Selasa,
15 November 2011
KEMISKINAN
Antara Statistik dan Kenyataan
Jumlah penduduk – miskin terus berkurang. Data terakhir Badan Pusat Statistik menyebutkan, jumlah penduduk miskin turun sejuta orang menjadi 30,02 juta orang atau 12,49 persen dari jumlah penduduk. Itulah hitung-hitungan statistik. FX LAKSANA AGUNG SAPUTRA
Namun, mengapa masih saja ada penduduk yang hidupnya terjerat kemiskinan. Wajah kemiskinan tersebar di sudut-sudut Indonesia.
Suatu siang awal November 2011, di sudut perempatan, persis di kolong Jembatan Karet Bivak, Jakarta Pusat, dua bocah tertidur lelap. Mereka adalah Riska (7) dan Syahrul (2).
Duduk menjagai di samping mereka, Nana (20), sang bibi yang sedang hamil tua dan tinggal menghitung hari untuk persalinan jabang bayi, anak keduanya. Anak pertamanya baru berumur satu tahun dua bulan.
Nomat (28), kakak kandung Nana sekaligus ayah Riska, muncul dari balik gelap kolong dan naik ke atas jembatan. Sambil menggendong Imin (43), kawannya yang cacat, ia bergegas naik ke atas jembatan untuk mulai mengemis. Imin adalah pria asal Serang, Banten, yang tak mampu berjalan karena kedua kakinya cacat sejak umur 10 tahun akibat polio.
Di perempatan yang sama, Ama (65), nenek Nomat, juga mengemis. Ia mengemis sambil menggendong cicitnya sekaligus anak sulung Nana, Dafa.
Ama termasuk generasi pertama orang jalanan yang tinggal di kolong Jembatan Karet Bivak. Lebih kurang 30 tahun hidupnya habis di kolong dan jalanan bersama anak, cucu, dan cicitnya. Mengemis lagi, lagi-lagi mengemis. Inilah jalan hidup empat generasi keluarga besar Ama.
Jalan hidup lain adalah tentang Sarkam (45). Semasa remaja, anak buruh tani itu bekerja di sebuah pabrik gula di Cirebon, Jawa Barat. Suatu hari, kawat besi di salah satu unit kerja pabrik putus hingga menyebabkan 14 buruh celaka, 11 orang tewas seketika, dan 3 orang cacat seumur hidup, antara lain Sarkam yang otot kaki kanannya melintir sehingga kaki kanannya tertarik ke belakang permanen. Ia pun menjadi pincang.
Sarkam muda lantas merantau ke Jakarta untuk mencoba peruntungan di jalanan Ibu Kota menjadi pengasong sampai pengamen. Suatu ketika, ia dikejar-kejar petugas satuan polisi pamong praja sampai jatuh tersungkur. Tempurung kaki kirinya bergeser. Sejak saat itu, kedua kakinya cacat.
Roda nasib ayah tiga anak itu sebenarnya sudah mulai membaik beberapa waktu silam. Ia membuka warung makan kecil-kecilan di dekat salah satu pintu air Kalimalang, Jakarta Timur. Penghasilan kotornya Rp 20.000-Rp 50.000 per hari. Suatu hari, petugas satuan polisi pamong praja membakar habis warung Sarkam karena dianggap melanggar peraturan daerah. Kini, ia menjadi pengemis di perempatan jalan.
”Kalau punya modal Rp 500.000, ngasong di jalanan, dikejar-kejar. Punya modal Rp 2 juta, jualan di kaki lima, ditangkap. Lalu, orang-orang seperti saya ini suruh kerja apa? Di mana?” kata Sarkam galau.
Kisah lain adalah tentang 16 keluarga Suku Laut di salah satu pulau pedalaman di Kota Batam, Kepulauan Riau. ”Dulu, memancing di satu-dua karang saja bisa dapat kerapu sampai 10 kilogram. Sekarang, satu kerapu saja belum tentu dapat biar memancingnya sampai lima karang,” kata Sani (30), salah seorang warga Suku Laut.
Industrialisasi di Pulau Batam sejak 1973 salah satunya berimplikasi menjamurnya pabrik galangan kapal. Reklamasi pantai dilakukan membabi buta, ratusan hektar bakau lenyap, dan limbah di mana-mana. Akibatnya, ikan lenyap, penghasilan menguap.
Kini, Suku Laut harus bertahan hidup dengan menjadi pemulung potongan kayu papan dan besi limbah galangan kapal. Kayu digunakan untuk bahan bakar memasak dan limbah besi dijual ke penadah seharga Rp 1.800 per kilogram. Sementara tangkapan ikan lebih sering habis dikonsumsi untuk kebutuhan sendiri.
Potret orang miskin kota di Jakarta hingga kemiskinan Suku Laut itu akhirnya menjadi statistik belaka. Berdasarkan Laporan Data Bulanan Sosial-Ekonomi per Oktober 2011 Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk miskin pada Maret 2011 sebanyak 30,02 juta jiwa atau 12,49 persen dari total penduduk yang berjumlah 237,6 juta orang. Artinya, jumlah penduduk miskin turun 1 juta jiwa dibandingkan dengan Maret 2010 yang jumlahnya 31,02 juta jiwa atau 13,33 persen dari total penduduk. Produk domestik bruto Indonesia pada triwulan III-2011 dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010 tumbuh 6,5 persen dan terjadi di semua sektor. Namun, peringkat Indeks Pembangunan Manusia Indonesia merosot dari posisi ke-108 menjadi ke-124.
Kontras antara statistik dan kenyataan itu dirumuskan menarik oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Pembangunan III Daoed Joesoef dalam opininya di Kompas, 4 November lalu, berjudul ”Presiden, Anda Sedang Apa?”. Daoed Joesoef mengingatkan, yang ditunggu-tunggu adalah kebenaran yang bernilai, bukan sekadar kebenaran yang terjelaskan. Artinya, pernyataan formal produk domestik bruto naik sekian persen ataupun kemiskinan turun sekian juta jiwa tidak berarti apa-apa bagi masyarakat miskin alias hanya pepesan kosong.
”Kebenaran yang mereka lihat dan alami sehari-hari, yang membuat mereka geregetan, adalah proses pemiskinan, pembohongan, pembodohan, penyusutan kekayaan alami mereka, dan perusakan lingkungan,” kata Daoed Joesoef