Archive for ‘Industry Militer Budget TNI’

June 30, 2013

TNI AD dan Kemhan Ajukan Tambahan Rp 6 Triliun untuk Pembelian Apache

29 JUNI 2013


 

 
29 Juni 2013

Helikopter serang AH-64D Apache (photo : military-wallpaper)

TNI AD Ajukan Rp6 Triliun Beli Helikopter Serang dari AS

Solopos.com, SEMARANG – Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan Mabes TNI AD telah mengajukan tambahan anggaran khusus senilai Rp6 triliun untuk pembelian sejumlah helikopter serang Apache dari Amerika Serikat beserta persenjataannya.

”Pemerintah Amerika Serikat sudah menyetujui pembelian helikopter Apache. Sekarang sedang proses negosiasi harga,” ungkap di Semarang, Sabtu (29/6/2013).

Sebab harga satu unit helikopter Apache sangat mahal yakni senilai US$40 juta atau sekitar Rp388 miliar. ”Saat ini tim khusus dari Kementerian Pertahanan dan Mabes TNI AD, sedang melobi pemerintah Amerika Serikat mengenai harga helikopter Apache,” imbuhnya.

Keberadaan skadron Apache itu, kata Menhan, untuk melengkapi kekuatan militer Indonesia dalam menjaga kedaulatan negara.

”Selain TNI AD, TNI Angkatan Laut juga menyiapkan helikopter antikapal selam dan membuat armada perusak kawal rudal,” ujarnya.

(Solopos)

June 27, 2013

Akademisi Kritik Alih Teknologi Kapal Selam dari Korsel Sekedar Basa Basi

 June 27, 2013


 

 

KRI Cakra.

26 Juni 2013, Jakarta: Surabaya-Ketua Pusat Kerja Sama dan Promosi IPTEKS Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, Raja Oloan Saut Gurning, mengingatkan Kementerian Pertahanan menekankan lebih serius mengenai kesepakatan transfer of teknologi dalam pengadaan kapal selam dari Korea Selatan. Indonesia sebagai pemilik uang berhak mendapatkan manfaat lebih dari kerja sama ini.

“Pemerintah harus bernyali karena masih lebih besar uang kita dan kepentingan nasional harus dibela,” kata Saut saat dihubungi, Rabu 26 Juni 2013.

Saut menilai realisasi penguatan alat utama sistem pertahanan Indonesia dalam dua tahun terakhir lebih menguntungkan kepentingan asing dan berpotensi menjadikan alutsista Indonesia dikendalikan para korporasi asing. Dalam jangka panjang dampaknya akan sangat berbahaya bila bergantung pada negara lain.

Menurut Saut, kerja sama pembelian kapal selam dengan Korea Selatan berpotensi sangat merugikan Indonesia. Itu, kata dia, tampak dari detail teknis yang tidak ada komponen kapal selam yang dibuat di Indonesia. “PT PAL saya dengar hanya mendapat bagian pekerjaan 2 persen saja. Hanya gambar dan pengawasan. Bahkan memotong pelat baja pun tidak dikasih,” kata Saut.

Awalnya disepakati dari pembelian tiga kapal selam dari Korea, sejumlah tim ahli dan insinyur Indonesia akan dilibatkan dalam pembuatannya. Dua kapal dibuat di Korea dan satu lagi akan dilakukan di Indonesia. Namun, kata Saut, dalam kenyataannya, banyak alasan dari Korea Selatan yang aneh-aneh. Misalnya tenaga ahli yang dikirim belajar harus berumur kurang 30 tahun dan hanya dapat melihat (learning by seing).

Tak adanya kesempatan tenaga ahli Indonesia ikut belajar dalam proses produksinya dianggap sangat merugikan. Negosiasi transfer of teknologi dinilai Saut hanya basa-basi di atas kertas. “Kita ini banyak dikendalikan asing. Jangan sampai program ToT kapal selam ke Korea justru merugikan Indonesia,” ucap Saut.

Lewat APBN 2013, nilai belanja alutsista sebesar Rp 28,2 triliun dan diperkirakan lebih dari 80 persen dibelanjakan dari industri asing dengan dukungan lebih 60 persen kredit ekspor luar negeri.

Sebelumnya, Direktur Utama PT PAL Indonesia, M. Firmansyah Arifin, mengatakan program transfer of technology (ToT) kapal selam ke Korea Selatan, cenderung merugikan kepentingan nasional. Setelah mempelajari klausul kontraknya, Firmansyah melihat program ToT itu lebih menekankan pada learning by seeing, bukan learning by doing.

Akibatnya, kata dia, tenaga ahli Indonesia yang dikirm ke Korea, sebatas melihat proses pembuatan tanpa terjun langsung mempelajari teknologinya. Skema kerja sama seperti ini, lebih menguntung Korea ketimbang Indonesia. “Memang kami harus mencuri teknologinya. Karena Korea dulu juga mengambil teknologi dari Jerman,” kata Firmansyah, Jumat 21 Juni 2013.

Daewoo Shipbuilding Marine Engineering co. Ltd, kata ia, sekedar memberikan gambar kapal selam. Padahal, mempelajari rekayasan teknologi kapal selam tidak cukup dengan melihat gambar. Nasi sudah menjadi bubur, kini pihaknya hanya berharap bisa menempatkan lebih banyak tenaga ahli dari kampus dalam program ToT untuk melakukan kajian ilmiah. Dirinya yakin, Korsel tidak akan memberikan ilmu secara tulus kepada Indonesia.

Kemhan Bantah Proyek Kapal Selam Merugikan Indonesia

Kementerian Pertahanan membantah jika pemerintah Korea Selatan setengah hati memberikan transfer of technologi pembuatan kapal selam kepada Indonesia. Korea Selatan punya alasan kuat menolak perwakilan dari PT PAL ikut mengerjakan kapal selam pesanan Indonesia.

“Menurut mereka pembangunan kapal selam punya resiko sangat tinggi,” kata Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan, Laksamana Muda Rachmad Lubis, saat ditemui Tempo di kantor Kementerian Riset dan Teknologi, Jakarta Senin lalu.

Korea Selatan menyebut kapal selam merupakan produk alat utama sistem persenjataan dengan standar kualitas tinggi. Berbeda dengan kapal perang biasa, kapal selam diwajibkan punya kemampuan menyelam hingga 350 meter dari permukaan laut sehingga tak boleh ada sedikit pun kesalahan. Jika tidak, nyawa dan reputasi produsen kapal selam jadi taruhan.

“Rusia yang ahli kapal selam saja pernah gagal, apa lagi orang yang belum punya keahlian, resikonya sangat tinggi, rawan kecelakaan,” terang Rachmad.

Selain itu, faktor keselamatan pekerja Indonesia juga menjadi alasan Korea Selatan. Sebab produksi kapal selam menggunakan peralatan yang beresiko keselamatan besar, terlebih untuk orang yang belum punya kemampuan. Alasan lain, Korea Selatan takut target produksi mereka molor karena harus memberi pelajaran kepada Indonesia. “Sementara kalau produksinya telat, kan mereka kena denda.”

Meski begitu, saat ini pemerintah sedang melobi Korea Selatan untuk memaksimalkan proses alih teknologi. Minimal, jika perwakilan PT PAL benar-benar cuma diberi kesempatan belajar dengan melihat (learning by seeing), Korea Selatan mau memperlihatkan secara detil. “Jadi diharapkan kapal selam ketiga kita bisa buat sendiri di Indonesia, tentu atas bimbingan langsung Korea Selatan,” kata Rachmad.

Indonesia memesan tiga unit Kapal selam kelas Changbogo dari Korea Selatan, dengan harga sekitar 350 juta Dollar Amerika Serikat per unit. Dalam perjanjian pembelian, Korea Selatan menawarkan alih teknologi kepada Indonesia. Sesuai rencana dua kapal selam akan diproduksi di galangan Daewoo Shipbuilding Marine Engineering co Ltd. Kapal selam ketiga akan dikerjakan oleh ahli Indonesia di galangan PT PAL.

Sumber: TEMPO

 

+++++++++++++++

 

Turki Punya Pesawat Anti Kapal Selam Buatan PT DI, RI Malah Tak Punya

Rista Rama Dhany – detikfinance
Selasa, 26/03/2013 14:47 WIB
 
 
 
 
http://images.detik.com/content/2013/03/26/1036/144930_cn2351.jpg
Jakarta – Turki ternyata memiliki salah satu pesawat canggih buatan Indonesia yakni CN235 ASW yang diciptakan untuk mendeteksi kapal selam. CN235 ASW merupakan kependekan dari Anti-Submarine Warfare.

“Turki itu punya pesawat buatan kita yang diciptakan untuk anti kapal selam,” kata Vice President Corporate Communication PT Dirgantara Indonesia, Sonni Ibrahim, ketika ditemui disela acara The 12th Langkawi International Maritime & Exhibition 2013 (LIMA ’13), Malaysia, Selasa (26/3/2013).

Dikatakan Sonni, pesawat tersebut memang didesain khusus untuk anti kapal selam karena memiliki dua buah torpedo.

“CN235 ASW ini memiliki sonar dan radar yang bisa mendeteksi keberadaan kapal selam musuh, ketika terdeteksi musuh di dalam laut, dari atas pesawat torpedo dijatuhkan dan dibelakang torpedo ada parutnya, setelah jatuh ke laut torpedo langsung mengejar musuh karena juga memiliki radar di dalamnya,” ungkap Sonni.

Selain itu, Turki juga punya pesawat buatan PT DI jenis CN235 yang tidak memiliki torpedo.

“CN235 yang biasa juga beberapa dimiliki Turki, Malaysia juga ada, ini yang tanpa rudal, tapi kegunaanya untuk mendeteksi keberadaan musuh, CN235 ini seperti komando, menentukan target musuh dimana, berapa pasukan yang perlu dibawa, pesawat jenis apa yang digunakan untuk menyerang,” jelas Sonni.

Namun sayangnya, negara seluas Indonesia dan produknya dibuat sendiri di dalam negeri, tetapi tidak ada satu pun jenis CN235 ASW yang dimiliki Indonesia. “Indonesia belum punya,” tandas Sonni.

June 24, 2013

TNI AL Bentuk Skuadron 100 Helikopter Antikapal Selam

Sunday, June 23, 2013


Jadi selama ini kapal selam asing bisa bebas lepas di perairan nusantara.. Luar biasa.

 
 

SH-2G Super Seasprite. (Foto: Kaman)

22 Juni 2013, Jakarta: Sebelas unit helikopter jenis antikapal selam, dalam waktu dekat, akan memperkuat alat utama sistem senjata (alutsista) jajaran penerbangan TNI AL. Ini pertama kalinya militer Indonesia memiliki helikopter antikapal selam setelah terakhir memiliki sekitar tahun 1960-an.

“Secara bertahap, helikopter akan datang paling lambat pada 5 Oktober 2014, dan langsung memperkuat alutsista TNI AL. Saat ini masih dalam proses, masih ada dua calon penyedia helikopter. Hanya saja, persyaratannya harus ada sebelas unit helikopter,” kata Kepala Staf TNI AL (Kasal), Laksamana Marsetio, seusai menerima brevet Penerbang Angkatan Laut dan diangkat sebagai warga kehormatan Penerbangan Angkatan Laut, di Surabaya, Jumat (21/6).

Seiring dengan kedatangan helikopter itu, TNI AL juga akan membentuk skuadron baru di Pusat Penerbang Angkatan Laut (Puspenerbal), yaitu Skuadron 100 antikapal selam. “Kami akan kembali ke kejayaan TNI AL, termasuk kaderisasi calon-calon pengawaknya juga sudah kita siapkan,” ujar dia. Kasal berjanji, pada 5 Oktober 2014 nanti, TNI AL akan menyajikan kekuatan tempur Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT), baik dari unsur kapal perang, pesawat udara, korps marinir, maupun pangkalan.

Sumber: Koran Jakarta

 

+++++++++++++

 

Skuadron 100 Helikopter Anti Kapal Selam Siap Dihidupkan Kembali

 
22 Juni 2013

Helikopter anti kapal selam diperkirakan mempunyai bobot 5 ton yang diseuaikan dengan standar helikopter yang dapat dibawa oleh korvet kelas Diponegoro dan fregat kelas Ahmad Yani (photo : Awomir Baran)

Oktober 2014, Puspenerbal Terima 11 Helikopter Anti Kapal Selam Baru

SURYA Online, SURABAYA – Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Marsetio mengungkapkan kesiapan pendirian kembali Skuandron 100 di Lanudal Juanda. 

“Proses pendirian kembali skuadron 100 sedang dalam persiapan. Mulai dari fasilitas gedung, hangar, fasilitas sarana dan prasaran, mekanik, dan penerbang pun sudah dalam proses,” kata Marsetio disela kegiatannya menerima brevet penerbangan Angkatan Laut dan dikukuhkan sebagai warga kehormatan penerbangan Angkatan Laut, Jumat (21/6/2013).

Skuadron 100 sendiri merupakan skuadron udara untuk helikopter jenis anti kapal selam. 

Menurut Marsetio, dulunya Penerbangan TNI AL pernah memilik skuadron ini di tahun 1960an. 

Namun karena pesawatnya tidak ada, skuadron ini dilebur dengan skuadron lainnya. 

Selanjutnya di tahun 2013 ini, skuadron 100 akan kembali dihidupkan, dengan paling lambat tanggl 5 Oktober 2014, helikoper Anti Kapal Selam (AKS) ini akan sudah datang dan melengkapi penghidupan kembali skaudron udara 100. 

”Helikopter AKS yang akan datang sebanyak 11 unit. Untuk pembuatnya, masih dalam proses lelang. Ada dua produksen yang sedang mengikuti tahap lelang,” jelas Marsetio.

Untuk nilainya, Marsetio mengaku tidak bisa mengungkapkan, karena hal tersebut merupakan wewenang dari Kementrian Pertahanan.

June 21, 2013

KSAD Peringatkan Bawahannya Jangan Bermain BBM

yang sering bermain BBM adalah angkatan laut. Harusnya pernyataan ini keluar dari KSAL  juga. 
 
 
Headline
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Moeldoko – (inilah.com/Ardhy Fernando)
 
Oleh: Fadhly Zikry
nasional – Jumat, 21 Juni 2013 | 12:04 WIB
 
 
 

INILAH.COM, Jakarta – Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Moeldoko memperingatkan bawahannya untuk tidak main belakang dalam rencana pemerintah untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Dia tak segan-segan mencopot aparat TNI apabila ada yang terlibat menimbun atau bermain dengan BBM terutama didaerah perbatasan.

“Seluruh jajaran prajurit untuk memahami kebijakan kenaikan ini dan jangan ikut bermain-main di area ini. Kalau bermain-main saya libas,” tegas Moeldoko usai menghadiri apel dan pertunjukan bela diri anggota TNI AD di lapangan Monas Jakarta Pusat, Jumat (21/6/2013)..

Dia mengatakan, TNI AD menerjunkan dua batalyon reguler dan kesatuan teritorial untuk mengantisipasi penyelundupan BBM jelang rencana kenaikan harga. Pasukan tersebut ditempatkan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.

“Secara reguler kami telah menggelar kekuatan di perbatasan di antaranya illegal trading,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, TNI AD siap menghadapi situasi dan kondisi apapun, termasuk menghadapi dampak penaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang akan di umumkan pemerintah dalam waktu dekat.

“Sebenarnya kita TNI angkatan darat selalu siap dalam berbagai situasi, apabila diminta (untuk mengamankan situasi),” ujar Moeldoko. [mvi]

 
June 20, 2013

Indonesia will Receive T-50 Golden Eagle Start in September 2013

 

 
20 Juni 2013

KAI T-50i Golden Eagle for TNI AU (photo : daum)

Indonesia gears up for T-50

Indonesia will receive its full complement of 16 Korea Aerospace Industries T-50 Golden Eagle advanced jet trainer aircraft between September 2013 and February 2014.

The disclosure was made by a company spokesman at the company’s chalet.

Jakarta ordered 16 T-50s in May 2011, marking the first export sale for the type, which is powered by a single General Electric F404 engine.

Indonesian pilots and maintenance crews are in South Korea familiarising themselves with the type.

In addition, KAI is confident of closing a deal with the Manila for 12 FA-50s, an armed variant of the T-50. Manila will use the type both for training and as a light fighter/attack aircraft.

The company, in co-operation with Lockheed Martin, is also competing against the Alenia/Aermacchi M-346 and BAE Systems Hawk for an eight aircraft requirement in Poland.

Warsaw is reviewing the technical proposals issued by the three companies, and will issue another request for proposals for pricing information in the coming months. A decision could come as soon as early 2014.

(Flight Global)

June 19, 2013

Produksi Panser Anoa Digeber untuk Memenuhi Pesanan 150 Unit Kedua

19 JUNI 2013


 

 
19 Juni 2013

Panser Anoa 6×6 buatan PT Pindad pesanan TNI AD (photo : Angkasa) 

Produksi Panser Anoa Digeber

Setelah TNI memesan 150 panser Anoa produksi Pindad pada tahun 2008, pabrik persenjataan di Bandung, Jawa Barat yang sudah berstatus BUMN  itu seperti  mendapat pasokan darah segar. Jumlah total dana yang dikucurkan pemerintah untuk membeli 150 unit panser Anoa melebihi Rp 1 trilliun sehingga operasional produksi Anoa pun berjalan lancar.

Tidak hanya merampungkan 150 unit panser Anoa, para teknisi senjata Pindad saat ini juga sedang menggeber produksinya demi memenuhi pesanan TNI yang jumlah totalnya  ( termasuk pesanan 150 unit pertama) , mencapai lebih dari 300 unit.  Anoa yang sudah dioperasikan bahkan ada yang dikirim ke Lebanon guna mendukung tugas Pasukan Perdamaian PBB Indonesia, Satgas Indo FPC TNI Konga XXVI-D2/UNIFIL.

Kendaraan taktis Komodo 4×4 pesanan TNI AD (photo : Angkasa) 

‘’Sebanyak 150 Anoa, saat itu dipesan langsung oleh Bapak Wapres Yusuf Kalla. Itu merupakan kejutan sekaligus tantangan karena Pindad belum memiliki pengalaman memproduksi panser. Tapi berkat kerja keras Pindad akhirnya berhasil mewujudkan panser yang dipesan oleh pemerintah,’’ papar Tuning Rudyati, Kepala Departemen Humas dan Hukum Pindad kepada Angkasa di Pindad, Bandung, Jawa Barat (14/6). 

‘’Saat ini kami sedang bekerja keras untuk memenuhi pesanan Anoa dari TNI dan juga Malaysia. Dengan kemampuan Pindad memproduksi  sebanyak 80 unit Anoa per tahun, kami yakin pesanan dari para konsumen bisa dipenuhi,’’ tambah Tuning.

Selain panser Anoa, Pindad juga memproduksi kendaraan taktis (rantis) Komodo hasil rancangan tahun 2011. Rantis yang sudah dicoba ini memiliki sejumlah kemampuan seperti  lincah bergerak di medan berlumpur, berpasir, jalur terjal dengan tanjakkan 31 derajat dan kemiringan 17 derajat  serta kemampuan jelajah hingga 450 km. 

(Angkasa)

June 18, 2013

Kemenhan Yakinkan DPR Soal IFX/KFX

18 JUNI 2013

18 Juni 2013

Pesawat tempur KFX/IFX akan memakai radar AESA serta material dan sistem elektronik penyerap gelombang radar (image : EagleOwl)

Meski pihak Korea Selatan masih menunda dan belum menjelaskan kapan kerjasama perancangan jet tempur masa depan IFX/KFX (Indonesia/Korea Fighter Experiment) diteruskan, pihak Indonesia tetap berusaha melanjutkan proyek ini sebatas pada bagian-bagian yang bisa dikerjakan sendiri. Di dalam negeri, program ini dikerjakan tim dari Balitbang Kementerian Pertahanan, BPPT, PT Dirgantara Indonesia, Institut Teknologi Bandung dan lain-lain. Proyek ini menggantung setelah tim Korea-Indonesia menuntaskan tahap pertama, yakni Technology Development, dalam waktu 18 bulan, pada Desember 2012.

Demikian ungkap Pembina Tim Komunikasi PT DI, Sonny S. Ibrahim, terkait proyek bilateral yang digagas Pemerintah Korea Selatan pada 2010 itu. Pernyataan tersebut disampaikan  Jum’at (14/6) menanggapi pertanyaan Angkasa seputar penjelasan  Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsuddien tentang IFX/KFX kepada anggota Komisi I DPR RI saat meninjau kesiapan dan fasilitas enjiniring IFX/KFX di DI, Bandung, Kamis (13/6) kemarin. Di pihak Indonesia, Kementerian Pertahanan menjadi penanggung-jawab utama atas proyek prestis yang pernah dikatakan menelan ongkos 8 miliar dollar AS itu.

Kelebihan dari AESA adalah kemampuan untuk membentuk beberapa pancaran/beam,  menggunakan setiap  small solid-state transmit/receive modules (TRM) untuk peran yang berbeda secara bersamaan, seperti deteksi radar, dan, yang lebih penting, beberapa pancaran simultan dan frekuensi pemindaian menciptakan kesulitan bagi detektor radar. (photo : DefenseIndustryDaily)

Ditambahkan, Wamenhan berhasil meyakinkan rombongan Komisi I DPR RI yang dipimpin TB Hasanudin perihal kelanjutan proyek ini. “Program pesawat tempur IFX/KFX adalah program nasional demi kepentingan bangsa dan negara. Oleh karena itukita harus mewujudkannya demi kemandirian bangsa dalam membangun  kekuatan pertahanannya,” tekan Sjafrie Sjamsuddien. Pernyataan ini ditanggapi TB Hasanudin dengan kata-kata: “Siapa pun kekuatan politik (yang akan memimpin Indonesia) di masa depan, tetap harus mendukung program ini agar terus berjalan.”

Dikemukakan, saat ini DI tengah mempersiapkan diri untuk memasuki tahap kedua, yakni Engineering Manufacturing Development. Ahli dari pabrik pesawat terbang ini akan coba mempelajari 30 dari 72 item teknologi pesawat tempur stealth generasi 4,5 ini yang belum dikuasai agar saat dilanjutkan, mereka siap melaksanakannya. Angkasa mencatat, teknologi tersulit yang masih terus dikejar ilmuwan kedua pihak adalah radar AESA serta material dan sistem elektronik penyerap gelombang radar. Keduanya akan sangat menentukan keunggulan dari pesawat yang semula direncanakan operasional pada 2020 ini.

Isyarat penundaan selama sekitar satu-setengah tahun dilayangkan Pemerintahan Park Geun-hye tak lama setelah dirinya terpilih sebagai presiden ke-11 Korea Selatan pada Februari 2013. Belakangan Pemerintah Korea disebut-sebut sedang tertarik dengan  jet tempur siluman F-15SE Silent Eagle buatan Boeing, AS, yang ditawarkan sudah siap pakai. Ketertarikan ini kemungkinan muncul karena Korea Selatan terus-menerus mendapat tekanan dari tetangganya, korea Utara. Bagi Korea Selatan, KFX sendiri diproyeksikan untuk mengganti jajaran F-4 Phantom dan F-5 Tiger yang sudah menua. Proyek diawali dengan tahapan Feasibility Study, dilanjutkan dengan Technology Development, lalu Engineering Manufacturing Development, dan diakhiri dengan Production Phase.

June 17, 2013

TNI-AU Lacak Pemasok Suku Cadang Pesawat Ilegal

 

TNI-AU Lacak Pemasok Suku Cadang Pesawat Ilegal 

 

Penghubung transaksi mendapat imbalan Rp2 juta-Rp3 juta per item. Kami 
punya waktu satu minggu untuk menelusuri apakah barang tersebut berasal 
dari gudang PT DI atau bukan.” 

Rakhendi Humas PT DI 
PETUGAS intelijen TNI Angkatan Udara (AU) dan aparatur PT Dirgantara 
Indonesia (DI) tengah menyelidiki keterlibatan internal menyusul 
terbongkarnya jaringan pencurian suku cadang pesawat. 

Humas PT DI Rakhendi menyebutkan 16 dari 51 item barang bukti yang 
disita polisi dari tangan tersangka dikenali terkait dengan PT DI. “Kami 
membentuk tim untuk menyelidiki serta mendukung kepolisian. Kami punya 
waktu satu minggu untuk menelusuri apakah barang tersebut berasal dari 
gudang PT DI atau bukan,” ujarnya, pekan lalu. 

Direktur Produksi PT DI Sukat Wikanto menolak menanggapi kasus yang 
menguak adanya penjualan suku cadang baru ataupun bekas (kondisi 
60%-70%) dari gudang dan hanggar Aircraft Service (ACS) ke pihak luar. 

“Ini di luar wewenang kami sebagai pelaksana teknis. Untuk hal tersebut, 
bisa langsung lewat humas,” ujar Yatno, sekretaris direktur produksi. 

Rakhendi semula keberatan memberikan penjelasan dengan dalih hal itu 
kewenangan Dirut PT DI Budi Santoso. Namun, Budi Santoso tidak mau 
menanggapi permintaan wawancara ataupun menjawab pertanyaan yang 
diajukan tertulis. 

Terbongkarnya kasus penjualan suku cadang pesawat yang diduga berasal 
dari gudang PT DI itu bermula dari penangkapan Dedi, 41. Karyawan PT DI 
tersebut ditangkap saat hendak bertransaksi di rest area Tol Pasteur, 
Bandung, 2 Mei lalu. 

Dari bagasi mobil Honda City milik Dedi, polisi menyita barang bukti ram 
door actuator, pegas pembuka bagasi pesawat CN-235. “Spare part ini 
bukan milik saya, saya hanya kurir. 

Saya disuruh Pak Beni memperlihatkan contoh barang pesanan,” tuturnya. 

Polisi lantas mengejar Beni ke kantornya di Metro Town Square, Jalan 
Soekarno-Hatta, Bandung, tapi dia tidak ada di tempat. Beni akhirnya 
ditangkap di rumahnya, Jalan Antapani, Bandung. 

Puluhan jenis suku cadang 
pesawat tanpa dokumen bernilai miliaran rupiah disita dari rumah Beni. 
Suku cadang pesawat harus memiliki Certifi cate of Confirm (CoC), 
Authorized Release Confirm (ARC), serta Cerfi fi cate of Origin (CoO). 

Jaringan Beni terbongkar melalui penelusuran panjang pascajatuhnya 
beberapa pesawat TNI-AU dalam lima tahun terakhir. Beni dicurigai 
menyuplai suku cadang pesawat untuk rekanan TNI-AU. 

Bisnis jual beli suku cadang pesawat memang menggiurkan. 

Su, mantan karyawan PT DI yang menjadi penghubung transaksi pada 
2008-2012, mengaku mendapat imbalan Rp2 juta-Rp3 juta per item. Sekali 
transaksi bisa terdiri dari puluhan item barang. 
Secara terpisah, Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Kolonel Pnb 
SB Supriyadi menyatakan pihaknya mengerahkan sejumlah anggota intelijen 
TNI-AU untuk mengejar semua pelaku yang diduga terlibat dalam pengadaan 
suku cadang ilegal pesawat. 

Empat perusahaan yang menjadi rekanan TNI-AU dalam pengadaan spare part 
pesawat turut diselidiki. Namun, Supriyadi hanya ingat satu nama 
rekanan, yaitu PT LMJ. “Saya ingat karena perusahaannya seperti nama 
bus,” terangnya. 

Menurut Supriyadi, sejauh ini pengadaan spare part pesawat TNI-AU sesuai 
prosedur. 
Sertifikat CoC, ARC, dan CoO lengkap. “Kami tidak menutup kemungkinan 
adanya penyimpangan; meski punya dokumen, tidak sesuai. Karena itu, kami 
menelusuri empat perusahaan yang menjadi rekanan dan juga internal 
TNI-AU,” imbuhnya.

June 17, 2013

TNI AU Akan Sambut 24 Pesawat F-16 Bekas Amerika

SENIN, 17 JUNI 2013 | 14:13 WIB

REUTERS/USAF

 

#Pesawat Terbang
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Jakarta – Komando Operasi TNI Angkatan Udara I saat ini tengah sibuk mempersiapkan kedatangan 24 unit pesawat tempur F-16 hibah dari eks-Angkatan Udara Amerika Serikat. Persiapan itu antara lain pembangunan infrasktruktur Skuadron Udara baru bernomor 16 di Pekanbaru, Riau, yang akan menjadi kandang F-16.

“Sekarang infrastruktur sudah dibangun, mulai dari hanggar, taxi-way, hingga persiapan lain,” kata Panglima Komando Operasi TNI AU I Marsekal Muda M. Syaugi, saat ditemui dalam upacara peringatan HUT Komando Operasi TNI AU ke 62 di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin, 17 Juni 2013.

Sesuai rencana, kata dia, ke 24 pesawat F16 akan tiba di Tanah Air pada pertengahan 2014. Amerika Serikat, akan mengirim 24 pesawat F16 secara bertahap.

Menurut dia, Komando Operasi AU I bukan hanya menyiapkan infrastruktur untuk menyambut kedatangan F16 dan alutsista lain, tapi juga menyiapkan sumber daya manusia. Salah satunya, meminta masukan dari sekolah penerbangan mengenai kemampuan alutsista baru. “Sehingga saat alutsista baru datang, awak pesawat tak terkendala lagi,” kata mantan pilot tempur F-16, F-5, dan Hawk 100/200 ini.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro sebelumnya mengatakan, hibah 24 pesawat F-16 eks Amerika Serikat tersebut akan menambah jumlah kekuatan F-16 Indonesia yang sudah memiliki 10 unit F-16. Sehingga total Indonesia bakal bisa dibagi menjadi dua skuadron.

June 17, 2013

KERJA SAMA MILITER AS: TNI AL Penting di Kawasan

Senin,
17 Juni 2013

 

Jakarta, Kompas – Amerika Serikat memandang TNI Angkatan Laut merupakan rekan yang penting dalam menjaga stabilitas kawasan Asia Pasifik. Oleh karena itu, AS mendukung TNI AL menjadi armada tingkat dunia.

Dukungan itu disampaikan Duta Besar AS Scot Marciel di sela-sela pesta koktail di atas kapal USS Blue Ridge, kapal komando Armada Ke-7 AS, akhir pekan lalu. Menurut Scot, kepentingan utama AS untuk kawasan Asia Pasifik adalah situasi stabil. Sebab, jalur laut di kawasan Asia Pasifik sangat penting untuk perdagangan. ”Total bulan ini saja ada lima kerja sama antara AS dan TNI,” kata Scot.

Di sisi lain, terjadi kemajuan pada armada laut sejumlah negara di kawasan seperti dilakukan China, India, Korea, serta Indonesia. AS melihatnya sebagai hal penting dan berguna untuk kerja sama. Ada banyak masalah di laut yang bisa ditangani bersama, seperti perompakan, migrasi ilegal, dan perdagangan ilegal.

Tidak heran angkatan laut setiap negara harus bekerja sama dan mengembangkan diri tidak dalam situasi kompetisi atau invasi. ”Menurut saya, tidak ada negara yang ingin perang sekarang,” katanya.

Ia mengapresiasi perkembangan persenjataan TNI AL. Hal yang wajar bagi sebuah negara untuk menjaga wilayahnya, terutama karena banyaknya pencurian ikan dan kejahatan lintas laut.

Terkait perbatasan di beberapa wilayah laut Asia Pasifik, Scot mengaku optimistis dengan kehadiran ASEAN yang bisa memberikan solusi. ”Adanya rencana untuk membuat code of conduct di wilayah laut itu kami juga harapkan bisa diadakan secepatnya. Sebab, ini bisa menjadi patokan bersama untuk menghilangkan salah paham,” katanya.

Dukungan untuk TNI AL juga disampaikan Panglima Armada Ke-7 Angkatan Laut AS Vice Admiral Scott H Swift. Ia bercerita, telah terjalin hubungan pribadi antara KSAL Laksamana TNI Marsetio dengan Chief of Naval Operation Admiral Jonathan Greenert. ”Mereka bertemu dalam Imdex di Singapura bulan Mei lalu,” kata Scott.

Menurut Scott, US Navy mendukung TNI AL yang bertujuan ingin menjadi angkatan laut kelas dunia. TNI AL dinilai memiliki peranan sangat penting dan strategis di kawasan Asia Pasifik.

Menurut Marsetio, belakangan ini kehadiran TNI AL di berbagai wilayah dunia mendapat apresiasi. Ia mencontohkan, pada Jumat itu, tidak hanya ada kapal TNI AL yang sedang ikut misi PBB di Lebanon, tetapi ada juga yang sedang berlatih di Australia. ”Tadi juga saya sempat komunikasi dengan KSAL Inggris via telepon,” ujar Marsetio.

Ia mengatakan, kerja sama dengan AS tidak hanya sebatas latihan teknis militer, tetapi juga pendidikan untuk perwira TNI AL. Kerja sama itu telah meningkatkan kualitas dan profesionalisme para perwira itu. Berdasarkan data yang disampaikan Asisten Operasi KSAL Laksamana Muda Didit Herdiawan, selama tahun 2012, ada 78 kerja sama antara TNI AL dan AS. (EDN)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 81 other followers