Archive for ‘whos who’

May 28, 2012

PROFIL CEO PT ADARO ENERGY :Beri Nilai Tambah Batubara

Apa nilai tambahnya Bung ? Bangun tenaga listrik ??
Nilai tambah tambang itu setahu saya jika Adaro berhasil mengolah batu bara menjadi produk lain yang bernilai tinggi, bukan sekedar jualan “batu”

Senin,28 Mei 2012
PROFIL CEO PT ADARO ENERGY
Beri Nilai Tambah Batubara
Kompas/Priyombodo
Garibaldi Thohir
EVY RACHMAWATI

PT Adaro Energy Tbk (Adaro) tadinya adalah perusahaan tambang batubara yang dikuasai asing. Kini, Adaro telah bertransformasi dari perusahaan pemegang perjanjian kontrak karya pengusahaan pertambangan batubara generasi pertama yang dikuasai asing menjadi perusahaan pertambangan batubara dan energi yang mayoritas sahamnya dimiliki pengusaha nasional.

Hal itu merupakan salah satu bukti bahwa di tangan pengusaha nasional, pengelolaan sumber daya alam bisa berjalan dengan baik. Bahkan, usaha terus berkembang dan memberikan nilai tambah.

Volume produksi batubara perseroan itu pun terus bertambah. Jika pada tahun 2004, volume produksinya baru 24,3 juta ton, pada tahun 2011 tercatat volume produksinya meningkat pesat menjadi 47,7 juta ton. Dengan volume produksi dan harga komoditas yang terus meningkat, perseroan itu membukukan laba bersih tahun 2011 sebesar 552 juta dollar AS (setara Rp 5,122 triliun) atau naik 124 persen dari laba bersih tahun sebelumnya.

Perseroan melalui anak perusahaannya memiliki sumber daya dan cadangan batubara masing-masing sebesar 4,6 miliar ton dan 1 miliar ton. Perseroan itu juga mengembangkan bisnis pembangkit listrik tenaga uap melalui anak usahanya dan bisnis logistik melalui anak usahanya Adaro Logistics.

Perkembangan raksasa batubara Indonesia itu tak lepas dari peran Garibaldi Thohir atau akrab dipanggil Boy Thohir, Chief Executive Officer (CEO) PT Adaro Energy Tbk. Pria kelahiran Jakarta, 1 Mei 1965, itu kini menuai hasil kerja kerasnya setelah jatuh bangun dalam menggeluti bisnis batubara. Berikut petikan wawancara dengan bapak dari tiga anak ini.

Bagaimana Anda bisa menggeluti bisnis batubara?

Pada tahun 2005, saya berkesempatan masuk Adaro yang dioperasikan New Hope, perusahaan asal Australia, dan saat itu hendak dijual. Saya mengajak Pak Teddy Rachmat, Pak Edwin Soeryadjaya, Pak Sandiaga Uno, dan Pak Benny Soebianto agar membentuk konsorsium baru untuk mengambil alih 100 persen Adaro dari asing. Ini seperti reuni para pendiri Astra. Uniknya, saya jadi pemegang saham termuda, mewakili bapak saya yang merupakan pendiri Astra paling senior.

Ini kesempatan pengusaha nasional untuk berperan di industri pertambangan, apalagi harga batubara membaik. Kami nekat saja. Padahal untuk bisa mengambil alih Adaro, butuh dana 1 miliar dollar AS (setara Rp 9,28 triliun), sementara kami hanya punya modal 50 juta dollar AS (setara Rp 464 miliar) sehingga kami butuh banyak pinjaman. Jadi kami mengajak beberapa lembaga investasi asing sehingga kami punya saham 65 persen dan konsorsium lembaga investasi asing 35 persen. Ini satu-satunya jalan agar kami bisa membeli aset terbaik ini dari tangan asing.

Bagaimana kiat Anda mengelola Adaro setelah mengambil alih dari pemilik lama?

Saya berterima kasih kepada senior-senior saya di Adaro, Pak Edwin, Pak Teddy, dan Pak Benny, yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk memimpin Adaro. Setelah mengambil alih Adaro, tentu saya mesti membayar utang. Saya optimistis, karena Indonesia kaya sumber daya alam dan sebelum diambil alih pun 90 persen tenaga kerja di Adaro adalah orang Indonesia. Hanya direksinya yang ekspatriat.

Begitu masuk Adaro, saya datang ke teman-teman di lapangan. Saya bilang, pertama, saya minta maaf, saya masuk sebagai pemilik dan direksi baru, tentu kalian senang karena saya orang Indonesia, tetapi saya punya utang. Jadi tolong bantu saya, kerja lebih baik dan jujur, karena itu aset kita. Kedua, kita pasti tidak mau perusahaan kolaps begitu dipimpin orang Indonesia. Agar harga diri kita jangan jatuh, mari kita bekerja sebaik-baiknya. Untuk para ekspatriat yang bisa bertahan, saya minta agar mengikuti cara saya. Ini menjadi kunci sukses Adaro pada fase pertama.

Sejak tahun 2005 sampai penjualan saham perdana ke publik (initial public offering/IPO) tahun 2008, kami harus berjuang, utang banyak, masalah pun banyak. Kekuatan kami adalah rasa kekeluargaan dan kebersamaan serta sistem nilai yang kami bangun, kita sentuh hati karyawan agar punya motivasi kuat untuk ikut membangun perusahaan.

Saya juga sangat percaya kredibilitas adalah segala-galanya, termasuk yang kami janjikan kepada investor asing. Lantas, saya putuskan akan membawa perusahaan ini menjadi perusahaan publik pada tahun 2008 dan agar saham Adaro bisa dimiliki publik.

Saya lalu membuat holding (perusahaan induk) baru, yaitu Adaro Energy. Di situ kami bertransformasi dengan visi menjadi perusahaan energi dan tambang terdepan di Indonesia. Untuk itu, kegiatan usaha harus terintegrasi, dengan memiliki tambang batubara, kontraktor sendiri, bisa mengapalkan dan memiliki pelabuhan sendiri, serta membangun pembangkit listrik agar bisa memberi nilai tambah. Kami menggarap proyek pembangkit listrik, yang terbesar adalah proyek PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) kapasitas 2 x 1.000 megawatt bersama beberapa mitra.

Apa harapan Anda terhadap Adaro?

Perjalanan kami belum selesai, belum cukup. Strategi utama yang diterapkan terdiri dari pertumbuhan organik dari cadangan yang ada, peningkatan efisiensi rantai pasokan batubara, peningkatan dan diversifikasi cadangan, produk dan lokasi, dengan menambah aset kami di Indonesia dan luar negeri. Saat ini saya mau fokus ke Indonesia. Dari hanya memiliki satu tambang, sekarang Adaro menggarap beberapa lokasi tambang, salah satunya di Kalimantan Tengah yang bermitra dengan BHP Billiton.

Industri tambang sering dianggap merusak lingkungan, bagaimana dengan Adaro?

Memang masih banyak kelemahan di industri tambang. Saya minta imbang saja, mereka yang nakal harus diberi sanksi. Adaro sendiri merupakan satu-satunya perusahaan tambang di Indonesia yang mendapat proper hijau empat kali berturut-turut.

Bagaimana komitmen Anda soal nilai tambah industri batubara?

Bagi kami, batubara merupakan produk akhir. Untuk memperoleh nilai tambah batubara, kami memutuskan mengembangkan usaha dengan membangun pembangkit listrik tenaga uap. Hal itu karena keberadaan pembangkit listrik ini akan menyerap batubara untuk kebutuhan domestik dan menimbulkan efek domino bagi perekonomian masyarakat.

February 28, 2012

Para Miliarder ala Pegawai Pajak

SELASA, 28 FEBRUARI 2012 | 14:16 WIB
Para Miliarder ala Pegawai Pajak
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Jakarta – Sejumlah kasus mafia pajak tak habis-habisnya terbongkar dalam dua tahun terakhir. Pegawai rendah Kantor Pajak ketahuan menimbun duit hingga miliaran rupiah. Ada yang kasusnya dihentikan karena tak terbukti.

Gayus Tambunan

# Pangkat: III-A
# Jabatan: Bagian Penelaah Keberatan di Seksi Banding dan Gugatan Direktorat Pajak
# Gaji: Rp 12,1 juta per bulan
# Tabungan dalam rekening: Rp 25 miliar
# Modus: Selama 2007-2009, bekerja sama dengan sejumlah konsultan pajak membantu “mengurus” proses banding ke pengadilan pajak.
# Garapan: 21 perusahaan, tiga di antaranya perusahaan tambang batu bara milik tokoh politik.
# Kasus:
- Terjerat kasus penyuapan terhadap sejumlah polisi.
- Terjerat kasus korupsi dan gratifikasi.
- Terjerat kasus pemalsuan paspor karena pelesiran saat ditahan.
- Terjerat kasus penyuapan petugas penjara karena pelesiran saat ditahan.
# Status kasus: Divonis tujuh tahun penjara dan menghadapi vonis lainnya.

Bahasyim Assifie

# Jabatan: Bekas Kepala Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak Jakarta VII
# Gaji: Rp 20 juta per bulan
# Total uang dalam rekening: Rp 61,1 miliar, yang terdiri atas rekening Sri Purwanti, istrinya, Rp 35 miliar plus US$ 1 juta; kedua anaknya, Winda Arum Sari dan Riyanti Irianti, masing-masing Rp 19 miliar dan Rp 2,1 miliar.
# Harta lainnya:
- Rumah di daerah Pancoran, Jakarta Selatan, yang diperkirakan senilai Rp 1,5 miliar
- Rumah di Jalan Cianjur, Menteng, Jakarta Pusat, senilai Rp 25 miliar
- Rumah di kompleks Mas Naga, Bekasi, Jawa Barat, senilai Rp 1 miliar
- Tanah 12 hektare di Cimanggis, Depok
# Kasus:
- Menyalahgunakan wewenangnya sebagai Kepala Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak.
- Meminta uang Rp 1 miliar kepada wajib pajak bernama Kartini Mulyadi, salah satu Komisaris PT Tempo Scan.
- Melakukan pencucian uang dengan modus memindahkan harta ke beberapa rekening miliknya serta milik istri dan anak-anaknya.
- Status kasus: divonis 12 tahun penjara.

Denok Taviperiana

# Pangkat: III-D di Direktorat Jenderal Pajak
# Total harta: Rp 5,5 miliar, dalam bentuk deposito Rp 3 miliar. Polis asuransi jiwa dengan premi tunggal senilai Rp 1 miliar pada 2007.
# Modus: Diduga menerima suap.
# Status Kasus: Dihentikan

Dhana Widyatmika

# Pangkat: III-C
# Jabatan: Dinas Pajak DKI Jakarta
# Total Harta dalam rekening: Rp 60 miliar. Berbisnis jual-beli mobil.
# Kasus: Diproses Kejaksaan Agung dan menjadi tersangka.

NASKAH dan BAHAN: ATMI PERTIWI | SUKMA

February 27, 2012

Bobby Gafur Umar :CEO BAKRIE & BROTHERS TBK

Senin,
27 Februari 2012
CEO BAKRIE & BROTHERS TBK
Nakhoda Spesialis Krisis
Oleh Hamzirwan

Ekonomi Indonesia dua kali dihantam krisis dalam satu dasawarsa. Krisis Asia tahun 1999 benar-benar membuat menderita. Tahun 2008, krisis kembali menghantam. Namun, kali ini, Indonesia tidak mengalami guncangan berarti, bahkan masih mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan.

Akan tetapi, sesungguhnya Indonesia tidak sepenuhnya aman dari krisis. Beberapa korporasi besar di Indonesia sempat limbung. Bakrie & Brothers Tbk (BB), yang beroperasi sejak tahun 2008 menjadi perusahaan investasi kelompok usaha Bakrie, merupakan salah satunya. Namun, kesigapan nakhoda mengoptimalkan kru ”kapal”, yang dibangun keluarga Bakrie sejak Februari 1942, mampu menarik BB dari jebakan pusaran krisis.

Kesuksesan Bakrie & Brothers Tbk tidak lepas dari tangan Bobby Gafur Umar (43) sebagai presiden direktur dan chief executive officer (CEO). Bobby tidak hanya mampu mengembalikan keluarga Bakrie sebagai pemilik mayoritas setelah saham mereka tinggal 2,5 persen dalam restrukturisasi utang saat krisis Asia. Bobby membawa BB dari perusahaan beraset Rp 5,2 triliun menjadi perusahaan investasi global dengan aset Rp 31,7 triliun tahun 2010.

Bobby menerima Kompas di ruang kerjanya di puncak Gedung Rasuna Epicentrum, Jakarta, Senin (13/2). Pria kelahiran Jakarta, 23 Juni 1968, ini berbagi pengalamannya menakhodai grup usaha Bakrie yang bulan ini berusia 70 tahun. Berikut petikan wawancaranya:

Jadi CEO dalam usia 34 tahun?

Masuk BB tahun 1995 sebagai management trainee. Terus gabung di kantor komisaris utama sebagai asisten. Saat restrukturisasi, masuk ke Bakrie Sumatera Plantations (BSP) awal tahun 1998 dan pindah ke kebun di Jambi. Akhir tahun 1999 ke Sumatera Barat dan tahun 2001 ke Kisaran, Sumatera Utara. Lalu nama saya masuk daftar kandidat CEO tahun 2002.

Selama di BSP, saya harus lakukan restrukturisasi. Konflik dengan ribuan calon petani plasma di Jambi dan Pasaman, Sumatera Barat, diselesaikan. Petani menuntut pembangunan kebun plasma yang terhenti akibat bank kreditor dilikuidasi.

Masalah ini selesai setelah BSP mendapatkan sumber pendanaan baru dari Bank Muamalat. Pembangunan kebun plasma berlanjut dan kini sudah lunas.

Perkebunan kelapa sawit dan karet penyelamat kelompok usaha Bakrie dalam krisis. Para pemegang saham mencalonkan saya sebagai CEO.

Bagaimana ini terjadi?

Dalam krisis 1997 itu, kelompok usaha Bakrie saat itu salah satu perusahaan yang dianggap kreditor tetap memegang komitmen menyelesaikan utang.

Tahun 2001, pemegang saham mayoritas, keluarga Bakrie, bersedia menukarkan saham untuk menalangi utang 1 miliar dollar AS. Saham mereka yang 55 persen turun menjadi 2,5 persen. Mereka tak mau kehilangan kepercayaan sehingga utang harus dibayar.

Selesai restrukturisasi tahun 2002-2004, BB punya waktu tiga tahun menyelesaikan pekerjaan rumah dari para kreditor. Di situlah kreditor meminta ditunjuk manajemen baru untuk menyelesaikan lompatan baru dalam target yang telah ditetapkan.

Saat itu, saat usia 34 tahun, saya ditunjuk dalam rapat umum pemegang saham yang masih dipimpin Aburizal Bakrie sebagai komisaris utama dengan target yang tidak mudah.

Bagaimana Anda menjawabnya?

Kami selalu kembali kepada fundamen. Perusahaan apa pun membutuhkan rencana. Kami membuat cetak biru baru tahun 2003.

Saya membagi cetak biru dalam tiga bagian. Pertama, kelompok penunjang infrastruktur yang terdiri atas pabrik yang produknya mendukung pembangunan infrastruktur, besi baja, konstruksi, dan kontraktor. Kelompok ini kami kembangkan lebih lanjut menjadi kelompok infrastruktur karena kami sudah mempunyai proyek berkait infrastruktur, jalan tol, dan pembangkit.

Kedua, kelompok industri perkebunan yang kami bilang punya investasi strategis di perkebunan kelapa sawit dan karet. Ketiga, telekomunikasi.

Kembali CEO pada 25 Juli 2010?

Maret 2008, kami berubah dari operation holding menjadi investment holding. Saya sudah mengembangkan bisnis infrastruktur dengan total anggaran 4,5 miliar dollar AS (Rp 40,5 triliun).

Setahun kemudian saya memberikan beberapa pointers usulan apabila ada restrukturisasi bisnis lagi. Kemudian, pemegang saham menunjuk saya sebagai CEO lagi dengan manajemen baru.

Jadi CEO spesialis krisis?

Mungkin karena ada cerita sukses tahun 2002-2004 pascakrisis saya menangani BB sehingga bangkit. Kemudian ditugaskan lagi untuk hal yang sama. Kini bebannya berat dari segi finansial.

Magnitude krisis lebih besar. Kalau dulu, yang terkena adalah perusahaan dan hanya di Asia. Di dunia duitnya masih banyak. Jadi, selama masih ada pertumbuhan, pendanaan masih dapat.

Sekarang, yang krisis negaranya. Jadi macet pasar saham. Kering likuiditas. Jadi kali ini untuk balik lebih susah karena likuiditas pasar saham kering. Sementara kami mesti berkompetisi terhadap situasi. Sebagai perusahaan investasi, kami tidak punya aset besar dalam bentuk tetap. Tetapi bagaimana bisa memutarkan dana untuk investasi. Kalau dana mau, investasi tidak ada kan susah. Mesti pintar dan inovatif.

Bagaimana strategi meyakinkan itu?

Proposal bisnis harus baik. Dari segi return (imbal hasil) dan manajemen risiko. Return tinggi, risiko tinggi. Bagaimana kita menyeimbangkannya sehingga investor tertarik untuk masuk.

Grup BB ibarat pohon tinggi sehingga kian kencang diterpa angin?

Tentu kalau kami besar, tidak semua orang suka dan banyak pesaing. Tetapi dalam bisnis itu sama seperti politik. Hari ini jadi musuh atau pesaing, besok bisa mitra. Jadi, tidak ada musuh abadi. Tidak ada teman abadi.

Semua ujungnya adalah bagaimana memberikan hal terbaik, terutama dalam segi nilai kembali. Grup Bakrie dulu benar fokus ke bisnis. Sekarang ada kegiatan sosial seperti olahraga, pendidikan, serta pengembangan kemasyarakatan dan kelompok usaha.

Tetapi, dengan Pak Aburizal Bakrie menjadi tokoh politik, otomatis ada juga di sisi politis. Tetapi, sebagai pelaku bisnis, kami tetap teguh tidak terkait dengan masalah politik. Hanya citra ini memang ada dalam kelompok besar.

Bagaimana Anda menghadapinya?

Dibutuhkan upaya besar. Tetapi mudahnya, kami tetap teguh di bisnis. Tidak ada bisnis terjadi karena (lobi) politik. Bakrie & Brothers punya direktur manajemen risiko. Di kelompok usaha Bakrie, yang punya manajemen risiko selevel direktur itu hanya kami dan kami mendapat penghargaan untuk ini.

Siapa yang memengaruhi Anda?

Yang pertama, guru besar saya di bisnis adalah Pak Aburizal Bakrie yang mana sebagai chairman kelompok usaha Bakrie banyak memberikan petunjuk atau bimbingan ke saya.

Tetapi kalau filosofi pribadi yang saya pegang teguh dari bapak saya, Iman Sutjipto Umar, soal kerja keras dan jujur. Kalau orang sudah percaya dua hal itu, kamu bisa bekerja dan diterima di mana saja. Itu pegangan saya. Memang tidak muda

February 20, 2012

Hashim’s new horizons

Hashim’s new horizons
Yanto Soegiarto | February 01, 2012
Jakarta globe
National businessman Hashim Djojohadikusumo is diversifying his business and setting up new ventures in mining and renewable energy. Today his business empire has interests ranging from rubber plantation, tin mining to planting aren trees. The businessman ranks 23rd on the 2011 GlobeAsia rich list.
Businessman Hashim Djojohadikusumo is diversifying his business and setting up new ventures in mining and renewable energy. In a rare interview, Hashim said he is moving into rubber plantations, tin mining, developing renewable energy derived from aren (arenga pinnata) trees and developing technology to tap the power of water.

Hashim Djojohadikusomo is no stranger to the ups and downs of business. Before the 1998 financial crisis, he was regarded as fast rising entrepreneur with close ties to the country’s political elite.

His business holdings included stakes in banks, agribusiness and energy. His brother Prabowo Subianto was Lieutenant General and a son in law of former president Suharto. Life was sweet then.

The crisis, however, upended his plans and he was forced to handover many of his assets to the Indonesian Bank Restructuring Agency (IBRA). With the Indonesian economy facing a long bleak winter, Hashim decided to look elsewhere to rebuild his business.
He established himself in London and scoured the globe for new investment opportunities. He struck oil in Kazakhstan and that proved to be his road back to success and to Indonesia.

Today his business empire hasd an estimated turnover of $1.2 billion with interests ranging from energy, petrochmecials, cement, shipping and agribusiness.

He is also an emerging player in the country’s agriculture industry with plans to own large estates across the country.
We have been in commodities for a long time, palm oil and maize. Now rubber. We are already in the rubber business in West Java and are looking to expand to Kalimantan and Aceh,” he told GlobeAsia.

And, he adds, “My newest venture is in tin mining on Bangka island, where we are already making an acquisition.”
The plantation business will still be viable for the next 10 to 20 years, Hashim believes, and he is expanding his land bank in West Sumatra, South Sumatra and West Kalimantan.

We have been a player in maize for a long time, together with its end products like food and animal feed and now we are looking into developing maize in Sumba in eastern Indonesia and Kalimantan as well,” he adds.

He faces major competition, however, as commodities are also being hotly pursued by some of the country’s largest conglomerates such as Astra International, Sinar Mas and the Salim Group.

Bio-ethanol program

The businessman, who made a huge fortune from the sale of his Central Asian oil stake in 2006, is now spending time developing renewable energy by planting aren trees on his estates in various provinces, aiming to produce bio-ethanol.

The aren tree, with deep roots extending some six to seven meters into the sub-soil, is an effective means of preserving the ecology, helping to conserve water. It is easily grown in lowlands as well as on mountain slopes up to 1,400 meters above sea level.

The tree grows easily as a secondary species under forest cover, and in North Sulawesi, where Hashim’s aren concession is located, wild boar and deer have returned as the habitat improves and as new springs of water appear.

Unlike cassava, aren grows all year long. Each tree can produce 20 liters of nira extract of which 10% can be processed into ethanol while the remainder can be sold as palm sugar. A hectare of aren trees can produce 100 liters of ethanol a day.

We are planting the aren trees in East Kalimantan, replanting denuded forests in a biodiverse way using the aren trees and their variants. The end product is ethanol. Sizewise, it requires $30 million for initial investment and we are talking here about 400,000 hectares or a long-term investment of $350 million. Some European investor groups are interested,” Hashim states.

The program has created considerable interest in the region. Local media in East Kalimantan reported on Hashim’s visit to the area, noting that he was accompanied by potential investors from Abu Dhabi, France and the Netherlands. The reports added that the businessman would also build an ethanol plant.

Suwadji, a member of the Kutai Kartanegara regional assembly (DPRD) and a prominent community figure, welcomed the move. “This is the solution should we experience an energy crisis. Hashim has the support of the local legislative assembly and the local people,” he declared.

If he can realize his plans it will mark the awakening of the regency in providing for the welfare of the people,” said Suwadji, who also owns 35 hectares of land in the area, where he has successfully planted teak trees.

Hashim says that the intial planting will cover 5,000 hectares and if successful, the area targeted will be raised to 700,000 hectares. “Many multinational companies have committed to buy the ethanol,” he adds.

Rubber plantations

Hashim owns a modest 400 hectares of rubber plantation in West Java but is now planning some more extensive rubber estates in East Kalimantan, where he owns 21,000 hectares of land that was initially intended for oil palm plantation.

Agribusiness holding company Comexindo sees rubber as a better prospect than palm oil because of the tough competition in the oil palm and CPO business. Comexindo has put aside Rp1 trillion to open up the East Kalimantan land right through to full production.
An initial 1,200 hectares will be planted under a people’s ‘nucleus’ scheme. Later development will include a further 15,258 hectares that will be managed by smallholders in a partnership program with the company.

Production is expected to start in 2014 or 2015 with an estimated capacity of 500 tons a day, with 80% of the rubber exported.
Hashim, who also owns the PT Kertas Nusantara pulp and paper company together with brother Prabowo, said he expects to be a significant player in the rubber business.

Mining and investments

Hashim, known as one of the country’s most ‘discreet’ business operators, does admit that he recently entered the tin business with the acquisition of a tin mining company in Bangka Island, where he is looking at the prospect for its tin being used in the electronic industries.

It’s not about tin cans but as raw material used in cell phones, laptops, TV screens and other electronic components,” he stated. And, he adds, “We are also looking to invest in gold mining in Indonesia and abroad. Also coal, but we have not made any investments yet.”

When Hashim sold his Nations Energy to China’s Citic Corp. in 2006, pocketing Rp17.2 trillion, he did not leave the oil and gas business entirely. In 2008, he established Nations Petroleum, operator of the Rombengan field in Papua, the South Madura Block and the Brunei Block L field. He sold those assets to Australia’s AED Oil and then, in 2010, divested his remaining stake in his oil fields in the United States, leaving him with significant cash resources.

Hashim, who ranks 23rd on the 2011 GlobeAsia rich list with a net worth of $910 million, is blunt about his approach to business. “Basically we are opportunists. We set up new ventures as well as equity investment. If a company needs capital infusion, management, we have done that, as in Canada and in the US where we became controlling shareholders. But we would rather not make passive investments in non-public companies.”

Water power

Energy from water is another new direction for the businessman. He is developing low-cost water-power systems suitable for developing countries, including Indonesia.

It’s an invention by an Indonesian engineer, Ismun Uti Asdan, which has been patented. It’s power-generating equipment he calls Kincir Ismun or the Ismun Waterwheel, which works in perennial rivers. You don’t need rushing water or dams and it works in lowland rivers. We are developing the prototype for commercial purposes,” Hashim said,

The waterwheel can adapt to the rise and fall of the river by being mounted on a pontoon. It can be combined with wind power. Compared to a solar power plant, the Kincir Ismun power plant is cheaper and easier to handle and far easier to repair.

Many local governments from Papua and Kalimantan have already used the waterwheel and Hashim has tested it in his own plantations. Ismun is now working to meet the demand for different capacities to meet a variety of local conditions.

With Hashim interested in supporting development of the waterwheels, Ismun is working to develop several models with capacity of 2,500 watts, 3,000 kilowatts, 30,000 kilowatts and 50,000 kilowatts.

Group consolidation

Hashim’s group of companies, the Arsari Group, named after his children Aryo, Sarah (Rahayu Saraswati) and Indra Djojohadikusumo, has completed a major consolidation.

Heir apparent Aryo Djojohadikusumo, 29, who completed his studies at London University, was the force behind the consolidation process and helps his father at the helm of the group.

Aryo is now commissioner of Arsari Group and holds a strategic position in controlling the group’s subsidiaries. He is president director of PT Arsari Putra Indonesia and PT Karunia Tidar Abadi.

Arsari Group’s core businesses are in agribusiness, mining and minerals, logistics and energy. The group also runs mushroom and pearl culture businesses exporting to the US, Europe, Japan and the Middle East.

The group is also expanding in large-scale ranching in Sumatra while PT Cito Sarana Jasa Pratama is in logistics and courier services and operates warehouses.

Nor has Hashim neglected his old businesses in favor of his new projects. His oil palm plantation in West Sumatra won an award for preserving the environment by leaving some 3,000 hectares in its natural state as a tiger sanctuary.

This was his second animal conservation endeavor, after Mangkajang, Kalimantan, where he manages a 1,260-hectare green belt for native flora and fauna. This, says Hashim, provides natural habitat for 450 orangutan, 12 Sumatran elephants and 30 honey bears.
It’s about cultural heritage, which we have to preserve. Preserving our cultural heritage, not just our physical cultural heritage but also landscape, forest, wildlife, nature, environment, the reefs, the waters. Culinary traditions, food, wayang and so forth.

There is relevance between business and culture. Business should support culture and culture civilizes business. Hopefully businessmen who are influenced by culture become more civilized. I believe it: Culture civilizes businessmen,” states Hashim, a well-known art collector and who runs a number of philanthropic organizations.

These organizations aim to preserve Javanese cultural heritage in the widest sense and provide education for the needy. The Arsari Djojohadikusumo Foundation and Wadah Titian Harapan Foundation concentrate on early childhood education, providing assistance in the form of hardware and software in information technology, books, libraries and buildings. The Arjasari Library in Bandung is a learning center for teachers, students and farmers.

More than 1,200 children have enjoyed grants while scholarships are provided for post-graduate programs in collaboration with Gajah Mada University (UGM) in Yogyakarta, with an emphasis on museum curator skills, anthropology, archeology and the Javanese cultural heritage.

Hashim’s foundations also work to preserve historic buildings, the renovation of the tombs of the Javanese kings and the digitalizing of ancient texts.

Hashim has a vision to preserve cultural heritage, the tangible and the intangible. He just doesn’t want his work to be talked about,” says Professor Frank Tugwell of Pomona College in the United States, which awarded Hashim its prestigious Blaisdell Distinguished Alumni Award.

For my part, I wish there were many more businessmen who were willing to preserve our cultural heritage as part of their corporate social responsibility,” notes Hashim. “I am not the only one. Arifin Panigoro also sponsors and is active in the preservation of cultural heritage, including wildlife preservation.”

Hashim, who is also the chairman of the Indonesian Chess Association, continues to maintain business interests abroad and is currently eyeing opportunities in India and Mongolia.

Kincir Ismun, the modern waterwheel

It all started during a rainy session when little Ismun Uti Adan asked his mother if he could have one of her yarn spindles for a toy. He used the spindles to make a waterwheel and played in the water rushing along the drains around his house.

That small boy never thought that one day he would invent a smart but simple technology for a micro-hydro power plant.
In the eyes of Prof. Dr. Ir Indarto, dean of Gadjah Mada University (UGM), Ismun is a very tenacious person who won’t give up until his goal is acheved.

“Ismun and I have been very good friends since our student days at UGM. So I know him well. He is very active and creative,” Indarto told GlobeAsia’s Ardhian Novianto.

Ismun’s journey through life was much like that of other people in the interior of West Kalimantan in the 1950s, living in harmony with nature. His describes his life as just like the flowing rivers of Kalimantan. When he was accepted as student in mechanical engineering in one of the best universities in the country, he saw this as part of the natural flow of his destiny.

When Ismun graduated from high school in 1963, UGM had just opened a new department of mechanical engineering. It offered an opportunity for every high school graduate with the highest grades in each province to enter the department without a test. Ismun was one of the fortunate few.

Ismun’s idea to use the river to generate electricity was inspired by the fact that his hometown is located on the river but most people there lived without electricity.

He knew that the common technology for electricity generation is to have a conventional hydro-electric power plant, expensive to build and which damages the riverine ecosystem. Damming the river would also inevitably affect the lives of people who use the river as their traditional means of transportation.

“To build such hydro-electric plants and to build an integrated electricity network is not possible due to the economic scale. So I invented the first waterwheel applicable for small rivers with slow water flow in 1984. A waterwheel with a diameter of one meter and submerged parts succeeded in turning a car alternator to generate electricity,” he recalls.

In 1996, Ismun built a bigger waterwheel, with a diameter of five meters, with two-meter blades submerged in water. He tried the device at his home town in Kalimantan, but it did not work.

The cause of the faulure was the characteristic of water as an incompressible fluid. When the blades churned the water, the surface of the water maintained pressure on the blade and the waterwheel stopped turning.

“I felt bad, I cried. I moped for several days, frustrated. Since then, I have been thinking about how to solve the problem. One day, I looked out the window and the louvred glass window insired me. If I applied the louver window principle, it might work,” Ismun thought.

Two years later, Ismun created a waterwheel with moving blades using the louver principle. He succeded in making a 3,000-watt power generator that worked well.

At first he called his invention “moving blades waterwheel” but many micro-hydro researchers asked him just to use his own name for the invention. So the waterwheel came to be called Kincir Ismun or the Ismun waterwheel. He obtained his patent cerificate in 2002.
Many local governments in Papua and Kalimantan have already ordered the Kincir Ismun. Realizing that he needed capital to mass-produce the waterwheel, he met with businessman Hashim Djojohadikusumo last year. That was how the venture started, offering a new means of bringing power to small and isolated communities.

SHARE THIS PAGE

6 0 0 0

Post a comment
Please login to post comment

Comments
Be the first to write your opinion!

January 12, 2012

EMIRSYAH SATAR: Tak Mau Pensiun Di Garuda

Jadi Mentri Perhubungan ??

MIRSYAH SATAR: Tak Mau Pensiun Di Garuda
Oleh Berliana Elisabeth, Hendra Wibawa
Sabtu, 31 Desember 2011 | 15:33 WIB

Berita Terkait

Izin Usaha Maskapai Citilink Akan Terbit Bulan Ini
Izin Usaha Maskapai Citilink Akan Terbit Bulan Ini
GARUDA INDONESIA: Agresif Memanfaatkan Jaringan Global
I KETUT MARDJANA : Kadang Saya Terlalu Keras
Bandara Supadio Pontianak Dipermak Dengan Dana Rp390 Miliar
Memasuki tahun kelima masa kepemimpinan sebagai Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar berhasil menempatkan maskapai ini pada posisi yang prestisius dan kian disegani di kancah internasional.
Padahal, saat pelantikannya Maret 2005, media internasional Wall Street Journal menulis bahwa Garuda masuk dalam Kategori The Weakness di Asia karena pelayanannya yang buruk dan terlilit utang. Bahkan berdasarkan statistik maskapai di Hong Kong, Garuda tidak masuk dalam daftar mapping karena dianggap tidak kompetitif.
Bagaimana kiat Emirsyah menjalankan maskapai pelat merah ini? Berikut petikan wawancaranya untuk Bisnis Indonesia:

Bagaimana kondisi Garuda saat Anda mulai memimpin maskapai ini?
Jujur saja, Garuda Indonesia pada periode 2005-2006, kondisinya tidak bankable, bermasalah dengan safety dan terancam pailit. Begitu saya masuk, kami bersama-sama melakukan strategic plan 5 tahun yakni 2005-2010. Kami membaginya menjadi tiga tahapan yakni survival, rehabilitasi dan growth.

Untuk bisa survival atau bertahan, Garuda tidak tutup saja itu sudah bagus. Ketika itu, kami terbang ke mana-mana tetapi merugi. Untuk mengurangi ‘pendarahan’, kami memperkecil kapasitas dan menutup beberapa rute yang merugi. Kami juga mengembalikan 10 pesawat karena 51,85% penerbangan Garuda merugi. Orang pun lantas bertanya-tanya, Emir masuk Garuda bukannya memperbesar kapasitas tetapi kok malah pesawatnya dibalikin.

Namun, setelah jumlah pesawat dikurangi, Alhamdulillah ‘pendarahannya’ mengecil, dan cash flow mulai mengalir. Hingga akhir tahun ini diperkirakan pendapatan Garuda mencapai Rp25 triliun.

Tahap selanjutnya adalah rehabilitasi. Saya melakukan apa yang harus dilakukan. Masing-masing unit deliver apa yang dijanjikan. Proses rehabilitasi ini berjalan bagus sehingga kinerja semakin membaik. Memasuki 2010, Garuda sudah masuk ke tahap pertumbuhan dan mencapai target. Pada kuartal I/2011, akhirnya Garuda mencatatkan saham perdana (initial pubic offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia.

Pada kondisi sekarang, di pengujung 2011, bagi saya Garuda berbeda dari 5 tahun lalu. Ibarat, pemain golf, dulu handicap-nya di level 30, sehingga memperlambat yang lain untuk main. Sekarang, handicap-nya di level average atau rata-rata, bahkan kadang bisa mengalahkan yang handicap rendah.

Jadi posisi Garuda sekarang sudah bagus, namun kita masih harus membangun sistem. Kami ingin menjadi single handicapper. Untuk itu perlu disiplin tinggi untuk mempelajari sistem.

Kami sedang menuju ke sana, sehingga cara berfikir pun harus berbeda. Melalui Program Quantum Leap yang dicanangkan pada 2015, kami mempersiapkan agar Gaaruda benar-benar bisa menjadi pemain unggul di domestik, regional dan internasional.

Situasi tersulit apakah yang pernah Anda hadapi?
Kondisi tersulit, yaa.. itu tadi, saat bleeding [Garuda mengalami ‘pendarahan’]. Untuk mengatasi kondisi seperti itu, kalau tidak diatur dengan bagus, tentu bisa meresahkan karyawan. Namun, bagian tersulitnya adalah mengubah kultur kerja karyawan, apalagi memang terjadi kelebihan pegawai dalam organisasi.

Oleh karena itu, kami membuat program pensiun sukarela [PPS].

Prinsipnya mereka diberikan kesempatan terlebih dahulu dengan memindahkannya ke unit lai. Kalau tidak mampu, mereka ditawarkan PPS, yang selanjutnya kami beri mereka pelatihan kewirausahaan dan bekal yang besar. Ada 800 pegawai yang ikut PPS, dan mereka dapat uang. Dari uang itu ada yang sukses dengan buka usaha sendiri.

Dalam merealisasikan program PPS, kami bekerja sama dengan pakar pemasaran Rhenald Kasali untuk membuat rumah perubahan, khusus bagi karyawan yang mengambil Program PPS.

Sebelumnya karyawan Garuda mencapai 6.400 orang, sekarang lebih ramping dengan 5.600 orang. Dalam 5 tahun terakhir, produktivitasnya melonjak 52%.

Apa keputusan yang paling monumental?
IPO [initial public offering] atau pencatatan saham perdana. Pasca-IPO, kami semakin tumbuh dan berkembang. Banyak orang yang tidak percaya Garuda bisa IPO.

Menurut IATA, saat ini merupakan tahun sulit bagi maskapai internasional di mana akan ada penurunan bisnis di segmen premiun maupun ekonomi akibat krisis Eropa. Harga minyak naik lagi dan yield maskapai turun seiring dengan load factor dan kargo yang juga turun. Profit pun pada akhirnya juga merosot.

Kondisi ini sudah dirasakan Singapore Airline, yang mana dalam 6 bulan terakhir nett profit-nya turun 62%. Padadalam 14 bulan berturut-turut sampai September 2011, load factor atau tingkat keterisian penumpang turun. Begitu juga Emirates, mereka sudah mengumumkan profitnya anjlok 76% dalam 6 bulan. American Airlines bahkan mengalami pailit.

Namun, load factor Garuda malah naik 37% pada tahun ini sampai November, dibandingkan dengan periode sama tahun lalu menjadi 15 juta. Jika digabung dengan Citilink, unit usaha Garuda yang melayani penerbangan tarif rendah, penumpang kami mencapai 15,5 juta. Operating revenue juga melonjak 42%, dengan laba bersih per November dibandingkan dengan posisi tahun lalu naik Rp135 miliar, menjadi Rp725 miliar. Hal utama yang mendukung kinerja adalah penjualan Garuda yang cukup bagus.

Sepanjang pertumbuhan ekonomi Indonesia bagus, maka pasar penerbangan nasional akan meningkat 18%, dan penumpang Garuda bisa tumbuh 37%. Angka acuan yang biasa kami pakai, biasanya pertumbuhan penumpang berkisar 1,5 hingga 2 kali dari pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pernahkah Anda mengambil keputusan yang keliru?
Saya selalu make it easy [membuat mudah], namun prinsipnya keputusan yang diambil harus yang terbaik buat perusahaan. Tentunya, banyak hal-hal yang kami diskusikan bersama di manajemen sebelum mengambil keputusan. Keputusan ini selalu saya minta diskusi bersama, tetapi saya-lah yang bertanggung jawab. Janganlah menyesali kalau kita membuat keputusan yang salah. Cepat-cepatlah dikoreksi jika memang keliru. Yang penting do the best to company, kalau salah ya kita koreksi. Sebab, setiap situasi butuh keputusan. Jadi, kita harus memikirkan kepentingan perusahaan jangka panjang, jangan ambil keputusan populis yang hanya akan menjadi bom waktu dan siap meledak sewaktu-waktu.

Apa rencana aksi korporasi berikutnya?
Pertama, spin off [pemisahan] Garuda dengan Citilink. Ini ditargetkan selesai pada kuartal I/2012. PT Citilink Indonesia sudah memperoleh SIUP dan AOC. Citilink sampai akhir tahun ini mengoperasikan10 unit pesawat, dan kami sudah mengorder 25 unit pesawat tambahan. Paling tidak sampai akhir tahun depan jumlahnya menjadi 20 unit.

Kedua, pada tahun depan kami akan memasukan pesawat berkapasitas di bawah 100 seater [tempat duduk] khusus jenis jet sebanyak 18 pesawat. Pesawatnya lebih kecil, misalnya, Embraer dan Bombardir. Kami menyiapkan pesawat di setiap hub seperti di Makassar, karena sekarang menggunakan pesawat Boeing 737-300 ternyata kurang tepat. Langkah serupa akan dilakukan nanti untuk rute ke Medan, Balikpapan, dan Makassar. Ini karena kami meyakini pasar penerbangan di Indonesia masih sangat bagus. Garuda tidak terlalu terpengaruh krisis Eropa.

Kami juga mempersiapan untuk Sky Team untuk mengembangkan network bersama 15 maskapai internasional. Dengan memanfaatkan jaringan dari anggota Sky Team ini, Garuda berupaya merambah dunia internasional.

Bagaimana Anda mempersepsikan pelanggan dan pesaing?
Kompetisi itu bagus karena mendorong kita lebih kreatif, inovatif, dan lebih cepat dalam pelayanan sehingga perusahaan bisa semakin lebih maju. Saat Garuda memonopoli industri penerbangan sejak 1995, kita malah terus merugi. Tanpa pesaing kita jadi terlena.

Soal bagaimana memperlakukan pelanggan, saya melihat flow-nya dari penumpang. Ada 28 touch poin. Kami sudah launch Garuda Experiences sebuah konsep yang tidak bisa ditiru maskapai tetangga.

Konsep kami, penumpang merasa nyaman seolah berada di rumah. Bagi orang asing yang mau ke Indonesia, sebelum sampai di sini, mereka sudah merasakan pengalaman dan kenyamanan tentang Indonesia.

Bagaimana persiapkan Anda menghadapi pensiun?
Yang jelas, saya tidak mau pensiun di Garuda. Saya harus terus berkembang, lari estafet. Di Garuda sudah ada sistem kaderisiasi, salah satunya kami sudah menandatangani kerja sama Leadership Institute dengan GE Indonesia.

Adakah obsesi yang belum tercapai?
Bagi saya hanya lakukan apa yang harus saya lakukan, enjoy dengan apa yang saya lakukan. Kalau terkait obsesi untuk Garuda, saya ingin Garuda masuk kelas bintang lima.

Apa cita-cita Anda saat masih kecil?
Cita-cita waktu kecil, saat SMA, saya mau jadi arsitek, dan suka lihat desain gedung.

Tokoh idola Anda?
Saya suka Jack Welch, Chief Executive Officer General Electric Company. Dia punya prinsip yang bagus untuk perusahaan, yakni harus melakukan segala hal yang the best. Kalau tokoh nasional, saya suka Roby Djohan.

BIODATA
Nama : Emirsyah Satar
Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 28 Juni 1959
Pendidikan
1978 : Program Khusus Sorbonne University, Prancis
1985 : Program Studi Sarjana Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
Karir
Maret 2005-sekarang : Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk
2003 : Deputy Chief Executive Officer Bank Danamon
1998 : Direktur Keuangan Garuda Indonesia
Sebelum 1998 pernah bekerja di Price Waterhouse Cooper (sebagai auditor), Citibank, Jan Darmadi Group & Niaga Finance, Hong Kong.
Organisasi
2008-2012 : Ketua Indonesian Nation Air Carrier Association (INACA) 2 periode
2010 : Anggota Board of Governors International Air Transport Association (IATA)
Anggota Executive Committee Association of Asia Pacific Airlines (AAPA)
2011 : Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Hubungan Kerjasama Ekonomi Internasional

January 6, 2012

Jokowi, Sang Pemimpin Fenomenal

Jokowi, Sang Pemimpin Fenomenal

Joko Widodo – gokilbo.com
Opini: Derek Manangka
Nasional – Kamis, 5 Januari 2012 | 08:01 WIB
TERKAIT
Esemka, Mainan Baru Pejabat Kita?
Ramai-ramai Numpang Panggung Mobil Esemka
Kalangan DPR Rindukan Sosok Jokowi
Saya Kelas RT, Tidak Punya Potongan Capres
Pakai Mobil Esemka, Jokowi Tak Kejar Citra

Powered by Translate

INILAH.COM, Jakarta – Walikota Solo, Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi, sedang jadi tokoh sorotan. Jokowi disorot karena sebagai pejabat pemerintah, ia banyak melakukan hal positif yang bermanfaat bagi masyarakat banyak.

Misalnya penggusuran pasar, tidak lagi dengan kekerasan. Satpol PP yang digunakan pemda untuk menertibkan kota, diberi seragam khas masyakarat Solo. Sehingga Satpol PP tidak menyeramkan sekaligus menjadi momok. Hasilnya penertiban apapun yang dilakukan di Solo berjalan damai, sesuatu yang membuat masyarakat merasa hidup tidak terbebani.

Yang paling baru, Jokowi memberi dorongan dan apresiasi kepada siswa-siswa dari sebuah sekolah kejuruan di Solo yang berhasil merakit mobil murah. Cara Jokowi yaitu secara spontan menerima hadiah mobil dari para siswa untuk menjadikannya sebagai kendaraan dinas.

Pelajar-pelajar sekolah kejuruan pun luar biasa senang. Karya mereka diapreasiasi. Pelajar-pelajar yang masih belia itu, termotivasi. Kendaraan yang mereka persembahkan, tidak mewah, irit bahan bakar dipuji Jokowi. “Kalau perlu saya ke Jakarta menggunakan kendaraan ini,” kata Walikota Solo yang membuat siswa-siswa kejuruan merasa karya cipta mereka, dihargai pemimpinnya.

Contoh di atas menunjukkan Jokowi seorang birokrat yang kreatif, responsif, merakyat dan tentu saja disenangi masyarakat. Bagi masyarakat kota Solo sendiri, kredibilitas dan kapabilitas Jokowi sudah tidak mereka ragukan lagi.

Sebab Jokowi sudah kedua kalinya dipilih sebagai Walikota Solo. Yang signifikan dari keterpilihannya yaitu suara rakyat Solo yang diberikan kepada Jokowi dalam Pilkada periode kedua, nyaris sempurna. Yaitu mencapai 96%.

Sorotan terhadap Jokowi cukup fenomenal. Sorotan lebih banyak bersifat apresiasi. Bukan hujatan. Sorotan tidak lagi menyindir para pejabat pemerintah yang gemar melakukan korupsi tetapi sekadar mengatakan, tirulah cara Walikota Solo.

Dampak dari apresiasi itu, Jokowi mulai disebut-sebut sebgai sosok birokrat yang pantas dipromosikan, menduduki jabatan yang lebih tinggi semisal Gubernur. Tidak tanggung-tanggung sebab ada yang minta supaya Jokowi mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Seninya, walaupun Jokowi diuji, disanjung dan dianggap sebagai sosok yang mampu merestorasi Jakarta sebagai ibukota NKRI, tetapi Jokowi tetap merendah. Jokowi adalah potret pemimpin masa kini yang tidak membayar media untuk pencitraannya.

Tapi apapun sorotan dan apresiasi terhadap Jokowi, substansinya, adalah rakyat Indonesia saat ini merasakan adanya kekosongan pemimpin yang bisa diteladani. Apresiasi terhadap Jokowi merupakan potret paradoksal dari banyak kejadian di tanah air.

Lihat saja di Papua, Papua Barat, Sampang dan Kaimantan Tengah, rumah para pemimpin (Gubernur dan Bupati) di daerah itu dibakar massa secara beramai-ramai. Tragisnya tidak ada yang membela para pemimpin itu..

Aparatur kepolisian yang seharusnya menjaga ketertiban masyarakat, tidak mampu mencegah emosi massa yang berbondong-bondong membakar rumah para pemimpin di daerah itu.

Sorotan terhadap Jokowi terjadi di saat para pemimpin formal baik yang ada di eksekutif, legislatif dan yudikatif, terus berlomba melakukan korupsi, pembohongan kepada publik dan memprioritaskan kepentingan pribadi. Pemimpin yang ada di tingkat nasional mulai dari Presiden, tidak lagi dianggap sebagai tokoh yang bisa diteladani.

Semoga saja dengan munculnya pejabat atau pemimpin daerah seperti Jokowi, dapat menyadarkan semua pihak untuk melakukan restrospeksi. Harapan yang lebih tinggi, semoga saja pemimpin sekaliber Jokowi dapat lahir di berbagai tempat di Indonesia.

Semakin banyak Indonesia memiliki tokoh fenomenal seperti Jokowi, semakin baik bagi masa depan bangsa. Sebab kelak, ketika Indonesia harus mencari dan memilih pemimpin, tidak akan ada kesulitan. Indonesia bisa memilih pemimpin yang terbaik di antara yang terbaik. Bukan yang terbaik di antara yang terburuk. Indonesia perlu stok pemimpin yang kreatif dan dicintai rakyat seperti Jokowi. [mdr]

December 12, 2011

Sumaryanto Widayatin

SABTU, 03 DESEMBER 2011 | 19:16 WIB
Deputi Menteri BUMN Jadi Ketua Alumni ITB
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Bandung -Sumaryanto Widayatin terpilih sebagai Ketua Ikatan Alumni ITB periode 2011-2015. Pada pemilihan langsung yang diikuti 8.070 alumni ITB, Sabtu 3 Desember 2011, Deputi Bidang Usaha Infrastruktur dan Logistik Kementerian Badan Usaha Milik Negara itu meraih 3.142 dukungan atau 39 persen suara.

Sumaryanto mengungguli Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak yang meraih 2.111 suara, dan staf ahli Menko Perekonomian Amir Sambodo dengan 1.831 suara. Adapun Nining Indroyono Soesilo hanya mendapat 499 suara, dan Dasep Ahmadi menjadi juru kunci dengan 487 pemilih. “Itu hasil dari 51 tempat pemungutan suara,” kata panitia rekapitulasi suara Dwi Asih Kartika Ningrum di Aula Timur ITB, Sabtu 3 Desember 2011.

Sebelumnya, Sumaryanto yang menjadi kandidat nomor 5, unggul di Bandung. Di daerah lumbung suara itu, Sumaryanto meraih 1125 dukungan. Jauh lebih banyak daripada empat kandidat lainnya.

Kepada Tempo, Sumaryanto mengatakan tidak akan menjadikan jabatannya sebagai ketua ikatan alumni ITB untuk meraih kursi menteri. Anggapan seperti itu muncul dari sejumlah alumni dan kandidat lain. “Saya hanya ingin jadi orang baik saja,” katanya di sela pemilihan.

December 1, 2011

Kel Hamami : Orang Terkaya di Indonesia Itu Juragan Traktor

HomeBisnisProfil bisnis

Kantor Pusat PT. Trakindo Utama. Dok.TEMPO/Ramdani

Bagikan
76

JUM’AT, 25 NOVEMBER 2011 | 13:05 WIB
Orang Terkaya di Indonesia Itu Juragan Traktor
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Jakarta – Keberuntungan memang tengah hinggap di keluarga Hamami saat ini. Berbisnis alat berat sejak dekade 1970-an, keluarga ini masuk dalam daftar 10 orang terkaya Indonesia versi majalah ekonomi Forbes, dengan taksiran aset US$ 2,2 miliar.

Adalah Ahmad Hamami, sang kepala keluarga, yang menjadi nakhoda utama bisnis ini. Sebelum menjadi pengusaha, pria yang kini berusia 81 tahun itu berkarier sebagai penerbang di jajaran TNI Angkatan Laut.

Perjalanannya sebagai prajurit cukup cerah. Hamami muda bahkan sempat mendapat pendidikan pilot di Angkatan Udara Belanda (Militaire Luchtvaart) dan menyandang predikat kolonel termuda pada akhir 1960.

Sayang, karier militernya lantas terhenti. Seperti dikutip dari Forbes.com, Hamami pensiun dini lantaran muak dengan wabah korupsi yang ada di tempat kerjanya saat itu. Setelah pensiun, Hamami memulai bisnis kecil-kecilan. Awalnya, ia membuka les matematika untuk pelajar di rumahnya. Anak-anaknya membantu menopang keuangan dengan berjualan es lilin.

Dewi fortuna hinggap kala seorang kerabat mengajaknya terlibat dalam penggarapan proyek infrastruktur. Saat itulah Hamami berkenalan dengan manajemen Caterpillar, pabrikan traktor dan alat berat lain yang berbasis di California, Amerika Serikat.

Caterpillar, yang sebelumnya memiliki agen penjualan di Surabaya, melirik Hamami sebagai dealer pengganti lantaran tertarik dengan latar belakang militer dan reputasinya yang bersih. Ia lantas mulai belajar manajemen secara profesional dan mengambil kuliah bisnis.

Maraknya pembangunan infrastruktur pada pertengahan dekade 70-an membawa angin segar pada bisnis traktor. Order bertambah, pundi-pundi Trakindo pun makin tebal.

Tapi jalan tak selalu mulus. Tahun 1999, saat krisis ekonomi merebak, Trakindo terpukul dan Hamami berusaha keras melunasi utang US$ 118 juta.

Selepas itu, tak ada bank yang mau membiayai bisnisnya. Tak cuma bisnis yang lesu, kesehatan Hamami pun menurun. Ia terserang glaukoma dan mengalami kebutaan hingga saat ini.

Lepas krisis, perlahan Trakindo bangkit. Di bawah komando Rachmat Mulyana alias Muki, putra ketiga Hamami, perusahaan ini tumbuh dan beranak-pinak. Kini, tak cuma bisnis traktor dan alat berat karena mereka juga menggarap sektor pertambangan, pembiayaan, logistik, hingga teknologi informasi. Hebatnya, hingga 2009, perusahaan ini berkembang tanpa mengandalkan utang.

Kepada Forbes, Muki mengatakan tahun lalu pendapatan mereka mencapai US$ 2 miliar dan akan tumbuh hingga US$ 3,2 miliar tahun ini. Ditargetkan pada 2015 mereka bisa membukukan pendapatan US$ 6 miliar. Toh, meski sayapnya kini melebar, ia mengatakan bisnis utama Trakindo tetap alat berat. “Ibaratnya, alat berat menjadi roti dan mentega bagi kami,” kata dia.

FERY FIRMANSYAH

November 29, 2011

Kisah Joko ‘Alfamart’ Susanto, Si Miliarder Baru

HomeBisnisWirausaha
foto

Djoko Susanto. Dok.TEMPO/Taufik Subarkah
Bagikan17
B
Bisnis Ritel

Sabtu, 26 November 2011 | 10:08 WIB
Kisah Joko ‘Alfamart’ Susanto, Si Miliarder Baru
Besar Kecil Normal

TEMPO.CO, – Namanya mencuat sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. Joko Susanto, disebut majalah Forbes di urutan 25 dari 40 orang terkaya di Indonesia yang dilansir Rabu, 23 November lalu.

Djoko Susanto, yang merupakan pendiri sekaligus pemilik perusahaan retail Alfamart, berhasil mengungguli kekayaan orang-orang terkenal Indonesia, seperti Aburizal Bakrie (peringkat 30) dan Ciputra (peringkat 27). Kekayaannya yang dikumpulkan berjumlah US$ 1,040 miliar (Rp 9,36 triliun).

Semua bermula di tahun 1967, ketika Djoko Susanto masih berusia 17 tahun. Ia diminta mengurus kios sederhana milik orang tuanya di Pasar Arjuna, Jakarta.

Toko itu dinamakan Sumber Bahagia, yang menjual bahan makanan. Tapi tak lama kemudian, Djoko melihat ada kesempatan yang lebih besar. Kiosnya mulai menjajakan rokok.

Djoko benar, bisnis dia dengan cepat membuat para perokok dan pengusaha grosir serta pengecer menjadi pelanggan tetap. Dia bertaruh, perokok akan membayar lebih banyak daripada yang dibayangkan.

Hal ini menarik perhatian Putera Sampoerna, yang mempunyai perusahaan rokok tembakau dan cengkeh terbesar di Indonesia saat itu. Mereka bertemu pada awal 1980 dan bersepakat pada 1985 untuk membuat 15 kios di beberapa lokasi di Jakarta.

Upaya itu berhasil dan menginspirasi mereka untuk membuka supermarket yang dinamakan Alfa Toko Gudang Rabat. Kedua orang itu kemudian membuka toko Alfa Minimart (yang kemudian dikenal sebagai Alfamart) pada 1994.

“Saya pikir penamaan Sampoerna Mart kurang menjual, kemudian saya menggunakan Alfa, sebuah merek yang lebih dikenal dan teruji,” ujar Djoko, seperti dikutip majalah Forbes, Kamis, 24 November 2011.

Kerja sama tersebut berakhir pada 2005, ketika Sampoerna menjual bisnis tembakau–beserta anak perusahaannya (termasuk 70 persen bagian perusahaan Sampoerna yang ada di Alfamart)–kepada Philip Morris International dengan nilai lebih dari US$ 5 miliar.

Philip Morris, yang tidak tertarik bisnis retail, kemudian menjual saham Alfamart kepada Djoko dan investor ekuitas swasta, Northstar. Tahun lalu, Djoko membeli Northstar sehingga membuatnya memiliki 65 persen perusahaan.

Saham itu kemudian diperdagangkan dan menghasilkan dua kali lipat pada 12 bulan terakhir. Hal inilah yang akhirnya membuat Djoko termasuk ke dalam jajaran miliuner dunia. Dia membuat debutnya pada urutan ke-25 dalam jajaran orang terkaya Indonesia dengan kekayaan bersih sebesar US$ 1,04 miliar.

FORBES.COM | FERY FIRMANSYAH | EKA UTAMI

October 21, 2011

Djan Faridz Pengembang Properti Kelas Menengah ke Bawah

Rabu, 19/10/2011 16:12 WIB
Djan Faridz Pengembang Properti Kelas Menengah ke Bawah
Mega Putra Ratya – detikFinance

Share

foto: Mantan Menpera Suharso
Jakarta – Mantan Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Suharso Monoarfa menilai Djan Faridz merupakan sosok yang pas untuk menggantikannya. Djan Faridz punya latar belakang di bidang properti khususnya segmen menengah ke bawah.

“Beliau itu pengembang properti dan mengerti menengah ke bawah. Tanah Abang itu kan untuk mereka menengah ke bawah. Itu kan usahanya,” kata Suharso sebelum serah terima jabatan di kantor Kemenpera, Jakarta Selatan, Rabu (19/10/2011).

Karena itu, lanjut Suharso, Djan Faridz diberi tantangan bagaimana masyarakat yang bekerja di Tanah Abang bisa punya rumah di Tanah Abang.

“Jangan punya rumah jauh dari Tanah Abang. Kira-kira itu filosofinya. Mestinya beliau bisa. Dia punya kapasitas lho,” nilainya.

Kiprah Djan Faridz di Tanah Abang terkait keterlibatan perusahaan miliknya yaitu Priamanaya Grup mengelola Blok A dan B Pasar Tanah Abang. Di Blok A, perusahaan miliknya bekerjasama dengan PD Pasar Jaya sementara di Blok B bekerjasama dengan Agung Podomoro.

(mpr/hen)

GRATIS! puluhan voucher pulsa! ikuti terus berita dari DetikFinance di Hape-mu.
Ketik REG FIN kirim ke 3845 (khusus pelanggan Indosat Rp.1300/hari)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Baca Juga :

4 Bank Incar Program Subsidi KPR
Ciputra Jualan Properti di China Seharga US$ 1.000/Meter Persegi
Bosowa Bangun Hotel Rp 200 Miliar di Makassar

Share

Komentar terkini (2 Komentar) · Follower Komentar 0
Baca Komentar
Kirim Komentar
OhEmGe 1 day agoMenengah ke bawah aja udh em-em-man…..gimana yang menengah ke atas pak lipsrsealed lipsrsealed lipsrsealed
OhEmGe 1 day agoMenengah ke bawah aja udh \"em-em-man\"…..gimana yang menengah ke atas pak lipsrsealed lipsrsealed lipsrsealed
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi :

Ajeng di ajeng[at]detik.com, telepon 021-7941177 (ext.518) atau,
Elin Ultantina di elin[at]detik.com, telepon 021-7941177 (ext.520).

Recommended Reading
bg
Ditemani Muji Massaid, Angie Tebar Senyuman di KPK
www.detiknews.com

Pasca Tewasnya Khadafi, Jangan Sampai Libya Jadi Irak Kedua
Kinerja KIB II Baru Tetap Dievaluasi

bg
Tekad Rossi di Sepang
www.detiksport.com

Indonesia Tinggal Sisakan 3 Wakil
Rio Jadikan Tes Catalunya Sebagai Latihan Simulasi

bg
Bos Android Kritik Siri iPhone 4S
www.detikinet.com

Produksi Kamera Sony Terhalang Banjir Thailand
10 Menit Menjajal Uncharted 3: Drakes Deception

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.