Archive for ‘whos who’

March 2, 2013

Shinta Kamdani ‘Paling Perkasa’ di Indonesia

WANITA EKSEKUTIF ASIA :

Shinta Kamdani ‘Paling Perkasa’ di Indonesia

 

Sutarno Kamis,28 Februari 2013 | 12:59 WIB More Sharing Services Share on linkedin Share on email S

 

Sebaran 50 Top Eksekutif Wanita Asia 2013 No Negara Jumlah No Negara Jumlah 1 China 16 7 Indonesia 2 2 Hong Kong 8 8 Australia 2 3 India 8 9 Vietnam 2 4 Singapura 4 10 Filipina 2 5 Korsel 2 11 Malaysia 1 6 Jepang 2 12 Thailand 1 Sumber: Forbes, diolah JAKARTA—Siapakah wanita eksekutif yang paling berpengaruh dalam dunia bisnis di Indonesia? Mungkin Anda akan memberikan jawaban beragam atas pertanyaan tersebut. Namun di mata majalah Forbes eksekutif Indonesia yang paling berpengaruh dinobatkan kepada Shinta Widjaja Kamdani, dalam kapasitasnya sebagai Managing Director Grup Sintesa. Forbes menempatkan Shinta di peringkat ke-17 dalam daftar 50 Wanita Eksekutif Asia 2013. Selain Shinta, Indonesia mempunyai 1 wakil lagi di daftar 50 Top Eksekutif Wanita Asia, yaitu Bernadette Ruth Irawati, Presdir PT Kalbe Farma, yang menempati peringkat ke-37 (lihat tabel di bawah). Grup Sintesa dikenal sebagai perusahaan distributor produk konsumer. Di bawah komando Shinta, Grup Sintesa menjelma menjadi perusahaan konglomerasi dengan membawahi 17 anak perusahaan yang bergerak dalam bidang properti (6 perusahaan), industri (6), energy (2), dan produk konsumer (3). Grup Sintesa memiliki 6 anak perusahaan bidang properti, yaitu PT Puncak Mustika Bersama, PT Menara Peninsula, PT Menara Duta, PT Cipta Mustika, PT Minahasa Permai Resort Development, dan PT Hiyu Permai. Di bidang industri, Grup Sintesa memiliki 6 anak perusahaan, yaitu PT Griyaton Indonesia, PT Sinar Indonesia Merdeka, PT Tira Austenite, PT Alpha Austenite, PT Tanag Sumber Makmur, dan PT Tekun Asas Sumber Makmur. Sementara itu di bidang energi, Grup Sintesa memiliki dua anak usaha, yaitu PT Metaepsi Pejebe Powe Generation (Meppogen) dan PT Sintesa Asih Sejahtera. Adapun di bidang produk konsumer Sintesa memiliki 3 anak usaha, yaitu PT Tigaraksa Satria Tbk, PT Cipta Sintesa Mustika, dan PT Biolina Trio Sintesa. Shinta dikaruniai 4 anak hasil pernikahan dengan Irwan Kamdani Bos PT Datascript, yang dikenal sebagai distributor produk elektronika dan teknologi informasi termasuk sebagai agen tunggal merk Canon. Kalbe Farma kian Berkibar Satu lagi Wanita Eksekutif paling berpengaruh di Indonesai versi Forbes adalah orang nomor satu di PT Kalbe Farma Tbk, Bernadette Ruth Irawati Setiady. Sebagai Presiden Direktu PT Kalbe Farma, Keponakan Boenjamin Setyawan—pendiri Kalbe Farma—itu sukses membawa Kalbe Farma meraup omset US$1,2 miliar atau Rp11,6 trilun, sehingga perusahaan farmasi itu memiliki kapitalisasi pasar US$5,68 miliar atau Rp55,1 triliun. Kehadiran Ruth Irawati dan Shanti Kamdani membuat Indonesia disejajarkan dengan Jepang, Korea Selatan, dan Australia yang sama-sama memiliki 2 wakil di daftar Top 50 Eksekutif Wanita Asia 2013. China mendominasi peringkat tersebut karena menempatkan 16 eksekutif di daftar Forbes, diikuti Hong Kong dan India yang masing-masing diwakili 8 eksekutif. (sut) Daftar 50 Top Wanita Eksekutif Asia 2013 versi Forbes No Nama Jabatan Perusahaan Negara 1 Shobhana Bhartia Chairman and Editorial Director HT Media India 2 Sabrina Sih Ming Chao Chairman Wah Kwong Maritime Transport Holdings Hong Kong 3 Solina Chau Hoi Shuen Founder Horizons Ventures Hong Kong 4 Eva Chen Cofounder and CEO Trend Micro Jepang 5 Cheung Yan Chairman Nine Dragons China 6 Yvonne Chia Chief Executive Officer Hong Leong Bank Malaysia 7 Pollyanna Chu CEO Kingston Financial Group Hong Kong 8 Jennie Chua Cofounder/Director Beeworks Singapura 9 Chua Sock Koong Group CEO SingTel Singapura 10 Shenan Chuang CEO Ogilvy & Mather Greater China China 11 Dong Mingzhu Chairman and President Gree Electric Appliances China 12 Lourdes Josephine Gotianun Yap president and ceo Filinvest Development/Filinvest Land Filipina 13 He Qiaonv Founder and Chairman Beijing Orient Landscape China 14 Ho Ching Executive Director and CEO Temasek Holdings Singapura 15 Pansy Ho Managing Director / Chairman Shun Tak Holdings / MGM China Hong Kong/Macau 16 Hu Shuli Founder, Publisher and Editor-in-Chief Caixin Media China 17 Shinta Widjaja Kamdani Managing Director Sintesa Group Indonesia 18 Gail Kelly CEO Westpac Banking Australia 19 Kim Sung-Joo Founder/CEO / Chairman Sungjoo Group / MCM Holdings Korea Selatan 20 Chanda Kochhar Managing Director & CEO ICICI Bank India 21 Pearl Lam Founder and owner Pearl Lam Galleries Hong Kong 22 Irene Yun Lien Lee Chairman Hysan Development Hong Kong 23 Lee Mi-Kyung Vice Chairman CJ Entertainment & Media Korea Selatan 24 Ruby Lu General Partner DCM China 25 Olivia Lum Founder, Executive Chairman and Group CEO Hyflux Singapura 26 Mary Ma Xuezheng Cofounder and Chairman Boyu Capital Advisory Hong Kong 27 Mai Kieu Lien Chairman and CEO Vinamilk Vietnam 28 Luk Fion Vice Chairman Agile Property Holdings China 29 Kiran Mazumdar-Shaw Founder, Chairman and Managing Director Biocon India 30 Priya Paul Chairman APEEJAY SURRENDRA PARK HOTELS India 31 Pham Thi Viet Nga Chairman DHG PHARMACEUT ICAL JOINT STOCK CO Vietnam 32 Chitra Ramkrishna Joint Managing Director NATIONAL STOCK EXCHANGE India 33 Renuka Ramnath Founder, Managing Director and CEO Multiples Alternate Asset Management India 34 Preetha Reddy Group Managing Director Apollo Hospitals India 35 Margaret Ren Chairman Bank of America Merrill Lynch China China 36 Gina Rinehart Executive Chair Hancock Prospecting Australia 37 Bernadette Ruth Irawati Setiady President Director Kalbe Farma Indonesia 38 Shikha Sharma CEO and Managing Director Axis Bank India 39 Yoshiko Shinohara Chairman and President Temp Holdings Jepang 40 Sun Yafang Chairman Huawei Technologies China 41 Teresita Sy-Coson Vice chairman SM Investments Filipina 42 Jing Ulrich Managing Director and Chairman Global Markets, China JPMorgan Hong Kong 43 Wang Feng Ying General Manager Great Wall Motor China 44 Wang Yannan Cofounder, President and Director China Guardian Auctions China 45 Wu Yajun Chairman Longfor Properties China 46 Yang Lan Cofounder and Chairman Sun Media Group China 47 Yang Mianmian 71 President Haier Group China 48 Yuwadee Chirathivat President Centra l Department Store Thailand 49 Zhang Xin Cofounder and CEO Soho China China 50 Zhou Xiaoguang Cofounder and Chairman Neoglory Holdings Group China Sumber:Forbes

February 21, 2013

ERA SOEKAMTO: Karya Iwan Tirta

ERA SOEKAMTO

Karya Iwan Tirta

KOMPAS/NINUK MARDIANA PAMBUDY

ERA SOEKAMTO

Meskipun memiliki berbagai pekerjaan, perancang busana Era Soekamto (36) sejak setahun terakhir masih menyisihkan waktu untuk kegiatan kewiraswastaan sosial.

”Para ibu itu sangat terampil. Mereka ibu-ibu biasa di beberapa lokasi di Jakarta yang sebelumnya tidak mengenal mode,” kata Era, pekan lalu, di gerai sebuah yayasan dalam Pekan Mode Indonesia di Balai Sidang, Jakarta.

Era memperlihatkan selendang dari sisa kain serta tas, dompet, dan tikar dari anyaman bekas tube pasta gigi. ”Semua hasil penjualan akan dikembalikan untuk kegiatan di komunitas lagi,” kata Era.

Kegiatan utama Era tetap dalam dunia rancang busana. Selain diminta membuat rancangan busana untuk merek Iwan Tirta Private Collection, Era masih menangani desain, produksi, dan pemasaran produknya sendiri.

Era mengaku masih terus belajar memahami karya-karya almarhum Iwan Tirta. Dia mencontohkan, rumah-rumah mode terkenal di dunia tetap populer meskipun perancang pendirinya telah lama meninggal.

”Cita-cita saya membawa merek Iwan Tirta setara dengan merek asing yang high end,” kata Era. Lagi pula, siapa lagi yang akan menghargai batik jika bukan masyarakat Indonesia sendiri.(NMP)

February 17, 2013

Upik Rosalina Wasrin bos baru PT Sang Hyang Seri

Dipercaya Dahlan Iskan Gantikan Kaharuddin
Headline

Upik Rosalina Wasrin
Oleh:
ekonomi – Selasa, 12 Februari 2013 | 14:11 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Menteri BUMN Dahlan Iskan menunjuk Upik Rosalina Wasrin untuk menjadi Direktur Utama PT Sang Hyang Seri (Persero). Siapa ia?

Dahlan mengangkat Upik Rosalina Wasrin setelah Kaharuddin yang menjabat sebagai Dirut PT Sang Hyang Seri (Persero) diberhentikan dari jabatannya akibat tersangkut kasus dugaan korupsi pengadaan bibit. “Terhitung hari ini (Selasa, 12/2) Upik sudah mulai aktif memimpin Sang Hyang Seri,” kata Dahlan usai Rapat Pimpinan Kementerian BUMN, di Jakarta, Selasa.

Upik Rosalina Wasrin adalah Asisten Deputi Kementerian BUMN Bidang Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Lahir di Jakarta pada 11 Maret 1956, latar belakang Upik cukup lengkap, yakni peneliti, akademisi dan paham manajemen korporasi.

Mengawali karirnya di Perhutani sebagai Direktur Produksi pada 2005. Pada 2008 sampai 2009 dipercaya sebagai Direktur Umum Perhutani. Sejak 2009 sampai saat ini aktif sebagai Direktur Utama. Selain bekerja di Perhutani, Upik Rosalina Wasrin aktifsebagaiassociate Professor di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Indonesia.

Masa kecil Upik dinikmati di beberapa tempat, seperti Kalimantan dan Papua. Ayahnya, Lukmanul Hakim Djailani, asal Maninjau Sumatera Barat, adalah seorang tentara. Sedang Ibunya, Marheni, orang Jawa Barat. Ia anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Keenam kakaknya semuanya laki-laki.

Hidup berpindah-pindah, Upik akhirnya menetap di Jakarta sejak SD kelas 5. Lulus sekolah dasar, ia melanjutkan sekolahnya di SMPN 4 Jakarta, Lapangan Banteng, lalu SMAN 1 Jakarta, di Jl. Budi Utomo.

Upik semula bercita-cita menjadi arsitek. Namun, niat itu gugur lantaran keder melihat biaya kuliah yang tinggi di Universitas Trisakti. Ia pun melamar ke ITB, IPB dan UGM. Pilihan susut jadi dua, karena UGM dinilai terlalu jauh. Di ITB ia pilih Biologi sedang di IPB ia pilih Kehutanan. Upik pun pada 1975 akhirnya masuk ke IPB, yang lebih dulu mengumumkan penerimaannya.

Di dunia kemahasiswaan, Upik cukup aktif di beberapa organisasi, seperti Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) dan Dewan Mahasiswa. Ia pun mengenal Mustafa Abubakar, yang ketika itu menjadi ketua MPM.

Upik muda juga aktif di berbagai asosiasi profesi seperti Forest Management Student Club. Pengalaman yang berkesan di waktu mahasiswa adalah ketika ia bersama lima teman, yang semuanya laki-laki, tersesat di Gunung Salak. Untung, di hari keenam, mereka bisa menemukan jalan keluar. Padahal rektorat sudah menyiapkan peti mati.

Lulus kuliah, Upik bekerja di Biotrop selama 12 tahun, atas ajakan direktur SEAMEO BIOTROP (Southeast Asean Minister of Education Organization for Biology Tropical).

Ia pun mendapat kesempatan program fellowship scholarship yang menawarkan beasiswa bagi peneliti ke Perancis. Upik kuliah S2 di Universitas Paul Sabatier, Toulouse III,bidang Ilmu Remote Sensing (potret udara) untuk hutan tropika.

Tahun 1983 ia meraih gelar S2 (DEA/Diplome D’ Etude Approfondies) dan melanjutkan ke S3 di Universitas yang sama di bidang Ilmu Ekologi Hutan, penginderaan jauh satelit untuk aplikasi kehutanan dan Sistem Informasi Geografi (SIG) untuk penerapan pengelolaan hutan.

Pada 1995, Upik dipercaya menjadi Wakil Dekan I Fakultas Kehutanan IPB dan pada 2000, ia ditugaskan Rektor IPB untuk mengurusi hutan pendidikan IPB di Jambi.

Setelah kenyang di dunia penelitian dan pendidikan, baru pada 2005, Upik menjejakkan kaki du dunia korporasi. Ibu dua anak ini diangkat jadi Direktur Produksi Perum Perhutani. Menurutnya, tugas utamanya sebagai direksi adalah berkomunikasi dan meyakinkan orang agar gagasannya bisa diikuti.

Hal strategis yang dilakukannya di Perum Perhutani adalah mentransformasi mindset bisnis dari kayu ke non kayu. Pasalnya, kayu itu hanya memiliki 5% dari seluruh manfaat hutan. Sedang 95% manfaat hutan lainnya yang masih berpotensi, seperti air, carbon trading, dan obat-obatan dari hutan.

Ketika ia dipercaya jadi Plt Dirut (2008) hingga diangkat penuh pada 2009, Upik menekankan pentingnya pembenahan SDM. Untuk itu, ia minta Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) Yogya mendesain CBHRM (Competency Based Human Resource Management). Artinya, semua pengelolaan SDM berbasis kompetensi.

Meyakini dirinya hanyalah pemain yang bisa ditempatkan dimana saja untuk berbuat yang terbaik, Upik pun menerima ajakan Menteri Mustafa Abubakar untuk memperkuat Kementerian BUMN. Ia menilai, ajakan Menteri itu ada hubungannya dengan rencana pembenahan BUMN Kehutanan yang selama ini ia geluti.

Mungkin keyakinan itu pulalah yang membuat Upik kini menerima pinangan Dahlan Iskan untuk menjadi Dirut PT Sang Hyang Seri (Persero), menggantikan Kaharuddin yang terjegal masalah korupsi. [ast]

January 28, 2013

PROFIL CEO PT TELKOM ARIEF YAHYA: Bisnis Mengalir sampai Jauh

Senin,
28 Januari 2013

Bisnis Mengalir sampai Jauh

Oleh M Clara Wresti

Belum satu tahun Arief Yahya menjadi Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. Tepatnya sejak Mei 2012. Namun, bisnis Telkom dan anak perusahaannya terus bermekaran sampai ke luar negeri.

Dua pekan lalu, Telkom (PT Telekomunikasi Indonesia Tbk), dengan anak perusahaannya PT Telekomunikasi Indonesia International (Telin) mengembangkan sayapnya ke Timor Leste. Pekan lalu, Telin juga mengembangkan sayap ke Australia. Sejak Oktober 2012 lalu, Telin sudah melayani Hongkong, Malaysia, dan Singapura.

Sebelum menjadi orang nomor 1 di Telkom, pria kelahiran Banyuwangi, 2 April 1961, ini menduduki jabatan sebagai Direktur Enterprise dan Wholesale Telkom Indonesia semenjak tahun 2005. Ketika duduk di jabatan ini, Arief memperoleh beberapa penghargaan. Antara lain Satyalencana Pembangunan di tahun 2006 atas keberhasilan dalam Peningkatan Pelayanan Prima di Kalimantan dan Jawa Timur dari Presiden RI.

Di tahun yang sama, Arief juga masuk dalam daftar ”25 Business Future Leader” versi majalah Swa. Arief juga terpilih sebagai penerima Economic Challenge Award 2012 kategori Industri Telekomunikasi, penerima Anugerah Business Review 2012 dari majalah Business Review. Terakhir, Arief terpilih sebagai The CEO BUMN Inovatif Terbaik 2012.

Prestasi yang diraih Arief ini juga berbanding dengan prestasi yang diraih Telkom. Pendapatan Telkom sampai dengan September 2012 tercatat sebesar Rp 56,864 triliun. Sedangkan labanya sebesar Rp 14,11 triliun.

Research Analyst PT Deutsche Bank Verdhana Indonesia, Raymond Kosasih, memprediksi harga saham Telkom berpotensi tembus Rp 12.000 per lembar. Pendapatan BUMN telekomunikasi itu hingga akhir tahun 2012 berpotensi mencapai Rp 73,045 triliun, naik 2,51 persen dibandingkan tahun sebelumnya Rp 71,253 triliun. Sedangkan laba bersihnya diproyeksikan meningkat 19,65 persen menjadi Rp 13,12 triliun dibandingkan Rp 10,96 triliun pada tahun 2011.

Di tengah kesibukannya, Arief ternyata juga gemar menyanyi. Ketika peresmian layanan seluler di Timor Leste pada Kamis (17/1) lalu, Arief dengan senang hati tampil ke panggung dan melantunkan lagu masa kini dengan penuh penghayatan.

Di sela-sela peresmian itu, Kompas melakukan wawancara mengenai perkembangan bisnis ke luar negeri.

Strategi apa yang dipakai untuk mengembangkan bisnis ke luar negeri?

Ada dua strategi yang dilakukan. Yakni Business Follows the People dan Business Follows the Money. Untuk yang pertama, di mana ada orang Indonesia, kita pergi ke sana. Layanan di Hongkong kami lakukan karena di sana banyak tenaga kerja Indonesia. Responsnya cukup bagus. Target awal kami memperkirakan akan mendapatkan 20.000 pelanggan. Ternyata kami langsung mendapat 30.000 pelanggan. Jumlahnya terus bertambah, dan kami perkirakan tahun ini akan mencapai 100.000 pelanggan.

Bisnis di Hongkong ini sangat menarik karena belanja pemakaian jasa telekomunikasi rata-rata mereka cukup tinggi, yakni Rp 200.000 per pelanggan.

Layanan kami mendapat respons yang baik karena kami memberikan tarif yang cukup murah. Bahkan lebih murah tarif Hongkong ke Indonesia dari pada tarif dalam negeri. Layanan ini tentu sangat menghibur mereka yang berada di perantauan.

Lalu untuk Business Follows the Money, contohnya adalah layanan call center dan digitalisasi data di Australia. Pendapatan per kapita Australia sudah sangat tinggi yakni 52.000 dollar AS per penduduk. Bandingkan dengan Indonesia yang baru 3.000 dollar AS per penduduk.

Kami tidak memberikan layanan seluler di sana, tetapi kami memberikan servis. Tagline Telkom adalah TIMES, yakni Telecomunication, Information, Media, Entertainment, and Services. Layanan di Australia masuk ke Services. Jadi kami menjadi outsource untuk layanan call center. Semua telepon yang masuk ke call center akan dialihkan ke kami, lalu kami yang menerima di Indonesia. Dari situ lalu kami kirim lagi ke pemilik yang dituju.

Selain itu, kami juga melakukan digitalisasi dokumen untuk mereka. Semuanya kami lakukan di Indonesia. Untuk memasukkan data, tidak perlu bisa bahasa Inggris. Jadi kami menang karena biaya kami lebih murah. Ini sama saja dengan kalau kita beli soto. Di Indonesia harga soto Rp 10.000. Tetapi di Melbourne harganya Rp 100.000. Pertanyaannya, mampu kah kita membuat yang Rp 80.000? Tentu bisa kan, apalagi ditambah dengan servis yang baik.

Untuk strategi mengikuti orang, negara mana lagi yang akan dituju?

Kita tentunya akan pergi ke negara yang banyak orang Indonesia-nya. Mungkin Makau, Taiwan, Arab Saudi, pokoknya yang banyak orang kita.

Untuk Timor Leste, apakah ada layanan lain di luar seluler?

Sebenarnya kami juga mendapat konsesi untuk fix line. Kami bisa buat fix line untuk internet speedy. Tetapi itu nanti saja. Yang penting, kami harus segera mendirikan 110 BTS (base transceiver station) hingga awal April 2013, untuk menjangkau 95 persen wilayah Timor Leste. Di setiap BTS, akan dilengkapi 2G dan 3G sehingga sudah siap jika permintaan servis meningkat.

Berapa investasi di Timor Leste?

Kami memakai nama Telkomcel di sini. Kami mendapatkan kontrak untuk 15 tahun. Untuk tahap awal, dua tahun pertama, kami tanamkan 50 juta dollar AS. Semuanya untuk infrastruktur dan kantor kami, belum termasuk untuk wifi dan kebutuhan bisnis.

Di sini sudah ada operator lain yang sudah cukup lama? Bagaimana Telkomcel bisa memenangkan pasar?

Dengan teknologi yang kami miliki, kami yakin akan bisa memenangi persaingan. Selain itu, jaringan untuk ke Timor Leste bisa kami tarik dari Nusa Tenggara Timur (Timor wilayah Indonesia). Tentu ini menjadi kelebihan yang tidak dimiliki kompetitor.

Berapa target yang dipatok Telkomcel untuk pasar Timor Leste?

Saat ini jumlah penduduk Timor Leste ada 1,2 juta orang. Kira-kira pengguna telepon seluler sekitar 60 persen, atau sekitar 600.000-700.000 pelanggan. Jika kami meningkatkan layanan, kami optimis bisa merebut 60 persen pangsa pasar. Optimisme muncul salah satunya karena average revenue per user di Timor Leste sebesar 10 dollar AS (Rp 98.600). Bandingkan dengan di Indonesia yang hanya Rp 35.000.

Dari bisnis layanan telekomunikasi yang mengalir jauh ke luar negeri, kendala apa yang terbesar?

Setiap bisnis pasti ada kendalanya masing-masing. Tetapi secara umum kendala yang selalu ditemui adalah bahasa. Tidak semua negara tujuan berbahasa Inggris. Oleh karena itu, kami selalu melakukan training untuk mengatasi masalah itu.

December 17, 2012

PROFIL CEO PT INDOFARMA (PERSERO) TBK

Senin,
17 Desember 2012
PROFIL CEO PT INDOFARMA (PERSERO) TBK

Fokus ke Bisnis Obat Generik

Djakfarudin Junus

Oleh Subur Tjahjono

PT Indofarma (Persero) Tbk, badan usaha milik negara yang bergerak di bidang farmasi, tahun ini berusia 94 tahun jika ditilik dari asal muasal berdiri. Dalam usia panjang ini, PT Indofarma tetap berfokus menjalankan bisnis intinya, yaitu memproduksi obat generik.

Sejarah PT Indofarma berawal dari berdirinya sebuah pabrik kecil di lingkungan Rumah Sakit Pusat Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, di Batavia (Jakarta), tahun 1918. Pabrik kecil itu membuat salep dan kasa pembalut. Tahun 1931, unit produksi rumah sakit itu dipindahkan ke Manggarai, Jakarta Pusat. Zaman Jepang, pabrik itu diambil alih Jepang dan manajemen dikelola Takeda Pharmaceutical.

Setelah merdeka, tahun 1950, pabrik obat yang dikenal sebagai Pabrik Obat Manggarai itu diambil alih Pemerintah Indonesia dan dikelola Departemen Kesehatan. Singkat cerita, pabrik obat itu resmi menjadi Perum Indofarma pada 11 Juli 1981 dan menjadi PT Indofarma pada 2 Januari 1996. Pada 2001, PT Indofarma menawarkan saham perdana (IPO) di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya dengan kode INAF. Saat ini, PT Indofarma juga merupakan emiten indeks Kompas100.

Saham badan usaha milik negara (BUMN) tersebut saat ini dimiliki Pemerintah Indonesia (80,66 persen), masyarakat (13,37 persen), dan DBS Vickers (Hongkong) Limited (5,97 persen). PT Indofarma memproduksi 236 item obat dengan kategori obat generik berlogo, obat generik bermerek, obat diagnostik, dan kategori obat lainnya. Obat diproduksi di pabrik PT Indofarma di Jalan Indofarma Nomor 1, Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat.

Perseroan dengan 1.500 karyawan itu dipimpin Djakfarudin Junus (48). Pria kelahiran Palembang, 7 Agustus 1964, itu berharap produksi obat generik tetap menjadi bisnis inti perseroan tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut, pada Jumat (14/12), Kompas mewawancarai alumnus S-1 keuangan di Universitas Jayabaya dan S-2 keuangan di Universitas Gadjah Mada tersebut di kantor lama PT Indofarma di Jalan Tambak 2, Manggarai, Jakarta Pusat. Berikut petikannya:

Anda lama jadi bankir, lalu terjun ke industri farmasi. Bagaimana ceritanya?

Basis saya bankir selama 21 tahun (jabatan terakhir di Bank Mandiri adalah regional risk manager IV-Jakarta Thamrin dan jabatan terakhir di Bank Syariah Mandiri adalah komisaris). Saya diterima menjadi Direktur Keuangan PT Indofarma pada Juni 2009.

Bagaimana perkembangan kinerja PT Indofarma?

Waktu itu kinerjanya kurang begitu bagus. Kok dengan omzet (penjualan) Rp 1,4 triliun, keuntungan hanya Rp 2 miliar? Saya tertantang untuk mencari solusi yang cepat dan tepat.

Apa yang Anda lakukan?

Saya melakukan efisiensi dan menekan biaya operasi. Saya minta penyesuaian bunga yang lebih riil. Waktu itu bunga bank tahun 2009 Rp 35 miliar. Saya lakukan efisiensi dalam pembelian bahan baku secara terencana sehingga tidak terjadi over-inventory (kelebihan persediaan). Itu bisa menghemat biaya operasi dalam hal biaya bank turun Rp 10 miliar. Hal itu menambah laba. Tahun 2010, laba naik menjadi Rp 12,5 miliar.

Ini berarti Anda menerapkan pengelolaan rantai pasokan?

Saya bersemangat menerapkan pengalaman di perbankan dalam hal supply chain management (pengelolaan rantai pasokan), yaitu kita mengintegrasikan lebih bagus pengadaan bahan baku, persediaan, proses produksi, proses menjadi barang jadi, sampai penempatan produk ke cabang-cabang. Itu ternyata luar biasa dampaknya sehingga laba tahun 2011 naik lagi menjadi Rp 36,9 miliar.

Setelah saya menjadi Direktur Utama PT Indofarma pada Juni 2011, saya menengok harga saham PT Indofarma. Kenapa harga saham PT Indofarma selalu statis di angka Rp 80 (per lembar saham)? Waktu itu saya selalu mengatakan, PT Indofarma ingin mengembangkan diri untuk investasi dan memberikan informasi corporate action (aksi korporasi). Seperti Anda lihat, harga saham meningkat dari Rp 80 menjadi di atas Rp 100, lalu di atas Rp 200. Posisi terakhir di Kompas100, harga saham kami di atas Rp 300 (per lembar saham).

Ini upaya kami agar BUMN ini ditengok. Ini perusahaan besar dalam arti pasar. Pasar farmasi Rp 44 triliun saat ini. PT Indofarma menguasai pangsa pasar 16-18 persen (terbesar di antara 230 perusahaan farmasi di Indonesia). Kami BUMN yang punya nilai, yaitu kami penghasil obat generik terbesar di atas PT Kimia Farma (BUMN farmasi lainnya). Terlebih lagi tahun 2014, BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan) diterapkan. Ini berarti kebutuhan obat generik tiga kali lipat saat ini karena anggaran BPJS Rp 73 triliun, sekitar Rp 35 triliun-Rp 40 triliun adalah obat generik. Ini pasar besar bagi PT Indofarma.

Apa rencana PT Indofarma tahun 2013?

Pada awal tahun 2012, kami mengajukan pinjaman ke Bank Mandiri untuk mendapatkan kredit investasi (PT Indofarma menyiapkan total investasi Rp 155 miliar untuk tahun 2013, sebanyak 65 persen berasal dari Bank Mandiri, sisanya dari perseroan) untuk menyambut BPJS sehingga kapasitas tiga kali lebih besar, dari 2,5 miliar tablet ditingkatkan jadi 5,5 miliar tablet.

Kita tahu, saat krisis 1997/1998, kita tidak bisa mengimpor obat karena nilai tukar rupiah Rp 10.000-Rp 15.000 per dollar AS. Yang menjadi penyangga saat itu salah satunya PT Indofarma. Kalau tidak ada obat generik, bagaimana? Oleh karena itu, bisnis inti di bidang obat generik harus terus ditingkatkan. Obat generik tidak identik dengan obat murah. Obat generik obat yang terjangkau dengan harga wajar, beda dengan obat bermerek yang biaya pengemasannya lebih besar.

Makanya harga obat mahal?

Kita masih impor 90 persen bahan baku obat. Harga obat juga dipengaruhi biaya distribusi dan alur distribusi serta mekanisme pasar obat itu. Oleh karena itu, ke depan kami sangat selektif mencari distributor.

Apa keuntungan BUMN jika masuk Bursa Efek Indonesia?

Kalau BUMN sudah di-IPO-kan, kontrol terhadap praktik good corporate governance (pengelolaan perusahaan yang baik) akan menjadi lebih baik. Karena apa? Dengan menjadi perusahaan publik, kita akan selalu menjaga kinerja keuangan, kinerja bisnis, kinerja operasi, selalu mengikuti acuan yang standar. Nilai perusahaan itu akan lebih tinggi lagi.

Facebook Twitter Email Print
KOMENTAR

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini.

KIRIM KOMENTAR

Name

lila
Email

lilamaniz68@gmail.com
Komentar

Kirim Batal

TODAY’S NEWSPAPER

NEWS ARCHIVE

DESEMBER 2012
Sn Sls Rb Kms Jmt Sbt Mg
26 27 28 29 30 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31 1 2 3 4 5 6

TERKOMENTARI

December 12, 2012

Siapakah Indra Bakrie?

Gina Nur Maftuhah – Okezone
Senin, 10 Desember 2012 11:13 wib
Indra Bakrie (Foto: Bumi Plc)

Indra Bakrie (Foto: Bumi Plc)
JAKARTA - Adik kedua dari pengusaha tenar Aburizal Bakrie, Indra Bakrie memutuskan turun tahta dari jabatannya sebagai Komisaris Bumi Plc. Siapa sebenarnya Indra Bakrie ini?

Dikutip dari data yang dihimpun Okezone, Indra Usmansyah Bakrie adalah anak ketiga dari Achmad Bakrie setelah Aburizal Bakrie, dan Roosmania Odi Bakrie. Kakak dari Nirwan Bakrie ini memiliki tiga putri yakni Eda Bakrie, Intania Bakrie, dan Adinda Bakrie. Sedangkan istrinya, sosialita ibu kota, Gaby Bakrie.

Lulusan dari University of Southern California pada tahun 1976 di jurusan Administrasi Bisnis ini telah sukses membantu bisnis Bakrie di bidang eksplorasi perkebunan, minyak dan gas bumi dan perdagangan, real estate, dan infrastruktur. Dia telah berperan dalam nilai unlocking dalam Grup Bakrie dengan membuat daftar anak perusahaan yang berbeda dan meningkatkan kapitalisasi pasar lebih dari USD 7 miliar.

Beberapa waktu lalu, dia pernah memegang salah satu anak usaha Group Bakrie, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Saat ini, perusahaannya bersama dengan Inpec Coorporation, yang bertindak sebagai operator, menggarap lapangan gas abadi di blok Masela.

Selain PT Bumi Resources Tbk (BUMI), bisnis keluarga Bakrie memang menggurita di mana-mana. Selain bisnis tambang, Bakrie mengembangbiakan usaha Bakrie Brothers di Lampung yang tadinya hanya berbisnis karet, lada, dan kopi ke bisnis baja dan kawat. Setelah itu, saat ini bisnisnya beranak pinak ke bisnis tambang, pipa, properti, infrastruktur dan sebagainya.

Akhir pekan lalu, Bumi Plc, induk usaha BUMI, kembali kehilangan seorang komisaris dari Grup Bakrie. Setelah sebelumnya Nathaniel Rothschild mengundurkan diri dari perusahaan tersebut, kini giliran salah satu wakil dari keluarga Bakrie yang mengundurkan diri.

“Bumi Plc (Bumi) mengumumkan bahwa Indra Bakrie, direktur dan wakil komisaris Bumi Plc, telah mengundurkan diri dengan segera,” ungkap keterangan tertulis Bumi.

Dalam suratnya kepada dewan direksi Bumi, Indra Bakrie mengatakan tujuan Grup Bakrie pada perusahaan yang listing di London tersebut sampai saat ini belum dapat terpenuhi. Adapun tujuan tersebut, yakni Grup Bakrie telah mengajukan proposal untuk keluar dari Bumi.

“Oleh karena itu dia mengundurkan diri sebagai direktur perusahaan,” jelas ketarangan tersebut.

Sementara mundurnya Rothschild lantaran adanya perseteruan dengan Grup Bakrie di Bumi Plc. Rothschild meminta dilakukan investigasi independen atas indikasi penyelewengan dana yang dilakukan BUMI. Investigasi ini dilakukan oleh firma hukum, Macfarlanes atas BUMI, yang 29 persen sahamnya dimiliki Bumi Plc.
(gnm)

December 10, 2012

PROFIL CEO PT UNILEVER INDONESIA

Senin,
10 Desember 2012

PROFIL CEO PT UNILEVER INDONESIA

Kendala Infrastruktur

KOMPAS/HERU SRI KUMORO

Maurits Lalisang

M Clara Wresti

PT Unilever Indonesia Tbk telah berada di Indonesia sejak 78 tahun lalu. Dulu, ketika pertama kali berdiri tahun 1933, Unilever bernama Lever’s Zeepfabrieken NV. Di lokasi pertamanya, di Angke, Jakarta Barat, Unilever memproduksi sabun cuci bernama Sunlight, kemudian berturut-turut memproduksi margarin Blue Band dan sabun mandi Lux.

Kini perusahaan asal Belanda ini menjadi salah satu perusahaan besar yang sahamnya menjadi rebutan. Kinerja pada tahun 2011 sangat cemerlang dengan penjualan bersih mencapai Rp 23,5 triliun dan pertumbuhan penjualan mencapai 17 persen.

Penjualan yang sangat baik tersebut ditopang oleh dua usaha utama, yakni Home & Personal Care dengan penjualan bersih sebesar Rp 17,2 triliun dan Foods & Beverages sebesar Rp 6,3 triliun. Dari hasil riset mereka diketahui bahwa ada setidaknya satu produk Unilever digunakan di setiap rumah tangga di Indonesia.

Pertumbuhan yang baik itu dihasilkan dari inovasi yang terus dilakukan oleh Unilever. Inovasi telah menciptakan nilai lebih sekaligus meningkatkan kepuasan pelanggan dengan menyajikan produk-produk yang terus disempurnakan.

Inovasi tidak hanya dilakukan pada produk, tetapi juga dalam upaya mengurangi jejak lingkungan dari kemasan produk Unilever yang dipakai.

”Inovasi menjadi tulang punggung bagi perusahaan kami. Inovasi juga yang telah menyelamatkan perusahaan dari kelesuan pasar pada tahun 2010,” kata Maurits Daniel Rudolf Lalisang, CEO PT Unilever Indonesia, Tbk.

Bagaimana inovasi dilakukan di produk Unilever?

Ada beberapa inovasi yang kami lakukan dan itu menjadi portofolio perusahaan kami, misalnya dari kemasan. Kami menyediakan saset, botol, dan kemasan tekan (pump dispenser). Beragamnya kemasan ini membuat produk kami menjadi terjangkau. Kualitas tidak berbeda, hanya ukuran yang berbeda. Selain itu, kami juga menyediakan beragam pilihan merek untuk jenis produk yang sama. Contohnya untuk perawatan wajah. Kami mempunyai Citra untuk yang harganya sangat terjangkau. Kemudian Fair & Lovely, lalu Ponds, dan yang paling atas adalah Ponds Premium. Dengan beragam merek ini, kami memberikan alternatif bagi konsumen.

Di Indonesia, Unilever menjadi pemimpin pasar. Bagaimana perusahaan tetap mempertahankan posisi tersebut?

Hampir semua produk kami menjadi pemimpin dalam segmennya. Hanya produk deterjen yang menempati posisi kedua dalam pangsa pasar. Walau telah menjadi pemimpin pasar, kami ingin terus memperluas pasar. Jika pasar makin luas, pendapatan kami pun akan membesar karena kami menjadi pemimpin. Ada beberapa cara yang kami lakukan. Yang pertama adalah mendorong konsumen memakai produk kami lebih banyak. Contohnya, pelembut kulit Citra. Dulu orang memakai lotion kulit hanya pada tangan dan kaki. Sekarang kami mendorong untuk memakai lotion itu di seluruh tubuh. Kami buka Rumah Citra, tempat konsumen bisa merasakan dipijat dengan Citra. Demikian juga dengan deodoran. Banyak orang tidak peduli dengan deodoran. Lalu kami ciptakan deodoran dengan kemasan saset. Mereka pun mau mencobanya. Setelah mencoba, mereka merasa lebih percaya diri dan akhirnya tergantung pada deodoran produk kami. Mulailah mereka membeli dalam bentuk roll-on dan akhirnya semprot.

Bagaimana inovasi untuk produk makanan dan minuman?

Sama saja. Magnum dikemas menjadi sesuatu yang sangat mewah, membuat masyarakat tertarik untuk mencoba. Di Grand Indonesia, pengunjung harus antre untuk bisa merasakan es krim Magnum. Pertama-tama kami perkenalkan Belgium Chocolate yang rasanya memang sangat enak. Lalu kami buat versi Gold. Di saat yang sama, kami ajak konsumen untuk bereksperimen membuat es krim cokelatnya sendiri. Pengalaman ini yang tidak didapatkan konsumen di tempat lain.

Menjadi pemimpin di segmennya tentu juga memengaruhi harga. Bagaimana Unilever bisa menjaga harganya tetap bisa terjangkau?

Masalah harga memang sangat penting. Untuk bisa menekan agar benar-benar murah, kami memakai mesin-mesin yang modern dan dengan kecepatan tinggi. Ini yang membuat 15 persen dari produk kami harganya tidak lebih dari 10 sen euro. Sementara 60 persen dari produk kami harganya tidak lebih dari 60 sen euro. Demikian murahnya produk kami membuat Unilever Indonesia ditunjuk sebagai regional sourcing untuk beberapa produk. Misalnya untuk teh, pabrik Australia dan Singapura ditutup. Mereka memakai produk teh dari kami. Demikian juga pasta gigi yang dibuat di Rungkut, Surabaya, kami ekspor ke Filipina. Lalu peralatan mandi Dove kami ekspor ke Jepang.

Bagaimana dengan limbah dari kemasan plastik yang banyak digunakan produk Unilever?

Kami memang berupaya terus-menerus untuk mengurangi jejak lingkungan dari kemasan produk kami. Beberapa hal yang sudah kami lakukan adalah mengajak komunitas-komunitas di masyarakat untuk mendaur ulang kemasan plastik untuk menjadi tas, payung, dompet, dan sebagainya. Namun, kini kami sedang bekerja sama dengan beberapa universitas untuk membuat formula atau cara bagaimana mengurangi sampah plastik ini.

Unilever telah membuka lapangan kerja bagi 6.043 karyawannya dan 30.000 lapangan kerja yang berkaitan dengan Unilever. Namun, keuntungan Unilever akhirnya dibawa ke luar negeri karena Unilever adalah modal asing. Bagaimana Anda melihat persoalan tersebut?

Sebenarnya tidak hanya lapangan kerja. Kami juga membayar pajak. Selain itu, kami juga terus berupaya untuk menanamkan modal lebih besar lagi di sini. Tahun 2011 belanja modal kami mencapai Rp 1,7 triliun, sedangkan untuk total selama tiga tahun terakhir mencapai Rp 4,2 triliun. Kami berupaya agar yang kembali ke Indonesia semakin besar lagi.

Tantangan ke depan?

Yang kami hadapi sekarang adalah masalah infrastruktur. Akibat kemacetan di jalan, distribusi kami menjadi terganggu. Semoga masalah ini bisa segera diselesaikan.

Ada kiat khusus dari Anda agar tetap energik saat memimpin perusahaan besar ini?

Selalu berolahraga dan main musik. Kedua hal ini saya lakukan di kantor karena perusahaan telah menyediakan untuk karyawan.

December 6, 2012

Presdir Astra: Ini Pertama Kali Nama Astra Dipakai

 
 
 
  1
 
 
Headline
Prijono Sugiarto, Presiden Direktur PT Astra International Tbk – IST
 
Oleh: Mahbub Junaidi
ekonomi – Senin, 3 Desember 2012 | 08:02 WIB
 
 
Berita Terkait
 
Select LanguageEnglishAfrikaansAlbanianArabicArmenianAzerbaijaniBasqueBelarusianBengaliBulgarianCatalanChinese (Simplified)Chinese (Traditional)CroatianCzechDanishDutchEsperantoEstonianFilipinoFinnishFrenchGalicianGeorgianGermanGreekGujaratiHaitian CreoleHebrewHindiHungarianIcelandicIrishItalianJapaneseKannadaKoreanLaoLatinLatvianLithuanianMacedonianMalayMalteseNorwegianPersianPolishPortugueseRomanianRussianSerbianSlovakSlovenianSpanishSwahiliSwedishTamilTeluguThaiTurkishUkrainianUrduVietnameseWelshYiddish

Powered by Translate

PRIJONO Sugiarto bukan orang baru di Grup Astra. Sejak tahun 1990, ia bergabung di perusahaan raksasa ini, setelah sebelumnya adalah sales engineering manager di Daimler-Benz Indonesia.

Ia tertarik masuk ke bisnis otomotif, lantaran Prijono adalah lulusan University of A Sc Konstanz, Jerman pada 1984 dan University of A Sc Bochum, Jerman pada 1986. Di dua universitas ini, ia memperoleh gelar Dipl. Ing di bidang teknik otomotif dan Dipl. Wirtschaftsing di bidang administrasi niaga.

Sederet jabatan pernah disandangnya di Grup Astra. Misalnya, Presiden Komisaris PT United Tractors Tbk, PT Astra Otoparts Tbk, PT Astra Honda Motor, dan PT Isuzu Astra Motor Indonesia.

Dia juga pernah menjabat director in charge untuk beberapa merek kendaraan, yaitu Daihatsu, Isuzu, BMW, Peugeot, Nissan UD, PT Gaya Motor, PT Fuji Technica Indonesia, dan PT Inti Pantja Press Industri.

Prijono juga menduduki posisi director in charge untuk Astra Honda Sales (AI-HSO), PT Astra Honda Motor (Grup Sepeda Motor Honda), dan PT Astra Otoparts Tbk (Grup Komponen). Dan, bulan Mei 2001, Prijono menjabat direktur PT International Tbk.

Sederet jabatan lainnya adalah wakil presiden komisaris PT Astra Daihatsu Motor, PT Federal International Finance, komisaris PT Astra Sedaya Finance, PT Pamapersada Nusantara dan PT Astra Agro Lestari Tbk (2005-2007).

Kursi Presiden Direktur PT Astra International Tbk dijabatnya sejak 1 Maret 2010 lewat keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Mulai saat itulah Prijono mengemudikan PT Astra Internasional Tbk yang menaungi 166 perusahaan.

Di tengah kesibukannya, Prijono masih bersedia diwawancarai Mahbub Junaidi dariInilahREVIEW di sela-sela workshop wartawan industri dan otomotif di Bandung, Jumat pekan lalu. Petikannya:

 

Bagaimana kinerja Astra tahun 2012 ini?

Tahun ini adalah tahun yang baik bagi PT Astra Agro Lestari Tbk dari segi produksi karena peningkatannya cukup signifikan. Produksi CPO tahun ini akan meningkat menjadi 1,4 juta ton dan perkembangan permintaan cukup menarik untuk tahun-tahun depan. Hanya saja, kalau dilihat harga komoditas sedikit tertekan. Tapi, kalau kita melihat jangka menengah atau jangka panjang, saya kira bisnis kelapa sawit ini masih menarik. Untuk itu, kami juga sedang menyiapkan pabrik di Sulawesi, dengan investasi sebesar US$ 75 juta yang kemungkinan besar akan mulai berproduksi pada Desember 2013 mendatang.

 

Bagaimana rencana bisnis tahun 2013?

Rencana produksi, tentu saja kita berharap ada peningkatan. Karena memang, 85% dari perkebunan sawit kami sudah dalam tahap panen. Mudah-mudahan saja ada peningkatan dan cuacanya mendukung.

Seperti diketahui, selama ini Astra Agro Lestari lebih banyak menyuplai untuk kebutuhan domestik. Dan tentu saja, karena sifatnya komoditas, kami menjual ke pasar domestik. Apakah nanti diekspor kembali, itu hak mereka. Yang jelas kami menjual ke pasar domestik.

 

Kendala apa saja yang akan dihadapi tahun 2013 nanti?

Tahun 2011 lalu, sudah diindikasikan bahwa tahun 2012 ini tidak mudah karena krisis di Eropa dan Amerika belum selesai. Ekspor ke China dan India juga turun karena penggunaan listrik turun dan berimbas pada ekspor batu bara.

Di bidang otomotif, subsidi BBM yang dikurangi berdampak pada penjualan. Tahun depan memang penuh tantangan, tapi kami terus mengantisipasi.

 

Bagaimana kontribusi otomotif bagi Astra?

Intinya, kalau kita lihat kembali pada tahun 2001, Astra itu 89% terdiri dari otomotif. Apakah itu produksi 4 roda, 2 roda, dan tentu juga jasa keuangan yang ada hubungannya dengan otomotif. Dari 89% tadi, kini berubah menjadi 64%. Dimana 15% dari 64% ini adalah jasa keuangan. Sehingga, sebenarnya otomotif itu sendiri adalah 49% ditambah jasa keuangan 15% yang berhubungan kepada otomotif.

 

Kabarnya, merek mobil Toyota jenis niaga akan diubah menjadi Astra?

Nama Agya dan Ayla itu, adalah nama Indonesia dari bahasa Sansekerta. Kebetulan, kami diizinkan menyandang nama Astra. Jadi judulnya adalah Astra Toyota Agya dan Astra Daihatsu Ayla.

 

Apakah pihak prinsipal Jepang, Toyota Motor Corporation, sudah menyetujui pergantian nama merek ini?

Iya, kalau enggak mana mungkin kami pasang logonya seperti itu. Itu memang atas persetujuan mereka. Jadi, mereka sendiri yang meminta izin memakai nama Astra. Jangan salah, mereka yang meminta izin karena itu nama Astra.

 

Kalau mereka setuju, apakah dengan begitu Astra harus membayar fee kepada prinsipal Jepang?

Oh, tidak ada.

 

Image Toyota sudah melekat di benak masyarakat pecintanya. Setelah pergantian nama menjadi Astra Toyota Agya, bagaimana strategi pemasarannya?

Kan, masih ada Toyota-nya. Jadi Astra Toyota Agya. Enggak ada masalah. Dan jangan lupa, Astra juga brand yang kuat kan di Indonesia.

 

Apa untung ruginya mengubah nama Toyota menjadi Astra?

Saya kira, saya sebagai salah satu pejabat Astra tentu bangga. Ini untuk pertama kalinya dalam sejarah nama Astra dapat dipakai. Dan ini merupakan satu fenomena baru, bahwa akhirnya ada produk Indonesia dengan lokalisasi dapat menyandang nama Astra. Dan nama Agya dan Ayla juga bagus karena berasal dari bahasa Sansekerta, yang juga bahasa Indonesia.

Saya kira, lebih banyak untungnya. Saya enggak bicara rugi. Kenapa mesti bicara rugi.

 

Apakah pemerintah menjanjikan insentif kepada Astra dengan pergantian merek tersebut?

Saya kira bukan pemerintah menjanjikan insentif. Peraturan LCGC (Low Cost Green Car)sendiri yang mengatakan harus menyandang nama Indonesia. Nanti kalau peraturan LCGC keluar, harus ada nama Indonesia-nya. Apakah itu Toyota, Nissan, Honda, atau apapun harus ada nama Indonesia-nya. Anda mau namakan siapa, itu terserah, asal ada Indonesia-nya.

 

Berapa banyak penjualan Toyota pada tahun 2012 ini?

Untuk Astra, sampai akhir tahun 2012 ini kami memperkirakan penjualan mencapai sekitar 550 ribu unit.

 

Dari jumlah tersebut, jenis apa yang paling laku?

MPV Low masih mendominasi. Sebanyak 35% adalah jenis MPV Low dan masih didominasiAvanza dan Xenia dengan market share mencapai hampir 70%.

December 3, 2012

soal TPPI : Menyiapkan ekspansi setelah restrukturisasi

dari kontan online

 

 

Menyiapkan ekspansi setelah restrukturisasi

Oleh Amir Sambodo - Rabu, 21 November 2012 | 09:40 WIB
Menyiapkan ekspansi setelah restrukturisasiPT Tuban Petrochemicals Industries (Tuban Petro) melihat potensi industri petrokimia ke depan masih sangat besar. Sayang, rencana ini terganjal masalah restrukturisasi utang anak usaha yang belum selesai sampai kini. Lantas, bagaimana rencana bisnis Tuban Petro ke depan? Berikut penuturan Amir Sambodo, CEO Tuban Petro, kepada Andri Indradie, wartawan KONTAN, Kamis (15/11), di rumahnya di Jakarta.

Utang adalah masalah utama PT Tuban Petrochemical Industries. Perusahaan yang biasa disebut  Tuban Petro ini memiliki tiga anak usaha, yaitu PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI), PT Polytama Propindo (Poly), dan PT Petro Oxo Nusantara (PON).

Selama ini, perusahaan kesulitan melakukan ekspansi karena tersandung masalah restrukturisasi utang. Yang paling berat adalah utang multi years bond senilai Rp 3,26 triliun. Tugas utama saya sebagai CEO Tuban Petro, sejak 2007, tidak lain adalah menyelesaikan utang. Saat ini, nilai utang Tuban Petro masih Rp 2,82 triliun.

Tapi, apabila semua aset perusahaan, termasuk aset milik ketiga anak usaha, dijual, kita mendapat dana yang memadai untuk menutup utang senilai Rp 3,26 triliun. Maksudnya, kalau semua aset dijual, plus dipakai bayar utang-utang tiga anak usaha, masih ada sisanya. Jadi, tugas saya sebenarnya sudah selesai, karena nilai perusahaan masih memadai untuk menutup utang.

Meskipun demikian, sebagai CEO, saya tidak bisa membatasi tugas berupa melunasi utang saja. Saya juga harus mengembangkan bisnis. Makanya, saya menyiapkan road map untuk Tuban Petro. Masalahnya, kami tidak boleh ekspansi sebelum proses restrukturisasi utang tuntas. Jadi, saya punya road map bisnis, tapi kaki saya ini seperti terikat.

Industri petrokimia

Anda tahu, kalau kita lihat, Indonesia itu pasar yang sangat besar untuk industri petrokimia. Ada dua pokok bahan dasar industri petrokimia yang berkembang saat ini di Indonesia. Pertama, olefin, termasuk etilena dan propilena. Kedua, aromatik, termasuk benzena, toluena, dan xylene isomers. Ini semua merupakan bahan kimia dari industri petrokimia yang berasal dari minyak.

Nah, olefin dan aromatik merupakan fokus bisnis Tuban Petro. Saat ini, produk domestik hanya memenuhi sekitar 15% dari total kebutuhan bahan dasar olefin maupun aromatik. Mayoritas kebutuhan dipenuhi oleh barang impor. Bahkan, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk hampir 100% menggunakan bahan impor.

Padahal, negara kita mau masuk pasar besar. Di Asia Tenggara, tahun 2015 nanti sudah berlaku pasar bebas ASEAN. Kalau tidak segera mengembangkan industri petrokimia, negara kita pasti kalah dari Malaysia ataupun Thailand. Bayangkan, padahal, bicara sumber daya alam mereka itu kalah jauh dari Indonesia. Singapura saja sudah punya industri petrokimia saat ini.

Sejatinya, industri petrokimia dan industri baja merupakan tulang punggung industri nasional. Dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), kita merancang pertumbuhan ekonomi mencapai kisaran 7%–9%. Menurut saya, kalau ingin pertumbuhan sesuai target itu, kita harus bangun segera industri petrokimia dari hulu sampai hilir.

Konsekuensi membangun industri hulu sampai hilir, paling tidak, kita membutuhkan dua pabrik aromatik, dua pabrik olefin, plus tiga refinery lagi dalam 10 tahun. Jika kebutuhan itu tidak segera dipenuhi, bisa-bisa, neraca pembayaran Indonesia akan terpengaruh.

Pertanyaannya, siapa yang mau membangun? Apakah Pertamina atau perusahaan lain? Jangan lupa, industri petrokimia membutuhkan pemain dalam skala usaha yang besar. Tantangan dan risiko bisnis ini sangat tinggi. Nilai investasi yang dibutuhkan besar. Perputaran bisnis juga lama.

Bayangkan, untuk membangun aromatic center saja membutuhkan dana sedikitnya US$ 3 miliar. Anak usaha Lotte Group, Honam Petrochemical Corporation, membangun pabrik di Cilegon butuh US$ 5 miliar. Kapasitas produksinya satu setengah kali lebih besar daripada Chandra Asri.

Jadi, saya tidak heran kalau Prajogo Pangestu menggabungkan Chandra Asri dengan PT Tri Polyta Indonesia Tbk. Sebab industri ini membutuhkan pemain besar dan efisien.

Kalau kebutuhan industri petrokimia kita terpenuhi, industri nasional kita akan kuat. Kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) bisa tercukupi.

Sekarang ini, jika Malaysia ingin menyerang Indonesia, mereka tidak butuh angkatan perang. Cukup mengirim pesawat tanpa awak untuk mengebom kilang Tanjung Priok dan Cilacap milik Pertamina. Masyarakat Indonesia pasti kelabakan mencari minyak.

Kalau memang kita mau pertumbuhan ekonomi sampai 7% dalam jangka panjang, industri harus dikuatkan, terutama industri petrokimia dan baja. Mindset atau cara berpikir industriawan juga harus diubah. Jangan takut menanggung risiko kalau mau mengembangkan industri petrokimia. Sebab, memang besar risikonya.

Yang jelas, rantai industri petrokimia ini panjang. Aromatik bisa masuk ke perusahaan benang, atau perusahaan fiber.  Dari situ, masuk ke perusahaan tekstil, dan seterusnya.

Rencana ekspansi

Jadi, sayang sekali kalau Tuban Petro yang punya TPPI ini nanti tidak dikembangkan. Saya sudah menyiapkan beberapa strategi bisnis untuk TPPI.

Pertama, menyelesaikan proses restrukturisasi utang. Kedua, saya berharap mulai 2013, TPPI membangun modifikasi untuk pengolahan bahan baku yang kita miliki, yaitu light naphthaLight naphta ini kadar oktannya hanya 78–80, padahal premium 88.

Sekarang sudah kita siapkan, hanya tinggal dicampur dengan high octane mogas component (HOMC) sudah menjadi premium. Kalau itu bisa dilakukan, TPPI bisa menghasilkan premium 50.000 barel. Kebutuhan seluruh Jawa Timur dan Madura bisa terpenuhi.

Kedua, membangun refinery. Rancangan kami lebih murah. Apabila estimasi Pertamina, nilai kilang berkapasitas 250.000 barel adalah US$ 7 miliar, tim kami bisa membangun dengan biaya sekitar US$ 4 miliar hingga US$ 4,5 miliar.

Ketiga, kami berniat membangun fasilitas aromatik baru. Jadi menggandakan kapasitas saat ini. Jika dana yang dibutuhkan biasanya US$ 3 miliar, tim saya cuma membutuhkan US$ 700 juta.

Keempat, kita mau bangun olefin baru. Kelima, kami mau kembangkan di gas. Tapi, semua rencana ini belum mendapat izin pemegang saham. Kaki saya masih terikat.
Kalau sudah disetujui, kami bisa mengembangkan kapasitas produksi. Contohnya, kapasitas pengolahanparaxylene (paraksilena) bisa kami kembangkan dua kali lipat jadi 1,1 juta–1,3 juta ton per tahun. Saya harap bisa mulai tahun 2013 nanti.

Bisnis Poly dan PON sudah bagus. PON tadinya bangkrut. Sekarang, sudah laba bersih US$ 50 juta per tahun. Poly sudah bekerja dengan baik. Ketiga anak usaha itu total nilainya Rp 21 triliun. Padahal, modalnya dulu cuma Rp 11 juta.

Saat ini, manajemen TPPI memang dialihkan ke Pertamina. Tapi karena restrukturisasi utang masih berjalan, maka pemegang saham tetap Tuban Petro. Tahun ini, proses restrukturisasi utang harus tuntas. Apakah utang itu dikonversi menjadi saham, dicicil sesuai skema yang disepakati, atau dijual? Tinggal pemerintah mau opsi yang mana.

December 3, 2012

Misbakhun Bebas Berkat ”Jasa” Orang-orang Ini

Kombinasi politikus busuk + hakim  dan aparat penegak hukum busuk !
 
foto
SENIN, 03 DESEMBER 2012 | 11:00 WIB

Misbakhun Bebas Berkat ”Jasa” Orang-orang Ini

TEMPO.COJakarta - Lolosnya peninjauan kembali (PK) Mukhamad Misbakhun di Mahkamah Agung rupanya tak gampang. Ada banyak orang yang diduga membantu dikabulkannya perkara tersebut di MA. (Baca selengkapnya di: Operasi Pembebasan Perkara Nomor 47)

Mereka adalah dua hakim agung yang menangani perkara tersebut, yaitu Mansyur Kertayasa dan M. Zaharuddin Utama. Keduanya dituding menerima suap miliaran rupiah dari pengacara Misbakhun, Lukmanul Hakim.

Mengutip laporan majalah Tempo, 3 Desember 2012, keterangan ini disampaikan seorang saksi bernama Sofyan Arsyad. Pria berusia 59 tahun itu mengaku tak sengaja terlibat dalam “operasi pembebasan” Misbakhun karena berteman dengan Lukman dan mengikuti sejumlah proses tersebut. Ia telah melaporkan hal ini ke Komisi Pemberantasan Korupsi dan Komisi Yudisial.

Selain dua hakim itu, ada pula peran seorang pegawai MA. Menurut Sofyan, Lukman biasa memanggilnya Wawan. Belakangan dari pengakuan Lukman, pria itu bernama lengkap Alwantoro.

Ada satu orang lagi yang dikatakan Sofyan berhubungan langsung dengan Lukman, yaitu seorang perempuan yang disapa Fitri. Ia bernama lengkap Zul Fitria, pegawai di bagian tilang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Lukman yang ditemui Tempo, Rabu dua pekan lalu, membenarkan sebagian cerita Sofyan. “Tapi soal pertemuan dengan Mansyur untuk mengatur pemberian suap sama sekali tidak benar,” kata dia. “Itu fitnah,” ia menambahkan.

Lukman membenarkan bahwa dirinya berteman dengan Wawan dan Fitri. “Saya ini pengacara, jadi wajar punya teman yang bekerja di Mahkamah Agung dan Pengadilan Negeri,” kata Lukman.

Adapun Zaharuddin Utama membantah pernah mengenal dan bertemu Lukmanul Hakim. “Saya juga tidak pernah menerima uang itu,” katanya. Sementara Mansyur belum bisa dimintai tanggapannya. Didatangi di kampus Universitas Padjajaran, Bandung, tempatnya mengajar, ia tidak ada di tempat.

Misbakhun menolak untuk berbicara. Saat dimintai tanggapan, ia meminta pengacaranya, Batara Simbolon, yang bersuara. Batara mengaku tak kenal dengan para penyuap. Katanya, “perkara ini kental politisnya”.  (Baca: Potret Politikus: dari Korupsi Sampai Nikah 4 Hari) 

Politikus Partai Keadilan Sejahtera, Mukhamad Misbakhun, dinyatakan bersalah atas pemalsuan dokumen pencairan kredit pembiayaan perdagangan pada Bank Century. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memvonis Misbakhun 1 tahun penjara pada November 2010. Dalam proses banding, hukumannya diperberat menjadi 2 tahun. Di tahap kasasi, MA menguatkan putusan banding. Pada 5 Juli lalu, MA mengabulkan peninjauan kembali Misbakhun.

MUNAWWAROH

+++++++++++++++++++

SENIN, 03 DESEMBER 2012 | 08:58 WIB

Pria Ini Ungkap Misteri Vonis Bebas Misbakhun  

TEMPO.COJakarta - Nama Sofyan Arsyad baru kali ini terdengar. Ia memang bukan pejabat negara, pegawai negeri, atau pengusaha kelas atas. Di kartu tanda penduduk, lelaki berusia 59 tahun ini hanya mencantumkan pekerjaan: swasta.

Sofyan adalah tokoh yang ”tak sengaja” hadir dalam lingkaran dugaan upaya pembebasan Misbakhun dalam putusan peninjauan kembali di Mahkamah Agung. (Baca selengkapnya di:Operasi Pembebasan Perkara Nomor 47)

Perkara ini berawal dari temuan tim pemeriksa Bank Century dari Bank Indonesia. Tim melaporkan adanya penyaluran kredit bermasalah pada bank yang waktu itu masih milik Robert Tantular itu. 

Perusahaan Misbakhun, PT Selalang Prima Internasional, termasuk dalam daftar penerima kredit bodong itu. Misbakhun terseret setelah anggota staf khusus presiden, Andi Arief, melaporkan dia ke polisi pada awal Maret 2010. 

Dinyatakan bersalah, Misbakhun dihukum satu tahun penjara pada pengadilan pertama. Pengadilan banding memperberat hukuman menjadi dua tahun bui. Lalu Mahkamah Agung memperkuat putusan itu, hingga Misbakhun mengajukan upaya peninjauan kembali. Perkara bernomor 47 PK/PID.SUS/2012 ini ditangani Hakim Agung Artidjo Alkostar sebagai ketua, dengan anggota Mansyur Kertayasa dan M. Zaharuddin Utama.

Mengutip laporan majalah Tempo edisi 3 Desember 2012, Sofyan gemar berburu uang pecahan lama. Kegemaran inilah yang membuat dia sering berhubungan dengan Lukmanul Hakim, seorang pengacara yang berkantor di kawasan Roxy, Jakarta Pusat. Keduanya sudah lama saling mengenal karena sama-sama berasal dari Sumatera Selatan.

Awal November lalu, Sofyan memberanikan diri melapor ke Komisi Pemberantasan Korupsi setelah tak sengaja mengikuti “operasi pembebasan” Misbakhun. Ia kemudian mengetik pengalamannya dalam delapan lembar kertas. Niatnya membongkar kasus dugaan suap ini sudah bulat ketika mengetahui vonis peninjauan kembali Mahkamah Agung membebaskan politikus dari Partai Keadilan Sejahtera–yang tidak pernah dia kenal.

Selain ke KPK, Sofyan juga melapor ke Komisi Yudisial. Di setiap laporannya, ia membubuhkan tanda tangan di atas materai Rp 6.000. “Artinya, saya siap mempertanggungjawabkan dunia-akhirat,” ujar dia.

SETRI YASRA | INDRA WIJAYA | ANANDA BADUDU

 

++++++++++++++++++

 

SENIN, 03 DESEMBER 2012 | 10:26 WIB

2 Hakim Agung Ini Diduga Loloskan PK Misbakhun

 

TEMPO.COJakarta - Dua hakim agung yang menangani peninjauan kembali (PK) Mukhamad Misbakhun diduga menerima suap untuk meloloskan perkara tersebut. Mereka adalah Mansyur Kertayasa dan M. Zaharuddin Utama. (Baca selengkapnya di: Operasi Pembebasan Perkara Nomor 47)

Keterangan ini disampaikan seorang saksi bernama Sofyan Arsyad. Mengutip laporan majalah Tempo, 3 Desember 2012, ia mengaku “tak sengaja” terlibat dalam upaya memuluskan suksesnya PK yang diajukan bekas politikus Senayan itu, karena ia mengenal pengacara yang mengurus perkara tersebut. Dia adalah Lukmanul Hakim.

Menurut Sofyan, ia tahu sejumlah detail proses Lukman menyuap dua hakim agung, Mansyur dan Zaharuddin. Karena ia beberapa kali diajak Lukman ikut wara-wiri bertemu dengan sejumlah orang yang ikut “mengurus” perkara itu. Termasuk ikut terlibat dalam proses menyiapkan dana suap miliaran rupiah yang disediakan dalam mata uang dolar untuk dua hakim agung itu.

Sofyan memastikan tak salah mengenali hakim agung yang dituduhnya menerima suap dari Misbakhun. Ia tepat menunjuk wajah Hakim Agung Mansyur saat disodorkan delapan foto oleh Tempo. “Ini orangnya. Mansyur Kartayasa, yang saya temui di Hotel Grand Hyatt,” kata lelaki berusia 59 tahun itu setengah berteriak.

Sofyan telah melaporkan dugaan suap dua hakim agung yang membebaskan politikus dari Partai Keadilan Sejahtera, Misbakhun, ke Komisi Pemberantasan Korupsi dan Komisi Yudisial, awal bulan November yang lalu.

Bekas anggota Dewan Perwakilan Rakyat Mukhamad Misbakhun merupakan terpidana kasus pemalsuan dokumen pencairan kredit pembiayaan perdagangan pada PT Bank Century senilai US$ 22,5 juta. Perkara ini berawal dari temuan tim pemeriksa Bank Century dari Bank Indonesia. Tim melaporkan adanya penyaluran kredit bermasalah pada bank yang waktu itu masih milik Robert Tantular itu. 

Perusahaan Misbakhun, PT Selalang Prima Internasional, termasuk dalam daftar penerima kredit bodong itu. Misbakhun terseret setelah anggota staf khusus presiden, Andi Arief, melaporkan dia ke polisi pada awal Maret 2010. 

Dinyatakan bersalah, Misbakhun dihukum 1 tahun penjara pada pengadilan pertama. Pengadilan banding memperberat hukumannya menjadi dua tahun bui. Lalu Mahkamah Agung memperkuat putusan itu, hingga Misbakhun mengajukan upaya peninjauan kembali. 

Perkara bernomor 47 PK/PID.SUS/2012 ini ditangani Hakim Agung Artidjo Alkostar sebagai ketua, dengan anggota Mansyur dan Zaharuddin. Tanggal 5 Juli, PK Misbakhun dikabulkan. Sehari berselang, setelah putusan itu terbit, Mansyur resmi pensiun sebagai hakim agung.

Zaharuddin Utama membantah pernah mengenal dan bertemu Lukmanul. “Saya juga tidak pernah menerima uang itu,” katanya. Adapun Mansyur belum bisa dimintai tanggapan. Didatangi di kampus Universitas Padjajaran, Bandung, tempatnya mengajar, ia tidak ada di tempat. 

Misbakhun menolak bicara. Dimintai tanggapan, ia meminta pengacaranya, Batara Simbolon, yang bersuara. Batara mengaku tak kenal dengan para penyuap. Katanya, “perkara ini kental politisnya”. 

SETRI YASRA | INDRA WIJAYA | ANANDA BADUDU | MUNAWWAROH

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 84 other followers