RI dinilai rendah dari inisiatif riset jamu


RI dinilai rendah dari inisiatif riset jamu
Minggu, 11/04/2010 18:56:50 WIBOleh: Imung Yuniardi
SEMARANG (Bisnis.com):Indonesia dinilai masih rendah dalam inisiatif riset jamu sehingga pengembangan industri termasuk pengembangan pasar ekspor menjadi stagnan.

Meskpun demikian, produsen jamu Nyonya Meneer tetap menargetkan mampu mencapai omzet ekspor senilai Rp100 miliar tahun ini dari total omzet sebesar Rp1 triliun.

Presdir Nyonya Meneer Charles Saerang menuturkan selama ini pihaknya kesulitan menembus pasar jamu di luar negeri secara langsung akibat tingkat kepercayaan mereka terhadap standarisasi produk di Indonesia masih rendah.

“Itulah mengapa kami terpaksa mengekspor ke Taiwan dan China misalnya, dengan perantaraan Amerika Serikat. Jadi kami kirim produk ke Los Angeles dan dari sana baru dikirim ke China dengan kemasan berbeda,” jelasnya kepada Bisnis.com baru-baru ini.

Kalaupun ada yang dikirim langsung ke negara tujuan, lanjutnya, biasanya berupa tanaman obat seperti jahe merah yang memang harus diakui sulit tumbuh di China.

Namun di negara yang biasanya banyak menyerap bahan obat dari Indonesia seperti India, mulai mengembangkan sendiri tanaman obat serupa di wilayah-wilayah mereka yang memiliki dua musim.

“Di sinilah kondisinya jadi serba sulit, sudah negara kita kurang dipercaya kredibilitas produknya, dari sisi inisiatif riset juga kalah. Dampaknya akhirnya pengusaha juga yang kena.”

Charles menambahkan meski tahun depan diharapkan omzet Nyonya Meneer dapat mencapai Rp1 triliun namun potensi pasar jamu relatif stagnan dan berganti pada suplemen makanan.

“Saya kecewa dengan mandeknya program saintifikasi jamu sebab sebenarnya dalam jangka panjang bisa menggairahkan pasar jamu lagi di negeri sendiri,” ujarnya.

Menurut dia, tidak jelasnya kelanjutan program saintifikasi jamu yang dicanangkan Menteri Kesehatan tiga bulan lalu itu akibat terlalu banyak tarik ulur kepentingan selain juga banyak prosedur yang belum jelas.

Contohnya soal kewenangan meresepkan jamu yang hanya dimiliki dokter herbal.

“Tetapi untuk bisa mendapat predikat dokter herbal harus lulus semacam kursus 60 jam yang hingga kini kurikulumnya pun tidak jelas apa saja, siapa yang menyusun dan sudah sampai mana. Itu baru soal dokter herbal,” paparnya.

Belum lagi lanjutnya mengenai klasifikasi jamu yang bisa diresepkan sampai sekarang juga tidak jelas meski pihak pengusaha jamu sudah bersedia memasok kebutuhan Kementerian Kesehatan.

“Ketika kami menyanggupi memasok bahkan untuk kebutuhan penelitian bisa gratis malah mereka yang belum bisa memberi kepastian jenis jamu yang bisa diresepkan. Yang satu bilang jangan yang kuratif, yang lain bilang kalau bukan kuratif tidak laku. Jadi masih susah,” katanya. (fh)


Site Meter

Advertisements
Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: