Archive for ‘Industry Militer Budget TNI’

January 10, 2014

TNI masih Sulit Ditembus KPK

 

Lembaga resmi sulit menembus TNI. Mungkin KPK harus belajar dari “mafia” agar bisa menembus semua sendi dan sekat  kelembagaan negara ini
 
Dari Media Indonesia 
 
TNI masih Sulit Ditembus KPK 
ADHI M DARYONO 

Selain terganjal undang-undang, transparansi di TNI terhadang rahasia 
kekuatan negara. Transparansi di TNI hanya sebagian yang boleh dibuka ke 
publik.” 

Muhammad Najib Anggota Komisi I DPR RI 

KEHADIRAN Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad dan Ketua 
Badan Pemeriksa Keuangan Hadi Poernomo dalam Rapat Pimpinan Kebijakan 
Pertahanan Negara Tahun 2013 di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Selasa 
(7/1), menjadi angin segar bagi publik untuk mengharap adanya semangat 
antikorupsi di tubuh Kementerian Pertahanan dan TNI. 
Namun, KPK dan BPK dinilai masih sulit mengawal transparansi anggaran 
dalam pengadaan alat utama sistem persen jataan (alutsista) di Kemenhan 
dan TNI, terlebih bila terjadi penyimpangan atau dugaan korupsi. 

Pengamat militer dari Imparsial Pungky Indarti mengatakan KPK sulit 
mengendus jika terjadi penyimpangan di TNI, apalagi menyangkut pengadaan 
alutsista karena terganjal UU Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan 
Militer. “KPK susah memasuki peradilan militer, KPK sendiri bersifat 
sipil. Selama ini dalam peradilan militer, yang menahan oknum militer 
yang bermasalah, yakni polisi militer dan dihukumnya secara militer,” 
kata Pungky saat dihubungi, kemarin. 

Pungky mendorong UU Peradilan Militer itu direvisi agar KPK bisa masuk 
dengan leluasa jika ada penyimpangan dan korupsi di tubuh TNI. 

“Untuk itu, perlu revisi UU Peradilan Militer agar pihak TNI yang 
terjerat korupsi diadili di peradilan sipil,” jelasnya. 

Kemenhan sebagai lembaga yang melakukan bugdeting untuk pengadaan 
alutsista, kata Pungky, merupakan institusi sipil sehingga KPK bisa 
menembus jika ada dugaan penyimpangan anggaran. 

“KPK jangan ragu masuk,” tandasnya. Rahasia negara Secara terpisah, 
anggota Komisi I DPR dari Fraksi PAN Muhammad Najib mengatakan 
transparasi di TNI tidak sama dengan transparansi di instansi lainnya. 
“Di instansi lainnya, boleh transparansi 100% dibuka ke publik, tetapi 
di TNI hanya sebagian yang boleh dibuka ke publik dan DPR,” kata Najib. 

Najib mengatakan transparansi di tubuh TNI tidak secara utuh dilakukan 
karena menyangkut rahasia kekuatan negara. “Tidak semua semua hal yang 
dimiliki TNI boleh diketahui publik karena kalau kita menelanjangi diri 
kita sendiri, kekuatan kita sendiri akan dihitung oleh negara lain. Itu 
seperti memberikan rahasia negara membuka kelemahan kita 
sendiri,”ungkapnya. kita sendiri,”ungkapnya. 

Najib mengatakan diperlukan UU tertentu sehingga dalam batas tertentu 
KPK, bisa mengetahui apa saja yang ingin diketahui. 

Seusai berpidato di Kemenhan, Ketua KPK Abraham Samad mengatakan 
lembaganya dapat mengusut kasus dugaan korupsi di TNI dengan menggunakan 
koneksitas, yakni penggabungan antara peradilan sipil dan militer. 
Sayang nya, koneksitas masih sekadar wacana dan belum ada aturan teknis 
mengenai hal itu. 

“Belum ada. Nanti dibicarakan. Koneksitas memang memungkinkan dalam UU 
KPK Pasal 42. Makanya nanti dibicarakan lebih jauh format dan 
mekanismenya,” ungkapnya. 

Terkait dengan pencegahan korupsi, Panglima TNI Jenderal Moeldoko 
memilih bekerja sama dengan KPK dan BPK. “Kita sudah ada MoU dengan KPK. 
Walaupun begitu, kita lebih senang memperkuat bagaimana capacity 
building ke dalam dengan berkonsultasi kepada BPK dan KPK dalam 
pengelolaan keuangan negara agar pengelolaan tidak salah, apalagi 
disalahgunakan,” jelasnya. 

Dengan begitu, sambung dia, hal-hal yang berkaitan dengan penyimpangan 
dapat dijauhkan. (*/X-5) 

January 8, 2014

Helikopter Mi-17 Akan Diperbaiki di Rusia atau Vietnam…

Kenapa tidak PT DI ditingkatkan kemampuannya agar bisa memperbaiki  dan merawat heli dan pesawat Rusia ??? Pejabat Indonesia senang sekali “jajan uang pajak” ke luar negeri. Keterlaluan sekali jika heli Rusia ini ternyata harus diperbaiki di Vietnam. Seperti diketahui Vietnam tidak punya industri pesawat macam PT DI, tapi mampu memperbaiki helicopter Rusia.  Hal ini mirip dengan pembelian simulator Sukhoi yang harganya selangit ( $45 juta), dan dibilang wajar pula oleh petinggi TNI dan Kem Han. Kenapa tidak memaksa Rusia kerjasama dengan PT DI untuk buat simulator ? PT DI sendiri   kabar mampu untuk membuat simulator pesawat dan helicopter hasil produksinya.

 

 

 
 dari : http://defense-studies.blogspot.com/ 08 Januari 2014

Helikopter Mi-17 TNI Angkatan Darat (photo : happyblogkharisma)

Panglima TNI: Heli Mil Mi-17, Segera Pulang Kampung ke Rusia

Jakarta, Seruu.com – Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko memastikan Helikopter Mil Mi-17 akan pulang kampung ke pabriknya di Rusia dalam rangka perbaikan dan penyesuaian dengan kebutuhan TNI. 

Panglima menjelaskan, pihak TNI juga sedang melakukan penjajakan di Vietnam yang dikabarkan juga mempunyai kemampuan  untuk perbaikan Mil Mi-17, agar bisa menekan biaya dan mempersingkat jarak.

“Helikopter Mi-17 akan dipulangkan ke negara asalnya di Rusia jika memang sudah masuk tahapan  perbaikan dan penyesuaian kebutuhan TNI, namun demikian kami juga menjajaki kemungkinan perbaikan dilakukan di Vietnam, kabarnya di Vietnam sudah mampu melakukan perbaikan, jadi  tidak harus jauh-jauh ke Rusia,” tutur Panglima kepada wartawan di sela-sela acara Rapim TNI 2014 di MABES TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (8/1/2014).

Sekedar diketahui, salah satu Helikopter TNI AD itu jatuh di wilayah Pujungan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, Sabtu (9/11/2013). Heli  jenis MI-17 itu masih dalam kondisi baru. Heli tersebut berangkat dari Tarakan, Kalimantan Utara, sekitar pukul 09.45 WITA  menuju perbatasan Malaysia dengan mengangkut 1.800 Kg logistik untuk keperluan pembangunan pos perbatasan di Long Bulan atau daerah Tunjungan, Malinau. Berselang beberapa saat kemudian sekitar pukul 10.30 WITA, heli tersebut hilang kontak dengan otoritas Bandara Tarakan. Tidak ada komunikasi apapun sejak saat itu dari sang pilot.

Helikopter yang mengangkut logistik dan material itu jatuh di Long Pujungan, Malinau. Helikopter yang mengangkut 19 orang terdiri atas tujuh anggota TNI dan 12 warga sipi,

Dari 19 penumpang Heli, 13 orang meninggal dunia dan 6 orang mengalami luka bakar.

Heli Mil Mi-17 (juga dikenal sebagai seri Mi-8M di kedinasan Rusia) adalah helikopter angkut kelas menengah rancangan Rusia. Saat ini helikopter ini diproduksi di dua pabrik, yaitu di Kazan dan Ulan-Ude. Helikopter ini adalah pengembangan dari Mil Mi-8 yang menjadi andalan Pakta Warsawa semasa Perang Dingin. Indonesia juga mempunyai beberapa Mil Mi-17 yang dioperasikan oleh TNI-AD. 

(Seruu)

 

 

 

 

January 8, 2014

TNI Tambah Skuadron Sukhoi Incar Su-35

Tuesday, January 7, 2014

Su-35 saat uji terbang. (Foto: Sukhoi)

6 Januari 2013,Jakarta: Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengaku ingin menambah pesawat tempur untuk Angkatan Udara. Salah satu pesawat tempur yang diincar Moeldoko adalah Sukhoi SU-35.

“Tapi ini baru tahap diskusi, kalau maunya Panglima sih iya,” kata dia sambil tersenyum kepada wartawan di Lapangan Markas Besar TNI di Cilangkap, Jakarta Timur, Senin, 6 Januari 2014.

Moeldoko mengaku sudah berdiskusi langsung dengan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Menurut dia, Menteri Purnomo pun setuju upaya menambah kekuatan tempur Angkatan Udara Indonesia.

Pesawat tempur Sukhoi SU-35 adalah pesawat kelas berat penghubung generasi keempat dan kelima. Saat ini Indonesia baru mempunyai satu skuadron atau 16 unit pesawat campuran Sukhoi SU-27 dan dan SU-30 yang bermarkas di Makassar, Sulawesi Selatan.

Selain Sukhoi SU-35, Moeldoko juga membidik pesawat tempur buatan Amerika Serikat. Namun, mantan Kepala Staf Angkatan Darat itu belum mau menyebut rinci pesawat tempur apa saja yang masuk incarannya.

“Apakah F-16 atau produk terbaru lainnya, Insya Allah kami bisa (membeli pesawat tempur lagi).”

Tahun ini, TNI Angkatan Udara bakal menerima belasan pesawat baru dan bekas berbagai jenis. “Ada pesawat tempur jet, pesawat tempur baling-baling, dan pesawat angkut,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto saat dihubungi Tempo, Sabtu, 4 Januari 2014.

Dari jajaran pesawat tempur jet adalah F-16 blok 24 hibah dari Amerika Serikat. Menurut Hadi, sebelum bulan Oktober 2014 Angkatan Udara bakal menerima delapan dari 24 unit pesawat hibah yang diperbaiki lagi sistem avioniknya. Sesuai rencana pesawat F-16 bakal “tinggal” di Skuadron 16, Pekanbaru, Riau.

Angkatan Udara juga bakal menerima secara bertahap pesawat tempur bermesin jet T-50 Golden Eagle buatan Korea Selatan. Dari satu skuadron atau 16 unit pesawat yang dipesan baru delapan unit yang diterima Indonesia. Pesawat inilah yang bakal digunakan untuk melatih pilot-pilot tempur TNI AU menggantikan pesawat Hawk 100/200.

Sumber: TEMPO

January 8, 2014

KPK Awasi Dana Belanja Alutsista TNI

 

Pembelian simulator Sukhoi  $45 juta  gimana tuh , Samad ?

 

“Oleh karena itu kami mencoba memperbaiki sistemnya,”

ddd
Selasa, 7 Januari 2014, 21:09Finalia Kodrati, Erick Tanjung
 
 
 
VIVAnews - Mencegah terjadinya korupsi pada pengadaan dan belanja Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) TNI, Komisi Pemberantasan Korupsi memberikan pengarahan kepada Kementerian Pertahanan dan Pimpinan TNI, Selasa 7 Januari 2013.
 
Ketua KPK Abraham Samad memastikan, bahwa pihaknya memiliki kewenangan untuk menyelidiki dan menyidik dugaan korupsi di tubuh TNI.
 
“Sekali lagi saya katakan bisa. Ada yang namanya koneksitas, dengan koneksitas bisa penggabungan antara peradilan sipil dan peradilan militer. Pak Sjafri juga paham soal itu,” kata Abraham yang didampingi oleh Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di kantor Kementerian Pertahanan.
 
Oleh karena itu, lanjut Abraham, dirinya mewakili KPK memberikan pencerahan kepada para perwira TNI supaya menghindari penyelewengan dalam menggunakan uang negara. 
 
Menurutnya, korupsi tidak hanya karena tindakan individu, namun juga karena faktor sistem yang ada.
 
“Oleh karena itu kami mencoba memperbaiki sistemnya. Kedatangan saya hari ini sebenarnya ingin memperbaiki sistem,” ujarnya.
 
Ia menambahkan, pihaknya akan membahas hal itu lebih dalam. “Itu kan memungkinkan di dalam UU KPK Pasal 4, tapi nanti dibicarakan lebih jauh bagaimana formatnya, bagaimana mekanismenya,” kata Abraham.
 
Seperti diketahui, anggaran negara untuk pengadaan Alutsista dalam rencana strategis (Renstra) jangka mengenah mencapai Rp 400 triliun. Sedangkan untuk belanja Alutsista tahun ini sebesar Rp 150 trilun.

 

January 5, 2014

Belasan Pesawat Hibah Tempur Bakal Diterima TNI AU

Minggu, 05 Januari 2014 | 07:45 WIB

Belasan Pesawat Hibah Tempur Bakal Diterima TNI AU

Pesawat jet tempur ringan FA-50 usai dibuat oleh Korea Aerospace Industries (KAI) di Sacheon, Seoul, Korea Selatan, (14/8). Indonesia mencoba membuat pesawat jet tempur dengan bekerjasama dengan Korea Selatan membuat T-50Golden Eagle. REUTERS/Lee Jae-Won

B

TEMPO.CO, Jakarta – Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara menyambut tahun 2014 dengan semangat. Sebab, pada tahun ini, TNI AU bakal menerima belasan tenaga baru berupa beberapa jenis pesawat terbang. “Ada pesawat tempur jet, pesawat tempur baling-baling, dan pesawat angkut,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto saat dihubungi Tempo, Sabtu, 4 Januari 2014.

Dari jajaran pesawat tempur jet, ada F-16 blok 24 yang merupakan hibah dari Amerika Serikat. Sebelum Oktober 2014, TNI AU bakal menerima delapan dari 24 unit pesawat hibah itu. Nantinya, pesawat tempur jet ini harus menjalani perbaikan sistem avionik sebelum digunakan oleh Skadron 16, Pekanbaru, Riau.

Secara bertahap, TNI AU juga bakal menerima pesawat tempur bermesin jet T-50 Golden Eagle buatan Korea Selatan. Dari satu skuadron atau 16 unit pesawat yang dipesan, baru delapan unit yang akan dikirim. Rencananya, TNI AU akan melatih pilot tempur menggunakan pesawat ini, menggantikan pesawat Hawk 100/200.

Untuk pesawat tempur ringan atau bermesin piston atau baling-baling, akan datang pesawat Super Tucano buatan pabrik Embraer asal Brasil. Dari 16 unit yang dipesan, baru empat pesawat yang sudah tiba di Tanah Air. “Jumlah Super Tucano yang datang tahun ini saya tak hafal, setidaknya dua pesawat bakal hadir tahun ini.” Pesawat ini menjadi tulang punggung TNI AU dalam melakukan misi antigerilya menggantikan pesawat OV-10 Bronco yang sudah dipensiunkan tahun lalu.

Selain itu, TNI AU juga bakal menerima satu pesawat jenis angkut C-130 Hercules dari Australia. Pesawat ini juga bakal menambah kekuatan armada angkut TNI AU. “Rencananya datang bulan Juli nanti.”

Sesuai rencana, Angkatan Udara juga bakal menerima beberapa pesawat terbang tanpa awak dari Filipina tahun ini. Pesawat tanpa awak bakal menghuni skuadron khusus surveillance di Pontianak, Kalimantan Barat. “Saya belum dengar pasti kapan datangnya, tapi sesuai rencana strategis tahun ini,” kata Hadi. “Diharapkan pesawat-pesawat ini mampu mendongkrak MEF (minimum essential forces) dari tahun 2013 yang sebesar 28,7 persen.”

INDRA WIJAYA

January 3, 2014

Simulator Sukhoi US $ 45 juta

Kok beli simulator 45 juta dollar.. Ini agak bau mark up deh. Mungkin saja di markup 10 x. Harga asli fabrikan hanya $ 4,5 juta dollar..

 

US$ 45 Juta Disiapkan untuk Simulator Sukhoi

03 Januari 2014

Su-27 dan Su-30 milik TNI AU telah genap satu skadron (photo : Kaskus Militer)

TEMPO.CO, Jakarta – Kementerian Pertahanan melanjutkan rencana pembelian simulator kemudi pesawat tempur Sukhoi yang dimiliki TNI Angkatan Udara. Pagu anggaran yang ditetapkan, menurut Kepala Badan Perencanaan Pertahanan Kementerian Pertahanan Laksamana Muda Rachmad Lubis, sebesar US$ 45 juta atau sekitar Rp 540 miliar. ”Pagu tersebut hanya untuk satu unit simulator Sukhoi,” ujar Rachmad kepada Tempo, Kamis, 2 Januari 2014.

Ia mengatakan, Kementerian kini tengah memproses evaluasi dokumen penawaran simulator Sukhoi. Selanjutnya, pemaparan oleh peserta lelang. Rachmad enggan menyebutkan pihak-pihak yang sudah mengajukan penawaran ke Kementerian Pertahanan. Namun dia membenarkan jika PT Dirgantara Indonesia masuk sebagai penawar simulator Sukhoi dari dalam negeri.

Dari pemaparan setiap produsen simulator, dia melanjutkan, Kementerian akan menyeleksi dan menuangkan dalam daftar peringkat peserta lelang. Setelah itu dipilih beberapa produsen simulator berdasarkan urutan peringkat tertinggi. Tahapan selanjutnya, kata Rachmad, ”Akan ditinjau fasilitas produksi dari beberapa peserta yang paling potensial.”

Rachmad mengatakan, pertimbangan pihak Kementerian dalam penentuan pemenang adalah berdasarkan kemampuan produsen memproduksi simulator yang paling menyerupai kemampuan asli pesawat tempur Sukhoi. Pertimbangan lainnya, lama waktu pembuatan dan pengiriman serta jaminan purnajual. ”Termasuk alih teknologi apabila pemenangnya dari luar negeri,” ujar dia.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro sebelumnya mengungkapkan rencana pemerintah membeli simulator kemudi pesawat tempur buatan Rusia, Sukhoi SU-27 dan SU-30. Kementerian Pertahanan tengah memilah produsen simulator Sukhoi tersebut. Soalnya, ada tiga negara yang bisa memproduksinya, yakni Rusia, Cina, dan Kazakstan.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia, Andi Alisjahbana, menyarankan pemerintah agar tidak membeli simulator pesawat tempur Sukhoi dari luar negeri. Ia mengatakan, misi utama simulator banyak berisi pelatihan-pelatihan menjalankan misi pesawat tempur, dan banyak yang bersifat universal. ”Di dalamnya adalah doktrin tempur TNI AU,” kata dia.

Menurut Andi, semua negara pengguna pesawat tempur Sukhoi memilih membuat sendiri simulator kemudinya, dengan pertimbangan untuk melindungi rahasia negaranya. Contohnya, kata dia, Cina dan Malaysia yang membuat sendiri simulator kemudi pesawat tempur buatan Rusia itu.

Adapun Rizal Dharma Putra, pengamat militer, menilai harga simulator kemudi pesawat tempur Sukhoi yang akan dibeli pemerintah terlampau mahal. Menurut dia, jika pemerintah tetap membeli simulator berbiaya tinggi tersebut, harus diperhitungkan langkah jangka panjangnya. Sebab, pesawat tempur yang Indonesia punya bukan cuma Sukhoi. ”Indonesia punya pesawat tempur F-16, F-5 Tiger, dan pesawat tempur latih T-50 Golden Eagle,” kata Rizal saat dihubungi Tempo, Kamis, 2 Januari 2014.

Menurut Rizal, pemerintah terlalu membuang duit jika membeli satu jenis simulator pesawat tempur, sementara penggunaan pesawat tempur Indonesia berbagai jenis. Rizal melanjutkan, kepemilikan satu skuadron atau 16 pesawat Sukhoi SU-24 dan SU-30 Indonesia belum perlu untuk membeli simulator.

Jika nekat beli simulator Sukhoi, dia melanjutkan, pemerintah harus konsisten ketika membutuhkan penambahan pesawat tempur. Pemerintah mau tak mau harus membeli pesawat tempur jenis Sukhoi lagi.

Menanggapi hal itu, Kementerian Pertahanan membantah jika dikatakan bahwa harga simulator kemudi pesawat tempur Sukhoi itu kemahalan. Menurut Kementerian, pagu anggaran US$ 45 juta untuk satu unit simulator Sukhoi sudah sesuai harga pasaran. ”Simulator yang rumit, risiko tinggi dengan kecepatan supersonik, harganya pun hampir sama dengan pesawat asli,” kata Rachmad. Karena alasan itu, kata dia, pemerintah baru berani membeli simulator setelah pesawat tempur Sukhoi SU-27 dan SU-30 yang dimiliki TNI Angkatan Udara genap satu skuadron atau 16 unit.

(Tempo)

Diposkan oleh di 21.06 

January 1, 2014

Sukses Menjual 2 Pesawat NC-212i, PT DI Ajukan CN-235 MPA Ke Filipina

30 Desember 2013

Pesawat CN-235 MPA ASW (photo : Defense Studies)

Pesawat NC-212i

Jakarta -Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen pesawat, PT Dirgantara Indonesia (PTDI), berhasil memenangkan tender pengadaan pesawat untuk militer Filipina.

Perusahaan pelat merah yang bermarkas di Bandung, Jawa Barat, ini siap menjual 2 unit pesawat tipe NC212i dengan nilai US$ 18 juta atau setara 820 juta peso.

“Kita menang 2 unit NC212i di proyek Light Lift Aircraft nilai budget US$ 18 juta,” kata Direktur Niaga dan Restrukturisasi PTDI Budiman Saleh dalam keterangan tertulisnya kepada, Senin (30/12/2013).

Tender pengadaan pesawat ini diadakan oleh Kementerian PertahananFiliphina untuk keperluan Angkatan Udara.

“Departemen of National Defense untuk keperluan Philippines Air Force,” jelasnya.

Masa proses pengerjaan untuk 2 unit diproyeksi menelan waktu 18-20 bulan. NC212i sendiri merupakan pesawat generasi terbaru dari pesawat tipe NC212-200 atau NC212-400. Pesawat ini merupakan pesawat berukuran kecil.

Pesawat ini, bisa digunakan untuk keperluan komersial, angkut personil militer, kargo, misi khusus hingga transpotasi VIP. Untuk versi sipil penerbangan sipil, pesawat ini bisa dipasang 24 kursi penumpang.

Pesawat CN-235 MPA

Budiman menjelaskan, PTDI juga berencana mengikuti tender pesawat tipe medium di Kementerian Pertahanan Filiphina. PTDI siap menawarkan pesawat tipe CN235 Maritime Patrol Aircraft asli karya putra bangsa.

“Januari 2014 kita akan ikut tender berikutnya untuk 3-4 maritime patrol/military transport CN235,” sebutnya.

(Detik)

December 29, 2013

Pembelian Satelit Militer Akan Gunakan Dana PNBP Kemenkominfo

dari Jurnal Parlemen

 

 
28 Desember 2013

RENCANA pembelian satelit khusus militer guna menangkal penyadapan bakal segera diwujudkan. Prosesnya dipermudah dengan menggunakan duit PNBP Kemenkominfo, tidak memakai dana APBN 2014. (photo : topnews)

Senayan – Rencana pemerintah untuk segera punya satelit khusus militer bakal segera terwujud tahun depan. Soalnya pengadaan satelit guna menangkal penyadapan dan sebagainya itu akan lebih mudah karena tidak menggunakan dana APBN 2014. 

Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin mengungkapkan, satelit itu akan dibeli dengan duit Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Kemenkominfo. “Ini akan lebih cepat prosesnya. Kalau pakai APBN 2014, mesti melalui pengajuan dan menunggu masukan-masukan,” katanya kepada JurnalParlemen, Kamis (26/12). 

Menurut Hasanuddin, biaya pembelian satelit itu sekitar Rp 5-7 triliun. Dana segitu agaknya cukup dipenuhi dari PNBP Kemenkominfo 2013. Asal tahu saja, PNBP Kemenkominfo pada 2012 saja mencapai Rp 11,58 triliun. Tahun ini jumlahnya diperkirakan naik. 

Tapi, supaya tidak jadi masalah, pembelian satelit itu harus dilakukan oleh lintas kementerian/lembaga. Sedangkan pengawasannya oleh DPR. Selanjutnya, BPK tinggal mengauditnya. 

“Pengadaannya tidak dilakukan satu kementerian saja, harus melibatkan Kemenhan, Sekneg, dan Kemenkominfo. Kemenhan sebagai institusi yang mengamankan perangkat persandian, Sekneg sebagai wakil pemerintah dan presiden, sedangkan Kemenkominfo penyedia jalur komunikasi,” katanya.

Sebelumnya, Menhan Purnomo Yusgiantoro mengatakan segera menindaklanjuti pengembangan sistem pertahanan siber dan punya satelit sendiri untuk keperluan itu. Dikendalikan oleh Kemenhan, pertahanan siber yang ia maksud akan jadi tugas BIN, BAIS, Lemsaneg, dan Polri. Nantinya, pertahanan siber dioperasikan TNI, sedangkan kriminal siber ditangani Polri.

(Jurnal Parlemen)

 
 

 

December 27, 2013

BPPT Kembangkan Kapal Rawa untuk Patroli TNI

 

 
Antara, 23 Desember 2013

Patroli untuk perairan pedalaman tidak mungkin menggunakan kapal standar (photo : tomandcarolsykes)

Jakarta (ANTARA News) – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengembangkan kapal rawa untuk operasi patroli keamanan TNI Angkatan Laut di wilayah pedalaman.

“Dibutuhkan sarana pengangkut pasukan untuk perairan pedalaman seperti di aliran sungai, danau, rawa atau daerah kotor lainnya yang tak mungkin dilalui oleh perahu atau kapal standar,” kata Deputi Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT Dr Erzi Agson Gani di Jakarta, Senin.

Menurut dia, prototipe kapal rawa pesanan TNI-AL dan PT Mega Perkasa Engineering (MPE) itu sedang diuji coba.

“Berbeda dengan kapal biasa yang baling-balingnya terendam di air, swamp boat digerakkan oleh mesin berbaling-baling yang berada di atas permukaan air,” katanya. 

Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan dan BPPT juga sedang mengembangkan Pesawat Udara Nir Awak (Puna) Wulung generasi baru (PA7) yang dirancang bisa terbang selama enam jam tanpa henti dengan membawa peralatan keamanan.

Kapal rawa/swamp boat sering juga disebut dengan air boat (photo : nauticexpo)

Erzi memaparkan, pesawat itu adalah pengembangan Puna Wulung PA5 yang sukses pada akhir 2012 dan telah diproduksi PT Dirgantara Indonesia dan PT LEN pada 2013 untuk menjadi bagian dari skuadron TNI Angkatan Udara.

Puna Wulung merupakan satu dari lima jenis Puna rancangan BPPT dan Kementerian Pertahanan yakni Puna Sriti, Puna Alap-alap, Puna Pelatuk, dan Puna Gagak, serta sudah mengacu pada standar kelaikan terbang militer (IMA).

BPPT bersama Pelindo 3 dan konsorsium BUMN juga sedang membangun Automatic Container Transportation (ACT) yang merupakan moda transportasi angkutan kontainer berbasis teknologi monorel, yang teknologi boogie-nya telah dikembangkan BPPT sejak 2006.

“Teknologi ACT ini akan diimplementasikan di Pelabuhan Teluk Lamong Surabaya. Dalam kaitan dengan ini kami sedang merancang test track monorail di Puspiptek Serpong,” tambahnya.

(Antara)

December 22, 2013

Indonesia Harus Buat Simulator Sukhoi Sendiri

  

Tempo.co 21 Desember 2013

Simulator pesawat tempur Sukhoi (photo : Marina Lystseva)

TEMPO.CO, Bandung -Direktur Teknologi Dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia Andi Alisjahbana menyarankan pemerintah agar tidak membeli simulator pesawat tempur Sukhoi dari luar negeri. “Full Mission Simulator banyak berisi pelatihan-pelatihan menjalankan misi pesawat tempur, dan banyak yang bersifat universal tapi juga di dalamnya adalah doktrin tempur TNI AU,” kata dia dalam surat elektroniknya pada Tempo, Jumat, 20 Desember 2013.

Menurut Andi, semua negara pengguna pesawat tempur Sukhoi memilih membuat sendiri simulator kemudinya, dengan pertimbangan untuk melindungi rahasia negaranya. Contohnya,  China dan Malaysia yang membuat sendiri simulator kemudi pesawat tempur buatan Rusia itu.

Andi menjelaskan, simulator kemudian untuk pesawat tempur berbeda dengan simulator untuk pesawat sipil. Simulasi kemudi pesawat sipil hanyalah Flight Simulator yang digunakan oleh umumnya sekolah penerbangan. 

Flight Simulator dirancang, selain melatih keahlian terbang dan mengemudikan pesawat, juga untuk melatih pilot menghadapai keadaan darurat yang tidaklah mungkin di lakukan di pesawat aslinya seperti kerusakan mesin, rusaknya alat navigasi, hingga pendaratan darurat. 

“Pilot akan dilatih menggunakan Flight Simulator pada kondisi kondisi ini, maka pilot langsung tahu langkah-langkah yang harus diambil,” ucap Andi

Simulator pesawat tempur punya prinsip yang sama. Hanya bedanya pesawat tempur punya tujuan menjalankan misi perang. Pesawat tempur juga dilengkapi dengan senjata seperti rudal dan radar untuk kepentingan tempur, yang pemakaiannya punya prosedur tertentu. “Simulator pesawat tempur memiliki cakupan jauh lebih luas dari Flight Simulator, karena itu disebut Full Mission Simulator (FSM),” kata Andi.

Piranti Full Mission Simulator juga dapat diprogram untuk menghadapi pesawat musuh yang spesifik hanya dengan memprogramkan data penerbangan dan manuver pesawat tempur musuh tersebut. 

Dengan cakupan latihan pilot pesawat tempur dengan piranti kendali simulasi itu, Full Mission Simulator menyimpan data diantaranya prosedur saat pesawat tempur bertemu musuh mulai  hingga prosedur melakukan pengejaran pesawat musuh, termasuk pelepasan senjata untuk melumpuhkan musuh. “Ini semuanya merupakan rahasia negara,” kata Andi.

Andi mengatakan, dengan alasan itu, pemerintah disarankan membuat simulator Sukhoi itu di dalam negeri. “Nilai strategisnya sudah sangat jelas dan juga dilindungi dalam UU Nomor 16/2012 mengenai Industri Pertahanan Nasional,” kata dia.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiaantoro mengungkapkan rencana pemerintah membeli simulator kemudi pesawat tempur buatan Rusia, Sukhoi SU-27 dan SU-30.   Kementerian Pertahanan tengah memilah produsen simulator Sukhoi tersebut sebab ada 3 negara yang bisa memproduksinya,  yakni Rusia, China, dan Kazakhstan. 

“Kami masih pikirkan mana yang lebih cocok,” kata Purnomo pada wartawan di kantornya di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, 16 Desember 2013.

Dewan Perwkilan Rakyat mendukung rencana Kementerian Pertahanan membeli simulator Sukhoi. Wakil Ketua Komisi Pertahanan DPR Tubagus Hasanuddin mengatakan, pembelian simulator tersebut sudah dibicarakan sejak 2 tahun lalu untuk melengkapi skuadron Sukhoi.  “DPR menilai Indonesia belum mampu memproduksi simulator sendiri,” kata dia ketika dihubungi Tempo, Senin malam, 16 Desember 2013.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 75 other followers