KIP: Buka ‘rekening gendut’


Bisnis Indonesia 09 Februari 2011
JAKARTA:

Komisi Informasi Pusat (KIP) memerintahkan Mabes Polri untuk membuka 17 nama pemilik ‘rekening
gendut’ berikut besaran nilainya selambat-lambatnya 14 hari ke depan.Perintah tersebut merupakan
putusan KIP atas sengketa informasi 17 nama rekening Polri berikut dengan besara nilainya yang
dimohonkan oleh Indonesia Corruption Watch (ICW).
Ketua majelis komisioner sidang sengketa tersebut Alamsyah Saragih mengatakan pembukaan
‘rekening gendut’ merupakan informasi terbuka.
“[Oleh karena itu], Termohon [Mabes Polri] untuk memberikan informasi 17 nama pemilik rekening
anggota Polri beserta besaran nilainya kepada pemohon selambat- lambatnya 14 hari kerja
sejak adanya putusan berkekuatan hukum tetap,” ujarnya di ruang sidang Mahkamah Konstitusi
(MK), Jakarta, kemarin.
Majelis berpendapat informasi yang dimohonkan oleh pemohon tidak terbukti dapat menghambat
proses penyelidikan dan penyidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf h angka 3
UU Keterbukaan Informasi Publik.
Selain itu, menurut Alamsyah,pembukaan nama dan nilai rekening tidak terbukti mengungkapkan
rahasia pribadi. Polri menolak Menanggapi putusan tersebut, Kepala Biro Bantuan Hukum
Mabes Polri Brigjen Pol. Iza Fadri mengatakan Polri menolak dan tidak sependapat dengan putusan
KIP. Oleh karena itu, lanjutnya, Mabes Polri akan melakukan upaya banding ke Pengadilan
Tata Usaha Negara.

“Kami menghormati putusan itu. Namun, ini adalah sidang ajudikasi nonlitigasi. Kami akan
mengajukan langkah banding sesuai dengan aturan waktu yakni dalam 14 hari ke depan ke
PTUN,” ujarnya kepada pers. Sementara itu, Koordinator Divisi Investigasi dan Informasi
Publik ICW Agus Sunaryanto mengatakan putusan itu menunjukkan
bahwa informasi rekening pejabat Polri selama ini merupakan informasi terbuka kepada
publik. Walaupun demikian, katanya, ICW masih menunggu upaya hukum selanjutnya dari
Mabes Polri setelah pembacaan putusan tersebut.
Menurut dia, KIP dapat melakukan eksekusi terhadap putusan itu, jika dalam 14 hari ke depan
belum ada langkah hukum dari Mabes Polri. Agus mengungkapkan putusan komisioner merupakan
kemenangan publik secara luas.

“Ini adalah kemenangan publik secara luas, karena informasi yang selama ini ditutupi merupakan
informasi terbuka,” ujar Agus. Dia menambahkan majelis hakim sangat detil memperhatikan
fakta persidangan. Namun, hal ini masih masa transisi, karena masih ada langkah hukum
berikutnya.
Pada Agustus 2010, Aktivis ICW Tama S. Langkun dianiaya oleh empat orang tak dikenal
hingga mendapatkan 29 jahitan oleh dokter di rumah sakit. Hal itu diduga terkait dengan aktivitas
Tama yang tahun lalu lebih banyak mengadvokasi pengusutan kasus dugaan rekening liar
milik petinggi Polri.
Namun, hingga kini, pihak kepolisian belum menetapkan status tersangka siapa pelaku penyerangan
tersebut.
Ketua Dewan Federasi Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan
(Kontras) Usman Hamid mengatakan penganiayaan terhadap Tama, tidak bisa lepas dari
kesimpulan tentang keterkaitan upaya advokasi rekening mencurigakan perwira tinggi kepolisian
oleh ICW. “Ini terkait dengan penganiayaan terhadap Tama. Tidak bisa
untuk tidak menyimpulkan bahwa ini terkait dengan masalah ‘rekening gendut’ kepolisian,”
ujarnya.
Dia menegaskan perlunya dibuka penyelidikan terhadap rekening mencurigakan itu, mengingat
tidak adanya langkah yang jelas dari kepolisian maupun Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK) dalam kasus tersebut.Menurut Usman, Presiden dapat bersama-sama dengan PPATK
menyampaikan persoalan itu ke publik karena macetnya penyelidikan.
(anugerah.perkasa@

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: