Investor daily 10 Nov 2011
Memalukan sekali di wilayah Indonesia tetapi radar dikendalikan dari Singapore…
TANGERANG – Radar baru Bandara Soekarno-
Hatta (Soetta), yang bernama Jakarta Automated Air
Traffic Control Systems II (JAATS-II), ditargetkan
beroperasi awal 2013. Namun, hingga 2023,
wilayah udara Kepulauan Riau (Kepri) masih akan
berada dalam kendali Singapura.
Dalam Undang-Undang (UU) No 1
Tahun 2009 tentang Penerbangan disebutkan,
wilayah udara RI yang masuk
Flight Information Region (FIR)
Singapura adalah sektor A, B, dan C,
yang berada di langit Kepri. Dengan
demikian, pengaturan lalu lintas atau
navigasi penerbangan (air traffic controller/
ATC) di wilayah itu dilakukan
oleh Singapura, termasuk Bandara
Hang Nadim di Batam. Klausul tersebut
mengacu standar International
Civil Aviation Organization (ICAO),
yang juga ditindaklanjuti dengan perjanjian
bilateral Indonesia-Singapura.
Dirjen Perhubungan Udara Kementerian
Perhubungan (Kemenhub)
Herry Bakti Singayuda Gumay mengatakan,
dalam UU Penerbangan disebutkan
bahwa pengambilalihan wilayah
udara itu bisa dilakukan maksimal
15 tahun sejak masa transisi UU
ini berakhir atau tepatnya 2024. Meski
radar baru Bandara Soetta bisa beroperasi
2013, lanjut dia, pengambilalihan
itu baru bisa dilakukan dalam
rapat yang digelar seluruh anggota
ICAO 10 tahun kemudian.
“Radar baru beroperasi 2013 dan rapat
10 tahunan ICAO akan dilakukan
pada tahun yang sama. Meski radar
sudah beroperasi kan butuh pematangan
dari sisi sumber daya manusia
(SDM) dan fasilitas pendukung yang
lain. Jadi, kemungkinan (pengambilalihan)
baru bisa diajukan dalam rapat
10 tahunan ICAO pada 2023. Program
pemerintah ini sudah sejalan dengan
UU Penerbangan,” kata dia di Tangerang,
Rabu (9/11).
Sementara itu, Menteri Perhubungan
EE Mangindaan mengatakan,
pemerintah Indonesia siap mengambil
alih wilayah udara Kepri yang selama
ini dalam kendali Singapura. Itu bisa
dilakukan setelah Bandara Soetta memiliki
radar baru dengan teknologi
terkini, yang mampu menjangkau 100%
wilayah udara RI.
Ia menjelaskan, investasi JAATS-II
mencapai Rp 700 miliar. Dari jumlah
itu, dana untuk gedung senilai Rp 200
miliar berasal dari APBN, sedangkan
PT Angkasa Pura II (AP II) menanggung
Rp 500 miliar untuk sistem radar.
Tender pengadaan sistem dimulai
Desember 2011, sedangkan tender gedung
sudah dilakukan.
“Radar baru JAATS-II tak hanya penting
untuk meningkatkan keselamatan
transportasi udara, namun lebih dari
itu untuk menjaga kedaulatan RI dari
sisi wilayah udara. Pemerintah menyadari
keterbatasan sistem radar di
Tanah Air, yang membuat sebagian
wilayah RI harus berada di bawah kontrol
negara tetangga, Singapura,” papar
Mangindaan ketika melakukan
inspeksi mendadak di Bandara Soetta,
Tangerang, kemarin
Masalah kedaulatan itu tidak bisa
ditawar-tawar, sehingga Mangindaan
berharap program pengadaan radar
baru ini menjadi prioritas. Dengan begitu,
wilayah udara RI yang selama ini
dikontrol negara lain bisa secepatnya
diambil alih.
Hingga Australia
Her r y Bakti mengatakan, radar
JAATS-II memiliki teknologi terkini.
Radar ini tak hanya memiliki daya jangkau
100% wilayah RI, namun hingga
ke Australia.
JAATS-II bisa menjadi back-up radar
Makassar, yang kini menjadi pusat
pengendali lalu lintas udara di wilayah
Indonesia timur. Radar baru juga
menghilangkan batas antarwilayah
udara RI.
“Meski radar JAATS-II sudah ada,
radar JAATS-I tetap akan dioperasikan
sebagai back up. Dengan demikian,
sistem radar udara nasional semakin
kuat dan disegani di mata internasional,”
ungkap dia.
Deputi Senior Manajer Umum AP II
Cabang Bandara Soetta Mulya Abdi mengatakan,
sistem radar JAATS-I sebenarnya
sudah cukup mumpuni, hanya
saja usianya sudah uzur. Saat ini,
sistem radar bandara internasional itu
sudah dibuat berlapis-lapis, yakni
JAATS-I, Jakarta Automated System Suports
(JASS), dan Emergency Jakarta
Air Automated. Ada pula Traffic Control
System (EJAATS) dan sistem manual.
“Kami juga tengah membuat sistem
radar cadangan lagi, yang beroperasi
Desember nanti atau paling lambat
awal Januari 2012. Jadi, ketika JAATSI
ada gangguan, sistem berikutnya
akan menggantikan,” jelas dia.
Tender Internasional
Direktur Keuangan AP II Laurensius
Manurung mengungkapkan, pihaknya
akan menggelar tender pengadaan
sistem radar JAATS-II senilai Rp 500
miliar pada Desember 2011, dengan
menggunakan anggaran tahun 2012.
Tender bersifat internasional, karena
hanya negara tertentu yang memiliki
sistem radar sekelas JAATS-II, seperti
Amerika Serikat (AS), Prancis, Italia,
dan Jerman.
“Nanti akan kami gelar tender
internasional, karena yang mempunyai
sistem radar sekaliber JAATS-II hanya
lima atau enam negara. Untuk mendukung
JAATS-II, kami juga menyediakan
lahan di luar Bandara Soetta,
di daerah Batu Jaya yang berjarak 2-5
km sehingga lebih independen,”