Posts tagged ‘Property’

May 14, 2012

Kekuatan dari Bank Tanah

Bakrie menjelma menjadi raja tahah Indonesia . Ini data di bawah ini belum termasuk tanah masy korban Lumpur Lapindo

Senin,14 Mei 2012
CEO BAKRIELAND HIRAMSYAH
Kekuatan dari Bank Tanah
KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Hamzirwan/Haryo Damardono

Bisnis properti di Indonesia sedang memasuki awal era keemasan. Pertumbuhan ekonomi rata-rata 6 persen per tahun dan kenaikan jumlah penduduk kelas menengah membuat permintaan properti naik signifikan. Perusahaan yang telah lama bersiap diri kini mulai menuai hasil.

Sebagai salah satu dari lima pengembang terkemuka nasional, PT Bakrieland Development Tbk (ELTI) turut menikmati berkah ini. Lewat kematangan perencanaan proyek-proyek permukiman terintegrasi di kawasan selatan Jakarta dan Bogor, Jawa Barat, produk-produk propertinya terjual bak kacang goreng.

Chief Executive Officer (CEO) Bakrieland Hiramsyah, yang bulan ini tepat lima tahun memimpin Bakrieland, bersedia membagi pengalamannya. Berikut petikan wawancaranya dengan Kompas di kantornya di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Bisnis properti tumbuh signifikan. Apakah masih aman dari risiko?

Ini belum bubble. Rasio kredit perumahan terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia masih kecil sekali. Kekurangan rumah juga masih besar. Saat ini, suku bunga bank cenderung turun sehingga orang masih akan tetap membeli rumah. Apalagi, harga properti di sini masih lebih murah dibandingkan dengan di negara lain dan perbankan juga sangat konservatif dalam menyalurkan kredit perumahan. Dengan prospek ekonomi kita yang masih bagus, booming sektor properti sudah mulai terasa.

Bagaimana mempersiapkan fondasi agar siap saat bisnis ini booming?

Bulan Mei ini, saya lima tahun memegang Bakrieland sebagai CEO. Sebagai mantan auditor dan bankir, saya cenderung konservatif. Biasanya saya langsung mengaudit segala hal di perusahaan. Perusahaan ini posisi sebenarnya ada di mana. Bukan sekadar mengobservasi posisi keuangan, sumber daya manusia, atau masalah sumber daya lain. Tetapi, kita harus paham di mana posisi kita dibandingkan dengan kompetitor.

Baru kita bikin program 5 tahun sampai 10 tahun ke depan. Itu tentunya harus duduk bersama dengan karyawan. Ini perusahaan mau dibawa ke mana, sih? Sebagai nakhoda, tugas utama saya adalah membuat visi misi dan nanti memimpin semua rombongan untuk melakukan perjalanan sampai selamat di tujuan.

Apa yang Anda lakukan?

Tentu hal paling utama adalah permodalan. Modal Bakrieland sebagai perusahaan properti adalah landbank (cadangan lahan), sumber daya manusia, dan sistem yang sangat menunjang.

Bakrieland, termasuk semua pemegang saham, sangat konservatif. Dalam jangka pendek, kami pemegang landbank terbesar di Jakarta dengan 12 hektar. Total 53 hektar dengan potensi berkembang yang masih besar.

Apalagi, saya juga orang yang bergabung ke sini untuk membantu restrukturisasi tahun 1998. Jadi, strateginya adalah bagaimana membiayai landbank dari equity. Tidak boleh dari pinjaman.

Paling aman harus dibiayai dengan equity, makanya dilakukan dengan penawaran saham kepada publik. Dari tahun 2007 sampai sekarang, kami sudah tiga kali right issue sehingga Bakrieland memiliki fondasi yang kuat.

Terus tambah aset lewat right isue?

Ya. Terakhir tahun 2010 itu termasuk right issue terbesar Bakrieland. Paling besar proyek Sentul Nirwana seluas 12.500 hektar, kemudian ada Lido dan yang lain. Kami mau menjadi yang terbesar di selatan Jakarta dan Bogor. Sentul Nirwana, BNR, dan Lido itu akan menjadi satu-kesatuan. Total landbank kami ada 15.000 hektar.

Yang kami mau lakukan untuk beberapa proyek besar adalah membangun dengan cara tidak biasa. Sentul Nirwana itu tidak bisa membangun kluster per kluster. Ada suatu bank, misalnya, yang mau memindahkan kantor utama ke sana dan butuh tanah 20 hektar karena sudah terlalu mahal biaya operasi di tengah kota. Tetapi, kan, kasihan kalau kantor di pinggir, karyawan tinggal di Jakarta. Jadi, mereka memindahkan karyawan juga ke sana sehingga orang hanya perlu lima menit ke kantor. Sentul Nirwana harus begitu.

Jadi, kami tidak ada tekanan (utang). Kalau sampai utang jatuh tempo, utang dibiayai proyek. Utang hanya boleh terjadi kalau ada lawannya. Bukan tanah lawannya, lawannya adalah penjualan.

Contohnya, bangun residensial kami, baru pinjam bank kalau udah ada pembeli yang bayar uang muka. Jadi, pembiayaan pertama setelah ekuitas justru uang muka pembeli.

Kami juga membeli lahan jauh hari sebelum harganya booming. Kami membeli lahan episentrum, landbank terakhir, pada harga sekitar Rp 4,5 juta per meter dan kini Rp 25 juta.

Apa yang disiapkan dalam menghadapi masa panen properti?

Terus memperkuat landbank. Harapan kami, kan, harus ada intensifikasi lahan. Bagaimana membuat lingkungan menjadi lebih baik. Tahun 2007, kami kembali right issue untuk membeli tanah untuk mengakuisisi tambahan tanah di episentrum. Karena, kami berpikir jauh ke depan. Hanya soal waktu properti akan booming. Tidak mungkin tanjakan terus, tidak mungkin turunan terus. Kalau ketemu tanjakan terus, siap-siap menemui turunan. Itu realitas.

Membangun kota dalam kota?

Kami ingin menunjukkan bahwa orang-orang yang tinggal di episentrum, kalau mereka tidak berjalan kaki, menggunakan transportasi publik. Kami harus memotivasi orang untuk mengurangi menggunakan kendaraan bermotor. Makanya, kami siapkan trem agar orang kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan transjakarta.

Ini fasilitas. Bikin shuttle. Ada juga bus dan trem. Hybrid. Kami buat lingkungan menyenangkan sehingga orang mau berjalan kaki. Tempat pedestrian bagus dan cukup teduh agar orang senang. Orang merasa tinggal di episentrum seperti bukan di Indonesia karena penataan lingkungan dan fasilitas publiknya. Ini pembangunan yang komprehensif.

Untuk perumahan rakyat sendiri?

Kami bukan bangun superblok untuk orang menengah atau kaya saja. Untuk rakyat yang membutuhkan rumah, seperti di Rusunami (Rumah Susun Sejahtera Milik) Sentra Timur, Jakarta Timur. Ini sudah didesain komplet. Dekat jalur transportasi publik.

Tags:
May 10, 2012

Sentul City Nikmati Tren Kenaikan Harga

Sentul City Nikmati Tren Kenaikan Harga
Oleh Parluhutan Situmorang | Kamis, 10 Mei 2012 | 6:59
Foto: Investor Daily/EKO S HILMAN

Berita Terkait
Sentul City Tumbuh Berkelanjutan
Sentul City Luncurkan Klaster Rumah Mewah
Saham BKSL Teraktif Diperdagangkan
Sentul City Anggarkan Biaya Investasi Rp300 Miliar
Sentul City Bangun Rumah Sakit Pertamina
PT Sentul City Tbk (BKSL) akan mendapatkan keuntungan terbesar dari tren kenaikan harga properti di Indonesia. Sebab, perseroan menguasai cadangan lahan yang luas dengan harga akuisisi termurah dibandingkan emiten properti lain.

SENTUL City merupakan pengembang kota mandiri dengan konsesi lahan pengembangan seluas 3.100 hektare. Perusahaan juga menguasai 50% saham Sentul Nirwana seluas 12.800 ha. Sentul Nirwana digarap bekerja sama dengan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY).

Ciptadana Securities menyebutkan, secara efektif, Sentul City kini menguasai lahan sekitar 8.000 ha. Total lahan yang dikuasai perseroan terluas dibandingkan emiten pengembang properti lainnya, seperti PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dengan cadangan lahan sekitar 4.500 ha. PT Alam Sutera Tbk (ASRI) seluas 1.500 ha. Sedangkan PT Ciputra Development Tbk (CTRA) memiliki cadangan lahan sekitar 2.800 ha.

“Sentul City merupakan pengembang rumah tapak dengan kepemilikan lahan terbesar di Indonesia. Perseroan juga memiliki hak untuk memperluas cadangan lahan di Sentul Nirwana menjadi 33 ribu ha,” tutur Analis Ciptadana Securities Triwira Tjandra dalam riset saham BKSL yang diterbItkan di Jakarta, belum lama ini.

Tags:
January 3, 2012

10 Mitos Keliru Investasi Properti

detikFinance » Properti

Selasa, 03/01/2012 08:03 WIB
10 Mitos Keliru Investasi Properti
Angga Aliya – detikFinance

Share
3

Jakarta – Dalam setiap lini bisnis selalu ada mitos dan atau persepsi keliru yang menempel. Padahal mitos tersebut pada kenyatannya tidaklah selalu benar, begitu pula di bisnis properti. Ada banyak pertanyaan di benak investor baru yang ingin memulai investasi di properti.

Minimnya informasi yang didapat bisa sangat menyulitkan anda memisahkan fakta dan mitos. Daripada harus menyusun seluruh fakta yang ada, beberapa mitos yang sering ditemui dalam bisnis properti di bawah ini, seperti dikutip dari realestateproarticles, Selasa (2/2/2011), bisa memberi pengetahuan akan sebuah industri properti:

1. Berinvestasi di properti hanya untuk orang kaya

Memang benar, uang bisa menggerakan dunia, dan pastinya sangat membantu orang meraih impian. Tapi instrumen investasi properti tidak hanya untuk orang kaya. Banyak pengusaha properti terkenal memulai bisnisnya kecil-kecilan. Namun, secara perlahan mereka menanjak ke posisi puncak dengan kerja keras.

2. Berinvestasi di properti berisiko tinggi

Beberapa orang beranggapan begitu karena biasanya membutuhkan modal cukup tinggi, sehingga jika gagal di tengah jalan, kerugiannya pun cukup tinggi. Padahal sebenarnya, risiko berinvestasi di properti termasuk salah satu yang paling rendah. Apalagi jika dibandingkan pasar modal atau lembaga keuangan lainnya. Memang ada risikonya, tapi semua bisa diperhitungkan.

3. Jual-beli rumah merupakan cara investasi terbaik

House flipping yaitu membeli rumah dengan niat untuk dijual kembali bisa jadi cara yang baik untuk berinvestasi di properti, tapi jelas bukan yang terbaik karena masih ada pilihan-pilihan lain. Dalam situasi ekonomi seperti ini, harga rumah sudah cukup tinggi, dan anda harus menunggu cukup lama untuk bisa mendapatkan keuntungan tinggi lewat menjual kembali rumah tersebut. Menyewakan properti anda bisa jadi jalan yang lebih baik ketimbang menjualnya begitu saja.

4. Anda perlu banyak pengalaman

Mitos ini lebih masuk akal dibandingkan mitos lainnya. Akan tetapi, jika dipikir baik-baik, jika semua investor perlu banyak pengalaman sebelum memulai maka tidak akan ada yang namanya instrumen investasi properti. Pengalaman memang sangat membantu, dan hanya bisa diraih sejalan dengan waktu dan jam terbang. Yang paling anda perlukan adalah keinginan untuk belajar.

5. Banyak yang gagal berinvestasi di properti

Layaknya sebuah instrumen investasi, properti juga punya risiko, tapi janganlah membuat anda takut sebelum memulai. Pikiran seperti ini biasa terjadi akibat kurangnya informasi setelah mengambil keputusan. Sebaiknya, jika anda merasa tidak mampu berinvestasi di sektor ini, lebih baik tidak usah. Tapi jangan sampai anda batal berinvestasi hanya karena masukan dari orang lain, terutama nasihat dari mereka yang belum pernah masuk ke sektor ini.

6. Berinvestasi di properti hanya sukses jika anda ‘kenal’ orang yang tepat

Dalam bisnis dan industri apapun, punya banyak relasi akan sangat membantu. Apakah wajib untuk punya banyak relasi untuk memulai? Tentu tidak! Anda bisa membangun relasi sejalan dengan waktu. Mulailah berkenalan dan mengobrol dengan investor lain, pengacara, broker, dan siapa saja yang bisa membantu anda di masa mendatang.

7. Beli properti di bawah harga pasar pasti menguntungkan

Teori ini tidak sepenuhnya benar untuk industri properti. Meski membeli properti di bawah harga pasar menguntungkan di atas kertas, anda tidak akan mendapatkan laba sebelum berhasil menjual atau menyewakannya. Terkadang sebuah properti dijual murah karena beberapa faktor yang tentunya harus menjadi pertimbangan, seperti lokasi atau bangunan yang buruk. Anda harus lebih berhati-hati.

8. Tidak ada lagi properti bagus yang tersedia

Semua orang butuh tempat tinggal. Sebuah keluarga akan berkembang setiap harinya sehingga butuh properti baru. Anda akan selalu menemukan properti yang layak untuk diinvestasikan, hanya saja anda harus lebih sering dan giat mencarinya.

9. Kunci sukses berinvestasi di properti, pasang harga tak terlalu tinggi

Dalam kebanyakan kasus investasi properti, angka-angka sangatlah menentukan. Bahkan, anda bisa menawarkan harga jauh di atas rata-rata pasaran jika properti anda sudah dipoles menjadi sangat menarik.

10. Anda perlu informasi dari ‘orang dalam’

Sebenarnya anda tidak perlu informasi yang sangat penting dari ‘orang dalam’ yang lebih berpengalaman. Dengan jam terbang yang tinggi dan banyak berinteraksi bersama para profesional, lambat laun anda akan menjadi ‘orang dalam’ tersebut.

(ang/qom)

Tags:
December 15, 2011

Menteri Djan Faridz Nggak Punya Blue Print

Menteri Djan Faridz Nggak Punya Blue Print
15 Dec 2011
Ekonomi Rakyat Merdeka
Indonesia Darurat Perumahan 7,4 Juta KK Tak Punya Rumah

Negara kita saat ini berada dalam kondisi darurat perumahan. Sebanyak 7,4 juta kepala keluarga (KK) di Indonesia belum punya rumah. Jumlah rakyat yang tak punya rumah semakin bertambah.

KEBUTUHAN perumahan per tahun mencapai 800 ribu unit. Sementara jumlah rumah yang bisa disediakan cuma SOO ribu unit setiap tahun. “Kondisi seperti ini jelas memprihatinkan,” aku Menteri Perumahan Rakyat (Merpcra) Djan Faridz.

Ada tambahan 300 ribu KK yang tidak dapat menghuni rumah setiap tahunnya. Kondisi tersebut, menurut dia. sudah masuk kategori “darurat perumahan”.

Pemerintah perlu melakukan intencnsi. Apalagi. Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpcra) hingga saat ini belum punya blue print perumahan dan land bank (bank tanah).

Djan menuturkan, pembangunan rumah sederhana sewa (rusunawa) dan rumah sederhana milik (rusunami) adalah solusinya untuk mengurangi backlog (kekurangan) rumah di kawasan perkotaan.

