Archive for ‘Lippo Group’

October 14, 2014

Cinemaxx Siap Perang di Pasar Bioskop  

TEMPO.CO, Jakarta – Perusahaan jaringan bisnis bioskop yang berafiliasi dengan perusahaan Lippo Group, PT Cinemaxx Global Pasifik, akan melebarkan sayap bisnisnya di Tanah Air. Chief Executive Officer Cinemaxx Brian Riady mengatakan, dalam lima-sepuluh tahun ke depan, Cinemaxx akan menggebrak dan punya andil dalam dunia perfilman nasional.

Menurut Brian, ada beberapa alasan yang mendasari Cinemaxx berinvestasi di Indonesia. Salah satunya adalah peningkatan standar hidup di Indonesia. “Pendapatan dan tingkat kesejahteraan pun semakin tinggi, permintaan hiburan meningkat,” katanya dalam peluncuran jaringan bioskop Cinemaxx di Hotel Arya Duta, Jakarta, Selasa, 14 Oktober 2014. (Baca:Bisnis Drive-in Teater Terancam Bangkrut)

Selain itu, saat ini Indonesia hanya memiliki total 923 layar. Menurut Brian, jumlah ini sangat tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia. “Bisa dikatakan hanya 0,3 kali orang Indonesia menonton bisokop per tahun, padahal di Jepang rata-rata setiap orang menonton 1,5-2 kali dalam setahun.”

Menurut Brian, Cinemaxx dan grup Lippo telah menyiapkan dana investasi sebesar Rp 6 triliun yang akan digunakan untuk pengembangan sampai beberapa tahun ke depan. “Visinya, untuk menjadi jaringan bioskop terbesar dan paling dipilih,” katanya.

Targetnya, Cinemaxx akan membuat 2.000 layar dan 300 lokasi bioskop dalam 10 tahun. Untuk pembangunan bioskop, Cinemaxx akan menyasar mal modern baru dan yang sudah beroperasi. Saat ini, ada 350 mal modern di Indonesia dengan jumlah kompleks bioskop sebanyak 184. Artinya, masih ada mal-mal yang belum terdapat bioksop di dalamnya. “Kami lihat peluang yang besar,” ujar Brian. (Baca:Orang Terkaya Cina Akan Bikin Hollywood ala Cina)

Sampai Oktober 2014, Cinemaxx memiliki tiga lokasi, yaitu di Plaza Semanggi, FX Sudirman, dan Palembang Icon. Dari tiga lokasi ini, Cinemaxx total memiliki 16 layar. Dalam enam bulan ke depan, akan ada sembilan lokasi yang sudah direncanakan disasar oleh Cinemaxx, antara lain, Ponorogo dengan 3 layar, Manado (15 layar), Medan (9 layar di dua lokasi), dan Yogyakarta (7 layar).

January 27, 2014

Lippo masuk bisnis bioskop, Blitz siap bersaing

 

Oleh Merlinda Riska – Senin, 27 Januari 2014 | 10:41 WIB
 
 
 
Lippo masuk bisnis bioskop, Blitz siap bersaing
Berita Terkait

JAKARTA. Kabar konglomerat Indonesia, Grup Lippo, akan merambah bisnis bioskop rupanya sudah sampai ke jajaran petinggi Blitzmegaplex.

Sebagai jaringan bioskop terbesar kedua di negeri ini, PT Graha Layar Prima sebagai pemilik Blitzmegaplex siap bersaing malah ingin mengajak kerjasama.

Chief Executive Officer (CEO) Blitzmegaplex Jeff Lim menyambut baik keputusan grup Lippo ini. Dia bilang, saat ini adalah saat yang tepat untuk masuk ke bisnis bioskop.

“Saya tahu Lippo memiliki manajemen yang kuat dan bagus. Saya rasa, kalau Lippo terjun ke bisnis ini semakin bagus karena bisa meningkatkan market size bioskop di Indonesia hingga bisa setara dengan negara lain,” katanya.

Pihaknya juga menilai kemungkinan bisa dilakukan kerjasama yang baik antara Blitz dengan Lippo. Meski belum tahu seperti apa bentuk kerjasamanya, dia berujar, Blitz yang telah bekerjasama dengan Cheil Jedang (CJ) Group, salah satu perusahaan bioskop terbesar di dunia, siap untuk digandeng Lippo.

“Kami mungkin juga bisa bekerja sama dalam hal konten ataupun pengoperasian,” ujarnya.

Editor: Dikky Setiawan
December 28, 2013

First Media Targetkan Kenaikan Pelanggan Sebesar 30%

 

Friday, December 27, 2013       18:19 WIB
Ipotnews – Emiten layanan kabel TV HD dan internet broadband, PT First Media Tbk (KBLV), menargetkan jumlah pelanggan pada 2014 sebanyak 850 ribu pelanggan, meningkat 30% dibanding jumlah pelanggan tahun ini yang masih sebesar 620 ribu pelanggan, terdiri dari 312 ribu pelanggan internet dan sisanya TV kabel.

“Hal ini sejalan dengan perluasan jaringan dan pembangunan infrastruktur yang akan dilakukan perseroan,” kata Direktur First Media [KBLV 0 -580 (-100,0%)], Dicky Setiadi Moechtar, kepada wartawan di Jakarta, Jumat (27/12).

Untuk mendukung target tersebut, perseroan bakal menyiapkan dana investasi sebesar USD80 juta-USDD100 juta pada tahun depan. Menurut Dicky, dari 30 juta penduduk Jabodetabek, baru 1,7 juta yang berpotensi untuk digarap oleh layanan kabel perseroan. “Permintaan layanan broadband di Surabaya dan Bandung juga tinggi dan merupakan pasar potensial. Itu bisa meningkatkan pendapatan,” jelasnya.

Dengan target pelanggan itu, First Media menargetkan pendapatan sebesar Rp2,2 triliun dari posisi akhir tahun ini di kisaran Rp1,8 triliun. Sementara, Ebitda di posisi Rp450 miliar dari proyeksi tahun ini Rp350 miliar.

Terkait pelemahan rupiah terhadap dolar AS, Dicky mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan dua opsi. Pertama, hedging yang dilihat satu kuartal belakangan ini. Kedua, negoisasi dengan para vendor terutama dari segi kurs. “Dua opsi itu kita lihat ke depan,” imbuhnya.

Selain itu, awal tahun depan perseroan juga berencana menaikkan harga langganan sebesar 15%. Namun, menurutnya kenaikan itu tidak merata dan hanya berlaku bagi segmen tertentu. “Kenaikan itu seiring peningkatan seperti kecepatan akses internet, ragam layanan TV, dan juga dari inovasi video on demand dan streaming,” katanya.(Iwan/ha)

June 23, 2012

Bangun Mal Hingga Indonesia Timur, James Riady Siap Rogoh Rp 3,6 Triliun

Bangun Mal Hingga Indonesia Timur, James Riady Siap Rogoh Rp 3,6 Triliun
Feby Dwi Sutianto – detikfinance
Jumat, 22/06/2012 18:17 WIB

Jakarta – Lippo Group di tahun ini berencana membangun 6 mal baru hingga Indonesia Timur. Dana yang bakal dikeluarkan bisa mencapai Rp 3,6 triliun karena biaya pembangunan sebuah mal mencapai Rp 600 miliar.

“Tahun ini tambah 6 mal. Rata-rata 1 mal biayanya Rp 500 miliar sampai Rp 600 miliar,” ungkap Pemilik Lippo Group James Riady di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Jumat (22/6/2012).

James menilai, pembangunan mal oleh Lippo group akan difokuskan di daerah Indonesia Timur. Menurutnya, daya beli masyarakat Indonesia khususnya wilayah timur yang tinggi membuat Lippo Group yakni melakukan eskpansi pendirian pusat perbelanjaan sampai Ambon.

“Seluruh Indonesia. Ya ada di timur. Kita bangun di Kupang, Ambon, kita bangun di Kendari. Tahun ini semua,’ imbuhnya.

Tetapi James mengakui, untuk melebarkan sayap usahanya hingga mencapai Indonesia Timur, masalah terbesar yang dihadapi yaitu infrastruktur. Selain membangun mal, Lippo Group juga akan mebangun infrastukutr untuk mendukung unit usahanya tersebut.

“Kita harus bangun bukan hanya usaha di sana (mal) tapi juga logistik di sana. Berarti satu fasilitas distribution center. Kedua, sistem bagaimana kita bisa mengirim barang ke sana,” tutup James.

(feb/dnl)

December 12, 2011

Bos Lippo Bangun Gedung Teknologi Nano Rp 20 Miliar di UI

nano nano…

Rabu, 07/12/2011 13:25 WIB
Bos Lippo Bangun Gedung Teknologi Nano Rp 20 Miliar di UI
Suhendra – detikFinance

Share
19

Jakarta – Pendiri Lippo Group Mochtar Riady membangun gedung pusat riset teknologi nano senilai kurang lebih Rp 18-20 miliar. Gedung yang berlokasi di Fakultas Teknik UI itu diberi nama Mochtar Riady Plaza Quantum UI (MRPQ).

Tim Penasehat Rektor UI Djoko Hartanto mengatakan MRPQ rencananya akan selesai dibangun April 2012. Gedung ini nantinya akan menjadi pusat penelitian dasar untuk teknologi nano di UI.

Gedung MRPQ yang nantinya berlantai lima ini berfungsi sebagai Pusat Riset Nanotechnology yang fokus pada kajian Single Electron Devices. Gedung setinggi lima lantai itu memiliki luas sekitar 3000 m2 berada di atas lahan seluas 1.900 m2

“Tidak ada politik-politikan, dia senang itu, dia punya duit untuk berkontribusi mengembangkan teknologi nano,” tegas Djoko kepada detikFinance, Rabu (7/12/2011)

Djoko menuturkan keterlibatan Mochtar Riady dalam pembangunan gedung itu tidak terlepas dari ketertarikan pengusaha properti itu dalam bidang teknologi nano. Saat ini pendiri Lippo itu memang fokus pada teknologi nano kanker hati, karena Mochtar memiliki rumah sakit yang bisa digunakan secara praktis pengembangan teknologi nano.

Ia menegaskan donasi Mochtar Riady dalam proyek itu hanya fokus pada persiapan bangunan fisik, tidak dalam bentuk bantuan tunai. Sementara itu, peralatan termasuk kebutuhan laboratorium akan menggunakan dana internal UI.

“Perkiraan anggarannya, dengan biaya Rp 5-5,5 juta per meter, dengan luas 3.000 m2 maka kurang lebih Rp 18-20 miliar,” katanya.

Menurutnya sosok pemilik Lippo ini juga punya kedekatan dengan UI, misalnya pada tahun 2002-2004 Mochtar Riady sempat menjadi Majelis Wali Amanat (MWA) UI.

“Walaupun dia bukan orang teknik, dia tahu masa depan dunia, nantinya sangat dipengaruhi bidang nano teknologi,” katanya.

Selama ini dari sisi pemerintah melalui kementerian perindustrian telah menyusun roadmap pengembangan teknologi nano untuk kebutuhan industri selama 15 tahun ke depan. Saat ini teknologi nano sudah dikembangkan di beberapa industri lokal seperti tekstil, makanan, keramik namun masih menggunakan lisensi Jepang dan AS.

Teknologi nano merupakan teknologi rekayasa partikel yang sudah banyak dikembangkan oleh negara maju. Teknologi ini berbasis olah partikel dengan tujuan mengefisiensikan pemanfaatan bahan baku, inovasi teknologi dan lain-lain.
(hen/dnl)

July 7, 2011

Bila saat itu ada rumah sakit canggih, mungkin nyawa ibu dan bapaknya bisa diselamatkan.

Mengapa Mochtar Riady Mendirikan Rumah Sakit

Bila saat itu ada rumah sakit canggih, mungkin nyawa ibu dan bapaknya bisa diselamatkan.
KAMIS, 7 JULI 2011, 15:52 WIB Hadi Suprapto

Pengusaha Mochtar Riady (Forbes)
BERITA TERKAIT
Izin Lippo Securities Terancam Dicabut
Gandeng HCL, Lippo Bidik IT Outsourcing
Lippo Akan Suntik Modal Bank Nobu
Kenapa Mochtar Riady Kembali Geluti Bank
BI Izinkan Grup Lippo Kembali Kuasai Bank
VIVAnews – Berbekal pengalaman yang menyedihkan, taipan gaek Mochtar Riady akhirnya mewujudkan cita-citanya membangun rumah sakit khusus kanker, MRCCC Siloam Semanggi, Jakarta.

Pemilik dan pendiri Grup Lippo ini mengaku ibunya meninggal saat usia 40 tahun karena proses melahirkan. Saat itu, Mochtar masih berusia delapan. Sedangkan ayahnya meninggal saat usia 60, karena kanker lambung.

Menurut dia, dengan kemajuan teknologi saat ini, meski kanker stadium lanjut tak bisa disembuhkan, tapi paling tidak rasa sakit itu bisa dikurangi. “Maka, bagi saya rumah sakit memiliki arti sangat penting,” kata dia saat pembukaan MRCCC Siloam Semanggi, Kamis 7 Juli 2011. “Dengan kecanggihan rumah sakit seperti saat ini, mungkin ibu saya tak sampai meninggal.”

Kisah ini, akhirnya menggerakkan hati Mochtar membangun MRCCC Siloam Hospitals Semanggi. Rumah sakit yang menghabiskan dana US$138,8 juta ini diklaim sebagai rumah sakit kanker terlengkap di Asia. Siloam Semanggi memiliki fasilitas canggih di bidang kedokteran untuk pengobatan berbagai jenis penyakit kanker. Teknologi radioterapi, deteksi dini Positron Emission Tomography PET CT dan LINAC, hingga metode terapi kanker secara holistik.

Usai peluncuran, Mochtar Riady berhasil diwawancarai sejumlah wartawan. Berikut petikannya:

Bagaimana rencana bisnis rumah sakit Lippo ke depan?
Kami akan selalu mengembangkan rumah sakit untuk membantu masyarakat. Target kami, dalam 10 tahun bisa membangun 30 rumah sakit di seluruh Indonesia. Saat ini, Grup Lippo sudah memiliki 7 unit rumah sakit, termasuk satu rumah sakit khusus untuk penyakit kanker ini.

Apakah pembangunan rumah sakit ini akan menjadi bisnis baru Lippo, atau bagaimana?
Sebetulnya tidak murni bisnis. Karena rumah sakit ini juga disediakan untuk orang-orang miskin. Rumah sakit kanker ini, bisa juga buat orang miskin, asalkan sudah ada rujukan dokter kanker.

Lalu apa lagi yang akan dilakukan Lippo membantu orang miskin?
Kalau bicara rumah sakit untuk orang kurang mampu, coba datang ke Karawaci (Siloam Hospitals Lippo Karawaci), di sana kami menyediakan 3.000 bed yang khususkan untuk mereka. Biayanya tak lebih tinggi dari rumah sakit pemerintah, tapi peralatannya jauh lebih canggih.

Jadi tidak murni bisnis?
Tidak. Untuk orang-orang kurang mampu itu, kami menggunakan subsidi silang, sehingga mereka pun bisa berobat. Ini bagian dari CSR (tanggung jawab sosial perusahaan) Grup Lippo. Jadi kami akan membangun rumah sakit kelas atas dan rumah sakit untuk rakyat jelata.
• VIVAnews

June 27, 2011

First Media : Pertumbuhan Didukung Bandwidth

Dicky Moechtar
Pertumbuhan Didukung Bandwidth

Direktur Marketing First Media Dicky Moechtar – IST
Oleh: Billy A Banggawan
Ekonomi – Jumat, 10 Juni 2011 | 01:01 WIB
TERKAIT
KBLV Jual Maksimal 49% Saham ke Asia Link
First Media Raih Pinjaman Rp90 M
First Media Raih Pinjaman Rp84,8 Miliar
First Media Bantah Akan Dijual
BEI Buka Suspensi Waran First Media

INILAH.COM, Jakarta – First Media menginvestasikan Rp 427 miliar untuk memperluas jaringan internet dan TV kabel ke rumah-rumah. Targetnya, penambahan 150 ribu unit sambungan home pass.

Direktur Marketing First Media Dicky Moechtar berambisi menambah pelanggan untuk home pass sebesar 50% atau 75 ribu pelanggan baru. Berikut wawancara lengkap INILAH.COM di Hotel Sultan, Jakarta (9/6).

Berapa banyak home pass existing saat ini?

Hingga kini, tercatat ada 530 ribu jaringan home pass. Pemanfaatan untuk pelanggan sendiri saat ini sudah mencapai 360 ribu unit.

Target untuk tahun ini?

Kami ingin mendapat tambahan 150 ribu home pass. Hingga akhir tahun, kami ingin mendapat tambahan 50% pelanggan atau 75 ribu pelanggan baru. Sehingga total pelanggan kami menjadi 435 ribu.

Upaya apa yang sudah dilakukan untuk mencapai target itu?

Di awal 2011 ini, tercatat kami telah menyediakan 32 ribu home pass baru. Kerjasama Cisco akan memberi layanan premium akses internet cepat. Jumlah pelanggan First Media tumbuh pesat tiga tahun lalu, dari empat ribu sambungan rumah menjadi 360 ribu saat ini. Pertumbuhan 125 kali lipat itu, didukung penambahan bandwidth dari semula hanya tersedia 80 Mbps menjadi 12 Gbps. [mdr]

April 19, 2011

Berita Satu Media Holdings

Peter F Gontha Bergabung Berita Satu Media Holdings
Senin, 18 April 2011 | 9:38
Peter F Gontha telah ditunjuk menjadi publisher perusahaan multimedia terintegrasi, yakni Berita Satu Media Holdings. Perusahaan ini merupakan bagian dari divisi media Lippo Group, sebuah konglomerasi terbesar di Indonesia. Foto: Istimewa

Eksekutif perintis media pertelevisian dan pengusaha sukses di Indonesia, Peter F Gontha, telah ditunjuk menjadi publisher perusahaan multimedia terintegrasi, yakni Berita Satu Media Holdings. Perusahaan ini merupakan bagian dari divisi media Lippo Group, sebuah konglomerasi terbesar di Indonesia.

Dia yang sebelumnya telah sukses mengembangkan media pertelevisian swasta di Indonesia akan menjadi publisher sebuah perusahaan yang mengoperasikan bisnis media cetak dan online, baik yang berbahasa Inggris maupun Indonesia. Perusahaan juga akan mengoperasikan sebuah saluran berita TV baru besar, yang menjadi bagian dari program saluran utama TV kabel First Media.

“Berbekal pada pengalaman Peter yang sudah lama berkecimpung dalam industri media Indonesia, kami sangat antusias dengan energi, kebijaksanaan, dan keahliannya yang akan ditularkan ke dalam Berita Satu,” ujar President Berita Satu Media Holdings dan juga President Lippo Group Theo L Sambuaga.

Sementara itu, Peter F Gontha menuturkan, merupakan sebuah tantangan baginya untuk membawa media tersebut sukses dan membantu impian para pendirinya menjadi kenyataan. Dengan perkembangan teknologi dan penyajian berita yang terus berkembang, hal itu diakuinya juga bukan tugas yang mudah. Namun, dia juga sangat berkomitmen dan mendukung prinsip grup untuk meraih kesuksesan dan mengatasi semua tantangan yang ada.

“Saya tidak mungkin melakukan ini sendirian dan saya butuh orang yang tepat untuk melakukannya, sehingga tercipta media yang baik, proporsional, dan kredibel di mata masyarakat,” ucapnya.

Sebagai sebuah grup media, Berita Satu Media Holdings di dalamnya terdapat banyak media dan brand, termasuk media cetak berbahasa Indonesia, yakni Suara Pembaruan dan Investor Daily. Ada juga media cetak berbahasa Inggris, yaitu Jakar ta Globe dan Strait Times Indonesia, surat kabar hasil kerja sama dengan Singapore Press.

Grup media tersebut juga menerbitkan dua majalah bisnis terkemuka di Indonesia, yaitu majalah Investor dalam bahasa Indonesia dan Globe Asia dalam bahasa Inggris. Perusahaan juga menerbitkan media The Peak, Campus Asia, dan Kemang Buzz.

Berita Satu Media Holdings juga akan meluncurkan media portal 24 jam BeritaSatu.com dan Berita Satu TV, yang keduanya akan diluncurkan tahun ini. Masuknya Peter F Gontha sebagai publisher ke dalam grup media ini merupakan langkah maju yang signifikan karena dia memiliki pengalaman yang luas dan salah satu tokoh terkemuka pada industri media di Indonesia.

Sebagai orang yang lahir di Semarang, Jawa Tengah, dia memulai mengawali kariernya dalam bidang perbankan di Timur Tengah, Amerika Serikat, dan Asia, serta akhirnya kembali ke Jakarta tahun 1980-an.

Pada 1992, dia menjadi pendiri stasiun TV swasta pertama di Tanah Air, yaitu RCTI, yang waktu itu merupakan bagian dari Bimantara Group. Kemudian, dia ikut membantu kelahiran SCTV, stasiun TV swasta kedua di Indonesia.

Lalu, Peter F Gontha juga menjadi pendiri TV satelit Indovision, pemrakarsa dari siaran berita Seputar Indonesia di RCTI dan Liputan 6 di SCTV. Di samping itu, dia juga menjadi orang yang berperan pada lahirnya siaran IMPACT yang tayang di Qtv. Peter F Gontha juga memegang peranan penting atas lahirnya program The Apprentice Indonesia, yang disiarkan pada stasiun TV tak berbayar.

Dia saat ini menjabat sebagai executive chairman First Media, sebuah media TV kabel besar dan penyedia internet yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Mayoritas saham First Media dimiliki oleh Lippo Group dan Across Asia, sebuah perusahaan terdaftar di bursa saham Hong Kong.

Dia juga kini menjadi anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin), serta tercatat sebagai komite investasi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Sebagai eksekutif yang sukses dan mahir bermain piano, dia juga dikenal menjadi tokoh paling sentral di balik kesuksesan gelaran tahunan Java Jazz Festival. Gelaran musik yang sudah masuk tahun kedelapan tersebut kini telah menjadi salah satu program musik jazz terbesar dan paling sukses di dunia yang digelar di Tanah Air. (c02)

March 16, 2011

Laba First Media Melonjak 28%

Laba First Media Melonjak 28%
Selasa, 15 Maret 2011 | 9:29

Berita Terkait
First Media Siapkan VOD di Hotel
JAKARTA – Laba bersih PT First Media Tbk (KBLV) selama 2010 melonjak 28% menjadi Rp 42 miliar, dibanding tahun sebelumnya Rp 33 miliar. Lonjakan laba ditopang naiknya pendapatan bisnis internet broadband dan TV kabel.

“Pertumbuhan pendapatan yang signifikan bersumber dari bisnis internet broadband. Tahun lalu pendapatan divisi ini naik dari Rp 332 miliar pada 2009 menjadi Rp 402 miliar,” ujar Presiden Direktur First Media Hengkie Liwanto usai rapat umum pemegang saham (RUPS) di Jakarta, Senin (14/3).

Sektor servis internet tersebut, kata Hengkie, menyumbang 49,2% dari total pendapatan perseroan yang mencapai Rp 833 miliar. Sementara, layanan TV kabel menyumbangkan 31,3% pendapatan atau Rp 206 miliar.

First Media berhasil menjaring 58 ribu pelanggan baru selama 2010. Dengan demikian, total pelanggan First Media mencapai 334 ribu per Desember tahun lalu.

Dia menambahkan, perseroan juga berhasil menerapkan strategi efisiensi pembiayaan melalui kerja sama dengan stasiun televise penyedia siaran. Selain itu, perseroan juga menambah besaran bandwith.

Di sisi lain, perseroan belum memberikan pembagian dividen kepada investor meski mencetak pertumbuhan laba bersih. Hal ini disebabkan masih adanya carry forward loss dari tahun-tahun sebelumnya yang harus diselesaikan.

Tahun ini, First Media akan fokus pada layanan bisnis internet broadband. “Kami yakin rencana ekspansi dan peningkatan layanan usaha bisa dioptimalkan,” ujar Presiden Komisaris First Media Peter F Gontha.

Peter optimistis First Media tahun ini mampu bertumbuh, mengingat perseroan merupakan pemain tunggal untuk servis data, internet, dan TV kabel. Oleh karena itu, perseroan akan merancang strategi pemasaran yang bisa memenuhi kebutuhan konsumen lokal.

Investasi US$ 150 Juta
Guna mengembangkan layanan bagi pelanggan, Peter mengatakan, perseroan akan menginvestasikan US$ 150 juta dalam lima tahun ke depan. Dana itu digunakan untuk menambah jaringan kabel (home passed).

Hingga akhir 2010, home passed milik perseroan berjumlah 500 ribu dan ditargetkan menjadi satu juta pada 2015.

Dia melanjutkan, First Media kemungkinan bakal menggandeng investor strategis untuk memenuhi kebutuhan pendanaan ekspansi. “Diharapkan tahun ini bisa mendapatkan investor. Saat ini, sudah banyak investor yang memerhatikan First Media,” jelas Peter. (c11)

February 21, 2011

Lippo Karawaci Siap Bangun 20 Rumah Sakit

Jumat, 18/02/2011 10:37 WIB
Lippo Karawaci Siap Bangun 20 Rumah Sakit
Angga Aliya – detikFinance

Jakarta – PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) berniat membangun 20 rumah sakit baru yang tersebar di seluruh Indonesia. Dengan adanya rencana ini, perseroan berharap bisa meraup pendapatan rumah sakit US$ 500 juta per tahun.

“Kami berencana membangun 20 rumah sakit baru dan melakukan akuisisi tambahan jika terdapat peluang untuk mencapai pendapatan rumah sakit US$ 500 juta per tahun dalam lima tahun,” katanya dalam siaran pers perseroan, Jumat (18/2/2011).

Hari ini, perseroan membuka Siloam Hospitals senilai US$ 18 juta di Jambi. Rumah sakit ini merupakan yang kelima dalam jaringan rumah sakit perseroan.

Pada 3 November 2010 silam, LPKR mengakuisisi sebuah rumah sakit di Jambi dan mendapatkan 83% kepemilikan mayoritas. Perseroan sudah menambaha investasi berupa berbagai peralatan medis di rumah sakit tersebut.

Setelah ditingkatkan rumah sakit ini memiliki 109 tempat tidur, 24 ruang rawat jalan, 3 ruang operasi dan spesialisasi di bidang saraf, kardiologi, ortopedi, hemodialisasi, kemoterapi yang terhubung dengan MRCCC dan emergency trauma.

Tanah dan bangunan sekitar rumah sakit dimiliki oleh perseroan sehingga memberikan ruang untuk ekspansi selanjutnya. LPKR memperkirakan akan terjadi kenaikan pendapatan tahunan lima persen dari rumah sakit baru ini.

Perseroan juga sudah mengambil 79,61% kepemilikan sebuah rumah sakit di Balikpapan pada 15 November tahun lalu. Nilai transaksinya mencapai US$ 26 juta.

Lippo berniat untuk berinvestasi dalam peralatan medis tambahan yang akan mengubah kualitas layanan kesehatan di daerah tersebut.

Selanjutnya pada 7 Januari kemarin, perseroan kembali membangun sebuah rumah sakit di Makasar senilai US$ 26 juta. Rumah sakit ini akan menjadi rumah sakit ke delapan LPKR dan akan berfungsi sebagai rumah sakit rujukan pendukung di bagian timur Indonesia.

Dengan banyaknya rumah sakit tersebut, perseroan berharap di tahun 2011 ini pendapatan lini bisnis rumah sakit perseroan bisa tumbuhn lebih dari 35%.
(ang/dnl)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 86 other followers