Oleh Hilda Sabri Sulistyo | Print |
Published On: 04 February 2011
JAKARTA: Indonesia dan India menyepakati kerja sama bidang pendidikan tinggi menyusul kunjungan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono ke negara itu pekan lalu.
“Salah satu kerja sama pendidikan yaitu di bidang teknik. India punya kekuatan di IT (information technology) yang sudah terbukti. Oleh karena itu, kami ingin kerja sama dengan India,” kata Mendiknas Mohammad Nuh, hari ini.
Jumlah mahasiswa Indonesia di India sebanyak 109 orang dan sedikitnya ada tiga perguruan tinggi di sana yang masuk 200 besar dunia sekelas ITB.
Kerja sama lain yang dijalin, kata Mendiknas, adalah di bidang pendidikan jarak jauh. Ini penting untuk jumlah penduduk yang sangat besar.
Kalau hanya mengandalkan pembelajaran konservastif perlu infrastruktur yang sangat luar biasa. Oleh karena itu MOU juga mengakomodasikan tentang distance learning, ujarnya.
Saat ini, Universitas Terbuka (UT) telah menyelenggarakan pendidikan jarak jauh dengan mahasiswa mencapai ratusan ribu orang.
“Mahasiswa UT itu yang paling banyak di Indonesia karena itu kita gabungkan dan perkuat dengan namanya e-education. Jadi edukasi yang berbasis elektronik,” katanya.
Artinya, ke depan tidak hanya UT yang diberikan lisensi untuk menyelenggarakan pendidikan jarak jauh, tetapi perguruan-perguruan tingi lain yang mumpuni seperti UT kita berikan lisensi.
Pembelajaran jarak jauh ini diselenggarakan juga untuk menggenjot kenaikan angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi. Target APK pada 2014-2015 adalah 30%.
Setiap satu persen kenaikan APK berarti perlu menambah dan menyiapkan 400 ribu kuota mahasiswa baru. Langkah yang ditempuh untuk menaikkan APK adalah ekspansi perguruan tinggi. Mendiknas mencontohkan, IPB yang setiap tahun menerima 5.000 mahasiswa dinaikkan menjadi 6-7 ribu.
Langkah lainnya, mendirikan universitas baru. Pada 2010, kata Mendiknas, pemerintah telah mendirikan lima universitas negeri baru di Merauke, Tarakan, Bangka Belitung, Batam, dan Pangkalpinang.
“Yang ketiga caranya memperbanyak dengan memperkuat distance learning. Dengan itu, kuota bisa kita naikkan,” katanya.
Keuntungan kerja sama dengan India adalah biaya hidup yang murah. Di India biaya hidup sebanyak US$ 300 atau Rp3 juta per bulan. Sementara beasiswa yang diberikan pemerintah sebanyak US$ 1.000. (mfm)
Tags:indiaindonesiakerja samakunjunganpendidikanpresiden