Archive for ‘Infra’

May 21, 2012

Ini Dia Dua Proyek Kereta Api Bandara

Senin, 21/05/2012 08:05 WIB
Ini Dia Dua Proyek Kereta Api Bandara
Wahyu Daniel – detikFinance

Jakarta – Proyek jalur kereta api menuju Bandara Soekarno-Hatta sedang dikerjakan pemerintah. Ada dua jalur kereta yang disiapkan pemerintah. Apa saja?

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan Bambang S. Ervan mengatakan, jalur kereta pertama yang disiapkan untuk melayani ke bandara adalah KA Komuter.

“KA Komuter ini menggunakan rel yang ada saat ini ditambah rel baru (double track) dari Tanah Tinggi, Tangerang ke Bandara dan KA Ekpress,” jelas Bambang kepada detikFinance, Senin (21/5/2012).

Dikatakan Bambang, desain detil proyek KA Bandara Komuter sedang dibuat oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) bersama Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri (Lapi) ITB.

Sementara pembangunan double track KA Komuter Tanah Abang-Tanah Tinggi/Tangerang sudah dikerjakan oleh Ditjen KA, dan ditargetkan selesai 2013.

Lalu proyek kedua adalah KA Bandara Ekspres yang saat ini baru dibuat pra feasibilities study oleh PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) sampai Juni 2013.

“Kemudian tender badan usaha tahun 2013. Baru tahun 2014 dimulai desain dan pembangunannya,” jelas Bambang.

Seperti diketahui, Kemenhub telah menetapkan jalur kereta menuju Bandara Soekarno-Hatta akan terdiri dari dua jalur, yakni commuter line dan ekspres. Commuter line melewati Tangerang dan ekspres melewati Pluit. Kereta api bandara akan melintas setiap 15 menit hingga 30 menit.

Jalur ekspres akan dibangun dengan model melayang melalui rute Manggarai-Sudirman-Tanah Abang-Duri-Angke-Pluit-Bandara Soekarno Hatta. Proyek pembangunan jalur itu menggunakan pola kemitraan pemerintah dengan swasta atau public private partnership (PPP).

Sementara itu, rute kereta komuter melalui jalur yang sudah ada dari Manggarai-Sudirman-Tanah Abang-Duri-Grogol-Bojong Indah-Kalideres-Tanah Tinggi-Bandara Soekarno Hatta.

Direktur Utama PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) Emma Sri Martini pernah mengatakan, menyeleksi konsultan asing untuk pembangunan proyek rel kereta api bandara Soekarno-Hatta senilai Rp 2,26 triliun. Konsultan yang diseleksi berasal dari Amerika Serikat, Jepang, Kanada, Spanyol dan Prancis,” kata Emma.

Sekadar diketahui berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 126/KMK.01/2011, PT SMI ditunjuk untuk melakukan fasilitasi penyiapan proyek infrastruktur percontohan salah satunya Proyek Kerjasama Pemerintah-Swasta (KPS) Kereta Api Bandara Soekarno Hatta-Manggarai.

Penunjukan tersebut bertujuan untuk membantu PJPK dalam mempersiapkan proyek KPS, dimulai dari tahap persiapan hingga tahap transaksi proyek.

(dnl/ang)

May 17, 2012

Jakarta Port Embarks on $2.5b Expansion

Jakarta Port Embarks on $2.5b Expansion
Zubaidah Nazeer – Straits Times | May 14, 2012
Shipping containers at the Jakarta International Container Terminal at North Jakarta’s Tanjung Priok port, the biggest in Indonesia. (Antara Photo)
Related articles
Newly-Expanded Port Tanjung Priok Says It’s Ready to Serve World 8:47pm May 17, 2012
Shipping Firms Feel the Pressure From Global Slump 12:58pm Mar 8, 2012
Indonesian Port’s Expansion to End Singapore’s Domination 10:33pm Mar 5, 2012
Monitoring System to Reduce Indonesian Port Traffic 3:29pm Feb 29, 2012
Cost of North Kalibaru Container Terminal Project Soars 8:24pm Feb 2, 2012
SHARE THIS PAGE

25 6 0 2
Share with google+ :

Post a comment
Please login to post comment

Comments
Tenggara9:29pm May 14, 2012
Expanding the port is a good step forward, but unless better roads and land-based access to the port is improved there will still be problems.

D8812:58pm May 14, 2012
Great news. Yet, they should move this port outside North Jakarta, i.e. closer to the airport.

Previous1Next
Indonesia’s largest port authority is pumping in more than $2.5 billion to expand Tanjung Priok, the country’s busiest port, which has long been constrained by a lack of berth space and an inability to serve large container vessels.

The expansion of Jakarta’s port, first built by the Dutch in 1877, comes three years after a management overhaul ranked staff competency over seniority, and saw annual volume of cargo increase threefold to ride on the back of Indonesia’s economic growth.

The expansion is expected to help triple the port’s present annual capacity to more than 18 million TEUs — or twenty-foot equivalent units — when all phases are completed in 2023.

The first phase of development, which begins in July, involves the construction of three container terminals and two petroleum product terminals.

The first terminal will be completed by 2014, according to the chief executive officer of Indonesia Port Corporation (IPC), Mr Richard J. Lino, 59.

Indeed, the infrastructure overhaul is driven by the need for the overburdened port to keep up with the rapidly increasing volume of growth.

A long-term goal is to reduce dependence on Singapore’s port. Currently, a lot of Indonesia-bound goods must pass through Singapore because the wharves at Tanjung Priok are not deep or large enough to accommodate large vessels.

Eventually, said Lino, the port’s improved capacity and facilities will enable ships to bypass Singapore and sail directly from Tanjung Priok to other destinations in the region.

“The cake is big enough for everyone in the region to share,” Lino said, adding that he believes trading volume in the region will boom.

Last year, 18 per cent of the goods destined for Indonesia went through Singapore, compared with 65 percent in 2008. Lino intends to bring this down to “10 percent or below.”

Lino, who has about 30 years of experience in port management and has worked briefly in China, left Tanjung Priok port in 1990, as a senior port development manager, to set up his own business.

He recalled that when he returned to Tanjung Priok as its chief executive officer almost two decades later in 2009, he was shocked by how things seemed to have stood still.

“The port facilities were the same as when I left,” he said. “This cannot be, things are moving so rapidly and there has been pressure to change.”

As a measure of how well a port is doing, the increase in the volume being handled should be three to four times the gross domestic product (GDP) growth rate, said Lino.

In Tanjung Priok’s case, the increase averaged about 5.8 percent annually before 2008, or nearly the same rate as GDP growth. However, in 2010, the volume went up by 25 percent, or four times GDP growth.

Besides poor infrastructure such as a poor network of roads and inadequate facilities, the port also suffered as a result of outmoded work practices.

Lino instituted many changes, including replacing the erstwhile seniority-based promotion system with one based on merit and performance.

A new $50 million staff training program over three years will see staff trained in port management and related fields; 130 middle-management staff sent for master’s programs overseas, 15 in executive business master’s courses and 200 being groomed for leadership posts.

When there was a vacancy for a senior position, Lino encouraged staff who were interested to make a bid for it, instead of senior management selecting one. He eventually made his choice with the help of feedback from major clients.

To increase efficiency, IPC is working with telco company Telkom to implement a tracking system that allows traders to speedily check on the status of their goods, as is being done at major ports.

Despite the plans that have been set in motion, Lino knows he still has his work cut out for him.

To convince potential investors and clients that Tanjung Priok is being transformed into a world-class port, he has been to several countries to meet major shipping companies and business investors and try to win them over.

Asked whether the countries included Singapore, he said: “No, it is too sensitive.”

Some officials from both sides view each other as competitors, he said.

He feels that countries in the South-east Asian region should be working together to encourage more shipments to pass through their waterways.

“Business does not have boundaries,” he said. He wants more regional partners, but is limited by nationalist attitudes among some of his countrymen who would rather work with partners who are not from neighboring countries.

“Why do I have to invite mainly the Western companies to work with us? Why not keep the benefits within the region?”

Reprinted courtesy Straits Times

May 15, 2012

Percepat Proyek Tol Solo-Kertosono, PU Siapkan Rp 500 Miliar

Memang lambat sekali jalannya proyek infrastruktur di negeri ini.

Investor daily 15 Mei 2012

JAKARTA – Kementerian Pekerjaan
Umum (PU) segera menyiapkan
dana Rp 500 miliar dari total
anggaran sebesar Rp 2,06 triliun
bagi pembebasan lahan tol Solo-
Kertosono sepanjang 187 kilometer
(km). Pengalokasian anggaran tersebut
dimaksudkan untuk mempercepat
pembebasan lahan agar jalan
tol dapat dioperasikan sesuai target
tahun 2014.
Dirjen Bina Marga Kementerian
PU Djoko Murjanto mengatakan,
dana pembebasan lahan tol Solo-
Kertosono diambil dari sisa anggaran
lebih (SAL) 2011. Namun, dana
itu diperkirakan baru dapat dicairkan
pada semester II-2012, karena
seluruh dana SAL untuk Kementerian
PU yang dialokasikan sebesar
Rp 12,29 triliun belum diserahkan
oleh Kementerian Keuangan.
“Kepastian pencairan dana SAL
menunggu proses. Pasalnya, hingga
saat ini, dana itu masih dalam
verifikasi final dari Kementerian
Keuangan sebelum dikucurkan ke
Kementerian PU,” kata Djoko di
Jakarta, baru-baru ini.
Menurut Djoko, total kebutuhan
anggaran pembebasan lahan tol
Solo-Kertosono mencapai Rp 2,06 triliun.
Anggaran APBN untuk tol Solo-
Kertosono cukup besar, karena pembebasan
lahan sepanjang 187 kilometer
tersebut ditanggung pemerintah
pusat melalui pendanaan APBN.
Pemerintah juga akan mendanai
konstruksi ruas tol Solo-Kertosono
sepanjang 60 km guna meningkatkan
kelayakan proyek. Sedangkan,
sisa proyek ruas tol sepanjang 120
kilometer dibangun oleh pemegang
konsesi proyek yaitu PT
Thiess Contractor Indonesia.
Untuk memenuhi kebutuhan
pendanaan konstruksi proyek, Kementerian
PU telah mengajukan
pinjaman ke pemerintah Tiongkok
sebesar Rp 3 triliun. Secara keseluruhan,
pemerintah juga telah mengalokasikan
anggaran untuk proyek
tol Solo-Kertosono sekitar Rp 800
miliar. Dia merinci anggaran
sebesar Rp 150 miliar telah dialokasikan
tahun lalu, Rp 130 miliar tahun
ini, dan dana SAL Rp 500 miliar.
Dihubungi terpisah, Kepala Biro
Perencanaan dan Kerja Sama Luar
Negeri Kementerian Pekerjaan
Umum Taufik Widjojono mengatakan,
pihaknya belum mengajukan
pinjaman untuk konstruksi tol Solo-
Kertosono ke Tiongkok. Namun,
proses pencairan pinjaman itu diperkirakan
tahun depan.
“Pinjaman ke pemerintah Tiongkok
untuk proyek Solo-Kertosono
masih usulan. Jadi, saya perkirakan
paling cepat setahun lagi dicairkan,
karena prosesnya masih sangat
panjang,” jelas dia.
Proyek tol Solo-Kertosono yang
merupakan bagian dari tol Trans
Jawa ditargetkan mulai beroperasi
pada 2014. Ruas tol tersebut bakal
terkoneksi dengan dua ruas lainnya
yakni Semarang-Solo dan Kertosono-
Mojokerto.
Sekadar informasi, proyek tol sepanjang
187 km tersebut tidak diminati
investor dalam proses tender.
Namun, akhirnya Thiess sepakat
untuk membangun tol Solo-
Kertosono dengan syarat seluruh
dana pembebasan lahan dibebankan
ke pemerintah. Demikian pula,
pendanaan sebagian konstruksi
dianggarkan dari APBN.
“Karena secara finansial, proyek
tol kurang layak, pemerintah memberikan
dukungan agar proyek tol
layak,” kata Djoko Murjanto.
Enam Ruas Tol
Sementara itu, Menteri Pekerjaan
Umum (PU) Djoko Kirmanto
memproyeksikan hanya enam dari
sembilan ruas tol Trans Jawa yang
dapat beroperasi pada 2014. Keenam
ruas tol itu adalah Cikampek-
Palimanan, Semarang-Solo, Solo-
Ngawi, Ngawi-Kertosono, Kertosono-
Mojokerto, dan Mojokerto-
Surabaya.
“Untuk beberapa ruas tol Trans
Jawa, saya masih optimistis bisa diselesaikan
sesuai target awal, seperti
Cikampek-Palimanan dan
ruas Semarang ke arah Surabaya.
Penyelesaian yang justru agak berat
adalah untuk ruas tol dari Semarang
ke arah barat sampai Cirebon,”
kata dia.
Djoko Kirmanto mengungkapkan,
pembangunan tol dari Semarang ke
arah Cirebon bakal mundur, karena
badan usaha jalan tol (BUJT) menemui
sejumlah kendala. Dia menambahkan,
realisasi operasional tiga proyek
tol di area tersebut yaitu Pejagan-
Pemalang, Pemalang-Batang, dan
Batang-Semarang, berpotensi mundur
hingga 2015.
Kendala yang dihadapi BUJT antara
lain adalah proses pengadaan
lahan yang tersendat akibat kerancuan
aturan yang tertuang dalam
Undang-Undang No 12 Tahun 2012
tentang Pengadaan Tanah bagi
Pembangunan untuk Kepentingan
Umum. Aturan baru menyebutkan
sisa tanah yang belum dibebaskan
saat undang-undang diberlakukan,
pengadaannya bisa diselesaikan
berdasarkan regulasi baru. Namun
demikian, hingga kini petunjuk
pelaksanaan (jutlak) aturan baru
belum juga diterbitkan.
“Masalah pembebasan lahan nyaris
terjadi di seluruh ruas tol Trans
Jawa sepanjang 615 kilometer,”
imbuh dia.
Data Ditjen Bina Marga Kementerian
PU awal Februari 2012 menunjukkan,
realisasi pengadaan lahan
tol Trans Jawa baru mencapai
46,92% dari total kebutuhan lahan
seluas 656,90 hektare (ha). Dengan
demikian, pemerintah baru berhasil
membebaskan lahan sekitar
308,22 ha dan masih dibutuhkan
tanah seluas 348,68 ha. (imm)

May 14, 2012

ATC Bandara RI Jadi Sorotan

Dari Investor daily 14 Mei 2012
Oleh Inneke Lady dan Tri Murti

JAKARTA – Kondisi infrastruktur bandara di
Indonesia yang memprihatinkan, khususnya air
traffic control (ATC) menjadi sorotan menyusul
jatuhnya pesawat Sukhoi Super Jet 100 (SSJ-100)
di kawasan Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat. Pilot
SSJ-100 yang belum menguasai medan disinyalir
juga ikut memberikan andil atas kecelakaan nahas
yang merenggut 45 jiwa tersebut.

Menurut pengamat penerbangan
Alvin Lie, kecelakaan pesawat SSJ-100
yang terjadi pada penerbangan Joy
Flight sesi kedua diduga akibat penurunan
ketinggian pesawat dari
10.000 ke 6.000 kaki di atas kawasan
Gunung Salak. Petugas ATC memberikan
izin atas permintaan penurunan
ketinggian, karena mengira permintaan
dilakukan di atas Lanud
Atang Sendjaja sesuai rute Joy Flight
yang diajukan ke pemerintah. Kawasan
penerbangan di atas Lanud Atang
Sendjaja tercatat merupakan training
area yang aman bagi kegiatan demo
penerbangan, termasuk manuver.
Permintaan dari pilot yang belum
mengenal medan di Bogor dan tidak
melaporkan secara lengkap posisi pesawat,
diduga lolos dari filter pihak
ATC Bandara Soekarno-Hatta sehingga
kecelakaan maut tak terhindarkan.
Petugas ATC, lanjut dia, tidak
bisa memberikan tambahan informasi,
sebaliknya mereka justru
mengasumsikan pilot sudah mengenal
area tersebut.
“Penerbangan Sukhoi yang dilakukan
pada jam 14.30 juga sangat tidak
menguntungkan. Pasalnya, saat
itu merupakan jam sibuk di area Bandara
Soekarno-Hatta yang memiliki
keterbatasan radar dan sumber daya
manusia (SDM),” ujar Alvin lie di
Jakarta, Minggu (13/5).
Namun demikian, kata Alvin Lie,
kesalahan tidak bisa ditumpahkan
begitu saja terhadap pihak ATC. Alasannya,
seorang petugas ATC di Bandara
Soekarno-Hatta harus menangani
belasan hingga puluhan penerbangan
pesawat sehingga tidak
mungkin untuk memantau pergerakan
satu pesawat saja, dalam hal ini
pesawat SSJ-100 yang nahas itu.
Dia mengungkapkan, bandara terbesar
di Indonesia yang sudah mengalami
kelebihan kapasitas itu juga
tidak didukung fasilitas navigasi yang
memadai. Bahkan, peralatan navigasi,
di antaranya radar bandara semestinya
sudah diremajakan sejak 2005-
2006. Namun, radar usang itu masih
dipertahankan hingga sekarang.
Overconfident
Terkait alasan pilot meminta penurunan
ketinggian pesawat, pemerhati
penerbangan Samudra Sukardi
mengatakan, hal itu kemungkinan
dilakukan untuk menghindari cuaca
buruk, yakni pilot ingin menuju ke
area yang lebih terang. Alasan lain,
pilot Sukhoi Aleksandr Yablontsev
bisa saja terlalu percaya diri (overconfident)
untuk bermanuver, mengingat
rekam jejak pria kelahiran Warsawa,
Polandia itu memang luar biasa.
Dia merupakan pilot senior Rusia dan
telah mengantongi jam terbang secara
mature, yakni 14.000 jam
“Apalagi, jika pilot ingin bermanuver,
itu dimungkinkan. Pasalnya, dalam
Joy Flight memang penerbangan
diberi sedikit kebebasan untuk
memperlihatkan perfomance pesawat
guna menarik minat calon pelanggan,”
kata dia dalam sebuah acara
diskusi yang digelar akhir pekan lalu.
Namun, kata Samudra, semestinya
pilot di-briefing sebelum terbang,
seperti penerbangan harus melewati
area-area mana saja yang aman dan
disebutkan pula kondisi area tersebut.
Di sisi lain, Pilot Senior Jeffrey Adrian
menilai kecelakaan yang menimpa
Sukhoi bukan dipicu oleh pilot yang
overconfident dalam bermanuver. Sebaliknya,
manuver merupakan kegiatan
biasa yang dilakukan pilot saat
demo terbang.
“Manuver juga bisa dilakukan baik
di atas gunung maupun lautan, tetapi
pilot harus memperhatikan minimal
ketinggian penerbangan,” imbuh dia.
Jeffrey justru menyoroti minimnya
penguasaan pilot terhadap area di Bogor
dan sekitarnya. Untuk itu, pilot asing
semestinya didampingi pilot lokal yang
bertindak sebagai observer saat
menerbangi wilayah Indonesia. “Waktu
saya terbang di Hong Kong, saya juga
didampingi oleh observer yang sudah
mengenal area itu,” ujar dia.
Sementara itu, menyikapi kecelakaan
Sukhoi yang terjadi di Indonesia,
anggota Komisi V DPR Muhamad Arwani
Thomafi mengatakan, penguatan
kelembagaan otoritas bandar udara
dan sistem navigasi harus dilakukan.
“Kita harus mengejar ketinggalan.
Saat ini, kita mempunyai banyak bandara
yang kelayakannya masih kurang
untuk bisa memberikan layanan
secara optimal,” ujar Arwani.

May 11, 2012

Pemerintah Garap 89 Proyek Master ((MP3EI)Plan di 2012

Kamis, 10/05/2012 16:58 WIB
Pemerintah Garap 89 Proyek Master Plan di 2012
Ramdhania El Hida – detikFinance

Jakarta – Pemerintah berencana menyelesaikan 89 proyek Master Plan Percepatan dan Perluasan Ekonomi Indonesia (MP3EI) di 2012. Total investasi atas seluruh proyek tersebut mencapai Rp 490,7 triliun.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyebutkan dari total proyek tersebut, sebanyak 39 proyek merupakan proyek infrastruktur dengan nilai investasi sebesar Rp 195,9 triliun. Sedangkan 50 proyek lainnya adalah proyek sektor riil senilai Rp 294,7 triliun.

“Ini yang sudah divalidasi per Maret,” ujarnya saat ditemui di kantor Bappenas, Jalan Diponegoro, Jakarta, Kamis (10/5/2012).

Hatta menyatakan proyek tersebut kebanyakan berada di Sumatera dimana mencapai Rp 47,4 triliun. Adapun pelaksana tugasnya dilakukan oleh BUMN.

“Semua pelabuhan dan bandara kini dibangun oleh BUMN kecuali pelabuhan dan bandara perintis yang dilakukan oleh pemerintah,” ujarnya.

Menurut Hatta, pembangunan proyek tersebut tidak mungkin semuanya dilakukan oleh pemerintah. Oleh sebab itu, diharapkan investasi dari swasta dan BUMN dapat menutupi kebutuhan investasi proyek tersebut.

“BUMN menyediakan Rp 900 triliun sampai akhir tahun,” jelasnya.

Untuk mempercepat jalannya proyek tersebut, lanjut Hatta, pemerintah telah mengubah dan memperbaiki sejumlah regulasi berupa undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan presiden, dan beberapa peraturan menteri.

“Sudah 30 regulasi yang diperbaiki. Ada yang sedang diperbaiki dan yang akan diidentifikasi untuk diperbaiki,” jelasnya.

Namun, Hatta mengakui tetap akan ada kendala dalam pengerjaan proyek. Pasalnya, sejauh ini, undang-undang lahan belum efektif berjalan.

“Kendala utama masih lahan. Ini kendala terbesar. Sementara peraturan presidennya baru akan kita keluarkan pada Mei ini. Dengan keluarnya Perpres diharapkan semuanya lebih lancar,” jelasnya.

Oleh sebab itu, tambah Hatta, pemerintah akan mengadakan pertemuan khusus mengundang dunia usaha dan para gubernur. Pertemuan tersebut akan fokus mengidentifikasi seluruh proyek yang terkendala dengan lahan.

“Kita carikan solusinya secepat mungkin,” tandasnya.

(nia/dru)

May 8, 2012

2.155 Desa Belum Terhubung Telepon

Selasa,
08 Mei 2012
TELEKOMUNIKASI
2.155 Desa Belum Terhubung Telepon
Jakarta, Kompas – Sebanyak 2.155 desa di Indonesia sama sekali belum terhubung dengan telepon atau sarana telekomunikasi lain. Dengan dana Kewajiban Pelayanan Universal, ditargetkan desa-desa itu dapat terlayani tahun 2013 atau 2014.

Demikian diinformasikan Kepala Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika (BP3TI) pada Kementerian Komunikasi dan Informatika Santoso Serad, Jumat (4/5), di Jakarta.

”Awalnya, tahun 2007, dari 72.000 desa di Indonesia, teridentifikasi 38.100 desa belum terjangkau telekomunikasi. Setelah ditender, lalu dikerjakan oleh swasta, sudah terealisasi 31.029 desa di perbatasan, kawasan terpencil, dan pedalaman,” ujar Santoso.

Adanya desa yang belum terlayani, lanjutnya, karena sekitar 2.000 desa itu terletak di Indonesia timur dengan medan sulit. Sebanyak 900 desa itu berada di Papua. Ada desa, dengan berbagai pertimbangan, disarankan pemerintah daerah agar jangan dulu dihubungkan dengan telepon.

Dana pembangunan dari 298 perusahaan telekomunikasi yang menyetor 1,25 persen dari laba. ”Nilainya kini Rp 1,4 triliun per tahun. Telkomsel, misalnya, berkontribusi Rp 410 miliar,” kata Santoso.

Vice President Special Area Development Telkomsel Bambang Utomo mengakui bahwa medan sangat sulit. ”Konsorsium kami yang mengerjakan proyek Desa Dering ini harus berjuang keras, terutama menyiasati tak adanya listrik. Sudah begitu, baterai kami juga kerap dicuri,” ujarnya.

Bambang mengatakan, akhirnya dibuat tim pengawas untuk tiap 30 proyek Desa Dering. Fungsinya, selain mengoperasikan telepon umum, juga mengedukasi masyarakat akan pentingnya telekomunikasi.

BP3TI juga segera membangun menara-menara telekomunikasi di perbatasan. Menara- menara itu baru dibangun di Camar Bulan, Sambas, Kalimantan Barat, dan di Atambua, Nusa Tenggara Timur.

”Kami juga akan membagikan 50 unit handset bagi penduduk desa di perbatasan supaya dapat berkomunikasi,” ujar Bambang.

Di tahun ketiga atau keempat, status menara itu netral, artinya dapat dimanfaatkan operator lain juga untuk pemancar siaran televisi.

Santoso berpendapat, supaya lebih cepat perubahan budayanya menjadi lebih adaptif dengan telekomunikasi, seharusnya dipadukan dengan fasilitas internet. ”Kalau untuk di kecamatan, kini terbangun 5.748 titik layanan internet kecamatan,” ujarnya.

(RYO)

May 3, 2012

Pengguna Transportasi Meningkat

Kamis,
03 Mei 2012
Pengguna Transportasi Meningkat
Infrastruktur Belum Terbangun

Jakarta, Kompas – Badan Pusat Statistik melaporkan peningkatan arus transportasi darat, laut, dan udara selama Januari-Maret 2012 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan itu terjadi untuk angkutan penumpang dan barang. Padahal, infrastruktur transportasi belum terbangun.

Data statistik menyebutkan, kenaikan terbesar justru pada arus barang, baik melalui angkutan laut maupun kereta api. Selama Januari-Maret 2012, jumlah barang yang dibawa lewat kapal laut mencapai 52,3 juta ton, naik 18,09 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

”Arus distribusi barang yang naik juga sejalan dengan pertumbuhan ekspor,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin, Selasa (1/5), di Jakarta. Pada Maret 2012, barang yang diangkut kapal laut mencapai 18,9 juta ton, naik dari 17 juta ton pada Februari 2012.

Sementara pada Januari-Maret 2012, volume angkutan kereta barang mencapai 5,5 juta ton, naik 20,35 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2011. Adapun volume kereta barang bulan Maret sebesar 1,9 juta ton, naik 0,1 juta ton pada Februari 2012.

Sementara jumlah penumpang kereta api naik tipis 0,22 persen pada Januari-Maret 2012 ketimbang periode yang sama tahun 2011. Jumlah penumpang angkutan laut pada Januari-Maret 2012 justru turun 9,1 persen menjadi ”hanya” 1,6 juta orang dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Ahli transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata, Djoko Setijowarno, Rabu (2/5), berharap data BPS tepat. ”Bila data itu tepat, maka luar biasa. Sebab, arus barang naik saat infrastrukturnya belum ada,” ujarnya.

Djoko mengatakan, Indonesia harus segera mengejar penyediaan infrastruktur transportasi. Bila tidak, akan terjadi stagnasi. Mobilitas barang terjadi dengan ongkos logistik yang mahal.

Di sektor angkutan udara, BPS juga mencatat ada kenaikan penumpang domestik sebesar 5,7 persen menjadi 12,8 juta orang pada Januari-Maret 2012 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Penumpang udara internasional naik lebih tinggi sebesar 14,92 persen menjadi 2,8 juta orang pada Januari-Maret 2012.

”Untuk angkutan barang melalui kapal laut, saya rasa peningkatan disebabkan agresivitas Pelindo II. Pelindo II memang menginvestasikan uang untuk membeli alat bongkar-muat crane,” ujar Djoko.

Dia meminta pelabuhan untuk sesegera mungkin dihubungkan dengan kawasan pedalaman (hinterland) dengan kereta api. Tujuannya, supaya pertumbuhan volume barang di angkutan laut tidak berefek negatif dengan merusakkan jalan.

Terobosan Infrastruktur

President of Intelligent Transport System (ITS) Indonesia Bambang Susantono, yang juga Wakil Menteri Perhubungan, mengatakan, layanan transportasi harus makin efisien. ”Lakukan terobosan untuk memberdayakan teknologi,” kata Bambang.

Pada Jumat (4/5), Susantono dijadwalkan akan meresmikan penggunaan tiket elektronik di transjogja. Sekitar 10.000 pelanggan transjogja segera menggunakan tiket elektronik serupa Flazz BCA atau tiket elektronik di jalan tol.

Di sisi lain, juga harus ada terobosan pembiayaan. Kini, misalnya, ada pertentangan terkait dengan pembangunan mass rapid transit (MRT) dengan konstruksi jalan layang (elevated) atau di bawah tanah (underground).

MRT, menurut rencana, menghubungkan dari Lebak Bulus, Jakarta Selatan, melewati Jalan Fatmawati, Sudirman, Thamrin, hingga Kampung Bandan di Jakarta Utara. Jalur MRT berupa konstruksi jalan layang, mulai dari Lebak Bulus hingga ujung Jalan Sudirman. Selanjutnya, dengan konstruksi bawah tanah mulai dari Jalan Thamrin hingga Kampung Bandan. (RYO/LKT)

Facebook Twitter Email Print
KOMENTAR

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini.

KIRIM KOMENTAR

Name

lila
Email

lilamaniz68@gmail.com
Komentar

Kirim Batal

TODAY’S NEWSPAPER

NEWS ARCHIVE

MEI 2012
Sn Sls Rb Kms Jmt Sbt Mg
30 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3

TERPOPULER
Menkes Endang Rahayu Berpulang

Setelah 1,5 tahun berjuang melawan penyakit kanker paru,

……

China Tuntut AS Minta Maaf Soal Chen

Birokrasi Terlampau Gemuk

Korsel Tuduh Korut Mengacaukan Sinyal GPS

TERKOMENTARI
Angelina, Beban yang Dirasakan Keluarga…

Birokrasi Terlampau Gemuk

Jangan Berharap kepada Angelina

Kesedihan Mendalam

Kasus Rawa Tripa Mulai Diselidiki

May 1, 2012

Anggaran Infrastruktur RI Masih Rendah

Sudah rendah dikorup pula

detikFinance » Ekonomi Bisnis
Senin, 16/04/2012 07:58 WIB
Anggaran Infrastruktur RI Masih Rendah
Ramdhania El Hida – detikFinance

Jakarta – Pengamat ekonomi Institute Development Ekonomi and Finance (INDEF) Didik J Rachbini akui saat ini belanja modal untuk infrastruktur di Indonesia masih sangat rendah di bawah 5 persen dari GDP.

“Itu mestinya dialokasikan 5 persen-7 persen, tapi kita kan kurang,” ujarnya di Jakarta, Minggu (15/4/2012) malam.

Menurut Didik, jumlah tersebut perlu ditambah mengingat dengan perkembangan infrastruktur maka dapat meningkatkan perekonomian bangsa.

“Jadi, belanja modal itu dari waktu ke waktu harus ditambah karena kita memerlukan infrastruktur yang menjadi sarana untuk bisnis usaha. Kalau belanja modalnya banyak kan infrastruktur banyak, banyak orang yang dagang, komunikasi, transportasi itu lebih banyak,” ujarnya.

Caranya, lanjut Didik, dengan efisiensi anggaran untuk belanja yang bukan prioritas. Bahkan perlunya pengurangan anggaran untuk gedung-gedung pemerintahan.

“Jadi, gedung-gedung departemen tidak boleh gede-gede. Gedung-gedung Gubernur kayak di Gorontalo itu seperti Istana Hassanal Bolkiah (Sultan Brunei Darussalam), gedung-gedung terlalu besar, harusnya jadi jalan, jembatan, itu lebih bagus. kan gedung-gedung kementerian juga terlalu mewah. Saya datang ke gedung kementerian di luar negeri, biasa saja,” jelasnya.

Didik menyebutkan dengan pengetatan anggaran tersebut maka sekitar Rp 80 triliun dapat dihemat yang kemudian dapat dialokasikan untuk belanja infrastruktur.

“Kalau belanja barang untuk kantor-kantor dipotong separuh, kita dapat 80 triliun,” tandasnya.

(nia/ang)

GRATIS! puluhan voucher pulsa! ikuti terus berita dari DetikFinance di Hape-mu.
Ketik REG FIN kirim ke 3845 (khusus pelanggan Indosat Rp.1300/hari)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca Juga :
Dibanding Zaman Orba, Pemerintah SBY ‘Ngirit’ Belanja Infrastruktur
Dana Kementerian PU Rp 4,4 Triliun Diblokir Agus Marto
Infrastruktur RI Mandeg karena Korupsi
Share
Komentar terkini (0 Komentar) · Follower Komentar
Baca Komentar Kirim Komentar
Komentar kosong

Berita Terpopuler
Selasa, 01/05/2012 12:45 WIB
Buruh Berdemo, Dahlan Iskan Jalan Kaki Tinggalkan ‘Jaguar Hijau’
Selasa, 01/05/2012 15:10 WIB
Cegah Dahlan Ngamuk di Tol, Jasa Marga Pakai Sistem ‘Lawan Arus’
Selasa, 01/05/2012 11:58 WIB
Ini Dia 6 Lokasi Perumahan Terfavorit di Jabodetabek
Selasa, 01/05/2012 16:33 WIB
Tinggalkan ‘Jaguar’, Dahlan Iskan Jadi Selebritis Dadakan di Demo Buruh
Selasa, 01/05/2012 10:59 WIB
Dicari! 130.000 CPNS Mumpuni & Siap Layani Masyarakat
Komentar Terpopuler
Selasa, 01/05/2012 – 17:16
Dirjen Pajak: Infrastruktur RI Jelek Karena Banyak yang Belum Bayar Pajak
Selasa, 01/05/2012 – 05:30
Dahlan Iskan: Jaman Pak Harto Atasnya Mulus Tapi Bawahnya?
Selasa, 01/05/2012 – 09:51
Pintu Tol Kuningan Macet Parah, Dahlan Iskan Kembali ‘Naik Pitam’
Selasa, 01/05/2012 – 22:46
Dahlan Iskan: Mahasiswa Jangan Banyak Mengeluh
Minggu, 29/04/2012 – 20:32
Utang RI Rp 1.859 Triliun Sampai 7 Turunan Nggak Akan Lunas
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com

April 24, 2012

Pelindo Bangun Kalibaru

Selasa,
24 April 2012
Pelindo Bangun Kalibaru
Tahun 2014, Tahap I Terminal Pertama Dioperasikan
Jakarta, Kompas – Dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2012, PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) telah sah dan resmi membangun Terminal Kalibaru di Tanjung Priok, Jakarta. Setelah dua tahun penuh perdebatan, akhirnya Kalibaru mulai dibangun pada Juli 2012.

”Sesuai perpres, Jumat (20/4), Pelindo II sudah menyerahkan desain Kalibaru ke Kementerian Perhubungan. Pemerintah punya waktu satu bulan untuk mempertimbangkannya,” ujar Direktur Utama Pelindo II, RJ Lino, Senin (23/4), di Jakarta.

Tahap I Terminal Pertama beroperasi 2014. Total kapasitas Terminal Pertama 4,5 juta unit peti kemas 20 kaki (twenty foot equivalent units/TEUs). Akan ada tiga terminal peti kemas serta dua terminal minyak dan gas.

Dalam pemaparannya, Lino menjelaskan, akan membangun Terminal Kalibaru (New Port Priok) dari sisi timur Tanjung Priok. Akses truk akan melintasi perkampungan Kalibaru, yang kini lahannya sedang dibebaskan.

Untuk mengejar kecepatan pertumbuhan volume peti kemas, tahap I dibangun dengan konstruksi tiang pancang. Hal ini agar sirkulasi arus laut dapat terjadi di Tanjung Priok.

Dibutuhkan dana Rp 22,66 triliun untuk tahap I. ”Pelindo II akan mengucurkan Rp 11 triliun. Sisanya dihimpun dari mitra melalui anak perusahaan Pelindo II, yakni PT Pembangunan Pelabuhan Indonesia,” ujar Lino.

”Ini satu-satunya di dunia, proyek pelabuhan dengan skala besar yang tidak membutuhkan dana pemerintah,” kata Lino.

Teknis mampu

Dari sisi teknis, Direktur Operasi dan Teknik Ferialdy Noerlan menegaskan, tidak ada keraguan untuk membangun terminal itu. ”Kontraktor dalam negeri jelas mampu. Kita sudah terbiasa bangun pelabuhan,” kata dia.

Kini berlangsung lelang konstruksi yang diikuti BUMN Karya. Pelabuhan Garongkong di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, saja, berdasarkan pengamatan Kompas, dibangun kontraktor lokal PT Patriot Jaya Pratama.

Terminal tahap II direncanakan dibangun tahun 2018 dan selesai tahun 2023. Kapasitas empat terminal peti kemas di terminal tahap II mencapai 13 juta unit TEUs. Kini Priok melayani 6 juta TEUs per tahun.

”Kedalaman Kalibaru nanti mencapai 20 meter. Lebih dalam dari Singapura. Kita pesaing mereka. Minimal mereka menurunkan tarif untuk mengimbangi Indonesia,” ujar Lino. (RYO)

April 12, 2012

Percaloan + pembangunan Infrastruktur

Kamis,
12 April 2012
BANDARA BARU
Calon Lokasi Rawan Spekulan Tanah
YOGYAKARTA, KOMPAS – Belum adanya keputusan resmi mengenai penetapan lokasi bandar udara baru Yogyakarta dikhawatirkan akan memunculkan spekulan-spekulan tanah. Akibatnya, harga tanah akan melambung dan justru berpotensi membatalkan rencana pembangunan bandara.

Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo mengatakan, harga tanah sangat menjadi pertimbangan bagi pembangunan bandara baru. Jika harga tanah terlalu tinggi, investor pasti akan mencari lokasi baru yang lebih murah.

Menurut Hasto, pesisir selatan Kulon Progo, Yogyakarta, memang diwacanakan menjadi lokasi pembangunan bandara baru. Sementara keputusan pemilihan lokasi berada pada gubernur.

”Berdasarkan survei Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Kulon Progo memang nilainya tertinggi sebagai calon bandara. Namun, harga tanah sangat menjadi pertimbangan pula. Kami ingin menenteramkan masyarakat, jangan sampai mereka menjadi bulan-bulanan para spekulan,” kata Hasto, Selasa (10/4), di Yogyakarta.

Saat ini, nilai jual obyek pajak (NJOP) tanah di empat desa di pesisir selatan Kulon Progo yang diusulkan sebagai calon bandara masih di bawah Rp 100.000 per meter persegi. Keempat desa tersebut adalah Congot, Sindutan, Palihan, dan Glagah.

Warga Desa Glagah, Sumartoyo, mengungkapkan, hingga saat ini belum ada pemberitahuan resmi dari pemerintah kabupaten ataupun PT Angkasa Pura I terkait rencana pembangunan bandara di Kecamatan Temon, Kulon Progo. Sumartoyo justru mengetahui informasi ini dari pemberitaan media massa.

Sementara itu, Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X mengatakan, Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta masih menunggu hasil kajian studi kelayakan lokasi bandara di Bantul atau Kulon Progo. Seperti rencana semula, dua lokasi, yaitu Kecamatan Temon, Kulon Progo; dan Sanden, Bantul, diusulkan sebagai lokasi pembangunan bandara baru Yogyakarta.

”Kulon Progo dan Bantul harus berkompetisi. Kalau harganya tidak visible, ya, pembangunan bandara bisa pindah atau dibatalkan. Saya tidak mau kasus di Bali terulang, di mana pembangunan bandara batal karena rakyatnya tidak mau menyerahkan tanah,” kata Sultan. (ABK)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.