China kuasai 653 SNI


Pemerintah siapkan regulasi untuk atasi dampak negatif ACFTA
OLEH MARIA Y. BENYAMIN

Bisnis Indonesia
JAKARTA: Upaya pemerintah meredam serbuan impor produk China me –
lalui pe nerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) dinilai tidak efektif. Pa –
sal nya, negara de ngan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia itu sudah menguasai 653 SNI.
Menurut Ketua Badan Standardisasi Nasional (BSN) Bambang
Setiadi, China sudah membeli 653 SNI untuk produk elektronik dan kelistrikan, makanan, dan pertanian sehingga memperkecil hambatan nontarif  di pasar domestik.

China bahkan ingin membeli 6.779 SNI yang telah ditetapkan
oleh BSN, sehingga negara tersebut dapat memproduksi semua
produk Indonesia yang telah memiliki SNI.
“Gila enggak karena kalau China punya SNI, mereka akan
bikin [produk] persis seperti SNI kita. Di satu sisi, ini bagus karena
SNI kita dipakai, tetapi kita harus siap-siap juga. Tidak ada lagi
hambatan nontarif dari China untuk masuk ke negara kita karena
standar yang mereka pakai sama dengan standar kita,” ujar nya di
sela-sela peringatan Hari Ulang Tahun BSN ke-14, kemarin.

Pembelian SNI tersebut, menurut Bambang, dilakukan pada
November 2010. Badan standar China membeli 653 SNI tersebut
dengan membayar sejumlah uang yang disetorkan ke kas ne –
gara. Namun, dia enggan mengungkapkan nilai pembelian 653
SNI tersebut.
Bambang menegaskan mekanis mejual beli standar itu diperbolehkan
dalam aturan internasional, sehingga BSN tidak bisa
menolak ketika China membeli SNI tersebut.
“Harus diberikan, sebab kalau ti dak diberikan, mereka akan
menolak juga ke tika kita mau membeIi standar di negaranya.
Standar itu bisa diperjualbelikan, seperti standar ISO [International
Orga ni za tion for Standardization] juga bisa diperjualbelikan.”
Menurut Bambang, langkah China itu sudah sangat maju.
“Mi salnya, kita mau membuat SNI mengenai selang tabung gas.
Kita tinggal cari standarnya untuk dipakai. Nah, China ini
sudah lebih maju lagi, dia membeli total standar kita. Dia sudah
tahu Indonesia pakai SNI dan dia akan memproduksi barang yang
sesuai dengan standar itu untuk memudahkan produknya masuk
ke pasar domestik.”
Sebelum membeli SNI, kata Bam bang, China mengundang
BSN untuk melakukan pengujian atas produknya. “Sekarang tidak
lagi. Mereka sudah beli sehingga bisa langsung produksi di negara
mereka kemudian dikirim ke pasar Indonesia.”
Bambang mengakui jual beli standar tersebut baru kali ini terjadi
dengan China. “Persoalan jual beli standar ini kasus baru
ba gi kita dan sangat menarik.
Saya belum pernah dengar terjadi di negara lain.”
Karena itu, tuturnya, BSN akan mengusulkan pembahasan kasus
itu kepada ISO untuk selanjutnyadiagendakan dalam Ge ne ral
Assembly ISO di India pada September.
Saat General Assembly itu, kantor standar dari seluruh
dunia akan berkumpul. “Saya akan bawa masalah ini
ke sidang ISO. Saya akan kemukakan bagaimana jika terjadi
kasus semacam ini dan mengaturnya,”
ujarnya.
Sekjen Gabungan Pengusaha Ma kanan dan Minuman seluruh
Indonesia (Gapmmi) Franky M. Si barani menilai pembelian SNI
oleh China itu membuktikan bahwa negara itu siap mengikuti
stan dar yang diterapkan Indonesia.
“Kalau SNI tidak wajib nggak ma sa lah dibeli karena di In done sia ma sih ba nyak
UKM,” ujar nya. Dia meng akui pembelian SNI  o l e h
Chi na secara  o t om a t i s   produsen di negara
itu sudah menggunakan standar yang sama, se hingga ti dak akan
mengalami hambatan non tarif ketika masuk ke pasar do mestik.

Soal beli membeli, sa ya kira itu yang perlu diluruskan.”
Susun regulasi  Sementara itu, Menteri Per industrian M. S. Hidayat mengungkapkan
pemerintah segera menyu sun regulasi guna mengatasi
dampak negatif ACFTA, khusus nya terhadap lima sektor industri yang dinilai rentan, yakni
elektronik, furnitur, logam, permesinan, dan tekstil.

