Selama ini citra bank , yang bermotto Citi Never Sleep terkenal sebagai bank yang terluas jaringannya di dunia dan memiliki pelayanan yang prima bagi nasabahnya. Di Indonesia citra bank ini juga terkenal karena telah berhasil mendidik para bankir yang handal. Banyak bankir dan CEO top Indonesia adalah mantan eksekutif Citibank, salah satunya adalah Emirsyah Satar, bos Garuda Indonesia , adalah mantan Assistant of Vice President of Corporate Banking Group Citibank.
Citra bank internasional papan atas kelihatannya bakal tercoreng oleh dua peristiwa kriminal yang datang berurutan. Belum selesai urusan penggelapan uang yang dilakukan oleh Inong Malinda Dee, Customer Relation Manager Citi Gold . Kini Citibank disebut sebut terlibat atas kematian Sekjen Partai Pemersatu Bangsa (PPB) Irzen Octa di dalam kantor Citibank ( edan !!) , yang konon melibatkan langsung Arifin Lukman, Supervisor Citibank.
Malinda ditangkap Kamis 24 Maret 2011, oleh Bareskrim Mabes Polri. Dia sudah ditetapkan sebagai tersangka. Tuduhannya penipuan dan pencucian uang. Modus yang dilakukan Malinda adalah melakukan manipulasi data dan mengalihkan dana milik nasabah ke rekening tersangka. Kabarnya kerugian nasabah mencapai Rp 17 milyar.

Sedang Irzen Octa ditemukan tewas pada Selasa 29 Maret 2011 pagi usai mendatangi kantor Citibank untuk menanyakan tagihan kartu kreditnya yang membengkak. Karena tidak ada kecocokan soal nilai dengan pihak bank, korban kemudian dibawa ke satu ruang di kantor Citibank untuk diperiksa bersama debt collector dan pengawai Citibank.
Polisi telah menetapkan 3 orang sebagai tersangka. Salah satunya adalah karyawan Citibank, sedang dua yang lain adalah dept collector. Penyidikan polisi sepertinya fokus pada tindak kekerasan terhadap nasabah. Barang bukti berupa bercak darah yang menpel di gorden dan dinding ruang collection bank tersebut di Menara Jamsostek lantai 5 sudah didapat polisi. Ruangan itu digunakan untuk memeriksa nasabah yang mempunyai tunggakan . Buset deh ruangan untuk memeriksa nasabah sudah mirip ruang interogasi kantor polisi, yang kadang merangkap ruang siksa.
Dalam forum dan milis beberapa nasabah yang paham perbankan, menilai pembobolan oleh Melinda Dee membuktikan lemahnya pengawasan internal bank tersebut. Menilep dana nasabah Rp 17 milyar atau lebih ( konon bisa mencapai 78 M) itu butuh proses dan waktu yang lama, dan bisa diduga tidak cuma dilakukan seseorang. Dan korbanya tentu juga bukan seorang. Bank yang baik tentu akan cepat menemukan keganjilan transaksi pada rekening nasabahnya. Dan bisa lekas menemukan penyebabnya. Tapi dalam kasus Inong Melinda Dee , aksi kriminalnya sempat berlangsung 3 tahunan tidak terdeteksi oleh para pengawas internal Citibank..

Dalam kasus kematian Irzen Octa, banyak yang menduga Peristiwa ini adalah imbas dari kebijakan penagihan kartu kredit yang melibatkan bank dan pihak ketiga. Diduga, sejak diaturnya sistem penagihan oleh pihak ketiga melalui Peraturan Bank Indonesia (PBI) maupun Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI), maka makin banyak terjadi pelanggaran hukum oleh para debt collector terhadap debitur bank.
Pihak Citibank sampai saat ini dalam rilis resminya yang disampaikan oleh Ditta Amahorseya maupun Managing Director and Country Business Manager Tigor Siahaan menyerahkan sepenuhnya kedua kasus ini kepada pihak kepolisian RI.
Nah, dengan kedua kejadian kriminal ini banyak nasabah sah Citibank mulai bertanya mengenai keamanan uang simpanannya. Dan bagi nasabah kartu kredit Citibank juga mulai bertanya mengenai keamanan fisik jika harus berurusan dengan tunggakan tagihan kartu kredit, karena bisa saja bernasib mirip seperti Irzan Octa.
Semoga dari dua peristiwa ini Citibank dapat diingatkan kembali bahwa di bisnis perbankan yang paling utama adalah NASABAH . Nasabah menginginkan adanya jaminan keamanan dan pelayan prima. Riwayat citra sebuah bank yang memiliki moto Citi Never Sleeps bisa dalam sekejap dilupakan oleh nasabahnya, dan jadi sleepless Citibank forever .

++++
Kamis, 31/03/2011 22:37 WIB
Bendahara PPB: Polisi Temukan Bercak Darah Octa di Kantor Citibank
E Mei Amelia R – detikNews
- Kamis, 31/03/2011 20:33 WIB
Citibank Tuntut Karyawan Tak Lakukan Kekerasan pada Nasabah - Kamis, 31/03/2011 20:19 WIB
Citibank Sampaikan Belasungkawa Atas Tewasnya Sekjen PPB - Kamis, 31/03/2011 13:16 WIB
Masih Berkabung, Keluarga Sekjen PPB Belum Diperiksa - Kamis, 31/03/2011 12:28 WIB
Sekjen PPB Tewas, Polisi Diminta Bongkar Mafia Penagih Kartu Kredit - Kamis, 31/03/2011 11:05 WIB
Sekjen PPB Tewas, Debt Collector Citibank Terancam 7 Tahun Penjara
SELENGKAPNYA
Jakarta – Bendahara Umum DPP Partai Pemersatu Bangsa (PPB), Tubagus menyatakan, kepolisian menemukan bukti adanya dugaan tindak pidana terhadap Irzen Octa (50), Sekretaris Jenderal PPB. Polisi menemukan bercak darah di sebuah ruangan di kantor Citibank di lantai 5 Menara Jamsostek, Jakarta Selatan.
“Polisi sudah mengambil sampel darah dan memfotonya. Darah itu ada di gorden dan dinding di ruangan kantor Citibank, di mana Octa ditemukan,” jelas Tubagus saat dihubungi wartawan, Kamis (31/3/2011).
Tubagus dari awal melihat keganjilan dalam kematian korban. Menurutnya, dari hidungnya, korban mengeluarkan darah.
“Tangan kanannya juga memar,” katanya.
Tubagus mengatakan, dirinya sempat melihat jasad korban di kantor Citibank. Tubagus saat itu mendatangi lokasi karena mendapat panggilan telepon dari nomor handphone korban.
“Sebelumnya saya SMS sekitar pukul 11.00 WIB, tapi nggak dibalas juga,” katanya.
Sekitar pukul 12.05 WIB, Tubagus mendapat panggilan telepon dari nomor handphone korban. Tanpa basa-basi, Tubagus langsung cuap-cuap di telepon, tanpa mengetahui siapa yang berbicara dengannya di balik telepon korban.
“Rupanya bukan Octa. Orang itu mengaku bernama Dia ini sudah jadi tersangka,” ujarnya.
Kepada Tubagus, Arifin meminta nomor telepon keluarga Octa. Tubagus kemudian curiga dan menanyakan maksud Arifin mempertanyakan noArifin Lukman, Supervisor Citibank. mor keluarganya itu.
“Dia bilang, dia mau ngasih tahu keluarganya karena Octa pingsan,” katanya.
Karena tidak mengetahui kontak keluarga korban, Tubagus lantas mendatangi kantor Citibank. Tubagus baru tiba di kantor Citibank sekitar pukul 13.00 WIB.
“Lalu saya dibawa ke satu ruangan di kantor Citibank,” ujarnya.
Di dalam ruangan itu, korban sudah tergeletak di lantai. Posisi meja dimiringkan untuk menggeletakkan korban.
“Saya bilang ke mereka, ‘kalian ini tidak manusiawi, ada orang pingsan kok nggak langsung dibawa ke rumah sakit’,” cetusnya.
Melihat hal itu, Tubagus lalu menghubungi sejumlah temannya. Tidak berapa lama, dua rekannya di partai datang dan mengecek kondisi korban.
“Pas dicek nadinya udah nggak ada denyutnya. Dadanya juga gak gerak, tangannya sudah menghitam,” katanya.
Tubagus menduga, korban sudah tewas satu jam sebelumnya. Melihat hal itu, Tubagus lalu menghubungi Polres Jakarta Selatan dan Polsek Mampang.
“Ada sekitar 20 orang yang datang,” katanya.
Korban kemudian dibawa ke RS Mintohardjo. Namun, dokter RS Mintohardjo menyatakan bahwa korban meninggal dunia.
Atas kejadian ini, pihak Citibank menyampaikan belasungkawa. Citibank menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian.
“Atas nama Citibank kami ingin menyampaikan belasungkawa kami kepada pihak keluarga. Kami bekerja sama dengan keluarga untuk membantu mereka di saat yang sulit ini,” ujar Country Corporate Affairs Head Citi Indonesia, Ditta Amahorseya, kepada detikcom, Kamis (31/3/2011).
Ditta menyampaikan, saat ini pihaknya tidak bisa memberikan komentar lebih lanjut. Hal itu dikarenakan polisi masih menyelidiki kasus ini.
“Polisi sedang melakukan penyelidikan terhadap kasus ini dan akan tidak pantas bagi kami untuk memberikan komentar lebih lanjut atas kasus ini,” imbuh Ditta.
++++++++++++++++
Digebuki Debt Collector, Pembuluh Darah Irzen Pecah
TEMPO Interaktif, Jakarta -Sekertaris Jenderal Partai Pemersatu Bangsa (PPB), Irzen Octa, diduga meninggal karena tindak kekerasan. Dari hasil visum diketahui, pembuluh darah kepala bagian belakangnya pecah, kepala belakang bagian kiri Irzen mengalami memar.
Berita terkait
“Dia juga mengalami beberapa luka lecet di bagian hidungnya,” kata Kepala Kepolisian Resor Jakarta Selatan Komisaris Besar Gatot Eddy Pramono, Jumat 1 April 2011.
Irzen, 50 tahun, dibunuh oleh debt collector kartu kredit Citibank karena protes terhadap tagihan kartu kreditnya. Korban tidak terima karena tagihan kartu kreditnya membengkak dari Rp 48 juta menjadi Rp 100 juta. Itu terjadi saat ia akan membayar tagihan kartu kredit di kantor Citibank Cabang Menara Jamsostek, Jakarta Selatan Selasa (29/3) lalu.
Akibat kesal, pegawai Citibank berinisial A beserta dua rekannya H dan D menghabisi nyawa Irzen di salah satu ruang di lantai 5 gedung itu.
Menurut Gatot, meski hasil visum sementara menunjukkan adanya tindak kekerasan, namun ketiga tersangka, A yang merupakan karyawan Citibak, dan D serta H selaku penagih utang belum mengaku menganiaya Irzen.
Kepada polisi, mereka hanya mengaku menepuk pundak Irzen dan memukul tangannya. “Tapi itu baru pengakuan mereka, kami belum tahu seberapa keras tepukan mereka di pundak korban.”
Karenanya, penyidik akan meminta keterangan saksi ahli mengenai kemungkinan adanya penganiayaan terhadap Irzen.
Dalam kasus itu, penyidik menemukan sejumlah barang bukti berupa bercak darah di gorden ruangan, dinding, serta adanya luka pada bagian hidung Irzen. “Korban juga mengeluarkan air liur atau busa,” kata Gatot.
CORNILA DESYANA
Jakarta – Kasus penggelapan dana nasabah Citibank Rp 17 miliar masih terus diselidiki oleh polisi. Pelaku penggelapan, berinisial MD, sudah ditahan polisi. Siapa sebenarnya MD? Baik polisi maupun Citibank belum membuka identitasnya. Namun, di jejaring sosial, MD disebut Malinda Dee. Dia punya pangkat tinggi di Citibank.
Beberapa pegawai dan mantan pegawai Citibank berbisik dan membenarkan bahwa MD yang dimaksud adalah Malinda Dee. Mereka pun membenarkan bahwa foto-foto perempuan cantik yang beredar di sejumlah forum online dan Blackberry Messenger (BBM) itu adalah Malinda Dee.
Informasi yang didapatkan detikcom, Selasa (29/3/2011), Malinda merupakan karyawati Citibank senior. Diperkirakan dia sudah bekerja di bank asing itu sekitar 15 tahun.
“Setahun lalu, jabatan dia Senior Relation Manager, dengan pangkat Vice President. Ini pangkat tertinggi untuk karyawan Citibank,” kata sumber yang pernah beberapa tahun bekerja di bank tersebut.
Malinda Dee pernah menjadi account officer (AO) di Citibank cabang Landmark. Para nasabahnya pejabat dan orang-orang kaya, khususnya para pengusaha pribumi. “Setahu saya, Malinda punya prestasi yang sangat bagus,” kata dia yang pernah satu kantor dengan Malinda itu.
“Dia sangat senior dan menjadi panutan di Citibank karena jago mengelola nasabah. Yang saya dengar, dia sudah bekerja di Citibank sudah 15 tahunan,” ujar sumber yang lain. Sehari-hari, dia mengantor dengan mengendarai mobil mewah. Salah satunya mobil Mercedes S 300.
Karena prestasinya, Malinda menjadi Senior Relation Manager Citigold. Jadi, dia memang khusus menangani para nasabah besar yang memiliki deposito di atas Rp 500 juta.
Selama ini, Malinda dikenal sebagai orang yang baik, murah senyum dan berbicara sangat santun. “Dia memang jago dan piawai mengelola hubungan dengan nasabah Citigold, karena memang dia sudah lama di Citibank. Cara bicaranya pelan, santun, murah senyum, baik,” ujar dia.
Karena itu, narasumber ini mengaku terkejut mendengar Malinda Dee ditahan aparat kepolisian dengan dugaan penggelapan dana nasabah. “Semua karyawan Citibank yang bekerja di Landmark, pasti kenal dia,” kata dia.
Sumber itu juga mengakui bahwa Malinda memang cantik dan memiliki postur tubuh yang menarik, meski ada informasi miring yang beredar di kalangan karyawan tentang kecantikannya itu. Usia Malinda juga masih simpang siur. “Ada yang bilang dia sekitar 37 tahun, tapi ada yang bilang sebenarnya usia dia sekitar 45 tahun. Saya gak tahu persis,” kata dia.
Mabes Polri mengungkap kasus penggelapan dana nasabah di Citibank ini pada Jumat (25/3/2011) atas laporan nasabah. Polisi telah menangkap Malinda dan menyita sejumlah barang bukti, antara lain dokumen-dokumen transaksi dan 1 unit mobil merek Hummer-3 Luxury Sport Utility B 18 DIK yang ditaksir senilai Rp 3,4 miliar.
Malinda dijerat pasal 49 ayat 1 dan 2 UU no 7 tahun 1992 sebagaimana diubah dengan UU no 10 tahun 1998 tentang perbankan dan atau pasal 6 UU no 15 tahun 2002 sebagaimana diubah dengan UU no 25 tahun 2003 sebagaimana diubah dengan UU no 8 tahun 2010 tentang tindak pidana pencucian uang.
Citibank telah menyampaikan rilis mengenai kasus ini. Citibank menjamin perlindungan bagi nasabahnya terkait kasus penggelapan dana Rp 17 miliar itu. Citibank menegaskan semua nasabah aman dan akan diberi penggantian bagi yang dirugikan.
“Adalah komitmen kami untuk melindungi kepentingan nasabah kami, termasuk secepatnya mengembalikan kerugian yang dialami oleh nasabah yang hilang melalui transaksi tidak sah di dalam rekening mereka secara adil dan tepat waktu,” kata Director Country Corporate Affairs Head Citi Indonesia, Ditta Amahorseya dalam siaran pers, Senin (28/3/2011) kemarin.
Dia menjelaskan peristiwa penggelapan oleh MD merupakan kejadian yang hanya terjadi di satu tempat dan pihak Citibank telah bertindak cepat untuk menghubungi seluruh nasabah yang mungkin terkena dampak buruk. “Kami bekerja sama dengan seluruh pihak berwenang terkait. Staf yang terlibat tidak lagi bekerja pada kami,” kata Ditta.
Namun, Ditta belum bisa memberikan komentar lebih lanjut mengenai kasus ini, karena masih dalam penyelidikan. Dalam rilisnya, Ditta juga tidak menjelaskan mengenai identitas MD, termasuk riwayat bekerja di Citibank.
(asy/asy)
++++++++++
Selasa, 29/03/2011 11:15 WIB
Polisi Fokus Kejar Uang Nasabah Citibank Rp 17 M yang Ditilep MD
Indra Subagja – detikNews

Jakarta – Polisi masih memeriksa intensif MD, wanita cantik tersangka penilepan dana nasabah Citibank Rp 17 miliar. MD yang sudah dipecat dari bank terkemuka itu ditengarai sudah membelanjakan uangnya untuk membeli sejumlah barang mahal.
“Kita upayakan recovery aset,” kata Direktur II Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Arief Sulistyo saat dihubungi detikcom, Selasa (29/3/2011).
Polisi sudah menyita 1 unit mobil merek Hammer-3 Luxury Sport Utility B 18 DIK yang ditengarai seharga Rp 3,4 miliar. Polisi tengah menyelidiki dugaan keterlibatan pihak lain.
“Ini white collar crime, sabar dulu. Kita masih kembangkan,” tuturnya.
MD dijerat pasal 49 ayat 1 dan 2 UU No 7 tahun 1992 sebagaimana diubah dengan UU No 10 tahun 1998 tentang perbankan dan atau pasal 6 UU No 15 tahun 2002 sebagaimana diubah dengan UU No 25 tahun 2003 sebagaimana diubah dengan UU No 8 tahun 2010 tentang tindak pidana pencucian uang.
Citibank telah memastikan bahwa MD kini sudah tidak lagi bekerja di Citibank. Citibank juga bertindak cepat mengganti dana nasabah yang diduga ditilep MD.
Siapa MD? Baik polisi maupun Citibank tidak mau mengungkap identitas perempuan tersebut. Namun, di jejaring sosial, MD disebut inisial dari Melinda Dee. Dia dikenal sebagai perempuan yang cantik yang sudah lama bekerja di Citibank.
++++++++++++
Selasa, 29/03/2011 13:13 WIB
Pembobol Citibank Rp 17 M
Foto MD Semasa SMA Juga Beredar
Gagah Wijoseno – detikNews

Dulu dan sekarang
Jakarta- MD menjadi obrolan panas terkait pembobolan Rp 17 miliar dana nasabah Citibank maupun fotonya yang bling-bling. Fotonya ramai dipertukarkan lewat forum diskusi di Internet, Twitter, hingga BBM.
Selain foto, identitasnya juga pelan-pelan dibuka. Bahkan foto masa lalunya juga dilempar ke Twitter. “Foto Malinda Dee Jaman masih SMA di SMA 6 Angkatan 81, paling depan dengan Poni Jamboel,” tulis seorang Tweep, Selasa (29/3/2011). Karena masih jadoel, wajar bila penampilan MD semasa remaja tidak sekinclong sekarang. Foto itu juga menyebar ke piranti komunikasi lainnya.
Asal usul MD juga didikusikan. Ada yang menyebut dia memiliki nama depan Inong dan lahir pada 5 Juli 1965. Ada juga yang membicarakan ikhwal Hummer dan Mercy miliknya yang diduga bermasalah.
Hingga kini baik polisi maupun Citibank tidak mau mengungkap identitas tersangka yang kini ditahan polisi tersebut. Namun, di jejaring sosial, MD disebut inisial dari Malinda Dee. Dia dikenal sebagai perempuan yang cantik yang sudah lama bekerja di Citibank. Dia disebut-sebut punya pangkat tinggi di bank elite itu.
MD dijerat pasal 49 ayat 1 dan 2 UU No 7 tahun 1992 sebagaimana diubah dengan UU No 10 tahun 1998 tentang perbankan dan atau pasal 6 UU No 15 tahun 2002 sebagaimana diubah dengan UU No 25 tahun 2003 sebagaimana diubah dengan UU No 8 tahun 2010 tentang tindak pidana pencucian uang.
Citibank telah memastikan bahwa MD kini sudah tidak lagi bekerja di Citibank. Citibank juga bertindak cepat mengganti dana nasabah yang diduga ditilep MD.
++++
Selasa, 29/03/2011 18:14 WIB
Polisi Benarkan Suami MD Berinisial AG
Aprizal Rahmatullah – detikNews

MD dan satu mobil mewahnya.
BERITA TERKAIT
- Selasa, 29/03/2011 16:59 WIB
Uang Citibank Rp 17 M Ditilep
Polisi: Suami MD Pernah Jadi Bintang Iklan - Selasa, 29/03/2011 16:07 WIB
Polisi Cari Sedan Ferrari Milik MD, Penilep Dana Nasabah Citibank - Selasa, 29/03/2011 15:51 WIB
Uang Nasabah Rp 17 M Ditilep
Selain Mobil Hummer, Polisi Juga Sita Mercy Milik MD - Selasa, 29/03/2011 14:14 WIB
Polisi Tangkap Teller Citibank Anak Buah MD - Selasa, 29/03/2011 11:16 WIB
Diduga Gelapkan Rp 17 M, MD Punya Pangkat Tinggi di Citibank
SELENGKAPNYA
Jakarta – Mabes Polri sedikit demi sedikit menguak identitas suami MD, tersangka kasus pembobolan dana nasabah Citibank senilai Rp 17 miliar. Polri membenarkan bahwa suami MD adalah seorang bintang iklan berinitial AG.
Kadivhumas Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam mengatakan, masih menyelidiki keterlibatan sang suami. Saat ini status sang suami yang berinisial nama AG masih sebatas saksi.
“Suami itu benar (AG),” kata Anton melalui pesan singkat, Selasa (29/3/2011).
Informasi yang dikumpulkan, diduga kuat AG adalah kependekan dari Andhika Gumilang. Saat, MD ditahan, Kamis (17/3) lalu, AG yang beberapa tahun lalu membintangi iklan rokok tersebut terlihat mendampingi istrinya di kantor Bareskrim Mabes Polri. Kabarnya, AG berumur 22 tahun.
Polisi juga telah menyita dua mobil mewah milik MD yakni 1 unit mobil merek Hummer-3 Luxury Sport Utility B 18 DIK yang ditaksir senilai Rp 3,4 miliar dan Mercedez S300. Mobil Hummer dimiliki atas nama suami MD dan Mercedez atas nama anaknya.
Dua mobil tersebut diduga memiliki kaitan dengan tindak pidana yang dilakukan MD. MD diduga melakukan pembobolan dana nasabah Citibank senilai Rp 17 milliar.
MD diduga bernama Malinda Dee. Ia merupakan salah seorang karyawati Citibank senior. Selain MD, polisi juga menangkap D, teller Citibank yang diduga ikut serta dalam pembobolan tersebut.
“Ditangkap tadi pagi jam 04.00 WIB di Bintaro,” ungkap Anton.
Malinda dijerat pasal 49 ayat 1 dan 2 UU no 7 tahun 1992 sebagaimana diubah dengan UU no 10 tahun 1998 tentang perbankan dan atau pasal 6 UU no 15 tahun 2002 sebagaimana diubah dengan UU no 25 tahun 2003 sebagaimana diubah dengan UU no 8 tahun 2010 tentang tindak pidana pencucian uang.
Citibank telah menyampaikan rilis mengenai kasus ini. Mereka menjamin perlindungan bagi dana milik nasabahnya terkait kasus penggelapan dana Rp 17 miliar itu. Citibank menegaskan semua nasabah aman dan akan diberi penggantian bagi yang dirugikan.
“Adalah komitmen kami untuk melindungi kepentingan nasabah kami, termasuk secepatnya mengembalikan kerugian yang dialami oleh nasabah yang hilang melalui transaksi tidak sah di dalam rekening mereka secara adil dan tepat waktu,” kata Director Country Corporate Affairs Head Citi Indonesia, Ditta Amahorseya dalam siaran pers, Senin (28/3/2011) kemarin.
+++
Pembobol Citibank Bernama Inong Melinda, Bukan Melinda Dae
TEMPO Interaktif, Jakarta – Mantan Relationship Manager Citibank yang juga tersangka pencurian dan penggelapan dana nasabah bukan bernama Melinda Dee. Menurut Juru Bicara Markas Besar Polri Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam nama asli Melinda adalah Inong Melinda, bukan Melinda Dee yang selama ini ditulis media.
Berita terkait
“Nama asli dia Inong Melinda, di kantornya gunakan nama Melinda,” kata Anton di kantornya, Kamis (31/3).
Melinda merupakan mantan pegawai Citibank yang mencuri dan menggelapkan uang nasabah sebesar Rp 17 miliar. Dana tersebut dialirkan Melinda dengan bantuan temannya yang merupakan teller Citibank, Dwi. Menurut Anton, polisi mengungkap kasus tersebut berdasar laporan dari Citibank. “Dua pekan lalu pihan bank melapor, kan banknya tidak mau ketumpuan juga,” kata dia.
Uang yang ditilep Melinda itu, dialirkannya ke sejumlah bank di Jakarta. Dari rekening tersebut, dana itu dialirkan ke beberapa perusahaan. “Pada akhirnya uangnya masuk ke perusahaan milik Melinda yang atas nama orang lain.” Namun sampai sekarang Anton belum mau menyebutkan bergerak di bidang apa perusahaan tersebut. “Yang pasti ada di Jakarta,” ujarnya.
Polisi menangkap MD pada Rabu tanggal 23 Maret pekan lalu. Sejak ditangkap, perempuan berusia 47 tahun itu ditahan di ruang tahanan Bareskrim Mabes Polri. Namun hingga hari ini, Anton belum mau menjelaskan lokasi penangkapan MD. Sedangkan dari penangkapan tersebut, polisi menyita sejumlah dokumen berupa bukti transaksi, mobil Hummer, dan Mercedes Benz.
CORNILA DESYANA
+++++++++++
Buru Aset Malinda di Dua Benua
Dugaan Penggelapan Dana Nasabah Citibank
JAKARTA-Mabes Polri terus membongkar skandal penggelapan dana nasabah Citibank oleh Malinda Dee. Sosialita cantik 47 tahun itu diperiksa secara maraton oleh penyidik Direktorat II Ekonomi Khusus (Eksus) Bareskrim Polri. Sejak Kamis (24/3), Malinda diperiksa tujuh jam sehari. Dalam pemeriksaan, polisi menduga Malinda menyembunyikan hartanya di dua benua. Australia dan Inggris (Eropa).
Karena itu, kemarin Malinda terlihat tertekan dalam menghadapi kasus tersebut. Akibatnya, keterangan yang diperoleh penyidik dari dia sering berubah-ubah. “Kami siapkan penyidik perempuan untuk mendampingi, bukan mengistimewakan. melainkan untuk memperlancar penyidikan,” ujar sumber INDOPOS kemarin.
Malinda ditahan di Rutan Bareskrim. Malinda diperiksa di ruang eksus di lantai 3 gedung Bareskrim. “Break (istirahat. Red) hanya Minggu,” tutur dia. Barang-barang Malinda sudah diantar oleh Andhika, suaminya, dalam sebuah travel bag berwarna meTah.
Malinda juga belum secara terbuka mengakui perbuatannya. Terutama soal korban-korbannya, dia mengaku lupa,” ujar dia. Namun, pengakuan itu bisa dipatahkan oleh penyidik berdasar dokumen yang disita dari apartemen dan bekas ruangnya di Citibank. “Dia overconfident (sangat percaya diri. Red). Berkas-berkas tidak dimusnahkan,” tambah perwira muda tersebut Saat ini penyidik masih berkonsentrasi mendalami modus dan jumlah korban Malinda. “Ada pengusaha dan politisi yang dia kenal baik. Dari dokumen yang kami temukan, ada jejak namanya. Tapi, kami belum tahu, apakah hubungannya legal atau ikut menjadi korban,” tambah dia.
Secara terpisah, Direktur II Eksus Bareskrim Polri Brigjen Arief Sulistyanto membenarkan adanya penyidik perempuan yang ikut memeriksa Malinda. Namun, menurut Arief, Malinda baik-baik saja. “Dia sehat, tidak apa-apa,” tutur Arief.
Penyidik juga tidak akan menangguhkan penahanan Malinda. “Anda lihat ancaman hukumannya, jelas tidak mungkin,” ungkap dia. Mantan koordinator staf pribadi Kapolri itu menyatakan masih sangat dini untuk menjelaskan skandal Malinda secara terbuka. “Kami pasti paparkan nanti ke publik. Tunggu humas saja,” terang dia.
Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Anton Bachrul Alam menjelaskan, pemeriksaan Malinda berkembang ke arah strategi penggelapan. Mantan Kapolda Jatim tersebut menambahkan, penyidik kini berupaya menelusuri aset Malinda di Indonesia maupun luar negeri. “Kalau terkait, bisa saja ikut disita,” katanya.
Perwira tinggi polisi ini mengatakan, modus penggelapan yang dilakukan Malinda dengan cara menyuruh tersangka lain, Dewi. Teller ini disuruh memindahkan transaksi atau mentransfer dana nasabah ke sebuah rekening di bank lain tanpa sepengetahuan nasabah sebagai pemilik uang. Dana nasabah Citibank yang sudah ditransfer ke bank lain itu masuk ke rekening perusahaan Malinda di bank itu.
Slip (blanko) kosong itulah yang diisi Malinda dengan data-data dan tanda tangan nasabah yang dipalsukan Malinda seakan-akan nasabah itu sendiri yang meminta dilakukan pen-transferan uang ke rekening bank lain.
“MD (Malinda Dee) bisa melakukan (kejahatan) itu karena dibantu teller (Dewi) di bank itu. Dia (Dewi) kan teller. Dia transfer ke rekening PT apa di bank lain, tapi ternyata PT itu punya MD, tapi atas nama orang lain. Jadi disamarkan,” ungkap Anton. Dewi sendiri ditangkap Selasa dini hari (29/3) lalu di rumah mewahnya di kawasan Bintaro Tanggerang Selatan.
Ia melanjutkan, dengan modus tersebut uang nasabah yang dicuri Malinda dari rekening nasabah agak lama baru terungkap lantaran uang di rekening nasabah yang dipegang Malinda lumayan besar. Sehingga, banyakyang tidak sadar kalau dananya sudah dicuri dengan menggunakan transfer palsu di rekeningnya. “Yang disamarkan bisa sampai Rp 2 miliar. Tapi kan rekeningnya besar-besar dan banyak,” terangnya perwira berkumis tipis ini.
Ia melanjutkan, pihaknya juga masih menyelidiki secara terperinci bagaimana uang nasabah dapat digunakan Malinda. Tang jelas perusahaannya punya dia,” imbuhnya tanpa mau menyebut nama perusahaan itu maupun bergerak di bidang usaha apa. “Perusahaan besarlah,” tukasnya.
Sedang terkait keberadaan sedan mewah Ferrari Cabriolet, polisi masih melacak keberadaannya. Namun diketahui, kalau Ferrari diserahkan janda beranak satu itu itu kepada anaknya yang masih berusia 16 tahun.
Kabareskrim Komjen Ito Sumardi membenarkan bahwa anak buahnya kini melacak jejak duit Malinda ke luar negeri. “Mungkin ada di Australia dan London,” ungkap Ito. Dikatakan, penyembunyian harta di dunia benua sekaligus tersebut untuk mempersulit aparat dalam mengendus keberadaan hartanya.
Mantan Kapolwiltabes Surabaya tersebut juga membenarkan bahwa penyidik mendalami peran pihak lain dalam kasus Malinda. “Rasanya, tidak mungkin dia sendirian. Tapi, penyidik tidak boleh berdasar pada dugaan, harus ada fakta,” tegas Ito.
Secara terpisah. Kepala PPATK Yunus Husein menyatakan siap membantu Bareskrim dalam mengusut tuntas skandal itu. “Kami selama ini selalu bekerja sama dalam white collar crime. Silakan saja,” ucap Yunus melalui pesan singkat kemarin.
Dihubungi sebelumnya, Direktur Country Corporate Affairs Head Citibank Ditta Amahorseya mengatakan, pihaknya menyerahkan sepenuhnya kasus tersebut ke pihak kepolisian. “Perlu diketahui, kamilah yang pertama melaporkan kasus ini ke polisi, bukan orang lain,” katanya.
Sebab, kata perempuan berkacamata itu, pihaknya menemukan kejanggalan dalam pembukuan. “Kami sebelumnyajuga telah melakukan investigasi mendalam, memeriksa berkas, serta adanya kejanggalan transaksi antara nasabah dengan MD (Melinda, Red). Karena ada kerancuan dalam transaksi, maka kami lapor polisi,” tukasnya saat ditemui INDOPOS di Citibank Tower, Jakarta Selatan, siang kemarin.
Ditta menambahkan, dana nasabah bank dibobol Melinda hanya berasal dari cabang Jakarta. “Kami sudah menghubungi satu persatu nasabah yang dirugikan. Kami akan mengganti dana nasabah transaksi tidak adil ini tepat waktu,” katanya, (ind/rdl)
+++++++++++

INILAH.COM, Jakarta – Tersangka pembobol dana nasabah Citibank Inong Melinda alias Malinda Dee sangat dikenal kalangan pengusaha papan atas sebagai figur yang lihai merayu.
Seorang pengusaha minyak ternama di Indonesia, mengakui dirinya mengenal Melinda sejak lama. Dia mengenal perempuan yang sebelumnya disebut berinisial MD itu sejak masih menjadi Relationship Manager hingga naik menjadi Vice President.
Menurutnya, Melinda adalah pribadi yang sangat supel dan pintar. Kecerdasan Melinda bukan hanya dalam hal perbankan melainkan juga mampu merayu dan meyakinkan nasabah untuk berinvestasi di Citibank.”Saya beberapa kali ditraktir oleh dia di tempat-tempat berkelas. Memang Mel ini sangat pintar merayu,” ujar pengusaha yang minta identitasnya disembunyikan kepada INILAH.COM, Kamis (31/3/2011).
Pengusaha yang mantan anggota DPR itu juga menuturkan, dalam melakukan lobi ataupun pendekatan, Melinda selalu tampil meyakinkan. Untuk sekadar makan siang, Melinda selalu menggunakan mobil Mercy mewahnya.
Agar calon nasabahnya tertarik berinvestasi, Melinda juga tak segan-segan melancarkan rayuan maut yang membuat nasabah bertekuk lutut. “Saya tidak perlu jelaskan seperti apa, orang sudah paham,” tegas pengusaha itu.
Seperti diberitakan, Jumat (24/3/2011) Mabes Polri resmi mengumumkan MD sebagai tersangka pembobolan dana nasabah Citibank sebesar Rp17 miliar. Dalam melancarkan aksinya, MD tak sendiri.Dia berkomplot dengan rekan kerjanya berinisial D yang menjabat sebagai teller Citibank. Diduga masih ada karyawan Citibank lainnya yang ikut berkomplot dengan MD. [mah]
+++++++++++
Inilah Jurus Maut Melinda Merayu Nasabah Citibank
INILAH.COM, Jakarta – Dalam meyakinkan nasabah atau calon nasabah Citibank, Inong Melinda alias Malinda Dee (MD) memiliki jurus jitu dan ampuh.
Agar costumer nyaman dan yakin, Melinda mengajak pertemuan di hotel mewah atau restoran berkelas. Semua biaya pertemuan ditanggung oleh Melinda sehingga costumer diperlakukan layaknya raja.
“Saya diajak makan di Kartika Chandra, semua dia (Melinda) yang bayar soalnya dia yang traktir,” ujar seorang pengusaha resor wisata kepada INILAH.COM, Kamis (31/3/2011).
Setelah mengajak makan siang atau makan malam, Melinda melanjutkan pembicaraan lebih intens dengan costumer di sebuah exclusive lounge dengan jamuan first class.
Tak lupa, Melinda membawa dua wanita cantik mendampinginya selama pertemuan. Kedua wanita pendamping itu ikut ‘nimbrung’ membahas tentang perbankan dan dunia investasi.
“Mel kalau pakai baju memang suka pakai baju begitu (seksi, red) dan berkelas, makanya saya yakin dia memang profesional,” ujarnya.
Seperti diberitakan, Jumat (24/3/2011) Mabes Polri resmi mengumumkan MD sebagai tersangka pembobolan dana nasabah Citibank sebesar Rp17 miliar. Dalam melancarkan aksinya, MD tak sendiri.
Dia berkomplot dengan rekan kerjanya berinisial D yang menjabat sebagai teller Citibank. Diduga masih ada karyawan Citibank lainnya yang ikut berkomplot dengan MD. [mah]
Citibank: Malinda Isi Form Kosong Milik Nasabah
3 Atasan Malinda di Citibank Jadi Tersangka
Headline
Inong Malinda Dee – inilah.com/Agus Priatna
Oleh: Soemitro
Metropolitan – Kamis, 8 Desember 2011 | 17:47 WIB
TERKAIT
* Wow, Harga Tas Malinda Dee Ratusan Juta
* Irzen Okta, Datang Bugar Lalu Terbujur Kaku
* Malinda Juga Pemegang Saham di 4 Perusahaan
* Malinda Kirim Rp2 Miliar ke PT Sarwahita
* Gaji & Bonus Malinda di Citibank Setahun Rp1 M
Powered by Translate
INILAH.COM, Jakarta – Tiga atasan Inong Malinda Dee di Citibank ditetapkan Mabes Polri jadi tersangka baru dalam kasus penggelapan uang milik nasabah Citibank.
Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Saud Usman Nasution, mengungkapkan, ketiga tersangka itu adalah RH, SW dan RJ.
RH merupakan atasan Malinda Dee di Citibank yang menjabat sebagai Citigold Executive Head, SW sebagai Cash Supervisor Manager dan RJ selaku Cash Official Manager.
“Kepengurusan di perusahaan itu komisaris utamanya adalah Rieta Amalia Beta, sedangkan Komisaris Inong Malinda Dee, kemudian Direktur adalah Reniwati Hamid,” ungkapnya di Mabes Polri, Kamis (8/12/2011)
Saud membantah tentang kabar pemblokiran rekening Malinda. Mantan Kapolda Lampung ini menerangkan, Polri tidak memblokir rekening Malinda, melainkan rekening milik Rieta Amalia Beta.
“Benar penyidik telah melakukan pemblokiran terhadap rekening pribadi atas nama Rieta Amalia Beta di Citibank Landmark dengan surat permohonan pemblokiran dari kita. Jadi bukan rekening atas nama Malinda Dee, tapi atas nama Rieta Amalia Beta,” imbuhnya.
Surat pemblokiran, tambah Saud, bernomor R62/IIIY 2011 dan ditandatangani oleh direktur tindak pidana ekonomi khusus pada 23 maret 2011 lalu.
Rekening tersebut diblokir karena diduga terkait dengan adanya aliran yang masuk ke rekening pribadi Rieta. Khususnya pada aliran dana tertanggal 14 Agustus 2009 sebesar Rp 5 mliar dari PT Sarwahita Global Manajemen.
Perusahaan itu, imbuh Saud lagi, merupakan tempat yang dijadikan penampungan sementara hasil kejahatan perbankan yang dilakukan Malinda Dee yang berasal dari Citibank Landmark. [mah]
Possibly related posts: (automatically generated)
Posted on Tuesday, March 29th, 2011 at 12:33 pm in 1001, indonesia edane | RSS feed | Respond | Trackback URL | Edit this entry.