Archive for ‘Intelijen-Terorisme’

May 7, 2012

Umar Patek Menangis & Minta Maaf kepada Keluarga Korban Bom Bali

Kalau sungguh menyesal, coba rawat dan bayar ganti rugi buat semua korban teror..
Enteng aja ya teroris satu ini minta maaf..

Umar Patek Menangis & Minta Maaf kepada Keluarga Korban Bom Bali
Dhuran Dhara HKP – detikNews
Senin, 07/05/2012 13:33 WIB

Jakarta Terdakwa kasus bom Bali I, Umar Patek, menangis saat memohon maaf kepada keluarga korban bom. Ia berpendapat bom Natal dan bom Bali sebuah kegagalan.

“Saya minta maaf kepada keluarga korban baik korban jiwa maupun korban luka, secara fisik maupun materi,” kata Umar sambil terisak dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Jalan S Parman, Jakarta, Senin (7/5/2012).

Sidang ini mengagendakan pemeriksaan terdakwa dan dipimpin ketua majelis hakim, Encep Yuliardi.

Umar Patek mengaku menyesal telah melakukan tindakan tersebut. “Banyak korban jiwa yang berjatuhan. Itu sebenarnya tidak terkait dengan kejadian yang ada di Palestina,” ujar Umar Patek.

Ia mengatakan bom Natal dan bom Bali I tidak sesuai visi dan misi jihad. “Jadi menurut saya, itu sebuah kegagalan,” kata Umar Patek.

“Meskipun ada korban jiwa dan target yang diledakkan?” tanya kuasa hukum Umar Patek, Asludin Hanjani.

“Iya. Karena banyak warga sipil yang berjatuhan, ada umat Kristiani yang terkena, warga negara Indonesia dan warga negara asing,” jawab Umar Patek.

Dalam kesempatan itu, Umar Patek juga menyampaikan ucapan terima kasih.

“Saya berterima kasih kepada pemerintah daerah Bali dan Indonesia, juga kepada Menlu Marty Natalegawa dan Kapolri Timur Pradopo yang bisa membawa saya dan istri saya kembali ke Indonesia dan diadili di sini,” papar Umar Patek.

(aan/nrl)
Baca Juga

April 23, 2012

Drg Yuni Tak Persoalkan Penangkapan oleh Densus 88

Gawat teroris atau simpatisan teroris yang berpendidikan tinggi..

Bima | Sunday, 22 April 2012 | Koesworo Setiawan | 0 komentar | A | A | A
Drg Yuni Tak Persoalkan Penangkapan oleh Densus 88

inloughborough.com
Yuni mengaku tidak menyangka Kam terlibat jaringan terorisme.
Baca juga:
Sekelompok Orang Bakar Mapolsek Sumalata, Gorontalo
Tidak Cukup Bukti Terkait Teroris, Drg Yuni Dilepas Polri
Ini Dia Kronologi Bentrok Kostrad-Brimob Versi Mabes Polri
Bentrok Brimob-Kostrad, Menko Polhukam: Panglima TNI-Kapolri Sudah Beri Laporan
Anggota Brimob-Kostrad Terlibat Insiden, 4 Anggota TNI Luka Tembak
Jurnas.com | DOKTER gigi Yuni Ardie (46), yang ditangkap bersama Kam, di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, 13 April 2012, mengaku tidak mempersoalkan perlakuan Tim Densus 88 Mabes Polri yang menangkapnya di jalanan.

“Tidak masalah bagi saya. Saya pahami polisi menggunakan Undang Undang Teroris, sehingga menangkap orang yang diduga dengan cara apapun, kemudian surat penangkapannya menyusul. Tidak ada masalah,” kata Yuni yang dihubungi dari Mataram, Minggu malam.

Yuni sempat menjalani pemeriksaan intensif di Mabes Polri semenjak ditangkap di Kota Bima. Ia sempat jadi terduga menyembunyikan buronan teroris sehingga dikait-kaitkan dengan jaringan terorisme, namun akhirnya dilepas karena tidak cukup bukti untuk menjeratnya.

Drg Yuni tiba di Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima, Minggu (21/4) siang, dan dijemput sanak keluarganya. Bahkan ibundanya sengaja datang dari Jawa Timur untuk menjemputnya di bandara.

Sebelumnya, Drg Yuni ditangkap Tim Densus 88 Mabes Polri, ketika bersama rekan kerjanya Kam, tengah berkendaraan di Jalan Melati, Kota Bima, dari kediaman Drg Yuni hendak menuju Masjid Raya Bima untuk salat Jumat. Jarak dari kediaman Drg Yuni ke Masjid Raya, sekitar 200 meter.

Hingga kini, Kam masih dalam pemeriksaan intensif di Mabes Polri. Ia teridentifikasi terlibat dalam sejumlah aksi terorisme, termasuk dengan jaringan terorisme Cikampek, Jawa Barat. Kam teridentifikasi pernah mengikuti pelatihan terorisme di Aceh, dan dikenal sebagai ahli persenjataan.

Ia dikabarkan juga terlibat dari aksi terorisme di Poso, yang kabur kemudian bersembunyi di Bima, NTB. Yuni mengatakan, ia telah memenuhi prosedur pemeriksaan yang diberlakukan Tim Densus 88 Mabes Polri, terhadap seseorang yang diduga terlibat teroris. Ia merasa diperlakukan secara wajar selama dalam proses pemeriksaan, tidak pernah disiksa atau diperlakukan kasar.

Bahkan, diberi makan dan tempat tinggal yang layak. Yuni pun mengaku telah menjelaskan kronologi perkenalan dengan Kam hingga dipekerjakan sebagai staf di tempatnya. “Saya hanya mempekerjakan orang itu di tempat praktek. Dia datang minta kerja, saya lihat orangnya baik maka saya pekerjakan dia. Saya tidak tahu masa lalunya, dia ngaku berasal dari Jakarta,” ujarnya.

Yuni mengaku tidak menyangka Kam terlibat jaringan terorisme. Antara

March 22, 2012

Insiden Bom KBRI Paris Terkait Insiden 2004

KAMIS, 22 MARET 2012 | 07:21 WIB
Insiden Bom KBRI Paris Terkait Insiden 2004
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Jakarta – Pengamat terorisme Dynno Chresbon mengatakan penyerang kantor Kedutaan Besar RI di Paris, Prancis, Rabu, 21 Maret 2012 adalah kelompok yang sama dengan mengebom di tempat yang sama pada 8 Oktober 2004. (Baca: Front Islam Prancis Diduga Pelaku Bom KBRI Paris)

“Mereka menamakan diri Front Islam Prancis, jaringan Anshar Al Muslimin Maroko,” katanya kepada Tempo, Rabu, 21 Maret 2012. Dynno menerangkan, belum ada pernyataan resmi dari jaringan Anshar Al Muslimin Maroko soal teror di depan gedung Kedutaan Besar RI di Paris baru-baru ini. Menurut Dynno, pada 2004 kelompok itu meletakkan bom rakitan yang dibungkus dengan bendera Merah Putih.

Seperti diketahui, bom meledak di depan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Paris, Rabu, 21 Maret 2012 pukul 05.45 waktu setempat. Seperti dikutip AP, Seorang karyawan melihat tiga orang meninggalkan bungkusan, tetapi ia sempat meninggalkan tempat sebelum bom meledak. Ledakan ini menyebabkan kerusakan dan dilaporkan tidak ada korban terluka.

Para saksi melihat tiga pria meletakkan bungkusan di dekat bangunan di ibu kota Prancis. Seseorang melihat paket tersebut dan memindahkannya 10 meter sebelum kabur dari lokasi.

Bom meledak beberapa menit kemudian sekitar pukul 05.45 pagi. “Sekitar satu jam sebelum orang-orang berada di jalanan,” kata seorang sumber. Akibatnya ada kerusakan ledakan yang membuat jendela rusak dalam radius 50 meter.

JOBPIE SUGIHARTO

March 19, 2012

Ditembak di Bali, Lima Teroris Juga Diduga Perampok

Teroris sih memang pantas ditembak mati..tempat mereka memang bukan di Bumi tapi di Akhirat..

SENIN, 19 MARET 2012 | 07:44 WIB
Ditembak di Bali, Lima Teroris Juga Diduga Perampok
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Jakarta – Tembak menembak terjadi di dua lokasi di Denpasar, Ahad 18 Maret 2012 malam. Akibatnya 5 orang tewas di tempat.

Polisi melumpuhkan lima orang yang diduga akan melakukan aksi teror dan perampokan sejumlah money changer dan toko emas di Bali, Ahad malam, 18 Maret 2012. Kelimanya adalah Hn, Ag, UH alias Kapten, Dd, dan M alias Abu Hanif.

Juru Bicara Mabes Polri, Komisaris Besar Boy Rafli Amar menjelaskan, kelimanya diduga bagian dari kelompok teroris yang terkait pelaku perampokan Bank CIMB Niaga Medan, Sumatera Utara. “Mereka dilumpuhkan sekitar pukul 20.30,” kata Boy di Jakarta, Ahad 18 Maret 2012 malam.”Mereka juga diduga merampok untuk melancarkan aksinya”

Menurut Boy, lima orang tersebut ditangkap di lokasi yang berbeda. Hn, 32 tahun, asal Bandung, dan Ag, 30 tahun, asal Bali, dibekuk di Jalan Gunung Soputan, Denpasar. Adapun UH alias Kapten, Dd, 27 tahun, asal Bandung, dan M, 30 tahun, asal Makassar, ditangkap di Jalan Danau Poso, Sanur.

Boy mengatakan, semua tersangka saat proses penangkapan melakukan perlawanan dengan senjata api. Dua pucuk senpi, masing-masing dari Sanur dan Gunung Soputan, kemudian disita aparat, beserta dua magazene, 48 butir peluru kaliber 9 mm, dan cebo penutup wajah.

“Saat ditangkap, para pelaku akan melakukan perampokan di PT Bali Money Changer, di Jalan Sriwijaya, Kuta, dan toko emas di Jalan Uluwatu Jimbaran,” ujar Boy.

ISMA SAVITRI | ROFIQI HASSAN

January 5, 2012

BIN Tak Tugaskan Muchdi Pr ke Malaysia

K

KIP MUNIR
BIN Tak Tugaskan Muchdi Pr ke Malaysia
KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN
Aktivis dari Komite Aksi Solidaritas untuk Munir (Kasum), Choirul Anam (depan), Pungky (kanan), dan Mujikartika Rahayu (berjilbab), memasuki ruangan untuk mengikuti sidang pembacaan putusan sengketa informasi antara Kasum dan Badan Intelijen Negara (BIN) di kantor Komisi Informasi Pusat, Jakarta, Rabu (4/1). Kasum menyengketakan surat penugasan BIN kepada Muchdi Pr ke Malaysia agar bisa dibuka kepada publik.
Jakarta, Kompas – Komite Aksi Solidaritas untuk Munir mendesak Kejaksaan Agung segera mengajukan peninjauan kembali terhadap putusan bebas Muchdi Pr dalam kasus dugaan keterlibatan pembunuhan aktivis hak asasi manusia Munir. Kasum telah mengantongi novum atau bukti baru, yaitu pernyataan Badan Inteligen Negara yang tidak pernah menugaskan Muchdi ke Malaysia.

Hal itu disampaikan aktivis Komite Aksi Solidaritas untuk Munir (Kasum) Choirul Anam seusai sidang sengketa informasi antara Suciwati (istri Munir) dan BIN di kantor Komisi Informasi Pusat, Rabu (4/1), di Jakarta.

Pada 31 Desember 2008, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutus bebas Muchdi Pr atas dakwaan pembunuhan berencana terhadap Munir. Pada 2009, Mahkamah Agung menguatkan putusan itu.

Menurut Choirul, Muchdi diputus bebas setelah dia mampu membuktikan keberadaannya di Malaysia pada 6-12 September 2004 karena tugas BIN. Dia menunjukkan paspor yang dicap kepergiannya ke Malaysia. Muchdi membantah berhubungan dengan Pollycarpus seperti ditunjukkan call data record (CDR) melalui telepon keduanya.

”Itu menjadi bukti kuat karena alasan ke Malaysia itulah yang menyebabkan Muchdi bebas,” kata Choirul.

Awal 2011, Suciwati mengajukan sengketa informasi dengan BIN ke KIP terkait keberadaan dua surat BIN. Surat pertama adalah surat penugasan dari pimpinan BIN kepada Muchdi Pr ke Malaysia pada 6-12 September 2004. Surat itu tertuang dalam putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang membebaskan Muchdi. Surat kedua adalah surat dengan Nomor R/451/VII/2004 yang dikirim kepada Direktur PT Garuda Indonesia Indra Setiawan yang isinya merekomendasikan Pollycarpus Budihari Priyanto sebagai avian security.

Terkait sengketa surat pertama, Ketua Majelis Komisioner KIP Ahmad Alamsyah Saragih mengungkapkan, pihak BIN menegaskan bahwa surat penugasan terhadap Muchdi itu sudah dicari dan ternyata tidak ada.

Terkait sengketa surat yang kedua, KIP menyatakan, surat tersebut tidak ada. Majelis komisioner telah meminta BIN membuka hal tersebut, tetapi ditolak. KIP melakukan sidang di tempat untuk mengecek surat keluar periode Juli-September. Hasilnya ternyata kode surat R 450, K 451, dan R 452. Padahal, tak pernah ada surat keluar dari BIN dengan kode R 451.

Majelis komisioner, tambah Alamsyah, telah meminta pihak PT Garuda Indonesia mengecek surat masuk untuk Indra Setiawan. Hasilnya, surat tersebut pun tidak ditemukan.

Terkait putusan sengketa surat pertama, Ahmad mengatakan, sejauh ini KIP tidak menemukan adanya surat tersebut.

Choirul mengajukan banding ke Pengadilan Tata Usaha Negara atas putusan sengketa surat kedua. Sebaliknya, perwakilan BIN menerima putusan tersebut.

Pada Rabu kemarin, Kontras bertemu Wakil Menteri Hukum dan HAM untuk mengingatkan Kementerian Hukum dan HAM agar menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM. (ana/lok)

December 31, 2011

Radikalisasi Tunas Muda

Kompas Sabtu,
31 Desember 2011
Radikalisasi Tunas Muda
Oleh Hasibullah Satrawi

Radikalisme masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Alih-alih menemukan solusi komprehensif, jaringan radikalisme mulai menembus kehidupan tunas- tunas muda bangsa yang masih berada di jenjang pendidikan menengah atas.

Pada awal bulan ini penulis diminta mengisi materi Islam Rahmatan Lil’alamin (visi kerahmatan Islam) dalam acara pesantren kilat (di Bogor) yang diadakan oleh Kementerian Agama untuk para aktivis kerohanian Islam (rohis). Ada lebih kurang 200 aktivis rohis secara nasional yang mengikuti acara tersebut, dibagi dalam empat kelas.

Secara umum mereka dapat dikatakan sangat berpotensi radikal. Bahkan, bisa dipastikan ada 2-3 orang dari setiap kelas yang sudah positif terjangkiti ideologi radikal. Setidaknya hal ini bisa dilihat dari ekspresi ”sinisme” mereka terhadap sejumlah budaya Muslim-Nusantara seperti ziarah kubur, tawassul, dan kemajemukan. Bahkan, ada sebagian pembina rohis (juga hadir dalam acara tersebut) terang-terangan mengakui sejumlah anak didiknya sudah direkrut dan menjadi anggota NII KW 9.

Kabar baiknya (jika boleh dikatakan demikian), mereka yang positif terjangkiti ideologi radikal masih sangat terbatas. Baru 2-3 orang di setiap kelas yang memuat sekitar 50 siswa.

Namun, hal di atas tak dapat sepenuhnya bisa disebut kabar baik mengingat mereka masih berada di jenjang pendidikan menengah atas. Dengan kata lain, kenyataan ini harus tetap diwaspadai karena setidaknya menunjukkan betapa jaringan radikalisme menjalankan aksinya sedemikian sistematis. Tunas-tunas muda seperti aktivis rohis pun mulai dibidik secara serius oleh mereka.

Tentu saja ini hanyalah kesan subyektif penulis. Sangat boleh jadi kesan subyektif di atas salah alias tak sesuai dengan realitas keseharian mereka.

Sebaliknya, jika kesan subyektif tadi benar, tidak ada yang salah pada para tunas muda di atas. Jika harus ada yang disalahkan, mereka adalah ”para ustaz” (biasa disebut mentor dalam istilah mereka) dari luar sekolah yang memberikan pemahaman yang salah kepada siswa-siswi yang ada.

Al Quran dan sunah

Setidaknya ada dua hal yang bisa menjelaskan pemahaman salah yang telah diberikan kepada siswa-siswi itu. Pertama, semangat kembali ke Al Quran dan sunah. Sebagaimana di kalangan puritan dan kaum radikal, istilah kembali ke Al Quran dan sunah juga jadi semangat keberagamaan sejumlah siswa dalam acara tersebut. Padahal, mereka bahkan tak menguasai bahasa Arab, alih-alih keilmuan Islam yang termaktub dengan bahasa Arab (termasuk Al Quran dan sunah).

Tidak ada satu orang pun dari umat Islam yang tidak mau kembali kepada Al Quran dan sunah mengingat hanya Al Quran dan sunah yang ditinggalkan oleh Nabi kepada umatnya sebagai jalan selamat di dunia dan di akhirat. Namun, kembali kepada Al Quran dan sunah tak semudah yang kerap disampaikan kaum puritan dan radikal.

Kembali kepada Al Quran dan sunah membutuhkan semangat intelektualisme yang tinggi, sebagaimana keteladanan para ulama terdahulu. Kembali kepada Al Quran dan sunah berarti menguasai semua perangkat keilmuan Islam yang telah disampaikan para ulama terdahulu, mulai ilmu bahasa Arab, ilmu hadis, Al Quran, dan lainnya.

Tanpa memperhatikan hal-hal di atas, kembali kepada Al Quran dan sunah akan menjadi istilah benar yang ditujukan salah (kalimatu haqqin yuradu bihal bathil). Terkecuali jika yang dimaksud kembali kepada Al Quran dan sunah adalah kembali kepada Al Quran dan sunah versi terjemahan atau buku panduan Islam yang banyak terdapat di sejumlah kedai buku.

Jika ini yang dimaksud, kembali kepada Al Quran dan sunah jadi sangat mudah dan tak membutuhkan ketentuan-ketentuan ilmiah sebagaimana prasyarat di atas. Konsekuensinya, hal-hal yang tak termaktub dalam Al Quran dan sunah versi terjemahan pun dianggap bidah, khurafat, dan sebagainya.

Teriakan takbir

Kedua, teriakan takbir (Allahu Akbar) yang sudah jadi tradisi siswa-siswi dalam acara tersebut, termasuk di dalam kelas. Secara normatif tentu tak ada salahnya seseorang mengucapkan takbir, apalagi membacanya sebagai zikir. Namun, segala sesuatu ada tempatnya. Itu sebabnya para ulama melarang membaca asma dan ayat-ayat Allah di tempat membuang kotoran karena dianggap tidak pada tempatnya.

Dalam sejarah Islam, teriakan takbir sebagai yel-yel lazim digunakan di medan perang. Hal ini mengingat medan perang membutuhkan semangat tempur yang berkobar-kobar untuk menghadapi musuh yang nyata di depan mata. Dalam konteks di luar perang, yang dianjurkan oleh para ulama adalah selawat mengingat selawat diyakini punya pengaruh psikologis yang bersifat positif- konstruktif (ngademin). Takbir juga dianjurkan, tetapi dalam kapasitasnya sebagai zikir (dibaca pelan), bukan sebagai yel-yel.

Inilah kesalahan fatal yang kerap dilakukan oleh kaum radikal dan puritan. Di mana-mana mereka meneriakkan takbir (sebagai yel-yel), termasuk di forum-forum sosial dan keilmuan (seperti seminar dan diskusi). Ini pula yang sudah mulai menjadi tradisi baru di kalangan aktivis rohis. Bahkan, mereka secara jujur mengakui hampir di setiap forum (bahkan rapat) dibiasakan meneriakkan takbir sebagai yel-yel pembangkit semangat.

Apakah konteks sosial dan keilmuan sama dengan medan perang yang sudah secara jelas berhadapan dengan musuh yang nyata? Atau mereka memang sengaja dibidik dan dididik oleh kaum radikal untuk menjadi ”tentara perang muda” untuk menghadapi bangsanya sendiri seperti yang dilakukan oleh kaum radikal dan para teroris?

Sejatinya para aktivis rohis adalah potensi bangsa yang sangat besar. Sangat disayangkan jika potensi besar itu harus jatuh ke tangan kaum radikal dan puritan yang anti-NKRI, Pancasila, dan kemanusiaan.

Hasibullah Satrawi Pengamat Politik Timur Tengah dan Dunia Islam pada Moderate Muslim Society (MMS) Jakarta

Facebook Twitter Email Print
KOMENTAR

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini.

December 20, 2011

FPI Cs Tolak Deradikalisasi, Polri: Deradikalisasi Mencegah Aksi Teror

FPI Cs Tolak Deradikalisasi, Polri: Deradikalisasi Mencegah Aksi Teror
Hendrik – detikNews
Senin, 19/12/2011 13:22 WIB
Share

Jakarta – Polri tidak terpengaruh dengan sikap FPI Cs yang menolak program deradikalisasi terorisme. Polri menilai tujuan program deradikalisasi dibuat untuk mencegah adanya aksi terorisme lagi.

“Sebenarnya tujuan utama dari Polri melakukan pembenahan mental terhadap bekas teroris untuk menghindari mereka melakukan aksi-aksi terorisme kembali,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Saud Usman Nasution usai diskusi media dan pembangunan demokrasi di Indonesia di UI, Depok, Jawa Barat, Senin (19/12/2011).

Saud mengatakan, jika memang ada protes mengenai program deradikalisasi tersebut, itu semua merupakan hak masyarakat Indonesia yang demokrasi. Semua orang bebas menyatakan pendapatnya.

“Itu (deradikalisasi) merupakan strategis soft of force dari polisi,” ujarnya.

Menurut Saud, program ini dibuat juga agar eks teroris tersebut bisa kembali ke masyarakat dan dapat menerima perbedaan dan ke bhinnekaan negara Indonesia.

Sebelumnya 5 organisasi kemasyarakat (Ormas) berbasis keislaman melakukan pertemuan di Cipanas, Jawa Barat (Jabar). Mereka mengeluarkan enam poin rekomendasi yang isinya menolak gerakan deradikalisasi karena dinilai merupakan upaya sistematis untuk pendangkalan akidah.

5 Ormas tersebut adalah Gerakan Reformasi Islam (Garis), Front Pembela Islam (FPI), Forum Umat Islam (FUI), Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), dan Majelis Mujahiddin Indonesia (MMI).

Dalam rekomendasi tersebut tertulis dengan tegas mereka menolak proyek deradikalisasi yg dinilai sebagai upaya sistematis pendangkalan akidah Islam, memecah belah umat dan mengamputasi gerakan Islam. Mereka juga mengingatkan agar waspada gerakan deradikalisasi sebagai alat penjajahan baru terhadap Islam.

November 27, 2011

Gelar Rapat Akbar, HTI Bogor Bahas Polemik GKI Yasmin

Dari rombongan ini pasti disusupi “teroris” ..HTI sendiri organisasi yang dinyatakan terlarang oleh PBB, di Indonesia masih dibiarkan bebas lepas.. HTI tidak pernah mengakui NKRI, demokrasi dan Pancasila.

Minggu, 27/11/2011 22:31 WIB
Gelar Rapat Akbar, HTI Bogor Bahas Polemik GKI Yasmin
Fajar Pratama – detikNews
Share
7

Jakarta – Kasus keberadaan GKI Yasmin hingga kini masih jadi polemik, meski sudah terbit putusan Mahkamah Agung (MA) yang memerintahkan memerintahkan wali kota mencabut SK Pembekuan IMB gereja itu. Kasus ini masih menjadi perbincangan hangat, termasuk bagi ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), yang menggelar rapat akbar hari ini, Minggu (27/11/2011).

Polemik tentang GKI Yasmin memang menjadi bahasan utama rapat akbar HTI. Rapat akbar digelar di Plaza Balaikota Bogor dengan tema yang sensitif ‘HTI Bersama Umat Islam Kota Bogor Menolak Arogansi GKI Yasmin dan Makar Kafir Penjajah’.

Ketua DPD HTI Kota Bogor Amiruddin A Fikri melihat bahwa kasus GKI Yasmin ini merupakan penipuan. Penilaian ini sekaligus menanggapi pernyataan Juru Bicara GKI Yasmin, Bona Sigalingging, sebelumnya.

“Kita melihat situasi di lapangan saat ini. Permasalahan GKI Yasmin terus meluas, penipuan yang dilakukan pihak GKI sudah menjadi polemik,” kata Amiruddin ketika dihubungi detikcom perihal rapat akbar ini.

Amiruddin menyebutkan, pihak GKI Yasmin telah menipu masyarakat, mulai dari pembangunan gereja yang dilakukan dengan menipu warga lewat tanda tangan palsu dan menipu mengatakan IMB GKI Yasmin masih ada. Hal ini jarang dimunculkan ke publik terkait polemik ini.

HTI lanjut Amiruddin, bukan membela walikota, tapi lebih berjuang menegakkan syariat dan khilafah. “Kita tidak membela wali kota atau pejabat mana pun, disini posisi kita membela umat Islam,” lanjut dia.

Amiruddin mengatakan, salah satu poin yang dibahas dalam rapat akbar ini terkait putusan MA yang disebutnya menjadi landasan oleh pihak GKI bahwa wali kota tidak menjalankan putusan MA dinilai tidak benar.

Amiruddin menjelaskan, Putusan MA tanggal 9 Desember 2010 memerintahkan wali kota mencabut SK Pembekuan IMB GKI Yasmin telah direspons oleh wali kota melalui SK Wali Kota nomor 503.45-35 tentang pencabutan pembekuan IMB tanpa syarat.

“Apa yang dituduhkan GKI bahwa wali kota tidak melaksanakan putusan MA adalah salah. Wali Kota sudah meresponnya,” kata Amiruddin.

MA sudah mengeluarkan keputusan nomor 127 PK/TUN/2009 pada 9 Desember 2010. MA menolak permohonan Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan Pemkot Bogor berkait dengan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Gereja GKI Yasmin Bogor. Ombudsman RI juga telah mengeluarkan rekomendasi bernomor 0011/REK/0259.2010/BS-15/VII/2011 pada 8 Juli 2011 tentang pencabutan keputusan Wali Kota Bogor tentang IMB GKI Yasmin.

Sementara, beberapa hari lalu Walikota Bogor Diani Budiarto mengaku sudah menjalankan keputusan MA itu, yaitu mencabut pembekuan SK tanggal 8 Maret 2011. Namun, kata dia, ada pertimbangan-pertimbangan lain terkait eksakalasi dan stabilitas daerah, sehingga dia menawarkan tiga solusi, yaitu mengembalikan biaya perizinan, atau membeli tanah dan bangunan atau memfasilitasi relokasi. “Tapi pihak GKI Yasmin tidak mau,” jelas Diani.

November 22, 2011

Masyarakat Resistan Islam Radikal

Selasa,
22 November 2011
SURVEI PERSEPSI PUBLIK
Masyarakat Resistan Islam Radikal

Jakarta, Kompas – Hasil survei Setara Institute tentang persepsi publik tentang Islam radikal di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta menggambarkan, ternyata masyarakat resistan terhadap keberadaan kelompok-kelompok Islam radikal. Masyarakat juga menilai keberadaan kelompok itu dengan berbagai aktivitasnya mengakibatkan munculnya citra negatif terhadap agama dan umat Islam. Survei juga menyimpulkan, sangat sedikit anggota masyarakat yang bersedia mendukung kelompok Islam radikal.

Ketua Badan Pengurus Setara Institute Hendardi mengatakan, Jawa Tengah dan DIY dipilih sebagai tempat survei karena di daerah itu terdapat kelompok Islam radikal yang aktif menyebarkan gagasan dan perjuangannya ke sejumlah daerah lain. Jateng, terutama Solo, menurut Hendardi, menarik perhatian karena menjadi pemasok orang-orang yang siap berangkat ke sejumlah daerah yang dilanda konflik, seperti Poso dan Ambon.

Hal menarik lain yang membuat Jateng dan DIY menjadi lokasi survei adalah di daerah ini justru jarang terjadi kekerasan berdimensi agama, kecuali saat kerusuhan Temanggung dan peledakan bom di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo. ”Survei ini bagian dari riset komprehensif yang masih dilakukan terkait dengan Islam radikal di Jateng dan DIY, terutama menyangkut relasi dan transformasi gerakan. Riset komprehensif ini akan menjawab peta baru gerakan termasuk transformasinya dari organisasi radikal menjadi organisasi teroris,” kata Hendardi di Jakarta, Senin (21/11).

Jumlah responden survei 1.200 orang dengan margin of error 2,2 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Pengambilan sampel melalui stratified random sampling, dengan menggunakan teknik wawancara tatap muka. Penetapan wilayah survei didasarkan kajian berbagai literatur yang menunjukkan di daerah tersebut terdapat organisasi Islam radikal, seperti Solo, Sukoharjo, Klaten, Temanggung Karanganyar, Pekalongan, Pemalang, Kendal (Jateng), Sleman, Yogyakarta, dan Bantul (DIY).

Wakil Ketua Badan Pengurus Setara Institute Bonar Tigor Naipospos mengungkapkan, meskipun hasil survei menunjukkan ada persamaan antara kelompok Islam radikal dan kelompok teroris, terutama dari segi tujuan, ditambah kelompok Islam radikal tak pernah secara terbuka menentang terorisme atas nama agama, responden juga membedakan kelompok Islam radikal dengan kelompok teroris. ”Bahwa memang ada perbedaan kelompok radikal dengan teroris di mata responden, antara lain kekerasan yang dilakukan kelompok radikal tidak mengakibatkan hilangnya nyawa, seperti yang dilakukan teroris,” kata Bonar.

Terkait hal itu, hasil survei menunjukkan, mayoritas responden tidak setuju dengan pernyataan bahwa Islam membenarkan cara-cara kekerasan yang dilakukan kelompok Islam radikal. Responden juga menolak menyamakan jihad dengan kekerasan.

Resistansi terhadap kelompok Islam radikal ini terlihat dari mayoritas responden (82 persen) yang menyatakan tidak mendukung keberadaan organisasi Islam radikal dalam bentuk pemberian sumbangan atau sebagai pengikut (78.7 persen). (BIL)

November 15, 2011

Senjata Diduga Dipasok dari Filipina

Selasa,
15 November 2011
TERORIS
Senjata Diduga Dipasok dari Filipina

Jakarta, Kompas – Senjata-senjata yang disita saat penangkapan enam orang terduga jaringan teroris dari kelompok Abu Omar diduga dipasok dari Filipina. Senjata-senjata itu dimasukkan ke Indonesia melalui jalur Nunukan, Balikpapan, Makassar, dan Surabaya. Senjata- senjata itu direncanakan digunakan untuk menyerang kantor- kantor kepolisian.

Demikian dikatakan Direktur Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Petrus Golose, di Jakarta, Senin (14/11). ”Polisi antiteror masih mencari senjata yang disimpan para tersangka di Depok. Belum tahu jumlahnya berapa,” katanya.

Hingga Senin malam, polisi antiteror belum menemukan senjata yang diduga disimpan di kawasan hutan di sekitar Kampus UI Depok tersebut.

”Tersangka juga dibawa untuk menunjukkan tempatnya. Namun, belum ditemukan,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Boy Rafli Amar.

Secara terpisah, Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution mengatakan, dari penangkapan enam orang terduga teroris pada Sabtu dan Minggu lalu, polisi antiteror menyita 2 senjata jenis M16, 1 senjata jenis jungle, 1 jenis senjata FN, dan 800-an peluru.

Keenam tersangka tersebut berinisial DAP, BH, AA, SGO, DWT alias N, dan S. Mereka ditangkap di daerah Tangerang, Bekasi, dan Duren Sawit, Jakarta Timur. Mereka diduga terkait jaringan pelaku teror di Cirebon.

Boy Rafli Amar menambahkan, para terduga teroris itu diduga menerima, menyimpan, atau menguasai senjata dari Abu Omar. Dari pemeriksaan sementara, ditemukan juga dokumen terkait perencanaan penyerangan terhadap kantor-kantor kepolisian.

Penangkapan SGO alias Sugih pada Minggu mengagetkan warga RT 06 RW 13 Kampung Rawabacang, Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi. Warga setempat mengenal SGO sebagai Alim atau Alam dari Solo, Jawa Tengah.

Ketua RT 06 Widodo, Senin, mengatakan, Alim baru tinggal dua bulan di pemondokan yang diubah menjadi warung makan. ”Dia belum pernah menyerahkan fotokopi identitas diri biarpun sudah saya tegur,” katanya.

(fer/BRO)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.