Archive for ‘Tourism’

May 2, 2012

Kunjungan Wisman Naik 10,1 Persen

Rabu,
02 Mei 2012
PARIWISATA

Kunjungan Wisman Naik 10,1 Persen
Jakarta, Kompas – Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang Maret 2012 tercatat 658.600 orang. Jumlah itu naik 10,1 persen dibandingkan dengan Maret 2011, atau naik 11,1 persen dibandingkan Februari 2012. Untuk mengukur kontribusi pariwisata bagi ekonomi, pemerintah mengembangkan neraca satelit pariwisata nasional.

Peningkatan itu berdampak pada kenaikan tingkat hunian hotel. Pada bulan Maret, tingkat hunian rata-rata hotel 52,7 persen, atau naik 0,75 poin dibandingkan dengan Maret 2011. Sayangnya, rata-rata lama menginap turun. Kini, rata-rata 2,01 hari atau turun 1,01 hari.

Menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wardiyatmo, Selasa (1/5), peningkatan itu menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional. Target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) tahun 2012 sebanyak 8 juta orang dengan target devisa 8,96 miliar dollar AS.

Untuk mengukur kontribusi pariwisata, pemerintah sedang mengembangkan neraca satelit pariwisata nasional. ”Peran pariwisata bagi ekonomi nasional sangat besar. Karena itu, harus ada sistem perhitungan yang memadai. Pariwisata punya peranan cukup besar dalam mengatasi persoalan ekonomi makro, seperti inflasi, pengangguran, serta neraca pembayaran, termasuk neraca perjalanan,” katanya.

Pendataan neraca pariwisata, lanjutnya, sebaiknya tidak hanya bergantung pada pemerintah provinsi, tetapi juga dilakukan oleh pemerintah tingkat kabupaten, bahkan pengelola kawasan pariwisata.

Menurut Kepala Badan Pusat Statistik Suryamin, arus kunjungan wisman di 19 pintu masuk utama sebagian besar meningkat. Hanya lima pintu masuk yang negatif. Kelima pintu masuk itu adalah Sam Ratulangi (-11.1 persen), Adi Sumarmo (-19 persen), Minangkabau (-2,12 persen), Adisutjipto (-18 persen), dan Tanjung Uban (-0,1 persen).

Suryamin melaporkan, jumlah penumpang angkutan udara domestik pada Maret 2012 sebanyak 4,4 juta orang, naik 10,6 persen dari Februari 2012. Selama Januari-Maret 2012, jumlah penumpang domestik 12,8 juta orang, atau naik 5,7 persen. Jumlah penumpang internasional 2,8 juta orang atau naik 14,9 persen dari periode sama 2011. (ENY)

Facebook Twitter Email Print
KOMENTAR

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini.

KIRIM KOMENTAR

Name

lila
Email

lilamaniz68@gmail.com
Komentar

Kirim Batal

TODAY’S NEWSPAPER

NEWS ARCHIVE

MEI 2012
Sn Sls Rb Kms Jmt Sbt Mg
30 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3

TERPOPULER
Aburizal: Semua agar Tahan Diri

Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie menegaskan,

Angie Harus Ajukan Diri

Bus Terbakar, 13 Orang Tewas

Menteri Kesehatan Kritis

Korup, Kok, Bisa Dapat Penghargaan?

TERKOMENTARI
Longsor Memutus Jalan

Payung Hukum Diterbitkan Pekan Kedua Mei

Pelajaran dari Kampung Halaman

Harga Cengkeh Meroket

Adopsi Anak

March 6, 2012

Siap Bangun 20 Budget Hotel

METROPOLITAN LAND Siap Bangun 20 Budget Hotel
Oleh Herdiyan
Selasa, 06 Maret 2012 | 11:46 WIB

Berita Terkait

PROYEK HOTEL: JSPT Cairkan Pinjaman US$15 Juta
CIPUTRA PROPERTY: Siap Bangun 6 Hotel Baru
KINERJA EMITEN: Pendapatan Dorong Lonjakan Saham Surya Internusa
ITB BERLIN 2012: Indonesia Promosikan Pariwisata
PELITA JAYA Minta Cessie Ke Asta Makmur Dibatalkan
BANDUNG: Investor di sektor perhotelan gencar mengembangkan bisnis hotel murah atau budget hotel seiring dengan tingkat pengembalian investasi yang tergolong cepat (break event point) pada kelas penginapan tersebut.

Nanda Widya, Presiden Direktur PT Metropolitan Land Tbk, pengembang properti, menuturkan pihaknya sedang fokus membangun hotel murah untuk ekspansi bisnis perusahaan.

Tak tanggung-tanggung, 20 unit hotel murah siap dibangun perusahaan terbuka tersebut dalam jangka waktu lima tahun.

Menurut rencana, ujarnya, tiga kota di Jawa Barat akan menjadi fokus utama pembangunan hotel murah, yakni Bekasi, Cirebon, dan Tasikmalaya.

“Kami sudah membangun budget hotel di Tambun, Bekasi. Ke depan kami siap membangun hotel serupa di dua kota lainnya, yakni Cirebon dan Tasikmalaya. Mudah-mudahan terealisasi bulan depan,” ujarnya kepada Bisnis, baru-baru ini.

Untuk membangun sejumlah hotel murah tersebut, perseroan akan mengambil dana dari anggaran belanja modal tahun ini yang mencapai Rp1 triliun.

Dia menjelaskan investasi yang diperlukan untuk satu hotel mencapai Rp30 miliar dengan jumlah kamar antara 60-100 unit. “Itu tergantung pada luas lokasinya,” katanya.

Nanda menargetkan sepanjang tahun ini perseroan bisa membangun 5 hotel murah. Proyek pembangunan tiap hotel kemungkinan selesai dalam satu tahun.

Untuk penyediaan lahan, Metland memakai sejumlah skema antara lain beli, sewa, ataupun kerja sama dengan perusahaan lain.

“Setelah proyek ini selesai, perseroan akan berekspansi ke luar Pulau Jawa. Kami masih mencari lahan di Medan dan Kalimantan,” ujarnya.

Nanda menjelaskan hotel murah sedang dilirik sejumlah investor. “Saya perkirakan, bila kondisinya bagus, modal akan kembali dalam waktu kurang dari 10 tahun,” tegasnya.

Saat ini, ungkapnya, Metland telah memiliki jaringan Hotel Horison dan @Home.

Setelah 20 hotel murah ini selesai dibangun pada 2015, Nanda memperkirakan Metland bisa mendapat tambahan pendapatan 10%.”Pendapatan dari hotel cukup stabil,” katanya.

Sementara itu, Firmansyah Rahim, Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, menuturkan hotel murah berkembang pesat beberapa tahun belakangan ini.

Sejumlah perusahaan yang telah bergelut di bisnis hotel murah, antara lain Santika Group, Horison Group, dan sejumlah perusahaan properti lainnya.

Hal itu, katanya, dipicu tingginya kebutuhan wisatawan untuk menginap di hotel yang terjangkau.

“Saya berharap ini [ekspansi budget hotel] bisa mendukung pariwisata Indonesia,” ujarnya.(faa)

February 22, 2012

Aceh Sedang Digarap Jadi Daerah Tujuan

Syariah tourism..

22 Februari 2012
PARIWISATA
Aceh Sedang Digarap Jadi Daerah Tujuan
BANDA ACEH, KOMPAS – Garuda Indonesia merangkul pemerintah daerah di Provinsi Aceh untuk bersama-sama mengembangkan potensi pariwisata di wilayah itu. Langkah tersebut dilakukan dalam rangka menggenjot peningkatan penumpang, terutama pada masa sepi bulan Januari-Maret.

Account Manager untuk Rute Domestik Garuda Indonesia, Herman Azwar, mengatakan, pihaknya bersama pemerintah daerah dan asosiasi pariwisata berusaha menggali potensi yang ada. Garuda sejauh ini melayani rute Jakarta-Banda Aceh melalui Medan dua kali dalam sehari.

”Kami berusaha membuat program bagaimana caranya menaikkan keterisian ke Aceh di hari-hari tertentu, meski secara rata-rata keterisian kami sudah bagus, di atas 80 persen,” ujar Herman di sela-sela Familiarization Trip (Fam Trip), di Banda Aceh, Senin (20/2).

Fam Trip yang dimotori Garuda diikuti oleh media massa, biro perjalanan, dan pemerintah daerah.

Selama lebih dari sepekan, mereka akan mengunjungi obyek wisata di 11 kabupaten/kota di Provinsi Aceh. Selain itu, mereka juga membicarakan langkah yang akan dilakukan ke depan.

Potensi besar

Selama ini Provinsi Aceh memiliki potensi wisata yang besar, tetapi belum banyak dikenal masyarakat luas. Selain obyek sejarah, religi, dan alam, Provinsi Aceh juga memiliki obyek wisata yang tidak ada di tempat lain, yakni sisa-sisa kedahsyatan tsunami 24 Desember 2004.

Sementara itu, Heru Laksono, Direktur Utama Biro Perjalanan Andiarta Wisata, mengatakan, selama ini potensi wisata di Provinsi Aceh memang belum dikenal luas. Informasi yang sampai ke daerah lain soal obyek wisata masih sedikit.

Pascatsunami

Zainal Arifin, Kepala Bidang Pembinaan dan Pengawasan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh, dan Amirudin, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Provinsi Aceh, secara terpisah, mengatakan, saat ini pihaknya memang sedang giat-giatnya mengembangkan pariwisata, salah satunya peninggalan tsunami.

Menurut Zainal, kunjungan wisata, baik domestik maupun mancanegara, ke Banda Aceh sebenarnya terus meningkat. Jika tahun 2010 ada 142.370 wisatawan, maka pada tahun 2011 naik 15 persen menjadi 163.703. Dari jumlah tersebut, 3 persen di antaranya merupakan wisatawan mancanegara.

Data tersebut merupakan hunian di hotel, belum termasuk yang menginap di rumah saudara dan rekan.

”Program Visit Banda Aceh Year pada 2011 berlangsung sukses. Akhir 2011 pemerintah provinsi menyusul dengan mencanangkan Visit Aceh Year pada 2013,” ujar Zainal.

Ia berharap dalam waktu dekat jumlah wisatawan ke Aceh meningkat. (WER

February 1, 2012

Pariwisata Ambon Bangkit lagi

Senin,
30 Januari 2012

KOMPAS/A PONCO ANGGORO
Tarian tradisional Maluku menyambut wisatawan asing yang datang dengan kapal pesiar MV Discovery di Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon, Maluku, Minggu (29/1). Ada 440 wisatawan dari sejumlah negara yang dibawa kapal pesiar ini. Masuknya kapal pesiar tersebut merupakan yang pertama kalinya setelah konflik sosial di Maluku tahun 1999. Kembali masuknya kapal pesiar menimbulkan harapan baru kebangkitan pariwisata di Maluku.
AMBON, KOMPAS – Kapal pesiar kembali masuk ke Ambon, Maluku, setelah terhenti sejak konflik sosial tahun 1999. Sebelum 1999, Ambon adalah salah satu destinasi utama bagi kapal pesiar dari sejumlah negara. Kedatangan kapal pesiar ini mengisyaratkan kebangkitan pariwisata Maluku.

Kapal pesiar MV Discovery dengan panjang 163 meter dan bobot 2.000 ton sandar di Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon, Maluku, Minggu (29/1), sekitar pukul 06.00 WIT. Menurut Kapten MV Discovery Neil Broomhall, ada 440 wisatawan di kapal itu yang berasal dari lima negara, yaitu Amerika Serikat, Inggris, Australia, Kanada, dan Selandia Baru.

Kedatangan mereka disambut tarian dan permainan musik tradisional. Hadir pula Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy bersama sejumlah pejabat Pemerintah Provinsi Maluku.

Seusai penyambutan, wisatawan diajak melihat kerajinan tangan khas Maluku di pelataran parkir pelabuhan, lalu berkeliling ke sejumlah obyek wisata di Ambon dengan bus yang disediakan. Ada pula wisatawan yang memilih berjalan kaki, atau menggunakan becak. ”Kunjungan ke Ambon ini sangat berkesan, tapi sayang hanya sesaat kami singgah di sini (Ambon),” ujar John Moran, wisatawan asal Inggris.

MV Discovery hanya delapan jam berada di Ambon, dan pada pukul 14.00 berlayar lagi menuju Darwin, Australia. Kapal ini juga akan berlabuh di Bali dan Pulau Komodo, Flores.

Direktur Utama PT Sandy Delima Tour and Travel Hellen S de Lima yang mengupayakan kedatangan MV Discovery ke Ambon mengatakan, tahun ini akan ada lagi tiga kapal pesiar merapat di Ambon. Bahkan, untuk tahun depan, sudah ada dua kapal pesiar yang menjadwalkan pelayarannya ke Ambon.

”Tidak mudah meyakinkan pemilik kapal pesiar agar kapalnya masuk ke Ambon, apalagi akhir tahun lalu kondisi keamanan di Ambon sempat terganggu. Dibutuhkan waktu lima tahun untuk meyakinkan mereka bahwa kondisi di Ambon dan Maluku sudah aman,” ucapnya.

”Kembalinya kapal pesiar ke Ambon menjadi harapan baru kebangkitan pariwisata di Maluku. Kita harus menjaga kondisi Ambon tetap aman agar kapal pesiar lebih banyak lagi datang ke Maluku,” ujar Ketua Asosiasi Perjalanan dan Wisata Maluku, Tony Tomasoa. Sebelum konflik 1999, dalam setahun ada tujuh kapal pesiar masuk ke Maluku, yang sekali angkut ada 400-800 wisatawan mancanegara. (AP

January 21, 2012

Bromo Bukan Hanya Lautan Pasir

Negeri yang kaya akan object wisata ini tidak memiliki infrastruktur dan standar pelayanan bagi wisatawan.. Memalukan sekali ! Pemerintah hanya bisa memungut iuran/retribusi doang dan melupakan pelayanan.. Tidak heran jumlah wisatawan Indonesia masih dibawah Malaysia dan Thailand .. DODOL !

Sabtu,21 Januari 2012
WISATA BUDAYA
Bromo Bukan Hanya Lautan Pasir
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas menikmati keindahan alam Bromo di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, pertengahan November.

Oleh Idha Saraswati dan Amir Sodikin

Pegunungan Tengger dan Gunung Bromo tak hanya terkenal keindahan lanskapnya. Budaya orang Tengger yang menghuni tempat itu sejak lama menjadi ”wisata” yang hidup. Salah satunya ritual Karo.

Pertengahan Oktober lalu, rangkaian ritual upacara Karo atau upacara pawedalan jagad yang digelar setahun sekali itu dimulai. Gamelan ketiplung mengiringi keberangkatan upacara penyucian pusaka tinggalan leluhur Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur, menuju tempat yang dikeramatkan warga.

Dukun Ngadisari, Sutomo, memimpin sesepuh adat dan perangkat desa berarak melewati gang-gang kampung. Pusaka keris, tombak, bahkan uang kuno disucikan dalam ritual mandi kembang. Anak-anak hingga orang dewasa dengan pakaian terbaiknya larut dalam prosesi.

Upacara Karo merupakan persembahan korban bagi arwah leluhur, baik leluhur keluarga dekat maupun leluhur pendiri Tengger. Para leluhur yang sudah didewatakan ini bersemayam di Kawah Bromo. Ritual utama adalah upacara tekaning ping pitu, yaitu memanggil arwah leluhur agar pulang ke rumah. Upacara ini bisa berlangsung dua pekan.

Namun, hari raya Karo tak hanya untuk para leluhur. ”Upacara itu pada dasarnya upacara pawedalan jagad, kami memperingati lahirnya jagat. Disebut upacara Karo karena upacara ini dilaksanakan pada bulan Karo menurut kalender Tengger,” kata Sutomo.

Bagi masyarakat Tengger, alam sekitar, termasuk Gunung Bromo, penting diperhatikan. Sikap baik terhadap alam merupakan bagian dari kepercayaan mereka.

Ada tiga hal yang diperhatikan. ”Pertama pasti Sang Hyang Widi bersama manifestasinya, yaitu para dewa dan batara. Kedua leluhur. Ketiga leluhur ngaluhur atau leluhur Tengger,” katanya.

Di lereng Tengger itulah alam semesta diperingati berbarengan dengan penghormatan kepada leluhur. Mereka meyakini upacara itu juga terkait penghormatan kepada gunung, seperti halnya Kasada yang merupakan upacara mempersembahkan korban secara langsung kepada gunung.

Kurang dikenal

Walau Karo tak sebesar Kasada, upacara ini disebut-sebut sangat penting. Sebab, menjadi indikator apakah seseorang masih menjadi orang Tengger atau tidak. Namun, upacara ini masih asing di telinga wisatawan.

Bagi warga Tengger, Karo merupakan hari raya yang dinanti. Kemeriahannya mirip Lebaran bagi umat Islam. Saat Karo-lah pintu warga terbuka untuk siapa saja, saling mengunjungi dan menjamu. Tak hanya menjamu tetangga dan sanak saudara, tetapi juga menjamu arwah leluhur yang dipanggil pulang.

”Pada hari Karo kami berkeliling makan di semua rumah warga. Ini tradisi lama. Para tamu yang lewat pun kami tawari mampir. Bukan basa-basi, itu sudah adatnya,” kata Moyo, warga Jetak.

Perkataan Moyo bukan isapan jempol. Keramahan warga membuat wisatawan selalu ingin datang menyaksikan Karo. Namun, konsep wisata budaya, yang mengandalkan tradisi dan keramahan warga, ini tak bersentuhan langsung dengan industri wisata. Berbeda dengan desa-desa lebih di atas gunung yang terlibat langsung dalam industri wisata pesona alam Bromo yang lebih komersial, yang semua dihitung dengan rupiah.

Andalkan alam

Budaya dan ritual Tengger sendiri masih kalah pamor dibandingkan di Bali. Seorang wisatawan muda asal Belanda, Ghonick, mengatakan ke Bromo karena ingin melihat keindahan matahari terbit dan pemandangan pegunungan yang indah.

Berangkat dari Desa Ngadisari, napas Ghonick tersengal- sengal saat tiba di puncak Penanjakan II di Pegunungan Tengger. Penuh semangat, ia mengabadikan matahari terbit di atas kaldera Bromo.

Selain keindahan alam, Ghonick juga mengaku tak banyak tahu informasi lain tentang Bromo. Berbagai adat dan ritual masyarakat Tengger tak ada dalam referensinya. Tak seperti nama Bali yang di benaknya merupakan gabungan antara atraksi budaya dan pesona alam.

Pelaku industri wisata Jawa Timur, Haryono Gondosoewito, menuturkan, sejauh ini industri wisata lebih menjual pesona alam Bromo, seperti kaldera Bromo dan keindahan matahari terbit di Puncak Penanjakan. Brosur-brosur wisata bahkan menyebut matahari terbit di Bromo sebagai salah satu dari tiga momen matahari terbit terindah di dunia. Dari Penanjakan itu, wisatawan bisa melihat puncak Gunung Batur, Kawah Gunung Bromo, dan puncak Gunung Semeru di kejauhan.

Lanskap Tengger-Bromo memang memanjakan mata dengan beragam keindahan. Begitu mobil gardan ganda memasuki kawasan Bromo, perbukitan berselimut ilalang hijau segera menyegarkan mata. Gelombang perbukitan ”berkarpet” hijau itu terkenal sebagai

Bukit Teletubbies. Mengemudi lebih jauh terhampar lautan pasir. Embusan angin gunung mengukir pola unik di atas pasir. Dari lautan pasir ini, ada jalur pendakian ke kawah Bromo.

Berbagai kendala

Pelaku wisata kesulitan mengangkat potensi lain di Bromo, termasuk budaya, karena menilai pasarnya lemah. Memang ada turis yang tertarik menyelami budaya, yang biasanya berasal dari Eropa. Namun, jumlahnya tak signifikan.

Kebijakan pemerintah untuk mengembangkan kawasan Bromo juga dinilai kurang maksimal karena ada tiga kabupaten yang berkepentingan terhadap kawasan wisata itu. ”Membuat satu kebijakan saja jadi sulit karena harus atas persetujuan tiga kabupaten,” kata Haryono, yang juga mantan Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita).

Selain itu, warga sepertinya juga belum siap menerima wisatawan. Tarif penginapan, misalnya, sering ditawarkan tanpa standar. Anna dan Ben, turis dari Jerman, misalnya, mengaku merasa tertipu. Mereka membayar hotel lebih mahal dibandingkan tarif normal. ”Kami malam sampai di Bromo, jadi yang penting dapat kamar. Ternyata setelah kami bandingkan harganya, kami membayar lebih mahal,” ujar Anna.

Pengunjung dilarang bermobil ke area wisata. Pilihannya, jalan kaki atau menyewa kuda, sepeda motor, atau jip.

Untuk membujuk wisatawan memakai jasanya, operator alat transportasi kerap menyampaikan informasi menyesatkan. Hal itu misalnya mengatakan, jarak ke suatu lokasi sangat jauh dan sulit dijangkau kendaraan pribadi sehingga perlu menyewa kendaraan. Terkadang dengan tarif mahal. Harga sewa jip selama 30 menit perjalanan pulang-pergi Rp 300.000.

Bagaimanapun keadaannya, Bromo magnet wisata Jawa Timur. Haryono mengatakan, dalam ajang tahunan Majapahit Travel Fair, pelaku wisata Jatim berupaya mengenalkan destinasi baru kepada biro wisata dari berbagai negara. Namun, agen perjalanan dari berbagai negara selalu meminta ke Bromo.

Sayangnya, andalan di Bromo hanya pemandangan. Keramahan dan keunikan budaya luput dari perhatian.

(Indira Permanasari/Ahmad Arif)

January 3, 2012

Danau Poso, Asyiknya Tari Dero dan Sogili

Selasa,
03 Januari 2012
PESONA NUSANTARA
Danau Poso, Asyiknya Tari Dero dan Sogili
KOMPAS/RENY SRI AYU
Danau Poso di Kabupaten Poso, salah satu tujuan wisata yang kerap dikunjungi wisatawan, baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Danau ini merupakan danau terbesar dan terdalam di Sulawesi Tengah, bahkan terbesar ketiga di Indonesia. Selain memiliki panorama indah, di Danau Poso juga terdapat ikan endemik, yakni sogili, sejenis belut besar.

Reny Sri Ayu

Cobalah berdiri di jalan menanjak, sekitar 15 kilometer arah Selatan Tentena, ibu kota Kecamatan Pamona Utara, Poso (280 km selatan Kota Palu). Dari ketinggian bukit terlihat hamparan air laksana lautan luas yang pesisirnya diselimuti pasir putih dan kuning keemasan.

Itulah sekilas eksotisme Danau Poso, sebuah danau terluas sekaligus terdalam di Sulawesi Tengah (Sulteng) dan juga disebut terluas ketiga di Indonesia. Tanjung, sawah menghijau, dan rumah warga yang tampak di kejauhan seperti menjadi bingkai perairan yang tenang dan sesekali beriak ini. Hilir mudik perahu nelayan ataupun perahu angkutan antardesa menjadi pelengkap keindahan yang memanjakan mata.

Berdasarkan catatan Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng dan Dinas Pariwisata Sulteng, luas danau ini berkisar 32 hektar dengan rincian panjang sekitar 32 km dan lebar 16 meter. Kedalamannya lebih dari 500 meter.

Begitu luasnya, Danau Poso dikelilingi tiga kecamatan, yakni Kecamatan Pamona Utara, Kecamatan Pamona Barat, dan Pamona Selatan. Danau Poso tepatnya berada di Tentena, ibu kota Pamona Utara, berjarak sekitar 56 km Selatan Poso, ibu kota Kabupaten Poso, atau sekitar 280-an km selatan Kota Palu, ibu kota Sulteng.

Danau Poso bukan sekadar danau biasa. Airnya yang biru kelam di bagian tengah dan kehijauan di tepi, serta pasir putih dan ombak, membuat siapa pun yang berada di Danau Poso akan merasa seolah di laut atau pantai. Perbedaan antara Danau Poso dan laut hanya pada air yang tawar serta pantainya yang tidak berkarang. Selain itu, udara sejuk di sekeliling Danau Poso kendati matahari sedang terik.

Pemandangan elok alam di sekitarnya, kehidupan masyarakat yang sebagian masih tradisional dan memegang teguh budaya dan adat istiadat, serta ikan endemik yang ada di danau ini membuat Danau Poso menjadi salah satu danau yang menjadi tujuan kunjungan wisatawan, baik mancanegara maupun lokal.

Soal eloknya alam, fakta berikut mungkin bisa sedikit memberikan gambaran. Danau Poso dikelilingi perbukitan dan pegunungan yang membentang dari Pamona Utara ke Pamona Selatan. Pegunungan di sekitar Danau Poso juga dihiasi lembah dan tebing yang dapat dilihat dan dinikmati di hampir setiap sisi jalan sepanjang lingkaran Danau Poso.

Selain itu, ada air terjun Bancea, yakni air terjun 12 tingkat di mana air mengalir dari susunan batu besar dan landai. Ada pula goa-goa dan makam tua dengan bentuk unik yang sebagian berada di dalam goa. Semuanya tersebar di sekeliling Danau Poso. Bahkan jika mau meluangkan waktu berkendara tiga jam ke Lembah Bada, di sini akan ditemui pemandangan lembah yang dikelilingi gunung dengan sejumlah situs dan arca peninggalan zaman megalitikum yang tersebar di kebun warga ataupun di lembah.

Tertutup hutan

Perbukitan dan pegunungan di sekitar Danau Poso sebagian besar masih tertutup hutan dan beragam satwa di dalamnya, termasuk satwa endemik, seperti beragam burung, tarsius, babi rusa, dan anoa. Bahkan Danau Poso sendiri adalah tempat hidup bagi ikan endemik, yakni ”sogili”, sebangsa belut berukuran besar dengan panjang sekitar 1 meter dan berat minimal 20 kilogram. Ikan nila, gabus, dan mas, juga jenis ikan yang hidup di Danau Poso dan bisa dinikmati di rumah makan yang tersebar di Tentena.

Di perbukitan dan pegunungan serta lembah ini berdiam masyarakat yang sebagian besar hidup sederhana dan masih berteguh pada budaya dan beragam tradisi turun-temurun. Tari ”dero”, misalnya, sebuah tari pergaulan yang khas Poso, dapat dinikmati kapan saja, di setiap perhelatan syukuran pernikahan, panen padi, dan acara lain. Daerah dataran tinggi di Poso, termasuk kecamatan di sekitar Danau Poso, juga terkenal dengan musik bambu.

Jika suatu saat berkunjung ke Poso atau Tentena dan wilayah lain yang ada di Poso dan kebetulan mendapati masyarakat sedang menggelar ”dero”, jangan ragu untuk mencoba. Tidak perlu meminta izin, langsung saja masuk dan ikut dalam lingkaran. Tari ”dero” memang dilakukan dengan membentuk lingkaran. Setiap orang berpegangan atau bergandeng tangan lalu membentuk lingkaran, dan selanjutnya menggerakkan kaki dengan gerakan tertentu dan berjalan ke samping mengikuti lingkaran. Lingkaran itu kadang menjadi kian besar jika makin banyak yang bergabung.

Kalau di daerah lain tari ”dero” kerap hanya satu lingkaran, di Poso lingkaran bisa bersusun tiga karena banyaknya yang ikut bergabung menari. Tarian ini diiringi musik dan lagu khas Poso, umumnya musik bambu dengan rangkaian peralatan musik seperti gamelan dan gong.

”Dari beberapa tempat di Sulteng yang saya ikuti tari ”dero”-nya, menari di Tentena paling asyik. Lingkarannya besar, umumnya pakai musik tradisional. Orang- orangnya juga ramah,” kata George, seorang wisatawan yang ditemui pada Festival Danau Poso, akhir Oktober 2011.

Sebelum konflik horizontal Poso yang berkecamuk sepanjang 1998-2005, Danau Poso adalah salah satu primadona pariwisata, tak hanya di Poso tetapi juga di Sulteng. Keindahan, budaya, dan akses yang mudah membuat Danau Poso banyak dikunjungi turis, baik asing maupun lokal.

Festival Danau Poso

Soal akses, Tentena berada dalam satu jalur antara Tana Toraja di bagian selatan serta Gorontalo dan Manado di bagian utara. Jarak tempuh Tentena dengan Tana Toraja kurang dari sepuluh jam melalui darat, hampir sama waktu tempuh Palu-Tentena melalui darat. Angkutan umum banyak, rental mobil juga tersedia.

Wisatawan mancanegara yang banyak berkunjung ke Tentena atau Poso, sebagian besar masih didominasi wisatawan yang berkunjung ke Tana Toraja. Biasanya banyak biro perjalanan yang membuat paket wisata Tana Toraja-Poso. Peluang ini ditangkap Pemerintah Kabupaten Poso dengan membuat Festival Danau Poso yang digelar setahun sekali. Festival ini memang dibuat sedemikian rupa untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke Poso. Festival biasanya diikuti peserta dari seluruh kabupaten/kota. Festival diwarnai dengan berbagai lomba dan pertunjukan serta pameran seni budaya.

Sayang, konflik kemudian membuat banyak wisatawan yang khawatir datang ke Poso, bahkan wisatawan dari daerah lain di Sulteng. Konflik bahkan membuat festival sempat tidak dilaksanakan selama lebih dari lima tahun.

Dalam tiga tahun berturut-turut, mulai 2009-2011, festival yang mengambil lokasi di tepian Danau Poso ini dilaksanakan kembali. Gubernur Sulteng Longki Djanggola berharap Festival Danau Poso menjadi bukti pulihnya situasi keamanan di Poso.

Anda mungkin satu di antara calon pengunjung yang berminta ke Poso dan berwisata d

December 2, 2011

Jambi Kaya Obyek Wisata

Jambi Kaya Obyek Wisata
Fabian Januarius Kuwado | I Made Asdhiana | Jumat, 25 November 2011 | 15:48 WIB
Dibaca: 1443Komentar: 0
| Share:

DOK BUDPAR
Gunung Kerinci.
TERKAIT:
Sumut Gencar Promosi Pariwisata
Tips “Packing” untuk Pelesir dengan Kereta Api
Obyek Wisata Percandian Bertambah
NTB Tempatkan Perwakilan di Singapura
Belanja di Singapura, Pajak Bisa Dikembalikan
KOMPAS.com – Jambi merupakan provinsi yang terletak di tengah-tengah pulau Sumatera dan memiliki ibukota provinsi bernama Kota Jambi. Kota Jambi memiliki topografi relatif datar dengan ketinggian 0-60 meter diatas permukaan laut. Kota Jambi juga kerap disapa dengan kota yang hangat karena memiliki iklim tropis dengan suhu rata-rata minimum berkisar antara 22,1°-23,3° celcius dan suhu maksimum antara 30,8°-32,6° celcius. Dengan bentangan alam yang sedemikian rupa, Jambi memiliki potensi alam yang sangat besar bagi dunia pariwisata di Indonesia.

Didy Wuryanto, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jambi mengatakan bahwa Jambi memiliki paling tidak dua hal yang bisa menjadi daya tarik wisatawan berkunjung ke Jambi, yaitu wisata alam liar dan kebudayaan. Sebut saja Sungai Batanghari yang membelah Kota Jambi menjadi dua bagian, satu disisi utara dan satunya di selatan. Selain itu ada juga potensi wisata sejarah yang hingga kini masih dalam pengembangan penelitian, yaitu komplek situs candi Muara Jambi yang terletak di kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Kota Jambi. Ada lagi Pulau Berhala yang memiliki pemandangan alam yang indah, Taman Nasional Geopark yang tengah dalam penelitian serta segudang lainnya.

Didy berharap agar Jambi ke depan, menjadi salah satu destinasi wisata sejarah. Meskipun ia juga merasa bahwa infrastruktur menjadi salah satu penghambat laju industri pariwisata tersebut. Dana Rp 6 miliar dari pusat telah dialokasikan untuk revitalisasi museum-museum yang menjadi fokus utama pengembangan pariwisata di Jambi. Didy menargetkan proyek yang mulai sejak Oktober tersebut akan selesai pada Desember 2011.

Sebagai kota teraman kedua setelah Bali, menurut Badan Intelijen Negara, Jambi merupakan kota yang tepat untuk didatangi karena terbebas dari suasana politik dan keamanan yang semerawut. Malah, Didy merasa bahwa yang menjadi ancaman menakutkan bagi perkembangan potensi wisata adalah kebijakan pemerintah yang kontradiktif dengan pengembangan wisata.

Berharap pada PBB khusus bagi pengembangan Taman Nasional Geopark, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jambi bekerja sama dengan sejumlah peneliti guna menguak sejarah terpendam yang ada disepanjang Sungai Batang Merangin. Sepanjang 10 km aliran sungai tersebut akan dijadikan tur sejarah tentang identitas asli Kota Jambi itu sendiri. Oleh karena itu Didy berharap daerah tersebut dijadikan status Taman Nasional oleh PBB agar proses pengembangannya bisa lebih mudah.

Pariwisata Jambi ibarat emas yang belum dipoles. Dengan bantuan berbagai pihak terkait, khususnya pemerintah pusat, kiranya Jambi bisa menjadi salah satu alternatif tujuan wisata sejarah yang berguna bagi anak-cucu kita kelak.

November 10, 2011

Indonesia Optimistis Wisatawan Inggris Naik 3-5 Persen

Kamis,
10 November 2011
PARIWISATA
Indonesia Optimistis Wisatawan Inggris Naik 3-5 Persen

London, Kompas – Kendati krisis ekonomi masih berlangsung di Eropa, Indonesia optimistis dapat meraih target peningkatan jumlah wisatawan dari Inggris sekitar 3 persen-5 persen. Angka moderat yang diperkirakan tercapai hingga akhir tahun ini adalah 190.000 wisatawan, atau 7.000 turis lebih banyak dibandingkan tahun 2010.

”Dengan rata-rata pengeluaran 1.100 dollar AS (setara Rp 9.773.500) selama 9,5 hari di Indonesia, pendapatan Indonesia dari wisatawan Inggris saja bisa mencapai Rp 1,9 triliun dalam setahun,” kata Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar di sela-sela penyelenggaraan World Travel Market di London, Inggris, Selasa (8/11) petang, seperti dilaporkan wartawati Kompas Fitrisia Martisasi.

Sapta masih percaya, seperti juga wisatawan dari negara-negara Eropa lain, pelancong asal Inggris masih mencari wilayah yang kaya dengan keindahan alam yang menantang. ”Mereka masih tetap mencari tempat yang eksotis,” ujarnya.

Tingginya minat warga Inggris untuk berwisata ke luar negeri juga diakui oleh Kuasa Usaha Ad Interim Republik Indonesia untuk Inggris Herry Sudradjat yang mengutip catatan Kantor Statistik Inggris. Bagi pelancong Inggris, Asia masih menjadi salah satu tujuan wisata yang tumbuh pesat. Pada tahun 2010 terdapat 1,95 juta kunjungan ke Asia atau meningkat 70.000 kunjungan dari tahun 2009.

Pada saat terjadinya krisis ekonomi tahun 2008, wisatawan Inggris yang melancong ke Indonesia mencapai 162.000 orang. Setahun kemudian terjadi peningkatan tajam menjadi 182.000 wisatawan (2009) dan meningkat tipis 183.000 turis tahun 2010.

Sapta yakin wisatawan luar negeri ke Indonesia tahun ini meningkat dari tahun sebelumnya 7,2 juta wisatawan. ”Angka moderatnya 7,5 juta turis, angka tingginya 7,7 juta turis,” ujarnya.

November 8, 2011

Arus Wisatawan Mulai Menurun

Selasa,
08 November 2011
KRISIS GLOBAL
Arus Wisatawan Mulai Menurun

Jakarta, Kompas – Resesi ekonomi yang melanda Eropa dan Amerika Serikat juga berdampak ke industri pariwisata dalam negeri. Arus kunjungan wisatawan dari kawasan tersebut mulai menunjukkan tren menurun. Untuk mengantisipasi, pemerintah menggelar promosi ke negara-negara alternatif, seperti Australia, India, dan Rusia.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu kepada Kompas di Jakarta, Senin (7/11).

”Dampak resesi ke pariwisata Indonesia jelas ada, tetapi kami masih hitung angkanya. Krisis ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat otomatis membuat minat berwisata penduduk setempat berkurang,” katanya.

Dia mengatakan, pada tahun ini pemerintah menargetkan wisatawan mancanegara (wisman) sebanyak 7,7 juta orang (level optimis) dan 7,4 juta orang (level moderat). Tahun depan targetnya mencapai 8 juta orang.

”Sejauh ini masih yakin bisa menembus level optimis. Meski ada penurunan dari Eropa dan Amerika Serikat, turis dari beberapa negara justru naik,” katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah wisman periode Januari-Agustus 2011 tercatat 4,96 juta orang. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pada periode sama tahun 2010 yang tercatat 4,62 juta orang.

”Sama seperti ekspor, kami berusaha mengalihkan pasar ke negara-negara emerging market, yang pertumbuhan ekonominya sedang pesat,” ujarnya.

Momentum SEA Games

Menurut Mari, momentum SEA Games bisa menjadi peluang untuk mengurangi imbas penurunan wisman dari Eropa dan Amerika Serikat. Pemerintah telah menyiapkan sejumlah agenda wisata yang diharapkan bisa menarik minat pengunjung.

”Di Palembang kami menggelar kapal budaya keliling Sungai Musi. Di dalam kapal diwarnai dengan dialog seputar budaya dan olahraga. Selain itu juga ada Sriwijaya Expo. Untuk wilayah Jakarta juga akan digelar tur kota bagi para atlet,” paparnya.

Mari menambahkan, selain mengandalkan wisman, industri pariwisata seharusnya juga mempertimbangkan pasar domestik. Dengan populasi 230 juta jiwa menjadikan Indonesia sebagai pasar menarik. ”Jangan hanya fokus kepada wisman, tetapi juga wisatawan domestik yang potensinya jauh lebih besar,” ujarnya.

Ketua Pacific Asia Travel Association Indonesia Chapter Darmono mengatakan, parahnya kondisi infrastruktur di Indonesia membuat destinasi pariwisata tidak maksimal. Jika infrastruktur memadai, maka destinasi pariwisata yang bisa dimaksimalkan mencapai seratus daerah tujuan.

”Destinasi yang kita miliki jauh lebih banyak dibandingkan Malaysia, tetapi kenapa kunjungan wisatawan asing mereka lebih besar,” katanya. (ENY)

November 7, 2011

Pesona Alam Trenggalek

Plesir
Pesona Alam Trenggalek
sumber : http://news.mnctv.com/index.php?option=com_content&task=view&id=18937&Itemid=40

ImageKala berkunjung ke Trenggalek, Jawa Timur, jangan lupa sempatkan berwisata di wilayah pesisir pantai selatan pulau Jawa ini. Trenggalek memiliki pesona alam yang luar biasa dengan adanya pantai Prigi yang berpasir putih dan berombak sedang.
Lokasinya yang berhadapan langsung laut lepas dan memiliki pemandangan mempesona. Selain pemandangan pantai, wisatawan juga dapat berperahu untuk menikmati pemandangan tebing dari tengah laut.

Di kawasan tebing ini juga terdapat goa merah yang sering dikunjungi warga untuk melakukan ritual. Tak jauh dari goa merah, wisatawan juga dapat mengunjungi batu besar yang berada di tengah laut. Uniknya di atas batu ini tumbuh pohon mengkudu yang subur.

Di kawasan pantai Prigi, wisatawan juga dapat mengunjung tempat pelelangan ikan terbesar di jalur pantai selatan pulau Jawa. Di tempat ini beragam jenis ikan khas laut dalam dapat dijumpai. Menikmati ikan bakar menjadi penutup berwisata di kawasan pantai Prigi.

Tak jauh dari Priogi, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan menuju goa lowo. Di goa yang menjadi sarang kelelawar ini pengunjung akan takjub dengan pemandangan di dalamnya.

Goa yang memiliki kedalaman hingga mencapai 2 kilometer ini banyak terdapat stalagmite maupun stalagtit yang masih aktif serta dinding batu berwarna keemasan.. Ribuan kelelawar menambah pengalaman tersendiri bagi wisatawan yang menyusuri goa terpanjang se Asia Tenggara ini.

Mumpung masih di Trenggalek jangan lewatkan berkunjung ke sentra batik Rahayu. Batik trenggalek memiliki keunikan tersendiri dengan menampilkan motif bamboo. Makanan khas berupa keripik tempe juga menjadi buah tangan yang menarik dari Trenggalek.

Bagaimana keindahan pantai Karanggongso di kawasan Prigi Trenggalek, pemandangan apa saja yang dapat dinikmati wisatawan? Bagaimana pula kemegahan goa lowo yang merupakan goa terpanjang se Asia Tenggara ini? Lalu bagaimana kelezatan keripik tempe dan keindahan motif batik Trenggalek?

Tayang Minggu, 30 Oktober 2011, pukul 11:00 WIB

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.