Strategi Krakatau Tirta Industri Dukung Ekspansi KS Group


PROFILE BUMN
Strategi Krakatau Tirta Industri Dukung Ekspansi KS Group
Posted : 01 Jun 2010 | By : Sigit | Komentar : 0

(Businessreview) – Industri pabrik baja tak bisa berjalan tanpa ketersediaan air. Begitu juga dengan rencana PT Krakatau Steel Group (KSG) yang hendak meningkatkan kapasitas produksi baja, tak akan mengabaikan aspek terhadap kebutuhan air.

Kehadiran PT Krakatau Tirta Industri (KTI) anak usaha dari KSG, berusaha meningkatkan kapasitas air untuk memenuhi pasokan penopang industri baja KSG.

KTI berusaha menjamin ketersediaan air bagi kebutuhan ekspansi perluasan pabrik dikawasan industri KS Group, yang telah sepakat join venture dengan perusahaan besi baja Korea Selatan, Pohang Iron and Steel Corporation (Posco)

Perluasan pabrik ini memerlukan air sekitar 800 liter per detik. Melihat ketersediaan air baku saat ini tidak cukup, maka KTI melakukan program strategis yang tepat.

Beberapa program strategis yang akan dikembangkan KTI diantaranya pertama peningkatan kapasitas Waduk Krenceng dari 2,5 juta meter kubik (m3) jadi 4,5 juta m3. Kedua optimalisasi Sungai Cidanau, ketiga Pengembangan Jaringan Distribusi dan keempat Reuse Air Buangan Pabrik KS.

”Ini bagian dari perencanaan strategis yang akan kita kembangkan menjawab kebutuhan penyediaan air untuk meningkatkan produksi baja Krakatau Steel,” ungkap Direktur Utama KTI Muhamad Balbeid, kepada Business Review, Senin (31/5).

Didampingi jajaran direksi KTI yang hadir diantaranya Direktur Keuangan Dede Sagira, Direktur Pengembangan Usaha J.Rustianto, Direktur Operasi Ari Stuali serta Sekretaris perusahaan Duduy.

Muhammad Balbeid menjelaskan untuk meningkatkan kapasitas air di Waduk Krencengan yang luas areanya 104 hektar (ha), akan digunakan sebagai sumber air baku untuk proses pengolahan air bersih yang akan didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan air di Kota Cilegon.

Rencananya KTI akan melakukan pengerukan dibukit Krenceng dan sebagain kecil waduk tersebut. Pengerukan itu evelasi (El) +16,60 meter (M) di bawah permukaan waduk El+22,50 M.
”Dengan volume total galian 8,4 juta meter kubik untuk mencapai target kapasitas 7,5 juta kubik,” ujar Muhammad Balbeid.

KTI kini mulai mengembangkan inovasi pengolahan daur ulang sumber air yang ada dengan teknologi. Diantaranya pengolahan air laut dengan sistem membran, bahkan mengolah air buangan pabrik menjadi air baku. Kemudian inovasi mendaur ulang air cucian pipa (backwash) diolah untuk menjadi air baku.

”Nantinya proyek yang dikembangkan KTI mendaur ulang air buangan seluruh industri yang terdapat di Cilegon,” tambah Muhammad Balbeid.

Sementara Direktur Operasi Ari Stuali menjelaskan optimalisasi Sungai Cidanau, dengan membangun waduk baru atau bendungan pada jarak 3,5 kilo meter (km) dari pantai Selat Sunda. ”Diperkirakan bisa menampung 24 juta meter kubik. Kita harapkan bendungan waduk ini bisa terealisasi sebelum 2019. Ini proyek jangka panjang yang membutuhkan perencanaan matang” ujarnya.

Sebagai Daerah Aliran Sungai (DAS) Cidanau, lanjut Ari, penting dalam pembangunan ekonomi di kawasan Kota Cilegon, sentra industri strategis, seperti; baja, kimia hulu dan energi listrik. Kawasan industri di Cilegon yang kian pesat menjadikan Cilegon sebagai kawasan yang pertumbuhan ekonomi dan indisutrinya kian pesat. Sudah pasti kebutuhan terhadap air makin besar.

Berdasarkan study dari Balai Besar Wilayah Singai Cidanau, Ciujung dan Cidurian (BBWSC3) menyebutkan kebutuhan air di kawasan industri dan domestik di Cilegon sekitar 3.361 liter/detik pada 2015 dan 4.041 liter/detik di 2025.

Direktur Keuangan Dede Sagira mengatakan Cilegon sudah menjadi Kawasan Ekonoi Khusus (KEK) yang masuk dalam rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Provinsi Banten. Sudah seharusnya kebutuhan air terpenuhi. Salah satu cara dengan pembangunan Bendungan Cidanau sebagi penopang KEK. ”Diperkirakan KTI membutuhkan dana invesatsi sekitar 453 miliar rupiah,” ujarnya.

Dikatakan DAS Cidanau merupakan satu -satunya sumber air baku yang paling memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat dan industri di Kota Cilegon. Dengan wilayah tangkapan air (catchment area) seluas ± 22.620 Ha, yang mencakup kawasan Kabupaten Serang dan Pandeglang.

Selain potensi air baku, di kawasan ini terdapat Cagar Alam Rawa Danau, kawasan konservasi endemis seluas 2.500 Ha dalam bentuk rawa pegunungan dan merupakan rawa pegunungan satu – satunya yang ada dan masih tersisa di Pulau Jawa.
Dede menjelaskan, KTI mendapatkan air dari sumber Cagar Alam Rawa Danau dengan membayar uang jasa lingkungan sedikitnya Rp l75 juta per tahun kepada kelompok tani di Citaman dan Cibojong, sebagai penjual.

Kelompok tani tersebut mengamankan lahan seluas 20.000 ha dan melestarikan hutan di wilayah agar air tidak tercemar. Menurutnya, total per tahun, KTI mengucurkan sekitar Rp30 miliar untuk berbagai kepentingan, termasuk pembayaran royalti kepada PDAM dan pemda setempat, negara. “Jadi pendapatan yang diperoleh bisa dimanfaatkan oleh semua pihak di sini,” jelasnya.

Dari Rawa Danau, KTI dapat mengaliri air baku melalui pipa sejauh 28 KM. Sebelum diolah, air baku ditampung disebuha danau buatan dengan kapasitas 3 juta meter kubik yang tak jauh dari lokasi instalasi pengolahan. Guna memenuhi kebutuhan air baik dilingkungan industri kawasan Karakatau Steel maupun masyarakat, KTI berusaha menguasai teknologi air bersih, khususnya dibidang manajemen operasi, perawatan serta rekayasa teknologi air bersih dan air limbah sehingga mampu menjadi perusahaan yang handal Melakukan Diversifikasi usaha.

Direktur Pengembangan Usaha J. Rustianto menungkapkan untuk mengalokasikan dan mendistribusikan air secara proporsional dan mengurangi konflik antarsektor pengguna air, kebutuhan air setiap sektor harus ditetapkan, dan jaringan distribusi air harus dibangun secara luas.

Strategi yang dilakukan KTI untuk memenuhi kebutuhan air adalah memperluas jaringan pipa distribusi air bersih dan meningkatkan pelayanan kepada pelanggan. Meningkatkan mutu air sesuai kebutuhan pelanggan Menjaga kontinuitas suplai air bersih.

”Identifikasi, karakterisasi, dan penetapan kebutuhan air serta sosialisasi hasil penetapan proporsi kebutuhan tersebut pada setiap sektor pengguna,” paparnya.

Peluang pengembangan KTI sangat besar. Pelanggan di Cilegon dan sekitarnya umumnya industri vital seperti untuk sumber energi listrik Pulau Jawa dan Bali, baja, serta industri kimia hulu yang sangat membutuhkan air bersih.

“Untuk menjual sisa kapasitas terpasang 800 liter per detik itu, kami menjajaki memasok air bersih kebutuhan di luar Cilegon. Kami siapkan dalam mendukung rencana ekspansi KS. Kita sudah mengusahakan air baku,” tambah Rustianto. (Sigit)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: