negeri tetangga nan brengsek !
+++
Malaysia.. Duh, Malaysia
inilah.com/Grafis
Oleh:
Nasional – Senin, 5 Desember 2011 | 13:48 WIB
Powered by Translate
Duh, Malaysia…, Malaysia. Sampai kapan negeri yang cuma punya penduduk 27 juta orang ini berhenti melecehkan Indonesia? Setelah batik, reog Ponorogo, lagu Soleram, tari Pendet serta masakan rendang diklaim sebagai miliknya, kini giliran orangutan Indonesia dibantai oleh perusahaan negeri jiran itu, dan tragisnya di wilayah Indonesia.
Simak saja laporan Yaya Rayadin, peneliti dari Pusat Penelitian Hutan Tropis, Universitas Mulawarman, Samarinda. Yaya menemukan puluhan orangutan tewas mengenaskan di Desa Puan Cepuk, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.Sebelum tewas, ya ampun, puluhan orangutan itu lebih dulu disiksa.
Yaya tak sendirian. Temuannya diperkuat hasil investigasi yang dilakukan Centre for Orangutan Protection (COP). Lembaga swadaya masyarakat ini menemukan seekor orangutan dewasa yang terluka parah. Orangutan malang itu ditemukan di dalam areal perkebunan kelapa sawit PT Khaleda Agroprima Malindo, milik pengusaha asal Malaysia.
“Wajah orangutan tersebut bengkak dan berlumuran darah, kemungkinan dipukuli dengan benda tumpul. Kondisinya, terlalu lemah untuk bergerak,” tutur juru kampaye COP, Hardi Baktiantoro.
Kayu Disikat, Tanah Diserobot
Malaysia memang sempat dituding sebagai penadah terbesar kayu-kayu hasil pembalakan liar di Indonesia. Kasus terbaru adalah terbongkarnya praktik pengiriman kayu curian ke Malaysia lewat Kalimantan Barat secara besar-besaran, nilainya mencapai triliunan rupiah.
Malaysia memang menikmati manisnya hasil penjualan kayu log. Pada 2000, penjualan kayu log dari Malaysia tercatat menjadi yang tertinggi di dunia melampaui Amerika Serikat di kisaran US$ 650 juta. Angka tersebut terus bertahan hingga sekarang di level antara US$ 700 juta-US$ 800 juta pertahun.
Pengusaha dari Malaysia diduga membangun dan memanfaatkan jalan logging yang digunakan untuk mengangkut kayu ilegal dari kawasan suaka margasatwa di perbatasan Kalimantan Barat dengan Malaysia.
“Sekitar tiga bulan lalu saya bersama Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan terbang di atas hutan perbatasan Kalimantan Barat dan Malaysia. Kami menemukan jalan `logging yang cukup panjang,” ungkap Menteri Lingkungan Hidup (saat itu) Gusti Muhammad Hatta.
Kebangetan, memang. Gilanya lagi, perusahaan-perusahaan sawit Malaysia juga doyan menyerobot tanah perbatasan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat baru-baru ini mendapati aksi penyerobotan wilayah Indonesia oleh dua perusahaan sawit Malaysia di wilayah perbatasan, yakni di Dusun Berangan, Desa Janting, Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu dan Dusun Beruang Desa Sebunga, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas.
Ikan Dicuri, Udara Diakali
Tak puas dengan menggusur, pengusaha Malaysia asal Tawau petantang-petenteng masuk dengan bebasnya ke Sebatik. Mereka merampok kekayaan laut yang ada di sana. “Kedoknya dengan membiayai nelayan-nelayan di Sebatik untuk menangkap ikan, kemudian hasilnya dibawa ke Tawau,” ujar aktivis LSM Komunitas Hijau Jufri.
Menjengkelkan sekali. Benar-benar menjengkelkan. Negeri berpenduduk 237 juta jiwa ini seperti tak dianggap oleh negeri yang hanya dihuni 27 juta jiwa. Cerita di sektor perbankan tak kalah menjengkelkan. Kalau perbankan Malaysia begitu mudahnya masuk ke Indonesia, sebaliknya tak begitu bagi perbankan Indonesia. Bank Mandiri yang ingin membuka cabang di Malaysia hanya diberikan izin outlet yang masih terbatas pada jasa pengiriman uang (cash to account).
Yang paling anyar terjadi di sektor penerbangan. Pada 17 November lalu Pemerintah Indonesia meneken nota kesepahaman (MoU) perjanjian penerbangan udara (air services agreement/ ASA) dengan Malaysia. Dalam MoU itu pemerintah memberikan maskapai Malaysia menggarap rute-rute gemuk di Indonesia, tapi maskapai Indonesia hanya diberi rute-rute kurus di Malaysia.
Ini belum cerita tentang nasib tenaga kerja Indonesia (TKI) yang diperlakukan semena-mena di sana. Entahlah siapa yang pintar, siapa yang bodoh. Yang jelas, pengusaha dan Pemerintah Malaysia sudah begitu banyak merugikan Indonesia. Sampai kapan agresi ini dibiarkan?
Laporan selengkapnya bisa disimak pada Majalah Inilah REVIEW Edisi ke -15 yang terbit Senin, (5/12/2011).