JAMBI, KOMPAS — Komandan Resor Militer 042 Garuda Putih Jambi Kolonel Marsudi Utomo menyanggah anak buahnya terlibat penganiayaan terhadap petani di areal kebun sawit PT Asiatic Persada/Agro Mandiri Semesta. Keberadaan anggota TNI di lokasi itu untuk meredam konflik yang memanas antara perusahaan dan petani.”Anggota kami di situ untuk mencegah bentrokan,” ujar Marsudi, Kamis (3/4). Pernyataan ini terkait pemberitaan Kompas berjudul ”6 Anggota TNI Jadi Tersangka”. Mereka dijadikan tersangka, menurut Komandan Detasemen Polisi Militer Jambi Letkol Sihol Tambunan, karena terlibat kasus penganiayaan terhadap warga sipil bernama Titus di Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari, 5 Maret (Kompas, 3/4).

Menurut Marsudi, keberadaan sejumlah anggota TNI di lokasi semata menjaga agar bentrokan antara warga dan pihak perusahaan tidak semakin memanas. Namun, pihaknya tidak dapat menjelaskan alasan penetapan enam anggota TNI sebagai tersangka oleh Detasemen Polisi Militer Jambi. Marsudi juga menyebutkan bahwa para anggota TNI itu tidak melakukan penculikan. Aksi tersebut diklaim dilakukan petugas sekuriti PT AP/AMS. Namun, pihaknya masih terus melakukan pengusutan dan pemeriksaan internal.

Keterangan tersebut bertolak belakang dengan penuturan korban, Titus. Dalam keterangan yang diberikan beberapa waktu lalu, Titus mengaku, pada 5 Maret, dia didatangi dan dijemput sejumlah pria berpakaian TNI di rumahnya di Desa Bungku sekitar pukul 15.00. Titus kemudian dibawa ke sebuah tempat lalu dianiaya para oknum TNI. Dirinya digiring ke pos sekuriti perusahaan dan kembali dipukuli dengan rotan (Kompas, 8/3).

Pengakuan korban juga dikuatkan hasil investigasi Komnas HAM pada pertengahan Maret yang menyebutkan adanya keterlibatan anggota TNI. Ketua Komnas HAM Siti Noor Laila mengatakan, terjadi pelanggaran UU No 39/1999 tentang HAM, kaitannya hak warga untuk tidak disiksa sesuai Pasal 4.

Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Jambi Ajun Komisaris Besar Almansyah mengatakan, berkas lima petugas keamanan PT AP/AMS sebagai tersangka penganiayaan terhadap masyarakat setempat sudah dilimpahkan untuk penuntutan. ”Penyidikan sudah selesai. Dengan demikian, mereka akan segera menjalani persidangan,” ujar Almansyah.

Petugas keamanan pabrik diduga menganiaya sejumlah warga yang datang meminta pembebasan Titus. Peristiwa ini berujung bentrokan yang mengakibatkan satu warga tewas dan enam lainnya luka. (ITA)