Archive for ‘Top Indonesian Woman Entrepreneur company’

March 1, 2012

Hebat! 4 Wanita RI Masuk Jajaran 50 Pebisnis Paling Berpengaruh Se-Asia

Kamis, 01/03/2012 13:06 WIB
Hebat! 4 Wanita RI Masuk Jajaran 50 Pebisnis Paling Berpengaruh Se-Asia
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Majalah Forbes baru saja merilis 50 pebisnis wanita paling berpengaruh se-Asia. Ada 4 wanita Indonesia yang masuk. Siapa saja?

Forbes melansir para srikandi dari yang termuda berusia 36 tahun yang berprofesi sebagai seorang produser TV dan film Bollywood dan wanita asal Jepang yang tertua dimana berusia 77 tahun.

“Para perempuan ini menjadi bagian dalam meningkatkan kekuatan pertumbuhan ekonomi dalam kawasannya,” demikian seperti dilansir Forbes, Kamis (1/3/2012).

Dalam daftar tersebut, Forbes memasukkan 4 srikandi asal Indonesia yang juga masuk dalam jajaran 50 pebisnis wanita paling berpengaruh se-Asia. Mereka adalah Karen Agustiawan (Dirut Pertamina), Sri Hartati Murdaya (Pemilik Central Cipta Murdaya), Shinta Widjaja Kamdani (Sintesa Group), dan Wendy Yap (PT Nippon Indosari Corpindo).

Adapun ke-50 pebisnis wanita ini adalah :
Karen Agustiawan (Indonesia – 55 tahun) PT Pertamina
Vinita Bali (India – 56 tahun) Britannia Industries
Shobhana Bhartia (India – 55 tahun) HT Media
Laura Cha (Hong Kong – 62 tahun) HSBC Asia Pasific
Solina Chau (Hong Kong – 50 tahun) Horizons Ventures
Eva Chen (Japan – 52 tahun) Trend Micro
Linda Chen (Macau – 45 tahun) Wynn Macau
Cheung Yan (China – 55 tahun) Nine Dragons Paper
Chew Gek Khim (Singapore – 50 tahun) Straits Trading
Chua Sock Koong (Singapore – 54 tahun) Singapore Telecom
Wei Sun Chirstianson (China – 55 tahun) Morgan Stanley
Chu Lam Yiu (China – 42 tahun) Huabao International Holdings
Dong Mingzhu (China – 57 tahun) Gree Electric Appliances
Romi Haan (South Korea – 47 tahun) Haan Corp
Ho Ching (Singapore – 58 tahun) Temasek
Pansy Ho (Hong Kong – 49 tahun) Shun Tak Holdings/MGM China
Hyun Jeong-Eun (South Korea – 57 tahun) Hyundai Group
Shinta Widjaja Kamdani (Indonesia – 45 tahun) Sintesa Group
Yue-Sai Kan (China – 62 tahun) Yue Sai Kan Cosmetic
Ekta Kapoor (India – 36 tahun) Balaji Telefilms
Gail Kelly (Australia – 55 tahun) Westpac Banking
Kim Sung-Joo (South Korea – 55 tahun) Sungjoo Group/MCM Holdings
Chanda Kochhar (India – 50 tahun) ICICI Bank
Lee Mi-Kyung (South Korea – 53 tahun) CJ Entertainment&Media
Mai Kieu Lien (Vietnam – 58 tahun) Vinak
Olivia Lum (Singapore – 51 tahun) Hyflux
Cher Wang (Taiwan – 53 tahun) HTC
Kiran Mazumdar-Shaw (India – 58 tahun) Biocon
Zia Mody (India – 55 tahun) AZB&Partners
Siti Hartati Murdaya (Indonesia – 65 tahun) Central Cipta Murdaya
Junko Nakagawa (Japan – 46 tahun) Nomura Holdings
Chirstina Ong (Singapore – 63 tahun) Como Group
Gina Rinehart (Australia – 58 tahun) Hancock Prospecting
Shikha Sharma (India – 53 tahun) Axis Bank
Wang Shaw-Ian (Taiwan – 70 tahun) United Daily News
Yoshiko Shinohara (Japan – 77 tahun) tempstaff
Mallika Srinivasan (India – 52 tahun) Tractors&Farm Equipment
Liu Yang (Hong Kong – 47 tahun) Atlantis Capital Group
Sun Yafang (China – 56 tahun) Huawei Technologies
Teresita Sy-Coson (Philippines – 61 tahun) SM Investment Corp
Jing Ulrich (Hong Kong – 44 tahun) JP Morgan
Wang Fengying (China – 41 tahun) Great Wall Motor
Wu Yajun (China – 47 tahun) Longfor Properties
Marjorie Yang (Hong Kong – 59 tahun) Esquel Group
Yang Mianmian (China – 70 tahun) Haier Group
Wendy Yap (Indonesia – 55 tahun) Nippon Indosari Corpindo
Peggy Yu (China – 46 tahun) Dangdang.com
Yuwadee Chirathivat (Thailand – 58 tahun) Central Departement Store
Zhang Xin (China – 46 tahun) Soho
Zhou Yaxian (China – 52 tahun) Shenguan Hodlings
(dru/dnl)

May 8, 2011

Profil: Shanti Lasminingsih Poesposoetjipto KOMISARIS UTAMA PT SAMUDERA INDONESIA

Menyebut Nilai Tebusan Itu Skenario Perompak
Koran Tempo 8 Mei 2011

Saat ini ada 40 kapal yang masih disandera. Apa pun yang kami utarakan akan mempengaruhi bargaining position mereka. Jadi itulah satu kode etik dari kita, sebaiknya tidak meng ungkapkannya

Shanti Lasminingsih Poesposoetjipto KOMISARIS UTAMA PT SAMUDERA INDONESIA:

Sebanyak 20 keluarga awak kapal MV Sinar Kudus, yang disandera perompak Somalia, se jak 16 Maret lalu melakukan sujud syukur. Selama 46 hari mereka menanti hari pembebasan keluarga mereka.
Awak kapal dibebaskan pada 1 Mei lalu, setelah pemilik kapal, PT Samudera Indonesia, membayar uang tebusan yang besarnya dirahasiakan untuk menjaga kode etik.
Komisaris Utama PT Samudera Indonesia Tbk Shanti Lasminingsih Poesposoetjipto menjelaskan, perompakan yang menimpa kapal Indonesia baru sekali ini terjadi. Presiden Direktur PT Ngrumat Bondo Utomo–induk bisnis keluarga Soedarpo yang menguasai saham mayoritas di PT Samudera Indonesia Tbk–ini merasa tenang menempuh proses negosiasi.
“Pada hari pertama, kami langsung bikin crisis management center di Kota (kantor PT Samudera Indonesia Ship Management di kawasan Kota, Jakarta) dan membuat satu skenario (pembebasan) dari yang optimistis sampai pesimistis,” kata perempuan 63 tahun ini.

Perempuan penyuka olahraga panjat gunung itu menampik tudingan perusahaan dan pemerintah bersikap lamban dalam membebaskan sandera. Dia pun menampik menjawab soal nilai tebusan yang disepakati dan proses pembayarannya.
“Saat ini ada 40 kapal yang masih disandera.Apa pun yang kami utarakan akan mempengaruhi bargaining position mereka. Jadi itulah satu kode etik dari kita, sebaiknya tidak mengungkapkannya,” katanya kepada Istiqomatul Hayati, Amirullah, Tito Sianipar, dan fotografer Arnold Simanjuntak dari Tempo pada Selasa lalu di kantornya di kawasan Slipi, Jakarta Barat.

Selama hampir tiga jam, putri sulung pengusaha dan juru runding Indonesia, Soedarpo Sastrosatomo, itu menceritakan upaya pembebasan dan kehidupan keluarganya yang menarik. Sepanjang bercerita, ia selalu tersenyum dan terkadang diselingi tawanya yang renyah.

Kapan perusahaan mengetahui penyanderaan MV Sinar Kudus oleh perompak Somalia?
Kami menjadi anggota International Maritime Association, tentu punya alat komunikasi yang built-in di kapal. Jadi kami bisa mengikuti jalannya kapal dari pusat via satelit, semacam global positioning system.
Ketika kapal dikuasai perompak, dia (awak) sempat menekan tombol tanda darurat. Dan sebetulnya, sebelum itu sudah ada komunikasi, peringatanperingatan memasuki daerah yang rawan. Entah kenapa tetap masuk ke daerah itu.

Kami sudah tahu perilaku perompak di daerah tersebut seperti apa. Jadi pada hari pertama itu, tim kami langsung bikin crisis management center.
Jadi ada optimistic scenario sampai pessimistic scenarionya. Bahkan pernah ada satu kejadian, kapal Taiwan, tapi ada awak Indonesianya, waktu itu minta bantuan Gus Dur saat masih jadi presiden. Nah, kebetulan kelompok Islam (penyandera) itu mengenal Nahdlatul Ulama. Jadi Gus Dur telepon, dia dengar. Dan bebas.

Menggunakan pendekatan itu juga dalam kasus ini?
Kami coba. Kami minta bantuan Pak Hasyim Muzadi. Pak Hasyim juga jawabnya begitu, “Saya harus cari tahu dulu, atau kalau kalian bisa kasih tahu, kelompok mana itu?” Dalam kontak pertama sudah menyampaikan tuntutan?
Belum. Biasanya, kalau mereka mau keluarkan tuntutannya, mereka kasih kesempatan sama awak untuk berhubungan dengan keluarganya. Mereka akan menginformasikan kepada keluarganya hal yang negatif untuk memprovokasi. Kenyataannya, mereka tidak akan memperlakukan kru semena-mena.
Karena mereka sudah tahu, satu-satunya leverage (pengungkit) mereka adalah kru yang bisa dijadikan bargaining position (posisi tawar), yang bisa dimainkan dengan emosi juga. Itu pun sudah kami ketahui.

Apa tindakan yang dilakukan setelah itu?
Jadi nomor satu yang kami lakukan menghubungi keluarga awak sebelum semua media sampai tahu.Jadi 20 awak,20 keluarga dihubungi satu per satu.
Memprakondisikan dan menjelaskan keadaannya. Dan ketika satu minggu mau jatuh tempo, kami panggil lagi mereka.

Pada awalnya mereka minta berapa? Cuma ratusan ribu dolar hingga meningkat menjadi US$ 4,5 juta?
Saya minta pengertian Anda, kami tidak akan membuka berapa itu (nilai nominalnya), karena sampai saat ini ada 40 ka pal lho yang di bawah penyanderaan mereka dan ada 600 awak kapal. Di antara itu ada juga awak kapal Indonesia. Se hingga apa pun yang kami utarakan, akan mempenga ruhi bargaining position me reka. Jadi itulah satu kode etik dari kita, sebaiknya ti dak mengungkapkannya.

Tapi kemudian tersebar di media jumlahnya Rp 38 miliar?
Itu bisa saja salah satu move dari perompak itu. Jadi taktik yang dilakukan mereka waktu itu, ya, seperti menyebutkan jumlah nominal tebusan yang besar. Peralatan mereka lengkap dan modern sekali. Jadi setiap pemberitaan di sini, bisa mereka tangkap. Itu bagian dari skenario bargaining position mereka.

Sebelumnya sudah berapa kali Samudera Indonesia mengalami perompakan? Oh, enggak ada.

Bagaimana komunitas maritim memahami perompak Somalia itu? Ini jangan dianggap (organisasi) ecek-ecekan, tapi ini satu business exercise. Ini bukan orang Somalia saja, ini satu sindikasi internasional. Okelah, perompaknya orang Somalia. Ini semacam bisnis baru.

Proses negosiasi bagaimana? Siapa yang diutus? Pola mereka itu sudah satu sindikasi internasional, ada pengacara dan negosiator internasional, ada perusahaan dispatching (pengirim pesan) internasional yang hari pertama sudah menghubungi kami. Jadi itu organized crime (kriminalitas terorganisasi). Maka kami tidak bisa gegabah.

Yang melakukan negosiasi itu

siapa? Yang bernegosiasi itu tetap pemilik kapal, Samudera Indonesia. Berhubungan dengan perompaknya by phone.
Keputusan melakukan proses pembayaran kapan? Apa dengan pertemuan? Enggak ada pertemuan. Dan setelah disepakati kedua belah pihak, kan harus dilakukan
mobilisasi. Sebab, kalau kita mengeluarkan dana saja dalam jumlah yang cukup tinggi, tiap negara yang kita lalui itu mempunyai aturan sendiri. Apakah itu tunai, ataukah transfer elektronik, tetap saja ada ketentuan dari bank sentral masing-masing.
Pembayaran tebusan berupa uang tunai? Enggak bisa juga kami sebutkan.

Bagaimana proses serah-terima? Itu terjadi dengan mereka mengatakan sudah terima uangnya.

Lalu mobilisasi orang kami di atas kapal juga memakan waktu.

Jadi dari uang itu dikemas sampai perompak yang ada di kapal kami meninggalkan kapal tersebut kira-kira 24 jam. Karena mereka berkelompok, ada yang turun di satu titik, ada yang dijemput, macam-macam.

Apakah setiap kapal Indonesia akan dikawal TNI? Bergantung pada inisiatif masing-masing pemilik kapal dan pemilik barang. Ada kapal kami yang dikonvoi.

Bagaimana Anda menangani keluarga awak kapal? Dari 20 kan ada tiga yang Anda lihat selalu ribut (di media).

Dan itu juga sengaja diprovokasi para perompaknya. Itu risiko, kami harus hadapi saja. Saya telepon semua pemimpin media massa, saya terangin.“Tolong, deh, tolong jangan masuk perangkap mereka.” Itu memang maunya mereka, ada liputan. Karena itu memperkuat posisi mereka.

