JAKARTA, KOMPAS — Pengadilan Tinggi DKI Jakarta memperberat hukuman Ahmad Fathanah dari 14 tahun menjadi 16 tahun penjara. Salah satu alasan pemberatan pidana antara lain untuk menimbulkan efek jera. Putusan sebelumnya juga dinilai belum setimpal dengan perbuatannya.”Selain untuk menimbulkan efek jera, pemberatan pidana juga untuk memenuhi rasa keadilan masyarakat. Karena perbuatan terdakwa telah menyebabkan harga daging sapi jadi sangat mahal sehingga merugikan dan meresahkan masyarakat serta mengganggu kebutuhan pangan masyarakat,” ungkap Kepala Humas PT DKI Jakarta Achmad Sobari, yang juga Ketua Majelis Banding dalam perkara Fathanah, Rabu (26/3).

Penambahan hukuman Fathanah tersebut dijatuhkan majelis banding pada 19 Maret lalu dengan susunan majelis adalah Sobari selaku ketua serta Elang Prakoso, Roki Panjaitan, M As’adi Al Ma’ruf, dan Sudiro selaku hakim anggota

Sebelumnya, pada 4 November 2013 lalu, Pengadilan Tipikor menjatuhkan pidana penjara selama 14 tahun dan hukuman denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan.

Majelis hakim yang dipimpin Nawawi Pomolango menyatakan, Fathanah terbukti melakukan korupsi dan melanggar Pasal 12a Undang-Undang Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) seperti dakwaan pertama. Hakim juga menilai terdakwa melanggar Pasal 3 Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) seperti dakwaan kedua. Namun, Fathanah tidak terbukti melanggar dakwaan ketiga, yaitu Pasal 5 UU TPPU.

Fathanah terbukti menerima uang sebesar Rp 1,3 miliar terkait pengurusan kuota impor daging sapi dari Direktur PT Indoguna Utama Maria Elizabeth Liman. Ia mempertemukan Maria Elizabeth dengan temannya, Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq. Dalam pertemuan tersebut, Maria meminta Luthfi membantu memuluskan diperolehnya tambahan kuota impor daging sapi sebanyak 8.000 ton.

Sama dengan LuthfiMenurut Achmad Sobari, tidak ada perbedaan terkait substansi antara putusan pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. Hanya saja, pengadilan tinggi merasa perlu menambah hukuman Fathanah dua tahun menjadi 16 tahun dengan alasan penjeraan dan rasa keadilan masyarakat. Dengan demikian, hukuman Fathanah sekarang sama dengan hukuman Luthfi. Meskipun demikian, hukuman tersebut lebih ringan dibandingkan dengan tuntutan jaksa pada KPK yang meminta hakim memidana terdakwa selama 17,5 tahun penjara.

Kuasa hukum Fathanah, Achmad Rozi, mengatakan, pihaknya saat ini belum mendapatkan pemberitahuan putusan dari pengadilan negeri. Putusan banding seperti apa, ujarnya, pihaknya belum tahu.

Namun, ia tak sependapat jika salah satu alasan hakim memperberat hukuman Fathanah adalah karena perbuatan kliennya menyebabkan harga daging tinggi. Menurut dia, harga daging sudah tinggi sebelum ada upaya penambahan kuota impor daging. Bahkan, di dalam persidangan Maria Elisabeth juga disebutkan, permintaan penambahan kuota impor daging sapi diajukan justru untuk menurunkan harga. (ana)