2024.

 

 

 

“Selain dua kapal selam KRI Cakra dan KRI Nanggala yang sudah ada, TNI AL sudah memesan 3 kapal selam dari Korea Selatan. Ditargetkan akhir tahun 2016 atau paling lambat awal tahun 2017 sudah selesai dan masuk ke dalam kekuatan tempur TNI AL,” kata dia.

 

 

 

Satu dari tiga kapal selam yang dipesan akan dikerjakan di PT PAL, Surabaya. Indonesia akan memaksimal transfer teknologi dari pengerjaan di industri pertahanan dalam negeri.

 

 

 

“Sesuai dengan kesepakatan kerja sama akan ada ToT (Transfer of Technology-red). Kapal ke-3 akan dibangun di PAL degan memaksimalkan ToT,” ujar Ade. Anggaran yang dikeluarkan Indonesia untuk pembelian tiga kapal selam menggunakan pinjaman luar negeri (kredit ekspor) senilai 1,07 miliar dolar AS.

 

 

 

Idealnya sampai tahun 2016, menurut Marsetio, Indonesia memiliki 10 kapal selam untuk memperkuat armada tempur TNI AL dalam menjaga kedaulatan laut RI. “Idealnya punya 10 (kapal selam) hingga akhir tahun 2016,” kata Marsetio.

 

 

 

Mantan Kepala Staf TNI AL, Laksamana (Purn) Sumardjono mengingatkan pengadaan alutsista tetap harus fokus pada transfer teknologi. Industri pertahanan yang dimiliki Indonesia diberdayakan maksimal untuk menciptakan alutsista yang dibutuhkan TNI dan Polri.

 

 

 

“Deterence effect itu sebenarnya jika kita mampu membangun alutsista canggih yang kita butuhkan, bukan mengadakan alutsista yang diimport dari negara lain,” ujar dia.

 

 
 
 
 
September 17, 2013

Sektor Pertahanan Rentan Korupsi

SELASA, 17 SEPTEMBER 2013

kompas logo

PENGAWASAN

JAKARTA, KOMPAS — Kegagalan pengawasan membuat korupsi di sektor pertahanan sangat rentan terjadi di Indonesia. Padahal, pertahanan merupakan sektor strategis dari segi ekonomi karena punya anggaran besar.

”Lemahnya pengawasan terhadap sektor pertahanan mengakibatkan memburuknya kondisi alat utama sistem persenjataan, hilangnya aset-aset militer, serta maraknya korupsi dan penggunaan dana yang tidak jelas,” kata Sekretaris Jenderal Transparency International Indonesia Dadang Trisasongko, Senin (16/9), di Jakarta.

Kajian Transparency International Inggris yang dipublikasikan bersama Transparency International Indonesia menunjukkan, Indonesia masuk dalam negara yang rentan korupsi di sektor pertahanan. Kajian itu dipublikasikan dalam bentuk indeks pengawasan parlemen terhadap sektor pertahanan.

Menurut peneliti pertahanan sekaligus perwakilan Transparency International Inggris, Oliver Cover, posisi parlemen Indonesia ada di level 33,3-49,9 dari skala 0-100 persen. Karena itu, Indonesia tergolong sebagai negara yang memiliki risiko tinggi korupsi di sektor pertahanan.

”Di Indonesia, pengawasan parlemen terhadap sektor pertahanan mengikuti kecenderungan global. Namun, pengawasan parlemen terhadap kebijakan
eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan sektor pertahanan melalui yayasannya masih lemah,” kata Cover.

Cover merekomendasikan para pemangku kepentingan duduk bersama memperkuat pengawasan. Parlemen, eksekutif, lembaga audit, masyarakat sipil, dan media harus bekerja sama.

Hambatan

 

Direktur Direktorat Perencanaan Pembangunan Pertahanan Kementerian Pertahanan Marsekal Pertama Mohamad Safii menuturkan, anggaran Kemenhan pada 2014 sebesar Rp 83 triliun. Dari jumlah itu, 46 persen untuk belanja pegawai serta sisanya untuk operasional dan belanja alutsista. Setiap penggunaan anggaran oleh Kemenhan harus mendapat persetujuan DPR.

Namun, pemerhati bidang keamanan dari Universitas Indonesia, Edy Prasetyono, menuturkan, perhatian DPR pada sektor pertahanan masih kurang. Ini karena mayoritas partai politik, yang menempatkan wakilnya di DPR, tidak memasukkan isu pertahanan dalam perjuangannya.

Direktur Program Imparsial Al Araf menuturkan, ada sejumlah hambatan dalam pengawasan sektor pertahanan, misalnya minimnya anggota DPR yang memahami isu pertahanan, korupsi yang marak di kalangan DPR, dan dominannya peradilan militer.

”Untuk mengawasi sektor pertahanan, harus ada reformasi peradilan militer. Reformasi juga harus dilakukan terhadap partai politik hingga tercipta parlemen yang sehat dan berkualitas,” tutur Araf. (K08)

 

September 6, 2013

Menhan: Kekuatan TNI Terkuat di Asteng pada 2014

sday, September 5, 2013

Meriam swagerak Nexter Caesar dibeli dari Perancis akan memperkuat Batalyon Artileri Medan 9/Pasopati, Purwakarta dan Yon Armed 12/Agicipi Yudha, Nagwi.(Foto: Berita HanKam)

5 September 2013, Batam: Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan pada 2014, TNI akan memiliki daya kekuatan yang terbesar di antara negara lain di Asia Tenggara.

“Renstra pertama 2014, kekuatan TNI yang terkuat di Asia Tenggara,” kata Menteri saat meresmikan dua Kapal Republik Indonesia di Batam, Kamis.

Kekuatan itu tercermin dari pengadaan alutsista oleh pemerintah yang melengkapi TNI AL, TNI AU dan TNI AD dengan senjata dan peralatan baru.

Menteri mengatakan ada banyak alutsista yang ditambah untuk ketiga angkatan bersenjata, di antaranya kapal patroli cepat untuk TNI AL, tank leopard untuk TNI AD dan penambahan pesawat sukhoi untuk TNI AU.

“Sukhoi akan diganti semua. Negara kita akan kuat, itu penting,” kata Menteri.

Sementara untuk TNI AD, selain 45 unit tank leopard, pemerintah juga mengadakan 28 unit helikopter dan delapan unit Apache.

Menurut dia, TNI yang kuat memiliki banyak arti, baik bagi dalam negeri maupun luar negeri.

Meski begitu, Purnomo mengatakan penambahan alutsista dan penguatan TNI tidak ada hubungannya dengan pendirian pangkalan militer AS di Singapura dan Australia.

“Ini tidak untuk perlombaan senjata, ini memordernisasi,” katanya.

Ia mengatakan hubungan Indonesia dengan negara-negara tetangga amat baik. Namun, bukan berarti Indonesia tidak membangun kekuatan militernya.

Di tempat yang sama, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Madya TNI Marsetio mengatakan pemerintah merencanakan pembangunan Kapal Cepat Rudal dengan panjang 40 meter sebanyak 16 unit dan kapal patroli cepat sebanyak 16 unit.

Sumber: ANTARA Kepri

September 4, 2013

Parlemen Awasi Realisasi Pembelian Helikopter Apache

asal nggak pada ikut “ngutil”  atau cari  “komisi”..  “Wani piro ?”

 

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro (kedua kiri) didampingi Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin (kiri) mengikuti rapat kerja dengan Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (2/9). (Foto: ANTARA /Widodo S. Jusuf)

2 September 2013, Jakarta: Komisi I DPR RI memastikan akan mengawasi realisasi pengadaan delapan unit helikopter Apache produksi Amerika Serikat. Kontrak pengadaan heli jenis serbu itu sudah diteken Menteri Pertahanan Poernomo Yusgiantoro, Senin pekan lalu.

Menurut Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin, kebijakan pembelian alutsista tersebut disepakati DPR dan pemerintah dengan syarat ada komitmen alih teknologi, jaminan suku cadang, serta bebas pakai.

“Adapun yang akan kita awasi adalah bagaimana realisasi pembelian helikopter itu, sudahkah sesuai syarat. Kalau perlu kemudian alutsista itu kita produksi sendiri di dalam negeri,” katanya di Kompleks Parlemen Senayan, Senin (2/9).

Pembelian Apache sudah direncanakan sejak awal 2013. Namun, TNI Angkatan Darat belum merealisasikannya karena Kementerian Keuangan memasukkannya dalam anggaran reguler sehingga bikin berat. Khawatir biaya operasional terganggu, TNI AD lalu meminta tambahan anggaran khusus pada APBN 2014.

Pembelian alutsista itu menghabiskan anggaran Rp 6,4 triliun. Pada Oktober 2014, helikopter tersebut diharapkan sudah datang lengkap dengan senjata dan suku cadangnya.

Legislator Sarankan TNI AD Beli Chinook

Setelah menyetujui pengadaan helikopter Apache dari Amerika Serikat, Komisi I berharap TNI Angkatan Darat melanjutkan pembelian alutsista lain dari negara itu, yakni helikopter multifungsi Chinook.

Anggota Komisi I DPR Muhammad Najib mengungkapkan, saat muncul gagasan TNI Angkatan Darat membeli helikopter Apache, Komisi Pertahanan juga memberikan pandangan untuk pembelian helikopter multifungsi berukuran besar. Bahkan Komisi I menyarankan TNI AD terlebih dulu membeli helikopter Chinook sebelum Apache.

Pandangan Komisi itu didasarkan pada pertimbangan bahwa helikopter multifungsi sangat berguna untuk penanganan bencana alam. Kebutuhan akan helikopter jenis itu makin besar jika dilihat dari rentannya kondisi geografis Indonesia terhadap bencana seperti gunung berapi, banjir, tsunami, dan gempa bumi.

Sementara helikopter Apache yang dilengkapi persenjataan canggih belum terlalu dibutuhkan karena Indonesia belum menghadapi ancaman serius penyerbuan pihak asing. Dengan demikian, kebutuhan terhadap helikopter multifungsi dan berbadan besar lebih dibutuhkan ketimbang helikopter jenis serbu.

“Namun pada akhirnya keputusan akhir di internal TNI, Khusus AD, tetap memprioritaskan pembelian Apache. Sehingga seperti yang terjadi saat ini, realisasi pengadaan Apache akan segera dilakukan pada 2014 mendatang,” ujar Muhammad Najib di Kompleks Parlemen, Senin (2/9).

Sumber: Jurnal Parlemen

August 29, 2013

Bisnis Narco Tentara

Selain menyelundupkan BBM  dan kayu,  bisnis Narco  juga sangat menggiurkan

 

SABTU, 06 JULI 2013 | 09:58 WIB

Aset Milik Tentara Serma BW Miliaran

TEMPO/Budi Yanto

TEMPO.COJakarta - Badan Narkotika Nasional menangkap enam tersangka pemasok narkotika di Pekanbaru. Dua di antaranya merupakan anggota TNI Angkatan Udara, yakni Sersan Mayor BW dan Sersan Dua RY. BNN menduga dari bisnis narkobanya, BW memiliki aset miliaran rupiah. “Dia berperan sebagai pemasok narkoba di diskotik-diskotik di Pekanbaru. Dia memiliki aset yang sangat banyak,” kata Kepala Deputi Pemberantasan Narkoba BNN, Inspektur Jenderal Benny Joshua Mamoto, ketika dihubungi pada Jumat, 6 Juli 2013, kemarin.

Aset BW yang sudah disita BNN, antara lain restoran, rumah mewah, kebun kelapa sawit, dan mobil Nissan X-Trail. BW juga diduga memiliki dealer motor Suzuki. Namun, Benny belum dapat memerinci total nilai aset tersebut, karena BNN masih melakukan penggeledahan hingga kemarin. Sekitar pukul 14.00 hingga 16.00 WIB kemarin, BNN menggeledah rumah BW di Jalan Mantri, RT 2 RW 1, Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Bukit Raya, Kota Pekanbaru.

Menurut Ketua RT 2 Chairunnas, BNN menyita satu bundel buku tabungan dan satu set mesin penghitung uang. “Pada saat penggeledahan, anak tersangka sempat marah-marah,” kata Chairunnas.

BNN menangkap BW bersama RY di Pekanbaru pada 2 Juli lalu. “Dia ditangkap setelah menerima narkoba dari temannya yang juga oknum aparat (RY), dengan barang bukti berupa 300 butir ekstasi,” kata Benny. BNN kemudian menangkap seorang wanita berinisial DA bersama suaminya berinisial MA dan rekannya PC, dengan barang bukti sabu seberat 500 gram.

Keesokan harinya, BNN menggerebek diskotek XP di Jalan Sudirman, Pekanbaru. Enam pegawai diskotek ikut digelandang petugas BNN, yakni A, S, HS, MA, RH, dan C. Di diskotek tersebut, BNN mendapati sebanyak 61 butir inex dan 97 butir happy five. Baru pada 4 Juli BNN menangkap seorang pria berinisial KS yang memasok sabu kepada RY. Ketika menangkap KS, BNN juga mendapati barang bukti sabu seberat 10 gram. “Semua narkotika ini dipasok dari Malaysia dan kasusnya masih kami kembangkan,” ujar Benny.

Kini, seluruh tersangka sudah ditahan di tahanan BNN, Cawang, Jakarta Timur. Mereka dijerat dengan pasal 114 ayat 2 dan pasal 112 ayat 2 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman kurungan penjara seumur hidup atau hukuman mati.

TNI Angkatan Udara berjanji akan mengusut kasus ini. “Perintah saya, proses sesuai dengan ketentuan,” kata Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Ida Bagus Putu Dunia ketika dihubungi kemarin.

AFRILIA SURYANIS | RIYAN NOFITRA | INDRA WIJAYA | FANNY FEBIANA

August 27, 2013

Indonesia Teken Pembelian 8 Unit AH-64E Block III Apache

Ngapain ya beli Apache yang spesifikasinya lebih rendah dari Singapore ????

Dan konyolnya pejabat pemerintahan SBY  bisa “bangga” dangan membeli spek alutsista rendahan spt ini. Apakah mereka bisa senyum karena menerima “kickback” ??? India saja yang membeli Apache masih minta untuk di “offset” di pabrik pesawat terbang mereka . Pejabat Indonesia hanya senyum saja, senyum senyum tidak jelas. Yang pasti PT DI manyun dari deal Apache ini, paling kebagian mengecet heli Apache

 

Tidak heran , Indonesia  bagi   orang Singapore memang seperti ” something in the dark and ugly “. Indonesia memang “dark” dalam arti sesungguhnya; listrik di pulau Batam dan Bintan mati 4 jam /sehari.   Ugly karena banyak koruptor, bajak laut dan teroris.

 

 

Monday, August 26, 2013

Presiden SBY saat menyambut kedatangan Menhan AS Chuck Hagel di depan ruang kerja Kantor Presiden, Jakarta, Senin (26/8) siang. (Foto: abror/presidenri.go.id)

26 Agustus 2013, Jakarta: Satu skuadron helikopter serang AH-64E Apache buatan Boeing, Amerika Serikat, akan tiba memperkuat TNI AD, sejalan penandatanganan pemesanan helikopter serang itu, antara Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, dan koleganya, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Chuck Hagel, di Jakarta, Senin.

Hagel ke Jakarta dalam rangkaian kunjungan ke Malaysia dan Brunei Darussalam; di negara terakhir ini, Hagel akan menghadiri Pertemuan Menteri Pertahanan ASEAN Plus, yang juga melingkupi Jepang, Amerika Serikat, Rusia, Australia, Selandia Baru, India, dan Korea Selatan.

Disepakati tipe Apache yang dibeli Indonesia dari Amerika Serikat adalah AH-64E Block III sebanyak delapan unit. Apache tipe ini merupakan tipe terbaru walau bukan tercanggih (AH-64D Longbow sebagaimana dimiliki Angkatan Darat Singapura).

AH-64E Apache telah dikirimkan ke Taiwan (30 unit), 22 unit untuk India, dan 24 unit ke Qatar. Khusus India, Boeing “terpaksa” memproduksi bersama AH-64E Apache dengan industri kedirgantaraan negara India.

“Nilai kontrak sekitar 600 juta dolar Amerika Serikat, mulai dari helikopternya, persenjataan, pelatihan awak darat dan pilot, dan lain-lain,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, yang turut menyaksikan penandatanganan itu.

Hagel juga membawa sejumlah besar petinggi militer dan sipil di lingkungan Departemen Pertahanan negaranya.

Selain kontrak pembelian, kedua menteri pertahanan juga membahas peningkatan kerja sama pertahanan diperluas dan pelatihan bersama internasional antiteror ASEAN Plus di Pusat Pelatihan Pasukan Pemeliharan Perdamaian TNI, di Sentul, pada pertengahan September nanti.

Juga program Inisiatif Reformasi Lembaga Pertahanan, yang akan menjadi pola bagi Kementerian Pertahanan meningkatkan kualitas sistem perencanaan strategis, pengadaan barang, dan aspek manajerial lain.

Sumber: ANTARA News

August 25, 2013

PT DI mampu produksi 65 Helikopter

 Dari Tender-indonesia.com  Fri, 23/08/2013

Air transportation

 
Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan PT Dirgantara Indonesia (DI) saat ini telah berkembang menjadi perusahaan yang produktif dalam kurun waktu tiga tahun terakhir PT DI mampu membuat 65 helikopter.

“Dalam kurun tiga tahun terakhir PT DI mampu membuat 65 helikopter dan ke depan akan membuat pesawat jenis C-295 yang saat ini masih dirakit di Spanyol oleh orang-orang Indonesia,” katanya.

Menurut Dahlan,  kondisi tersebut berbeda dengan PT DI di zaman Orde Baru.  Bahkan,  PT DI sempat mengalami masa sulit ketika terjadi krisis moneter di tahun 1998.  “Sekarang ini PT DI sangat sibuk dan paling sibuk dalam sejarahnya,” kata Dahlan.

Dahlan menambahkan,  PT DI juga memroduksi suku cadang pesawat terbang yang dipesan sejumlah perusahaan asing.  “Bahkan,  berkat Komisi I DPR,  PT DI tidak merugi dalam tutup buku kemarin,” katanya.

Kendati demikian,  dia mengakui BUMN yang bergerak di bidang industri kedirgantaraan ini sedang menghadapi persoalan pelik terkait minimnya sumber daya manusia (SDM).  “Banyak tenaga ahli yang pergi ke luar negeri saat terjadinya krisis moneter,” katanya menjelaskan.

Selain itu,  lanjut Dahlan,  banyak tenaga ahli PT DI yang sudah berusia tua dan belum merekrut tenaga baru selama 10 tahun terakhir.   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 86 other followers