Archive for ‘whos who’

August 26, 2014

Ini 88 Relawan Yang Bergabung di Tim Transisi Jokowi-JK

 
 
 
 

 

 Sumber : http://mobile.seruu.com/pemilu/kabar-pemilu/artikel/ini-88-relawan-yang-bergabung-di-tim-transisi-jokowi-jk
POSTED 26 AGUSTUS 2014 08:00
 
 

Jakarta, Seruu.Com – Sebanyak 88 relawan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) akan masuk ke dalam kepengurusan Tim Transisi. Menurut Deputi Kantor Transisi Andi Widjajanto, pihaknya telah menerima 88 usulan nama-nama relawan untuk ikut bergabung ke dalam 16 kelompok kerja (pokja) Tim Transisi.

“Secara kerja, relawan-relawan sudah masuk. 88 orang itu, sudah tersebar ke 16 pokja. Hanya saja pertemuan besar yang mengumpulkan keseluruhannya baru sempat akan dilakukan minggu depan. Hari Rabu, mereka akan dilibatkan,” ucap Andi di Kantor Transisi Jokowi-JK, Jalan Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (24/8/2014) malam.

Kerja para relawan yang nantinya bergabung dalam Tim Transisi itu tergantung dari kapasitas dan kompetensi individual masing-masing relawan tersebut.

Presiden terpilih Joko Widodo pun sudah mempersilakan unsur relawan masuk ke dalam Kelompok Kerja Tim Transisi.

Berikut nama-nama relawan untuk Pokja rumah transisi berdasarkan finalisasi hasil rapat di hotel sofyan, Minggu 24 Agustus 2014 yang diterima redaksi Seruu.com beberapa saat lalu

APB
1. Roy Maningkas
2. Wahyu Effendi
3. Arie Karyadi
4. Goei Siauw Hong

PERTANIAN
5. Noer Fauzi Rachmand ,Ph.D
6. Syafti Hidayat
7. M. Ridha Saleh
8. Jones Batara Manurung
9. Budianto Tarigan

KEHUTANAN -

INFRASTURKTUR
10. Dr. Ir. Rachman Hidayat
11. Utje Gustaaf Patty
12. M. Adamsyah W.H.
13. Saptandi Widianto

KESEHATAN
14. Diah Saminarsih
15. Edward H. Marpaung
16. Surya Tjandra
17. Agus Yohanes
18. Aditya Riyadi Soeroso
19. Cary Greant

PENDIDIKAN
20. R. Alpha Amirrachman, Ph.D
21. Dr. Kamsol, MM.
22. Hilmar Farid, Ph.D
23. Feber Suhendra
24. Saor Siagian
25. Yanti Sri Yulianti
26. Cahaya Dwi Rembulan Sinaga
27. Nanang Puja Laksana

PENANGGULANGAN KEMISKINAN
28. Sugeng Bahagijo
29. Boni Hargens
30. Sukma Widyanti
31. Savitri Wisnuwardhana
32. Febby Siti Permanasari Lintang
33. Nursalam
34. M. Nawir

ENERGI
35. Abrahamn Arief
36. Erwin Usman
37. Taufan Hunneman
38. Bambang Ismaji
39. Dhany Marlen
40. Tjandra Irawan
41. Mahmudi Widodo

PENGEMBANGAN PEDESAAN
42. Barita Sianipar
43. Sihol Manullang
44. Roy Simanjuntak
45. Hasudungan Napitupulu
46. Prasetyo Hadi

INOVASI KABUPATEN / KOTA
47. Mickael B. Hoelman
48. Agung Pambudhi
49. Imanuel Ebenezer Gerungan

PERTAHANAN / LUAR NEGERI
50. Don K. Marut, M.A.
51. Helmy Fauzi
52. Muliawan Margadana
53. Didi Heru Purnomo
54. Bonnie Setiawan

HUKUM dan HAM
55. Ifdhal Kasim, S.H.
56. Fredi Alex D
57. Dorma H. Sinaga
58. Margiyono

PERENCANAAN PERUNDANG-UNDANGAN
59. Dr. Riawan Tjandra
60. Manahara Sitinjak

PERUMAHAN RAKYAT
61. Muhammad Yamin, S.H.
62. Victor Sirait
63. Junaedi KM
64. Razif
65. Candi Sinaga

POLITIK LEGISLASI
66. Dra. Agung Putri Astrid, M.A
67. Roysepta Abimanyu
68. Silas Dutu, S.H.

INDRUSTI KREATIF
69. Raharja Waluya Jati
70. Sinnal Blegur
71. Koster Rinaldi
72. Hasnil Fajri, S.Kom

LEMBAGA KEPRESIDENAN
73. Guntur Siregar
74. Indra Jaya R.
75. Sarmanto Tambunan
76. Hironimus Hilapok
77. Wandy Tuturong
78. Jeppri Silalahi

ARSITEKTUR KABINET -

TRANSPORTASI PUBLIK
79. Timur Sukirno, S.H.
80. Pitono Adhi

REFORMASI BIROKRASI
81. Ririn Sefsani
82. Drs. Dono Prasetyo, M.Ap.
83. Sonny Warsito
84. Reinhard Parapat

NELAYAN
85. Eddy Siagian
86. Laras S.
87. Yoska Oktaviano
88. Saiful WS

[Simon]

- See more at: http://mobile.seruu.com/pemilu/kabar-pemilu/artikel/ini-88-relawan-yang-bergabung-di-tim-transisi-jokowi-jk#sthash.Gq1wUFCj.dpuf

August 12, 2014

Yohanes Surya Bangun Komplek Techno Park Senilai Rp36 Triliun

Dini Hariyanti   –   Jum’at, 08 Agustus 2014, 23:56 WIB

BERITA TERKAIT

Ilustrasi/Bisnis.com

Bisnis.com
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Komplek technology park seluas 600 hektare akan dibangun di Bogor, Jawa Barat. Proyek ini menelan investasi hingga Rp36 triliun.

Yohanes Surya, selaku pengagas proyek, menyatakan komplek tersebut meliputi 13  technology park dan infrastruktur pendidikan, seperti gedung Universitas Surya, Kampus STKIP Surya, gedung sekolah Genius serta fasilitas pendukungnya.

“Ada pula pusat penelitian, research hospital yang fokus untuk otak, jantung, dan kanker, serta business dan theme park,” kata pria yang diakrab dikenal sebagai fisikawan itu saat dihubungi Bisnis, Jumat (8/8/2014).

Infrastruktur pemukiman juga akan disediakan berupa perumahan dan apartemen. Total jangka waktu dibutuhkan untuk mengembangkan proyek ini diproyeksikan sekitar 10 – 15 tahun.

“Pada tahun depan kami akan mulai konstruksi. Proyek ini kemungkinan akan menggunakan nama PT Surealindo,” ucap Yohanes.

Yohanes mendatangi Menteri Perindustrian M.S. Hidayat di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, untuk meminta dukungan dalam pengerjaan komplek techno park ini. Kemenperin menunjuk Realestat Indonesia (REI) untuk mendampingi pelaksanaan proyek tersebut.

Editor : Sepudin Zuhri

Tags:
June 19, 2014

SH Sarundajang, Gubernur Sulawesi Utara

ASPIRASI DAERAH

Masa Depan dari Laut
MASA depan Indonesia mestinya dimulai dari laut. Dengan memiliki garis pantai sepanjang 95.181 kilometer—yang merupakan terpanjang keempat di dunia setelah Rusia, Amerika Serikat, dan Kanada—serta kekayaan laut yang dahsyat, paradigma pembangunan Indonesia harus berubah, dari darat ke laut.

Gubernur Sulawesi Utara SH Sarundajang menawarkan konsep ”ekonomi biru” bagi kesejahteraan rakyat Indonesia dan dunia. Konsep tersebut menggabungkan pengembangan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Berikut petikan wawancara dengan Sarundajang.

Apa harapan untuk pemerintahan ke depan?

Pemerintahan baru harus berani mengambil langkah berbeda. Jika buldoser sudah dibeli Jakarta, mengapa kita di Manado harus membelinya pula? Sebagai negara kepulauan terbesar, penelitian menyebutkan sektor kelautan Indonesia mampu menyumbang 140 miliar dollar AS per tahun. Jumlah itu belum termasuk dari dasar laut dan potensi migas. Ekonomi biru menjadi langkah Indonesia menjaga potensi sektor kelautan dan perikanan yang belum dioptimalkan. Sayang kalau potensi ini hanya sampai di restoran.

Maksudnya?

Potensi laut Indonesia dapat dibuat beragam industri, seperti kosmetik dan obat. Itulah sebabnya saya beberapa kali memelopori pertemuan laut tingkat dunia dan terumbu karang. Tahun 2009, kami membuat World Ocean Conference dan tahun ini kami menyelenggarakan pertemuan negara pemilik terumbu karang. Kita perlu mengenal potensi sesungguhnya Sulawesi Utara dan Indonesia.

Jika ekonomi biru diterapkan, apa yang harus dibenahi?

Masalah terbesar adalah minimnya teknologi pengolahan hasil perikanan dan kelautan. Perlu upaya untuk meyakinkan investor agar menanamkan modalnya di pengembangan sektor kelautan. Investasi juga perlu didorong dalam bidang budidaya perikanan yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Saya yakin strategi ini dapat mendorong berkembangnya pertumbuhan ekonomi berbasis kelautan di Indonesia dan Asia Pasifik pada umumnya.

Bukan rahasia lagi jika pengembangan ekonomi suatu daerah, secara politik, juga tergantung posisi tawar di badan legislasi daerah dan pusat. Ini karena program yang ditawarkan harus mendapat dukungan politik dari pemerintah pusat dan para wakil rakyat di daerah. Ini berarti program ekonomi biru harus masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah.(Jean Rizal Layuck)

February 28, 2014

Generasi Ketiga Sumitro Djojohadikusumo di Panggung Bisnis

 

 

 

 
 

Aryo P.S Djojohadikusumo menyadari lahir dari keluarga berkecukupan dan pebisnis. Maka itu selepas lulus kuliah di London, ia memutuskan membangun bisnis sendiri. “Waktu itu tahun 2007, saya bersama teman-teman dengan kemampuan bisnis terbaik, mencoba mendirikan bisnis sendiri, masih general trading, ide awal bisnisnya,” ujar pria kelahiran Jakarta 25 April 1983 kepada Herning Banirestu. Nama perusahaannya adalah PT Karunia Tidar Abadi dan ia menjadi dirut. Bisnisnya meliputi: mobile advertising, trading, pertambangan, pertanian dan perkebunan.

Ternyata anak pertama dari tiga bersaudara, putra dari Hasyim Djojohadikusumo ini, justru diajak ayahnya untuk ikut membesarkan bisnisnya pada 2008. Waktu itu ayahnya, menurut Aryo juga sedang gencar-gencarnya ekspansi bisnis. “Pak Hasyim juga sedang membutuhkan orang-orang terbaik. Jadilah, teman-teman saya itu direkrut ke grup bisnisnya, termasuk saya,” ujarnya. Sejak itulah ia bergabung membesarkan bisnis ayahnya.

Aryo (utama)

Tapi di balik itu, ternyata pria yang mengidolakan klub bola Arsenal ini, awalnya bercita-cita menjadi seorang arkeolog, bahkan ia sempat kuliah arkeologi selama satu semester di London, Inggris. Ketertarikannya pada arkeologi karena ketika bocah ia gemar membaca komik-komik Indira seperti Tintin, Asterix dan sebagainya.

“Dari komik itu saya memahami dan belajar figur sejarah dan kota tua, hingga tertarik mempelajarinya,” kenangnya sambil tersenyum. Terlebih ia mengagumi film Indiana Jones, yang seorang arkeolog. Ternyata setelah benar-benar mengambil satu semester kuliah arkeologi, ia merasa bosan dengan bahan kuliahnya.

Akhirnya diputuskan untuk mengambil kuliah bisnis. Lulusan jurusan bisnis, University of Durham ini melihat kembali bagaimana ayahnya sukses sebagai pebisnis. Dikatakan Aryo, semacam kelakar untuk menjadi kaya, ia menyebut ada empat cara yaitu terlahir dari keluarga kaya, punya bakat (seni atau olah ragawan), punya rupa yang ganteng atau cantik, dan menjadi wirausahawan. “Saya pikir cara kedua dan ketiga saya tidak masuk kriteria itu, maka saya gunakan kelebihan pertama dan keempat untuk bisa bermanfaat pada lebih banyak orang, bukan saja sekadar menjadi kaya,” jelas Aryo yang masih betah melajang ini.

Paska turunnya Soeharto, ia memperhatikan, banyak orang kaya dengan cara yang tidak baik. Makin banyak orang yang kaya karena korupsi. “Kondisi itu membuat saya berpikir, cara ayah saya itu benar, menjadi wirausaha, mencari uang halal, yang didapat dengan cara yang baik. Mempekerjakan banyak orang, menghidupi banyak orang dan dengan ini kita bisa melakukan kegiatan sosial,” tuturnya.

Pria yang sebagian besar masa hidupnya menimba ilmu di luar negeri ini, mengatakan mungkin jika ia tetap di luar negeri, ia tidak akan menjadi pengusaha. Dengan potensi baik pasar dan sumberdaya yang besar di Indonesia, artinya peluang bisnis di sini sangat besar. Akhirnya diputuskan Aryo untuk menggeluti dunia usaha.

Keputusan bergabung dengan kerajaan bisnis ayahnya, tepat kala Hasyim pada 2007 mulai ekspansi bisnis di Indonesia. Yang sebelumnya banyak bisnisnya dijalankan di luar negeri.

Aryo mengakui, sebagai keturunan pertama Hasyim, ia memang langsung menempati posisi puncak di bisnis-bisnis baru ayahnya itu. “Kebetulan kan banyak bisnis baru Pak Hasyim dibangun saat itu. Jadi, saya dipercaya mengelolanya,” ujar cucu dari begawan ekonomi Indonesia, Sumitro Djojohadikusumo. Ia beralasan, banyak wirausahawan sukses dunia, bukan dari bawah dulu, tapi berani bertanggung jawab semua kendali bisnis. Dari situ belajar mengasah mentalitas sebagai orang yang berada di puncak.

Ario (tegak)

“Saya tidak mulai karier dari nol, tapi saya berada di posisi puncak di bisnis yang baru dibuat atau yang tadinya masih nol,” ujarnya.

Meski demikian ia belajar banyak dari pebisnis dunia yang memulai usahanya dari nol, yang makin lama makin besar. “Saya rasa, DNA memimpin organisasi dan perusahaan harus dimulai sejak dini. Kalau dimulai dari bawah, jadi terlalu lama, apalagi bisnis Indonesia sedang dinamis,” katanya.

Ia juga mengikuti gaya Hasyim bagaimana memulai dan membangun usaha selama 30 tahun. Menurutnya, Hasyim bukan tipe pengusaha yang menekuni satu bidang saja. Tapi lebih memilih masuk ke dalam bisnis apapun, asalkan : kembali modalnya cepat (ROI jadi patokan). Tidak terlalu terikat secara emosional dengan bidang bisnis yang digeluti (bisnis tertentu), dan pada saat yang sama bisnis harus halal serta mencapai untung.

“Jadi bagaimana saya mulai dari bawah, selalu ada PT atau perusahaan baru yang didirikan Pak Hasyim, yang harus dibangun lebih besar,” ujarnya sambil tersenyum. Karena ia aktif di holding company, Aryo ikut membantu restrukturisasi bisnis keluarga bersama sepupunya yang posisinya sebagai Deputy CEO ayahnya.

Diterangkan Aryo, bisnis ayahnya, memang bergerak di segala bidang, mulai dari bisnis karet, perdagangan komoditas, tambang, minyak, dan sebagainya. “Jiwa wirausahawan Pak Hasyim sangat tinggi, pure entrepreneur, tapi tidak ada trade mark seperti Sinar Mas yang dikenal di bisnis perkebunan sawit dan properti atau Agung Podomoro yang dikenal di bisnis properti,” ujarnya

Memang menurut Ketua Umum Tunas Indonesia Raya (Tidar) sebelum 2007, ayahnya dikenal sebagai pengusaha perminyakan. Tapi setelah itu Hasyim masuk ke berbagai bidang bisnis.

“Saya menyadari, sebagai anak muda banyak kekurangan, maka itu saya banyak belajar dari ayah dan direktur-direktur beliau yang sudah mengabdi sejak di Semen Cibinong atau sejak 1990a-n dulu,” ujarnya.

Kalau mentoring dari ayahnya, Aryo banyak lakukan dengan cara yang kasual, sambil makan santai Burger King atau McDonald. Waktu khusus mentoring dengan ayahnya, dilakukan saban akhir pekan, sebelum pergi ibadah ke Gereja.

Nilai yang selalu diingat Aryo dari ayahnya dalam membangun bisnis di Arsari Group adalah kekeluargaan yang kuat. Meski ayahnya belajar di luar negeri, prinsip atau nilai tersebut terus dijaganya. “Dalam bisnis kan tidak selamanya mulus atau sukses, banyak pengusaha kalau sudah rugi, akan langsung rasionalisasi atau PHK besar-besaraan. Ayah saya tidak begitu. Beliau selalu mengusahakan supaya itu tidak terjadi PHK,” ujarnya.

Karena ayahnya menganggap yang bekerja di perusahaannya sudah seperti keluarga sendiri. Ia mengakui, ini tidak terlalu bagus juga. Namun ia melihat dengan tetap menjaga nilai tersebut, justrusense of belonging dan loyalitas karyawan di grup bisnis ayahnya sangat tinggi. “Semua orang di grup bisnis kami seperti memiliki atau punya saham secara emosional di perusahaan di mana bekerja,” ujarnya.

Ketua Yayasan A. Djojohadikusumo ini mengaku tidak pernah didoktrin tentang nilai tersebut oleh ayahnya. “Saya pikir itu juga pengaruh eyang buyut saya Margono Djojohadikusumo, salah satu pendiri BNI. Eyang selalu mengajak keliling Indonesia cucu-cucunya meski banyak sekolah di luar negeri, itu membangun rasa kecintaan kekeluargaan dan leluhur,” ujarnya. Melihat langsung rakyat di bawah, merasakan suasana kekeluargaan dari bawah, nilai itulah yang dipegang terus hingga kini.

“Selain itu keluarga kami juga pecinta binatang dan lingkungan hidup, maka itu bisnis kami sangat konsern pada hal ini. Meski kami berbisnis juga di tambang dan perkebunan, yang katanya andil merusak lingkungannya kuat, tapi keluarga kami tegas pada aturan, jangan sampai kedua hal itu dirusak,” tegasnya.

Menurut Aryo, ayahnya sangat percaya pada responsibility capitalism (kapitalisme yang bertanggung jawab), pada lingkungan dan semua yang bekerja di dalamnya. Jadi meski banyak belajar di luar negeri, nilai-nilai Indonesia selalu dipegang dalam keluarganya dan juga dalam bisnisnya.

Setelah tujuh tahun turut mengelola Grup Arsari, Aryo mengakui banyak yang terjadi mulai dari perubahan manajemen, bongkar pasang orang, mengalami banyak kondisi pasar yang kurang menguntungkan, dan sebagainya, menurut Aryo, bisnis grup ini kini sangat bagus. Untuk perdagangan komoditas (berbagai macam: cengkeh, kopi, teh dan sebagainya) misalnya, tahun 2013 tumbuh sangat luar biasa, disebut Aryo, profit-nya mencapai US$ 12 juta.

Bisnis tambang timahnya sudah jalan. Bisnis perkebunan karet (pabrik dan kebunnya) sertafinancing-nya juga sudah jalan, setelah menurut Aryo mengalami kesulitan mendapat izin. “Kami juga mulai masuk lagi bisnis migas secara signifikan, yang sebelumnya ayah punya pengalaman di luar negeri,” katanya. Bisnis itu pun menurutnya prospeknya sangat bagus.

Kakak dari Rahayu Saraswati dan Siti Indrawati ini menuturkan dalam budaya timur, filosofi Jawa, bagaimana menghormati yang senior itu sangat kuat. “Apapun yang terjadi, pengalaman mereka sangat matang. Saya pikir kendalanya, adalah bagaimana kami yang muda, harus belajar mengendalikan diri,” jelas penyuka olah raga polo berkuda, renang dan tenis lapangan ini.

Bagi Wakil Sekretaris Jendral Partai Gerindra ini, mengakui ada masa di mana dalam mengelola bisnis, berpikir, mengapa ayahnya punya pemikiran seperti itu, yang berbeda dengannya. Namun pada akhirnya setelah dijelaskan ia pun memahami pandangan ayahnya.

Belakangan Aryo aktif di politik dan kini menjadi caleg Gerindra. Ia mengatakan ini panggilan hati. Sebelum aktif, ia sudah menyiapkan orang-orang yang mengurus bisnis untuk mewakilinya. Ia memilih orang-orang terbaik untuk itu. Tentu saja ia tetap mengontrol bisnisnya, terutama keputusan penting ditentukan oleh Aryo.

Target ke depan apa? “Saya ingin bisnis ini berkelanjutan, sustain, baik itu bisnis migas atau tambang, semua disiapkan untuk terus berkelanjutan,” kata pengkoleksi kereta modern dan lego ini. Diakui Aryo, kedua bisnis itu ada masa “tua” atau tidak berproduksi lagi. Maka itu ia sudah menyiapkan bisnis bio ethanol. Ini energi yang terbaharukan. Selagi ada, bisnis migas dan tambang ini sebagian keuntungannya untuk di-reinvest untuk bisnis bio ethanol. Karena SK Menteri bisnis ini belum ada, ia tetap siapkan modalnya, lahan pabrik, konsesi, bahkan bisnis modelnya.

Selain itu, bisnis tambang seperti timah, di Bangka dan Belitung, mencontoh apa yang dikembangkan di Thailand (waktu itu ia membeli kapal tambang baru di sana 1,5 tahun lalu). Bagaimana Pukhet yang semula lahan tambang timah, ternyata bisa disulap menjadi danau wisata, wisata air dan resort yang mahal juga ada prospek yang bagus untuk pariwisata. (***)

SHARE SOCIAL MEDIA

January 16, 2014

Kalahkan Duo Djarum, Bos Sinarmas Jadi Orang Terkaya di Indonesia

 

Senin, 16 September 2013 | 12:33 WIB
Lukas Ferdinand/KONTANEka Tjipta

JAKARTA, KOMPAS.com
 — Pendiri grup Sinarmas, Eka Tjipta Widjaja, berada di posisi 142 dari 200 jajaran orang terkaya sedunia berdasarkan data dari Bloomberg Billionaires Index per 12 September 2013. 

Kekayaan Eka Tjipta mengalahkan kekayaan dari dua bos Djarum, yaitu Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono. Duo bos Djarum itu hanya menempati posisi 176 dan 177. 

Kekayaan pria kelahiran Coan Ciu, China, ini mencapai 8,4 miliar dollar AS. Sementara kekayaan kedua bos Djarum itu masing-masing sebesar 7,3 miliar dollar AS dan 7,2 miliar dollar AS. 

Kekayaan Budi Hartono sepanjang tahun ini menyusut 22 persen, sedangkan kekayaan Michael Hartono juga menyusut 22,2 persen (ytd). Sementara kekayaan Eka hanya menyusut 6 persen (ytd). 

Eka adalah pendiri grup Sinarmas, pemilik kebun kelapa sawit di berbagai lokasi di Indonesia, dan sekaligus pembeli Bank Internasional Indonesia pada 1982. Sinarmas merupakan produsen minyak sawit terbesar kedua dunia. 

Ia juga mempunyai perusahaan properti Sinarmas Land dan Bund Center Investment. Di sektor realestat, Eka Widjaja ini membangun ITC Mangga Dua, ruko, dan apartemen. Di Roxy, ia membangun apartemen Green View dan di Kuningan membangun ITC Ambassador.

Bloomberg menyebutkan, Eka mengontrol 61 persen Sinar Mas Multiartha. Ia juga menguasai 60 persen perusahaan energi Dian Swastatika Sentosa, 61 persen Smartfren Telecom; 60 persen perusahaan kertas Pabrik Kertas Tjiwi Kimia, dan 53 persen Indah Kiat Pulp & Paper. 

Kondisi ini memang sedikit berbeda dengan pandangan Forbesyang merilis data bahwa keluarga Djarum merupakan orang terkaya Indonesia. 

Dalam daftar Forbes per Maret 2013, Michael Bambang Hartono menempati peringkat orang terkaya ke-439 dunia dengan nilai kekayaan 1,7 miliar dollar AS. Sementara Robert Budi Hartono menempati peringkat ke-440, juga dengan kekayaan senilai 1,7 miliar dollar AS. Mereka menjadi orang terkaya nomor satu dan nomor dua di Indonesia. 

Kekayaan kedua bersaudara anak pendiri Djarum, Oei Wie Gwan, ini tak jauh berubah ketimbang hasil survei orang terkaya di Indonesia yang dirilis Forbes Asia akhir tahun lalu. Saat itu, Budi mencatatkan kekayaan 1,72 miliar dollar AS, sementara kekayaan Michael 1,68 miliar dollar AS. 

Menurut Forbes, keuntungan terbesar Michael dan Budi datang dari Bank Central Asia (BCA). Keluarga Hartono memiliki 47,5 persen saham BCA lewat Farindo Holding. Mal Grand Indonesia juga ikut memupuk kekayaan Michael dan Budi.

December 24, 2013

Mereka yang Menjadi Terkaya Baru Indonesia di 2013

Pendiri dan pemilik Grup Djarum tetap menjadi orang terkaya di RI.

ddd
Selasa, 24 Desember 2013, 11:14Siti Nuraisyah Dewi

VIVAnews – Sebelumnya tidak ada yang menyangka, Indonesia saat ini tercatat sebagai negara yang mengalami pertumbuhan jumlah orang dengan kekayaan tertinggi di Asia. Negeri ini diprediksi akan terus mengalami pertambahan populasi miliarder baru dengan laju tercepat di kawasan ini.

Chairul Tanjung, pemilik CT Corp, memperkirakan Indonesia akan menjadi negara maju dengan pendapatan per kapita mendekati US$15.000 pada 2025. Menurut dia, kunci pembangunan Tanah Air di masa depan ada pada penduduk dan sumber daya manusianya.

“Berbagai proyeksi mengenai perekonomian Indonesia telah menunjukkan bahwa Indonesia akan menempati papan atas kekuatan ekonomi dunia dalam satu dekade mendatang,” ungkapnya.

Beberapa waktu lalu, untuk pertama kalinya, majalah ekonomi terkemuka, Forbes Asia, melacak daftar 50 orang terkaya di Indonesia. Jumlah orang kaya itu bertambah 10 nama dibanding daftar serupa yang dirilis tahun lalu.

Total nilai kekayaan mereka mencapai US$95 miliar atau sekitar Rp1.107 triliun. Tiga pendatang baru masuk dalam daftar itu. Tujuh nama lainnya sempat terlempar dari daftar, sebelum kembali masuk tahun ini.

Pendiri dan pemilik Grup Djarum, R Budi dan Michael Hartono masih menempati urutan pertama dalam daftar 50 orang terkaya Indonesia 2013. Kekayaan Budi dan Michael Hartono tercatat US$15 miliar atau sekitar Rp174,8 triliun. Peringkat mereka tak tergeser dalam lima tahun berturut-turut.

Meski ekonomi Indonesia pada kuartal III-2013 hanya tumbuh di bawah 6 persen, sejumlah orang kaya masih mampu menambah pundi-pundi kekayaannya. Pertumbuhan itu tercatat paling lambat dalam hampir empat tahun terakhir.

Melambatnya pertumbuhan ekonomi domestik itu di antaranya terpicu penurunan permintaan ekspor. Harga komoditas, seperti batu bara juga tertekan.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar tercatat melemah 19 persen tahun ini. Bank Indonesia pun berupaya untuk terus mengendalikan inflasi.

Di antara orang kaya yang sukses di tengah pelambatan pertumbuhan ekonomi itu adalah pendiri Grup Lippo, Mochtar Riady. Lippo tumbuh besar di tengah kendali anak-anak Mochtar.

Stephen Riady memimpin operasi perusahaan di Singapura, sedangkan James Riady bertanggung jawab terhadap bisnis di Indonesia.

Dengan ekspansi yang ambisius di dalam maupun luar negeri, Grup Lippo kini makin menggurita. Setelah terpuruk akibat krisis keuangan pada akhir 1990-an, Mochtar kini merangsek ke peringkat 10 besar orang paling kaya untuk pertama kalinya. Nilai kekayaannya US$2,5 miliar atau sekitar Rp29,2 triliun.

Namun, kondisi berbeda dialami pemilik perusahaan rokok Gudang Garam, Susilo Wonowidjojo. Peringkatnya tergeser oleh Anthony Salim, setelah nilai kekayaan tergerus akibat kurang “suksesnya” penjualan rokok kretek.

Anthony sendiri melompat ke peringkat tiga untuk pertama kalinya, dengan kekayaan US$6,3 miliar atau sekitar Rp73,7 triliun. Sementara itu, Susilo berada di peringkat empat, dengan harta kekayaan tercatat US$5,3 miliar atau setara Rp62 triliun.

Dalam daftar terbaru Forbes Asia, enam orang terlempar dan tak lagi berstatus miliarder. Tiga nama melompat ke peringkat 10 besar.

Sementara itu, pendatang baru paling kaya dalam daftar itu adalah Jogi Hendra Atmadja dari Mayora Group. Nilai kekayaannya US$760 juta atau setara Rp8,8 triliun. Peningkatan harta kekayaan Hendra ditopang lonjakan harga saham perusahaan.

Dari tiga wajah baru orang terkaya tahun ini, total kekayaan tercatat US$1,74 miliar atau sekitar Rp20,2 triliun. Rinciannya adalah:

1. Jogi Hendra Atmadja

Usia: 67 tahun
Kekayaan: US$760 juta atau sekitar Rp8,8 triliun
Bidang usaha: Barang konsumsi
Peringkat di Forbes Asia: 39

Hendra adalah pengendali Mayora Group, salah satu perusahaan makanan terbesar di Indonesia. Produk Mayora di antaranya kopi, sereal, permen, hingga biskuit, yang sebagian diekspor ke 54 negara.

Bersama keluarganya, termasuk saudara dan sepupu, Hendra mengawali debutnya di daftar orang terkaya Indonesia, karena lonjakan 50 persen harga saham perusahaan tahun lalu. Keluarga Hendra adalah imigran China generasi ketiga yang mulai memproduksi biskuit pada 1970.

2. The Nin King

Usia: 82 tahun
Kekayaan: US$650 juta atau sekitar Rp7,5 triliun
Bidang usaha: Real estate
Peringkat di Forbes Asia: 45

The Nin King adalah anak seorang imigran dari Provinsi Fujian di China. Dia memulai membangun pabrik tekstil di Salatiga, Jawa Tengah, pada 1961.

Pabrik tersebut menangani seluruh rantai produksi tekstil dari benang hingga terbuat pakaian jadi. The Nin King kemudian mendirikan Argo Pantes sebagai payung perusahaan tekstil itu.

Saat ini, ia menjalankan bisnis properti di bawah perusahaan Alam Sutera Realty. Dia juga memiliki sebuah rumah sakit di Jakarta dan pabrik baja.

3. Winato Kartono

Usia: 42 tahun
Kekayaan: US$590 juta atau sekitar Rp6,8 triliun
Bidang usaha: Investasi
Peringkat di Forbes Asia: 46

Winato adalah mantan head of investment banking Citigroup Global Markets di Indonesia. Ia mendirikan Provident Capital Indonesia pada sembilan tahun lalu.

Bersama Saratoga Investama Sedaya, dia ikut berinvestasi dalam berbagai proyek seperti Tower Bersama. Belum lama ini, dia juga ikut mengantarkan PT Provident Agro Tbk masuk bursa. (sj)

December 24, 2013

Masih ingat Eddy Tansil?

Koruptor satu ini memang lihai dan punya banyak pelindung , elit rejim Orde Baru. Satu persatu elit Orba sudah pada masuk liang kubur. Yang terakhir adalah Laksamana Sudomo.

 

Nasional

Koruptor Kakap Eddy Tansil Terlacak di China

Selasa, 24 Desember 2013 | 12:39 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Masih ingat dengan koruptor Rp 1,3 triliun yang melarikan diri dari Lembaga Pemasyarakatan Cipinang 1996 lalu? Eddy Tansil, pembobol uang negara lewat kredit Bank Bapindo melalui perusahaan Golden Key Group, terlacak Kejaksaan Agung berada di China.Demikian diungkapkan Jaksa Agung Basrief Arief dalam Konferensi Pers Akhir Tahun 2013, Senin (23/12/2013), yang dihadiri sejumlah insan pers, termasuk tribunnews.com, di Aula Bina Karya, Kejaksaan Agung RI, Jakarta Selatan.”Terkait masalah Eddy Tansil tadi, saya sudah katakan bahwa itu terlacak. Kalau tidak terlacak, tidak mungkin kita melakukan ekstradisi,” kata Basrief.Dia mengatakan, Eddy Tansil terlacak berada di China dan Kejaksaan sudah melakukan usaha ekstradisi dengan mengirimkan surat kepada Pemerintah China melalui Kementerian Hukum dan HAM.”Jadi, itu terlacak karena kita mendapatkan informasi berada di China. Oleh karena itu, kita sudah minta ekstradisi kepada Pemerintah China melalui surat Menteri Hukum dan HAM selaku sentral otoriti pada 8 September 2011. Ini tetap kita upayakan,” ujarnya.Selain itu, kejaksaan pun sudah melakukan koordinasi dengan pihak Bank Mandiri selaku pelaksana penyelesaian barang sita eksekusi Eddy Tansil.”Namun, sampai 17 Desember 2013, belum ada tambahan penyelesaian lelang oleh Bank Mandiri karena barang sita eksekusi yang dilelang belum terjual,” ujarnya.Pihaknya mengaku telah menemukan beberapa aset milik terpidana Eddy Tansil di wilayah hukum Jabodetabek yang diperuntukkan sebagai uang pengganti kerugian negara.”Namun, belum diperoleh nilai indikatifnya,” ucap Basrief.Eddy Tansil melarikan diri dari Lapas Cipinang, Jakarta Timur, pada 4 Mei 1996 lalu saat menjalani masa hukuman 20 tahun penjara. Dia terbukti telah melakukan penggelapan uang sebesar 565 juta dollar AS yang didapatnya dari kredit Bank Bapindo melalui perusahaan Golden Key Group.Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memvonis Eddy Tansil 20 tahun penjara dengan denda Rp 30 juta dan diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp 500 miliar dan membayar kerugian negara Rp 1,3 triliun. (Adi Suhendi)

Editor: Bambang Priyo Jatmiko

 

Siapa Eddy Tansil :

dari Wikipedia :

 

Eddy Tansil

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Eddy Tansil atau Tan Tjoe Hong atau Tan Tju Fuan (lahir di MakassarSulawesi Selatan2 Februari 1953; umur 60 tahun) adalah seorang pengusaha Indonesia keturunan Tionghoa yang keberadaanya kini tidak diketahui. Ia melarikan diri dari penjara CipinangJakarta, pada tanggal 4 Mei 1996 saat tengah menjalani hukuman 20 tahun penjara karena terbukti menggelapkan uang sebesar 565 juta dolar Amerika (sekitar 1,5 triliun rupiah dengan kurs saat itu) yang didapatnya melalui kredit Bank Bapindo melalui grup perusahaan Golden Key Group.

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menghukum Eddy Tansil 20 tahun penjara, denda Rp 30 juta, membayar uang pengganti Rp 500 miliar, dan membayar kerugian negara Rp 1,3 triliun. Sekitar 20-an petugas penjara Cipinang diperiksa atas dasar kecurigaan bahwa mereka membantu Eddy Tansil untuk melarikan diri.

Sebuah LSM pengawas anti-korupsi, Gempita, memberitakan pada tahun 1999 bahwa Eddy Tansil ternyata tengah menjalankan bisnis pabrik bir di bawah lisensi perusahaan bir Jerman, Becks Beer Company, di kota Pu Tian, di provinsi FujianChina.

Pada tanggal 29 Oktober 2007, Tempo Interactive memberitakan bahwa Tim Pemburu Koruptor (TPK) – sebuah tim gabungan dari Kejaksaan AgungDepartemen Hukum dan HAM, dan Polri, telah menyatakan bahwa mereka akan segera memburu Eddy Tansil. Keputusan ini terutama didasari adanya bukti dari PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) bahwa buronan tersebut melakukan transfer uang ke Indonesia satu tahun sebelumnya.

December 21, 2013

Laily Prihatiningtyas Resmi Jadi Bos BUMN Termuda

 

Feby Dwi Sutianto – detikfinance
Sabtu, 21/12/2013 17:17 WIB
 
 
 
 
http://images.detik.com/content/2013/12/21/4/171948_laily320.jpg
Jakarta -Menteri BUMN Dahlan Iskan telah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) pengangkatan Laily Prihatiningtyas sebagai Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (PT TWC). 

Wanita berusia 28 tahun ini mengatakan tidak ada acara serimonial saat dirinya dilantik menjadi dirut, di Kementerian BUMN tanggal 16 Desember 2013 lalu.

“Tidak ada pelantikan secara serimonial tapi dilakukan penyerahan SK penugasan. Sejak penyerahan SK tersebut secara legal formal sudah harus melaksanakan tugas. Penyerahan Senin kemarin,” kata Tyas sapaan dirut BUMN termuda ini kepada detikFinance Sabtu (21/12/2013).

Saat ini, Tyas telah melepaskan sementara profesinya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian BUMN. “Saya sudah di Jogja tapi kemarin memang saya di Jakarta untuk RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham),” jelasnya.

Masa awal kepemimpinannya di PT TWC, Tyas akan melakukan konsolidasi dengan jajaran manajemen PT TWC. Langkah ini dilakukan untuk menjaring aspirasi dan mengetahui persoalan yang dihadapi BUMN pengelola obyek wisata di Jawa Tengah dan Jogjakarta ini.

“Saya bersama dengan BoD (board of director) sudah bertemu dengan karyawan juga dalam tahap audiensi dengan berbagai stakeholder,” sebutnya.

Saat dilantik, Tyas resmi menyandang sebagai bos BUMN termuda di Indonesia. Wanita yang pernah menempuh pendidikan S2 di Belanda ini siap membawahi 1.000 orang karyawan di PT TWC yang terdiri dari dua kategori status karyawan.

“Yang tetap PKWTT (Perjanjian Kerja untuk Waktu Tidak Tertentu) 320 orang, PKWT (Perjanjian Kerja untuk Waktu Tertentu/kontrak) 780 orang,” jelasnya.

 

(feb/hen) 

November 23, 2013

Daftar Lengkap 50 Orang Indonesia Paling Kaya

HomeBisnisBisnis
JUM’AT, 22 NOVEMBER 2013 | 10:10 WIB
Daftar Lengkap 50 Orang Indonesia Paling Kaya

TEMPO.CO, Jakarta – Majalah Forbes merilis daftar 50 orang paling tajir se-Indonesia. Di antara nama-nama tersebut, ada nama Chairul Tanjung di posisi 5 dengan nilai kekayaan US$ 4 miliar. Ada pula nama Hary Tanoesoedibjo di posisi ke-22. Pria yang hendak mencalonkan diri sebagai calon wakil presiden dari Partai Hanura ini memiliki nilai kekayaan US$ 1,35 miliar. Nama Hashim Djojohadikusumo masuk di posisi ke-42. Adik Prabowo Subianto ini memiliki nilai kekayaan US$ 700 juta.

Berikut daftar lengkap 50 orang paling tajir se-Indonesia versi Forbes:

1. R. Budi & Michael Hartono, nilai kekayaan US$ 15 miliar
2. Eka Tjipta Widjaja & family, nilai kekayaan US$ 7 miliar
3. Anthoni Salim & family, nilai kekayaan US$ 6,3 miliar
4. Susilo Wonowidjojo & family, nilai kekayaan U$ 5,3 miliar
5. Chairul Tanjung, nilai kekayaan US$ 4 miliar
6. Sri Prakash Lohia, nilai kekayaan US$ 3,7 miliar
7. Boenjamin Setiawan & family, nilai kekayaan US$ 3 miliar
8. Peter Sondakh, nilai kekayaan US$ 2,7 miliar
9. Mochtar Riady & family, nilai kekayaan US$ 2,5 miliar
10. Sukanto Tanoto, nilai kekayaan US$ 2,3 miliar
11. Putera Sampoerna & family, nilai kekayaan US$ 2,15 miliar
12. Tahir, nilai kekayaan US$ 2,05 miliar
13. Bachtiar Karim, nilai kekayaan US$ 2 miliar
14. Theodore Rachmat, nilai kekayaan US$ 1,9 miliar
15. Martua Sitorus, nilai kekayaan US$ 1,85 miliar
16. Murdaya Poo, nilai kekayaan US$ 1,75 miliar
17. Ciliandra Fangiono & family, nilai kekayaan US$ 1,7 miliar
18. Achmad Hamami & family, nilai kekayaan US$ 1,5 miliar
19. Kartini Muljadi & family, nilai kekayaan US$ 1,42 miliar
20. Eddy Katuari & family, nilai kekayaan US$ 1,4 miliar
21. Low Tuck Kwong, nilai kekayaan US$ 1,37 miliar
22. Hary Tanoesoedibjo, nilai kekayaan US$ 1,35 miliar
23. Ciputra & family, nilai kekayaan US$ 1,3 miliar
24. Edwin Soeryadjaya, nilai kekayaan US$ 1,2 miliar
25. Djoko Susanto, nilai kekayaan US$ 1,17 miliar
26. Eka Tjandranegara, nilai kekayaan US$ 1,15 miliar
27. Harjo Sutanto, nilai kekayaan US$ 1,14 miliar
28. Soegiarto Adikoesoemo, nilai kekayaan US$ 1,04 miliar
29. Kusnan & Rusdi Kirana, nilai kekayaan US$ 1 miliar
30. Garibaldi Thohir, nilai kekayaan US$ 960 juta
31. Sjamsul Nursalim, nilai kekayaan US$ 950 juta
32. Lim Hariyanto Wijaya Sarwono, nilai kekayaan US$ 940 juta
33. Kuncoro Wibowo & family, nilai kekayaan US$ 910 juta
34. Husain Djojonegoro & family, nilai kekayaan US$ 875 juta
35. Sudhamek, nilai kekayaan US$ 830 juta
36. Eddy Kusnadi Sariaatmadja, nilai kekayaan US$ 820 juta
37. Benny Subianto, nilai kekayaan US$ 790 juta
38. Aksa Mahmud, nilai kekayaan US$ 780 juta
39. Jogi Hendra Atmadja, nilai kekayaan US$ 760 juta
40. Santosa Handojo, nilai kekayaan US$ 750 juta
41. Prajogo Pangestu, nilai kekayaan US$ 745 juta
42. Hashim Djojohadikusumo, nilai kekayaan US$ 700 juta
43. Kiki Barki, nilai kekayaan US$ 680 juta
44. Alexander Tedja, nilai kekayaan US$670 juta
45. The Nin King, nilai kekayaan US$ 650 juta
46. Winato Kartono, nilai kekayaan US$ 590 juta
47. Sandiaga Salahuddin Uno, nilai kekayaan US$ 460 juta
48. Trihatma Haliman, nilai kekayaan US$ 450 juta
49. Arifin Panigoro, nilai kekayaan US$ 420 juta
50. Sutjipto Nagaria, nilai kekayaan US$ 390 juta

AMIRULLAH | FORBES

October 29, 2013

Adiguna Sutowo dan Jejaring Bisnisnya

SELASA, 29 OKTOBER 2013 | 15:07 WIB

 

Adiguna Sutowo dan Jejaring Bisnisnya

Adiguna Sutowo memberikan keterangan kepada media perihal perusakan rumahnya di Cafe De Hub, Jakarta, (28/10). Adiguna Sutowo mengaku bahwa dialah yang mengamuk di rumahnya sendiri yang dihuni bersama istri keduanya, Vika Dewayani. Tempo/Dian Triyuli Handoko

 

TEMPO.COJakarta – Nama Adiguna Sutowo kembali mencuat. Kali ini terkait peristiwa perusakan yang terjadi di rumahnya di kawasan Pulomas Jakarta Timur. Adiguna Sutowo dikenal sebagai pengusaha. Namun, tahukah Anda, jenis usaha apa saja yang dia geluti? Putra mantan Direktur Utama PT Pertamina Ibnu Sutowo ini merajai bisnis farmasi, pertanian, bahan peledak, pesawat terbang, properti, perhotelan, sampai tempat hiburan dan otomotif.

Adiguna yang lahir pada 31 Mei 1958 sempat memperdalam sekolah bisnis di University of Southern California. Dia tercatat sebagai bos PT Suntri Sepuri yang berdiri pada 1998 dan bergerak di bidang farmasi. Perusahaan ini memproduksi tablet, kapsul, sirup dan suspensi, sirup kering/serbuk injeksi beta laktam. Ada juga perusahaan PT Adiguna Mesin Tani (agricultural). 

Selain itu, pada September 1985, Adiguna patungan dengan Tommy Soeharto dan Sutikno Sudaryo di PT Mahasarana Buana (Mabuha). Bidang usahanya antara lain sebagai agen pesawat Fokker yang pernah menjual 15 pesawat untuk Sempati dan Pelita Air Service milik Tommy Soeharto. 

Perusahaan lainnya berjualan dinamit untuk keperluan industri. Khusus dinamit Mabua, Adiguna mengelola gudang penyimpan bahan peledak di Pulau Momoi, dekat Batam, sebelum didistribusikan kepada para pelanggan. 

Bisnis Adiguna semakin menggurita setelah pada 1992 bersama Soetikno Soedardjo dan Onky Soemarno mendirikan Hard Rock Cafe. Joint venture ini menghasilkan grup usaha PT Mugi Rekso Abadi (MRA) Group. Ketika itu joint venture terdiri atas Sutikno Sudaryo, Irwan Subiarto, Ongky Sumarno (Direktur Eksekutif Grup Humpuss) dan Yapto Suryosumarno. Saham mayoritas sebsar 70 persen dimiliki Adiguna dan Sutikno. 

Grup MRA terdiri atas lima divisi (Food & Beverage, Media, Otomotif, Hotel & Properti, serta Gaya Hidup & Hiburan). Kelompok ini sedikitnya memiliki 35 perusahaan, antara lain: Zoom Bar & Lounge, BC Bar, Cafe 21, Radio Hard Rock FM (Jakarta, Bandung, Bali), i-Radio, majalah Kosmo, majalah FHM, Four Seasons Hotel dan Four Seasons Apartement di Bali, dealership Ferrari dan Maserati, Mercedes Benz, Harley Davidson, Ducati, B&0, dan Bulgari.

Bukan kali ini saja Adiguna melibatkan istri keduanya, Vika Dewayani Widyapurna, berurusan dengan polisi. Pada Januari 2005, Vika yang dikabarkan dinikahi Adiguna tahun 1990 harus menjalani pemeriksaan sebagai saksi kasus penembakan di Fluid Club & Lounge, Hotel Hilton.

Ketika itu Adiguna dituduh menembak Yohannes Brataman Haerudin alias Rudy Natong hingga tewas. Adiguna divonis 7 tahun penjara dari tuntutan seumur hidup. Dari pernikahan dengan Vika, dia memiliki dua orang anak, yakni Herwinto dan Cecile Seruni.

Kini Vika kembali berurusan dengan polisi. Dia melaporkan seorang wanita yang telah menabrak pagar rumahnya hingga roboh, Sabtu dinihari, 26 Oktober 2013. Selain merusak pagar, perempuan itu juga merusak tiga mobil Adiguna yang diparkir di kediamannya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 81 other followers