Apa yang dilakukan untuk menenangkan keluarga? Saya minta bantuan ibu-ibu karyawan. Kami kan ada asosiasi Perwasi (Persatuan Wanita Samudera Indonesia). Saya minta diadakan pendekatan rohaniahlah. Diajak sama-sama tahajud.

Karena kan all we can do is pray.

Waktu Jumat pertama itu terjadi, mereka sembahyang bersama.

Anda terlibat secara langsung dalam masalah pembebasan ini? Saya kan komisaris utama. Ada manajemen yang tanggung jawab, dong. Saya hanya turun di mana saya punya nilai tambah, misalnya waktu itu hubungan dengan media. Misalnya, waktu itu saya kenal semua chief editor, saya turun.

Untuk menghindari perompakan terjadi lagi, apa antisipasi Samudera Indonesia (SI)? Mungkin kami akan berkonsultasi dengan pemerintah. Apakah pemerintah akan membantu mengamankan kapal-kapal Indonesia yang berlayar ke arah situ.

Tentunya kami juga berikan pelatihan kepada awak kapal, dan standard operating procedure diperketat.

Peristiwa ini mempengaruhi harga saham SI? Enggak. Karena kebanyakan pemegang saham kami itu setia (tertawa).

Nilai aset SI berapa, sih? Rp 5 triliun. Tapi kan kami bukan hanya perusahaan pelayaran.

Ada pelayaran internasional, kontainer itu pusatnya di Singapura.

Kami punya gudang di Dubai.
Berapa kapal yang dimiliki PT Samudera Indonesia? Ada 30 kapal.Tapi ini milik Samudera Shipping Line, salah satu anak perusahaan Samudera Indonesia. Kebetulan Sinar Kudus ini satu-satunya kapal yang dimiliki Samudera Indonesia.

Anda mendirikan PT Ngrumat Bondo Utomo. Ini pemilik Samudera Indonesia? Kepemilikan saham keluarga itu diinstitusionalisasi. Jadi yang memiliki Samudera Indonesia itu PT Ngrumat Bondo Utomo, kayak holding-nya keluarga. Istilahnya dalam bisnis, family office.

Ada berapa total anak perusahaan PT Ngrumat Bondo? Sekitar 30 perusahaan.

Apakah ada wasiat Bapak siapa yang akan memegang kendali? Kan ada PT Ngrumat Bondo Utomo. Waktu saya baru masuk, Bapak bilang, “Ti, tolong kamu belajar bagaimana memisahkan ownership.” Jadi saya belajar apa itu bisnis keluarga.

Latar belakang Anda teknologi informasi, bagaimana Anda masuk bisnis pelayaran ini? Lo, saya kan memulai dari bawah. Pertama kali saya mulai, saya punya satu unit jualan jasa. Kalau mau jujur, saya ini disetir oleh bapak saya. Kami semua dikasih lingkungan yang memang kami sukai, jadi enggak merasa kalau disetir.Waktu lulus SMA, saya masuk elektro. Ngerti juga kagak.
Ayah saya bilang,“Ti, kalau kamu mau belajar sesuatu, pick something which is of important for the future. Kamu ambil (sekolah) komputer.” Itu pada 1966. Dia sudah survei waktu itu, universitasnya, ngomong sama pembantu rektornya, pembantu dekan. Saya ke sana, fakultas ilmu komputer saja belum ada, jadi masuk elektro. Jadi itu pertama kali juga computer science diajarkan di Jerman Barat. Sarjana ilmu komputer yang pertama. Pulang ke sini, Pusat Komputer ITB baru berdiri.

Bapak orang PSI? Yang sebetulnya politikus itu kakaknya (Soebadio Sastrosatomo). Bapak dari dulu orang bisnis. Begitu berhenti dari pemerintah pada 1952, kembali ke bisnis.

Semua geng dia adalah kelompok muda Indonesia yang waktu itu terdidik, menguasai bahasa asing.

Modal mereka waktu itu membantu perjuangan republik.

Koleksi komputer pertama An

da tahun berapa, ya?
Tahun 1958. Masih ada. Waktu itu yang pakai nomor satu Bank Indonesia, lalu Badan Pusat Statistik, IPTN. Saya waktu pulang itu pas pergantian generasi komputer (mainframe) dari IBM System/360 ke IBM S/370.
Anda menyukai hiking, ke mana saja?
Sekarang enggak ada waktu.
Pernah ke Gunung Rinjani bersama Bu Mari Pangestu, sekitar 1996. Saya suka naik gunung itu di Jerman, sama teman-teman saya. Kalau di Jerman itu enak, petanya ada, segalanya sudah ada.

Anda terakhir ke mana?
Ke Irian Jaya, waktu itu Bapak masih hidup. Ibu juga kita ajak.
Kita ke Jayapura, ke Kaimana, Wamena, dan Timika. Kebetulan kita ada Yayasan Sejati, bantuin suku Komoro memetakan wilayah ulayat mereka karena sebagian dikasihkan pemerintah ke Freeport. Perusahaan ini harus memberikan imbalan kepada suku itu tidak dalam bentuk uang.

Soal Yayasan Sejati?
Dea Sudarman, yang pernah bikin dokumentasi suku Asmat dan di-hire oleh NHK, Jepang, ingin bikin yayasan. Suku tradisional dengan modernisasi akan terlibas tradisinya. Tapi dalam kebiasaan suku tradisional ini ada kearifan yang harus kita dokumentasikan. Dan kami menjembatani antara orang kota dan suku tradisional agar terjadi saling pengertian. Jadi pendekatan perlu dibekali dengan antropologi, sosiologi. Dicari ekonom, maka saya ajak Mari Pangestu. Dia mengajak Felia Salim. Saya dikenalin sama Dea oleh Ibu Emmy Hafild. Cita-citanya mau bikin dokumenter. Jadi akhirnya kami mulai di Pulau Aru.

Kalau libur, Anda kongko dengan mereka?
Kadang sama mereka. Sama Bu Mari. Saya selama beberapa bulan ini aktif di The Nature Conservancy. Mereka bikin program di Taman Nasional Komodo.

Anda masih terlihat cantik dan segar. Apa resepnya?
Punya Ibu yang sangat genit dan care terhadap penampilan.
Saya olahraga teratur, golf. Sejak dua tahun terakhir, saya ikut aqua aerobik.

Powered by pressmart Media Ltd

January 13, 2011

Mooryati Memilih Putri Keduanya sebagai CEO

Mooryati Memilih Putri Keduanya sebagai CEO
Kamis, 13 Januari 2011 | 03:49 WIB

Jakarta, Kompas - Reputasi produk lokal harus diperkuat untuk menghadapi persaingan global yang kian terbuka. Selain itu, untuk memenangi persaingan global juga dibutuhkan komitmen pemerintah, khususnya Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian.

Hal itu disampaikan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Benny Pasaribu saat membahas disertasi karya BRA Mooryati Soedibyo, yang akan dibukukan, berjudul Suksesi Kepemimpinan Puncak (CEO) Perusahaan Keluarga Mustika Ratu Tbk, Rabu (12/1) di Jakarta.

Dalam kesempatan itu, kepemimpinan PT Mustika Ratu Tbk, yang dipegang pendirinya, BRA Mooryati Soedibyo, selama 37 tahun, dialihkan kepada anak keduanya, Putri Kuswisnu Wardhani.

Menurut Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia Prof Emeritus Dorodjatun Kuntjoro-Jakti mengatakan, suksesi kepemimpinan yang tertib menjadi kunci yang penting.

”Apalagi, kalau perusahaan keluarga sudah dijadikan perusahaan terbuka. Proses selanjutnya yang harus dikunci adalah suksesi kepemimpinan yang tertib. Jangan ada perseteruan di dalam keluarga,” kata mantan Menteri Koordinator Perekonomian itu.

Kekhasan budaya korporat, lanjut Dorodjatun, harus dijaga. ”Tidak boleh terusik oleh pergantian kepemimpinan,” ujarnya.

Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana Hendrawan Supratikno berpendapat, kekuatan pendahulu dan generasi penerus memengaruhi suksesi kepemimpinan. ”Ini harus diwaspadai,” ujar Hendrawan, yang juga Ketua Komisi VI DPR.

Akurnya keluarga, kata Direktur Utama PT Sido Muncul Irwan Hidayat, merupakan kunci dalam mengembangkan perusahaan keluarga. ”Dan, yang tidak kalah penting adalah keterbukaan untuk mau mendengarkan pandangan anggota keluarga,” tutur Irwan.

Karya tulis itu, menurut Mooryati, sebagai disertasi pada program pascasarjana manajemen strategis Fakultas Ekonomi UI.

Sebagai pendiri, kata Mooryati, ia mempersiapkan tongkat estafet kepemimpinan kepada generasi berikutnya. ”Ini dijalankan melalui proses yang direncanakan,” ujarnya.

Perpaduan akademis dan praktis yang ia lakukan, menurut Mooryati, telah memberikan perspektif lebih luas terhadap perencanaan alih kepemimpinan PT Mustika Ratu. (OSA)

 

December 16, 2010

Sektor Ekonomi Mikro Buka Ruang bagi Perempuan

Sektor Ekonomi Mikro Buka Ruang bagi Perempuan
Kamis, 16 Desember 2010 | 16:31

PEKAN BARU- Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP-PA) Linda Amalia Sari Gumelar mengatakan, pemerintah membuka ruang sebesar-besarnya bagi perempuan untuk berperan aktif dalam sektor ekonomi mikro, kecil dan menengah (UMKM).

“Sesuai petunjuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pemerintah membuka ruang sebesar-besarnya bagi perempuan dalam bidang ekonomi mikro, kecil dan menengah,” kata Linda Amalia Sari Gumelar dalam acara pembukaan “Riau Woman Expo” di Pekanbaru, Riau, Kamis.

Linda menambahkan, pihaknya telah melakukan kesepakatan bersama dengan Kementerian Koperasi dan UKM yang bertujuan lembaga ini meningkatkan komitmen dan aksi konkret dalam upaya memberdayakan perempuan di bidang ekonomi.

“Mudah-mudahan kesepakatan ini dapat menjadi landasan bagi dinas terkait di daerah untuk memperkuat komitmen tersebut,” katanya.

Menteri PP-PA menambahkan, program tersebut bertujuan untuk memberikan ruang gerak bagi perempuan dalam berkreasi dan berkarya sehingga berujung pada peningkatan kualitas perempuan.

Hal itu menurutnya akan mempengaruhi pencapaian target tujuan pembangunan millennium yang salah satu tujuannya adalah menurunkan angka kemiskinan.

Dia menambahkan, kualitas hidup perempuan berbanding lurus dengan kondisi ekonomi sebuah keluarga.

“Dengan dilakukan pemberdayaan perempuan di bidang ekonomi diharapkan pendapatan akan lebih baik sehingga kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup akan membaik pula,” katanya. (gor/ant)

November 20, 2010

Fandayani Soesilo, CEO PT Emanur Pelangi Indonesia (Maetrika)

Fandayani Soesilo, CEO PT Emanur Pelangi Indonesia (Maetrika)
20 Nov 2010
Ekonomi Indo Pos
Fandayani Soesilo, CEO PT Emanur Pelangi Indonesia (Maetrika)

Edukasi Pemilik Modal

Ketidakpercayaan pemodal

Indonesia untukmenanamkan modalnya dinegeri sendiri menjaditantangan terbesarbaginya. Denganmengembangkanperusahaannya di bidang

ICT, Fandayani Soesiloberupaya kerasmemberikan edukasimaupun komunikasi padamereka. Seperti apa?

SETELAH 15 tahun menetap di California, Amerika Serikat untuk menempuh kuliah sambil bekerja, Fandayani Soesilo kembali ke tanah air dan menjalani karir pertamanya di sebuah perusahaan telekomunikasi, FT Ekaprasarana Pri-matel. Perkenalannya di dunia Information and Communication Technology (ICT) membuatnya bertahan sekaligus melihatnya sebagai potensi bisnis yang sangat besar.

Dalam beberapa dekade terakhir ini, perkembangan ICT di Indonesia, terutama ibu kota Jakarta melaju sangat pesat, sehingga tidak lagi menjadi barang mewah. Keberadaannya di lima perusahaan mulai dari Lam Research Corporation hingga PT Smart Telecom Indonesia (Sinar Mas Telecom) dijadikannya sebagai tempat menimba ilmu. Sampai pada akhirnya, dia terpikir untuk membuka perusahaan sendiri yang berdiri sejak setahun lalu.

Perkembangan ICT di tanah air ini menurutnya menjadi sebuah tantangan terbesar. Dia mulai membangun sebuah kepercayaan sampai menciptakan sesuatu yang baru. Ini membuatnya berusaha tetap bertahan dan fokus di dunia ICT sebelum sampai akhirnya berhasil mendirikan Maetrika. Proses pendiriannya sangat panjang sekaligus membutuhkan perjuangan yang cukup ke-. ras, terlebih awalnya hanya dilaku-kan oleh tiga orang, temasuk dirinya.

Keterbatasan tenaga maupun dana tidak membuatnya lantas menyerah begitu saja. Melalui berbagai situs jaringan sosial dan pendekatan pada berbagai investor, tidak sampai beberapa bulan, tanpa disadarinya ternyata mulai banyak orang yang tertarik dengan langkahnya untuk membangun bisnisnya tersebut. “Entah mungkin dari mouth to mouth mulai ada yang datang ke saya menawarkan konsep,” ungkapnya kepada INDOPOS, kemarin (18/11).

Melalui Maetrika, Fanda berusaha membawa investor tersebut untuk melahirkan perusahaan baru yang sustainable, profitable, socially, environmentally dan responsible. Atau bisa dibilang sebagai perusahaan private incubator yang mendirikan serta mengembangkan perusahaan baru di mulai dari ide atau konsep. Termasuk di antaranya mencari sumber pendanaan sekaligus menawarkan akses ke jaringan strategic partner baik tingkat domestik maupun internasional.

Bersama seluruh karyawannya, ia berusaha membantu seorang investor secara profesional dalam memberikan insight mengenai market, tren, serta overview. Dengan menciptakan inovasi baru ini, setidaknya Fandayani berharap dapat membantu menambah lapangan pekerjaan bagi banyak orang atas berdirinya perusahaan-perusahaan baru. “Kita berusaha membuat business plan sesuai dengan kemauan si investor itu sendiri.” terangnya.

Terkait investor itu. jika diban dingkan dengan Amerika Seri banyak perbedaan yang sangat signifikan. Pasalnya, banyak pebisnis atau pemilik modal yang tidak berani menciptakan inovasi baru atau mengeluarkan sebagia)! nya untuk dikelola sebaik in un. “Kondisi ini sebenarnya sem; terjadi di AS pada 20 atau 30 tahun lalu, sekarang situasinya berada di Indonesia,” jelas lulusan Universityof California ini.

Menurutnya, kebanyakan pemilik modal itu memilih untuk menginvestasikan dananya kepada sebuah perusahaan yang sudah berjalan lama. Sebagian besar di antaranya merupakan produk-produk yang diambil dari luar negeri, sehingga diakui dapat mengurangi jumlah lapangan pekerjaan di Indonesia. “Di sini saya berusaha memberikan edukasi pada mereka, dengan berinvestasi pada produk lokal bisa memberikan dampak ekonomi bagi negeri sendiri,” tuturnya.

Melalui perjuangan kerasnya untuk memberikan edukasi serta membangun komunikasi yang baik terhadap para investor inilah membuat perusahaannya berdiri dengan baik. Wanita kelahiran Surabaya ini setidaknya sudah berhasil menjalankan beberapa inovasi yangdibuat dan salah satunya dengan membuat situs jual beli bernama belibu.com. “Saya berusaha meng-ikubasi mereka dimana perusahaan ini sebagai penengah dari investor ke masyarakat,” paparnya.

Tingkatkan Ekonomi Lokal

Melalui anak bisnisnya bernama belibu.com, Fandayani berupaya ingin meningkatkan usaha warga Jakarta menuju arah yang lebih baik. Karena itu, ia berupaya melokalisasi situs buatannya tersebut tidak hanya diakses pedagang besar, tapi juga pengusaha kecil agar dapat mempromosikan bisnisnya. “Inilah cita-cita terbesar saya, karena kalau ini dilakukan, maka dapat me-ningkatkan pendapatan mereka juga,” tambahnya.

Pasalnya, selama ini yang ia ketahui banyak situs lain yang hanya memasukkan beberapa perusahaan besar saja tanpa memberikan kesempatan kepada perusahaan kecil. “Kalau perlu dokter gigi, tukang sate di salah satu tempat atau bahkan tukang bakso sekalipun bisa berpromosi dengan gratis. Apalagi ini juga membantu dia dal am meningkatkan pendapatannya, harap dia ketika ditemui usai jam makan siang. Karena itu, melalui independent reseller yang dibentuknya itu sedapat mungkin dapat mengedukasi para pedagang kecil untuk membuat promosi di situs mi-1 i k n y a . (tyo)

Entitas terkait

May 10, 2010

Imelda Sundoro, dari Otomotif Merambah Properti

Imelda Sundoro, dari Otomotif Merambah Properti

Robert Adhi Ksp/KOMPAS

KOMPAS.com — Imelda Tio atau Imelda Sundoro saat ini merupakan pengusaha sukses dari Solo, Jawa Tengah. Di kota kelahirannya, Imelda kini memiliki hotel Novotel Solo, Ibis Solo, Best Western Premier, dan Harris di superblok Solo Paragon yang segera dibuka tahun ini. Imelda juga memiliki Hotel Novotel di Semarang dan tanah kosong di Bukit Sari. Ia pun akan bekerja sama dengan Grup Ciputra untuk membangun perumahan di sana. Di Yogyakarta, Imelda juga memliki Hotel The Phoenix, hotel butik yang sebelumnya bernama Grand Mercure.

Hotel terbarunya di Solo, Best Western Premier, mendapatkan penghargaan dari MURI karena mengusung konsep serba batik sehingga membuat hotel yang sebelumnya merupakan bangunan mangkrak itu, menjadi salah satu ikon dan ciri khas Solo. Wali Kota Solo Joko Widodo bangga dengan usaha Imelda.

“Sudah banyak hotel yang menggunakan unsur-unsur kebudayaan. Namun, baru Best Western Solo yang mengedepankan dan mengutamakan penggunaan motif batik sebagai interiornya. Tidak hanya interior, tapi segi eksteriornya sudah menampilkan cetakan-cetakan motif batik. Ini yang membuat kami tidak ragu untuk memberikan penghargaan ini,” tutur Jaya Suprana dari MURI saat memberikan penghargaan itu kepada Imelda.

Imelda pernah mendapatkan penghargaan Ernst & Young tahun 2008 yang diserahkan langsung oleh Menteri Perindustrian (waktu itu) Fahmi Idris, didampingi CEO Ernst & Young Guiseppe Nicolosi. Imelda menerima penghargaan Special Award for Entrepreneurship Spirit 2008. Ini merupakan satu-satunya penghargaan berkelas internasional untuk wirausaha yang sukses membangun dan memimpin bisnisnya.

Lahir di Solo, 2 Mei, Imelda Sundoro merupakan anak pertama dari tujuh bersaudara. Ayahnya bernama Koo Tjong Tjang dan ibunya Tio Fee Swie. Ayahnya meninggal dunia ketika Imelda berusia 9 tahun. “Bayangkan bagaimana upaya mami yang punya tujuh anak waktu itu untuk menghidupi anak-anaknya. Padahal mami waktu itu berusia 27 tahun,” cerita Imelda.

Imelda mengaku sudah terbiasa hidup susah. Mentalnya sekuat baja. Sejak kecil, dia digembleng karena dia tak biasa dimanja. Imelda mengenyam pendidikan di Malang dan Solo. Setelah lulus SMA Kanisius Putri, Imelda sempat melanjutkan pendidikan di Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. “Tapi hanya sampai tahun ketiga karena saya keburu menikah,” cerita Imelda.

Setelah menikah, Imelda membuka usaha jahitan di Solo. Produknya kemudian dijual di Jakarta, dibantu oleh adik Imelda, Koo Lie Ing. Usaha konveksinya berkembang. Seiring dengan itu, Imelda juga memulai usaha furnitur dan menjadi makelar mobil bekas. Imelda yang terbiasa bekerja keras ini mampu mengembangkan usaha bisnisnya sedikit demi sedikit sampai akhirnya menjadi bukit.

Hingga kini, Imelda tetap merakyat. Dia akrab dengan siapa pun. Tak jarang dia selalu mengajak para pegawainya makan bersama. “Saya selalu ingat masa-masa susah. Jadi, sambil bekerja, saya juga tetap memikirkan orang-orang kurang beruntung,” katanya.

Suami Imelda, Hoo Sundoro Hosea atau Hoo Ik Soen, belum lama ini meninggal dunia pada usia 75 tahun. Suaminya termasuk orang yang dihormati di Solo. Berbagai kalangan lintas agama datang ke vihara, memberi penghormatan terakhir kepada Sundoro Hosea.

Bersama suaminya, Imelda merintis usaha dari nol. Dari mulai usaha jahit, garmen, furnitur, jual beli mobil bekas, dealer mobil, usaha transportasi antarkota, sampai bidang properti. Usaha dealer mobil milik keluarga ini, Sun Motor, didirikan tahun 1974 di Solo, Jawa Tengah. Awalnya usaha ini dinamakan UD Sun Motor, usaha yang bergerak di bidang kredit mobil di sejumlah kota di Jawa Tengah.

Imelda dan Sundoro pantang menyerah, jujur, dan fokus pada pekerjaan sehingga Sun Motor makin dipercaya oleh agen tunggal pemegang merk (STPM) dan menjadi pemain utama dalam bisnis otomotif di Indonesia. Saat ini terdapat 53 cabang Sun Motor di Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Surabaya, Denpasar, Medan, dan sejumlah kota lainnya di Indonesia. Sun Motor merupakan dealer resmi sejumlah merek mobil, yaitu Mitsubishi, Suzuki, Nissan, Hino, Chevrolet, Renault, dan Toyota. Sun Motor juga memiliki divisi khusus yang menangani sepeda motor Suzuki dengan 37 cabang di berbagai kota di Indonesia.

Sukses dalam bisnis otomotif, Imelda dan Sundoro mencari peluang baru dalam bidang lainnya, mulai dari properti, jasa keuangan, dan penyewaan kendaraan.

Kini empat putra-putri keluarga Sundoro Hosea, yaitu Hartono Sundoro Hosea, Lisa Tjandrakusuma, Andrysan Sundoro Hosea, dan Jeffry Sundoro Hosea, terjun mengelola semua bidang bisnis dalam grup ini.

Grup Sun Motor terus berekspansi, termasuk dalam bidang properti. Berikut ini wawancara khusus Robert Adhi Ksp dari Kompas.com dengan Imelda Sundoro, pendiri, Presiden Komisaris dan CEO Sun Motor di Jakarta, Jumat (7/5/2010) pagi. Berikut petikannya:

Sebelum sukses mengembangkan usaha properti, Sun Motor sejak lama dikenal sebagai dealer mobil. Sejak kapan Anda bergelut di bidang otomotif?
Ya memang kami sudah menggeluti dunia otomotif sebagai dealer mobil sejak lebih dari 30 tahun lalu di Solo. Setelah di Solo, kami buka cabang Sun Motor di banyak kota, mulai dari Semarang, Kudus, Pati, Salatiga, Purwokerto, Boyolali, Wonosobo, Magelang, Klaten (Jawa Tengah), Surabaya, Jember, Kediri, Blitar, Madiun, Lamongan, Malang, Pasuruan, Sidoarjo, Probolinggo, Banyuwangi (Jawa Timur), Yogyakarta, Denpasar, Bandung, Medan, Banda Aceh, juga di Jakarta, mulai dari Matraman, Cempaka Putih, Fatmawati, Kalimalang, Tanjung Duren, Puri Indah, sampai Kebon Jeruk, dan berbagai kota lainnya.

Sun Motor juga agen tunggal pemegang merek Vespa, MAN, dan Aprilia. ATPM MAN beralamat di Jalan DI Panjaitan, Kebon Nanas, Jakarta Timur.

Sun Motor sempat membuka cabang di Los Angeles, Amerika Serikat. Namun akibat krisis keuangan global, terpaksa cabang di LA kami tutup.

Anda kan waktu itu belum berpengalaman dalam bisnis properti, apa pertimbangan Anda sehingga berani terjun dalam bidang properti?
Memang, banyak yang bertanya kepada saya, kok saya berani beralih bidang bisnis? Awalnya saya terjun dalam bidang garmen, lalu saya menjajaki dunia otomotif dan kemudian ke bidang properti. Sebenarnya saya juga pernah bergelut dalam bisnis transportasi, punya perusahaan otobus Giri Indah. Ini kan sebetulnya pekerjaan lelaki, dunia lelaki. Setelah krisis moneter tahun 1998, saya menjual perusahaan itu dan tetap menguntungkan.

Yang penting, integritas, komitmen, dan semangat kerja, spirit, dan memiliki imajinasi. Kalau tak punya imajinasi dan strategi, bekerja tidak menggunakan otak dan tidak memenuhi sasaran, usaha kita tidak akan maju.

Sebenarnya sudah lama saya mulai terjun dalam bidang properti. Saya berpikir bisnis otomotif tergantung pada supply and demand, tak bisa dilebihkan. Sementara itu, bisnis properti tak ada batasnya. Saya melihat hanya bisnis properti yang bisa berkembang terus.

Sekitar 20 tahun yang lalu, saya memulainya dengan membeli tanah, lalu menjualnya kepada pihak swasta. Lama-lama saya melihat bisnis jual-beli tanah prospektif. Saya mulai mengerti seluk-beluk pembebasan tanah dengan cara otodidak. Saya membeli tanah di Semarang, Surabaya, Solo, dan juga di Bali dan Jakarta.

Saya memiliki tanah di kawasan Bukit Sari seluas 25 hektar di Semarang, sebagian ada yang hilang. Di atas tanah itu akan dibangun perumahan, dan kami bekerja sama dengan Grup Ciputra.

Usaha properti lainnya adalah Perumahan Citra Gading di Serang, Banten.

Perusahaan Anda terus memperluas ekspansi. Apa lagi yang baru dari Grup Sun Motor?
Dalam tahun 2010 ini, akan buka dua hotel baru di Bali, yaitu Hotel All Seasons di Jalan Teuku Umar, dan Hotel Ibis Tuban. Semuanya dikelola jaringan Accor dari Perancis, seperti halnya Hotel Novotel Solo, Ibis Solo, Novotel Semarang, dan The Phoenix Yogyakarta.

Tahun 2009, hotel kami Grand Mercure Yogyakarta berubah nama menjadi The Phoenix. Pengelolanya masih jaringan Accor. Hotel ini hotel galeri yang sangat disukai orang-orang asing. Mereka menghargai bangunan bersejarah, heritage. Perubahan nama ini atas permintaan Accor juga.

Tahun lalu juga, hotel kami terbaru, The Best Western Premiere di Solo, dibuka. Hotel ini dulunya bangunan mangkrak di Jalan Slamet Riyadi, depan BCA Solo. Awalnya saya ajak orang Accor. Namun, agaknya mereka kurang tertarik. Akhirnya saya gaet Best Western dari Amerika. Sebenarnya saya ingin tahu, jaringan Amerika dan Perancis, mana yang terbaik. Tentu satu sama lain tak mau kalah.

Nah, Best Western Premiere baru saja mendapatkan penghargaan MURI karena serba batik, semua yang ada di hotel itu bernuansa batik. Waktu itu tercetus ide, bagaimana agar hotel baru ini dapat bersaing dengan hotel lainnya, sekaligus menjadi ikon pariwisata Kota Solo. Untuk itu dibutuhkan pikiran yang inovatif dan kreatif. Dan nyatanya sekarang Best Western Premiere makin dikenal.

Ibis Solo dibuka berdampingan dengan Novotel Solo, satu manajemen. Artinya tamu Ibis bisa memanfaatkan kolam renang dan spa Novotel. HRD dan audit satu, dan hanya food and beverage serta house keeping yang dipisah. Tapi ini dilakukan demi penghematan.

Anda salah satu pemilik superblok Solo Paragon. Bagaimana perkembangan Solo Paragon?
Sampai bulan Mei ini, Solo Paragon sudah selesai 75 persen. Di sini dibangun kondotel, pusat perbelanjaan, gedung perkantoran. Gedung apartemen di Solo Paragon merupakan tertinggi di Jawa Tengah dengan 25 lantai, lahan terluas yaitu 4,2 hektar di pusat kota Solo, dan terlengkap dengan berbagai fasilitas. Lahan parkirnya berkapasitas ribuan kendaraan.

Saya bekerja sama dengan pengembang lain, Grup Gapura Prima. Mengapa kerja sama penting? Supaya usaha otomotif Sun Motor tidak telantar, tetap berkembang.

Sudah ada rencana untuk tahun 2011?
Tahun 2011, akan dibuka sejumlah hotel di beberapa kota. Kali ini saya pilih budget hotel, Formule-1. Mengapa pilih Formule-1? Saya lihat di Jakarta, terlalu banyak hotel bintang lima, tapi okupansi tidak selalu penuh. Lalu kenapa tidak pilih hotel murah bersih?

Jadi tahun 2011, akan dibuka empat hotel Formule-1, yaitu di Sunset Boulevard (Bali), di Jalan Pierre Tendean (Semarang), di Jalan Solo (Yogyakarta), dan satu lagi di Jakarta Barat. Tahun depan, empat hotel ini harus sudah beroperasi. Ke depan, kami akan buka hotel Formule-1 lagi di Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan. Saya senang untuk selalu kreatif dan inovatif. (Robert Adhi Ksp)

KSP


Site Meter

December 7, 2009

Mayoritas Perempuan Belum Mandiri

Senin, 7 Desember 2009 | 04:06 WIB

Jakarta, Kompas – Mayoritas perempuan di Indonesia dinilai masih bergantung secara finansial kepada pasangan. Tidak siap jika pasangan mereka kehilangan pekerjaan, kecelakaan, atau meninggal dunia.

Demikian rangkuman seminar dengan tema ”Kemandirian Finansial bagi Wanita” yang diselenggarakan Citibank Indonesia di Jakarta, Sabtu (5/12).

Vice President Customer Care Center Head Citibank Indonesia Hotman Simbolon menyatakan, hasil survei Citi Fin-Q (Financial Quotient) yang melibatkan 200 responden perempuan menunjukkan, mayoritas responden mengekspresikan kekhawatiran soal kestabilan pekerjaan dan masa depan anak-anak mereka.

Responden yang punya rencana keuangan formal 21 persen dan 47 persen yang punya kebiasaan menabung dengan baik.

Hal ini, kata Hotman, menunjukkan lemahnya kesadaran perempuan untuk mandiri secara finansial. Padahal, kesadaran finansial penting sebab perempuan pembuat keputusan keuangan yang aktif di masyarakat.

Proyeksi perhitungan PBB menyebutkan, tahun 2010 angka harapan hidup perempuan Indonesia lebih tinggi dibanding pria, yaitu 72,7 tahun banding 68,7 tahun. Ini berarti perempuan harus matang mempersiapkan masa pensiun.

Studi Citibank Indonesia menyebutkan, perempuan Indonesia menghabiskan waktu rata-rata 39 menit setiap minggu untuk mengelola keuangan pribadi dan hampir 50 persen menganggap pengelolaan keuangan suatu pekerjaan yang sulit.

”Untuk mandiri secara finansial dalam perekonomian, perempuan harus punya keterampilan mengelola keuangan, pribadi maupun keluarga, agar bisa membuat keputusan finansial yang tepat,” ujar Hotman. (REI)

October 26, 2009

Queen of the Philip Straits

From Globe Asia :
Batam’s Nada Faza Soraya has a business vision that includes eco-tourism, tourism training and the establishment of an Indonesian Coast Guard. Famed locally for her stamina and fighting spirit, she is likely to grow her influence in national maritime issues.

The tide around the Riau Islands in mid-January 2009 was quite high but Nada Faza Soraya did not cancel her trip to Labu Island where she had been invited by local fishermen for a crab harvest ceremony. Later in the day she returned to Batam Island to chair a meeting of the local chapter of the Indonesian Chamber of Commerce and Industry (Kadin). In the evening she met with Captain Holly Graf, the female commander of the USS Cowpens, a guided-missile cruiser resupplying in Batam.

Nada is a very busy businesswoman. She entered the business world rather late, opening a coal trading business in 1996, followed by a company supplying raw materials to a number of pharmaceutical companies belonging to friends.

She now controls two companies: shipping outfit PT Citra Bahari Nusindo, and property concern PT Surya Sei Nongsa. Although she doesn’t fully control the two firms, GlobeAsia estimates her business assets as worth about Rp 500 billion ($50 million)

Nada was raised in an entrepreneurial environment. Her step-father was a shipping businessman and her mother was owner of a music recording studio. She grew up with various business obsessions particularly those related to the maritime world.

“My step father was an entrepreneur in shipping whose operation covered the islands in Riau. In 1996, one of his vessels hit a tanker in the Phillips Strait, and we had to pay the damage because we (the vessel) were considered in the wrong path,” the 51-year-old businesswoman recalls.

“After that incident, we started from zero again. I took over the business because my father was ill. I had to struggle to obtain licenses,” she explains.

This resulted in the establishment of PT Citra Bahari Nusindo, which commenced with no vessels as the family had been forced to sell its fleet to cover damages in the earlier incident.

The first opportunity came from Singapore. Penguin Boat International, which ferries passengers between Batam and Singapore, appointed Citra Bahari as its agent in Batam through a joint venture, PT Penguin Indoraya, which operates 10 ferries in the Riau Islands.

Several years later, Penguin set up a cargo business, Penguin Speed Cargo, in which Nada has a 30% stake. She has owns three vessels in the venture, each with a capacity of 170 dead weight tons.

Nada says she plans to expand her shipping fleets this year: adding two more cargo vessels and seven ferries, which will require total investment of around Rp 500 billion.

However, according to information gathered by GlobeAsia, Penguin sold its entire stake in the venture, in December 2008, to PT Kyorisa International Service.

Expanding Batam’s tourism potential

In 2000, Nada set up a resort business dedicated to Korean tourists in a joint venture with PT Inko Batam, a Korean-owned company. She says that the resort business is part of efforts to help turn Batam into a MICE (meeting, incentive, convention and exhibition) destination. “Batam has the potential to become a MICE city,” she says.

Inko owns 70% of the Nongsa Beach Resort on Batam facing the Philip Straits and is developing the 10-ha, 325 room resort as an international class facility. It is expected to be completed by the end of this year. Nada’s 30% share is owned through PT Surya Sei Nongsa.

“I want to expand the tourism business to the Southeast Asian region, by setting up resorts in Cambodia, Singapore, Malaysia and Thailand, as well as expanding the marketing network of products from Batam. This will start once the construction of the Nongsa Beach Resort has been completed,” Nada says.

Nada joined Kadin in 2000 as head of the grouping’s environmental committee. A year later, she became deputy chairwoman of the Batam chapter of Kadin. During Kadin’s national leadership meeting in 2001 in Bali, she pushed for the setting up of a maritime committee in Kadin and she succeeded. In 2005, she was appointed as chairwoman of the Batam chapter of Kadin for the 2005-2010 period.

Through Kadin Batam, Nada set up a social foundation called the Indonesian Maritime Education Foundation. She says that this was the first step in her effort to set up the Indonesian Maritime University, which will provide scholarship for children of fishermen or other poor people to study about maritime. “Unfortunately, until now our plan to set up the university has yet to be realized because the necessary permit has yet to be issued,” she grumbles.

Building an Indonesian Coast Guard

Nada has also been successful in helping to push the central government to revise Law No. 21/1992 on shipping to become Law No. 17/2008. Her other obsession is to set up the Indonesian Sea and Coast Guard as the sole regulator in the Indonesian waters.

“We need to have the Indonesian Sea and Coast Guard. I talked about this on CNN, and I was questioned by Intelligence. Indonesia needs to have this kind of institution so that the shipping vessels owned by our businessmen are not seized easily at any time – arrested by the navy, then released, then seized again by the Ministry of Maritime, by the customs office, or by the Air Force water police. How much money do we have to spend because each office has its own rulings?” she says.

Nada seems to have strong stamina. Supriyadi, head of the Riau Islands chapter of the Indonesian Young Entrepreneurs Association (Hipmi), describes her as a fighter lady. “If she has set up a target, she will fight until that target is achieved. One example was when she fought for the setting up of the maritime committee at Kadin. She struggled until that committee was realized.”

According to Supriyadi, being too firm in what she believes has often led her into confrontations
and suggests she adopt a more flexible approach in dealing with others. “This is important so that more people will support her. We know that she has also worked a lot for the interest of the people.”

Nada is currently active in promoting the development of Lengkana Island, which is only a 25-minute ferry trip from Singapore’s Sentosa Island. She says that by 2010, Singapore will complete the construction of the world’s largest casino on Sentosa Island, which is being developed by the Star Cruise Group from Malaysia and a gaming giant from Las Vegas.

Nada wants to make the group of islands near Singapore a ‘bastion’ against the negative effects of the gambling center in Singapore. Her plan is to develop the nearby islands as an eco-tourism destination as well as a center for the development of local culture and leading products.

She insists the people in Batam must be protected against nearby gambling. “We can’t fight Singapore. The only option for us is to develop integrated eco-tourism. Perhaps it could be like the Mezzo Island in China, where there are no automotive vehicles,” she explains.

On Lengkana Island, Nada and other Batam-based investors have set up a consortium to develop townhouses, a three-star hotel, an environment-friendly tourism facility, and education center for tourism training as well to train people to work in Singapore. On the same island, the Kadin Batam chapter is also developing a trading house, an exhibition hall, and center for the development of leading national products. Development of Lengkana Island will begin this year and cost an estimated Rp800 billion.

Nada says that the biggest expense will be the construction of a solar energy facility for electricity and a waste processing facility. The 60-ha island will also have its own special terminal so people don’t have to transit in Batam. There will be no cars, motorcycles or other vehicles which emit carbon dioxide on the island. The means of transportation will be bicycle, tricycle, horse wagon, or electric cars.

Will Asians appreciate the quiet?

Lengkana Island, which is located near Sambu and Lengkan islands, has huge potential for tourism development with its various Malay dishes, arts and culture, handicrafts and a virgin tropical nature. Nada says at this moment, around 1,500-3,000 local and foreign tourists visit the island every holiday season.

“Here (in Batam), money can come anytime, can meet any one including big global business people. Many world-class businessmen came here quietly. They walk around the island without anyone noticing. It will be much better if it (the tourism sector) is managed properly,” says Nada.

Ben Sukma, chairman of the travel agency association (Asita), warns that Asian tourists have different characteristics; they love to go to destinations if there are many people there. Thus, according to Ben, the market segment for eco-tourism in Asia is still small.

“The investors must be able to convince tourists who normally visit Singapore that Lengkana Island is also worth visiting. Asian tourists prefer crowded places,” Ben explains.

Regarding the move by President Susilo Bambang Yudhoyono in January to declare Batam a Free Trade Zone (FTZ), Nada laments the facts that it was made before various other problems such as weak bureaucracy, lack of international-class port facility, conflicting regulations, and the absence of Indonesian Sea and Cost Guard have been settled first.

Nada is concerned that after the President launches Batam as an FTZ, and the law and implementing regulation have been issued, the real conditions in the field are yet to meet the requirements of international conventions. GA

October 12, 2009

inul vista : siap bangun 200 tempat karaoke

Mantaap !!

Jakarta Usaha karaoke Inul Vista tidak pernah berjalan mulus. Mulai dari didemo hingga terancam disegel. Namun itu tidak menyurutkan niat Inul membangun 200 tempat karaoke murah meriah.

“Inul Vista berencana mendirikan tempat karaoke, namanya Inul Light. Rencananya kita mau bikin di 200 tempat,” jelas Adam Suseno, suami Inul, saat berbincang dengan detikhot lewat telepon, Senin (12/10/2009).

Mengapa dinamai Inul Light? Adam menuturkan kalau tarif yang dipasang bisnis karaoke Inul Light akan di bawah harga Inul Vista.

“Ini untuk masyarakat menengah ke bawah,” imbuhnya.

Hal tersebut dilakukan agar masyarakat yang berkantong cekak juga bisa menyanyi di tempat karaoke. Dengan adanya Inul Light, apakah itu artinya Inul Vista mulai kehilangan pelanggan?

“Oh nggak, justru kita makin melebarkan sayap,” ujar pria berkumis tebal itu.

Adam pun menegaskan kalau selama ini bisnis karaoke Inul Vista tidak pernah melanggar aturan. Karaoke Inul Vista murni untuk keluarga.

“Kita kan bukan karaoke yang plus-plus,” tandasnya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.