Archive for ‘Industry Militer Budget TNI’

March 27, 2014

Pindad Mulai Mengerjakan Retrofit Tank AMX-13

Retrofit pesawat tempur harusnya juga bisa dilakukan PT DI..

Bisnis 26 Maret 2014

Tank AMX-13 retrofit prototipe kerjasama dengan Sabiex Belgia ketika diuji coba (photo : Agape zacharia)

PINDAD Kembangkan Tank Ringan

Antarajawabarat.com – PT Pindad mengembangkan jenis tank ringan dan melakukan “retrofit” tank jenis AMX-13 sehingga memenuhi kebutuhan teknologi dan operasional TNI, kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafri Syamsudin pada kegiatan inspeksi di PT Pindad Kota Bandung, Rabu.

“Dari inspeksi yang kami lakukan PT Pindad ada kemajuan, salah satunya pengembangan tank ringan, retrofit tank jenis AMX-13,” kata Wamenhan Sjafri Syamsudin.

Pengembangan tank ringan itu dilakukan dengan melakukan modifikasi teknologi tank jenis itu menjadi tank yang memiliki spesifikasi teknologi yang tangguh dan sesuai dengan kebutuhan lapangan.

Tahap pertama, kata Sjafri akan dibuat 23 unit tank ringan. Ia menyebutkan saat ini ada 400-an tank AMX-13 yang rencananya akan masuk dalam program retrofit itu.

“Rencananya program itu masuk pada program 2015-2019, jumlahnya tergantung pemerintah dan angaran yang disiapkan saat itu,” katanya.

Panser Anoa Versi Intai

Selain itu Pindad juga akan melakukan pengembangan Panser 6×6 Anoa yang dimodifikasi menjadi panser untuk kebutuhan pengintaian.

“Panser intai itu dimodifikasi mengangkut personil namun memiliki kecepatan lebih tinggi dibandingkan panser sejenis yang ada, spesifikasinya akan dilengkapi untuk kebutuhan pengintaian,” katanya.

Ia menyebutkan tahap pertama panser intai itu akan di bangun satu unit sebagai prototipenya. Rencananya panser itu diperuntukan bagi Koppasus.

“Kebutuhan panser masih cukup besar, setidaknya sekitar 250-an lagi, termasuk panser yang akan dikembangkan itu,” katanya.

Pada kesempatan itu, Wamenhan menyatakan komitmen pemerintah untuk mermanfaatkan alat utama sistem pertahanan (Alutsista) produk dalam negeri.

“Dalam setiap pengadaan alutsista ditetapkan spesifikasi dan standarnya, untuk itu kami terus mendorong agar produk alutsista dalam negeri terus meningkatkan kualitas dan memenuhi kriteria itu. Bila memenuhi spesifikasi maka prioritas adalah produk alutsista dalam negeri,” katanya.

(Antara)

Baca Juga :

Apa Kecanggihan Tank AMX-13 Modifikasi Pindad?

Bisnis.com, BANDUNG–PT Pindad saat ini tengah mendapatkan tugas untuk memodifikasi (retrofit) tank AMX-13 milik TNI.  Seperti apa modifikasi yang dilakukan?

Pada saat kunjungan Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin ke PT Pindad,  Rabu (26/3/2014), Direktur Utama PT Pindad (Persero) Tri Hardjono menjelaskan tank AMX-13 merupakan tank lama dari masa Perang Dunia II sehingga perlu dimodernisasi.

Dia memaparkan setelah dilakukan retrofit, tank tersebut memiliki kelebihan yang dilengkapi senjata Canon 105 mm, fire control system sudah elektronik, serta mesin diesel yang bisa bertahan sampai 20 tahun dan transmisi otomatis.

Model lama AMX-13 masih bermesin bensin dari Eropa, dan modifikasi ini diganti menjadi mesin Diesel Turbointercooler dari Navistar Amerika Serikat. “Biaya untuk retrofit hanya sekitar Rp9 miliar-Rp10 miliar, lebih murah dibandingkan tank baru yang minimalnya Rp30 miliar,” ungkapnya.

Pihak Kemenhan juga memiliki program pembuatan tank medium, dengan senjata 105 mm, dan memiliki kemampuan tank modern yang dibutuhkan kavaleri.

“Untuk tank medium ini dikembangkan sekitar 3 tahun ke depan, sehingga protitipenya baru akan selesai pada 2016.  Sedangkan yang ada saat ini adalah tank Pindad hasil pengembangan sendiri kendaraan roda rantai yang sedang dicoba diaplikasikan,” katanya.

(Bisnis Indonesia)

March 25, 2014

Byar pet Radar Indonesia : MH370 Tak Terdeteksi Melewati Indonesia?

MH370 Tak Terdeteksi Melewati Indonesia?

Grafik ini menunjukkan perkembangan kabar pencarian pesawat Malaysia Airlines MH370 yang hilang dari saat lokasi kontak terakhir (1), terpantau radar militer (2), sinyal satelit (3), penangkapan dua benda diduga puing pesawat oleh satelit Australia pada 20 Maret (4), dan penemuan terakhir oleh satelit China (5). Straittimes.com

 

TEMPO.COJakarta - Wakil Presiden Federasi Pilot Indonesia Ali Nahdi mempertanyakan tidak terdeteksinya pesawat Malaysia Airlines MH370 yang terbang melintasi udara Indonesia. Padahal, kata dia, jika ada pesawat asing yang masuk ke suatu negara tanpa koordinasi, harus segera dipertanyakan maksudnya. “Kalau tidak berkoordinasi dengan baik, bisa saja ditembak, seperti di Rusia,” kata Ali saat dihubungi, Selasa, 25 Maret 2014.

Menurut Ali, Indonesia memiliki radar pendeteksi, tetapi tidak diketahui masih berfungsi dengan baik atau tidak. Untuk pertahanan, kata Ali, seharusnya radar terus berfungsi dengan baik. “Kalau tidak ya negara kita bisa dilewati sembarangan,” kata dia. (Baca:Jatuhnya MH370 Diungkap Satelit Inggris)

Senin malam, 24 Maret 2014, sekitar pukul 20.00 waktu Malaysia, Perdana Menteri Najib Razak mengumumkan berdasarkan analisis data dari satelit penerbangan, MH370 yang terbang dari Kuala Lumpur menuju Beijing, Cina, malah berakhir di sebelah selatan Samudra Hindia. Tidak ada satu pun penumpang maupun kru pesawat yang dikabarkan selamat. (Baca: Pernyataan Lengkap PM Malaysia Soal MH370 dan Cuit Putri Kru MH370: Tuhan Lebih Sayang Kamu, Daddy)

Pesawat Boeing 777 tersebut hilang sejak 8 Maret 2014. Selama 17 hari, upaya pencarian melibatkan tim dari 27 negara. Titik terang keberadaan MH370 baru diketahui pada pekan lalu, saat sejumlah benda yang diduga bagian dari pesawat itu ditemukan mengapung di perairan Samudra Hindia, sekitar 2.500 kilometer sebelah barat Perth. (Baca: Kabar Duka Dikirim Via SMS, Keluarga Korban MH370 Histeris)

TRI ARTINING PUTRI

March 19, 2014

SIPRI : Impor Senjata Negara Asia Meningkat

 

Tempo,Selasa, Maret 18, 2014

 

 

0

STOCKHOLM-(IDB) : Negara Asia Selatan dan Teluk memimpin tren kenaikan impor senjata secara global. Menurut data yang dirilis badan pengawas perdagangan senjata yang berbasis di Swedia, Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Senin, 17 Maret 2014, secara keseluruhan, volume transfer internasional senjata konvensional utama tumbuh 14 persen antara 2004-2008 dan 2009-2013. 
Volume impor senjata utama India meningkat sebesar 111 persen antara 2004-2008 dan 2009-2013, dan pangsa volume impor senjatanya secara internasional meningkat dari 7 persen menjadi 14 persen. Sementara itu, impor senjata utama Pakistan meningkat 119 persen.

Pemasok utama senjata ke India pada 2009-2013 adalah Rusia (yang menguasai 75 persen impor) dan Amerika Serikat (7 persen). Sebaliknya, impor senjata Pakistan dari AS pada periode yang sama adalah 27 persen. Cina juga merupakan pemasok utama senjata di wilayah ini, yang jumlahnya sekitar 54 persen dari impor senjata Pakistan dan 82 persen impor Bangladesh.

“Pasokan senjata Cina, Rusia, dan AS ke Asia Selatan didorong oleh pertimbangan ekonomi dan politik,” kata Siemon Wezeman, peneliti senior dari SIPRI Arms Transfer Program. “Secara khusus, Cina dan Amerika Serikat tampaknya menggunakan pengiriman senjata ke Asia untuk memperkuat pengaruh mereka di wilayah tersebut.”

Lima pemasok terbesar senjata utama selama periode 2009-2013 adalah Amerika Serikat (29 persen ekspor senjata global), Rusia (27 persen), Jerman (7 persen) , Cina (6 persen), dan Prancis (5 persen). Lima negara ini menyumbang 74 persen dari total volume ekspor senjata di seluruh dunia. Amerika Serikat dan Rusia bersama-sama menyumbang 56 persen dari volume ekspor senjata.

“Rusia telah mempertahankan tingkat tinggi ekspor senjata meskipun ada krisis di industri senjata dalam periode pasca perang dingin,” kata Siemon Wezeman. Menurut SIPRI, pada 2009-2013 Rusia menjadi penyalur utama senjata untuk 52 negara. Ekspor paling signifikan Rusia pada 2013 adalah satu kapal induk ke India.

Impor senjata ke negara-negara Teluk juga meningkat 23 persen dari periode 2004-2008 ke 2009-2013, yang secara keseluruhan mencapai 52 persen dari impor ke Timur Tengah. Arab Saudi menjadi pengimpor  senjata utama terbesar ke-5 di seluruh dunia pada 2009-2013, dibandingkan dengan pada 2004-2008 yang menempatkannya di peringkat ke-18.

Beberapa negara Teluk telah berinvestasi dalam sistem serangan jarak jauh dan sistem pertahanan udara dan rudal. Ini termasuk pesanan besar untuk pengiriman pesawat tempur dengan senjata yang dipandu dari Inggris dan Amerika Serikat.

AS, yang menyumbang 45 persen dari pengiriman senjata ke negara-negara Teluk, telah menandatangani serangkaian kesepakatan besar yang akan mempertahankan tingginya tingkat ekspor senjata ke negara-negara tersebut. “Pada 2013, untuk pertama kalinya, Amerika Serikat mengizinkan penjualan rudal jelajah jarak jauh ke negara-negara Teluk,” kata Wezeman.

 
 
 
March 18, 2014

Pesawat Tanpa Awak Akan Datang April 2014

Kenapa tidak sekalian yang bisa membawa bom ? 

 
18 Maret 2014

Heron UAV akan memperkuat skadron pesawat tanpa awak TNI AU (photo : epa)

Kasau Tinjau Kesiapan Lanud Supadio Naik Status

Kasau Tinjau Kesiapan Lanud Supadio Naik Status Sungai Raya (Antara Kalbar) – Kepala Staf TNI AU Marsekal Ida Bagus Putu Dunia kembali melakukan kunjungan kerja ke Lanud Supadio, sekaligus peninjauan langsung terhadap kesiapan pangkalan udara tersebut yang akan segera dinaikkan statusnya menjadi tipe A.

“Saya ingin melihat langsung sejauh mana kesiapan Lanud Supadio untuk menerima kedatangan skuadron pesawat tanpa awak yang akan segera ditempatkan di sini April nanti,” kata Ida Bagus saat melakukan kunjungan kerja di Lanud Supadio, Senin.

Menurutnya, dengan penempatan pesawat tanpa awak tersebut di Lanud Supadio, maka secara otomatis status lanud tersebut naik menjadi tipe A.

“Makanya saya melihat langsung bagaimana kesiapan infrastruktur pendukungnya sekaligus kesiapan personelnya,” katanya.

Dia menambahkan, dalam rencana strategis kerja TNI AU, pangkalan udara Supadio sudah disiapkan untuk menjadi tipe A. Dengan demikian, nantinya pangkalan tersebut akan dipimpin oleh perwira TNI AU bintang satu.

“Dengan peningkatan status pangkalan operasi Lanud Supadio tersebut nantinya juga akan diikuti dengan upaya peningkatan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Dengan dimilikinya pesawat tanpa awak, maka akan dengan mudah memantau atau memfoto situasi di kawasan perbatasan tanpa terdeteksi oleh lawan dan bisa digunakan pada malam dan siang hari,” kata Ida Bagus.

Pria dengan empat bintang di pundaknya itu juga menjelaskan, banyak keuntungan yang bisa didapat dari pesawat tanpa awak, misalnya bisa memantau atau terbang tanpa diketahui oleh sasarannya karena memiliki peredam suara mesin.

Pesawat tersebut nantinya bisa dimanfaatkan untuk pemantauan aktivitas ilegal, kata dia, di antaranya pengawasan ilegal logging atau penebangan hutan secara liar dan pencurian ikan di kawasan alur laut kepulauan Indonesia (ALKI).

Tidak hanya peningkatan alutsista di Lanud Supadio yang akan ditingkatkan, dalam waktu dekat rencana pembangunan stasiun radar yang akan ditempatkan di Bengkayang juga akan direalisasikan.

“Stasiun radar itu juga sudah masuk dalam program kerja TNI AU dan dalam waktu dekat juga akan kita realisasikan,” katanya.

(Antara)

March 16, 2014

Dahana Memperluas Pasar Bahan Peledak

INDUSTRI STRATEGIS

 

 
 
 
JAKARTA, KOMPAS — Produsen bahan peledak PT Dahana (Persero) menargetkan perolehan laba tahun 2014 sebesar Rp 60 miliar-Rp 70 miliar. Perolehan laba ini naik sekitar 20 persen dari tahun 2013, yakni Rp 50 miliar. Meningkatnya perolehan laba ini karena Dahana memperluas pasar tidak hanya di sektor pertambangan, tetapi juga ke konstruksi dan ekspor ke luar negeri.

”Selain itu, kami juga memproduksi bahan peledak dalam berbagai macam jenis dan terintegrasi. Dengan demikian, kami bisa memenuhi segala kebutuhan yang ada di pasar,” kata Direktur Utama PT Dahana F Harry Sampurno, di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (14/3).

Namun, diakui Harry, saat ini permintaan dari sektor pertambangan agak menurun. Ini berkaitan dengan adanya peraturan pemerintah agar perusahaan pertambangan menyediakan fasilitas pengolah untuk produk pertambangan.

”Dengan adanya ketentuan itu, keinginan pengusaha pertambangan untuk memperluas tambangnya menjadi berkurang. Apalagi ditambah harga batubara dan emas turun sangat tajam tahun lalu,” ujar Harry.

Saat ini, kapasitas produksi bahan peledak Dahana sebesar 56.000 ton per tahun. Sementara kebutuhan bahan peledak di Indonesia 300.000 ton per tahun. Saat ini, kebutuhan bahan peledak dipenuhi dengan impor dari Amerika dan Australia.

Selama 10 tahun terakhir, Dahana juga berhasil melakukan ekspansi produksi berbagai jenis bahan peledak, termasuk detonator listrik dan nonlistrik, emulsi, serta pengembangan bahan peledak militer.

”Kami juga telah mendaftarkan 22 paten selama 10 tahun terakhir dan 18 di antaranya sudah resmi,” kata Harry.

Direktur Operasional Dahana Bambang Agung menambahkan, selama tahun 2013, Dahana telah membangun tiga pabrik, di tempat kerja Adaro di Kalimantan Selatan, menggunakan teknologi sistem berlanjut yang diresmikan pada Juli 2013. Kemudian, di lokasi kerja Kasongan, Kalimantan Tengah, yang dioperasikan Desember 2013. Yang terbaru di lokasi kerja ABN di Sanga-sanga, Kalimantan Timur.

”Dengan demikian, Dahana kini mengoperasikan sembilan OSP dengan 32 lokasi kerja di seluruh Indonesia,” ujar Agung.

Selain itu, ia melanjutkan, Dahana juga sedang mengikuti enam tender penyediaan bahan peledak di berbagai proyek. (ARN)

March 16, 2014

TNI-AL Akan Bangun Pangkalan di Balikpapan Tahun Depan

 

 
Republika 13 Maret 2014

Pelabuhan Angkatan Laut akan dipakai untuk mendukung logistik pasukan dan fungsi-fungsi lainnya (photo : Kaskus Militer)

REPUBLIKA.CO.ID,BALIKPAPAN–TNI Angkatan Laut berencana membangun pangkalan berupa pelabuhan khusus di Balikpapan, Kalimantan Timur, yang akan digunakan untuk mendukung pelaksanaan operasi di wilayah timur Indonesia.

“Sudah kami paparkan rencana pembangunannya di depan Asisten II Sekretaris Kota Balikpapan,” kata Mayor Kusnanto, Kepala Seksi Pembinaan Potensi Maritim (Paskotmar) Pangkalan TNI AL Balikpapan, Selasa (13/9).

Selama ini pelabuhan bagi kapal-kapal TNI-AL adalah Pelabuhan Semayang, yang juga berfungsi sebagai pelabuhan penumpang dan pelabuhan bongkar muat barang dan peti kemas.
Menurut Mayor Kusnanto, TNI-AL juga kerap meminjam Pelabuhan Pertamina.

“Kapal-kapal kita kan sering kemari. Ya kalau dermaga di Semayan lagi kosong, merapat di situ. Atau juga ke Pelabuhan Pertamina. Kalau TNI AL punya sendiri kan kita jadi lebih leluasa. Fungsi pelabuhannya nanti untuk mendukung logistik pasukan dan fungsi-fungsi lainnya,” ujar Kusnanto.

Meski selama ini fungsi-fungsi itu tetap bisa jalan dengan menggunakan Pelabuhan Semayang dan Pelabuhan Pertamina, menurut Mayor Kusnanto, keterbatasannya juga cukup banyak. Pelabuhan Pertamina, misalnya, adalah pelabuhan obyek vital dengan peraturan keselamatan yang sangat ketat sementara Pelabuhan Semayang selalu sibuk sebagai pelabuhan penumpang.

Wali Kota Rizal Effendi menyambut baik keinginan pembangunan pangkalan ini.
“TNI-AL sudah menunjuk lahan bekas Pelabuhan Petikemas Semayang, itu yang kita lagi koordinasikan karena lahan itu kan milik Adpel atau Pelindo,” kata Wali Kota Rizal Effendi.

Ketua DPRD Balikpapan Andi Burhanuddin Solong pun mendukung penuh rencana pembangunan pangkalan ini. “Penting untuk menjaga keutuhan NKRI,? tegas Ketua Solong penuh semangat.
Pemkot Balikpapan, kata Solong, bisa membantu pembangunan pangkalan tersebut sebagaimana diatur dalam Undang-Undang.

“Secara aturan, APBD bisa bantu TNI seperti diatur dalam UU 32 Tahun 2011,” sambung Solong. Dia pun meminta Pemkot untuk segera mengambil langkah-langkah termasuk menyiapkan lahan untuk pembangunan pangkalan. “Jangan dibiarkan mereka tidak memiliki prasarana dan sarana,” katanya.

March 14, 2014

TNI Terima 24 Panser Anoa dari Pindad

 

Panser diterima oleh Panglima TNI Jenderal Moeldoko.

ddd
Jum’at, 14 Maret 2014, 11:13Aries Setiawan, Erick Tanjung
Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengecek Panser Anoa buatan PT Pindad.
Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengecek Panser Anoa buatan PT Pindad.(Erick Tanjung/VIVAnews)
 
VIVAnews - Tentara Nasional Indonesia (TNI) menerima 24 Panser Anoa 6×6 dari PT Pindad. Kendaraan perang lapis baja ini akan digunakan oleh Satuan Tugas (Satgas) Batalyon Komposit TNI Kontingen Garuda (Konga) XXXV-B/UNAMID (United Nation Mission In Darfur) untuk pasukan pemelihara perdamaian PBB selama setahun di wilayah Dafur, Sudan.

Panser diterima Panglima TNI Jenderal Moeldoko yang sekaligus melakukan pengecekan kesiapan peresmian kawasan Indonesian Peace and Security Centre (IPSC) di Bukit Santi Dharma Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian Sentul-Bogor, Jumat 14 Maret 2014. 

“Ada 800 prajurit TNI yang dikerahkan. 24 Panser Anoa, 30 truk dan 34 jeep,” kata Moeldoko saat serah terima kendaraan perang tersebut.

Moeldoko menjelaskan, hingga saat ini TNI telah membeli 226 unit kendaraan tempur dari Pindad. Tahun 2008 TNI membeli 154 unit, 2011 sebanyak 11 unit dan 2012 sebanyak 61 unit. “Tahun 2013 TNI memesan 82 unit Panser Anoa,” ujarnya.

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat ini menambahkan, kendaraan itu telah di sebar di sejumlah Kodam. Di antaranya, Kodam III Siliwangi Bandung, Kodam Jaya Jakarta, Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), Batalyon 201, Batalyion 202 dan Batalyon 203. 

Ada juga yang ditempatkan di Palembang, Makassar, Ambon, Timika, Surabaya, Bali dan Yogyakarta.

“Panser ini di antaranya ada panser angkut personel, ambulans, recovery, komando dan angkut logistik. Panser ini juga digunakan untuk pengamanan tamu-tamu penting atau kunjungan presiden ke luar kota,” Moeldoko menjelaskan.

March 14, 2014

TNI-AL Akan Bangun Pangkalan di Balikpapan Tahun Depan

13 Maret 2014

Pelabuhan Angkatan Laut akan dipakai untuk mendukung logistik pasukan dan fungsi-fungsi lainnya (photo : Kaskus Militer)

REPUBLIKA.CO.ID,BALIKPAPAN–TNI Angkatan Laut berencana membangun pangkalan berupa pelabuhan khusus di Balikpapan, Kalimantan Timur, yang akan digunakan untuk mendukung pelaksanaan operasi di wilayah timur Indonesia.

“Sudah kami paparkan rencana pembangunannya di depan Asisten II Sekretaris Kota Balikpapan,” kata Mayor Kusnanto, Kepala Seksi Pembinaan Potensi Maritim (Paskotmar) Pangkalan TNI AL Balikpapan, Selasa (13/9).

Selama ini pelabuhan bagi kapal-kapal TNI-AL adalah Pelabuhan Semayang, yang juga berfungsi sebagai pelabuhan penumpang dan pelabuhan bongkar muat barang dan peti kemas.
Menurut Mayor Kusnanto, TNI-AL juga kerap meminjam Pelabuhan Pertamina.

“Kapal-kapal kita kan sering kemari. Ya kalau dermaga di Semayan lagi kosong, merapat di situ. Atau juga ke Pelabuhan Pertamina. Kalau TNI AL punya sendiri kan kita jadi lebih leluasa. Fungsi pelabuhannya nanti untuk mendukung logistik pasukan dan fungsi-fungsi lainnya,” ujar Kusnanto.

Meski selama ini fungsi-fungsi itu tetap bisa jalan dengan menggunakan Pelabuhan Semayang dan Pelabuhan Pertamina, menurut Mayor Kusnanto, keterbatasannya juga cukup banyak. Pelabuhan Pertamina, misalnya, adalah pelabuhan obyek vital dengan peraturan keselamatan yang sangat ketat sementara Pelabuhan Semayang selalu sibuk sebagai pelabuhan penumpang.

Wali Kota Rizal Effendi menyambut baik keinginan pembangunan pangkalan ini.
“TNI-AL sudah menunjuk lahan bekas Pelabuhan Petikemas Semayang, itu yang kita lagi koordinasikan karena lahan itu kan milik Adpel atau Pelindo,” kata Wali Kota Rizal Effendi.

Ketua DPRD Balikpapan Andi Burhanuddin Solong pun mendukung penuh rencana pembangunan pangkalan ini. “Penting untuk menjaga keutuhan NKRI,? tegas Ketua Solong penuh semangat.
Pemkot Balikpapan, kata Solong, bisa membantu pembangunan pangkalan tersebut sebagaimana diatur dalam Undang-Undang.

“Secara aturan, APBD bisa bantu TNI seperti diatur dalam UU 32 Tahun 2011,” sambung Solong. Dia pun meminta Pemkot untuk segera mengambil langkah-langkah termasuk menyiapkan lahan untuk pembangunan pangkalan. “Jangan dibiarkan mereka tidak memiliki prasarana dan sarana,” katanya.

March 13, 2014

Radar Terbang untuk Perang Udara

 

 
Pasang dong radar AEWC ( radar terbang) di CN 295 ..
 
 
11 Maret 2014

 TNI AU membutuhkan pesawat dengan kemampuan AEW&C (photo : Saab)

Perang udara akan semakin kompleks melibatkan seluruh kekuatan teknologi maju dan penguasaan informasi. Konsep early warning dan first look, first kill menjadi dua hal yang amat penting untuk bisa menguasai medan pertempuran dan sekaligus memenangkannya.

Perkembangan teknologi yang amat pesat telah membawa suatu perubahan yang besar menyebabkan taktik dalam peperangan modern terus bergeser secara fundamental pada penguasaan informasi terlebih dahulu sebelum pelaksanaan ekseskusi. Merupakan suatu keniscayaan bahwa salah dalam mengambil keputusan/tindakan akan menyebabkan kegagalan yang fatal.

Medan pertempuran yang makin kompleks membuat kewaspadaan terhadap berbagai ancaman serangan musuh makin meningkat pula. Kemampuan suatu individu dalam berperang akan menjadi sia-sia manakala tidak dipadukan secara integratif dengan kemampuan pendukungnya. Dengan kata lain, sistem dari suatu sistem harus dibangun secara terpadu, menyeluruh dan, dan terkoordinasi. Disinilah konsep ISTAR (Intelligence, Surveillance, Target Acquisition, and Reconnaisance) memainkan peran yang sangat vital, sehingga tindakan/eksekusi sebagai suatu keputusan akhir dari analisis informasi akan membawa pada suatu keberhasilan penyerangan dan meminimalisir kerugian.

Permasalahannya, bagaimana mengumpulkan informasi situasi medan perang sebanyak dan selengkap mungkin. Konsep ini kemudian dirumuskan, sehingga informasi yang didapat bersifat menyeluruh dan dapat disistribusikan kepada sistem-sistem perangkat perang secara real time.

Salah satu elemen yang mendukung pada tercapainya keunggulan ISTAR tidak lain adalah penggunaan pesawat Airborne Early Warning and Control (AEW&C). Pesawat inilah yang bila dianalogikan akan berperan sebagai menara kontrol untuk pengaturan semua perangkat perang, khususnya pesawat dan alutsista udara lainnya. Pesawat AEW&C memberikan informasi sebanyak-banyaknya mengenai medan pertempuran.

Radar terbang memiliki keunggulan dari radar yang ditanam secara fixed di darat karena sifat pergerakannya yang sangat mobile. Sedangkan radar fixed bila poisisinya sudah diketahui oleh musuh akan menjadi sasaran yang dengan segala cara akan dimusnahkan terlebih dahulu.

TNI AU juga berencana membeli beberapa pesawat tanker jet (photo : Airbus)

Program TNI AU

Indonesia merupakan salah satu negra yang saat ini tengah menjajaki pembelian pesawat AEW&C. Dirjen Perencanaan Pertahanan Kementerian Pertahanan RI Marsda TNI E.H.B Soelistyo mengatakan hal itu kepada Angkasa di sela-sela pelaksanaan Rapim TNI AU Januari lalu di jakarta.

Disamping itu Indonesia juga berencana membeli jet tanker untuk memenuhi kebutuhan kekuatan pokok minimum. “Ya, Kemenhan sedang menjajaki dua jenis pesawat ini,” ujarnya.

Angkasa Magazine No 6 Maret 2014 Tahun XXIV

March 13, 2014

SBY: Teruskan Pembangunan Pertahanan

KAMIS, 13 MARET 2014

kompas logo
 

ALUTSISTA

 

 

 
SURABAYA, KOMPAS — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap pembangunan kekuatan pertahanan terus dilanjutkan oleh pemerintahan hasil Pemilu 2014. Kekuatan pertahanan yang mumpuni membuat Indonesia lebih disegani.”Saya berharap presiden baru dan pemerintahan yang akan dipimpinnya meneruskan yang kita lakukan ini,” ujar Yudhoyono, Rabu (12/3), di Markas Komando Armada RI Kawasan Timur TNI Angkatan Laut, Surabaya.

Hal tersebut disampaikan Yudhoyono ketika membuka sidang Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP). KKIP diketuai Presiden. Adapun Menteri Pertahanan menjadi ketua harian.

Sebelum rapat, gelar alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI AL 2014 diadakan di Dermaga Koarmatim. Berbagai kekuatan militer dipamerkan, mulai dari tank amfibi marinir, kapal selam, kapal perang, hingga sejumlah pesawat terbang milik TNI AL. Presiden didampingi Ny Ani Yudhoyono memeriksa satu per satu kekuatan militer yang dipamerkan.

Menurut Yudhoyono, sejak tahun 2005, pemerintah mulai berupaya membangun kekuatan pertahanan. Selain aspek militer, ada hal lain yang ingin dicapai dengan membangun kekuatan pertahanan. ”Kepentingan kita tidak hanya menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah, tetapi juga kepentingan ekonomi untuk memastikan Indonesia tumbuh menjadi negara sejahtera. Dalam konteks itu, modernisasi alutsista menjadi penting dan relevan, dan peran industri strategis, industri pertahanan, juga makin mengemuka,” tutur Presiden.

Melebihi targetSeusai sidang KKIP, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan, rencana strategis pembangunan kekuatan alutsista 2010-2024 telah tercapai 30 persen. Saat ini, pengadaan alutsista telah melampaui target. Sebagai gambaran, Indonesia yang awalnya menargetkan membeli 6 unit pesawat tempur F-16, sekarang sudah mendatangkan 24 unit. Pesawat angkut Hercules yang tidak ditargetkan ditambah akan didatangkan lagi sembilan unit.

Sementara itu, Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Marsetio menuturkan, TNI AL batal membeli dua unit kapal selam jenis Kilo Class dari Rusia. Pasalnya, kapal selam yang ditawarkan merupakan kapal bekas yang memiliki kerusakan di bagian mesin dan persenjataan. Akibatnya, butuh biaya untuk memperbaikinya. Dua unit kapal selam itu juga sudah dua tahun tidak digunakan.

TNI AL, lanjut Marsetio, juga mendapat tawaran membeli kapal selam jenis Kilo Class yang baru. Jika tawaran itu dihadapkan dengan rencana pemerintah meningkatkan industri pertahanan, TNI AL akan mengutamakan pembangunan kapal itu di dalam negeri. ”Apabila kita membuat di dalam negeri, akan lebih efisien dan efektif dari segi ekonomi dan pertahanan,” ujarnya.

Dari 12 kapal selam yang dibutuhkan TNI AL, sudah ada dua unit buatan Jerman. Indonesia juga sedang menjajaki pembuatan dua kapal selam di Korea Selatan. Untuk sisanya, TNI AL mempertimbangkan membuatnya di PT PAL. (ATO/ILO/BAH)

KOMENTAR
 
++++++++++++++++++++++++
 

TNI AL Batal Beli Kapal Selam Rusia

 
12 Maret 2014

Tim TNI AL ketika mengecek kondisi kapal selam bekas yang ditawarkan, kunjungan dilakukan ke Armada Utara Rusia (photo : KBRI Moskow)

Liputan6.com, Surabaya – TNI Angkatan Laut (AL) batal membeli 2 unit kapal selam kelas Kilo dari Rusia. Pembatalan itu dilakukan setelah perwakilan TNI AL melihat langsung kondisi 2 kapal selam bekas milik Rusia beberapa waktu lalu.

“Kita sudah melihat ke Rusia. Ada 2 kapal selam jenis Kilo Class yang sudah 2 tahun tidak digunakan Angkatan Laut Rusia,” kata KSAL Laksamana TNI Marsetio di Markas Armada TNI AL Wilayah Timur (Armatim), Surabaya, Rabu (12/3/2014).

Menurut Marsetio, 2 kapal selam milik Rusia itu memang tampak bagus jika dilihat dari luar. Namun di dalam ternyata banyak peralatan yang sudah rusak. Apalagi, 2 kapal itu sudah 2 tahun dikandangkan.

Ketika berada di Rusia, tambah Marsetio, tim TNI AL juga melihat kapal selam Kilo Class yang baru. Namun mahalnya harga yang ditawarkan menjadikan rencana pembelian kapal selam jenis ini urung dilakukan.

Kapal selam kelas Kilo merupakan kapal selam canggih dengan kemampuan menembakkan rudal yang cukup jauh. Kapal ini diperlukan untuk memperkuat kemampuan alutsista TNI AL.

Menurut Marsetio, untuk membangun kekuatan minimum, TNI AL membutuhkan minimal 12 kapal selam. Saat ini TNI AL juga sudah memesan 3 kapal selam dari Korea. Dari 3 kapal ini, satu di antaranya akan dibangun di Indonesia oleh PT PAL. “Ini adalah bagian dari transfer teknologi,” ujar Marsetio.

Dengan transfer teknologi, Marsetio berharap Indonesia mampu memproduksi kapal selam secara mandiri sehingga mampu lebih cepat mewujudkan minimal 12 kapal selam.

(Liputan6)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 76 other followers