“Untuk itu, kami akan terus mendorong program pembangu-nan perumahan dan kawasan permukiman. Masalah perumahan rakyat tak bisa diselesaikan sendiri Kemenpera,” katanya.

Menurut Djan. dibutuhkan konsep yang jelas dan program yang ada harus terintegrasi dengan kementerian atau instansi lainnya. Karena itu. Menpera siap mengunjungi sejumlah kementerian dan instansi seperti Kementerian PU, Perumnas, dan menggandeng pengembang serta perbankan.

Djan menambahkan, salah satu masalah pelik dalam program perumahan rakyat adalah penyediaan lahan. Untuk itu, ia akan menemui Menteri BUMN dan Kementerian Perhubungan untuk memanfaatkan lahan-lahan yang dimiliki seperti lahan di sepanjang rel kereta api maupun lahan milik BUMN.

Kemenpera tengah memfinalisasi tiga rancangan peraturan pemerintah untuk menindaklanjuti pengesahan Undang-Undang No. 1/2011 tentang Perumahandan Kawasan Permukiman (PKP).

Sekretaris Kemenpera Iskandar Saleh menambahkan, UU tersebut mengamanatkan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) sebagai aturan turunan.

Kemenpera mengelompokkan menjadi empat RPP, yakni RPP pembinaan perumahan dan ka-wasan permukiman, RPP penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman, RPP pemupukan dan penyerahan dana serta RPP perumahan negara.

Tiga RPP disusun Kemenpera dan satu RPP tentang perumahan negara disusun Kementerian Pekerjaan Umum. “RPP Pembi-naan Perumahan dan Kawasan Permukiman dan RPP Penyelenggaraan Perumahan dan Kawasan Permukiman sudah selesai. Sedangkan RPP pemupukan dan penyerahan dana sedang dalam uji publik,” bebernya.

Sebelumnya, penyelesaian pembahasan RPP tersebut telah mundur dua kali dan target yang ditentukan, yakni April dan Agustus tahun ini. Namun, Iskandar menyatakan, batas waktu penyusunan PP adalah satu tahun setelah UU disahkan.

“Deadline-nya Januari 2012, kami optimis bakal rampung Januari mendatang.” imbuhnya.

Direktur Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda mengatakan, negara kita sebenarnya sudah lama berada dalam kondisi darurat perumahan.

Ali menuturkan, sudah saatnya Kemenpera menyusun blue print dan mengumpulkan land bank menyusul terbatas dan tingginya harga lahan yang ada.

“Data bank tanah seharusnya tersedia apabila program perumahan rakyat ingin berhasil. Kalau tidak, program perumahan bakal gagal.” tandasnya. yan

Entitas terkait

Tags:
July 10, 2011

Siapa Pebisnis Taman Hiburan di Indonesia?

Siapa Pebisnis Taman Hiburan di Indonesia?

Bisnis taman hiburan (theme park) saat ini tengah dilirik beberapa pengembang Indonesia.
SENIN, 4 APRIL 2011, 10:33 WIB Antique, Purborini

Wahana Niagara di Dunia Fantasi (Dufan) Taman Impian Jaya Ancol Jakarta (Antara/ Aldino Anatusa)
BERITA TERKAIT
Properti Kota Dongkrak Laba Bakrieland
Beli Aset di Mancanegara Pakai Kas Non Pajak
Kemenlu Ingin Beli Properti di Luar Negeri
Adhi Karya Tangani Konstruksi The Convergence
Bakrie Buka Hotel Bintang 5 Pertama di Bali
VIVAnews – Bisnis taman hiburan (theme park) saat ini tengah dilirik beberapa pengembang di Indonesia. Sebut saja Para Group melalui Trans Corpora dan PT Bakrieland Development Tbk. Persaingan dalam bisnis ini cukup ketat. Layanan menentukan peminat pengunjung.
Direktur Utama Pembangunan Jaya Ancol, Budi Karya Surmadi, menuturkan bahwa manajemen telah menyiapkan beberapa strategi dalam pengembangan ke depan. “Kami masih fokus di Jakarta, meski sekarang dalam perencanaan kami juga mencari tanah di luar Jakarta,” kata dia saat ditemui VIVAnews.com di Jakarta.
Perseroan ini, kata Budi, tengah mengincar daerah Surabaya, Medan, dan Balikpapan sebagai langkah ekstensifikasi bisnis perseroan di bisnis taman hiburan dan rekreasi. Tapi Budi memastikan bahwa, “Ini masih dalam tahap perencanaan.”

Budi juga tidak khawatir dengan tema lama yang diusung Pembangunan Jaya Ancol selama 25 tahun terakhir ini. Sebab, “Kami punya kelebihan outdoor dan eco friendly, sehingga anak-anak bisa bermain sambil dididik mengenai lingkungan. Plus, kami punya laut yang tidak banyak dimiliki pengembang lain,” kata dia.

Menurut dia, tema luar ruang atau outdoor yang diusung perseroan akan lebih memberikan pendidikan ketimbang tawaran pengembang lain yang menawarkan hiburan di dalam ruangan. “Anak-anak diajarkan lebih dekat dengan alam dan ini akan menjadi lifestyle mereka,” ujar Budi.

Guna mengembangkan bisnis, Budi melanjutkan, perseroan juga akan membuka kembali lapangan golf yang sudah ditutup selama dua tahun terakhir. “Kita akan buka kembali dengan wahana yang berbeda,” kata dia.

Lahan tersebut, menurut Budi, akan dibuat taman bermain bertema air bernama Aqua Scan dan taman dengan koleksi dua juta tanaman bernama Echo Park. “Aqua Scan ada multimedia di atas air, ada boat ride dan kegiatan mendidik,” tuturnya.

Aqua Scan juga dilengkapi dengan tayangan animasi hasil besutan Nano Riantiarno pentolan Theater Koma. “Nano membuatnya dengan tema animal fight back tapi Indonesianis. Nanti, dia akan buat dengan versi Timun Mas dan Buto Ijo,” kata Budi.

Tidak hanya itu, Budi menambahkan, langkah intensifikasi lainnya juga dilakukan perseroan. Juni mendatang, Dunia Fantasi akan membuka teater animasi baru bernama Kalila Adventure. “Mimpi kita untuk seperti Disney sebentar lagi terwujud,” ujar dia. Animasi yang ditawarkan dengan menggunakan tokoh-tokoh Dufan sendiri seperti Kombi (Komodo).

Dengan rencana tersebut, dia menuturkan, tahun ini perseroan telah menggelontorkan dana untuk belanja modal sebesar Rp450 miliar yang diambil dari dana internal dan hasil penerbitan obligasi beberapa waktu lalu.
Untuk mengembangkan Echo Park, perseroan mengucurkan dana sebesar Rp70 miliar. Adapun dana yang dirogoh perseroan untuk Aqua Scan dan Kalila Adventure masing-masing Rp20 miliar.

Sebelumnya, Bakrieland Development juga berencana mengembangkan theme park di kawasan Jonggol dan Lido, Jawa Barat. “Paling cepat, yang akan kami kembangkan daerah Lido, Sukabumi lebih dulu,” ujar Presiden Direktur & CEO Bakrieland Development Hiramsyah S Thaib di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Untuk Lido, Hiramsyah menambahkan, theme park yang akan dikembangkan berada di atas lahan seluar 50-100 hektare (ha). Sedangkan untuk kawasan Jonggol lebih luas lagi, yakni sekitar 100-200 ha. “Pendanaannya akan kami kombinasikan dari kas internal, pinjaman bank dan mitra strategis,” tuturnya.

Seperti diketahui, Trans Corpora juga berencana membangun taman hiburan sebanyak 20 buah di seluruh Indonesia hingga tahun 2020. Taman hiburan yang akan dibangun perusahaan milik Chairul Tanjung tersebut salah satunya berada di Bandung dan mulai diresmikan pada Juni 2011 dengan menghabiskan dana Rp2 triliun.

“Kita akan buka Juni pas dengan liburan sekolah,” kata Pemilik perusahaan Para Group Chairul Tanjung di Jakarta, pertengahan Maret lalu.

Menurut Chairul, taman hiburan yang akan dibangun di Bandung tersebut diantaranya berupa Bandung Theme Park yang akan memiliki hotel bintang tiga dan bintang enam.

Trans Corp sendiri saat ini sudah memiliki satu taman hiburan di Makasar bernama Trans Studio Theme Park dengan investasi sekitar Rp1 triliun. Proyek tersebut dibangun atas kerja sama Para Grup yang pemiliknya adalah Chaerul Tanjung, dengan Kalla Grup, sebuah perusahaan milik keluarga besar Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Theme Park yang terinspirasi dari Disneyland dan Universal Studio itu dibangun diatas lahan seluas 2,7 ha. Sehingga, ketika berada di Trans Studio Theme Park akan membawa pengunjung pada suasana sebuah kota kecil di Amerika Serikat (AS) tahun 1937 yang bernama Broadway.
• VIVAnews

Tags:
April 20, 2011

Mal Pusat Belanja Mulai Ditinggalkan

Mal Pusat Belanja Mulai Ditinggalkan
20 Apr 2011
Ekonomi Media Indonesia
SETELAH mal-mal di Jakarta beralih konsep dari pusat perbelanjaan menjadi pusat hiburan, kini giliran mal di daerah yang beralih konsep. Mal-mal di daerah mulai menjadi tempat hiburan keluarga sekaligus untuk hiburan malam.

“Mal di daerah sudah mulai menjadi tempat entertainment dan food and beverage. Di Surabaya sudah berlangsung sejak 3-5 tahun terakhir. Di Bandung juga, bahkan beberapa pengembang merencanakan untuk punya mal seperti itu di daerah,” tutur Kepala Konsultan Procon Savills Utami Prastiana dalam jumpa pers di Jakarta, kemarin.

Ekspansi ke arah entertainment dan dining tersebut, lanjutnya, menyambut kejenuhan pasar ritel yang sebelumnya lebih banyak menjadi pusat perbelanjaan. “Pasar ritel di daerah itu yang berkembang primary needs seperti hipermarket. Brand yang masuk masih secondary brand yang biasanya lokal,” jelasnya.

Menurutnya, perkembangan mal-mal di luar Jakarta tersebut sesuai dengan kebutuhan komunitas sekitarnya. Dengan adanya komunitas yangdidukung daya beli, mal akan tumbuh.

Di Jakarta, ekspansi mal menjadi pusat hiburan sudah terlihat dalam beberapa tahun terakhir. “Kalau dulu konsepnya department store, sekarang orang ke mal enggak hanya shopping, tapi lebih entertainment,” tukas Kepala Riset Procon Savills Herully Suherman.

Mal kini membuka hiburan bagi keluarga, termasuk anak-anak, juga menyediakan hiburan di atas pukul 22.00 WIB, baik dengan format night club, restoran, maupun bioskop. Perubahan konsep tersebut berpengaruh dalam tenant mix di tiap mal. “Pada 2011 trennya ke situ,” tambah Herully.

Namun, Procon menyarankan agar retailer mencermati kepadatan pengunjung, konsep, harga sewa, insentif, serta fleksibilitas termin pembayaran.

Berdasarkan evaluasi kuartal 1 2010, pendapatan kotor penyewaan ruang di pasar ritel Jakarta naik signifikan ketimbang tahun lalu. Pada pertengahan tahun lalu, pendapatan kotor per bulan ritel Rp744 ribu, sedangkan untuk kuartal 1 2010 Rp517ribu. 07E-4)

Tags:
April 15, 2011

Kelolaan Rumah Susun Memprihatinkan

Pengelolaan ala Perumnas hanya menghasilkan kawasan beton yang kumuh !

++++
Jumat,
15 April 2011
PERUMAHAN RAKYAT
Kelolaan Rumah Susun Memprihatinkan
Jakarta, Kompas – Pengelolaan kepenghunian rumah susun hingga kini masih memprihatinkan. Meski pengaduan penghuni terus mengalir, masalah kepenghunian cenderung berlarut-larut bahkan tidak terpecahkan.

Ketua Asosiasi Penghuni Rumah Susun Indonesia Ibnu Tadji di Jakarta, Kamis (14/4), mengemukakan, salah satu akar persoalan kepenghunian rumah susun adalah pembentukan Perhimpunan Penghuni Rumah Susun (PPRS) yang mengundang kontroversi.

PPRS seharusnya dibentuk dan diurus secara mandiri oleh penghuni rumah susun. PPRS bertugas mengelola dan mengatur penetapan bea pengelolaan serta tarif listrik dan air untuk fasilitas umum dan sosial.

Namun, sebagian besar PPRS saat ini dibentuk dan dikuasai pengembang serta membebani penghuni dengan pungutan yang tidak wajar.

”Penguasaan PPRS oleh pengembang kerap membuat pengelolaan rumah susun menjadi tidak transparan dengan biaya-biaya yang kerap tidak realistis dan membebani penghuni,” ujarnya.

Henry Kurniawan, penghuni Rumah Susun Sederhana Milik City Park, Cengkareng, mengeluhkan mekanisme pengelolaan rumah susun oleh PPRS bentukan pengembang. Setiap bulan, penghuni rumah susun itu dibebani biaya pengelolaan Rp 5.000 per meter persegi. Biaya itu di luar tarif bulanan penggunaan listrik dan air.

Secara terpisah, Deputi bidang Perumahan Formal Kementerian Perumahan Rakyat Pangihutan Marpaung membenarkan, pengaduan masalah kepenghunian ke pemerintah semakin marak.

Persoalan yang paling banyak dilaporkan, antara lain, soal tarif air minum, biaya pengelolaan, penguasaan pengembang atas PPRS, serta tidak diserahkannya pertelaan untuk dikelola penghuni. Pertelaan adalah rincian mengenai batas-batas yang jelas dari setiap unit satuan rumah susun.

Persoalan kepenghunian, antara lain, dipicu sikap sebagian pengembang yang tidak mematuhi ketentuan. (LKT)

Tags:
April 4, 2011

Agung Podomoro Bangun Kawasan Terintegrasi 10 Ha di Rasuna Said

Kamis, 24/03/2011 15:10 WIB
Agung Podomoro Bangun Kawasan Terintegrasi 10 Ha di Rasuna Said
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Foto: Whery/detikFinance

Jakarta – PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) berniat mengembangkan kawasan Mix Use baru, dengan mengakuisisi 10 hektar lahan di Kuningan, Jakarta. Perseroan telah menyiapkan dana Rp 1 triliun untuk akuisisi ini.

“Dalam kota, kita dalam tahap negosiasi lahan 10 ha. Di kawasan Kuningan. Kita perlu dana Rp 1 triliun,” kata Direktur Pengembangan APLN, Indra Wijaya, di Senayan City, Jakarta, Kamis (24/3/2011).

Perseroan akan mengembangkan kawasan Mix Use baru di kota Jakarta, berupa pusat belanja, perkantoran, dan apartemen. Ia mengaku, Agung Podomoro tetap pengembangan hunian vertikal, dalam 5 tahun ke depan. Harapannya, konsep Back to The City dapat terealisasi.

Negosiasi pembelian lahan masih terus berlangkung antara manajemen dengan calon penjual. Tidak disebutkan secara rinci, siapa si pemilik lahan. Namun rumor yang berkembang di pasar, si empunya tanah adalah grup Bakrie, melalui salah satu anak usaha PT Bakrieland Development Tbk (ELTY).

Menurut salah satu pelaku pasar, APLN telah menyiapkan dana US$ 150 juta untuk mengambilalih 8 ha lahan di Rasuna Epicentrum.

“Sampai saat ini kita masih dalam tahap negosiasi dengan pemilik lahan, belum bisa ditentukan kapan rencana ini terealisasi,” ucap Indra.

“Sumber pendanaan masih dijajaki, selain dari internal kami juga bisa memperoleh dana dari perbankan dan pasar modal,” tambahnya.

Namun Direktur Keuangan APLN, Cesar dela Cruz mengungkapkan, besar kemungkinan perseroan untuk menerbitkan obligasi global untuk menambah dana akuisisi lahan di Kuningan, Jakarta tersebut.

Hingga akhir tahun lalu, APLN membukukan laba bersih Rp 241,9 miliar, meroket 589% dibanding sebelumnya, Rp 35,3 miliar. Penjualan juga bertumbuh (dan pendapatan sewa) 126,5% menjadi Rp 1,93 triliun.
Incar Pendapatan Rp 2,8 Triliun Tahun Ini

Agung Podomoro incar pendapatan Rp 2,895 triliun di 2011, naik 50% dari periode lalu, Rp 1,93 triliun. Kontribusi pendapatan masih dioptimalkan dari penjualan sejumlah proyek apartemen Mix Use serta pendapatan sewa dari perkantoran dan pusat belanja.

“Target, pendapatan diharapkan 50% lebih baik dari tahun lalu,” jelas Wakil Direktur Utama APLN, Handaka Santosa di Senayan City Jakarta, Kamis (24/3/2011).

Ia menambahkan, porsi pemasukan dari penjualan apartemen masih tinggi di tahun 2011, atau sekitar 95% dari total pencapaian APLN. Sisanya, dikontribusikan dari pendapatan berkelanjutan (reccuring income), misalkan sewa perkantoran dan pusat belanja.

“Recurring income diharapkan akan seimbang, 50:50 dalam 5-6 tahun ke depan. 2010, masih 5% untuk pendapatan sewa,” ucap Cesar M. Dela Cruz, Direktur Keuangan APLN.

Cesar menegaskan, untuk tahun 2011 perseroan menganggarkan belanja barang modal (capex) sebesar Rp 3 triliun. Dana ini digunakan untuk menyelesaikan sejumlah proyek APLN, seperti Kuningan City, Green Lake Sunter, Green Permata, dan lainnya.

“Dananya dari sisa IPO masih ada sekitar Rp 700 miliar. Juga ada dari kas internal, dan pinjaman bank. Kalau pinjaman per proyek, sudah dianggarkan,” imbuh Cesar.
(wep/ang)

Tags:
March 22, 2011

3 BUMN perlu bangun hunian massal

3 BUMN perlu bangun hunian massal
21 Mar 2011
Bisnis Indonesia Ekonomi
Perumnas siap sediakan 30.000 rumah murah

OLEH ANUGERAH PERKASA Bisnis Indonesia

JAKARTA Pemerintah meminta tiga BUMN dapat menghasilkan produk massal perumahan dan permukiman dalam rangka peningkatan sisi penawaran atas permintaan hunian yang kian meningkat.

Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa mengatakan negara memiliki kewenangan untuk mengintervensi masalah ketersediaan pembangunan perumahan ataupun permukiman untuk memperbaiki sisi penawaran.

“Hal itu dapat dilakukan dengan adanya pembangunan massal oleh BUMN di bidang perumahan. Tidak mungkin sisi penawaran terhadap pasar dibiarkan sehingga kepastian penyediaan perumahan di tingkat nasional tidak ada. Jika tidak, maka akan terjadi ketidakhadiran negara,” tegasnya kepada pers di Jakarta, pekan lalu.

Dia mengatakan sedikitnya terdapat tiga masalah yang memengaruhi sisi penawaran rumah dan permukiman yakni keterse-diaan lahan, struktur biaya, dan produksi massal.

Oleh karena itu, Suharso mengharapkan BUMN perumahan menjadi pihak terdepan dalam proses penyediaan hunian guna memperbaiki sisi penawaran produk.

Sedikitnya terdapat tiga BUMN yang bergerak di sektor hunian yakni Perum Perumnas, PT Pembangunan Perumahan Tbk, dan PT Wijaya Karya Tbk.

Suharso mengatakan pihaknya juga telah membicarakan hal tersebut dengan Kementerian BUMN.

“Kalau tidak dalam skala besar, maka tidak akan bisa [terjadi perbaikan di sisi penawaran]. Bisa saja diberikan PSO [public service obligation] untuk material yang bersifat produksi massal. BUMN harus berada di depan untuk sisi penawaran,” ujar Menpera.

Dia menambahkan hal itu juga didukung dengan fasilitas sekitar 117.000 unit prasarana, sarana, dan utilitas (PSU) yang dimiliki oleh Kemenpera.

Selain itu. papar Suharso, pemerintah memiliki dana alokasi khusus perumahan dan permukiman ataupun PSO kepada BUMN.

Berdasarkan data Kemenpera, pembangunan perumahan di Indonesia masih menghadapi tantangan berat terutama terkait dengan masih besarnya backlog

(kekurangan) perumahan yang mencapai 7,4 juta rumah pada 2009. . ,

Selain itu, terdapat 4,8 juta unit rumah diperkirakan dalam kondisi rusak, sedangkan permukiman kumuh semakin meluas yang diperkirakan telah mencapai 57.800 hektare.

Untuk mengatasi kondisi itu, pemerintah menetapkan alokasi pembangunan perumahan yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 meningkat hampir lima kali lipat dibandingkan dengan alokasi pada RPJMN periode sebelumnya (2005-2009).

Untuk mencapai visi itu, telah dialokasikan dana dalam RPJMN 2010-2014 sebesar Rpl3,69 triliun, belum termasuk dana subsidi sebesar Rp21,62 triliun.

Pada 2010. dialokasikan Rp964,5 miliar, ditambah subsidi sebesar Rp3,09 triliun. Adapun.pagu definitif untuk 2011 mencapai Rp2,75 triliun, ditambah subsidi Rp4,26 triliun.

Alokasi dana tersebut untuk memenuhi target-target sampai 2014 di antaranya rumah susun sejahtera sewa sebanyak 380 twin block, fasilitasi dan stimulasi pembangunan perumahan swadaya sebanyak 50.000 unit, dan fasilitasi serta stimulasi peningkatan kualitas swadaya sebanyak 50.000 unit.

Komitmen Perumnas

Semantara itu, Perum Perumnas menyatakan kesiapannya untuk membangun lebih dari

30.000 unit rumah murah dari jumlah total 100.000 unit yang ditargetkan pemerintah untuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

Direktur Utama Perumnas Himawan Arief Sugoto mengatakan pihaknya telah mendapatkan tugas dari Kemenpera untuk membangun rumah di sejumlah wilayah di Indonesia.

“Kemungkinan lebih [dari

30.0001masih terbuka. Perumnas siap membangun rumah murah, kami sudah melakukan kerja sama dengan sejumlah daerah, salah satunya yang terbaru adalah Kota Tarakan [Kalimantan Timur],” ujar Himawan seusai pembukaan rapat koordinasi internal Perumnas, pekan lalu.

Pemerintah menargetkan rumah murah dan sangat murah yang memiliki segmen berbeda yakni masyarakat yang dapat mengakses perbankan (bankable) sebanyak 50.000 unit dan masyarakat yang belum dapat mengaksesnya [nonbankable) sebanyak 50.000 unit.

Rumah murah dengan harga Rp20 juta-Rp25 juta per unit diperuntukkan bagi kelompok yang berpenghasilan Rp 1,2 juta-Rp2 juta per bulan, sedangkan rumah sangat murah seharga Rp5 juta-RplO juta untuk kelompok masyarakat yang berpenghasilan kurang dari Rpl,2 juta.

Kemenpera akan menggunakan fasilititas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) untuk membantu pembiayaan perumahan itu sehingga masyarakat tidak perlu membayar uang muka. Porsi pendanaan FLPP diperkirakan mencapai 80%-95%, sedangkan bunga dari perbankan hanya sekitar 5%-6,42%.

Perumnas baru-baru ini melakukan kerja sama dengan pengembang lokal di K.ota Tarakan dan Pemkot Tarakan untuk membangun total 1.500 unit rumah untuk pegawai negeri sipil (PNS). Saat ini, terdapat sekitar 305 unit rumah yang telah menjadi hak milik untuk PNS di wilayah itu. (anugerah.perkasa@bisnis.co.id)

Tags:
March 19, 2011

Wow! Chairul Tanjung Bangun Hotel Bintang 6 Pertama di RI

Senin, 14/03/2011 17:40 WIB
Wow! Chairul Tanjung Bangun Hotel Bintang 6 Pertama di RI
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Pemilik Para Grup Chairul Tanjung mengungkapkan beberapa proyek barunya yang segera diluncurkan. Beberapa proyek besar seperti Theme Park Bandung akan selesai pada Juni 2011.

Selain itu, Chairul juga menyampaikan akan membangun hotel bintang enam pertama di Indonesia dan Hotel Ibis terbesar di dunia di lokasi Theme Park Bandung.

“Di dalam theme park ada mal, mal yang paling besar di Bandung, theme park Bandung ini besarnya dua kali yang di Makassar, dan ada dua hotel. Pertama hotel bintang 6 pertama di Indonesia namanya Trans Hotel, operatornya trans sendiri,” katanya di kantor Trans Corp, Jakarta, Senin (14/3/2011).


Ia menambahkan, untuk hotel kedua adalah hotel bintang tiga, dimana Ibis sebagai operatornya. Hotel bintang tiga ini akan memiliki 600 kamar, tercatat sebagai Hotel Ibis terbesar di dunia, atau menyangi Hotel Ibis di Singapura yang hanya memiliki 500 kamar.

“Beroperasinya kedua hotel ini Desember 2011,” katanya.

Chairul menjelaskan, dibuatnya kedua hotel ini bukan berarti ia beralih ke bisnis hotel, namun sesuai konsep dasar setiap theme park akan terintegrasi dengan hotel dan mal.

“Kenapa kita buat hotel bintang 6 dan 3, kan tidak semua masyarakat mampu menginap di hotel bintang 6 maka kita sediakan hotel bintang 3,” katanya.

Mengenai theme park di Bandung akan diberinama Trans Studio Theme Park yang menyediakan wahana seperti Yamaha Racing Coaster, Return To Pandora, Giant Swing, Trans Science Center dan Trans Broadcast Museum.

“Total investasi di Bandung mal dan hotel sebesar Rp 2 triliun,” katanya.
(hen/qom)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.