Lawar Century


Lawar Century’
Koran Tempo 28 Februari 2010 | 00:49 WIB

Putu Setia
Ngobrol tentang kasus Bank Century dengan orang desa, asyik juga. Kepolosan mereka membuat saya makin bernafsu. Mulanya ini selingan yang menarik setelah dijejali ocehan “para pakar” dalam tayangan televisi. Lama-lama bukan lagi selingan, karena saya mulai muak dengan ocehan itu, apalagi dengan penyiar yang mirip provokator, bukan melaksanakan fungsi sebagai “penggali berita”.
Orang desa itu tidaklah ndeso amat. Ada yang saudagar sapi. Ada yang makelar mobil bekas. Ada yang profesinya–ini bermunculan di pedesaan–menerima gadaian telepon seluler. Mereka berurusan dengan bank, minimal punya tabungan–jauh sebelum Presiden SBY mencanangkan gerakan “Mari Menabung”. Suara mereka tak mungkin masuk televisi, karena “sudah dianggap terwakili” oleh segelintir orang di kota yang teriak-teriak di jalanan. Benar atau salah pendapat mereka, tentu tak sempat diuji, apalagi kebenaran sudah dimonopoli oleh beberapa politikus.
Misalnya tentang Sri Mulyani Indrawati–sungguh-sungguh mereka hafal nama lengkap Menteri Keuangan ini. Sebagai pejabat yang bertanggung jawab mengenai kestabilan ekonomi, Ibu Sri dengan cepat memutuskan mem-bail-out Bank Century agar efeknya tidak merembet ke bank lain dan mengakibatkan krisis lebih dalam. Pengalaman 1998 menjadi guru yang baik karena kekurangcermatan penanganannya.
Salah atau benarkah Ibu Sri? “Gampang sekali, lihat saja setelah 2008 itu ada krisis atau tidak? Tak ada krisis, jadi tindakannya benar, kok repot sekali,” kata juragan sapi. Bahwa ada aliran uang yang menetes ke sana atau ke sini, itu bukan urusan Ibu Sri, silakan diproses sesuai dengan hukum. Masak, Ibu Sri harus nongkrongi kasir bank?
Tentang uang Rp 6,7 triliun itu apakah membuat negara rugi? Ini uang hasil iuran bank yang memang dipergunakan untuk kestabilan. Memang sudah keluar uangnya, tapi kan bisa kembali kalau nanti Bank Mutiara, yang jadi siluman Century, sudah baik dan bisa dijual. “Nyatanya, Bank Mutiara jalan bagus, saya baru menabung di sana, kantornya di Denpasar malah makin besar di daerah elite,” kata si makelar mobil bekas. Tapi ia buru-buru menambahkan, aliran dana yang tak beres–kalau nyatanya ada–tetap mesti diusut dan diproses.
Yang menarik adalah pendapat mereka tentang Pansus Angket Century. Kesimpulan Pansus–baik sementara maupun akhir–hanya membuang-buang duit Rp 2,5 miliar, anggaran yang dipakai Pansus. Lo, kok begitu? “Semua fraksi bilang, hasil Pansus Century perlu ditindaklanjuti ke jalur hukum. Kalau hasilnya begitu, ngapain pakai hak angket? Dari dulu saja serahkan ke aparat hukum,” kata si rentenir telepon seluler.
Jadi, apa dong hasil kerja Pansus? Kata mereka, anggota Pansus hanya berupaya menaikkan citra partai. Partai Golkar paling ge-er, seolah berhasil menjadikan “panas 32 tahun dihapuskan oleh hujan dua bulan”, padahal rakyat belum tentu mudah “lupa”. Partai lainnya–yang kalah dalam pemilu lalu–mengklaim mengungkap “kebenaran sejati”, seolah partai lainnya “menutupi kebenaran”. Padahal kebenaran tak bisa dimonopoli. Kebenaran berkaitan dengan siapa pemberi informasi yang dianggap benar itu. Apakah kalangan perbankan dan pengusaha didengar oleh Pansus untuk menentukan kebenaran itu?
Lalu, kerja Pansus ibarat apa? “Membuat lawar capung,” kata mereka. Wah, ini kiasan khas Bali. Lawar itu masakan yang bumbunya banyak sekali, padahal bahan pokoknya hanya capung, serangga kecil. Jadi, masalah kecil yang bumbunya riuh, pakai nyanyi-nyanyi segala tatkala puluhan buruh teh di Jawa Barat tertimbun lumpur. Amit-amit….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: