Archive for ‘Industry Militer Budget TNI’

May 22, 2014

PT DI Akan Miliki Hak Cipta Atas Rancangan Heli Anti Kapal Selam

Detik.21 Mei 2014

PTDI akan memiliki hak cipta rancangan helikopter AS565 Panther dengan teknologi sonar anti kapal selam (photo : Airbus Helicopter)

PTDI Rancang Helikopter Khusus Anti Kapal Selam

Jakarta -Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pabrikan pesawat dan helikopter, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) mampu merancang konsep helikopter super canggih. PTDI memiliki rancangan helikopter yang dilengkapi teknologi sonar anti kapal selam. Sonar ini mampu mendeteksi keberadaan kapal selam.

“Karena ini konsep dari PTDI jadi yang copy right atau hak cipta adalah PTDI,” kata Direktur Utama PTDI (Persero) Budi Santoso kepada detikFinance saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta Selasa (20/5/2014)

Pengembangan helikopter ini bermula ketika TNI AL ingin memiliki helikopter super canggih namun harus berukuran relatif kecil dan bisa mendarat di kapal perang tipe Frigate terbaru. Alhasil PTDI mencari cara agar bisa membuat helikopter berukuran sedang yang bisa mendarat di deck kapal perang namun mampu memiliki teknologi anti kapal selam.

Biasanya teknologi kapal selam ini ditemui dan terpasang pada helikpter berukuran besar. PTDI menggandeng produsen helikopter yakni Eurocopter dan produsen sonar dunia untuk memproduksi helikopter medium dengan teknologi sonar anti kapal selam. Proses merancang helikopter ini memerlukan waktu 2 tahun.

“Waktu kita (pemerintah) beli kapal Fregate buatan Belanda Ahmad Yani class). Itu yang sudah datang. Itu deck load hanya 5 ton jadi kita harus cari helikopter bobot 5 ton dengan senjata yang canggih. Orang mengatakan saya punya sonar bagus tapi helikopternya yang gede-gede. Nggak mungkin (untuk heli sedang). Akhirnya pakai sonar kelas lebih rendah. Kalau sonar long range itu frekuensi rendah. Dia antene gede,” terangnya.

Akhirnya lahir helikopter pertama di kelas medium yang memiliki teknologi sonar anti kapal selam. Teknologi ini dikembangkan pada jenis Helikopter AS565 Panther. Meski tidak memproduksi helikopter dan sonar, namun PTDI memiliki hak cipta rancangan helikopter AS565 Panther dengan teknologi sonar anti kapal selam tersebut.

“Buat kami ini pertama. Bagi pabrik helikopter ide pertama dan ternyata feasible untuk dikerjakan. Yang bikin sonar, dia bilang ini pertama kali dia akan pasang sonar di helikopter ini (medium),” ujarnya.

Helikopter AS 565 Panther telah dipesan TNI AL sebanyak 11 unit. Dari 11 unit tersebut, sebanyak 2 unit dilengkapi teknologi sonar anti kapal selam dan 9 tidak dilengkapi namun memiliki kemampuan untuk sewaktu-waktu dipasang teknologi anti kapal selam.

“Tahap pertama 11, namun yang pakai sonar ada 2. Itu delivery terakhir,” tegasnya.

(Detik)

May 21, 2014

Kinerja PT. PAL Sekarang Dan Masa Depan

Rabu, Mei 21, 2014

1

PT. PAL Ekspor ‘Kapal Raksasa’ Ke Jerman, Hong Kong Hingga Turki

SURABAYA-(IDB) : PT PAL (Persero) tidak hanya mengembangkan dan memproduksi kapal untuk keperluan militer. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen kapal yang bermarkas di Surabaya, Jawa Timur itu juga memproduksi kapal niaga untuk berbagai kebutuhan.

Salah satu produk unggulan yang yang terkenal adalah Kapal Kargo Star 50. Kapal raksasa berjenis box shape bulk carrier (double hull) tersebut memiliki bobot 50.000 dead weight tonnage (DWT). Kapal Kargo 50 Star buatan PAL ini telah dijual ke Jerman, Hong Kong hingga Turki.

“Yang kita ekspor Bulk Carrier. Itu produk unggulan produk PAL. Kita jual ke Jerman, Turki, Hong Kong, Italia, dan banyak negara. Ini desain PAL. STAR 50 kita kembangkan sendiri,” kata Direktur Utama PAL Firmansyah Arifin kepada detikFinance, Selasa (20/5/2014).

Firmansyah menjelaskan PAL masuk ke dalam bisnis kapal angkutan kargo yang jarang dimasuki pemain kelas dunia. Alhasil PAL mampu bersaing dengan produsen kapal dunia.

“PAL masuk ke curuk pasar. Di antara kelas 40.000 DWT-60.000 DWT. Kita garap 50.000 DWT,” sebutnya.

Kapal Star 50 merupakan kapal dengan bobot terbesar yang saat ini diproduksi PAL. Pasalnya untuk membangun kapasitas kapal lebih besar, PAL mempertimbangkan aspek investasi dan keberlanjutan pemanfaatan fasilitas. Sehingga industri kapal dalam negeri akhirnya memilih membeli kapal dengan bobot di atas 50.000 DWT dari luar negeri.

“Persoalan kalau bangun fasilitas yang besar. Bagaimana kontinuitas order,” sebutnya.

Selain kapal angkutan curah, PAL juga mampu mengembangkan dan memproduksi kapal tanker berbagai tipe.

Kerjasama Dengan Beberapa Negara Demi Kemandirian Nasional

BUMN produsen kapal, PT PAL (Persero) menggandeng perusahaan galangan kapal asal Belanda, Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS).

Kedua perusahaan kapal tersebut mengembangkan dan memproduksi kapal perang canggih tipe Perusak Kawal Rudal (PKR) atau Fregate.

Kapal Fregate ini merupakan pesanan TNI AL. Langkah menggandeng perusahaan asing ini dilakukan PT PAL untuk memperoleh transfer teknologi.

“PKR kapal tipe tinggi. Ini kalap sekelas light Fregat. Kapal PKR sedang bangun di PT PAL melalui kerjasama. Ini TOT (transfer of technology) sedang proses OJT (on job training) sehingga diharapkan kita bangun PKR,” kata Direktur Utama PAL Firmansyah Arifin kepada detikFinance, Selasa (20/5/2014).

Untuk mendukung pengembangan kapal perang tipe perusak ini, PAL telah membangun fasilitas pengembangan dan perawatan di dalam negeri. Selanjutnya, putra putri bangsa bisa memproduksi dan merawat kapal tipe Fregate di Surabaya, Jawa Timur.

“Ke depan bisa bangun sendiri,” sebutnya.

Selain mengembangkan kapal perusak, PAL juga memiliki produk unggulan lainnya di bidang militer. PAL telah mengembangkan dan memproduksi Kapal Cepat Rudal 60 Meter (KCR-60). KCR sendiri telah dikembangkan cukup lama oleh PAL ini mengadopsi teknologi kapal buatan Jerman. Kapal ini sendiri telah dipesan oleh TNI AL.

“Itu di tahun 1980-1990an pernah dibangun bersama dengan Jerman. Di situ ada alih teknologi. Setelah sekian tahun, kita baru dapat order dari TNI AL,” sebutnya.

KCR sendiri merupakan kapal perang canggih yang bisa diperuntukan untuk pertempuran udara, bawah dan atas laut. “Ini bisa untuk perang udara, permukaan, bawah laut bisa. Dia punya kecepatan tinggi tapi belum ekspor,” katanya.

Mandiri Kapal Selam Tahun 2018

Indonesia akan punya kapal selam produksi putra-putri Indonesia asli pada tahun 2018.

Kapal selam ini dikembangkan dan diproduksi oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) perkapalan, PT PAL (Persero) di Surabaya, Jawa Timur.

Proses produksi kapal selam pesanan TNI AL tersebut, paling cepat dimulai akhir 2014. Masa pengerjaan membutuhkan waktu 4 tahun.

“Dari 2014 bisa jadi 2018 atau butuh 4 tahun,” Direktur Utama PAL Firmansyah Arifin kepada detikFinance, Selasa (20/5/2014).

Untuk mendukung rencana ini, PAL telah membangun fasilitas pengembangan dan perawatan kapal selam di Surabaya. Untuk mendirikan fasilitas tersebut, PAL mengguyur anggaran US$ 250 juta.

“Investasi US$ 250 juta. Kita betul-betul mulai dari nol,” jelasnya.

Untuk mengembangkan kapal selam type DSME 209 tersebut, PAL menggandeng perusahaan kapal asal Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME). Firmasnyah menyebut pembangunan fasilitas produksi dan perawatan di Indonesia karena TNI AL masih membutuhkan tambahan kapal selam.

“Memang dari penjelasan kemenhan TNI AL butuh 12 unit. Sekarang kita baru punya 2 masih butuh banyak,” sebutnya.

Sumber : Detik
May 12, 2014

PT. DI Kembangkan Industri Pendukung TKDN N-219

Minggu, Mei 11, 2014

0

BANDUNG-(IDB) : PT Dirgantara Indonesia mendorong Kementerian Perindustrian mengembangkan industri pendukung atau komponen di dalam negeri guna menaikkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) untuk produk pesawat buatan lokal N-219.

“Kementerian Perindustrian harus mengembangkan industri pendukung dan menciptakan ‘cluster’ industri untuk mendukung peningkatan TKDN dalam produksi pesawat N-219,” kata Manajer Program N-219 PT Dirgantara Indonesia Budi Sampurno, di Jakarta, Kamis.

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam seminar “Kesiapan Industri Komponen Dalam Negeri Untuk Mendukung Kemandirian Industri Kedirgantaraan Nasional”.

Menurut Budi, dukungan industri komponen nasional sebagai supplier program N-219 sangat penting karena sejak awal masuk ke pasar, pesawat N-219 ditargetkan mempunyai kandungan lokal atau TKDN minimal 40 persen, dan akan ditingkatkan menjadi 60 persen dalam waktu lima tahun.

“Industri komponen di Indonesia sebenarnya punya potensi cukup besar untuk dikembangkan agar bisa mendukung industri kedirgantaraan nasional,” ujarnya.

Ia menjelaskan, industri pendukung yang harus dikembangkan untuk mencapai TKDN 40 persen pada produksi N-219 dalam dua tahun kedepan, antara lain acrylic/glass, plastik, karet, baja untuk tool dan jig – dari segi industri hulu.

Sementara dari industri supplier yang perlu dikembangkan, diantaranya jendela kabin pesawat, landing gear, dan bagian interior pesawat, seperti kursi, dapur, toilet.

Selanjutnya, kata Budi, industri yang harus dikembangkan untuk mencapai TKDN 60 persen dalam lima tahun berikutnya, dari segi hulu, yaitu industri alluminium alloy, titanium, cat, serat, dan bahan kimia untuk pesawat.

“Dari segi industri supplier yang perlu dikembangkan itu, industri avionik, bagian penempaan, mesin, kaca depan pesawat, radar, dan perlindungan korosi,” katanya. 

Sumber : Antara
May 12, 2014

Kemenhan Batal Beli Alutsista BTR-4 dari Ukraina

09 Mei 2014

KMDB BTR-4 (photo : Topwar)

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA —  Kementerian Pertahanan terus mengupayakan pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) guna memenuhi capaian  kekuatan minimum pokok (minimum essential forces). Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, daftar belanja alutsista TNI AL merupakan paling banyak datang pada 2014.

Hanya saja, kata dia, salah satu daftar belanja yang batal datang adalah kendaraan lapis baja Bronetransporter 4 atau BTR-4. Rencananya, Kemenhan membeli 50 unit kendaraan buatan Biro Desain Kharkiv Morozov Machine Building (KMDB) Ukraina tersebut.

Negara Eropa timur tersebut dipilih lantaran sudah dikenal sebagai produsen kendaraan lapis baja dengan kualitas bagus. “Alutsista ini masuk ke dalam rencana strategis pertama, tapi ragu-ragu jadi beli karena Ukraina sedang perang,” ujar Purnomo di sela Cyber Defence Competition 2014 di Akademi Angkatan Laut, Surabaya, Jumat (9/5).

Menurut dia, rencananya BTR-4 diperuntukkan untuk Korps Marinir. Meski begitu, ia memastikan, pembatalan pembelian itu tidak terlalu mengganggu pencapaian kekuatan minimum pokok TNI AL. Pasalnya, Kemenhan bersama Mabes AL sedang berdiskusi untuk mengalihkan anggaran yang tersedia kepada produsen kendaraan lapis baja lainnya.

Kendati begitu, ia bersyukur lantaran Korps Marinir sudah menerima sebanyak 54 tank amfibi BMP-3F dari Rusia. “Mungkin pembelian dialihkan ke negara lain, sedang dicarikan,” kata Purnomo.

Secara khusus, Purnomo menyambut baik pencapaian kekuatan pokok minimun TNI yang sudah mencakuo 40 persen. Capaian itu melebihi target yang ditetapkan sebesar 30 persen pada rencana strategis pertama periode 2009-2014.

Tolok ukurnya lantaran beberapa alutsista yang dibeli lebih banyak dari harga normal disebabkan kemampuan diplomasi delegasi Kemenhan. “Kita bakal punya skuadron helikopter Apache dan Blackhawk, skuadron Sukhoi dan F-16, dan kapal cepat rudal maupun kapal korvet,” ujar Purnomo.

(Republika)

May 12, 2014

TNI Will Build Kostrad III Division in Central Java

The Jakarta Post , 10 Mei 2014

For the Minimum Essential Force program. TNI will build Kostrad into 4 division (photo : Detik)

The Indonesian Army (TNI) announced it would build the Army Strategic Reserves Command’s (Kostrad) III Division in Central Java, thus, quashing rumors that it would be built in Sorong, Papua.

“The III Division will be built in Central Java, while the headquarters might be built in Semarang. Military personnel for this division will be transferred from other units or agencies to be more efficient,” Budiman said on Saturday.

According to Budiman, Kostrad III Division will be a reserve division for the Defense Strategic Plan (Renstra).

Currently, there are only two divisions in Central Java due to the funds needed to finance three infantry brigades, one field artillery regiment and one cavalry battalion in each division, in addition to medical battalions and essential supplies.

(The Jakarta Post)

May 10, 2014

Menhan: Masukkan Nilai Bahari dalam Pendidikan

Negeri kepulauan  tapi kalah di laut…  Bertahun tahun di indoktrinasi ajaran Mataram sih

 

 

SABTU, 10 MEI 2014

KELAUTAN

SURABAYA, KOMPAS — Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menilai, demi memulihkan mental bahari generasi muda, nilai bahari (maritime value) perlu dimasukkan ke dalam sistem pendidikan nasional.”Ketika pembangunan pendidikan sudah disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan bangsa ini, value atau nilai-nilai maritim menjadi sudut pandang utama dalam pendidikan, mulai usia dini hingga perguruan tinggi,” kata Purnomo saat berbicara dalam seminar nasional bertema ”Membangun Indonesia menuju Negara Maritim Kelas Dunia” di Komando Pengembangan dan Pendidikan TNI AL di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (9/5).

Hadir juga sebagai pembicara adalah Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Budi Susilo Soepandji, Asisten Operasi Kepala Staf TNI AL Laksamana Muda Didit Herdiawan, dan akademisi Ketahanan Nasional Universitas Gadjah Mada, Armaidy Armawi.

Purnomo menjelaskan, pendidikan maritim yang dibangun itu hendaknya sesuai dengan potensi setiap wilayah di Indonesia. Prosesnya dimulai dengan pembangunan karakter dan visi maritim sebagai landasan utama pengembangannya.

”Pendidikan selalu menjadi komponen penting dalam setiap strategi national building. Pendidikan juga dibutuhkan untuk mewujudkan keterpaduan kebijakan publik dan penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang maritim,” katanya.

Purnomo mengingatkan, orang Indonesia yang berpendidikan perguruan tinggi hanya 6-7 persen. Belum lagi, angka yang kecil itu harus dibagi menurut konsentrasi pembelajarannya. Jadi, untuk memperoleh angka konsentrasi pembelajaran maritim akan sangat kecil.

”Sudah selayaknya dunia pendidikan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran kepada generasi muda, tentang potensi sumber daya maritim dan permasalahan yang ada di Indonesia dan di dunia Internasional. Pada masa depan, Indonesia jangan hanya memiliki perguruan tinggi maritim, tetapi juga memiliki Lembaga Pendidikan Maritim. Inilah jawaban untuk memenuhi kebutuhan praktisi di bidang kemaritiman,” tutur Purnomo.

Tanpa implementasiGubernur Lemhannas Budi Susilo Soepandji mengungkapkan, Indonesia belum konsisten sadar dengan geografisnya sebagai bangsa maritim. Gagasan pembangunan ”Benua Maritim Indonesia” yang dimunculkan tahun 1996 dan Deklarasi Bunaken tahun 1998 hingga kini masih terbatas pada diskusi yang tidak disertai implementasi nyata.

”Meski ada peningkatan aspek kehidupan nasional, pencapaian tersebut belum sepenuhnya dinikmati merata di seluruh Tanah Air,” ujarnya. (ODY)

May 6, 2014

China Bangun Pabrik Baja Untuk Industri Militer Di Indonesia

KompasSelasa, Mei 06, 2014

0

JAKARTA-(IDB) : Perusahaan baja asal Tiongkok, PT Shanxi Haixin and Steel Group, siap menggelontorkan dana sebesar 50 juta dollar AS untuk membangun dua pabrik besi baja di Indonesia. Untuk memuluskan rencananya tersebut, Shanxi dipastikan mengandeng perusahaan lokal yaitu PT Trinusa Group.

Dengan status Penanaman Modal Asing (PMA), dua perusahaan tersebut sudah membentuk satu perusahaan joint venture dengan nama PT Resteel Industry Indonesia.

Achmad F Fadhillah, Chairman PT Resteel Industry Indonesia, mengatakan pembangunan dua pabrik besi baja tersebut nantinya akan terfokus di dua wilayah yaitu Batam dan Tojo Una Una (Sulawesi Tengah).

“Kemungkinan ground breaking bakal dilakukan pada akhir bulan ini. Lalu kami akan mulai produksi setelah enam bulan kemudian, atau sebelum akhir tahun sudah bisa menghasilkan produk,” katanya, Senin (5/5/2014).

Achmad menuturkan, kedua pabrik tersebut ditargetkan bisa menghasilkan produk super low carbon nickel titanium dan special steel dengan kapasitas 100.000 metrik ton per tahunnya untuk satu line produksi. Saat ini produk dari super low carbon ini banyak digunakan untuk industri militer di Tiongkok, seperti kapal dan tank.

Namun itu untuk tahap awal, perusahaan patungan tersebut berencana menambah line produksinya sebanyak 10 line, apabila proyek kedua pabrik tersebut telah rampung pada 2015.

“Satu line produksi kami investasikan sebesar 50 juta dollar AS, jadi kalau 10 line sekitar 500 juta dollar AS. Ke depan, pemerintah juga seharusnya memberikan insentif kepada kami dengan melihat nilai investasi sebesar itu,” katanya.

Menurut Achmad, yang membedakan produk baja yang dihasilkan Resteel dengan pabrik baja lain yaitu sistem produksinya menghilangkan dua proses pengolahan.

“Jadi dari iron ore (batu besi,red) bisa langsung menjadi baja. Inilah mengapa dikatakan baja tersebut disebut special steel. Hasil dari teknologi yang memerlukan energi gas ini memiliki kualitas lebih bagus dan tidak memerlukan power plant baru, hemat energi serta ramah lingkungan,” katanya.

Keuntungan lain dari proyek pembangunan pabrik besi baja ini, menurut Fadillah, akan dapat berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat serta pendapatan daerah. Mengingat kedua pabrik diperkirakan akan menyerap tenaga kerja sekitar 2.000 orang.

Atas alasan tersebut, Achmad berharap industri pertambangan di Indonesia yang semakin berkembang pesat ini dibarengi dengan sistem regulasi yang tidak tumpang tindih. “Sebaiknya regulasi yang dikeluarkan pemerintah memperhatikan kepentingan semua pihak, khususnya para pekerja tambang,” ucapnya.

Shelby Ihsan Saleh, Direktur PT Resteel Industry Indonesia, mengatakan perusahaan juga sangat berterima kasih kepada Pemerintah Indonesia atas apresiasi serta izin yang diberikan kepada pelaku industri untuk dapat diproduksi di dalam negeri.

Pasalnya, industri besi baja dengan model pengolahan dengan teknologi terbaru tersebut saat ini hanya diproduksi di dua negara, Rusia dan Tiongkok.

“Indonesia menjadi negara ketiga yang bisa memproses baja khusus tersebut. Untuk tahap awal (line produksi satu hingga tiga, red), hasil produksinya akan dikirim ke Tiongkok terlebih dahulu. Setelah itu, line produksi keempat bisa untuk konsumsi di Indonesia,” ujarnya.

May 2, 2014

PT DI Akan Bangun Heli Panther untuk TNI AL

tempo ,02 Mei 2014

Varian AS-565 Panther dengan peralatan dipping sonar (photo : CMA)

TEMPO.CO , Jakarta – PT Dirgantara Indonesia akan mendukung keinginan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut menambah kekuatan helikopter anti-kapal selam. Perusahaan pembuat pesawat dan helikopter lokal itu pun setuju dengan pilihan TNI AL pada helikopter Eurocopter AS565 Panther.

Bahkan PT DI ikut merekomendasikan nama helikopter tersebut ke Kementerian Pertahanan. “Helikopter ini paling cocok untuk TNI AL,” kata Direktur Teknologi Penerbangan PT DI Andi Alisjahbana melalui pesan pendek kepada Tempo, Rabu, 30 April 2014.

Alasannya, helikopter Panther ini sangat cocok dioperasikan di atas dek kapal perang. Bahkan, helikopter ini sudah digunakan oleh pasukan penjaga pantai Amerika Serikat atau US Coast Guard.

Alasan lain, PT DI sudah menjalin kerja sama dengan pabrikan Eurocopter sejak 1974. Saat ini, PT DI memegang lisensi perakitan helikopter produksi Eurocopter Superpuma, Fennec, dan BO 105.

Selain itu, PT DI baru saja mendapat lisensi pembuatan helikopter Dauphin yang belum lama ini sudah diserahkan ke Badan SAR Nasional. “Helikopter Panther itu cuma nama militer dari Dauphin,” katanya. Walhasil, PT DI mampu membuat helikopter Panther yang tak jauh beda dengan Dauphin.

Untuk Panther versi militer, Andi melanjutkan, PT Dirgantara Indonesia siap memasangkan alat khusus untuk memburu kapal selam musuh yang disebut dipping sonar. Alat tersebut merupakan radar pencari kapal selam yang digunakan di dalam air. Sonar ini menangkap suara pergerakan mesin dan baling-baling kapal selam di dalam air.

“Disebut dipping karena alat ini dipasang di helikopter lalu ketika hovering (melayang), alat itu diturunkan masuk ke dalam air untuk bisa mendeteksi suara kapal selam,” katanya.

Sayangnya, Andi belum mau membicarakan nominal harga helikopter anti-kapal selam Panther. Namun sumber Tempo di Kementerian Pertahanan mengatakan per unit helikopter Panther dihargai US$ 21,27 juta. “Rencana pembelian antara 11-16 unit,” kata seorang sumber yang enggan disebut namanya.

(Tempo)

April 29, 2014

Armada Ketiga TNI AL Akan Dibentuk Juli

Tempo,29 April 2014

Armada ketiga akan dibentuk di Sorong, Papua (photo : Tempo)

TNI AL Bentuk Armada Wilayah Baru

TEMPO.CO, Jakarta – Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut segera membentuk armada wilayah baru. Sesuai dengan rencana, armada wilayah ketiga di Indonesia tersebut akan dibentuk di Sorong, Papua, pada Juli nanti.

Saat ini kekuatan tempur TNI Angkatan Laut masih bertumpu pada dua armada wilayah, yakni Barat atau Armabar, dan Timur atau Armatim. “Armabar di Jakarta, dan Armatim di Surabaya,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama Untung Suropati di Markas Besar TNI AL, Cilangkap, Jakarta, Senin, 28 April 2014.

Jika armada laut Sorong diresmikan, Armada Timur di Surabaya akan berubah menjadi Armada Tengah. Menurut Untung, alasan utama TNI AL membentuk armada wilayah baru di Sorong adalah untuk meningkatkan koordinasi pengawalan wilayah laut Indonesia bagian timur.

Menurut Untung, lokasi Sorong dipilih karena memiliki geopolitik yang tepat dan strategis. Tujuan lain, untuk mempertegas kedaulatan Indonesia di kawasan, terutama wilayah timur yang dirasa masih berlubang pengamanannya.

Untuk pembagian kekuatan kapal perang, kata Untung, TNI AL akan menggunakan sistem alih bina atau pembagian kekuatan tempur yang dimiliki. Dengan kata lain, sejumlah kapal perang calon penghuni armada Sorong didatangkan dari sebagian armada Surabaya dan Jakarta.

Saat ini jumlah kapal perang milik TNI AL ada 150-160 unit. Namun, Untung menegaskan, jumlah kapal perang tersebut tidak akan dibagi rata untuk mengisi tiga armada wilayah. “Ada pertimbangannya. Bukan cuma kuantitatif saja, tapi kualitatif dan pengamatan intelijen juga,” katanya.

Penambahan armada di Sorong, Papua, juga diikuti dengan penambahan divisi pasukan marinir. Sebab, menurut Untung, idealnya pembangunan armada wilayah baru wajib diikuti dengan penempatan pasukan marinir.

“Sebab, konsep TNI kan armada terpadu, jadi harus ada kapal perang, pesawat udara, pangkalan, dan marinir,” ujarnya.

Wacana penambahan armada di Sorong sudah dibahas sejak dua tahun lalu. Selama itu pula TNI AL menyiapkan sarana dan prasarana pendukung untuk armada wilayah baru di Sorong. Dalam struktur organisasi yang baru nanti, direncanakan ada seorang panglima bintang tiga yang akan membawahi ketiga komando armada wilayah.

(Tempo)

April 28, 2014

Anggaran Militer Indonesia Terendah Di Dunia

 

Sudah paling rendah masih dikorupsi pula… Mau apa jadinya ? Lihat saja seorang jendral bisa memiliki arloji yang harganya 1 M . Dia bilang itu imitasi atau tiruan sulit bisa dipercaya, karena arlojinya hanya diproduksi sangat terbatas, dan tidak mungkin dipalsukan..  Ironis sekali, untuk beli alutsista yang mumpuni sulit tapi bisa beli arloji muahal .

 

 Sindo, Minggu, April 27, 2014

2

TANGERANG-(IDB) : Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Budiman, melakukan kunjungan kerja di Yonkav 9/Serbu Kodam Jaya. Budiman melakukan pengecekan sejumlah alutsista. Selain alutsista, dia pun meninjau kondisi perumahan asrama anggota  TNI di sana.

“Hanya Tank AMX 13 yang kondisinya sudah tak layak. Karena sebelum saya lahir pun alat tersebut sudah ada. Namun, setelah saya melakukan pengecekan hari ini. Dalam dua minggu kedepan sudah bisa dilakukan  modernisasi,” kata Budiman di Yonkav 9, Jalan Raya Serpong, Tangerang Selatan, Jumat (25/4/2014).

Sementara kendaraan jenis Tarantula menurut Budiman, semua masih dengan kondisi baik. Hanya kondisi perumahan yang perlu dilakukan perawatan. “Dengan kunjungan saya ini juga untuk melihat sejauh mana tingkat profesional para anggota prajurit  TNI,”ucapnya.

Budiman mengaku, biaya pertahanan Indonesia masih terendah dunia. “Biaya pertahanan di Indonesia baru mencakup 0,83 persen dari CDV. Kurang lebih normal  biayanya   pertahanan berkisar 2 persen dari  CDV,” ujarnya.

Dari tahun 2009-2014 anggaran untuk  alutsista yang terbesar mencapai lebih 1 MU$ atau Rp10 triliun untuk modernisasi peralatan aslutsista multy launser roket sistem.

Diantaranya, Apace, Mlrs, Sesar, 155 Monetrak, Mistral (penangkis udara) Startrix, Leopard. “Untuk sementara lebih untuk kesejahteraan rakyatnya dulu. Kalau anggaran pertahanan berlebihan juga tidak seimbang. Mudah mudahan kedepannya bisa secara pararel,” katanya.

Untuk personel, kata dia, lebih dilakukan peningkatan tentang teknologi, baik mekanik, otomotif serta IT. “Sehingga, lima tahun kedepan setelah dilakukan modernisasi alutsita sudah dibarengi dengan sumber daya manusianya. Terlebih lagi, produk pertahanan kita terbuat dari dalam negeri,” tutupnya.

Sumber : Sindo
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 81 other followers