Posts tagged ‘Prabowo biz empire’

March 31, 2010

Hashim Djojohadikusumo Terjun ke Bisnis Film
Adik mantan calon wakil presiden Prabowo Subianto itu menjadi produser eksekutif film.
KAMIS, 1 APRIL 2010, 01:06 WIB
Heri Susanto

VIVAnews – Pengusaha papan atas nasional, Hashim Djojohadikusumo terjun ke industri film dengan membiayai produksi film Merah Putih.

Adik mantan calon wakil presiden Prabowo Subianto itu menjadi produser eksekutif film Merah Putih melalui perusahaan film PT Media Desa Indonesia bersama rumah produksi internasional Rob Allyn dari Margate House.

Sebelumnya, Hashim lebih dikenal sebagai sosok pengusaha di bidang energi. Dia menjadi eksekutif di Nusantara Energy yang bergerak di bisnis migas, tambang batu bara, serta perkebunan kelapa sawit.

Dulunya, di jaman Orde Baru, Hashim pernah berjaya dengan bendera Grup Tirtamas. Ketika itu, dia dikenal sebagai seorang bankir yang memiliki sejumlah bank, seperti Bank Pelita, Bank Papan Sejahtera, Bank Istismarat. Hashim juga mantan pengendali petrokimia besar, yakni Tuban Petrochemical.

Sekarang, Hashim mempunyai mainan baru, yakni bisnis di dunia hiburan. Film pertama yang diproduksi dan sudah beredar di pasar berjudul Merah Putih. Dua seri film trilogi “Merdeka” berikutnya mulai diproduksi sejak Januari 2010 lalu, masing-masing berjudul Merah Putih 2 “Darah Garuda” dan Merah Putih 3 “Hati Merdeka”.

“Tujuan pembuatan film ini sebagai upaya meneruskan nilai-nilai kejuangan kepada generasi penerus bisa tercapai,” ujarnya mengawali acara nonton bareng pelajar dan veteran di bioskop 21, Plaza Semanggi, Jakarta, 31 Maret 2010.

Menurut Hashim, film ini bukan film sejarah, melainkan dibuat dengan inspirasi sejarah otentik perjuangan Indonesia. Diinspirasi oleh kisah nyata para kadet muda belia, dua pamannya, Sujono dan Subianto yang gugur sebagai pejuang pada masa perang kemerdekaan 1946.

“Generasi muda perlu meneladani perjuangan, patriotisme, nasionalisme dan pluralisme serta persatuan bangsa yang mendorong para kadet meraih dan mempertahankan kemerdekaan,” kata dia.

Riset dan penulisan skenario digarap oleh tim bapak dan anak, Rob dan Conor Allyn. Rob adalah penulis yang pernah menerbitkan buku terlaris versi New York Times 2007, Revolution of Hope yang ditulisnya bersama mantan presiden Meksiko Vicente Fox. Pengusaha lokal yang dilibatkan adalah Syzygy Productions yang berbasis di Jakarta, milik Gary Hayes yang memproduksi film Tropic of Emerald, Anak Seribu Pulau, Bali Cries, dan Harimau Yang Lapar.

Film bercerita tentang perang, cinta, intrik, dan persaudaraan. Kisahnya menelusuri kembali jejak, tragedi, roman, humor, dan petualangan para gerilyawan yang berasal dari kelas, etnis, dan agama berbeda namun bersatu untuk kemerdekaan.

Sekarang, Hashim dikenal ikut berperan di Nusantara Energy yang bergerak di bisnis migas. Nusantara Energy juga menguasai tambang-tambang batu bara, serta perkebunan kelapa sawit.

November 11, 2009

Bisnis Prabowo yang Menggurita

Prabowo mengkonsolidasikan bisnisnya melalui induk usaha Nusantara Energy Group.
Senin, 11 Mei 2009, 10:48 WIB
Hadi Suprapto

VIVAnews – Setelah menghilang beberapa tahun paska lengsernya Presiden Soeharto pada 1998, Prabowo Subianto memilih pensiun dari dinas militer. Prabowo seolah menghilang memilih mengkonsolidasikan seluruh bisnisnya.

Putera begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo ini memilih tinggal di Amman, Yordania. Ia praktis tak pernah muncul di depan publik. Apalagi, ikut dalam hiruk-pikuk perpolitikan nasional.

Prabowo yang namanya meredup kembali mencuat menyusul keikutsertaannya dalam konvensi calon presiden Partai Golkar pada Pemilu 2004. Kemudian dalam Musyawarah Nasional VI Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan Kongres V Petani pada Desember 2004, dia terpilih menjadi Ketua Umum HKTI periode 2004-2009 menggantikan Siswono Yudo Husodo.

Seperti dikutip laman prabowosubianto.info, Senin 11 Mei 2009, mantan menantu Soeharto ini mengkonsolidasikan bisnisnya melalui induk perusahaan Nusantara Energy Group. Perusahaan ini mencakup lima sektor, yaitu industri kertas, industri kehutanan dan perkebunan, pertambangan, perikanan, dan jasa profesional.

Di Industri kertas, Nusantara Energy memiliki PT Kiani Kertas. Perusahaan yang didirikan pada 1990 ini memiliki area sebesar 3.400 hektar yang digunakan untuk pabrik kertas, perumahan karyawan, sekolah swasta, dan berbagai fasilitas perusahaan. Lokasi pabrik ini di sekitar Sungai Berau Kalimantan Timur.

Pabrik kertas milik Kiani memiliki kapasitas produksi 1.500 ton per hari atau 525 ribu ton per tahun. Perusahaan memperoleh bahan baku dari hasil perkebunan sendiri. Kiani pernah memperoleh sertifikat ISO 900-2005 sebagai perusahaan dengan manajemen yang berkualitas tinggi.

Meski sempat tersandung dalam kredit macer Bank Mandiri, utang Kiani ke bank itu sudah tidak bermasalah lagi. Kini, aset Kiani Kertas mencapai US$ 788 juta.

Di sektor kehutanan dan perkebunan, Nusantara Energy memiliki enam perusahaan, di antaranya PT Kiani Hutani Lestari, PT Belantara Pusaka, PT Tanjung Redeb Hutani, PT Kiani Lestari, PT Tusam Hutani Lestari, dan PT Tidar Kerinci Agung.

Di industri pertambangan, Nusantara Energy memiliki tujuh perusahaan, yaitu PT Energi Persada Nusantara, PT Nusantara Wahana Coal, PT Nusantara Kaltim Coal, PT Batubata Nusantara Coal, PT Kaltim Nusantara Coal, PT Nusantara Santan Coal, PT Nusantara Berau Coal.

Sedangkan di sektor perikanan, Nisantara Energi memiliki PT Jaladri Swadesi Nusantara. Lalu di sektor jasa, melalui PT Gardatama Nusantara dan PT Tribuana Antarnusa. Total aset Nusantara Energy Group lebih dari US$ 1 miliar.

++++

VIVAnews – Calon Presiden dari Partai Gerakan Indonesia Raya, Prabowo Subianto dianggap bukan saja melejit di bidang politik. Di bidang bisnis, Prabowo juga terlihat menonjol lewat bendera Nusantara Energy Group.

Kolega Prabowo, Mayor Jenderal (Purnawirawan) Johnny Wahab mengakui Prabowo termasuk pengusaha yang berhasil. Bisnisnya berkembang di berbagai bidang, seperti pertambangan batu bara, kelapa sawit, kehutanan, kertas, perikanan dan lainnya.

“Malahan, Prabowo diuntungkan oleh sistem ekonomi kapitalis seperti sekarang, karena itu atas kesadaran sendiri dia ingin mengubahnya,” ujar Johnny kepada VIVAnews beberapa waktu lalu.

Jika melihat dari situs http://www.prabowosubianto.info, Prabowo mulai berkibar di bidang bisnis pada November 2001 dengan membentuk Nusantara Energy. Ini adalah sebuah perusahaan berbasis di Indonesia yang didirikan oleh Prabowo Subianto bersama Johan Teguh Sugianto, dan Widjono Hardjanto.

Nusantara Energy merupakan holding company untuk mengkonsolidasikan berbagai sumberdaya yang bergerak di bidang berbeda-beda. Saat ini, grup bisnis ini mampu menampung tidak kurang dari 10.000 pekerja dengan total aset sebesar US$ 1 miliar.

Dalam situs itu disebutkan Nusantara Energy memiliki visi menjadi sebuah kekuatan penggerak ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat dan bangsa Indonesia. Perusahaan ini berusaha aktif dan ambil bagian menjadi pemain yang bersifat positif dalam kancah perekonomian Indonesia. Juga ingin meningkatkan nilai bagi para pemegang saham tanpa lupa turut mensejahterakan para pekerjanya.

Nusantara Energy ingin mengembangkan berbagai proyek investasi bagi sumber daya alami yang akan memberikan keuntungan dan meningkatkan pendapatan perusahaan, kesejahteraan sumber daya manusia, pemegang saham, dan pegawainya.

November 10, 2009

Mengurai Kembali Jejak PT Kertas Nusantara

http://www.kaltimpost.web.id/index.php?mib=berita.detail&id=42964

Miliki Areal 3.400 Hektare, Kapasitas Produksi 1.500 Ton per Hari

“Tolong, Mas. Kami tidak tahu ke mana lagi harus mengadu. Kami sudah gagal bertemu Pak Gubernur. Kami juga akan mengadu ke Pak Presiden. Kami paham kondisi perusahaan memang sedang sulit. Tapi kami juga lapar, perlu makan untuk anak dan istri,” keluh Fathul Rahman, sekretaris Serikat Pekerja Perkayuan dan Perhutanan Indonesia Unit PT Kertas Nusantara.

Tatapan pria itu sesekali kosong. Jus alpukat yang seharusnya nikmat di tenggorokan, tak disentuhnya. Dengan suara tercekat, dia berusaha menjelaskan bagaimana kondisi sulit yang saat ini dihadapi karyawan perusahaan bubur kertas (pulp) PT Kertas Nusantara, yang dulu bernama PT Kiani Kertas.

Fathul yang terlihat masih lelah setelah menempuh perjalanan darat dari Berau ke Samarinda, belum mengetahui jika saya pernah menginjakkan kaki di perusahaan yang berlokasi di Desa Mangkajang Kecamatan Sambaliung – Berau itu.

Ia tidak sendiri bertolak ke Samarinda. Ada Syaifulah Tanjung sebagai ketua tim, serta karyawan lainnya yakni Gaya, Hotmidin, dan Syahransyah.

Sejak ia memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud untuk bertemu di sebuah mal di Samarinda, seketika itu pula, bayangan kemegahan industri bleached kraft pulp terbesar di Asia Tenggara itu menggelayut di kepala.

Masih lekat di ingatan, bagaimana kukuhnya bangun-bangunan pabrik yang berada di tepi muara sungai Berau itu. Sebagian lampu pabrik yang dibangun sejak 1990 hingga 1996 itu pun dibiarkan menyala pada siang hari, padahal ketika itu kondisi listrik di Berau kerap byar-pet.

Melalui acara yang digagas Keluarga Pelajar Mahasiswa Kabupaten Berau (KPMKB), 1997 silam saya beserta pelajar lainnya berkesempatan mengikuti study tour ke lokasi pabrik yang ketika itu dimiliki Bob Hasan, pengusaha yang dikenal dekat dengan penguasa Orde Baru Presiden Soeharto.

Sebagai siswa yang ketika itu baru naik kelas 2 di SMA Negeri 2 Berau, bisa melihat dari dekat pabrik Kiani Kertas adalah kesempatan langka. Apalagi, waktu itu pabrik baru diresmikan Presiden Soeharto, tepatnya 6 Agustus 1997.

Lelahnya perjalanan selama dua jam menggunakan kapal kayu dari Tanjung Redeb, ibu kota Kabupaten Berau, terbayar lunas ketika melihat komplek industri yang menyerupai sebuah kota mandiri.

Luas lokasi pabrik mencapai 3.400 hektare. Sebagai perbandingan, jika Komplek Masjid Islamic Center Samarinda memiliki areal seluas 12 hektare, maka luas areal milik Kiani Kertas adalah 283 kali lipat dari luas areal Komplek Masjid Islamic Center.

Lahan seluas itu diperuntukkan bukan hanya untuk area pabrik, dermaga dan gudang, tetapi juga untuk pemukiman karyawan dan sarana rekreasi. Sarana olahraga seperti lapangan sepak bola, lapangan voli, hingga meja biliar juga tersedia. Selain itu, seluas 1.260 hektare lahan lainnya diperuntukkan sebagai tempat pohon-pohon eksotis dan anggrek.

Fasilitas Bandara Lungsuran Naga juga dimiliki perusahaan ini. Bandara itu sengaja dibangun untuk mendaratkan pesawat yang membawa Presiden Soeharto, yang ketika itu meresmikan pabrik.

Pabrik ini menyerap tenaga kerja tak sedikit, sekitar 900 staf ditempatkan di lokasi pabrik. Pabrik ini awalnya juga dirancang untuk mengembangkan industri hilir perkayuan sebagai garis depan ekspor nonmigas nasional. Sebagai penghasil pulp kelas dunia, kapasitas produksinya mencapai 1.500 ton per hari, selama 350 hari per tahun. Itu berarti, dalam setahun, perusahaan hanya dirancang untuk tidak beroperasi selama 15 hari.

Dari 2002, dengan kurs 9.000 per dolar AS, aset Kiani Kertas sempat menyentuh angka 788,4 juta dolar AS atau sekitar Rp 7 triliun. Wajar jika kemudian Kiani Kertas ditahbiskan sebagai pabrik pulp terbesar di Asia Tenggara.

Masih terbayang kesibukan di dermaga, ketika kapal yang merapat mengangkut lembaran-lembaran pulp yang siap diekspor ke negara pemesan. Rombongan pelajar, ketika itu diajak berkeliling ke semua lokasi yang menjadi tahapan produksi.

Diawali dari lokasi penumpukan bahan baku kayu kertas. Di lokasi tersebut, semua kayu yang dipasok ke pabrik dipilah-pilah. Mana yang sesuai standar, dan mana yang tidak. Kayu-kayu ini kemudian dihancurkan menjadi chip atau serpihan kayu, kemudian menjalani proses kimia untuk pemutihan (bleaching). Setelah itu, dengan proses kimia pula, serpihan kayu dijadikan bubur kertas, kemudian dijadikan lembaran-lembaran bahan baku kertas.

Meski lokasi yang satu dengan lainnya berjauhan, rombongan pelajar saat itu tak merasa lelah. Maklum, semua penjelasan produksi itu dipaparkan pemandu dari dalam bus ber-AC. Sehingga rombongan cukup melihat dari balik jendela kaca bus.

Yang sulit dilupakan adalah ketika diajak ke kafetaria khusus karyawan, yang lebih menyerupai seperti mal. Di lokasi itulah, semua anggota rombongan yang jumlahnya sekitar 100 orang, bebas menikmati makanan seperti yang dimakan para karyawan pabrik ini. Seperti di food court mal, setiap orang bebas memilih apa saja. Daging rendang, ayam goreng, telur mata sapi, serta berbagai sayur dan lauk pauk lainnya. Tak ketinggalan, minuman berupa jus hingga susu segar pun, boleh dinikmati dengan bebas. Tak ketinggalan buah-buahan segar.

Pendek kata, menu yang disajikan melebihi kriteria empat sehat lima sempurna. Luas tempat makan untuk karyawan di areal pabrik itu, 10 kali lebih luas dibandingkan areal Food Court di lantai 3 Mal Lembuswana Samarinda.

Wajar pula, jika saat itu orang yang bisa diterima bekerja di perusahaan ini memiliki gengsi tersendiri. Karyawan-karyawan perusahaan batu bara, bahkan pegawai negeri sipil sekalipun, seolah minder jika melihat karyawan Kiani Kertas. Selain gaji besar, kesejahteraan karyawan terjamin, serta semua kebutuhan tercukupi. Anak-anak karyawan pun memiliki sekolah swasta tersendiri yakni SD dan SMP Cikini, dengan fasilitas antar-jemput gratis, plus guru-guru pilihan karena juga digaji lebih besar.

Jangan heran jika ketika itu, sebagian besar pelajar di Berau bercita-cita bisa diterima bekerja di perusahaan ini ketika lulus kuliah. Setiap kali bertolak ke Samarinda untuk berkuliah dengan menumpang KM Teratai, rute yang dilalui terkadang menyusuri muara Sungai Berau, melintasi Kiani Kertas. Mahasiswa yang masih duduk di semester-semester awal ketika itu, selalu bersemangat memperbincangkan keinginan bekerja di pabrik ini.

Namun, dampak dari badai krisis moneter serta makin sulitnya bahan baku, membuat perusahaan ini perlahan-lahan rapuh. Utang terus menumpuk, sehingga seluruh aset perusahaan sempat masuk dalam penjaminan di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). (endro s effendi/bersambung)

November 10, 2009

PENCABUTAN GUGATAN PAILIT Allied Ever Investment Cabut Gugatan Terhadap Kertas Nusantara

Kontan 05 Juni 2009 | 09:29

JAKARTA. Lagi-lagi Allied Ever Investment Ltd mencabut pemohonan gugatan pailit terhadap PT Kertas Nusantara yang dulunya bernama PT Kiani Kertas. Sebelumnya, Allied juga pernah melakukan hal yang sama.

Seharusnya, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menggelar sidang permohonan pailit ini, kemarin (4/6). Namun, sesaat sebelum sidang dimulai, Ketua Majelis Hakim Reno Listowo mengatakan ada surat permohonan pencabutan gugatan pailit dari Allied Ever Investment.

Surat permohonan ini dikirim kuasa hukum Allied Ever Investment, Tiyse Herlina Yunus yang meminta hakim menghentikan persidangan karena klienya dan Kertas Nusantara sepakat berdamai. “Ada upaya dari tergugat untuk melunasi hutangnya,” ujar Tisye.

Tapi lucunya, kuasa hukum Kertas Nusantara Max Adrian, mengaku belum tahu soal usaha perdamaian itu. “Saya tidak tahu apa-apa dan belum bisa berkomentar,” ujar Max.

Sebelumnya, Allied juga pernah mencabut surat permohonan pailit pada Januari 2009 silam. Kala itu PN Jakarta Pusat menerima bahkan menyiapkan jadwal sidang pada Januari 2009. Namun mendekati hari sidang, Allied tiba-tiba mencabut permohonannya dan bersedia berdamai saat itu juga. Gugatan pailit berawal karena Kertas tak melunasi utangnya US$ 20 juta yang telah jatuh tempo.

November 10, 2009

Kreditur Asing Pailitkan Kertas Nusantara Lagi

(kontan)
Rabu, 03 Juni 2009 | 10:20

JAKARTA. Setelah sempat menarik gugatan awal tahun ini, akhirnya, Allied Ever Investment Ltd., perusahan investasi asal Hongkong, kembali memasukkan gugatan pailit pada perusahaan penghasil bubur kertas PT Kertas Nusantara ke Pengadilan Niaga (PN) Jakarta Pusat.

Allied mengambil langkah ini lantaran tak puas dengan hasil konkret kesepakatan perdamaian yang telah diteken Januari lalu. Menurut Tisye Erlina Yunus, Kuasa Hukum Allied, dengan kesepakatan itu, kliennya berharap ada titik temu dalam proses negosiasi lanjutan. Ujung-ujungnya, Kertas Nusantara melunasi utangnya, tanpa berperkara di pengadilan.

Dalam proses negosiasi, Tisye menjelaskan, kedua belah pihak sudah saling mengajukan penawaran restrukturisasi. Namun, belakangan, negosiasi menemui jalan buntu. “Pada praktiknya, Kertas Nusantara tidak memiliki niat untuk melaksanakan kewajibannya,” tandasnya.

Sayangnya, Tisye enggan mengungkap secara rinci, poin tawaran restrukturisasi Kertas Nusantara mana yang akhirnya memicu Allied berkesimpulan seperti itu.

Yang pasti, gara-gara hal ini, Allied semakin mantap memailitkan Kertas Nusantara untuk kedua kalinya ke PN Jakarta Pusat. Allied menuding, perusahaan yang disebut-sebut milik Prabowo Subianto itu mangkir memenuhi kewajiban utang yang sudah jatuh tempo sejak 27 Desember 2005 silam. “Total utangnya sebesar US$ 32,907 juta,” ujar Tisye. Perinciannya, utang pokok sebesar US$ 20 juta, biaya pinjaman US$ 3 juta, dan denda selama 36 bulan sebesar US$ 9,9 juta.

Untuk menguatkan gugatan pailitnya, Allied membawa serta bukti utang Kertas Nusantara pada kreditur lain yang juga macet. Misalnya, pada Lamag SDN Bhd senilai US$ 926.535,86. Rencananya, Kamis ini (4/6), PN Jakarta Pusat akan menggelar sidang perdana kepailitan ini.

Pihak Allied mengaku sudah berpikir panjang sebelum mengambil langkah ini. Sekadar mengingatkan, pada 27 Desember 2004, Allied meminjamkan uang US$ 20 juta pada Kertas Nusantara dalam jangka waktu setahun. Sesuai perjanjian, untuk mengangsur utang itu, Kertas Nusantara wajib menyetor hasil penjualan 10.000 metrik ton bubur kertas per bulan atau 95.000 metrik ton per tahun dengan asumsi harga per metrik ton sebesar US$ 30.

Namun, kenyataannya, Kertas Nusantara yang sebelumnya bernama PT Kiani Kertas, tak memenuhi kewajiban itu. Akibatnya, Allied memutuskan mengenakan denda selama 36 bulan (per Desember 2008) dengan nilai hampir setengah pinjaman pokok.

Allied sudah pernah mendaftarkan permohonan pailit dalam pokok perkara yang sama pada 12 Desember 2008. Kala itu PN Jakarta Pusat telah menerima, bahkan telah menjadwalkan sidang pada Januari 2009.

Namun mendekati hari sidang, Allied tiba-tiba mencabut permohonannya lantaran ada peluang berdamai dengan penghasil bubuk kertas di Mangkajang, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur yang memiliki area konsesi hutan seluas 3.400 hektare itu.

Kuasa hukum PT Kertas Nusantara Max Adrian mengaku belum memperoleh informasi mengenai langkah Allied ini. “Saya belum mendapatkan kabar itu. Jadi, saya tidak bisa memberi tanggapan apa pun,” ujarnya.

Meski begitu, Max membantah keras jika kasus ini dikait-kaitkan dengan Prabowo Subianto. Menurutnya, isu tersebut adalah ulah orang-orang yang mencari peluang di masa pemilu presiden. “Setahu saya, tidak ada keterkaitannya dengan Prabowo. Itu adalah isu politik murahan yang tidak berdasar,” tandasnya.

October 24, 2009

PT KIANI Kertas alias PT Kertas Nusantara belum bayar gaji

Apakah perusahaan PT Kiani Kertas yang sekarang bernama PT Kertas Nusantara masih dipegang oleh Prabowo Subianto ?? (lihat kerajaan bisnis Prabowo di http://prabowosubianto.info/v2/?p=366) Apakah uang gaji karyawan ludes akibat dipakai kampanye Gerindra dan kampanye presiden Mega -Prabowo ( Mega Pro) beberapa bulan yang lalu ???

+++
Kompas.Sabtu, 24 Oktober 2009 | 04:45 WIB

Samarinda, Kompas – PT Kertas Nusantara mengakui belum membayar upah 1.100 buruh sejak Agustus, bukan sejak Juli. Upah yang tertunda itu dianggap utang perusahaan yang pasti dibayar. Pelunasannya menunggu perusahaan beroperasi kembali agar ada pemasukan untuk membayar upah buruh.

Hal itu dikemukakan Jakariya, Superintendent Community Affair PT Kertas Nusantara, di Mangkajang, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Jumat (23/10). ”Kami minta buruh bersabar. Kami berupaya mencari investor baru agar perusahaan beroperasi,” katanya.

Menurut Jakariya, perusahaan berhenti beroperasi sejak Oktober 2008. Desember tahun lalu, sebagian besar buruh dirumahkan. Yang masih bekerja di pabrik hanya 270 orang. Buruh yang dirumahkan diberi upah pokok, tunjangan lokasi, sewa rumah, dan separuh dari uang fasilitas kebutuhan penunjang. Hal itu dipenuhi sampai Juni 2009.

Upah bulan Juli, menurut Jakariya, hanya dibayar separuh dari upah pokok. Upah dibayarkan pada 31 Agustus. Namun, yang dibayar cuma buruh berjabatan supervisor ke bawah. Di atas jabatan tadi tidak dibayar.

”Upah bulan Agustus dan September memang belum kami penuhi, tetapi sedang diupayakan,” kata Jakariya.

Perusahaan yang dulu bernama PT Kiani Kertas itu tidak sanggup lagi memenuhi kewajibannya karena produksi terhenti sehingga aliran keuangan minim. Perusahaan menghentikan produksi sebab harga bubur kertas di pasar dunia tinggal 560 dollar AS, setara dengan biaya produksinya. Apabila produksi dilakukan, perusahaan tambah rugi.

Sekretaris Serikat Pekerja Perkayuan dan Perhutanan Indonesia PT Kertas Nusantara Fathul Rahman mengatakan, buruh sangat menginginkan perusahaan beroperasi lagi. ”Kami juga berharap hak-hak kami dilunasi untuk memenuhi kebutuhan hidup,” katanya.

Buruh memerlukan upah untuk membayar sewa rumah, listrik, air, pendidikan, membeli kebutuhan hidup, dan mencicil pelunasan kredit.

Jakariya mengatakan, perusahaan membolehkan buruh bekerja di tempat lain sampai dipanggil kembali saat perusahaan beroperasi. ”Kami siap memberi jaminan kepada pihak pemberi kredit agar buruh tidak terbebani cicilan,” katanya.

Pengamat ekonomi dari Universitas Mulawarman, Samarinda, Aji Sofyan Effendi, menyarankan, perusahaan mencari pasar baru. Krisis keuangan global tidak sepenuhnya memukul pasar kertas dunia. Apabila pasar selama ini, yaitu Amerika Serikat, Australia, dan Eropa, ambruk, perusahaan seharusnya menjual produk ke Asia Tengah, bahkan dalam negeri.

Aji Sofyan menilai, PT Kertas Nusantara bisa diselamatkan oleh perusahaan atau pengusaha yang berminat mengakuisisi. Pengakuisisi bisa menggandeng investor baru atau menjalankan penuh perusahaan, tetapi dengan manajemen yang lebih baik

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 81 other followers