Archive for June, 2011

June 30, 2011

Asing Incar Sumber Daya Laut Indonesia

Asing Incar Sumber Daya Laut Indonesia
Tri Wahono | Kamis, 16 Juni 2011 | 18:32 WIB
Dibaca: 2825Komentar: 3
| Share:

KOMPAS/LASTI KURNIA
Laut yang tampak bening dengan bayangan terumbu karang di dasar laut dengan latar belakang Gunung Manado Tua di Taman Nasional Laut Bunaken, Manado.
JAKARTA, KOMPAS.com — Peneliti asing banyak yang mengincar Samudra Hindia yang diperkirakan memendam kandungan mineral serta minyak dan gas yang sangat kaya. Dalam penelitian terdahulu di Samudra Hindia, ditemukan endapan mineral dan gas hidrat.

Survei kelautan yang dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerja sama dengan Bundesanstalt fur Geowissenschaften und Rohstoffe (BGR) Jerman pada tahun 1998 dan 2004 menemukan sumber gas metana atau hidrokarbon di kawasan itu.

Hal itu diungkapkan dalam diskusi yang diadakan Dewan Kelautan Indonesia di Jakarta, Rabu (15/6/2011). Diskusi ini merupakan salah satu kegiatan yang diadakan untuk memperingati World Oceans Day (WOD) pada 8 Juni 2011. Tema peringatan tahun ini adalah “Our Oceans: Greening Our Future” (Lautan Kita, Melestarikan Masa Depan Kita).

Menurut Yusuf Surachman, pakar geologi dari BPPT yang kini menjadi Deputi Infrastruktur Data Spasial Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), sumber gas metana ditemukan di dasar laut yang terbentang dari barat Bengkulu hingga selatan Jawa Barat sepanjang 450 kilometer.

Sumber gas itu berada di kedalaman 500 meter dari dasar laut atau 2.500 meter dari permukaan laut. Kandungan gas metana di zona tersebut lebih besar daripada yang ditemukan di perairan Sulawesi Utara pada tahun 1994 yang mencapai 0,23 triliun kaki kubik.

Selain itu, survei lanjutan BPPT bersama Jerman pada tahun 2004 menemukan potensi hidrokarbon—termasuk metana—dalam jumlah sangat besar di perairan timur laut Pulau Simeulue, Nanggroe Aceh Darussalam.

“Potensi ini diperkirakan terbesar di dunia untuk saat ini. Keberadaan hidrokarbon itu berasosiasi dengan minyak bumi dan gas,” kata Yusuf. Selain di perairan NAD, sumber hidrokarbon juga ditemukan di perairan Lombok, Nusa Tenggara Barat.(YUN)

Artikel selengkapnya dapat dibaca di rubrik Humaniora Kompas Edisi Cetak, Kamis (16/6/2011)

Sumber :Kompas Cetak

Share
159

Ada 3 Komentar Untuk Artikel Ini.

Enda
Kamis, 16 Juni 2011 | 21:44 WIB
judul beda sama isi..
Tanggapi Komentar
Laporkan Komentar
0
0

euleuh euleuh
Kamis, 16 Juni 2011 | 20:08 WIB
nyelam Samudera Hindia biarin aja, biar diculik sama Nyi Roro Kidul
Tanggapi Komentar
Laporkan Komentar
0
0

defmar 21
Kamis, 16 Juni 2011 | 19:28 WIB
Jangan sampai di kuasai oleh Negara Asing. Sebaik nya Pemerintah menyiapkan SDM yg handal yg kelak dapat mengelola sendiri SDA di bumi pertiwi. Berikan Beasiswa Sebanyak2 nya untuk Putra-Putri Terbaik Bangsa. Saat ini Indonesia cuma bisa Mengekspor Babu dan mengImpor Juragan.
Tanggapi Komentar
Laporkan Komentar
0

Advertisements
June 30, 2011

Kementerian Energi Tak Setuju Harga Elpiji Dinaikkan

Kementerian Energi Tak Setuju Harga Elpiji Dinaikkan
KAMIS, 30 JUNI 2011 | 18:59 WIB
Besar Kecil Normal
TEMPO/Tony Hartawan

Berita terkait
Atasi Kelangkaan BBM, Jumlah Konsumsi Kendaraan Dibatasi
Di Luwu Timur, Harga Elpiji 3 Kg Tembus Rp 20 ribu
Penjualan BBM Marine Ditarget Mencapai Rp 95 Miliar
Harga Gas Ada Kemungkinan Tak Jadi Naik
Disparitas Bukan Halangan Naikkan Harga LPG

TEMPO Interaktif, Jakarta – Kementerian Energi Sumber Daya Mineral tidak menyetujui keinginan PT Pertamina (Persero) menaikkan harga gas elpiji ukuran 12 dan 50 kilogram. “Banyak pertimbangan yang harus diperhitungkan,” kata Evita Legowo, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi di Jakarta, Kamis 30 Juni 2011.

Evita menolak menjelaskan pertimbangan yang dimaksud. Begitupula dengan Staf Ahli bidang Investasi dan Produksi, Kardaya Warnika. “Yang jelas belum ada persetujuan. Kami butuh kajian,” kata Kardaya.

Kardaya juga mengatakan kementerian belum menyetujui pemberian subsidi untuk elpiji 12 maupun 50 kilogram. Sebab, elpiji tersebut non-PSO (public service obligation). “Kalau yang bukan PSO harus dikaji dampaknya seperti apa,” kata dia.

PT Pertamina akan menaikkan harga gas elpiji ukuran 12 dan 50 kilogram sekitar 10 persen. Sebab perusahaan minyak pelat merah itu rugi besar karena masih memberikan subsidi pada elpiji tersebut. Pada tahun lalu, Pertamina mengaku tekor hingga Rp 3,24 triliun. Adapun kuartal pertama tahun ini, Pertamina juga rugi sampai Rp 1 triliun.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina, Mochamad Harun mengatakan Pertamina tetap akan menaikkan harga elpiji 10 persen. Kenaikan harga akan diumumkan paling lambat besok, Jumat 1 Juli 2011.

Namun demikian, harga elpiji yang dipastikan naik berukuran 50 kilogram. Adapun keniakan harga elpiji berukuran 12 kilogram masih dikaji bersama Kementerian Energi.

Ia menjelaskan Kementerian Energi menyetujui kenaikan harga elpiji berukuran 50 kilogram karena disparitas harga di kalangan pengusahan sudah cukup tinggi. Sementara kenaikan elpiji berukuran 12 kilogram harus dikaji karena dikhawatirkan konsumsi beralih pada elpiji berukuran 3 kilogram.

Ia yakin kenaikan harga elpiji bisa diterima kalangan pengusaha industri. Sebab, mereka juga membutuhkan stok elpiji untuk tambahan konsumsi. Apalagi rencana tersebut sudah disampaikan kepada mereka sejak awal. “Kami menambah pasaokan elpiji, tapi kami dibantu juga bila harga dinaikkan,” kata dia.

TRI SUHARMAN

June 30, 2011

Hyundai Agresif Ekspansi Ke Pasar Domestik

Hyundai Agresif Ekspansi Ke Pasar Domestik
Oleh Fajar Sidik E-mail Print PDF
Published On: 30 June 2011
JAKARTA : Agen tunggal pemegang merek asal Korea Selatan bersiap menangkap pasar 1 juta unit dengan merencanakan ekspansi tahunan tumbuh dua kali lipat dengan memperbanyak produk unggulan dan memperluas jaringan pelayanan.
Presdir PT Hyundai Mobil Indonesia Jongkie D. Sugiarto menuturkan Hyudai membidik pertumbuhan tahunan bisa naik dua kali lipat.
“Peluang untuk ekspansi tahunan hingga dua kali lipat tentunya sangat besar, karena basis pasar yang ada masih tergolong kecil sehingga kami siap untuk bersaing meramaikan pasar mobil yang akan mencapai 1 juta unit,” ujarnya saat dihubungi Bisnis hari ini.
Jongkie memaparkan untuk menangkap peluang pasar, pihaknya terus meningkatkan pelayanan mulai dari mempersiapkan model kendaraan yang menjadi produk line up serta, ekspansi jaringan pemasaran dan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang akan terlibat langsung dalam layanan dan pemasaran.
Untuk itu, katanya, pihak prinsipal juga siap mendukung penuh untuk mengembangkan berbagai produk terbaru Hyundai yang akan meramaikan pasar mobil Tanah Air agar mendukung rencana ekspansi jangka panjang.
“Kami realisitis tahun ini bisa mencapai penjualan 7.000 unit dan tahun depan bisa sekitar 12.000-14.000 unit yang ditopang dengan produk berkualitas, perluasan jaringan pemasaran, serta peningkatan SDM dan layanan,” tegas dia.
Dia menambahkan Hyundai Indonesia juga terus membujuk pihak principal di Korea Selatan agar bisa memilih Indonesia sebagai basis produksi untuk pasar Asia, Timur Tengah hingga Afrika.
“Kalau assembling itu sudah dilakukan seperti untuk produksi H1 dan beberapa produ lineup Hyundai. Sedangkan untuk manufacturing itu harus didukung investasi langsung dari prinsipal yang selama ini memang belum masuk ke Indonesia.” (arh)

June 30, 2011

Chairul Tanjung Akuisisi Detik.Com

Chairul Tanjung Akuisisi Detik.Com
Oleh M. Munir Haikal E-mail Print PDF
Published On: 29 June 2011
JAKARTA: Pengusaha Chairul Tanjung telah mencapai kesepakatan final untuk mengakuisisi PT Agranet Multicitra Siberkom yang merupakan pengelola detik.com.
Sumber Bisnis pada hari ini mengungkapkan kesepakatan ini baru tercapai dan sejumlah petinggi situs berita tersebut telah diberitahu mengenai aksi korporasi ini. Namun, belum ada detail kesepakatan maupun nilai transaksi tersebut.
Bisnis meminta konfirmasi kepada Chairul Tanjung namun telepon selulernya ketika dihubungi sedang tidak aktif. Pesan singkat yang dikirimkan oleh Bisnis juga belum dibalas. Sampai saat ini belum terdapat kejelasan skema transaksi tersebut.
Sejak dua tahun lalu, Chairul Tanjung, disebut-sebut mengincar saham portal berita online detik.com. Berita ini berkembang setelah dua pemilik saham minoritas di Detikcom yakni Tiger Investment dan Mitsui & Co ingin melepas sahamnya untuk ekspansi bisnis.
Saat itu, Mitsui dan Tiger Investment menggunakan jasa Credit Suisse sebagai penawar saham mereka. Agranet memiliki 59% saham di Detik.com, dan sisanya dimiliki oleh Tiger 39%, dan Mitsui 2%. Namun, negoisasi mengenai harga pembelian detik.com yang disebut-sebut mencapai ratusan miliar belum mencapai titik temu.
Situs detik.com diprakarsai oleh Budiono Darsono dan Abdul Rahman dengan investasi awal Rp100 juta sejak periode 1998.
Dalam perjalanannya pioner berita online ini mengalami perkembangan yang sangat pesat. Saat ini, CT Corp memiliki tiga lini bisnis yaitu financial services yang berada di bawah Mega Corpora.
Selain mengendalikan Bank Mega, CT Corp juga memiliki Bank Mega Syariah. Juga masuk ke bisnis pembiayaan lewat PT Para Multifinance, PT Mega Central Finnace, dan PT Mega Oto Finance.
Di bisnis asuransi, CT Corp mengibarkan PT Mega Insurance. Selanjutnya, sektor media, lifestyle dan hiburan dikendalikan oleh Trans Corpora, serta sektor sumber daya alam yang berada di bawah CT Global Resources.
Pada pertengahan Maret 2010, Chairul Tanjung melalui PT Trans Retail, mengakuisisi 40% saham PT Carrefour Indonesia. Trans Retail yang merupakan anak usaha Trans Corp- perusahaan induk CT Corp di sektor media, lifestyle, ritel, dan entertainment–membeli saham milik Carrefour SA di PT Carrefour Indonesia.
Melalui akuisisi itu, Trans Corp menjadi pemegang saham tunggal terbesar di PT Carrefour Indonesia. Chairul Tanjung baru menuntaskan pembangunan Trans Studio di Bandung, Jawa Barat dengan nilai investasi sekitar Rp2 triliun.
Selanjutnya, dia merencanakan pembangunan 20 pusat hiburan terpadu, “Trans Studio Theme Park” dengan total investasi sekitar Rp40 triliun hingga 2020. Pembangunan 20 Trans Studio tersebut di luar Makassar, Bandung, dan Jakarta.(mmh)

June 30, 2011

PT Garam Perlu Dioptimalkan

Kamis,
30 Juni 2011

INDUSTRI
PT Garam Perlu Dioptimalkan

Jakarta, Kompas – Rantai pemasaran garam mendesak dibenahi untuk mengantisipasi kemungkinan anjloknya harga garam petani sewaktu panen raya. Pemerintah perlu intervensi perlindungan pasar guna membangkitkan produksi garam nasional yang terpuruk.

Peneliti pada Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor, Luky Adrianto, saat dihubungi di Jakarta, Selasa (28/6), mengemukakan, kekhawatiran para petani garam terkait anjloknya harga saat panen raya harus segera diantisipasi pemerintah dengan melakukan intervensi pasar.

Ia menilai, keputusan pemerintah untuk menaikkan harga patokan pembelian (HPP) garam per April 2011 tidak akan efektif memperbaiki harga garam di tingkat petani sepanjang rantai pemasaran garam masih dikuasai tengkulak. Untuk itu, tata niaga garam mutlak dibenahi untuk memangkas rantai panjang pemasaran yang dikuasai tengkulak.

”Pemerintah harus melakukan intervensi untuk melindungi harga garam petani jika serius ingin membangkitkan produksi garam nasional,” ujar Luky.

Menurut Luky, Garam merupakan produk yang strategis mengingat kebutuhan nasional garam di Indonesia hampir 3 juta ton per tahun.

Tahun 2009, total produksi garam sekitar 1,26 juta ton, atau 42 persen dari kebutuhan nasional. Tahun 2010, produksi anjlok menjadi 24.000 ton sehingga impor garam mencapai 2,187 juta ton. Tahun 2011, pemerintah menargetkan impor garam turun menjadi 1,022 juta ton.

Berdasarkan catatan Kompas, kebutuhan terbesar garam untuk industri plastik (50 persen), konsumsi rumah tangga (24 persen), industri kosmetik dan cairan infus (16 persen), pengeboran minyak (4 persen), dan industri aneka pangan. (LKT)

June 30, 2011

Nazaruddin Resmi Tersangka

Nazaruddin Resmi Tersangka
Kamis, 30 Juni 2011 | 13:56 WIB
Besar Kecil Normal

Isi BBM Nazaruddin

Berita terkait
KPK Baru Sadar, Jemput Paksa Nazaruddin Harus dengan Status Tersangka
KPK Usut Dugaan Mafia Anggaran di Senayan
Buyung: Kasus Nazaruddin, Bukti Demokrat Tak Bisa Disiplinkan Kader
Kasus Dugaan Korupsi Gubernur Bengkulu Kembali Dilaporkan ke KPK
Pimpinan KPK Belum Terima Laporan Penyidik Terkait Nazaruddin

TEMPO Interaktif, Jakarta – Akhirnya mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). “Ya (ditetapkan sebagai tersangka),” kata Ketua KPK Busyro Muqoddas melalui pesan pendek kepada wartawan, Kamis 30 Juni 2011.

Nazaruddin, dikatakan Wakil Ketua KPK M. Jasin melalui telepon, ditetapkan sebagai tersangka kasus suap Wisma Atlet Jakabaring yang menjerat Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga Wafid Muharam sebagai tersangka. “Iya, berdasar perkembangan penyidikan kasus Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga,” ujar Jasin.

Namun, mengenai pasal serta sangkaan yang dikenakan terhadap anggota Komisi Energi Dewan Perwakilan Rakyat itu Jasin belum mau mengungkapkan. Demikian juga mengenai tanggal penetapan tersangka Nazaruddin. Saat dihubungi tadi pagi Jasin masih menyatakan status Nazaruddin adalah saksi.

Seperti diketahui, Nazaruddin sudah 3 kali mangkir dari panggilan penyidik, yakni pada 10, 13, dan 27 Juni 2011. Nazaruddin berdalih masih berobat di Singapura, sehingga belum bisa kembali ke Indonesia. Ia sempat minta KPK agar memeriksanya di kantor pengacaranya di Singapura. Namun, KPK hingga kini tak memberi sinyal kesediaan untuk menuruti permintaan tersebut.

Kasus suap wisma atlet sejauh ini sudah menjerat 3 orang sebagai tersangka. Mereka adalah Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga Wafid Muharam, Direktur Marketing PT Anak Negeri Mindo Rosalina Manullang, dan Manajer Pemasaran PT Duta Graha Muhammad El Idris. Pada 24 Juni lalu, berkas Rosalina dinyatakan lengkap dan siap dilimpahkan ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi DKI.

June 30, 2011

Bank Mutiara Optimis Aset Meningkat

Bank Mutiara Optimis Aset Meningkat
Kamis, 30 Juni 2011 | 13:10 WIB
Besar Kecil Normal

TEMPO/Arnold Simanjuntak

Berita terkait
Pengangkatan Bos Baru Citibank Tunggu Persetujuan BI
Perbankan Indonesia Lampaui Standar Modal Basel II
Sirip Ikan Hiu Dijual Bebas di Kawasan Perbatasan
BI Susun Program Tingkatkan Akses Perbankan pada Masyarakat Miskin
Minyak Tanah Langka di Pulau Perbatasan Filipina

TEMPO Interaktif, Jakarta – Bank Mutiara menargetkan peningkatan aset hingga Rp 12 triliun hingga akhir 2011 nanti. Saat ini posisi aset bank sudah tembus Rp 10 triliun. “Aset kita targetkan Rp 12 triliun tahun 2011,” ujar Direktur Utama Bank Mutiara, Maryono, saat ditanya wartawan di kantornya, Gedung Barkeley, Kamis 30 Juni 2011. Peningkatan aset ini berasal dari dana pihak ketiga dan profit atau laba.

Aset Bank Mutiara terus meningkat tahun ini. Pada Maret kemarin, aset bank mencapai Rp 11,658 triliun atau tumbuh 41,43 persen dibanding periode yang sama tahun 2010 lalu yang mencapai Rp 8,243 triliun.

Pada bulan Maret, ekuitas bank tumbuh hingga mencapai Rp 810 miliar. Dengan rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 11,2 persen. Laba juga tumbuh hingga Rp 40,2 miliar atau tumbuh 86 persen dari posisi tahun 201 lalu, serta kredit akhir Maret mencapai Rp 7,257 triliun dengan rasio kredit bermasalah terus membaik di kisaran 4,8 persen.

Lalu data terakhir, per akhir Mei 2011, aset bank mencapai Rp 11,6 triliun. Dengan dana pihak ketiga dari 48.583 rekening nasabah sebesar Rp 10,141 trilun dan total kredit yang dikucurkan hingga Rp 8,074 triliun.

June 30, 2011

Film Lokal Ikut Lesu Gara-gara Kisruh Pajak Impor

Kamis, 30/06/2011 13:34 WIB
Film Lokal Ikut Lesu Gara-gara Kisruh Pajak Impor
Suhendra – detikFinance

Jakarta – Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) mencatat penurunan drastis kontribusi film-film lokal dalam omset bisnis bioskop di Indonesia. Tertahannya film-film box office Hollywood diperkirakan menjadi andil penyebab tingkat penurunan tersebut.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) Johny Syafrudin mengatakan sebelumnya kontribusi film-film lokal memberikan kontribusi omset hingga 15% kepada para pengusaha bioskop. Kini dengan berkurangnya minat masyarakat untuk datang ke bioskop akibat kosongnya suplai film-film Hollywood, kontribusinya hanya 10% saja.

“Sekarang ini film nasional hancur-hancuran, sekarang untuk mengejar 100.000 penonton sulit, biasanya 300.000 sangat mudah. Pada jeblok semuanya. Film nasional sekarang anjlok dari 15% menjadi 10% omset penjualan karcis di bioskop,” katanya kepada detikFinance, Kamis (30/6/2011)

Ia mengamati selama 6 bulan terakhir ketika kisruh film impor berlangsung, justru terjadi tren penurunan kuantitas dan kualitas film lokal. Menurut Johny saat ini yang bisa mendongkrak kembali gairah bisnis bioskop adalah film-film box office Hollywood.

“Film-film MPAA ini punya magnet untuk mendatangkan orang-orang ke bioskop,” ujarnya.

Johny menambahkan selama ini masyarakat sudah terlanjur bergantung dengan kualitas film-film impor khususnya dari Hollywood. Ia memperkirakan jika ada salah satu film box office masuk ke Indonesia pasti akan langsung mendapat respons masyarakat dan secara langsung akan kembali mengerek film lokal.

“Kalau dimasukin dua saja film Hollywood, kalau nggak meledak tuh film Harry Potter,” serunya.

Dikatakannya masalah yang terjadi saat ini, pihak importir film tak bisa disalahkan akibat tak konsistennya pemerintah menerapkan perpajakan royalti film impor. Saat ini, lanjut Johny, semuanya sangat tergantung pihak produsen film-film Amerika yang tergabung dalam MPAA yaitu Disney, Fox, Warner, Columbia, Paramount, dan Universal.

“Kalau dibiarkan 2-3 bulan lagi akan tutup bisa sampai separuh (bioskop),” katanya.

June 29, 2011

Inilah Alasan Kinerja TLKM Jalan di Tempat

Inilah Alasan Kinerja TLKM Jalan di Tempat

IST
Oleh: Wahid Ma’ruf
Pasar Modal – Rabu, 29 Juni 2011 | 15:34 WIB
TERKAIT
Tcash, Memindahkan Dompet ke Ponsel Anda
Pemekaran Direksi Telkomsel Masih Diperjuangkan
Saham Telkom Direkomendasi ‘Buy’
Pilih Kuliner Bandung Bisa Melalui Infojajan.com
TLKM akan Akuisisi Penyedia Jasa Konten
INILAH.COM, Jakarta – Meskipun menjadi pemain besar di sektor telekomunikasi tetapi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) kinerjanya jalan di tempat untuk beberapa tahun terakhir.

Analis saham independen, Teguh Hidayat mengungkapkan pendapatan TLKM berasal dari empat sumber. Pertama dari layanan telepon rumah/kantor, layanan telepon seluler/ponsel (Telkomsel dan Flexi), layanan SMS yang juga menggunakan ponsel (Telkomsel dan Flexi lagi), dan layanan akses internet (Telkom Speedy dan Telkomsel Flash).

“Kita tentu tahu bahwa seiring dengan semakin berpindahnya konsumen dari telepon rumah ke ponsel, maka pendapatan TLKM dari layanan telepon rumah setiap tahunnya terus saja turun, sementara pendapatan dari layanan ponsel seharusnya naik,” demikian yang dikutip dari hasil risetnya.

Namun faktanya, pendapatan TLKM dari telepon rumah memang turun, sementara pendapatan dari layanan ponsel malah cenderung tidak berubah. Kalau pun ada kenaikan tidak terlalu besar. Pada tahun 2010, TLKM mencatat laba bersih Rp11,5 triliun. Angka tersebut hanya naik sedikit dibanding laba bersih TLKM pada tahun 2006 silam, yaitu Rp11 triliun. Pada kuartal I 2011 pun, laba TLKM tercatat Rp3,8 triliun, atau hanya naik 0,6% dibanding kuartal I 2010.

