Archive for ‘Its Malaysia, Stupid !’

January 23, 2012

Pria Malaysia Klaim Bakal Jadi “Raja Indonesia”

Orang Malay atau Melayu. memang edan dan dungu (lebih dari bodoh),1) senang mengklaim segala sesuatu adalah miliknya walaupun terbukti sebaliknya.. Dan se
2) gemar menyiksa orang..lihat saudara TKI yang menjadi korban
3) gemar mencuri ..lihat pencurian kayu dan hasil tambang di daerah perbatasan Indonesia Malaysia
4) gemar merusak lingkungan hidup lihat kasus pembantaian orang oetan..
5) SUDAH gila beneran ada yang mengklaim ingin “menjadi raja Indonesia” . Eh cik, Indonesia itu negara republik .

Pria Malaysia Klaim Bakal Jadi “Raja Indonesia”
| Kistyarini | Senin, 23 Januari 2012 | 15:14 WIB
Dibaca: 27158Komentar: 56
| Share:

Utusan Malaysia
Pengusaha Malaysia Kamal Ashnawi mengaku sebagai keturunan raja Jawa dan akan menjadi raja Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.
TERKAIT:
Ini Daftar 40 Orang Terkaya Indonesia
Liang Wengen, Orang Terkaya di China karena Alat Berat (1)
Sheikh Mansour Terkaya di Dunia Sepak Bola
Bill Gates, Orang Terkaya Amerika Versi Forbes 400
Orang Terkaya Dunia Tekor Besar
KUALA LUMPUR, KOMPAS.com – Seorang pengusaha Malaysia mengklaim akan menjadi “raja Indonesia dalam beberapa tahun mendatang”. Utusan Malaysia melaporkan, Sabtu (21/1/2012), lelaki bernama Kamal Ashnawi itu mengaku keturunan raja Jawa dan bernama Raden Mas Prabhu Gusti Agung Ki Asmoro Wijoyo.

Dalam sebuah konferensi pers, Jumat (20/1/2012) malam, Kamal mengaku memiliki tabungan sebesar 5 triliun euro (Rp 57.661 triliun). Untuk mendukung klaimnya, Kamal menunjukkan salinan pernyataan bank HSBC London. Bila klaim itu benar, Presiden dan CEO Sierra Petroleum Sdn Bhd itu tentu berhak menyandang gelar orang terkaya dunia.

Hartanya jauh melebihi kekayaan Carlos Slim, taipan Meksiko yang menduduki peringkat 1 daftar orang terkaya dunia menurut majalah Forbes dengan nilai kekayaan mencapai 63,3 milyar dollar AS (Rp 566 triilun). Sementara itu menurut Forbes, orang terkaya Malaysia adalah Ananda Krishnan, yang memiliki kekayaan “hanya” 9,6 milyar dollar AS (Rp 85,8 triliun).

Kamal memang bukan orang miskin. Namun, dari mana asal hartanya yang luar biasa itu?

Kamal mengaku harta itu diwarisinya dari rekening Combined International Collateral of the Global Debt Facility yang dibuat oleh keluarga kerajaan dunia pada 1875.

Kamal menggelar konferensi pers untuk membantah sejumlah tuduhan terhadapnya, menyusul kegagalan proyek kilang minyak mentah di Kuala Kedah yang diajukannya pada 2005.

“Ini tawaran terakhir saya untuk membantu orang Melayu dan perusahaan-perusahaan dengan menginvestasikan tiga proyek di Perlis, Johor, dan Kelantan, dalam waktu dekat,” katanya seperti dikutip Utusan Malaysia.

Proyek-proyek yang diajukannya adalah pusat wisata komersial di Kuala Perlis, taman wisata bertema Pirates of the Caribbean di Danga Bay, Johor Baru, serta sebuah proyek komersial di Kelantan.

Kamal mengatakan, semua urusan yang berkaitan dengan ketiga proyek itu diserahkan ke SAS Group, sebuah kelompok alumni pejalar Sekolah Alam Shah, tempatnya dulu bersekolah.

Sejak proyek kilang minyak di Kedah itu gagal, Kamal mengaku lebih banyak tinggal di luar negeri untuk mengurusi bisnisnya. Sementara ini dia tinggal di Hongkong sebelum berangkat ke Indonesia pada bulan Maret mendatang.

Sumber :Utusan Malaysia

Share
194

December 7, 2011

Malaysia.. Duh, Malaysia

negeri tetangga nan brengsek !
+++
Malaysia.. Duh, Malaysia

inilah.com/Grafis
Oleh:
Nasional – Senin, 5 Desember 2011 | 13:48 WIB

Powered by Translate
Duh, Malaysia…, Malaysia. Sampai kapan negeri yang cuma punya penduduk 27 juta orang ini berhenti melecehkan Indonesia? Setelah batik, reog Ponorogo, lagu Soleram, tari Pendet serta masakan rendang diklaim sebagai miliknya, kini giliran orangutan Indonesia dibantai oleh perusahaan negeri jiran itu, dan tragisnya di wilayah Indonesia.

Simak saja laporan Yaya Rayadin, peneliti dari Pusat Penelitian Hutan Tropis, Universitas Mulawarman, Samarinda. Yaya menemukan puluhan orangutan tewas mengenaskan di Desa Puan Cepuk, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.Sebelum tewas, ya ampun, puluhan orangutan itu lebih dulu disiksa.

Yaya tak sendirian. Temuannya diperkuat hasil investigasi yang dilakukan Centre for Orangutan Protection (COP). Lembaga swadaya masyarakat ini menemukan seekor orangutan dewasa yang terluka parah. Orangutan malang itu ditemukan di dalam areal perkebunan kelapa sawit PT Khaleda Agroprima Malindo, milik pengusaha asal Malaysia.

“Wajah orangutan tersebut bengkak dan berlumuran darah, kemungkinan dipukuli dengan benda tumpul. Kondisinya, terlalu lemah untuk bergerak,” tutur juru kampaye COP, Hardi Baktiantoro.

Kayu Disikat, Tanah Diserobot

Malaysia memang sempat dituding sebagai penadah terbesar kayu-kayu hasil pembalakan liar di Indonesia. Kasus terbaru adalah terbongkarnya praktik pengiriman kayu curian ke Malaysia lewat Kalimantan Barat secara besar-besaran, nilainya mencapai triliunan rupiah.

Malaysia memang menikmati manisnya hasil penjualan kayu log. Pada 2000, penjualan kayu log dari Malaysia tercatat menjadi yang tertinggi di dunia melampaui Amerika Serikat di kisaran US$ 650 juta. Angka tersebut terus bertahan hingga sekarang di level antara US$ 700 juta-US$ 800 juta pertahun.

Pengusaha dari Malaysia diduga membangun dan memanfaatkan jalan logging yang digunakan untuk mengangkut kayu ilegal dari kawasan suaka margasatwa di perbatasan Kalimantan Barat dengan Malaysia.

“Sekitar tiga bulan lalu saya bersama Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan terbang di atas hutan perbatasan Kalimantan Barat dan Malaysia. Kami menemukan jalan `logging yang cukup panjang,” ungkap Menteri Lingkungan Hidup (saat itu) Gusti Muhammad Hatta.

Kebangetan, memang. Gilanya lagi, perusahaan-perusahaan sawit Malaysia juga doyan menyerobot tanah perbatasan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat baru-baru ini mendapati aksi penyerobotan wilayah Indonesia oleh dua perusahaan sawit Malaysia di wilayah perbatasan, yakni di Dusun Berangan, Desa Janting, Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu dan Dusun Beruang Desa Sebunga, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas.

Ikan Dicuri, Udara Diakali

Tak puas dengan menggusur, pengusaha Malaysia asal Tawau petantang-petenteng masuk dengan bebasnya ke Sebatik. Mereka merampok kekayaan laut yang ada di sana. “Kedoknya dengan membiayai nelayan-nelayan di Sebatik untuk menangkap ikan, kemudian hasilnya dibawa ke Tawau,” ujar aktivis LSM Komunitas Hijau Jufri.

Menjengkelkan sekali. Benar-benar menjengkelkan. Negeri berpenduduk 237 juta jiwa ini seperti tak dianggap oleh negeri yang hanya dihuni 27 juta jiwa. Cerita di sektor perbankan tak kalah menjengkelkan. Kalau perbankan Malaysia begitu mudahnya masuk ke Indonesia, sebaliknya tak begitu bagi perbankan Indonesia. Bank Mandiri yang ingin membuka cabang di Malaysia hanya diberikan izin outlet yang masih terbatas pada jasa pengiriman uang (cash to account).

Yang paling anyar terjadi di sektor penerbangan. Pada 17 November lalu Pemerintah Indonesia meneken nota kesepahaman (MoU) perjanjian penerbangan udara (air services agreement/ ASA) dengan Malaysia. Dalam MoU itu pemerintah memberikan maskapai Malaysia menggarap rute-rute gemuk di Indonesia, tapi maskapai Indonesia hanya diberi rute-rute kurus di Malaysia.

Ini belum cerita tentang nasib tenaga kerja Indonesia (TKI) yang diperlakukan semena-mena di sana. Entahlah siapa yang pintar, siapa yang bodoh. Yang jelas, pengusaha dan Pemerintah Malaysia sudah begitu banyak merugikan Indonesia. Sampai kapan agresi ini dibiarkan?

Laporan selengkapnya bisa disimak pada Majalah Inilah REVIEW Edisi ke -15 yang terbit Senin, (5/12/2011).

August 7, 2011

Muslim Malaysia Lecehkan Gereja Kristen?

Muslim Malaysia Lecehkan Gereja Kristen?

Headline

Gereja Metodis – skyscrapercity.com

Oleh: Vina Ramitha
Kamis, 4 Agustus 2011 | 16:26 WIB

INILAH.COM, Kuala Lumpur – Pejabat gereja Malaysia menuding otoritas Islam memasuki gereja secara paksa dan melecehkan umat yang sedang menghadiri jamuan komunitas.

Insiden ini, diberitakan Straits Times, bisa memicu tudingan lama. Yakni Islam sebagai agama mayoritas tak menghormati hak-hak umat Kristen, Budha dan Hindu yang minoritas.

Pemerintah berulangkali menyangkal tak adil terhadap minoritas, meski ada banyak keluhan seputar isu ini. Termasuk diantaranya melibatkan orang yang pindah agama serta larangan terhadap Alkitab dalam Bahasa Melayu.

Setidaknya 20 petugas dari Departemen Islam di Negara Bagian Selangor bersama polisi, dilaporkan masuk paksa ke Gereja Metodis pada Rabu (3/8). Menurut Pendeta Daniel Ho, mereka memotret para tamu.

“Juga merekam makan malam yang dihadiri lebih dari 100 orang itu,” ujar Ho. Polisi yang masuk paksa menyatakan, banyak keluhan yang tak dijelaskan mengenai jamuan yang mereka gelar itu.

Otoritas Islam di Malaysia terkadang khawatir mengenai Muslim yang datang ke sebuah acara yang digelar oleh gereja. Mereka khawatir, orang-orang tersebut akan pindah agama ke Kristen.

August 7, 2011

Demi Citra, PM Malaysia Suap Stasiun TV

Demi Citra, PM Malaysia Suap Stasiun TV
Iwan Santosa | Benny N Joewono | Sabtu, 6 Agustus 2011 | 15:05 WIB
Dibaca: 19573
|
Share:
topnews.com.sg

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com - Stasiun TV internasional CNBC membatalkan siaran program utama mereka World Business yang diduga menerima suap dari Perdana Menteri Malaysia Najib Razak untuk wawancara khusus dan pencitraan pemerintah Malaysia.

Situs themalaysianinsider.com pada Kamis malam (4/8/2011) merilis laporan FBC Media sebuah perusahaan jasa humas di Inggris menerima uang jutaan Ringgit Malaysia untuk merekayasa pemberitaan.

CNBC menyatakan sedang menginvestigasi sepak terjang FBC Media dengan PM Najib dan pemerintah Sarawak agar stasiun TV internasional yang dipercaya pelaku bisnis dunia itu tidak terkena nasib seperti tabloid News of The World, yang tutup setelah terlibat skandal pemberitaan yang melanggar hukum.

“Sebagai jawaban atas pertanyaan Malaysian Insider kami mengakui sudah menutup program World Business karena dugaan jual-beli berita dan mulai menginvestigasi FBC dan praktik bisnis mereka,” kata Wakil Presiden Komunikasi dan Pemasaran CNBC Charlotte Westgate dalam surat elektronik.

World Business dipimpin Redaktur Pelaksana CNBC, John Defterios langsung dihentikan tayangannya setelah sebuah pemberitaan internet di Negara Bagian Sarawak melansir berita dugaan suap oleh PM Najib dan pemerintah Sarawak terhadap program paling bergengsi, yang juga ditonton jutaan pebisnis di Indonesia itu. Berita online oleh Anil Neto di Sarawak menulis “CNBC Memutus Hubungan Dengan FBC Media!”.

Seorang whistle blower di London mengungkapkan betapa politisi kubu penguasa Malaysia, Barisan Nasional (BN) membayar jutaan Ringgit dari anggaran nasional ke FBC untuk mengatur pemberitaan yang “baik-baik” di Stasiun TV CNBC.

Laporan dari Sarawak menampilkan sederet nama politisi seperti PM Najib Razak, mantan PM Abdullah Badawi, Menteri Kepala Sarawak Tan Sri Taib Mahmud, menggunakan suap untuk membeli pencitraan di TV CNBC dan media internasional lainnya.

“Mengijinkan program dibayar oleh politisi merupakan praktik penipuan jutaan pemirsa yang mengira mereka sedang menonton tayangan yang obyektif dan tidak memihak. Ini merupakan kejahatan berat terhadap hukum penyiaran. Terlebih bagi perusahaan global sekelas CNBC dan induk usahanya NBC di Amerika Serikat,” ujar laporan dari Sarawak itu.

Charlotte Westgate, menolak memberikan keterangan lebih lanjut untuk saat ini karena pihaknya masih terus menyelidiki skandal itu. Selain dengan CNBC, FBC mengakui pihaknya juga berhubungan profesional dengan BBC dan CNN. (Themalaysianinsider.com/anilneto.com/Iwan Santosa)

August 4, 2011

Istri PM Najib dan Cincin 24 Juta Dollar AS

Negeri tukang menyiksa buruh migran, menyimpan banyak “dirty secret”//

Kompas 4 Agustus 2011
MALAYSIA
Istri PM Najib dan Cincin 24 Juta Dollar AS
Dalam dua pekan terakhir, terjadi saling serang dan pembelaan antara media kubu oposisi dan media propemerintah terkait kepemilikan sebentuk cincin berlian senilai 24 juta dollar AS (setara Rp 203 miliar) dengan Datin Sri Rosmah Mansor, istri Perdana Menteri Malaysia Mohamad Najib bin Tun Haji Abdul Razak.

Jumat (29/7) pekan lalu, Datin Sri Rosmah Mansor muncul dan mengungkapkan bantahan di harian berbahasa Inggris, The Star, yang menyatakan tuduhan itu adalah fitnah dan tidak berdasar. Pelbagai foto pemberitahuan bea cukai (Kastam Malaysia) atas impor sebentuk cincin berlian senilai 24 juta dollar AS lebih dari pialang berlian kelas dunia Jacob and Co di New York, AS, dan nama pengekspor atas nama Datin Sri Rosmah Mansor beredar luas di internet. Bantahan Datin Rosmah menghiasi halaman favorit di situs Thestaronline.com. Rosmah menduga ada pihak yang memanfaatkan namanya dikaitkan dengan cincin berlian yang harganya selangit itu.

Perusahaan Jacob and Co yang namanya dikaitkan dengan berlian ratusan miliar rupiah itu pun dikenal kontroversial. Penulis di situs Themalaysianinsider.com Yow Hong Chieh, mencatat, Jacob Arabo, seorang Yahudi asal Uzbekistan, pemilik Jacob and Co, berulang kali ditangkap aparat karena diduga terlibat pencucian uang hasil kejahatan.

Kontroversi Datin Rosmah

Kehidupan Datin Sri Rosmah Mansor memang penuh kontroversi. Perusahaan Rosmah, Perimekar Sendirian Berhad (Sdn Bhd), diketahui Parlemen Malaysia menerima uang jasa 100 juta euro (sekitar Rp 1,2 triliun) atas pembelian kapal selam Scorpene buatan Perancis.

Pertengahan Juli, pengacara Perancis, William Bourdon, yang mewakili sejumlah aktivis pro-Demokrasi Malaysia, menggugat Perimekar Sdn Bhd atas dugaan suap dan korupsi dalam kasus kapal selam Scorpene. Ia ditahan imigrasi Malaysia lalu dideportasi. Tindakan itu memicu protes dari penggiat HAM di Malaysia, seperti lembaga Suara Rakyat Malaysia (Suaram).

Kasus pembelian kapal selam Perancis, pesawat tempur jet Rusia, dan persenjataan lain yang diduga mengakibatkan pembunuhan model asal Mongolia, Altantuya Shaarribuu, bulan April 2006. Altantuya, putri seorang profesor di Ulan Bator, diketahui memiliki hubungan khusus dengan Abdul Razak Baginda, penasihat pribadi PM Najib Razak.

Altantuya yang fasih berbahasa Rusia dan sejumlah bahasa asing, menurut pihak oposisi, mengerti betul seluk-beluk pembelian senjata yang digunakan Angkatan Tentera Diraja Malaysia (ATDM) itu. Karena menuntut terlalu banyak, akhirnya ia ditembak mati lalu tubuhnya diledakkan. Situs berita Singapura, Channelnewsasia.com, pada 9 April 2009 melaporkan, dua polisi, Azilah Hadri dan Sirul Azhar Umar, dijatuhi hukuman mati karena menjadi eksekutor Altantuya. Namun, auktor intelektualis dan dugaan korupsi pembelian senjata tidak pernah disidangkan hingga pihak oposisi Malaysia mengajukan gugatan di Pengadilan Paris, Perancis.

Kontroversi lain yang melingkupi Datin Rosmah adalah hubungannya dengan calon besan bernama Maira Nazarbayev asal Kazakhstan. Maira Nazarbayev yang memiliki gaya hidup ala Imelda Marcos konon memiliki kaitan dengan Organisatziya atau mafia Rusia. Maira Nazarbayev kerap bepergian bersama Datin Rosmah.

Mungkinkah kasus cincin berlian 24 juta dollar AS ini nanti menjadi pintu perubahan dan demokratisasi Malaysia? Hanya rakyat Malaysia sendiri yang menentukan. (Iwan Santosa)

August 1, 2011

Kehadiran Malaysia di Natuna

Siapa yang “jual” ke Malaysia ??? Pejabat dan petinggi negeri ini memang korup sampai keubun ubun//

Kompas Senin,01 Agustus 2011
Kehadiran Malaysia di Natuna

Oleh Eddy Purwanto

Pada saat nama Petronas diumumkan menjadi ”partner” Pertamina di Blok East Natuna, dilanjutkan dengan penandatanganan kesepakatan kerja sama awal (17/12/2010), beragam reaksi dan spekulasi segera muncul.

Mengapa pada saat-saat terakhir Petronas masuk mendampingi ExxonMobil dan Total Indonesie di Blok East Natuna, perairan Laut China Selatan?

Petronas sebagai International Oil Corporation (IOC) dikenal belum punya pengalaman dan teknologi pemisahan CO2 dalam skala besar. Petronas juga diragukan keandalannya dalam mengelola lapangan laut dalam. Hal wajar kalau banyak kalangan bertanya tentang keputusan Pemerintah RI dan Pertamina memilih Petronas sebagai partner di East Natuna yang dikenal sebagai lapangan gas raksasa dengan kandungan CO2 sangat tinggi, sekitar 70 persen.

Publik patut menduga ada ”kesepakatan tingkat tinggi” dengan negara jiran tersebut sehingga menimbulkan berbagai spekulasi yang dikait-kaitkan dengan upaya ”penyelesaian” beberapa masalah bilateral yang sudah lama menggantung antara Indonesia dan Malaysia, di antaranya renegosiasi kontrak penjualan gas ke Duyong Malaysia sekitar 250 juta kaki kubik per hari (MMSCFD), isu sengketa perbatasan di Ambalat yang tak kunjung selesai, hingga isu geopolitik yang terus menghangat di perairan Laut China Selatan.

Di perairan Laut China Selatan, Malaysia bersama dengan beberapa negara lain masih dalam sengketa berebut Kepulauan Spratly dan Paracel berhadapan dengan China, yang belakangan menunjukkan tanda-tanda semakin serius karena condong menggunakan strategi kekuatan militer angkatan lautnya (4/6/2011). Titik terang sengketa masih memerlukan waktu yang lama.

Strategi jangka pendek Malaysia di Laut China Selatan adalah ”mencuri kesempatan” menguasai volume gas East Natuna yang jaraknya relatif dekat ke semenanjung. Kebijakan ini dipandang strategis untuk memperkuat basis ketahanan energi Malaysia serta ketahanan regional menghadapi China dan negara lain yang turut berebut sumber daya di perairan Laut China Selatan.

Secara geopolitik, Pemerintah RI harus lebih waspada menghadapi manuver Malaysia di wilayah ”potensi konflik” sepanjang perbatasan karena dikhawatirkan adanya perlakuan politik yang tidak linier oleh Pemerintah Malaysia, termasuk di Ambalat yang hingga kini masih menjadi duri dalam daging. Setelah kemenangannya di Sipadan dan Ligitan, Malaysia menunjukkan sikap semakin ”percaya diri” dan kurang kooperatif. Kekalahan serupa seyogianya tidak terulang di kawasan lain.

Terlepas dari spekulasi publik di atas, seandainya pemilihan Petronas di East Natuna sudah menjadi keputusan politik, Pemerintah RI diharapkan tidak ”memberikan” aset negara tersebut secara cuma-cuma. Hingga kini, Blok East Natuna adalah lapangan gas terbesar yang ditemukan di Laut China Selatan, dengan perkiraan cadangan gas 40 triliun kaki kubik. Walaupun terkendala oleh tingginya kandungan CO2, blok ini masih mempunyai nilai ekonomi yang luar biasa, Pemerintah wajib meminta ”kompensasi” yang wajar kepada semua partner Pertamina sebagai penebus pemilikan saham atau participating interest serta memberlakukan kontrak term and conditions bagi hasil yang lebih baik bagi Indonesia.

Amerika dan Perancis

Berbeda dengan Petronas, pemilihan ExxonMobil sebagai partner tentunya, selain mempertimbangkan faktor-faktor tekno-ekonomi, juga mempertimbangkan faktor geostrategis dan geopolitik. Indonesia dapat memanfaatkan keberadaan ExxonMobil sebagai ”simbol” negara superpower Amerika Serikat menghadapi ancaman klaim dan agresi China di kawasan Natuna. Masalahnya adalah China dewasa ini menunjukkan sikap superior terhadap simbol-simbol Amerika Serikat yang juga turut berebut energi dan ”pengaruh” di Asia Pasifik. China melalui juru bicara Kantor Urusan China-Taiwan, Yang Yi, kembali menegaskan bahwa kawasan perairan Laut China Selatan adalah wilayah kedaulatan China yang ”tidak terbantahkan” (29/6/2011).

Adapun masuknya perusahaan Perancis, Total Indonesie, ke East Natuna cukup dimaklumi karena Total adalah perusahaan minyak yang berpengalaman lebih dari 50 tahun mengelola lapangan berkadar CO2 tinggi dan telah lama mengembangkan teknologi pemisahan CO2 dalam skala besar, termasuk mengembangkan teknologi untuk mengangkut, menginjeksi, dan menyimpan CO2.

Spekulasi yang berkembang, bergabungnya Total Indonesie di East Natuna terkait dengan rencana ”tukar guling” di Blok Mahakam (Kalimantan Timur) menjelang terminasi pada tahun 2017. Sebagai ”kompensasi”, Pertamina akan mendapat konsesi yang lumayan besar di blok tersebut. Kedatangan Perdana Menteri Perancis Francois Fillon ke Jakarta pada awal Juli lalu diduga kuat terkait dengan upaya Perancis untuk memperpanjang kontrak Blok Mahakam serta kelanjutan proses penyertaan Total Indonesie di East Natuna.

Apabila Pemerintah Malaysia masih bersikap tidak kooperatif dan tidak menunjukkan iktikad baik menyelesaikan berbagai masalah bilateral yang selama ini mengganjal, termasuk renegosiasi kontrak gas ke Duyong, sengketa perbatasan di Ambalat, serta masalah bilateral lainnya, sebelum kontrak production sharing ditandatangani, sebaiknya Pemerintah RI meninjau kembali ”undangan” penyertaan Petronas di East Natuna.

Eddy Purwanto Praktisi Perminyakan

May 21, 2011

Malaysia akan Operasikan Dua Kapal Selam di Perbatasan

Malaysia akan Operasikan Dua Kapal Selam di Perbatasan

21 Mei 2011, Jakarta (MI.com): Angkatan Laut Kerajaan Malaysia (RMN) mulai mengoperasikan Kapal selam KD Tunku Abdul Rahman dan KD Tun Abdul Razak di perairan perbatasannya pada tahun ini.

Demikian disampaikan Menteri Pertahanan Malaysia Ahmad Zahid Hamidi saat ditemui di Hotel Shangri-La, Jakarta, Jumat (20/5)

“KD Tunku Abdul Rahman dan KD Tun Abdul Razak sudah beroperasi pada tahun ini. Mereka bertugas mengawasi wilayah perairan,” ujar Ahmad Zahid Hamidi.

Sebelumnya diberitakan, KD Tunku Abdul Rahman adalah kapal selam Malaysia pertama yang dibeli dari Prancis pada 2007. Tahun 2010, kapal itu dikabarkan sempat mengalami kerusakan teknis. Meski begitu, Ahmad Zahid Hamidi mengatakan KD Tunku Abdul Rahman kini siap beroperasi di perairan Malaysia. Begitu pula kapal KD Tun Abdul Razak yang diboyong dari Prancis pada 2010.

Ahmad Zahid Hamidi sendiri mengelak saat ditanya apakah kedua kapal selam itu secara spesifik ditugaskan memantau blok Ambalat. Ia hanya mengatakan kedua kapal selam akan berpatroli di wilayah perairan Malaysia. Selain itu, Ahmad menambahkan pemerintah RI juga akan segera merakit kapal selam.

“Indonesia juga mau bikin kapal selam,” tutur dia.

Juru bicara Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI Brigjen Hartind Asrin menyatakan Pemerintah tidak tinggal diam untuk menjaga perbatasan RI-Malaysia tersebut. Akhir tahun ini, Kemenhan berencana memesan dua kapal selam dari pihak asing. Hartind mengatakan salah satu kapal selam itu akan dirakit di PT PAL Indonesia.

“Sementara kita belum bisa bilang dari negara mana, nanti ribut sama pabrikannya. Soalnya persaingan ketat, kita ingin kapal selam generasi terakhir yang spesifikasinya bagus untuk menjaga perbatasan. Prosesnya hampir final, nanti kita kabari lagi,” cetusnya.

Menanggapi itu, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana mempertanyakan langkah yang diambil Malaysia dengan mengoperasikan dua kapal selam. Hikmahanto mencatat, kapal selam tidak lazim digunakan dalam patroli perbatasan. Kapal selam lebih sering dipakai untuk melumpuhkan kekuatan maritim lawan di dalam perang antarnegara. Pengoperasian kapal selam pun terkesan ingin memata-matai daerah perbatasan secara diam-diam.

“Tetapi yang kita mau, karena blok Ambalat ini masih sengketa, janganlah status quo atau quo vadis itu dirusak,” tukasnya.

Hal itu ditimpali pakar pertahanan UI Andi Widjajanto. Menurut dia, perencanaan strategis (renstra) Malaysia pada tahap kedua yang mencakup gelaran kekuatan maritim memang berpusat di Kalimantan Utara. Hampir bisa dipastikan kapal selam itu akan beroperasi di perairan Filipina, Laut China Selatan, Laut Sulawesi, dan blok Ambalat.

“Daerah itu ideal untuk menggelar kapal selam karena itu laut dalam. Hampir bisa dipastikan, 90%, manuver-manuver itu akan ada juga di blok Ambalat,” ucap Andi.

Ia menambahkan, tindakan penambahan kekuatan kapal selam Malaysia sebenarnya merupakan reaksi dari rencana Indonesia membeli empat kapal selam pada zaman kepemimpinan Megawati Soekarnoputri. Dalam realitanya, Indonesia batal membeli kapal selam dan diganti dengan perakitan domestik di PT PAL Indonesia.

“Indonesia harus merealisasikan pembelian empat kapal selam itu, karena kalau hanya di PT PAL tidak akan cukup. Indonesia juga harus meminta kepada Malaysia untuk tidak melakukan gelaran kapal selam di perbatasan yang memprovokasi. Malaysia bisa meniru Indonesia yang menggelar kapal selam di daerah dalam seperti di Laut Jawa. Malaysia dapat menggelar kapal selam di semenanjung mereka supaya tidak memprovokasi,” pungkasnya.

Sumber: MI.com
Posted by rhsukarsa at 5/21/2011 05:24:00

April 8, 2011

Malaysia Tawarkan Kerjasama Pertahanan ASEAN

Malaysia Tawarkan Kerjasama Pertahanan ASEAN
07 April 2011

ACV-300 yang di Malaysia diberi nama Adnan merupakan kendaraan produksi FNSS Turki yang dirakit di malaysia oleh Deftech (photo : Malaysian Defence)

TEMPO Interaktif, Jakarta – Staf Ahli bidang Air Power TNI AU Marsekal Pertama Parulian Simamora mengatakan Malaysia sudah mengirimkan konsep kerjasama pertahanan untuk kawasan ASEAN. Namun Indonesia masih mempertimbangkan usulan itu. Indonesia, kata Parulian juga memiliki konsep sendiri tentang pertahanan kawasan.

“Itu kan baru usulan mereka, harus dibicarakan lagi dengan negara-negara ASEAN yang lain,” katanya di Jakarta, Kamis 7 April 2011.

Parulian mengatakan Malaysia menawarkan kerjasama pengembangan industri pertahanan yang terintegrasi dengan negara-negara di kawasan. Artinya masing-masing negara akan mengembangkan produksi alat utama sistem persenjataan (Alutsista) dan pertahanan sesuai nilai lebih yang dimiliki tiap negara.

Dalam jangka panjang, diharapkan terjadi pertukaran alat industri pertahanan di antara negara ASEAN. Sebagai contoh Indonesia diminta fokus mengembangkan industri pesawat karena memiliki kelebihan di bidang ini, sedangkan Malaysia akan mengembangkan peralatan lain. Misalnya kendaraan lapis baja.

Konsep kerjasama pertahanan kawasan ini memang masih akan dibahas dalam pertemuan lanjutan tingkat menteri pertahanan ASEAN. Ia memastikan kerjasama ini hanya sebatas pada industri pertahanan dan tidak akan diperluas menjadi pakta keamanan.

Bagaimana konsep Indonesia sendiri, Parulian menolak menjelaskan. “Masih jauh kalau mau ke sana. Kita dengan Malaysia saja masih belum ada kesepahaman,” kata Parulian.

Sebelumnya negara-negara di kawasan ASEAN sepakat memperkuat kerjasama pertahanan dan keamanan. Kesepakatan ini tertuang dalam rancangan Joint Declaration on Strengthening Defence Cooperation of ASEAN yang dikeluarkan dalam pertemuan tingkat Kementerian Pertahanan ASEAN Februari lalu.

(Tempo Interaktif)

March 13, 2011

Muat Karikatur Tsunami, Media Malaysia Minta Maaf

Bangsa tukang klaim yang tidak ada rasa kemanusiaan.
++++
Minggu, 13/03/2011 17:27 WIB
Muat Karikatur Tsunami, Media Malaysia Minta Maaf
Nurul Hidayati – detikNews

BERITA TERKAIT
Minggu, 13/03/2011 14:12 WIB
Menakertrans: TKI Aman dari Gempa Jepang
Sabtu, 12/03/2011 10:21 WIB
Korban Tewas Gempa Jepang 612 Orang, 700 Orang Hilang
Jumat, 11/03/2011 18:20 WIB
Tsunami di Taiwan Hanya 10 Cm
Jumat, 11/03/2011 14:53 WIB
Gempa Susulan 8,5 SR Terjadi di Jepang
Jumat, 11/03/2011 14:00 WIB
Jepang Gempa, Pengunjung Disneyland Tokyo Panik
SELENGKAPNYA
Kuala Lumpur – Sebuah koran Malaysia, Berita Harian, meminta maaf atas pemuatan karikatur bertema tsunami Jepang. Karikatur di rubrik Ragam halaman 24 itu diprotes banyak pembaca karena dianggap tidak sensitif pada musibah dahsyat yang terjadi Jumat lalu.

Karikatur yang dimuat di harian edisi Minggu (13/3/2011) itu menggambarkan karakter kartun Jepang populer, Ultraman, yang mencoba kabur dari terjangan tsunami. Karikatur ini menuai kritik dari pembaca maupun politisi lewat Twitter dan Facebook.

“(Karikatur) Itu sungguh memiliki citarasa buruk dan tidak mewakili rakyat Malaysia yang bersolidaritas pada teman-teman kita yang berduka di Jepang,” katapolitisi Nurul Izzah yang juga putri Anwar Ibrahim di twitternya.

Atas aneka kecaman itu, Berita Harian meminta maaf lewat akun Facebooknya. “BERITA HARIAN memohon maaf dengan penyiaran karikatur mengenai kejadian tsunami dan gempa bumi di Jepun dalam akhbar Berita Minggu hari ini. Pihak kami tidak berniat langsung untuk mempersendakan bencana yang menimpa negara itu, sebaliknya amat bersimpati dan berkongsi kesedihan dengan rakyat Jepun,” demikian bunyi pengumuman itu.

(nrl/vta)

March 9, 2011

Malaysia claims it authored ancient RI manuscripts

Malaysia claims it authored ancient RI manuscripts
The Jakarta Post, Jakarta | Wed, 03/09/2011 4:30 PM | National A | A | A |
Several Malaysian websites have posted reports that claim two old Islamic manuscripts thought to have been written by Indonesian ulemas were in fact written by Malaysians, a Muslim scholar says.

The disputed works include Bahrul Lahud and Tuhfah Almursalah, whose original copies are kept in the Sumber Anyar Islamic boarding school in Tlanakan district, Pamekasan, the founder of the school’s Institute of History and Culture, Habibullah Bahwi, said on Wednesday, tempointeraktif.com reported.

The 10-page Barul Lahud was written in the 16th century by Syekh Abdullah Arif, an Arabian ulema who lived in Aceh, Habibullah said.

The other book, also known as Martabat Tujuh (Seven Dignities), was written by an Indian ulema, Burhan Buni, who also lived in Aceh, he said.

The works are part of the boarding school’s collection of 120 old Islamic manuscripts.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.