http://www.kaltimpost.web.id/index.php?mib=berita.detail&id=42964
Miliki Areal 3.400 Hektare, Kapasitas Produksi 1.500 Ton per Hari
“Tolong, Mas. Kami tidak tahu ke mana lagi harus mengadu. Kami sudah gagal bertemu Pak Gubernur. Kami juga akan mengadu ke Pak Presiden. Kami paham kondisi perusahaan memang sedang sulit. Tapi kami juga lapar, perlu makan untuk anak dan istri,” keluh Fathul Rahman, sekretaris Serikat Pekerja Perkayuan dan Perhutanan Indonesia Unit PT Kertas Nusantara.
Tatapan pria itu sesekali kosong. Jus alpukat yang seharusnya nikmat di tenggorokan, tak disentuhnya. Dengan suara tercekat, dia berusaha menjelaskan bagaimana kondisi sulit yang saat ini dihadapi karyawan perusahaan bubur kertas (pulp) PT Kertas Nusantara, yang dulu bernama PT Kiani Kertas.
Fathul yang terlihat masih lelah setelah menempuh perjalanan darat dari Berau ke Samarinda, belum mengetahui jika saya pernah menginjakkan kaki di perusahaan yang berlokasi di Desa Mangkajang Kecamatan Sambaliung – Berau itu.
Ia tidak sendiri bertolak ke Samarinda. Ada Syaifulah Tanjung sebagai ketua tim, serta karyawan lainnya yakni Gaya, Hotmidin, dan Syahransyah.
Sejak ia memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud untuk bertemu di sebuah mal di Samarinda, seketika itu pula, bayangan kemegahan industri bleached kraft pulp terbesar di Asia Tenggara itu menggelayut di kepala.
Masih lekat di ingatan, bagaimana kukuhnya bangun-bangunan pabrik yang berada di tepi muara sungai Berau itu. Sebagian lampu pabrik yang dibangun sejak 1990 hingga 1996 itu pun dibiarkan menyala pada siang hari, padahal ketika itu kondisi listrik di Berau kerap byar-pet.
Melalui acara yang digagas Keluarga Pelajar Mahasiswa Kabupaten Berau (KPMKB), 1997 silam saya beserta pelajar lainnya berkesempatan mengikuti study tour ke lokasi pabrik yang ketika itu dimiliki Bob Hasan, pengusaha yang dikenal dekat dengan penguasa Orde Baru Presiden Soeharto.
Sebagai siswa yang ketika itu baru naik kelas 2 di SMA Negeri 2 Berau, bisa melihat dari dekat pabrik Kiani Kertas adalah kesempatan langka. Apalagi, waktu itu pabrik baru diresmikan Presiden Soeharto, tepatnya 6 Agustus 1997.
Lelahnya perjalanan selama dua jam menggunakan kapal kayu dari Tanjung Redeb, ibu kota Kabupaten Berau, terbayar lunas ketika melihat komplek industri yang menyerupai sebuah kota mandiri.
Luas lokasi pabrik mencapai 3.400 hektare. Sebagai perbandingan, jika Komplek Masjid Islamic Center Samarinda memiliki areal seluas 12 hektare, maka luas areal milik Kiani Kertas adalah 283 kali lipat dari luas areal Komplek Masjid Islamic Center.
Lahan seluas itu diperuntukkan bukan hanya untuk area pabrik, dermaga dan gudang, tetapi juga untuk pemukiman karyawan dan sarana rekreasi. Sarana olahraga seperti lapangan sepak bola, lapangan voli, hingga meja biliar juga tersedia. Selain itu, seluas 1.260 hektare lahan lainnya diperuntukkan sebagai tempat pohon-pohon eksotis dan anggrek.
Fasilitas Bandara Lungsuran Naga juga dimiliki perusahaan ini. Bandara itu sengaja dibangun untuk mendaratkan pesawat yang membawa Presiden Soeharto, yang ketika itu meresmikan pabrik.
Pabrik ini menyerap tenaga kerja tak sedikit, sekitar 900 staf ditempatkan di lokasi pabrik. Pabrik ini awalnya juga dirancang untuk mengembangkan industri hilir perkayuan sebagai garis depan ekspor nonmigas nasional. Sebagai penghasil pulp kelas dunia, kapasitas produksinya mencapai 1.500 ton per hari, selama 350 hari per tahun. Itu berarti, dalam setahun, perusahaan hanya dirancang untuk tidak beroperasi selama 15 hari.
Dari 2002, dengan kurs 9.000 per dolar AS, aset Kiani Kertas sempat menyentuh angka 788,4 juta dolar AS atau sekitar Rp 7 triliun. Wajar jika kemudian Kiani Kertas ditahbiskan sebagai pabrik pulp terbesar di Asia Tenggara.
Masih terbayang kesibukan di dermaga, ketika kapal yang merapat mengangkut lembaran-lembaran pulp yang siap diekspor ke negara pemesan. Rombongan pelajar, ketika itu diajak berkeliling ke semua lokasi yang menjadi tahapan produksi.
Diawali dari lokasi penumpukan bahan baku kayu kertas. Di lokasi tersebut, semua kayu yang dipasok ke pabrik dipilah-pilah. Mana yang sesuai standar, dan mana yang tidak. Kayu-kayu ini kemudian dihancurkan menjadi chip atau serpihan kayu, kemudian menjalani proses kimia untuk pemutihan (bleaching). Setelah itu, dengan proses kimia pula, serpihan kayu dijadikan bubur kertas, kemudian dijadikan lembaran-lembaran bahan baku kertas.
Meski lokasi yang satu dengan lainnya berjauhan, rombongan pelajar saat itu tak merasa lelah. Maklum, semua penjelasan produksi itu dipaparkan pemandu dari dalam bus ber-AC. Sehingga rombongan cukup melihat dari balik jendela kaca bus.
Yang sulit dilupakan adalah ketika diajak ke kafetaria khusus karyawan, yang lebih menyerupai seperti mal. Di lokasi itulah, semua anggota rombongan yang jumlahnya sekitar 100 orang, bebas menikmati makanan seperti yang dimakan para karyawan pabrik ini. Seperti di food court mal, setiap orang bebas memilih apa saja. Daging rendang, ayam goreng, telur mata sapi, serta berbagai sayur dan lauk pauk lainnya. Tak ketinggalan, minuman berupa jus hingga susu segar pun, boleh dinikmati dengan bebas. Tak ketinggalan buah-buahan segar.
Pendek kata, menu yang disajikan melebihi kriteria empat sehat lima sempurna. Luas tempat makan untuk karyawan di areal pabrik itu, 10 kali lebih luas dibandingkan areal Food Court di lantai 3 Mal Lembuswana Samarinda.
Wajar pula, jika saat itu orang yang bisa diterima bekerja di perusahaan ini memiliki gengsi tersendiri. Karyawan-karyawan perusahaan batu bara, bahkan pegawai negeri sipil sekalipun, seolah minder jika melihat karyawan Kiani Kertas. Selain gaji besar, kesejahteraan karyawan terjamin, serta semua kebutuhan tercukupi. Anak-anak karyawan pun memiliki sekolah swasta tersendiri yakni SD dan SMP Cikini, dengan fasilitas antar-jemput gratis, plus guru-guru pilihan karena juga digaji lebih besar.
Jangan heran jika ketika itu, sebagian besar pelajar di Berau bercita-cita bisa diterima bekerja di perusahaan ini ketika lulus kuliah. Setiap kali bertolak ke Samarinda untuk berkuliah dengan menumpang KM Teratai, rute yang dilalui terkadang menyusuri muara Sungai Berau, melintasi Kiani Kertas. Mahasiswa yang masih duduk di semester-semester awal ketika itu, selalu bersemangat memperbincangkan keinginan bekerja di pabrik ini.
Namun, dampak dari badai krisis moneter serta makin sulitnya bahan baku, membuat perusahaan ini perlahan-lahan rapuh. Utang terus menumpuk, sehingga seluruh aset perusahaan sempat masuk dalam penjaminan di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). (endro s effendi/bersambung)