“Jadi kalau ada sebuah perusahaan yang secara kondisi keuangan cukup sehat, bila dilihat dari utangnya yang tidak terlalu besar. Namun kinerjanya tidak juga meningkat dalam waktu yang berkepanjangan, maka mungkin ada yang salah dengan perusahaan tersebut.”

Dengan demikian kondisi ini cukup membingungkan. Sebab Telkomsel dan Flexi merupakan pemimpin di pasar ponsel GSM maupun CDMA. Beberapa waktu lalu Telkomsel bahkan menyatakan bahwa jumlah pelanggannya sudah menembus 100 juta orang.

Boleh Jadi, pertumbuhan pendapatan dari layanan ponsel yang cenderung jalan di tempat tersebut disebabkan karena TLKM tidak memegang Telkomsel secara penuh. Yup, seperti yang kita ketahui, TLKM hanya memegang 65% saham Telkomsel. Sisanya yaitu 35% dipegang oleh SingTel. Alhasil TLKM harus berbagi pendapatan dari Telkomsel dengan perusahaan telekomunikasi asal Singapura tersebut.

Sementara pendapatan TLKM dari layanan internet, pertumbuhannya cukup lumayan. Pada 1Q11, pendapatan TLKM dari layanan ini tercatat Rp2,3 triliun, atau tumbuh 19,7% dibanding 1Q10. Sayangnya kontribusi pendapatan dari layanan internet masih jauh lebih kecil dibanding kontribusi pendapatan dari layanan ponsel. Jadi, sehingga pertumbuhan 19,7% tersebut tidak terlalu berdampak positif terhadap pertumbuhan pendapatan TLKM secara keseluruhan.

June 29, 2011

Rokok Bisa Menyehatkan, Mungkinkah?

Temuan Divine Cigarette
Rokok Bisa Menyehatkan, Mungkinkah?
K16-11 | Glori K. Wadrianto | Rabu, 29 Juni 2011 | 18:35 WIB

Dibaca: 6582

Komentar: 18
|

Share:

K16-11
Profesor Sutiman Bambang Sumitro, Guru besar Universitas Brawijaya, yang berhasil menemukan filter rokok yang bisa menyehatkan. Rabu (29/6/2011).
Foto:
1 2 » Play Slideshow

MALANG, KOMPAS.com — Profesor Sutiman Bambang Sumitro, Guru Besar Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, kini menggemparkan dunia kesehatan. Mengapa? Ia menemukan filter rokok yang konon bisa menyehatkan para perokok.

Penemuan tersebut berawal dari hasil penelitian yang bertema “Inovasi Mereduksi Dampak Negatif Merokok dan Memperkuat Dampak Positif Merokok dalam Memperbaiki Kualitas Hidup”. Penelitian tersebut dilakukan sejak 2007 lalu.

Alasannya, terkait dengan permasalahan bangsa yang dirasa menuntut penyelesaian dengan kearifan lokal. Salah satu yang disorot adalah masalah rokok. “Saya memang bukan perokok. Karena seorang peneliti justru harus mengabaikan unsur subyektivitas dan mengedepankan obyektivitas,” katanya, ditemui di Universitas Brawijaya, Malang, Rabu (29/6/2011).

Menurutnya, banyak peneliti yang menyebutkan bahaya merokok. Di sisi lain rokok sudah menjadi sebuah industri besar. Kalau ditutup, ribuan tenaga kerja akan kehilangan pekerjaannya. “Pemikiran saya, terciptanya rokok kretek yang dibuat nenek moyang, bukan tanpa dasar. jelas dibuat untuk obat batuk. Namun, fakta tersebut tidak ada yang membuktikan secara ilmiah,” kata pria yang kini mengambil program doktor di Nagoya University, Jepang, tersebut.

Seiring dengan arus globalisasi, rokok kretek dilanda isu sebagai produk tidak sehat. Namun, anggapan itu pun tak dilandasi hasil riset yang memadai. “Ironisnya, isu tersebut berembus dari luar negeri serta dibangun melalui hasil kegiatan riset asing. Sementara pihak lokal kurang percaya diri untuk melakukan inovasi tentang rokok sehat. Apalagi, ide tentang rokok sehat itu menentang arus,” katanya.

Pemahaman itulah yang kemudian menjadi dasar bagi Sutiman untuk mengkaji bahaya rokok. Lalu muncul pertanyaan apakah memang sudah final asap rokok itu berbahaya? “Dari itu muncul untuk meneliti pada tahun 2007 lalu,” katanya.

Secara garis besar, penelitian yang dilakukan Sutiman kala itu adalah untuk mengetahui cara untuk menghilangkan radikal bebas dari asap rokok. Hal tersebut ia lakukan dengan memodifikasi makro molekul yang terkandung dalam asap rokok lewat sentuhan teknologi.

Hasil dari penelitian tersebut diberi nama divine cigarette. Bentuknya mirip dengan filter pada rokok. warnanya putih. “Saya memopulerkan penelitian saya ini dengan sebutan nanobiologi jawaban kretek sehat,” kata guru besar biologi sel dan molekuler Universitas Brawijaya itu.

“Divine cigarette ini ada senyawanya sehingga mampu menjinakkan radikal bebas. Tapi, senyawanya apa saja, itu yang masih dalam proses dipatenkan,” tutur Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Maliki Malang ini.

Bagi perokok, divine cigarette itu cukup mudah, filter yang menempel di rokok diambil lalu diganti divine cigarette itu. Dengan begitu, divine cigarette menggantikan filter asli pada rokok.

Pengguna divine cigarette akan membuat rokok terasa lebih ringan saat diisap. “Apalagi, saat merokok di ruang ber-AC, tidak timbul kabut asap tebal dan tidak membuat ruangan bau. Juga tidak berbahaya pada perokok pasif kalau berdampingan,” katanya.

Menurut Sutiman, asap rokok berasal dari pembakaran tidak sempurna yang menghasilkan ribuan komponen berbahaya. Dari komponen tersebut, ditemukan sekitar 5.000 komponen yang bisa diamati, seperti aseton (cat kuku), toluidin (cat), metaanol (spiritus bakar), polonium (bahan radiaktif), arsen (racun tikus), serta toluene (pelarut industri).

Radikal bebas dari asap rokok memang berbahaya, tapi komponen racunnya bisa diminimalkan. “Hasil penelitian divine cigarette itu masih dalam bentuk fase-fase awal. Karena itu, saya masih merancang penelitian lanjutan,” katanya.

Namun, sejak divine cigarette mulai diedarkan secara terbatas di wilayah Malang, dalam seharinya sudah ada permintaan sekitar 30 pak dari para perokok berat. “Hasil penjualan itu dipergunakan untuk biaya penelitian lanjutan yang sudah saya rancang,” katanya.

Sejauh ini masih tersisa dua penelitian lanjutan yang bakal dikerjakan Sutiman, yakni, karakter jenis-jenis asap dan mengumpulkan data-data dari pengguna divine cigarette. “Ada 200 responden yang dilibatkan dalam penelitian tersebut,” ujarnya.

Demi uji coba divine cigarette, Sutiman mendirikan laboratorium swasta yang diberi nama Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas di Malang. “Biayanya dari para donatur,” ujarnya.

Produksi divine cigarette, menurut Sutiman, masih dibatasi. Itu karena hasil temuannya masih menuai kontroversi di dunia kesahatan. “Temuan kami itu masih belum sata tawarkan ke perusahaan rokok dan kami tak menggunakan sistem marketing. Karena semuanya masih dalam tahap penyempurnaan,” katanya.

Filter rokok berukuran sekitar 7 milimeter dengan panjang 2 sentimeter hasil temuan Sutiman tersebut dikemas dalam plastik transparan. Harga per bungkus Rp 10.000, yang berisi 30 filter rokok.