Dia mengatakan regulasi itu di perlukan setelah survei Kemenperin
menunjukkan adanya indikasi persaingan tidak seimbang
antara produk dalam negeri dan China. Survei itu a.l. menemukan
indikasi tindakan dumping pada 38 produk yang diimpor
dari China melalui skema ACFTA yang berlaku sejak 1 Januari
2010. (Bisnis, 24 Maret).
“[Survei Kemenperin] itu akan
dipakai dalam penyusunan regulasi
yang baru untuk lebih bisa
mengatasi dan mengantisipasi
dampak ACFTA. Pe merintah
akan melakukan
berbagai upaya, antara lain
menggunakan safeguard,” katanya
di Istana Pre siden.
Dia mengakui hingga saat ini
belum ada industri terkait yang
mengajukan komplain mengenai
kerugikan akibat dumping 38
produk tersebut. Untuk itu, Ke –
menperin berinisiatif menanyakan
kepada pelaku industri.
“Dengan ada proses safeguard,
pemeriksaan terhadap harga dan
kualitas bisa dilakukan karena
se suai dengan aturan WTO,
selain bisa meningkatkan efisiensi
pro duk nasional,” katanya.
Menurut Menperin, hasil survei
tersebut juga dijadikan pedoman
bagi program kerja berikutnya
untuk memperkuat sektor
yang sudah tersaingi oleh produk
China sejalan dengan pemberlakuan
ACFTA.
Menko Perekonomian Hatta
Ra djasa mengatakan pemerintah
akan mengajukan keberatan ke –
pada Pemerintah China apabila
di temukan industri yang terpukul
akibat ACFTA.
“Kita punya suatu mekanisme
untuk complain, saya minta [tim
koordinasi penanggulangan hambatan
industri dan perdagangan]
bergerak kalau memang ditemukan
dumping ataupun ketidakfair-
an di dalam perdagangan be –
bas itu,” ujarnya seusai ra pat
per siapan Indo ne sia sebagai
Ke tua Asean 2011.
Menurut Hatta,
apabila dalam
e v a l u a s i
neraca
perdagangan In do nesia-China
terbukti defisit, pe merintah juga
akan mengajukan keberatan
kepada China un tuk menyeimbangkannya
kem bali.
“Sesuai dengan kesepakatan,
China harus menyeimbangkan
itu kembali. Jadi saya minta tim
untuk melakukan sebuah upaya,”
ujarnya.
Dia mendukung pemberlakuan
safeguard bagi sektor industri
yang terkena dampak negatif
ACFTA. “Harusnya [safeguard]
efek tif [untuk mengatasi dampak
ACFTA],” katanya.
Menteri Perdagangan Mari
Elka Pangestu mengatakan penetapan
kebijakan safeguard harus
didahului dengan proses investigasi
berdasarkan keluhan dari
pe laku industri di dalam negeri.
“Dalam melakukan investigasi
harus ada permohonan dari in –
dustri. Jadi kami menunggu [permintaan]
dari industri,” katanya.
Namun, Mari mengatakan
safe guard bukan satu-satunya
solusi untuk mengatasi dampak
negatif ACFTA, karena banyak
langkah lain, seperti pemberdayaan
terhadap industrinya dengan
bentuk insentif dan capacity
building.
Secara terpisah, staf ahli Menperin
Fauzi Aziz berpendapat sistem
dan tatanan perdagangan
ba rang di dunia perlu ditata
ulang.
Pendapat itu didasarkan pada
tiga alasan dan pertimbangan,
pertama, perdagangan bebas
tidak akan pernah terwujud karena
dalam praktiknya hampir se –
mua negara tidak ingin kepentingan
nasionalnya terganggu.
“Tidak ada satu pun pe mimpin
negara di dunia mau me ngorbankan
kepentingan do mes tiknya
karena rakyatnya pasti akan
menolak ketika terjadi te kanantekanan
eksternal dalam perdagangan,”
ujarnya.
Kedua, sengketa perdagangan
selama ini selalu sulit diselesai kan
karena persyaratan dan atur an
yang ada dibuat sangat rumit termasuk
prosedurnya. “Dari kon disi
ini saja terlihat sistem pasar bebas
ini tidak sejalan de ngan semangat
perdagangan bebas.”
Ketiga, dalam perkembangannya
implementasi pasar bebas
yang terjadi dewasa ini justru
mengarah pada re gionalisasi dan
bilateralisasi perdagangan.
Oleh karena itu, kata Fauzi, sistem
dan tatanan perdagangan du –
nia perlu ditata kembali, de ngan
tidak mengedepankan sis tem perdagangan
bebas, tetapi perdagangan
terkelola mengingat setiap
negara pasti menginginkan aturan
dagang yang dibuat tidak menimbulkan
ketidakseimbang an yang
fatal atau kerugian se rius. (LINDA T.
SILITONGA/A. DADAN MUHANDA/
IRSAD SATI/CHAMDAN PURWOKO)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: