Archive for December, 2010

December 31, 2010

Kapolri: Tingkat Kecelakaan Naik, Kematian Turun

Kapolri: Tingkat Kecelakaan Naik, Kematian Turun

Liputan 6

Liputan 6 – Rabu, 29 Desember

Liputan6.com, Jakarta: Pihak Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia atau Mabes Polri menyatakan terjadi kenaikan angka kecelakaan lalu lintas sebanyak 3.880 kasus atau sebesar 6,72 persen. “Kecelakaan lalu lintas pada tahun 2010 sebanyak 61.606 perkara, dibanding tahun lalu sebesar 57.726 perkara,” ucap Kepala Polri Jenderal Polisi Timur Pradopo dalam pemaparannya saat jumpa pers Akhir Tahun 2010 di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (29/12).

Untuk mengendalikan peningkatan angka kecelakaan di Indonesia, Kapolri meminta kerja sama masyarakat agar mematuhi lalu lintas. “Ini diperlukan upaya kerja keras dan sinergitas berbagai pihak untuk mendorong tercapainya kualitas berlalu lintas, sehingga kecelakaan lalu lintas yang diawali dari pelanggaran terhadap aturan berlalu lintas dapat diminalisir,” kata Timur.

Untuk tingkat korban meninggal dunia dan luka-luka akibat kecelakaan, Timur menjelaskan, terjadi penurunan yang drastis. “Meninggal dunia terjadi penurunan sebesar 43,15 persen. Untuk luka berat turun 36,11 persen dan luka ringan juga turun 47,18 persen,” imbuhnya.

Selain itu, mantan Kepala Badan Pemeliharaan dan Keamanan Polri itu memaparkan, penurunan juga terjadi pada kasus pelanggaran berlalu lintas. “Pelanggaran lalu lintas turun sebesar 46,42 persen. Tahun ini sebesar 3.114.970, sedangkan pada tahun 2009 5.814.386,” ujar Jenderal Timur.(ANS)

 

Advertisements
December 31, 2010

Aset Grup Sinarmas capai US$ 15 miliar

Dari Kontan online
Aset Grup Sinarmas capai US$ 15 miliar

JAKARTA. Grup Sinarmas semakin bersinar. Konglomerasi bisnis yang didirikan taipan Eka Tjipta Wijaya itu, kini semakin membesar dengan kekayaan sekitar US$ 15 miliar atau senilai Rp 135 triliun (kurs Rp 9.000 per dollar AS). “Nilai aset grup Sinarmas kira-kira sudah US$ 15 miliar,” ujar Gandhi Sulistyanto, Managing Director Sinarmas Group kepada KONTAN kemarin.

Nilai aset grup ini meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2005 silam yang baru mencapai sekitar US$ 7 miliar. Menurut Gandhi, aset Sinarmas itu tersebar di banyak sektor usaha.

Di sektor keuangan, Sinarmas memiliki PT Sinarmas Multiartha Tbk (SMMA) dan Bank Sinarmas (BSIM) yang tengah naik daun. Di pulp and paper product, dua andalan grup ini adalah PT Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) dan PT Indah Kiat Tbk. (INKP). Di sektor agribisnis dan pangan ada PT Sinarmas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR).

Lalu di properti, Sinarmas memiliki PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dan PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI). “Kami akan mengonsolidasikan semua unit usaha properti di bawah naungan Sinarmas Land. Realisasinya awal tahun depan,” kata Gandhi. Sebagai langkah awal konsolidasi, BSDE baru saja mengakuisisi DUTI senilai Rp 3,4 triliun.

Mulai tahun depan, Sinarmas akan mengembangkan dua sektor bisnis lagi, yaitu telekomunikasi dan sumber daya alam (SDA). Di sektor telekomunikasi, Sinarmas akan menggabungkan PT Mobile 8 Telecom Tbk (FREN) dengan Smart Telecom.

Di pertambangan dan energi, melalui PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA), Sinarmas akan menggarap bisnis batubara dan listrik. Tahun depan, PT Bumi Kencana Eka Sakti, perusahaan batubara milik DSSA, menargetkan produksi 2,5 juta ton.

Pada 2011, Bumi Kencana juga berniat menggelar penawaran saham perdana. “Target dananya Rp 1 triliun,” kata Kokaryadi Chandra, Direktur Utama Sinarmas Sekuritas.

Untuk mengembangkan bisnisnya, Grup Sinarmas memang rajin mencari dana dari pasar modal. Belum lama ini, Bank Sinarmas baru saja melantai dan mengantongi fulus sebesar Rp 240 miliar. Grup ini juga baru melepas saham Northstar Tambang Persada, pemilik 40% saham PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID).

Nilai kapitalisasi saham sembilan emiten grup Sinarmas di Bursa Efek Indonesia, kemarin, mencapai Rp 77,26 triliun. Padahal, di awal tahun ini, nilai kapitalisasi grup tersebut tanpa Bank Sinarmas baru Rp 45 triliun.

 

December 31, 2010

Laba Bersih BUMN 2010 Diperkirakan Rp93 Triliun

Laba Bersih BUMN 2010 Diperkirakan Rp93 Triliun

Antara

Antara – Sabtu, 1 Januari
Laba Bersih BUMN 2010 Diperkirakan Rp93 Triliun

Jakarta (ANTARA) – Jumlah laba bersih yang diperoleh dari seluruh perusahaan BUMN pada sepanjang tahun 2010 diperkirakan dapat mencapai hingga sekitar Rp93 triliun.

“Total laba prognosa 2010 yang belum termasuk perolehan laba kuartal keempat 17 BUMN Tbk adalah Rp84,7 triliun. Kalau semua sudah masuk, mungkin dapat mencapai Rp92 triliun-Rp93 triliun,” kata Menteri BUMN, Mustafa Abubakar, dalam konferensi pers refleksi akhir tahun 2010 di Jakarta, Jumat.

Mustafa memaparkan, dari seluruh BUMN non-Tbk yang mendapat laba bersih prognosa 2010 sebesar Rp84,7 triliun, sektor yang mendapatkan laba terbesar adalah sektor energi yang mencapai Rp33,26 triliun, yang diikuti sektor perbankan (Rp16,5 triliun), dan telekomunikasi (11,95 triliun).

Mengenai kontribusi BUMN ke negara, Menteri BUMN mengatakan, pihaknya memberikan kontribusi langsung ke kas negara yaitu berupa dividen, pajak, dan privatisasi.

“Dividen untuk tahun 2010 adalah Rp29,9 triliun, kemudian pajak Rp100,7 triliun, dan kemudian hasil dari privatisasi Rp2,1 triliun,” katanya.

Sedangkan kontribusi BUMN kepada perekonomian negara secara umum adalah kapitalisasi pasar modal (Rp819 triliun), belanja operasional/operating expenditure (Rp893 triliun), belanja modal/ capital expenditure (Rp197 triliun), program kemitraan dan bina lingkungan (masing-masing Rp1,8 triliun dan Rp0,9 triliun), kredit usaha rakyat/KUR (Rp16,4 triliun), dan PSO/public service obligation (Rp201,3 triliun).

Telkom, terbesar

Sementara itu, berdasarkan data hingga kuartal III 2010, PT Telkom Tbk adalah BUMN Tbk dengan pendapatan usaha terbesar dengan Rp17,9 triliun, sedangkan PT Indofarma Tbk menunjukkan pertumbuhan pendapatan usaha yang cukup signifikan sekitar 32,6 persen dibandingkan periode yang sama pada 2009.

Masih berdasarkan data pada kuartal III 2010, PT Telkom Tbk adalah BUMN Tbk dengan laba bersih terbesar dengan Rp2,9 triliun, sedangkan PT Indofarma menunjukkan pertumbuhan laba bersih yang signifikan sekitar Rp699,2 triliun dibandingkan dengan periode yang sama pada 2009.

Menurut Mustafa, sepanjang tahun 2010 perekonomian nasional Indonesia terus menunjukkan penguatan ekonomi yang terus berlanjut.

Menteri BUMN mengatakan, baik pertumbuhan ekonomi maupun arus modal terus memperlihatkan arah yang positif.

“Situasi ini, menjadi peluang besar bagi BUMN untuk tumbuh dan berkembang. Terlebih, iklim politik dan keamanan kita juga sudah semakin kondusif,” katanya,

 

December 31, 2010

Laba Pertamina EP naik, Pertamina andalkan sektor hulu

Sumber : Kontan online
Kamis, 30 Desember 2010 | 20:30  oleh Fitri Nur Arifenie
KINERJA PERTAMINA
Laba Pertamina EP naik, Pertamina andalkan sektor hulu

JAKARTA. PT Pertamina (Persero) masih mengandalkan sektor hulu untuk menggenjot kinerja keuangan perusahaan. Salah satu anak usahanya di sektor hulu, PT Pertamina EP mampu memperoleh laba sebelum pajak (EBITDA) sebesar Rp 19,68 triliun di tahun ini. Pada tahun depan, Pertamina EP menargetkan EBITDA perusahaan menjadi Rp 22 triliun. “80% dari pendapatan sektor hulu berasal dari Pertamina EP,” ujar Direktur Utama Pertamina EP, Salis Aprilian, Kamis (30/12).

Komisaris Utama Pertamina, Sugiharto mengamini bahwa Pertamina akan terus menggenjot sektor hulu. Bahkan, perusahaan migas plat merah ini sudah menyiapkan belanja modal sebesar Rp 262,3 triliun dalam empat tahun ke depan.

Tahun ini, Pertamina anggarkan belanja modal sebesar Rp 26,2 triliun . Tahun depan, belanja modal Pertamina naik 41,6%. “Anggaran belanja modal perusahaan tahun depan naik menjadi Rp 37,1 triliun,” jelas Sugiharto.

Dari anggaran belanja modal itu, sebagian besar untuk sektor hulu. Sebanyak Rp 28,4 triliun, belanja modal akan dianggarkan untuk sektor hulu. Ekspansi di sektor hulu ini bertujuan mendongkrak produksi Pertamina.

Sisanya, 8,7 triliun rupiah akan dialokasikan untuk sektor hilir, yakni untuk tujuan pemasaran, kilang, perkapalan, gas alam cair, dan keperluan distribusi lainnya. Salis menambahkan, tahun ini, Pertamina EP mendapatkan jatah dana belanja modal dari perusahaan induk sebesar Rp 6,87 triliun.

Di tahun depan, Pertamina EP mendapatkan jatah yang lebih besar lagi sebesar Rp 7,2 triliun. Belanja modal ini, kata Salis untuk mengeksplorasi sumur-sumur tua milik Pertamina EP. Karena sumur tua, Pertamina EP harus menggunakan teknologi yang canggih untuk melawan laju penurunan produksi sebesar 18% hingga 30%.

Tahun ini, produksi migas Pertamina diperkirakan mencapai 432 ribu barel per hari. Produksi migas ditargetkan meningkat pada 2011 sebanyak 475 ribu barel per hari, dan pada 2012 sebesar 498 ribu barel per hari.

Kontribusi produksi migas tersebut, kata Sugiharto terutama diharapkan bersumber dari dua anak usaha Pertamina yang bergerak di bisnis hulu migas, yakni PT Pertamina EP dan PT Pertamina Hulu Energi. “Target kami, pada tahun 2015, Pertamina bisa mencapai produksi satu juta barel,” kata Sugiharto.

 

December 31, 2010

PT DI Sukses Merancang Pesawat Baru N219

PT DI Sukses Merancang Pesawat Baru N219

Rancangan pesawat N219.

28 Desember 2010, Jakarta — Sejak tahun 2006, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) telah berupaya mengembangkan pesawat model baru N219. Pesawat turboprop dengan 19 penumpang tersebut ditargetkan bisa melayani kebutuhan penerbangan perintis untuk menghubungkan wilayah-wilayah terpencil.

Untuk mengembangkannya, PT DI bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam mengembangkan model uji aerodinamika. Sementara itu, uji aerodinamikanya sendiri dilakukan pada tahun 2008.

Hari ini, Selasa (28/12/2010), hasil uji dinamika yang dilakukan BPPT di Laboratorium Aero Gasdinamika dan Getaran, Serpong, diserahkan kepada PTDI, menandai tuntasnya uji tersebut. Hasil uji menunjukkan kemampuan pesawat untuk lepas landas dan mendarat serta stabilitasnya.

Andi Alisjahbana, Direktur Aerostruktur PT DI mengatakan, “Sejauh ini kita telah melakukan uji aerodinamika yang meliputi 139 polar.” Polar berkaitan dengan kestabilan posisi pesawat dalam kondisi tertentu sesuai dengan komando yang diberikan kepadanya.

Selain itu, berdasarkan uji aerodinamika, diperoleh kesimpulan bahwa pesawat bisa lepas landas dan mendarat (take off dan landing) pada landasan yang pendek. “Landasan yang dibutuhkan untuk take off dan landing hanya 600 meter,” kata Andi.

Menurut Andi, kemampuan tersebut sangat dibutuhkan untuk pesawat perintis. “Banyak daerah terpencil di Indonesia yang tak memiliki lahan luas. Seperti pulau-pulau kecil, di sana tidak mungkin membangun bandara besar,” lanjut Andi.

Model yang digunakan dalam uji aerodinamika memiliki perbandingan ukuran 1:6,3. Uji aerodinamika sendiri dilakukan dalam terowongan angin sirkuit tertutup. Hasil uji juga mengungkapkan stabilitas matra longitudinal dan lateral pesawat.

Rancangan pesawat masih harus menjalani uji lainnya. Beberapa di antaranya adalah ditching test, uji statik pesawat, uji mesin produksi, dan akhirnya uji coba terbang. Ditargetkan, pesawat sudah bisa diluncurkan dua tahun mendatang.

KOMPAS

 

December 31, 2010

Tak Ada Peta Jalan Industri Dirgantara

Friday, December 31, 2010

Tak Ada Peta Jalan Industri Dirgantara


31 Desember 2010, Jakarta — Pengembangan industri dirgantara belum menjadi prioritas pemerintah. Hingga kini, pemerintah tidak mempunyai peta jalan pengembangan industri dirgantara. Akibatnya, perkembangan industri bernilai strategis bagi bangsa itu sangat bergantung kepada pasar.

”Industri pesawat tidak bisa dibiarkan tumbuh sesuai mekanisme pasar yang sangat bergantung kepada supply-demand (ketersediaan dan permintaan),” kata Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Marzan Azis Iskandar seusai menyerahkan hasil uji aerodinamika pesawat N219 dari BPPT kepada PT Dirgantara Indonesia (DI).

Pembuatan satu paket pesawat N219 yang cocok digunakan untuk wilayah pedalaman Papua dan pulau kecil karena bisa mendarat di landasan berumput sepanjang 600 meter ini hanya Rp 1 triliun untuk 25 pesawat. Nilai itu, menurut Marzan, sangat kecil jika dibandingkan dengan nilai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mencapai Rp 1.200 triliun, subsidi bahan bakar minyak lebih dari Rp 83 triliun, subsidi buku sekitar Rp 15 triliun, atau nilai investasi Jembatan Selat Sunda sekitar Rp 150 triliun.

”Ini bukan hanya soal besaran dana (Rp 1 triliun), tetapi pesawat ini harus dibuat untuk regenerasi engineer (insinyur) pembuat pesawat Indonesia,” katanya.

Mulai pensiun

Direktur Utama PT DI Budi Santoso menambahkan, pesawat N219 ini merupakan jembatan bagi ahli rekayasa pesawat Indonesia. Para ahli rekayasa dan teknisi hasil didikan pelopor industri pesawat terbang Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie, pada 1980-1990, akan mulai memasuki masa pensiun.

Generasi pertama pembuat pesawat Indonesia itu pernah mengembangkan pesawat canggih di kelasnya, seperti CN235 dan N250. Agar ilmu yang dimiliki para ahli senior itu dapat diteruskan kepada ahli rekayasa dan teknisi muda, perlu media yang memungkinkan transfer ilmu dan teknologi itu berlangsung.

”Jika regenerasi ini tidak terjadi, kemampuan yang sudah dimiliki akan hilang. Artinya, jika setelah itu Indonesia ingin membangun kembali industri dirgantaranya, Indonesia harus memulai dari nol lagi,” ungkapnya.

Tidak terjadinya transfer teknologi itu dinilai Marzan sebagai kehilangan besar bagi Indonesia. Untuk membangun kembali kemampuan membuat pesawat butuh waktu lama dan biaya yang jauh lebih besar.

Ketiadaan peta jalan (road map) industri dirgantara juga membuat kebutuhan ahli pesawat Indonesia tidak jelas. Semula ahli di PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (nama lama PT DI) banyak disuplai oleh alumni Jurusan Teknik Penerbangan (sekarang Program Studi Aeronautika dan Astronautika) Institut Teknologi Bandung (ITB). Selain itu, para ahli dan teknisi itu juga diisi oleh lulusan Universitas Nurtanio Bandung dan Universitas Suryadarma, Halim Perdana Kusuma, Jakarta.

Setiap tahun, jumlah lulusan dari ITB diperkirakan sekitar 60 orang. Sejak industri dirgantara Indonesia surut akibat krisis ekonomi 1998, banyak alumnus ITB yang memilih bekerja pada maskapai penerbangan. Tanpa ada peta jalan yang jelas, lulusan teknik penerbangan tersebut akan sulit berkembang atau kemampuannya tidak termanfaatkan.

KOMPAS

 

December 29, 2010

Merpati dan Batavia buka jalur penerbangan Bali-Dili

Dari kontan :http://mobile.kontan.co.id/industri/read/55432/Merpati-dan-Batavia-buka-jalur-penerbangan-Bali-Dili

Rabu, 29 Desember 2010 | 16:00

Merpati dan Batavia buka jalur penerbangan Bali-Dili

[]

JAKARTA. PT Merpati Nusantara Airlines dan PT Batavia Air membuka rute penerbangan baru Denpasar – Dili, Timor Leste. Rute penerbangan baru itu untuk mengakomodasi wisatawan yang hendak menuju ke Bali.

Direktur Niaga PT Merpati Nusantara Airlines, Tonny Aulia Achmad mengatakan mereka telah membuka rute penerbangan Denpasar-Dili sejak tanggal 8 Desember 2010. Penerbangan berjadwal itu menggunakan pesawat Boeing 737 seri 300. “Penerbangan dilakukan 7 kali dalam seminggu,” ungkap Tonny.

Selain penerbangan berjadwal, Merpati rencananya juga akan kembali membuka rute penerbangan lain yaitu Kupang-Dili tapi dengan sistem charter. Meskipun charter, penerbangan Merpati direncanakan bisa dilakukan 3 kali dalam seminggu. Untuk rute baru itu, Merpati akan menggunakan pesawat MA-60 yang baru dibeli dari China.

Sementara, rute penerbangan Batavia Air baru dibuka secara resmi pada tanggal 27 Desember 2010. Menurut Tonny, sekitar 80% dari penumpang yang ada merupakan ekspatriat yang ada di Dili. “Mereka setiap minggu berlibur ke Bali,” ungkap Tonny.

Begitu juga sebaliknya, menurut Public Relation Manager PT Batavia Airline, Eddy Haryanto, berbagai obyek wisata di Dili seperti Patung Yesus juga menjadi magnet bagi wisatawan untuk datang ke ibu kota negara bekas wilayah NKRI itu. “Selain itu, banyak juga penumpang yang datang karena kepentingan bisnis,” ungkap Eddy.

December 29, 2010

Cadangan Devisa Bisa Tembus US$110 Miliar



Cadangan Devisa Bisa Tembus US$110 Miliar
Oleh Agust Supriadi | 28 December 2010

    JAKARTA: Pemerintah memperkirakan cadangan devisa Indonesia menembus US$110 miliar pada 2011 sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang meningkat.

    Agus D. W. Martowardojo, Menteri Keuangan, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2011 mencapai 6,4%, naik dari proyeksi tahun ini yang sekitar 6%. Sejumlah asumsi makro lainnnya yang akan turut memengaruhi a.l. Inflasi akan dijaga 5,3%, SBI 3 bulan 6,5%., dan kurs
    Rp9.250 per dollar AS.

    “SBI 3 bulan rata-rata pada 2011 juga diharapkan akan sama dengan tahun ini 6,5%.  Kurs menguat sejalan dengan meningkatnya cadangan devisa. Kami laihat bahwa cadangan devisa terus mengkt, bahkan sudah US$93 miliar. 2011 kurs diharapakan Rp9.250 dan cadangan devisa diperkirakan US$110 miliar,” tutur dia di kantornya, hari ini.

    Untuk harga minyak dalam negeri (ICP), ujar dia, rata-rata realisasinya sejauh ini US$78,7 per barel dan pada 2011 diasumsikan US80 per barel. Sementara produksi (lifting) minyak, tahun ini diasumsikan 965 ribu barel per hari, sedangkan pada 2011 akan menembus 970 ribu barel per hari.

    December 28, 2010

    Kapasitas JICT Menjadi 3 Juta TEU Tahun 2012

    Dec 27th, 2010 | Rubrik BURSAUTAMA

    Kapasitas JICT Menjadi 3 Juta TEU Tahun 2012

     

    NERACA

    Jakarta – Jakarta International Container Terminal (JICT), terminal kontainer terbesar di Indonesia hasil joint company antara Hutchison Port Holdings (HPH) Group dengan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II, berhasil mencatat rekor produktivitas tahunan sebanyak 2 juta TEU (Twenty-foot Equivalent Units) pada 19 Desember 2010 lalu.

    Menurut Presiden Direktur JICT, Herman Sembiring mengatakan, produktivitas tersebut merupakan pencapaian tertinggi sejak perusahaan tersebut beroperasi tahun 1999 dan diraih pada saat melayani kapal MV.Topaz milik American President Line (APL).

    Pencapaian tersebut, lanjut Herman, mencerminkan dedikasi dan kerja keras seluruh manajemen dan karyawan JICT. Para pemegang saham, HPH dan Pelindo II, berkomitmen untuk meningkatkan produktivitas JICT melalui serangkaian investasi besar yang tujuannya mewujudkan JICT menjadi terminal petikemas dunia.

    “Pemulihan ekonomi global telah mendorong aktivitas perdagangan internasional dan kita (JICT), melihat peningkatan dalam jumlah barang impor dan ekspor di Indonesia. Dengan perkiraan pertumbuhan perekonomian Indonesia sekitar 6,5% pada 2011, program ekspansi yang sedang berjalan akan meningkatkan kapasitas dan kemampuan JICT untuk memfasilitasi peningkatan volume terminal,” kata Herman.

    Setelah program ekspansi yang direncanakan akan selesai pada 2012 mendatang, JICT akan memiliki tambahan lapangan penumpukan sebesar 12 hektar dan pintu gerbang otomatis (auto gate system) sehingga lalu lintas truk dari dan ke luar terminal semakin efisien.

    Presiden Direktur APL Indonesia, Mark Parco menyatakan apresiasinya atas peningkatan prestasi yang diraih JICT yang menurutnya, telah menjadi pelabuhan panggilan di Indonesia bagi APL selama bertahun-tahun.

    “Kinerja operasional JICT telah meningkat signifikan. Dengan tambahnya lapangan penumpukan dan pintu gerbang otomatis, maka secara keseluruhan, kapasitas JICT akan meningkat 50% menjadi 3 juta TEU per tahunnya di tahun 2012, serta berharap untuk melanjutkan hubungan sukses ke depannya,” papar Mark.

    JICT merupakan anak perusahaan dari Hutchison Port Holdings (HPH) Group, yang anak perusahaan dari konglomerat Hutchison Multinational Whampoa Limited (HWL), yang merupakan operator, pengembang, dan investor pelabuhan terkemuka dunia dengan total 51 pelabuhan yang mencakup 25 negara di Asia, Timur Tengah, Afrika, Eropa, Amerika Serikat, dan Australia.

     

    (ardi)

     

    December 28, 2010

    HSDPA Pada 2011 Mencapai 11,6 Juta Pengguna

    HSDPA Pada 2011 Mencapai 11,6 Juta Pengguna
    Oleh Sepudin Zuhri | 27 December 2010

    ( 0 Votes )

     

    JAKARTA: Pengguna teknologi HSDPA, teknologi komunikasi bergerak yang dikeluarkan oleh 3GPP atau sering disebut teknologi generasi 3,5G, pada tahun depan diperkirakan akan mencapai 11,6 juta pengguna.

    Pengguna teknologi HSDPA tersebut pada 2011 akan lebih besar dibandingkan dengan pengguna fixed broadband yang hanya sekitar 4,2 juta pengguna.

    Sementara itu, pengguna fixed broadband pada tahun ini diperkirakan sekitar 2,7 juta pengguna, sedangkan pada tahun lalu hanya 1,7 juta pengguna.

    Layanan fixed broadband terdiri atas jaringan kabel telepon atau DSL (Digital Subscriber Line), melalui jaringan televisi kabel, dan melalui jaringan kabel serat optik (fiber).

    Principal Consultant Nokia Siemens Networks Charles Karsten mengatakan penggunaan internet di Indonesia pada tahun ini tidak digunakan secara luas, tetapi tren pengunaan internet saat ini tumbuh sangat cepat.

    “Jumlah PC [komputer], ISP [penyedia jasa internet] dan infrastruktur telekomunikasi yang semakin baik, akan meningkatkan penetrasi internet pada tahun depan,” ujarnya, hari ini.

    Pengguna internet di Indonesia per Oktober tahun ini telah mencapai 45 juta pengguna dan diperkirakan hingga akhir tahun akan mencapai 48,7 juta naik dibandingkan dengan tahun lalu 40,4 juta pengguna.

    Sementara itu, pengguna internet di Indonesia pada 2011, kata dia, akan mencapai 58,7 juta atau bertumbuh sebesar 20,5%.

    Dia menjelaskan selama ini penggunaan internet yang belum terlalu banyak disebabkan pemerintah kurang mendorong penetrasi internet dan masalah pendapatan masyarakat Indonesia yang masih rendah. Namun, jumlah komputer yang terus meningkat dan jumlah ISP serta infrastruktur telekomunikasi yang semakin baik, akan meningkatkan penggunaan internet di dalam negeri. “Peluang peningkatan ienternet didukung oleh berbagai pihak yang semakin menerima internet.”

    Ke depan, kata dia, penyedia layanan internet akan membtuhkan kreativitas dalam paket broadband dan nilai tambah lainnya untuk meningkatkan penggunaan layanan broadband dan mendorong konsumen memperbarui kecepatan akses internet.