Bakrie menjelma menjadi raja tahah Indonesia . Ini data di bawah ini belum termasuk tanah masy korban Lumpur Lapindo
Senin,14 Mei 2012
CEO BAKRIELAND HIRAMSYAH
Kekuatan dari Bank Tanah
KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Hamzirwan/Haryo Damardono
Bisnis properti di Indonesia sedang memasuki awal era keemasan. Pertumbuhan ekonomi rata-rata 6 persen per tahun dan kenaikan jumlah penduduk kelas menengah membuat permintaan properti naik signifikan. Perusahaan yang telah lama bersiap diri kini mulai menuai hasil.
Sebagai salah satu dari lima pengembang terkemuka nasional, PT Bakrieland Development Tbk (ELTI) turut menikmati berkah ini. Lewat kematangan perencanaan proyek-proyek permukiman terintegrasi di kawasan selatan Jakarta dan Bogor, Jawa Barat, produk-produk propertinya terjual bak kacang goreng.
Chief Executive Officer (CEO) Bakrieland Hiramsyah, yang bulan ini tepat lima tahun memimpin Bakrieland, bersedia membagi pengalamannya. Berikut petikan wawancaranya dengan Kompas di kantornya di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Bisnis properti tumbuh signifikan. Apakah masih aman dari risiko?
Ini belum bubble. Rasio kredit perumahan terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia masih kecil sekali. Kekurangan rumah juga masih besar. Saat ini, suku bunga bank cenderung turun sehingga orang masih akan tetap membeli rumah. Apalagi, harga properti di sini masih lebih murah dibandingkan dengan di negara lain dan perbankan juga sangat konservatif dalam menyalurkan kredit perumahan. Dengan prospek ekonomi kita yang masih bagus, booming sektor properti sudah mulai terasa.
Bagaimana mempersiapkan fondasi agar siap saat bisnis ini booming?
Bulan Mei ini, saya lima tahun memegang Bakrieland sebagai CEO. Sebagai mantan auditor dan bankir, saya cenderung konservatif. Biasanya saya langsung mengaudit segala hal di perusahaan. Perusahaan ini posisi sebenarnya ada di mana. Bukan sekadar mengobservasi posisi keuangan, sumber daya manusia, atau masalah sumber daya lain. Tetapi, kita harus paham di mana posisi kita dibandingkan dengan kompetitor.
Baru kita bikin program 5 tahun sampai 10 tahun ke depan. Itu tentunya harus duduk bersama dengan karyawan. Ini perusahaan mau dibawa ke mana, sih? Sebagai nakhoda, tugas utama saya adalah membuat visi misi dan nanti memimpin semua rombongan untuk melakukan perjalanan sampai selamat di tujuan.
Apa yang Anda lakukan?
Tentu hal paling utama adalah permodalan. Modal Bakrieland sebagai perusahaan properti adalah landbank (cadangan lahan), sumber daya manusia, dan sistem yang sangat menunjang.
Bakrieland, termasuk semua pemegang saham, sangat konservatif. Dalam jangka pendek, kami pemegang landbank terbesar di Jakarta dengan 12 hektar. Total 53 hektar dengan potensi berkembang yang masih besar.
Apalagi, saya juga orang yang bergabung ke sini untuk membantu restrukturisasi tahun 1998. Jadi, strateginya adalah bagaimana membiayai landbank dari equity. Tidak boleh dari pinjaman.
Paling aman harus dibiayai dengan equity, makanya dilakukan dengan penawaran saham kepada publik. Dari tahun 2007 sampai sekarang, kami sudah tiga kali right issue sehingga Bakrieland memiliki fondasi yang kuat.
Terus tambah aset lewat right isue?
Ya. Terakhir tahun 2010 itu termasuk right issue terbesar Bakrieland. Paling besar proyek Sentul Nirwana seluas 12.500 hektar, kemudian ada Lido dan yang lain. Kami mau menjadi yang terbesar di selatan Jakarta dan Bogor. Sentul Nirwana, BNR, dan Lido itu akan menjadi satu-kesatuan. Total landbank kami ada 15.000 hektar.
Yang kami mau lakukan untuk beberapa proyek besar adalah membangun dengan cara tidak biasa. Sentul Nirwana itu tidak bisa membangun kluster per kluster. Ada suatu bank, misalnya, yang mau memindahkan kantor utama ke sana dan butuh tanah 20 hektar karena sudah terlalu mahal biaya operasi di tengah kota. Tetapi, kan, kasihan kalau kantor di pinggir, karyawan tinggal di Jakarta. Jadi, mereka memindahkan karyawan juga ke sana sehingga orang hanya perlu lima menit ke kantor. Sentul Nirwana harus begitu.
Jadi, kami tidak ada tekanan (utang). Kalau sampai utang jatuh tempo, utang dibiayai proyek. Utang hanya boleh terjadi kalau ada lawannya. Bukan tanah lawannya, lawannya adalah penjualan.
Contohnya, bangun residensial kami, baru pinjam bank kalau udah ada pembeli yang bayar uang muka. Jadi, pembiayaan pertama setelah ekuitas justru uang muka pembeli.
Kami juga membeli lahan jauh hari sebelum harganya booming. Kami membeli lahan episentrum, landbank terakhir, pada harga sekitar Rp 4,5 juta per meter dan kini Rp 25 juta.
Apa yang disiapkan dalam menghadapi masa panen properti?
Terus memperkuat landbank. Harapan kami, kan, harus ada intensifikasi lahan. Bagaimana membuat lingkungan menjadi lebih baik. Tahun 2007, kami kembali right issue untuk membeli tanah untuk mengakuisisi tambahan tanah di episentrum. Karena, kami berpikir jauh ke depan. Hanya soal waktu properti akan booming. Tidak mungkin tanjakan terus, tidak mungkin turunan terus. Kalau ketemu tanjakan terus, siap-siap menemui turunan. Itu realitas.
Membangun kota dalam kota?
Kami ingin menunjukkan bahwa orang-orang yang tinggal di episentrum, kalau mereka tidak berjalan kaki, menggunakan transportasi publik. Kami harus memotivasi orang untuk mengurangi menggunakan kendaraan bermotor. Makanya, kami siapkan trem agar orang kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan transjakarta.
Ini fasilitas. Bikin shuttle. Ada juga bus dan trem. Hybrid. Kami buat lingkungan menyenangkan sehingga orang mau berjalan kaki. Tempat pedestrian bagus dan cukup teduh agar orang senang. Orang merasa tinggal di episentrum seperti bukan di Indonesia karena penataan lingkungan dan fasilitas publiknya. Ini pembangunan yang komprehensif.
Untuk perumahan rakyat sendiri?
Kami bukan bangun superblok untuk orang menengah atau kaya saja. Untuk rakyat yang membutuhkan rumah, seperti di Rusunami (Rumah Susun Sejahtera Milik) Sentra Timur, Jakarta Timur. Ini sudah didesain komplet. Dekat jalur transportasi publik.