BI Tak Larang Bank Pakai Debt Collector, Tapi Jangan Kasar


BI mesti bertanggung jawab jika ada korban berjatuhan oleh karena tingkah polah para debt collector.

++++

Kamis, 31/03/2011 18:20 WIB
BI Tak Larang Bank Pakai Debt Collector, Tapi Jangan Kasar
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Bank Indonesia (BI) mengaku tidak melarang bank menyewa jasa penagih utang alias debt collector.Namun BI mengimbau debt collector yang disewa bank itu tidak menggunakan cara-cara kasar dalam penagihan kredit.

Demikian disampaikan oleh Kepala Biro Hubungan Masyarakat Bank Indonesia Difi Ahmad Johansyah ketika ditemui wartawan di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Kamis (31/3/2011).

“Kita itu sudah lama mengimbau untuk bank tidak menggunakan cara kasar atau tidak memperbolehkan debt collector menggunakan kekerasan dalam penagihan kredit,” ujar Difi.

Menurut Difi, bank harus dapat melakukan kontrol terhadap pihak ketiga yang dipakainya seperit debt collector dalam melakukan penagihan kredit. Ketika pihak ketiga tersebut, sambung Difi mengggunakan cara yang tidak sesuai maka bank harus dapat melakukan tindakan.

Lebih jauh Difi mengatakan, ketika nasabah memang mengakui tidak bisa melakukan pelunasan kredit maka sudah seharusnya lapor kepada bank yang bersangkutan sebelum debt collector yang menagih. Dan jika nasabah merasa diperlakukan tidak adil oleh pihak bank maka nasabah dapat mengadukannya ke BI melalui jalur mediasi.

“Kalau bank rewel, laporkan saja ke BI,” tuturnya.

Bank sentral sendiri mengungkapkan, praktek debt collectoritu memang dihalalkan oleh BI. Dengan kata lain, sambung Difi, bank sentral tidak mengatur lebih jauh mengenai cara pelunasan kredit dari nasabah kepada masing-masing bank.

Debt Collector itu tidak diatur oleh BI, karena bank sentral memang tidak mengatur kepada operasional masing-masing bank. Jadi ya tidak dilarang memang,” tutupnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Sekjen Partai Pemersatu Bangsa (PPB) Irzen Octa (50) tewasdalam proses pelunasan kredit kepada debt collector Citibank.Korban pada Selasa (29/3) pagi mendatangi kantor Citibank untuk melunasi tagihan kartu kreditnya yang membengkak. Menurut korban, tagihan kartu kredit Rp 48 juta. Namun pihak bank menyatakan tagihan kartu kreditnya mencapai Rp 100 juta.

Di situ, korban kemudian dibawa ke satu ruangan dan ditanya-tanya oleh 3 tersangka. Usai bertemu 3 tersangka, korban kemudian tewas di depan kantor tersebut.

Kapolres Jakarta Selatan Kombes Gatot Edy Pramono mengatakan, korban tewas setelah mendatangi Menara Jamsostek.

“Dia datang ke Citibank bermaksud menanyakan jumlah tagihan kartu kreditnya yang membengkak,” kata Gatot saat dihubungi wartawan, Rabu (30/3).

 

++++

 

Kamis, 31/03/2011 13:25 WIB
YLKI: Bank Harus Tanggung Jawab Soal Sepak Terjang Debt Collector
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Perilaku penagih utang alias debt collector kerap meresahkan nasabah karena terkadang menggunakan cara yang tidak manusiawi. Bank tetap harus bertanggung jawab atas berbagai perilaku debt collector tersebut.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyatakan, jika perilaku debt collector tidak sesuai dengan etika, sudah seharusnya pihak bank memberikan sanksi tegas.

“Bank tidak bisa lepas tanggung jawabnya. Kontrol dari debt collector itu sepenuhnya ada ditangan bank,” ujar Ketua YLKI Husna Zahir ketika berbincang dengandetikFinance di Jakarta, Kamis (31/3/22011).

Menurut Husna, debt collector itu merepresentasikan bank-nya sendiri dalam penagihan kredit. Bagaimana cara debt collector tersebut menagih utang tentunya sesuai dengan arahan pihak bank. “Bank harus hati-hati dan peduli juga terhadap nasabahnya, bagaimanapun perlindungan nasabah menjadi nomor satu,” tegasnya.

Lebih jauh Husna memberikan saran jika nasabah ada masalah mengenai pelunasan kredit ada baiknya langsung menghubungi pihak bank yang bersangkutan. Jadi menurutnya jangan menunggu sampai ditagih.

“Itu diperlukan untuk mencari jalan keluar, jadi jangan didiamkan saja itu akibatnya justru utang atau tagihan bertumpuk. Dan itu bisa dikejar-kejar debt collector,” tuturnya.

Oleh sebab itu, lanjut Husna begitu menyadari ada kesulitan pembayaran jangan pernah takut menghubungi bank bersangkutan.

Seperti diberitakan sebelumnya, Sekjen Partai Pemersatu Bangsa (PPB) Irzen Octa (50) tewas dalam proses pelunasan kredit kepada debt collector Citibank.Korban pada Selasa (29/3) pagi mendatangi kantor Citibank untuk melunasi tagihan kartu kreditnya yang membengkak. Menurut korban, tagihan kartu kredit Rp 48 juta. Namun pihak bank menyatakan tagihan kartu kreditnya mencapai Rp 100 juta.

Di situ, korban kemudian dibawa ke satu ruangan dan ditanya-tanya oleh 3 tersangka. Usai bertemu 3 tersangka, korban kemudian tewas di depan kantor tersebut.

Kapolres Jakarta Selatan Kombes Gatot Edy Pramono mengatakan, korban tewas setelah mendatangi Menara Jamsostek.

“Dia datang ke Citibank bermaksud menanyakan jumlah tagihan kartu kreditnya yang membengkak,” kata Gatot saat dihubungi wartawan, Rabu (30/3).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: