Archive for ‘Industry Militer Budget TNI’

June 16, 2014

Flight test EC 725 armed with exocet AM 39 missiles

Armed EC-725 Undrgoes Flight Tests in Marignane

14 Juni 2014

Airbus Helicopter EC-725 equpped with Exocet AM-39 missiles (photos : Airbus Helicopter)

A specialized team of Helibras and Airbus Helicopters experts tested a prototype of the EC725 carrying anti-surface missiles installed on either side of the aircraft.

The Exocet AM39 missiles will equip eight of the 16 EC725 helicopters belonging to the Brazilian Navy, which are part of the contract for 50 EC725s signed with the Brazilian Ministry of Defense for the three Army corps.

More than 20 flights were performed in Marignane during a one month period, starting April 28.

Experiments performed with such heavy weapons, weighing around 700 kg per missile, are very rare and require close coordination and collaboration among several departments, including the armament, structures, integration, computation, aerodynamics, loads, vibrations and flight tests.

Similar with that, in 1986 PTDI test AS-332C Super Puma equipped with AM-39 Exocet (photo : Defense Studies)

The tests evaluated the behavior of the aircraft in critical phases of flight. The vibration levels, handling qualities, and performance were evaluated and the structural and aerodynamic loads verified.

The helicopter flew with instrumentation sensors and accelerometers installed to capture and record the results that will help engineering teams at Helibras and Airbus Helicopters move to the next steps of systems integration and development on the naval version.

(Airbus Helicopter)

June 12, 2014

Bakorkamla Programkan Pangkalan Kapal Patroli Setiap Satgas

11 Juni 2014

Badan Koordinasi Keamanan Laut RI metargetkan pembangunan dermaga pangkalan kapal patroli di setiap satuan tugas yang dimiliki (photo : kertaz krezex)

REPUBLIKA.CO.ID, MANADO — Badan Koordinasi Keamanan Laut RI memprogramkan pembangunan dermaga pangkalan kapal patroli di setiap satuan tugas yang dimiliki.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Bakorlamla Laksda TNI Dr DA Mamahit di Minahasa Utara, Sabtu, mengatakan pada masing-masing satgas akan dibangun dermaga pangkalan dan kantornya.

“Untuk dermaga pangkalan kapal patroli di Serei, Minahasa Utara, merupakan yang kedua,” kata Mamahit usai peresmian dermaga kapal patroli Satgas II Korkamla Manado di Serei.

Mamahit mengatakan sebelumnya telah melakukan peresmian dermaga kapal patroli di Batam yang merupakan Satgas I Korkamla.

Untuk dermaga pangkalan ketiga akan dilakukan di Ambon yang merupakan Satgas III Korkamla.

Dengan melihat luas wilayah Indonesia, ketiga dermaga atau pangkalan itu dinilai belum cukup, sehingga memprogramkan juga untuk membangun dermaga di pos-pos Bakorkamla lainnya.

Pembangunan dermaga pangkalan itu akan dilakukan secara bertahap.

“Karena selain Satgas, kami juga punya stasiun Radar yang berjumlah sekitar 18 buah. Program kedepan akan membangun dermaga, sehingga kapal-kapal yang dioperasikan Bakorkamla memiliki tempat sandar,” katanya.

Menjawab pertanyaan, dia mengatakan, degan dibangunnya dermaga pangkalan kapal patroli di Serei, Minahasa Utara, akan memberikan dukungan logistik kepada kapal-kapal yang dioperasikan di wilayah ini.

“Kapal tidak selamanya di laut tetapi perlu sandar di dermaga yang antara lain mengisi bekal ulang, untuk logistiknya mulai dari bahan bakar, air tawar maupun bahan makanan,” katanya.

Sementara itu hadir pada peresmian dermaga pangkalan kapal patroli di Serei, antara lain sejumlah pejabat Bakorkamla RI, Wadanlantamal VIII Manado Kolonel (Mar) Saud Tamba Tua, Dirpolair Polda Sulut Kombes Pol Hero Bachtiar.

(Republika)

June 11, 2014

TNI AU Bangun Landasan Pacu Pesawat di Paloh, Kalimantan Barat

10 Juni 2014

Paloh, Kalimantan Barat (image : GoogleMaps)

TNI AU Bangun Landasan Pacu Pesawat Tempur di Perbatasan Malaysia

Samarinda – Pasca pembangunan tiang pancang dan manuver helikopter Malaysia di perairan Tanjung Datok, Kalimantan Barat (Kalbar), TNI AU berencana memperkuat pertahanan udara. Landasan pacu eks peninggalan Belanda bakal difungsikan kembali untuk pendaratan pesawat tempur.

“Ini instruksi Panglima TNI untuk memfungsikan kembali landasan pacu di Paloh, di perbatasan Malaysia menjadi landasan pangkalan AU,” kata Asisten Operasi KASAU, Marsekal Muda Sudipo Handoyo, kepada wartawan saat berada di Lanud Supadio Pontianak, Kalbar, Senin (9/6/2014).

Di Paloh, memang memiliki landasan pacu sepanjang 750 m dan telah dibersihkan dalam 5 hari terakhir ini. Landasan pacu itu sendiri dibangun sekitar 1978 silam dan berada dalam posisi strategis di perbatasan Kalbar dan Malaysia.

Sudipo menerangkan, di Temajuk, Paloh, Kabupaten Sambas, Kalbar, TNI AU juga akan menempatkan 500 personelnya sebagai penambahan kekuatan di pangkalan TNI AU.

“Akan ada 500 personel di Temajuk setingkat batalion. Penguatan ini sebagai bentuk antisipasi provokasi dari Malaysia. Kita lakukan survei untuk analisis sejauh mana kekuatan yang dibutuhkan,” ujar Sudipo.

Tidak hanya untuk TNI AU, lahan seluas 100 hektar juga tengah dipersiapkan untuk lahan markas TNI AL dan TNI AD. Dengan begitu, seluruh satuan akan ditempatkan di perbatasan utara Kalbar dengan Malaysia.

“Landasan pacu Pangkalan AU yang kita benahi nanti akan memiliki panjang hingga 2.500 meter dan bisa didarati Boeing,” tegasnya.

Pemerintah RI sempat memprotes pembangunan 3 tiang pancang suar oleh Malaysia di perairan Tanjung Datok, Sambas, Kalbar. Nelayan pun takut untuk melaut pasca pembangunan itu. Akhirnya melalui pertemuan dan pembicaraan kedua negara baru-baru ini, Malaysia menyepakati untuk menghentikan pembangunannya.

Kedatangan Sudipo di Lanud Supadio, turut didampingi oleh Pangkoops AU 1 dan Dankorpaskhas serta Pangdam XII Tanjungpura Mayjend TNI Ibrahim Saleh. Selanjutnya dia bersama rombongan menuju ke Temajuk, Kabupaten Sambas, untuk mengecek lahan pembangunan pangkalan AU di wilayah itu.

June 9, 2014

PT Pindad Sanggup Buat Amunisi Tank Leopard

Tingkatkan juga kemampuan enjiniring PINDAD agar bisa merefurbish dan merawat tank berat.. Siapa tahu manghasilkan devisa, karena banyak negara miliki tank tapi tidak dapat merawat dan meningkatkan kemampuan tanknya..

06 Juni 2014, Bandung: Satu lompatan dilakukan PT Pindad, setelah Direktur Utama PT Pindad, Sudirman Said, menyatakan kesanggupan perusahaan itu membuat dan membangun amunisi tank utama Leopard 2A4.

“Dari hasil Latihan Gabungan TNI 2014, banyak yang harus kami jawab, salah satunya melengkapi amunisi bagi beberapa perenjataan terkini TNI, termasuk peluru meriam 120mm smoothbore untuk tank Leopard,” kata Said, di Bandung, Jumat.

Menurut dia, untuk peluru meriam 120 mm smoothbore Leopard, ditargetkan pengembanganya sudah bisa dilakukan mulai akhir 2015.

“Sehingga kita bisa memenuhi kebutuhan kesenjataan tank itu,” katanya.

Leopard memakai dua varian meriam utama, yaitu Rheinmetall 120 mm L44 atau L55 smoothbore alias tanpa ulir sepanjang 5,28 meter dan berbobot 3,37 ton.

Laras meriam tanpa ulir merupakan “jawaban” pada dasawarsa ’70-an atas kejayaan seri tank T-72/80 dari Uni Soviet yang bisa membantai secara mudah tank-tank Barat.

Laras meriam tanpa ulir juga memiliki energi kinetik lebih besar ketimbang yang berulir sehingga meninggikan efek mematikan amunisi yang dilontarkan.

Selain amunisi konvensional, meriam ini bisa menerima berbagai tipe amunisi, sebutlah Armour Piercing Discarding Sabot DM23, ataupun Armour Piercing Fin Stabilized Discarding Sabot M829 dengan kepala ledak berisikan uranium.

Masih ada amunisi Multi Purpose Anti Tank Projectile yang berbasis teknologi High Explosive Anti Tank, buatan Jerman, berdesignasi NATO sebagai DM12.

Sumber: ANTARA News

May 28, 2014

Anggaran Ideal Perawatan Alutsista 10% Dari Anggaran TNI

Rabu, Mei 28, 2014

0

BRAZIL-(IDB) : Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan postur ideal anggaran perawatan dan pemeliharaan alat utama sistem pertahanan adalah sebesar 10% dari total anggaran TNI.

“Sekarang baru 5% sampai 6%,” ujar Sjafrie seusai uji coba misil Astros II di Formosa, Brasilia, Brasil, Selasa (27/5) pagi waktu setempat.

Selain anggaran perawatan, TNI juga membutuhkan peningkatan anggaran bahan bakar minyak dam pelumas untuk alutsista.

Saat ini, anggaran bahan bakar minyak untuk alutsista TNI hanya Rp2 triliun lebih per tahun. Padahal, kebutuhannya mencapai Rp6 triliun lebih pet tahun.

“Kita berutang BBM sekitar Rp3 triliun,” kata Sjafrie.

Kebutuhan BBM alutsista TNI memang timggi. Sebagai contoh, kapasitas solar untuk kendaraan peluncur misil Astros yang baru dibeli TNI dari Brasil mencapai 280 liter per kendaraan. Bila di tangki tersisa 25 liter sampai 50 liter harus diisi penuh kembali.

May 23, 2014

Pagu Indikatif Anggaran Kemenhan 2015 Rp 93 Trilyun

22 Mei 2014

Pagu indikatif anggaran Kemhan Rp 93,3 trilyun lebih tinggi Rp12,9 trilyun atau 16,0 persen bila dibandingkan dengan pagu indikatif periode 2014 (photo : kaskus militer)

Anggaran Empat Kementerian Polhukam Meningkat Pada 2015

Beban kerja sejumlah kementerian pada periode mendatang kian berat. Hal ini mesti didukung dengan anggaran kementerian dan kelembagaan yang memadai. Di bidang Politik Hukum dan Keamanan (Polhukam), misalnya. Dalam Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) Tahun 2015, anggaran kementerian mengalami peningkatan.

Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, dokumen KEM dan PPKF  tahun anggaran 2015 disusun sebagai landasan awal  bagi pemerintah. Penyusunan itu dilakukan sebagai Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja (RAPBN) tahun 2015.  Menurutnya, dokumen KEM dan PPKF merupakan penjabaran arah dan strategi yang akan ditempuh pemerintah untuk merespon dinamika perekonomian.

Dalam KEM dan PPKF, anggaran empat kementerian dalam bidang Polhukam cukup meningkat dibanding periode sebelumnya. Misalnya, pagu indikatif Kementerian Pertahanan dalam tahun 2015 sebesar Rp 93.358,7 miliar. Jumlah itu lebih tinggi Rp12.860,7 miliar atau 16,0 persen bila dibandingkan dengan Pagu indikatif periode 2014. Periode 2014, Pagu indikatif hanya Rp 80,498 miliar.

Dengan meningkatnya anggaran, output yang diharapkan pemerintah antara lain meningkatnya Minimum Essential Force (MEF) matra darat, udara dan integratif. Kemudian, tercapainya kesiapan dan penambahan peralatan surta hidros secara akuntabel. Selain itu, pemerintah berharap out put lainnya yakni tercapainya jumlah alutista TNI dalam negeri dan pinak indistri pertahanan.

Kemudian Pagu indikatif Polri,  pada tahun 2015 sebesar Rp47,566,7 miliar. Anggaran Polri meningkat Rp7.924,9 miliar atau 20 persen. Sedangkan Pagu 2014 hanya Rp39.614 miliar. Pagu indikatif tersebut dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, mulai program pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penanggulangan keamanan dalam negeri, program penyelidikan dan penyidikan tindak pidana, pengembangan strategi keamanan dan ketertiban, hingga pemberdayaan potensi keamanan.

Output yang diharapkan pemerintah, tercapainya penurunan gangguan keamanan pada jalur aktivitas masyarakat di darat, laut dan pelabuhan nasional. Kemudian, tercapainya jumlah kegiatan pelatihan personel Brimob dalam penanggulangan  keamanan dalam negeri. Tidak hanya itu, tercapai pula clerance rate rata-rata seluruh tindak pidana 59 persen. Tercapainya, program 33 quick wins, dan tercapainya 54.560 komunitas forum kemitraan polisi dan masyarakat du 50 Polres yang berpartisipasi aktif.

See Full Article Hukum Online

May 22, 2014

Indonesia Akan Produksi Massal KFX/IFX Mulai Tahun 2022

21 MEI 2014

21 Mei 2014

Jet tempur KFX C103 (image : jjy0501)

Jet Tempur Made in Indonesia Diproduksi Massal Mulai 2022

Jakarta -Indonesia dan Korea Selatan sedang mengembangkan jet tempur. Program tersebut bernama Korea Fighter eXperiment/Indonesia Fighter eXperiment (KFX/IFX).

Untuk versi Indonesia diberi nama IFX. Untuk mengembangkan dan memproduksi pesawat tempur generasi 4.5 ini, diperlukan waktu minimal 8 tahun. Program KFX/IFX atau pesawat tempur pesaing F-16 tersebut, dari pengembangan sampai meja produksi akan memakan waktu 8 tahun atau bisa diproduksi massal sesuai rencana pada tahun 2022.

“Untuk buat pesawat terbang militer itu normal 8 tahun. Apalagi skala fighter kalau pesawat kecil biasa cuma 4 tahun. Produksinya 2022. Prototype harus terbang pada tahun 2020. Itu sudah terbang. Itu untuk 2 negara,” kata Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (Persero) Budi Santoso kepada detikFinance saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta seperti dikutip Rabu (21/5/2014).

Pesawat tempur IFX versi Indonesia akan dikembangkan dan diproduksi pada fasilitas PTDI di Bandung Jawa Barat. Pada tahun ini, akan memasuki masa Engineering and Manufacturing Development (EMD). Fase ini mundur 1 tahun dari jadwal.

Sebelum masa EMD, insinyur Indonesia mempelajari dan mempersiapkan kesiapan teknologi dan sumber daya manusia pesawat tempur.

“Seharusnya dimulai tahun 2013 tapi dimundurkan 1 tahun ke 2014 akibat adanya pergantian presiden di Korea Selatan,” sebutnya.

Budi menerangkan, teknologi pesawat KFX/IFX akan mengadopsi pesawat generasi 4.5 atau lebih unggul dari pesawat F16. Namun biaya pengembangan jauh lebih murah.

“Jadi pengin cari pesawat yang lebih canggih daripada F16 tapi target kita lebih murah daripada F16. Kira-kita seperti itu,” sbeutnya.

Prototype atau purwarupa IFX/KFX bisa mengangkasa mulai tahun 2020. Selanjutnya 2 tahun kemudian baru memasuki fase produksi massal. Budi menyebut bisa saja Indonesia melakukan pengembangan lanjutan karena pesawat harus disesuaikan dengan kondisi geografis dan ancaman terhadap Indonesia. Proses penyesuaian tersebut bisa memakan waktu 1 hingga 2 tahun.

“Semua Alutsista harus disesuaikan dengan kondisi negara sendiri. Apakah musuhnya, geografis atau kondisi lawannya. Apa yang terjadi di Korea kan berbeda dengan di Indonesia. Dia satu kontinen sedangkan negara kita dikelilingi lautan,” terangnya.

Budi menerangkan untuk memenuhi kebutuhan militer Indonesia, pesawat tempur pesaing F16 tersebut akan diproduksi sekitar 50 unit. Proses produksi dan pengiriman pesawat akan mulai berjalan sejak tahun 2022 hingga 2030. Alhasil program pengembangan pesawat tempur menghadapi pergantian pemerintahan berkali-kali

“Ini ganti presiden berkali-kali karena kita lihat selesai delivery terakhir pesawat itu mungkin 2030. Itu dari 2022 tapi kalau nambah lagi ya terus,” katanya.

(Detik)

May 22, 2014

PT DI Akan Miliki Hak Cipta Atas Rancangan Heli Anti Kapal Selam

Detik.21 Mei 2014

PTDI akan memiliki hak cipta rancangan helikopter AS565 Panther dengan teknologi sonar anti kapal selam (photo : Airbus Helicopter)

PTDI Rancang Helikopter Khusus Anti Kapal Selam

Jakarta -Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pabrikan pesawat dan helikopter, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) mampu merancang konsep helikopter super canggih. PTDI memiliki rancangan helikopter yang dilengkapi teknologi sonar anti kapal selam. Sonar ini mampu mendeteksi keberadaan kapal selam.

“Karena ini konsep dari PTDI jadi yang copy right atau hak cipta adalah PTDI,” kata Direktur Utama PTDI (Persero) Budi Santoso kepada detikFinance saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta Selasa (20/5/2014)

Pengembangan helikopter ini bermula ketika TNI AL ingin memiliki helikopter super canggih namun harus berukuran relatif kecil dan bisa mendarat di kapal perang tipe Frigate terbaru. Alhasil PTDI mencari cara agar bisa membuat helikopter berukuran sedang yang bisa mendarat di deck kapal perang namun mampu memiliki teknologi anti kapal selam.

Biasanya teknologi kapal selam ini ditemui dan terpasang pada helikpter berukuran besar. PTDI menggandeng produsen helikopter yakni Eurocopter dan produsen sonar dunia untuk memproduksi helikopter medium dengan teknologi sonar anti kapal selam. Proses merancang helikopter ini memerlukan waktu 2 tahun.

“Waktu kita (pemerintah) beli kapal Fregate buatan Belanda Ahmad Yani class). Itu yang sudah datang. Itu deck load hanya 5 ton jadi kita harus cari helikopter bobot 5 ton dengan senjata yang canggih. Orang mengatakan saya punya sonar bagus tapi helikopternya yang gede-gede. Nggak mungkin (untuk heli sedang). Akhirnya pakai sonar kelas lebih rendah. Kalau sonar long range itu frekuensi rendah. Dia antene gede,” terangnya.

Akhirnya lahir helikopter pertama di kelas medium yang memiliki teknologi sonar anti kapal selam. Teknologi ini dikembangkan pada jenis Helikopter AS565 Panther. Meski tidak memproduksi helikopter dan sonar, namun PTDI memiliki hak cipta rancangan helikopter AS565 Panther dengan teknologi sonar anti kapal selam tersebut.

“Buat kami ini pertama. Bagi pabrik helikopter ide pertama dan ternyata feasible untuk dikerjakan. Yang bikin sonar, dia bilang ini pertama kali dia akan pasang sonar di helikopter ini (medium),” ujarnya.

Helikopter AS 565 Panther telah dipesan TNI AL sebanyak 11 unit. Dari 11 unit tersebut, sebanyak 2 unit dilengkapi teknologi sonar anti kapal selam dan 9 tidak dilengkapi namun memiliki kemampuan untuk sewaktu-waktu dipasang teknologi anti kapal selam.

“Tahap pertama 11, namun yang pakai sonar ada 2. Itu delivery terakhir,” tegasnya.

(Detik)

May 21, 2014

Kinerja PT. PAL Sekarang Dan Masa Depan

Rabu, Mei 21, 2014

1

PT. PAL Ekspor ‘Kapal Raksasa’ Ke Jerman, Hong Kong Hingga Turki

SURABAYA-(IDB) : PT PAL (Persero) tidak hanya mengembangkan dan memproduksi kapal untuk keperluan militer. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen kapal yang bermarkas di Surabaya, Jawa Timur itu juga memproduksi kapal niaga untuk berbagai kebutuhan.

Salah satu produk unggulan yang yang terkenal adalah Kapal Kargo Star 50. Kapal raksasa berjenis box shape bulk carrier (double hull) tersebut memiliki bobot 50.000 dead weight tonnage (DWT). Kapal Kargo 50 Star buatan PAL ini telah dijual ke Jerman, Hong Kong hingga Turki.

“Yang kita ekspor Bulk Carrier. Itu produk unggulan produk PAL. Kita jual ke Jerman, Turki, Hong Kong, Italia, dan banyak negara. Ini desain PAL. STAR 50 kita kembangkan sendiri,” kata Direktur Utama PAL Firmansyah Arifin kepada detikFinance, Selasa (20/5/2014).

Firmansyah menjelaskan PAL masuk ke dalam bisnis kapal angkutan kargo yang jarang dimasuki pemain kelas dunia. Alhasil PAL mampu bersaing dengan produsen kapal dunia.

“PAL masuk ke curuk pasar. Di antara kelas 40.000 DWT-60.000 DWT. Kita garap 50.000 DWT,” sebutnya.

Kapal Star 50 merupakan kapal dengan bobot terbesar yang saat ini diproduksi PAL. Pasalnya untuk membangun kapasitas kapal lebih besar, PAL mempertimbangkan aspek investasi dan keberlanjutan pemanfaatan fasilitas. Sehingga industri kapal dalam negeri akhirnya memilih membeli kapal dengan bobot di atas 50.000 DWT dari luar negeri.

“Persoalan kalau bangun fasilitas yang besar. Bagaimana kontinuitas order,” sebutnya.

Selain kapal angkutan curah, PAL juga mampu mengembangkan dan memproduksi kapal tanker berbagai tipe.

Kerjasama Dengan Beberapa Negara Demi Kemandirian Nasional

BUMN produsen kapal, PT PAL (Persero) menggandeng perusahaan galangan kapal asal Belanda, Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS).

Kedua perusahaan kapal tersebut mengembangkan dan memproduksi kapal perang canggih tipe Perusak Kawal Rudal (PKR) atau Fregate.

Kapal Fregate ini merupakan pesanan TNI AL. Langkah menggandeng perusahaan asing ini dilakukan PT PAL untuk memperoleh transfer teknologi.

“PKR kapal tipe tinggi. Ini kalap sekelas light Fregat. Kapal PKR sedang bangun di PT PAL melalui kerjasama. Ini TOT (transfer of technology) sedang proses OJT (on job training) sehingga diharapkan kita bangun PKR,” kata Direktur Utama PAL Firmansyah Arifin kepada detikFinance, Selasa (20/5/2014).

Untuk mendukung pengembangan kapal perang tipe perusak ini, PAL telah membangun fasilitas pengembangan dan perawatan di dalam negeri. Selanjutnya, putra putri bangsa bisa memproduksi dan merawat kapal tipe Fregate di Surabaya, Jawa Timur.

“Ke depan bisa bangun sendiri,” sebutnya.

Selain mengembangkan kapal perusak, PAL juga memiliki produk unggulan lainnya di bidang militer. PAL telah mengembangkan dan memproduksi Kapal Cepat Rudal 60 Meter (KCR-60). KCR sendiri telah dikembangkan cukup lama oleh PAL ini mengadopsi teknologi kapal buatan Jerman. Kapal ini sendiri telah dipesan oleh TNI AL.

“Itu di tahun 1980-1990an pernah dibangun bersama dengan Jerman. Di situ ada alih teknologi. Setelah sekian tahun, kita baru dapat order dari TNI AL,” sebutnya.

KCR sendiri merupakan kapal perang canggih yang bisa diperuntukan untuk pertempuran udara, bawah dan atas laut. “Ini bisa untuk perang udara, permukaan, bawah laut bisa. Dia punya kecepatan tinggi tapi belum ekspor,” katanya.

Mandiri Kapal Selam Tahun 2018

Indonesia akan punya kapal selam produksi putra-putri Indonesia asli pada tahun 2018.

Kapal selam ini dikembangkan dan diproduksi oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) perkapalan, PT PAL (Persero) di Surabaya, Jawa Timur.

Proses produksi kapal selam pesanan TNI AL tersebut, paling cepat dimulai akhir 2014. Masa pengerjaan membutuhkan waktu 4 tahun.

“Dari 2014 bisa jadi 2018 atau butuh 4 tahun,” Direktur Utama PAL Firmansyah Arifin kepada detikFinance, Selasa (20/5/2014).

Untuk mendukung rencana ini, PAL telah membangun fasilitas pengembangan dan perawatan kapal selam di Surabaya. Untuk mendirikan fasilitas tersebut, PAL mengguyur anggaran US$ 250 juta.

“Investasi US$ 250 juta. Kita betul-betul mulai dari nol,” jelasnya.

Untuk mengembangkan kapal selam type DSME 209 tersebut, PAL menggandeng perusahaan kapal asal Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME). Firmasnyah menyebut pembangunan fasilitas produksi dan perawatan di Indonesia karena TNI AL masih membutuhkan tambahan kapal selam.

“Memang dari penjelasan kemenhan TNI AL butuh 12 unit. Sekarang kita baru punya 2 masih butuh banyak,” sebutnya.

Sumber : Detik
May 12, 2014

PT. DI Kembangkan Industri Pendukung TKDN N-219

Minggu, Mei 11, 2014

0

BANDUNG-(IDB) : PT Dirgantara Indonesia mendorong Kementerian Perindustrian mengembangkan industri pendukung atau komponen di dalam negeri guna menaikkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) untuk produk pesawat buatan lokal N-219.

“Kementerian Perindustrian harus mengembangkan industri pendukung dan menciptakan ‘cluster’ industri untuk mendukung peningkatan TKDN dalam produksi pesawat N-219,” kata Manajer Program N-219 PT Dirgantara Indonesia Budi Sampurno, di Jakarta, Kamis.

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam seminar “Kesiapan Industri Komponen Dalam Negeri Untuk Mendukung Kemandirian Industri Kedirgantaraan Nasional”.

Menurut Budi, dukungan industri komponen nasional sebagai supplier program N-219 sangat penting karena sejak awal masuk ke pasar, pesawat N-219 ditargetkan mempunyai kandungan lokal atau TKDN minimal 40 persen, dan akan ditingkatkan menjadi 60 persen dalam waktu lima tahun.

“Industri komponen di Indonesia sebenarnya punya potensi cukup besar untuk dikembangkan agar bisa mendukung industri kedirgantaraan nasional,” ujarnya.

Ia menjelaskan, industri pendukung yang harus dikembangkan untuk mencapai TKDN 40 persen pada produksi N-219 dalam dua tahun kedepan, antara lain acrylic/glass, plastik, karet, baja untuk tool dan jig – dari segi industri hulu.

Sementara dari industri supplier yang perlu dikembangkan, diantaranya jendela kabin pesawat, landing gear, dan bagian interior pesawat, seperti kursi, dapur, toilet.

Selanjutnya, kata Budi, industri yang harus dikembangkan untuk mencapai TKDN 60 persen dalam lima tahun berikutnya, dari segi hulu, yaitu industri alluminium alloy, titanium, cat, serat, dan bahan kimia untuk pesawat.

“Dari segi industri supplier yang perlu dikembangkan itu, industri avionik, bagian penempaan, mesin, kaca depan pesawat, radar, dan perlindungan korosi,” katanya. 

Sumber : Antara
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 82 other followers