ROAD MAP BUMN: 141 BUMN Diciutkan Menjadi 78 BUMN


141 BUMN Diciutkan Menjadi 78 BUMN
Rabu, 28 April 2010 | 04:07 WIB

Singapura, Kompas – Kementerian Badan Usaha Milik Negara merancang roadmap atau peta jalan pengembangan perusahaan milik negara yang akan menciutkan jumlah BUMN dari 141 perusahaan yang ada saat ini menjadi 78 perusahaan tahun 2014. Program ini diharapkan akan menambah nilai ekuitas dan aset BUMN lima kali lipat dari yang ada saat ini karena efisiensi dan penajaman bisnis.

”Saat ini nilai ekuitas semua BUMN mencapai Rp 500 triliun dan nilai aset Rp 2.200 triliun. Kami harap, dengan adanya penajaman nanti, nilai ekuitasnya bisa bertambah lima kali lipat menjadi Rp 2.500 triliun dan asetnya Rp 11.000 triliun,” ungkap Deputi Bidang Privatisasi dan Restrukturisasi Kementerian BUMN Mahmuddin Yasin di Singapura, Selasa (27/4).

Menurut Yasin, ada empat cara yang akan dilakukan dalam program penajaman bisnis BUMN, yakni dipertahankan tetap berdiri sendiri, likuidasi, divestasi, serta merger dan konsolidasi. Ada sekitar 39 BUMN yang akan dibiarkan tetap berdiri sendiri, yakni BUMN yang tergolong besar, berbentuk perusahaan umum (perum), dan BUMN pemegang tanggung jawab public service obligation (PSO/memberikan pelayanan publik).

”Road map terbaru sudah kami susun untuk periode 2010-2014 dan akan dilaksanakan setelah ditandatangani Menteri (Menteri BUMN Mustafa Abubakar). Kami harap dalam bulan April ini,” ungkap Yasin.

BUMN yang dikategorikan sebagai perusahaan besar antara lain adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Garuda Indonesia (Persero), PT Jasa Marga (Persero) Tbk, PT Krakatau Steel (Persero), PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk, Pertamina, dan PT PLN. Totalnya diperkirakan ada 25 BUMN.

BUMN yang berstatus perum ada 14 perusahaan, antara lain Bulog. Sementara BUMN yang saat ini menanggung tanggung jawab PSO ada 10 perusahaan.

”Dari 10 BUMN PSO itu, lima di antaranya adalah BUMN besar. BUMN PSO yang akan kami biarkan berdiri sendiri antara lain PT Pelni dan PT Kereta Api,” ungkap Yasin.

Adapun salah satu BUMN yang akan didivestasi (dilepas kepemilikan saham pemerintah) adalah PT Cambrics Primissima yang bergerak di industri pemintalan dan pertenunan. Perusahaan ini merupakan patungan pemerintah dengan Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) dengan komposisi sahamnya saat ini pemerintah 52,79 persen dan GKBI 47,21 persen.

”Kami menganggap pemerintah tidak pantas lagi terjun langsung di sektor tekstil. Kami juga memandang sudah tak perlu lagi memegang bisnis buku di Balai Pustaka atau Percetakan Negara,” ungkap Yasin.

Pilihan merger

Pemerintah juga merancang ada empat kelompok usaha BUMN yang patut digabungkan, yakni BUMN di bidang perkebunan, farmasi, industri dok, dan tambang. Di kelompok perkebunan ada 14 PT Perkebunan Nusantara (PTPN) plus PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) yang akan digabungkan dalam naungan sebuah perusahaan induk (holding).

”Jika holding perkebunan ini tuntas, kami perkirakan akan ada pembentukan modal sekitar Rp 15 triliun yang cukup untuk membuka 400.000 hektar lahan sawit baru, dengan asumsi setiap hektar membutuhkan Rp 40 juta investasi,” ujar Yasin.

Untuk BUMN farmasi, pemerintah mengkaji kemungkinan penggabungan Kimia Farma dengan Indofarma, yang masing-masing punya kelebihan pada penjualan ritel dan produksi. Untuk industri perkapalan, pemerintah mengkaji penggabungan tiga perusahaan, yakni PT Dok dan Perkapalan Surabaya, PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari, serta Industri Kapal Indonesia (IKI) Makassar.

”Adapun untuk perusahaan tambang, yang sebagian besar sudah masuk bursa, kami sudah mengkaji penggabungan dalam sebuah perusahaan baru bernama Indonesian Resources Company (IRC) untuk mengikuti kecenderungan di dunia yang dilakukan untuk menopang pertumbuhan korporasi dan keuntungan,” tutur Yasin.

Analis Equity Capital Market PT Danareksa, Chandra Pasaribu, mengatakan, BUMN yang mencatatkan sahamnya di pasar modal mampu bersaing dengan perusahaan swasta karena memiliki setidaknya delapan keunggulan. Dalam lima tahun terakhir, tingkat pengembalian modal (ROE), tingkat pengembalian aset (ROA), dan tingkat profitabilitas perusahaan-perusahaan BUMN lebih unggul dibandingkan dengan swasta. (Orin Basuki, dari Singapura)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: