Archive for ‘Industry Militer Budget TNI’

May 30, 2013

PT DI Akan Mengerjakan Pesawat Pesanan Vietnam

 

 
28 Mei 2013 Kompas

 

Vietnam ternyata telah memesan lima CN-295 dari Airbus Military, namun kemudian dikurangi menjadi tiga (photo : Kaskus Militer)

NAY PYI TAY, KOMPAS.com-  PT Dirgantara Indonesia berharap, pesanan Vietnam terhadap tiga unit pesawat jenis CN-295 dari Airbus Military, dapat dikerjakan oleh PT Dirgantara Indonesia.

Langkah ini juga akan menguntungkan Vietnam.

“Vietnam telah memesan lima unit CN-295 dari Airbus Military, namun belakangan dikurangi jadi tiga. Sampai sekarang pesanan itu belum dikerjakan oleh Airbus Military,” kata Direktur Niaga PT Dirgantara Indonesia, Budiman Saleh, Selasa (28/5/2013) di Nay Pyi Taw, Myanmar.

Budiman menjadi salah satu anggota rombongan road show CN 295 yang dipimpin Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin ke enam negara Asean.

Setelah kemarin di Vietnam, hari ini rombongan berada di Nay Pyi Taw, Myanmar.

Ketika bertemu dengan Sjafrie pada Senin (27/5/2013) di Hanoi, Vietnam, Menteri Pertahanan Vietnam Jenderal Phung Quang Thanh, menyatakan, negaranya membutuhkan pesawat terbang yang mampu menerjunkan pasukan, mengangkut pasukan, punya daya angkut maksimal 10 ton, dan memiliki pintu di bagian belakang.

Secara eksplisit, Phung Quang lalu menyatakan ketertarikannya dengan CN-295 yang memenuhi kualifikasi pesawat yang dibutuhkan negaranya tersebut.

Menurut Budiman, pengalihan produksi pesawat CN-295 pesanan Vietnam dari Airbus Military ke PT Dirgantara Indonesia amat dimungkinkan karena sudah ada kolaborasi antara Airbus Military dan PT Dirgantara Indonesia untuk memproduksi pesawat tersebut.

Indonesia juga ditunjuk sebagai main dealer pesawat itu untuk kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara.

Ada sejumlah keuntungan bagi Indonesia dan Vietnam jika pesawat itu diproduksi di PT Dirgantara Indonesia.

“Jika dibuat di Indonesia, 50 persen dari komponen pesawat tersebut, yaitu bagian sayap, dibuat di Indonesia. Untuk Vietnam, mereka juga akan dimudahkan dalam pemeliharaan karena kami punya pusat pemeliharaan CN-295 di Bandung. Jika ada kebutuhan suku cadang, hanya butuh waktu sekitar empat jam untuk mengirimkannya ke Vietnam,” jelas Budiman.

(Kompas)

May 29, 2013

TNI AL minati kapal induk

Harusnya TNI minta ke PT PAL untuk membangun kapal induk .Jangan lagi beli kapal bekas. Cukup lah pembelian kapal perang eks Jerman Timur..

SEJUMLAH NEGARA MINATI KAPAL INDUK BEKAS ANGKATAN LAUT SPANYOL

 5/28/2013  No comments
Kapal induk Spanyol Principe de Asturias
Kapal induk Spanyol Principe de Asturias di Samudera Atlantik saat latihan Majectic Eagle 2004
(Foto : US Navy)
Dari rumor yang beredar baru-baru ini di media Spanyol, Filipina dan beberapa negara Arab telah menyatakan minatnya untuk membeli kapal induk Angkatan Laut Spanyol “Principe de Asturias”. Disebutkan, kontrak penjualannya nanti akan mencakup reparasi dan upgrade oleh galangan kapal Spanyol Navantia.Juga dilaporkan (lavozdigital.es) bahwa Indonesia juga pernah menyatakan minatnya untuk mengakuisisi kapal induk ini. Namun setelah kunjungan resmi delegasi TNI AL ke pangkalan Angkatan Laut El Ferrol Spanyol untuk memeriksa Principe de Asturias pada akhir Maret lalu, Indonesia dikabarkan memutuskan untuk tidak membeli kapal induk ini. Walau tidak ada tindak lanjut dari Indonesia, pihak Spanyol tetap membuka pintu bagi Indonesia untuk kemungkinan penjualan.

Kapal induk Principe de Asturias secara resmi dinonaktifkan pada Februari 2013, untuk dipisah menjadi bagian-bagian kecil. Namun rencana awal ini berubah setelah Departemen Pertahanan Spanyol dikabarkan menerima permintaan penjualan kapal induk ini dari beberapa negara. Angkatan Laut Spanyol mengatakan sudah ada pembeli potensial (kemungkinan Filipina), namun belum terwujud dalam transaksi penjualan.

Penjualan kapal induk ini menjadi skenario terbaik untuk masa depan kapal ini. Di satu sisi, akan mengalirkan uang ke kas negara dan untuk Angkatan Laut Spanyol, di tengah pemotongan anggaran akibat krisis ekonomi. Namun skenario penjualan ini dinilai masih sangat “jauh”.

Principe de Asturias adalah kapal induk buatan galangan kapal Bazan (Navantia) Spanyol. Diluncurkan pada tahun 1982 dan masuk ke jajaran Angkatan Laut Spanyol baru pada tahun 1988. Kapal ini memliki panjang 195,9 meter dan lebar 24,3 meter. Total kapal induk yang memiliki kecepatan 26 knot ini bisa membawa 29 pesawat dan helikopter.
Site Meter

Apa mungkin militer asing akan membeli kapal ini? Tentunya militer asing harus berpikir matang karena kapal induk ini akan membutuhkan biaya upgrade yang tidak sedikit.
May 29, 2013

Kemhan Pesan Meriam Anti Serangan Udara Oerlikon Skyshield

Wednesday, May 29, 2013

 Apa ada makelar ? Siapa ya ? 

 

Oerlikon SkyShield.(Foto: Rheinmetall Defence)

28 Mei 2013, Jakarta: Kementerian Pertahanan tak hanya membeli pesawat tempur untuk memperkuat pertahanan dirgantara Indonesia. Kementerian mengaku telah memesan perisai udara dari pabrik Rheinmetall Air Defence di Swiss. Alat utama sistem persenjataan bernama Oerlikon Skyshield itu berbentuk meriam yang terintegrasi dengan radar pangkalan udara.

“Kita pesan enam unit Oerlikon SkyShield, saat ini dalam proses produksi,” kata Kepala Badan Sarana Pertahanan, Laksamana Muda Rachmad Lubis, saat dihubungi Tempo, Selasa, 28 Mei 2013.

Enam unit meriam perisai udara itu dipesan Kementerian Pertahanan dengan harga US$ 202 juta. Namun, TNI AU mesti menunggu cukup lama sebelum menggunakan alutsista baru ini. Pasalnya, Oerlikon Skyshield baru bisa dikirim dari Swiss pada 2015. “Jadi bertahap. Pertama, empat unit tiba tahun 2015, dua unit lagi tiba tahun 2017,” kata dia.

Sumber Tempo menyebutkan, Oerlikon Skyshield menggunakan meriam kembar berukuran amunisi 35 milimeter dan rudal anti-serangan udara jarak pendek. Kemampuan meriam memuntahkan 1.000 peluru dalam satu menit dianggap efektif menghancurkan ancaman pesawat tempur dan rudal musuh.

Kemampuan Oerlikon Skyshield semakin mumpuni jika menggunakan amunisi khusus buatan Rheinmetall bernama Advanced Hit Efficiency and Destruction (AHEAD). Jika ditembakkan, peluru ini mampu menyebar membentuk perisai, sehingga presisi tepat sasaran mencapai lebih dari 90 persen.

Sumber: TEMPO

May 21, 2013

PT DI Siapkan Tiga CN235 untuk AL dan AU

 

 
21 Mei 2013

TNI AU berencana memiliki 3 pesawat CN-235MPA untuk dapat membentuk 1 skadron pesawat  intai baru (photo : Peter Ho)

Jurnas.com | PT Dirgantara Indonesia (DI)tahun ini kembali mendapatkan tiga proyek pesawat CN235 untuk TNI Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Udara.Ketiga pesawat itu ditargetkan bisa rampung dan dikirimkan pada tahun 2015 atau 2016.

“Satu pesawat untuk Angkatan Udara dan dua untuk Angkatan Laut untuk patroli maritim,”ujar Direktur Pengembangan Teknologi Engineering PT Dirgantara Indonesia (Persero) Andi Alisjahbana di Jakarta, Minggu (19/5).

Nilai kontrak ketiga pesawat disebutkan tidak sampai Rp 1 triliun. Pada tahun ini PT DI juga akan mengirimkan dua atau tiga pesawat jenis yang sama juga untuk TNI Angkatan Laut yang merupakan kontrak multi years pada tahun 2011. 

Target perusahaan kata dia setidaknya melakukan penjualan atau kontrak senilai Rp 3 triliun setiap tahunnya. Pada tahun 2012, perusahaan mendapatkan keuntungan sedikit lebih besar bila dibandingkan pada tahun sebelumnya. Diharapkan tahun ini perusahaan tersebut juga mengalami peningkatan pendapatan. 

Dia menambahkan bahwa PT DI juga berfokus untuk menyelesaikan proyek pesanan pembuatan pesawat yang masih backlog sekitar Rp 8 triliun sampai 2015 mendatang.Proyek tersebut tidak hanya dari konsumen dalam negeri tetapi juga dari luar negeri.

Selain berfokus untuk memproduksi pesawat dan helicopter, PT DI juga mengembangkan perawatan pesawat atau Maintenance Repair Overhaul (MRO) melalui Divisi Aircraft Services (ACS). ACS ditargetkan tidak hanya mampu memberikan MRO pesawat buatan PT DI tetapi juga produksi perusahaan lain. Pasar MRO Indonesia saat ini dikatakan sangat besar dan berpotensi untuk terus berkembang seiring dengan pertambahan jumlah pesawat.Namun, sayang lebih banyak maskapai yang memilih ke luar negeri untuk melakukan MRO.

“Airlines Rp 8 sampai 9 triliun tiap tahun. Dari jumlah itu diambil oleh dalam negeri yaitu GMF AeroAsia dan kami ada Rp 3 triliun.Jadi kita mesti berusaha menangkap pasar itu. Hanya kendalanya investasi, penambahan kemampuan karena mesti menguasai teknologi,”paparnya.

Belum semua aspek dalam MRO bisa dikuasai oleh pihaknya kata Andi.Misalnya landing gear yang harus dikirim ke luar negeri. “Kita lagi belajar mendapatkan kualifikasi.Kalau belum mendapatkan kualifikasi, training ya belum bisa,”imbuhnya.

(JurNas)

May 20, 2013

Legislator: Militer Senegal Minati CN-235 Versi 220

 

Lanjutkan jualannya PT DI !

Sunday, May 19, 2013


 

 

CN-235 TNI AU. (Foto: Dispenau)

19 Mei 2013, Jakarta: Pemerintah Senegal berminat membeli dua pesawat CN-235 versi 220 produksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) untuk memenuhi kebutuhan VIP dan transportasi udara.

“Hal itu ditegaskan Menteri Angkatan Bersenjata Senegal Augustine Tine saat bertemu delegasi Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) antara DPR RI dan Parlemen Senegal di Kantor Kementerian Angkatan Bersenjata Senegal,” kata Pimpinan Delegasi DPR Tantowi Yahya dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu malam.

Pemerintah Senegal juga ingin memulai kerja sama di bidang pertahanan melalui pelatihan bagi perwira militer dan polisi, selain juga upaya penguatan kerja sama di bidang politik terkait pemilu dan peran parlemen.

Pertemuan tersebut juga membahas mengenai rencana pembukaan kantor perwakilan Pemerintah Senegal di Indonesia, sebagai bentuk penguatan kerja sama setelah KBRI dibuka di Dakar pada 1982.

Dalam rangka mewujudkan hubungan bilateral saling menguntungkan, kedua negara tersebut sedang melakukan proses finalisasi draft nota kesepahaman mengenai Pembentukan Komisi Bersama.

Delegasi DPR RI melakukan kunjungan kerja ke Senegal selama tiga hari, 14-17 Mei, yang diikuti oleh lima anggota dewan dari fraksi Demokrat, Golkar dan PDIP.

Sejumlah isu yang dibicarakan dalam pertemuan itu menyangkut bidang politik keamanan, ekonomi dan pembangunan di tingkat domestik, regional dan global.

Hubungan RI-Senegal secara resmi dijalin pada 3 Oktober 1980. Hingga saat ini hubungan kedua negara tersebut berlangsung baik di tingkat bilateral maupun multilateral dalam kerangka PBB, GNB, G-15, dan OKI.

Di bidang ekonomi, total nilai perdagangan kedua negara selama 2012 tercatat mencapai US$ 46.1 juta, dengan nilai ekspor Indonesia ke Senegal mencapai US$ 43 juta.

Komoditi ekspor tersebut antara lain berupa produk minyak hewani dan nabati, peralatan mesin, bahan kimia, sabun, pakaian, dan perabotan.

Sumber: ANTARA News

May 16, 2013

KFX Ditunda, Indonesia-Korsel Ingin Buat Selevel F-35

 

 Indonesia kena tipu2 Korea ? Mengapa tidak kerja sama saja dengan Rusia atau negeri eks Blok Timur. Mereka lebih tulus jika bekerja sama ..
 
15 Mei 2013

Pesawat tempur KFX akan dibuat selevel F-35 (image : daum)

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, proyek kerja sama pembuatan pesawat tempur dengan Korea Selatan tetap berjalan. Hanya, proyek kerja sama pembuatan pesawat Korean Fighter Experiment (KFX) memang ditunda.

“Tidak ada kata-kata batal atau gagal. Itu yang penting. Betul ditunda karena pemerintahannya (Korsel) lagi transisi,” kata Purnomo di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (15/5/2013).

Pramono mengatakan, Pemerintah Korsel bahkan berpikir kerja sama dapat ditingkatkan dengan membuat pesawat yang lebih canggih. Pasalnya, kata dia, kedua negara berpikir kebutuhan jangka panjang hingga 15 tahun mendatang.

“Mereka bahkan berpikir untuk meningkatkan (selevel) pesawat F-35 (buatan Amerika Serikat). Kita sudah sampaikan ke pihak Korea, apa pun yang akan dikembangkan, kita ikut. Kita share 20 persen (modal),” kata Purnomo.

Pramono menambahkan, selain kerja sama dengan negara lain, pemerintah juga tengah menambah investasi di PT Dirgantara Indonesia.

Seperti diberitakan, Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin menyebut, pembatalan proyek KFX telah merugikan Indonesia sekitar Rp 1,6 triliun. Proyek itu ditandatangani pada 15 Juli 2012 di Seol, Korsel.

Anggaran itu disebut untuk kebutuhan penelitian dan pengembangan. Sudah ada sekitar 30 orang dari PT DI yang dikirim ke Korsel untuk ikut mendesain pesawat KFX. Dari kerja sama ini, Indonesia awalnya berharap dapat memiliki 50 unit KFX pada 2020.

(Kompas)

 

+++++++++++++

RI-Korea akan Buat Jet Tempur Canggih, BJ Habibie: Itu Salah dan Omong Kosong

Suhendra – detikfinance
Jumat, 11/10/2013 14:11 WIB
 
 
 
http://images.detik.com/content/2013/10/11/1036/jettempur.jpg
Jakarta -Mantan Presiden dan Menristek BJ Habibie angkat bicara soal rencana pengembangan bersama jet tempur canggih antara Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) yang biasa disebut KFX/IFX.

Menurut Habibie, Korsel tak unggul dalam bidang teknologi pesawat terbang termasuk jenis tempur, bahkan rencana kerjasama ini kini dibekukansementara oleh pihak Korsel.

“Itu salah. Sekarang ini di-freeze kan? Itu omong kosong, wrong. Tapi dia nggak kasih kan?” kata Habibie kepada detikFinance pekan lalu.

Habibie menegaskan, Korsel malah pernah mengimpor pesawat militer CN235 buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Bahkan, Habibie bercerita soal pengalaman Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Chappy Hakim saat kunjungan kerja ke Korsel disuguhi pesawat VIP yang tak lain adalah CN 235 buatan Indonesia. Saat itu, CN235 dianggap pesawat paling aman daripada helikopter ketika cuaca buruk.

“Dari mana? Dia nggak unggul dalam bidang itu. Commercial airplane pun kita lebih unggul. Dari mana?” katanya.

Secara pribadi Habibie lebih memilih mengembangkan pesawat komersial dan bermesin baling-baling daripada jet tempur. Alasannya pesawat komersial sangat dibutuhkan Indonesia sebagai negara kepulauan dan mesin baling-baling dianggap paling hemat.

“Tidak, kita hanya mau komersial. Nggak mau tempur, ngapain,” katanya.

Dalam proyek ini, rencananya pemerintah Indonesia berkontribusi 20%, selebihnya oleh pemerintah dan BUMN strategis Korsel. Rencananya dari proyek ini akan diproduksi pesawat tempur KFX/IFX atau F-33 yang merupakan pesawat tempur generasi 4,5 masih di bawah generasi F-35 buatan AS yang sudah mencapai generasi 5. Namun kemampuan KFX/IFX ini sudah di atas pesawat tempur F-16.

“Lebih baik uang itu kasih saja sama PT DI,” seru Habibie.

Pesawat KFX/IFX akan dibuat 250 unit, dari jumlah itu Indonesia akan mendapat 50 unit di 2020. Harga satu pesawat tempur ini sekitar US$ 70-80 juta per unit.

 

(hen/dnl) 

May 16, 2013

Indonesia-Turki Kerja Sama Bikin Tank

 

 
15 Mei 2013

Dalam kejasama pembuatan tank dengan Turki, ukuran tank bisa “light” atau “medium”. (photo : Army Technology) 

Jakarta (ANTARA News) – Pemerintah Indonesia dan Turki telah menandatangani nota kesepahaman mengenai pembuatan alat utama sistem senjata (alutsista) berupa tank ringan atau tank medium.

Penandatangan kerja sama itu dilakukan di sela kegiatan Internasional Defense Industri Fair (IDEF) ke-11 di Istanbul, Turki, awal Mei lalu, kata Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Pos Hutabarat, yang mempin Delegasi Indonesia menghadiri kegiatan itu.

Kementerian Pertahanan, lanjut dia, juga menjalin kerja sama dalam pembuatan alat komunikasi.

Menurut dia, kerja sama pembuatan tank dan alat komunikasi itu melibatkan dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yaitu PT Pindad dan PT LEN. 

Ia menambahkan, dalam hal ini mitra PT LEN dari Turki adalah ASELSAN, perusahaan yang sudah memiliki pengalaman memproduksi  peralatan pertahanan dan keamanan.

Asisten Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Bidang Kerjasama, Silmy Karim, menambahkan kerjasama itu merupakan bagian dari upaya mempercepat kemandirian produksi alutsista.

“Lebih dari itu pihak Turki siap untuk bekerjasama dari awal proses yaitu desain, sampai dengan akhir yaitu produksi. Bahkan tidak menutup kemungkinan pemasaran bersama,” katanya.

Dalam pembuatan tank tersebut, kata Silmy, PT Pindad akan bekerja sama dengan pihak Turki yang diwakili oleh FNSS Defense System.

“Keduanya melakukan kerja sama untuk membuat tank. Waktu kerja sama diperkirakan tiga hingga lima tahun. Tahun ini diusahakan grand design tank selesai, sehingga tahun depan bisa dibuat prototipenya,” katanya.

(Antara)

May 15, 2013

Komisi I: Daripada Beli Leopard Bekas, Sebaiknya Beli Tank Pindad

Beli tank dalam negeri nggak ada “commision fee” nya, Pak !
Selasa, 17/01/2012 09:26 WIB

 

 

Mega Putra Ratya – detikNews

 
 
 
Leopard di Afghan

Jakarta – Komisi I DPR menolak rencana pemerintah untuk membeli tank Leopard bekas dari Belanda. Komisi I mendorong pemerintah untuk mengembangkan tank buatan PT Pindad.

“Tank PT Pindad lebih ringan, lincah dan murah karena diproduksi anak bangsa,” ujar Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin kepada detikcom, Rabu (17/1/2012).

Hasanuddin mengatakan sebenarnya atas perintah Presiden SBY pada 2010 PT Pindad telah mengembangkan Medium Tank 23 ton yang lebih cocok untuk kondisi geografis Indonesia. “Dan sudah menjadi prototipe, tinggal dikembangkan,” paparnya.

Menurut Hasanuddin, mengapa Komisi I DPR menolak pembelian tank Leopard tersebut karena sampai hari ini Kementerian Pertahanan belum secara resmi memberikan penjelasan kepada Komisi I tentang rencana pembelian alutista tersebut.

Rencananya pemerintah akan membeli 100 tank Leopard terdiri dari 50 tipe 2A4 dan 50 tipe 2A6 bekas dari Belanda .

“Tank ini memang canggih tapi cukup mahal untuk tipe 2A4 : 700.000 euro dan tipe 2A6 : 2,5 juta euro ditambah biaya overhaull 800.000 euro per unit,” ungkap purnawirawan TNI ini.

Selain itu, lanjut Hasanuddin, berat tank tersebut mencapai 63 ton dan sangat tidak cocok untuk manuver di wilayah geografis di Indonesia yang gembur, terpotong-potong bahkan berawa. Tank Leopard juga dinilai kurang taktis untuk sistim pertahanan pulau-pulau seperti di Indonesia.

“Kita setuju TNI dilengkapi alutsista yang canggih, tapi harus cocok dengan doktrin pertahanan dan karakter geografis/medan di Indonesia,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie bersikeras, Indonesia membutuhkan tank kelas berat (main battle tank) untuk menjaga integritas NKRI. Makanya TNI AD akan melakukan modernisasi alutsista, salah satunya pembelian tank Leopard meski bekas.

Sedangkan Radio Nederland pada 14 Desember 2011 melaporkan, parlemen Belanda menyetujui mosi penolakan rencana penjualan tank ke Indonesia. Rencana penjualan sejumlah tank Leopard oleh Kementerian Pertahanan ditolak Parlemen Belanda karena Belanda tidak ingin terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia.

Mayoritas anggota parlemen menyetujui mosi yang diajukan partai Kiri Hijau (GroenLinks). Hanya partai memerintah CDA (Kristen Demokrat) dan VVD (Liberal Konservatif) yang menentang penolakan ini. Pengaju mosi, Arjan El Fassed, mengatakan track record Indonesia berperan kuat dalam pengambilan keputusan ini.

May 15, 2013

Parlemen Agendakan Raker Pertanyakan Proyek KFX dan Kapal Selam

Korea Selatan urusan bisnis senjata: ABAL ! Sudah tahu kondisi seperti ini pemeritah Indonesia malah meneken kerjasama  industri pertahanan dengan KOREA.. Ada apa ya ?? 

 

 

15 Mei 2013, Jakarta: Komisi I DPR RI mengagendakan rapat dengan Kemenhan dan jajaran TNI guna membahas proses modernisasi alutsista yang dalam prosesnya bermasalah. Komisi I akan menanyakan proyek bersama pembuatan pesawat canggih Korean Fighter eXperiment (KFX) yang dihentikan sepihak oleh Korea Selatan dan telah merugikan Indonesia sebagai mitranya.

“Dalam rapat internal di Komisi I Senin (13/5) kemarin diputuskan, kita akan mempertanyakan kenapa perjanjian itu lemah. Sehingga, Korea Selatan secara sepihak bisa dengan seenaknya membatalkan proyek kerjasamanya,” ujar Wakil Ketua DPR RI Tubagus Hasanuddin. Padahal, untuk proyek ini, pemerintah sudah membayar sebesar 70 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1,6 triliun.

Kerja sama untuk membangun pesawat super canggih KFX ini sudah berlangsung sejak 2001. Proyek itu dibiayai bersama oleh Indonesia dan Korea Selatan. Dalam proyek itu, pemerintah Indonesia diwajibkan menyetor sekitar 20 persen dari total dana Rp 80 triliun yang dibutuhkan.

Selain itu, Komisi I juga akan mempertanyakan kerjasama untuk pembelian 3 kapal selam dari Korsel. Karena, ternyata teknologi kapal selam dari Korsel itu menggunakan teknologi Jerman, di mana Jerman hanya memberikan lisensi teknologi kapal selam itu kepada Turki.

“Kita dapat surat dari pemerintah Jerman yang isinya mempertanyakan langkah pemerintah RI membeli kapal selam dari Korsel, yang menggunakan sistem teknologi yang dimiliki Jerman. Di mana, dalam surat tersebut disebutkan bahwa pihak Korsel tidak mendapat lisensi teknologi dari Jerman. Lisensinya hanya diberikan pada Turki saja,” tuturnya.

Intinya, kata polotisi PDI-Perjuangan ini, surat dari Jerman itu memperingatkan Indonesia agar hati-hati saja atas kapal selam yang dibeli dari Korsel itu. Hal ini mengingat tidak ada jaminan lisensi dari negara pemilik teknologinya. Secara etika, semestinya Korsel harus minta ijin dulu ke Jerman. Tapi sampai saat ini, Korsel belum melakukannya.

Menurut Hasanuddin, kejadian ini akan berpengaruh pada upaya modernisasi alutsista TNI AL, khususnya dalam hal pengadaan kapal selam.

“Karena itu, saran Komisi I, TNI AL nyari lagi saja kapal selam yang tidak bermasalah. Karena, saat ini banyak negara produsen kapal selam kok,” katanya.

Sumber: Jurnal Parlemen

May 14, 2013

TNI Mencapai MEF 40 Persen pada 2014

Monday, May 13, 2013


 

 

(Foto: Koarmatim)

13 Mei 2013, Jakarta: Pemerintah memastikan kekuatan pokok minimal (minimum essential forces/MEF) pada 2014 akan mencapai 40 persen. Rencananya, MEF benar-benar tercapai pada 2019. Pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) akan terus dipenuhi secara bertahap.

“TNI menyampaikan apresiasi terhadap Komisi I DPR yang terus mendorong, mendukung pengadaan alutsista sehingga bisa dilaksanakan sesuai dengan program pembangunan kekuatan menuju kekuatan pokok minimal,” kata Panglima TNI, Laksamana Agus Suhartono, saat meninjau Latihan Gabungan TNI di Sangatta, Kalimantan Timur, Minggu (12/5).

Sebelumnya, Panglima menyatakan target MEF pada 2014 mendatang akan bisa surplus 10 persen dari target yang sebelumnya direncanakan dalam blue print pertahanan, yakni 30 persen. “Saya optimistis bisa tercapai jika konsisten terhadap pembangunan yang sudah dibuat dalam blueprint pertahanan,” kata Panglima.

Sementara itu, setelah dua hari yang lalu sukses melancarkan serbuan amfibi, TNI kembali mengerahkan puluhan kapal perang TNI AL yang tergabung dalam unsur Komando Tugas Gabungan Pendarat Administrasi (Kogasgabratmin) dalam Latihan Gabungan (Latgab) TNI Tingkat Divisi tahun 2013.

Kapal-kapal perang itu didatangkan untuk mendaratkan pasukan beserta seluruh material berupa perlengkapan tempur dan logistik lainnya di Dermaga Lubuk Tutung, Sangatta, Kalimantan Timur, Sabtu (11/5). Dalam Latgab TNI itu, Kogasgabratmin memunyai tugas melaksanakan operasi pendaratan administrasi Kogasratgab di tumpuan Pantai Sekerat, Sangatta, Kalimantan Timur, guna operasi darat lanjutan dalam rangka mendukung tugas pokok Komando Gabungan TNI.

Parleman Dukung Modernisasi TNI

Komisi I DPR akan terus mendorong modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan cara dukungan peningkatan anggaran. Hal ini dalam rangka pemenuhan kekuatan minimum dan ideal TNI.

“Dalam APBN-Perubahan di 2013 nanti, Komisi I tentu akan kembali mengupayakan penambahan anggaran bagi TNI untuk kelanjutan modernisasi alutsista TNI,” kata anggota Komisi I DPR Husnan Bey Fananie.

Husnan mengatakan itu setelah bersama rekan sekomisinya, Tritamtomo, menyaksikan Latihan Gabungan TNI 2013 yang berlangsung di Sangatta, Kalimantan Timur.

Menurut politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini, dari pelaksanaan latihan perang tersebut terlihat hasil upaya modernisasi alutsista TNI. Husnan menambahkan, saat menyaksikan latihan perang TNI itu, pihak Panglima TNI sempat menyampaikan ke Komisi I bahwa saat hari jadi TNI pada 5 Oktober mendatang, TNI akan menggelar parade dan memamerkan seluruh alutsista modern milik TNI.

“Agar masyarakat tahu bahwa dukungan anggaran bagi TNI yang besar itu memang dibelanjakan untuk modernisasi alutsista. Sehingga TNI akan perlihatkan hal itu, agar masyarakat juga tahu, kini sebagian alutsista yang dimiliki TNI, sebagian besarnya telah modern dan canggih,” tegasnya.

Husnan juga menjelaskan, Latihan Gabungan TNI 2013 ini merupakan latihan perang terbesar yang digelar TNI, karena melibatkan 16 ribu personel dari tiga angkatan TNI AD, AU, dan AL, dengan alutsista yang dimiliki. Misal, pesawat tempur F-16, Sukhoi, lebih dari 20 kapal perang dan puluhan armada amfibi milik TNI AL.

Sumber: Koran Jakarta/Jurnal Parlemen

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 81 other followers